Please, Hold On [Part 7]


Please, Hold On [Part 7]

Author              : Arsvio

Main Cast         : Lee Donghae (Aiden Lee), Han Cheonsa (Angelle Han)

Support Cast    : Super Junior, Daniel Han, Kevin Han, Adelynn Lee.

Rating               : PG-16

Length              : Sequel

“Dia mengalami patah tulang rusuk tengahnya, Sa-ya,” dokter Ahn memberi jeda sejenak. “Berita buruknya, patahan tulang rusuknya menusuk jaringan paru-paru dan menimbulkan pendarahan dalam. Ambil keputusan sekarang,”.

Tangan Cheonsa sudah bergetar hebat. Dia mengerti benar resikonya. Jika sampai terjadi gumpalan darah, maka itu bisa menghambat sirkulasi oksigen dalam paru-paru. Fatalnya adalah paru-paru bisa collapse. “Lakukan yang terbaik, Dokter,”.

“Kau ingin mendampingiku, Sa-ya?” Dokter Ahn menaikkan maskernya kembali.

Mata Cheonsa menatap dengan tidak fokus. Sanggupkah jika dia sendiri ikut melakukan pembedahan dengan tim dokter. Tangannya masih bergetar dan tak jua mereda.

“Aku tahu,”. Dokter Ahn menepuk ringan lengan atas Cheonsa dan segera memasuki ruang operasi lagi, setelah tadi keluar hanya untuk meminta persetujuan dari pihak keluarga korban.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Jae?” geram wanita paruh baya yang sedari tadi juga ikut gusar menunggu kepastian kondisi Kevin. Dia hanya mampu terduduk pasrah sembari tak henti mengurai air mata.

“Dia gagal melakukan cornering (menikung),” jawab Jae sambil masih menunduk.

“Mwo?”.

“Kevin tergelincir saat melakukan cornering,” Jae mengatakannya dengan kaku. Ikut merasakan emosinya meletup saat melihat sahabatnya terguling ke luar arena balap. Dan mendapati tubuh Kevin terluka fatal karena kecelakaan tersebut.

“Apa yang sebenarnya kalian lakukan?” sang bibi menaikkan nada bicaranya.

Jae masih tak mengalihkan pandangannya dari lantai tempatnya berpijak. “Dia mengetahui semua dan kecewa,” jawab Jae yang membuat wanita paruh baya di sampingnya tersentak.

“Apa yang diketahui Kevin, Jae?” interupsi Cheonsa pada pembicaraan keduanya. “Kumohon, katakan,” Cheonsa begerak dan berdiri di depan Jae. Mengguncang pelan bahu Jae saat lelaki itu hanya diam. “Jae,” melasnya dengan wajah yang sudah sangat memerah karena menangis.

“Masalah Hansang dan warisan, serta konspirasi ayahnya sendiri,” geram Jae.

Ucapan Jae serta merta membuat lutut Cheonsa melemas. Untungnya Jae segera menangkap wanita tersebut sebelum ambruk menyentuh lantai. “Noona,” lirih Jae.

Dan seorang pria paruh baya yang menjadi pembicaraan juga tak sengaja mendengarnya ketika baru saja datang. Membuat dada pria yang sudah setengah abad itu merasa digodam palu. Tangannya menekan dinding sebagai topangan tubuhnya yang limbung.

***

“Kenapa diam?” Jung mengalungkan tangannya di leher presdirnya.

“Apa yang sebenarnya selama ini kau lakukan pada keluargaku, Jung?” sang presdir masih menatap kosong udara di depannya. Menerawang tindakan di luar nalar yang bisa saja dilakukan oleh wanita di sampingnya.

“Wae? Kenapa menanyakan itu sekarang?” Jung mengelus pipi lelaki tersebut. “Aku tak senang kau menyebut kerikil-kerikil itu dengan kata tersebut,” rujuk Jung pada kata ‘keluargaku’ yang dilontarkan Jungshik.

“Nyatanya seperti itu,” Jungshik segera mengalihkan pandangannya ke arah Jung. Menatap dengan amarah wanita tersebut. “Bukankah kita sepakat hanya akan terfokus untuk menguasai Hansang?”.

Jung tertawa renyah mendengar kalimat tanya tersebut. “Memangnya Hansang bisa jatuh di tangan kita seandainya aku tak menyingkirkan hambatan-hambatan kecil itu?” Jung membalas tatapan Jungshik. “Jangan naïf, Yeobo,”.

“Tinggalkan aku. Aku ingin sendiri,” Jungshik beranjak dari duduknya.

“Kau mengusirku?”.

“Tolonglah, aku membutuhkan waktu untuk berpikir sendiri,” Jungshik berlalu, menyaku kedua tangannya pada saku celana, dan membelakangi Jung.

***

“Ini salahku,”.

“Nyonya—“ Jae menghentikan perkataannya karena tak menemukan kata penghibur.

“Adakah kejanggalan yang kau peroleh dari kecelakaan ini, Jae?” kedua tangan wanita tersebut memeluk raganya sendiri. Merasakan ngilu di sekujur tubuhnya karena kecelakaan yang menimpa keponakannya.

“Tidak. Semua ini murni kecelakaan, Nyonya. Kevin kehilangan kontrol,” analisis Jae. “Dia pembalap kelas atas, tapi betapa bodohnya ketika fokusnya hilang di saat penting,” ucap Jae miris. Salah satu teknik cornering slow in fast out seharusnya tidak masalah bagi Kevin untuk melakukannya. Cornering/turning membutuhkan konsentrasi karena motor dalam kondisi kecepatan tinggi, kehilangan focus sedikit saja maka semua bubar.

“Seharusnya aku lebih berhati-hati,” sang bibi memejamkan matanya. Secara tidak langsung, dia memberi andil dalam kecelakaan Kevin.

“Berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai mengambil tindakan,” ucap Jae realitis. Bukan bermaksud kurang ajar, tapi begitulah pembawaan Jae yang selalu gamblang dalam menyampaikan pendapatnya.

Perlahan sang bibi membuka matanya kembali. Dia mengatur nafasnya dan meneguhkan hati. Jika dia ikut terpuruk, siapa lagi yang diharapkan menjadi tonggak bagi keluarga Han. “Kau benar. Awasi terus kondisinya, Jae,”.

***

Donghae mengucek matanya yang terasa pedih. Paginya benar-benar buruk ketika tak mendapati Cheonsa di sampingnya. Langkah kakinya terhenti ketika melewati ruang tengah, tempat dimana semalam dia dan Cheonsa bertengkar. Rahangnya mengeras ketika mendapati berkas-berkas surat gugatan cerai itu masih berada di atas meja. Dadanya berdesir kembali mengingat setiap kata pertengkarannya dengan Cheonsa.

Donghae mengitarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Menelusuri setiap kamar untuk menemukan Cheonsa. Tapi hasilnya nihil. Perempuan itu tak ada di apartemen mereka. “Jadi ini keputusanmu, Cheonsa-ya?” geramnya.

Dia segera keluar dari apartemen dengan membanting pintu keras. Berjalan dengan cepat menuju lantai atas, dorm Suju.

***

“Hei, tumben pagi-pagi sekali kau sudah kemari,” sapa Eunhyuk sambil menarik kursi makan dan ikut bergabung dengan yang lain untuk sarapan.

Donghae hanya tersenyum kilas. Tidak berkomentar apa pun. Diambilnya sumpit dan ikut mengunyah makanannya yang sedikit terasa pahit di lidahnya. Padangannya lurus menatap mangkuk nasinya, sedangkan mulutnya mengunyah dengan lambat.

Tanpa Donghae sadari, Eunhyuk dan yang lain menatapnya dengan heran. “Ada yang terjadi, Hae-ya?” tanya Eunhyuk setelah mendapat isyarat lirikan dari Leetuk untuk bersuara.

Donghae sedikit terperanjat. Dia menegakkan badannya dan berdeham untuk mengusir atmosfir canggung yang telah diciptakannya. “Ah, tidak ada,” jawab sekenanya.

“Kau tidak terlihat baik-baik saja,” timpal Leetuk.

“Ah, mungkin hanya perasaanmu saja, Hyung,” Donghae tertawa terpaksa untuk meyakinkan. Dia hanya tidak ingin membuat yang lain cemas dengan masalahnya. Mungkin, tanpa bercerita masalah dirinya akan terselesaikan nanti.

“Bertengkar dengan Cheonsa?” tanya Eunhyuk dengan hati-hati.

Bingo. Mata Donghae melebar. Lelaki ini tidak pintar untuk menyembunyikan perasaannya. Gerakan refleknya menandakan apa yang ditanyakan Eunhyuk sudah terjawab. Tapi, masih juga Donghae mengelak dengan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan tersebut. Batinnya teralalu kacau untuk memikirkan keputusan Cheonsa.

“Eh, kau di sini, Hyung?” sang evil maknae datang dan menunjukkan keheranannya.

Donghae kembali tersenyum kilas dan sedikit bersyukur karena mungkin kedatangan Kyuhyun akan menghentikan interogasi Eunhyuk juga Leetuk. Dia masih harus menata hati dan pikirannya. Gugatan cerai itu bukan hal main-main, dan dia sangat tidak menyukainya.

“Tidak menemani Cheonsa Noona di rumah sakit?” Kyuhyun meletakkan gelas air putih yang diserobotnya dari Eunhyuk.

Dan pertanyaan Kyuhyun membuat ketiga orang di sana menoleh padanya. “Hei, jangan pandang aku seperti itu. Terutama kau hyung!” tunjuk Kyuhyun pada Donghae.

“Kenapa harus menemaninya? Dia kan di sana untuk bekerja,” Donghae menutupi kecemasannya. Walaupun sebenarnya dia tahu, Kyuhyun menayakan hal itu pasti bukan maksud menanyakan Cheonsa yang berada di RS sebagai dokter. Tapi dengan alasan lain.

“Jangan katakan kau tidak tahu apa yang terjadi, Hyung,” Kyuhyun menatap dengan penuh selidik. “Kalian bertengkar, ya?” tebakan kedua yang benar setelah Eunhyuk. “Hah, benar-benar,” gemas Kyuhyun yang melihat polah tak peduli Donghae.

Bukannya meneruskan bahan pembicaraannya, Kyuhyun malah melenggang ke ruang tengah. Dia mengambil remote tv, menyalakan tv, dan mengeraskan volumenya. Membuat aktifitas di ruang makan terhenti seketika dan semua yang di sana menghabur ke ruang tengah.

***

Donghae menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya. Dia menatap pintu ruang inap itu dengan was-was. Perasaannya berkecamuk, haruskah dia masuk ke dalam? Tapi bagaimana dengan perselisihan antara dirinya dengan sang istri tadi malam?.

Donghae memilih opsi kedua. Dia menyandarkan bahunya di dinding dan mengamati. Benar saja, sejurus kemudian wanita yang ditunggunya keluar dari ruang inap tersebut lengkap dengan wajah kuyunya.

Cheonsa mendudukan dirinya di bangku tunggu. Menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya. Sebentar saja seperti ini sebelum dia menghadapi kenyataan terburuk. Pagi ini setelah operasi Kevin selesai, dokter Ahn ingin bertemu dengannya untuk menuturkan kondisi adik laki-lakinya. Dia tahu sesuatu yang tidak baik telah terjadi, mengingat bagaimana raut wajah dokter pembimbingnya tersebut sesaat setelah keluar dari ruang operasi.

Donghae memiringkan kepalanya. Ada rasa marah dan iba yang tumbuh secara bersamaan ketika melihat Cheonsa. Jelas marah karena nyatanya ultimatumnya tidak diindahkan oleh Cheonsa. Perempuan di sana agaknya memang bersungguh-sungguh menggugat cerai dirinya. Bukankah semalam dia sudah dengan tegas menyuruh Cheonsa menyingkirkan berkas cerai itu? tapi nyatanya, pagi tadi dia masih menemukan berkas tersebut tergeletak rapi di meja ruang tengah. Seolah menunjukkan bahwa Cheonsa melawan permintaannya.

Namun, melihat keadaan sang istri pagi ini, membuatnya merasakan pilu juga. Semarah apa pun dirinya, tetap saja kasihnya ada untuk Cheonsa. Donghae mengepalkan tangannya. Ditatapnya wanita yang terdiam di sana dengan tajam.

Cheonsa merogoh ponselnya, menekan sebuah kontak. Dia berbicara dengan orang yang ditelponnya. Beberapa saat hanya terlihat menggigit bibir bawahnya dan mendongak untuk menahan air mata yang mendesak keluar. Jemarinya meremas dress miliknya sebagai bentuk kekhawatirannya atas kondisi Kevin.

Donghae semakin berkerut. Tadinya, dirinya mengira bahwa yang dihubungi Cheonsa adalah dirinya, tapi kenyataannya dia sama sekali tidak merasakan getaran iphone miliknya. Donghae menarik sudut bibirnya. “Jadi sekarang aku bukan dalam prioritas pertama panggilanmu?” batin Donghae yang kian menyulut emosi.

Donghae berbalik. Cukup sudah, dia sudah melihat keadaan Cheonsa. Dan mengetahui bahwa ternyata dirinya sudah tergeser dari hati wanita tersebut, begitulah kesimpulannya. Sungguh dangkal bukan pemikirannya? Tapi dapatkah dia dipersalahkan atas kesimpulan sepihaknya? Mungkin kalian akan melakukan hal yang sama dengan yang Donghae lakukan. Akal dan rasio menguap terganti dengan emosi yang mendominasi hati dan pikirannya.

***

“Apa yang bibi ketahui tentang kecelakaan Kevin?” Daniel menyilangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya di kursi cafetaria rumah sakit Seoul. Memandang datar wanita paruh baya di depannya.

“Kau bertanya padaku, Dan?” sang bibi tersenyum mengejek. “Bukankah kau selalu bertindak sendiri. Menyelesaikan semua?” retorik sang bibi.

“Aku membutuhkan akses untuk mengetahui kegiatan Kevin dan orang-orang Jung, Bi,” Daniel masih bersikap tenang.

“Jadi ini kelemahan sang harimau Hansang?” sinisme wanita tersebut. “Memang apa yang membuatmu yakin aku mau membantumu?”.

Daniel menarik ujung bibir kanannya untuk membuat seringaian tipis. “Katakan saja penawaranmu, Bi. Dan aku akan memenuhinya,” yakin Daniel.

“Kau merendahkanku dengan sejumlah nilai, Dan?” sang bibi tertawa hambar. “Maaf aku tak tertarik,” tegas wanita tersebut seraya memundurkan kursinya dan berdiri.

“Bagaimana jika kutawar dengan malam kelam keluarga Han?” Daniel sengaja mengeraskan volume suaranya agar terdengar oleh sang bibi yang sudah menjauh.

Benar saja, langkah bibi berhenti dan menoleh. “Apa maksudmu?”.

“Aku satu-satunya saksi mata di malam terbunuhnya Kakek,” Daniel ikut menolehkan pandangannya pada sang bibi dengan senyum kemenangan. “Tertarik, Bi?”.

***

“Aku melakukan penanaman titanium U-shaped padanya,” terang dokter Ahn sambil memperlihatkan hasil x-ray milik Kevin. Penanaman titanium dilakukan pada kasus patah tulang rusuk yang akut.

Cheonsa menghela nafas panjang. Mengamati hasil x ray tersebut dengan teliti. Menanti penjelasan selanjutnya.

Pulmonary contusion. Semoga saja spekulasiku salah,” ucap dokter Ahn kemudian.

Cheonsa menegang di tempatnya. Pulmonary contusion, memar pada paru-paru salah satu akibatnya adalah tusukan tulang rusuk yang patah. Adanya darah yang menggumpal di paru-paru dapat menyebabkan terganggunya sirkulasi oksigen. “Berapa persen presentasi terjadinya?”.

“Kau tak perlu menanyakan itu, jika kau sendiri mengetahuinya, Sa-ya. Patahan tulang rusuknya membuat perdarahan cukup banyak,”.

Bahu Cheonsa tergetar. Dia membekap mulutnya dengan sebelah tangan. “Adakah efek lain yang mungkin terjadi, Doter Ahn?”.

“Patah di tulang kering kakinya tidak perlu dikuatirkan. Hanya saja benturan keras di kepalanya—“.

“—gegar otak?” tebak Cheonsa.

“Kita tunggu sampai dia sadar dari komanya, baru lakukan CT scan,”.

***

Donghae menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia mengubek-ubek tas miliknya, mencari ponsel. Dia menekan lock untuk membuka layarnya, dan kecewa. Tidak ada satu pun panggilan atau message dari perempuan yang dinantinya. Bibirnya membentuk senyuman kecut.

Sesibuk dan sejenuh apa pun pikiran wanita itu, mengapa tak semenit saja terlintas pikiran untuk menghubungi suaminya. Ini hampir tengah malam ketika Donghae menyelesaikan photoshoot-nya, tapi dia sama sekali tak mendapat kabar dari Cheonsa. Daripada menghubungi lebih dahulu, egonya menyuruh dia menunggu saja. Memang siapa yang seharusnya disalahkan?

Donghae melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Berpikir dan berpikir tentang pertengkaran mereka. Mengevaluasi tindakan dan perilakunya yang mungkin menjadi sebab Cheonsa menggugat cerai dirinya. Karena cemburu pada rekan kerjanya? Atau gossip kedekatan dirinya dengan wanita lain?

Donghae menggeleng pelan. Tidak mungkin karna masalah sepele itu membuat Cheonsa memilih jalan cerai. Terlalu dangkal untuk dijadikan sebuah alasan. Dan Donghae yakin benar sang istri bukan tipe orang yang narrow-minded seperti itu.

Donghae memutar otaknya. “Adakah yang kau sembunyikan, Cheonsa-ya?” monolognya. Dia mengingat kembali pertemuannya dengan pengacara pribadi keluarga Han. Saat itu dirinya menemani Cheonsa untuk mengetahui hak warisan yang jatuh ke tangan wanita tersebut. “Hansang Finance?” sebuah kata kunci terucap dari mulut Donghae.

***

Dengan ragu Donghae memutar kenop pintu kamarnya, juga Cheonsa. Dia menahan nafasnya sejenak. Sungguh berharap wanitanya sudah pulang dan bergelung di ranjang mereka. Namun lagi-lagi, dia harus menelan kekecewaan. Kamar itu kosong.

Donghae melangkahkan kakinya ke ruang tengah. Matanya langsung tertuju pada berkas yang bergeming di tempatnya semenjak pagi tadi dia melihatnya. Hatinya kembali merasakan seperti diremas. Giginya bergemeletuk menahan amarahnya. Seakan belum cukup dia tersiksa sehari ini karna menunggu Cheonsa untuk menghubunginya. “Jadi kau tidak pulang?”.

Begitu beratkah untuk sekedar kembali ke rumah atau memberinya kabar? Begitu tidak berarti-kah dirinya di mata Cheonsa? Donghae mengepalkan tangannya dan meninju udara kosong. Kemudian mengacak dengan kasar rambutnya. “BAIK! INI KEPUTUSANMU, CHEONSA-YA!” teriak frustasi Donghae.

Mengapa Cheonsa secepat itu menyingkirkan dirinya. Mengapa dengan mudahnya Cheonsa melupakan statusnyanya sebagai suami yang seharusnya diutamakan. Padahal baru kemarin mereka merasakan kebahagiaan dan cinta yang meletup-letup, dan tiba-tiba saja semua lenyap. Perempuan itu dengan sekejap mata menjatuhkan dirinya ke dasar.

Berbagai kenangan bersama Cheonsa berkelebat cepat dalam otaknya. Mulai dari pertemuan pertama mereka, pertunangan kilat, pernikahan yang tak diketahui apa dasarnya, dan masa-masa romansa mereka. Pantaskah Donghae mendapatkan perlakuan seperti ini? Memang apa salahnya hingga wanita itu meninggalkannya.

Dulu, Cheonsa yang mati-matian meyakinkan dirinya untuk mengikat janji suci. Meski wanita itu sempat meragu, toh akhirnya Donghae tetap menyanggupinya. Memutuskan untuk mengambil tindakan yang menurutnya sedikit absurd. Hari-hari selanjutnya digunakan untuk belajar menerima dan mencintai Cheonsa. Dan ya, diakuinya bahwa hatinya sudah move on sepenuhnya pada wanita tersebut. Tapi sekarang? LIHAT! Dalam sesaat dia dibuang begitu saja.

“AARRGHH! KAU TAHU?! KAU TAK PANTAS BERNAMA CHEONSA KARNA HANYA HATI IBLIS YANG BISA MELAKUKAN INI!”.

***

“Kevin-a, ini sudah hari keempat dan kau masih belum mau membuka mata?” Cheonsa meremas jemari Kevin. Tangan sebelahnya mengusap pipi Kevin lembut. “Kau tidak merindukanku, hmm?” dialog Cheonsa dengan adiknya yang masih terbaring koma. “Bangunlah, Sayang,”.

Seorang menepuk pundak Cheonsa pelan. Dia berjalan mengitari ranjang Kevin dan menatap sendu adiknya yang tak sadarkan diri. “Bagaimana kondisinya, Angel?” matanya menatap lurus Kevin.

Cheonsa menggeleng sebagai jawaban. “Kita hanya bisa menunggu sampai dia sadar, Oppa,”.

“Siang ini aku menyuruh tuan Park menemui suamimu untuk membicarakan proses perceraianmu,” tiba-tiba saja Daniel membelokkan pembicaraan. Dia ingin secepatnya mengakhiri kemelut keluarga Han dengan meminimalisir korban.

Cheonsa tersentak pelan. Tak ada sehari pun luput tanpa memikirkan lelaki itu. Di saat seperti ini, keberadaan Donghae-lah yang sangat diharapkan untuk selalu menemaninya. Tapi semua menjadi mustahil, sebab gugatan yang dilayangkan pada Donghae sudah sangat melukai lelaki tersebut. Cheonsa tidak bisa berharap lebih untuk mendapatkan simpati Donghae. Cukup sudah dia menoreh luka di hidup Donghae.

Daniel menyadari perubahan ekspresi Cheonsa. “Kita bisa melalui ini,”.

“Dengan cara bagaimana kita bisa merengkuh semuanya kembali kalau nyatanya semua sudah terpecah sedemikian rupa,” pelan Cheonsa. “Apakah jika kita mengakhiri ini, maka Eomma akan hidup kembali? Ataukah Appa akan memilih kita sebagai keluarganya dibanding wanita itu?”.

Daniel mengerutkan kening. Dia membenarkan perkataan Cheonsa. Mungkin semua memang sudah tidak bisa kembali seperti semula. Mungkin juga jargon ‘live happily before and after’ hanya ada di buku dongeng. Memang apa yang akan dialakukan seandainya dia bisa memenangkan warisan Hansang Finance? Tetap saja inti keluarganya tinggal kenangan. “Lalu apakah kau akan menyerah?”.

“Aku hanya lelah, Oppa. Aku terlalu muak dengan semua ini,” Cheonsa menatap Daniel.

“Kita tidak bisa mundur, Angel,”.

Cheonsa menghembuskan nafas pendek. “Oppa, ayo mulai dari awal. Hanya kau, aku, dan Kevin. Kita kembali ke Massacuset,”.

Daniel memiringkan kepalanya. Menatap adik perempuannya dengan dahi berkerut. Mencerna jalan pikiran Cheonsa. Dan keputusannya, “Tidak, Angel. Ini keluarga kita, hak kita, aku akan tetap bertahan,” ucap datar Daniel.

“Sekarang, bahkan Kevin menjadi seperti ini hanya karna sebuah warisan. Ayo berhenti,” rajuk Cheonsa. Sungguh dia tidak tahan dengan perselisihan di keluarganya. Walaupun sebenarnya hatinya meragu jika harus melakukan sarannya sendiri. Bagaimana tidak? Jika itu berarti dia harus meninggalkan hatinya di sini. Di korea. Tertahan bersama lelaki bernama Lee Donghae.

Daniel mengeraskan rahangnya. Mengerti rasa lelah adik perempuannya. “Apakah kau mengetahui kenapa dulu aku memindahkan Eomma ke rumah sakit lain dan merahasiakannya? Apakah kau tidak ingin tahu alasan Eomma mengakhiri hidupnya sendiri?” Daniel mengucapkannya dengan pelan dan dalam, syarat emosi.

Cheonsa menutup rapat mulutnya. Adakah hal luar biasa lain yang bisa lebih menyakitkan daripada melihat adiknya terbaring koma? Dia diam, menunggu respon Daniel.

“Ini bukan masalah simple karena perebutan warisan, Angel,” Daniel menarik nafasnya dalam. Memasok oksigen ke dalam paru-parunya. “Dendam dan ambisi. Dua hal itu yang menjadi dasar semua kekacauan ini,”.

“Apa maksudmu, Oppa? Bicaralah yang jelas,”. Cheonsa menata hatinya untuk mendengar alasan kakaknya.

“Wanita itu, sampai kapan pun aku tidak akan melepasnya,”. Daniel menatap tajam Cheonsa. “Dialah alasan aku memindahkan Eomma,”.

“Untuk menjauhkan Eomma dari jangkauan Jung? Tapi kenapa?” kening Cheonsa berkerut. Dia benar-benar tidak mengetahui cerita ini. Kebenaran apa lagi yang masih tersebunyi?

“Karna aku menduga keras, dialah dalang dibalik kematian Eomma,”.

Tubuh Cheonsa sedikit terhuyung dari duduknya. Dia menggenggam tepi ranjang Kevin untuk menjaga keseimbangannya. “Maksud Oppa, Eomma tidak murni bunuh diri?”.

“Semua rekayasa, Angel. Dan aku gagal melindungi Eomma,” sesal Daniel. “Bahkan insiden yang menimpamu baru saja, aku juga yakin semua adalah perbuatan wanita picik itu,”. Hari ini, Daniel ingin membagi semuanya. Memaparkan alasannya agar Cheonsa mengerti dengan tindakan yang diambilnya. “Karna itulah, aku menyuruhmu bercerai dengan Donghae. Akan lebih mudah bagi kita jika pernikahanmu batal sehingga warisan itu tertahan untuk sementara waktu. Lebih dari itu, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu ataupun Donghae,”.

Cheonsa mengurut keningnya pelan. Dia merasakan dadanya yang teramat perih karena kenyataan yang baru saja Daniel ungkapkan. Cheonsa mengerjapkan matanya saat kepalanya terasa berkunang-kunang. “Aku keluar dulu, Oppa,” ditumpukan sebelah tangannya pada sandaran kursi untuk membantu berdiri. Cheonsa menyeret langkahnya yang terasa sangat berat.

Dan seseorang dibalik pintu yang sedari tadi mengamati Cheonsa segera berbalik cepat. Dia tidak ingin Cheonsa memergokinya di sini. Untuk hari ini, cukup sudah dia memandangi wajah Cheonsa dari jauh. Selalu begitu di empat hari ini.

***

Cheonsa menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya memejam dan batinnya bercerita. Bercengkerama dengan pemilik Jagad. Air matanya sudah merembes semenjak dia mulai menutup matanya.

“Tuhan, patutkan aku disebut sebagai istri jika selalu saja menyakitinya? Pantaskah aku berada disisinya jika hanya luka yang kubawa?”.

“Maafkan segala dosaku atas pengingkaran janjiku padaMu untuk mempertahankannya. Aku terlalu mencintainya dengan seluruh hatiku. Hingga kini tak ada yang tersisa saat dirinya tak disisiku,”.

Air mata bergulir di pipi Cheonsa. Membuat wajah putihnya memerah karena terlalu lama menangis. “Tuhan, jika melepasnya adalah jalan tunggal untuk melindunginya, maka berdosakah aku? Kuingkari semua firmanMu tentang arti pernikahan, membuat alasan yang tidak bisa Engkau terima untuk menceraikannya,”.

Rasa sesak menyergap Cheonsa. Membuat dadanya kembang-kempis menahan gejolak emosi. “Aku terlalu hina di mataMu, terlalu rendah untuk menyandingnya,”. Kedua tangan Choensa semakin erat menangkup.

“Kumohon, limpahi selalu dirinya dengan kasihMu. Karna aku begitu menyayanginya,”.

***

Lewat lima hari, dan tidak ada tanda Cheonsa kembali ke apartemen mereka. Jangankan kembali, sang wanita bahkan tidak sekali pun menghubunginya. Hanya pengacara keluarga Han yang diutus untuk menemuinya. Donghae mendongakkan kepalanya pasrah. Satu lagi paginya yang terlewat tanpa dia merasakan hangatnya tubuh mungil yang selalu berada di pelukannya.

Donghae mengamati tempat sebelahnya. Tangannya meraba dan menjajaki lembutnya sprei di sisinya yang kosong. Seharusnya ada seseorang yang terbaring di sana. Seharusnya ada wajah terlelap bak malaikat yang menyandar di bahunya. Seharusnya ada hembusan nafas hangat yang menerpa dadanya saat dia membuka mata. Seharusnya ada binar mata bulat yang menyapa paginya. Seharusnya ada tautan dari bibir lembut yang mengecupnya untuk mengawali hari. Seharusnya…

Dadanya memanas membayangkan refleksi seorang Han Cheonsa di sisinya. Bukan, bukan Han Cheonsa tapi Lee Cheonsa. Wanita itu miliknya seorang. Satu-satunya wanita yang telah dijanjikan di depan Tuhan untuk dipertahankan sepanjang hidupnya.

Donghae meremas sprei tersebut. Mengalirkan segala rasanya yang ingin meledak. Meski dia membenci sikap Cheonsa, namun dirinya tak menampik jika merindukan juga perempuan tersebut. “Aku merindumu, Cheonsa-ya,” rintihnya.

***

“Tentu saja,” senyum Donghae dengan sumringah membuat gadis di sisinya mengangkat tangannya dengan gembira. “Hari ini pergi kemana?”.

“Bagaimana dengan restoran sushi tempat biasa kita makan? Sudah lama sekali tidak kesana, apalagi denganmu, Oppa,” gadis itu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Duduk di samping Donghae dengan posisi menghadap Donghae.

“Sushi?”.

“Hmm,” sang gadis mengangguk dengan sangat antusias dan mengeluarkan aegyo andalannya. Aegyo yang mampu membuat pria mana pun bertekuk lutut mengagumi kecantikannya.

“Baiklah, Jess. Kita ke sana hari ini,” Donghae mengangguk dan menarik bibirnya membentuk senyuman. Tangannya terangkat dan menepuk ringan puncak kepala gadis tersebut. Dan seketika jantungnya berdegub satu kali dengan kuat, kemudian seakan berhenti. Bukan karena rasanya untuk sang gadis, tapi karena rindunya untuk wanita lain. Jika telapak tangannya bisa bicara maka akan berteriak bahwa dia merindukan tekstur lembut rambut milik wanitanya.

“Aku ikut,” sela Kyuhyun yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Donghae.

***

“Dia punya tangan untuk makan sendiri,” Kyuhyun mengucapkan dengan tanpa dosa. Menyindir gadis yang mengangkat tangannya untuk menyuapkan sushi pada Donghae. Kyuhyun tetap melahap makanannya sendiri, tidak peduli tatapan kesal gadis di depannya.

“Kau ini benar-benar berbakat menghancurkan mood, Kyu Oppa,” kesal gadis itu. Jessica, gadis yang dimaksud, meletakkan sumpitnya dengan kasar di meja. Tangannya disilangkan di depan dada. Dia benar-benar ingin meledak karena sedari tadi Kyuhyun mengganggu acaranya.

“Sudahlah, jangan bertengkar,” Donghae mencoba menengahi.

“Oppa, bukan aku yang mulai, tapi dongsaeng tengilmu satu ini,” Jessica memautkan tangannya di lengan atas Donghae. Kembali merajuk atas sikap Kyuhyun yang sedari tadi mengusik nuansa romantisnya.

Donghae melirik lengannya. Lagi-lagi jantungnya bereaksi untuk alasan yang sama. Lengannya merindukan sentuhan tangan yang selalu berpaut di sana. Jemari-jemari lentik yang bisa dan biasa membuat aliran darahnya berdesir kuat. Bahkan saat dirinya bersama dengan perempuan lain yang tak kalah cantik, pikirannya seutuhnya dikuasai oleh memori tentang bidadarinya.

“Oppa, ayo kita pulang saja,”.

Donghae mengangkat bahunya. “Baiklah,” jawabnya dengan lesu. Dia benar-benar tidak mempunyai nafsu makan lagi saat satu persatu kilasan kenangannya muncul. Astaga! Lama-lama dirinya bisa gila jika rindunya tak terobati segera.

“Makananku belum habis, Hyung,”.

Donghae menahan dirinya untuk berdiri. “Kau bisa meminta pelayan untuk membungkusnya, Kyunie,”.

“Tidak, aku ingin menghabiskannya sekalian di sini,” Kyuhyun mengusap ujung bibirnya. “Dan kau—“ tunjuknya pada Jessica menggunakan sumpit. “Aku sudah mengirimkan pesan pada managermu. Dia sedang dalam perjalanan kemari untuk menjemputmu,”.

“YAA~” pekik Jessica. Sempurna sudah kekesalannya pada Kyuhyun. Makan malamnya dengan Donghae hancur, juga dengan acara mengantarkannya pulang.

***

“Sudah puas, Hyung?” Kyuhyun dengan tenang meletakkan sumpitnya ketika Jessica sudah terlebih dahulu pulang. “Menghindar, bersandiwara, bersuka ria bersama gadis lain, menyiksa diri sendiri, menguntit Cheonsa Noona—“.

“Cukup Kyu!”.

“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan seminggu ini, Hyung?” Kyuhyun menatap Donghae dengan tatapan menghakimi. “Apakah akal pikiranmu terjatuh di suatu tempat?”.

“Tutup mulutmu karena kau sama sekali tak berhak mencampuri urusanku!”.

Kyuhyun menyeringai untuk meremehkan. “Hampir seminggu kau berlaku seperti ini. Bukan menyelesaikan masalah, tapi kau malah membuat masalah baru,”.

“Kau tak pantas menilaiku karna sama sekali tidak tahu yang terjadi, Kyu!” pertama kali selama menjadi Hyung, Donghae mengatakan sesuatu setajam tadi terhadap Kyuhyun.

“Benar. Aku memang tidak tahu masalahmu juga Cheonsa Noona. Tapi mataku cukup lebar untuk melihat kelakuanmu seminggu ini,”. Kyuhyun mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia pun juga tidak tega jika melihat hyung-nya tersebut terluka. “Jika memang ada ganjalan, semestinya kau menemuinya. Bukan menghindar dan mencari kesenangan lain seperti ini. Menggelikan!” desis Kyuhyun.

“Menemuinya? Dia sama sekali tak pantas mendapat perhatianku setelah apa yang dilakukan. Hanya seorang dengan jiwa iblis yang bisa melukai manusia lain sedemikian buruk,”.

Kyuhyun menoleh cepat dan menatap kembali Donghae. “Untuk pertama kali aku mengatakan ini, Hyung. Ja-ga-bi-ca-ra-mu,” tekan Kyuhyun. “Dan benarkah apa yang kau katakan? Kau membenci dan mencintainya secara bersamaan,”.

“Cish,” desis Donghae sebagai tanggapan atas pernyataan Kyuhyun.

“Seharusnya kau bisa merasakan sakitnya kehilangan selama seminggu ini, setelah beberapa bulan lalu merasakan memilikinya,” Kyuhyun berdiri dari duduknya. “Berpikirlah kembali, Hyung. Aku yakin, Cheonsa Noona menunggu keputusanmu,”.

Donghae mendorong punggungnya hingga menabrak sandaran kursi. Dadanya bergemuruh hebat setelah pembicaraannya dengan Kyuhyun. Mungkin sang magnae memang bertindak seenaknya dan terkesan kurang ajar, tapi itulah cara Kyuhyun menunjukkan perhatiannya.

Donghae menggapai ponselnya dan memandanginya dengan galau. Pemikiran yang dulu sempat terlintas di otaknya kini kembali lagi. Hansang Finance. Mungkin saja apa yang menimpa dirinya juga Cheonsa bukan berpusat pada hubungan mereka, namun lebih dari itu, terporos pada keluarga besar Han. Terlalu banyak tabir yang tidak bisa Donghae tembus ketika melihat anggota keluarga Han.

Dia menekan suatu kontak. Mendengar nada tunggu dengan berdebar. “Yeoboseyo, Daniel Hyung. Bisakah bertemu?”

***

“Pulang dan istirahatlah, Sa-ya,” seorang wanita paruh baya mengelus punggung Cheonsa lembut. Matanya menatap nanar keponakan lelakinya. “Biarkan aku yang menjaganya,”.

“Aku tidak lelah, Bi,” Cheonsa bergeming di tempatnya.

Sang bibi mengangkat dagu Cheonsa hingga wanita itu bisa dengan jelas mengamati betapa pucat wajah Cheonsa. “Beginikah raut tidak lelah itu? Pulanglah,”.

“Aku takut melewatkannya, Bi. Aku takut seandainya dia tidak bangun, dan aku tidak di sini menemaninya. Aku sangat takut seandainya—“.

“Dia akan bangun, Sa-ya. Dia kuat,” sang bibi mengelus pipi Kevin lembut. “Pulanglah. Selesaikan dahulu urusanmu, kalian membutuhkan waktu untuk bicara bersama, Sa-ya,”.

Cheonsa menggeleng lemah. Dia mengerti benar maksud dari bibinya ditujukan pada perihal perceraiannya. “Pengacara Park—“.

“Jangan limpahkan sesuatu yang crucial seperti ini hanya di tangan seorang pengacara. Ini hidupmu, kau berhak mengaturnya,” sang Bibi menatap Cheonsa lembut. Tatapan yang sangat Cheonsa rindukan dari seorang ibu. “Sekarang berdiri dan pulanglah,”.

***

Jika mengabulkan gugatan cerai Cheonsa adalah jalannya, mungkinkah dia berbelok? Ucapan dan penjelasan Daniel secara terang-terangan membuat Donghae kembali berpikir ulang. Tiga hari ini dirinya tergerus dalam kekalutannya. Mampukah dia?

Donghae mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Dan seketika hatinya terserang nyeri. Kenapa di saat wanita itu membutuhkan dirinya sebagai penopang, dia tidak ada. Memilih menghindar dan membuat kesimpulan dangkal. Terlihat dengan jelas di matanya, betapa raut wajah sang istri begitu pucat dan mendung.

Ada gumpalan-gumpalan penyesalan di dadanya. Melihat betapa rapuh wanita itu, agaknya dia akan roboh jika tersenggol sedikit saja. Bagai sebuah abu kertas yang akan hancur jika tersentuh. Bibirnya terlipat ke dalam, menahan perih yang menggerayang hati. Donghae berdiri dan mengambil langkah mengikuti Cheonsa.

Donghae memerhatikan punggung wanitanya dari kejauhan. Dia tetap menjaga jarak dengannya. Berjalan lambat mengikuti langkah Cheonsa. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Demi apa pun, dia sungguh merindukan wanita di depannya tersebut. Tapi, apa yang bisa dilakukannya? Berlari dan merengkuh wanita tersebut dalam peluknya? Tidak. Donghae hanya menggeleng pelan untuk menghapus hasratnya.

Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika Cheonsa juga menghentikan langkahnya. Donghae mengerutkan dahinya saat melihat Cheonsa seperti mengurut keningnya. “Apakah dia sakit?” pertanyaan Donghae melayang di angannya saja. Beberapa saat kemudian, dia ikut menggerakkan kembali kakinya ketika Cheonsa melanjutkan jalannya.

Punggung sempit itu, tubuh mungil itu, semua ragawi yang nampak di depannya itu, Donghae sungguh ingin menggapainya. Meluapkan segala rindunya. Namun nyatanya, egonya terlalu besar untuk sekedar mengakuinya. Selangkah, demi selangkah Donghae mengikuti Cheonsa.

Detik berikutnya, langkah lambatnya berubah menjadi cepat. Dengan sigap tangannya menangkap tubuh Cheonsa yang limbung dan membantunya menyeimbangkan tubuh. Kinerja jantungnya meningkat pesat. Degubnya seakan mampu menghancurkan tulang rusuk. Inilah yang diinginkan. Memeluk dan merengkuh Cheonsa dengan jarak sedekat sekarang. Donghae dapat melihat Cheonsa yang memejam dan meringis menahan sakit di kepalanya.

Cheonsa sadar seseorang menolongnya. Jantungnya merasakan debaran kuat saat orang itu menangkapnya. Dan tak ada orang lain yang mampu menggerakkan jantungnya sedemikian menggila jika bukan suaminya. Dari wangi yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya, Cheonsa semakin yakin pria yang tengah di sisinya kini adalah Donghae. Perlahan, Cheonsa membuka matanya meski pandangannya masih terasa berputar-putar. “Hae-ya,” lirihnya. “Gomawoyo,” Cheonsa tersenyum tipis. Tak ingin menyusahkan Donghae, tangan Cheonsa menggapai-gapai tembok di sampingnya untuk menjadi peganggan.

Donghae mengeraskan rahangnya saat melihat sang istri berusaha melepas pegangannya dan mencari peganggan lain. Darahnya berdesir kuat, mulutnya seakan ingin meneriakkan keberadaannya di sana. Suami mana yang tega membiarkan istrinya bersandar pada hal lain sedangkan dirinya berada di sisi sang istri. Donghae meraih tangan Cheonsa yang sedang berusaha menggapai tembok. Dia membimbing tangan Cheonsa ke depan dadanya dan meremasnya di sana. “Aku di sini, Cheonsa-ya,”.

“Hae,” tak ada kata lain yang sanggup keluar dari mulut Cheonsa. Dia terlalu malu untuk berharap Donghae memerhatikannya. Lututnya terasa tak bertulang saat pening kembali menyerang kepalanya.

Donghae mengeratkan pegangannya pada Cheonsa ketika merasakan tubuh wanita tersebut melorot. Dia sedikit menunduk dan melingkarkan tangannya pada lutut Cheosa untuk membopong tubuh sang istri. “Kita pulang, kau butuh istirahat,”.

Cheonsa merespon dengan anggukan. Seluruh badanya terasa tak bertenaga setelah hampir sepuluh hari menemani Kevin di RS. Tangannya dilingkarkan di leher Donghae.

***

Donghae mengusap lembut pipi Cheonsa “Ini kedua kalinya kita berada dalam kondisi seperti ini,” monolog Donghae. “Aku tak peduli lagi, apakah jiwa sesosok malaikat ataukah iblis yang bersemayam di tubuh ini. Karena faktanya, hatiku sudah terenggut semuanya olehmu,” Donghae mencondongkan tubuhnya dan mengecup pelan bibir Cheonsa agar tak membangunkannya.

“Jadi kumohon, jangan rapuh, jangan terluka seperti ini karena aku juga merasakannya untukmu. Di sini ada aku,” Donghae menenggelamkan wajahnya di lekukan leher sang istri. Terisak pelan di sana. Menumpahkan segala kebodohannya dan meratapi jalan yang dia pilih. “Dan haruskah aku melepasmu?”.

Perlahan mata Cheonsa membuka ketika merasakan leher dan bahunya yang basah. Dia terdiam, membiarkan nuansa kelam itu menyelimuti mereka berdua. Setetes demi setetes, air mata itu mengalir jua. Merasakan sesak yang sama dengan lelaki yang memeluknya kini.

Keduanya terlarut dalam kesedihan masing-masing. Mengutuki diri sendiri yang tak bisa melindungi apa yang mereka miliki. Dan jika jalan yang disuguhkan ternyata begitu terjal, lalu apakah ego mereka akan tegak berdiri? Tidak. Bahwa akhirnya, hasrat untuk saling memiliki itu terganti dengan saling melindungi.

Donghae menegakkan badannya kembali. Memalingkan wajahnya untuk mengusap bekas air matanya. “Maaf, aku terbawa emosi,” Donghae masih tidak mengalihkan pandangannya pada Cheonsa. “Istirahatlah, aku ada di luar jika kau membutuhkanku,”.

Cheonsa ikut bangun saat Donghae menegakkan badannya tadi. “Please,” dia memegangi lengan Donghae saat lelaki itu akan beranjak pergi. “Pertimbangkan permintaanku. Dan sekali lagi, maafkan aku,” perlahan tangannya merosot dari lengan Donghae. Cheonsa hanya mampu menundukkan wajahnya.

Donghae menatap ke arah Cheonsa. Dilihatnya ketulusan dari sang istri. Selanjutnya, kedua lengan kokohnya melingkar, melingkupi, dan menenggelamkan tubuh Cheonsa di dalam pelukkannya. “Percayalah padaku. Untuk kali ini, percayalah padaku,” ulangnya.

Merasakan kehangatan yang dirindunya, Cheonsa mulai terisak kembali. Semakin dibenamkan wajahnya di dada Donghae. Menyesapi segala kasih sayang yang lelaki itu berikan. Bahu Cheonsa semakin bergetar, tangannya meremas kemeja depan Donghae untuk menyalurkan laranya. Tangisnya semakin pecah, dan malam ini dia tidak menyembunyikannya lagi. Tidak merasa malu saat suara isakannya mengeras.

Donghae semakin mengeratkan dekapannya. Mencoba memberikan rasa aman pada wanitanya. Dia menciumi puncak kepala sang istri. Bohong, jika hatinya tidak terluka. Sangat. Tapi, untuk wanita yang dipeluknya kini, dia tidak bisa untuk berlaku egois. Perempuan ini adalah tanggung jawabnya. “Kita akan baik-baik saja. Percayalah padaku—“ dia mengelus punggung Cheonsa lembut, “—Cinta,”.

TBC*

Note: Hoho, Ok, part ini memang masih banyak yang menggalau. Tapi aku udah kasih sedikit harapan (?) di adegan Donghae-Cheonsa yang terakhir.

Untuk HyunMi Kim yang menyampaikan bahwa pernikahan dalam Kristen atau Katolik tidak terceraikan jika disempurnakan dengan hubungan suami-istri. Maaf aku belum juga menemukan referensinya. Aku memang pernah baca itu di suatu fanfic fav aku. Tapi, kalau cingu mau share lebih, aku sangat terima lho.

Kemarin udah googling tapi untuk umat Kristiani, makna perceraian sendiri terdapat dua pendapat berbeda. Maaf aku lupa untuk mengutipnya. Dikatakan bahwa memang apa yang dipersatukan Tuhan tidak terceraikan oleh upadaya manusia (maaf jika ingatan saya lemah (_ _)m ).

Pendapat 1: diimbuhkan, bahwa karna manusia itu banyak yang berbuat dosa, maka perceraian itu kelak tidak bisa dihindarkan.

Pendapat 2: bahwa perceraian itu bisa saja terjadi jika zina. Dan untuk pendapat ini, masih terdapat pemaknaan yang lebih mendalam lagi. Dan bukan kapasitasku untuk bicara karena aku sendiri muslim. Takutnya nanti salah kata dan malah menyingung sebagian dari kalian.

Intinya, aku tidak bisa menulis lebih mendalam atas makna perceraian umat Kristiani. Karna menurutku, itu adalah topik sensitive. Dan hanya sebatas inilah aku bisa mengambilnya untuk kumasukkan dalam karyaku. Jadi, ambil cerita ini sebagai sesuatu hal kecil saja. OK?

Atau aku malah ingin menanyakan dari sebagian kalian yang membaca ini jika ingin menambahi atau berbagi ilmu tentang itu. Ingat, hanya sebuah pemahaman sebagai ilmu. Jadi hati-hati dalam menulisnya sehingga tidak menyinggung yang lain.

Oh ya, satu lagi tentang kecelakaan Kevin. Istilah medis yang kugunakan, pasti masih banyak yang salah karna itu cuma hasil googling. Jadi jika kalian tahu, tolong koreksinya ya?

Maaf aku lum sempat edit poster, dan di situ hanya tercantum para reviewerku dari awal. Gamsahamida everyone. Bow and bye. I’m waiting for your review. (^^ /

178 thoughts on “Please, Hold On [Part 7]

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s