Please, Hold On [Part 6]


Please, Hold On [Part 6]

 

 

 

Author              : Arsvio

Main Cast         : Lee Donghae (Aiden Lee), Han Cheonsa (Angelle Han)

Support Cast    : Super Junior, Daniel Han, Kevin Han, Adelynn Lee.

Rating               : PG-16

Length              : Sequel

 

Cheonsa mengurut keningnya pelan ketika masuk ke dalam kamar mandi. Dinyalakan keran air panas untuk memenuhi bath tub. Dia duduk di tepi bath tub sembari memijat tengkuknya yang pegal. Jemarinya menyapu permukaan air hangat. Memain-mainkan air sehingga membuat gelombang kecil. Sekedar untuk mengurangi jenuh dan meleyapkan kesedihan yang terus berputar di kepalanya.

***

Donghae masih terus berlari, walau ia tak yakin akan imaginasinya. Berharap bahwa praduganya semua hanya kesalahan. Tapi, sekecil apapun peluangnya, dia lebih memilih mengambilnya. Terlebih semua menyangkut seorang terkasihnya.

Pria yang ditabraknya tadi, lambat laun ingatannya muncul. Dia, sang pria, datang di gereja tempat penghormatan terakhir Ny. Han Eunri. Datang bersama dengan wanita yang ditampar sang istri. Memang benar, jika sang pria tidak mengikuti Jung memasuki gereja, namun Donghae melihatnya di areal parkir ketika dirinya membopong Cheonsa, tepat setelah Jung meninggalkan gereja.

Donghae benar-benar kepayahan berlari. Ratusan meter itu bukan jarak yang dekat untuk ditempuh dengan singkat. Rasanya persendian lututnya terbakar karena kurangnya pasokan oksigen di darahnya. “Kumohon…kumohon…,” bibirnya terus saja bergumam kecil. Berharap semua hanya bayangan kelabunya.

Dia tidak tahu menahu urusan Cheonsa, maupun keluarga Han, dengan Jung. Tapi, donghae dapat melihat dengan jelas sorot kebencian ketika Cheonsa menatapnya. Pandangan marah yang menusuk, juga terluka. Meski Donghae sedikit meragukan yang terakhir.

Hatinya semakin was-was ketika Donghae memasuki lobi apartemen. Dia memencet-mencet tobol lift dengan gusar. Memerhatikan angka dan panah merah yang turun dengan perlahan. Dia berlari, mengecek lift yang lain. Dan hasilnya juga sama di lift ketiga. Dengan cepat, Donghae mencapaii pintu di tangga darurat. Memilih menggunakan alternatif.

Nafasnya benar-benar terputus ketika sampai di depan pintu apartemennya. Segera dipencetnya anka kombinasi kunci, dan berlari kecil ke dalam. “Lynn? Kau sudah disini?” Donghae terhenti mendadak saat melihat sang adik di ruang makan.

“Hem, saat Oppa menelphon tadi. Mengapa terlihat gusar?”. Lynn memiringkan kepalanya dan berjalan mendekati kakak sepupunya.

“Dimana Cheonsa?”.

“Kurasa Oenni sedang mandi. Adakah yang tertinggal?”.

“Ani,” Donghae mengusap keningnya. Merasakan peluh dan keringatnya. Dia merilekskan diri dan mengatur nafas. Semuanya baik-baik saja. Mungkin dirinya hanya terlalu khawatir saja semenjak melihat dengan mata kepala sendiri, betapa tragisnya Ny. Han Eunri mengakhiri hidupnya.

“Gomawo telah di sini, Lynn,”. Donghae menepuk pelan lengan Lynn. Dan berjalan ke kamarnya untuk mengecek Cheonsa.

“Cheonsa-ya, kau di dalam?” Donghae mengetuk pintu kamar mandi. Sedikit lega karena masih terdengar gemericik air dari dalam. “Sayang?” kembali diketuk pintu dengan agak keras. “Cheonsa, kau mendengarku? Jawab aku, Sayang?” Donghae mengetuk dengan intensitas lebih keras. Namun, kembali tak ada jawaban.

Donghae merapatkan telinganya pada pintu kamar mandi. Berharap bisa mencuri dengar kehidupan di dalamnya. Namun, yang terdengar tetap saja hanya gemericik air. Donghae menajamkan pendengarannya ketika merasa kejanggalan pada suara jatuhnya air. Jika itu adalah gemericik air shower, maka akan terdengar lebih keras dan riuh. Tapi, air yang jatuh terdengar sedikit pelan dan lembut seperti air yang terluber dari bath up.

“Sayang, kau mendengarku?” Donghae mengeraskan volume suaranya dan kembali menggedor pintu.

“CHEONSA!” teriaknya yang mulai panik. Diputar-putar kenop pintu kamar mandi dengan kasar. “CHEONSA!” untuk kesekian kali Donghae berteriak, tapi tetap tidak ada jawaban.

“Gezz!” rutuk Donghae. Dia mulai menghantamkan sisi lengannya untuk mendobrak pintu kamar mandi. Beberapa kali, namun pintu seakan angkuh bergeming. Kakinya menendang dengan kasar pintu itu beberapa kali.

“Oppa, ada apa?” Lynn menyusul ketika terddengar suara gaduh dari kamar. Dia ikut panik saat melihat kakaknya berusaha mendobrak pintu.

BRAK…

Akhirnya pintu itu pun berhasil juga dibuka dengan paksa. “CHEONSA!” seru Donghae ketika merangsek ke dalam kamar mandi dan menemukan sang istri tergeletak di lantai. Masih dengan piyamanya. Tubuh Cheonsa basah terbanjiri air yang meluber dari bath up. Air yang menggenang di lantai hampir-hampir mencapai lima centi, sehingga praktis sedikit menenggelamkan wajah Cheonsa.

Lynn langsung berlari secepat mungkin menghubungi ambulan, sedangkan Donghae segera membopong tubuh Cheonsa ke luar kamar mandi. Dibaringkan Cheonsa di lantai, bukan karna dia tak merasa kasihan pada dingin lantai yang menyentuh tubuh sang istri, tapi ada hal yang lebih crucial lainnya. Pernapasan.

Donghae membungkukkan badannya, merasakan ada tidaknya nafas Cheonsa dengan menggunakan pipinya sembari matanya mengamati pergerakan dada Cheonsa. Nihil, Cheonsa tidak bernafas. Dia meraba bagian leher atas untuk mengecek denyut nadi. Lemah.

Donghae mengangkat sedikit dagu Cheonsa, mengecek saluran nafas. Tangan kirinya memencet hidung Cheonsa, sedangkan tangan kanannya menahan dagu perempuan itu. Mulutnya menghembuskan udara ke dalam mulut Cheonsa. Badan Donghae menegak, tangannya menelusuri rusuk Cheonsa, meraba taju pedang, dan menandai titik kompresi. Dia mempompa, merangsang denyut jantung Cheonsa. Hingga CPR yang diberikan satu siklus pernafasan, Cheonsa masih belum merespon.

“Kumohon, bangun, Sayang,” rintih Donghae. Tangannya sudah gemetar, dan air mata menganak di pipinya, tapi ini bukan saat dia mendramatisir kesedihannya. “Kumohon…bernafas…bernafas…” mulut Donghae meracau. Andai saja dia bisa memilih, akan lebih senang untuk menjauh dan membiarkan orang lain yang menangani.

Pada siklus ketiga pernafasan, Cheonsa mulai terbatuk. Matanya sedikit terbuka. Namun hanya sebentar sebelum dia menutupnya kembali.

“Cheonsa…sayang…” Donghae menepuk-nepuk pipi Cheonsa-nya. Sedikit lega karna pernafasan sang istri mulai kembali walaupun masih sangat lemah.

“Ambulans segera datang, Oppa,” Lynn berlari masuk untuk memeriksa keadaan kakak iparnya.

***

Jung memejamkan matanya, menikmati alunan music klasik canon D yang menjadi favoritnya. Dia menikmati waktu senggangnya untuk sedikit merayakan kemenangannya. Kemenangan?. Bukankah kematian Han Eunri adalah sesuatu yang sedikit melegakan, paling tidak wanita yang menurutnya adalah perusak hubungannya dengan Jungshik, sudah berakhir. Jung terkekeh kecil saat mengenang masa mereka dulu.

“Kau nampak bahagia?” Woon melangkah dengan santai ke arah Jung. “Kematian bukanlah suatu yang patut dirayakan bukan?” ucap Woon dengan datar.

Jung membuka matanya. “Kenapa tidak, Woon-a?”.

Woon lebih mendekat pada Jung, memutar kursi kebesaran Jung agar perempuan itu menghadapnya. “Lalu, mengapa kau tidak merayakannya dengan lelaki itu?”. Woon memberikan tatapan liciknya, yang membuat Jung tersadar. Bahkan sampai detik ini, lelaki yang dipujanya itu belum menhubunginya. “Menyadarinya, Jung-a?”.

Jung membuang tatapannya ke arah jendela. Hatinya bergemuruh. Benar, kenapa sampai sekarang Jungshik tidak mengabarinya. Bukankah kematian istrinya berarti menyingkirkan satu kerikil lagi?.

“Kau mengingkarinya lagi Jung-a. Lelaki itu mencintai istrinya,”.

“TIDAK!” seru Jung lantang.

“Matamu meragukannya, Jung-a. Hatinya telah berbelok,”.

“Tidak. Jungshik hanya mencintai aku seorang. Dari dulu hingga sekarang,”.

Woon tersenyum meremehkan. “Kau tahu pasti jawabannya, Jung-a,”.

***

“Dari pemaparan agashi, saya yakin jika Ny. Lee Cheonsa pingsan bukan karna sakit kepala atau kelelahannya,”.

Donghae menyimak perkataan Dokter paruh baya tersebut. Sudah hampir lima belas menit dia duduk di posisinya. Menceritakan kronologis bagaimana keadaan sang istri saat dia menemukannya, juga dengan duka yang sedang ditanggung Cheonsa.

“Istri agashi mengalami keracunan gas CO yang merupakan hasil dari pembakaran tak sempurna,”.

Donghae membulatkan matanya dan menajamkan telinganya. “Tapi bagaimana bisa?”.

“Saya menduga gas ini dihasilkan dari pemanas air. Jika pembakarannya tidak sempurna, maka akan menghasilkan karbon monoksida. Ditambah lagi, keadaan kamar mandi yang tertutup menjadikan gas tersebut tidak bersikulasi dengan baik. Agashi tidak akan menyadarinya ketika menolong Ny. Lee tadi, karena memang sifat dari gas ini yang tak berbau juga tak berwarna,”.

Donghae mengurut pelipisnya pelan. “Lalu, bagaimana kondisi istri saya?”.

“Tenanglah, dia dalam masa pemulihan. Sampai saat ini tidak ada kerusakan pada organ vitalnya. Tunggu sampai istri agashi sadar untuk mengetahui kondisi lanjut apakah ada kerusakan lain atau tidak,”.

Donghae memorotkan bahunya. Bersyukur instingnya cukup berguna di keadaan tak terduga tadi. Ini pertama kali bagi dirinya, bisa merasakan ‘insight’. Entah dengan bagaimana, Tuhan membimbing hatinya. Yang jelas dia sungguh lega.

“Saya rasa keberuntungan masih berpihak pada agashi. Air yang menggenangi istri agashi malah menjadi penghambat bagi terhirupnya karbon monoksida. Dan untunglah agashi segera datang dan bertindak cepat memberikan pernafasan buatan. Terlambat sedikit saja, mungkin istri agashi tidak terselamatkan,”.

Donghae tergetar, membayangkan musibah apa yang ditanggungnya andai saja dia menyerah terhadap instingnya. Dia tersenyum singkat sebelum beranjak. “Jeongmal gamsahammida, Dokter,” Donghae membungkukkan badannya sedikit.

***

“Apakah sekarang kau bahagia, Eunri-ya?” wanita itu menatap lekat nisan saudara perempuannya. “Kau memutuskan menyerah saat aku menemukan titik terang,”. Terdengar helaan nafas dari sang wanita.

“Hubungan wanita jalang itu dengan suami kebanggaanmu, persengkokolan mereka, rencana busuk wanita itu, aku mulai mengerti satu persatu. Tapi, satu fakta yang kau bawa,” diremas ujung gaun hitamnya. “Apa yang sebenarnya terjadi di malam terbunuhnya Appa? Kau selalu saja menyimpannya,”.

“Jung,” tawa merendahkan terdengar dari mulut sang wanita. “Wanita laknat itu yang membuatmu menyerah? Apakah karna Jungshik lebih memilihnya daripada kau yang berstatus sebagai istrinya?”.

Tangan sang wanita meraba nisan di depannya dengan gemetar. “Sakit hatimu dan penderitaanmu, aku memang tak yakin bisa membalasnya. Namun kujaminkan hidupku untuk melindungi putra bungsumu,”.

Sang wanita menarik tangannya, kemudian mengambil nafas dalam. “Aku berjanji akan tetap bertahan. Andai kau tahu seperti apa Kevin sekarang, kau akan bangga sudah melahirkannya,”. Sang wanita tersenyum singkat. “Bahagialah di sana, setidaknya ini adalah keputusanmu. Temukan kebahagiaan lain di sisiNya,” sang wanita merapikan coatnya dan mengakhiri kunjungannya. Dia berbalik dan mematung melihat sosok di depannya. “Ke-vin?”.

Kevin hanya mampu memandang tajam bibinya. Tidak ada kata terucap karena semua tanyanya sudah terjawab dari monolog bibinya. Dia berbalik dan berlari semampunya. Membaca kepahitan yang baru saja dicuridengarnya.

“KEVIN!” sang bibi tidak mampu menahannya.

***

PRANG!

Bunyi yang secara kontinu terdengar beberapa kali dari ruangan Daniel. Mata lelaki itu memejam, berdiri tegak untuk sekedar mengatur nafasnya. Tetes demi tetes darah mengalir dari punggung tangannya sebagai hasil karya atas pemecahan beberapa kaca buffetnya. Raut wajahnya dingin, sedingin permulaan winter.

Dan di sudut ruangan, tuan Jang, asisten kepercayaannya, berdiri menatap atasannya dengan memelas. Dia memilih diam dan menyaksikan Daniel mengamuk dan menghancurkan ruang kerjanya. Bukan tanpa alasan, justru dengan begitulah tuan Jang memberikan simpatinya. Membiarkan atasannya tersebut menyalurkan emosinya yang terpendam selama bertahun-tahun agar terlihat lebih hidup. Daniel juga manusia, dan dia membutuhkan media untuk meluapkan amarahnya. Amarah yang selama ini selalu berhasil ditahan dan ditutupinya.

Beberapa kertas laporan yang setengah jam tadi diangsurkan oleh tuan Jang sudah berhamburan di ruang berukuran 5 x 6 meter itu. Tuan Jang ikut memejamkan mata dan menunduk. Serasa berduka juga dengan hasil penyidikan yang ia lakukan.

Pertama, mengenai kematian Ny.Han Eunri. Dipastikan bahwa pisau yang digunakan oleh Ny. Han Eunri untuk bunuh diri merupakan salah satu pisau dapur milik rumah sakit kejiwaan. Dan bukan itu poin pentingnya, beberapa CCTV tidak merekam gerak-gerik Ny. Han yang mendekati areal dapur rumah sakit. Ditambah dengan kondisi psikis wanita itu yang kian menurun, hampir dipastikan makanan setiap harinya diantar langsung ke kamarnya. Dan tentu saja, dibersihkan dari segala alat yang bisa membahayakan, meski itu hanya sebuah garpu. Jadi bagaimana mungkin Ny. Han Eunri mendapatkan pisau?

Kedua, peristiwa yang baru saja menimpa adik perempuannya. Bahkan dengan yakin, Daniel sudah memerintahkan semua fasilitas di apartemen Cheonsa diganti dengan yang baru. Mengingat sifatnya yang perfeksionis, Daniel sendiri melakukan pengecekan pada apartemen tersebut. Jadi, bagaimana mungkin pemanas itu rusak sehingga menghasilkan senyawa karbon monoksida yang hampir merenggut nyawa adiknya.

Ketiga, sampai sekarang, Daniel sendiri kurang yakin dengan aktifitas yang dilakoni Kevin. Dunia malamnya dengan segala resiko yang menyertai. Dia kesulitan untuk mengakses dunia adik lelakinya tersebut. Meski terakhir yang dia dengar, seseorang pernah hampir melukai Kevin di perkelahian antar genk.

Keempat, proses tarik ulur warisan keluarganya. Yang sampai kapan pun, selama dia masih bernafas, tidak akan dibiarkan laki-laki berkedok ayah dan wanita jalangnya itu menguasai harta keluarga Han.

Daniel masih setia di tempatnya. Merasakan emosi yang mengalun di setiap hembusan nafasnya. Memaki diri sendiri yang tak mampu menjaga orang-orang terpentingnya. Meski dia tidak pernah melimpahkan kasihnya secara terang-terangan, tapi, itulah Daniel Han, dia memiliki caranya sendiri untuk menyayangi keluarganya.

Tuan Jang mendekat, merogoh sapu tangan di kantong dalam jasnya. Dia mengambil inisiatif membebat tangan atasannya agar menghentikan pendarahan. “Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa luka ini, Sajangnim,” dia menganggukan kepalanya singkat. Dan tanpa diminta, memunguti semua berkas laporan yang berceceran. Terlalu beresiko jika pelayan yang membersihkannya.

“Gomawo,” ucap Daniel singkat.

***

“Gomawo,”.

“Eish, kau sudah mengatakan itu berkali-kali. Dan aku bosan mendengarnya. Bisakah menggantinya dengan yang lain saja, seperti ‘sarangHAE’,” tekan Donghae pada suku kata terakhir. “Oh, atau ‘I love you’,” Donghae menjentikkan jarinya di depan mukanya.

Cheonsa sedikit memajukan bibir bawahnya untuk membalas gurauan Donghae. “Sejak kapan kau begitu genit tuan Lee?”.

Donghae mengangkat kedua bahunya ringan. “Entahlah mungkin sejak seseorang dengan percaya dirinya memakai lingerie sexy di depanku,”.

“YAK!” Cheonsa mengulurkan tangannya untuk mencubit perut Donghae.

“Aww, that’s hurt,” ringis Donghae dengan amat mendramatisir.

“Jangan melebihkan, karna aku tahu kau mulai pintar berakting,”.

“Lihat…lihat, istriku tidak khawatir padaku. Oh, betapa kasihannya aku,” Donghae kembali membuat wajahnya memelas.

Mimik wajah Cheonsa menjadi sendu. Mendengar kata ‘khawatir’ yang tidak sengaja terucap oleh Donghae.  “Apakah kau begitu khawatir waktu itu hingga memutuskan kembali, Hae-ya?”.

Donghae menghentikan aktinya, lalu menegakkan badannya. Diraihnya tangan Cheonsa dan dibawanya di depan dada. “Aku bahkan merasa takjub bagaimana jantung ini masih tetap bertahan di tempatnya setelah melihatmu tak sadarkan diri,”.

Senyum mencibir terkembang di bibir Cheonsa. “King flirting,”.

“Eish, apa salahnya menggoda istri sendiri? Itu malah di-ha-rus-kan,”.

“Tidak ada yang mengharuskan, tuan Lee. Setidaknya aku tahu, bahwa itu tidak tertulis di UU Negara kita,”.

“Tapi itu tertulis di UU RT Donghae-Cheonsa,” Donghae menyapukan tangannya dengan pelan ke udara. Memberi penekanan pada kata-kata gombalnya.

Cheonsa tersenyum ringan. “Ok, as you wish,” ucapnya dengan mengangkat kedua bahu. Merasakan kehangatan yang selalu tercipta ketika dirinya bersama Donghae. “Gomawoyo,” ucap Cheonsa yang ditanggapi renggutan dari Donghae. “And I love you, Mr. Lee,” lanjut Cheonsa yang membuat Donghae mencerah seketika.

“I love you, too,”. Donghae mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Cheonsa dan memberikan ciuman.

“Sudah malam, pulang dan istirahatlah,”.

“Jadi kau mengusirku?”.

“Bukan begitu, Hae-ya. Kemarin malam kau sudah tidur di sofa, memangnya malam ini kau mau meringkuk di sofa itu lagi?” tunjuk Cheonsa pada sofa di ruang inapnya.

“Setelah seharian setan kecil itu mengambil alih dirimu, sekarang adalah waktu yang tak mungkin kusiakan hanya untuk pulang dan beristirahat di dorm,”.

Cheonsa terkekeh ringan mendengar penuturan Donghae. “Tidakkah berlebihan? Kau mencemburui Kevin?”.

Donghae mengangkat kedua bahunya. “Terserah,” ekspresi masa bodohnya mengesankan sikap anak yang tak mau tahu sekelilingnya ketika sedang asyik bermain dengan buzz lightyear-nya.

Cheonsa hanya mampu menghela nafas panjang. Baiklah, dia juga merindukan pria di sampingnya ini. Cheonsa menggeser tubuhnya menjauh. “Naiklah, kurasa bed ini masih sangat cukup untuk kita berdua,”.

Senyum lebar tersungging di bibir Donghae. Dia melepas sepatunya dan segera beranjak naik ke ranjang pasien. Donghae menyusupkan dirinya dalam selimut, meninggikan satu-satunya bantal, dan merebahkan tubuhnya. Tangannya menarik dengan lembut Cheonsa, membimbingnya untuk ikut merebahkan diri. Membuat perempuan itu berbantal dadanya.

Cheonsa membenahi selang infuse agar tak mengganggunya. Menggeliat pelan untuk membuat tubuhnya nyaman dalam dekapan sang suami. “Apakah pihak promoter menuntut ganti rugi atas mangkirmu, Hae-ya?” tanya Cheonsa sambil memainkan kancing baju Donghae.

“Iya. Tapi manager Hyung memberikan alasan yang bisa diterima oleh mereka, jadi jumlah yang mereka ajukan tidak seberapa. Dan untungnya ketenaran evil magnae itu mampu mem-back up ketidakhadiranku,”.

“Once again, thanks a lot for saving my life,”. Cheonsa menyurungkan dahinya, menekan dada Donghae. Memuaskan penciumannya atas aroma tubuh lelaki terkasihnya. Merasakan hangat tubuh Donghae yang tertular melalui eratnya pelukan mereka. Dan tergetar saat sebuah pertanyaan melintas di kepalanya ‘mampukah dirinya bertahan tanpa aroma dan hangat tubuh lelaki ini?’.

“And?” Donghae mengeratkan rangkulan tangannya di pinggang Cheonsa. Sebelah tangannya mengangkat dagu Cheonsa agar dia bisa melihat wajah bidadarinya tersebut. Senyum jahil terukir di wajah tampannya. “Hmm?”.

Cheonsa menggembungkan pipinya. “And of course I really love you. Satisfied, Mr Lee?” tekan Cheonsa.

Donghae hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bibir yang tertarik sempurna membentuk lengkung senyum. Dia merapatkan tubuhnya dengan Cheonsa meski sudah tak ada jarak yang harus dipapas lagi. Mencium kening, hidung, bibir, dan dagu Cheonsa dengan kecup lembut. Donghae memundurkan kepalanya sejenak, memandang bola mata bulat milik Cheonsa. Dan selanjutnya menjatuhkan bibirnya kembali pada bibir Cheonsa. Melumat dengan pelan. Menemukan rasa cintanya yang menggebu.

***

“Oppa, apakah semua bisa kembali seperti semula?” Cheonsa mengalihkan pandangannya ke luar jendela di kamar inapnya. Mencoba memendam kepedihan yang selalu berusaha menyeruak keluar. “Adakah luka ini bisa terobati?”.

Daniel mengambil sebelah tangan Cheonsa, menggenggamnya dengan kedua tangannya. “Jika kau yakin bisa melakukannya, maka semua akan terlewati,”.

Cheonsa memandangi jemarinya yang terlingkupi dengan sempurna oleh jemari Daniel. Merasakan perubahan sikap Daniel padanya. Aura dingin itu, entah mengapa, saat ini seakan lenyap dari diri Daniel. Tergantikan dengan sikap lembut. Cheonsa terlalu takut mengartikan sikap kakaknya tersebut. Takut menemukan kepedihan terpendam pada diri oppa-nya.

“Demi dirimu sendiri, Kevin, Donghae, dan Hansang Finance. Aku mohon padamu Angel, ambil jalan ini. Bercerailah dengannya,” Daniel meremas jemari Cheonsa. Memberikan keyakinan pada adiknya akan jalan terbaik yang dipilihnya.

“Aku-,” ucapan Cheonsa terpotong. Rasanya ada duri yang menyumbat kerongkongannya. “Aku mencintainya, Oppa,”. Dan pertama kalinya, Cheonsa mengungkapkan perasaannya kepada Daniel. Meloloskan keluh kesahnya.

“Aku tahu…aku tahu…” Daniel mengambil lagi sebelah tangan Cheonsa, menyatukannya, dan sedikit mengguncangkannya. “Maka jadikan alasan itu untuk melindunginya. Pada saatnya nanti, kau akan tahu betapa keputusan ini adalah yang terbaik,”.

Air mata meleleh di pipi Cheonsa. Bahunya terguncang pelan. Sesak ini sungguh membuatnya hampir tak bisa bernafas. Merasakan himpitan realita yang harus ditanggungnya. Dia benar-benar tidak menginginkan kata ‘perpisahan’ itu singgah di keluarga kecilnya. Kenapa Tuhan mencobanya dengan seberat ini?.

“Jikalau pun kau jatuh, aku selalu di sampingmu, Angel,”. Daniel menepuk-nepuk punggung adiknya. Mencoba merasakan kesedihan Cheonsa.

***

“Welcome home,” dengan riang Donghae membukakan pintu kamar mereka. Setelah sedikit berdebat dengan Daniel yang menginginkan Cheonsa pulang ke kediaman keluarga Han untuk sementara, akhirnya Donghae tetap memenangkan agar perempuannya kembali ke apartemen mereka. Toh, sumber masalahnya sudah diperbaiki.

Cheonsa mengitari kamarnya dengan langkah pelan. Seolah sudah lama sekali dia meninggalkannya. Jemarinya menelusuri pinggir meja rias, mengabsen kosmetik dan parfum miliknya juga Donghae. Salah jika dia merindukan kamar ini. Cheonsa hanya berusaha menyimpan semua yang berada di ruangan tersebut dalam memori terdalamnya. Tata letak, aroma, momen-momennya dengan Donghae, juga pernik-perniknya.

“Melamunkan sesuatu, Sayang?” Donghae melingkarkan tangannya di pinggang Cheonsa, kemudian menarik Chonsa hingga punggung perempuan itu menabrak dadanya.

Cheonsa mengepalkan tangannya, berusaha menyembunyikan getarannya. Kepalanya dengan nyaman menyandar di dada Donghae. Menikmati detik-detik waktunya yang tersisa dengan lelaki tersebut. Serileks apa pun dia membuat tubuhnya nyaman dalam dekap Donghae, namun bayang mengerikan itu masih saja terlintas di otaknya.

Donghae mengayunkan dengan pelan tubuhnya dan Cheonsa. Dirapatkan dagunya pada puncak kepala sang istri. Merasakan bahwa perempuan di peluknya adalah miliknya seorang. Puas menikmati momen tersebut, Donghae memutar tubuh Cheonsa untuk menghadapnya. “Aku harus pergi. Istirahatlah, Ok?”. Donghae mengangkat dagu Cheonsa dan memberikan ciumannya di kening Cheonsa.

“Kutunggu untuk makan malam,” jawab Cheonsa dengan senyumnya.

“Tentu. Bye,” Donghae melepaskan pelukannya.

Cheonsa meraih ponselnya ketika sosok Donghae sudah pergi. Jemarinya menswap sebuah contact, menekan call, lalu menempelkan pada telinganya. “Tuan Park, tolong siapkan berkas yang aku minta,”.

Cheonsa mengakhiri perbincangan singkatnya dengan pengacara pribadi keluarga Han. Tangannya melemas, terjatuh di sisi tubuhnya. Tubuhnya melorot ke lantai. Cheonsa menarik lututnya hingga tertekuk di depan dada dan menenggelamkan seluruh wajahnya di antaranya. Menangisi keputusannya. Membayangkan bagaimana hidupnya setelah melepaskan lelaki itu.

Dia mengeraskan tangisnya. Merasa bebas untuk menyesali semua yang menimpanya. Adakah dia akan baik-baik saja tanpa senyum dan kehangatan yang selalu tercipta dengan Donghae?. Jawabannya pasti, TIDAK. Cheonsa meremas dadanya ketika perih itu mengirsnya sedemikian rupa. “Sungguh, aku…tidak…bisa…” rintihnya pada hawa di depannya.

***

“Tuan Jang, atur semua ini dengan cermat. Aku tidak ingin menunda lagi,”.

“Sanjangnim, kita tetap harus memperoleh beberapa bukti lanjut yang menguatkan. Investigasi masih terus saya lakukan,” Tuan Jang mengetikkan catatan penting di ipadnya.

“Benar, semoga perceraian Angel memberikan sedikit surprise bagi mereka dan waktu untuk kita,” Daniel menatap lurus ke luar jendela ruangan kerjanya. Mengamati pembangunan gedung baru Hansang finance yang dalam tahap penyempurnaan.

“Sanjangnim,” ucap singkat tuan Jang sebagai rasa simpatinya. Dia masih setia berdiri mendampingi Daniel yang membelakanginya.

“Akan lebih mudah situasinya jika Angel bercerai. Setidaknya, mengurangi resiko atas keselamatan mereka,”.

Tuan Jang mengangguk untuk membenarkan, meski Daniel tidak melihatnya. “Tentu, Sanjangnim. Saya harap nona Angel bisa menghadapinya,”.

***

“Kau mengetahuinya, Jae?”.

Jae memandang sekilas teman lamanya. “Bukan itu yang harus menjadi pertanyaannya, Kevin-a,”.

Kevin menarik ujung bibirnya, membentuk seringaian. “Sungguh sandiwara yang mengesankan, bukan?” ucapnya dengan getir saat mengetahui keadaan keluarganya yang sebenarnya.

“Kau tak perlu merasa terluka atau tersakiti jika tak menginginkannya. Hanya perlu menutup mata dan hatimu. Membiarkan semua berlalu seperti yang kau lakukan selama ini,” ucap dingin Jae. Dia hanya mencoba memposisikan dirinya sebagai Kevin jika menghadapi masalah pelik seperti itu.

Kevin sedikit terkekeh. “Benar. Aku tak perlu memikirkannya. Memang apa yang bisa kulakukan untuk keluarga menyedihkan seperti ini?” Kevin mengangkat kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Lakukan itu, jika memang hatimu sudah beku,” lanjut Jae singkat.

Kevin menghentikan tawanya. Mengerti maksud Jae dengan menaik-turunkan arti katanya. Menyiratkan sebuah sindiran dan nasihat secara bersamaan. Inilah Jae yang dikenalnya. Tidak pernah menghakimi tindakannya walau sebejat apa pun. Tapi di sisi lain, mencoba membukakan jalan.

“Teruslah seperti ini jika memang kau sudah tak memiliki siapa pun untuk kau kasihi. Karna dengan seperti ini, kau tak perlu terbebani dengan segudang masalah rumit keluargamu. Bebas melakukan apa yang kau suka,” Jae masih mengatakannya dengan amat tenang.

Kevin melengos, merasa tertohok dengan ucapan Jae. Selama ini yang dilakukan hanya berbuat sesuka hati. Mengabaikan orang-orang disekitarnya, karna dia juga merasa terabaikan. Kevin melompat turun dari beton di pinggir sirkuit. “Ayo berlomba,” ajaknya pada Jae sambil membenahi jaketnya.

Jae ikut melompat turun. “Tentu,” sahutnya seraya menepuk lengan atas Kevin. Mengisyaratkan pada sahabatnya untuk tetap kokoh dalam menghadapi masalahnya.

***

Cheonsa menggenggam sendoknya dengan sedikit lebih erat. Dia melirik Donghae yang masih menikmati makan malam mereka. Susah payah Cheonsa menelan nasi yang terasa pahit di lidahnya. Sekali lagi diteguk air putih untuk menggelontorkan makanan yang terlanjur masuk ke mulutnya.

“Kenyang,” Donghae meletakkan sumpit dan mangkuknya. Dia meminum air putih di hadapnya.

Cheonsa tersenyum tipis. Dia hanya bergumam untuk menanggapi Donghae. “Biarkan aku saja yang membereskannya,” serunya ketika melihat Donghae menumpuk piring kotor di meja.

“Tak apa, biar aku bantu,”.

“Tak perlu, Hae-ya,” Cheonsa ikut berdiri dan mengekor Donghae yang sudah berjalan ke arah dapur. “Sudahlah, taruh saja,” dia berusaha merebut spons dari tangan Donghae.

“Hei, kau kan baru saja sembuh. Jadi biarkan aku membantu,” kilah Donghae dengan tetap menyapukan spons di tangannya ke permukaan mangkuk.

“Aku sudah sembuh benar,”.

“Ya, aku tahu. Aku hanya ingin membantu saja,”.

“Tapi-,”

Donghae menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap Cheonsa. Memandangnya dengan tatapan biar-aku-mengerjakannya. Dia mengedikkan kepalanya sebagai tanda ‘Ok’.

Cheonsa pun mengalah. Membiarkan Donghae mencuci perangkat makan mereka. Dia mengambil mangkuk atau gelas yang sudah tersabun dan membilasnya. “Gomawoyo,” Cheonsa masih menunduk dan sibuk dengan pekerjaan membilasnya.

“Ne, cheonman,” senyum Donghae. Dengan cepat dia mencium pipi Cheonsa.

“Ya~” Cheonsa menyikut lengan Donghae karena tangannya yang basah. Membuat lelaki itu hanya terkikik ringan.

“One more time,” kilat Donghae yang dibalas cubitan Cheonsa di punggung tangannya.

***

“Hae-ya, apa kau bahagia dengan pernikahan ini?”.

Donghae memiringkan kepalanya untuk menatap Cheonsa. “Apakah perlu menanyakan sesuatu yang jelas kau sudah tahu jawabannya?”. Dia kembali memencet remote Tv, menganggap angin lalu pertanyaan Cheonsa.

“Dan apakah kau akan tetap bahagia andai kita…bercerai?” tanya Cheonsa dengan ragu.

Seketika Donghae memalingkan wajahnya menghadap Cheonsa. “Kenapa membuat perumpamaan seperti itu?” nada tidak sukanya.

“Jawab saja,”.

“Aku tidak mau menjawabnya,” tegas Donghae. Dia mengabaikan pertanyaan tersebut dan memilih mengalihkan perhatiannya pada program berita yang ditontonnya.

“Kalau begitu berjanjilah kau akan tetap hidup bahagia,” Cheonsa memutar tubuhnya hingga dia bisa menghadap Donghae yang berada di sisinya. “Bisakah?”.

“Dengar, Sayang. Jika kau sedang dalam nuansa melankoli setelah menonton drama, dan menjadikanku sebagai obyektifitasmu atas suatu nilai, maka aku tidak ingin kau membuat perumpamaan dalam keluarga kita,” ucap Donghae dengan sangat enteng seraya mengayun-ayunkan remote.

“Aku tidak suka drama,”.

“Lalu?” pandangannya masih terpaku pada plasma Tv di depannya.

“Aku menanyakannya karna aku merasa perlu,”.

“Sebaliknya, aku merasa pertanyaan itu tidak perlu,” Donghae masih menatap lurus ke arah Tv. Tidak mengindahkan kegelisahan Cheonsa atas pertanyaan seriusnya. Bila saja lelaki ini tahu bahwa detik kehancuran pernikahannya baru saja di ultimatumkan.

Cheonsa menarik nafasnya dalam. Dia menggulum bibirnya untuk menahan air matanya yang akan tumpah. “Kumohon, tatap aku, Hae-ya,”.

Donghae memalingkan wajahnya pada Cheonsa. Memandang wajah memelas wanitanya. Kemudian, dia menekan tombol power di remote untuk mematikan Tv, meletakkan remote tersebut, dan memutar tubuhnya hingga berhadap-hadapan dengan Cheonsa. Dia meraih kedua tangan Cheonsa. “Baiklah. Adakah sesuatu yang terjadi dengan istriku ini?”.

“Tidak, jadi tolong jawab aku,”.

Donghae menghembuskan nafas pasrah atas kekeraskepalaan sang istri. “Harus bagaimana aku menegaskan bahwa aku tidak menyukai pertanyaan itu, pun tidak ingin menjawabnya. Ok?”.

Cheonsa menarik tangannya, dan beranjak pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu. Membuat Donghae mengerutkan keningnya. Kepala Donghae mengikuti gerak Cheonsa. Masih penasaran dengan suasana hati Cheonsa.

Sebuah amplop diletakkan Cheonsa di meja tepat di depan Donghae. “Aku tak bisa menjelaskan apa pun, tapi aku berharap kau mengabulkan keputusanku,”.

Donghae mengambil amplop tersebut dan menarik dokumen di dalamnya. Matanya membulat dan nafasnya sudah terhenti di kerongkongannya. “Apa ini?” hampir-hampir dia tidak bisa bersuara, saking terkejutnya dengan surat di tangannya.

“Kau bisa melihatnya dengan jelas, Hae-ya,”.

Donghae semakin mengerutkan keningnya. “Ini bukan April mop,”.

“Aku tahu,”.

“Lalu apa yang digenggamku ini?” Donghae menaikkan sebelah alisnya dan sedikit mengibaskan dokumen di tangannya.

“Itu pilihanku,”.

Donghae bangkit dari duduknya dan melempar dokumen tersebut ke meja. “Jika kau sedang bercanda, maka ini sangat tidak lucu,” tekannya tajam pada Cheonsa.

“Aku sudah memutuskan untuk mengembalikan semua pada tempat semula,” Cheonsa bertahan. Mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya.

“Memang apa yang harus dikembalikan?” sangkal Donghae.

“Hidupmu, kebebasanmu, perasaanmu,” Cheonsa memandang kosong depannya. Rasa sakitnya menjadikan ia sedikit kebas.

“KUBILANG JANGAN BERCANDA!” teriak Donghae saat menyadari betapa seriusnya nada bicara sang istri.

“Maafkan aku atas kesalahan untuk memilikimu. Inilah jalan terbaik yang bisa kuberikan,”.

“Hentikan, Sa-ya!”.

“Kumohon, akan lebih baik jika kita berpisah,” kembali Cheonsa mengulu air mata yang telah sampai di tenggorokannya. Menguatkan diri agar tak jatuh di depan Donghae.

Donghae menyambar pergelangan sebelah tangan Cheonsa. Mengangkatnya dan sedikit mencengkeramnya. “Apakah kau pikir permainanmu menyenangkan, Ny. Lee?” geramnya. Matanya menghujam menatap dalam mata milik Cheonsa.

“Aku hanya bisa meminta kelonggaran hatimu untuk memaafkan semua kesalahanku yang telah menyeretmu ke dalam hidupku,” Cheonsa balik menatap Donghae. Memohon agar Donghae menghentikan perdebatannya, sehingga dirinya segera terbebas dari jerat kepedihan yang ditahannya.

“Ini gila, Cheonsa-ya,” desis Donghae. “TATAP AKU!” murka Donghae saat Cheonsa melepaskan kontak mata mereka dengan menunduk. “Katakan bahwa semua perkataanmu barusan hanya lelucon. Maka aku akan memaafkanmu,”.

Cheonsa memasok paru-parunya dengan tarikan nafas panjang. Sia-sia sudah dia menguatkan hati karna air mata sudah menggenang di matanya. “Kita kembalikan semua pada tempatnya. Kau dengan Super Junior-mu tanpa kehadiran seorang Han Cheonsa,” tekan Cheonsa pada marganya.

“Kenapa? Aku tidak menemukan kesalahan dalam pernikahan ini. Jadi tak ada alasan bagiku untuk mengabulkan permintaanmu,” Donghae melepas cengkeramannya dengan sedikit kasar. Membuat Cheonsa agak terhuyung ke belakang.

“Kesalahannya adalah pernikahan itu sendiri,” lirih Cheonsa.

“Apa?” Donghae memiringkan kepalanya. Menatap penuh ketidakpercayaan pada sosok di hadapnya. “Aku sudah mengingatkan dari awal bahwa pernikahan bukanlah suatu pertaruhan atau permainan. Dan kau dengan meyakinkan menjanjikannya-,”.

“Aku tahu! Aku salah, Hae-ya,” rintih Cheonsa saat memorinya mengulang semua perkataannya pada Donghae. Bagai ribuan jarum menghujam dadanya ketika lelaki itu mengingatkan.

“Lalu mengapa kau memutuskan jalan ini?”.

“Karena takdir membawa kita ke jalan itu, Hae-ya!”.

“Takdir?” Donghae tersenyum melecehkan atas perkataan Cheonsa. “Kau selalu menjadikan kata itu sebagai kambing hitam,”.

“Oleh karnanya, takdir ternyata memang tak pernah berpihak,” Cheonsa mengembuskan nafasnya. Mencoba menghalau air matanya. “Dan sekarang takdir meminta kita berpisah,”.

“Kalau begitu, aku tidak akan menuruti apa kata takdir,”.

“Hae-ya…”.

“Kau tidak pernah mengatakan dengan jelas alasanmu memintaku mengikat janji pernikahan. Aku pikir, seiring berjalannya waktu, aku akan menemukannya. Tapi lihat sekarang, bahkan sebelum aku mengerti, kau lagi-lagi dengan tanpa alasan memutuskan bercerai. ADILKAH ITU!” emosi sudah menguasai Donghae. Tangannya terkepal sempurna hingga otot-ototnya terlihat menonjol.

“Dan anggaplah semua itu sebagai kesalahanku. Satu-satunya alasan yang bisa kuberikan. Aku akan melepasmu, seperti yang seharusnya,”.

“DIAM!” bentak Donghae untuk kesekian kali. Nafasnya memburu, panas tubuhnya meningkat seiring gejolak emosinya yang naik. “Aku berikan waktu untukmu mengenyahkan surat-surat ini juga dengan keputusan bodoh yang kau ambil,” Donghae berbalik.

“Kumohon, semua akan lebih mudah jika kita berpisah,” sekali lagi dia memohon. Cheonsa meraih tangan Donghae. Menahan lelaki itu untuk tetap menyelesaikan urusan mereka.

Donghae menatap tajam Cheonsa. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya selama ini. Dia menghempaskan dengan kasar tangan Cheonsa yang menggenggamnya. Mengabaikan Cheonsa dan berjalan menjauh dari sang istri untuk meredakan luapan emosinya.

“Hae-ya,” panggil Cheonsa dengan memelas. Segaris air mata sudah meluncur membasahi pipinya.

“Margamu tetap Lee, bukan lagi Han. Dan sampai kapan pun aku tidak berniat mengembalikannya menjadi Han,” tanpa menoleh Donghae memberikan jawabannya. Mempertegas penolakannya atas tuntutan cerai Cheonsa.

Cheonsa mengangkat tangannya untuk membekap mulutnya sendiri yang mulai terisak. Andai saja dia tidak memulai semua ini, maka tentu saja tak ada pihak yang tersakiti seperti sekarang. Dirinya terus merutuki kesalahan yang telah dibuatnya. Kesalahan besar yang membuat dirinya juga orang yang paling dikasihinya terluka.

Cheonsa menghempaskan tubuhnya ke sofa tatkala kakinya terasa tak kuat melawan gravitasi. Kembali mengeluarkan air mata sepuasnya. Bahunya terguncang dan nafasnya terus tersengal. Dipijit kepalanya saat rasa pedihnya membuat pening. Kepalanya menoleh ke samping saat telephon rumahnya berdering. Dalam beberapa saat, Cheonsa hanya menatap lekat telephon itu. Membiarkannya mengisi suara lain di ruangan itu selain suara tangisnya.

Dan akhirnya telephon itu berhenti berdering. Hanya sementara, sebab setelahnya benda itu kembali berdering nyaring. Setelah deringan kelima, Cheonsa mengusap pipinya dan meraih telephon tersebut. Tak tahan dengan panggilan tersebut. “Yeoboseyo,”.

“…”

“Ne, aku sendiri,”.

“…”

“Mwo?”

Langit-langit apartemen terlihat berputar begitu sang penelphon menyampaikan pesannya. Cheonsa memegangi dadanya yang kesulitan memperoleh oksigen. “Andwe, Kevin-a,” ucapnya. Dengan tertatih dia berdiri. Tangannya dengan cepat bertumpu pada pinggir meja untuk menyangga tubuhnya yang limbung. Cheonsa tetap menyeret langkahnya saat tubuhnya benar-benar merasa kaku. Dia meraih kunci mobil dan meneruskan langkahnya. Otaknya terus memutar suara sang penelpon untuk memberikan kekuatan pada kakinya yang melemas.

‘Kevin mengalami kecelakaan fatal di sirkuit’.

TBC*

 

Note: Miaaannn…(_ _) updatenya lama. Please always tell me what’s on your heart after read this. Aku tunggu feedback dan review kalian, cingu. Gamsahammida, untuk reviewer setiaku yang sudah mengikuti fanfic ini dari awal. Dan, welcome to my new ‘cingu’ in this ff. I need your review too. Bye and Bow.

Oh ya, buat cingudeul yang add di fb, gomawoyo. Maaf, jika jarang buka fb. Dan untuk yang ini, aku bener-bener minta maaf. Aku agak (What can i say?) sedikit tidak nyaman dengan nama alay yang panjang banget. Bukan phobia, hanya saja sedikit tidak berkenaan saja. Jadi, maaf banget kalau kalian dengan nama-nama tersebut belum aku approve. Next time, aku coba cek lagi ya. Once more, really sorry if this words hurts you.

184 thoughts on “Please, Hold On [Part 6]

  1. HalcaliGaemKyu says:

    Wwiiiiii menegangkan!
    Menguras emosi!
    Keren bgt ff nya…
    Part ini seru bgt! Dr kevin yg sdh tau ttg bgmn ayahnya. Cheonsa yg meminta cerai utk kebaikan bersama. Dan skrg..kevin kecelakaan.
    Aku lanjut ya..
    Aku bener2 penasaran kekeke

  2. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Udah gak bisa ngomong apa-apa lagi, so complicated. Benar-benar konfliknya bikin gregetan, cemas, takut. Pokoknya emosi campur aduk. Jelas Dong Hae marah banget, sudah dipaksa nikah, dan sekarang juga harus dipaksa cerai. Rumit banget si nenek sihir Jung itu.

  3. Guixianra says:

    Ya Ampun, cara kerja para anak buah nya Jung bersih banget… Untung Donghae cepet kembali ke Apartment nya, jadi Cheonsa bisa selamat. Sedih banget. Serius, sedih banget karena Cheonsa bener-bener minta Donghae untuk segera bercerai darinya, mana mau Donghae bercerai, dia udah sangat mencintai Cheonsa, dan gak rela harus pisah. HUWAAAAA >,< MWOYA ? Kevin kecelakaan ? Ini pasti ulah Nenek Sihir Jung.

  4. oke oke it’s complicated . very complicated =/ . setelah pembunuhan Cheonsa , Kevin mengetahui semuanya . udah gitu Daniel makin gencar aja untuk menyuruh Cheonsa bercerai . gak bisa bayangin gimana jika aku jadi Cheonsa , tapi kenapa saat baca ini aku bisa ngerasain .
    lalu yng bikin terharu banget saat Donghae negasin “margamu tetap Lee bukan lagi Han . Dan sampai kapanpun aku tidak berniat mengembalikannya menjadi Han .” , kentara banget disitu Donghae udah bener-bener sayang sama Cheonsa :^)
    huuee T__T Kevin .. kenapa masalah kini menimpamu ??

  5. Ingga says:

    Knp sih hrs cerai? Aaahhhh bnr2 dehhh.. Knp hrs mkin rumit? Sp lg yg hrs jd korbanny?? Smoga kevin gpp. Smoga hae & cheonsa g jd cerai.

  6. serba salah yah. udah deh itu jung nya singkiriiiiin. ngeselin banget.
    kevin nya lagi pake kecelakaan. kan makin kesian cheonsanya ㅠ.ㅠ
    Donghae ga boleh nyerah yaaah. tetep pertahanin Cheonsa. dukung dia. jadi sandaran buat dia.Dx

  7. dolorosa1313 says:

    ini sumpah gue pengen mati bacanyaa TT ini apa lagi coba x___x blum selesai satu masalah ehh dtg lgi yg lain omgggg TT ga bsa bayangin klo gue yg jdi cheonsa u___u itu appa cheonsa kemana cihhh jgan smpe mereka cerai dong yahhhhh;;; ya ampunnnn ga bsa bayangin ckckckk mengubek ubek emosi

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s