[Drabble] Barriers


Barriers

[Seoul, 26 April 2012, 09.00 a.m]

Jari lentik milik gadis berwajah asia itu terus menswap permukaan ipad. Bibirnya mengeluarkan sedikit udara dari pipinya yang menggembung. Matanya dengan teliti membaca setiap artikel dari tanah kelahirannya. Satu jam sudah ia habiskan untuk menelusuri berbagai berita tentang sang kekasih. Bukan suatu yang sulit karna ketika mengetikkan key ‘SS4INA’ maka berjuta artikel akan muncul. Mulai dari keberangkatan di bandara Incheon hingga antusiasme Elf Indo. Lelah dengan aktifitasnya, tangannya meng-close dan men-shut down ipadnya. “Too far,” desahnya.

***

[Seoul University, 1 May 2012, 07.00 p.m]

Gadis itu mengeratkan syalnya di leher saat merasakan hembusan angin malam. Bulan ini sudah memasuki pertengahan musim semi, bagi kebanyakan orang Korea, suhu di Kota ini termasuk hangat. Tetapi tidak bagi diri sang gadis. Walupun sudah lima tahun dia berada di Negara ini, nyatanya tubuhnya tetap tidak terlalu tahan dengan dingin. “Arh,” pekik sang gadis ketika merasakan seseorang menarik lengannya.

“Ikut aku, Aby. Kita perlu bicara!” ketus lelaki yang menariknya. “Masuk!” perintah sang pria tanpa memedulikan pemberontakan kecil Aby. Dia mendorong Aby lebih dalam memasuki mobilnya di jok penumpang. Segera setelahnya, dia juga ikut masuk. “Aku mendengarkan, Aby,” kedua tangannya terlipat di depan dada.

Aby menarik nafasnya dalam. Membiarkan rindunya sedikit terobati. “Nothing should be explained, Oppa,” ingkar Aby. Dia mengerti dengan maksud kekasihnya, hanya mencoba berkelit. Bahwa dua minggu ini dia mati-matian menghindarinya. Mensugesti diri untuk tidak bergantung pada eksistensi pria di sampingnya.

“You started to ignore me, and now said like nothing did wrong, didn’t you?” alisnya berkerut. Tangannya meraih lengan Aby, menyentakkan hingga gadis itu mau menatapnya. “Look at me, Aby!”.

“Yesung Oppa, please,” rengek Aby. Dua minggu dia menyiapkan hatinya untuk mengucapkan sebuah kata, tapi nyatanya waktu itu sangatlah tidak cukup. Dan mungkin berapapun lamanya, tidak akan pernah membuatnya siap untuk mengatakan ‘berakhir’.

“Then tell me, Aby,” tuntut Yesung.

Aby kembali menata pernafasannya. Berharap paru-parunya mampu memberikan pasokan oksigen yang cukup jika kata itu lolos dari bibirnya. Rasa pedih seakan tak hilang jua semenjak dia memutuskannya dua minggu lalu. “Let’s break,” dan dua patah kata itu akhirnya terucap.

Yesung membulatkan matanya tak percaya. Dia merasa hubungannya dengan gadis Indonesia itu baik-baik saja. Tak ada masalah pelik yang kiranya bisa membuat hubungan mereka renggang. Hingga dua minggu terakhir, dirinya merasa Aby menjauh. “Don’t joke me, Aby,”.

Aby menggeleng, membulatkan tekadnya. “Ayo kita akhiri ini semua, Oppa,” sekali lagi hatinya terhujam belati.

“Kenapa? Adakah alasan bagiku untuk mengakhirinya?”.

Aby menatap lekat wajah kekasihnya. Berkhayal bahwa semua yang diucapkan hanya mimpi dan dia tidak pernah berada di situasi ini. Ini sungguh menyesakkan. “Cause there’re so many barriers between us,”. Aby merasakan jantungnya mulai malas untuk mempompa darahnya. Dan paru-parunya hampir-hampir mengempis, merasakan ketidakhadiran oksigen.

“Jika hanya itu alasanmu mengapa dulu kau memutuskan memulainya. Jika itu yang membuatmu menyerah mengapa dulu terpikir untuk menerimaku. Katakan Aby,”.

“Kau dan aku sungguh berbeda, Oppa. Di luar sana ribuan bahkan jutaan orang mengagumimu, menyanjungmu sebagai bintang, sedangkankan aku? Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik,” Aby memalingkan wajahnya sebentar. Memberikan kesempatan bagi tangannya untuk mengusap air mata yang terlanjur jatuh.

“Sejak awal begitulah keadaannya, lalu mengapa kau baru mengungkapkannya sekarang? Mempermainkanku, Aby?” geram Yesung.

Aby menarik nafasnya yang terasa berat. “Semua rasaku padamu tulus adanya. Tapi-“.

“TAPI APA, ABY!”.

Aby memejamkan matanya, terkejut dengan bentakkan Yesung. Dia membuka kembali matanya, mengumpulkan potong-potong nafasnya. “Dinding pemisah itu juga nyata, Oppa,” seraknya.

“Tell me the truth, Aby. Don’t make any non sense reason,”.

“Oppa, tidakkah berpikir bahwa bentang diantara kita terlalu luas? Budaya, bahasa, kewarganegaraan,…,”.

“Cukup, Aby. Kau sudah tahu itu sejak awal, tapi tetap menerima hubungan ini. Dan sekarang kau mengungkitnya. Adilkah itu, Aby?”.

Aby kembali mengusap pipinya dengan kasar. Menyadari dengan sangat segala kesalahannya. Namun, bisakah dia menahan perasaannya yang meletup-letup kala itu untuk mencintai lelaki ini?. Tidak. Itu sebab, Aby menerima semua. “I know, that I did wrong,”.

“Dan apakah bersamaku juga merupakan kesalahan, Aby?”.

Aby menggeleng. Bersama Yesung adalah suatu hal terindah di masanya. “Oppa, you deserve to get the better one,”.

“Hentikan, Aby. Bukan itu yang ingin kudengar. Aku bahkan tidak mempunyai skandal apa pun dengan artis wanita atau siapa pun. Jadi tidak ada alasan bagimu untuk memutuskan ini semua,”.

“Aku tahu, Oppa. Tapi bukan itu masalahnya. Kita terlalu-,”.

“Do you love me, Aby?” sela Yesung.

“Oppa…”.

“ANSWER ME, ABY!”.

Aby mengatur nafasnya. Lidahnya kelu hanya untuk mengucapkan kata ‘yes, i do’. Kata simple yang seharusnya bisa dengan mudahnya terucap. Dia melipat bibirnya, menahan agar tak terisak. “I…”. Aby menundukkan kepalanya. Tak mampu lagi membendung tangisnya. Tangannya mencengkeram pinggir jok untuk mengalirkan emosinya.

Yesung menatap Aby dengan menuntut. Menuntut jawaban atas pertanyaan sederhananya. Dipalingkan wajahnya dari Aby, tak tahan melihat gadisnya menangis. Air mata juga sudah menggenang di pelupuk mata. Dia menyandarkan punggungnya, dan menggigit punggung tangannya sendiri untuk meredakan gejolaknya.

Yesung sadar benar resiko hubungannya. Perbedaan kewarganegaraan menjadi masalah terbesar antara mereka. Bukanlah hal sederhana untuk beralih kewarganegaraan. Juga dengan budaya. Meski berasal sama-sama dari timur, namun Indonesia dan Korea memiliki budaya yang sangat berbeda.

Beberapa menit, masing-masing terlarut dalam pikirannya sendiri. Sibuk menenangkan diri. Yesung mengatur nafasnya, menarik dan menghembuskan dengan irama teratur. “Apakah hubungan ini memberatkanmu, Aby?”. Yesung mengalihkan pandangnya ke arah Aby. Dan seketika bertambah sesak ketika Aby menganggukkan kepalanya. “Apakah dengan melepas belenggu ini, kau akan bahagia?”.

Aby diam, tidak merespon pertanyaan tersebut. Karena jawabannya pastilah ‘tidak’. Dia hanya tidak ingin terlampau jauh berangan atas hubungannya dengan artis papan atas seperti Yesung. Beberapa bulan ke depan, sang ayah sudah habis masa tugasnya sebagai duta besar di Negara gingseng tersebut. Dan itu berarti, dirinya juga akan pindah mengikuti ayahnya. “Oppa, aku yakin kita akan menemukan jalan masing-masing,”.

Yesung menarik dalam nafasnya. Mencoba mengumpulkan oksigen agar tetap menyangga kinerja paru-parunya. “Too many barriers,” lirihnya. Dia memejamkan matanya, membiarkan air mata merembes ke pipinya.

“I’m really sorry, Oppa. And thanks a bunch for all you give to me. I wish the best for you,” Aby mencengkeram kuat handle pintu mobil. Tangannya terasa kaku untuk menjeplakkannya. Tapi, dia harus melakukannya. Perlahan, Aby membuka pintunya.

Dan dengan gerakan cepat, Yesung menarik pintu itu hingga tertutup kembali. Sebelah tangannya menyelip antara sandaran jok dan punggung Aby, kemudian menarik gadis itu merapat padanya. “Apakah aku pernah mengiyakan permintaan bodohmu, Aby?”.

Aby menegang. Merasakan hembusan nafas Yesung di lehernya saat kekasihnya tersebut menenggelamkan wajahnya di bahu miliknya. Dan setelahnya, tubuhnya seperti tak bertulang saat merasakan pundaknya basah. “Oppa…”.

“Bisakah kau bertahan di sisiku? Dengan satu alasan saja bahwa kau mencintaiku?”. Yesung semakin mengeratkan pelukkannya. Memapas jarak antara dirinya dengan Aby. Melingkupi tubuh mungil Aby dengan dekapannya.

“Aku-,”.

“I love you, Abigail,”.

Bahu Aby berguncang pelan. Air mata kembali menderai. Hatinya yang sempat dingin menghangat kembali. Merasakan dekapan protektif dan posesif kekasihnya. Detik ini juga dinding pertahanannya runtuh. Sungguh, dia tak bisa mengabaikan permintaan tersebut.

Yesung merenggangkan pelukannya. Jemarinya mengusap dengan lembut pipi Aby yang basah karena air mata. “Don’t ever say like that again. Cause it hurts me so badly,”. Dia mencium kening Aby. “I know that there’re so many barriers, but could you still beside me?”.

Aby menatap Yesung lekat dengan mata bulatnya. Memandang mata teduh milik Yesung. “But-“ kata-katanya terpotong dengan kecup kilas Yesung di bibirnya. Menjadikan jantungnya berdetak hebat.

“Hmm?” perlahan bibir Yesung tertarik membentuk senyuman.

Aby memelorotkan bahunya. “Yes. I do, Oppa,”. Dan setelahnya, dia hanya dapat merasakan tubuhnya yang kembali menghangat karena pelukan Yesung. Aby mencengkeram ujung kaus Yesung. Mencium wangi yang menguar dari tubuh lelaki tersebut. “I love you, too,”.

“By the way, could you help me to learn Indonesia language except ‘nama saya Yesung’?”.

Aby terkekeh dan semakin erat mendekap kekasih hatinya.

END*

Note: hueee…T.T menggalau gara2 SS4 ney. Jadi ciptakan drable gak jelas gini. Couple ini adalah yang pertama aku buat untuk Suju. Dan jika ada yang tanya apakah Abigail refleksi dari diriku, jawabannya ‘tidak’. Aku hanya membuat karakter Aby dengan pengetahuan awalku, karena waktu itu malas browsing.

29 thoughts on “[Drabble] Barriers

  1. Maya Sherlita says:

    aku kira mereka bakalan pisah beneran tapi untung nya enggak hehehehe
    ternyata yesung oppa bisa romantis juga ya…

  2. Jarang2 bisa nemuin ff dengan cast yesung.. dan ternyata disini aku nemu walaupun sebenernya cuma drabble pendek tapi keseluruhan bagus😀 ga nyangka kalo ternyata yesung bisa bahasa inggris ya.. >< *ditabokyesung* aby nyerah karna ayahnya udh habis masa kerja dinasnya ð̀ĩ korea.. hmm untunglah aby luluh juga cuma dengan satu alasan cinta yesung ke dia :') sweet tapi kurang panjang.. hehee

  3. perfect perfect perfeeeeect! pas bagian aby buka pintu mobil, terus yesung malah nutup, itu berasa keren kali sungguh. terus juga omongan yesung yang suruh aby tetap disisinya aaaaa:” andaikan kaya begini beneran terjadi di dunia nyata u,u

  4. ria says:

    Jiahahahaha dah galau ri awal takutny sad end eh g tauny terakhirny bikin ngakak ye2 minta d ajarin bahasa ina dasar mang namja aneh hahahaha…

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s