Jar Of Heart [Heart 1]


Jar Of Heart [Heart 1]

By:

Arsvio

Main Cast:

Aiden (Donghae Lee, SJ)

Sehun Oh (Exo K)

Nam Ryung Cho (OC)

Luhan (Exo M)

Dedicated To:

My Lil Sist

Kuketuk-ketukkan pensil mekanik di buku catatan matematika milikku. Kurasa kepalaku sudah berdenyut memikirkan soal trigonometri ini. Oh Gosh! What on earth did ancestor think when invent this damn formula? Kuletakkan pensil, lalu kututup buku ini dengan kasar.

PLOP

“Gosh!” aku terperanggah ketika dia datang dengan tiba-tiba. Kenapa di saat otakku buntu, masalah datang lagi. Dia mencondongkan wajahnya ke arahku sehingga dengan reflex aku memundurkan kepalaku. Meski aku tahu tubuhnya akan tembus melaluiku, tapi wajahnya di depanku benar-benar terlihat nyata. “Wh..why?” gugupku sembari mencengkeram sandaran kursi belajar.

“Mengeluh lagi?” sindirnya.

“YA!” pekikku. Memang seberapa sering aku melakukannya. “Aku jamin kau juga tidak akan bisa mengerjakannya!” tantangku.

“Ckckck…” decaknya. “Untuk apa aku melakukannya,” dia mensedekapkan kedua tangan di depan dada.

Aku mengelus dahiku. God! Kenapa harus aku? Dan kenapa harus dia? Kumohon kembalikan dia pada tempatnya. Tiga hari ini aku benar-benar seperti orang tak waras karena berhalusinasi melihat penampakan malaikat kesasar.

“Hei…hei…tidak usah semerana itu. Kau beruntung bisa melihatku. Dan apa kau bilang? Malaikat kesasar? Sudah kubilang, aku ini malaikat penjaga,” belanya.

“Bisakah kau berhenti membaca pikiranku?”

“Aku bukan Edward Cullen yang membaca pikiran orang lain. Pikiranmu itu tersuarakan dan secara sendirinya terdengar olehku,” dia nampak memainkan kukunya.

“Ah, kurasa nenek moyangku menyediakan rumus tan untuk mengukur kemiringan otakmu,” balasku.

Dia mendelik dan memanyunkan bibir bawahnya. “Kau harusnya bersyukur dapat menikmati ketampananku setiap waktu,” dia mengibaskan poni miring panjangnya.

Astaga! Aku membulatkan mulutku. Kenapa Tuhan menciptakan malaikat naris macam dia. Aku memicingkan mata dan melongokkan kepalaku mendekat ke arahnya. Mataku melirik ke arah samping meja, tepatnya ke arah fotoku bersama kakak lelakiku, kemudian tatapanku kembali lagi padanya. Jari telunjukku menggantung tepat di depan hidungnya, lalu bergerak horizontal ke arah foto. “Do you know? My brother is more handsome than you are.”

Dia ikut mendekatkan wajahnya padaku. “Mungkin hanya kau saja sebagai dongsaengnya yang mengatakan demikian. Coba saja tanyakan pada yang lain,” dia menggeleng-gelengkan kepala meremehkan.

Enak saja dia berkata demikian, bagiku oppaku Cho Kyuhyun yang paling tampan. “Cish, bagaimana aku bisa menanyakan pada yang lain? Bahkan mereka pun tak bisa melihatmu,” sengitku. Bukankah pernyataanya absurd?

Aku benar-benar tak mengerti kehadirannya di sini. Ditambah lagi, hanya aku yang dapat melihatnya. Pertama kali dia muncul, aku heboh berteriak-teriak hingga Appa dan Oppa sempat menganggapku depresi. Ketika aku menanyainya, dia menjawab kalau dirinya adalah malaikat yang sedang dihukum. Dan seperti inilah percakapan kami, berputar-putar untuk berdebat sesuatu yang tak penting.

Aku menoleh saat dering message tertangkap telingaku. Kusambar ponselku dan membuka pesan tersebut tanpa mengindahkan tatapan jengkelnya. Senyumku terkembang begitu saja ketika melihat sender-nya.

From: Luhan

Sedang apa?

Segera kuketikkan balasan.

To: Luhan

Mengerjakan tugas matematika. Dan ini sungguh memusingkan. Bisakah mengajariku?

Aku sangat berharap dia mengiyakan. Temanku satu ini bisa kuandalkan untuk mata pelajaran ini. Err…kepalaku menoleh melihat dinding samping, tepat di sebelah kamarku, ada orang yang juga kompeten di bidang ini. Tapi, aku akan berpikir ribuan kali untuk minta tolong padanya.

From: Luhan

Tentu. Ryu? Bagaimana aku menahan ledakan emosi ini?

Aku tersenyum senang karena itu berarti tugas matematikaku terselesaikan. Tapi, kata-kata Luhan setelahnya membuatku mengernyit. Apa perasaannya terhadap Gyuri masih menyiksanya? Aku turut bersimpati pada kisah cintanya. Tapi, apa yang bisa kulakukan jika aku sendiri tidak punya pengalaman atas percintaan.

To: Luhan

Jika kau ingin, marahlah padaku.

“Kau mengorbankan dirimu sendiri untuk menampung emosinya, Nona Ryung?” sinisme seseorang yang menyandar di meja belajarku.

Kutatap dirinya sengit. “Ini bukan urusanmu, kenapa kau masih di sini? Bukankah seharusnya kau mengerjakan hukumanmu agar cepat kembali ke langit?” maksudku untuk mengusir. Walaupun, dia seperti penampakan, tapi tetap saja risih jika diperhatikan seperti ini.

“Kau adalah tugasku,” tunjuknya pada diriku.

Aku mengangkat bahu dan memutar mata malas. Entah sudah berapa kali dia mengatakan kalimat tersebut. Dan aku masih tidak mengetahui alasan aku menjadi obyek tugasnya. Aku bukan anak tertindas yang butuh pertolongan ibu peri. Hidupku lengkap. Aku memiliki Appa, Oppa juga sahabat dan teman-teman. Dan aku yakin mereka menyayangiku.

From: Luhan

Hehehe…aku tidak bisa menumpahkan amarahku padamu. Hah, terima kasih Ryu.

Aku memiringkan kepalaku.

To: Luhan

For what?

From: Luhan

Untuk semuanya. Terima kasih karena selalu mendengarkanku.

Aku mengulas senyum. Ada perasaan senang yang tidak bisa kujabarkan. Akhir-akhir ini kami sering menghabiskan waktu bersama, sekedar bercakap mengenai masalah pribadi atau berdiskusi tentang suatu mata pelajaran. Ada rasa resah ketika tak melihatnya, juga rasa gembira ketika bersama.

Yang kuherankan adalah gadis bernama Gyuri itu. Bagaimana bisa dia menolak seorang Luhan? Seorang berprestasi di bidang Fisika, kapten basket, dan berparas rupawan. Sudahlah, ini terlalu membingungkan. Andai saja aku seorang cupid dan bisa menembakkan panah asmara, aku tentu akan membantu Luhan mendapatkan gadis itu. Tapi…kenapa di hatiku ada rasa tidak rela?

“I don’t know,” aku menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir imaginasiku.

“Daripada memikirkan sesuatu yang tak jelas seperti itu, lebih baik kau belajar,” dia mengetukkan telunjuknya pada buku matematika yang kututup tadi.

“Hish, you’re an annoying angel!” aku beranjak menuju kamar mandi bermaksud membersihkan diri sebelum tidur. “Jangan menembus dinding untuk mengintip! Awas kau jika melakukannya!” pekikku dan setelahnya aku menutup mulutku rapat-rapat, mengumpat pada diriku sendiri. Bodohnya! Bagaimana jika Appa dan Oppa sampai mendengarnya.

“YAK! RYUNG! JANGAN BERISIK!”

Benar kan. Oppaku sudah mengultimatum. Semoga saja dia tidak mendengar jelas perkataanku tadi. Menembus dinding? Yang benar saja.

***

“Gantikan dulu cos 2 x menjadi 1 dikurangi 2 sin kuadrat x, kemudian bentuk persamaan kuadratnya dan misalkan sin x menjadi p. Setelahnya, kau akan mendapat persamaan kuadrat biasa dan selesaikan saja,” jelas Luhan sembari menuliskan langkah-langkahnya di bukuku.

“Ok, aku mengerti,” aku mengangguk-angguk paham atas penjelasannya. Kukerjakan langkah selanjutnya hingga selesai. “Thanks a bunch,” aku tersenyum lega.

“Kau ada extra jam setelah pulang nanti?”

Aku mengingat jadwalku. “Yes, I’ll. I’ve to face my new native teacher after class,” terangku. Aku mendelik ke arah Aiden, sang malaikat kesasar, yang menopang dagu dan memandangiku serta Luhan secara bergantian. Kugerakkan bola mataku bermaksud menyuruhnya pergi dengan isyarat. Tanganku mengepal ke udara dengan sendirinya saat Aiden dengan wajah malas menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri.

“RYUUUNGG!” aku menoleh ketika mendengar suara gadis yang sudah kuhafal. Dia menubrukkan badannya padaku lalu memelukku erat.

“Yak! Nara-ya! Are you trying to kill me?” marahku karna pernafasanku sesak akibat pelukannya. Sedikit kulonggarkan secara paksa pelukannya, tapi Nara bergeming dengan posisinya. Kutepuk-tepuk pundaknya. “Did Something happen?” bisikku saat menangkap getaran tubuhnya.

“Ah, mungkin kalian butuh waktu privasi,” Luhan berdiri dari duduknya.

Aku mengangguk. Kuangkat sebelah tanganku ke arahnya. “Catch you later,” ucapku saat dirinya akan pergi.

“Ryung, apa yang harus kulakukan?” Nara mengucapkannya dengan bergetar. Dia melepaskan pelukannya dengan wajah yang tertekuk.

Kuulurkan tanganku untuk mengelus pipinya. Benar, dia menangis. “Tell me.”

“Appa dan Eommaku memutuskan bercerai, dan aku harus memilih antara mereka berdua. Bagaimana ini?” air mata Nara kembali meluncur, membasahi pipinya.

“What?” kagetku. Aku benar-benar tidak mengira masalahnya akan sepelik ini. Beberapa minggu terakhir, Nara memang murung karena masalah keluarganya. Namun, aku tidak mengira jika akhirnya akan seperti ini. Kutarik dengan lembut tubuh Nara ke pelukanku. “Tidak ada salah satu diantara mereka yang terbaik, karena mereka berdualah yang terbaik,” aku menghela nafas.

“Ryung…” Nara semakin keras terisak di bahuku.

Kuelus punggungnya. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuknya. Mataku ikut tergenang air mata ketika kurasakan Nara meremas seragamku dan menangis keras. “Aku di sini. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja,” kucium pelipisnya. Kurasa, inilah yang selalu dilakukan Kyu Oppa padaku jika aku sedang merajuk. “Kuantarkan kau ke ruang kesehatan, kau butuh istirahat,” aku melepas pelukanku dan membantunya berdiri.

***

Aku menutup pintu ruang kesehatan, lalu kusandarkan tubuhku sejenak pada daun pintu tersebut. Aku belum pernah merasakan sesak karena orang tua yang bercerai, apakah rasanya sama ketika merindukan Eomma? Ataukah itu adalah rasa yang berbeda?

Aku menoleh ke belakang, lalu memerosotkan bahu. “Kau pasti bisa melaluinya, Nara-ya,” lirihku dengan keyakinan. Kuputar kakiku untuk melangkah namun diriku terperanggah, lagi-lagi, oleh Aiden yang berdiri di depanku. “Kalau ingin berdebat, aku sedang tidak dalam mood yang bagus,” tangganku terulur di udara.

Aiden tersenyum tipis. Tangan kanannya membuat gerakan melingkar di udara, Memunculkan sebuah kendi kecil bewarna keperakan. Tangan kirinya terulur ke arahku, tepat di depan dadaku. Mataku membulat ketika perlahan dapat kulihat sebuah vector berkilau bewarna biru muda keluar dari dadaku. Vector berpendar tersebut memiliki panjang tak lebih dari 12 inchi dan mengambang di udara. Tangan Aiden seolah menarik vector tersebut dan membimbingnya untuk masuk dalam kendi di tangan kanannya. “Satu rasa selesai,” ucapnya.

“What’s that?” aku mengerjap-ngerjapkan mata. Masih terpesona dengan kejadian itu. Telunjukku menunjuk kendi yang telah hilang dari tangan kanan Aiden. “Apa yang baru saja kau lakukan padaku,” gagapku sembari mengusap dadaku. Tidak ada apa pun yang terjadi padaku. Aku baik-baik saja.

Aiden menekuk lututnya hingga wajah kami sejajar. Jarinya menyentil pelipisku, tapi tentu saja hanya terasa sebagai hembusan angin. “Bodoh! Tentu saja kau baik-baik saja. Aku hanya menjalankan tugas.”

“Oh,” aku mengangguk-angguk pelan  meski belum sepenuhnya mengerti. Kuelus-elus pelan dadaku. Tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu. “Oh God!” kutepuk dahiku saat melihat waktu yang ditunjukkan oleh kedua jarum jam tanganku. “Aish,” segera kupercepat langkahku.

“Kenapa terburu?” Aiden melangkah sesuai dengan langkah kecilku yang cepat.

“Aku harus menemui guru pembimbingku,” keluhku saat mengingat jadwalku.

“Hah, kukira apa,” dia masih mengimbangiku berjalan sambil bersedekap.

Aku menoleh ke arahnya. Enak saja dia meremehkan. Ini pertemuan pertamaku dengan native speaker yang akan menjadi pembimbingku untuk mempersiapkan debat. Jadi mana bisa terlambat. “Sudahlah per—“

BRUK…

Belum sempat menyelesaikan kalimatku, yang kurasakan selanjutnya adalah tubuhku yang terhempas ke lantai. “Augh…” pantatku terasa nyeri. Aku mendongak dan melihat Aiden yang menggeleng sembari berdecak. Memang gara-gara siapa aku jatuh. “Mianhata,” aku menundukkan kepala dan segera bangun dari posisi jatuhku.

Gosh, aku membuat masalah. Kulihat beberapa kertas berserakan di lantai. “Mianhata,” aku berjongkok kembali dan membatu orang yang kutabrak untuk mengumpulkan berkas-berkasnya. “Jeongmal mianhata,” sesalku saat meyadari orang tersebut belum bersuara sepatah kata pun untuk menanggapi permintaan maafku.

“Ini,” aku mengangsurkan tumpukan kertas yang kukumpulkan.

“Ah,” pekik tertahan orang tersebut sambil berjongkok tepat di hadapku.

“Oh, mian,” aku menarik mundur kakiku yang menginjak salah satu berkas miliknya. Oh, Ryung, kau benar-benar membuat masalah kali ini.

Dia berdiri kembali dan mengibaskan kertas tersebut untuk membersihkan debu akibat injakkanku.

“Mianhata—“ aku melirik nametag di jas seragamnya, dan nafasku tertahan sebentar, “—Sehun-ssi.” Oh, kenapa dari sekian banyak orang, harus ketua organisasi siswa yang harus kutabrak. Aku membungkukkan badanku. Dan tanpa patah kata, kurasakan dia berlalu.

“Lain kali perhatikan langkahmu,” suara Aiden membuatku mengangkat kepala.

Aku menoleh untuk memerhatikan punggung Sehun-ssi. “Careless, Ryung!” kupukul pelan kepalaku. Sudah bukan barang mengherankan lagi di sekolah ini, sikap Sehun-ssi memang terkesan dingin. Fuh, adakah para gadis itu cukup waras menaksirnya? Mengingat para siswi sering memperbincangkannya.

“Hei, kau tak ingat akan janjimu.”

Suara menyebalkan itu lagi. Aku melirik tajam ke arahnya. Namun, “Aahh…” dia benar, aku harus bergegas. Langkah kecilku berubah menjadi semakin cepat. Menelusuri koridor menuju ruang guru.

***

“So, you’re the appointed student to represent the debate, aren’t you?”

“Yes, I’m, Miss,” aku mengangguk hormat. Mataku melotot ketika kulihat Aiden mengamati dengan lekat guru pembimbingku. Kukibaskan pelan tanganku sebagai isyarat agar dia tidak macam-macam. Baiklah, aku akui native speaker-ku kali ini memang cantik. Tapi perlukah si malaikat kesasar itu sebegitu terpesona? Memang di langit sana tidak ada bidadari. Aku mengkeret pelan ketika Aiden balas melotot padaku.

“We’ll practice after class every Monday till Thursday. We can use language lab…” dan penjelasan Miss Angelle memudar perlahan saat pendengaranku menangkap suara lain. Kutolehkan kepalaku ke samping dan melihat Sehun berdiri tepat di seberang. Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka diskusikan. Yang jelas, mataku menangkap Kepala Sekolah sedang marah dengan melemparkan sebuah berkas ke meja.

Wait…apakah itu berkas yang tadi…kuinjak! Gosh! Kenapa noda sepatuku masih tercetak jelas di sana. Jadi, Kepala Sekolahku yang terdengar killer itu meledak gara-gara kertas itu kotor. Memang seberapa penting berkas itu? Bukankah dia bisa menyuruh Sehun-ssi untuk mencetaknya kembali. Rasanya gemas juga mengingat dalam hal ini akulah yang patut dipersalahkan.

“Nam Ryung Cho, do you hear me?”

Aku tersentak pelan saat suara Miss Angelle terdengar menyentak. “I’m really sorry, Miss,” kutundukkan kepalaku dalam. Gosh! I’m really a troublemaker.

“Notice me when I’m speaking at you, young lady,” ucap lembut Miss Angelle.

Beruntungnya guru pembimbingku, seperti namanya, bersikap bak malaikat. Dibandingkan malaikat kesasar yang kukenal, Miss Angelle lebih pantas menyandangnya. Dan kurasakan bulu kudukku meremang karena tatapan membunuh dari Aiden.

Miss Angelle menolehkan kepalanya ke arah pandanganku tadi. “Did something wrong with that boy, Nam Ryung?” tanyanya padaku.

Aku mengangkat kepalaku dan menggaruk tengkuk dengan kaku. “Ah, I got bump into him when walked here. It was bothering me. I’m sorry, neglected on you, Miss,” sekali lagi aku membungkukkan badan.

“Ok, since it’s the first time we met, I forgive your neglectful. See you, in Tuesday.”

“Gamsahammida, Miss Angelle,” aku membungkuk dan melangkahkan kaki keluar dari ruang guru. Hei! Apa yang dilakukan malaikat kesasar itu. Rasanya ingin berteriak agar Aiden mengikutiku keluar. Aku menggerakkan daguku untuk memberi sinyal padanya agar mengikutiku. What? Mataku membulat ketika dia mengibaskan tangan untuk menyuruhku pergi, sedangkan dirinya masih sibuk menatap guru pembimbingku. Dasar malaikat kurang waras!

***

Kusandarkan punggungku pada dinding. Kakiku mengetuk-ngetuk lantai pelan. Kugigit bibir bawahku sebagai refleksi rasa resahku. Bagaimana ini? Kepalaku menoleh ke arah pintu ruang guru. Seketika aku menegakkan badan saat melihat seseorang keluar dari ruangan tersebut dengan langkah cepat dan menghentak, kentara sekali kalau sedang kesal.

“Sehun-ssi…Sehun-ssi…” aku mencoba mengejarnya. Langkahku terhenti ketika tubuhnya berbalik menghadapku. Dia diam dan hanya memandangku dengan alis yang bersatu. Kurasa dirinya sedang menungguku mengeluarkan kata-kata. “Emm, tadi…apakah kau…” kataku terpatah-patah. “Kau…kena marah Kepsek karena—“ aku menunjuk diriku sendiri, “—Ku.”

Sehun tampak menghela nafas. Kemudian, dia memutar balik tubuhnya. Melangkah menjauhiku.

“Sehun-ssi, adakah sesuatu yang bisa kukerjakan untuk menebus kesalahanku?” aku mengiringi langkahnya yang lebar. “Oh, aku bisa mencetakkan ulang berkas yang kotor tadi,” kulihat Sehun masih saja membungkam mulut. “Atau, aku akan mengetikkan ulang,” desakku. Aku sungguh merasa tidak enak hati.

Sehun berhenti mendadak dan menatapku tajam. “Tak perlu,” singkatnya kemudian melanjutkan jalannya.

“Bukan begitu. Aku merasa bersalah atas kejadian tadi,” aku terus mengejarnya. Bagaimana pun dia dimarahi Kepala Sekolah akibat kecerobohanku. “Atau ada yang lain yang kau inginkan? Aku bi—“

BRAK…

Aku terhuyung ke belakang. Untungnya, sebuah tangan menahan lengan atasku sehingga tubuhku tidak terjerembab ke lantai lagi. Kepalaku benar-benar berdenyut dan pandanganku berkunang-kunang. Astaga! Siapa yang menaruh pintu di sini. Hari ini aku sungguh kacau.

“Gwencanayo?”

Aku menegakkan kepala. “Ah, I’m fine. Thanks,” tanganku masih mengurut dahi yang mencium pintu tadi. “Really sorry, Sehun-ssi,” dia menarik tangannya dari lenganku.

“RYU!” kulihat Luhan berlari mendekat. “Apa yang terjadi?” paniknya ketika melihatku yang masih mengurut dahi.

“A clumsy of me,” terangku.

Luhan mengambil jemariku, kemudian melihat dahiku. “Kuantar ke ruang kesehatan,” dia meraba dahiku. “Memar, Ryu,” ucap Luhan membuatku mengerti kenapa rasanya dahiku nyeri.

“Auch…” ringisku saat jemari Luhan menyentuhnya. “Once more, thanks and sorry, Sehun-ssi. Tell me, if you need me to reedom my fault,” aku menyempatkan berucap pada Sehun yang masih berdiri di sana. Dan dia hanya mengangguk dengan wajah datar.

***

“Ah…hati-hati…” rintihku saat Luhan mengompres lukaku dengan handuk hangat.

“Apa yang membawamu ke ruang kesiswaan?” tanya Luhan dengan masih menahan kompres di dahiku.

“Tidak. Aku hanya merasa bersalah karena tadi tidak segaja menabrak Sehun-ssi.”

Luhan menurunkan kompresnya dan menatapku heran. “Ada apa denganmu akhir-akhir ini?”

Aku sedikit melengkungkan bibir ke bawah. “I don’t know either, Lu,” jujurku.

“Kau tertekan dengan persiapan debatmu?”

Aku mengayunkan kakiku yang menggantung di ranjang. “Tidak. Malahan, aku menikmatinya. Mungkin hanya perasaanmu saja.”

Luhan memicingkan mata untuk menatapku. “Bergumam sendiri, melotot pada udara kosong, dan hari ini bersikap ceroboh. Adakah yang terlewatkan Miss Cho?”

Aku menghembuskan nafas pasrah. Baiklah, memang benar aku melakukannya. Tapi itu gara-gara…

PLOP

Nampak Aiden melambai padaku dengan senyum innocentnya. “Dia,” desisku.

“Mwo? Apa yang baru saja kau katakan?”

“Nothing,” aku memasang senyum menyakinkan pada Luhan. “Aku hanya sedang berlatih untuk pronounciation saja. Jadi terlihat seperti bergumam sendiri,” cengirku. Dan syukurnya Luhan mengangguk mengerti.

Luhan menggeser duduknya hingga kini tepat berada di sampingku. “Aku menyerah, Ryu,” ucapnya sembari menjatuhkan kepalanya di pundakku.

“What do you mean?”

“Aku lelah untuk berharap padanya. Jadi, kuputuskan berhenti.”

“Lu…” aku tidak mampu berkata.

“Aku tidak apa-apa,” dia menegakkan kepalanya dan tersenyum ke arahku. “Lagipula di sisiku ada seseorang yang lebih baik darinya,” dia mengacak rambutku.

Aku mengernyit karena masih kabur akan maksudnya.

Luhan memegang kedua bahuku dan memutar tubuhku untuk menghadapnya. “Bantu aku melupakannya dengan menerimamu, Ryu,” pandangannya menatap dalam ke bola mataku.

Aku tidak tahu dengan hatiku yang menghangat dan meledakkan berjuta warna. Apakah aku yang terlalu stupid mengartikannya atau apa. Yang jelas aku senang dengan perkataannya hingga kepalaku mengangguk begitu saja.

“Gomawoyo Ryu,” pekik Luhan sambil mencubit pipiku gemas.

***

[One week after]

“Tidak, kurasa buku yang ini lebih bagus,” aku mengangkat sebuah buku matematika.

Luhan mengambil  buku tersebut dari tanganku dan membolak-balikkan halamannya. “Kurasa kau benar. Ok, kita ambil buku yang ini saja,” dia berjalan ke arah kasir untuk membayar buku yang kita pilih. Dan aku mengekornya.

“Kita mampir ke kedai janjangmyon favoritku,” Luhan memiringkan badannya sedikit agar aku bisa mendengar perkataannya.

“Tentu,” aku mengangguk senang. Ternyata, memiliki seorang kekasih seperti ini rasanya. Tanpa kusadari, bibirku sudah tertarik membentuk senyum tipis.

“Jangan tersenyum sendiri seperti itu.” Aku merasakan punggung tangan yang menyentuh pipiku.

“Wh…what?” kagetku sambil menoleh ke arah Luhan.

Luhan terkekeh renyah. “Kau ini. Aku hanya tidak ingin orang lain terpikat senyummu,” tangannya mengacak gemas rambutku. “Ayo,” Luhan mengulurkan tangannya.

“Hemm…” aku menyambut uluran tangannya. Jantungku berdegub kencang saat menyentuh kulitnya yang lembut. Mataku memerhatikan pertautan tangan kami. Kukerucutkan bibirku saat dorongan untuk tersenyum menghampiri. Bagaimana pun aku tidak ingin dianggap gila.

***

“Hei…hei…belum puaskah kau tersenyum?”

Aku menatap sumber suara dengan pandangan itu-urusanku. Dia mengusap dagunya kemudian memiringkan kepala seolah sedang memikirkan sesuatu. “Kau sedang berpikir ya?” godaku.

“Ini aneh,” ucapnya sembari berjalan modar-mandir di  kamarku. “Kau sedang jatuh cinta bukan?” tunjuknya padaku.

“Cih,” aku melengos karna pertanyaannya yang sedikit membuatku malu.

Aiden menopang dagunya dan duduk di daun jendela. “Cinta, bukan cinta,” dia membuka telapak tangan kanan dan kirinya secara bergantian. “Memang apa yang kau rasakan?” dia menoleh padaku.

“It’s my business,” aku menatapnya cuek.

“Hei, jika kau ingin aku cepat hilang dari hadapmu, seharusnya kau membantuku menyelesaikan teka-teki ini.”

“Aku memang menginginkan kau tidak lagi menggangguku. Tapi, jika itu berarti harus membantumu…” aku memainkan kukuku, “Eum…aku harus berpikir ulang.” Sengaja, aku mengerjainya. Sekali-kali biarkan aku yang menindasnya. Eh? Sepertinya kata itu tidak cocok. Tapi, aku menyukainya.

Aiden mendekat dan membuka telapak tangannya tepat di depan wajahku. Hanya sebentar, kemudian dia menarik tangannya kembali. “Aku tidak menemukan rasamu,” ucapnya singkat lalu tubuhnya menghilang begitu saja bersamaan pintu kamarku yang diketuk.

***

“Oh, God. Please save me,” aku meracau sembari berlari. Kubuka pintu lab bahasa dengan terburu. “I’m really sorry Miss,” aku menunduk dalam saat menghadap guru pembingbingku.

“This’s the third time, Nam Ryung-ssi,” ucap Miss Angelle dengan nada datar.

Aku semakin menunduk. Sama sekali tidak berani menatapnya.

“Do this competition important to you?”

Aku mengangguk pelan. “Yes, Miss.”

“I have read your academic record, and nothing should be worried about your attitude or your marks. But, why don’t you discipline on this session?”

“I’m really sorry, Miss,” ulangku.

Aku mendengar ketukan sepatu mendekat ke arahku. Disusul sebuah tangan menepuk bahuku pelan. “Are there any problems that’re bothering you?”

Aku menggeleng. Tidak seperti guruku yang lain, Miss Angelle bersikap lebih demokratis. Dia tidak akan langsung memarahiku ketika terlambat sampai aku mengatakan alasannya. Aku benar-benar merasa tidak enak hati akan sikapku akhir-akhir ini. Tidak mungkin aku mengatakan alasan terlambatku karena aku terlalu asyik mengobrol dengan Luhan. Atau aku yang terlena melihatnya beraksi di lapangan basket kemarin. “I’ll be more discipline,” janjiku.

Jemari Miss Angelle mengangkat daguku hingga menghadapnya. “Ok, it was your promise. And from now on, I’ll give you extra work if you break your words. Understand?”

“I do, Miss.”

***

“Kapan kau menyelesaikannya?” Aiden menopang dagunya di meja.

“In a few seconds,” singkatku. Aku masih mencatat semua opini atas Global Warming.

“Kau mengatakan hal itu sebanyak lima kali sejak satu jam lalu.”

Aku meletakkan pensilku dengan kesal dan menatapnya. “Could you leave me alone! You’re really annoying!” bentakku.

Aiden menatapku kesal. “Baik!” balasnya. Dan tanpa kata-kata lagi, dia menghilang begitu saja dari hadapku.

Aku meniupkan udara yang tertampung di pipi hingga poniku sedikit bergerak ke atas. Kuambil pensilku kembai dan melanjutkan menulis. Hingga beberapa paragraph, aku masih asyik membuka kamus dan mengecek beberapa grammar pada tulisanku. Sadar bahwa aku memang membutuhkan ini karena keterlambatanku beberapa kali membuat beberapa materi tertunda. “Oh my godness!” aku melupakan sesuatu.

Kuaduk-aduk tas untuk mencari smartphoneku. Aku lupa memberi kabar pada orang rumah bahwa aku pulang terlambat. “Owh,” keluhku saat mendapati ponselku mati. Pasti lowbatt. Aku memutar pergelangan kiriku untuk mengecek waktu. Pukul 7.00 p.m.

Kutepuk dahiku pelan. Seharusnya aku mengikuti saran Miss Angelle tadi untuk membawa perkerjaan ini pulang. Aku menoleh ke sekeliling. Kosong. Terang saja, karna hanya aku juga Miss Angelle, yang sudah pulang sore tadi, yang menggunakan lab ini.

“Aiden?” panggilku. Dia benar-benar marah? Salah siapa dia terus menggangguku. “Oh,” kagetku sambil mendongakkan kepala. Apa yang terjadi dengan lampunya. Kenapa berkedip-kedip?

KLAK…

“Aaa…” aku berteriak secara spontan saat lampu padam. Aku mengangkat tanganku ke udara untuk meraba benda di sekitarku. “Hallo, ada orang di luar?” seruku. Berharap masih ada siswa atau penjaga sekolah yang masih berada di sekitar lab. “Hallo?” seruku lagi.

Aku menggeser kakiku sedikit demi sedikit. “Adakah seseorang di luar?” aku mengeraskan volume suaraku. Apakah karna gelap, aku jadi mendengar suara-suara janggal? Aku bukan penderita myctophobia, tapi sekarang aku benar-benar takut.

“Auw,” tubuhku terjatuh saat kakiku terkantuk sesuatu. Sepertinya sebuah meja. Aku bangun. Mencoba mencapai pintu keluar lab. Dan lagi-lagi tubuhku terjerembab saat kurasakan sebuah kabel melilit pergelangan kakiku. “Sedikit lagi, Ryung,” kusemangati diriku sendiri. Aku beringsut untuk mencapai handel pintu. “Got it!”.

Tunggu, kenapa tidak terbuka. Aku berusaha mendorong pintu agar terbuka. “Tidak…” kugedor-gedor pintu lab. “Adakah seseorang di sana?” sekarang aku sungguh ketakutan. “Kumohon, adakah yang mendengarku?” kerasku. “Kumohon…” aku menekuk kakiku. “Tolong…” rintihku seraya mulai menangis.

“Aiden…Aiden…” panggilku. Aku menyesal mengusirnya tadi. Sekarang lihat, aku sendiri di ruang lab bahasa ini. “Aiden…kau dimana?” aku mulai terisak. “Aiden…”

“Aku di sini, Ryung.”

“Aiden?” kagetku saat mendengar suaranya.

“Ya.”

“Kau dimana?” tentu saja aku tidak bisa melihatnya karena keadaan saat ini benar-benar gelap total.

“Aku di sebelahmu.”

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Mesti tahu tak akan membuahkan hasil. “Dimana?” disaat seperti ini, aku berharap bisa menyentuhnya sehingga dapat merasakan kehadirannya.

“Di sini, Ryung.”

Kurasakan  hebusan angin yang menerpa punggung tanganku. “Aiden, jangan pergi,” rengekku.

“Tidak, aku masih di sini. Maaf sepertinya aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengeluarkanmu.”

“Kenapa?” aku terus memancingnya bicara. Setidaknya dengan itulah aku merasakan kehadirannya.

“Kekuatanku dicabut, Ryung. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanya bertransformasi dari suatu tempat ke tempat lain,” lirihnya.

“Tidak apa-apa. Apa kau bisa menyanyi?” aku menekuk lututku stelah membebaskan pergelangan kakikku dari kabel yang tadi melilit. Sejenak kemudian, aku mendengar suara merdu menyanyikan sebuah lagu. Reflection. Bagaimana Aiden tahu lagu lullaby yang biasa dinyanyikan Kyu Oppa?

Tepat setelah lagu berakhir, aku mendengar ketukan di pintu. “Ada seseorang di dalam?”

Aku mendongak. “Ya!” seruku.

Aku menyipitkan mata untuk memandang seseorang yang membuka pintu. Keadaan di luar juga gelap, dan dia hanya menggunakan cahaya dari ponselnya. Dia mendekatkan ponselnya ke wajahku. Mungkin untuk mengenaliku. “Nam Ryung-ssi?”

“Se..Sehun-ssi.”

***

Kucengkeram lengan jaket milik Sehun. Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi terserah, ini keadaan darurat. Dan aku tidak mau diriku terjebak lagi di dalam gedung sekolah. “Kenapa selarut ini masih di sekolah?” kuberanikan bertanya.

“Aku menggarap laporan organisasi,” ucapnya datar.

“Oh,” aku sedikit lega, dia mau menjawab. Setidaknya, keadaan tidak benar-benar mencekam. Aku tahu Aiden berjalan di sisiku. Tapi mana mungkin aku berani berbicara dengannya. Bisa-bisa besok pagi aku dianggap gila.

“Bagaimana kau bisa memiliki kunci?” tanyaku dengan sedikit terbata. Aku sungguh takut dengan suasana gelap sekolah ini. Bahkan pandanganku hanya dapat melihat punggung Sehun samar. Ayolah jawab aku. Sepatah kata pun cukup.

“Duplikat. Berjaga-jaga ketika lembur.”

“Oh,” responku sama.

“Tangga,” ucap Sehun tiba-tiba.

Dan karena jarakku dengannya yang sedikit jauh, aku jadi tidak siap. Kakiku terpeleset di anak tangga. Namun, sebelum terguling, lagi-lagi Sehun menangkapku. “Th…thanks,” gagapku.

Kurasakan tangan Sehun merangkul pundakku, sedangkan tangan sebelahnya terangkat untuk menjaga cahaya dari ponselnya. Mungkin menghindari resiko aku terjatuh. Kusatukan kedua tanganku di depan dada. Kepalaku mendongak dan melihat garis tegas rahangnya dalam temaram cahaya. Hanya seperti ini, risauku akan gelap menghilang.

Aku benafas lega saat kami tiba di pintu keluar gedung sekolah. Areal sekeliling terang, hanya sekolah saja yang mengalami pemadaman. Mungkin telah terjadi konsleting. “Sehun-ssi, jeongmal gomawoyo,” kubungkukan badanku.

“Pulang sendiri?”

“Eh?” aku kemudian mengangguk.

“Tunggu di sini sebentar,” ujarnya lalu meninggalkanku.

***

And here I’m. Dibonceng oleh namja yang bahkan hanya kukenal namanya karna popularitasnya di sekolah. Aku mengeratkan cengkeramanku pada ujung jas milik Sehun. Takut-takut diriku terlempar dari motor sportnya jika tidak melakukannya. Kulirik speedometer dari balik bahunya, 80 km/jam. Pantas saja angin berhembus cukup kuat.

Namja ini terkenal dengan sikap dinginnya, tapi malam ini, aku mempunyai penilaian lain untuknya. Dia seorang yang care terhadap sekeliling. Buktinya, dia rela meminjamkan jaketnya untukku. Padahal aku sudah menolak keras, tapi dia menatap tajam ke arahku, memaksa agar aku memakainya.

Aku menghirup udara yang terasa dingin di hidungku. Dan karenanya, aroma maskulin Sehun ikut memenuhi rongga dadaku. Gezz…tapi mengapa tiba-tiba jantungku berdegub lebih kencang.

***

“Gomawoyo,” aku membungkukkan badan sekali lagi atas bantuannya. Entah bagaimana nasibku jika Sehun tidak datang. Kulihat dia mengangguk. Baru saja aku akan melepaskan jaketnya, sebuah sorot lampu mobil menerpa kami berdua hingga aku harus mengangkat tangan untuk meredam cahaya yang menyilaukan tersebut.

Seseorang keluar dari sana dan berjalan cepat menghampiri kami.

“CHO NAM RYUNG!” ucapnya keras syarat amarah.

“Oppa…” lirihku saat menyadari sosok Kyu Oppa sudah berdiri di depanku. Dia menatap tajam ke arahku dan Sehun. Tunggu, jangan-jangan akan terjadi kesalahpahaman. “Oppa, aku bisa menjelaskan,” potongku saat tahu arti tatapan kakak lelakiku.

“Masuk!” ucapnya tegas.

“Oppa, please,” rengekku.

“MASUK!” bentakknya lebih keras.

Aku masih berdiam di tempatku.

“Masuklah,” kali ini Sehun yang bersuara.

“Tapi—“ aku ingin menyanggah, tapi Sehun hanya mengangguk. Dan dengan langkah berat aku menuruti perintah Kyu Oppa. Aku menyingkap gorden saat diriku sudah masuk di dalam rumah. Khawatir andai saja terjadi sesuatu dengan Sehun.

Benar saja, aku dapat melihat Kyu Oppa marah-marah di luar sana. Kumohon, kenapa jadi seperti ini? Dia sudah menolongku. Tapi mengapa malah mendapat amarah dari Oppa hanya karena kesalahpahaman. Tanpa kusadari, tanganku mencengkeram kuat terali jendela sebagai bentuk khawatir. Oppa, hentikan. Kau tak tahu kejadian sebenarnya.

TBC*

Note: Ayo mengenang masa high school. ^^ Sekali-kali ingin membuat fanfic dengan tema ini. Kenapa memilih EXO? Oh, ayolah, sedikit aneh jika aku menggunakan Oppadeul SJ untuk menjadi anak high school kan? /Mian/Oppadeul. Tentu sudah tau akan berakhir dengan siapa bukan? Aku tunggu feedback dan reviewnya. Bye and Bow (^^ )?

75 thoughts on “Jar Of Heart [Heart 1]

    • Ow, kamu tinggal search aja. Di atas, di bagian gambar icon search. Atau lihat saja di menu di bagian icon yg gambar kek roda, trus click di bawah menu ‘where are you going to” di situ ada jar of heart nya koq

  1. Guixianra says:

    Oh! Jadi Aiden itu makhluk astral, dan hanya Nam-Ryung yang dapat melihatnya ? Sebenernya Aiden dihukum karena apa ya ? Dan dia disuruh menjaga Nam-Ryung ? Ahay! Secara refleck Nam-Ryung juga membutuhkan keberadaan Aiden, meski kadang kesal padanya. Siapa yang bikin gedung sekolah mati lampu ya ? Apakah Sehun ? Xixixi

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s