Jar Of Heart [Heart 2]


Jar Of Heart [Heart 2]

Kututup telingaku dengan kedua tangan saat mendengar ketukan di pintu kamar. Aku sedang kesal dengan pemilik suara bass yang sedari tadi memanggil namaku dari luar. Kutinggikan selimut hingga menenggelamkan tubuhku.

“Ryung, Oppa tahu kau belum tidur.”

Aku merasakan sedikit goncangan di ranjangku. Kurasa, Oppa tengah duduk tepat di sebelahku.

“Kau tahu, Oppa berkeliling ke rumah teman-temanmu untuk mencarimu. Juga menelusuri jalan yang biasa kau lewati jika ke sekolah. Khawatir andai saja terjadi sesuatu padamu.”

Sedikit demi sedikit kuturunkan kedua tanganku yang menangkup telinga. Mendengarkan penjelasan Kyu Oppa. Aku mendengar helaan nafas yang kupikir itu adalah suatu kelegaan.

“Berbaliklah,” perintahnya. Dan aku merasakan selimutku yang ditarik dan bahuku diputar hingga diriku terbaring menatap Kyu Oppa. Baiklah, aku memang tidak bisa berbohong jika sedang tidur. Ditariknya kedua tanganku hingga aku terduduk.

Aku masih memasang wajah kesal padanya. Kulihat Oppa menuangkan alcohol pada kapas. Dia menarik tanganku dan memutarnya hingga sikuku yang terluka terlihat. Dioleskannya kapas beralcohol untuk membersihkan lukanya. Oppa melakukan hal sama pada lututku. Dia meniup-niupkan udara agar perihnya berkurang. Dilanjutkan dengan mengoleskan obat luka.

Kupandangi wajah yang kini terlihat lebih tenang daripada ketika membentakku tadi. Aku tahu, dia pasti sangat khawatir. Tapi, itu tidak melegalkannya untuk memarahi Sehun kan? Kucebikkan bibir bawahku agar Oppa tahu aku masih marah padanya.

“Kau terlihat sangat tidak manis kalau seperti itu,” Oppa mengatakannya tanpa ekspresi sambil menutup botol obat. Dia meletakkan obat-obat tersebut kemudian beralih menatapku. Tangannya terulur untuk mencubit pipiku. “Harusnya kau memperbanyak tersenyum seperti ini,” dengan seenaknya, kedua tangannya menarik bibirku ke luar.

“Ya!” seruku agar dia berhenti mempermainkan pipiku. “Aku sedang marah pada Oppa,” tanganku bersedekap. Kupalingkan wajahku darinya untuk mendramatisir bahwa aku sedang kesal.

Tunggu, kenapa Oppa hanya diam saja? Aku melirikkan mata ke arahnya. Dahiku berkerut, kenapa Oppa tahu kalau lutut dan sikuku terluka? Baiklah, aku menyerah. Kutolehkan kepalaku padanya dan melihat senyumnya yang melebar.

“Hei, my lil naughty girl, listen to me carefully,” ucapnya sembari mengacak rambutku dengan gemas. Sesuatu yang aku suka meski rambutku nanti berantakan, aku tak peduli. “Whatever you do and whenever you are, remember that there’s someone who’s always waiting and worrying about you.”

Aku memorotkan bahuku. “Ponselku mati,” lirihku.

“Kau bisa menggunakan fasilitas umum untuk menelphon.”

“Aku sedang di lab.”

“Kau bisa meminta izin sebentar, sekedar untuk memberi kabar.”

“Aku lupa.”

“YAK! CHO NAM RYUNG!”

Aku menutup telinga dan mataku. Kakakku yang baik sedang bertransformasi menjadi naga yang sedang menyemburkan api. Kubuka satu persatu kelopak mataku dengan sedikit takut. Tampak oppa sedang mengelus dadanya. “I’m sorry,” aku menunduk.

Sejenak kemudian, kurasakan sepasang tangan menangkup pipiku dan mengangkat kepalaku. “Jangan ulangi lagi hal seperti ini, karna kau hampir saja membuat jantungku copot. Dan aku tidak mau mati muda!” candanya di akhir kalimat.

Kucubit lengannya keras. “Kau berlebihan, Oppa,” ejekku.

“Aww,” dia memekik sambil mengelus lengannya. Kyu Oppa mendengus kemudian tangannya terangkat untuk menyisipkan rambutku ke belakang telinga. “Bagaimana tidak, kau satu-satunya adik perempuan yang kumiliki. Aku sudah berjanji pada Eomma untuk menjagamu. Jika sampai terjadi sesuatu padamu, maka itu akan menjadi penyesalanku. Understand?”

Sekarang katakan padaku bagaimana hatiku tidak luluh? Kyu Oppa memang seperti itu. Dia seorang yang affectionate sekaligus protective. Aku menghambur untuk memeluk Kyu Oppa. Kueratkan lingkaran lenganku di lehernya. “I love you my only one oppa.”

“I love you too, my dear.” Kurasakan Kyuhyun Oppa menepuk-nepuk punggungku pelan.

Dan dari balik bahu Kyu Oppa, aku melihat Aiden memutar tangan kanannya untuk memunculkan guci keperakan. Dia kembali menarik vector dari tubuhku, kali ini bewarna merah muda yang berpendar. Sangat indah.

“Kyuhyun Oppaku memang yang tertampan.” Aku menjulurkan lidah pada Aiden yang menunjuk hidungnya sendiri dan menatapku dengan tatapan tidak setuju, kemudian menggumamkan sesuatu. Tapi aku tidak peduli. Eum, tapi sepertinya aku memang harus mengurutkannya di urutan ke 1,5 untuk taraf ketampanan. Yah, hanya terpaut 0.5 saja dari oppaku.

“Aku tahu.”

“Kau yang terbaik.”

“Tentu saja.”

“Dan aku adalah adiknya yang paling manis.”

“Eerr…yang ini perlu dikoreksi.” Kurasakan Kyuhyun Oppa menoyor kepalaku pelan.

“Eemmm,” gumamku sambil mengeratkan lenganku.

“Ya…ya…kau mau membunuhku?” dia menarik-narik lenganku. Dan aku hanya terkekeh sebelum melepas pelukanku.

“Tidurlah,” Oppa membenahi selimutku dan mengecup kedua pipiku. Dia berdeham. “Looked me, you may think you see who…”

“Aku sudah mendengarnya tadi,” potongku ketika Kyu Oppa menyanyikan lullaby.

Kyuhyun Oppa mengerutkan keningnya. “Bocah tadi itu yang menyanyikan untukmu?” sengitnya.

Gosh! Aku lupa tentang Sehun. Aku bangun kembali dan menarik lengan Kyuhyun Oppa. “Oppa, apa yang kau bicarakan tadi? Dan bagaimana Oppa tahu jika lututku terluka?”

“Jawab dulu pertanyaanku!”

Aku memajukan bibir bawahku. “Bukan. Seseorang yang suaranya tak kalah merdu darimu menyanyikannya untukku,” aku mengerling pada Aiden yang berdiri di sampingku dan dia meresponnya dengan senyum mengagumkan sembari mengacungkan jempol. “Sekarang giliran Oppa yang menjawab pertanyaanku! Oppa memarahi Sehun?”

Bukannya menjawab, Kyu Oppa cuma menjawil hidungku. “Itu rahasia antar lelaki.”

“Ya! Oppa.”

“Good night.” Dengan kilas Oppa mengecup keningku dan segera beranjak.

***

“Bagaimana persiapan debatmu?” Luhan menyodorkan sekaleng soft drink padaku.

“Mmm…menyenangkan,” kutarik pengait kaleng untuk membuka soft drink ini.

“Menyenangkan?” aku dapat melihat dari ekor mata saat Luhan memiringkan kepalanya dengan heran.

“Hem,” anggukku pasti. “Miss Angelle membuat suasana belajarku menyenangkan.” Kutolehkan kepala menghadap Luhan. “Dan kau sendiri?”

Luhan memutar badannya ke arah lapangan basket, lalu meneguk minumannya. “Yah, aku sedikit bosan dengan persiapan olimpiade itu. Lagipula, beberapa hari lagi kejuaraan basket antar sekolah sudah dimulai. Jadi kurasa, aku fokuskan dulu pada latihan.”

“Jika kau merasa tertekan dan tidak menyukai olimpiade fisika itu, kenapa tidak memberi kesempatan itu pada yang lain?” aku menutup senyum geliku saat melihat Aiden mengamati dengan lekat wajah Luhan dengan mensejajarkan wajahnya. Aiden juga menyusurkan jari telunjuknya di hidung Luhan. Gosh! Aku memiliki malaikat kesasar yang aneh. Oh! Aku membuat tanda peace dengan jari secara cepat saat Aiden melirikku tajam.

“Maksudmu mengundurkan diri?” Luhan kembali menghadapku.

Aku hanya mengangkat bahu dan menarik sedikit bibirku secara horizon. Menekan rasa ingin tertawa melihat kelakuan Aiden. “Beberapa hari lalu aku tidak sengaja bertemu Suho di perpustakaan, dan kudengar dia berada di peringkat kedua setelahmu dalam bidang fisika.”

“Lalu, kau menyarankan agar aku mengundurkan diri sehingga Suho bisa menggantikanku mewakili sekolah?” nada tak percaya Luhan.

Apa aku salah bicara? Bukan itu maksudku. “Eum, aku hanya khawatir olimpiade itu membuatmu tertekan. Lagipula, jika kau hanya memilih kompetisi basket, bukankah konsentrasimu lebih focus? Dan juga skor kompetisi fisika kalian yang terakhir hanya terpaut tipis.”

Kulihat Luhan bersedekap dan memicingkan mata tampak berpikir. Dan disampingnya, 11-12 dengan Luhan, Aiden melakukan hal yang sama. Tentu saja aku melipat bibirku, menahan rasa menggelitik. “Kupikirkan nanti,” sahutnya.

Aku membentuk senyum dan mengangguk. Kusesap lagi soft drink yang ditanganku hingga hampir habis. Dan aku menghentikan untuk menelan cola yang tertampung di pipiku saat kurasakan sebuah tangan mengusap pipi kiriku. Kuturunkan kaleng cola yang menutup mukaku.

“Kau manis dengan jepit merah itu. Ah tidak—“ Luhan menggeleng, “—kau selalu terlihat manis,” aku semakin membeku ketika Luhan menangkup mukaku. Mataku terpusat padanya, meski demikian aku masih bisa melihat Aiden yang memeletkan lidahnya membuat aksi seolah memutahkan sesuatu di belakang Luhan. Jika dalam kondisi biasa, aku sudah mengomelinya. Tapi sekarang, bibirku seolah membeku.

Kutarik nafasku dan kutahan saat wajah Luhan mendekat. Mataku bergerak ke samping dan kembali menatap Luhan berulang kali seperti itu saat kulihat Aiden berusaha menjauhkan wajah Luhan dariku. Tapi tentu tidak berhasil. Aku meremas kaleng colaku saat jantungku berdetak tak karuan. Astaga sedikit lagi…aku bahkan bisa melihat dengan jelas bibir tipis, sempurna, Luhan dan matanya yang semakin memejam. This’s my first time.

“Ehem.” Reflex kami saling menjauhkan diri saat mendengar dehaman dari seseorang. Aku membuang muka sejenak, kemudian memberanikan melihat ke arah perusuh momen kami. Eh? Apakah aku terlalu berlebih? Ok, memang sedikit berlebih.

“Ryung-ssi.”

Aku tersenyum kaku padanya.

“Aku menagih janjimu. Ikut aku ke ruang kesiswaan sekarang.”

“Mwo? Yak! Kenapa seenaknya memerintah orang?” Luhan langsung berdiri menyahut permintaan orang itu. Dan kalian sudah bisa menebak siapa dia. Ya, ketua organisasi siswa, Oh Sehun.

Kulihat Sehun hanya mengangkat sebelah alisnya, memandang Luhan dengan tatapan apa-aku-berbicara-padamu.

Aku berdiri segera. Menghindari suasana tidak nyaman ini. “Lu, aku memang berhutang janji pada Sehun-ssi. Catch you on the flip side,” kuangkat tanganku. Kakiku melangkah mengekor Sehun. Aku menoleh ke belakang dan membulatkan mata ketika melihat Aiden terpingkal sembari memegangi perut. Memang apa yang lucu? Yak! Cepat kemari.

***

“Bisakah kau menghilangkan rona merah wajahmu itu,” tukas dingin Sehun. “Menjijikan,” desisnya yang masih bisa ditangkap indera pendengaranku.

Kuangkat kedua tanganku dengan cepat untuk mendinginkan pipiku yang memang menghangat, tadi. Apakah sekentara itu? Aku tahu ini sekolah, dan tindakan Luhan, ehm, kami memang sedikit kelewat batas. Tapi perlukah dia mengomentari begitu pedas? Aku merasakan semilir angin yang berhembus ketika Aiden mengipas-ngipaskan tangannya di pipiku. Meski demikian, dia tetap menggeleng dan berdecak.

Aku mengetukkan pensil di naskah drama yang Sehun berikan. Eiy? Aku membaca ulang naskah tersebut. Alisku berkerut, bibirku tertarik sedikit, bukan membuat senyum, melainkan membentuk ekspresi what-on-earth-is-it-?. “Err…lalu? apa yang harus kulakukan?”

“Siswa-siswa teater berencana mementaskan drama ini dengan dialog bahasa inggris untuk pementasan musim panas ini. Aku ingin kau membantu kami menuliskan skenarionya.”

What? Pementasan musim panas ini? Aku menyodorkan naskah drama itu pada Sehun. “Apa mereka yakin ingin mementasakan roman picisan ini?”

Sehun menatapku dengan raut tak mengerti.

“Maksudku, Romeo dan Juliet, roman ini sudah sangat sering dipentaskan. Selain itu, menurutku, tidak ada yang special dalam naskah ini.”

Sehun melirik naskah drama tersebut. Kemudian mengelus dagunya. “Lalu, saranmu?”

“Mungkin bisa mencoba alternative lain. Misalnya tentang kehidupan high school seperti kita. Bisa mencampurkan antara persahabatan dan cinta. Seperti ‘A little crazy thing called love’ atau semacamnya.”

Lelaki di depanku memberikan raut serius. Apa dia selalu berekspresi seperti ini? Dia membaca ulang naskah itu sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja. “Kurasa aku sependapat denganmu. Biar aku hubungi dulu salah satu siswa teater untu kemari. Kita bicarakan ini.” Sehun mengeluarkan androidnya dan menelpon seseorang.

Ah kenapa tidak terpikir seperti itu juga. Bukankah akan lebih mudah jika dia mempunyai nomor ponselku? Jadi tidak perlu berkeliling gedung sekolah yang amat luas ini. Ehm, juga tidak perlu memergokiku. Aku nyegir sebentar saat Aiden menatapku dengan pandangan apa-apaan-itu sembari menopang dagunya.

“Sebentar lagi dia akan kemari.” Sehun kembali menyaku ponselnya.

“Eum, Sehun-ssi kau bisa menyimpan nomorku jika perlu.” Aku menegapkan badan ketika menyadari Sehun yang mengerutkan kening. “Ma…maksudku, jika kau membutuhkanku kau tinggal menghubungiku. Itu akan lebih praktis daripada mencariku berkeliling sekolah.”

“Aku tidak mencarimu.”

“Ah, ye?” aku mengangkat tangan untuk menyentuh jepitku. Kebiasaan kalau aku salah tingkah.

“Kemarikan nomormu.”

***

Kurentangkan tangan ke samping dan memutar badanku ke kanan dan ke kiri. Aku menghembuskan nafas lelah. Kulihat waktu di jam tangan bewarna blue baby yang melingkari pergelangan tanganku. Untungnya hari ini tidak ada bimbingan debat, jadi aku bisa membayar hutang. Huh, sampai kapan?

“Masih ada satu jam lagi sebelum batas waktumu.”

Aku tersentak memandang dengan tidak mengerti maksud Sehun. Batas waktu? Aku kembali melirik waktu di jam tanganku. Eiy? Bagaimana Sehun bisa tahu aku harus sampai rumah pukul 6 sore. Gosh! OPPAKU YANG TAMPAN. “Sehun-ssi, maaf soal kemarin tentang Oppaku,” aku berbisik dan menutup sebelah kiri mukaku dengan naskah drama.

Sehun mengabaikanku dengan tetap melanjutkan ketik-mengetiknya. “Apa maksudnya?”

Aku merengut. Apa maksudnya? Jelas-jelas dia mengerti maksudku. “Mianhata karena kemarin Oppaku memarahimu. Dia hanya khawatir saja,” bisikku lagi. Hanya supaya gadis di sebelah kiriku tidak terganggu dengan permintaan maafku.

Sehun memiringkan kepala sedikit. Dia menyeringai. “Jadi kau mempunyai double hutang padaku.”

Aku memelorotkan pundak dan mengelus dahiku. Sepertinya aku salah berbicara. Dan malaikat di sampingku ini hanya terkikik ringan.

“Ryung-ssi, apakah seperti ini cukup?” gadis di sampingku mengarahkan layar notebooknya padaku.

Aku meneliti ulang tulisan tersebut. Dan menunjuk beberapa bagian yang kurang pas. “Ini sudah cukup bagus, Gyuri-ssi.” Yap. Gadis teater itu adalah gadis yang disukai Luhan. Sedikit kikuk di dekatnya. Dia cantik, feminim, dan lagi merupakan pemeran utama dari drama yang naskahnya sedang digarap ini.

Dan beberapa menit-menit yang hampir mendekati pukul 06.00 p.m kemudian…

“Selesai.” Gyuri menyunggingkan senyum manis dan bertepuk satu kali sebagai rasa senang.

Sementara aku, membulatkan mata dan menahan nafas. “Maaf, aku harus segera pulang.” Kurapikan beberapa peralatan tulisku. Berlari sebisa mungkin untuk menepati jam pulangku yang sudah ditetapkan oppa jika tidak ingin mendengar ocehannya. Jangan salah, walau oppaku terlihat stay cool, tapi dia bisa berubah menjadi nenek cerewet minta ampun jika menyangkut kedisiplinan.

Kuketuk-ketukkan ujung kakiku. Kenapa busnya lama sekali? Aku melongok untuk kesekian kali ke arah jalanan. “Gosh!” aku bergerak mundur dengan spontan saat sebuah motor mengklakson dan berhenti mendadak di depanku.

“Naik.”

Aku menilik pengendara dan motornya. “Ah, tidak perlu, Sehun-ssi,” tolakku seraya mengibaskan tangan. Jangan-jangan hutangku menjadi triple?

“Atau kau ingin satu jam kemudian baru sampai rumah?” ucapnya yang tidak terlalu jelas karena tertutup helm.

Aku melirik jam tangan. “Err…apakah akan melipatkan hutangku?”

“It’s depends on,” ujarnya santai.

“Depends on what?”

“It’s ten to six, Ryung-ssi.” Dia menyingkap sedikit lengan jaketnya untuk melihat jam. Mengingatkanku untuk bergegas.

“Oh, for just for this time,” aku bersegera menaiki motor sportnya.

***

“Hi, Lu,” aku memutar tubuhku hingga dan menjaga agar notebook di pangkuanku tidak jatuh.

“Akhir-akhir ini kau sibuk?”

“Eum, ya. Selain persiapan debat, aku menggarap scenario pementasan siswa teater.” Dan kulihat wajah Luhan sedikit berubah. “Do something go wrong?”

Luhan menggeleng pelan dan tersenyum. “Err…Ryu?”

“Hemm?” aku bergumam sembari masih menarikan jemariku di keyboard.

“Kudengar kau bekerja sama dengan Gyuri untuk menyelesaikan naskah drama ini.”

Aku terhenti sejenak. Kenapa rasanya tiba-tiba aku takut? Kuanggukan kepalaku. “Ya, aku dan dia lusa kemarin selesai mengerjakan naskahnya. Tinggal kubuat skenarionya dalam bahasa inggris.”

Luhan hanya manggut-manggut. “Kemarin, Gyuri mengirimkan message padaku. Mengatakan kalau kalian bekerja sama.”

“Mmm,” aku mengangguk-angguk. Bingung ingin mengucapkan apa. Hanya saja perasaanku tidak enak.

“Oya, tiga hari lagi pertandinganku.”

“I know.”

“Kau akan datang kan?”

“Of course!” aku mengacungkan jempol dan tersenyum. Tapi Aiden hanya memandangku sinis. Kenapa? Ada yang salah?

***

“Emm…Ini dibaca læf bukan lʌv, Gyuri-ssi,” aku menunjuk kata ‘laugh’ di scenario. Beberapa kali aku mengingatkan tapi gadis ini masih sering salah pronounciationnya. “Kedua kata ini memang mempunyai pronounciation yang hampir sama, jadi kau harus mengucapkannya dengan benar agar audience tidak salah tangkap,” maksudku pada kata ‘laugh’ dan ‘love’.

“Ish, kenapa harus berbahasa inggris sih,” Gyuri sedikit mengacak rambutnya.

“Kita coba sekali lagi, Gyuri-ssi. Aku tahu tidak mudah, maka dari itu aku sengaja mengikuti pedoman US agar lebih memudahkanmu untuk membedakan,” jelasku panjang lebar.

“Lalu maksudmu daya tangkapku rendah?”

Aku mengerutkan kening. Kenapa nada bicaranya meninggi. “Bukan seperti itu. Hanya saja perucapan US untuk kedua kata ini lebih mudah dibedakan daripada UK,” aku mencoba menjelaskan sekali lagi.

“Aku tidak peduli dengan yues (US) dan yuke (UK) mu itu. Tugasmu disini hanya membantu latihan kami. Jadi jangan berlaku seenaknya dengan mengkritik orang!”

“What?” aku mengangkat kedua tanganku. “Aku hanya menjalankan tugasku sesuai perintah.”

“Jika bukan karna Sehun-ssi, kau juga tidak akan bisa disini!”

Tunggu dulu, apa-apaan ini. Aku hanya diminta membantu oleh Sehun. Bukan kemauanku untuk berada disini. Aku mengatur deru emosiku yang mulai menaik. Memasukkan dan menghembuskan nafas dengan tarikan panjang untuk meredanya. “Ok, Gyuri-ssi. I don’t want to have words with you. So, could you please just continue this section?”

Aku merasakan tatapan tajam gadis itu. Memangnya apa lagi yang salah? Dia tampak menghentakkan kaki sebal kemudian malah mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Oh My Godness! Aku hanya mempunyai sedikit waktu sebelum janji dengan Miss Angelle, dan gadis itu masih sempat-sempatnya texting?

“Gyuri-ssi, bisakah kau lebih serius? Waktuku terbatas.”

“Maaf, Nam Ryung-ssi, aku ada telphon.” Dia mengatakan dengan enteng dan melenggang pergi begitu saja sembari melempar naskahnya.

Aku memerhatikan punggungnya. Dan sekilas mendengar nada seorang lelaki dari seberang sambungan yang menelphon Gyuri. Apa aku salah dengar? Suara itu? Tidak. Aku menggeleng. Aku pasti salah dengar.

Tiba sudah aku di titik emosiku. Gadis itu benar-benar…

Tak kalah kesal, aku juga melempar naskahku. Tak peduli dengan tatapan menghakimi dari siswa-siswa teater yang mungkin akan berpihak pada Gyuri. Terserah. Tepat ketika berbalik, kulihat Sehun memasuki ruangan latihan. Kami berpandangan sejenak, kemudian kuseret kakiku meninggalkan ruangan tersebut.

***

“Kau sangat marah ya?” Aiden baru saja memasukkan vector berpendar bewarna merah menyala dari dalam diriku ke gucinya. Dia memiringkan kepalanya sehingga tampang innocentnya berada tepat di depanku.

Kupalingkan wajahku dan kusedekapkan tanganku. “I don’t care.”

“Hey, tapi kalau diperhatikan wajahmu manis juga dengan ekspresi itu.” Aiden membuat persegi panjang dengan menyatukan ibu jari dan telunjuk kedua tangannya untuk membingkai wajahku.

“YAK!” kupukulkan tanganku hingga mengenai tubuhnya. Dan tembus sehingga bayangannya agak goyah.

Dia terkekeh. “Aku jadi benar-benar ingin mencubit pipimu.” Kedua tangannya mencubit pipiku dan hanya terasa sebagai hembusan angin. “Someone care about you,” ucapnya tiba-tiba.

Tepat setelah itu, aku merasakan smartphoneku bergetar.

From: Sehun, Oh

Kita bertemu setelah bimbinganmu selesai.

“Hish,” desisku kesal. Pasti karena keributan tadi. Dan nada messagenya lebih berkesan perintah daripada permintaan.

***

“Jika kau kesini untuk membela gadis itu, dan mengklarifikasi ulang tugasku, maaf aku tidak tertarik. Aku lepas tangan pada pementasan itu.” Kueratkan cengkeramanku pada kedua tali tas punggungku dan berjalan melalui Sehun.

“Ya! what the hell are you doing?” pekikku ketika dengan cepat Sehun menarik pergelangan tanganku untuk menyeretku.

Dia membawa langkahku ke rooftop gedung sekolah.

“Kau bersikap childish!”

Aku memberikan tatapan tak percaya. Childish? Aku menggembungkan pipi dan menghembuskan udara dari dalamnya. “Seharusnya kata itu kau tujukan untuk gadis manja pemeran utama drama itu.”

Sehun menghadapku dan menatap tajam. “Apa tidak childish jika kau mundur hanya karna pertikaian kecil?”

“Terserah kau bilang apa, aku tetap akan mundur. Jika bukan karena kesalahanku padamu, aku juga tidak akan sudi untuk berada di sana!” kuhentakkan kaki hendak pergi. Tapi lagi-lagi tubuhku ditarik, sehingga memutar menghadap Sehun.

“Ini tanggung jawabmu. Kau tidak bisa seenaknya meninggalkan pementasan itu!” gertaknya.

“Kalau begitu bisakah aku minta peran utamanya diganti?” tantangku.

“Apa seperti ini caramu menyelesaikan masalah?” kurasakan cengkeraman tangannya yang semakin dalam di kedua lengan atasku. “You have to face that problem instead of avoid it,” tekannya di setiap kata.

“I prefer to avoid it, Sehun-ssi. I don’t want to add fuel on the fire. And, who’s barking to the wrong tree?”

Sehun mengguncang tubuhku pelan. “I don’t care about who’s made the mistake. Aku hanya ingin kau mempertanggungjawabkan setiap tindakanmu.”

Aku mengerutkan bibir dan mendelik padanya. Membuat pandanganku hanya tertuju pada irish coklat tua Sehun. Dan sedikit kusesali karena rasanya duniaku tersedot jatuh di gravitasinya. “Aku harus pulang!” kutepis kedua tangan Sehun di lenganku. Memutuskan kontak mata kami sebelum jantungku bereaksi lebih. Dengan cepat kakiku melangkah meninggalkan Sehun.

***

 Aku mengerjakan secepat mungkin yang aku bisa. Telunjukku menelusuri deret-deret kata dalam paragraf. Pertandingan Luhan sudah dimulai lima belas menit lalu, sedangkan aku masih terjebak di lab bahasa untuk menyelesaiakan tugas grammar yang diberikan Miss Angelle.

“I’ve done.” Kuberikan kertas jawabanku pada Miss Angelle untuk dikoreksi. Kepalaku menggeleng singkat ketika memandang Aiden yang terus menatapi guru pembimbingku itu. Aku menyerah untuk menyuruhnya bertingkah aneh.

Kudengar Miss Angelle menghela nafas. “Ryung, please get back your concentration,” ucapnya sembari menyerahkan hasil kerjaanku yang sudah bercoret-coret merah dimana-mana. “Redo this problems and exercise 3.4.”

Aku mengerang frustasi dalam hati. Gara-gara berpikir tentang keterlambatanku, konsentrasiku buyar. Dan sepertinya aku harus merelakan untuk tidak menonton pertandingan Luhan.

Kutatap Aiden dengan wajah memelas terbaik yang bisa kubuat, yang biasanya bisa meluluhkan oppa. Dan bekerja juga pada Aiden. Berharap dia bisa melakukan sesuatu untuk membantuku. Tapi dia hanya melengkungkan bibir ke bawah seraya memainkan kuku, tak peduli. Aarrgghh…

***

Apakah setelah ini aku akan mendapat gelar ‘Rushed Girl’? beberapa hari ini aku sering berpacu dengan waktu. Berlari-lari mengejar keterlambatan. Saat ini, aku sedang memacu kakiku menuju lapangan basket karena kebetulan sekolahku menjadi salah satu tuan rumah kompetisi tersebut.

Aku melebarkan senyum ketika sorak sorai memenuhi lapangan basket. Nampak para siswa dan tim yang berpakaian merah bergembira. Kulihat papan skor dan benar saja, tim sekolahku memenangkan pertandingan putaran pertama.

Kakiku baru saja akan bergerak untuk menghampiri seseorang di sana. Kapten basket yang mampu membawa timnya memenangkan pertandingan itu, tapi kakiku membeku seketika. Ada gadis lain yang menghambur dan memeluk sang kapten. Dan keduanya Nampak berjingkat merayakan kemenangan. Senyum mereka merekah tanpa beban.

Kurasakan sesuatu menonjok bahu kananku. Menyadarkan diriku pada kebekuan. Kuputar tubuhku dan berlari kembali. Kali ini meninggalkan arena lapangan.

Tetes demi tetes air mataku sudah berjatuhan sedari tadi. Aku terus berlari menyusuri anak tangga. Persendianku terasa terbakar saat aku sampai di puncak gedung sekolah. Aku membiarkan diriku tergugu. Kucengkeram kerah jas seragamku, tempat dimana nyeri itu ada.

“Why?” tanyaku pada Aiden yang sedang melakukan tugasnya untuk menarik vector rasa dari tubuhku. Aku masih bisa melihat vector tersebut bewarna biru tua berkilau meski pandanganku sedikit mengabur karena genangan air mata. “Tell me why Aiden!”

Aiden hanya tersenyum dan membelai rambutku. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun dan terus membelai kepalaku, seakan-akan aku bisa merasakan sentuhannya. Katakan sesuatu, Aiden. Katakan kata penghibur untukku. Katakan kata dusta untuk menggembirakanku.

Aku ambruk ketika lututku terasa lemas. Kutopang tubuhku dengan kedua tangan. Kubiarkan rasa sesak menguasai dadaku hingga isak-isak kecil keluar dari mulutku.

“Berdiri!” ucap tegas seseorang sembari mengulurkan sebelah tangannya.

Kuangkat kepalaku. Menatap tubuhnya yang menjulang di hadapku. Aku masih tersengal karena isakan tangisku. “Sehun-ssi…”

“Berdiri kataku!”

TBC*

Istilah:

Have words                             : bertengkar

Add fuel on the fire                 : menambah panas pertikaian

Barking the wrong tree           : berbuat kesalahan

Mian, lama updatenya. Kami admin benar-benar kesulitan online. ^^ bye and bow.

58 thoughts on “Jar Of Heart [Heart 2]

  1. entik says:

    Whaa wktu di part pertama aku gk ngertisam jalan cerita nya, stlh yang ke 2 aku mulai ngerti.
    Udh ryung sama sehun aja.
    Tinggal berlanjut ke part selanjut nya.

  2. Guixianra says:

    Bisa kasih sosok Kakak seperti Kyuhyun padaku ? Aku juga mau dong di perhatiin kayak Kyuhyun ke Nam-Ryung… Ah! Jangan-jangan Luhan sama Gyuri udah menjalin hubungan lagi ? Dan Nam-Ryung cuma jadi pelampiasan aja ?? Aiden, aku Suka kamu. Hahaha😀

  3. soyoung lee says:

    sebelumnya maaf, tadi aku coba komen di part 1 tapi kogabisa ya? jadi aku komen di part 2 nya.
    kayanya aiden itu emg udah tau kalo luhan masih suka sm gyuri, soalnya dia sinis mulu tiap luhan deket2 ryung..
    oh sehun.. i really love you :*
    sehun itu.. cool banget,
    ah.. aku jadi lebih suka sehun sama ryung ketimbang sama luhan^^
    dipart 1 aku bingung sama kata ‘mycthophobia” karna mungkin aku emang gatau artinya kali ya kekeke..

  4. piHAE861015 says:

    namanya sehun tapi yg d bayanganku kok kyuhyun y…..hehehe….
    seru…seru…
    tapi aidennya ko dikit y……
    lanjuuuuuut…..

  5. makin menarik.. aku sukaa.. dan lagi tingkahnya aiden lee itu seperti anak – anak.. membayangkan dia bertingkah konyol seperti itu cukup mengencangkan perut
    dan lagi.. aku lebih suka indo-inggrisnya.. menarik..😀

  6. setia says:

    sebenarny bc ff yg ada kalimat inggris ny membuat q agak repot utk bka terjemahanny, tp sangat beruntung utk menambah vocab dan sambil bljr.hehe
    maklum bhs inggris ku payah.

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s