Please, Hold On [Part 8B: End]


Please, Hold On [Part 8 B: End]

“I do believe in you.” –Cheonsa Han.

Donghae memandangi perempuan yang duduk di seberang dengan pakaian serba hitam. Ini kali kedua dia berada pada keadaan seperti ini. Perbedaannya, dahulu dia berada tepat di sisi sang perempuan, tapi kini ada jarak sekian meter menjadi pemisah mereka.

Langkah demi langkah Donghae tapaki untuk mendekat ke arah sang perempuan. Dia berdiri tepat di depan. Entah bagaimana dia memulainya, yang jelas ada rindu yang membara namun tak bisa tersampaikan. “Cheonsa Lee,” lirihnya. Walau perceraian sudah memasuki sidang replik, agaknya Donghae enggan untuk memanggil Cheonsa dengan marga Han.

Dia mengulurkan tangannya dan disambut oleh Cheonsa. Menjabat tangan lembut yang dahulu pernah dimilikinya. Membangkitkan desir-desir halus di dadanya. Perlahan tapi pasti, Donghae merangsek maju dan memeluk tubuh mungil itu. Dia menepuk-nepuk punggung Cheonsa untuk memberikan semangat. “Kau kuat,” dilepaskan pelukannya karna mengingat tempat.

Donghae menoleh ke samping, mengulurkan tangannya. “Aku turut berduka, Hyung,”.

***

“Aku tidak bisa menciptakan keajaiban, tapi aku tetap akan mengusahakannya,” Daniel menopang dagu dengan jalinan jemarinya. “Hubungi pengacara Park, buatkan aku janji dengannya siang ini,”.

“Ye, Sanjangnim,” Tuan Jang mengangguk. Dia mengintip Daniel dari balik layar notebooknya. Ada kelegaan yang sangat saat melihat Daniel sering mengulas senyum pada karyawan, akhir-akhir ini. “Semua berjalan dengan baik, Sanjangnim?”.

Daniel mengangkat penanya dan menegakkan kepala. “Ya, sangat baik kecuali untuk satu hal itu,”.

Tuan Jang membalas dengan senyumnya. “Ye, dan mungkin ini saatnya Sanjangnim memikirkan kehidupan pribadi,” goda Tuan Jang yang merujuk pada Daniel yang hingga sekarang masih menjomblo. Tak ada tanda-tanda lelaki itu dekat dengan seorang wanita.

“Ne?” kerut terbentuk di antara alis Daniel, menanggapi dengan tanda tanya maksud asistennya.

***

Jemari Donghae menelusuri kain-kain putih pembungkus furniture di apartemennya. Dia mendesah berat saat satu per satu memorinya bersama Cheonsa terkenang. “I miss her so badly,”.

Kyuhyun menyingkap salah satu kain penutup sofa, kemudian menjatuhkan dirinya di sofa tersebut. “Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, Hyung,”. Dia mengangkat dan menekuk kakinya sehingga duduk bersila.

Donghae menoleh dengan senyum. “Karna aku mencintainya, maka aku melepasnya, Kyunnie,”.

Kyuhyun memiringkan kepalanya. “Aku merasakan hal yang sama sepertimu dengan Lynn, tapi aku sama sekali tidak berniat melepaskannya,”.

“Karena kau belum melalui masa itu,” Donghae berjalan mendekat dan duduk di sebelah Kyuhyun. “Dialah yang mengajariku untuk mencintainya dengan tidak egois,”. Donghae kembali memutar kepalanya menghadap Kyuhyun dan menangkap keraguan di wajah magnaenya. “Dari awal pertunangan kami, dia mengajariku menerima eksistensinya untuk berotasi dalam hidupku. Di awal pernikahan kami, dia mengajariku bagaimana mencintainya dan memilikinya dengan segenap rasaku. Dan di ambang pernikahan kami, dia mengajariku bagaimana melepasnya dengan segala kekuranganku,”.

“Maksudmu, hatimu tidak seutuhnya untuk Cheonsa noona? Bahwa kau membangun sebuah benteng yang menahan perasaanmu agar tak sepenuhnya untuknya?”.

Donghae menggeleng. “Tidak. Rasaku tulus padanya dan hatiku sudah terisi penuh olehnya,”.

“Lalu?”.

“Aku melepasnya karena ingin menjaganya. Mungkin terlihat naïf, tapi jika hanya dengan cara itu aku bisa melindunginya, maka tanpa ragu akan kulakukan,”.

“Hatimu tidak sakit?”.

“Sangat sakit,”.

“Dan kau menahannya demi Cheonsa Noona?”.

“Demi melihatnya bernafas dengan baik,”.

“Dan apakah kau bahagia sekarang, Hyung?”.

Donghae menunduk dan meraba dadanya. “Aku bahagia jika dia bahagia,” jawab Donghae. “Itulah jawaban klise dari kebanyakan orang. Untukku sendiri, tak dapat kupungkiri bahwa masih sangat sakit ketika tak menyandingnya. Namun, semua jauh lebih baik karena aku tahu, kami menghirup udara yang sama, ditempat berbeda,”.

“Apakah sekarang kau akan memperjuangkannya?”.

“Apapun itu, Kyunnie,” ucap singkat Donghae dibarengi dengan dering iphonenya.

***

“Bagaimana kabarmu, Hae?” seorang lelaki duduk dengan menyilangkan kakinya.

“Jika yang Hyung maksud karirku, maka kujawab sangat bagus,” Donghae mengangkat kedua tangannya ke udara.

“Dan jika pertanyaanku mengenai dirimu secara utuh?”.

“Tidak begitu bagus,” jawab kilat Donghae dengan mantap. “Ah, selamat atas pengangkatan Hyung menjadi presdir baru Hansang,” ucapan Donghae yang  disambut kikikan ringan lelaki tersebut. Siapa lagi jika bukan Daniel Han.

“Gomawo, Hae,”.

“Adakah sesuatu yang membuatmu ingin menemuiku, Hyung?” Donghae mengitarkan pandangannya ke sekeliling. Bukannya bertemu di ruangan kerja Daniel, mereka malah bertemu di cafetaria Hansang yang sedang penuh berisi karyawan di jam makan siang seperti ini. Yah, mungkin ini pertanda baik juga, karna mungkin saja pembicaraan mereka bukanlah topik yang berat.

Daniel menyerutup jusnya. “Ya, ada sesuatu yang ingin kupastikan,”. Daniel menyurungkan sebuah map pada Donghae namun tangannya masih menindih dokumen tersebut. “Apakah kau masih berkeinginan memilikinya?”.

Donghae tersenyum kecut. Ada apa dengan semua orang hari ini? setelah Kyuhyun mengorek perasaannya, sekarang giliran Daniel yang melakukannya. “Jika kau mengizinkan, maka aku akan memperjuangkannya agar kembali ke sisiku,”.

“Dan aku memberikanmu sebuah modal,” Daniel mengangkat tangannya. Mempersilakan Donghae untuk membuka isi map tersebut.

Donghae mengambil map tersebut dan membukanya. Matanya membulat dengan mulut menganga ketika membaca dokumen yang diangsurkan Daniel. Segala rasa membuncah di dadanya. Bibirnya lambat-lambat tertarik keluar membuat senyum lebar. “Bagaimana kau bisa melakukannya, Hyung?”. Entah dengan bagaimana dia menggambarkan rasa harunya saat ini pada kalian.

Daniel mengangkat bahunya. “Karena aku adalah Daniel Han,” ucapnya disambut kekehan darinya dan Donghae.

“Jeongmal gomawoyo, Hyung,”.

“Terima kasih juga karena kau telah menjaganya dengan baik. Kini, aku tahu, kaulah yang tepat untuknya,”.

“Maaf, bisakah aku bergabung?” suara seorang menginterupsi. “Errr…semua tempat sudah terisi,”.

Donghae dan Daniel memutar pandangannya ke sekeliling. Dan benar saja, semua kursi di cafetaria  sudah terisi dan hanya tinggal dua kursi tersisa di meja mereka. “Kurasa kau perlu memperluas cafetaria ini, Hyung,” tawa Donghae. “Silakan bergabung, Nona,” ucap Donghae kemudian.

Daniel mendengus. “Ini bahkan sudah dua kali lipat dari cafetaria di gedung lama,”. Baru saja Hansang memindah kantor pusatnya di gedung baru. Sebuah gedung yang dahulu pernah menjadi bahan perebutan keluarga Han.

Donghae memundurkan kursinya dan berdiri diiring dengan tawa renyah. “Kalau begitu, kurasa ada yang ingin Dia (Tuhan) sampaikan padamu, Hyung,” lirik Donghae pada seorang  gadis yang baru saja duduk diantara mereka.

Daniel ikut melirik ke arah sang gadis dan sekilas mengamatinya. Dia menarik ujung bibir kanannya saat membaca name tag gadis tersebut. “Kurasa ya,”. Sepertinya, gadis yang tengah menikmati makan siangnya kini, tidak mengetahui dengan siapa dia berhadapan. Menilik dari seragamnya, Daniel segera tahu kalau gadis tersebut karyawan baru.

“Sekali lagi, gomawoyo, Hyung,” Donghae membungkukan badannya sedikit. Dia mengangkat map yang Daniel angsurkan. Berisi sebuah dokumen yang berisi tentang pembatalan perceraiannya. Jadi, kalian tahu bukan bagaimana jutaan warna meledak di dada Donghae? Dan keleluasaan mengusai rongga dadanya itu.

***

“Aku menantangmu berduel lagi, kawan,” Jae mengangsurkan soft drink di depan wajah Kevin.

Kevin tersenyum membalasnya. “Aku pikir kau harus bersabar menunggunya lebih lama,” Kevin mengisyaratkan dengan mata agar Jae melihat kakinya. Meski sudah banyak kemajuan, Kevin masih harus menjalani beberapa therapy untuk pemulihan cidera kakinya.

“Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama,”.

“Baik, minggu depan kupastikan kau menyesal menantangku!” sungut Kevin dengan mimik bercanda.

Jae menepuk punggung Kevin. “Ayo, kita buktikan minggu depan!” balas Jae tak mau kalah. Tentu saja, dengan ekspresi berbinar. Dan setelahnya terdengar ledakan tawa dari keduanya. “Aku bangga padamu, Kevin,”.

“Tentu saja, karena aku adalah Kevin Han,”.

***

Seorang wanita memandang syarat kelegaan pada dua nisan di hadapnya. “Sekarang, aku tahu, jika lelaki pilihanmu juga mencintaimu, Eunri-ya,”. Dia menepuk ringan gaun bagian bawah saat berdiri dari posisi berlutut.

Kaki tuanya melangkah menuruni bukit dengan ringan. “Aku melepasmu dengan ikhlas, membiarkan lelaki itu menjagamu di sana,” batinnya. Kepalanya mendongak dan mendapati langit yang bewarna jingga saat matahari akan masuk dalam peraduannya.

***

‘Bulan tenggelam tergerus cahya mentari pagi

Pancarkan sisa bias sinar keanggunan tahta malamnya

Mengukir kenangan dalam setiap detik hembusan nafas kami

Menjadikan senyum sebagai perwujudan syukur

Dan sepercik duka sebagai cambuk tuk meraih yang terbaik

Atas nama waktu yang tlah terlalui, inilah satu bahagia karuniaNya,

Memastikannya, ada di genggamku’—Donghae Lee.

***

Few moments after…

Donghae menyangga kepalanya dengan telapak tangan sehingga membuat beban kepalanya bertumpu pada siku kanannya. Lengkung senyum tak menghilang dari wajahnya semenjak sepuluh menit lalu. Jemari tangan kirinya menyibakkan helaian rambut yang jatuh di wajah Cheonsa. Telunjuknya menyusuri lekuk wajah sang istri dengan lembut. Tubuhnya condong saat dorongan hasrat memenuhinya. Dikecup pelan pipi Cheonsa. “Pagimu telah datang, Sayang,” bisiknya di telinga Cheonsa.

Cheonsa menggeliat pelan ketika merasakan hembusan nafas menyapu wajahnya. Kelopak matanya berkerut-kerut, kemudian membuka perlahan. Dia menyipitkan mata saat sinar menerobos masuk dalam retinanya. Sebuah senyum terbentuk dengan spontan, menyambut senyum dari wajah suaminya. “Pagi, Hae,”.

Donghae bangun dan memposisikan duduk sehingga selimutnya jatuh di pangkuan. Membuat dada dan absnya terekspos jelas. Bukannya turun, dia malah menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. “Kita ke Mokpo pagi ini,”.

Cheonsa ikut bangun. Dia meraba-raba pinggir bantalnya untuk mencari ikat rambut, lalu mengucir rambutnya dengan asal. “Hemm, aku siapkan sarapan dulu,” tangannya menyingkap selimut. Namun, belum sempat kakinya menginjak lantai, tubuhnya tertarik ke belakang. “Yak!” pekiknya karena terkejut saat kedua tangan sudah dengan erat berada di pinggangnya.

Donghae tersenyum dengan reaksi Cheonsa. Ditumpukan dagunya di pundak Cheonsa. Merasakan lembutnya kulit pundak sang istri karena Cheonsa yang hanya memakai gaun tidur bertali. “Aku menagih jawabanmu, Ny. Lee,”.

Cheonsa mengambil lengan bawah Donghae untuk sedikit melonggarkan pelukan lelaki tersebut. Dia menatap Donghae dengan penuh tanda tanya. Wajahnya berubah menjadi serius ketika mencoba mengingat hutangnya. “Ah, pertanyaanmu kala itu,” Cheonsa menjentikkan jarinya.

“Untungnya istriku ini cerdas,” pujinya karena Cheonsa cepat mengingat janjinya.

Cheonsa berdeham mengusir kecanggungan. “Karena ketika memandang punggungmu, keyakinanku datang bahwa sang pemilik akan mampu menjadi sandaranku,”.

Donghae memajukan bibirnya dan mencerna alasan Cheonsa. “Hanya itu?”.

“Ya, hanya itu,”.

“Benar?” Donghae mencondongkan wajahnya ke depan sehingga reflek membuat Cheonsa memundurkan kepalanya untuk menghindar.

“Eerr—“ Cheonsa menyurungkan ujung telunjuknya pada hidung Donghae untuk mendorong wajah lelaki tersebut. “Karena aku sudah memberikan jawaban, bisakah kau melepasku?” pertanyaan yang disambut gelengan tanpa dosa Donghae.

Donghae malah mengeratkan tangannya, hingga Cheonsa menempel dengan tubuhnya. Dia menyentuhkan ujung hidungnya di pundak terbuka Cheonsa untuk menyesapi wangi feminis wanita tersebut. Tangannya membelai lembut punggung sang istri. Menenggelamkan diri untuk menikmati eksistensi Cheonsa.

“Hae,” desah Cheonsa saat sesuatu yang lembut mengecup pundak dan lehernya beberapa kali. Jantungnya menggila dalam sekejap. Merasakan sensasi mendebarkan dan menenangkan di saat bersamaan. “Kita harus lekas bersiap jika tidak ingin kesiangan,” nada Cheonsa bergetar karna Donghae masih mempertahankan aktifitasnya. Tangannya sedikit mendorong bahu Donghae.

“Kalau—“

“Tidak, Tuan Lee. Ini sudah siang,” jawab tegas Cheonsa sebelum Donghae sempat menyuarakan tanyanya. Karena dia sudah tahu apa yang ada di otak suaminya tersebut.

“Dua puluh menit?”

“Tidak!”

“Lima belas menit?”

“Ti-dak!”

Donghae terkekeh ringan dan menjauhkan dirinya. “Sebuah alasan sederhana membuatmu menjatuhkan pilihan padaku, lalu mengubah kehidupanku juga dirimu. Pernahkah kau menyesalinya?”.

Cheonsa menatap lekat Donghae, menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. “Satu yang kusesali adalah pernah menyakitimu,”.

Donghae mengerutkan dahinya. “Semua sudah berlalu, dan bagian terbaiknya adalah aku tidak pernah menyesali semua,”.

“Why?”.

Donghae mengerling dan dengan cepat mengecup bibir Cheonsa. “Jawabannya kusimpan untuk besok pagi. Setidaknya akan ada yang menahanmu selama beberapa menit di ranjang,”.

“Ya~. Kenapa suka sekali menahan sebuah jawaban?” kesal Cheonsa sembari mengerucutkan bibir.

“Karena aku ingin menikmatinya perlahan, sedikit demi sedikit,”.

***

“Maaf, karena baru kali ini aku membawanya kemari, Appa,”. Setelah menjalani prosesi kecil sebagai penghormatan, Donghae memulai katanya. “Namanya Cheonsa Han. Seperti maknanya, dialah bidadariku,” Donghae melirik ke arah Cheonsa dan menjumpai pipi gadis itu yang merona. Tangannya menggapai jemari Cheonsa dan menggenggamnya erat. Sejenak, memandang balas mata Cheonsa dan tersenyum penuh arti. Dia kembali menoleh pada nisan sang ayah. “Aku akan menjaganya, seperti engkau menjaga Eomma dan keluarga kita. Aku akan melimpahinya dengan segala kasihku, seperti engkau melimpahi kami dengan cintamu,”.

“Annyeonghasimika Abeoji. Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan seberapa besar rasa syukurku karena kehadirannya. Terima kasih karena telah membesarkan putra sedemikian sempurna. Aku berjanji untuk mengasihinya dengan seluruh hatiku,”.

***

“Hah, aku benar-benar menangkap gambar seorang bidadari,” gumam Donghae sembari melihat hasil jepretannya di lcd kamera DSLR miliknya.

“Kau belum puas menggombal, Tuan Lee?” Cheonsa mensedekapkan tangannya dan memanyunkan bibir.

“Karena kau terlalu indah untuk dilewatkan, Sayang,” dia membuka pintu belakang mobilnya. Kemudian menaruh kamera DSLR-nya di bangku penumpang, dan bersegera melangkahkan kaki menghampiri Cheonsa yang duduk di beton pembatas. Ada sebuah batas setinggi perut orang dewasa tepat di pinggir jalan. Membuat Cheonsa nyaman memandang indahnya laut berjarak ratusan mil dari tempatnya kini.

Donghae melingkarkan lengannya dari belakang, tepat di pinggang Cheonsa.

“Mokpo sangat indah,” Cheonsa menoleh ke belakang. Karena posisi duduknya, wajahnya tepat sejajar dengan Donghae yang hanya berdiri di belakangnya.

“Yah, dan lelaki Mokpo juga sangat rupawan,”.

Cheonsa manggut-manggut mengerti. “Kuakui kesombonganmu kali ini, Tuan Lee,” Dia mengecup ujung hidung mancung Donghae.

“Hanya di situ?”.

“Emm—“ Cheonsa mengangkat sebelah tangannya dan melingkarkan di bahu Donghae, “kau sudah menikmati yang lainnya semalam,”.

“Cish, masak kau berhitung juga dengan itu, Sayang,”.

“Ya,” Cheonsa membuak mimik jenaka dengan mengangguk-angguk.

“I love you, my Angel. Thank you for coming in my life. Cause your existence makes me complete,”.

“Thanks a lot for standing still and holding my hand. I love you, too, My Sea,”.

Donghae menarik tengkuk Cheonsa dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir istrinya. Mengecup dan melumat dengan perlahan. Merasakan sensasi sayap kupu-kupu yang menggelitik di perutnya dan deburan ombak di dadanya. Adrenalinnya terlepas ke aliran darah, meningkatkan desiran tajam di dadanya. Dirinya tergetar saat tangan Cheonsa menyentuh pipinya. Menambah satu lagi kelembutan yang dinikmatinya.

Dan seperti inilah kisah mereka ditutup, sekaligus dimulai dalam babak baru.

***

“Hae, kenapa kau menyetujui untuk mengikat janji suci denganku  kala itu?”.

“Karena sebuah kepercayaan padamu,”.

“Atas apa?”.

“Atas segala yang melekat padamu,”.

“Kau tidak mengenalku saat itu, bagaimana kau bisa mempercayaiku?”.

“Karena kau adalah Cheonsa Han. Dan untuk seterusnya, akan menjadi Cheonsa Lee,”.

END*

Note:

Maaf atas ketidaknyamanan proteksi bagian ini. Inilah caraku menghargai kalian yang sudah bersusah payah untuk komen di fanfic ini. Well, jika ada yang menanyakan sequel, maaf aku tidak membuatnya. Terima kasih sekali lagi atas saran, kritik, dan like-nya.

Untuk penggemar ‘The Obedient Bride’:

Aku menyesal mengatakan ini, tapi sepertinnya kalian harus bersabar hingga awal bulan. Aku akan menghadapi ujian di akhir minggu bulan ini, dan juga beberapa paper yang harus kuselesaikan. Semoga kalian masih berkenan menunggunya. Selamat menempuh ujian juga bagi kalian yang sedang kuliah. Good Luck, Guys.

Selalu, suarakan pikiran kalian juga sampaikanlah saran dan kritik dengan sopan. Dan aku sangat berterima kasih karena kalian sudah melakukannya selama ini.

Bow and Bye (^^ )/

244 thoughts on “Please, Hold On [Part 8B: End]

  1. rika wirya says:

    Annnyoeng aku reader baru di sini salam kenal..FF nya daebaakk banget terus berkarya yaaa…🙂
    Dan izin ubek wp nya …

  2. Yuuuuhhhuuu~ saya bener2 terkesan sama ff ini, walaupun bukan ff keren pertama yang saya baca, tapi ff ini bener2 keren! Seungguh!
    Romantis, sedih, gereget dari awal sampe akhir itu yg saya rasain, dan maaf hanya bisa komentar di part ending ^^
    Dan ,,, salam kenal, saya pembaca baru🙂

  3. demi apa dari awal sampai akhir kisah ff ini astaga.______. gak bisa dideskripsikan dengan katakata, sumpah hati diadukaduk rasanya:3 daebak bangeeeeet kak:) tapi endingnya agak kurang sih, but terlepas dari itu semuanya sempurna~

  4. HalcaliGaemKyu says:

    Yey! Yg ini br ending. Semuanya clear. Dan ternyata tuan han bener2 bunuh diri.
    Keren bgt ff nya..
    Ah daniel akhirnya bertemu sang pujaan hati.
    Oh iya..berkali-kali aku pengen komen ini lupa mulu klo udh saatnya komen hahaha….
    Kyuhyun disini tuh dewaaaasaaaaaaa bgt!
    Bener2 dewasa deh pikirannya.
    FF nya neomu daebak!
    Gumawo ya..

  5. Guixianra says:

    Gak rela ini END… Tapi harus rela karena berakhir dengan HAPPY ENDING *tiup terompet*… Dari mulai pertama baca Fanfict ini perasaanku sudah di aduk-aduk, dari cerita tentang pahit-manis nya kehidupan Rumah Tangga dan juga Keluarga, aku masih penasaran sama Nona yang terpaksa duduk di meja Daniel dan Donghae di Cafetaria, dia kah yang memikat hati Daniel ? Hah! Bahagia sekali melihat Daniel diangkat menjadi PresDir Hansang, Kevin yang sudah cukup sembuh, dan eng i eng Donghae & Cheonsa gak jadi bercerai, hehehe mereka malah bikin aku tambah iri dengan keromantisan mereka, sikap manja Donghae, dan juga sebaliknya. Yeayyy😀

  6. annisa chokyulate says:

    anyeong kak.salam knal ….ijin bc blog nya yawh!!#bru x ni mampir dblog mu..awalnya bc di sujuyongwonhie dan berakhr di blog ini. . .kkkk.satu kata bt ff nya KEREN!!!ide nya,alurnya bner2 Ok…..dan bkalan ngubek2 blog nya ni kak!!^^

  7. huuaaa .. bener-bener deh ! baca ini , emosinya dapet banget dan rasanya campur aduk . ngerasain banget saat sedih-tersiksa batin-nyeseknya , seneng-bahagia-romantisnya , kesel-marah-greget . pokoknya emosi serasa dipermainkan . 2 thumbs dan applause buat eonnie ^o^ ..
    Daniel oppa ! Kau berhasil !! Kau telah melakukan yng terbaik & kau oppa terbaik ~.~ .
    Donghae-ya , hasil kesabaranmu berbuah manis . nikmati ini & berbahagialah ! ^^

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s