A Little Piece Revenge On My Marriage


Image

A Little Piece Revenge On My Marriage

 

By: Arsvio

“Oppa, kapan semua akan berakhir?” tanya seorang perempuan yang memakai jas putih. Perempuan itu meniup-niup cappuccino miliknya untuk megurangi panas.

“Andai aku bisa menghentikan semua. Maka kau lah satu-satunya orang yang akan kugenggam dan kutarik,” pria di hadapannya menghela napas panjang.

“Aku lelah, Oppa. Sangat. Kupikir, semua akan berubah seiring dengan waktu. Bahkan tetes air yang lembut saja bisa menggerus kerasnya batu. Tapi, sepertinya dia tidak akan berubah,”.

Sang pria mengelus pelan puncak kepala wanita di hadapnya. “Maaf, karena tidak bisa menghentikan ini semua. Tapi, percayalah, bahwa hanya kau, sesuatu yang aku sesali terlibat dalam ini semua. Andai saja aku lebih berani dahulu, pasti kau tak jatuh di tangan Hyungku,”.

“Kyuhyun Oppa,” wanita yang dihadapannya hanya memandang sendu ke arah lelaki yang ia panggil Kyuhyun. “Dan bagiku, satu-satunya yang tidak kusesali adalah menikah dengan Hyungmu,”.

Kyuhyun menarik ujung bibirnya dan membentuk seringaian. “Kau terlalu sempurna untuknya,”.

“Tidak, kau salah Oppa. Aku bahkan tidak memiliki secuil pun kualifikasi untuk menjadi istrinya,”. Wanita itu mengecek arlojinya dan menepuk ringan keningnya. “Maaf Kyu Oppa. Aku ada operasi satu jam lagi. Aku pergi dulu,”. Wanita itu segera berdiri dan meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun masih menatap lekat punggung wanita tersebut sampai menghilang di balik tembok. Dia kembali menghembuskan napas panjang. “Andai, waktu bisa kuputar. Maka akan kurubah takdir kita bertiga, Ny. Lee,”.

_@Arsvio_

Seorang pria sibuk berkutat dengan notebook miliknya. Pandangannya menatap tajam data yang sedang dikerjakannya. Sudah 3 jam lewat, namun dia belum jua menyelesaikan pekerjaannya.

“Oppa, bisa kau hentikan semua ini?” suara perempuan menjadikan sang pria melirik dari balik lid notebooknya. Pria tersebut hanya menyeringai tipis. “Apakah kau tidak punya etika untuk mengetuk pintu dahulu sebelum masuk?” ucap sang pria dengan nada menyindir.

“Sudah kulakukan. Bahkan aku sudah berdiri di sini sejak sepuluh menit lalu,” jawab perempuan tersebut. Nampak gurat kegalauan terpancar dari wajah ccantiknya.

Pria tersebut masih mengetik beberapa saat sebelum men-shut down notebooknya. Dia mendorong mundur kursinya lalu berjalan mendekati perempuan yang telah menunggunya. Sang pria mengangkat tangannya dan mengelus rambut sang perempuan. “Bagaimana harimu di rumah sakit, Eve?” sang pria membelokkan topik pembicaraan.

Eve, perempuan yang dibelai, meremas jemarinya. Dia sudah hafal betul karakter pria di depannya. Berapa kali pun dia membujuk, tetap tak akan ada artinya bagi pria tersebut. “Donghae-ssi, tolong,” pintanya kali ini dengan memelas berharap pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut memenuhi permintaannya.

Donghae hanya menghela napas pelan. “Tinggal selangkah lagi, Eve. Aku tidak akan menghentikannya,” Donghae masih tetap membelai kepala Eve. “Aku pergi, tidurlah dahulu,” Donghae mengecup kening Eve lalu segera menyambar kunci mobilnya.

Sepeninggal sang suami, perlahan air mata menuruni pipi Eve. “Kenapa harus seperti ini?” tangis Eve pecah. Dia menjatuhkan dirinya ke lantai. Menangis terisak cukup lama. Diremasnya ujung gaun miliknya. “Appa,” seru Eve tiba-tiba dan langsung berdiri.

_@Arsvio_

“Hyung, kau yakin akan meneruskannya,” Kyuhyun menepuk lengan Donghae pelan untuk meyakinkan. Saju jam sudah waktu yang dihabiskannya untuk mengutak-atik laptop di hadapannya. Mengerjakan suatu rencana besar dalam hidupnya.

Donghae menatap Kyuhyun tajam. “Kau bicara seolah ini hanya mimpi kemarin sore,” jawab Donghae. “Kerjakan tugasmu. Aku tak mau rencana yang kita bangun selama belasan tahun gagal akibat kecerobohanmu,” lanjut Donghae.

Kyuhyun mendesah kemudian meneruskan pekerjaannya. Dia sudah mengenal lelaki di hadapannya tersebut selama hampir 20 tahun. Dan sudah menganggapnya seperti hyung kandungnya sendiri. Sebuah masa lalu yang pahit menyatukan mereka dalam satu derita.

Berjuang bersama untuk mendapatkan keadilan atas perlakuan sebuah perusahaan yang menjadikan keluarga mereka hancur. Tidak ada belaian sayang ibu dan ucapan bijaksana seorang ayah yang mengiringi mereka tumbuh. Hanya sebongkah dendam dan rasa saling melindungi satu sama lain yang mereka punya.

“Hwang Evelyn yang sekarang menjadi Ny. Lee Evelyn, pernahkah kau memikirkan perasaannya, Hyung?” tanya Kyuhyun di sela-sela mengetiknya. Berulang kali Kyuhyun mengingatkannya, namun sebanyak itu pula Donghae membantahnya.

Donghae mengusap wajahnya dengan kasar. “Jangan ingatkan aku lagi Kyu. Cukup kau kerjakan bagianmu saja,” bentak Donghae.

Tangan Kyuhyun terkepal sempurna, namun dia masih bisa menjaga emosinya agar tidak tumpah. Segala upaya dahulu dilakukannya agar menjauhkan Eve dari jangkauan Donghae, tapi semua sia-sia dengan terucapnya janji suci yang mengikat Donghae-Eve tepat satu tahun lalu.

_@Arsvio_

Eve memakirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang sangat megah. Dia berlari-lari kecil memasuki rumah tersebut. Beberapa pelayan membungkuk memberi hormat pada putri pemilik rumah. “Dimana Appa?” tanya Eve pada kepala pelayan yang dijumpainya. “Beliau ada di ruang kerjanya, Nona. Biar saya beritahukan jika Nona berkunjung,” sang pelayan menunduk hormat.

“Tidak perlu tuan Jang,” Eve kembali menyusuri koridor rumahnya dengan terburu. Berharap dengan seperti itu, dia dapat menyelesaikan suatu masalah yang semenjak satu tahun lalu, lebih tepatnya belasan tahu lalu, diperbuat ayahnya.

Eve mengatur napasnya ketika dia telah sampai di depan pintu ruang kerja appanya. Diulurkan tangannya untuk memutar kenop pintu, namun belum sempat pintu terbuka gerakan Eve terhenti karena mendengar ucapan dari sang ayah. ‘Kerjakan dengan rapi. Malam ini juga habisi Donghae dan rekannya,’. Setelah itu terdengar suara gagang telepon yang kembali diletakkan.

Mata Eve membulat dan jantungnya berdegub kencang. Eve masih bergeming di tempatnya dan menajamkan pendengarannya. ‘Kalau pun aku harus hancur, maka aku akan membawa serta kau Lee Donghae,’. Suara sang ayah mengurunkan niatnya untuk masuk. Dia menarik tangannya yang sudah gemetar dan segera berlari lagi sebelum semua terlambat.

_@Arsvio_

“Halo, Eve,” ucap Donghae.

“Oppa, kau dimana sekarang?” tanya Eve dengan gemetar.

“Tidurlah Eve. Aku pulang larut,” kembali Donghae tidak menjawab pertanyaan.

“Kumohon Oppa, katakan dimana kau sekarang,” jerit Eve.

Emosi Eve meletup-letup sehingga dia melajukkan mobilnya dengan kencang. Donghae sama sekali tidak menjawab pertanyaannya menjadikan kecemasannya kian meradang. Eve menginjak rem keras saat tiba-tiba mobil lain memotong jalannya. Decitan dari ban mobil serta merta terdengar oleh Donghae dari seberang jaringan.

“Eve, kau sedang menyetir? Kau baik-baik saja?” nada Donghae khawatir.

“Aku baik-baik saja, Oppa. Kau dimana sekarang?” tanya Eve sembari menangis.

“Hyung, harga jual saham Hwang Group akan turun drastis mulai detik ini juga. Aku ke pantry sebentar,” suara seseorang di seberang membuat Eve berpikir. Eve segera mematikan ponselnya karena dia sudah tahu dimana suaminya berada. Donghae memang tidak menjawab pertanyaannya namun suara Kyuhyun-lah yang menjawabnya.

Merasa sedang beradu dengan waktu, Eve mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa suaminya. Walaupun, dia tahu bahwa suaminya hanya memanfaatkan pernikahan mereka untuk membalas dendam, tapi itu tidak membuat Eve menguragi rasa kasih sayangnya pada Donghae.

Kilasan-kelasan masa lalu tiba-tiba terlintas dalam benak Eve. Bagaimana pertama kali dia bertemu dengan Donghae secara tidak sengaja, menurut versinya, di perpustakaan. Menjalani suatu masa pacaran dan akhirnya menerima lamaran Donghae.

“Oppa,” rintih Eve saat kilasan memorinya mengingat suatu yang menyakitkan. Ketika dirinya tahu, bahwa Donghae sama sekali tidak mencintainya, namun hanya memanfaatkan dirinya sebagai alat balas dendam.

_@Arsvio_

BRAKK. Suara pintu dibuka dengan kasar. “Wow, kita rupanya kedatangan tamu Kyu,” ucap Donghae dengan nada datar.

Kyu menegakkan pandangannya dari PSP di genggaman tangannya. Pria ini telah menyelesaikan tugasnya, sehingga dia beralih untuk merilekskan diri. “Wah, sudah lama aku tak merenggangkan ototku, Hyung,” Kyu berdiri dari duduknya sembari menyeringai.

Tanpa peringatan kawanan orang berjas hitam telah menyerang Donghae dan Kyuhyun. Dengan sigap Kyuhyun menyambar stik golf di sudut ruangan untuk dijadikan senjata. Begitu pula Donghae yang sudah melayangkan tinjunya melawan preman-preman sewaan tuan Hwang.

Dua orang yang tumbuh dalam lingkungan yang keras, menjadikan keduanya sudah akrab dengan perkelahian. Mereka belajar mempertahankan diri dari pengalaman. Tumbuh seiring dengan premanisme yang kental.

_@Arsvio_

Eve memarkir mobilnya sembarang. Dia berlari cepat seakan bahaya telah mengancamnya. Eve masuk ke lobi gedung pusat Hwang Group masih dengan napas yang tersengal-sengal. Memencet tombol lift dengan kasar berharap pintu lift segera terbuka. Keringat telah membanjiri tubuhnya.

Eve berlari-lari kecil ketika sampai di lantai yang dia tuju. Kepalanya menoleh pada keributan yang terjadi di koridor. Dia melihat dengan jelas suaminya dan Kyuhyun beradu punggung untuk melawan beberapa orang yang tak dikenalnya. Eve mencengkeram sudut tembok. Napasnya tercekat, dia memutar otaknya untuk menolong sang suami.

Eve merogoh saku blazernya untuk mencari ponsel seraya berlari-lari setelah mendapat ide. Eve sampai di depan sebuah kotak besar yang merupakan kontrol listrik gedung Hwang Group. Eve menekan saklar dengan acak, menjadikan penerangan di beberapa ruangan padam.

Dia sudah memperhitungkan bahwa Donghae pasti sudah hafal dengan seluk beluk gedung Hwang Group. Karena  dia salah satu direktur muda yang mengelola Hwang Group. Pun dengan Kyuhyun yang merupakan programmer di bagian penemuan produk.

Eve kembali ke koridor tempat dia terakhir kali melihat Donghae, namun langkahnya terhenti ketika dia melihat dua sosok menaiki tangga darurat menuju roof top. Nalurinya mengikuti langkah kedua sosok tersebut.

_@Arsvio_

“Hah, beruntunglah kita. Pemadaman memberi kesempatan,” Donghae mengatur napasnya, sedangkan Kyuhyun memegang dadanya dan terengah-engah. Tanpa mereka sadari seseorang mengamati keduanya dari jauh. Senyum licik terukir di bibirnya. Orang tersebut mengarahkan bidikkannya.

“OPPAA…” jerit Eve. Suara berdesing yang membelah udara menyadarkan Kyu, dengan segera dia membalas tembakan dengan pistol yang tadi direbutnya dari salah seorang preman. Tembakan Kyu tepat mengenai sasaran dan melumpuhkan lawannya.

Donghae mematung sejenak karena mendapati Eve yang telah berada di depannya. Tubuh Eve merosot perlahan. Donghae mengulurkan tangannya untuk menyangga tubuh sang istri.

“Eve…” rintihan Donghae. Tanpa dikomando, air mata sudah mengalir di pipinya. Dan ini, pertama kali dia menangis semenjak dia terakhir kalinya menangisi kematian orang tuanya.

Eve meringis untuk menahan perih di perut atasnya. “Oppa, apakah semua sudah berakhir?” suara Eve gemetar.

Donghae terisak melihat darah segar yang terus mengalir di tubuh Eve. “Kumohon bertahanlah, Sayang,” jerit Donghae di tengah isaknya. Eve salah dalam satu hal. Tetes lembut air kasih darinya sudah menggerus bahkan menghancurkan kerasnya batu pertahanan Donghae.

Eve hanya tersenyum lembut saat menatap wajah Donghae. Wajah yang selama setahun belakangan selalu dilihatnya ketika bangun pagi. Eve mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata lelaki yang dikasihinya. Dan tindakannya, membuat pipi Donghae memerah karena ternoda oleh darah. “I love you,” lirih Eve sebelum menutup matanya.

“Eve kumohon buka matamu, Sayang. Ny. Lee,” Donghae terus mengguncang tubuh Eve. “EVEE…” teriak Donghae.

Kyuhyun berdiri di samping Donghae dan mencengkeram kuat bahu hyungnya tersebut. Tak ayal air mata menitik dari sudut matanya. Walau bagaimana pun keadaannya, Kyu telah menganggap Eve sebagai adik perempuannya.

Sirine berbunyi nyaring di bawah. Beberapa polisi merangsek masuk ke gedung Hwang Group dan mengamankan kawanan preman yang dilumpuhkan oleh Donghae dan Kyuhyun.

Sebelum Eve mematikan penerangan di gedung Hwang Group, dia menelphon polisi. Apa pun resikonya nanti, dan bagaimana pun keadaannya setelah itu, Eve sudah berniat mengakhirinya. Walapun dengan resiko terbesar, bahwa Hwang Group kemungkinan akan menemui kehancuran.

_@Arsvio_

3 tahun kemudian

Donghae duduk di belakang meja kerjanya. Beberapa dokumen masih menumpuk untuk diperiksa. Tangannya terhenti di udara ketika ingin mengambil sebuah map. Pandangannya tertuju pada foto yang terpigura indah di hadapnya. Dibatalkan niatnya untuk mengambil map, diraihnya foto tersebut.

My Fairy, bahagiakah kau di sana?” Donghae menatap foto yang dipegangnya. Disandarkan punggungnya ke belakang dan dipejamkannya matanya.

Rasa bersalah bergumul dengan rasa rindu yang teramat. Bagaimana pun bencinya dia terhadap tuan Hwang tetap tidak mempengaruhi kadar sayang terhadap istrinya. Memang tidak dipungkiri bahwa alasan awal dia menikahi Eve adalah demi balas dendamnya terhadap Hwang Group, namun seiring berjalannya waktu rasa cinta tumbuh di hatinya tulus untuk sang istri. Sikap Eve tehadapnya mengubah semuanya tapi tidak dengan dendamnya.

Donghae tahu benar beratnya kehidupan Eve setelah Hwang Group jatuh. Perempuan itu kehilangan appanya karena tuan Hwang meninggal akibat serangan jantung setelah mendengar perusahaannya bangkrut. Eve juga beberapa kali ditolak untuk bekerja di rumah sakit karena dia adalah putri dari Hwang Jung Shin.

Awalnya Donghae pikir melihat seperti itu akan membahagiakannya, tetapi dia salah. Bahkan melihat keadaan Eve membuat hatinya teriris pilu. Jika bukan karena egonya, dia sudah berlari ke hadapan Eve dan memeluk perempuan itu erat. Tak akan dibiarkannya terluka sedikit pun.

My Fairy,” desah Donghae. Karena sedikit campur tangannya, Eve menerima pekerjaan di salah satu rumah sakit swasta. Eve bahkan mendirikan suatu yayasan untuk penderita kanker. Dia melakukannya sebagai baktinya sebagai dokter dan menebus sedikit rasa bersalah atas perbuatan ayahnya.

Donghae membuka matanya kembali. Dia berdiri dan pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dilajukan mobilnya menuju pinggiran sungai. Mobil Donghae berhenti tepat di belakang sebuah bangku taman. Donghae keluar dari mobil dan berjalan menuju bangku tersebut.

Tanpa Donghae sadari, seorang pria terus menatap dirinya. Pria itu memberanikan dirinya mendekat. Senyum terukir di wajah tampannya. Dia berdiri tepat di depan Donghae namun Donghae belum menyadari keberadaannya.

Perlahan Donghae mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk. Matanya membulat mendapati seseorang yang berdiri di depannya. “Hyung,” sapa pria tersebut.

_@Arsvio_

“Kau menikmati hidupmu sekarang, Hyung?” Kyuhyun memutar-mutar kaleng soda dengan tangannya. Donghae tampak bimbang dengan pertanyaan rekan yang sudah di anggap sebagai dongsaengnya tersebut. Bukan dia tidak bisa menjawab karena jawabannya pasti ‘tidak’, namun dia bingung untuk memilih kata yang tepat. Kyuhyun membaca kebimbangan di wajah hyungnya kemudian menyenggol lengan hyungnya tersebut.

“Dia masih tetap sama, Hyung. Kembalilah. Eve membutuhkanmu untuk menopang hidupnya,” ucap Kyu kemudian. Donghae tersenyum kecut mendengarnya. “Dia sudah hidup bahagia dengan Yayasan Evdo miliknya. Aku tidak berhak menyakitinya lagi. Terlalu banyak luka yang kugoreskan selama dia di sisiku dulu,” jawab Donghae.

Kyuhyun tersenyum tipis mendengar pernyataan hyungnya. Dugaannya benar, bahwa hyungnya masih memantau keadaan istrinya. Terbukti Donghae tahu tentang Yayasan Evdo tanpa Kyuhyun bercerita. “Tiga tahun, Eve jatuh bangun setelah kepergianmu. Dia sempat di rawat di RS kejiwaan karena depresinya. Kenapa hatimu tak tergerak untuk sekedar menjenguknya, Hyung?”.

Donghae menoleh cepat setelah mendengar penuturan Kyu. “Eve mengalami depresi berat?” ulang Donghae tak percaya. Donghae mengamati keadaan Eve tepat enam bulan setelah kejadian berdarah tiga tahun lalu sehingga dia tidak tahu menahu tentang keadaan istrinya selama itu.

Donghae juga sama terpuruknya dengan Eve, saat itu. Dia membangun suatu usaha dengan jerih payahnya. Dan kini dirasakannya, hasil kerja kerasnya dengan beberapa franchise yang tersebar di kawasan Seoul. Memang belum sebesar yang diharapkan, tapi itu lebih dari cukup.

Kyuhyun mengernyit tapi dia melanjutkan ceritanya. “Eve sangat terpuruk kala itu. Dia kehilangan semuanya. Hwang Group, appa yang dihormatinya, suami yang dicintanya, serta calon bayi yang–,” ucapan Kyu terpotong oleh suara Donghae.

“Tunggu, calon bayi?” Donghae mencengkeram kuat lengan Kyu.

Kali ini kerutan di dahi Kyu kian bertambah. “Kau tidak tahu kalau Eve sedang mengandung ketika dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu, Hyung?” Kyu memelankan nada bicaranya di kata terakhir. Kata tersensitive bagi pria di sampingnya.

Seketika tangan Donghae bergetar hebat pun dengan bahunya. Ditariknya tangannya dari lengan Kyu dan dibenamkannya wajahnya di kedua telapak tangan miliknya. “ARGHH…” teriak Donghae frustasi.

_@Arsvio_

Donghae mengangkat tangannya ragu. Dia menghela napas untuk mengurangi ketegangannya. Belum sempat tangannya menekan bel, pintu sudah terbuka. Tubuh Donghae menegang seketika karena dihadapkan pada sosok yang sangat dirindunya. Padangannya menatap tajam perempuan di depannya, tak sepatah kata terucap dari bibir tipisnya.

Eve mencengkeram kuat kenop pintunya. Sama halnya dengan lelaki di hadapnya, Eve tidak melepas pandangannya sedetik pun. Beberapa saat larut dalam kebisuan, Eve memberanikan diri membuka mulut. “Lama tak berjumpa Lee Donghae-ssi. Adakah hutang Appaku yang belum terlunasi?” Eve mencoba mengontrol emosinya.

Hati Donghae terasa amat perih bagaikan tersayat belati yang berkarat, mendengar perkataan dari perempuan yang siang malam mengisi seluruh pikirannya. Atas perkataan Eve, Donghae tak dapat mengelak. Dialah orang yang menghunus pedang pertama kali di hidup sang istri.

Bukannya menjawab, Donghae malahan menarik Eve dalam pelukkannya. Mendekap erat Eve tatkala sang istri meronta minta dilepaskan. “Apa yang kau lakukan. Lepaskan,” Eve mengerahkan tenaganya untuk lepas dari dekapan Donghae. “Maafkan aku Eve. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu,” sela Donghae. Eve berhenti meronta ketika mendengar permintaan maaf sang suami.

Donghae melonggarkan pelukkannya dan perlahan melepas Eve. Dia memandang Eve dengan tatapan pedih. “Kau sudah selesai dengan urusanmu Tuan Lee? Kalau sudah silakan angkat kaki dari sini,” tampak emosi di wajah Eve.

“Aku tak akan menggeser kakiku sampai kau memaafkanku, Ny. Lee,” sahut Donghae. Eve mengepalkan tangannya mendengar panggilan untuk dirinya. Dia berbalik dan menutup pintu dengan kasar.

_@Arsvio_

Sudah lima jam berlalu, Eve masih bergeming dari posisinya. Dia duduk di sofa memeluk kakinya. Mata dan hidungnya sudah bengkak akibat menangis sedari tadi. Rasa sakit, kecewa, rindu, cinta mengharu biru di hatinya. Setelah tiga tahun menghilang, kini sosok sang suami muncul di hadapnya. Selama tiga tahun dia terus menerus mencari jejak Donghae namun tidak mendapat hasil. Sang suami bagai hilang ditelan bumi.

Terdengar sayup-sayup suara hujan bercampur petir dari luar. Eve menolehkan kepalanya ke arah pintu. “Dia tidak akan menunggu selama ini,” gumamnya. Eve kembali menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya sampai tertidur.

_@Arsvio_

Dengan wajah yang masih sedikit kusut, Eve membuka pintu rumahnya bermaksud menuju rumah sakit tempatnya bekerja. “OMO!” teriaknya. Eve melihat Donghae yang masih berlutut di depan pintu rumahnya.

Penampilan Donghae sungguh mengenaskan. Wajah pucatnya, tubuhnya yang menggigil, pakaiannya yang masih setengah basah akibat dari kenekatannya menunggu Eve di luar rumah. “Donghae-ssi, kau–,” belum selesai Eve menyelesaikan kalimatnya, tubuh Donghae telah roboh.

“Kim Ahjussi, ahjussi,” teriak Eve untuk memanggil seorang sopir pribadinya. Seorang pria paruh baya tergopoh-gopoh menghampiri majikannya dan segera menolong Eve untuk memapah Donghae.

_@Arsvio_

Eve membelai lembut wajah pucat milik Donghae. Air mata kembali mengalir di pipinya. Eve merawat Donghae di rumahnya. Beruntungnya ada beberapa obat dan infuse di kotak persediaannya. Eve kembali memandangi wajah yang dirindunya.

Kenyataan bahwa rasa cintanya jauh melebihi perih hatinya. Dia menelusuri setiap lekuk wajah yang sangat dirindukannya, melarutkan segala rindunya dengan tindakan tersebut.

Perlahan Donghae mengerut-ngerutkan kelopak matanya. Dibuka matanya perlahan dan mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya. Kepalanya menoleh ke samping dan mendapati sang istri duduk di samping ranjangnya.

“Kau sudah sadar. Akan kuambilkan minum,” Eve dengan segera menarik tangannya dan memalingkan wajahnya untuk menghapus sisa air mata. Eve segera beranjak dari tempatnya.

Ketika kembali ke kamar, Eve telah mendapati Donghae yang sudah duduk di tempat tidurnya. “Kamar ini masih sama seperti dulu. Kau tidak merubahnya, Eve,” Donghae masih mengitarkan pandangannya di setiap sudut kamar mereka, dahulu.

Eve tidak mengacuhkan Donghae. Tanpa menanggapi pernyataan Donghae, dia meletakkan nakas di meja kecil sebelah ranjang. Eve memutar tubuhnya menghadap Donghae. “Makanlah, aku akan menunggu di luar,” ucap Eve dingin.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Donghae menarik pergelangan tangan Eve sehingga tubuh Eve jatuh terduduk tepat di sampingnya. Dibenamkan wajahnya di bahu Eve. “Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku, Eve?”.

Eve meremas jemarinya, air mata telah menggenang di matanya. Dia sendiri tidak tahu jawabannya. Bukan karena dia tidak bisa memaafkan, namun karena dia sudah memaafkan Donghae sejak dulu. Rasa cinta yang dimilikinya melebihi kesalahan itu.

“Apakah aku harus mati di hadapmu agar kau memaafkanku,” ucap Donghae yang sontak membuat Eve menoleh ke arah Donghae.

Donghae menegakkan kepalanya dan memandang Eve. “Kumohon jangan menangis karenaku lagi, Eve” Donghae mengusap air mata yang terlanjur turun di pipi Eve. “Air matamu terlalu berharga untuk sekedar menangisiku. Jika dengan kematianku bisa menghentikan tangismu, maka akan kulakukan,” Donghae masih mengusap pipi Eve.

Eve masih bergeming, tidak bisa mencerna dengan baik perkataan Donghae. Udara yang selama ini terenggut darinya telah kembli, namun tak ada yang bisa dilakukannya karena ketakutan akan terluka lagi.

“Eve, Sayang,” Donghae masih menatap lembut istrinya. “Kumohon, kau lah alasan satu-satunya bagiku untuk bertahan hidup setelah tragedy 3 tahun lalu. Mungkin ini terdengar menggombal. Tapi itulah kenyataannya, bahwa kau adalah penjaga yang menjaga nyala lilin hidupku. Jadi, kalau penjaga itu telah menemukan kehangatan dan tidak menginginkan sang lilin tetap menyala, maka dengan senang hati lilin itu padam,”

Eve tidak menjawab pertanyaan Donghae. Dia melingkarkan tangannya di leher Donghae kemudian memeluk sang suami erat. “Gunakan sisa hidupmu hanya untuk mencintaiku dan jangan pernah meninggalkanku lagi. Maka aku akan memaafkanmu, Oppa,” ucap Eve.

Senyum kelegaan terpancar di wajah Donghae. Dia membalas pelukan Eve dan mencium puncak kepala Eve. “Kupastikan hatiku selalu terisi olehmu seorang selama hidupku. Terima kasih karena telah hadir dan menyempurnakan hidupku yang timpang, Ny. Lee Evelyn,”.

END

(@Arsvio: August, 2011)

EPILOG

Seorang gadis kecil berlari-lari dengan dress blue baby-nya. “Mommy,” teriaknya antusias saat melihat sosok seorang wanita mendekatinya.

Wanita itu membuka tangannya untuk menyambut gadis kecilnya masuk dalam pelukannya. “Uumm, kau harum sekali, Sayang,” ucapnya sembari menghujani gadis kecilnya dengan ciuman.

Dan sang gadis tertawa terpingkal saat wanita itu menggelitikinya. “You grow so fast my girl, don’t you? you’re so heavy,”. Wanita itu menggoyang-goyangkan gadis berumur 4 tahun yang digendongnya. Keduanya tertawa renyah.

Seorang pria secara diam-diam memeluk mereka berdua dari belakang, membuat gadis kecilnya berteriak girang. “Daddy,” serunya yang kemudian berpindah dari gendongan ibunya ke ayahnya.

“How’s your day going on, my girl?” sapa pria yang dipanggilnya Daddy.

Gadis kecil itu hanya memanggut-manggutkan kepalanya dengan lucu. Dan itu membuat kedua orang tuanya tertawa. “Aigoo, kau imut seperti ini pasti karna Daddy-nya yang tampan,”. Dan “Auw,” pekik pria itu karena cubitan sang istri di perutnya.

“Kau selalu memuji dirimu sendiri, Mr. Lee Donghae,” tatap sang istri yang ditanggapi cengiran lebar sang suami.

“Tentu Ny. Lee Evelyn, karena itu kan kau jatuh hati padaku,” goda Donghae sembari menimang-nimang gadis kecil di gendongannya. “Is it right, Rosabelle?” tanya retoris Donghae pada gadis kecilnya.

“Daddy, I hep been becom a good gil tode, mai I hep a pize?” suara cedalnya sangatlah imut. Dia meminta hadiah pada ayahnya karena bersikap baik hari ini.

“Of course, Baby. I bring you a big prize,”. “But, you have to kiss me first, umm,” Donghae menyodorkan pipinya. Dan Rosabelle mengecupnya dengan cepat, seakan dia tidak sabar melihat hadiahnya. “Aigoo, kau tidak sabar melihat hadiahmu rupanya. Lihat itu,” Donghae menunjuk sesuatu dan segera menurunkan Rosabelle dari gendonganya karena sang gadis sudah berteriak histeris.

“Uncle Kuhun,” teriaknya sambil berlari menghampiri Kyuhyun yang tersenyum lebar. Kyuhyun menggendong gadis itu dan memutar-mutarnya di udara. Keduanya sungguh terlihat menikmati bermain barsama.

Donghae menelusupkan tangannya di pinggang Eve. Menaruh dagunya di bahu sang istri. “Terima kasih karena memberikan semua kebahagiaan ini, Eve,” ucapnya tulus sambil memandang Eve.

“Terima kasih juga karena telah berusaha menjadi yang terbaik bagiku dan Rosabelle,” Eve mengecup kilas bibir sang suami. Donghae ingin membalas ciuman tersebut, tapi sebuah teriakan sudah menginterupsinya.

“Hya, jangan berbuat mesum di depanku, Aish,” teriak Kyuhyun frustasi disambut cekikikan dari Donghae dan Eve. “Maka itu segera nikahi kekasihmu itu,” balas Donghae.

“Daddy, Mommy, lets ple,” ujar Rosabelle yang masih setia dengan kecadelannya.

“OK, Sweetheart,” lantang Donghae yang segera menarik Eve untuk mendekat pada Kyuhyun dan Rosabelle.

“Terkadang yang kita butuhkan hanya waktu. Karenanya kita belajar memaafkan semua kesalahan yang membuat luka. Karenanya rasa perih sedikit demi sedikit terkikis. Dan karenanya kau akan belajar menggenggam erat apa yang kau miliki dan mensyukuri semua anugerahNya”

Note: gimana oneshot nya? Gaje? Typo? Kurang dapet feelnya?. Heheh..saya juga bingung sendiri ney. Hah, semoga oneshot lain kali bisa lebih bagus. Gomawoyo bagi yang dah baca /Bow. Thanks a bunch buat Admin.

82 thoughts on “A Little Piece Revenge On My Marriage

  1. Atika slalu ceria says:

    huft lega
    kirain eve meninggal.krna donghae oppa bilang bahagia disana.walau di awal aku kurang ngerti konfliknya.tp di akhir semua terjawab sudah.happy ending
    Btw,kekasih kyuhyun oppa yg di suruh nikahin sm donghae oppa siapa ya rum ?
    kalau bleh tau…🙂

  2. Maya Sherlita says:

    Annyeong eonni aku readers baru di sini. Salam kenal 😊
    Keren aku suka ceritanya eonn, pertama-tama sih aku binggung alur ceritanya gimana tapi lama kelamaan aku tau alur ceritanya kayak gimana dan aku suka hehehe 😃
    Aku kira tadi Eve meninggal… tapi untung lah Eve enggak meninggal kalau dia meninggal kasihan Donghae 😂

  3. syalala says:

    ehhhhhh it’s a short story haha agak bingung karena bener bener simple dan konflik ga begitu jelas dijelasin, tp aku tetep nyambung sama ceritanya hehehe daebakk. lanjut yg lainnn

  4. rxoxzx says:

    kirain eve nya meninggal tapi ternyata masih idup yeAY
    UNCLE KUHUN HAHAHAHAH bayangin gimana lucunya Rosabelle speaks English :3 FF nya selalu keren huff can you teach me sobs

  5. akhirnyaaaaaaa selesai juga baca ff yang oneshoot /tiupterompet/ semuaa ff kamu benarbenar keren kak, katakatanya bagus, enak, uh pokoknya perfect, bisa bikin novel nih kak:3 pasti laku abis kekeke. tapi disini karakter awalnya donghae ga mirip sama karakter asli dia, jadinya kurang kebayang gitu kak. tapi tetep aja romantisme hae keluar pas endingnya<3

  6. ria says:

    Yeaaay happy end q kira sad end eveny meninggal…q miris banget pas kyu bilang lo kau tidak tau lo eve sedang mengandung ketika menyelamatkanmu huaaa tu kata2 jleb banget k hati…q duka epilogny nama aegyny lucu rosabele…

  7. nice story thor,,
    d samping romantic,,ada action and thriller’a jg,,hehe
    sk sama karakter eve,,wlpn appa’a dh bbuat jahat,,dy ttp nghormatin appa’a..wlpn dh di peralat donghae dy ttp mncintai donghae,,
    pemilihan scene yg bgs,,psti smua org nyangka eve mati tnyta gak,,hehe
    setuju thor,,wktu memang bnr2 bharga,,^^

  8. HalcaliGaemKyu says:

    Aigo… Msh menunggu pw the obedient bride part 4 kekeke…
    Aku baca ff ini yg ternyata keren bgt!
    Dr semuuuuua scene nya. Aku suka bgt waktu anaknya donghae manggil kyuhyun
    “UNCLE KUHUUUN!”, langsung ngakak
    Aigo..kyeopta bgt!
    Ff mu emang keren2 deh. Dan ternyata eve itu keguguran waktu ketembak dan hae br tau. Pantes eve smpe depresi gtu. Daebak ff nya.. Gumawo

  9. Ayu fy says:

    Karena ff The Obedient Bride part 4 di proteksi akhirnya milih gk bc yg part 3 takutnya penasaran tingkat akut.
    Awal baca ff ini masih bingung tp setelah sampai pertengahan baru ngeh. Kasian eve nya cm dijadiin alat bls dendam donghae oppa doang. Alasan donghae oppa mau bls dendamnya krg detail eon jdnya kan gk tau pasti knp donghae oppa smp dendam sm appa eve *ini menurutku loh eon😀
    di kira bkln sad ending ternyata happy ending.

  10. Astagaaaa,,,, daebakk…
    Keterlaluan bgt sih Donghae,,, Eve dimanfaatin cuman buat bals dendam,,padahal Eve cinta bgt sama Donghae dan ttep bertahan meskipun dia tahu tujuan Donghae… Nyeseekkkk
    Donghae dengan wajah melankolis berhasil memerankan karakter yg dingin dan kejam.
    Tetapi masih ada yang kurang,,eeehhmm mungkin jika dikasih flashback masa lalu kelam itu,,,, bagus bgt jika dibuat series… soalnya gak pengen ceritanya berakhir disini T___T belom puas baca…. *digeplak author*
    But finally happy ending,,,, Yeaaaaayyyy
    nah loohh Kyu trus ama siapa donk?? *sini Kyu…… (づ ̄ ³ ̄)づ

  11. evianileeckh says:

    yg ni feel’a dpet bgt..mendeerita bgt hdup eve.. Udh sdih aja Kirain eve beneran mati.. Tp Ending’a keren Salut ama hae oppa dya bner” nysel😥..

  12. naki says:

    mngharukn chingu… T.T
    hae tega bngt sih,stahun bls dndam rsany uda ckup mndrita,knp hrs dtmbh 3th??? smpe eve dpresi lgi,kshn bngt eve,tp y me gmna lg nmany jg cnta y ttp dmaafin dh,hehe

  13. inggarkichulsung says:

    So sweet story yg awalnya menegangkan finally berakhir bahagia.. wlpn awalnya menikahi eve krn sebuah bls dendam namun akhirnya cinta yg membuat mrk bersatu kembali donghae oppa n eve, anak mrk rosabelle dan kyu oppa

  14. keliling pesawat baru ini ff ini. kirain evenya mati pas donghae bilang bahagia ga di sana. ternyata malah donghae yg pergi, ninggalin eve. tp akhirnya donghae balik lg buat benerin kesalahannya..

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s