The Obedient Bride [Rule 4]


The Obedient Bride [Rule 4]

“Adakah hal lain yang perlu saya siapkan, Nona Shim?”

Hwa Young menatap asistennya dan menggeleng lemah. Dia mengedarkan pandangannya di ruangan yang hampir 2 tahun ditempatinya. Terakhir, dirinya memasukan pigura bergambar foto dirinya dengan sang kakak di kardus. “Aku pasti akan merindukan ini. Terima kasih karena sudah bekerja keras, Hyuna-ssi.”

Hyuna mengangguk. “Kami akan sangat kehilangan sosok agashi[1].

Keduanya memandang ke arah yang sama karena ketukan ringan di pintu.

“Saya undur diri dulu, Nona.” Hyuna cukup tahu diri untuk memberikan waktu privasi bagi atasannya.

“Jadi kau benar-benar akan pindah?” sosok pria itu masuk dengan menyaku kedua tangannya dalam celana formal yang dikenakan. “Ini terlalu berlebihan, Youngie.”

Hwa Young berjalan mendekat. “Ini adalah resiko dari keputusan yang kuambil, Kyunie. Jadi tidak pantas jika sekarang aku mundur atau menyalahkan pada yang lain,” realitisnya.

What if—“ tangan Kyuhyun menggapai Hwa Young dan menarik gadis itu dalam pelukannya. Dieratkan kekangan tangannya di punggung perempuan tersebut ketika kegelisahan merambati hatinya. “—your heart changing?”

“Kyunie…” lirih Hwa Young. Dia sangat mengerti kerisauan Kyuhyun, tapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk menenangkan pria tersebut. Dirinya juga diliputi perasaan meragu atas hatinya sendiri. Bukan perasaan ragu atas dua pilihan antara suami atau sahabat kecilnya, namun karena sampai saat ini dia masih belum menetapkan rasanya untuk Kyuhyun. “Everything gonna be ok, right?” akhirnya hanya kata itulah yang mampu terucap.

Sure,” Kyuhyun semakin mempererat pelukannya. “Sometime, you’ll back here,” optimisme Kyuhyun.

Hwa Young tersenyum, lalu memejamkan mata. Dia tidak tahu bagaimana menanggapi pernyataan Kyuhyun. Tidak berniat membalas pelukan Kyuhyun, kedua tangan Hwa Young masih tergantung di sisi tubuhnya. Shawn  adalah prioritas utamanya saat ini. Jadi apa yang dijalaninya sekarang adalah sebuah konsekuensi. Suatu saat dia akan mengerti kedudukan Kyuhyun ini di hatinya.

***

Welcome to Hyundai,” Siwon merentangkan kedua tangannya ke udara, meski bibirnya tidak melengkungkan senyum lebar.

Hwa Young mengulas senyum tipis. Di sinilah, mulai dari sekarang, ruangan yang akan menjadi kantornya. Jemarinya menelusuri puncak furnitur untuk meresapi atmosfer baru. Kakinya melangkah mengelilingi tiap sudut ruangan dan berakhir di depan jendela kaca besar yang memaparkan pemandangan kesibukan Seoul. Tangannya terlipat di depan dada, sedangkan pikirannya masih berkecamuk.

Siwon melangkah mendekat dan berdiri tepat beberapa meter di samping Hwa Young. “Adakah interior di ruangan ini yang perlu diubah?”

Hwa Young menarik nafas dalam, lalu menoleh pada Siwon. “Tidak, ini sudah sempurna.”

“Siang ini, agenda rapat dewan direksi adalah untuk menetapkanmu sebagai co-CEO di Hyundai Department Store,” ucap Siwon.

Hwa Young mengangguk untuk menerima informasi yang sebenarnya sudah dia ketahui. “Ya,” Meskipun begitu, Hwa Young tetap menanggapi ucapan Siwon dengan baik. Dia ingin mengapresiasi bentuk komunikasi yang Siwon bangun. “Bagaimana proses mutasimu?”

Siwon mengangkat kedua bahunya ringan. “Nothing should be worried. Tadinya appa bersikeras menempatkan kita dalam satu departemen.”

Hwa Young menarik datar bibirnya saat teringat sikap antusias mertuanya pada hubungnya dengan Siwon. “Hal tersebut akan sangat riskan karena mungkin ada pihak-pihak yang meragukan profesionalitasmu jika menyangkutku,” nilai Hwa Young. “Walaupun sebenarnya eksistensiku tidak akan berpengaruh,” Hwa Young menatap kosong pemandangan di hadapannya.

Mengulum bibir dan menunduk, Siwon merasakan presepsi Hwa Young menyindirnya. Dia tidak bisa menyangkal, walaupun sesungguhnya ada bagian dirinya yang tidak menyetujui kalimat Hwa Young. Menyampingkan pendapat Hwa Young, Siwon mengangkat kepalanya.

Siwon mengambil langkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpisah kurang dari satu meter. “Seharusnya kau ada di sana ketika appa bersikukuh menentang kehendak halmeoni untuk menempatkan kita di departemen berbeda. Kau tahu kenapa?”

Hwa Young menoleh dan mengernyit. Dia tidak mengherankan perkataan Siwon, melainkan topik Siwon yang tiba-tiba tidak mengikuti aliran tanggapannya sebelumnya. Mengurai kerutan dahinya, Hwa Young memberikan kesempatan Siwon untuk membangun suasana di antara mereka. “Kenapa?”

“Dia bilang agar kita memiliki banyak waktu bersama sehingga dapat mempercepat proses mendapatkan bayi,” Siwon menahan tawanya.

Baby oriented, again?” Jawaban Siwon membuat Hwa Young tersenyum kecil. Dia mulai membuka cangkangnya dan membiarkan suasana mereka mengalir.

Yeah,” Siwon terkekeh geli karena memorinya mengingat pertengkaran ayah dan neneknya akan hal tersebut yang menurutnya lucu. “Kau harus melihat betapa masam wajah pria tua itu.”

Mulut Hwa Young membulat dengan kata frontal Siwon. “Kau sangat tidak sopan menyebut abeoji seperti itu,” protes Hwa Young. Melihat Siwon yang semakin meledakkan tawa, mau tak mau rasa menggelitik hadir juga. Dia ikut terkikik ringan. “Kau akan tamat andai abeoji mendengarnya.”

“Kalau begitu jangan biarkan appa tahu. Ini rahasia, ok?” Siwon mengerling ke arah Hwa Young. Dia berulah seakan guyonannya adalah sesuatu yang besar, yang akan berakibat fatal jika ayahnya tahu.

“Kau harus memberiku kompensasi besar untuk hal itu,” balas Hwa Young sembari tersenyum. Dia mengikuti irama kebersamaan mereka yang mulai melumer. Ini pertama kali bagi mereka berbagi momen santai.

Siwon berdeham, lalu mengubah dirinya menjadi beraut tegas. “Eomonim, kau tahu anak nakal ini selalu berkelit untuk urusan penerus Hyundai. Memang dia ingin generasi Hyundai putus!”

Hya… kau berani menirukan abeoji?” tanggap Hwa Young pada candaan Siwon. “Lain waktu mungkin akan kuadukan pada abeoji sehingga kau tidak semena-mena lagi,” ancam Hwa Young. Dia mengimbangi candaan Siwon.

“Ampun. Ok, kau memegang As-ku,” Siwon mengangkat kedua tangannya ke udara. Bibirnya terlipat dan pipinya menggembung karena menahan tawa.

Hwa Young tertawa geli ketika melihat ekspresi Siwon. Lelaki ini tidak pernah memperlihatkan sisi komikal padanya. “Ternyata kau bisa melucu juga, Siwon-ssi?”

Serta merta Siwon meloloskan udara di dalam pipinya. Dia memelototkan matanya dan menjatuhkan rahangnya tanpa sadar. Ekspresi komikalnya tergantikan dengan raut terpukau. Sejak mengenal Hwa Young, baru kali ini dirinya melihat wanita tersebut tertawa. Waktu seperti berjalan lambat untuk mengiringinya menikmati buaian di hadapannya.

“Siwon-ssi?”

Siwon tersentak pelan. “Ah, ya,” dia menurunkan tangan dan menyakunya. Bibirnya terlipat menyembunyikan senyum dan kepuasannya. “Youngie?”

Mwo?” kagetnya pada panggilan non formal Siwon. Selama ini dia tidak pernah mendengar Siwon menyapanya dengan hangat. Lelaki ini selalu menujukan sapaan formal kepadanya sebagai penegasan jarak antara mereka.

“Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?”

Hwa Young menunduk dan tersenyum untuk sedikit menertawakan permintaan Siwon. Permintaan tersebut seolah-olah sesuatu yang penting. Tapi bagi hubungan mereka, menghilangkan keformalan dalam panggilan adalah suatu bentuk kemajuan. “Tentu.”

“Dan bisakah kau mulai memanggilku dengan sapaan non formal juga?”

“Maksudmu ‘oppa’?” tanya Hwa Young untuk meminta persetujuan Siwon.

Good idea.”

“Siwon Oppa.” Hwa Young melafalkannya dengan lidah yang terasa masih kaku.

***

Minna menutup pintu partemennya dengan perasaan gelisah, namun di sisi lain sekaligus lega. Dua kontradiksi yang berbaur dalam batinnya. Kakinya melangkah gontai memasuki apartemennya lebih dalam. Dia melemparkan tas, dilanjutkan dengan tubuhnya di sofa tamu.

“Menikmati perjalananmu ke Jepang, Minna-ya?” sebuah suara berat membuat Minna terlonjak kecil dari posisi santainya.

“K…kau di sini?” gagap Minna. Dia menegakkan tubuhnya dan mengatur ekspresinya senatural mungkin.

Sang pria berjalan mendekat dan menjatuhkan dirinya tepat di samping Minna. “Bagaimana perjalananmu? Kau terlihat sangat lelah,” senyum sang pria sembari tangannya membelai pipi Minna.

“Benarkah?” Minna menangkup pipinya yang memanas dengan kedua tangannya sendiri. Setiap sentuhan pria tersebut seakan mampu menyetrum sel-sel tubuhnya. “Padahal aku hanya berpergian beberapa hari saja,” dia memasang senyum kepada sang pria.

“Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya, Minna-ya.”

Oh, ya. Aku hanya mencoba beberapa design gaun yang akan diluncurkan summer mendatang.”

“Aku tidak menemukan berita mengenai aktifitasmu di Jepang,” tanggap sang pria sembari mengerutkan kening.

“Aku hanya menjalani beberapa pemotretan di studio.” Minna bergerak merapat pada badan pria tersebut. “Bukan sesuatu yang patut diangkat sebagai berita.”

Tangan pria itu menyusup di pinggang Minna untuk menariknya mendekat. “Siapa bilang pemotretanmu bukan suatu hal menarik? Kau salah satu model kebanggaan Korea,” sang pria memamapas jaraknya dengan Minna.

Minna mengangguk untuk mengambil kalimat sang pria sebagai pujian. “Kapan kau datang?” alihnya pada topik lain. Dirinya tidak ingin masalah perjalananannya ke Jepang disinggung lebih dalam oleh pria tersebut.

Pria itu tertawa ringan untuk menertawakan sikap Minna yang terkesan tegang. Tangannya bergerak mengusap dagu gadis itu. “Sejak tadi. Aku di sini sengaja untuk mengunjungimu. Kau senang dengan kejutanku?” Tanganya menekan dagu Minna.

“Tentu.” Minna meringis ketika tangan sang pria semakin menekan dagunya. “Oppa, kau menyakitiku.”

“Kau pikir, aku tidak tahu perjalananmu ke Jepang hanya sebuah kebohongan?” Pria tersebut mengubah drastis mimik dan nada suaranya. Sandiwaranya beberapa menit lalu ditutup dengan wajah kakunya. “Apa yang sebenarnya kau lakukan dua hari ini?”

Oppa…” Minna melayangkan tatapan memohon saat tahu bahwa kebohongannya terbongkar.

“Aku menunggu penjelasanmu.”

“Aku hanya berlibur ke luar kota.”

“Jangan berdusta padaku.”

“Tentu tidak!” Minna menutupi dengan senyum paksanya. “Aku hanya ingin beristirahat sejenak. Younji Eonni merancang berita itu agar fansku teralihkan.”

“Kalau begitu, kau menganggapkuk sebagai salah satu fansmu?”

“Kau bukan fansku?” Minna menatap pria itu dengan tatapan kecewa.

Mendesah ringan, pria itu mengalah. “Tentu saja aku adalah fans setiamu.” Jawaban pria itu membuat Minna menarik senyumnya. “Tapi aku tidak bisa kau perlakukan sama dengan fansmu yang lain,” bisiknya di sisi telinga Minna.

Arraso, Oppa. Mianhe.”

“Baiklah kali ini kau kumaafkan. Lain kali, kau tahu akibatnya jika membohongiku.” Pria itu melepas tangannya dan kembali mengusap pipi Minna lembut sebelum menyatukan bibirnya pada sang gadis.

***

“Ini adalah data yang aku peroleh,” seorang pria berwajah manis menyerahkan sebuah arsip pada Hwa Young.

Gamsahammida, Sungmin-ssi.” Hwa Young membuka dokumen tersebut, kemudian meneliti konten di dalamnya.

“Apa yang membuat agashi tertarik dengan klien ini?”

Konsentrasi Hwa Young sepenuhnya terpusat pada data di tangannya. Dia membaca dengan teliti setiap detail biografi klien Aphrodite yang dimintanya. “Sungmin-ssi tentu tahu resikonya jika kita tidak berhati-hati menangani kasus ini.” Dia meluruskan lehernya dan menatap balik lawan bicaranya. “Aku tidak ingin publik meradang jika sampai kasus ini mencuat ke permukaan dan berujung pada anarkisme netizen.”

“Aku sangat mengerti dengan resiko tersebut. Hanya saja,“ Sungmin menjalin jemarinya, “aku mencurigai orang dibaliknya. Sepertinya, ini bukan kasus sepele, Hwa Young-ssi.”

Hwa Young memperhatikan dengan saksama. “Maksudmu adalah orang yang berurusan dengan gadis ini?” telunjuknya menekan arsip yang telah diletakkan di meja.

Sungmin mengangguk. “Aku ingin mengambil kasus ini. Serasa membangkitkan jiwa detektifku,” senyumnya sambil mengangkat kedua tangan di udara.

“Senang bekerja sama denganmu, Sungmin-ssi,” Hwa Young mengulurkan tangan untuk menjabat. Dia sedikit bernafas lega karena jaksa yang terkenal dengan profesionalitasnya tersebut mau bergabung untuk menangani kasus di Aphrodite. Nama Jaksa Sungmin menjadi pertimbangan di kalangan penegak hukum atas kepiawaiannya menangani kasus di usianya yang masih terbilang muda.

***

Hwa Young mengerjapkan matanya. Tubuhnya menggeliat pelan. “Weekend again,” gumamnya. Tangannya menggapai-gapai iphone saat benda tersebut berdering nyaring. “Hi,” sapanya lansung dengan senyum bangun paginya.

Hi, Beautiful. Do you have any plans for your weekend?” Suara serak Kyuhyun terdengar dari seberang jaringan.

Nothing. It’s time to clean up my room, Kyunie,” Hwa Young turun dari ranjangnya.

“Bagaimana proses kepindahanmu?”

Well, semua berjalan lancar. Semua staf membantuku untuk beradaptasi di Hyundai.”

Glad to hear that.”

Yah, bagian positifnya adalah kau tidak bisa keluar masuk Hyundai sebebas ketika aku masih di Shawn ,” Hwa Young tersenyum geli saat membayangkan Kyuhyun yang sedang mencebik karena godanya.

Hei…hei…” protes Kyuhyun. “Aku bisa menyeretmu keluar Hyundai kapan saja.”

“Baiklah, aku hanya bercanda. Cepatlah bangun dan sarapan.”

Ah, ini hari paling menyenangkan dalam seminggu untuk menghabiskan pagiku di ranjang.”

“Berkelit lagi Tuan Cho? Aku bahkan bisa mendengar suara Cho Ahjumma yang menggedor pintumu,” canda Hwa Young seraya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Yeah, mungkin beberapa saat lagi perkataanmu akan terjadi. Kau tahu eomma tidak akan membuarkanku seharian bermalasan di ranjangku. Have a nice day, Youngie.”

Yeah. Have a nice weekend, Kyunie,” senyumnya, lalu menutup sambungan.

***

Ok, Youngie, sedikit lagi,” Hwa Young menyemangati diri sendiri. Dia mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangan. Menekan tombol power di mesin penghisap debu, dia mematikan mesin tersebut saat selesai membersihkan kamarnya.

Mereka, Siwon dan Hwa Young, memperkerjakan housemaid hanya untuk menangani kebersihan lantai dasar, memasak, dan laundry. Menghindari kecurigaan orang luar pada rumah tangganya, mereka tidak mengizinkan housemaid untuk menangani lantai dua.

Hwa Young menggeret penghisap debu keluar dari kamarnya. Dia memandang ragu pintu kamar di depannya. “Siwon-ssi, owh,“ sadarnya akan kesepakatan mereka, “Oppa kau sudah bangun?”

Siwon memang tidak pernah memerintahkan untuk membersihkan kamarnya. Namun naluri Hwa Young mengatakan kalau pria itu tidak terbiasa membersihkan kamarnya seorang diri. Sebelum dia pindah ke rumah ini, dia menduga housemaid yang melakukannya. Ketika sekarang yang dikerjakan pelayan terbatas di lantai bawah, otomatis tidakk ada yang membersihkan kamar Siwon.

Hwa Young hanya ingin menawarkan diri untuk membantu. Meski dirinya dan Siwon sering terlibat perselisihan, namun akhir-akhir ini hubungan mereka membaik. Lagipula menurutnya, Siwon bukan orang yang mengintimidasi orang disekitarnya tanpa sebab.

Siwon akan marah dan bersikap dingin pada hal yang bertentangan dengan pendapatnya. Hwa Young berpikiran hal tersebut sangat manusiawi, mengingat dia juga akan bersikap demikian. Ketika semua baik-baik saja, Siwon sangat menghargainya sebagai perempuan. Jadi apa salahnya jika dia juga berbaik hati menawarkan diri untuk membersihkan kamar pria itu.

“Siwon Oppa, kau mendengarku?” Hwa Young mencoba meminta izin lagi.

Pertanyaannya dijawab kesunyian. “Bisa aku masuk?” Hwa Young hanya tidak ingin membuang waktu. Karena masih mempunyai pekerjaan lain yang menunggu, dia memberanikan diri memasuki ruangan pribadi Siwon.

Hwa Young menghela nafas panjang saat menemukan Siwon yang masih terlelap dalam tidurnya. Dia melirik jam digital di meja kecil samping ranjang yang menunjukkan pukul 10.00 a.m. Kakinya membawanya mendekat ke arah ranjang. “Siwon Oppa,” dia mengguncang tubuh Siwon pelan untuk membangunkan, tapi tidak ada hasil.

Matanya mengerjap pelan saat pandangannya terkunci pada wajah rupawan Siwon. Terlepas dari perihal pernikahannya, dia mengakui bahwa suaminya memang tampan. Telinganya tidak tuli saat wanita-wanita di kantor membicarakan betapa sempurna sosok Choi Siwon. Tangannya terangkat dengan spontan untuk menyingkap rambut Siwon. Bibirnya melengkung sempurna saat gejolak di rongga dadanya menghantam.

Setelah beberapa saat hanya memanggil dan mengguncang lemah tubuh Siwon, dan tidak membuahkan hasil, Hwa Young akhirnya menyerah. Dia tidak berani berbuat lebih untuk membangunkan Siwon.

Hwa Young mulai mengumpulkan baju kotor Siwon yang tergeletak sembarangan di penjuru kamar. Dia mengelap debu yang mengotori beberapa furnitur di kamar tersebut. Tangannya mendadak terhenti saat melihat sebuah foto yang terletak di antara beberapa tumpukan dokumen di meja kerja Siwon.

Mengangkat foto tersebut, matanya menelusuri dua insan yang terpampang di dalamnya. Foto yang mengabadikan senyum dua sejoli. “Park Minna,” lirihnya. Ada riak kecil yang mengganggu hatinya. Riak yang terlalu dini untuk dikatakan rasa cemburu karena riak tersebut hanyalah suatu ketidakrelaan. “Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?” batinnya.

“Youngie? Kau di sini?”

Hwa Young buru-buru meletakkan foto yang dipegang pada tempatnya. “Oh, kau sudah bangun Oppa?” retorisnya. “Tadi aku sudah mengetuk pintu beberapa kali dan mencoba membangunkanmu, tapi—“

“Tak apa, terima kasih,” ucap Siwon saat dirinya menyadari apa yang dilakukan Hwa Young di kamarnya. “Maaf merepotkanmu.”

That’s Ok. Kurasa memang ini harus kukerjakan. Bersihkan dirimu, aku sudah menyiapkan sarapan di bawah,” Hwa Young mengambil penyedot debu dan mulai menyalakan mesinnya.

Siwon tersenyum dan memandang sejenak Hwa Young sebelum masuk kamar mandi. Meski Hwa Young tidak berkepribadian seceria Minna, tapi kehadirannya cukup memberi kesan hidup di rumahnya.

***

Free time?” Hwa Young menyodorkan secangkir coklat panas pada Siwon.

Yeah,” Siwon meletakkan remote DVD player di tangan kanannya untuk kemudian menerima cangkir yang disodorkan Hwa Young. “Bagaimana pekerjaanmu di Hyundai? Apakah staf bersikap baik padamu?”

“Semua berjalan lancar.” Hwa Young meniupkan udara di permukaan coklat panas miliknya untuk mengurangi suhunya. Dia menyerutup minuman tersebut dengan hati-hati. “Ada beberapa hal yang harus kutanyakan padamu langsung, mengingat kaulah yang dulu berwenang.”

“Tentu, Youngie.” Siwon meletakkan cangkirnya di meja.

“Mengenai Opsi Saham Karyawan [2]Hyundai, aku menemukan beberapa overlapping dalam pelaksanaannya.”

Siwon mendengarkan pertanyaan Hwa Young dengan antusias. Dia tidak pernah berpikir bahwa pembicaraan bisnis bisa dilakukan sesantai ini di rumah. “Aku memang baru memulainya tahun lalu. Namun karena beberapa promo Hyundai, program itu sedikit terlupakan.”

“Masih memiliki rekapnya? Kebanyakan staf masih awam dengan hal ini.”

“Tentu, akan kukirimkan besok. Mungkin kau tak akan serepot ini jika saja Hyuk Jae-ssi tidak ikut pindah bersamaku,” maksud Siwon pada asisten pribadinya, Lee Hyuk Jae, yang ikut bersamanya ke Hyundai Automotive.

Not a big deal.” Hwa Young mengangguk paham. “Siwon Oppa, ada sesuatu yang sebenarnya mengganjalku. Jangan tersinggung akan hal ini karena aku murni ingin mengetahuinya.”

Siwon mengernyitkan dahi, namun kemudian mengangguk.

“Sejak kapan kau mengenal Park Minna?”

Siwon menoleh dengan cepat ke arah Hwa Young. Dia heran dengan pergantian topik  pembicaraan mereka. Setelah menimbang untuk memberikan jawaban, akhirnya dia membuka mulut. “Tiga tahun lalu sebelum dia sepopuler sekarang.”

“Kau bahkan mengenalnya sebelum debut sebagai model? Dan hanya dalam kurun waktu tiga tahun namanya meroket?” nada tidak percaya Hwa Young.

“Jangan katakan jika kau mendengar desas-desus itu?”

Hwa Young menelengkan kepalanya. “Tentang?”

“Khalayak yang menilai bahwa kesuksesan Minna sekarang karena campur tangan orang berpengaruh.”

Ah, tentang itu,” Hwa Young mengumpukan kepingan puzzle antara Siwon dengan Minna. Ada hal-hal yang tidak bisa secara lugas disampaikan begitu saja pada Siwon. Mengingat suaminya tersebut sering turun moodnya jika menyinggung masalah satu ini. “Tunggu,“ sebuah pemikiran terlintas, “apakah orang berpengaruh itu adalah kau?”

Siwon mengangguk. “Bisa dikatakan seperti itu. Tapi diluar itu, kinerja Minna sendiri memang patut diacungi jempol. Dia sangat bersemangat untuk menjalani karirnya.”

Hwa Young tersenyum kecut saat melihat ekspresi Siwon yang berbinar. Dia menebak ada sesuatu hal yang tidak Siwon ketahui dari Minna. “Oh, maaf, aku harus mengangkat panggilan ini,” Hwa Young beranjak dari duduknya saat iphone-nya bergetar.

Selang beberapa saat, dia kembali lagi ke ruang keluarga dimana Siwon berada. “Kurasa aku harus pergi.”

“Kemana?” Siwon merasa waspada andai Hwa Young menemui lelaki bermarga Cho itu.

“Kantor Aphrodite.” Hwa Young naik ke lantai atas dengan tergesa.

“Biar kuantar. Kebetulan ada beberapa berkas yang harus kuambil di kantor.” Siwon ikut menyusul. Entah hanya alibi Siwon ataukah memang suatu kebetulan.

***

“Adakah sesuatu yang penting hingga kau memanggilku, Sungmin-ssi?” Hwa Young menghampiri Sungmin yang sedang mengamati sebuah plasma TV yang tersambung dengan CCTV.

Sungmin menengok ke arah Hwa Young sebentar, jari telunjukknya menunjuk layar plasma. “Lihatlah ini, Hwa Young-ssi.” Sungmin memfokuskan perhatiannya. “Lihat dengan seksama,” tukas Sungmin kemudian.

Mata Hwa Young melebar. “Apa yang terjadi Sungmin-ssi?” Dia mengamati seorang gadis yang sedang berbincang dengan salah satu pengacara Aphrodite. Walaupun gadis tersebut mengenakan sun glasses dan mantel bulu hingga menutup hampir setengah wajahnya, namun dia masih dapat menangkap memar di wajah sang gadis.

“Pagi ini dia didampingi sang manajer melapor kembali.”

“Tolong berikan aku copy berita acaranya.” Hwa Young melangkah pergi. Dia menghentikan langkahnya ketika Sungmin angkat bicara.

“Choi Siwon.”

Hwa Young memutar badannya menghadap Sungmin kembali. Dia mengerutkan kening dan memandang Sungmin dengan dahi berkerut.

“Kenapa kau tidak menguraikan dengan jelas hubungan rumit yang dijalani gadis itu dengan suamimu, Ny. Choi Hwa Young,” Sungmin berjalan mendekat dan menarik ujung bibirnya.

“Ini masalah—“

Sungmin mengangkat tangannya untuk memotong ucapan Hwa Young. “Masalah pribadimu? Aku mulai mengerti mengapa kau tertarik dengan klien kita satu ini.”

Hwa Young menyerah dengan persepsi Sungmin. Dia melangkah masuk kembali dan duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut. “Kita perlu mengklarifikasi ulang mengenai motifku, Sungmin-ssi.”

Sungmin melenggang dan ikut duduk di samping Hwa Young. “Ini bukan masalah pembalasan dendam seorang istri pada selingkuhan suaminya, bukan?” Sungmin berusaha mencairkan suasana. Mungkin dia akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Hwa Young. Memilih bungkam mengenai aib keluarga pada orang lain.

Perempuan itu menarik bibirnya, memberikan senyum kharismatik. “Menurutmu? Apakah akalku sekerdil itu?”

Sungmin terkikik ringan. “Terkadang emosi dan hasrat wanita lebih mengerikan dari yang bisa dijangkau akal, Hwa Young-ssi. Aku akan mendengarkan sudut pandangmu.”

Hwa Young memelorotkan bahunya. “Park Minna, aku mengetahui bahwa dia men-submit kekerasan yang menimpanya ke Aphrodite sekitar sebulan lalu.” Dia memulai bercerita tentang rahasia yang selama ini ditanggungnya sendiri.

TBC*


[1] Agashi: nona muda atau panggilan terhadap gadis muda.

[2] Opsi Saham Karyawan (OSK): suatu produk finansial (berupa: opsi) yang diterbitkan/ dikeluarkan oleh perusahaan kepada karyawannya sebagai suatu kompensasi atau bonus.

211 thoughts on “The Obedient Bride [Rule 4]

  1. Hmmm.. kok saya menaruh curiga sama kyu ya? Jangan jangan.. dia ikut campur urusan minna. Asik nih udah mulai konflik bisnis berhubungan sama hubungan pribadi. Cieeee siwon-hwayoung saling menatap waktu tidur haha

  2. Eva Solihah says:

    Aduh aku di sini masih bingung dengan hubungan mereka. Sebenarnya mereka sudah saling kode”an. Tapi gak ada yang nyadar atau memamg pura” gak nyadar.. emes dah jadinya

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s