The Obedient Bride [Rule 2]


The Obedient Bride [Rule 2]

Author : Arsvio

Cast : Choi Siwon, Shim Hwa Young

Support cast : Cho Kyuhyun, Park Minna

Rate : PG-16

Siwon menarik kursi di ruang makan hingga menimbulkan deritan yang ternyata tidak cukup menginterupsi aksi Hwa Young di konter dapur. Dia memiringkan kepalanya dengan malas untuk menatap punggung wanita tersebut. Tidak biasa bagi Siwon untuk sarapan di rumah karena menu sarapannya pasti sudah tersedia di ruang kerjanya. Memang apa yang bisa dilakukan oleh pria single super sibuk, kala itu, untuk sarapannya. Tidak mungkin dirinya memasak, meski untuk diri sendiri, karena jujur dia sama sekali tidak mengetahui caranya. Siwon menghembuskan nafas panjang ketika menyadari rutinitas paginya yang berubah, setidaknya untuk beberapa waktu kedepan.

“Tentu, Mom. Aku sudah memasukkan garamnya“. Sayup-sayup, Siwon mendengar pembicaraan Hwa Young. Dia tersenyum kecil dan mengelus dahinya. Tidak mengherankan jika wanita karir seperti Hwa Young sedikit kikuk dengan urusan dapur. Mata Siwon melirik pada tablet yang tergeletak begitu saja di meja makan. Tangannya terulur untuk menggeser tablet tersebut hingga dia bisa melihat konten yang terpampang di layarnya.

Ok, kita sarapan,” Hwa Young menyuguhkan seporsi sarapan di depan Siwon, kemudian dia berjalan memutar menuju kursi makannya yang tepat berada di depan Siwon.

Siwon mengangkat sebelah alisnya untuk memandang hasil masakan Hwa Young. Dia mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. “Not bad,” Siwon dengan lambat mengunyah makanannya untuk mengecap rasa masakan di mulutnya.

Hemm,” Hwa Young hanya bergumam. Tangannya sibuk memasukkan makanan tersebut ke mulut, mengingat waktu yang kian mendesak.

“Kau memeriksa Yahoo Finance[1]?” Siwon mengungkapkan ganjalannya setelah tadi melihat tablet milik Hwa Young. Dia sedikit heran karena seharusnya Hwa Young membuka aplikasi tersebut ketika pasar buka, yaitu pada malam hari waktu Korea, bukan di pagi hari seperti ini dimana bursa Amerika sudah tutup. Tentu saja ini akibat perbedaan waktu antara Korea dengan USA.

Hwa Young sedikit mendongak. “Aku hanya ingin mengecek perkembangan saham saja. Bukan untuk bertransaksi,” ucapnya sembari mengangkat bahu.

“Oh, karena kerja sama itu?”

Yah, Shawn Corp memutuskan menggaet Google. Meledaknya android di pasaran memicu kami meluncurkan produk sejenis juga,” Hwa Young melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Siwon. “Siwon-ssi, adakah sesuatu yang harus kau jelaskan?”

Siwon menghentikan gerakan tangannya, kemudian membalas tatapan Hwa Young dengan dahi berkerut. “Memang apa yang perlu ku sampaikan, nona Shim?”

Hwa Young mengulum bibirnya, terlihat ragu untuk bicara. “Tentang wanitamu, mungkin,” dengan hati-hati Hwa Young menyinggungnya kembali.

Siwon hanya terkikik sekilas untuk meremehkan, lalu melanjutkan makannya. “Setelah kemarin kau menyiramkan air padanya, sekarang kau bepura-pura memedulikannya? Kau wanita cerdas, aku tahu kau pasti mengenalnya.”

Hwa Young memutar bola matanya untuk menunjukkan ekspresi tidak sukanya. “Bukan itu maksudku!” tandasnya.

“Lalu?”

“Sisi kehidupannya atau hal lain yang mungkin akan bersinggungan denganku selama aku menjadi istrimu?” perjelas Hwa Young.

Siwon memiringkan kepalanya. “Pertanyaanmu mengenai kehidupan pribadi Minna adalah hal yang menggelikan,” sindir Siwon.

Hwa Young menghembuskan nafas kesal. Dia menarik tissue dari kotak dan mengelap bibirnya dengan cepat. “Sudahlah, setidaknya aku bisa menyimpulkan sesuatu dari pembicaraan kita pagi ini,” ucapnya sebelum meninggalkan meja makan dengan membawa piring dan cangkirnya untuk diletakkan di bak cuci.

Siwon hanya memandang Hwa Young dengan penuh tanya. Dia sungguh tidak tahu kemana arah pembicaraan perempuan itu. Tapi untuk apa diambil pusing, toh dia juga merasa tidak perlu membeberkan kehidupan pribadi kekasihnya tersebut pada Hwa Young.

***

Siwon mengurut keningnya, kemudian mencopot kaca matanya. Dia memijit pangkal hidungnya untuk sedikit meredakan nyeri di sudut mata akibat terlalu lama terpapar radiasi dari layar laptop. Menoleh ke arah kanan, Siwon menghentikan tangannya yang akan mengambil pena. Foto pernikahannya dengan Hwa Young yang terpigura dengan apik diletakkan oleh sekretarisnya di sudut meja kerja.

Mengambil foto pernikahannya, Siwon mengamati lekat ekspresinya dan Hwa Young yang diabadikan dalam gambar tersebut. Mengamati senyum yang merekah di bibirnya dan Hwa Young, tidak akan ada yang mengira bahwa kedua mempelai tidak bahagia dengan pernikahan tersebut. Helaan nafas cukup panjang keluar dari mulut Siwon seiring tangannya yang memanjang untuk meletakkan foto tersebut di tempat semula.

Siwon mengingat pertemuan pertamanya dengan Hwa Young. Dari kesan pertama, Siwon dapat menilai bahwa Hwa Young berbeda dengan kebanyakan wanita yang ditemuinya. Ekspresi Hwa Young terlalu datar untuk menanggapi setiap hal mengenai detail perjodohan mereka. Suatu mimik wajah yang tidak bisa dibaca oleh Siwon dan di saat bersamaan membuatnya frustasi. Hanya satu kesimpulan yang dapat Siwon tarik kala itu bahwa wanita tersebut, seperti halnya dirinya, tidak berminat dengan perjodohan mereka.

Menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi, Siwon menjalin jemarinya di depan perut. Seharusnya sebagai pria, dia lebih mampu mengatasi emosinya dibanding Hwa Young. Perdebatan di malam pertama mereka membuat Siwon merasa dikalahkan oleh wanita tersebut.

Menggelengkan kepala, Siwon sesungguhnya tidak membenci Hwa Young. Kekecewaannya pada pernikahan merekalah yang mendorong dia bertindak dan bersikap tidak menyenangkan. Mengusap bibirnya, Siwon berpikir untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Hwa Young. Setidaknya selama mereka terikat, dia tetap ingin menjalani hidupnya dengan tenang.

***

“Ah, ya. Kami akan segera mentransfernya,” Hwa young menenteng tablet dan beberapa berkas di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menjaga iphone melekat di telinga. “Sore ini juga,” lanjut percakapannya. “Tentu Tuan Lee. Selamat Siang,” pungkasnya.

Seorang pria yang mengamati sedari Hwa Young memasuki ruang kerja hanya bisa memamerkan senyum miringnya. Kesibukan wanita tersebut bukan pemandangan langka lagi baginya. Dia bangun dari posisi berbaring di sofa tamu ruang kerja Hwa Young, kemudian duduk sembari matanya tak lepas memandang wanita yang berlalu di hadapannya.

“Kyunie? Sejak kapan kau di sini?” sadar Hwa Young saat melihat sahabat kecilnya tersebut di ruangannya.

Well, quite a while,” Kyuhyun bangkit dari duduk dan menghampiri Hwa Young. “Hanya ingin memastikan kau memenuhi janjimu untuk memasukkan akhir pekan bersamaku dalam agendamu,” Kyuhyun menyandarkan pinggangnya di meja kerja Hwa Young. “Kenapa kau tiba-tiba memutuskan teleponmu semalam?” ungkit Kyuhyun saat pembicaraan mereka terhenti karena Hwa Young memutuskan secara sepihak komunikasi mereka.

“Oh, itu aku—“ Hwa Young memilih kata yang tepat untuk menjadi alasannya. Tidak mungkin dia berkata karena dirinya terlalu kaget melihat profil orang yang menjadi klien Aphrodite. “—hanya tiba-tiba ingat telah melewatkan sebuah berkas saja.”

Kyuhyun memicingkan matanya. “Hanya alasan itu membuatmu mengakhiri panggilanku?” selidik Kyuhyun.

“Ya,” jawab Hwa Young cepat. Dia bangkit dari kursi kebesarannya dan berdiri tepat di depan Kyuhyun. “Memang sekretarismu tidak pernah mengingatkanmu mengenai kerapian di tempat kerja?” alih Hwa Young pada topik mereka.

Ugh?” Kyuhyun menundukkan kepalanya untuk memerhatikan penampilannya. Dia bukan tipe lelaki kantoran yang sangat memperhatikan kerapian. Kyuhyun cukup memesona dengan gaya penampilan yang sedikit awut-awutan. Mungkin disitulah letak pesonanya.

Tangan Hwa Young terulur ke depan untuk meraih dasi Kyuhyun. Jemarinya dengan lincah membenahinya. “Astaga, kau harus mendapat pelajaran khusus untuk penampilan diri, Kyunie,” Hwa Young meyapukan tangannya di poni Kyuhyun.

Kyuhyun mengukir senyum tipis di bibirnya. Mengamati wajah Hwa Young dari jarak sedekat ini membuat jantungnya melakukan hentakan yang dia sukai. Hal menarik lainnya, dia dapat mengagumi dengan puas sepasang hazel eyes [2]favoritnya. “Aku lebih rela membuat diriku berantakan jika akhirnya ada seseorang yang akan merapikannya.”

Seketika Hwa Young menghentikan tangannya yang tengah menyisir rambut Kyuhyun. Matanya melirik Kyuhyun sejenak. “Rayuanmu tidak mempan, Tuan Cho,” balasnya lalu kembali pada kegiatannya.

Yak!” pekik Hwa Young ketika pinggangnya ditarik maju ke arah Kyuhyun.

“Lalu katakan padaku bagaimana meluluhkanmu, Youngie,” Kyuhyun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hwa Young. Dia menundukkan kepalanya sehingga praktis memapas jarak wajahnya dengan wajah Hwa Young. “Hmm?” gumamnya saat tak kunjung mendengar suara perempuan tersebut.

Hwa Young terkesiap pelan saat hidung mancung Kyuhyun menyentuh ujung hidungnya. Dia meletakkan kedua tangannya di dada Kyuhyun sebagai defensif diri andai saja pria itu bertindak macam-macam. “Kyu, ini tempat kerja,” ingatnya. Dia ingin secepatnya mengakhiri kontak matanya dengan sepasang iris coklat tua milik Kyuhyun. Tidak ada kata yang dapat mendiskripsikan mengapa jantungnya memberi respon di luar dugaan atas keintiman mereka.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu lepaskan,” Hwa Young sedikit menekankan kedua telapak tangannya di dada Kyuhyun untuk mencoba memberikan sedikit dorongan.

“Kalau aku tidak mau?” Kyuhyun semakin merapatkan tubuhnya. Dia sedikit memiringkan kepalanya. Sungguh nalarnya sudah tidak bisa terkontrol saat menatap mata perempuan tersebut.

“Kyunie…” lirih Hwa Young saat jarak bibir mereka tinggal helaan nafas. Dia sibuk merutuki dirinya yang tak kuasa menjungkalkan lelaki tersebut.

‘…I let it fall, my heart. And as it fell, you rose to claim it…’

Dering ‘Set Fire to The Rain[3]’ milik Adele yang mengalun dari poselnya secara tiba-tiba menyelamatkan situasinya. Hwa Young bernafas lega, sedangkan Kyuhyun segera menjauhkan wajahnya dengan kesal. Lelaki tersebut melepaskan tangannya dari pinggang Hwa Young dan melipatnya di depan dada. Memandang tajam Hwa Young yang sedang mengangkat telephon, Kyuhyun merasakan tangannya gatal untuk membanting ponsel tersebut hingga tak berbentuk.

“Maaf, Kyunie. Kurasa aku harus pergi,” Hwa Young mengangkat kedua bahunya. Memasang raut bersalah, Hwa Young tidak jelas ditujukan untuk apa rasa bersalahnya. Bersalah karena ciuman mereka yang terganggu ataukah bersalah karena dirinya yang mendadak mendapat panggilan dan harus meninggalkan Kyuhyun?

Kyuhyun memelorotkan bahunya. Baiklah, mungkin timing-nya memang tidak pas. “Kuantar,” tawar Kyuhyun saat melihat Hwa Young memasukkan beberapa gadget di tas.

“Ah, tak perlu.”

“Aku memaksa,” Kyuhyun menegakkan badannya. “Oh baiklah,” ucapnya menyerah saat Hwa Young menatapnya dengan melas agar tak mendebat. “Untuk kali ini, Youngie. Tapi jika kau berkeras di weekend nanti, kupastikan aku akan tetap menyeretmu,” ancam Kyuhyun sekaligus caranya agar perempuan tersebut mengingat janji mereka.

***

Untuk kesekian kali Hwa Young memutar pergelangan tangan kirinya unntuk mengecek waktu. Dia memijit pelipis sebagai cara untuk meredakan jenuhnya. Atau sebenarnya sebuah cara untuk menunjukkan pada tiga wanita baya di sekelilingnya bahwa dirinya merasa bosan dengan topik pembicaraan mereka dua jam ini.

“Youngie, seharusnya kau berhenti saja dari pekerjaanmu itu,” ungkit salah seorang dari ketiganya.

“Benar, kau ini sudah bersuami. Biarkan Siwon saja yang mengurusi masalah pemasukkan kalian, sedangkan kau berkonsentrasi saja untuk mengurusi dirimu sendiri juga rumah tangga kalian,” timpal yang lain.

Eomma rasa ada benarnya juga, Youngie. Memang apa yang ingin kau cari dari karirmu?” wanita baya di samping Hwa Young mengamini perkataan kedua wanita temannya. “Tak baik juga jika kalian sama-sama disibukkan oleh pekerjaan.”

Eommonim,” lirih Hwa Young pada ibu mertuanya. Seharusnya dia menolak untuk keluar kantor dan memenuhi undangan mertuanya tersebut. Sudah lebih dari dua jam pembicaraan ibu mertua serta kedua temannya berkisar pada dirinya, rumah tangganya, juga melebar pada brand fashion terkenal.

“Sudah saatnya kau memikirkan hal lain selain bisnis. Wanita sepertimu lebih pantas untuk berhias diri dan membelanjakan uang-uang itu,” canda wanita yang lain.

“Maaf, Ny. Park, tapi ini sudah keputusan kami berdua. Lagipula aku baru dua tahun meniti karirku,” ucap Hwa Young sopan.

Eiy, kau ini masih saja memikirkan Shawn Corp. Mulai sekarang, pikirkan saja bagaimana kau memberikan penerus bagi Hyundai dan bagaimana melayani suamimu itu. Tentu kau tak mau jika Siwon melirik wanita lain bukan?” wanita tersebut menjawil lengan Hwa Young dan melirik kilas Ny. Choi.

Ny. Choi hanya menggeleng maklum dan tersenyum. “Maksud Ny. Lee, belajarlah bagaimana mengurus rumah tanggamu dengan baik agar kelangsungannya langgeng,” Ny. Choi mengelus kepala menantunya dengan lembut. Dia memang sedikit tidak setuju dengan keputusan Siwon dan Hwa Young untuk menunda memiliki anak. Tapi sebagai ibu, dia juga memaklumi keputusan tersebut.

Hwa Young memaksa bibirnya tertarik keluar membuat senyum datar. Bagaimana dia berharap pernikahannya langgeng jika Siwon sudah mengkonfrontasinya sejak awal? Masalah meneruskan keturunan merupakan beban yang lain. Memang harus berapa kali telingannya pengang untuk membahas masalah tersebut. Dengan hati-hati, Hwa Young merogoh ponselnya dan mengetikkan message.

***

Siwon menyurungkan telunjuk pada frame kaca matanya untuk memebenahi letak. Tangannya menggesek touch pad notebook untuk meneliti ulang laporan keuangan Hyundai. Dia menolehkan wajahnya ketika merasakan cubitan di lengannya. “Kenapa?”

“Memangnya aku menyuruh Oppa kemari hanya untuk menyibukkan dirimu dengan laporan itu?” rengek wanita di sampingnya seraya mengerucutkan bibir.

“Ini sudah sangat lewat jam makan siangku dan hampir usai jam kantor. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku bukan?” sebelah tangan Siwon merengkuh pinggang wanita tersebut.

“Kau menyesal menemaniku di sini?” kesal wanita itu. “Jarang-jarang kita mempunyai waktu berdua, Oppa,” manjanya.

Siwon menutup lid notebook dan meletakkannya. Dia kembali merengkuh kekasihnya dalam pelukan. “Apakah aku pernah berkata menyesal untuk waktu yang telah kuhabiskan denganmu, Minna-ya?”

Minna menggelengkan kepalanya di dada Siwon. “Aku hanya ingin kau sepenuhnya untukku saat bersamaku.”

“Memang aku tak seperti itu, hmm?” Siwon sedikit menundukkan kepalanya untuk mengamati wajah cantik kekasihnya tersebut.

Minna mendongak dan menatap wajah rupawan milik Siwon. Memuaskan penglihatannya pada kontur tegas muka Siwon, dia merasa tak pernah puas untuk mengaguminya. “Ragamu di sini, tapi pikiranmu terus saja pada pekerjaanmu,” tuntutnya.

Siwon terkekeh geli. “Bagaimana jika seperti ini?” dia mengecup kilas bibir Minna sebagai usaha menenangkan wanita tersebut.

Umm,” Minna terlihat berpikir sejenak. Namun kemudian, tangannya dikalungkan di leher Siwon. Detik berikutnya terisi dengan ciuman mereka.

Di tengah ciumannya, Siwon merogoh ponsel yang bergetar di saku celana. Dia memutuskan untuk mengakhiri luapan cintanya dan memilih membaca message yang diterima. “Kurasa aku harus pergi,” sesal Siwon setelah melihat raut wajah Minna berubah seketika.

***

Hi, Eomma,” Siwon memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan ibunya sebagai salam.

“Kau mampir untuk menjemput Hwa Young, Wonnie?”

“Ya, jika kalian tidak berkeberatan, aku ingin mengambil istriku,” senyum Siwon pada kedua wanita yang dia sudah kenal baik sebagai teman ibunya. “Annyeonghasimika[4], Ny. Park, Ny. Lee. Apa kabar?” basa-basinya.

“Kami baik. Kau bertambah tampan saja, Siwonnie,” puji Ny. Park dan disetujui dengan anggukan kepala Ny. Lee. “Sungguh romantis sekali pasangan ini,” Ny. Park menyenggol lengan Ny. Lee di sebelahnya.

Siwon hanya tersenyum tipis menanggapinya. Dia mengulurkan tangannya kepada Hwa Young untuk membantu wanita tersebut berdiri. Setelah bermacam obrolan tak penting, akhirnya Siwon dan Hwa Young terlepas juga dari jerat diskusi ketiga wanita baya tersebut.

***

Thanks a bunch,” ucap Hwa Young sesampai mereka di rumah. Dia mencopot high heel yang dikenankannya dengan sedikit kasar, menandakan dirinya dalam mood yang buruk. Untung saja, tidak butuh waktu lebih dari setengah jam bagi Siwon untuk menghampirinya di café, tempatnya juga tiga wanita baya menghabiskan sore.

“Mobilmu akan diambil dari café dan baru diantarkan malam nanti.”

Yah, terima kasih juga atas itu.” Hwa Young berjalan meninggalkan Siwon. Tidak tertarik untuk berbicara lanjut dengan lelaki tersebut karena di setiap pembicaraan mereka selalu terselip perdebatan atau sindiran.

Terkikik untuk menanggapi kekesalan Hwa Young, Siwon menyaku kedua tangannya di saku celana. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi selama hampir tiga jam Hwa Young terperangkap dengan obrolan ketiga wanita baya tadi. “Bukankah berkumpul dengan grup sosialita merupakan keseenangan tersendiri?” goda Siwon.

Hwa Young memutar tubuhnya sehingga bisa berhadapan dengan Siwon yang berjalan di belakangnya. “Bagian mana yang disebut menarik jika pembicaraan hanya berputar pada Prada, Calvin Klein, Gucci, Armani, atau sederet brand yang dikenakan artis Hollywood? Oh, juga dengan petuah bagaimana menjadi istri yang baik.”

Siwon mengernyikan dahinya. Baru kali ini dia mendengar seorang wanita menolak pesona dari brand ternama tersebut. Telinganya sudah hafal benar dengan deretan merk tersebut karena baik eomma ataupun Minna sering menyebutnya. Untuk wanita terakhir, tak jarang dia mengeluarkan budget untuk memenuhi hasrat belanjanya. “Apakah GOOG, AAPL, atau IBM [5] lebih mampu memikatmu?” senyum Siwon tanpa sadar.

Yah, itu lebih baik. Setidaknya deretan simbol itu itu bisa mendatangkan keuntungan.” Hwa Young kembali memutar tubuhnya dan siap melangkah menuju kamarnya, kamar Siwon tepatnya.

“Mungkin sedikit hadiah dariku bisa memperbaiki mood-mu, Nona Shim?”

Langkah Hwa Young terhenti. Dia menolehkan kepalanya ke belakang dan menunggu kata selanjutnya dari Siwon. Merasa penasaran dengan apa yang dimaksud lelaki tersebut, kening Hwa Young mengernyit.

Siwon melangkahkan kakinya dan menyalip Hwa Young. Dia berhenti tepat di depan pintu sebuah kamar dan berdeham. “Semoga kau menyukainya.” ucap Siwon sambil memutar kenop pintu.

Hwa Young mengitarkan pandangannya pada ruangan yang ditunjukkan Siwon padanya. Ruangan yang didominasi warna soft pastel seperti biru, ungu muda, dan cream. Tangannya menelusuri ranjang king size dan furniture yang mengisi kamar tersebut. Dia tersenyum ketika menyadari bahwa kamar ini ditujukan untuknya.

Siwon menyenderkan badannya di daun pintu dan melipat kedua tangannya di depan dada. Mengamati wanita yang tengah terpesona dengan hadiah kecilnya, tanpa sadar bibirnya tertarik membentuk senyum. Kepalanya yang memiring menyatakan bahwa dia juga antusias dengan ketertarikan Hwa Young.

“Bagaimana kau mengetahui selera warnaku, Siwon-ssi?”

Siwon sedikit terkejut saat tiba-tiba Hwa Young menatapnya. “Err, itu—“ Siwon mengurai lipatan tangannya.

“—Eomma?” tebak Hwa Young.

Yeah, aku menginterogasi Eommonim,” aku Siwon. Lelaki ini hanya ingin melakukan semuanya dengan sempurna, termasuk dekorasi kamar Hwa Young. Meski sebenarnya dia membenci pernikahan mereka, tapi dia tidak bisa membenci Hwa Young karena wanita tersebut tak lebih seperti dirinya. Korban dari sistem perjodohan yang orang tua mereka ciptakan. Daripada berperang dan bersikap dingin yang akan menguras emosi, bukankah lebih baik berdamai? Toh, baik dia maupun Hwa Young sama-sama mengerti situasi mereka.

Once more, thanks a lot,” Hwa Young menatap lekat Siwon.

You’re welcome,” sedikit risih saat pertama kali Hwa Young memberikan senyum dan tatapan yang berbeda pada dirinya, Siwon menjadi salah tingkah. “Baiklah, nikmati kamarmu,” dia mengusap tengkuknya.

“Tunggu,“ Hwa Young dengan cepat menghampiri Siwon. Telunjukkan menggantung tepat di depan bibir Siwon. “Bibirmu terluka.”

***

Aau…” ringis Siwon saat Hwa Young membersihkan darah di luka bibirnya yang sudah mengering sebagian.

Hwa Young masih berkonsentrasi untuk mengobati luka Siwon. Dia sedikit mengambil jeda saat Siwon memundurkan wajahnya. “Luka tergigit karena kecerobohanmu ataukah—“ Hwa Young ragu meneruskan perkataannya kemudian hanya mengedikkan kepalanya sebagai isyarat. Dia hanya menelisik dari letak luka tersebut yang agak di bawah bagian bibir. Agaknya sedikit kemungkinan seseorang tergigit oleh dirinya sendiri di bagian bibir serendah itu.

Yeah…” Siwon salah tingkah menanggapi pertanyaan Hwa Young. Suatu hal yang gamblang bahwa lukanya disebabkan sesuatu hal lain selain dirinya sendiri.

Hwa Young hanya menggeleng. Sebenarnya ada sedikit rasa tak suka yang tiba-tiba tumbuh di hatinya, mengingat bagaimana dia pernah memergoki lelaki tersebut berciuman. Juga dengan fakta lain tentang gadis yang bernama Park Minna yang menjadi kekasih hati suaminya. Mungkin hanya sebuah rasa empati saja.

Siwon kembali meringis ketika Hwa Young mengoleskan obat luar di lukanya. Namun, dia tetap menahannya. Tanpa sengaja, matanya menjelajah wajah wanita di depannya. Hidung mungil bangir, bibir tipis, shaping melingkar di lekukan dagunya, semua tercipta dengan sempurna. Oh God! Bodohkah dirinya ketika baru menyadari mata bulat Hwa Young yang indah dengan warna coklat keemasan? Entah dari mana perasaan menghangat menyeruak di hatinya. Tidak berdebar, hanya desiran-desiran halus yang menggodanya.

Mungkin benar, Hwa Young tidak secantik kekasihnya. Sekali melihat, orang akan menilai bahwa Minna sangat memukau, sedangkan Hwa Young, kau cukup mengatakannya manis saat pertama bertemu. Namun, ada sesuatu di diri Hwa Young yang memuat orang tak jemu memandangnya. Sebuah gravitasi yang mampu menyedot perhatian orang-orang yang berdekatan dengannya.

***

Eugh,” Hwa Young memanjangkan tangannya dan menjinjit lebih tinggi untuk menggapai stiletto di rak. Dia menghembuskan nafas kesal saat dirinya tak mampu menggapainya.

“Butuh bantuan, Nona Shim?” Siwon dengan mudahnya menggapai benda yang dimaksud Hwa Young. Dia masih menahan tangannya untuk menurunkan benda tersebut dan malah menunduk memerhatikan Hwa Young. “Ternyata kau hanya setinggi ini?” ejeknya pada tinggi badan Hwa Young yang hanya mencapai pundaknya.

Ne, aku memang tidak setinggi model kebangganmu itu,” balas Hwa Young malas.

Siwon terkekeh kemudian meletakkan stiletto yang diambilnya di lantai. “Tapi aku cukup kagum dengan tingginya kemampuanmu,” puji Siwon tiba-tiba. Dia menarik ulur perdebatan kecil mereka. Memulai dengan cemoohan, namun memberikan pujian di akhirnya.

Gomawoyo,” walau kesal, Hwa Young masih memiliki adat untuk berterima kasih. Dia membungkukan badannya untuk memakai stiletto tersebut. Bertumpu pada sebelah kakinya yang sudah memakai stiletto, Hwa Young sedikit kewalahan untuk mengaitkan tali stiletto yang lain. Tubuhnya goyah ketika tidak mencapai keseimbangan dengan sepatu 12 cm-nya tersebut.

Be carefull,” sebelah tangan Siwon meraih lengan Hwa Young. “Tegaklah,” perintah Siwon sembari dirinya berjongkok dan mengambil alih tali stiletto Hwa Young. Tanpa risih Siwon membantu perempuan tersebut memakai sepatunya. “Finish,” ucapnya seraya berdiri.

Gomawoyo,” Hwa Young mengusap lengan atasnya untuk mengusir rasa canggung. Tidak terbiasa dengan perlakuan Siwon yang lembut, sesungguhnya dia merasa heran dengan perubahan sikap Siwon.

Siwon memandangi penampilan Hwa Young. Dalam hati memuji betapa anggun wanita tersebut. Sangat pas dengan gaun Prada strapless[6] selutut bewarna gelap yang dipakainya. Senada dengan dirinya yang memakai tuxedo hitam. “Ayo,” ajaknya.

***

Memasang senyum terbaik, membungkuk hormat dan berbasa-basi, mengenalkan diri mereka sebagai pasangan baru dengan sedikit memberi bumbu bisnis adalah hal yang sedang dilakoni Siwon dan Hwa Young. Hampir satu jam mereka berdua menyapa sesama tamu rekan bisnis dalam jamuan Anniversary sebuah perusahan relasi Hyundai. Siwon dengan fasih bercakap dengan para tamu undangan, dan tentunya, Hwa Young mampu mengimbangi topik yang Siwon angkat. Siwon menyembunyikan senyumnya ketika menyadari betapa dirinya, ternyata, menikmati momen tersebut.

“Nona Shim Hwa Young,” sapa lembut seorang pria dengan senyum menawannya.

Hwa Young hanya mampu tersenyum menanggapi sapaan tersebut. “Siapa yang kau gandeng untuk datang kemari, Tuan Cho?” Hwa Young menarik tangannya yang terselip di lengan Siwon ketika Kyuhyun merangsek maju untuk memberikan kecupan singkat di pipinya.

No body,” ucap Kyuhyun dengan mengangkat bahunya tak peduli. “Ah, maaf untuk melupakanmu Choi Siwon-nim,” Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk menjabat Siwon. “Aku—“

“Cho Kyuhyun, the next generation of Dexxa Finance?” sambung Siwon dengan cepat. Tangannya terulur menyambut tangan Kyuhyun. Bibirnya membentuk senyum kecut. Walaupun Siwon abai pada pernikahannya, namun dia tetap tidak enak hati ketika Kyuhyun dengan lugas mencium sang istri di depan matanya sendiri. Dia bukan cemburu, melainkan menanggung rasa tidak dihargai.

Yeah,” Kyuhyun menepukkan kedua tangannya. “Choi Siwon-nim, semoga Anda berkenan meminjamkan istri Anda untuk berdansa denganku,” tekan Kyuhyun pada kata istri. Dia kembali mengangkat tangannya, namun kali ini tepat di depan Hwa Young.

“Ada yang salah denganku?”

“Tidak,” Kyuhyun menggeleng.

“Lalu mengapa menatapku sedemikian rupa?”

“Kau nampak cantik dengan gaun ini,” puji Kyuhyun sembari menatap lekat kedua mata Hwa Young. Tubuh mereka bergerak pelan seiring dengan alunan melankoli lagu yang tengah diputar. Kyuhyun mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Hwa Young.

“Kau memujiku atau memuji selera fashionmu, tuan Cho?” Hwa Young melirik jenaka ke arah Kyuhyun.

Actually, both of them,” gumam Kyuhyun.

Thanks a bunch for giving me such beautiful gown.”

“Hanya sebuah ucapan terima kasih untuk sebuah gaun Prada?”

“Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk berdansa.”

“Belum setimpal.”

“Memenuhi janjiku untuk menghabiskan weekend ini denganmu?”

Kyuhyun tersenyum tipis. “What a deserve gratitude,” bisik Kyuhyun sembari menundukkan kepalanya. Dia menajamkan penglihatannya untuk memandang seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. “Kurasa aku memang harus membayar sedikit lebih mahal untuk bisa berdansa denganmu.”

Kening Hwa Young berkerut. Dia mencebikkan bibirnya, antara tak mengetahui maksud Kyuhyun dan mencibirnya. “Kau menghiperboliskan sesuatu, Kyunie.”

“Apa berlebihan jika aku harus bersiap diterkam oleh,“ Kyuhyun mendekatkan mulutnya di telinga Hwa Young, “suamimu.”

Kerutan yang terbentuk di antara alis Hwa Young semakin kentara. Dia benar-benar tak mengerti arah omongan Kyuhyun. Sejauh ini, Siwon tidak peduli mengenai dirinya.

Kyuhyun membuat gerakan melingkar seirama lagu hingga membuat dirinya dan Hwa Young bertukar posisi. Hwa Young dapat melihat dengan jelas suaminya dari balik pundak Kyuhyun. “What’s wrong with his expression?”

Di sisi lain, Siwon mengeraskan rahang pada pemandangan di hadapnya. Beberapa kali terlihat dia melongokkan kepala diantara tamu yang disapanya untuk mengamati seseorang. Dia kesal karena pendamping pestanya berpindah tangan dan lebih menikmati waktu dengan bersua bersama lelaki lain. Berulang kali kepalanya menggeleng pelan mengusir bayangan rasa ketidaksukaannya, tapi dia tidak bisa. Tanpa disadari, tangannya mencengkeram gelas wine dengan amat erat.

Sekali lagi ditandaskan bahwa Siwon tidak sedang cemburu. Dia hanya sebal karena baik Hwa Young atau Kyuhyun tidak menghargai keberadaannya. Mereka berdua asyik menikmati momen dengan saling memandang dan bertukar kata secara privasi saat berdansa.

Tak tahan dengan situasi tersebut, Siwon bergerak mendekati pasangan dansa tersebut. Dia melilitkan tangannya di pinggang Hwa Young, kemudian menarik wanita tersebut hingga terlepas dari Kyuhyun. “Maaf Cho Kyuhyun-ssi, aku harus mengambil istriku kembali,” tegasnya.

***

“Kau ini kenapa?” protes Hwa Young ketika mereka dalam perjalanan pulang.

Siwon masih terdiam untuk menata emosinya yang tadi menjadi temperamen. Mata elangnya menatap lurus ke depan untuk terfokus pada jalanan. Bingung dengan penjelasan rasa tidak sukanya pada hubungan Hwa Young dengan Kyuhyun, dia pilih membungkam mulut.

Hah, aku benar-benar tidak mengerti dengan sikapmu tadi!” Hwa Young menghentakkan tangan di pahanya dan menyandarkan punggung pada jok mobil. Dia memilih mengalihkan pandangannya pada hiruk pikuk jalanan di malam hari. Sebuah pemikiran mengisi otaknya saat matanya menangkap baliho raksasa yang mengiklankan sebuah parfum. Baliho dimana terpapar romantisme model wanita yang menjadi ambassador-nya dengan seorang lelaki. “Kau tidak mungkin melakukannya atas dasar cemburu bukan?”

Siwon terkesiap pelan atas pertanyaan Hwa Young. Dia menggeleng dan tersenyum meremehkan. “Apa yang harus aku cemburui, Nona Shim?” ucapnya memecah kebisuannya selama dua puluh menit terakhir.

“Benar. Itulah yang semenjak tadi menjadi pertanyaanku.”

Siwon melirik Hwa Young. Jika dia bisa berkata jujur, maka dia akan memuji kecantikan wanita di sampingnya. Raut wajah Hwa Young semakin indah ketika sorot lampu dari luar menerpanya dan membuat siluet memesona. “Lalu mengapa kau masih menanyakan pertanyaan tersebut?” nada dingin Siwon.

“Hanya sebuah ide gila yang keluar begitu saja dari otakku,” asal Hwa Young yang masih setiap menatap jalanan.

Mau tak mau jawaban Hwa Young membuat Siwon mengulas senyumnya. Mengetuk-ngetukkan jari pada kemudi, dia menahan diri untuk tidak tertawa dengan jawaban perempuan tersebut.

“Atau mungkin rasamu sudah kebas?” Hwa Young mengangkat tangannya dan menunjuk sisi kanan jalan tepat dimana sebuah baliho, yang sama dengan yang dilihatnya tadi, berdiri.

Siwon mengikuti arah telunjuk Hwa Young. Dia mendengus mengetahui maksud wanita itu. Walaupun membenci fakta ini, dia membenarkan perkataan Hwa Young. Hatinya memang sudah tidak merasakan nyeri saat melihat foto mesra kekasihnya dengan model pria yang terpasang di sepanjang jalan. Terbiasa ataukah karena rasanya berkurang? Siwon tidak tahu. Sepengetahuannya hingga saat ini Park Minna, seorang model papan atas Korea, masih mengisi relung hatinya.

“Kau mencampurkan dua kondisi yang berbeda, Nona Shim.” Maksud Siwon adalah Hwa Young yang menanyakan cemburunya pada Minna dan cemburunya pada Hwa Young. Perbedaan kedudukan dua wanita ini di hati Siwon sungguh jelas.

“Bukan. Aku hanya ingin membuat perbandingan.”

“Perbandingan?” heran Siwon.

“Aku ingin mengetahui ditujukan untuk siapa kemarahanmu? Apakah aku ataukah romansa yang terpasang di sepanjang jalan ini?”

Heh, lalu kesimpulanmu?”

Hwa Young menoleh pada Siwon. Memandang pria tersebut dengan tegas, dia mengulum ludah. “Itu untukku dan kesimpulanku berujung pada alasanmu melakukannya.”

Siwon menginjak rem saat matanya menangkap lampu yang menyala merah. Dia menatap balas Hwa Young. “Aku mendengarkan kesimpulanmu.”

“Kau hanya tidak suka propertimu disentuh orang lain,” Hwa Young menekan harga dirinya. Pertama dalam hidupnya dia menempatkan harga dirinya serendah itu untuk disamakan dengan properti.

Siwon menyeringai. “Aku terpukau dengan caramu memandang dirimu sendiri sebagai—“ Siwon menggerakkan tangannya memutar di udara, “—propertiku.” Dia kembali melajukan mobilnya. “Kuakui, aku tidak suka Cho Kyuhyun atau siapa pun menyentuh propertiku.”

Hwa Young menarik ujung bibirnya. “It’s your business, Mr. Choi,” kesal Hwa Young karena dugaannya benar. Tadinya dia masih berharap perkiraannya meleset dan Siwon memberikan kata-kata penghibur. Tapi ternyata, kalimat yang meluncur dari bibir Siwon lebih dari menyakitkan. “Kau sama sekali tidak memiliki hak atas hubunganku dengan Kyuhyun!” tegas Hwa Young.

Siwon membanting setirnya untuk menepi dan mengerem hingga menghentikan laju mobilnya. Amarahnya yang belum juga mereda kini tersulut kembali dengan sekecap perkataan Hwa Young.

“Kau gila!” pekik Hwa Young yang terkejut dengan tindakan nekat Siwon. Bagaimana jika tadi di sebelah kirinya ada kendaraan lain yang melintas? Bukankah mereka akan terpental dan mendapat hantaman keras, mengingat jalur tersebut juga dilalui bus dan mobil lain.

Siwon memutar tubuhnya hingga menghadap Hwa Young. Tangannya terangkat menyentuh dan sedikit menekan dagu perempuan tersebut. Jantungnya berdebar keras sebagai reaksi kemarahan dan kekecewaan pada konten pernyataan Hwa Young mengenai hubungannya dengan Kyuhyun. Mungkin juga alasan lain saat matanya menangkap hazel eyes mengagumkan milik Hwa Young. “Aku masih memiliki hak atas dirimu selama status suami masih kusandang!”

TBC*


[1] Yahoo finance merupakan salah satu fitur yang disediakan di www.yahoo.com yang dikhususkan untuk menyediakan informasi finansial, termasuk data-data perusahaan.

[2] Hazel eyes: warna mata coklat keemasan.

[3] Set Fire to The Rain: adalah lagu soundtrack original dari film Trilogi The Hunger Games yang pertama. Lagu ini dibawakan oleh Adele.

[4] Annyeonghasimika: suatu salam dalam tingkatakn yang digunakan kepada orang tua atau orang penting.

[5] GOOG merupakan kode finansial dari Google, Inc; AAPL merupakan kode finansial Apple, Inc; sedangkan IBM merupakan kode finansial International Business Machine Corporation.

[6] Strapless: gaun yang tidak bertali bahu.

260 thoughts on “The Obedient Bride [Rule 2]

  1. Cieeee siwon mulai menaruh rasa haha. suka sama karakter kyu (yaelah ini kyu mau diapain aja perasaan suka mulu haha). Penasaran sama endingnya. Hoho

  2. dewiiayuningsih says:

    ya ampun .. Enak bener ya siwon abis main panas bareng pacar gelap nya ekkhh bibi terluka istri yang ngobatiii ..-_-#
    *Kau hanya tidak suka propertimu disentuh orang lain*,,ya ampun hwa young dia itu suamikamu itu cemburu tau kkkkk…. :-Q

  3. Eva Solihah says:

    Di sini siwon sepertinya mulai tertarik dengan kegiatan istrinya.. berarti alan ada kemajuan untuk mereka saling jatuh cinta..
    Selamat deh buat hwa young yg mulai bisa meluluhkan suaminya

  4. jen says:

    maaf ya thor lnngsng comment lg, krn td nacanya sdh di part ke3 tp lupa comment krn keasikan baca. hehe. cerita disini smkn seruu. dan chswn kyknya cemburu itu, tp dia alibi doang gk ngaku sm istrinya. wkwkwk🙂

  5. Maya Sherlita says:

    makin seru aja nih ceritanya…
    kayaknya siwon udah mulai ada rasa-rasa gitu deh sama hwa young wkwkwk
    aku ngerasa kalau profl klien Aphrodite ada hubungannya deh sama minna (?)

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s