The Oxygen-02


The Oxygen-02 (A sequel)

Title: The Oxygen-02 (A Sequel) | Author: Arsvio | Cast: Kyuhyun Cho, Siwon Choi, Adelynn Lee | Genre: Family, romance | Rate     : PG-15 | Length: Oneshoot

“Kyu, kumohon hentikan!” aku berteriak histeris. Andai saja kedua tanganku sedang tidak ditahan, aku pasti sudah berlari menghambur pada lelaki itu. “KYUHYUN!” ulangku agar dia mau menurut, untuk tidak melawan saat beberapa orang ingin menangkapnya. Sudah pasti mata biruku memerah, menghasilkan kombinasi warna yang menyedihkan. “Hentikan, hentikan!” raungku pada tiga orang yang terus saja mendesak Kyuhyun.

Hanya butuh waktu tak sampai 15 menit, bagi tiga orang berperawakan bodyguard untuk menangkap seorang Cho Kyuhyun, bagaimanapun dia melawannya. Kyuhyun hanya meronta-ronta ketika kedua tangannya dipiting ke belakang. “HYA, apa mau kalian?” sentaknya.

Ketukan ringan akibat beradunya sepatu dengan lantai terdengar mendekat. Aku dan semua yang berada di ruangan menoleh padanya dan mendapati seorang pria berwajah tampan. Dia memasukkan kedua tangannya di celana formal yang dikenakannya. Menambah kesan angkuh yang terpancar dari wajah dinginnya. “Long time no see miss Lee,” sapanya sembari menatap tajam ke arahku.

“Siwon-ssi,” lirihku. Aku tak mampu berkata-kata lagi ketika melihat pria itu. Kesalahan yang kulakukan sudah pasti menuai hasil, dan detik ini aku baru memulai petaka. Kulihat Kyuhyun menoleh cepat ke arahku. Keningnya berkerut, mungkin karna belum mengerti situasi yang dihadapinya.

Siwon mendekatkan dirinya padaku. Dan aku bisa merasakan aura membunuhnya. Aku sangat sadar jika kesalahanku melanggar aturan Dexan sudah tak terbantahkan. Kucoba menggerakkan tanganku untuk memberontak, tapi nyatanya malah kulit pergelangan tanganku terasa perih akibat cengkeraman pria sialan ini.

“What a great escaping, Adelynn-ssi,” sapa Siwon dengan wajah dinginnya. Kentara sekali kalau dia sangat ingin menelanku bulat-bulat. Masih menatapku dengan tajam, Siwon menjentikkan tangannya ke udara. Isyarat agar anak buahnya menggiring Kyuhyun ke luar.

Aku mengeraskan rahangku ketika beberapa bodyguardnya menyeret Kyuhyun. Mulutku bungkam. Aku hanya yakin bahwa Siwon tak akan berani menyakiti Kyuhyun. Tidak akan pernah walau seujung rambutnya. Dia kemudian mengedikkan kepalanya pelan hingga pria yang menahanku melepaskan cengkeramannya padaku dan ikut keluar dengan yang lain.

“Sudah puaskah kau bermain, Adelynn?”

***

Kupejamkan mataku sejenak. Pada akhirnya aku kembali lagi ke ruangan ini. Kepalaku terasa berdenyut ketika mengingat perbincanganku dengan Siwon tadi pagi. Demi apa pun, semoga keputusan bodohku tidak membawa bencana yang lebih besar.

Aku merapatkan jas putih kebesaranku. Kemudian berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan oleh asistenku tadi. Menemui seseorang yang pasti membutuhkan kejelasan dari semua ini.

Dengan hati-hati kulangkahkan kakiku agar tak mengejutkannya. Menikmati melihat punggungnya, yang mungkin ke depan tak akan bisa lagi aku kagumi. Kuputar langkahku dan memposisikan diri di sampingnya.

“Kyu,” sapaku. Kyuhyun tidak merespon dan memilih memandang lurus ke luar jendela. Dari tatapannya, aku menebak bahwa dia sudah mengetahui semuanya. Kumohon, bertahanlah di kenyataan ini Kyu.

“Apakah semua benar, Lynn?”

Aku menghela nafas panjang. “Ya, seperti yang sudah kau ketahui.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” Kyuhyun masih tak memandangku. Dan berkata dengan nada datarnya.

“Kembalilah. Mereka keluargamu,” aku menjalankan perjanjianku dengan Siwon.

“Tapi aku bukan Choi Kyuhyun. Aku Cho Kyuhyun.”

“Kyu, dia hyungmu. Kenangan yang kau terima hanya merupakan memori semu. Pada keyataannya, kau adalah adik seorang Choi Siwon.”

“Bukan. Aku bukan adiknya. Aku hanya cloning dari adiknya yang sudah mati, Lynn.”

Kukuatkan hatiku. Maafkan aku, Kyu. Tapi semua demi kebaikanmu semata. “Kembalilah, dan kau akan baik-baik saja. Mereka menantikanmu, Kyu.”

Kyuhun menoleh padaku dan menatapku dengan pandangan yang tak dapat kutebak. Antara kecewa dan senang secara bersamaan. “Bagaimana dengan dirimu? Apa dia akan menuntutmu?”

Ku gelengkan kepalaku pelan. Dia tidak akan menuntutku, Kyu. Bahkan besar kemungkinan aku akan memasuki keluarga Choi juga, bersamamu. Hanya saja, bukan sebagai seseorang di sisimu, melainkan sebagai calon istri kakakmu, Choi Siwon. “Biasakan dirimu untuk memanggilnya ‘hyung’ bukan ‘dia’,” kataku kemudian menepuk pelan bahu Kyuhyun.

Segera kutarik tanganku karna tak ingin sengatan-sengatan listrik akibat menyentuhnya mengalir di permukaan kulitku. Namun, dengan cepat Kyuhyun menahannya. Kumohon, jangan buat aku semakin berat melepaskanmu. Kutepis dengan sedikit kasar tangannya, kemudian segera berbalik meninggalkannya. Aku sangat tahu jika Kyuhyun kaget dengan perubahan sikapku padanya yang mendadak. Tapi, inilah yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu.

***

Siwon meletakkan sebuah paper bag yang besar di mejaku. Jadi seperti ini sikap penguasa Dexan? tanpa mengetuk pintu langsung saja memasuki ruangan kerja karyawannya. Kulirik dirinya yang menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di hadapanku. “Apa ini?”

Dia melipat tangannya di depan dada dan menyilangkan kakinya. “Gaun yang akan kau kenakan malam nanti,” ujarnya santai namun tetap dengan wajah dinginnya.

“Memang apa yang harus kuhadiri malam ini hingga Choi Siwon-nim repot-repot membawakanku sebuah gaun?” ucapku dengan nada menyindir.

“Makan malam keluargaku menyambut kepulangan Kyuhyun.”

Rasanya pening langsung menyerang kepalaku ketika dia mengatakannya. Jangan bilang bahwa aku harus bersandiwara lagi malam ini. Kupejamkan mataku sejenak, kebiasaan saat aku pusing. Pria ini sungguh berjiwa iblis.

“Mengapa aku harus menghadirinya?” ucapku saat berhasil mengatasi sakit kepalaku.

Siwon memperlihatkan smirknya. “Kau tentu tidak lupa dengan perjanjian kita, nona Lee?” Dia berdiri dari duduknya dan mencondongkan badannya ke arahku, membuatku secara reflek mundur. “Malam ini, sekaligus peresmian pertunangan kita, nona Lee. Tenang saja, hanya sebuah makan malam kecil antara aku, Mom, juga Kyuhyun.”

Nafasku benar-benar tercekat ketika mendengarnya. Haruskah aku menghancurkan Kyuhyun lagi. Dadaku naik turun dengan cepat seiring jantung yang berdetak tak beraturan. “Kau benar-benar iblis, tuan Choi,” desisku.

“Terima kasih, kuanggap itu sebagai pujian dari calon istriku,” katanya enteng. Dimasukkan kedua tangannya di saku celananya dan melangkah keluar. Ketika dia mencapai pintu, kembali kepalanya menoleh padaku. “Senang bekerja sama denganmu.”

***

Beberapa kali aku membuang pandanganku ke arah lain saat menyadari Kyuhyun menatapku dengan intens. Kurasa dia sudah mencurigai keberandaanku di sini. Kumohon, tetaplah tegak tanpaku, Kyu.

“Kyunnie, Mom, di hadapan kalian, malam ini aku ingin melamar seorang gadis yang kucintai.”

Ucapan Siwon serta merta membuat kupingku berdengung. Aku tahu ini pasti terjadi, dan aku sudah meyakinkan diri bahwa aku bisa melakoninya. Namun, hati ini rasanya benar-benar lara ketika kulihat Kyuhyun menatapku dengan pandangan terluka.

Kutarik bibirku membuat lengkungan senyum dengan sangat terpaksa. Maaf untuk semua yang kulakukan padamu, Kyu. Kubiarkan Siwon mengambil alih jemariku dan menyematkan sebuah cincin berlian di sana.

Kami semua terkejut ketika tiba-tiba Kyuhyun memundurkan kursinya dengan kasar dan meninggalkan meja makan. Dia nampak sangat marah dengan keadaan ini. Aku juga terluka, tapi tolong jangan buat hatiku lebih teriris lagi karna melihatmu terluka.

***

“Aku ingin bicara. Kau berhutang klarifikasi padaku, Lynn,” nampak Kyuhyun mengunci pintu ruanganku.

Aku tahu, dia pasti akan membahas kejadian ketika makan malam kemarin. Tuhan, kumohon kuatkan aku untuk tetap menatapnya.

“Apa maksudmu menjadi tunangan Siwon Hyung? Kau mempermainkanku, Lynn?”

Senyum yang biasanya terpasang di wajah tampannya tak nampak. Dia benar-benar memasang wajah datar dan dinginnya. Seperti bukan Kyuhyun yang kukenal.

“Kurasa tak ada yang perlu dijelaskan, Kyu. Bukankah semua sudah jelas?” tanyaku retoris.

Kyuhyun menyunggingkan senyum miringnya. Menjadikannya benar-benar mirip dengan ekspresi milik Siwon. “Lalu kau anggap apa aku selama ini, huh?”

“Kurasa sejak awal hubungan kita memang sudah jelas. Dokter-pasien.”

“Peneliti-kelinci percobaan,” ralat Kyuhyun yang membuat hatiku dihujam sebilah pisau. “Seharusnya aku menyadarinya dari awal.”

“Anggap saja kebersamaan dan rasaku untukmu adalah kesalahan,” tanganku bergetar ketika mengatakan kebohongan ini. Dengan segera kusembunyikan kedua tanganku di balik punggung agar Kyuhyun tak menyadarinya.

Kyuhyun membulatkan matanya. Kemudian mencengkeram erat kedua lenganku. Membuatku sedikit terangkat. “Seperti itukah persepsimu, Lynn?” tanyanya tajam sembari mengguncang tubuhku pelan.

Aku menatap lurus ke dalam dua bola mata berwarna coklat tua itu. Lihat mataku, Kyu. Tidak bisakah kau melihat bahwa semua ucapanku adalah kebohongan? Sungguh aku juga tak menginginkan seperti ini. Tapi, jika semua menyangkut keselamatanmu, aku tidak bisa berkompromi.

Khyuhyun menghempaskanku dengan sedikit kasar. Aku dapat melihat berlipat kesedihan di matanya. Dadaku terasa ingin meledak. Maaf, Kyu, aku selalu saja menyakitimu.

“Kau memang perempuan iblis.” Kyuhyun segera membalikan badannya. Sekilas, aku tahu ada air mata yang telah menggenang.

Kutubrukkan tubuhku pada punggung Kyuhyun, lalu melingkarkan dengan erat kedua tangannku di pinggangnya. Setidaknya, untuk terakhir kali aku menikmati hangat tubuhnya. “Maaf,” lirihku.

Kyuhyun diam, tak memberontak. Dia meremas pelan jemariku yang bersatu di perutnya. Aku tahu, kami sama-sama terluka. Namun setelahnya, Kyuhyun dengan kasar melepas tangannku dan berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.

***

[Two weeks later, Dexan Lab: Undercover]

“Tolong perbaiki dan berikan laporan ini padaku secepatnya,” aku mengangsurkan beberapa berkas pada asistenku. Dia membungkuk sedikit kemudian berlalu meninggalkanku. Kuteruskan langkahku menyusuri koridor Dexan. Kakiku terhenti di depan sebuah ruangan. Ruangan yang berdinding kaca tebal, hingga aku bisa melihat siluetnya.

Kutempelkan telapak tanganku pada dinding kaca tersebut. Berharap dengan seperti ini, aku dapat merasakan eksistensinya kembali. Kumasukkan oksigen dengan tarikan panjang ke paru-paruku untuk mengurangi sesak ini. Sekali lagi aku terbentur kenyataan bahwa dia berada di luar jangkauanku. Siwon mengalihkannya pada peneliti lain. Peneliti sekaligus dokter andalan Dexan yang memang lebih mampu untuk menanganinya.

Aku terpekur cukup lama hingga suara seseorang menyadarkanku. “Miss Lee?” sapa seorang asisten peneliti yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.

Dan gara-gara sapaannya tersebut, lelaki itu menoleh ke arahku. Menatapku melewati celah pintu. Namun, pandangannya sudah tak seperti yang aku kenal dulu. Dingin dan menusuk. Aku sadar, aku pantas menerimanya, Kyu.

***

“Arrgh,” aku mengibaskan tanganku saat cairan kimia mengenainya. Menjadikan tabung reaksi yang kupegang terjatuh dan pecah. Rasanya panas dan perih.

Sebuah tangan langsung menarik pergelangan tangannku. Dia menyerertku ke wastafel untuk membasuh jemariku yang terkena cairan kimia tadi. Dengan cekatan, disambarnya kasa di kotak first aid dan membalutkannya pada lukaku.

Setelahnya, aku melihatnya mengangkat telephon di meja kerjaku. Dari pembicaraannya aku yakin dia sedang berbicara dengan dokter Shim. Sepertinya dia meminta dokter Shim mengobati lukaku. Ini adalah pertama kalinya aku melihat wajah panik Siwon.

***

Aku mengamati jemari tangannku yang kini tertutup kasa putih. Semua jariku hampir tak luput dari cairan itu. Panas dan perihnya sedikit berkurang. Aku yakin pasti semua jemariku melepuh.

“Lagi-lagi, kau tidak berkonsentrasi, Lynn,” suara itu membuatku merutuki kecerobohanku. Dia mengambil dengan lembut jemariku yang terbalut kasa. “Berita lebih buruknya, kau melukai tangan kananmu.”

“Aku tahu. Kau tak perlu mempertegasnya, Siwon-ssi,” ucapku sinis.

Seperti biasa, dia hanya menunjukkan seringaiannya. “Risetmu memerlukan ketelitian, kecermatan, dan kegeniusan. Jadi aku minta kau focus dalam mengerjakannya.”

Aku melengos. Pikiranku kacau karena hampir dua minggu ini, Kyuhyun mengabaikanku. Aku memutuskan jalan ini, namun ternyata aku masih tidak bisa menerima konsekuensinya.

“Berpikirlah tentang Kyuhyun yang menggantungkan dirinya pada hasil riset ini.”

Aku mengalihkan pandanganku pada Siwon. Menatapnya tajam karna berani menyinggung topik sensitive ini. “Jangan jadikan Kyuhyun sebagai alasan, Siwon-ssi.”

“Tapi itulah kenyataannya, Lynn.”

“Kenapa kau melakukan ini semua?”

Siwon membungkam. “Ah, aku tahu. Kau mengikatku agar bisa menguasai riset oxygen-02 bukan?”

“…”

“Benar, orang-orang sepertimu hanya akan memikirkan keuntungannya semata.”

“…”

Aku memejamkan mata sejenak karna tak mendapat respon dari Siwon. “Jika kau menghendaki riset itu, maka ambilah. Jika kau menginginkan adikmu kembali, maka aku rela melepaskannya demi kebahagiannya. Tapi jangan siksa aku seperti ini.” Aku berteriak karena tak mampu lagi menahan kesedihan ini. Tak mampu menghadapi pandangan Kyuhyun yang menghakimi. Tak mampu melihatnya terluka lagi. Tak mampu bersandiwara menjadi perempuan berhati batu.

Air mataku tumpah begitu saja. Kupukul dada Siwon dengan keras. Menyalurkan segala luapan emosi yang kupendam. Aku benar-benar membencinya.

Siwon menahan kedua tangan mungilku dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangannya yang lain menarikku dalam dekapannya. Aku tak tahu makna pelukkan ini. Yang bisa aku lakukan hanya menerimanya saja karna tenaga dan pikiranku sudah habis terlarut dalam emosiku.

Aku tergugu. Menangis sepuasnya dalam pelukkan Siwon. Dia tidak berkata sepatah pun sebagai pembelaan atas segala tuduhan dan tuntutanku. Pria ini berhati es, namun entah mengapa aku malah merasakan kehangatan dekapannya yang protektif. Seakan mampu melindungiku. Padahal faktanya, dialah yang membuatku seperti ini.

***

[The next following day, Choi’s House]

“Oh, hi Lynn,” ibu Siwon menghampiriku kemudian mencium kedua pipiku. Aku dapat merasakan kasihnya yang tulus untukku. Membuatku merindukan mommy-ku sendiri. “Kau mencari Siwon?”

Aku tersenyum dan mengangguk. Pagi ini aku memang tak sabar ingin menemuinya. Ingin menyampaikan kabar gembira, bahwa aku berhasil meminimalisir gejala yang ditimbulkan dari penyuntikkan serum oxygen-02.

“Bagaimana tanganmu?” ibu Siwon mengambil jemari tangan kananku yang masih berbalut kasa putih.

“Hanya tinggal pemulihan saja, Mrs. Choi,” jawabku sopan.

Tapi beliau tampak terganggu dengan jawabanku. “Sudah berapa kali aku katakan untuk memanggilku ‘Mom’, Lynn.”

Sekali lagi aku menyunggingkan senyum pada kehangatannya. Kurasa, satu-satunya hal yang tidak kusesali pada hubunganku dengan Siwon adalah bisa merasakan kasih ibu kembali dari Ny. Choi. “Sure, Mom.”

“Ah, Kyunnie, tolong antarkan Lynn ke kamar hyungmu,” teriakan Ny. Choi membuatku menegang seketika.

“Aku rasa Siwon sedang bersiap. Tunggulah saja di kamarnya. Biar Kyuhyun mengantarkanmu.” Ny. Choi membelai rambutku.

***

Aku mengikuti langkah Kyuhyun dari belakang. Dari jarakku sekarang, dapat kucium aroma maskulin tubuhnya, dapat kupandang dengan jelas pungung lebarnya, dan  dapat kunikmati keberadaannya. Tuhan, aku benar-benar merindukannya.

Tiba-tiba saja, Kyuhyun berbalik dan menatapku tajam. Dia kemudian mencengkeram tangannku dan menyeretku dengan kasar. Membawaku ke sebuah ruangan yang kuperkirakan adalah perpustakaan atau ruang kerja. Dihempaskan dengan keras tanganku ke udara.

“Kenapa kau berbohong padaku, Lynn?” Aku dapat melihat amarah di matanya. Sungguh mengerikan. “Kenapa kau tega membiarkanku jatuh cinta padamu kala itu, padahal jelas kau sudah mempunyai Siwon Hyung?” bentaknya.

Aku ingin berteriak, bukan seperti itu keadaannya. Aku hanya terikat perjanjian dengan hyungnya. Siwon menawarkanku untuk menikah dengannya, di pagi saat dia berhasil menemukan kita. Imbalannya, dia akan memberikan segala yang terbaik untukmu. Melindungimu dari dunia kejam ini, yang belum bisa menerima keberadaan manusia cloning untuk berbaur dalam komunitas masyarakat normal. Dia juga berjanji akan membiarkanku mengembangkan oxygen-02, demi kelangsunganmu.

“Kau memang jalang, Lynn. Kau menyanding Siwon Hyung, tapi juga masih menginginkanmu,” ucap Kyuhyun dingin. Rasanya ada beribu jarum yang menusuk di hatiku saat dia mengucapkannya.

“Kau menyelingkuhi Siwon Hyung denganku yang notabene adalah adiknya. Beruntunglah, Hyung masih memaafkan kesalahanmu, dan menerimamu kembali.”

Adakah kata-kata yang lebih menyakitkan dari ini? Aku melakukan ini semua untukmu. Tidak meminta balasan. Jadi tolong hentikan tuduhanmu dan cukuplah bernafas dengan baik. Maka aku juga akan bertahan dengan semua perih ini.

“Kau tak pantas bersanding dengan Hyung. Harusnya kau cukup malu untuk kembali.”

Aku juga tak pernah menginginkan berada di sisi Siwon. Andai aku bisa pergi, maka sudah kulakukan dari dulu, Kyu. Tidakkah kau mengerti? Jika bukan karna dirimu, aku sudah meninggalkan Dexan. Memilih memulai hidup baru. Kutundukkan kepalaku, karena air mataku yang mulai menggenang.

“Perempuan hina,” sentaknya yang membuat kupingku memanas. “Kau tak pantas menangis,” ucap Kyuhyun dengan penekanan di setiap katanya. Kemudian berlalu meninggalkanku.

Aku memegangi dadaku dan membungkam mulutku agar isakanku teredam. Kenapa berkorban rasanya sesakit ini. Kepalaku pening dan kakiku terasa lemas. Tapi ketika tubuhku limbung, kurasakan tangan kokoh yang melingkar di pinggangku. Memelukku dari belakang dan menopangku. Tanpa perlu menoleh aku tahu siapa pemilik sepasang tangan ini.

“Siwon-ssi, ini terlalu menyakitkan,” rintihku di tengah isakanku.

***

[The next three days, Dexan Commpany]

Aku melirik arloji di pergelangan kiriku. 4.00 pm. Kupijit pelan leher belakangku. Tepat ketika angka yang bergerak itu menunjukkan 10, aku keluar dari lift ini. Berniat menuju ruangan Siwon untuk menyerahkan laporan perkembangan risetku. Namun langkahku melambat ketika kulihat orang-orang sekelilingku merapat ke arah jendela, berbisik, dan menunjuk-nunjuk ke luar.

Penasaran dengan yang terjadi di bawah, aku ikut mendekat ke jendela kaca dan melihat ke bawah. Mataku membulat dan tanganku bergetar pelan. Di bawah sana puluhan orang berdemonstrasi tentang aktifitas illegal yang Dexan lakukan. Pun juga dengan para wartawan yang menggerombol dan sibuk mengabadikan peristiwa itu.

Masyarakat mengenal Dexan sebagai perusahaan farmasi. Tapi kenyataannya, Dexan memiliki lab bawah tanah yang aktifitasnya memang tak diketahui publik. Hanya peneliti beserta asisten peneliti kepercayaan Dexan yang mampu mengaksesnya, termasuk aku.

Perlahan aku melangkah mundur menjauhi jendela. Apa jadinya jika mereka berhasil membongkar Dexan undercover?. Ini tidak boleh terjadi, karena kalau sampai public tahu, keselamatan Kyuhyun merupakan salah satu kekhawatiranku. Ini memang 2080, tapi manusia cloning masih merupakan hal tabu dan hanya terbatas pada bidang penelitian saja.

Saking paniknya, aku sedikit berlari-lari untuk mencapai ruangan Siwon hingga tak sengaja menabrak seseorang. Beruntungnya, orang tersebut menangkapku saat tubuhku akan terpental ke belakang. “Siwon-ssi?”

Siwon menyeimbangkan tubuhku kemudia melepas tangannya dari kedua lenganku. “Lynn, keluarlah dari Dexan dengan Kyuhyun.” Aku melirik melewati bahu Siwon, sudah ada Kyuhyun yang berdiri di sana. Seperti biasa, menatapku dengan tajam.

“Untuk sementara, kau akan ikut Kyuhyun pulang ke rumah. Aku sudah menyiapkan mobil untuk kalian. Beberapa bodyguard akan mengiring dari jarak jauh untuk mengurangi kecurigaan,”. Oh God, apakah ini petaka lagi? Aku tak mampu berkata-kata saat memandang raut dingin Siwon.

“Jangan bertindak apa pun,” pesan Siwon sembari menepuk pelan puncak kepalaku. Salahkah pandanganku, jika aku melihat kecemasan yang sangat di matanya saat ini.

***

[At  the way home]

Kyuhyun membanting kemudi dengan keras untuk menepi. Membuatku sedikit terbentur pintu mobil. Sejak keluar dari Dexan, dia tak berbicara sepatah kata pun padaku. Kulihat, Kyuhyun keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras.

Mau tak mau aku mengikutinya keluar. Kami berada di tepi padang ilalang. Terlihat dengan jelas raut murka Kyuhyun. Angin yang berhembus dengan lembut, nyatanya tak mampu menyurutkan emosi Kyuhyun. “Kyuhyun, what’s wrong?” kuberanikan diriku membuka mulut.

Dia memalingkan wajahnya ke arahku. Kurasa aku memang harus terbiasa dengan pandangan menusuknya. Kyuhyun terdiam beberapa saat, namun kemudian berjalan dengan cepat menghampiriku.

Nafasku terhenti seketika, saat dirinya dengan tiba-tiba merengkuhku dalam pelukan. Kyuhyun mengeratkan lingkaran tangannya di punggungku. Dan tubuhku benar-benar kaku, tak bisa berbuat apa pun, bahkan untuk membalasnya. “Kyu,” lirihku.

“Kumohon, seperti ini saja untuk beberapa menit.”

Bahkan jika dia menginginkannya lebih lama, aku pun tak berkeberatan. Aku merindukan keleluasaanku mencium wangi tubuhnya dan merasakan kehangatan dari dekapannya. Tapi ini salah, aku memang membenci Siwon, tapi faktanya sekarang aku adalah tunangannya. Dan Kyuhyun akan menjadi calon adik iparku.

“Kyunnie,” sedikit kudorong tubuhnya. Bukan aku menolaknya, tapi aku hanya tak ingin menyakitinya lebih dalam dengan membiarkannya bergantung padaku.

***

[The same day, 11.00 pm, Siwon’s private room]

Aku memutuskan menyalakan tv untuk melihat perkembangan keadaan tadi sore. Tanganku meremas remote tv ketika melihat beberapa demonstran melempari Siwon dengan telur. Padahal, Siwon baru saja mengumumkan konferensi pers.

“Kau belum istirahat, Lynn?” sapaan dari suara yang kukenal mengalihkan perhatianku.

Aku berdiri dari dudukku dan memandang Siwon dengan menyelidik. Dia nampak sangat letih. Berjuang sendiri mempertahankan Dexan. Walaupun aku tak tahu motifnya, tapi aku tetap berterima kasih padanya. Karena dirinya melindungi kami, aku juga Kyuhyun.

Siwon melepaskan jasnya dan melemparkannya ke ranjang. Dia juga berusaha melonggarkan dasinya. Kulangkahkan kakiku mendekat padanya. Kuambil tangannya dan membantunya melepaskan kancing di manset kemejanya. “Gomawoyo,” ucapku tulus.

***

[One weeks later, Choi’s House]

Aku sedikit bisa tersenyum sekarang. Seminggu ini diriku memang bekerja keras merampungkan riset oxygen-02. Meski letih, tapi aku puas dengan hasilnya. Tentang kejadian unjuk rasa seminggu lalu, kurasa Siwon memang patut diacungi jempol. Dia mampu menyelesaikannya dan meredam situasi. Melindungi Dexan undercover.

Kulihat Siwon menyendiri di taman belakang, duduk di tepi lantai kayu teras dengan kakinya yang menyelonjor menyentuh rerumputan. Aku berjalan mendekat, mengamati dirinya dari belakang. Entah bagaimana aku bisa menilai bahwa dirinya sedang dalam keadaan yang sulit.

Kulangkahkan kakiku menghampirinya. Aku memposisikan duduk di sebelah Siwon. Mengikutinya, menselonjorkan kakiku ke rerumputan. Agaknya Siwon sedikit terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba.

“Lynn? Kenapa kau di sini?”

Aku menatapnya, dan menyadari raut mukanya yang sedikit kacau. Benarkah penglihatanku, bahwa ada bekas segaris air mata yang telah mengering di pipinya. Pria berhati keras sepertinya bisa juga meneteskan air mata?. Kemungkinan, Siwon juga tak menyadari jika air matanya membekas di pipi.

“Aku mengantarkan berkas tentang riset oxygen-02,” ucapku. Kali ini kuulas senyum tipis yang tulus.

“Oh, kau tak perlu repot mengantarkannya ke sini. Seharusnya, kau taruh saja di meja kerjaku. Aku akan memeriksanya nanti.”

“Kau lembur?” tanyaku heran pada pernyataannya. Ini malam Sabtu dan dia masih berencana kembali ke Dexan untuk meneliti riset tersebut? Satu yang memang kukagumi darinya sejak dulu, adalah komitmennya.

Siwon hanya tersenyum pintas. “Bagaimana aku bisa tenang dan menikmati weekend, Lynn? Jika nyawa Kyuhyun menjadi taruhan setiap detiknya.”

Aku sedikit tersentak mendengar jawabannya. Jadi dia peduli pada Kyuhyun? Aku melupakan satu fakta bahwa Siwon adalah kakak kandung Kyuhyun. Jadi, mana mungkin dia tidak peduli dengan nasib adiknya.

“Aku hanya tidak mau kehilangannya untuk yang kedua kalinya, Lynn.” Siwon menatap hamparan taman di hadapnya. Melepas pandangannya ke arah biru langit yang tergradasi dengan jingga saat matahari akan tenggelam.

“Delapan tahun aku menunggu kehadirannya. Dan saat dia sudah di sini, tentu akan kulakukan apa pun untuk mempertahankannya.”

Senyumku tersungging begitu saja. Mengetahui sisi kemanusiaan yang Siwon miliki. Tidak, bukan mengetahui tapi menyadari. Aku saja yang selama ini terlalu menutup mata pada sifatnya.

“Ketika aku berumur 20 tahun, aku kehilangan Kyuhyun karna kanker yang dideritanya. Kau tahu bagaimana rasanya, Lynn?”

“…”

“Rasanya seperti langit menimpamu dan meremukkanmu. Ditinggalkan oleh satu-satunya saudara yang kau punya. Dan saat itu yang terlintas dipikiranku adalah mengkloningnya.”

“…”

“Empat tahun kemudian, Dad juga menyusul Kyuhyun. Mewariskan Dexan padaku sebagai pewaris tunggal, di usiaku yang baru menginjak 24 tahun.”

“…”

“Mulai saat itu, Dexan adalah tujuan hidupku. Karena disanalah aku menggantungkan harapan akan mendapatkan kembali adikku. Juga mengenang segala tentang Dad. Sekarang katakan padaku, Lynn, dimana letak kesalahanku?”

Aku terdiam mendengar semua penuturan Siwon. Jadi inilah sisi yang tersembunyi dibalik sikap dinginnya. Ini pertama kalinya Siwon berbicara dan bercerita sepanjang tadi. Adakah sesuatu yang terjadi? Hingga dirinya terlihat putus asa seperti ini.

Melihat dari kata katanya, aku mulai mengerti bahwa dia sangat menyanyangi Kyuhyun. Selama ini dia menanggung beban sendiri. Delapan tahun, menunggu cloning adiknya. Dan karena adanya sebuah kapsul jaringan canggih yang merupakan prototype janin, perkembangan manusia cloning menjadi tiga kali lipat manusia biasa.

“Karna aku terlalu egois dan ambisius,” jawab Siwon sendiri. Dia menundukkan kepalanya.

Aku dapat melihat dengan jelas kesedihan yang terpancar di wajahnya. Raut terlukanya tercetak jelas di wajah rupawan itu. Aku memang tidak menyukainya, tapi kurasa aku semakin tidak menyukai dirinya yang terlihat lemah seperti ini.

“Seorang cloning hanya akan membutuhkan serum oxygen-02 setidaknya dua tahun sekali. Aku berhasil meningkatkan resistansinya,” ujarku enteng. Siwon langsung menegakkan kepalanya ketika mendengar ucapanku. Matanya berbinar manatapku.

“Kau tidak bercanda, Lynn?” Siwon mengguncang-guncangkan bahuku.

Dan oh, wanita mana yang tidak akan terpesona melihat senyumnya. Aku memang membencinya, tapi aku tak menampik kenyataan pesona miliknya. Kharismatiknya, komitmennya, kredibilitasnya, dan wajah rupawannya. Dia pria sempurna.

“Really?” ulangnya dengan raut tak percaya. Dia terkekeh pelan, melepaskan sejenak segala tanggungannya.

Aku hanya mengangguk mantap. Tanpa kukehendaki, tubuhku sudah tertarik ke dalam pelukkannya. Kurutuki jantungku yang tiba-tiba menggila.

Siwon menumpukan keningnya di pundakku hingga aku dapat merasakan deru nafasnya di leherku. Dia terdiam dengan posisi tersebut. Entah dari mana perasaan ini menggerayangiku kembali. Aku bisa merasakan segala beban yang tertumpu di pundaknya selama ini. Kuulurkan tanganku untuk menepuk-nepuk ringan punggung Siwon. Setidaknya, inilah yang bisa kuberikan pada kedua saudara ini.

“Maaf, Lynn. Karnaku, kau dan Kyunnie harus seperti ini.”

Aku memutar otakku untuk mengerti kata-katanya. Jangan katakan jika mereka baru saja bertengkar. Apa pun itu, aku berharap yang terbaik untuk mereka berdua. Siwon sudah sangat terbebani menjalankan Dexan, juga berkorban untuk adiknya. Sedangkan Kyuhyun, sudah cukup menderita dengan kanker yang dulu pernah dideritanya, juga dengan kenyataan akan kisah kami. Mereka berhak bahagia.

***

Keningku sedikit berkerut ketika Siwon menepikan mobilnya di tengah jalan. Aku hendak membuka mulutku untuk menanyakan, namun kuurungkan karena dapat kulihat sesosok lelaki di depan sana yang sedang menyender di BMW i8 miliknya. Topi baseball yang dikenakannya hampir menutupi setengah wajahnya, namun itu tidak membuatku lupa dengan posturnya.

“Ayo turun, Lynn.” Siwon tersenyum dan mengedikkan kepalanya.

Jantungku tiba-tiba berdegub kencang saat lelaki itu mendongakkan kepalanya. Dia berjalan mendekat ke arah kami. Apa yang sebenarnya terjadi?.

Aku masih sibuk dengan pemikiranku hingga kusadari pintu mobil di sebelahku sudah terbuka. “Ayo, Lynn.” Siwon mengulurkan tangannya padaku. Membantuku untuk keluar.

Siwon membimbingku mendekat pada sosok itu. Cho Kyuhyun ataukah Choi Kyuhyun, bagiku tak ada beda. Dia mengangkat tanganku dan menepuk-nepuknya pelan, lalu tersenyum. Senyum tulus yang penuh kelegaan. “Terima kasih untuk semua pengorbananmu, Lynn. Maaf untuk semua sikapku padamu.”

Aku tak melepaskan pandanganku darinya. Rasanya mataku sudah memanas melihatnya seperti ini. Dalam dua bulan terakhir bersamanya, inilah pertama kali melihat ekspresi gembira itu.

“Semoga dengan ini, aku bisa membalas semua yang kau berikan.” Siwon mengarahkan tanganku ke Kyuhyun. Dan Kyuhyun menerimanya kemudian mencengkeram jemariku kuat.

“Gomawoyo, Hyung,” dia menepuk pelan pundak Siwon dengan sebelah tangannya yang bebas. Masih menggenggam jemariku, Kyuhyun memeluk hyungnya dengan singkat.

***

Aku menatapi wajah Kyuhyun di sebelahku dengan tak jemu. Ada kelegaan dan keganjilan yang tumbuh bersama di hatiku. Siwon memutuskan pertunagannya denganku dan merelakanku bersama dengan adiknya kembali. Dia menyuruhku meninggalkan Korea bersama Kyuhyun untuk sementara waktu sampai keadaan Dexan stabil.

Bohong, jika aku tak bahagia. Aku sangat-sangat bahagia. Lelaki yang selalu kurindukan, sekarang berada di sisiku kembali. Melihatnya sedekat ini membuat kinerja jantungku meningkat. Wajahnya, senyumnya, dan semua yang melekat padanya, kini aku dapat menikmatinya tanpa rasa khawatir.

Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Dexan. Bagaimana dengan Siwon? Rencana apa yang dia punya, hingga menyuruhku juga Kyuhyun untuk ke London. Dia akan menanggung kembali beban itu sendiri. Tegakah aku?

“Lynn, are you OK?”

Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Hatiku benar-benar bimbang. “Kyu, apakah hyungmu akan baik-baik saja? Bagaimana dengan Dexan?”

Kyuhyun menolehkan pandangannya ke arahku dengan kening berkerut. “Kau mengkhawatirkannya?”

“Tentu saja. Memangnya kau tidak khawatir dengan hyungmu?”

“Ya, tapi ini sudah keputusan Hyung sendiri.”

Aku mengangguk paham. “Meski begitu, tak seharusnya dia sendiri di sini.”

Dengan tiba-tiba Kyuhyun mengerem mobilnya. Menjadikan tubuhku dan dia terdorong ke depan. “Kau menyesal pergi bersamaku?”

Aku memandangnya heran. “Bukan itu maksudku?”

“Lalu?” ekspresi Kyuhyun mulai mengeras.

“Aku hanya—“

“Hanya apa? Menyesal dengan keputusan ini?”

“Kyu, mengertilah, bukan seperti itu.”

“Kau mencintai Siwon Hyung, Lynn?”

“KYU!” pekikku. Tak mengerti dengan tujuan pertanyaan itu. Kuurut keningku pelan untuk meredakan sejenak keteganganku.

***

If you were I, what’ll you do?

  1. Saying Sorry
  2. Just go out from car to get a fresh air

***

[ENDING 1: CHOICE A]

“Sorry,” ucapku ketika kulihat Kyuhyun mengusap wajahnya dengan satu sapuan kasar. Kyuhyun keluar dan membanting pintu mobil. Dia menyenderkan tubuhnya di kap BMW super mewah ini.

Aku mengikutinya keluar dan memutar mobil bagian depan untuk menghampirinya. “Kyu, bukan seperti itu maksudku.” Kutarik ujung jaketnya untuk meminta perhatian.

Dia masih bergeming dan mengabaikanku. Memilih memandang ke depan dan bersedekap. Astaga, aku sungguh merindukan ekspresi dirinya ketika sedang merajuk. Bukannya terlihat menyeramkan, tapi malah terlihat sangat manis.

“Kalau aku mencintai Hyungmu, maka aku tak perlu bersusah payah menyelesaikan riset oxygen-02. Aku juga tak perlu tersakiti dengan terikat pada hubungan palsu demi melindungi seseorang. Juga tak perlu bersandiwara. Aku—“ kalimatku terpotong ketika dengan tiba-tiba Kyuhyun menarik pinggangku merapat ke arahnya. Menjadikan perutku menabrak perutnya karena tinggi kami yang menjadi sejajar saat dia bersandar.

Wajah Kyuhyun tepat berada beberapa centi di hadapku. “Jangan pernah dengan sengaja memperhatikan lelaki lain selain diriku walau itu Hyungku sendiri. Karna aku sudah cemburu, meski kau baru memikirkannya saja.”

Aku hanya menganggukkan diriku patuh. Bodoh, apa yang tadi kupikirkan hingga sempat meragunya. Kami sudah cukup tersakiti dengan keadaan lalu. Dan untuk saat ini, biarkan kami berlaku egois untuk menggapai kebahagiaan. Choi Siwon-ssi, gomawoyo karna mempercayakan adik kesayanganmu padaku.

Belum sempat aku membuka mulutku untuk meresponnya, Kyuhyun sudah menempelkan bibirnya padaku. Memberikan lumatan lembut yang membuatku lupa untuk melawan gaya gravitasi yang menarikku ke bawah. Untungnya, dengan sigap, Kyuhyun mengeratkan tangannya di pinggangku. Menahan tubuhku agar tak merosot.

Tanganku terangkat untuk mengusap pipi Kyuhyun. Memuaskan rasa rinduku pada sentuhannya. Hingga aku pun tak dapat menghitung berapa lama kami berciuman. Cho Kyuhyun-ssi, kau sudah mengambil semua hatiku.

[ENDING 2: CHOICE B ‘Another Happy ending’]

Aku keluar dari mobil untuk mengurangi sesak yang tiba-tiba menggerayang. Kupejamkan mataku dan kuhirup dengan rakus udara di sekitarku. Tidak, tidak seperti ini akhir yang aku inginkan. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pelan. Aku memang mencintai Kyuhyun, tapi ada orang lain yang lebih membutuhkanku untuk berada di sampingnya.

Membutuhkanku untuk menopangnya. Menjadi tumpuannya ketika dia mulai goyah. Memerlukan kehadiranku untuk sekedar membagi bebannya. Maaf, tapi inilah keputusanku.

***

Kurasakan deru hangat menerpa wajahku. Kukerutkan kelopak mataku dan perlahan membukanya. Aku melengkungkan senyum ketika melihat wajahnya tepat berada di atasku. “Kau sudah pulang? Maaf aku tertidur.” Aku menumpukan kedua tanganku untuk membantuku bangun. Dan dia juga ikut terduduk dari posisi mencondong tadi.

“Kenapa kau kembali, Lynn?”

Aku memiringkan kepalaku untuk melihat jenis ekspresi yang dia punya. “Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tak bunuh diri karna ditinggal oleh gadis yang diam-diam kau suka sejak lima tahun lalu,” senyumku penuh kemenangan.

Siwon menatapku keheranan. Kukedikkan kepalaku pelan ke arah laci di meja kecil samping ranjangnya. “Maaf, aku membuka ipad-mu.” Aku tak bisa menahan rasa penasaranku kala itu ketika memasuki kamarnya.

Siwon membuang udara yang tertampung di pipinya dan mengelus keningnya. Dia memandangku kembali dan mencondongkan wajahnya padaku. “Gadis nakal,” disentuhkannya ujung jari telunjuknya di hidungku.

Aku hanya menyengir lebar. Maaf, Siwon Oppa. Tapi karna itu, aku bisa mengerti apa yang terdapat di balik dinginnya hatimu. Aku memang belum bisa mencintaimu sebesar aku mencintai Kyuhyun. Tapi, detik ini aku yakin, seiring berjalannya waktu, aku bisa menyayangimu melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri.

Siwon menyentuhkan ujung hidungnya pada hidungku dan menangkupkan kedua tangannya di wajahku. “Terima kasih karna mau kembali, Adelynn.”

Aku tersenyum tulus sarat kelegaan. Inilah happy ending yang kuinginkan. Kyuhyun? aku yakin dia masih bisa berdiri lagi. Terbukti bahwa dirinya baik-baik saja selama dua bulan ini tanpa adanya aku di sisinya. Dan terima kasih juga padamu, Kyu. Karena kau mau merelakanku untuk bersama hyungmu. Aku berjanji akan menjaganya.

“As you know that I was being in crush with you since five years ago. And now, I wanna tell you that I’m falling in love with you, Adelynn.” Siwon memiringkan kepalanya dan mengecup bibirku lembut. Rasanya perutku digelitik oleh ribuan sayap kupu-kupu. Kukalungkan kedua tanganku di lehernya. Mulai menerima semua yang dia berikan padaku. Choi Siwon-ssi, aku percayakan hidupku padamu.

Note:

haha, maaf kalau jadi buat dua ending gak jelas gini. Tapi terkadang happy ending bukan dilihat dari kaca mata umum, namun dirasakan dengan kelegaan hati kita. Silakan pilih ending mana yang kamu suka. Semoga sequelnya memuaskan (?). ^^

88 thoughts on “The Oxygen-02

  1. Maya Sherlita says:

    Ternyata kyuhyun adeknya siwon ? Siwon dari luar dingin tapi sebenerny dia baik banget😀
    dua – duanya endingnya bagus aku suka

  2. pas baca the oxygen 01, aku kira Adelynn bakal happy ending sama Kyu, tapi gak tahu kenapa waktu sudah baca the oxygen 02, aku ,amalah galau sendiri. akhirnya setelah selesai baca, aku milih yang Adelynn akhirnya sama Siwon. gak tau kenapa tapi lega aja rasanya.

  3. entik says:

    Gk mau milih ke 2 2 nya krna semua nya menyakit kan.

    Kenapa adelyn gk clning buat pasangan kyu!?
    Jadi kan gk ada yang terskiti.

    Sipp cerita nya bagus.

  4. hiks kangen berat sama ff ka lentera.. tapi apa daya setelah kerja badan langsung drop ga bisa ngapa2in selain tidur.. huwaaa baca oneshoot aja perjuangan banget harus nahan kantuk yg mendera:( ga tau musti komen apa yg pasti ffmu ga pernah mengecewakan unn.. walau cuma oneshoot tapi lumayan udh bikin rasa kangenku terpenuhi:) baru kali ini baca ff dengan 2 ending berbeda.. 22’a happy end dengan pasangan yg berbeda🙂 kereeen:* love it unn

  5. syalala says:

    ahhhhh tetep milih yg sama kyuhyuuuun ehehe. sweet bangettt ih, kepikiran aja bikin cerita tentang cloning manusia tp dia ttp punya perasaaan haha lucu bangettttt! okey will read ohter storiesss. pyong~

  6. ending A aku sukanya ending Aaaaaa /teriakhisteris/, tapi sebenarnya bingung juga sih, kasihan siwonku sayang u,u tapi kalau ending B, kyu juga kasihan, duh alhasil aku dilema:” wkwk. aku sukanya yang kaya gini nih, butuh ngayal lebih banyak, soalnya ini 2080 kan ya? perfect kaaaaaaak!

  7. ria says:

    Q pilih versi a cause kyu bias q selain tu ri awal story kyu dah duluan ma lyn so q dukung ni couple buat happy end walaupun egois g liat wonie…pi q juga suka versi b ny walaupun q g yakin kyu sepenuhny relain lyn buat wonie, dah gitu lo lyn ma wonie berarti kyu ma q hahahaha…

  8. hhuuwwaa..
    ending yg bkin galaw thor untk ku..
    d satu sisi aq sk yg ending A krna akhir’a Lynn bs kmbali k kyu..tp aq kasian dgn siwon..jd aq bpikir k ending B..tp d B kyu gmn…apa ama aq ja kali iiah kyu’a..hehe
    wlpn 22’a bgs tp finally aku pilih yg ending A thor..krna lbh bkenan d hati..mybabykyu ~^^

  9. HalcaliGaemKyu says:

    Ada 2 ending?
    Um.. Dua2nya memuaskan kekeke.. Aku gk bs milih yg mana yg lbh oke hahaha…
    Aku suka bgt scene waktu lynn dateng ke rumah Choi untuk bertemu siwon dan eommanya siwon nyuruh kyu nganter lynn ke kamar siwon tp kyu malah bawa dia ke perpus pribadi. Dan apa yg kyu katakan di dlm ruangan itu bener2 bikin nyeseeeeeeekkk!
    Nangis lagiii… Cengeng bgt deh w jdnya hahaha…
    Ff nya seperti biiiasa… Daebak bgt!

  10. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Baru nemu ff yang endingnya 2 versi. Tapi aku lebih memilih yg versi A, meskipun dua-duanya happy ending.

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s