[Twoshot] A Misery in Love (2)


A Misery in Love [2 of 2]

Author              : Arsvio

Cast                 : Adelynn Lee, Kyuhyun Cho, Siwon Choi

Rating               : PG-16

Genre               : Romance, family

Length              : Twoshot

Kyuhyun menutup berkas ‘investigasi kecil’-nya yang baru saja dibaca dengan perlahan. Ibu jari dan jari tengahnya melintang di depan kening untuk memijit pelipisnya. Dia memandang map itu kembali dan tersenyum miris. Jadi, sedangkal itukah pengetahuannya tentang gadis yang setahun belakangan terikat dengannya? Bahkan dia tidak mengetahui seluk beluk keluarga Lynn, juga dengan setitik aib penyebab perpisahan kedua orang tua gadis itu.

Kyuhyun menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Menjalin jemarinya menjadi satu dan menumpukan kedua sikunya di pegangan pinggir kursi. Tenang. Hidupnya sebulan ini tenang, bahkan terlewat tenang. Tanpa sapa hangat selamat paginya, tanpa alarm pengingat waktu makannya, tanpa kecup manis selamat malamnya, dan tanpa…gadis itu.

Pluk

Mata Kyuhyun terbuka saat pendengarannya menangkap tumpukan kertas yang terjatuh di mejanya. Segera ditegakkan punggungnya dan ditatapnya lelaki yang melempar sebuah map itu dengan tajam.

“Kau berharap menyaingiku dengan kinerjamu yang seperti ini, Kyunnie?”.

Kyuhyun mengernyit dan memandang berkas yang dilemparkan ke arahnya.

“Dimana letak profesionalitasmu? Hampir-hampir kau menyetujui tender itu,” ucap tajam Siwon. “Perbaiki dan rombak semuanya, jika perlu,”.

Kyuhyun membuka lembar demi lembar berkas tersebut dengan random. Menarik sudut bibirnya saat menyadari kesalahan besar yang diperbuatnya. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan dirinya? Bahkan masalah dasar yang seharusnya diperkirakannya lolos begitu saja.

“Aku luang sore ini. Jika ada yang ingin kau tanyakan, datang saja ke ruanganku,” Siwon mengakhiri kunjungan singkatnya. Dia segera berbalik, meninggalkan Kyuhyun yang masih merutuki keteledorannya.

Kyuhyun mengangkat berkas tersebut dan memandangnya sinis. Dengan satu tarikan, dia merobeknya menjadi dua bagian. Sebelah tangannya mengusap wajah dengan satu sapuan. Benar, dimana letak keprofesionalitasnya? Dia benci mengatakannya, tapi diakuinya bahwa kali ini dia lalai.

Wajah Kyuhyun mengeras. Dia menggeletukkan gigi-giginya. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sebulan ini? Pekerjaannya yang tak sempurna, alkhohol di malamnya, disiplin diri yang berantakan, mood yang naik turun, dan hal kecil lain yang biasanya terselesaikan dengan baik, kini semua tak tertata.

“Satu pertanyaan, Siwon-ssi. Dimana sebenarnya kau sembunyikan gadisku?” ucap Kyuhyun dengan tajam pada udara kosong di hadapnya.

***

“Aku sudah memperbaikinya,” Kyuhyun meletakkan map di hadapan Siwon. Jari telunjuknya mengetuk-ketuk map tersebut. Cukup membari penekanan bahwa kali ini dia menyelesaikannya dengan sempurna.

Siwon mengangkat alisnya. Tanpa melihatnya pun, dia yakin pekerjaan itu terselesaikan. “Nanti aku syahkan,” ucapnya singkat.

“Kau tidak meneliti ulang?” heran Kyuhyun dengan nada angkuhnya.

Siwon menyeringai, meletakkan pen yang dipegangnya, dan menatap sang adik. “Mungkin yang harus kuteliti adalah kinerjamu sebulan ini, Kyunnie,”. Lima belas tahun adalah waktu yang cukup lama bagi Siwon untuk sekedar memahami Kyuhyun. Setahunya, Kyuhyun bukan tipe orang yang ceroboh akan hal-hal dasar. Adiknya tersebut termasuk golongan perfeksionist.

Kyuhyun mendengus kesal. Apa yang dikatakan hyungnya tidaklah salah. Dia bahkan merasakannya sendiri. Tapi, bahkan sampai saat ini dirinya belum mampu menemukan jawabannya. “Hanya sebuah fluktuasi,”.

“Fluktuasi? Dengan penurunan sedrastis ini, Kyunnie?” sangkal Siwon. “Kurasa kau tidak mengenali dirimu sendiri,”. Siwon tahu benar penyebab kekacauan diri adiknya. Sorot mata Kyuhyun mengatakan semua. Perihnya, kesombongannya, dan kekecewaannya, semua tergambar jelas di mata Kyuhyun. Perih karna Lynn, kesombongan pada dirinya, dan kecewa pada Ny. Choi.

“Aku tak ingin membahasnya,” ucap Kyuhyun singkat dan segera berbalik. Menghindari intimidasi lanjut sang kakak. Takut jika akhirnya dia menemukan jawabannya.

***

Kyuhyun menarik-narik dasinya agar melonggar, melempar jasnya ke sembarang arah, dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Membuat santai tubuhnya setelah 8 jam bekerja.

“Oppa, aku setting jamnya pukul 07.00. Kau harus bangun pagi dan merasakan betapa segarnya udara di pagi hari,Ok?”

Kyuhyun menoleh pada jam digital di meja kecil samping ranjangnya. Dia berjalan mendekat dan mengambil jam tersebut. ALM 1: 07.00 am, workdays.

“Bisakah membantuku menggantung ini di AC?”.                                         

Kyuhyun mengarahkan pandangannya ke wewangian yang tergantung di sudut AC. Aroma lemon yang menyegarkan dan tidak membuat mual. Dia mengambil remote AC-nya dan menekan wind-blow. Menikmati harumnya lemon yang menyerbak.

“Bagaimana bisa David Archuleta memutuskan menjadi missionaries? Suatu saat nanti aku harus menonton live perform-nya,”.

Ditariknya sebuah CD berlabel ‘David Archuleta’ dari tumpukan koleksi CD dan DVD-nya. Kyuhyun memasukkannya pada DVD playernya dan menaikkan volumenya. Menikmati alunan ‘senseless’ yang terasa hadir di hidupnya. Kyuhyun melangkah masuk ke kamar mandinya.

“Oppa, taruh baju kotormu di tempatnya. Kau tidak risih melihat kamarmu bertebaran kaus dan kemeja kotor seperti ini?”.

Kyuhyun membuka kancing kemejanya satu persatu, melepaskan kemeja tersebut, dan memasukkannya di keranjang cucian di sudut kamar mandi.

“Eish, Oppa. Kau harus membuang pisau-pisau cukurmu yang tak terpakai. Bukannya malah memenuhi box ini dengan sampah,”.

Senyum getir tersungging di bibir Kyuhyun. Memerhatikan tumpukan pisau cukur bekas miliknya. Kyuhyun menyalakan keran untuk memenuhi wastafelnya. Kemudian, menenggelamkan seluruh wajahnya di air tersebut.

“ARGHH,” Kyuhyun mengangkat kepalanya kembali. Mengacak sekaligus menjambaki rambutnya dengan kasar. “Berhentilah berputar di kepalaku!”. Dadanya mulai naik turun menahan gejolak emosi. “Kenapa? Kenapa aku masih melakukan kebiasaanmu? Kenapa, LYYNNN!” serunya pada bayang diri di cermin.

***

Lynn melipat jas praktikumnya kemudian menyampirkannya di lengan. Dia mengambil tas puggungnya dan melangkahkan kaki keluar dari laboratorium di chemical department milik NUS tersebut. Menyusuri trotoar, menikmati suasana sore kampus kebanggaan Singapore.

Langkah Lynn terhenti secara mendadak. Dia menatap dengan tak percaya apa yang dihadapnya. Seorang pria berperawakan jangkung yang mengenakan sunglasses hitam hingga mempertegas hidung mancungnya, sedang dengan santai menyender di kap mobil mewahnya. Mobil limited edition keluaran Lamborghini. Angin sore mengacak lembut rambut pria itu. Menjadikannya malah terlihat natural dan perfect. Pria itu tersenyum angkuh khas-nya ketika menangkap sosok Lynn, lalu mengedikkan kepala agar Lynn bergegas.

Perlahan Lynn mendekat. Mengulurkan tangannya. Angin berhembus lemah dan sebuah daun kering jatuh tepat di telapak tangannya. Kosong. Tidak ada pria dengan Lamborghini dan senyum angkuhnya.

Pandangan Lynn mengitari sekitar. Deru nafasnya terdengar memberat. Tangan kirinya yang bebas meraba bagian dadanya yang nyeri. Tempat ini sudah cukup jauh, tapi mengapa bayangnya bahkan terlihat sangat nyata dan dekat.

***

Derap langkah dengan tempo cepat dari beberapa orang terdengar di koridor rumah sakit. Wanita paruh baya itu meremas-remas jemarinya karena rasa khawatir. Sedang lelaki muda di sampingnya mempererat rangkulannya pada wanita tersebut. “Dokter Han!” pekik sang pria.

“Ah, Choi Siwon-nim,”.

“Bagaimana keadaannya?”.

Sang dokter hanya tersenyum. “Tenanglah, dia baik-baik saja. Beberapa luka lecet dan luka sobek di lengan atasnya. Hanya perlu menjalani rawat jalan saja,”.

“Ah, ne. Gamsahammida,” Siwon dan wanita di sampingnya membungkuk sedikit sebagai ucapan terima kasih. Keduanya segera menemui sang pembuat ketegangan di kamar rawat.

“Bagaimana keadaanmu, Kyunnie?” sang wanita mendekat dan mengelus pipi putranya.

Kyuhyun hanya mengangkat kedua tangannya ke udara. Menunjukkan luka-lukanya yang masih terbilang kecil, jika dibandingkan dengan bagaimana bentuk Aventador J-nya sekarang. “Hanya luka kecil, Eomma. Tak perlu sekhawatir itu,”.

“Berapa kali Eomma bilang untuk jangan mengebut dan ugal-ugalan di jalan, huh?”. Sang ibu menangkupkan kedua tangannya di wajah Kyuhyun. Memandang cemas dan gemas putra kesayangannya.

“Eomma, aku bukan anak umur 10 tahun yang baru saja jatuh dari sepeda,” kesal Kyuhyun.

“Maka itu, perhatikan keselamatanmu. Kau ini sudah dewasa,”.

Kyuhyun hanya mendesah kecil. Merasakan kekhawatiran ibunya. Seolah dia kembali ke masa kecilnya. Menemukan fakta bahwa sang ibu tidak berubah. Tetap saja mengkhawatirkannya secara berlebih. Dialah yang berubah.

“Kurasa kau akan kesulitan mengklaim asuransinya. Terlihat seolah kau sendiri yang sengaja menubrukkan mobilmu ke pembatas jalan. Tunggu saja sampai hasil investigasinya keluar,” Siwon menginterupsi.

“Aku tak peduli,” ucap Kyuhyun dingin, tanpa membalas tatapan Siwon.

***

Lynn menekuk lututnya. Menumpukan dagunya di sana sembari matanya yang terus menelusuri pancaran cahaya dari gedung-gedung di jangkauan pandangannya. Malam ini cerah. Ini bulan April, bulan kering atau kemarau bagi Negara beriklim equatorial seperti Singapore. Berbeda dengan Korea yang baru memasuki awal musim semi.

AC di kamarnya sudah diturunkan suhunya hingga batas terendah, tapi tetap saja dirinya masih merasa gerah. Lynn mengusap tengkuknya, mengelap dengan telapak tangan bulir keringat di sana.

Wuss…

Lynn menoleh, merasakan hembusan di tengkuknya. Dia mengusap kembali tengkuknya, kali ini bukan membersihkan keringat, namun menghilangkan ilusinya. Bagaimana lelaki itu meniup-niup tengkuknya untuk sekedar menggodanya ketika musim panas tiba. Tetap memeluknya walaupun dirinya sudah berteriak minta dilepaskan karena gerah. Dan kemudian Lynn yang mengalah dan membiarkannya.  Membiarkan lelaki itu menyandar dan menenggelamkan wajahnya di lekukan lehernya. Yang nantinya akan berakhir dengan sebuah ciuman hangat mereka.

Bahu Lynn bergetar. Air mata itu merembes dengan pasti. Sungguh, dia merindukan lelaki itu. Merindukan bagaimana bahu lebar lelaki tersebut menelingkupi dengan sempurna tubuh mungilnya. Merindukan aroma khas tubuhnya. Merindukan bagaimana wajah dingin itu tersandar di bahunya. Merindukan seluruh eksistensi lelaki bermarga Cho itu.

Namun, suasana melankoli dirinya terganti dengan momen pertengkaran mereka yang terakhir. Membangkitkan ketakutan sendiri bagi Lynn. Sekelumit masa kelamnya dangan sang ayah ternyata terlalu dalam membekas.

Lynn menarik nafasnya dengan teratur. “Aku harus melupakannya, memendamnya, menutupnya,” ucap Lynn untuk mensugesti diri dari kenangan indah atas hubungan palsunya.

***

“Jadi kau benar dengan sengaja menabrakkan mobilmu, Kyunnie?”.

Mata Kyuhyun menghindar. Dia kacau pada malam itu ketika dengan sengaja membanting setirnya hingga menabrak pembatas jalan dan membuat mobilnya terbalik. Beruntungnya, mobil mewah itu memiliki tingkat keselamatan tinggi untuk melindungi pengemudinya. Kala itu, hanya cara itulah yang terlintas supaya otaknya mau berenti memikirkan gadis Korea-German itu. Namun, toh tetap saja tidak berhasil.

“Eomma dan Appamu dijodohkan ketika kami remaja,” wanita yang masih cantik di umurnya yang kepala empat itu mulai bercerita. Tidak ada yang memintanya menceritakan masa lalu tersebut. Tapi, naluri keibuannya mengetahui dengan pasti penyebab kegelisahan putranya.

Kyuhyun menolehkan kepalanya. Mengernyit heran karena Eommanya yang tiba-tiba memutuskan bersuara dan mengubah topik pembicaraan. Dia diam, menunggu lanjutannya.

“Tadinya, Eomma pikir seiring waktu, cinta akan hadir dalam pernikahan kami. Tapi nyatanya tidak. Hanya kehambaran dalam rumah tangga yang mengakibatkan pertengkaran di antara kami. Dan singkat cerita, Eomma dan Appa-mu memutuskan bercerai,”.

“Eomma menyesal?”.

Ny. Choi memandang Kyuhyun dengan senyum hangatnya. “Bagian mana yang harus Eomma sesali jika pada akhirnya Eomma melahirkan putra setampan ini,” tangannya mengelus pipi Kyuhyun.

Perasaan Kyuhyun menghangat. Membalas senyum Eommanya. Dia menggenggam tangan sang ibu yang berada di pipinya, kemudian menciumnya.

“Lalu Eomma kembali dipertemukan dengan cinta pertama Eomma dalam keadaan kami menyandang status single. Kami memutuskan mengucap ikrar suci, menjadikanmu dan Siwon bersaudara. Dan seterusnya kau sudah mengetahuinya,”.

“…”

“Kau tidak tahu bagaimana antusiasnya Siwon ketika Eomma mengenalkanmu sebagai adiknya. Dia terus saja mengekor Eomma, memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang kau benci dan apa yang kau suka,”.

Wajah Kyuhyun menegang. Jika dia berlaku egois, sesunggunya dia memilih tak mendengarkan kisah satu ini. Niat hati ingin memotong pembicaraan tersebut, tapi diurungkannya sebab melihat kebahagiaan terpancar dari wajah sang ibu.

“Jika kau pikir keajaiban yang kau peroleh saat kau kecil adalah dari Tuhan, ya, kau memang benar. Tuhan mengirim malaikatnya. Pensil patahmu yang tiba-tiba menyambung kembali. Senar biolamu yang putus dan beberapa hari setelahnya terhubung kembali. Seragam sekolahmu yang koyak karena kau berkelahi dan kau mati-matian menyembunyikan dari Eomma agar tak kena marah, tapi esok paginya kau menemukannya sudah terjahit rapi,” Ny. Choi sedikit menghela nafasnya. “Dan hal-hal kecil yang masih banyak lagi. Selama ini, Hyungmu yang malakukannya untukmu. Memberikanmu keajaiban,”.

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Godam itu terasa menghantam ulu hatinya dengan telak. Banyak hal yang tidak diketahuinya yang selalu disimpulkannya secara sepihak. Mengapa dia mengibarkan bendera perang pada savior-nya?.

“Jadi pantaskah jika Siwon mendapatkan rasa peduli dan rasa hormatmu sebagai adiknya?”.

Kyuhyun hanya mampu menggeleng lemah. Bukan dia menjawab tidak, melainkan karna menyadari begitu besar kesalahan yang telah dilakukannya. Rasa penyesalan itu tiba-tiba menyergap. Teramat sesak karna terlalu besar.

Sang ibu kemudian mengambil tangan kiri Kyuhyun. Memainkan cincin di jari manis Kyuhyun. “Dan mengenai Lynn, Eomma tak mengetahui apa yang terjadi padamu hingga membuat gadis itu pergi. Dia tak pantas mendapat semua rasa sakit itu setelah begitu besar rasa sayang yang tercurahkan padamu,”.

“…”

“Eomma yakin kau bisa merasakan ketulusannya. Dan apa pun yang terjadi pada kalian, Eomma hanya berharap yang terbaik. Putuskan dengan bijak, hingga kau tidak menyesal nantinya,”.

Kyuhyun semakin menundukkan kepalanya. Memerhatikan luka-luka kecil di tangannya yang belum sepenuhnya mengering. Ya, dia merasakannya. Mengakui bahwa rasanya untuk gadis itu ada dan terlampau besar. Rasa yang selama ini diingkari dan ditutupinya.

“Tidakkah kau merindukan binar mata biru itu? samudra yang terkandung di dalamnya, hmm?” Ny. Choi tersenyum untuk sekedar mencairkan suasana.

Bahu Kyuhyun bergetar. Ribuan jarum itu tanpa ampun menghujani hatinya. Setitik air mata tak terasa menuruni pipinya. Dia sudah tidak bisa menahan lagi ngilu di hatinya. Kyuhyun segera bangkit dari duduknya dan berlari cepat keluar kamarnya. Meninggalkan sang ibu yang tersenyum penuh arti.

***

Kyuhyun menerobos masuk kamar Siwon. Menekuk lulutnya di hadapan Siwon yang sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya. “Aku sudah tak peduli jika harus memohon. Jadi kumohon, katakan dimana dia berada, Hyung,”.

Siwon melepaskan kaca matanya dan menatap heran adiknya. Dia berjalan mendekat. Berkacak pinggang di depan Kyuhyun. Siwon mengetahui dengan terang maksud Kyuhyun, jadi dia merasa tak perlu untuk menayakannya. “Kenapa? Dia sedang menata hidupnya kembali. Dan aku tidak akan membiarkanmu merusaknya kembali,”.

“Persetan dengan ucapanku, Hyung! Aku memang brengsek! Aku brengsek,” maki Kyuhyun pada dirinya sendiri. “Tapi, aku membutuhkannya, Hyung,” lirih Kyuhyun.

“Untuk menjatuhkanku, Kyunnie? Jika ya, maka kau sudah berhasil. Aku sakit melihatnya yang terluka,”.

Kyuhyun menggeleng. “Aku sudah tak peduli dengan itu, Hyung. Aku memang bodoh hingga menempatkanmu sebagai rival. Sungguh, aku menyesal,”.

BUG..

Siwon untuk kedua kalinya menghantam rahang Kyuhyun. Membuat sang adik terjengkal ke belakang. “Dan sekarang kau dengan mudahnya datang padaku dan berkata menyesal setelah apa yang kau perbuat?”.

Kyuhyun bangun kembali, memposisikan diri seperti semula. Tak sedikit pun mengindahkan darah yang mengalir di sudut bibirnya. Dia bahkan rela jika hyungnya memukul kembali dirinya.

“Bangun, Kyunnie!”.

Kyuhyun hanya memandang ke bawah, tak berani membalas tatapan hyung-nya. Dia menggeleng sebagai jawaban. Tidak, dirinya belum pantas untuk berdiri.

“Bangun, Kyunnie,” kini tangan kokoh Siwon menggapit lengan Kyuhyun. Menariknya ke atas hingga sang adik dapat berdiri tegak di hadapannya.

Secara perlahan, Kyuhyun tergugu dalam tangisnya. “Mianhata, Hyung,” rintihnya di sela tangis hebatnya. Dia seorang pria, dan inilah cara menunjukkan ketulusannya. Dengan air mata yang sangat dan sangat jarang dikeluarkannya.

“Kau sudah menerima hukumanmu, bocah nakal,” Siwon mengacak, dengan kasih, rambut cokelat tua milik Kyuhyun. Dia menarik Kyuhyun, memeluknya, dan menepuk-nepuk punggung adiknya tersebut.

“Hyuung…” ucap Kyuhyun dengan terluka. “Hyung,” ulang Kyuhyun dengan masih tersengal. Menyesali semua prasangka dan perbuatannya. Sekaligus. merasakan betapa besar kasih sayang yang diberikan Siwon padanya.

“Sudah. Sekarang, saatnya kau mengejar kebahagianmu. Jadi tegarlah,”. Dilepas pelukkannya, lalu menepuk-nepuk bahu Kyuhyun.

“Kau memaafkanku dengan semudah ini, Hyung?”.

“Memangnya kau berharap bagaimana, Kyunnie?” senyum Siwon. Dia menghela nafas panjang. “Aku selalu memimpikan mempunyai adik laki-laki yang bisa kuajak bermain, bisa kulindungi, atau sesekali bisa kuajak berkelahi,” kekeh Siwon.

“Kurasa yang terakhir yang bisa kupenuhi,”.

Siwon terkekeh kembali. “Ya, kau mengerjakan dengan apik peran itu. Lama aku menunggu momen ini. Menunggumu dengan tulus menyebutku ‘hyung’,”.

“Mianhata, Hyung,”.

Siwon kembali menepuk bahu Kyuhyun. “Bersabarlah, mungkin tak akan mudah baginya untuk menerimamu kembali. Tapi, aku yakin dia akan berbesar hati memaafkanmu,”.

Kyuhyun menggeleng kembali. “Aku tak pantas untuknya, Hyung. Aku cukup membutuhkan kata maaf darinya,” suaranya masih tersendat air mata yang menyumbat di kerongkongan.

“Pantas atau tidak, kau akan mengetahuinya nanti,” Siwon tersenyum tulus. “Dan aku rasa kau membutuhkannya untuk menyempurnakan bagian dirimu. Bukan sekedar maafnya,” canda Siwon sambil meninju ringan bahu Kyuhyun.

Kyuhyun ikut terkekeh. Benar, dia membutuhkan Lynn sebagai bagian hidupnya. Tapi, terlepas dari itu, dia tak ingin bersikap egois hingga akhirnya melukai gadis itu kembali.

***

Lynn memundurkan kakinya sedikit karena menginjak sebuah amplop bewarna peach yang diselipkan melalui bawah pintu kamar apartemennya. Dia menjumput kartu tersebut. Membolak-balikkannya untuk mengetahui pengirimnya. Namun kosong.

Lynn membuka amplop tersebut. Menarik selembar kartu di dalamnya: “I’m really sorry”.

DEG.

Jantung Lynn menghentak dengan kuat dalam sekali hentakan. Ini tidak mungkin. Lynn menepuk pipinya. Tapi nyatanya kartu tersebut tidak menghilang layaknya pria dengan Lamborghini itu. Dia membuka kembali amplop kecil tersebut, menarik sesuatu dari dalamnya. Setangkai dandelion yang hampir mengering. Membuat beberapa mahkotanya rontok dan mengotori dalam amplop.

Tangan Lynn terangkat menutup mulutnya. Dia tahu benar kenangan di dalam dandelion itu. Sore mengagumkan bersama satu-satunya orang yang mengisi seluruh relung hatinya. Kepala Lynn menggeleng pelan. Tidak. Dia tidak boleh terlarut lagi dalam kebahagiaan semu yang sengaja diciptakan lelaki itu.

***

Lynn mengunyah makan siangnya dengan lambat. Memikirkan kembali tentang kartu misterius yang diterimanya pagi ini. Apakah dirinya saja yang berhalusinasi? Membayangkan bahwa kartu itu berasal dari lelaki yang telah menyakitinya. Ataukah suatu kebetulan saja, kartu itu berasal dari orang lain. Mengingat dirinya, sedikit popular karena merupakan mahasiswa exchange yang berasal dari Korea.

Karna demam K-Pop di Negara merlion itu, dan karena wajah asia koreannya yang manis, ditambah warna biru irish matanya yang tidak seperti kebanyakan, menjadikannya sedikit terkenal di kalangan mahasiswa chemical department NUS. Tak sedikit pria-pria melirik dan mencoba menarik perhatiannya. Walaupun, pada akhirnya beberapa mundur dan memilih mengaguminya saja karena sikap Lynn yang tertutup.

Dan detik berikutnya, dunia Lynn serasa terhenti berputar. Bagai adegan slow motion, lelaki dengan kemeja polos biru mudanya dipadu dasi bergaris, berjalan ke arahnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Semakin mendekat dan mendekat ke arahnya. Hingga Lynn hanya mampu membulatkan matanya ketika lelaki tersebut berada tepat dihadapannya. Dia mengulurkan sebuah amplop peach. Menaruhnya di meja dan tanpa kata berlalu kembali.

Gerak kepala Lynn mengikuti sang lelaki, hingga tak terjangkau oleh penglihatannya. Jantungnya berdetak hebat. Pandangannya jatuh pada amplop yang lelaki itu angsurkan. Amplop peach – warna  kesukaannya –, kartu ucapan : “I’m really sorry”, dan dandelion yang hampir mengering.

“Tuhan, apakah engkau sedang menyiksaku?”.

***

Kyuhyun kembali menatapi pintu di depannya. Sudah tiga hari ini dia menjalani rutinitas ‘mengantar surat’-nya. Dia menghentakkan surat yang dipegangnya pada telapak tangan kirinya dengan pelan. Merasa ragu. Mungkinkah saat ini adalah waktu yang tepat baginya untuk menemui gadisnya secara langsung?.

Dimantapkan hatinya. Kyuhyun mengangkat tangannya, mengetuk pintu tersebut. Tidak ada jawaban. Hingga beberapa kali ketukan tapi tetap saja tak ada jawaban. Dia mengecek arloji, memastikan tanggal dan waktu. Benar, hari ini adalah sabtu. Dan di malam seperti ini, sudah pasti gadis itu berada di apartemennya.

Dengan ragu, Kyuhyun menggeser penutup pengaman pintu. Kemudian diberanikan memencet kombinasi angka. Seingatnya, gadis itu selalu menggunakan tanggal lahir Madam Curie, ilmuwan yang dikaguminya. Dan benar, pintu itu terbuka.

Begitu masuk, pandangan Kyuhyun langsung tertuju pada pintu kamar yang sedikit terbuka. Gadisnya menyewa sebuah studio-apartment untuk homestay-nya ketika di Singapore. Cukup privasi jika dibandingkan dengan kamar kost. Mungkin ini juga karena campur tangan hyungnya.

Kyuhyun melangkah mendekati gadisnya yang masih terpejam. Memelankan langkahnya agar tidak membangunkan. Dia menekuk lututnya sehingga wajahnya persis berada di depan wajah gadisnya. Bibirnya tersenyum saat mendapati kembali oksigennya. Diangkat tangannya, berniat membelai wajah damai itu. Namun, segera menyadari ketidakberesan pada gadis tersebut. Kyuhyun menempelkan telapak tangannya di kening sang gadis dan mendapat jawabannya.

Dia segera beranjak menuju ruang sebelah dimana terdapat dapur minimalis. Mencari-cari obat penurun panas di kotak obat kulkas. Kyuhyun meneruskan mengeksplor isi kulkas. Ini sudah waktu makan malam, dia hanya yakin gadis itu belum memakan apa pun. “Ayam, kacang polong, brokoli, wortel, dan daun seledri,” absen Kyuhyun pada bahan makanan yang dia temukan.

Kyuhyun mengelus dahinya. Berpikir keras bagaimana cara mengolah bahan-bahan tersebut sehingga menjadi makanan layak makan. Tangannya merogoh android di saku jeans dan memutuskan men-search ‘how to make a soup’.

***

Setelah satu setengah jam berlalu menyelesaikan masakannya. Kyuhyun berhasil juga membuat olahan yang diinginkan. Juga berhasil membuat luka-luka sayat kecil di jemarinya. Meski, yah, dia tak yakin dengan rasa masakannya. Setidaknya, selama masih bisa dimakan, cukuplah untuk mengganjal perut.

“Lynn,” Kyuhyun mengguncang pelan tubuh gadisnya. Bermaksud membangunkannya. “Lynn,” ulangnya.

“Errghh,” gadis itu menggeram kecil. Menggerakkan badannya dan mulai membuka mata. Seketika nafasnya tercekat. Apakah sekarang dia masih berada di alam mimpinya?.

“Lynn, kau bisa bangun?”.

Lynn tersentak pelan. Tidak, ini nyata. Dia menggerakkan tangannya untuk menumpu badannya agar membantunya bangun. Dia ingin menyangkal dan mengusir lelaki itu secepatnya. Tapi ada daya, tubuhnya terlalu lemas karna demam. Lynn menepis tangan Kyuhyun ketika lelaki itu bermaksud membantunya.

Kyuhyun hanya mampu tersenyum miris pada penolakan tersebut. Dia memposisikan duduk di pinggir ranjang, mengambil nampan yang berisi makanan yang telah disiapkannya dan menaruhnya di pangkuan.

Lynn hanya menautkan alisnya tak percaya. Setelah tiga hari ini dikejutkan dengan surat peach dan keberadaan lelaki itu di Singapore, kini dirinya lebih terkejut lagi dengan Kyuhyun yang sudah berada di apartemennya. “Kenapa kau di sini?” tanya tajam Lynn.

“Makanlah dulu. Nanti akan kujelaskan,” Kyuhyun mengulurkan sendok berisi satu suapan makanan.

“Apa maksud ini semua?” Lynn hanya menatap tajam sendok tersebut.

“Makanlah, tubuhmu perlu asupan gizi,”.

“Cih, apa pedulimu, Kyuhyun-ssi?”.

Rasa perih menyergap hati Kyuhyun kembali. Sekarang, bahkan Lynn memanggil dirinya dengan sapaan formal. Menegaskan bagaimana gadis itu menolaknya. Tangan Kyuhyun masih menggantung di udara. Setia menanti respon Lynn.  “Aku peduli, karna itu aku di sini. Sekarang makan dahulu,”.

Lynn memandang sengit ke arah lelaki di depannya. Bagaimana mungkin setelah apa yang dilakukan pada dirinya, sekarang lelaki itu dengan gampang memasuki hidupnya kembali. Mengatakan peduli padanya. Lantas, haruskah dia percaya?. “Keluar dari apartemenku,”.

Kyuhyun menghela nafasnya. Merasakan bertubi penolakan dari Lynn. Membuatnya tersenyum getir. Ternyata, seperti ini rasa sakit itu. Dan mungkin, yang dirasakan belum seberapa jika dibandingkan dengan luka yang diberikan pada gadisnya. “Aku akan keluar asal kau memakan ini,” ucap lembut Kyuhyun.

Hati Lynn tergetar. Suara bass favoritnya kembali. Dan bohong jika dia tidak merindukannya. Kalau boleh jujur, dia sangat, sangat merindukannya. “Keluar, dan bawa semua ini dari hadapanku,”.

“Lynn, untuk sekarang saja, bisakah kau menurunkan egomu? Makanlah, aku takut kondisimu akan memburuk,”.

“Oh, jadi kapan aku tidak menurunkan egoku?” sergah Lynn. “Bahkan setiap waktu yang terlewati, aku selalu melakukannya. Namun, semua tidak berarti bukan?”.

“Aku tahu…aku tahu. Aku sadar sepenuhnya bahwa aku pria brengsek yang hanya bisa melukaimu. Hanya seorang pengecut yang menyembunyikan perasaannya. Menjadikanmu sebagai tameng rasa tak sukaku pada Hyung dan mengingkari semua rasa yang sebenarnya telah lama ada,”.

Lynn memalingkan wajahnya. Mengeraskan hatinya agar tak kembali terbuai dengan lelaki di hadapannya. “Pergi. Sejak kau membuangku, aku berharap tak pernah melihatmu lagi,”.

Dan sebuah kalimat itu mampu menohok Kyuhyun dengan amat dalam. Sebesar itukah ternyata luka yang diberikannya. “Setidaknya, minum obatmu,”. Tangan Kyuhyun terulur bermaksud memeriksa kembali suhu badan Lynn, tapi di luar dugaannya, gadis itu secara reflek memundurkan wajahnya.

Tak hanya Kyuhyun, bahkan Lynn sendiri terheran dengan gerak refleknya. Dia memang terluka dengan sikap Kyuhyun. Namun, dirinya tak pernah menyangka bahwa tubuhnya bahkan secara spontan menghindari sentuhan lelaki tersebut. Seperti merasakan ancaman saat Kyuhyun ingin menyentuhnya.

Kyuhyun meletakkan nampan di meja kecil samping ranjang Lynn. Bukan mencoba bersabar pada segala penolakan Lynn, tapi dia hanya menyesali semua. Bahwa sekarang dia memetik hasil perbuatannya. Menjadikan gadis itu sungguh menolaknya. “Kumohon, sayangi dirimu. Jangan hanya karenaku, kau menyiksa tubuhmu. Makanlah, dan aku akan pergi,”. Kyuhyun beranjak dari tempatnya.

Sepeninggalannya, Lynn hanya mampu menggigit bibir bawahnya. Menahan semua gejolak yang tengah bergemuruh di dadanya. Kontradiksi batinnya, sebagian dirinya menginginkan Kyuhyun, tapi sebagian yang lain menolaknya. Dan bulir bening itu kembali menuruni pipi putihnya.

***

“Hi, aku kehabisan tempat duduk. Bolehkah aku duduk semeja denganmu?” ramah seorang lelaki dengan nampan makanannya.

Gerak Lynn terhenti seketika. Dia hafal benar nada suara ini. Lynn mengangkat kepalanya. Dia diam, tidak memberikan jawaban. Memilih membisu dan melanjutkan menyantap makannya meski rasanya sudah berbeda. Hambar.

Kyuhyun mengangkat bahunya. Dia tetap menarik mundur kursi di hadapan Lynn, kemudian mendudukinya. “Kuartikan kau mengizinkannya, Lynn,”.

Lynn mendelik ke arah Kyuhyun. Dia sudah kenyang sekarang. Dengan cepat Lynn memberekan barang-barangnya dan berniat pergi secepatnya dari hadapan Kyuhyun. Namun tangan Kyuhyun menggantung di hadapannya, mengisyaratkan agar dirinya tetap tinggal.

“Jangan pergi. Makananmu belum habis separuhnya. Anggap aku tidak ada,”. Tanpa menyentuh Lynn, Kyuhyun menahan gadis itu untuk tidak pergi. Dia takut jika Lynn masih menolak kontak fisik dengannya. Yakin, bahwa itu karena tindakannya dulu yang mengingatkan pada masa lalu Lynn.

“Aku sudah kenyang,” tegas Lynn. Tidak memedulikan perkataan Kyuhyun. Dia tetap beranjak meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun menatapi punggung Lynn dengan sendu. Kesalahannya bukan hanya karna mempermainkan gadis itu, namun juga karena membangkitkan luka lama Lynn. Derita yang dulu pernah Lynn rasakan dari ayahnya, muncul kembali akibat ulahnya. “Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku, Lynn?” monolog Kyuhyun.

***

“Apa yang kau lakukan di apartemenku?” pekik Lynn setibanya di apartemen.

“Uum, mencoba membuat surprise,” ucap Kyuhyun enteng. Dia meletakkan red wine sebagai penyempurna candle light dinner yang disiapkan. “Selesai. Ganti bajumu, kita makan bersama,” riang Kyuhyun seolah tanpa beban.

Lynn mengurut keningnya. Dia ragu dengan jalan apa harus dipilih, menerima kembali atau malah menolak Kyuhyun. “Pergi dari sini,” lirih Lynn yang masih dengan jelas tertangkap indera pendengaran Kyuhyun. “Hubungan kita sudah berakhir sebulan lalu,”.

Kyuhyun memelorotkan bahunya. Merasakan tusukan di hatinya. Tidak, dia tidak pernah mengakhiri hubungannya, meski sudah melukai gadisnya sedemikian rupa. Terserah jika kalian mengatakan dirinya egois. “Lynn, kita perlu bicara,”.

“Kita sudah membicarakannya,”.

“Tidak, kita belum menyelesaikannya,”.

“Kyuhyun-ssi, tolong hentikan semua. Aku lelah,”. Lynn melangkah masuk kamarnya. Dia tahu pembicaraannya dengan Kyuhyun tidak akan berakhir. Mengingat bagaimana keras kepala dan egoisnya lelaki itu.

“Marahlah! maki aku!” Kyuhyun menatap punggung Lynn. Sungguh dia tidak sanggup. “Tapi tolong jangan abaikan aku. Aku membutuhkanmu untuk menjalani hidupku dengan baik. Memerlukanmu untuk menyempurnakan belahanku,”.

Lynn menolehkan kepalanya sejenak. Gamang dengan semua perasaannya. Namun, rasa pedihnya terlalu nyata menusuk hati. Kakinya berniat kembali melangkah meninggalkan Kyuhyun.

“Lynn, kumohon,”.

Gadis itu tetap berlalu. Membanting pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya. Lynn masih mendorong pintunya dengan kekuatannya. Kemudian berbalik, menyenderkan punggungnya di pintu, hingga tubuhnya merosot. Jantung ini masih berdetak kuat. Merasakan perih dan harapan di saat yang sama.

Kyuhyun menatap pintu yang tertutup di hadapannya dengan pilu,

“You’re telling me it’s over now

It’s like you turned the volume down

Now I can’t even hear a sound.

Looks like you’re about to leave

Now it’s getting kinda dark to me

Cuz that ain’t something I can see.

It’s like I’m getting worse everyday

Girl I’m breaking down.

Got my heart on the floor

And I can’t feel it,

Everything’s numb”

Dan yang bisa dilakukan hanyalah menyanyikan sebuah lagu yang mewakili perasaannya kini. Berharap dengan itu, dia dapat menyampaikan penyesalan dan rasanya.

“Now I’m senseless

Got no feelings left.

My pain won’t let this heart beat in my chest,

Now I’m senseless.

Why are we doing this?

I’m so losing it…, senseless”

Kyuhyun tersendat. Terisak kecil. Air mata menyumbat kerongkongannya. Sungguh, dia tidak ingin kehilangan gadis dibalik pintu ini. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Di sisi lain, Lynn mendengarkan setiap detail kata yang dinyanyikan Kyuhyun. Merasakan kepahitan di setiap liriknya. Kedua tangannya membekap mulut untuk meredam tangis. Lynn mendongakkan kepalanya, menatap kenop pintu. Haruskah dia berbalik?

“Feels like I lost your love

Since I had to give you up.

And now I’m so outta touch, yeah.

The other day I smelled your scent,

It came across like punishment

A bitter taste is lingering.

My senses have seemed to escape

All the feeling’s gone

I’m cold and I’m lost

With no direction

And everything’s numb”

Dengan gemetar, Lynn memutar kenop pintu tersebut. Perlahan membukanya. Membawanya melihat sosok Kyuhyun yang berdiri di sana. Kaki Lynn terasa berat untuk melangkah. Hanya derai air mata yang terus mengalir untuk menggambarkan warna hatinya.

“Now I’m senseless…”

Kyuhyun mengakirinya lagunya. Wajahnya memerah dengan air mata yang sudah merata di pipinya. Dia mengulurkan tangannya, berkeinginan agar Lynn menyambutnya. Memberikan kata maaf untuknya. “I’m really sorry,”.

Lynn memandangi jemari yang menggantung di hadapnya. Haruskan dia mengabaikannya lagi? dan terus terpuruk?. Tidak. Diangkat tangannya, menyambut uluran tangan Kyuhyun. Merasakan udaranya berhembus kembali ke sisinya.

***

Kyuhyun memandangi wajah ayu di sampingnya dengan berbinar. Ikut melengkungkan bibirnya ketika sang gadis tersenyum riang memerhatikan cahaya-cahaya yang berpendar dari patung merlion di central park. Dia tidak peduli dengan keindahan yang kota itu tawarkan, karna keindahannya berpusat di gadisnya.

“Amazing,” desis Lynn.

“Yes, i know,” jawab Kyuhyun dengan masih menatap lekat Lynn. Sudah jelas jawaban ‘amzing’-nya ditujukan untuk siapa. Kyuhyun memperkecil jaraknya dengan Lynn. Ditundukkan kepalanya untuk menjangkau bibir gadis itu. Mengecupnya dengan lembut, hanya beberapa detik karna setelahnya dia memundurkan kembali kepalanya saat menangkap getaran bibir Lynn.

Lynn menundukkan kepalanya, memandang dengan tak fokus tempatnya berpijak. Nafasnya sedikit memburu karna sentuhan lelaki itu. Untuk kesekian kalinya, tubuhnya menolak kontak dengan Kyuhyun. Digigit bibir bawahnya, sungguh dia tidak menginginkan ini.

“Mianhe,” lirih Kyuhyun. “Lynn, i’m really sorry,” Kyuhyun merenggangkan tangannya yang melingkar di pinggang Lynn. Menatap gadis itu sendu. “Lynn, kau baik-baik saja? mianhe, aku terbawa suasana,” ucapnya tulus. Jikalaupun, dirinya harus bersabar menghadapi penolakan Lynn, akan dilakukannya. Menunggu bukanlah suatu yang berarti jika dibandingkan dengan luka yang ditorehkannya pada gadis di hadapnya ini.

Lynn mengangkat pandangannya. Matanya sudah tergenang air mata yang siap meluncur. Dia bukan bersedih karna Kyuhyun yang menciumnya. Tapi karna sebagian dirinya juga merindukan sentuhan Kyuhyun, walaupun area bawah sadarnya terus bergejolak. Dengan sedikit ragu, Lynn mengangkat kedua tangannya, melingkarkan di leher Kyuhyun sebagai pegangan. Kakinya menjinjit untuk meninggikan badanya. Ditempelkan kembali bibirnya pada bibir Kyuhyun.

Kyuhyun membulatkan matanya tak percaya. Namun otaknya masih bisa bekerja untuk mengontrol motoriknya. Tangannya kembali mengerat di pinggang Lynn. Menahan tubuh gadis itu agar tak terlalu lelah berdiri menumpu di ujung kaki. Matanya memejam, menikmati lembut bibir gadisnya yang tertempel di bibirnya. Secara sangat pelan, dia menggerakkan bibirnya, mencium dengan hati-hati gadisnya. Tak ingin terburu, yang nantinya malah membuat Lynn menjauh kembali.

Manis, pikir Kyuhyun. Dia menikmati ciuman itu. Merindukan dengan sangat tekstur lembut bibir Lynn. Merutuki dirinya yang begitu bodoh menyakiti gadis ini. Perlahan, dia memulainya dari awal. Tuhan sungguh masih mengasihinya. Memberikan harapan untuk memiliki kembali gadis Korea-German itu.

***

Kyuhyun membuka matanya pertama kali. Merasakan sedikit silau karena sinar mentari yang menembus gorden kamar Lynn. Sepanjang malam dia hanya menghabiskannya dengan bercerita. Bertukar kisah dengan Lynn tentang segala hal. Sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama setahun ini dia menyanding Lynn. Dan tanpa sengaja, dirinya jatuh tertidur.

Ditolehkan kepalanya ke samping, tersenyum saat mendapati Lynn yang berbantal lengan atasnya. Kyuhyun menggerakkan sebelah tangannya yang bebas untuk sedikit mengangkat dagu gadis itu. Memberikan keleluasaan baginya untuk memandangi wajahnya.

Mata biru favoritnya yang sedang terpejam, bulu mata panjang nan lentik, garis rahang yang terpahat halus, hidung mungil meninggi, bibir tipis merah muda, dan dagu oval. Cahaya matahari yang menimpa wajah itu kian menyempurnakan pencitraannya. Laksana sedang mengagumi seorang malaikat yang sedang tertidur. “Angel,” bibir Kyuhyun bergerak mengucapkannya tanpa suara.

Lynn mengerutkan kelopak matanya saat dirasakan sentuhan halus di wajahnya. Dia sedikit memundurkan wajahnya ketika mendapati wajah lelaki itu yang hanya berjarak beberapa centi. “Mor-ning,” sapanya terbata.

“Morning,” senyum lembut Kyuhyun.

Lynn segera menumpukan sebelah tangannya di dada Kyuhyun untuk bangkit. Wajahnya memanas saat menyadari tatapan lembut Kyuhyun. Tapi sayang, tangan Kyuhyun di pundakknya menghenhentakkan dirinya kembali jatuh di pelukan pria itu.

“A-aku ha-rus mem-buat sarapan. Ya sarapan,” ucapnya dengan nada terbata.

“Hmm?” Kyuhyun tersenyum menggoda. Dia mencondongkan dahinya hingga menyentuh dahi Lynn. “Mau melarikan diri, nona Lee?”.

“Eh? Anii,” Lynn menggeleng-gelengkan kepalanya cepat untuk menutupi kebohongannya.

“Nanti dulu, sebentar lagi. Seperti ini saja,”. Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Memejamkan matanya kembali seraya tersenyum puas.

Jantung Lynn sudah berdetak hebat. Astaga, padahal dirinya tidak melakukan olah raga pagi, tapi mengapa jantungnya terasa sehabis jogging. Lynn mengernyit ketika pipinya menabrak sesuatu yang keras di dada Kyuhyun. “Sejak kapan kau memakai kalung, Oppa?” tanyanya heran. Sebab, sepengetahuannya, Kyuhyun bukan tipe pria melankolis yang suka memakai pernak-pernik perhiasan seperti itu.

Kyuhyun melonggarkan pelukkannya, sedikit menjauhkan Lynn dari tubuhnya. Dia menarik kalungnya sehingga memunculkan bandul yang membuat mata Lynn membulat. “Sejak seseorang membuang ini,” sahutnya dengan menunjukkan cincin pertunangan milik Lynn.

“Maaf,” lirih Lynn syarat penyesalan.

“Tidak, seharusnya aku yang minta maaf,”. Kyuhyun membiarkan kalungnya jatuh di dadanya. Dia mengusap kening Lynn penuh kasih. “Dan maukah kau memakainya kembali?” tanya Kyuhyun yang tanpa ragu dibalas anggukan dari Lynn.

Tak terbayang bagaimana pagi itu mencerah untuk Kyuhyun. Ribuan warna meledak membuat pelangi di dalam dadanya. Senyumnya melebar, memerhatikan wajah Lynn. Dia memajukan wajahnya hingga bibirnya menjangkau bibir Lynn.

Lynn menutup matanya. Merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Menikmati hidung mancung Kyuhyun yang menempel di pipinya. Merasakan hembusan deru hangat yang menyapu kulit pipinya. Memuaskan jatungnya untuk berdetak kuat dan memacu adrenalinya meluncur di aliran darah.

Kyuhyun melepaskan morning kiss-nya dan memandang dalam ke irish biru kesukaannya. “Thanks for everything that you give to me. Though I just leave you a misery, you always standing right there, accepting me when back again. I don’t know what words can represent my feeling towards you. But, I hope this simple words could show you how deep it is,”. Kyuhyun menarik nafasnya untuk merilekskan diri. “My Adelynn, would you please marry me?”.

***

“Kau gila, Oppa?”

“Tidak. Aku serius,”.

“Tapi tidak harus secepat ini bukan? Bagaimana dengan keluarga di Seoul?”

“Aku sudah menghubungi mereka, Appa, Eomma, Eommonim, juga Hyung,”.

“Tapi bukan berarti sesimple itu kan?”.

“Lalu? Apakah aku harus menahan cemburuku atas mata-mata yang terus melirikmu,”.

“Kyuhyun Oppa!”.

“Ini Singapore dan aku hanya memastikan kau selalu dalam jangkauanku. Siang ini, barang-barangmu sudah dipindahkan ke apartemen baruku,”.

“Ya, Oppa~”.

“Lekaslah, Pastor sudah menunggu di dalam. Aku tidak ingin dia marah karna terlalu lama menunggu mempelainya, lalu berujung pada pembatalan sakramen ini,”.

Mata biru samudera milik gadis itu akhirnya hanya mampu memandang sendu sebuah tangan di hadapannya. Dia paham, bahwa sampai kapan pun, ego kekasihnya tidak dapat diubah. Inilah keputusannya. Sebesar apa pun kesalahan lelaki itu padanya, kasihnya untuknya melampaui semua itu. Dan dia tidak menyesalinya.

Dengan yakin, Lynn mengulurkan tangannya. Tersenyum ketika jemari besar itu membungkus jemarinya dengan lembut.

***

“Karena setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Terlebih, karna aku menyayanginya, juga menginginkannya. Hanya dia, tidak yang lain. Bukan karena cinta itu buta, melainkan karena ia terbuka. Selalu terbuka untuk memaafkan dan menerimanya kembali. Bukan tindakan bodoh untuk mengulang kesalahan dan terjatuh di tempat yang sama, melainkan membuka kembali lembaran baru, memulainya dari awal. Bersama orang yang sama, dengan cinta kasih yang berlipat. Karena cobaan ini menguatkan kami” – Adelynn Lee.

END*

Note: huahaha…mian2, itu adegan nyanyi dan baikannya sedikit aneh. Hadew… . Makasih buat yang sempatin review ni ff. Untuk siders, tunjukkan perasaan kalian setelah membacanya part akhir ini, OK? ^^. Kutunggu riview-nya. Bye.

154 thoughts on “[Twoshot] A Misery in Love (2)

  1. Entik says:

    Entah udh baca yg keberapa tetep aja rasa nya gk bosen dan terharu, akan sifat won, ke kanakan kyu, kesabaran lyyn.

    Dan penulis yang keren.

  2. Prefer behind those beautiful eyes hehe. Dari segi bahasa bagus sih.. cuma ada beberapa yg kurang baku. Ceritanya sudah bisa ditebak karena terlalu banyak ff yg bertema seperti ini hehe. Tapi bukan berarti ini ff ga bagus. Bagus kok. Saya menikmati sekali bacanya. Feel gimana tersakitinya si Lynn sama Kyu dan sebaliknya itu kerasa banget. Dan ommo.. Siwon.. saya suka karakter dia yg selalu mengalah ;; hehe. Baguslah pokoknya ini. Ff ringan yg nyaman dibaca

  3. Kyaaaaaaa
    Ini so sweet bgt
    Hahahahahaha
    Eh halo aku reader baru hehehehe
    Sori baru komen di chapter ini ^^
    Sumpah baca ff ini agak nyesek tp ending nya so sweet
    Berharap kyu oppa kyk gitu ke aku hahahahahaha
    Di tunggu karya selanjutnya ya
    ^^

  4. Atika slalu ceria says:

    huft…happy ending
    dari awal baca agak sedikit was was.coz siwon oppa yang juga suka sm lynn.
    dasar kyuhyun oppa egoisnya ngk pernah berubah.
    sequelnya dong arum…….:)

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s