The Obedient Bride [Rule 5]


The Obedient Bride [Rule 5]

Minna menatap kosong cappuccino yang masih mengepulkan asap tipis di depannya. Dia menghembuskan napasnya dengan ritme teratur yang panjang untuk merilekskan diri. “Kau ingin memamerkan adikuasamu padaku, Nona Shim Hwa Young?”

Hwa Young melempar pandangan ke luar jendela sejenak, kemudian tersenyum kharismatik ke arah Minna. “Actually, I have changed my family name, Miss Park. If you don’t mind, call me Choi Hwa Young.”

Cih, apakah hal tersebut menjadi kebangganmu?”

Hwa Young menggapai cangkirnya, lalu menyerutup vanilla late pesanannya. “Bukankah menyandang marga dari suami adalah suatu kehormatan?” retorik Hwa Young yang ditanggapi cibiran oleh Minna.

“Apa yang patut dibanggakan dari pernikahan kalian?” Minna menyurungkan jari telunjuk tepat di tengah frame sun glasses untuk membenahinya. “Pernikahan yang dilangsungkan hanya sebagai upaya untuk menguatkan kekuasaan financial,” cemooh Minna sambil memberikan pandangan sengit.

Hwa Young mengulas senyum tipis dengan anggun dan angkuh untuk menanggapi cibiran tersebut. Dia nampak tidak terganggu dengan proposisi Minna atas pernikahannya. “Aku tidak akan menyangkal anggapanmu, namun tidakkah kau pernah berpikir bahwa waktu yang kami habiskan bersama dapat mengubah hatinya.” Walaupun Hwa Young sendiri tidak meyakini ucapannya, tetapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kelemahannya di depan Minna.

Minna meremas gaunnya sebagai manifestasi rasa gelisah. “Apa maumu, Hwa Young-ssi?” Dia termakan dengan ucapan lawan bicaranya.

“Aku mengajakmu bicara bukan untuk mengorek pernikahanku, Minna-ssi. Apapun yang ada di benakmu, saat ini kedudukanku tetap merupakan istri dari Choi Siwon,” tegas Hwa Young. Dia tidak ingin martabatnya direndahkan oleh wanita di hadapannya.

“Apakah sekarang kau merasa puas karena memiliki bukti untuk menghancurkan citra diriku di hadapan Siwon Oppa?”

Hwa Young memandang datar Minna. Praduga bahwa Minna menyembunyikan kasus kekerasannya dari Siwon terbukti benar. “Perlukah aku melakukannya, Nona Park?” Hwa Young mengangkat sebelah alisnya. “Apa keuntungan yang aku dapatkan jika melakukannya, Nona Park?” retoriknya.

Minna membuang tatapannya ke arah lain dengan sebal. Sikap konfrontasinya terhadap Hwa Young, dia akui, memang tidak tepat. Wanita tersebut bukan sosok proletaliat yang bisa ditindas dengan posisinya saat ini.

“Aku tidak akan mengorbankan prestisiusku untuk hal sepele yang menyangkut kasusmu,” tukas Hwa Young.

“Lalu apa yang mendorongmu melakukan  pembicaraan pribadi seperti ini?” Minna mengalihkan kembali wajahnya pada Hwa Young. Dia mengatur temperamennya agar tetap stabil.

“Aku ingin mengetahui detail perkaramu, Minna-ssi.”

“Aku sudah membicarakan kasusku dengan pengacara Aphrodite. Kurasa tidak ada hal lain yang dapat kusampaikan padamu secara personal,” tekan Minna di kata terakhirnya.

“Aku telah membaca berita acara kasusmu. Hal yang kugarisbawahi adalah keraguanmu untuk memperkarakan kasusmu di jalur hukum.” Hwa Young mempertahankan mimik wajahnya yang kaku. “Untuk apa kau bersusah payah mensubmit kasus ke Aphrodite jika pada akhirnya kau menyembunyikan pelaku kekerasan yang menimpamu.”

“Aku tidak butuh hukum memprosesnya, Hwa Young-ssi. Aku hanya butuh suaka karena aku tidak mungkin melaporkan kekerasanku pada pihak berwajib, mengingat profesiku sensitive terhadap berita seperti ini,” Minna sedikit menyentak.

“Kami membutuhkan kejelasan dari masalahmu. Demikian itu adalah prosedur, Minna-ssi.”

“Aku hanya butuh identitas baru untuk bisa melanjutkan hidupku.” Minna bersikeras dengan keputusan untuk menyembunyikan orang dibalik kasusnya. Dikepalkan tangannya di atas meja sebagai oposisi.

Hwa Young mengurut pelipisnya dengan ringan. “Setelah mendapatkan identitas baru, apa yang ingin kau lakukan?”

“Membuka kehidupan baru dengan orang yang saat ini menjadi suamimu.”

Hwa Young memanjangkan embusan napasnya untuk melapangkan kesabarannya terhadap ucapan frontal Minna. “Bagaimana kau yakin bahwa Siwon dapat menerima identitas barumu?” Walaupun samar, namun dia tidak menampik rasa tidak sukanya terhadap gagasan Minna.

Minna mengerutkan kening di antara kedua alisnya untuk membenarkan pertanyaan Hwa Young. Meski sudah berpuluh kali memikirkannya, dia masih tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenarannya pada Siwon. “Dia mengetahui latar belakangku, aku yakin dengan sedikit penjelasan Siwon Oppa akan mengerti.”

“Seyakin itukah dirimu?”

“Mengapa tidak? Siwon Oppa-lah yang mengenalkanku pada dunia model. Dialah yang membimbingku keluar dari dunia kelam tempat di mana aku tumbuh. Dengan latar belakang itu, dia tidak keberatan menjalin kasih deganku,” percaya Minna.

Hwa Young memejamkan mata sejenak. Ada rasa ngilu yang meski ringan tetap bisa dirasakannya. Sebisa mungkin dia menekan perasaannya, walau sebenarnya kupingnya memanas setiap gadis di depannya menyanjung hubungannya dengan Siwon. “Kau tetap pada pendirianmu untuk menyembunyikan identitas lelaki itu?”

“Kau tidak mengerti dengan siapa berurusan, Hwa Young-ssi. Ini kulakukan untuk keselamatan semua.”

“Dan kami bekerja untuk melindungi keselamatanmu!” nada bicara Hwa Young meninggi. Dia menghembuskan napas pendek untuk menunjukkan bahwa dirinya diambang kesabarannya. “Kau memutuskan mendaftarkan kasusmu, itu berarti kau juga harus sepenuhnya percaya pada kami.”

Minna menggeleng pelan. Dia bahkan masih bisa merasakan nyeri akibat tamparan lelaki itu. Ketakutan itu seakan membekas di benaknya. “Jikalaupun aku membeberkan identitasnya, hal itu tidak akan memperbaiki keadaan.”

Hwa Young menangkap getaran tangan Minna. Dia tak bisa memaksa seorang korban untuk menceritakan kronologi masalahnya jika kondisi psikis korban tersebut masih terguncang. Lebih-lebih memang bukan tugasnya untuk mewawancari korban. Hanya kebetulan klien kali ini bersinggungan langsung dengan kehidupan pribadinya hingga dia turun tangan secara langsung.

“Aku akan merapatkan kasusmu dengan tim Aphrodite, lusa. Sampai saat itu kita hanya bisa menunggu,” Hwa Young mengemasi ponselnya yang tergeletak di meja. “Maaf, obrolan kita harus kuakhiri. Terima kasih sudah meluangkan waktumu.” Dia berdiri, menundukkan kepala pada Minna sebagai salam perpisahan, kemudian berlalu.

Minna hanya mendengus untuk menanggapi kesantunan Hwa Young. Tatapannya mengikuti tubuh Hwa Young yang telah berada di seberang jalan. Segera matanya membulat sempurna dengan tangan yang sudah terkepal erat saat menangkap seorang yang amat dikenalnya membukakan pintu mobil untuk Hwa Young. Kekasih yang selama ini dielukannya, di sana, menyunggingkan senyum untuk wanita selain dirinya; Choi Siwon.

***

Dibandingkan dengan puluhan kasus yang pernah Hwa Young tangani, kasus kekerasan Park Minna bukanlah sesuatu yang besar. Akan tetapi profesi Minna sebagai seorang model membuat kasusnya begitu sensitif. Selama beberapa kali pemeriksaan Minna ditempatkan di perlindungan Aphrodite. Summer fashion yang berlangsung di Jepang hanyalah akal-akalan untuk mengaburkan jejak sang model.

“Kau sudah makan siang?” sebuah interupsi membuyarkan pikiran Hwa Young. Dia menarik diri dari lamunannya, “belum.”

“Ini hampir menjelang sore, namun kau belum makan siang?” nada khawatir terselip di perucapan Siwon.

Hwa Young tersenyum miris untuk menanggapinya. “Sejak kapan mengkhawatirkan hal itu, Oppa?”

“Benarkah? Apakah terlihat jelas?” Siwon mengangkat kedua alisnya dan menyunggingkan senyum khas di bibir tipisnya ke arah Hwa Young. Dia tidak melihat senyum kontradiksi Hwa Young pada ucapannya dan tetap melanjutkan niatan untuk bercanda.

Hwa Young tertegun sejenak untuk berpikir bagaimana dia menyikapi inisiatif Siwon untuk menghangatkan suasana. Hatinya masih kelu mengingat pembicaraannya dengan Minna, namun dia juga tidak bisa mengabaikan Siwon. Pada akhirnya, dia mengangkat tangan menutupi kekehan ringan yang meluncur dari mulutnya untuk menertawakan ekspresi Siwon.

Siwon ikut melebarkan senyumnya. Serta merta sebelah tangannya terangkat dan menyentuh puncak kepala Hwa Young. “Kau melamunkan sesuatu sedari tadi, Youngie.”

Hwa Young terdiam saat jemari Siwon bertengger di kepalanya. Ada getar kecil yang menggerakkan jantungnya. “Maaf.” Sesalnya karena telah mengabaikan Siwon.

“Kau bahkan tidak menyadari perjalanan kita. Sesuatu yang biasanya menjadi perhatianmu, tapi terlewat begitu saja karena kau melamun.”

Hwa Young menoleh dan memandang melalui jendela di sisinya. Dia mengerutkan kening saat menyadari kebenaran perkataan Siwon. Ini bukan jalan pulang ke rumah mereka. “Ada urusan lain?” Hwa Young kembali menoleh pada Siwon.

“Tidak,” Siwon meringis kecil, “kurasa kita masih memiliki waktu untuk menikmati weekend.” Dalam dadanya, dia begitu lega dapat mengutarakan ide kecilnya.

“Menikmati weekend?” Hwa Young meneleng kepalanya ke arah Siwon dengan heran. “Kukira kau memiliki urgensi di kantor yang harus segera kau selesaikan.”

Siwon mengelus tengkuknya. “Yeah, semua sudah beres,” ucapnya sembarang. Sebenarnya dia hanya menanggung suatu pekerjaan kecil yang bisa ditunda hingga Senin besok.

“Lalu kemana tujuanmu selanjutnya?”

“Mungkin berjalan-jalan di Myeongdong bukan ide yang buruk.”

Hwa Young mengangguk pelan untuk menyetujui ide suaminya. Sepertinya tidak ada salah jika mereka menghabiskan sore di salah satu pusat perbelanjaan. Tangannya men-swap layar iphone saat sebuah pesan masuk.

From: Sungmin, Lee

Aku mengirimkan kejutan di email-mu, Hwa Young-ssi.

 

Hwa Young mengangkat wajahnya dengan penasaran. Dia baru saja akan membuka inbox email, tapi diurungkan sebab mobil hyundai yang ditumpanginya sudah memasuki kawasan Myeongdong.

***

“Sudah lama tidak mencicipi kue beras ini,” Hwa Young menyuapkan suapan terakhir jajanan tersebut ke mulut. Snack yang lumayan untuk mengganjal perut karena dia sendiri menolak saat Siwon memaksanya masuk ke suatu restoran. Wanita ini sangat jarang berjalan-jalan di kawasan Myeongdong. Jadi sayang jika waktunya hanya terbuang untuk duduk menyantap makanan di suatu restoran.

Siwon tersenyum melihat Hwa Young. Tangannya dengan refleks terulur untuk membersihkan setitik sisa saus di sudut bibir perempuan tersebut. Merasakan aliran darahnya yang meluncur ke bawah saat jemarinya menyentuh lembutnya kulit Hwa Young, Siwon sendiri cukup kaget. “Saus,” jelasnya saat melihat perubahan wajah Hwa Young.

Oh, maaf,” Hwa Young mengangkat tangannya bermaksud ikut membersihkan sisa di bibirnya hingga tak sengaja kulit mereka bersentuhan. Sentuhan ringan yang menimbulkan suatu getaran sehingga membuat mereka berpandangan sejenak.

Secara spontan Siwon menarik tangannya. Situasi canggung menyeruak di antara mereka. Berdeham beberapa kali, Siwon mencoba menghilangkan atmosfer canggung mereka. “Kajja.” Dia mengumpat dalam hati untuk mengutukki sikap bodohnya.

Mata Hwa Young menjelajahi areal lokasi perbelanjaan Myeongdong yang begitu padat pengunjung. Dia dengan awas menjajaki lahan investasi yang sangat menjanjikan. Insting pebisnisnya memberikan ide untuk menambahkan beberapa outlet Hyundai ataupun Shawn. Tanpa disadari kakinya melangkah beberapa jengkal di depan Siwon.

Pria di belakang Hwa Young tersenyum tipis mengamati antusiasme wanita tersebut. Siwon sengaja memelankan langkahnya hingga dirinya tertinggal untuk memerhatikan punggung sang istri yang mampu membuatnya berdebar. Dia menggerakkan tangannya untuk meraba dada, tepat di detak-detak yang menghentak. Siwon bahkan tidak percaya terhadap reaksi kimiawi yang dialaminya sampai bibirnya mengulas senyum tipis. Dia mempercepat langkahnya ketika suatu ide muncul di benaknya.

Hwa Young sedikit terperanggah ketika sebuah tangan menggenggam jemarinya. Menoleh ke sisi kanan, dia mendapati Siwon yang tersenyum. Mengerutkan kening, keheranannya terbalas senyum Siwon. Segera dipalingkan wajahnya yang tiba-tiba menghangat ke arah lain.

“Tanganmu dingin.” Tanpa melepas gengamannya pada Hwa Young, Siwon memasukkan jalinan jemari mereka pada saku mantelnya. Seiring degub jantungnya kian meningkat, bibirnya tersenyum samar. Dia hanya ingin mengetahui sejauh mana jantungnya merespons persinggungan dengan perempuan yang digandengnya kini. Memang sedikit kekanakan.

Hwa Young memalingkan pandangannya ke jajaran pertokoan di sebelahnya. Bibirnya terkulum ketika merasakan detak jantungnya yang mulai bertempo cepat. Menggeleng ringan, dia bahkan menyangsikan debaran jantungnya sendiri.

Wanita ini sering berinteraksi dengan lawan jenis, namun sensasi seperti saat sekarang sudah lama tidak dirasakannya. Kawan pria terdekatnya selama ini hanya Kyuhyun. Akan tetapi bahkan jika dirinya bersama Kyuhyun, dia tidak merasakan getaran ini. Rasa aman dan nyaman yang diberikan Kyuhyun memang mampu menenangkannya, namun dia tidak pernah menemukan rasa lain selain dua hal tersebut. Suatu rasa substansial yang menguatkan dan mengikat dirinya pada seorang pria.

“Butik, pertokoan, restoran, salon, juga distro berkembang pesat di wilayah ini.” Siwon merilekskan ketegangannya. Dia bukan lagi remaja yang terjebak lovey dovey, melainkan seorang pria matang yang sudah beristri. “Aku berpikir, andai saja kita dapat membuka outlet baru di kawasan ini.”

Hwa Young mengembangkan bibirnya sedikit saat menemukan kesamaan pendapatnya dengan Siwon. “Tadinya aku juga berpikir demikian. Jika beruntung, kita dapat menemukan lahan yang dijual atau disewakan,” tangan sebelahnya yang bebas menunjuk beberapa tempat. “Hyundai automotive bisa menambah showroom di kawasan ini karena bukan saja turis lokal, turis mancanegara pun memadati area ini. Meskipun Hyundai sudah memiliki anak cabang di beberapa negara, tetapi membuka outlet di kawasan ini merupakan kesempatan bagus untuk memperluas pasaran.”

Siwon bergumam untuk membenarkan perkataan istrinya. Aktifitas santai yang dijalaninya pada akhirnya tercampuri dengan bisnis. Bisnis adalah salah satu hal yang menghubungkannya dengan Hwa Young. Suatu kesamaan yang mereka geluti setiap hari. “Kita masuk kesana,” Siwon menarik Hwa Young ke salah satu butik.

“Cukup ramai,” Siwon mencondongkan badannya ke arah Hwa Young sambil mengeratkan genggamannya.

“Ya, kukira pertambahan pengunjung akan melonjak hingga dua kali lipat saat liburan.”

“Lihat,” Siwon menunjuk sebuah gelang di etalase. “Tolong ambilkan ini,” mintanya pada pelayan toko. Dia mengeluarkan tangannya juga Hwa Young dari saku mantel. Mengambil gelang tersebut dan meletakkan di telapak tangan, Siwon menilai keindahan benda itu. Dia mengangkat pergelangan tangan Hwa Young, kemudian melingkarkan gelang tersebut. “Bagaimana?” tanyanya setelah pengait gelang terkunci di tangan Hwa Young.

“Cantik,” puji Hwa Young. Jemari tangannya yang lain menelusuri bentuk gelang. Sebuah gelang dengan untaian manik-manik berwarna dominan biru sapphire dan berhias rangkaian daun emas sepanjang setengah lingkaran.

“Daun keemasan merupakan simbol yang dihormati bagi bangsa Yunani. Kau ingat, mereka sering menggunakannya sebagai mahkota,” Siwon membuat gerakan melingkar di atas kepala dengan telunjuknya.

Hwa Young mengangguk dan memuja keunikan gelang yang dipakainya. “Kau memberikan gelang ini padaku?” dia mengangkat pergelangan tangannya agak tinggi. Senyum jawaban Siwon terlihat dari celah manik-manik gelang yang menutupi pandangan Hwa Young. Ini adalah Pemberian kedua dari Siwon setelah kamar yang dia tempati.

“Aku ambil gelang ini,” ucap Siwon seraya mengeluarkan beberapa won untuk membayar.

“Kau sering berkunjung kemari?” tanya Hwa Young ketika mereka kembali menyusuri jalanan di Myeongdong.

“Tidak juga. Sudah cukup lama aku tidak mengunjungi tempat ini untuk sekadar mengurai penat.” Siwon memasukkan tangan mereka, tangannya dan Hwa Young, ke mantelnya. Walau hampir memasuki musim panas, tapi udara di akhir musim semi cukup mendinginkan tanganmu.

Ah tentu karena kau seorang putra mahkota Hyundai. Lagipula status kekasihmu tidak memungkinkan kalian berkencan di tempat terbuka seperti ini.” Hwa Young masih terlihat menikmati keramaian sekitar tanpa melihat perubahan raut Siwon.

Siwon memasok udara ke paru-parunya dengan tarikan napas panjang. Ada bongkah yang tiba-tiba menyesakkan dadanya ketika dengan enteng Hwa Young menyinggung Minna. “Bisakah kita tidak membicarakan hal itu?”

Hwa Young menatap Siwon dengan ganjil. “Apa?” Dia tahu persis makna ucapan Siwon, namun berpura untuk tidak menggagasnya.

Siwon menatap lurus jalanan seiring bahunya yang melorot. Rahangnya terlalu kaku untuk mengutarakan kembali topik yang disinggung sang istri. Dia ingin menjaga perasaan Hwa Young, tetapi wanita itu seolah tidak membutuhkan proteksinya. Siwon memilih mengabaikan pertanyaan Hwa Young sembari jemarinya yang mengerat untuk menggenggam jemari wanita tersebut.

“Aku tidak mengerti dengan dirimu. Akhir-akhir ini, jika boleh kukatakan,“ dia memutar tangannya dan memberikan gerakan pelan untuk penekanan, “kau sedikit sensitif jika orang lain menyinggung hubungan kalian.”

Kaki Siwon terhenti mendadak. Dia memutar tubuhnya menghadap Hwa Young saat wanita tersebut ikut berhenti. “Begitu pun denganku. Jadi tolong, jangan kau angkat topik ini.”

“Sesuatu terjadi?”

“Tidak, kami baik-baik saja. Dia hanya sedang berada di Jepang untuk suatu peragaan busana.” Siwon menatap lekat wanita di depannya. “Aku hanya tidak ingin membicarakannya. Itu saja,” dia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya tidak suka hubungannya dengan Minna disinggung. Ada lelah yang secara nyata tumbuh di hatinya.

Hwa Young menelan ludahnya. Andai kenyataan pahit seperti ludah yang dengan mudah tertelan, maka dia tidak perlu dipusingkan dengan bagaimana menyembunyikan kasus Minna dari Siwon. Ekspresi Siwon yang selalu terlihat karismatik menjadi begitu menyedihkan di matanya. “Ya, tentu saja,” walau ragu, dia menyetujui permintaan Siwon.

Bersamaan itu, iphone Hwa Young berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dari tas, lalu melihat display name yang tertera di layarnya. “Hello, Kyunie,” Hwa Young memutar kakinya hingga tubuhnya tidak lagi berhadapan dengan Siwon dan tangannya tertarik dari saku mantel suaminya.

Tanpa disadari Siwon mengepalkan tangannya. Perasaan tidak rela datang begitu saja ketika melihat tangan sang istri yang dengan mudah terlepas darinya. Dengan gerak cepat, dia mengambil ponsel yang masih melekat di telinga Hwa Young. “Aku juga tidak menyukai ini!” ketusnya sambil memutuskan sambungan telephon Hwa Young.

“Hei, apa yang kau lakukan?” protes Hwa Young dengan melayangkan tatapan sengit.

“Aku telah mengatakan berkali-kali mengenai pandanganku terhadapa hubunganmu dengan Kyuhyun. Sudah seharusnya kau mengerti!” Siwon mematikan iphone milik Hwa Young dan menyakunya di saku dalam mantelnya. Dia mengerasan ekspresi wajahnya. Jauh berbeda dengan dirinya beberapa menit lalu.

Tangan Hwa Young terangkat dan mengibas di udara. Dia memijit keningnya. “Kau berlebihan. Seharusnya kau mengerti perbedaan antara membatasi dan mencampuri privasi.” Dia menghentakkan kakinya pelan, lalu melangkah meninggalkan Siwon.

Siwon mengejarnya dan meraih lengan Hwa Young hingga tubuh wanita tersebut memutar menghadapnya. “Aku sangat mengerti perbedaan itu. Ingat, aku masih memiliki hak untuk melarangmu berhubungan dengan pria itu.”

“Apa yang kau katakan?” Hwa Young mencoba memberontak untuk melepaskan lengannya.

Siwon memutar lehernya ke sekeliling dan segera menyadari bahwa mereka masih berada di tempat umum. Tangannya menarik Hwa Young mendekat hingga tubuh mereka melekat. “Aku tidak ingin berdebat di sini, Youngie,” bisiknya tepat di telinga Hwa Young. Siwon melingkarkan tangannya di pinggang Hwa Young dan membimbing langkah mereka meninggalkan keramaian.

***

“Berikan aku penjelasan, Oppa!” Hwa Young setengah berteriak. Dia masih berdiri di tangga bawah sedangkan Siwon, yang enggan untuk berdebat, sudah beberapa langkah menaiki anak tangga.

Kaki Siwon tertahan untuk melangkah lebih lanjut. Dia mempertahankan posisinya, membelakangi Hwa Young. “Harus berapa kali aku mengulanginya?” Siwon lagi-lagi mengeratkan kepalan tangannya tangan. “Aku tidak menyukai macam hubunganmu dengan Cho Kyuhyun atau siapa pun itu!”

“Untuk alasan apa? Nama besar, huh?” Hwa Young menatap lekat punggung Siwon. “Kau khawatir jika nama besarmu tercoreng?” bibirnya bergetar. Dia juga tahu seberapa penting suatu citra bagi Siwon dan keluarga Choi, sebab dirinya dan keluarga Shim tak jauh berbeda. Apa pun akan dia lakukan untuk melindungi kehormatan diri dan keluarganya. Akan tetapi saat ini hakikat yang dia pegang tersebut terasa menyakitkan. Menurutnya tidak ada yang perlu dicemaskan mengenai hubungannya dengan Kyuhyun.

“Jika kau sudah mengetahuinya dengan jelas, mengapa masih bersikukuh?” Siwon melambatkan kalimatnya dengan sisipan emosi di setiap katanya.

“Demi apa pun, Kyuhyun hanya menelpon. Kau dengan semena-mena memutuskan sambungannya!” Hwa Young meledak. “Apakah kami berlaku melebihi batas? Apakah hubungan kami membuatmu tidak nyaman? Apakah Kyuhyun membuatmu terancam?” bertubi pertanyaan syarata amarah disuguhkan Hwa Young.

Siwon memutar badannya hingga dia bisa melihat Hwa Young yang terpisah jarak beberapa anak tangga darinya. “Apakah berciuman di tempat umum bukan melebihi batas? Apakah pertaruhan martabatku masih dikatakan tak mengusikku? Apakah menyelingkuhi istri seorang CEO Hyundai bukan sebuah ancaman?” serang balik Siwon dengan suara keras.

Mwo?” Hwa Young memendelikkan matanya ketika mendengar perucapan terakhir Siwon. Dia menggeletukkan gigi-giginya untuk menahan emosi. “Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan wanita itu?” dia memelankan ucapannya yang termuati emosi hingga terdengar bergetar. “Apakah itu bisa disebut sesuatu yang pantas?!”

“Kau sama sekali tidak mengerti hubungan kami. Jadi bukan hakmu untuk berbicara!”

Cih, apakah hanya kau yang memiliki nama besar?” cibir Hwa Young. “Hubunganmu dengan wanita jalang itu, bukankah akan lebih memalukan jika publik mengetahuinya?” sebuah hinaan lolos begitu saja dari mulutnya. Bukan maksud Hwa Young berkata demikian kasar andai emosinya sedang tidak meradang.

Siwon tercengang dengan kalimat sang istri. Dengan cepat dia menghampiri Hwa Young dan mencengkeram kedua lengan Hwa Young hingga wanita itu sedikit terangkat. “Jaga ucapanmu, Nona Shim,” mata Siwon menatap tajam perempuan tersebut. Dia menghempaskan dengan kasar tubuh Hwa Young hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang. “Aku tandaskan sekali lagi, dengan siapa pun kau menjalin kasih, aku tetap tidak menyetujuinya selama kita masih terikat dalam pernikahan.” Siwon mengambil ponsel Hwa Young yang tadi di sakunya. “Terlebih dia adalah Cho Kyuhyun!” dia mengangkat iphone Hwa Young di depan wajah wanita tersebut, lalu melemparkannya hingga menumbuk dinding.

Hwa Young memalingkan wajah ke arah lain sambil memejamkan mata saat terkaget dengan tindakan Siwon. Dia mengatur napasnya yang tersengal karena amarah. “Kau sungguh tidak adil dengan hanya mengkambinghitamkan hubunganku dengan Kyuhyun, sedangkan dirimu sendiri bebas berhubungan dengan gadis itu.” Hwa Young melangkahkan kaki menaiki tangga. Pada tundakan ketiga kakinya berhenti sementara. “Aku ingin kita memikirkan hubungan kita dengan pasangan masing-masing agar batasan pernikahan ini jelas,” tukasnya lalu melenggang pergi.

Sepeninggalannya, Siwon mengerang frustasi. Dia mengacak rambutnya kasar dan meninju dinding di sampingnya. Mengapa batas-batas itu seakan mengabur baginya? Dia tidak bisa berlaku abai pada hubungan istrinya dengan pewaris Dexxa, sedangkan di sisi lain dirinya sendiri juga menjalin hubungan dengan wanita lain. Ini sungguh memusingkan.

***

Hwa Young menutup pintu kamarnya pelan. Dia menyandarkan punggungnya di pintu tersebut dan menormalkan sistem pernapasannya yang tiba-tiba sesak.

Nama besar dan profit. Ideologi yang selalu diunggulkannya melebihi apa pun, saat ini malah menjadi boomerang bagi dirinya. Pernikahan yang dia kira akan berjalan hambar dan datar kini sering menyulut amarahnya. Gesekan-gesekan antara kehidupannya dengan Siwon yang semula ia perkirakan tidak ada, sekarang semakin menimbulkan panas.

Setitik air mata meluncur begitu saja tanpa dikehendaki. Pertama kali dirinya menangisi nasibnya. Dia seperti terkunci di ruangan yang mengurung kebebasannya. Suami, rumah tangga, sahabat, juga karir seperti terintegrasi menghimpitnya.

Hwa Young menekan dadanya yang nyeri, kemudian memukul-mukulnya pelan untuk menyemangati diri. Segera diusap air matanya untuk menyangkal simbol kelemahannya. Seorang Shim Hwa Young tidak boleh terpuruk di saat semua baru dimulai. Dia harus tetap beridiri tegak, meski badai selalu berusaha menumbangkannya.

Hwa Young segera menyalakan PC di kamarnya ketika teringat email yang dikirimkan Sungmin. Tangannya dengan cekatan mengklik akun email-nya sehingga menampilkan deretan email yang masuk ke inbox-nya. Manik matanya bergerak ke kiri dan kanan dengan cepat untuk mambaca berkas yang dikirim jaksa Aphrodite tersebut. “Siapa sebenarnya wanita ini?” geramnya begitu membaca pesan Sungmin.

Sementara itu di sisi lain ruangan lain, Siwon duduk di belakang meja kerjanya seraya menopang dagu. Matanya masih memejam, mengingat pertengkaran-pertengkarannya dengan Hwa Young yang bersumber pada masalah yang sama.

Siwon menghembuskan napas panjang dan dalam. Dia membuka mata dan tatapannya tertuju pada laci meja kerja. Ditariknya laci tersebut keluar, kemudian diambil sebuah map dari dalamnya. Bibirnya tersenyum kecut melihat perjanjian pernikahan yang dulu ditolak oleh Hwa Young. “Apa yang harus kuperbuat, Youngie?”

***

Mungkin bisa dikatakan dua hari ini adalah fase terburuk hubungan mereka. Komunikasi yang tadinya terjalin, kini benar-benar lenyap. Mereka saling sibuk atau menyibukkan diri dengan urusan masing-masing, tanpa bertegur sapa seperti yang mereka janjikan. Keduanya saling membungkam mulut karena baik Hwa Young ataupun Siwon tak mengerti solusi yang tepat untuk masalah mereka.

“Adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain diam?” Siwon menggebrak meja makan. Dia tidak tahan dengan ketidakacuhan Hwa Young pada dirinya. Bagian dirinya tidak mau jika wanita sebagai istrinya tersebut mengabaikan eksistensinya.

Hwa Young meletakkan sendok supnya. Dia menyandarkan punggungnya dengan tenang, seakan gebrakan Siwon tidak memberikan dampak besar. “Persoalan kita tidak akan selesai jika kita belum bisa mengenali batasan pernikahan ini.”

Tangan Siwon mencengkeram sendok, “Cih, batasan seperti apa yang kau inginkan?”

Hwa Young sebisa mungkin menghindari percekcokan karena mereka dalam aktifitas sarapan. “Sudah jelas bahwa kau sendiri yang dulu menginginkan pernikahan ini berjalan hitam di atas putih. Sepatutnya, jika kita menyadari batasan atas kehidupan pribadi masing-masing.”

Siwon ingin menyela namun Hwa Young mengangkat tangannya untuk menghentikan. “Jika kita berjalan di jalan masing-masing, pastinya tidak akan terjadi perselisihan. Aku sepakat denganmu tentang menjaga nama baik keluarga kita. Mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati mengenai hubunganku dengan Kyuhyun, begitu juga kuharapkan dirimu.”

“Pernikahan ini—“ perkataan Siwon terpotong dengan dering bel pintu rumah. Siwon membuang serbet makannya begitu saja, sedangkan Hwa Young segera bangkit dari duduk untuk mengecek siapa yang pagi-pagi bertamu.

“Selamat pagi,” seorang wanita muda, yang dia taksir seusianya, membungkukkan badan. “Apakah agashi adalah Nona Shim Hwa Young?”

“Ya.” Hwa Young mencermati perempuan di hadapannya untuk mengingat rupa dan nama, namun dia yakin belum pernah bertemu.

“Bisakah meminta waktu sebentar?” sang wanita meremas-remas jemarinya sebagai bentuk rasa gelisah.

“Tentu, silakan masuk,” bersamaan dengan itu, Siwon keluar. Dia menganggukan kepala pelan kepada tamu Hwa Young yang dibalas dengan tindakan serupa.

“Kita akan melanjutkan pembicaraan kita, Youngie.” Siwon menyempatkan diri menepuk lengan atas istrinya. Dia ingin memberikan kesan baik pada tamu Hwa Young. Pertengkaran mereka bukan sesuatu yang harus diperlihatkan pada orang lain.

Oh, Jeongswamida karena mengganggu kalian,” ucap sang gadis.

“Tidak mengapa, silakan duduk.”

***

“Apakah ada petunjuk lain? Adakah hal lain yang Sungmin-ssi katakan terakhir kali dia menghubungimu?” Hwa Young dan juga Haneul, gadis yang bertamu pagi ini, memeriksa meja kerja Sungmin di apartemen pribadinya.

“Tidak. Kami hanya membicarakan liburan musim panas, lalu setelahnya dia hanya mengatakan sedang bertugas,” Haneul menangkup tangannya frustrasi. “Oppa tidak pernah menghilang beberapa hari tanpa kabar,” dia menggigit kuku ibu jarinya, sedangkan matanya memerah melelehkan air mata kekhawatiran.

“Tenangkan dirimu dulu, Haneul-ssi. Aku mencoba memeriksa notebook-nya, cobalah kau cari petunjuk lain di buku agenda atau catatan lain yang sering ia gunakan.”

Mianhanata karena merepotkanmu, Hwa Young-ssi. Maaf karena awalnya aku mencurigai hubungan kalian sehingga dengan sengaja memeriksa ponsel Sungmin Oppa hingga menemukan kontak pribadimu,” jelas Haneul.

Hwa Young mengangguk paham. “Aku mengerti, maaf jika sempat membuatmu salah paham.” Dia membongkar file Sungmin. Pencariannya terfokus pada data yang bersangkutan dengan klien Aphrodite yang mereka tangani. Satu demi satu dokumen ditelitinya, tapi nihil. Hwa Young tidak menemukan sesuatu untuk dijadikan titik terang keberadaan Sungmin.

Sebuah bunyi gesekan terdengar saat Haneul membuka sebuah almari. Tindakannya membuat Hwa Young menoleh dan mengerutkan dahi karena yang dibuka ternyata hanya sebuah pintu tipis yang menutup papan berukuran 3 m x 1 m. “Oppa tidak suka jika planning dan diagram penyelidikannya dirusuh orang lain sehingga dia menutupinya. Bisakah kau memeriksanya?”

Hwa Young bisa melihat beberapa kasus yang tersusun dalam diagram dan terhubung satu dengan lain. Dia mencermati setiap detail, kemudian jarinya terhenti di sobekan artikel surat kabar.

‘Perkembangan Pub dan Diskotik Menjamur di Itaewon’—February, 23rd 2010.

‘Model Park Minna Menjadi Trendsetter untuk Gaun Musim Dingin Tahun Ini’—January, 18th 2012.

‘Delapan Warga Asing Diamankan Karena Terbukti Menyelundupkan Narkotika’—December, 2nd 2009.

Telunjuk Hwa Young terus menelusuri garis-garis penghubung yang dibuat oleh Sungmin. Dia telah membaca biografi seorang pemilik pusat hiburan yang terkenal di Seoul, tapi seingatnya Sungmin tidak pernah menyebutkan pub atau bar di Itaewon. Sungmin mengirimkan data tersebut karena dia menduga pria pemilik salah satu bar terbesar di Seoul itulah yang mempunyai perkara dengan Minna. “Groove Bar,” lirih Hwa Young menyebutkan bar yang ditunjuk Sungmin di email-nya.

“Berikan aku kabar jika Sungmin menghubungimu atau jika kau menemukan petunjuk yang berguna. Aku akan menghubungimu juga jika ada perkembangan.” Hwa Young mengambil tasnya dengan terburu. Dia harus menemui seseorang untuk memperjelas kasus ini. Menghentikan kakinya, dia menoleh pada Haneul, “dan satu lagi, tolong jangan hubungi polisi dulu. Tunggu aku.” Dia tidak ingin masalah Aphrodite menguar keluar.

***

“Siwon-ssi, aku perlu bicara!” Hwa Young mengeraskan volume suaranya untuk menandingi desingan peluru. “Bisakah kau berhenti sebentar? Ini penting,” dia hampir berteriak. Kedua tangannya terangkat menutup telinga saat suara desingan itu hampir merobek gendang telinganya.

Siwon masih melanjutkan kegiatannya menembak. Olah raga sekaligus hobi yang ditekuninya sejak lima tahun lalu. Dia tahu Hwa Young berdiri di sampingnya untuk mengatakan sesuatu, namun dia sengaja tidak mengacuhkan wanita tersebut. Persiteruan dengan Hwa Young tadi pagi memperburuk mood-nya. Beruntungnya penutup telinga yang dipakai cukup membantu agar suara Hwa Young tidak terdengar. Dia masih saja fokus pada sasaran tembaknya.

Hwa Young mengeratkan pegangannya di tali tas. Dia tahu Siwon marah atas pendapatnya mengenai pernikahan mereka. Akan tetapi hal yang akan disampaikannya jauh lebih penting dari itu karena menyangkut nyawa seorang jaksa. Dia memutar langkah hingga berdiri di depan Siwon, tepatnya beberapa centi di depan pucuk senjata yang dipegang suaminya. Dahinya bahkan masih bisa merasakan hangat karena panas dari ujung pistol yang sudah digunakan untuk menembak beberapa kali. “Aku perlu bicara!”

Siwon terkejut bukan main dan langsung menurunkan senjata yang dipakainya untuk menekuni hobi menembaknya. “Kau gila!” teriaknya. Darahnya berdesir hebat, sedangkan jantungnya berdegub kencang secara mendadak. Jika tadi dirinya sedang menarik pelatuk, maka pelurunya cukup untuk meledakkan kepala istrinya yang nekat itu. Dengan sangat kesal, dia menarik Hwa Young.

“Cepat katakan maumu!” dihempaskan dengan kasar tubuh Hwa Young. Dia melepas penutup telinga dan kacamatanya.

“Park Minna. Dimana kau bertemu pertama kali dengannya?”

Mwo?” Siwon mengerutkan keningnya. “Kau kemari hanya untuk menanyakan hal itu?” marahnya. Dia menatap Hwa Young tajam. “Jangan menyeret Minna dalam masalah kita!” tegas Siwon sembari akan melangkah pergi.

“Seorang jaksa menghilang setelah beberapa hari ini menyelidiki kasusnya!”

Siwon berhenti dan memutar tubuhnya. “Mwo? Apa yang kau katakan?”

Hwa Young ikut memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan sang suami. “Lee Sungmin, jaksa sekaligus penasehat hukum Aphrodite menghilang setelah menyelidiki kasus kekerasan yang menimpa Park Minna.”

TBC*

279 thoughts on “The Obedient Bride [Rule 5]

  1. jen says:

    gils. makin seru aja ceritanyaaa. emosi jg di buat naik turun. siapa minna sebenernyaa?? mkn kelihatn bgt kalai siwon dn hwa young ada cinta yg mulai tumbuhh #eellee

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s