Please, Hold On [Part 8A: End]


Please, Hold On [Part 8 A: End]

“I do believe in you.” –Cheonsa Han.

Donghae mengangkat kembali penanya untuk kesekian kali. Dia mendesah, memejamkan mata, dan menoleh kesamping sekedar untuk meredakan dirinya dari liputan keraguan. Sungguh pun, dia tidak menyukai apa yang sedang dilakukannya kini.

“Aku tak bisa menjanjikan apa pun kecuali keselamatan Cheonsa. Hingga nafasku terputus, dia tetap akan kupertahankan,” Daniel memandang Donghae dengan tatapan tegas. Memberikan tekanan tentang apa yang baru saja diucapkan.

“Tapi, sekarang dia adalah tanggung jawabku, Hyung,” Donghae membalas tatapan Daniel. Menegaskan bahwa dialah suami dari Cheonsa, seseorang yang pantas untuk menjadi penanggung atas wanita tersebut.

“Masalah Hansang tidak sesimpel itu, Hae-ya. Lihatlah ini,” Daniel menyodorkan hasil penyelidikan yang dilakukannya. Semua tentang fakta keluarga tersebut, mulai dari bunuh diri Ny. Han, konspirasi Tuan Han, juga percobaan pembunuhan Cheonsa.

Donghae membuka matanya dan menatap kembali dokumen di tangannya. Matanya menyusuri kembali konten yang ada di dalamnya. Membuat dadanya merasakan sesak yang sangat. Menjadikan nafasnya tersendat di kerongkongan dan serasa membakarnya.

Dia mengangkat gengaman tangannya untuk menutup mulut. Ada setitik air mata yang secara nyata siap untuk meluncur. Mengapa dia harus memilih jalan ini? Tidakkah ini adil?

“Kenapa memberitahukan ini padaku, Hyung?” Donghae membaca ulang arsip yang diserahkan Daniel. Menatap dengan tidak percaya pada fakta-fakta yang tertera di dalamnya.

“Karena keputusan di tanganmu, Hae-ya,”.

“Maksudmu, Hyung?”.

“Lepaskan Angel. Aku memintanya kembali,”.

Dan permintaan Daniel secara langsung membuat kepalanya bagai dihantam palu. Donghae merasakan pening yang tiba-tiba menyergap.

Donghae menggeleng pelan untuk mengusir kelebat memorinya. Mengapa harus seperti ini? Tidak adakah jalan lain yang harus dia tempuh? Mengapa semua terasa menyakitkan?. Semua pertanyaan menuntut itu berputar di otak Donghae.

Tangan Donghae beralih mengurut dada saat air mata membuat tapak di pipinya. Berharap dengan gerakannya tersebut bisa sedikit meredakan gemuruh di dada. Tapi, kenyataannya tidak sama sekali. “Kenapa begitu sulit, Sayang?” rintihnya.

“Aku tidak bisa Hyung!” tegas Donghae untuk ketiga kali saat Daniel mendesaknya. “Aku tidak bisa untuk mempertaruhkan pernikahanku,” ucapnya pelan. “Tidak bisa,” dia menggelengkan kepalanya.

Daniel menghela nafas panjang. “Terima kasih karena mencintai adikku,” Daniel memalingkan wajahnya. Dia tahu pembicaraannya bersama Donghae akan alot. Bahwa dia sedikit banyak merasakan ada di posisi Donghae.

“Tidak adakah jalan lain?”.

Daniel menggeleng pelan. “Jalan tunggal yang aku sarankan hanya ini,”.

“Tapi kenapa, Hyung? Ini rumah tanggaku,”.

“Karena dengan adanya proses cerai, maka semua asset pribadimu juga milik Angel akan dibekukan sementara untuk perhitungan harta perkawinan. Akibatnya, tak ada seorang pun yang bisa menyalahgunakan harta warisan Angel dalam kurun waktu proses tersebut,”.

Donghae menatap pria di depannya. Tak ada keraguan secuil pun tentang kharisma dan kinerja pria tersebut. Dia yakin, Daniel akan menepati kata yang terucap dari mulutnya. “Apakah Hyung menjanjikan keselamatannya, andai saja aku melepasnya?”.

Daniel mengalihkan wajahnya hingga menghadap Donghae kembali. “Demi seluruh hidupku,”. Dia menelisik perasaan terluka yang terpancar dari ekspresi Donghae. “Berikan aku waktu, Hae-ya,”.

Tangan Donghae bergetar ketika ujung penanya mulai menggores dokumen yang sejak tadi membuatnya risau. Perlahan dia menggerakkan tangannya untuk membubuhkan tanda tangannya di sana. Digigit bibir bawahnya untuk menahan perih yang mengiris hatinya. Dan air mata itu susul-menyusul untuk menganak sungai di pipinya. Menumpahkan lara dari sang pemilik.

Daniel berdiri dan mendekat ke arah Donghae. “Bantu aku menjaganya. Aku percaya, kau bisa melakukannya,”.

Donghae tersenyum getir. Dia mengangkat tangannya untuk menjabat Daniel. “Semoga keputusanku adalah yang terbaik baginya,”.

Donghae memeriksa ulang dokumen tersebut. Tatapannya terpaku pada goresan tanda tangannya yang sedikit tak beraturan. Menandakan bahwa dirinya gemetar ketika melakukannya. Dia meletakkan pena dengan pelan, kemudian membereskan berkas tersebut.

***

Cheonsa membiarkan tangannya jatuh terkulai di sisi tubuh. Berita yang baru saja diterimanya dari sang kakak cukup membuat moodnya turun drastis. Mungkin hari ini adalah titik awal dari hari-hari berat yang akan dilaluinya nanti. Adakah hal lain yang bisa membuatnya terpuruk lagi? selain suatu fakta bahwa perceraiannya telah didaftarkan di pengadilan negeri?

Cheonsa memutar tangannya untuk melihat layar ponsel tatkala benda tersebut bergetar. Dia mengulum bibir atasnya saat melihat nama yang tertera di iphone-nya. Jarinya bergetar untuk menswap screen. Dengan perasaan campur aduk, dirinya mengangkat panggilan tersebut.

“Hi,”. Jantungnya mulai berdegub lebih kencang. Tangannya yang bergetar mengeratkan cengkeramannya pada ponsel.

“…”

“Shiftku berakhir pukul 04.00,”. Cheonsa menilik jam tangannya. Masih ada waktu kurang lebih 4 jam sebelum waktu kerjanya berakhir.

“…”

“Tidak. Dia belum juga sadarkan diri,”. Cheonsa menolehkan pandangannya pada Kevin yang masih lelap dalam dunia bawah sadarnya. Hari yang cukup melelahkan baginya karena selain menangani pasiennya, dia harus bolak-balik mengecek keadaan Kevin.

“…”

“Sore ini Bibi akan menjaganya,”.

“…”

“Sure. Catch you on the flip side,”

Choensa masih menempelkan ponselnya di telinga meski sambungannya telah terputus. Dia masih berkeinginan untuk mendengarkan suara lelaki yang baru saja menelphonnya. Detik terus berjalan, dan tak ada tanda lelaki tersebut mengulang telephonnya. Dengan lesu, Cheonsa menurunkan ponsel dari telinganya.

Cheonsa meraba dadanya, tempat beribu perih mendera. “Apakah janjimu bisa kau pegang, Hae-ya? Bahwa kita akan baik-baik saja?” monolog Cheonsa. Karena baru saja semua dimulai, tapi dirinya sudah merasakan ketidakmampuannya untuk menjalani hidup dengan baik tanpa lelaki itu.

***

“Berapa lama waktu paling cepat hingga surat panggilan sidang keluar?” Daniel menarik suatu garis pada ipadnya dengan stylus.

“Kurang lebih tiga minggu, Sajangnim,” tuan Jang melanjutkan pekerjaannya untuk membereskan berkas-berkas.

“Apakah dalam tempo itu kita bisa meminta pernyataan bahwa perceraian sedang dalam proses?”.

Tuan Jang terhenti sejenak, lalu memiringkan kepalanya. “Akan sulit, karena surat gugatan cerainya baru masuk dalam pendaftaran. Sepertinya harus menunggu hingga Lee Donghae-ssi menerima surat tersebut beserta panggilan sidang mediasi pertama,”. Tuan Jang berdeham untuk menarik perhatian Daniel. “Apakah perlu mengurus hingga ke Vatikan?”.

Daniel menghentikan gerakan tangannya untuk membubuhkan beberapa note di ipad, lalu menegakkan tubuhnya. “Aku bahkan berharap semua ini tidak perlu Jang-ssi. Semoga lamanya sidang mediasi memberikan cukup waktu bagiku membereskan semua,”.

Tuan Jang mengangguk paham. “Waktu tenggang pendaftaran berkisar 3 minggu, ditambah dengan waktu sidang mediasi selama tiga kali berturut-turut di tiap minggu. Jadi, kita hanya memiliki waktu kurang lebih 6 minggu atau 1,5 bulan,” perjelas Tuan Jang. “Dan penyelidikan kita mengenai orang bernama Woon paling cepat keluar dalam 2 minggu,”.

Daniel mengerutkan alisnya untuk sejenak berpikir. “Artinya kita memiliki 1 minggu, hingga jatuh surat panggilan dari pengadilan pertama Cheonsa, untuk memancing wanita itu,”.

“Benar, Sanjangnim. Hanya saja saya ragu, apakah kita dapat menyelesaikannya dalam tempo sesingkat itu? Butuh puluhan tahun membangun Hansang Finance hingga sebesar ini. Pun, juga butuh waktu tahunan bagi tuan Han untuk menyusun konspirasi. Namun, kita hanya memiliki waktu 1,5 bulan untuk menyelesaikan semua kekacauan,” ucap tuan Jang pada ganjalan hatinya.

Daniel mengusap wajahnya, kemudian menumpukan jemarinya yang tertekuk pada dagu. “Maka pertanyaan tersebut, mulai sekarang harus kuubah menjadi pernyataan bahwa kita mampu menyelesaikannya dalam waktu singkat,”.

“Ah, ye,” dengan sigap Tuan Jang menanggapi kepercayaan diri atasannya.

“Susun janji dengan Bibi, Jang-ssi. Aku tidak ingin membuang waktu lagi untuk mengusut orang-orang dibelakang wanita itu,”.

***

Sebelah tangan Cheonsa terangkat ke depan sebagai indera peraba, sedangkan sebelah tangannya lagi menggenggam dengan erat jemari Donghae. “Apa yang sebenarnya kau siapkan Tuan Lee?”. Dia menggerakkan kakinya dengan penuh waspada, seakan tidak terlalu percaya dengan orang yang menuntunnya kini.

“Umm, something that’s makes me busy all day long,” Donghae melebarkan senyumnya. Dia memposisikan diri di belakang Cheonsa hingga telapak tangan kirinya leluasa untuk menutup penuh mata Cheonsa, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan wanita tersebut. “Percayalah pada arahanku, Nyonya Lee,” bisik Donghae di telinga Cheonsa saat merasakan tubuh sang istri tegang karena sikap waspada.

Cheonsa menurunkan tangan kirinya yang terjulur ke udara dan memilih untuk menggapai lengan bawah Donghae yang melintang di samping-depannya. Menikmati hangatnya kulit Donghae melalui sentuhan di telapak tangannya. Dia berusaha sekuat hati untuk menahan kepedihannya. Malam ini terlalu sempurna untuk terbuang percuma. Ironi bukan? Awal paginya dimulai dengan mood yang sudah berada pada level bawah, tapi sore tadi moodnya menukik naik saat Donghae menjemputnya di rumah sakit.

Donghae menyesapi aroma khas sang istri yang selalu dirindunya. Dia menundukkan kepala hingga ujung hidungnya menyentuh pelipis Cheonsa. Menikmati lembutnya kulit Cheonsa melalui sentuhan tersebut. Membuatnya tanpa sadar mengeratkan genggamannya dan semakin menempelkan tubuhnya dengan Cheonsa. “Here we are,” mau tak mau Donghae melepas tangannya.

Mata Cheonsa mengerjap untuk menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang minim dari temaram lampu. Dia membulatkan mulutnya takjub pada sebuah candle light dinner yang disiapkan Donghae. Bukannya mendekat dan menikmati kejutan tersebut, Cheonsa justru memutar tubuhnya hingga menghadap Donghae yang dibelakangnya. “Kau menyiapkannya sendiri?”.

“Eerrr—“ Donghae mengusap-usap tengkuknya dan menunjukkan cengirannya. “Tidak seluruhnya. Yah setengahnya,” Donghae menunjuk meja makannya yang sudah berubah menjadi sebuah meja berkelas persis seperti di restoran mahal. “Cukup membuat Wookie untuk mengacak-acak buku resepnya, juga Kyunnie yang mencak-mencak karena day off-nya kuganggu,”.

Cheonsa terkekeh geli membayangkan tiga personil Suju yang berbeda karakter tersebut bekerja sama menyiapkan surprise untuknya. Dia hanya tidak membayangkan bagaimana Donghae berdebat dan bersikap bossy pada dua dongsaengnya, Ryewook dan Kyuhyun. “Gomawoyo, Hae-ya. Sampaikan juga terima kasihku pada Wookie dan Kyunnie,”.

“Tentu,” Donghae melesat cepat dan menggapai kursi. Dia menarik kursi tersebut dan menyilakan Cheonsa. “Let’s have a dinner,”.

“Thanks a lot,”.

***

Jemari dengan kulit yang mulai menunjukkan dengan jelas keriputnya meraba satu demi satu foto dalam album kenangan. Usapannya pada permukaan album berhenti pada selembar foto wanita dengan hanbook. Foto yang menggambarkan begitu anggunnya sang wanita dengan pakaian tradisional tersebut. Membuat Bibirnya tertarik begitu saja ketika imajinasinya menjelajah di waktu foto tersebut diambil. “Aku bahkan tidak ingat dengan pasti berapa lama waktu terlewati dari masa ini sampai sekarang, Eunri-ya,”.

Dia membuka halaman lain dan menemukan senyum-senyum ceria dari ketiga malaikat kecilnya. Memancarkan wajah berseri tanpa dosa. Dia ingat dengan jelas jenis perasaan yang menderanya ketika tiap malaikatnya lahir ke dunia. Sebuah ledakan haru di dada yang tidak mungin pernah dilupakan. “Semua telah berubah bukan?” monolognya.

Dibenahi letak punggungnya pada sandaran sofa. Tuan Han, orang yang dimaksud, melanjutkan kegiatannya untuk mengenang keluarganya. Ada tusukan halus di ulu hatinya saat pandangannya menatap foto Kevin kecil. “Bagaimana hancurnya dirimu setelah mengetahui semua, Nak?” senyum miris tersungging di bibirnya.

Letak tangannya bergeser pada foto gadis kecil dengan rambut yang dikepang kuda. “Lihat, betapa kecantikan ibumu menurun padamu, bidadariku,” hatinya tergetar dengan kata terakhir. Bahkan sampai putrinya beranjak menjadi wanita dewasa, dia tidak mengetahui segala hal tentangnya. “Sungguh, Appa ingin mendampingimu berjalan menuju altar untuk menyambut lelaki pilihanmu,” angan Tuan Han melayang ketika mobilnya mogok di saat-saat crucial yang berakibat dirinya batal mendampingi Cheonsa menuju altar.

Terakhir, tatapannya terkunci pada foto seorang anak lelaki berwajah rupawan dengan seragam musim dinginnya. “Bagaimana kau bisa tumbuh sesempurna sekarang, Dann?”. Di luar perang dinginnya dengan sang putra sulung, dia sungguh mengagumi kemampuan Daniel dalam keilmuannya. Seorang direktur muda berkredibilitas tinggi dengan sederet prestasi. “Aku ingin tahu, bagaimana waktu menempamu menjadi setangguh sekarang,”.

“Sudah selesai acara melankolimu?” Jung mendekati Tuan Han dengan raut wajah tak sukanya. Dia berkacak pinggang di depan Tuan Han, lalu jari telunjuknya menekan foto Daniel. “Putra kebangganmu mungkin juga akan menghancurkanmu!” geramnya.

Tuan Han menutup albumnya sehingga menimbulkan bunyi berdebam. Dia membalas tatapan sengit Jung. “Aku pernah mewantimu untuk tidak menyentuh mereka,” ingat Tuan Han.

“Apakah sekarang kau memainkan peran sebagai ayah yang baik?” sindir Jung sembari melipat tangannya di dada. Dia mendesis ketika Tuan Han hanya menatapnya dengan penuh amarah. Untuk pertama kali Jung merasakan pandangan menusuk dari Tuan Han semenjak mereka bertemu kembali. “Lihat ini!” Jung melemparkan amplop coklat di meja.

Tuan Han menggapai amplop tersebut dan merogoh isinya. Ada kira-kira 7 foto yang menunjukkan putra sulungnya menemui sang bibi. “Memang apa yang salah dengan ini?”.

Jung mencibir. “Sejak kapan putramu itu akrab dengan bibinya? Aku mulai mengendus sesuatu yang tidak baik dari gelagatnya akhir-akhir ini,”.

Tuan Han mengunci mulutnya. Menahan untuk tidak berpendapat tentang apa pun yang anak-anaknya lakukan. Sebenarnya, dia sudah memprediksi jauh di awal bahwa Daniel dan Cheonsa juga sudah mengetahui rencananya. Pikiran bahwa kemungkinan Daniel akan menjegalnya sempat hinggap di kepala, tapi mengingat waktu dan kuasanya, dia yakin usaha anak tersebut tidak akan berpengaruh banyak.

***

“Aku sudah memutuskan. Dan aku sangat membenci keputusanku sendiri,” Donghae memainkan jemari Cheonsa yang digenggamnya. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang dengan Cheonsa yang berada di pelukkannya.

Cheonsa mendongakkan kepalanya hingga wajahnya bertemu langsung dengan wajah Donghae. “Aku juga,” singkatnya. Setelahnya, dia melesakkan kepalanya di lekukan leher Donghae dan merasakan kehangatan yang segera menyebar dari persinggungan tubuh mereka.

Donghae menarik selimutnya hingga perut. Dia menepuk-nepuk ringan pundak Cheonsa. Merasakan deru hangat nafas Cheonsa yang menyapu kulit leher, menimbulkan sensasi yang menggelitik. “Ada satu pertanyaan yang mengganjalku dari awal. Dan sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya,” Donghae sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat Cheonsa.

“Apa?”.

Donghae tersenyum melihat antusiasme Cheonsa. “Apa yang sesungguhnya menjadi pertimbanganmu untuk memilihku sebagai suami?”.

Cheonsa sedikit tersentak dengan pertanyaan tersebut. Dia bermaksud melepaskan dirinya dari pelukan Donghae, namun pundaknya sudah ditarik lebih dulu. Menjadikannya jatuh kembali dalam pelukan suaminya. “Hae-ya,” Cheonsa memandang Donghae, siap untuk memberikan jawaban. Tapi, tanpa terduga, bibir Donghae menjangkaunya lebih dulu. Hanya sebuah kecupan kilas.

“Simpan jawabannya nanti. Setidaknya kau jadi memiliki hutang padaku, sehingga ada alasan untukku di lain hari untuk menagihnya,” kerling Donghae. “Besok, apartemen ini akan menjadi sepi,” Donghae mengeratkan tangannya di pinggang sang wanita.

“Dan hariku selanjutnya juga akan serupa,” ratap Cheonsa. Matanya sudah tergenang air mata hanya dengan membayangkan hari-harinya tanpa Donghae. Sedari sore tadi, dia berusaha tidak menumpahkan emosinya. Tapi, dalam keadaan sekarang dimana dirinya nyaman dalam dekap hangat Donghae, apa mau dikata? Emosi itu mencuat kembali dalam bentuk air mata.

Donghae menangkupkan sebelah tangannya di pipi Cheonsa. Mengarahkan wajah Cheonsa untuk menghadapnya. “Aku lebih tidak suka jika air mata ini kembali menderai,”. Dia mengecup kedua kelopak mata Cheonsa. Dirinya juga terluka seiring setiap menit yang bergulir. Seolah menit demi menit waktunya bersama Cheonsa berkurang sedikit demi sedikit. Namun, ketimbang mementingkan egonya, ada hati lain yang harus dijaga, hati milik sang istri. “Aku ingin melihatmu tersenyum malam ini, sebagai salah satu kenangan terindah,”.

Sekuat hati, Cheonsa menahan dirinya untuk tidak meneteskan air mata pada pernyataan Donghae. Apakah pernikahannya berakhir segampang ini? Sama halnya ketika dengan gampang mereka bersatu? Easy to come, easy to go. Mungkin kali ini Cheonsa harus mengakui kebenaran proverb tersebut. Dia menggigit bibir bawahnya, tapi apa daya jika perihnya terlalu besar. Setetes air mata pun merembes.

Ibu jari Donghae dengan sigap mengusapnya. Tak tahan dengan gejolak emosi yang juga ditahannya, di detik selanjutnya, dia sudah menjatuhkan bibirnya di bibir Cheonsa. Tubuhnya sedikit tergetar ketika bibirnya merasakan kehangatan yang mulai merembet ke setiap selnya. Lumatan kecilnya berubah menjadi lebih agresif. Dan tangannya menekan punggung Cheonsa untuk menuntut ciuman tersebut lebih dalam.

Donghae melepas tautan bibirnya ketika karbondioksida di paru-parunya berlimpah. Dia mengatur nafasnya agar menjadi normal sambil mengunci tatapan Cheonsa. “Sudah aku katakan, malam ini aku ingin melihatmu tersenyum. Jadi, perlihatkan senyum terindahmu,” telunjukkan bergerak melintang di bibir Cheonsa untuk menyapu permukaannya yang basah.

Dengan berat hati, Cheonsa mengangguk. Dia juga masih sibuk menormalkan detak jantungnya yang menggila. Kemudian, menarik bibirnya untuk membuat lengkungan senyum. Cheonsa sedikit menjulurkan kepalanya mendekat dan mengecup pipi Donghae.

Sebuah senyuman dari Donghae merespon sentuhan tersebut. “Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu pindah ke apartemen yang baru,”.

“Oppa yang menyuruhmu?”.

“Tidak. Aku sendiri yang mencarikan apartemen itu. Untuk menghindari kecurigaan kami memang memutuskan untuk mencarikan kau sebuah apartemen. Akan lebih aman jika kau tidak kembali ke rumahmu,” terang Donghae.

Dan deringan dari sisi meja kecil sebelah Cheonsa membuyarkan percakapan mereka. Cheonsa memanjangkan tangannya untuk menjangkau ponselnya. Dengan buru-buru dia menswap layar iphone tersebut. Sepuluh detik yang mengubah kesenduannya menjadi harapan. “Hae-ya,” senyum kelegaan terpancar sambil tangannya mematikan telephon.

***

“Keadaannya stabil,” dokter Ahn menepuk pundak Cheonsa dan berlalu dengan wajah sumringahnya.

Cheonsa serta Donghae bersegera masuk ke dalam ruang rawat dan menemukan sang bibi yang tengah duduk di samping ranjang Kevin. Ada beban yang terangkat dari pundaknya. Cheonsa menatap Kevin dengan senyum. Di tengah kabar buruk pernikahannya, bersyukurlah Tuhan memberikannya secercah sinar. “Bagaimana kabarmu, Sayang?”.

Derap langkah menyusul dari belakang Cheonsa. Memunculkan sosok sang putra tertua. Perlahan, Daniel mendekat ke arah ranjang dengan kebahagiaan yang terbaca dari wajahnya. Meski demikian, tak ada satu kata pun terucap dari mulut Daniel. Dia memilih diam dan memandangi dengan penuh kelegaan.

Lain halnya dengan orang-orang yang menyambut Kevin dengan suka cita, Kevin sendiri malah enggan menarik bibirnya. Memilih menampilkan wajah datarnya. Matanya menilik satu per satu orang yang mengerubungi ranjangnya. Entah apa yang dirasakannya, yang jelas bibirnya bergerak mengatakan sesuatu. Meski hanya sebuah bisikan, namun itu tertangkap jelas oleh semua yang di sana dari gerak mulutnya. “Pergi,” bisiknya.

Kerutan di kening terbentuk secara serentak di masing-masing wajah yang menatap Kevin. “Sayang—“ tangan Cheonsa terulur hendak menjangkau adik lelakinya tersebut, tapi hanya tertahan di udara saat Kevin memejamkan mata. Sebuah isyarat kecil pada yang hadir, dia tidak ingin diganggu.

Dan di sisi luar, ada seorang ayah yang mengelus dadanya. Dia sudah cukup mengetahui bahwa putra bungsunya berangsur membaik. Bahwa langkahnya terasa berat untuk mendekat. Gemuruh di dada seperti tidak mengizinkannya sekedar melihat putranya secara langsung.

***

“Dia kecewa,” Cheonsa menundukkan kepalanya. Jemarinya saling meremas, menunjukkan dia gugup. Sungguh hatinya merindukan adik lelakinya, tapi semua pupus dengan penolakan Kevin. Cukup lama menunggu hingga Kevin sadar, namun kesabarannya membuahkan kepahitan.

Donghae mengelus kepala Cheonsa lembut. “Dia butuh waktu menerima semua, Sayang,”.

“Aku merindukannya,”.

“Kami pun merindukannya. Cobalah mengerti betapa perasaan Kevin juga terluka dalam pada kenyataan keluarga ini,”. Donghae mengambil kepalan tangan Cheonsa dan meremasnya untuk memberikan dorongan. “Dia membutuhkankan waktu sendiri untuk merenungkan apa yang terjadi. Dan mungkin, memikirkan keputusan apa yang akan diambil untuk menghadapi masalah ini,”.

Cheonsa menegakkan kepalanya dan memandang Donghae. “Aku berharap tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengerti semua ini,”.

Donghae mengangguk. “Percayalah padanya. Dia akan tetap menjadi kebangganmu,”.

***

“Ini data yang kau inginkan,” wanita paruh baya itu melemparkan sebuah amplop cokelat berukuran A4 di meja. “Kita berurusan dengan kakap, Dann,”.

Daniel mengambil amplop tersebut dan memeriksa isinya. Satu bendel dokumen dengan cap ‘Confidental’ di atasnya, cukup menjadi tanda bahwa konten dokumen tersebut sangat penting. Dengan cermat, Daniel membuka halaman demi halaman dan membaca tulisan pada kertas-kertas tersebut. “Penyelundupan narkoba ke wilayah Asia Tenggara,” lirih Daniel.

“Benar. Selama ini hanya antek-anteknya saja yang tertangkap, sedangkan otaknya belum juga terendus kepolisiaan. Aku bahkan yakin, wanita jalang itu sedikit banyak terlibat dalam bisnis gelap ini,” sang bibi menyorotkan tatapan tajam penuh wibawanya. Meyakinkan tentang kecerdasan dan keanggunan yang bersatu di dirinya pada siapa pun yang beradu pandang dengannya.

Daniel menyeringai kecil. “Untuk saat ini, aku hanya membutuhkan lelaki bernama Woon itu sebagai umpan, Bi. Sampai bukti lanjut mengenai keyakinanmu, kita lakukan dulu tahap pertama rencana ini,”.

“Well, itu terserah padamu. Sekali lagi, aku mengingatkan bahwa waktumu terbatas, Dan. Hanya enam minggu untuk mengubah semuanya atau—“ Sang Bibi memberi jeda, “—Pernikahan Cheonsa sebagai pertaruhannya,”.

***

“Antara menyukai dan tidak menyukai,” Cheonsa menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Pandangannya mengitari penjuru apartemen barunya yang bernuansa pale purple. Dia menyukai nuansa apartemen tersebut, namun tidak menyukai kenyataan bahwa dia sendiri yang akan menghuninya. “Ada schedule?” tanya Cheonsa ketika mendapati Donghae mengecek arlojinya.

“Aku menyesal untuk itu,” Donghae mengangkat bahunya. Andai saja dia bisa memperlambat waktu, dia masih ingin berlama-lama melihat wanitanya. Namun kewajiban atas profesinya juga tidak bisa diabaikan. Dia merangsek maju, melingkarkan tangannya di tubuh Cheonsa, dan menarik perempuan tersebut merapat ke arahnya. Dipejamkan matanya menyesapi segala lahiriah istrinya. “Please, hold on,”.

Tubuh Cheonsa bergetar, merasakan gelombang emosi antara dirinya dan Donghae. “If I can pass this through, will you stand there for me?”. Cheonsa mengeratkan tangannya di pinggang Donghae, serasa enggan untuk melepaskan pelukannya.

Donghae melonggarkan pelukannya. Menatap sendu ke dalam manik mata cokelat tua milik Cheonsa. “I will, Cheonsa Lee,”.

Cheonsa membuat senyum dengan bibir tipisnya. “I do believe in you,”.

Dan perpisahan tersebut ditutup dengan tautan bibir mereka. Saling merasakan gejolak jiwa masing-masing. Menyalurkan kekuatan dan tumpukan kerinduan yang akan mereka rasakan nantinya. Dan, memberikan setetes ketenangan.

***

Three weeks after…

“Ini gila,” desis Jung. Tangannya berkacak pinggang, sedangkan kakinya melangkah mondar-mandir. “Bagaimana bisa seperti ini,” wajahnya menegang atas peristiwa yang hampir seminggu menghabiskan energy dan pikirannya.

Tiba-tiba kakinya berhenti, matanya menatap ke arah meja kerjanya. Dengan bergegas, Jung mengahmpiri meja kerja dan menarik keluar salah satu lacinya. Tangannya dengan cekatan meraih sebuah dokumen dari dalamnya. “Mungkin ini akan menolongmu Woon,” dia menatap pada dokumen tersebut. Selembar kertas akta pernikahan Donghae-Cheonsa yang dahulu pernah dia palsukan.

Jung segera memanggil sopirnya, tak ingin menunda waktu lebih lama lagi. Jika terlambat, maka bukan tidak mungkin Woon akan membocorkan keterlibatannya pada bisnis narkoba pada polisi. Hanya dengan menebus Woon, kemungkinan dia akan selamat.

***

“Ini bahkan sudah tiga minggu. Sampai kapan kau akan mendiamkanku seperti ini, Kevin-a?” Cheonsa menurunkan tangannya dan meletakkan sendok yang dipegangnya ke dalam mangkuk.

Kevin memandang Noonanya dengan tajam. Selama hidupnya, baru akhir-akhir ini dia melakukannya. “Dan sudah berapa lama kalian menyembunyikannya dariku?”.

“Dengan bagaimana lagi aku menjelaskan?”.

“Kalian pembohong!”.

Dada Cheonsa naik turun untuk menstabilkan nafasnya yang memberat. “Kami menyayangimu Kevin,”.

“Dengan berbohong padaku, Noona?”.

“Tidak. Kami hanya menunggu waktu yang tepat,”.

“Kapan? Ketika semua sudah hancur?”.

“Kevin,”.

“Aku muak,” Kevin membuat kursi rodanya mundur. Meninggalkan Cheonsa dalam keputusasaan menghadapi sikapnya.

***

“Sajangnim, ada panggilan dari kepolisian,” Tuan Jang menyurungkan sebuah surat.

“Mereka sudah menangkap wanita itu?”.

“Ye, Sanjangnim. Menurut informasi, Ny. Jung ditangkap siang kemarin ketika melakukan penarikan atas asset Nona Cheonsa,” jelas Tuan Jang.

Seringaian terbentuk di wajah Daniel. “Bereskan semua hal berkaitan tentang perusahaan bayangan yang kita buat, Jang-ssi,” perintah Daniel. Dia sudah memperkirakan Jung akan melakukan penarikan sejumlah aset Cheonsa. Dengan segala keahlian dirinya untuk menyamarkan identitas, dia bisa melakukannya atas nama Cheonsa. Namun ada hal yang tidak diketahuinya, bahwa ternyata asset milik Cheonsa sedang dibekukan terkait proses cerai yang sedang bergulir. Dengan begitu, tindakannya langsung dicurigai dan beberapa pihak menghubungi kepolisian untuk melakukan penangkapan.

Tentang perusahaan bayangan, itu hanyalah cara Daniel semata agar perempuan itu menginvestkan uangnya. Sejumlah pundi-pundi uang yang berhasil dikumpulkan wanita tersebut dengan kelicikan tersedot dalam perusahaan rekayasa Daniel. Secara otomatis, ketika Woon ditangkap oleh polisi, saving milik Jung tidak mencukupi untuk menebus lelaki yang telah berjasa pada hidup wanita itu.

“Aku ingin bicara, Dann!” seorang menerobos masuk ke dalam ruangan Daniel dengan geram.

Daniel mengangkat tangannya. “Tinggalkan kami berdua, Jang-ssi,” perintahnya yang langsung ditaati oleh asistennya tersebut.

“Well, apa yang membawa Presdir Hansang menghadapku secara langsung?” Daniel berdiri dari duduknya, memutari meja kerja, dan menumpukan tubuhnya di depan meja.

“Ini semua rencanamu?”.

Daniel menyilangkan tangannya. “Jika yang Appa maksud adalah penangkapan Ny. Jung, maka jawabanku ‘Ya’,”.

Tuan Han mengepalkan tangannya. “Aku yang kau incar, Dann. Bukan Jung,”.

“Apa bedanya, jika hanya masalah waktu hingga aku juga akan membuat Presdir kebanggan Hansang ini membayar semua yang sudah dilakukan,” Daniel menatap tanpa ragu lelaki paruh baya di hadapnya. Lelaki yang seharusnya dia hormati, tapi kenyataan membuat dia berpikir dua kali untuk melakukannya.

“Kau tidak tahu menahu tentang apa yang sudah dialaminya!” bentak Tuan Han. Merujuk pada penderitaan yang Jung alami selama ini. Jatuh bangun wanita itu setelah ditinggalkannya.

“Dan kau juga tidak tahu menahu tentang apa yang keluargamu alami!” balas Daniel tak mau kalah.

“Lepaskan dia, Dann. Semua kesalahan terletak padaku,”. Penyesalan terus bergelayut di diri Tuan Han selama sebulan terakhir. Segala rasa bersalah pada Jung juga keluarganya.

Daniel tersenyum meremehkan. “Haruskah aku melepas seorang yang sudah menghancurkan keluargaku?” retorik Daniel.

“Aku tahu kesalahannya cukup besar. Tapi, dibalik semua, akulah orang yang menyebabkan semua ini,”.

“Fakta itu memang tak terbantahkan. Jadi bersiaplah menghadapi tuntutanmu,” Daniel berbalik untuk mengakhiri perdebatan.

“Aku, tiga puluh lima tahu silam, hanya seorang pemuda dengan tekad membara untuk mengubah nasibku. Dan betapa beruntungnya, dengan kemampuanku, aku dilirik oleh kakekmu yang saat itu berada di posisi Presdir. Jatuh cinta dengan putri seorang Presdir menambah keyakinanku bahwa hidupku akan berubah jika aku bisa memilikinya. Dan, keinginanku terwujud,”.

Daniel memutar kembali tubuhnya. Dia ingin menolak kisah histori hidup ayahnya, tapi mulutnya terkunci. Setelah selama hidupnya dia tidak mendengarkan segala tentang ayahnya, kali ini pertama bagi Daniel menetapkan hatinya untuk mengerti sepelik apa permasalahan ditinjau dari pihak sang ayah,”.

“Namaku Lee Jung Shik,”.

Mata Daniel membesar. Dia tidak pernah mengetahui fakta tersebut.

“Mulai mengerti, Dann? Dengan kekuasaannya, Kakekmu mengubah dan menghapus data diriku, kemudian mengganti identitasku menjadi Han Jung Shik. Kau tahu kenapa? hanya karena dia ingin marganya tetap berkibar, meski putrinya kunikahi. Dan kau pasti tidak akan mengerti betapa harga diriku sebagai lelaki terinjak-injak,”.

Daniel menentramkan gemuruh dadanya. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengeraskan rahangnya. “Tapi itu tidak serta merta melegalkan dirimu untuk membunuh Kakek,” Daniel mengucapkannya dengan nada rendah syarat penekanan.

Giliran Tuan Han yang membulatkan matanya karena terkejut. Tidak disangka, bahwa ada saksi mata lain atas tindakan kejinya. Tubuhnya melemas dengan jantung yang berdetak kuat, dan bibirnya tersungging senyum kecut. “Kau mengetahuinya, Dann?”.

“Aku bahkan mengingat detail bagaimana kau mengarahkan pistol pada Kakek. Juga, mengingat raungan Eomma yang teredam saat mengetahui pertikaian kalian berujung pada terbunuhnya Kakek,”. Daniel memberikan tatapan menghakimi pada ayahnya. “Kau tahu, bagaimana rasanya menjalani hidup dengan menanggung rahasia tersebut?” Daniel memasukkan tangannya ke saku. “Menyakitkan,” jawabnya pada pertanyaan sendiri.

Tuan Han memandang nanar putranya. “Lalu kenapa hanya diam, Dann?”.

“Memang apa yang bisa dilakukan oleh bocah umur 12 tahun? Mengatakan bahwa Ayahnya membunuh Kakeknya sendiri?” tanya Daniel dengan nada meninggi. “Selama ini, aku hanya bisa melihat Eomma yang tertekan atas kebenaran tersebut, memilih membisu, dan menanggung kesedihannya sendiri hingga ajal menjemputnya,”.

Tuan Han mulai tergugu pelan. Dia mengingat semua kembali. Betapa keluarga kecilnya yang terlihat tenang di permukaan menyimpan pergolakkan besar di dasarnya.

“Dan Appa pasti sudah menduga jika peristiwa mobilmu yang rusak di hari pernikahan Angel adalah sebuah sabotase. Yah, aku yang melakukannya. Memastikan kau tidak menyentuh adik-adikku,”.

Nafas Tuan Han tersengal atas kelebat memori yang Daniel tuturkan. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Perlahan dia menyeret kakinya yang terasa berat untuk melangkah meninggalkan ruangan Daniel.

“Aku tetap akan membuat kalian membayar semua!” tegas Daniel saat Tuan Han mencapai pintu.

***

Donghae mengamati surat panggilan sidang mediasinya yang kedua. Sudah lampau dari sekarang sidang tersebut berlangsung. Dan ini, sudah mendekati minggu ketiga proses perceraiannya. Dia mendesah berat dan meremas surat tersebut hingga tak berbentuk.

“Aku masih tidak mengetahui kenapa kau malah melepasnya, Hyung?” Kyuhyun menepuk pelan bahu Donghae. Dia kemudian duduk di sebelah Hyungnya tersebut.

“Aku pun masih merutuki diriku atas keputusanku, Kyunnie,”.

“Jika menginginkannya kembali, mengapa masih bertahan dengan penolakan rujuk pada sidang mediasi?” Kyuhyun memiringkan kepalanya.

Donghae menunduk, menghela nafas, kemudian menatap Kyuhyun dengan tersenyum. “Karena masalah kami tidak sesederhana itu,” tirunya pada ucapan Daniel kala itu.

Kyuhyun hanya manggut-manggut dengan menatap sinis Donghae. “Aku benar-benar heran dengan proses transformasimu yang cepat untuk menjadi lebih dewasa,”.

“YAK! KYUNNIE!”.

***

 “Kenapa kau tidak mengatakan sebenarnya, Jungie?” ratap Tuan Han dari balik kaca.

Jung menggeleng lemah. “Keputusanku untuk mengikutimu dalam rencana tersebut. Dan kali ini, keputusanku juga untuk berhenti,”.

“Ini kesalahanku, jadi katakan sebenarnya pada mereka agar kau tak sengsara sendiri,” gertak Tuan Han.

Sekali lagi Jung menggeleng. “Inilah caraku mencintaimu. Kumohon, jangan sesali keputusanku,” Jung berdiri dari duduknya, lalu menundukkan kepalanya.

“Jungie,” Tuan Han hanya mampu menempelkan tangannya di kaca pembatas. Melihat punggung wanita yang pernah dikasihi dan disakitinya. Gemuruh penyesalan rupanya masih terus menerpanya tanpa ampun.

***

Donghae menggusak rambut kepalanya dengan kasar. Hari ini adalah sidang terakhir mediasi, tetapi tak ada kabar apa pun mengenai nasib pernikahannya. Dia terus memantau dan berhubungan dengan Daniel, namun ada beberapa hal yang memerlukan penyidikan lanjut terkait wanita bernama Jung sehingga membuat waktu terulur. Birokrasi yang alot dan segala tetek-bengek administrasi yang harus dipenuhi membuat Daniel mau tak mau tetap membiarkan proses perceraian tersebut bergulir. Karena memang tak ada yang bisa dilakukannya.

Donghae duduk dengan gelisah didampingi pengacaranya. Merasakan pilu seiring detik-detik palu diketuk bahwa pernikahannya dinyatakan terputus. Dia melihat ke arah pengacara Park, pengacara pihak Cheonsa, tapi beliau hanya menggeleng pelan dan berbicara tanpa suara dengan membuat gerakan mulut sebagai permintaan maaf.

Bahu Donghae melorot ketika palu diketuk. Dia memejamkan mata merasakan hujaman di dadanya. Badai itu ternyata tetap datang. Air matanya meleleh perlahan. “Aku mencintaimu,” bisiknya. Terhitung semenjak dia mengantar Cheonsa pindah ke apartemen barunya, dia tidak pernah lagi bertemu wanita itu. Cheonsa tidak pernah datang di persidangan perceraian mereka.

“Minggu depan kita masuk ke sidang replik, Donghae-ssi,” kata pengacara Donghae dengan menyentuh bahunya.

Mungkin inilah jalan terjal yang harus dilaluinya. Mengikhlaskan.

***

“Maafkan aku,” Daniel mengelus punggung Cheonsa pelan. Menyadari ketidakmampuannya untuk menghalau gelombang kesedihan yang menimpa sang adik.

Cheonsa hanya mampu terisak di pelukan Daniel. Kini jelas sudah bahwa dirinya memang harus kehilangan lelaki itu. Nafasnya tersendat-sendat akibat tangisan dan air mata yang menyumbat tenggorokan. Sekuat tenaga dia berdiri untuk menopang tubuhnya saat kakinya melemas. Satu keyakinan bahwa dirinya harus kuat.

Di sudut lain, Kevin yang tidak mampu melihat Noonanya bersedih, memilih memunggungi kedua orang tersebut. Hanya mendengar tangisan tertahan Cheonsa saja sudah melukai hatinya. Tangannya terkepal sempurna.

***

“Kau bahagia di sana, Eunri-ya?”. Tuan Han menekuk lututnya dan meletakkan sebuket lili putih di atas makam sang istri. “Aku yakin kau sudah berada di antara para malaikat yang selalu menjagamu,”.

“Ada banyak cerita yang ingin kubagikan. Tapi, sekarang terasa tidak mungkin mengingat alam kita yang berbeda,” tangan Tuan Han mengusap nisan bertuliskan hangul ‘Han Eunri’.

“Jikalaupun mereka sudah menjagamu di sana, salahkah aku jika menginginkan kedudukan itu juga?”. Dan perlahan kepedihannya memudar seiring matanya yang menutup. Merajam semua perih dengan kedamaian yang dia jemput sendiri.

***

Cheonsa memandang langit gelap dari ruang inap Kevin. Ketakutan merajai dirinya ketika melihat awan hitam bersemu merah. Tidak biasanya langit Seoul semerana itu.

“Noona belum tidur?”.

Cheonsa segera memutar tubuhnya ketika suara Kevin masuk ke dalam indera pendengarannya. Dia tersenyum dan menggeleng. “Kenapa terbangun?” Cheonsa mendekat ke arah Kevin.

“Kau gelisah, Noona,” tatapan Kevin melembut dibanding hari-hari kemarin. Dia bangun dan terduduk di ranjang.

“Tidurlah, kau butuh istirahat,” elak Cheonsa.

“Berhenti!” pekik Kevin yang membuat kening Cheonsa berkerut. “Berhenti berpura-pura baik-baik saja di depanku, Noona. Kenapa kau tidak mempercayaiku?”.

Tangan Cheonsa terulur dan tertahan cukup lama di udara. Dia ragu, apakah kali ini Kevin akan menolaknya lagi?

“Aku menyayangimu,” Kevin memandang Cheonsa dengan yakin. Dia tidak bisa membenci perempuan tersebut, semarah apa pun dirinya. Saat itu, dirinya hanya terkejut. Seiring berjalannya waktu, dia mampu menetralisir emosinya.

Senyum kelegaan terulas di bibir Cheonsa. Dengan yakin dia mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Kevin. “Aku juga menyayangimu, Sayang,”. Dia menarik Kevin ke dalam pelukannya.

“Kau harus bahagia, Noona,”.

“Kita harus bahagia, Kevin-a. Mengerti?”.

Ketukan pelan di lantai menandakan seorang berjalan mendekat. Dia masuk dalam ruang inap Kevin dengan wajah yang sulit ditebak ekspresi jenis apa yang terkandung di dalamnya. Dia berjalan ke arah jendela tanpa memedulikan tatapan heran kedua adiknya. “Jika dunia ini tidak memberiku kesempatan menjagamu, maka aku persembahkan hidupku untuk menjagamu di sana,” kutip Daniel pada selembar kertas yang ditemukannya di ruang kerja. Dia menoleh ke arah Cheonsa dan Kevin dengan tersenyum. “Kita harus bahagia,”.

***

SEOUL HEADLINE

Presiden Direktur Hansang Finance Ditemukan Bunuh Diri

Han Jung Shik, Presdir dari Hansang Finance, pagi ini ditemukan tewas bunuh diri di pemakaman sang istri. Diduga keras, dirinya sangat berduka akibat meninggalkan Ny. Han Eunri beberapa waktu silam karena serangan jantung. Putra tertua Hansang, Daniel Han, mengklarifikasi kebenaran berita duka ini…

END*/TBC*

This’s what i called the line

For my beloved reviewers:

Maaf atas keputusanku melakukan ini. Terima kasih atas kesetiaan kalian untuk memberikan masukan dan kritikan dalam fanfic ini. Aku sangat menghargainya, dan inilah caraku menghargai usaha kalian untuk meninggalkan komentar di fanfic ini. Silakan buka email kalian (email yang kalian pakai untuk komen di fanfic ini), aku sudah mengirimkan password untuk ‘Please, Hold On 8B’. Alamat email aku ambil dari yang meninggalkan komentar di part 7. Jika tidak ada di inbox email, maka coba cek di spam.

Bagi yang sudah berteman denganku/lil sist baik di facebook/twitter, jika kalian menginginkan password di kirimkan di sana, maka tinggalkan pesan di comment kalian.

Jika ada kalian merasa pernah meninggalkan komen, tapi ternyata terlewat oleh kami, tolong tinggalkan pesan di komen kalian.

For readers in Sujuyongwonhie:

Jika masih berminat melanjutkan membaca part 8B, kalian bisa mengunjungi purpleonact.wordpress.com dan meninggalkan pesan di post ‘About Password’. Terima kasih selalu atas perhatian kalian pada fanfic ini. Maaf karena aku tidak mungkin merepotkan Selly dan Serlin untuk mendaftar dan mengirimkan alamat email kalian padaku.

For siders:

Terima kasih juga untuk kalian yang sudah membaca dan menikmati fanfic ini. Meski kalian hanya diam, setidaknya aku tahu jika fanficku cukup dinikmati.

312 thoughts on “Please, Hold On [Part 8A: End]

  1. choandin says:

    dan dengan begonya aku baca ff ini dr tahun lalu tp ketinggalan yg part ini. pantesan ceritanya rada ga sequence aaaaaaaaaaaaa ga bosen2 nya baca ff ini sampe berkali-kalipun. semoga dibikin cerita lain dg cast yg mirip ya hehehe

  2. HalcaliGaemKyu says:

    Andwaeee!
    Itu berarti hae dan cheonsa cerai. Walaupun ayah mereka bunuh diri tp itu tdklah membahagiakan.
    Rasanya jd belom end kekkeeke
    baca 8 b nya ya

  3. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Baca part ini sambil nangis. Sumpah, nyesek banget. Akhirnya rahasia itu terbongkar. Rasa cinta Jung pada Tuan Han/Lee membuat dia melakukan apa saja. Cinta memang buta. Tapi gmn akhir kisah Hae ma Cheonsa? Tdk adakah jalan untuk kembali bersama?

  4. Guixianra says:

    Jadi Tuan Han itu bukan anak kandung dari Han Harabeoji ? Melainkan dia di paksa menikah dengan anak nya yaitu Nyonya Han ? Oh, jadi yang ngebunuh Han Harabeoji itu Tuan Han ya, kok Tuan Han jahat banget ? Apa motif nya di membunuh ? Apa supaya dia bisa bersatu sama Jung ? Akhirnya Jung dan Woon ditangkap sama Polisi, tapi terharu juga waktu tuan mengjenguk Jung di penjara, dia sangat mencintai Tuan Han. Lalu bagaimana nasib percintaan Donghae & Cheonsa ?? *nangis gegulingan*

  5. eughh.. betapa bodohnya Tuan Han , betapa ngeselinnya si Jung , betapa gregetnya si Daniel dan betapa ironisnya Donghae =.=
    percerainnya benar-benar di luar rencana . takut banget kalo Dan gak bisa nyampe tenggat waktu . & bunuh diri Tuan Han bener-bener di luar pikiran =| .
    lalu buat Kevin , kau dongsaeng terhebat-terbaik-terkeren /puk-puk kepala Kevin/

  6. zanimnimah says:

    Hi kakkk, aku minta password buat part 8b lewat twitter boleh gakkk? nanti aku sekalian comment disitu biar sekalian hehe twitter aku @zanimnimah terimakasih kakkk, suksesss. Fightinggg^^

  7. Ingga says:

    Ahhhh akhirny jd sprti ini.. Tp knp kjdian itu hrs stlh hae & cheonsa cerai? Gmn y khdupan mreka slnjutny?? Smoga brsatu lg.. Mnt pwny dong chinguuuu..

  8. Part 8A,

    Dying for next chapter,
    Boleh aku minta password untuk part 8B?

    It’s your decision to make,
    I’ll wait for your reply,

    Thanks for a nice story,🙂

  9. nue says:

    akuh kira donghae dan cheonsa tidak akan sampai cerai…tapi kok??’??!!!!!

    bikin penasaran wat baca part selanjutnya🙂

    tuan han bodoh sekali menyianyiakan keluarganya demi cinta masa lalu,,pantas lw dia bunuh diri pd ahirnya tipe laki2 pengecut ….kebawa emosi bacanya :@

    🙂

    aku bacanya dari part delapan A alias bacanya mundur hehe

    mw minta pw tapi lum coment dipart sebelumnya ( yaiyalah bc ja lum apa yng mw di coment ^)

    semangat bikin cerita2 yg lainnya….dan ijin akuh mnjelajah blog muh
    bow bareng kyu ^

  10. dolorosa1313 says:

    udh ga bisa koment apa apa..apa yg dirasakan jung blum seberapa u_____u hnya bsa berdoa smoga cheonsa ga menderita lagiiii TT

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s