The Oxygen-01


The Oxygen-01

 

Titlte: Oxygen-01 | Author: Arsvio | Cast: Kyuhyun Cho, Adelynn Lee | Genre: Fantasy, Romance | Length: Oneshoot | Rate: PG-15

 

Ketika peradaban berkembang pesat setiap detiknya, melahirkan berjuta sainstech. Dorongan kebutuhan manusia yang kian membumbung membuat kurva tuntutan kebutuhan pokok menukik naik. Menyebabkan terciptanya proyek mengerikan sebagai imbasnya. ‘Oxygen-01’.

 

***

[Seoul undercover, 08.00 a.m, Dexan Lab]

Aku menekuri map yang baru saja diangsurkan padaku. Tulisan-tulisan rapi tersusun menerangkan dengan detail biografi seseorang. “Cho Kyuhyun,” gumamku seraya memandangi foto yang tercetak di kertas itu. Ku melemparkan map tersebut ke meja kerja dan bersiap mengambil tabung reaksi di meja penelitian.

“Hi,” sebuah tepukan ringan membuatku terlonjak. Dan sang penyapa tanpa rasa bersalah tersenyum lebar dan mendudukan dirinya di meja. “Dokter Adelynn Lee,” eja orang tersebut pada nametag yang terpasang di jas putihku.

Aku memicingkan mata dan siap membuka mulut. Namun tak sebuah kata pun meluncur. Aku mengerutkan dahi karena merasa familiar dengan lelaki yang tengah santainya duduk di meja penelitianku sembari mengayunkan kakinya. Benar. “Cho Kyuhyun?”

“Yes, I’m,” lelaki yang bernama Kyuhyun itu mengangkat kedua tangannya dengan riang. “Jadi kau dokter yang akan menanganiku, Dokter Lee?”

Aku mendengus sebal melihat kelakuan ‘pasien’-ku. Dengan segera aku melangkah ke meja kerja dan menutup map yang tadi kubaca. Takut-takut kalau isi map tersebut akan membuat masalah jika diketahui orang lain.

“Kita ke kamar inapmu, tuan Cho,” aku mengedikkan kepala sebagai isyarat.

“OK, Dokter Lee.” Kyuhyun melompat turun dari meja dan berjalan mendahuluiku.

***

[08.45 a.m, Kyu’s Room: Dexan Lab]

“Jadi seberapa parah penyakitku?”

“…”

“Apa penyakit ini begitu berbahaya? Sehingga aku harus dikirim ke sini?”

“…”

“Ah, ya. Kau bukan orang Korea asli ya? Wajahmu asian tapi, matamu biru. Cantik.” Kyuhyun memiringkan kepalanya menatapi wajahku.

“…”

“Yang aku tahu, keturunan German 75% nya memiliki mata biru. Kau blasteran German?”

“Tuan Cho, bisakah kau berhenti berbicara. Kau tak lelah terus menerus berbicara selama 45 menit aku memeriksamu?” sikap tegasku yang memang cenderung dingin. Aku memang tak suka dengan basa-basi.

“Hish, kenapa kau dingin sekali,” Kyuhyun memanyunkan bibirnya.

“Kondisimu masih stabil. Usahakan jangan terlalu banyak beraktifitas sehingga membuatmu lelah.”

“Apakah aku masih punya harapan hidup?”

Aku sedikit tersentak pelan dengan pertanyaan terakhir Kyuhyun. Hidup? Kuulas senyum palsu kharismatik andalanku. “Tentu, kalau kau menuruti perkataanku. Selamat pagi, tuan Cho.”

Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar Kyuhyun. “Apakah ada kesempatan hidup bagi spesies mereka?” senyum miring tersungging di bibirku. “Sebuah spesies layaknya tikus percobaan yang tak akan bertahan hidup lama.”

Ini 2080, tikus-tikus putih yang dahulu kerap menjadi obyek penelitian, kini telah digantikan dengan spesies yang dinamakan Mice. Manusia cloning yang mempunyai struktur tubuh sama dengan manusia, menjadikan percobaan yang kami scientist lakukan berjalan sempurna.

***

Kupijat kepalaku pelan saat kurasakan pening menyerang. Penelitian rahasia yang kujalankan benar-benar menguras semua pemikiranku. Aku melirik pada jam dinding yang bertengger di dinding ruangan kerjaku. 01.00 a.m. “Jadi sudah selama itu aku bekerja.”

Aku beranjak dari duduk dan melangkah keluar ruang kerja. Kuayunkan kakiku menuju ruang rawat inap ‘pasien’ku itu. Entahlah apa yang mendorongku, tapi aku ingin mengecek keadaannya. Yah, mungkin dialah asset berhargaku bagi keberhasilan vaksin kanker yang sedang kuteliti.

Kubuka pintu ruang inapnya perlahan. Infuse sudah terpasang di lengan kirinya. Kuperhatikan hembusan nafas teraturnya yang damai. Maaf. Mungkin kata itu yang harus kuucapkan sejak kami pertama bertemu.

Apa aku jahat? Tidak, menurutku. Aku mengembangkan vaksin ini juga demi keselamatan manusia sejagad. Dia adalah kelinci percobaanku yang pertama karna ini pertama kalinya aku melakukan riset di Dexan. Aku seorang newbie yang direkrut Dexan dua bulan lalu. Seorang lulusan magister Harvard dengan GPA tertinggi di usiaku yang masih belia.

Kupasangkan stetoskop di telingaku dan menempelkan ujungnya di dada Kyuhyun. Kurasa aku mulai menyukai memanggil nama itu, dibanding nama labnya Mice-0203. Jantungnya berdetak teratur. Sel kanker yang ditanamkan ditubuhnya mungkin sedang membangun koloni. Kutarik tanganku, tapi tiba-tiba kurasakan jemari lembut menahannya.

“Kyuhyun-ssi? Kau terbangun?” Kulihat dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan mulai menatapku.

“Dokter Lee?” ucapnya kemudian menumpukan tangannya di sisi tubuh untuk membantunya bangun.

Kucondongkan tubuhku ke arahnya. Membantu dia untuk dapat duduk di ranjangnya dengan nyaman. DEG. Wangi ini. Kenapa tiba-tiba jantungku mengehentak keras sekali lalu terhenti untuk sejenak.

“Kau berjaga?”

Pertanyaan Kyuhyun membuat tersadar dari sejenak lamunanku. “Tidak juga. Aku hanya ingin memeriksa keadaanmu?”

“Gomawo.”

Dia tersenyum tulus, sedangkan aku tersenyum miris. Apa pantas aku mendapat ucapan terima kasih itu? Seharusnya akulah yang mengucapkannya, juga orang-orang di luar sana. Yang menikmati pengorbanan mereka.

“Kau merasakan sakit, Kyuhyun-ssi?”

“Sedikit, perutku terasa sakit tadi.”

Kankernya mulai bereaksi. Sel-sel yang ditanamkan di tubuhnya mulai menjalar. “Kalau begitu, nanti pagi aku akan memeriksamu.”

“Dokter Lee?”

“Ne?”

“Bisakah kau menemaniku di sini?”

Aku mengerutkan keningku. Menatapi wajahnya yang sedikit pucat. Rasanya ada bongkahan es di dalam sini, di hatiku. Terselip rasa kasihan. Sadarkah orang-orang itu, bahwa manusia cloning rekayasa mereka sungguh luar biasa. “Kau harus beristirahat, Kyuhyun-ssi.”

“Aku tak bisa tidur. Sebelum kau ke sini pun, sebenarnya aku belum tidur.”

“Jadi kau hanya pura-pura tidur tadi, Kyuhyun-ssi?”

“Well, begitulah. Dan berhentilah memanggilku Kyuhyun-ssi. Panggil saja Kyu.”

“Kyu?”

“Hm,” dia mengangguk. “Noonaku dan teman-temanku memanggilku seperti itu.”

“Oh, baiklah,” kugeser kursi dan duduk di samping ranjangnya. Mungkin dengan begini aku sedikit menunjukkan rasa simpati dan terima kasihku padanya. Dan, apa yang tadi dia bilang, Noona? Teman? Demi apapun, system Dexan memang secanggih yang kubayangkan. Jadi mereka benar-benar meng-instalkan memori pada otak percobaannya.

***

Dan buntut dari pagi buta kala itu, aku sering menemani Kyuhyun. Dia bercerita tentang segala yang diketahuinya, sedangkan aku hanya mendengarkan. Tak jarang, dia menyanyi dan aku adalah penggemar pertama pada suara bass-nya yang mengagumkan.

Mendengar celotehnya, nyanyiannya, sedikit mengurangi bebanku. Membuatku merasa rileks saat berada di sebelahnya. Entahlah, apa yang terjadi pada hatiku yang beku semenjak lima tahun lalu. Karena sekarang, aku merasakan lebih bersimpati pada lingkunganku, dan bersikap ramah pada orang lain.

***

“Dokter Lee, ini rekap medis milik Cho Kyuhyun. Sementara ini, vaksin yang dicobakan masih terus melawan sel kankernya,” seorang asisten peneliti memerikan sebuah map padaku. Dua minggu ini aku terus mengawasi dengan intens perkembangan kesehatannya.

Kusunggingkan senyum kepuasan saat melihat data tersebut. Vaksin ini mulai menunjukkan hasil. Meski aku juga belum mengetahui hasil akhirnya dan seberapa besar efek sampingnya. Dan tiba-tiba, kurasakan seseorang menutup mataku dari belakang. Tekstur kulit ini, aku sudah mulai menghafalnya. “CHO KYUHYUN!” Dia terkekeh pelan kemudian memutar badannya, menghadapku. Kurasa aku juga sudah terbiasa dengan tingkah jahilnya.

“Apakah aku ada kemajuan, Lynn?”

Kyuhyun bertanya dengan penuh antusias. Dan memang sejak kemarin, dia ngotot memanggilku dengan sapaan non-formalku. Katanya, agar dia merasa lebih akrab di lingkungan rumah sakit ini. Dan bagaimana bisa dia tidak akrab dengan lingkungan lab ini jika faktanya di diciptakan di sini.

“Bagus, Kyu. Tapi—“ belum juga aku menyelesaikan ucapanku, dia sudah siap berjingkrak. Astaga, apakah mereka lain kali tidak bisa menciptakan Mice yang kalem saja. “Kau harus tetap menjalani serangkaian teraphy dan pengobatan itu.”

Kyuhyun terlihat mencebikkan bibir. Manis sekali. Kurasa aku memang mengagumi kesempurnaan penciptaan lekuk wajahnya.

“Aku benar-benar bosan harus setiap hari menjalani pengobatan itu.”

“Tapi kau harus melakukannya jika ingin sembuh.” Jika ingin percobaan ini berhasil, Kyu, lanjutku dalam hati. Kulihat dia memanyunkan bibirnya kembali, tapi ekspresinya berubah. Dia meringis.

“Kyu, kau bercanda lagi?” Kau pasti sedang mengerjaiku seperti kemarin bukan. Aku tak akan tertipu lagi dengan muslihatmu, tuan Cho.

“Lynn, perutku benar-benar sakit.”

Kulihat dia semakin meremas perutnya dan membungkuk. “Jangan bercanda lagi, Kyu. Ini tak lucu,”.

“Errghh, ini benar sakit Lynn.”

Dia semakin mencengkeram perutnya. Membuatku mulai kalap. Segera kutopang tubuh jangkungnya. Dan dia merangkulkan tangannya di bahuku. Aku dapat merasakan cengkeraman jemarinya di pundakku. Kupapah dia dan kubaringkan di meja pemeriksaan.

“Lynn, toloongg. Errghh.”

Kyuhyun semakin mengguling-gulingkan badannya. Kulihat dia sungguh menahan sakit yang luar biasa akibat kanker panreas itu. Dengan cepat aku mencari vaksin dan penenang. Dan kenapa diriku merasa panik. Mengakibatkan gerakanku kacau dan tak focus. “Tahan, Kyu.”

“Errghh.”

Kumohon, cepat-cepat. Aku masih mempersiapkan suntikan. Saking tak sabarnya, kurasa cairan vaksin itu berjalan lambat untuk masuk di tabung suntik. Kutahan tubuh Kyuhyun yang bergerak tak ke kanan dan kiri menahan rasa sakit.

Jariku gemetar saat menyentuh dadanya supaya membuatnya mengurangi gerakan saat aku menyuntiknya. Kupaksakan diriku untuk tenang. Kemudian menyuntikkan vaksin dan pereda nyeri ke tubuh Kyuhyun. Perlahan dia mulai tenang. Nafasnya mulai teratur dan kesadarannya mulai berkurang.

“Lynn,” lirihnya.

Dia menjulurkan tangannya padaku. Seperti biasa, memintaku untuk menggenggamnya. Kusambut ulurannya dan kugenggam erat jemarinya. Mengisyaratkan bahwa aku ada di sampingnya. Kenapa, semakin hari aku bertambah bersalah padanya.

***

Aku tak bisa menahan lengkungan senyumku saat pagi hari menemukan sebuket bunga aster berwarna-warni di meja kerjaku. Kuambil bunga itu dan membaca sebuah pesan yang terselip di sana. ‘Pagi, dokterku yang cantik’.

Hati ini, kenapa rasanya semakin hari semakin terpaut pada senyumnya. Seolah aku bisa melihat dirinya yang tertawa lepas dan tersenyum padaku. Aku mendesah dan menghembuskan nafas panjang. “Aku tidak mungkin jatuh hati pada preparatku sendiri kan?” sangkalku.

Kubuka tirai di ruanganku yang langsung menghadapkan pada ruangan besar tempat beberapa orang yang berpiyama biru beraktifitas. Kusilangkan kedua tanganku di depan dada. Dan tatapanku tertuju pada seorang pria yang duduk 20 m dari tempatku berdiri dengan, tentunya, PSP kesayangannya.

Dia nampak frustasi dan gemas. Pasti karna layar PSPnya menampilkan tulisan ‘GAME OVER’. Aku terkekeh ringan melihat ekspresinya. Kulihat, dia mendongak dan matanya menemukanku. Dilambaikan tangannya dan dengan senyum sumringahnya menyapaku.

***

Ini sudah bulan kedua. Aku nampak gelisah dengan membolak-balik catatan kesehatan Kyuhyun. Vaksin itu memang berhasil mengurangi sel-sel kankernya, namun ada fakta lain yang kutemukan. Ketahanan tubuhnya juga mengurang seiring waktu. Pertama, mungkin karna dia hanya sebuah cloning yang memang tak sekuat manusia biasa. Kedua, aku takut kenyataan bahwa ini adalah efek samping vaksin itu karena ketahanannya menurun sangat drastis.

Kuberanjak ke meja penelitian. Mengoreksi ulang vaksin kanker tersebut. Juga menyiapkan sebuah vaksin lain. Sebuah penelitian yang sembunyi-sembunyi kulakukan setelah mengamati kondisi para Mice yang membuatku sesak.

“Dokter Lee, Dokter Lee,” asistenku masuk ke ruangan dengan nafas tersengal dan wajah gusarnya. “Cho Kyuhyun, dia…”

***

“Kyu,” rintihku sembari terus berlari menyusuri koridor lab Dexan yang luar biasa luas. Bagaimana bisa dia menghilang. Apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Dia memang usil, tapi dia akan tetap patuh menaati semua jadwal therapy dan pengobatannya. Tapi siang ini, dia bahkan tak mengunjungi klinik therapy maupun pengobatan.

Aku benar-benar kehabisan nafas. Sudah puluhan mungkin bahkan ratusan bilik dan ruangan kuperiksa, namun tak jua menemukan sosoknya. Beberapa tempat di area Dexan Lab yang kerap kukunjungi dengannya pun juga nihil.

Kurasakan mataku memanas dan setelahnya air mata telah meluncur di pipiku. Kekhawatiranku memuncak. Bagaimana tidak, ini sudah pukul 09.00 malam, dan jadwal pengobatan Kyuhyun adalah tadi siang pukul 02.00. Dia akan collapse jika tidak disuntik vaksin dan beberapa obat.

Kupaksakan kakiku berlari walaupun rasanya sudah berdenyut. Menyusuri ruang bawah Dexan yang pengab, hanya berasumsi bahwa inilah satu-satunya ruangan yang jarang terjamah. Aku sempat terhenti melihat pintu yang terbuka.

“Errghh.”

Nafasku tercekat. Ini suara Kyuhyun. Dengan cepat kupacu langkahku menenmukannya. “Kyu,” pekikku dan berlari menghampirinya yang sedang menahan sakit di perutnya. Dia dalam keadaan meringkuk di lantai sembari memegangi perutnya. Piyama yang dikenakannya sudah kotor dan sedikit lembab. “Kyu,” kuguncang pundaknya dengan sedikit keras.

“Pergi kau.” Kyuhyun menepis tanganku di pundaknya.

“Kyu…”

“Kalian pembohong,” dia masih menahan sakitnya.

DEG. Apa dia mengetahuinya. Kumohon, ini terlalu menyakitkan. Kutarik suntikkan dari jasku. Tak tahan melihatnya dalam keadaan itu. Dan ketika akan kusuntikkan pada lengannya, Kyuhyun menyamparnya dengan keras. Menjadikan suntikan itu melenting ke lantai.

“PERGI! AKU MEMBENCIMU, LYNN!”

Kata-kata itu kenapa sangat menyakitkan. Rasanya ada pisau yang menghujam dadaku. “Kyu,” rintihku masih mencoba membantunya untuk duduk, tapi lagi-lagi dia mendorongku. “Kyu, kau harus mendapatkan vaksin itu,” bentakku, tak peduli seperti apa dia menolakku.

“AKU TAK MEMBUTUHKANNYA. KALIAN BRENGSEK!”

“Errghhh,” erangan Kyuhyun semakin menjadi.

Aku mengambil suntikan yang tadi terlempar. Bagaimana pun caranya dia harus mendapat vaksin itu. Mau tak mau. Bukan karna aku khawatir dengan ekspperimenku, persetan dengan semua itu. Yang terpenting sekarang bagaimana aku menyelamatkannya. Dengan paksa kutahan lengannya yang terus meronta.

“HENTIKAN, PERGI!”

“BIARKAN AKU SEKARAT. AKU MEMBENCIMU!”

PLAK.

Kurasakan perih dan panas di pipi kiriku. Tapi ini tak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang kami lakukan padanya. “DENGARKAN AKU CHO KYUHYUN!” nafasku tersengal. Kuguncang bahunya sekali lagi.

“Biarkan aku mengobatimu sekali ini lagi, setelah itu terserah padamu. Kumohon, kau boleh malakukan apa pun padaku, tapi sekali ini saja, dengarkan aku,” aku memohon padanya. Tanpa kuhendaki setetes air mata kembali merembes dari mataku. Dan akhirnya disusul tetes-tetes lainnya yang mendesak keluar. Pertama kalinya aku menangis untuk orang lain.

Dia masih meringis tapi tak setemperamental tadi. Badannya menegang dan meringkuk menahan sakit yang teramat. Kembali kudekati dia dan menyuntikkan beberapa vaksin ke tubuhnya. Perlahan dia luruh.

Kuangkat kepalanya ke pangkuanku. Badannya dingin, dia telah lama di sini rupanya. Aku melepas jas putihku dan menyelimutkan di tubuhnya. “Maaf, Kyunie.” Kusapukan jemariku, merapikan rambutnya yang berantakan dan sedikit lengket karena keringat.

***

Aku tahu ini salah, tapi untuk sekali ini saja, aku mengabaikan segala aturan, termasuk Dexan. Meski tadinya, diterima di Dexan adalah impianku, tapi setelah mengalami ini semua, rasanya aku tak menyesal jika membuang jauh-jauh Dexan dari hidupku.

Kupapah tubuh Kyuhyun dengan pelan, keluar dari mobilku. Setelah bersusah payah akhirnya aku sampai juga di depan apatemenku. Kutekankan jemariku pada system lock pintu, setelah menganalisis retina mataku, pintu terbuka.

Kubaringkan dia di ranjangku, menyelimutinya, dan tak lupa memasang infuse di lengan kirinya. Aku memandangi wajah lelahnya. “Istirahatlah, Kyu.” Kulihat dia patuh lalu memejamkan matanya.

***

“Morning,” sapaku sembari meletakkan sarapan di nakas. “Bagaimana istirahatmu?”. Dia bergeming dan memalingkan wajahnya dariku. Aku tahu dia masih sangat marah padaku. Dan dia berhak untuk itu.

“Makanlah Kyu, jangan siksa dirimu seperti ini, kondisimu bisa bertambah buruk.”

Dia megalihkan tatapannya padaku dan memandangku tajam. “Kau bukan dokter. Apa pedulimu? Ah, ya. Eksperimen ini bukan?” sindirnya dengan nada tajam.

Rasanya hatiku kembali teriris. Benarkah? Aku hanya mementingkan dengan eksperimen itu? lalu untuk apa aku bersusah payah membawanya kemari jika hanya penelitian itu yang kupedulikan. “Marahlah, aku tidak akan menyangkalnya. Tampar aku jika kau sangat membenciku.”

“BENAR, AKU MEMBENCIMU, MEMBENCI KALIAN!” teriaknya. Tangannya sudah terangkat ke udara. Dan aku hanya dapat memejamkan mata. Bersiap menerima tamparannya kembali. Cukup lama, tak juga kurasakan sesuatu menghantam pipiku. Perlahan kubuka mataku dan melihat mata Kyuhyun yang memerah.

Kyuhyun menarik kakinya yang tadi berselonjor dan menekuknya. Membenamkan wajahnya di kedua lututnya. “Kenapa Lynn?”. Dari nadanya aku tahu dia terisak. Membuatku juga merasa perih. Tak ayal air mata ini jatuh untuk kesekian kalinya untuknya.

“Maaf. Kami egois.”

“Kenapa di saat aku menginginkan hidup, kalian malah merampasnya?”

“…”

“Tadinya aku sudah tak peduli dengan penyakit ini. Tapi, melihatmu yang kukira sangat memperhatikanku, aku mempunyai semangat lagi. Aku ingin hidup.”

“…”

“Namun kenyataannya, aku hanya sebuah alat eksperimen yang nantinya akan dimusnahkan juga. Aku membecimu, Adelynn.”

“…”

“Kenapa Lynn? Kenapa aku harus musnah disaat aku mulai menyayangi seseorang,”.

“…”

“Dan sekarang aku tahu bahwa orang yang kusayangi ternyata hanya memanfaatkanku saja demi eksperimennya.”

Aku terisak mendengar semuanya. Pengakuannya, rasa sakitnya. Aku juga merasakannya. “Maaf,” hanya kata itu yang bisa kusampaikan. Kutundukkan kepalaku. Tanganku memegangi dada yang rasanya berjuta pilu bersarang di sini.

Kurasakan sebuah jemari lembut membelai pipiku tepat di luka lebam yang Kyuhyun ciptakan semalam. Dan darahku seperti terhenti di jantung ketika sebuah ciuman mendarat di sana. Kyuhyun menciumku.

“Aku menyayangimu, mencintaimu,” bisiknya.

***

Kyuhyun nampak menarik-narik ujung kausnya. Mungkin sedikit tak nyaman dengan kaus yang dikenakannya.

“How do I look?” dia merentangkan kedua tangannya ke udara.

“Looks gorgeous, Kyu, except your pants,” aku sedikit terkekeh melihat celananya yang sedikit meninggi di atas mata kaki. Hae Oppa memang tak setinggi Kyuhyun.

“Bagaimana kau mendapatkan kaus ini?”

“Itu milik Donghae Oppa.”

“Dia kakak laki-lakiku,” jelasku yang melihat tatapan menyelidik Kyuhyun.

Dan rangkaian tindakan gilaku adalah termasuk ini. Aku mengajaknya ke arena bermain taman kota. Bagaikan di Disney Land. Seharian ini kami menaiki berbagai wahana. Mulai dari roller coaster sampai cangkir putar. Rasanya sudah lama aku tak menikmati ini semua semenjak kedua orang tua dan kakakku meninggal akibat kecelakaan pesawat, lima tahu lalu.

Aku tak menyesali ini semua. Karena melihat senyum dan tawanya adalah sesuatu yang berharga bagiku saat ini. Cho Kyuhyun, kau sudah mengambil hatiku.

***

“Istirahatlah.” Aku membenarkan letak selimutnya. Setelah seharian bermain, kurasa tubuhnya sangat letih. Wajahnya memucat, tapi senyum itu tak pernah lepas dari bibirnya.

“Kau mau kemana?” tanyanya saat melihatku mengambil coat di almari.

“Ada sesuatu yang harus kuambil di lab.”

Serta merta dia bangun dan melotot padaku. “Kau akan kembali ke sana. Aku akan ikut bersamamu.”

“Tidak Kyu. Istirahatlah. Aku hanya sebentar.” Kulihat dia masih memandangku dengan tajam. “Kumohon, kembalilah istirahat demi aku.” Aku menghampirinya dan mengecup keningnya. Dia masih mencebik namun tidak membantah lagi.

***

[After couple hours]

Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati agar tak menimbulkan deritan yang akan membangunkannya. Kuposisikan duduk di tepi ranjang. Mengecek kondisi standarnya. Wajahnya benar-benar pucat, kulit bibirnya juga sedikit mengering. Namun nafasnya masih teratur.

Kuusap pipinya yang sedikit tirus dengan lembut agar tak membangunkannya. Menelusuri setiap detail wajahnya. Mata yang menutup dengan bulu mata yang tak terlalu panjang, hidung mancung, bibir penuh yang kini kehilangan kelembabannya, lekukkan dagu di bawah bibirnya, dan dagu yang terbentuk tegas, semua ini bisakah aku mempertahankannya untuk beberapa tahun ke depan. Aku sedikit tersentak ketika matanya secara tiba-tiba membuka.

“Mengagumiku, miss Lee?”

Aku tersenyum tertahan dengan melipat bibirku. Tentu saja.

“Terbangun?” tanyaku. Dia hanya mengerutkan bibirnya. “Kenapa?”.\

“Kukira dengan aku berpura-pura tidur, kau akan memberikan sebuah ciuman tanpa canggung. Huh.”

“Ne?” Kucubit pipinya hingga dia sedikit berteriak. “Jangan berpikir yang tidak-tidak, tuan Cho.”

“Hish,” dia hanya mendesis dengan lucu.

“Kembalilah tidur,” aku merapikan selimutnya yang sempat berantakan. “Aku ada di luar jika kau membutuhkan.”

“Lynn?”

“Hmm…”

“Bisakah kau memelukku sampai aku tertidur?”

“Ne?” mataku membesar mendengar permintaan konyolnya.

“Arra…arra…cukup temani aku saja,” jawabnya malas setelah melihat ekspresi terkejutku. Dia memanyunkan bibir bawahnya kemudian memejamkan mata.

Kurasa aku juga sudah gila jika memenuhi permintaan konyolnya. But, here I’m. Aku naik ke ranjang, menelusupkan tubuhku ke dalam selimut dan melingkarkan tanganku di pinggangnya.

Dia membuka matanya dan tersenyum lebar penuh kemenangan. Diselipkan tangannya di bawah leherku dan menarik tubuhku merapat padanya. “Gomawo,” ucapnya seraya memberikan kecupan di keningku.

Dapat kudengar degub jantungnya yang meningkat. Dan aku menyukainya. Kusesapi dengan leluasa wangi maskulin tubuh ini. Kuusap-usap dengan lembut dadanya, memberikan kenyamanan dan ketenangan untuknya. Berharap dia segera masuk ke alam mimpi. “Have a nice dream, Kyu,” bisikku.

***

[At midnight]

Aku terbangun karna merasakan cengkeraman di pundakku. Segera kudongakkan kepalaku dan menemukan wajah Kyuhyun yang berkeringat dingin. Dia meringis. Kanker ini. “Kyunie?” kutepuk-tepuk pipinya agar dia meresponku.

“Eerrghh,” Kyuhyun hanya menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

Segera aku bangkit dan mengambil suntikan vaksin, lalu perlahan menyuntikkan ke tubuhnya. Tubuh Kyuhyun mulai tenang. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sepertinya hal yang buruk, yang kulupa.

Kyuhyun membuka matanya dan menatapku sendu. “Lynn,” rintihnya.

Dan Oh My, aku menyadari hal itu setelah melihat setetes darah mengalir dari hidung Kyuhyun. Dia bukan sakit akibat kanker itu, melainkan dari vaksin itu sendiri. Dari pengamatan, vaksin itu mampu melawan sel-sel kankernya, namun di sisi lain sang vaksin juga menggerogoti tubuh Kyuhyun.

“Kyu,” rintihku sembari mengusap darah di hidungnya. Apakah ini akhir perjuanganku?. Apakah ini adalah titik di mana aku tak bisa berbuat apa pun. Kuciumi punggung tangannya dengan air mata yang sudah berlinang.

“Lynn, jangan menangis.” Dia mengusap air mata yang mengalir di pipiku dengan sisa tenaganya. Dan tindakannya membuatku semakin tergugu.

“Maaf, maafkan aku,” racauku. “Aku egois, kami egois.”

Kyuhyun hanya tersenyum lemah. “Lynn, bisakah aku mendapat kehidupan kedua? Hanya untuk memastikan bahwa kau hidup dengan baik.”

Aku membekap mulutku untuk meredam tangisku yang semakin keras. Dapat kurasakan denyut nadinya yang kian melemah. Kumohon, pertahankan dia di sisiku.

“Penelitian oxygen-02 milikmu. Bisakah kau mencobakan padaku?”

Aku tersentak pelan. Mataku tak focus memandangnya. Bagaimana dia tahu bahwa aku mengerjakan proyek rahasia yang kesebut oxygen generasi ke 2? Sebuah serum yang kukembangkan agar manusia cloning memiliki kekebalan layaknya manusia biasa. “Tidak, Kyu. Serum itu belum sempurna dan belum pernah kucobakan,” aku menggeleng-geleng.

“Kumohon, aku sangat menginginkan kesempatan itu, Lynn,” ucapnya dengan tersendat-sendat.

Aku semakin menggelengkan kepalaku. Tidak cukupkah dosa yang kuperbuat dengan menjadikan dia percobaan vaksin kankerku?. Kumohon, jangan lagi. “Tidak!”

“Kumohon.”

“Kau bisa collapse, Kyu,” jeritku.

Kyuhyun nampak mengatur nafasnya kembali. “Kumohon.”

Aku menundukkan kepalaku, memejamkan mata untuk berpikir jernih. Salahkah aku jika saat ini aku sangat egois untuk menginginkan kehadirannya di sisiku. Tanganku menggapai sebuah suntikan berisi serum yang tadi aku ambil dari lab Dexan di laci mejaku.

Jemariku bergetar hebat tatkala menekankan jarum suntikan tersebut di lengannya. Rasa gamang kembali menyergapku. Kutarik kembali suntikan itu, namun jemari Kyuhyun menahannya.

“Kumohon, lakukan. Aku mempercayaimu, Adelynn.”

Aku menatap mata cokelat tua milik Kyuhyun, meminta kekuatan darinya. “Please forgive me.” Dengan cepat kusuntikkan serum tersebut.

Satu menit pertama, tidak ada reaksi sama sekali. Kugenggam tangan Kyuhyun dan dia tersenyum tulus ke arahku yang masih tegang. Kutangkupkan kedua tanganku, membungkus jemarinya.

Dan menit berikutnya, sesuatu yang kutakutkan datang. Nafas Kyuhyun mulai tersengal, tubuhnya mulai mengejang. Matanya memandang ke segala arah dengan random. Jemarinya semakin erat menggenggam tanganku.

“Kyu…Kyu…,” aku meneriaki namanya. Berharap dia meresponku. Tapi nihil, Kyuhyun semakin mengejang hebat. Kakinya menghentak-hentak ranjang.

“Kumohon, kumohon, bertahanlah,”. Entah mengapa mata ini tak kehabisan stok air mata malam ini. Aku semakin histeris memanggilnya. Dengan cekatan, kusuntikkan penenang padanya.

“Sakit, Lyyynnn,” satu kata yang terucap dari mulutnya setelah sedikit mereda dari kejangnya. “Sakiiit,” Kyuhyun masih merintih sembari memegangi dadanya.

“Tahan, Kyu,” isakku. Aku sudah tak mungkin menyuntikkan pereda nyeri karna serum yang kusuntikkan sebelumnya menolak obat tersebut. “Kumohon bertahanlah.”

Kurasakan hentakan yang menarik tubuhku. Menjadikanku jatuh tepat di sebelah Kyuhyun. Dia mendekapku dengan protektif. Membenamkan wajahnya di lekuk leherku. Aku dapat merasakan tubuhnya yang tegang karena kesakitan.

Kyuhyun mengangkat wajahnya. Dari ekspresinya, aku tahu dia masih menahan sakit. “Adelynn Lee, I love you so much. Thanks for being my doctor,” ucapnya dengan terrbata.

Aku terisak kembali. Kumohon jangan katakan kalimat yang mengimplisitkan perpisahan. Hatiku remuk. “I lo-,” belum sempat kuselesaikan kalimatku, Kyuhyun sudah menempelkan bibirnya padaku. Menciumku dengan lembut.

Aku bisa merasakan gesekan kulit bibirnya yang mengering di bibirku. Rasanya bibirku perih ketika dia memperdalam ciumannya. Namun, itu tak sebanding dengan ketulusan yang coba dia salurkan melalui ciuman tersebut. Aku membalasnya, dan detik berikutnya aku dapat merasakan ciumannya yang semakin melemah dan akhirnya terhenti seiring deru hangat nafasnya yang tak dapat lagi kurasakan.

Aku terisak keras. Membenamkan wajahku di dadanya dan memelukkanya erat.

***

[The next morning]

Kukerutkan kelopak mataku yang masih terasa pedih akibat menangis semalaman.  Rasa sesak ini masih sangat nyata tertanam di dadaku. Bahkan aku tak yakin sampai kapan aku bisa menghilangkannya. Dan mampukah aku menghilangkannya. Aku masih memeluk raganya pagi ini. Memuaskan penglihatanku pada eksistensinya. Menelusuri setiap pahatan wajahnya. Dan detik ini juga, aku sudah merindukan binar mata dan senyum bibir itu.

“Morning, Kyu,” serakku menyapanya meski tahu dia tak akan membalasnya. Untuk kesekian kali, air mataku meleleh tak tertahankan. Kubenamkan wajahku di pundak Kyuhyun.

Sejanak kemudian, aku merasakan jemari yang bergerak lembut di pinggangku. Semakin erat menarik tubuhku merapat. Kudonggakkan dengan cepat kepalaku ke wajah Kyuhyun. Bermimpikah aku, Tuhan?. Jika ya, maka inilah mimpi terindahku. Jika tidak, maka tolong jaga penglihatan ini.

Tatapan sendu itu, senyum menawan itu.

“Morning, Adelynn.”

END*

END*

Note: Jingkrak2 karena akhirnya oneshoot about Kyuhyun rampung juga. Please, tell me how do you feel after read this ff? Did this ff satisfy you?

Gomawoyo dah baca.

62 thoughts on “The Oxygen-01

  1. Wow ceritanya kereeen ! ide2 nya kreatif bgt, kloning manusia? mice? wah wah keren eonn bisa kepikiran untuk bikin ff ini.. aku termasuk org yg ga tau apa2 soal dunia kedokteran.. tapi baca ff ini ga bikin pusing karna ga ada bahasa kedokteran yg aneh nyangkut diotakku.. hehehe eh itu endingnya gmn? masih blom jelas.. ah baca sequel aja deh biar jelas *capcus* hehehe

  2. Poppo BakPao.. {{2}} says:

    2080..?Ok.Lah..
    Kyuhyun itu Clonning .?Maksudnya dia Robot gitu Kk..
    Atau Manusia yang di’Pake Jadii Bahan Percobaan ‘Eksperimen.??
    tapii Kalau dia Memang Robot Koq Punya Perasaan Cinta Ya..??
    tapi ini kand Tahund 2080 Yaa,. Pa Jja Bisa di’Ciptakan..

  3. demi apa tiap adegan kyu kesakitan, aku netesin air mata–” kak sumpaaaaaah nyesek bangeeeetTT gatau mesti ngomong apalagi, intinya penasaran sama sequelnya! dan itu kyu nya masih hidup ya? aaaa aku langsung ke sequel deh kak:”

  4. wooaaa…daebak..
    jarang2 da ff kya gni..istilah2 yg d gunain..penulisan’a..enak d baca..
    feel’a dpt..adelynn yg berhati keras luluh krna klinci percobaan’a sndri..
    ngeliat situasii n kondisi’a..chemistry antra adelynn n kyu bda dr pda yg laen..keren thor..~^^

  5. HalcaliGaemKyu says:

    Feelnya? Nyesek. Sampai nangis gini. Astaga.. Gk tega dan terharu abis.
    Daebak bgt ff ff mu..
    Pokoknya rasanya tuh nyesek deh. Kyu sbg cloning yg ‘diberikan penyakit kanker’, dijadikan eksperiman, dan dia gk tau apa2. Ketika dia ingin hidup dan berjuang melawan penyakitnya untuk bs terus bersama wanita pujaannya, dia justru mengetahui fakta itu. Itu nyesek bgt.
    Keren bgt deh pokoknya.
    Gumawo.. Lanjut ya

  6. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Huweeeee~ nangis kejer. Kyu jadi manusia kloning, tega banget dijadikan kelinci percobaan. Kyu selamat karena Oxygen-2, artinya percobaannya berhasil?

  7. Guixianra says:

    Hah ? Ini setting nya berada pada 2080 ? WOW, it’s awesome.. Jadi Kyuhyun itu cuma makhluk clonningan ? Kanker yang diderita Kyuhyun bukan murni, tapi akibat ditanamkan nya bibit kanker ditubuh nya ? Oh! Ehey! Faktanya Adelynn jatuh cinta sama Mice-0203 a.k.a Kyuhyun. Berarti Kyuhyun bertahan karena serum Oxygen-02 ?? W.O.W

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s