The Obedient Bride [Rule 1]


The Obedient Bride [Rule 1]

Author              : Arsvio

Cast                 : Choi Siwon, Shim Hwa Young

Support cast     : Cho Kyuhyun, Park Minna

Rate                 : PG-16

Ekspresi kaku milik wanita bergaun putih ini tak lantas melunturkan kecantikannya. Mata bulat dengan iris bewarna hazel miliknya bertambah menawan dengan shadow bewarna merah muda. Walaupun mata tersebut menyorot tajam, tetap tidak mengurangi keindahannya. Bibir tipisnya yang diwarnai natural tidak melengkungkan senyum. Kulit putih porselennya memadu apik dengan gaun yang dikenakannya, namun mengontras dengan mawar merah di tangannya. Hidungnya yang mungil mancung bak Barbie mengembuskan irama napas panjang untuk menenangkan diri. Wanita ini bernama Shim Hwa Young. Melaksanakan pernikahan dengan pria pilihan kedua orang tuanya tak lantas membuatnya gentar. Bukannya dia tidak memiliki pertimbangan terhadap pria lain, tapi karena dia ingin melakukan yang terbaik bagi keluarganya.

Hwa Young masih ingat tiga bulan lalu saat mereka mempertemukannya dengan pria yang akan menjadi calon suaminya. Masih sangat lekat di benaknya bagaimana dia berusaha menyembunyikan kegugupannya dalam lengkung senyum. Hal sama yang dia temukan pada pria tersebut. Meskipun begitu, dia bisa menilai dirinya lebih baik dalam menyembunyikan gejolak batinnya dibanding pria itu.

Pria itu memiliki tubuh porposional dengan tinggi yang Hwa Young taksir lebih dari 180 centimeter. Saat Hwa Young berdiri bersisian dengan pria itu, puncak kepalanya hanya mencapai bawah telinga sang pria padahal dirinya mengenakan high heel 12 centi; dia sendiri memiliki tinggi 160 centi. Hwa Young sendiri menjatuhkan nilai mendekati sempurna untuk wajah pria yang dijodohkan dengannya. Alis mendatar yang tebal, mata dengan double eyelid[1] yang sangat jarang dimiliki oleh keturunan korea, hidung lurus meninggi, dan bibir penuh. Bahkan Hwa Young sempat menikmati bonus ketampanan pria itu saat dia tersenyum, kaku, hingga menunjukkan lesung pipit di kedua pipi. Rambut hitam pria itu yang dipotong cepak menunjukkan dahinya yang datar dan elok. Walaupun kulit pria itu lebih gelap darinya, namun kecoklatan kulit pria itu malah menambah nilai plus untuk maskulinitasnya.

Jangan menganggap perjodohan suatu hal yang tidak wajar karena bagi mereka, perjodohan adalah cara untuk mengawetkan generasi dan juga…kejayaan. Para chaebol[2] tentunya mengharapkan berbesan dengan kalangan yang mereka anggap pantas dan hari ini, wanita bergaun putih itu sedang menunggu salah satu kewajaran yang mereka atur.

“Bantu dia menanggalkan gaunnya.”

Hwa Young yang sedang menatap keluar jendela menoleh saat suara sang oppa[3] menggema di kamarnya. “Tidak perlu,” dia menolak dengan gerakan tangannya saat beberapa pelayan mendekat. “Tinggalkan kami,” perintahnya yang segera dipatuhi oleh para pelayan.

“Sudah tertunda hampir satu jam, Youngie. Dia tak akan datang.”

Hwa Young hanya tersenyum tipis. “Masih ada waktu, Oppa. Kita akan menunggunya.”

Junghyun, sang oppa, berkacak pinggang. “Kenapa Youngie? Kau bahkan tidak perlu menerima pernikahan seperti ini.”

“Hyundai Group terlalu sayang untuk dilewatkan.”

“Demi apa pun, Youngie. Ada atau tidaknya kerja sama dengan Hyundai, Shawn Corp masih tetap akan berdiri.”

“Nilai saham kita mengalami penurunan akhir-akhir ini. Walaupun saat ini tidak menunjukkan imbas yang berarti, tapi keadaan pasar yang lesu akan membuat investor semakin menjauh.”

Junghyun mengusap wajahnya dengan gusar. “Pernahkah kau berpikir untuk mengenyampingkan masalah bisnis dalam kehidupan pribadimu?”

Hwa Young mengalihkan tatapannya kembali ke luar jendela. Dia mengatur nafas serileks mungkin dan merenungkan pertanyaan sang kakak. “Karena aku juga tidak bisa memilih di keluarga seperti apa aku dilahirkan.”

“Aku akan membatalkannya!”

Oppa!” teriak tegas Hwa Young untuk menghentikan langkah Junghyun.

“Jika kau tidak bisa menentang pernikahan ini, maka aku yang akan melakukannya untukmu!” gertak Junghyun. Seorang kakak mana yang rela kebahagiaan adiknya dijual demi kelangsungan jalinan bisnis.

“Apakah kau ingin menghancurkan Shawn Corps?”

“Jangan menghiperboliskan keadaan, Youngie!”

“Shawn Corps membutuhkan kerja sama ini, Oppa. Terlebih lagi, jika kau membatalkannya maka keluarga kita juga keluarga Choi akan menanggung malu.”

“Berhentilah berpikir tentang profit dan nama besar!” sentak Junghyun dengan tak sabar. Otot-otot keningnya yang menonjol menunjukkan seberapa besar dia mencoba mengontrol emosinya.

“Aku tidak bisa karena kenyataannya, aku tumbuh dengan dan dalam lingkup dua hal itu.” Hwa Young ingin meyakinkan bahwa dia bisa melewati tahapan ini.

“Shim Hwa Young!”

“Cukup katakan jika yang kulakukan benar, Oppa,” minta Hwa Young sembari melengos untuk menatap pemandangan luar.

Junghyun mengurut pelipisnya, kemudian mendesah pasrah. Dia sadar benar resiko lahir dan tumbuh di keluarga kalangan atas. Perjodohan demi merge[4] atau kerja sama dua perusahaan adalah suatu hal yang lumrah. Dirinya sudah mengalami sendiri dan kini dia hanya tidak ingin hal tersebut menimpa adik perempuan satu-satunya. Berjalan mendekat menghampiri adiknya, Junghyun mengusap dengan lembut lengan atas Hwa Young. “Beauty and prosperity.” Mengucapkan makna dari nama adiknya, Junghyun meresapi kebenaran dalam artinya. “You deserve to have that name.”

“Tuan muda, mempelai pria sudah datang,” asisten Junghyun secara tiba-tiba menyela untuk menginformasikan hal yang sedari tadi membuat gusar.

***

Hwa Young memantapkan langkahnya untuk mencapai altar dimana calon suaminya menunggu. Dia dapat melihat sosok tampan dalam balutan tuksedo putih membalas tatapannya. Semakin dicengkeram buket mawar merah di tangan kirinya dan semakin dieratkan lingkaran tangan kanannya di lengan sang kakak ketika detak jantungnya bertalu.

Menahan nafas barang sejenak, Hwa Young dapat merasakan suhu tangan calon suaminya yang dingin merambat melalui sarung tangannya yang tipis ketika Junghyun menyerahkannya. Dia berani bertaruh bahwa suhu tangannya tiada beda. Menundukkan kepalanya sedikit, Hwa Young kemudian memejamkan mata sekadar untuk meyakinkan keputusannya.

“Demi nama Allah Bapa, Allah anak, dan Allah roh kudus. Saya, Choi Siwon menerima engkau Shim Hwa Young menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti kristus mengasihi jemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setia padamu.”

Hwa Young merekam dan memasukkan dalam memori terdalam segala urutan sakramen pernikahannya. Meskipun dia tidak menginginkan pernikahan tersebut, tapi berada di altar ini merupakan keputusannya.

“Demi nama Allah Bapa, Allah anak, dan Allah roh kudus. Saya, Shim Hwa Young menerima engkau Choi Siwon menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti kristus mengasihi jemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setia padamu.”

Siwon menahan kepalanya tetap tegak saat mendengar janji suci terucap dari mulut wanita di sampingnya. Gemuruh di dadanya tak jua mereda semenjak awal sang wanita memasuki gereja. Bukan karena rasa bahagia yang membuncah, melainkan karena penolakannya.

***

“Perjanjian seperti apa yang akan kita tempatkan di nomor teratas, Nona Shim?” ucap keras Siwon yang duduk, dengan menyilangkan kakinya, di tepi ranjang. Matanya memberikan tatapan angkuh pada wanita yang baru saja keluar dari kamar mandinya.

Hwa Young menghela napas panjang. “Kau bisa menungguku di bawah, Tuan Choi.” Tanpa memedulikan Siwon, dia melenggang membuka pintu closet[5] untuk mencari piyama. Semenjak memasuki kamar Siwon, dulunya, dia sudah menemukan perlengkapan make up dan parfumnya berderet rapi di meja rias. Menganalogikan bahwa baju-bajunya juga sudah dipindahkan, Hwa Young dengan yakin menuju closet. “Jika tidak berkeberatan, silakan keluar karena aku ingin berganti baju,” ucap datar Hwa Young yang sama sekali tidak menolehkan kepalanya pada Siwon.

Tch,” Siwon berdecak, kemudian menuruti permintaan atau lebih tepatnya perintah Hwa Young.

***

Hwa Young menguatkan hatinya ketika tangannya berada di kenop pintu ruang kerja Siwon. Baru beberapa jam mereka bersama, lelaki tersebut sudah menunjukkan sikap permusuhan terhadapnya. Memutar kenop pintu, Hwa Young kemudian masuk dan duduk di sofa tanpa diminta.

Menghampiri Hwa Young, Siwon kemudian meletakkan secarik kertas di meja. “Baca dengan teliti.” Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa yang bersikuan dengan tempat Hwa Young duduk.

“Apa ini?” Hwa Young melirik pada kertas yang dianjurkan Siwon.

“Perjanjian pernikahan kita,” jawab singkat Siwon. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kelelahan akibat pesta pernikahan siang tadi terbaca dengan kentara di wajahnya.

Bukannya membaca barisan kalimat dalam kertas yang diserahkan Siwon, Hwa Young malah bersedekap sembari tersenyum sinis. “Kau pikir kita sedang melakukan lakon drama?” sindirnya terhadap kelakuan Siwon. “Jangan bertindak kekanankan, Siwon-ssi. Aku bukan Han Jieun[6] yang dengan polosnya mau menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Lee Yong Jae[7].”

“Kenapa? Bukankah kau juga tidak menginginkan terikat selamanya denganku, Nona Shim?” Siwon mengangkat kepalanya, menatap Hwa Young. Dia cukup terkejut dengan penolakan Hwa Young.

Hwa Young mendengus pendek. Bahkan ketika akta menikah mereka sudah keluar dan pernikahan mereka sudah didaftarkan, nyatanya pria di depannya kini masih enggan menyebut dirinyinya dengan marga ‘Choi’. “Jika kau mengkhawatirkan akan terikat denganku selamanya, maka kutegaskan bahwa aku cukup tahu diri mengenai hal tersebut.”

Siwon menarik ujung bibirnya. “Lalu mengapa kau menolak perjanjian ini?” Mengerutkan keningnya, Siwon menantang Hwa Young dengan pertanyaannya.

“Perlukah kita melakukan hal konyol ini?” Hwa Young memandang Siwon dengan sengit. “Aku tidak ingin mengatakan bahwa pernikahan kita adalah suatu kesalahan karena pada hakikatnya setiap pernihakan adalah wadah suci. Kitalah yang nantinya mengisi wadah tersebut.”

Siwon memiringkan kepalanya untuk mencerna perkataan dari Hwa Young. Dia masih belum menangkap alasan wanita tersebut menampik perjanjian yang dia usulkan. Semakin dia berpikir, semakin jelas kerutan yang terbentuk di antara kedua alisnya.

“Jika kau menganggap pernikahan ini adalah suatu kesalahan, maka jangan tambahkan kebodohan lagi di dalamnya.” Hwa Young bukan gadis naïf yang akan menerima perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. Dia cukup mengerti untuk mempertahankan harga dirinya. “Selain tidak adanya kontak fisik, aku tidak menuntut apa pun. Kapan pun kau mengajukan gugatan cerai, aku bisa menyetujuinya. Jangan bersikap terlalu egois dengan mengasumsikan bahwa kau satu-satunya yang menderita dengan pernikahan ini, pikirkan juga keluarga kita.”

Mengepalkan tangannya, Siwon cukup dibuat geram dengan tanggapan Hwa Young. Dia seolah ditampar dua kali melalui sikap dan perkataan wanita tersebut; pertama, sikap penolakan Hwa Young yang merendahkan martabatnya dan kedua, perkataan Hwa Young yang jelas menyinggungnya.

Hwa Young menumpukan kedua tangannya di paha, kemudian berdiri. Dia memutar tubuhnya untuk melangkah pergi, namun secara tiba-tiba menahan langkahnya ketika mengingat hal lain untuk disampaikan. “Kau tidak perlu menunjukkan sikap antipatimu terhadapku secara terang-terangan. Aku tidak menganggapmu musuh, jadi kuharap demikian juga dirimu. Akan kuhormati segala privasimu dan aku minta kau melakukan hal serupa.” Memacu langkah pergi, Hwa Young menahan emosinya meledak.

Sepeninggalan Hwa Young, Siwon memejamkan matanya untuk menelaah semua perkataan wanita tersebut. Melintangkan telunjuk dan ibu jari di depan keningnya, Siwon memijit pelipis. Menangkap kebenaran dalam setiap ucapan Hwa Young, Siwon menyesali tindakan gegabahnya.

Berinteraksi dengan Hwa Young selama tiga bulan belakangan seharusnya bisa membuatnya menarik penilaian bahwa wanita yang dinikahinya berbeda dengan wanita yang selama ini di sampingnya. Akan tetapi ketika pikirannya dibutakan oleh amarah, dia tidak bisa menggunakan logikanya dengan benar. “God damn it, Choi Siwon!” Dia mengutuki dirinya sendiri.

***

Siwon mengarahkan pandangannya pada lengannya yang sedikit terbuka untuk memberikan isyarat agar perempuan di sebelahnya menyelipkan tangannya. “Sempurnakan sandiwara kita, Nona Shim,” bisik Siwon dengan mencondongkan badannya ke samping.

Here they are!” seru bangga pria paruh baya dengan mengangkat kedua tangannya. Perkataannya serta merta menarik semua orang di sana untuk menoleh pada pasangan baru di keluarga mereka.

“Maaf karena kami terlambat,” Siwon membungkukan badannya sedikit untuk memberi hormat.

“Pengantin baru tentu saja ingin menghabiskan waktu berdua, bukan?” Tuan Choi terkekeh untuk menggoda putranya. “Lekaslah berikan cucu pada appa[8]-mu yang kian menua ini,” sambung tuan Choi sambil mengarahkan sendok ke mulutnya.

Siwon dan Hwa Young menghentikan kunyahan mereka sejenak. Tangan Siwon mengambil air putih di sisi kanannya dan meneguknya untuk menggelontorkan makanan yang, tiba-tiba, terasa hambar di mulut. “Untuk masalah satu itu, kami bersepakat menundanya, Appa.”

Wae[9]?” jawab tuan Choi cepat. Ucapan tanya singkatnya juga mewakili pertanyaan dari para anggota keluarga Choi yang ikut duduk bersama di meja makan.

“Shawn Corp masih sangat membutuhkan Hwa Young. Lagipula, dia sedang sibuk-sibuknya untuk meniti karir,” jawab Siwon diplomatis, sedangkan Hwa Young yang duduk di sisinya tersenyum miris karena ini pertama kalinya dia mendengar Siwon menyebut namanya setelah pemberkatan. Kebohongan pertama yang akan disusul kebohongan-kebohongan lain untuk menutupinya.

Hish, itu hanya alasan buatanmu saja,” sanggah tuan Choi tak terima. “Hyundai juga butuh penerus dan kau bertanggung jawab atas itu.”

“Benar, tapi bukan berarti harus terburu, bukan? Masih ada aku sebagai generasi berikutnya.”

“Lalu memangnya kau akan memberikanku cucu saat aku tak mampu bangun dari tempat tidur atau bahkan ketika aku mati?” tuan Choi sedikit meninggikan suaranya. Dia tidak marah, hanya sedikit kesal karena putranya menolak permintaanya.

Appa, jangan berlebihan.”

“Kau yang berlebihan. Jangan jadikan Shawn Corp sebagai kambing hitam.”

Yeobo[10],” Ny. Choi meletakkan sendoknya dan mengelus lengan tuan Choi yang duduk di depan-sampingnya.

“Tentu saja Abeoji. Kami hanya akan menundanya, bukan? Seperti kata Siwon,“ Hwa Young melirik kilas lelaki di sampingnya, “Oppa, Shawn Corp masih berusaha menstabilkan diri. Setelahnya, tentu hal tadi merupakan salah satu prinsip dasar membangun rumah tangga.”

Siwon melirik ke arah Hwa Young dengan pandangan terheran. Sapaan oppa Hwa Young terhadapnya, terdengar janggal di telinga. Walaupun dia tidak menyukai pernikahannya, Siwon cukup lega bahwa wanita yang dinikahinya adalah Hwa Young. Dari bagian terburuk, dia masih bisa bersyukur wanita tersebut lihai untuk menenangkan ketegangan antaranya dan sang ayah.

Tuan Choi tersenyum puas ke arah Hwa Young. “Kau benar-benar mendapatkan istri yang tepat,” telunjuknya menggantung di udara, mengarah pada Hwa Young.

Ne, Appa.” Siwon menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum kecut.

***

Hwa Young mengetuk-ngetukkan jemarinya secara konstan di pangkal lengan atas ketika kedua tangannya saling bersilangan di depan perut. Sudah lima belas menit dia berdiri di depan pintu kedatangan manca negara untuk mengunggu seseorang.

Hei, apa kau tidak ingin memberikan pelukan pada teman tertampanmu ini?” seorang pria membuka lebar tangannya. Bibirnya membentuk seringai yang malah mempertegas kharisma untuk melelehkan setiap gadis, khususnya.

Mau tak mau, bibir Hwa Young ikut tertarik keluar membentuk senyum ketika matanya menangkap sosok yang ditunggu. “Oh baiklah tuan Cho Kyuhyun, teman tertampanku,” balas Hwa Young dengan penekanan di kata ‘teman tertampanku’. “Welcome back, Kyunie,” dia menepukkan tangannya di punggung Kyuhyun.

Cish, aku benar-benar tak bisa mempercayai jika kau sudah menikah. Mana suamimu?” Kyuhyun mendorong troli luggage-nya. Dia berjalan lambat untuk mengimbangi langkah Hwa Young yang tidak selebar dirinya.

I dunno,” jawab Hwa Young sekenanya.

Kyuhyun membaca mimik wajah Hwa Young, kemudian tersenyum kecil. “Tanpa kau ceritakan pun, aku sudah tahu kalau pernikahan kalian hanya karena kerja sama Shawn Corp,” ucapnya enteng.

Hwa Young memandang Kyuhyun. Bibirnya terbuka kecil dan dahinya berkerut sebagai tanda bahwa dia mengagumi kepekaan Kyuhyun.

“Jangan tatap aku seperti itu. IQ-ku cukup tinggi jika hanya digunakan untuk menganalisis situasimu,” Kyuhyun mengetukkan telunjuknya di pelipis. Dua tahun lalu dirinya ditugaskan untuk memimpin cabang perusahaan keluarganya di Singapur. Selama itu, dirinya tidak pernah hilang kontak dengan Hwa Young, bahkan sesekali mereka menghabiskan liburan bersama. “Apa alasanmu menerima pernikahan ini? Pasti bukan karena fisiknya karena aku yakin diriku lebih tampan dari suamimu itu.”

Hwa Young menutup mulutnya saat terkekeh mendengar ucapan Kyuhyun. “Percaya diri sekali kau. Dia jauh lebih tampan darimu, jika kau ingin tahu penilaianku,” dia menghadiahi tinju kecilnya di lengan Kyuhyun.

“Aku tak percaya.”

Hwa Young menghentikan langkahnya, kemudian memutar tubuh Kyuhyun menghadapnya. “Lihat-lihat, beginikah yang kau sebut tampan?” dia mencubit pipi Kyuhyun agak keras.

Aww!” pekik Kyuhyun kemudian mengusap pipinya. Mencebikkan bibir dan memasang ekspresi cemberut, dia berusaha menarik perhatian Hwa Young.

This is fat. This is too,” Hwa Young berpindah mencubiti perut Kyuhyun. “Hey, kau benar-benar bertambah gemuk setelah pertemuan terakhir kita saat liburan musim panas kemarin.”

Hey, my lady. I’m still sexy even if there are some fats.” Memuji diri atas penampilan fisiknya, Kyuhyun berkacak pinggang. Mata berbentuk almond dengan iris coklat tua, hidung meninggi tanpa cacat, bibir penuh bewarna merah muda pucat, rambut hitam kecoklatan yang bergelombang terlebih di poninya, ditambah postur porposional dengan tinggi tubuhnya yang mencapai 1,8 meter. Meskipun terdapat beberapa bekas jerawat yang sudah memudar di pipinya, tapi Kyuhyun memiliki garis mata-hidung-bibir yang elok, yang sangat cukup untuk mengatakannya rupawan. Kyuhyun memiliki kulit putih pucat, bahkan lebih pucat dari Hwa Young sendiri. Memang benar bahwa Kyuhyun tidak memiliki garis rahang setegas milik Siwon, namun hal tersebut malah membuat Kyuhyun terlihat manis. Yah, pria ini masih terlihat tampan meski pipinya yang  memang menjadi sedikit lebih berisi.

Over confident,” Hwa Young menyilangkan tangannya di depan dada. “Yak! Cho Kyuhyun!” teriaknya setelah Kyuhyun menjawab cemoohannya dengan ciuman kilat di pipi.

“Sudahlah, ayo,” Kyuhyun mengedikkan kepalanya. “Eomma[11] akan mengomel jika putra kesayangannya ini tidak segera tiba.”

“Jangan menciumku seenak jidat,” gerutu Hwa Young sambil menyamakan langkahnya dengan Kyuhyun untuk mengerjar ketertinggalannya.

“Tidak janji.”

Ya!”

***

“Kenapa memutuskan seperti ini, Youngie?” Kyuhyun menghentakkan dengan pelan kakinya di tanah, cukup membuat ayunan mereka bergerak.

Hwa Young membuka matanya yang tadi memejam. Dia menyukai ketenangan halaman belakang kediaman keluarga Cho yang luas membentang. “Kau mengetahui sendiri jika tiga bulan terakhir beberapa saham perusahaan kelas atas mengalami penurunan.”

“Benar, tapi itu hanya terjadi di bursa US; Nasdaq, NYSE, dan Dow Jones[12]. Tidak akan berpengaruh pada perekonomian kita, Youngie.”

“Ya, secara makro memang tidak, Kyunie. Tapi, beberapa pekan belakangan, appa memutuskan menjalin kerja sama dengan perusahaan luar. Aku khawatir jika dampaknya juga akan merembet terlalu jauh pada Shawn Corp. Oleh karenanya aku menerima pernikahan ini. Kurasa jalinan kerja sama dengan Hyundai bisa menguatkan Shawn Corp.”

“Kau tidak berubah, Youngie,” Kyuhyun menyelipkan anak-anak rambut Hwa Young yang berantakan karena tertiup angin sore. “Mengapa kau tak pernah mellibatkanku dalam pengambilan keputusanmu? Kau selalu saja bertahan dengan analisismu dan memutuskannya sendiri,” terdengar nada kecewa dari mulut Kyuhyun.

“Kyunie…” Hwa Young menoleh ke arah Kyuhyun. Memberikan tatapan memohon, Hwa Young tidak ingin lelaki di sampingnya memulai hal yang dia hindari. “Bukankah kita sudah sepakat?”

“Aku tidak pernah menyetujuinya. Itu hanya kesepakatanmu sepihak.”

“Kyu, ayolah. Jangan rusak ketenangan ini. Aku ingin bersantai setelah seminggu ini dipusingkan dengan masalah di perusahaan,” melas Hwa Young. “Please,” serunya lagi saat melihat Kyuhyuh yang hanya diam.

“Tentu dan aku juga tetap dengan keputusanku dulu.”

Hei! Kau tidak sedang bercanda untuk mengejar wanita yang sudah terikat kan?”

“Apakah aku peduli? Karena kenyataannya, pernikahanmu hanya sebuah kerja sama. Suatu saat kerja sama itu akan berakhir.”

“Kyunie, jebal[13],” Hwa Young menarik ujung kaos Kyuhyun. “Hmm?” dia memiringan kepalanya untuk menatap ekspresi Kyuhyun lebih jelas.

Kyuhyun mengangkat bahunya cuek. Beberapa detik kemudian, dia menolehkan pandangannya ke arah Hwa Young yang masih menatapnya lekat. Tangannya terangkat dan membimbing kepala Hwa Young ke pundaknya. Kyuhyun menghela napas dan kembali menghentakkan kakinya di tanah. Dia ikut terdiam bersama Hwa Young yang juga diam ketika bersandar di pundaknya.

***

“Nona Shim,“ sekretaris pribadi Hwa Young nampak menutup mulutnya ketika salah mengucapkan panggilan, “em, Ny. Choi.”

Hwa Young mengulas senyum tipis, “Panggil aku seperti biasa saja, Hyuna-ssi.”

“Ah, saya mengerti.” Hyuna menganggukkan kepalanya singkat. Dia men-swap tabletnya untuk mengecek jadwal Hwa Young. “Nona, Anda mempunyai meeting dengan pengurus Aphrodite siang ini pukul 02.00 p.m. Ini adalah agendanya.”

Hwa Young memundurkan punggungnya sedikit. Teringat jadwal tersebut, dia menyingkirkan laptopnya dan meraih file yang diangsurkan sekretarisnya, kemudian membacanya. Dahinya mengernyit membaca lampiran agenda tersebut. “Kenapa baru sekarang mereka melaporkan 5 kasus baru ini?”

“Dilihat dari tanggal masuknya pelaporan dan dibuatnya berita acara, kasus tersebut baru terjadi dalam minggu ini, Nona.”

Hwa Young menelusuri dengan lebih intens laporan di tangannya. “Tolong mintakan semua copy data tentang kelima kasus ini, Hyuna-ssi. Juga laporan kasus Ny. Lee Sang Hee bulan lalu.”

“Maaf karena harus mengatakan ini, Nona.” Wajah Hyuna tampak berduka. “Tadi pagi, Aphrodite melaporkan bahwa Ny. Lee Sang Hee ditemukan sudah tak bernyawa di rumah kontrakan lamanya.”

Mwo[14]?!” Hwa Young mengepalkan tangannya. Ada gurat-gurat kecewa di wajah manisnya. “Berikan penyidik dan pengacara terbaik Aphrodite.”

“Tentu, Nona. Saya sudah menjalankan prosedur yang ada.”

Hwa Young menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya memandang nanar logo Aphrodite yang tercetak di sampul depan map yang berisi agenda meeting-nya. “Dan satu lagi,” lirihnya. Ada rasa ngilu di hatinya ketika setiap kasus yang ditanganinya gagal.

Aphrodite adalah LSM di bidang perlindungan kaum hawa. Lembaga ini didirikan untuk memberikan bantuan hukum dan perlindungan pada beberapa wanita yang terenggut haknya, misalnya mengalami kekerasan. Shawn Corp merupakan salah satu penyandang dana tetap untuk lembaga tersebut dan Hwa Young merupakan salah satu petinggi di divisi bantuan hukum.

***

Selesai berganti baju rumah, Siwon memandang ke arah ranjangnya. Dia mencondongkan tubuhnya dan membau ranjang miliknya. Semerbak wangi feminis masuk di indera penciumannya. Tidak menusuk, cukup manis, pikirnya. Mungkin orang lain yang tidak peka akan menganggap sama saja. Tapi baginya yang sudah menempati ranjang tersebut hampir tiga tahun, tahu jelas perbedaannya. Bibirnya tertarik membentuk seringaian.

Wangi yang sangat berbeda dengan wangi yang selama dua tahun belakangan memerangkap inderanya. Wangi ini lebih terkesan lembut dan menenangkan, bukan wangi menggairahkan yang selalu tercium olehnya. “Apakah kepribadianmu juga seperti itu nona Shim?” monolog Siwon.

Siwon segera berlari kecil ketika pendengarannya menangkap bel pintu rumah minimalisnya. “Hai,” senyumnya sambil memeluk wanita di ambang pintu. Dia melepas pelukannya dan membiarkan sang wanita masuk ke dalam.

“Kau tak merindukanku, Minna-ya?” rajuk Siwon.

Minna menyurungkan telapak tangannya ke dada Siwon saat lelaki itu hendak memeluknya lagi. “Sangat, tapi pantaskah sekarang aku meerindumu jika sudah ada seseorang lain di sampingmu sebagai pendamping yang sah,” nada Minna yang penuh penekanan terkesan kalau dirinya tidak menyukai konten perkataannya sendiri.

“Harus berapa kali aku bilang bahwa pernikahan ini hanya kerja sama saja, huh?”

“Tapi tetap saja hubungan kalian resmi di depan hukum sebagai—“

“Aku tak ingin kita berdebat masalah itu, Minna-ya. Dua bulan lalu aku sudah menjelaskan padamu dan prinsipku masih belum berubah hingga saat ini,” Siwon memberikan pandangan lelahnya pada wanita di sampingnya.

“Bagaimana jika prinsipmu berubah? Mengingat kalian akan hidup bersama.”

“Kumohon…” melas Siwon agar Minna berhenti meragukannya. Dia tidak berpikir kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa mengalihkan dunianya dari wanita bernama Minna itu.

“Cinta tumbuh, salah satunya, karena terbiasa, Oppa.”

“Aku tahu” Siwon memejamkan mata sejenak untuk menekan rasa gelisahnya. Bagaimana pun dia tahu tindakannya saat ini adalah hal yang salah. Dia masih merengkuh kekasihnya di saat sudah tak lajang lagi.

“Lalu, hmmpp—“ Siwon membungkam bibir Minna untuk mengakhiri perdebatan kecil mereka. Dia semakin memperdalam ciumannya ketika sang wanita membalasnya untuk menyalurkan segala hasrat dan rindu.

Siwon menarik Minna merapat dengannya. Dia menciumi bau harum penuh gairah di pundak wanita tersebut. Dia memeluk wanitanya dengan erat sebagai cara untuk menenteramkan hati Minna akan sedikit guncangan di hubungan mereka. “Berikan aku waktu, Minna-ya. Kumohon bersabarlah, ok?” bisik Siwon di telinga Minna.

Sepasang mata mengamati keduanya semenjak berciuman. Pandangannya menyiratkan rasa jengah dan jijik secara bersamaan. Kakinya melangkah dan sengaja membuat ketukan dengan high heel Louboutin-nya. Dikibaskan anak rambutnya saat melewati sepasang sejoli yang sedang bermesraan.

Hwa Young menggeleng pelan saat dirinya turun setelah sudah berganti baju dan mendapati sepasang kekasih itu masih saling menempel lekat satu sama lain. Dia melenggang ke dapur dan mengambil air putih dingin dari kulkas untuk menghilangkan dahaganya. “Kenapa rasanya udara sedikit panas?” Hwa Young mengibaskan telapak tangannya di depan wajah. Pertanyaan monolognya sebagai sindiran pada aktifitas yang terjadi di ruang tamu.

Hwa Young bukan cemburu menyaksikan adegan suaminya dengan wanita lain. Dia hanya merasa kesal karena kedua makhluk itu seperti tidak menghargai keberadaannya di rumah ini. Siwon harusnya lebih tahu diri untuk tidak membawa wanitanya ke rumah. Juga dengan sang wanita, harusnya tahu malu untuk menyambangi rumah pria yang sudah beristri dan menggodanya. Hwa Young memenuhi gelasnya dengan air putih dingin. Udara benar-benar panas.

Siwon dan Minna tersentak, melepas ciuman mereka, dan menahan nafasnya sebentar saat air dingin membasahi kepala mereka. “Ya!” Siwon langsung berdiri dari sofa dan memandang perempuan yang menumpahkan air di kepalanya.

“Apa yang kau lakukan, hah?” marah Siwon.

Hwa Young hanya memamerkan senyum sandiwaranya. “Mengurangi hawa panas, Tuan Choi.” Pandangan Hwa Young menelusuri kedua sosok di hadapannya. Memerhatikan dengan seksama wanita pujaan Siwon, mau tak mau dia menggaguminya. Wanita itu sangat cantik dengan bibir penuh, hidung bangir, dan dagu V-nya. Mata sipitnya yang dirias gaya smokey eye[15] dengan shadow biru muda merupakan pusat kecantikannya.

“Kau—“ tunjuk Siwon tepat di depan hidung Hwa Young.

“Perlukah aku menunjukkan bahwa terdapat seorang istri di rumah ini, Choi Siwon-nim?” tanya retoris Hwa Young. “Walau kau tidak menyukai kondisi kita, aku tetap meminta kalian menghargainya dengan tidak berbuat mesum di rumah ini,” nada datar Hwa Young. Dia meletakkan gelas yang dipegangnya dengan agak keras di meja tamu sebelum melangkah pergi.

***

Hwa Young menselonjorkan kakinya dan memangku laptop. Dia sibuk menatap dan mengetikkan sesuatu di laptop tersebut. Beberapa berkas tersebar di sampingnya. Membolak-balik kertas-kertas tersebut, dia memastikan tidak ada yang terlewat. Sementara ini, dia masih menggunakan kamar milik Siwon.

“Apa maksudmu melakukan hal tadi?” Siwon menerobos masuk ke kamarnya. Menatap gadis di depannya dengan geram, dia mengeraskan rahangnya. Dia benar-benar marah saat kesenangannya terganggu.

Hwa Young sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari laptop. “Aku sudah cukup jelas mengatakan alasannya.”

“Istri?” nada tak percaya Siwon untuk mengulang pernyataan Hwa Young. Siwon membentangkan tangannya ke udara. “Kau pikir statusmu melegalkanmu untuk mencampuri urusanku?!”

“Suka tidak suka, itulah kenyataannya. Kuharap kau bisa belajar menerimanya mulai saat ini hingga nanti saat kita berpisah.”

“Kau benar-benar—“ geram Siwon yang tidak mampu menyelesaikan ucapannya.

“Jika sudah selesai silakan tinggalkan aku,” ucap Hwa Young sambil kembali menekuri notebook-nya.

Siwon memijit pelipisnya dan meraung frustasi. Dia membanting pintu kamarnya sendiri saat keluar. Kekesalannya benar-benar memuncak dengan tindakan Hwa Young dan perdebatannya.

Hwa young menghembuskan nafas leganya. Tangannya terangkat mengurut pelipis. Jadi seperti inilah kehidupan yang akan dijalaninya. Dia mengasihani dirinya sendiri dengan lika-liku hidupnya. Kepalanya menoleh ke samping saat dering iphone-nya membuyarkan sedikit lamunannya. “Hi, Kyunie,”.

“Kau sudah menyantap makan malammu?”

“Kau menelpon hanya mengingatkanku untuk makan?” Hwa Young men-shut-down notebook-nya.

Yeah, sort of.”

Hei, aku bukan anak kecil lagi,” tangan Hwa Young menutup lid dan memindahkan notebook tersebut ke sisinya.

“Kau seharusnya merasa hebat karena aku mau menyempatkan diri menelphonmu.” Narsisme Kyuhyun dengan nada bercanda.

Ah, benar. Aku merasa tersanjung karena direktur Dexxa Finance ini mau bersusah payah menelpon hanya untuk masalah sepele,” Hwa Young merapikan berkasnya.

Kekehan Kyuhyun terdengar nyaring dari seberang sambungan. “Weekend ini kau luang?”

“Kau tidak sedang mengajakku kecan kan?” goda Hwa Young dengan sedikit terkekeh.

Well, katakanlah aku mengajakmu untuk menikmati weekend bersama.”

“Baik, hanya menghabiskan waktu bersama teman kecilku, Cho Kyuhyun,” terawang Hwa Young dengan masih mengulum senyum.

“Perhitungkan saja sebagai sambutan atas kepulanganku ke Korea.”

Umm, kupertimbangkan untuk memasukkannya dalam jadwalku, Tuan Cho,” canda Hwa Young. “Tunggu sebentar, Kyunie—“ wajah Hwa Young berubah seketika saat matanya menangkap satu berkas yang tersembul dari berkas-berkasnya. Dengan cepat dia menarik kertas tersebut dan mengamatinya. Tangan kanannya langsung menurunkan iphone dari telinganya dan menggenggam kertas tersebut. “What the—“ lirih Hwa Young saat membaca data salah satu kasus yang ditangani Aphrodite.

TBC*


[1] Double eyelid: lipatan kelopak mata yang tampak di atas mata kita ketika membuka mata.

[2] Chaebol: sebutan konglomerat di Korea

[3] Oppa: sapaan dari perempuan ke laki-laki yang lebih tua darinya dalam hubungan yang dekat; misalnya: adik perempuan ke kakak lelaki.

[4] Merge: penyatuan usaha sehingga tercapai pemilikan dan/ atau pengawasan bersama

[5] Closet: Suatu almari atau bisa berupa sebuah ruangan kecil yang digunakan sebagai tempat penyimpanan teerutama pakaian.

[6] Han Jieun: pemeran utama wanita dalam drama Korea Full House

[7] Lee Yong Jae: pemeran utama pria dalam drama Korea Full House

[8] Appa/ abeoji: ayah (Korea)

[9] Wae: mengapa/ kenapa (Korea)

[10] Yeobo: panggilan sayang

[11] Eomma: ibu (Korea)

[12] Nasdaq, NYSE, dan Dow Jones: merupakan pasar saham besar di USA.

[13] Jebal: tolonglah.

[14] Mwo: apa.

[15] Smokey eye: salah satu teknik untuk merias mata.

383 thoughts on “The Obedient Bride [Rule 1]

  1. Atika slalu ceria says:

    Anyeonghaseyo……
    salam kenal.aku baru nyampe di sini,setelah nanya alamat sm mbah goegle.aku Tika.
    Mohon izinnya Arum buat aku untuk sering sering mampir.🙂

  2. Eva Solihah says:

    Hai aku leader baru di sini, aku baru nemu ff ini. Cerita untuk awalnya bagus.
    Di sini tohoh pemainnya penuh dengan ego semua. Hanya itu mungkin yg bisa aku gambarkan dari ff ini

  3. jen says:

    hai thor, saya new reader disini. hoho. bagus thor ceritanya:) bahasanya dan kata2nya mudah di mengerti dan ada arti dr bahasa korea yg digunakan, jd gk hrs googling atau nanya kawan duluu. hoho:))

  4. maurine adora says:

    keren thor,cerita nya menarik.,
    baru kali ini baca ff yg perbendaharaan kosa kata nya bagus .,
    slam knal ya thor,aku reader baru.,

  5. nayla says:

    this!!
    aku paling suka sama karakter hwayoung yang bbener-bener kuat. dewasa, matang dan berpikiran logis. bener-bener inner beauty. *apasiini

  6. csw310 says:

    hallo
    well sebenernya dulu aku pernah baca ff ini tp ya i was a bad reader. aku ga ninggalin komen sama sekali. and now i’m trying to be a good reader.
    dulu terakhir baca sih cuman sampai part 2 klo ga salah lalu aku berhenti baca ff krn kehilangan mood untuk baca ff.. kok malah jadi curhat gini sih haha maaf eonni
    btw aku suka gaya penulisan eonni. gampang dicerna dan gaya bahasanya ga terlalu berat. jadi aku akan nerusin untuk baca part selanjutnya hehe.

  7. celin says:

    aku baru ngubek2 ff selain BTBE d blog ini..
    baru kali ini baca ff yg maincastnya siwon.. karena biasanya aku cuma mau baca kalau kyuhyun yg jadi maincastnya..
    tema perjodohan, mungkin udah terlalu mainstream di dunia perffan tapi aku rasa ceritanya bakalan beda dari yg lain..
    suka sama karakter hwa young dia enggak bsa ditindas.. adegan paling aku suka dia nyiram air dingin ke siwon… karakter dia kuat sekali!! aku suka🙂
    dan disini kyuhyun jadi
    ini baru awal jadi aku belum bsa komen banyak2🙂

  8. momo says:

    Suka sama tokoh hwa young suka juga sama jalan ceritanya, ini kyu suka sama hwayoung gt ceritanya? Lanjut next part ya

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s