The Obedient Bride [Rule 3]


The Obedient Bride [Rule 3]

 By : Arsvio

Cast : Siwon Choi, Shim Hwa Young, Kyuhyun Cho, Minna Park

Rate : PG-16

Sekali lagi Hwa Young menarik ujung cardigan untuk membenahinya. Dia memutar tubuhnya di depan cermin dan memastikan penampilannya sempurna. Lagi-lagi dress strapless yang ia kenakan. Kali ini bewarna dark chocolate polos, sederhana, dan tetap elegan. Setelah mengambil tasnya, Hwa Young segera turun.

Dia menengok ke ruang yang berdinding kaca untuk memastikan kalau Siwon sedang di sana. Kakinya ragu untuk melangkah di saat pikirannya kembali memutar pertengkaran mereka semalam. Walau tidak suka, dia membenarkan perkataan Siwon atas haknya. Walaupun pernikahan ini baginya tidak bermakna, tapi janji yang mereka ucapkan di depan pastor adalah nyata. Sejenak mematung, Hwa Yaoung akhirnya memilih untuk meninggalkan pesan saja. Dia merogoh ponselnya dan mengetikkan message sebelum berlalu.

Siwon menghentikan treadmill-nya saat pendengarannya menangkap bunyi pintu yang tertutuo. Dia melirik ke arah ponselnya yang menyala, menandakan sebuah pesan baru masuk. Mengelap keringatnya dengan handuk kecil, dia berjalan ke arah depan. Sedikit disingkap gorden jendela hingga pandangannya dengan jelas menangkap sebuah Lamborghini Gallardo Black berhenti di depan rumahnya.

Ujung bibir Siwon tertarik membentuk sebuah seringaian. Bukankah dia sudah menyatakan dengan tegas mengenai ketidaksukaannya atas hubungan sang istri dengan lelaki bermarga Cho itu. Dia tidak cemburu, hanya merasa tidak dihargai. Bagaimana tidak, jika semalam sang istri berdansa mesra dengan pria lain di tengah sebuah pesta. Seolah mengabaikan kehormatan Siwon sebagai salah satu pebisnis muda di hadapan para tamu.

Siwon menekan sebuah kontak, kemudian menempelkan androidnya di telinga, “Aku membutuhkanmu.”

***

Watching movie?” Hwa Young melongokkan kepalanya ke depan saat Gallardo yang ditumpanginya memasuki areal sebuah gedung. “Not bad idea, Kyu,” dia mengangguk-anggukkan kepala.

Come on,” Kyuhyun mengulurkan tangannya.

Hwa Young menaikkan sebelah alisnya, memandang dengan ragu jemari di hadapnya. Dia menggerakkan kepalanya dengan pelan untuk memastikan bahwa penglihatannya sedang tidak terkelabuhi. Seorang Cho Kyuhyun yang terkenal tidak acuh memberikan tangannya untuk digenggam?

Ish, kau ini!” kesal Kyuhyun sembari menyambar jemari Hwa Young. Dia menyentak dengan lembut agar perempuan tersebut mengikuti langkahnya.

Mau tidak mau, bibir Hwa Young membentuk senyum tertahan. “Kenapa tiba-tiba ingin menonton film? Bukankah lebih menyenangkan untuk menontonnya di home theather di kamarmu?” heran Hwa Young. Dirinya semakin dibuat heran tatkala Kyuhyun menyebutkan judul film yang akan mereka tonton saat memesan tiket. “Madagaskar 3?”

Yeah,” jawab Kyuhyun sekenanya.

“Jadi ini renaca weekend-mu, Kyunie?”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Hwa Young. “Tidakkah kau merindukan masa high school kita?”

Hwa Young mengerutkan dahi dan mengelus dagu dengan jari telunjuk. “Jadi maksudmu saat kau memaksaku membolos hanya untuk sebuah film Happy Feet?”

Hei, that Emperor penguin was great,” sahut Kyuhyun. “Lagipula bukan itu esensinya,” Kyuhyun mendecak. Dia menyerahkan tiket pada penjaga, lalu berjalan memasuki theater dengan genggamannya yang tak mengendur.

“Benar. Kau dengan akward-nya mengatakan merindukanku karena hampir dua minggu tidak bertemu akibat karantina olimpiademu,” Hwa Young memunculkan satu persatu kenangan mereka.

Errr…“ Kyuhyun mengetukan telunjuknya di hidung Hwa Young, “seharusnya kata akward diganti dengan sweet.”

What?” protes Hwa Young sembari menyentak tangan Kyuhyun hingga lelaki itu sedikit memutar tubuh. Dia benar-benar harus mendongakkan kepala karena Kyuhyun berpijak pada tundakan yang lebih tinggi saat mereka mencari tempat duduk. “Bagaimana dikatakan sweet jika kau mengatakannya dengan ekspresi datar dan pandangan mata yang terfokus pada PSP-mu.”

You got every single detail, Miss,” goda Kyuhyun. “We have to be hurry,” bisik Kyuhyun agar tak mengganggu penonton lain.

***

Jemari lentik Minna menggelitik pinggang Siwon untuk mengalihkan perhatian lelaki tersebut. “Aku diduakan lagi,” wajah masamnya saat Siwon hanya mengeram kecil karena ulahnya.

Siwon tersenyum, namun tatapannya masih terpusat pada ipad yang dia pegang. Dia mengangkat sebelah tangannya dan menelusupkannya antara sofa dan tubuh Minna dan menarik dengan lembut gadis tersebut ke arahnya. “Mulai merajuk lagi, hmm?”

“Kita hanya punya waktu dua jam lagi sebelum keberangkatanku, tapi Oppa masih sibuk dengan pekerjaan,” sungut Minna dengan memajukan bibirnya.

Siwon menghela nafas, “What’d happen to you lately, My Dear?”. Dia menatap Minna untuk meminta penjelasan. Tidak tahu kenapa hari ini dirinya sedikit terganggu dengan rengekkan gadis itu. Padahal biasanya dia dengan senang hati meladeninya.

Molla[1],” Minna melipat kedua tangannya di depan dada. Walaupun sebenarnya mulutnya ingin berkata bahwa dia sebal diabaikan, tapi tertahan di angan saja. Dia malas mengulangi statement yang sama.

“Apa seperti ini cukup,” Siwon meletakkan ipad-nya kemudian melingkarkan kedua tangannya untuk mendekap Minna.

“Sepertinya tidak ada kata cukup untuk dekapanmu,” senyum Minna menggoda. Baru saja mereka membangun suasana, tapi sekejap bubar karena dering ponsel Minna. Gadis itu menoleh ke arah meja dan mendapati sebuah nama di display layarnya. “A..aku harus mengangkatnya,” gugupnya tiba-tiba.

Siwon menyelidik ekspresi Minna yang tiba-tiba berubah. “Sesuatu yang buruk terjadi?”

“Ti…tidak,” Minna menyambar ponselnya dan segera berdiri. “Maksudku, aku tidak tahu. Ini rekan penting,” jawabnya sambil terus menjauh dari Siwon untuk mencari privasi.

***

Are you okay?” Hwa Young menepuk-nepuk punggung Kyuhyun.

Hoek,” Kyuhyun masih saja memutahkan isi perutnya. Kepalanya terasa berputar dan perutnya mual.

Have a sit, Kyu,” Hwa Young menuntun Kyuhyun ke bangku terdekat. “Kenapa memaksakan diri menaiki roller coaster jika tahu akhirnya begini?” marah gadis tersebut sembari menyodorkan air mineral.

Kyuhyun meneguk air tersebut untuk menghilangkan rasa pahit di rongga mulut akibat mutahannya. Dia melirik ke arah samping dan mendapati Hwa Young dengan raut kesal. “Kau bilang ingin menaikinya,” Kyuhyun menyenggol lengan Hwa Young yang bersedekap.

“Memang aku mengatakan kau harus naik?”

Kyuhyun memalingkan wajahnya dan mengusap perutnya yang masih terasa diaduk-aduk. “Tidak mungkin aku membiarkanmu sendiri,” lirihnya hampir tidak terdengar.

“Aku tidak bermasalah dengan itu.”

“Tapi aku bermasalah dengan itu,” sungut Kyuhyun tidak mau kalah.

Oh, baiklah Tuan Cho. Lain kali kau harus lebih memperhatikan kondisimu,” Hwa Young mengurai lipatan tangannya. “Dari awal bukan sudah tahu kalau kau tidak tahan jika menaiki wahana itu,” tangan Hwa Young mengambil alih tangan Kyuhyun untuk membantu mengusap perutnya.

Bibir Kyuhyun ingin tersenyum, tapi ditahan karena gengsi. “It’s been years ago. I thought that I wouldn’t get queasy this time,” dia sedikit menunduk memerhatikan sapuan tangan Hwa Young di perutnya. Ada rasa menghangat di hatinya, selain kenyamanan untuk meredakan mual.

Mmm,” gumam Hwa Young yang geli juga melihat ekspresi Kyuhyun. “Feel better?”

Mmm,” ganti Kyuhyun yang menggumam. Pandangannya menelusuri beberapa wahana di sekitar mereka. “It’s remembering me about something,” Kyuhyun menghela nafas pendek dengan sekali hembusan. “Hyundai,” ucap Kyuhyun singkat. Melihat Lotte World yang dimiliki oleh Lotte Co. Ltd, pikirannya becabang pada saingan bisnis perusahaan tersebut, Hyundai Group.

Hwa Young menelengkan kepalanya. “What things do you curious about?”

“Pernikahanmu seolah hanya demi kepentingan bisnis.”

Hwa Young menarik tangannya, lalu meyandarkan punggungnya di sandaran bangku taman yang diduduki. “Bukankah itulah esensi dari penyatuan kami?” retorik Hwa Young lebih pada dirinya sendiri.

“Bisakah kau membatalkannya, Youngie?”

Hwa Young menoleh ke arah Kyuhyun dan memasang senyum kecut. “Aku tidak yakin mengenai hal tersebut.” Dia memiringkan badannya. “Mengapa tiba-tiba menyinggungnya, Kyunie?”

Kyuhyun meggeleng. “Tidak. Hanya ingin memperoleh penegasan?”

“Atas?”

“Hubunganmu dengan lelaki itu,” jawab Kyuhyun dengan mengganti nama Siwon dengan penunjuk lain karena enggan menyebutnya.

Hwa Young sedikit mengerutkan bibirnya hingga dagunya juga ikut serta. “Masih sama dengan hipotesis yang kau ambil sejak kembali ke Korea,” lanjutnya untuk menjawab warna apa yang terjalin pada hubungannya dengan Siwon.

Glad to hear it.” Kyuhyun memandang Hwa Young intens. “Kuharap pernikahanmu juga tidak berlangsung terlalu lama?”

Hwa Young sedikit tersentak pada perkataan Kyuhyun. “It’s too rude, Kyunie,” rasa sedikit tidak suka pada harapan Kyuhyun.

Just a wish.”

But—“

“Tiga tahun,” potong Kyuhyun saat gadis di sampingnya ingin menyanggah.

“Tiga tahun?” tiru Hwa Young dengan diganti nada tanya.

“Aku baru saja menangani perjanjian swap[2] Shawn Corp dengan Hyundai,” jelas Kyuhyun. Dexxa Finance menangani masalah swap bunga antara Shawn Corp dan Hyundai.

Hwa Young mengerutkan dahinya. “Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Junghyun Oppa yang berwenang,” raut wajahnya berubah menjadi serius. “Jatuh tempo swap adalah tiga tahun?” tanya Hwa Young yang sudah pasti jawabannya ‘ya’.

Kyuhyun mengangguk. “Semoga umur pernikahanmu tidak selama itu. Aku hanya takut jika suatu saat hatimu condong padanya,” jujur Kyuhyun.

“Kyu.” Hwa Young membantah ringan. Meskipun tidak menyukai pernikahannya, sepertinya Hwa Young terpaksa bertahan selama tiga tahun. Dia tidak ingin menghancurkan kerja sama tersebut andai pernikahannya tiba-tiba berakhir. Terkadang sentimen seorang pemimpin tidak memandang laba atau rugi jika sudah berkaitan dengan tersinggungnya harga diri. Hwa Young hanya tidak ingin menyinggung perasaan mertuanya dan mengakibatkan putusnya perjanjian tersebut.

“Sudahlah, jangan rusak hari ini dengan bisnis dan pernikahanmu.”

Hwa Young memasukkan udara ke dalam paru-parunya dengan tarikan nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan cepat. “Ok, let’s to next destination,” senyumnya.

***

“Sekali-kali, aku sangat ingin diantar olehmu sampai airport,” Minna mengambil tas tangannya dengan kesal. Air mukanya merengut. “Oppa…Oppa!” sentaknya karena Siwon terlihat mengabaikannya.

Siwon tersadar dengan panggilan Minna. “Ah, ya?” dia menyaku ponselnya.

Hish,” desis Minna. “Aku benar-benar terabaikan kali ini,” dia menghentakkan kakinya ke lantai.

Mianhe,” Siwon mengusap lengan atas Minna. Dia bermaksud menenangkan gadis tersebut. Sikap manja Minna memang terkadang meroket dan tidak tahu tempat atau waktu. Mungkin memang pembawaannya. Meski demikian, wanita ini juga cukup mandiri dengan kehidupannya. Terbukti dirinya yang mampu tinggal seorang diri di Seoul.

“Apakah ada sesuatu yang penting?” Minna sedikit mengalah. Dia masih kesal karena dua jam kebersamaannya dengan Siwon terbuang percuma karena Siwon lebih asyik dengan gadget-nya. “Oppa ada keperluan lain?” susulnya karena sedari tadi Siwon terlihat sedikit cemas memandangi layar ponsel.

Eum, tidak juga. Jaga dirimu,” Siwon merapat dan ingin memberikan ciuman perpisahan. Tapi lagi-lagi terhalang dengan dering ponselnya sendiri. “Aku harus mengangkatnya,” ujarnya segera setelah melihat display nameOemma’. “Sampai ketemu,” singkat Siwon dengan mengecup kilas pipi Minna dan berjalan menjauh untuk mengangkat telephonnya.

Minna hanya mengeram frustasi, namun kakinya melangkah pergi. Dia tidak mau membuat manajernya lama menunggu di basement.

***

“Kenapa hari terasa begitu singkat?” keluh Kyuhyun sambil mendongak menatap langit kelam.

Hwa Young memutar tubuhnya hingga menghadap Kyuhyun. “Kita sudah bermain seharian, Kyunie. Memangnya kau tidak lelah?”

“Jika bersamamu, bisakah aku mengatakan lelah?”

“Kau bersikap manis hari ini,” puji Hwa Young. “Hey, ada satu hal yang terlupa olehku,” dia menjentikkan tangan ke udara.

“Apa?” Kyuhyun memandang gadis tersebut dengan antusias.

“Kau mengubah gaya rambutmu?”

Kyuhyun memicingkan mata dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi kesal. “Kau sudah seharian bersamaku dan baru menyadarinya?” sindirnya.

“Bukankah aku bilang lupa mengatakannya,” bela Hwa Young.

Kyuhyun mensedekapkan tangannya. Dia menggeser duduknya hingga sedikit memberi jarak dengan Hwa Young. Sesungguhnya dia tidak benar-benar marah, hanya ingin mengganggu gadis tersebut.

Hya…kau marah?” Hwa Young ikut menggeser duduknya, lalu memiringkan kepalanya untuk melihat lebih jelas wajah Kyuhyun. “Ugh, so cute,” dia mencubit pipi Kyuhyun. Tawanya meledak karena jarang mendapati Kyuhyun yang sedang mencebik. “Kenapa kau terlihat imut?” seru Hwa Young kembali.

Mulut Kyuhyun sedikit terbuka. Bukankah seharusnya dia yang menggoda gadis tersebut? Kenapa malah ini sebaliknya? Mungkinkah jika sekarang wajahnya sudah berubah merah? “Hentikan tawamu! Bisa-bisanya kau mengatakan calon CEO Dexxa ini imut?”

Hwa Young memegangi perutnya dan mencoba menetralisir rasa menggelitik. “Tidak juga,” geleng gadis ini.

“Lalu?”

Eem…“ Hwa Young menelusuri dahi Kyuhyun dengan jari telunjuknya. Poni panjang yang dulu menutup seluruh dahi Kyuhyun sekarang tersisir menyamping sehingga mengekspos alis dan dahinya. “You looks more,“ dia membuat lingkaran dengan hampir menyatukan jari telunjuk dan ibu jari, “Just little,“ tekannya lagi, “handsome with that style.”

Kyuhyun menunjukkan senyum kharismatiknya. “Actually, as always, Miss,” tangannya menelusup di pinggang Hwa Young dan menarik gadis itu mendekat. Sebelah tangannya menangkup pipi Hwa Young dan mengarahkan wajah gadis itu menghadapnya. “And as always do I love you.”

“Kyu…“ lidah Hwa Young kelu meneruskan katanya. Rasanya ada yang mengikat lidahnya agar tidak berucap. Dia takut jika pada akhirnya hanya sebuah harapan kosong yang mampu diberikannya pada Kyuhyun. Hwa Young hanya tidak ingin menyakiti sahabat kecilnya tersebut.

I know, just slowly,” bisik Kyuhyun tepat di depat bibir Hwa Young. Sedetik kemudian, dirinya mampu merasakan lembutnya permukaan bibir gadis tersebut. Dia menempelkan bibirnya cukup lama dan menikmati derum jantungnya.

Mata Hwa Young melebar saat bibir Kyuhyun mengecupnya. Tangannya terasa kaku dan tidak kuasa mendorong lelaki tersebut. Mengikuti naluri, perlahan dia menutup matanya. Membiarkan desiran tajam darahnya terpompa ke seluruh penjuru sel, Hwa Young menikmati persinggungan bibir mereka.

Merasa tidak memperoleh penolakan, sedikit demi sedikit Kyuhyun menggerakkan bibirnya. Dia melumat dengan sangat hati-hati, seperti katanya, ‘just slowly’. Degub jantungnya yang semakin cepat membuatnya berhasrat melakukannya lebih dalam.

Romantisme mereka disempurnakan dengan ledakan berjuta cahaya di udaya. Laksana sebuah roket dalam ukuran kecil yang berdesing dan kemudian meledak di udara dengan sangat indah.

***

“Baru pulang, Nona Shim?”

Hwa Young menjengit sebagai reaksi terkejut. Dia melangkah ke ruang tamu dan menemukan Siwon yang sudah duduk di sana dengan menyilangkan kaki dan bersedekap.

“Aku sudah meninggalkan pesan sebelumnya bahwa aku pulang larut,” ingat Hwa Young pada message yang dikirimnya.

“Kita perlu bicara!” getak Siwon saat melihat Hwa Young melangkah pergi.

“Aku lelah. Bisakah kita diskusikan masalahmu besok?” malas Hwa Young karena memang tubuhnya sudah sangat lelah.

Siwon melemparkan setumpuk foto di meja hingga menimbulkan bunyi. “Aku tidak bisa menunggu besok untuk menyelesaikan ini!” bentaknya sembari menunjuk ke arah foto-foto.

Hwa Young mengerutkan alis. Dia berjalan mendekat dan meraih salah satu foto teratas. Matanya membulat, lalu tangannya mengacak tumpukan foto di meja hingga terpampang dengan jelas semuanya. “Kau menguntitku, Siwon-ssi,” ucapnya tajam ketika melihat foto-foto dirinya dengan Kyuhyun seharian tadi.

“Perlukah aku ulangi pernyataanku, Nona Shim,” desis Siwon tidak kalah tajam. “Selama kau menjadi istriku, pastikan dirimu menjaga sikap,” tegurnya.

Hah,” Hwa Young memejamkan mata sejenak dan mengusap dahi. “Dan perlukah aku mengulang kata tersebut untukmu?” serang balik Hwa Young sebagai rujukan terhadap hubungan Siwon dengan Minna.

“Jangan membelokkan kesalahan!” teriak Siwon.

“Kesalahan? Aku sudah tegaskan juga bahwa kau tidak berhak mencampuri hubunganku dengan Kyuhyun!” balas Hwa Young dengan berteriak juga.

“Apa telingamu tidak terbuka saat aku mengatakannya kemarin malam?” Siwon menghujam Hwa Young dengan perkataan dan pandangannya. “Kau menanggung kehormatanku sebagai suami! Apa yang akan khalayak katakan jika mengetahui ini, huh?”

Hwa Young mengepalkan tangannya erat. “Baik aku maupun Kyuhyun bukan seorang publik figur. Jadi kau tidak perlu membesar-besarkan keadaan, Siwon-ssi. Seharusnya kata itu yang kuucapkan padamu dan kekasihmu,” balasnya dengan penekanan di setiap kata.

“Kau lupa jika keluarga Cho juga salah satu chaebol?” sinisme Siwon lagi. “Tidakkah terlintas di pikiranmu bahwa media juga rakus dengan kehidupan pribadi para chaebol?” Siwon menurunkan nada bicaranya. “Seharusnya kalian memikirkan itu. Andai ada yang memergoki dan mengenali kalian, bagaimana nama besar keluarga kita?” bentak Siwon.

Hwa Young mengusap wajahnya. Dia bukan seseorang yang ceroboh maupun berpikiran pendek. Hanya saja, dia sejenak kehilangan rasio dan akalnya ketika emosi mengalir diantara dirinya dan Kyuhyun. Namun Hwa Young tidak menyesal menghabiskan hari ini dengan Kyuhyun. “Aku lelah,” alih Hwa Young. Dia melangkahkan kakinya, namun lengannya ditarik hingga tubuhnya kembali  berhadapan dengan Siwon.

“Jangan menghindar,” desis Siwon. “Kau yang memutuskan untuk melakukan pernikahan ini. Seharusnya kau juga sudah siap menerima tanggung jawabnya!” Siwon kembali menaikkan nada bicaranya. Emosinya malam ini benar-benar meradang. “Bukankah hidupmu atas nama besar? Kenapa dengan kali ini? Kau sedang mencoba menghancurkannya?” celanya.

“Tidak ada alasan bagiku melakukannya.”

“Kalau begitu, apa yang telah kau lakukan sehari ini? Menjalin hubungan terlarang dengan pewaris Dexxa? Tidakkah hal itu menjadi sebuah aib mengingat kau sudah terikat?” ucap lain Siwon yang tidak kalah menyakitkan.

Mata Hwa Young memanas. Lapisan tipis air mata sudah terbentuk dengan jelas di permukaan bola matanya dan tinggal menunggunya mengalir. “Aku tahu keputusanku. Terima kasih karena sudah mengingatkan,” ujarnya tajam sembari menyentak tangannya agar terbebas dari cengkeraman Siwon. Dengan segera dia memutar tubuh dan berjalan menjauh, tidak ingin jika air matanya tumpah di hadapan lelaki tersebut. Tapi, lagi-lagi langkahnya terhenti.

Halmeoni [3]ingin bertemu dengan kita, malam ini,” Siwon menurunkan nada bicaranya. Berusaha meredakan ledakan emosi.

***

Mata tua wanita yang dipanggil halmeoni oleh Siwon menelisik tajam wajah cucu lelakinya dan sang istri dengan bergantian. “Kenapa selarut ini baru muncul?” interogasinya.

Mianhammida, Halmeoni. Kami harus menyelesaikan beberapa urusan,” Siwon memberikan alasan.

“Seberapa penting urusanmu? Aku baru saja kembali dari Hong Kong dan kau tidak mengacuhkan panggilanku?”

 “Jeongmal mianhammida. Kebetulan hari ini ada beberapa pekerjaan yang harus kami selesaikan. Setelahnya kami makan malam di luar,” lanjut Siwon untuk menutupi keterlambatan mereka karena tidak ikut jamuan makan malam bersama keluarga Choi.

“Siwonnie, sudah Eomma katakan jika Halmeoni mengundang kau juga Youngie untuk makan bersama,” tegur lembut Ny. Choi.

Sang nenek terlihat menghela nafas. “Benar-benar anak muda sekarang,” beliau mengelus dadanya. Walaupun kecewa dengan Siwon yang tidak menghadiri jamuan makan malam, namun beliau sedikit lega mendengar bahwa hubungan cucunya dengan sang istri terlihat mengalami perkembangan. “Sudahlah, yang penting kau di sini sekarang,” beliau mengalah. “Youngie-ya, ikutlah denganku, aku ingin berbicara denganmu,” sang nenek bangun dari duduknya.

Hwa Young tersentak pelan. “Ah, ye,” dia juga ikut berdiri dan mengikuti tetua keluarga Choi tersebut.

***

“Bagaimana kehidupan keluarga kalian?” sang nenek menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.

“Kami baik-baik saja,” Hwa Young membentuk senyum terpaksa untuk meredakan kegugupan. Bagaimana pun kali ini yang dihadapinya adalah tetua Hyundai.

“Bukan itu yang ingin ku dengar, Youngie,” nada bicara sang nenek sudah tidak setegas tadi. “Kau bahagia dengan pernikahan ini?”

Ne?” Hwa Young sedikit terkejut dengan pertanyaan tidak terduga sang nenek. “Ah, ye,” dia menundukkan pandangannya untuk menyembunyikan arah matanya yang tidak fokus. Apalagi jika bukan karena kebohongan yang dikatakan.

“Aku dengar kau masih bekerja di Shawn Corp,” terdengar halmeoni menghela nafas. “Benar itu?”

Ye, Halmeoni,” Hwa Young menganggukkan kepalanya. Dia sedikit khawatir dengan pembicaraan selanjutnya. Bagaimana jika apa yang dulu pernah dia dengar dari Ny. Choi dan teman-temannya terulang lewat penuturan yang sama oleh halmeoni?

“Kau sudah masuk ke dalam keluarga Choi, Youngie,” Halmeoni meraih tangan Hwa Young. “Tempatmu adalah di sini. Kau yang sekarang adalah seorang Choi Hwa Young, bukan lagi Shim Hwa Young.”

Hwa Young sibuk menata pikirannya. Dia memerhatikan jemarinya yang tergenggam oleh sang nenek. Dia mengangguk paham atas ucapan Halmeoni.

“Secara pribadi, aku tidak melarangmu bekerja. Kau adalah seorang yang mandiri, jadi akan lebih baik jika tetap mengembangkan karirmu,“ perkataan Halmeoni yang membuat Hwa Young sedikit lega. “Aku sudah membicarakan hal ini dengan Appa-mu. Mulai bulan depan, kau akan dipindahkan ke Hyundai.”

Hwa Young mendongak dan menatap sang nenek dengan tidak percaya. Apa lagi yang harus dia tuai? Baginya bekerja di Shawn Corp bukan sebuah karir belaka, tapi merupakan impiannya. Mengabdi di perusahaan yang keluarganya bangun adalah cita-citanya. “Tapi,“ lidahnya terasa kaku, “bukanah Siwon Op..pa sudah berada di Hyundai.”

Halmeoni tertawa melihat wajah Hwa Young yang pias. “Tentu saja Siwon bekerja di Hyundai karena itu kewajiban serta haknya.”

“Bukankah akan menjadi gunjingan jika kami bekerja dalam lingkungan yang sama?” sela Hwa Young. Dia mencoba berkelit untuk mengubah keputusan.

“Jika itu yang kau takutkan, kau dan Siwon akan bekerja di departemen yang berbeda.” Halmeoni melipat bibir bawahnya. “Aku akan menempatkanmu di Hyundai department store, biar nanti Siwon yang dipindahkan ke Aoutomobile,” putus Halmeoni. “Malam ini kalian menginap di sini.”

Ne?” satu lagi keputusan yang membuatnya tersentak.

***

Hwa Young  berjalan gontai memasuki sebuah kamar yang ditunjukkan oleh seorang pelayan. Dia melangkah menuju ranjang dan duduk di tepinya. Otaknya menelaah ulang keputusan yang diambil sang nenek. Mengapa konsekuensi yang diterimanya harus sebesar ini? Tapi dia sudah tidak bisa mundur.

“Melamunkan sesuatu?” sebuah interupsi membuyarkan lamunan Hwa Young. Siwon berjalan ke arah lemari untuk mencari piyama.

Ah, ye?” kejut Hwa Young sembari mendongak ke arah suara. Tapi kepalanya menunduk lagi karena melihat Siwon yang hanya mengenakan handuk sebagai penutup tubuh bagian bawahnya seusai mandi. Batinnya mengumpat pada pria tersebut. Tidak bisakah Siwon menghargai kehadirannya di sana? Lagipula ada apa dengan pipinya yang tiba-tiba memanas? Gezz…dia bukan lagi teenagers yang akan berteriak ketika melihat idola yang topless atau malu saat tidak sengaja melihat pria lain melakukannya.

“Apa yang Halmeoni katakan padamu?”

“Hanya perbincangan ringan,” Hwa Young masih menunduk untuk menghindari pandangan.

“Lalu ada apa dengan ekspresimu?” nada bercanda Siwon. Kemarahan sebelumnya mereda begitu saja. Dia sedikit khawatir dengan pembicaraan yang terjadi antara Hwa Young dengan neneknya.

“Hanya berpikir mengenai suatu hal,” sahut Hwa Young yang masih bertahan di posisinya.

Hei, tatap lawan bicaramu selagi menjawab,” Siwon menjentikkan jarinya di depan wajah Hwa Young.

Hwa Young mendongak namun masih membuang pandangannya. Dia menghembuskan nafas yang tertampung di pipinya yang menggembung. Kepalanya menoleh dengan takut-takut ke arah Siwon yang sepertinya menekuk lutut sehingga wajahnya berada tepat di sampingnya. “Kenapa?”

“Kau sakit?”

“Tidak,” tegas Hwa Young sembari memalingkan wajahnya ke arah lain kembali. Walaupun kini Siwon sudah memakai piyama, tapi perlukah dia mendekatkan wajahnya? Apa yang terjadi pada pria ini? Kenapa tiba-tiba emosinya turun drastis?

“Mukamu memerah.” Siwon menegakkan badannya kembali. Dia melipat bibir saat sebuah pikiran melintas di benaknya. Pandangannya menunduk memerhatikan badannya sendiri. Dia menutup mulutnya dengan kepalan tangan saat menyadari kemungkinan penyebab rona merah di pipi Hwa Young. “Kau mandi dulu. Eomma sudah menyiapkan piyama di sana,” tunjuk Siwon pada sebuah piyama yang terlipat rapi di meja.

Yeah,” tidak menyiakan kesempatan, Hwa Young segera menyambar piyama tersebut dan berlari ke arah kamar mandi.

Selang beberapa saat, Hwa Young keluar dari kamar mandi dengan masih melilitkan handuk di pundaknya. Sepertinya malam ini keluarga Choi benar-benar berkonspirasi untuk mengerjainya. Bagaimana tidak? Kali ini mertuanya memberikan gaun tidur yang hanya menutup hingga setengah paha dan terbuat dari kain yang begitu lembut hingga dapat dengan pas melekat di tubuhnya. Ditambah dengan hanya sebuah tali yang menyampir di kedua pundaknya.

Oh kau sudah selesai,” Siwon men-shut down ipad-nya. Dia turun dari ranjang dan meletakkan ipad tersebut di meja sudut. Matanya melebar saat memerhatikan Hwa Young yang masih menyisir rambutnya. “Eomma…” geramnya lirih saat menyadari gaun tidur apa yang sudah disiapkan ibunya untuk sang menantu. Tangannya terkepal di depan wajah untuk meredam hasratnya. Dia sudah sangat sering melihat wanita-wanita berpenampilan menggoda. Tapi tidak dalam konteks ketika dirinya hanya berdua di dalam kamar seperti ini bukan?

Eumm…bagaimana kita tidur?” Hwa Young menunjuk ranjang king size milik Siwon.

Ah, itu,” Siwon menetralkan gemuruh dadanya. Dia berdeham untuk mengusir kecanggungan. “Kau bisa tidur di sini, biar aku di sofa,” Siwon berjalan ke arah ranjang dan menarik sebuah bantal kemudian meletakkannya di sofa tepat di depan ranjang. Dia menepuk-nepuk bantal tersebut dan segera membaringkan badannya. Matanya dengan cepat memejam untuk menghindari bayangan-bayangan yang membuat jantungnya tiba-tiba menggila.

Hwa Young memerhatikan sikap Siwon, kemudian menyusup di selimut tebal. Badannya masih dalam posisi duduk di ranjang dan matanya masih memandang Siwon. “Kau tidak pegal jika tidur seperti itu?” tanyanya ketika melihat ukuran sofa yang tidak seberapa jika dibanding badan Siwon yang terbilang tinggi.

Hemm,” Siwon membenahi letak tubuhnya. Kakinya menekuk untuk menyesuaikan diri pada panjang sofa. Astaga! Dirinya benar-benar tidak nyaman dengan posisi tidurnya.

Hwa Young melirik ke samping tempatnya. “Ranjang ini cukup besar. Kita bisa berbagi jika kau mau,” ucapnya ragu. Dia masih memiliki hati untuk tidak membiarkan Siwon tidur dengan posisi menekuk seperti itu di sofa.

Siwon membuka matanya. “Kau yakin menawariku?” tanyanya tidak percaya.

“Jika kau mau,” angguk Hwa Young.

Yah,” Siwon bangun dari berbaring dan memijat tengkuknya. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Perlahan dia berjalan menuju ranjang kembali dan ikut menyusupkan dirinya di dalam selimut.

Night,” Hwa Young membaringkan tubuhnya. Dia memiringkan badannya hingga membelakangi Siwon. Baginya ini pertama kali seranjang dengan seorang lelaki. Mau tidak mau, jantungnya berdetak dengan intensitas lebih.

Siwon ikut memiringkan tubuhnya, bukan membelakangi Hwa Young, namun malah sebaliknya. Dirinya sengaja belum menjawab ucapan selamat malam Hwa Young karena masih ingin membuka percakapan dengan perempuan tersebut. “Aku khawatir dengan apa yang dikatakan Halmeoni padamu? Apakah beliau memarahimu?” Siwon tahu Hwa Young belum tidur, maka dirinya memberanikan diri menanyakan kembali pertanyaannya yang belum sempat terjawab.

“Tidak. Halmeoni tidak memarahiku sama sekali. Kami hanya terlibat percakapan kecil saja,” Hwa Young membuka matanya. Dia menggigit bibirnya saat mengingat konten pembicaraannya dengan sang nenek.

“Aku tahu telah terjadi sesuatu. Bisakah kau mengatakan sebenarnya,” desak Siwon.

Hwa Young membalikkan tubuhnya hingga posisi berbaring. “Halmeoni akan memindahkanku ke Hyundai,” aku Hwa Young.

Ne?” kaget Siwon. Melihat sikap Hwa Young yang disiplin dan bersemangat dalam pekerjaannya, dia menduga bahwa Hwa Young mencintai pekerjaannya juga Shawn Corp. “Kau menyetujuinya?”

“Adakah cara agar aku tidak menyetujuinya?” retorik Hwa Young sambil menolehkan pandangannya ke arah Siwon. “Hari ini, aku juga mendengar bahwa Shawn Corp dan Hyundai mengadakan swap untuk jangka 3 tahun.”

Mwo?” mata Siwon sedikit mendelik. Dia menarik nafas dalam untuk mencoba berpikir jernih dan tidak gegabah. “Jadi itulah yang membebanimu?” dia mengamati lekat wajah Hwa Young. Emosinya yang tadi meledak tiba-tiba lenyap begitu saja dan terganti dengan rasa simpati. Ketenangan menjalar di tubuhnya dengan kondisi sekarang, berbaring di tempat tidur dengan Hwa Young di sisinya.

“Apakah pernikahan ini paling tidak bertahan selama itu?”

Giliran Siwon yang membalikkan tubuh hingga posisi berbaring. Ada sedikit rasa tidak suka yang mendadak meyergap dan membuatnya kesal. “Kau mengkhawatirkannya?” rujuk Siwon pada Kyuhyun.

Hwa Young menoleh ke arah Siwon dengan mengernyit. “Maksudmu?”

“Cho Kyuhyun! Kau mengkhawatirkannya,” balas Siwon dengan nada sedikit tegas.

Hwa Young melengos. “Sedikit banyak, ya,” jawabnya gamang. “Bukankah seharusnya dirimu yang lebih khawatir?” maksud Hwa Young pada Minna.

Sekarang Siwon benar-benar tidak menyukai konten pembicaraan mereka. Dia memiringkan badanya untuk membelakangi Hwa Young. “Sudahlah, kita bicarakan lain kali,” kesalnya menutup pembicaraan mereka.

Hwa Young menoleh dan mengulurkan tangannya untuk menarik piyama belakang Siwon. “Kenapa marah lagi?”

Siwon merasakan piyamanya yang tertarik. Dia mengangkat sebelah alisnya, lalu dengan cepat merubah posisinya sehingga menghadap Hwa Young kembali. “Kenapa harus marah?”

“Aku akan lebih berhati-hati mengenai hubunganku dengan Kyuhyun,” pernyataan Hwa Young untuk menjawab kemarahan Siwon di rumah tadi.

“Jika kau mencintainya, kenapa dahulu tidak menikah dengannya dan malah menerima perjodohan ini?”

Hwa Young ikut memiringkan badanya menghadap Siwon. Dia menjadikan telapak tangannya sebagai bantalan. “Bisakah kau menikahi sahabat kecil yang sangat kau sayangi?”

“Kenapa tidak?”

“Tapi aku tidak bisa.”

Siwon diam, menunggu kata selanjutnya.

“Aku takut menyakitinya. Aku takut jika sampai nanti ternyata aku tidak bisa meningkatkan rasaku menjadi sebuah cinta seorang perempuan pada lelaki,” aku Hwa Young. Sungguh kekuatan magis dari mana hingga pengakuannya keluar begitu saja. Dia bukan gadis yang bisa dekat dengan orang lain dengan mudah atau mengeluarkan unek-uneknya dengan orang yang tidak dekat.

“Melihat foto kemesraanmu, sepertinya perasaanmu padanya telah berubah,” sindir Siwon.

Hwa Young menyunggingkan senyumnya. “Aku sendiri juga tidak mengerti. Biarkan secara perlahan waktu yang menjawabnya,” pungkasnya.

“Andai nantinya, seperti katamu, kau tidak bisa mencintainya dengan kodratmu dan malah berpaling pada yang lain, apa yang akan kau lakukan?” rasa ingin tahu Siwon menyeruak begitu saja.

Hwa Young mengangkat pundaknya dan menggeleng. “Mungkin aku sangat menyesal telah menyakitinya. Atau mungkin, malah aku akan rela membuang rasaku untuk pria lain itu dan tetap menatap Kyuhyun.” Hatinya mengatakan bahwa dirinya tidak akan tega melukai perasaan Kyuhyun.

“Mana bisa seperti itu!”

“Entahlah Siwon-ssi. Maaf,” belok Hwa Young di kata terakhirnya.

Siwon mengernyit heran. “Maaf? Untuk apa?”

“Untuk berada diantara dirimu dan kekasihmu,” tulus Hwa Young. Dia juga wanita dan dia juga bisa merasakan sakit jika saja kekasihnya malah menikahi orang lain.

Siwon menghembuskan nafas panjang. “Tanpa kehadiranmu pun, akan sulit bagi kami untuk bersama,” Siwon membalikkan badannya dan melipat kedua tangannya untuk dijadikan bantalan kepala. “Keluargaku tidak akan semudah itu menerima profesinya sebagai model. Kau sangat jelas mengetahui bagaimana karakteristik seorang istri ideal bagi keluarga ini. Itu mengapa, aku pun menerima perjodohan ini. Mungkin, terlihat tamak, tapi diriku masih belum bisa seutuhnya untuk melepaskan. Melihatnya terluka karena pernikahanku, membuatku tidak tega untuk melepaskannya. Kurasa aku sepakat denganmu. Biarkan waktu yang nanti menjawabnya,” Siwon mengakhiri ucapannya dan menoleh ke samping.

Senyum terbentuk di bibir tipisnya ketika mendapati Hwa Young yang sudah memejamkan matanya. Nafas perempuan tersebut yang teratur menandakan bahwa dia sudah terlelap dalam mimpinya. Tangan Siwon terulur untuk meninggikan letak selimut Hwa Young. “Maaf juga karena tadi bersikap kasar padamu,” lirihnya sambil mengusap poni gadis tersebut.

Sejenak memandangi wajah terlelap milik Hwa Young. Ketenangan menggerayangi hati dan pikirannya. Entah apa yang terjadi dengan motoriknya, hingga tubuhnya mencondong dan dengan hati-hati memberikan kecupan di dahi Hwa Young. “Night, Youngie.”

 

TBC*

[1] Molla: tidak tahu.

[2] Swap: adalah perjanjian di antara dua pihak untuk menukar jenis pembayaran (misal: hutang) mereka. Pembayaran (hutang) dapat bertukar antara bunga tetap (fixed) dengan bunga mengambang.

[3] Halmeoni: nenek (Korea).

301 thoughts on “The Obedient Bride [Rule 3]

  1. Yah.. kyuhyun calon patah hati ini mah. Udah sana aku aja, kyu /abaikan/ menikmati banget baca ini hoho. Konfliknya ga berat jadi yaaa sweet romance aja ini ya? Hehe. Like this lah

  2. park tae rin says:

    poor uri wonnie
    aku suka ff ini eon… btw, aku belum perjenalan ya dari rule-rule sebelumnya… okay,,, salken admin and author. aku reader baru

  3. jen says:

    itu kenapa minna nya? kok gugupp. dan kyk nya ada udang di balik batu nih atas perlakuan keliarga nya siwon buat hwa young. well ceritanya makin seru dan konflik nya makin okeee ;;)

  4. putry says:

    siwon kok cemburu yah..klau hwa youngi sama kyuhyun tpi ngak cemburu kalaw minna dengan model lain berpelukan…..mulai rada2 curiga nih…lanjut yukk

  5. Maya Sherlita says:

    agak sebel nih sama hwa young kenapa juga dia bales ciumannya kyuhyun…
    kayaknya bener nih dugaan aku kalu minna itu kliennya Aphrodite

  6. nayla says:

    “Mungkin aku sangat menyesal telah menyakitinya. Atau mungkin, malah aku akan rela membuang rasaku untuk pria lain itu dan tetap menatap Kyuhyun.”
    aku malah takut ending cerita ini, entahlah, kata-kata ini seakan-akan kalo nanti mereka beneran suka satu sama lain, kendalanya ada pada kyuhyun sama minna.
    dan, aku makin kepo sama minna dan aphrodite. kalo emang minna klien aphrodite, apa masalah yang minna hadapi? apa ada hubungannya dengan siwon?. lets check it out…..

  7. celin says:

    antara kasihan atau senang liat kyu menderita disini haha😀
    aku heran sama sikap siwon ke minna dia itu cinta gak sih ke minna?? kerja aja terus yg dia pikirkan padahal ada minna disampingnya kalau dia cinta ke minna pasti dia lebih menghabiskan waktunya sama minna..pas minna terima telpon aku makin yakin kalau minna itu klien Aphrodite..
    hwayoung itu ada sedikit rasa gak sih ke kyuhyun? dia nerima aja pas kyuhyun nyium dia.. berarti mereka bakalan menikah selama 3 tahun?? aku sama sekali gak ngerti tentang bisnis..
    aku selalu suka obrolan diatas ranjang sebelum tidur,, dan yg terakhir pas siwon nyium kening hwayoung, aku yakin ada rasa suka ke hwayoung..

  8. momo says:

    Kya kyaaa suka sama scene2 bagian akhir siwon semakin perhatian, tapi aku agak curiga sama minna pas dia terima telp ff ini bener2 bagus, next part ya

  9. haahhh…. rumitnya pernikahan bisnis,
    kecurigaanku makin bertambah kalau pacarnya Siwon itu kliennya Aphrodite pas dia nerima telephone…

    takjub sama karakter dan nasib Kyuhyun di kisah ini, karena biasanya dia yang dikejar-kejar cewe dengan segala sikap dingin dan angkuhnya, tapi disini dia jadi sosok kebalikan dengan sikap manis dan penantiannya sama Hwayoung…

    suka banget sama bed talks mereka hihihi, satu sama lain udah mulai ngerasa nyaman ngungkapin kisahnya…

    makin seru eonniiieeeeee😀

  10. manisaulia says:

    Aku bener2 salut sama penggambaran karakter hwa young..penjelasan kata2 nya juga luar biasa, dia g mudah meledak,.tp tetap elegant..

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s