The Obedient Bride [Rule 6]


The Obedient Bride [Rule 6]

 

“Apa maksudmu dengan Minna yang mendaftarkan kasusnya di Aphrodi?” Siwon mencengkeram kemudi. Menelaah berita yang baru saja Hwa Young sampaikan. Dia masih belum bisa percaya jika Minna menjadi salah satu klien Aphrodi.

“Jika kukatakan bahwa Park Minna men-submit kasusnya di Aphrodi, maka jelas bahwa dia memiliki masalah hukum tentang haknya sebagai perempuan,” terang Hwa Young datar. Pandangannya menelusur ke luar, ke arah ruko yang dilewati.

Siwon melambatkan laju mobilnya. Dia menoleh pada Hwa Young yang berada di samping kanannya. “Ini sungguh tidak masuk akal, Youngie. Tidak mungkin Minna melakukan sesuatu hal sedemikian crucial tanpa sepengetahuanku.” Ekspresinya mengeras dengan tatapan tajam. Ingin rasanya meledakkan emosi, tapi tertahan karna tidak tahu bagaimana dan pada siapa melampiaskannya.

Hwa Young ikut menolehkan kepalanya hingga menatap Siwon. Dia mengangkat bahu ringan sebagai jawaban. “Jadi kalian berjumpa pertama kali di bar daerah ini?” Hwa Young melongokkan kepalanya melalui jendela. “Pantas saja. Yang aku tahu, Minna-ssi lahir dan tumbuh di daerah ini.”

Tanpa terasa, Siwon mengeratkan cengkeramannya pada kemudi. Haruskah dia mengorek masa lalu dan kenangan pribadinya bersama Minna. “Tidak juga.” Siwon menarik hand rem sesaat setelah menghentikan mobilnya. Dia membuka pintu mobil dan keluar tanpa memberi penjelasan.

Mengikuti apa yang dilakukan Siwon, Hwa Young keluar dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kakinya melangkah mengekor Siwon. Seharusnya pria di depannya kini menunjukkan sebuah pub tempat Minna bekerja dulu, tapi saat ini mereka malah berada di depan sebuah spa kawasan Itaewon. “Kau yakin ini tempatnya, Siwon-ssi?”

Siwon memutar kepalanya cepat untuk melirik Hwa Young. Telinganya terasa pengang dengan barrier yang coba diciptakan Hwa Young melalui sapaan formalnya. Dia membungkam mulut, enggan untuk mengomentari. Kembali dia melangkahkan kaki, mencari tempat yang  hampir 3 tahun tidak dikunjungi. Langkah Siwon terhenti ketika matanya menangkap sebuah papan yang tak asing.

“Ini yang kau maksud?”

“Banyak yang berubah hanya dalam waktu 3 tahun. Aku yakin dulu pub itu di sini.” Siwon menunjuk papan kayu usang sebagai gaya vintage bar yang dia maksud. Hanya itu yang tersisa dari kejayaan Irish pub.

Mata Hwa Young menjelajah sekitar. Dia mengangkat sebelah tangannya dan meletakkan di kening untuk menghalangi cahaya senja yang menusuk retina matanya. “Adakah tempat lain yang sering kalian kunjungi? Maksudku, kau pasti sedikit banyak mengenal daerah dimana Minna tinggal.”

Helaan nafas berhembus, Siwon mengepalkan tangannya. Dia membenci situasi sekarang. Dimana dirinya masih kabur mengenai seluk beluk masalah kekasihnya yang berhubungan dengan jaksa yang dimaksud sang istri. “Terangkan dengan sejelas-jelasnya perkara Minna, sehingga aku bisa memutuskan untuk mengungkapkannya padamu atau tidak,” geramnya.

Hwa Young sedikit tersentak dengan reaksi Siwon. Diturunkan tangannya, dia berjalan mendekat. “Aku sudah mengatakan apa yang kuketahui. Tidakkah itu cukup untuk membuatmu membantuku memikirkan sebuah nyawa?”

“Penjelasanmu sangat tidak bisa kucerna, Youngie. Kau tidak menguraikan detailnya.” Sebelah tangan Siwon berkacak pinggang, sedangkan tangan yang lain mengayun di udara.

“Itulah intinya, Siwon-ssi.” Hwa Young menggerakkan jari telunjukkan ke bawah sebagai tindakan penekanan.

“BERHENTI MEMANGGIL DENGAN SAPAAN FORMAL!” bentak Siwon yang pada akhirnya tidak tahan dengan panggilan Hwa Young. Mungkin juga karena emosi yang beberapa jam dipendamnya.

Hwa Young memejamkan mata ketika kaget dengan bentakan suaminya. Dia mengatur desah nafasnya. Menata pikiran dan emosinya yang terobrak-abrik seharian ini. Belum selesai masalah rumah tangganya, masalah hilangnya Lee Sungmin ikut menyita perhatiannya. Masih diperumit pula dengan hubungan Park Minna dengan Siwon. Dan kini kealotan Siwon untuk membeberkan masa lalunya membuatnya semakin pening. “Bisakah kita menyampingkan hal itu?” nada rendah Hwa Young.

“Tidak!” Siwon mensedekapkan tangannya. Meski tidak membentak namun nada bicaranya masih tegas. Air mukanya yang kaku membuat Hwa Young berpikir dua kali.

“Baiklah, Oppa,” dia mengalah. Lelah dengan berbagai persoalan yang tak kunjung mendapat titik terang. “Detail apa yang ingin kau ketahui?”

“Apakah hanya aku ataukah sebenarnya kau juga merasakan sendiri bahwa penjelasanmu terlalu dangkal?” Siwon mengangkat sebelah alisnya. Bagaimana pun ini sulit dipercaya. Hampir 2 tahun dia menjalin kasih dengan model itu, namun hari ini seolah keintimannya dengan Minna digugurkan oleh satu fakta yang tidak diketahuinya. Ataukah sebenarnya, ada banyak hal yang belum bahkan tidak diketahuinya mengenai sosok Minna?

Hwa Young mengangkat kedua tangannya untuk terbuka di udara. “Ok, I admit it. But nothing can I say more.”

“Kau menangani kasusnya, bagaimana mungkin tidak mengetahuinya?!” ujar Siwon dengan nada meninggi. Hatinya diliputi kerisauan atas nasib Minna, juga kekhawatiran sebab dari tadi dia belum bisa menghubungi gadis tersebut.

“Kalau kami mengerti permasalahannya, Lee Sungmin tidak perlu menghilang seperti ini!” balas Hwa Young tak kalah sengit. Dia menyibak rambut depannya, lalu meremasnya pelan. Nafasnya agak tersengal. “Satu bulan lalu, tepat ketika aku memergoki kalian bercumbu di rumah, kutemukan berkasnya di tumpukan klien Aphrodi. Jika kau ingat, aku pernah menanyakan tentang Minna padamu di pagi harinya, tapi kau malah mengolokku dengan sindiranmu.”

“Selama itu, dan kau baru mengatakannya hari ini?” Sungguh, Siwon tidak menyukai pemilihan kosa kata Hwa Young. Dengan penekanan ‘bercumbu’ untuknya dan Minna, seakan memberi penegasan bahwa dirinya dan Hwa Young adalah dua orang asing. Membuatnya menempatkan perempuan itu diantara dirinya dan Minna.

“Lalu kau pikir aku mengetahui tentang ketidakmengertianmu pada kasus Minna? Bukankah kalian sejoli yang saling memahami satu sama lain? Lagipula, jikalaupun kau tidak tahu, bukan kapasitasku untuk mengungkapkan rahasia klien Aphrodi.” Hwa Young berusaha tenang kembali.

Siwon mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Hatinya menjadi gamang pada dua perasaan yang tumbuh sekaligus. Rasa khawatir pada kekasihnya, juga rasa tidak nyaman pada pengucapan Hwa Young. Sejoli? Saling memahami? Semestinya ini hanya kata biasa, tapi tidak ketika kata-kata tersebut diucapkan Hwa Young untuk merujuk hubungannya dengan Minna.

Sadar dengan tatapan tajam Siwon, Hwa Young meneruskan penjelasannya. “Dia menceritakan kronologi kekerasan yang menimpanya pada pengacara Aphrodi, namun tidak menyinggung tentang pelakunya. Di sisi lain posisinya sebagai salah satu top model membuat kami ekstra hati-hati untuk menanganinya. Oleh karna itu, aku bekerja sama dengan Lee Sungmin menyelidiki kasusnya.”

“Dan menurut dugaanmu menghilangnya jaksa Lee Sungmin berkaitan dengan Minna?”

“Tiga hari lalu ketika kita ke Myeongdong, Sungmin-ssi mengkontakku. Dan itu terakhir kali dia menghubungi.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia hanya mengirimkan email sebuah biografi pemilik Groove bar. Menambahkan catatan bahwa pemilik itu adalah pelaku kekerasannya.”

“Groove bar?” ulang Siwon dengan mata melotot. Menunjukkan keterkejutannya.

Hwa Young mengangguk. “Kau mengenalnya, Oppa?”

Siwon mengelus dagunya. “Tidak sama sekali.”

“Lalu?”

“Berjanjilah untuk mematuhi kata-kataku jika aku mengungkapkan perihal Minna.”

Hwa Young menautkan alisnya. Berpikir apakah pernyataan Siwon merupakan perintah ataukah tawaran. “Tergantung bagaimana kebenaran yang kau sampaikan.”

“Pertimbangkan bahwa ada kemungkinan Lee Sungmin bergantung pada informasi yang kuberikan.”

“Kau memberikan tawaran padaku, Oppa?” sindir Hwa Young. Tidak habis pikir dirinya harus memenuhi syarat untuk mengetahui suatu informasi dari suaminya sendiri.

“Itu keputusanmu, Youngie.” Siwon hendak melangkah kembali ke mobil, namun lengannya dicekal Hwa Young sehingga dia menoleh ke belakang.

“Ok, aku akan menurutinya selama perintah itu bisa kutolerir.”

Siwon memutar tubuhnya, menjadikan cekalan Hwa Young terlepas. “Kita bicarakan di dalam mobil,” dia meraih pergelangan tangan Hwa Young dan menuntunnya memasuki Hyundai. Mencari tempat yang lebih privasi.

Tak bisa membantah, Hwa Young mengikuti saran Siwon. Dia membiarkan Siwon membukakan pintu mobil dan memperlakukannya dengan baik. Matanya mengikuti gerak Siwon yang berlari kecil memutari kap mobil. Terlihat jelas kepanikan di wajah lelaki tersebut. Membuatnya merasakan remasan di hatinya.

Siwon menghidupkan mesin mobil. Meminimalisir waktu yang terbuang untuk memberikan penjelasan pada Hwa Young. Bagaimana jua, dirinya merasa panik pada keadaan Minna. “Minna tidak lahir maupun tumbuh di daerah ini. Biografi yang kau peroleh adalah latar belakang yang diberikan seseorang padanya. Yah, untuk mempermudah segala administrasi kewarganegaraan, juga pendidikan.”

Hwa Young mendengarkan dengan seksama. Meski sempat membuatnya kaget, namun sepertinya dia akan terbiasa dengan hal tersebut. Entah apa yang tersembunyi, dia bisa merasakan bahwa kasus kali ini tidak biasa. “Seseorang yang kau maksud apakah pemilik Groove bar?”

“Aku juga kurang mengerti akan hal itu, Youngie.” Siwon memacu kendaraannya dengan sedikit mengebut. “Minna berkata padaku kalau dia lahir di Incheon. Kedua orang tuanya meninggal pada kebakaran sebuah rusun. Ketika itu umurnya baru 7 tahun. Dan karna keadaannya sebatang kara, sepasang suami istri mengabdopsinya.”

“Lalu, bagaimana bisa dia terjun ke dunia malam?”

“Tentu kau sudah bisa menebak bahwa pasangan suami istri itu adalah pemilik beberapa bar di kawasan Incheon.” Siwon memukul kemudi ketika lampu merah membuatnya harus berhenti. “Irish bar tadi adalah salah satu cabang yang mereka dirikan di Itaewon.” Dia kembali menginjak gas dengan kasar, menjadikan tubuh Hwa Young terdorong ke depan.

Hwa Young menjaga tubuhnya agar tidak terlempar walau sudah memakai seatbelt. Tangannya terangkat ke atas untuk mencari pegangan saat mobil yang ditumpanginya semakin membalap. “Apakah Groove bar juga pengembangan mereka?”

“Ya. Namun setahuku putra mereka yang mengurusnya.”

“Pernahkah kau berurusan dengannya? Maksudku, bukankah bisa kubilang bahwa kau membawa lari salah satu—“ Hwa Young berdeham karena canggung untuk mengucapkannya, “—pekerjanya?” Dan silakan berasumsi ‘pekerja’ yang dimaksud adalah wanita-wanita nakal yang sering menemani para tamu. Karena memang tidak sepenuhnya salah.

Siwon memutar kepalanya untuk menatap raut Hwa Young. “Aku pikir, membawa salah satu pekerja mereka bukanlah hal besar. Dengan suatu penawaran atas sejumlah uang, mereka mau melepaskan Minna.”

“Semudah itu? Bukankah status Minna adalah anak angkat?”

“Tadinya aku kira semua selesai saat Minna keluar dari dunia malamnya. Sampai suatu saat dimana Minna menceritakan masa lalunya. Jadi, kucoba menelusurinya.”

“Dan yang kau dapat?”

“Ibu angkatnya sudah tiada, Ayahnya sudah uzur, hingga bisnis pub dan bar diwariskan pada putra sulung mereka. Pemilik Groove bar yang sekarang. Sengaja aku menghentikan campur tanganku sebab selama ini Minna sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarga itu.”

“Hanya karna itu? Atau karna ada sesuatu yang lain pada Groove bar hingga kau memutuskan untuk tidak berjalan terlalu dalam?” pancing Hwa Young.

“Yah, karna alasan lain itu juga.”

“Kau pasti sangat khawatir, Oppa. Dia akan baik-baik saja.” Tak tega juga melihat raut cemas Siwon. Dia tersinggung dengan sikap berlebihan Siwon. Namun tetap mencoba memahami jika dirinya berada di posisi lelaki tersebut. Pasti juga akan melakukan tindakan yang sama, antara terkejut dan khawatir.

“Bagaimana kau bisa mengatakan jika dia akan baik-baik saja?” tanpa terasa Siwon kembali meninggikan nada bicaranya. “Bahkan sedari tadi aku belum bisa menkontaknya atau managernya! Nomor luar negerinya juga tidak aktif.”

Hwa Young memejamkan mata. Menetralisir gemuruh yang datangnya pasti. “Dia tidak berada di Jepang, Oppa. Summer fashion hanya akal-akalan kami agar memberikan waktu untuk mempelajari kasusnya. Untuk saat ini, Park Minna dalam lindungan Aphrodi. Jangan tanyakan dimana dia berada, karena itu adalah kewenangan pihak Aphrodi.”

“Mwo?” Mendadak Siwon menginjak remnya. Hingga tubuh mereka berdua terdorong sebagai akibat gaya kelembaman. “Gezz! Kau benar-benar membuatku gila, Youngie!” Siwon naik pitam karna Hwa Young membiarkannya kalut, tapi tak dipungkiri bahwa penjelasan istrinya menimbulkan kelegaan. Setidaknya, dia tahu bahwa Minna dalam kondisi baik.

***

“Kau mau kemana?” arah pandang Siwon mengikuti Hwa Young. Badannya masih menempel pada daun pintu mobil. Baru saja mereka tiba di rumah, namun Hwa Young langsung berpindah ke mobilnya sendiri.

“Incheon,” ucapnya singkat sembari membuka pintu di bagian kemudi.

“Kau gila!” Siwon menarik lengan atas Hwa Young, kemudian menutup pintu mobil sang istri dengan membantingnya keras. “Aku tidak akan mengizinkanmu ke Incheon selarut ini!”

“Kau sendiri yang memberiku informasi! Sekarang biarkan aku ke sana untuk memeriksanya.”

“Kau sudah sepakat untuk mematuhi perintahku. Dan aku perintahkan untuk tidak ke Incheon!“

“Tapi bagaimana dengan Lee Sungmin?!” Hwa Young menatap Siwon dengan kecewa. “Bagaimana jika ternyata dia mengalami kesulitan di sana? Bagaimana jika seseorang menyekapnya? Atau mungkin mengancamnya! Bagai—“

“Dan apakah aku akan membiarkan istriku menantang bahaya?!” potong Siwon cepat dengan nada tinggi. “Dengar—“ Siwon meraih lengan Hwa Young yang satunya untuk menghadapkan tubuh wanita itu padanya, “—tidak ada sesuatu yang harus kau cemaskan secara berlebih. Keluarga angkat Minna sudah lama pindah, jadi hanya sebuah probabilitas kecil untuk Lee Sungmin berada di sana.”

“Aku tidak ingin hal buruk menimpa Sungmin-ssi. Ada seorang kekasih yang menunggunya dengan resah,” Hwa Young menurunkan intonasi bicaranya. Memahami kegelisahan Haneul, kekasih Sungmin, pada keadaan jaksa itu.

“Kita putuskan besok. Jika belum ada kabar apa pun, sebaiknya melibatkan pihak kepolisian.”

“Aku—“ perkataan Hwa Young terputus dengan dering message ponselnya. Dia merogoh iphone di tasnya, lalu membaca pesan tersebut. “Aku harus pergi,” ucapnya sembari memasukkan ponselnya ke tas. “Bukan ke Incheon.”

Siwon menarik kedua tangannya dari lengan Hwa Young. “Kemana?”

“Menemui Kyuhyun,” singkatnya seraya membuka pintu mobil. “Dan untuk hal ini, kau tidak bisa melarangku, Oppa,” tegasnya seebelum Siwon memberikan sangkalan.

Siwon membungkam dan hanya mengelus keningnya. Harus dengan cara apa dia melarang Hwa Young berhubungan dengan lelaki tersebut? Tidak ada. Dua orang ini sudah bersahabat jauh sebelum dia menikahi Hwa Young. Meski Siwon tahu arti pandangan Kyuhyun lebih dari sahabat, dia tidak bisa berbuat banyak jika Hwa Young sendiri memberikan peluang pada lelaki itu untuk menggapai tempat yang lebih tinggi di hatinya. “Kurasa aku juga harus memastikan ucapanmu. Aku akan mengecek apartemen Minna.”

Bersamaan dengan tubuh Siwon yang memutar ke arah mobilnya, gerakan Hwa Young terhenti. Dia menoleh, memperhatikan punggung Siwon. Tanpa disadari, jemarinya mencengkeran pinggir atas pintu mobilnya. “Yah, sudah seharusnya,” lirihnya kemudian memasuki camry SE white miliknya.

***

“Apa yang pria itu katakan?” lelaki berwajah tampan itu memutar-mutar kursi duduknya, sekedar memainkannya.

“Dia tidak mau membuka mulutnya, Tuan.”

“Masih keras kepala rupanya. Dia pikir aku tidak tahu tentang Minna.” Seringaian terbentuk di bibir lelaki tersebut. Membuatnya terlihat semakin karismatik juga mengerikan di saat bersamaan. “Aku jelas tahu segalanya tentang gadisku.”

“Tuan, tiga hari lalu pria itu sempat mengirimkan email pada seseorang.”

“Siapa?”

“Shim Hwa Young. Generasi keempat Shim Corp, putra kedua dari keluarga Shim. Dan  sekarang menjadi istri dari Choi Siwon, pewaris Hyundai.”

“Choi Siwon,” kekehan ringan meluncur dari mulut pria itu. “Kita berurusan lagi. Jaga lelaki itu sampai kita menemukan apa maunya.”

“Ye, Tuan.” Sang anak buah melangkah meninggalkan atasannya untuk mematuhi perintah.

“Lee Sungmin,” desis lelaki tersebut.

***

Hwa Young memelankan ketukan sepatunya di lantai. Dia meletakkan nampan berisi makan malam dan obat di meja kecil samping ranjang. Bibirnya tersenyum tatkala matanya memerhatikan punggung Kyuhyun yang tidur membelakanginya. Dia menekuk sebelah kakinya dan duduk di tepi ranjang. “Kau belum makan, bangunlah,” dia mengusap punggung Kyuhyun.

Kyuhyun menggeram kecil, kemudian memutar kepalanya. “Kau sudah di sini?” retoriknya sembari membalik badannya untuk berbaring.

Hwa Young mengangsurkan tangannya dan menempelkan di kening Kyuhyun. Merasakan sengatan panas di telapak tangannya saat menyentuh kulit lelaki tersebut. “Kepala pelayan Kang berkata kalau kau menolak makan dan minum obat. Dia juga menyampaikan kalau dua hari ini kondisimu belum membaik.”

“Cish, dia selalu saja cerewet seperti biasa.”

“Dan kau juga selalu bertindak seperti anak kecil jika sedang sakit.”

Kyuhyun mencebikkan bibirnya hingga membuat lengkungan ke bawah. Wanita di depannya kini sudah hafal benar kebiasaannya.

“Kenapa kau berekspresi seperti itu?” kekeh Hwa Young sembari mencubit pipi Kyuhyun. “Sebentar,” dia memutar tubuh untuk mengambil iphonenya. “Ayo ulangi lagi seperti tadi,” perintahnya seraya men-stand-by cameranya. “Ayolah,” dia menusuk-nusukkan telunjuknya di pipi Kyuhyun untuk menggoda.

Tangan kanan Kyuhyun terulur untuk mengambil ponsel Hwa Young. “Aku akan melakukannya berulang kali hingga kau puas, asalkan kau tetap di sini.” Dia meletakkan ponsel tersebut di atas kepalanya, kemudian tangan kanannya digunakan untuk menarik pinggang Hwa Young mendekat. Sementara tangan kirinya menutup bibir dan hidung Hwa Young seperti membungkam. “Aku tidak ingin kau tertular,” jelasnya saat menangkap tatapan tanya gadis tersebut. “Tapi aku juga tidak ingin kau jauh.”

“Jangan bermain-main. Lekas bangun, makan, dan minum obatmu,” suara Hwa Young tidak jelas sebab teredam oleh tangan Kyuhyun. Hwa Young mendorongkan tangannya di dada Kyuhyun untuk bangun dari posisi mencondong. Namun tidak bisa karena Kyuhyun menguatkan kekangan di pinggangnya.

“Aku merindumu. Kenapa kau sulit dihubungi? Kau bahkan mematikan sambunganmu terakhir kali aku menelphon.”

Hwa Young memutar memorinya. Ya, kala itu telephonnya diputus secara sepihak bukan olehnya, tapi Siwon. Setelah itu, iphone-nya hancur berkeping-keping hingga esoknya dia baru memperoleh gantinya. Tentu saja Kyuhyun sulit menghubunginya. Tapi dia tidak mungkin mengatakan alasan tersebut pada lelaki ini. “Aku sibuk,” suaranya tidak jelas karena bungkaman Kyuhyun.

“Selalu seperti itu,” Kyuhyun merapikan poni Hwa Young dengan tangan kanannya. Dia mengangkat kepala dan punggungnya hingga bibirnya seolah mencium bibir Hwa Young. Tentu dengan halangan tangannya, dia hanya bisa merasakan punggung tangannya sendiri. Matanya memejam, merasakan desiran tajam yang mengalir di tubuhnya meski bibir mereka tidak bersentuhan.

Hwa Young mengerjapkan matanya. Dia tahu usaha Kyuhyun untuk menjaganya. Bibirnya tersenyum di balik tangan Kyuhyun. Ikut memejamkan mata, kemudian mengecup telapak tangan lelaki tersebut, agar Kyuhyun tahu dia juga merindukannya.

“Kau baru pulang?”

“Hemm,” gumam Hwa young sambil meninggikan bantal supaya Kyuhyun nyaman untuk bersandar. Dia meraih mangkuk bubur di nampan dan meletakkan di pangkuannya. “Buka mulutmu,” dia mengulurkan sendok berisi bubur.

Kyuhyun mengerutkan bibir dan memandang suapan Hwa Young dengan malas.

“Jangan merajuk. Kau sudah berumur 25 tahun dan bahkan memimpin perusahaan. Bagaimana mungkin CEO kebanggaan VICHOU bertingkah kekanakan seperti ini,” ejek Hwa Young.

“Itu bukan perbandingan yang te—“ belum selesai dengan kalimatnya, Hwa Young sudah menjejalkan suapannya, “—pat.” Terpaksa Kyuhyun menelan bubur yang menurutnya sangat tidak enak. Teksturnya yang lembut malah terasa aneh di lidahnya. “Rasanya a—“ kembali perkataannya di sela oleh suapan Hwa Young. Akhirnya dia hanya bisa mendengus dan menerima suapan demi suapan.

“Anak pintar,” puji sekaligus goda Hwa Young saat Kyuhyun meminum obatnya. Dia menyapukan tissue di bibir Kyuhyun. “Go bed and get well soon, Kyunie,” perintahnya. Dia menarik bantal Kyuhyun, bermakdsud membenahinya kembali agar lelaki itu bisa berbaring.

“Kau lelah?”

Hwa Young membalas pertanyaan Kyuhyun dengan senyum. Tentu dia sangat lelah secara raga dan jiwa. “Tidurlah, aku akan di sini hingga kau terlelap,” ditinggikannya selimut Kyuhyun hingga dada. Dia tahu benar bahwa Kyuhyun akan minta ditemani hingga terlelap, seperti biasa jika sedang tidak enak badan.

“Kau bisa membersihkan dirimu dulu supaya segar,” Kyuhyun mengedikkan dagunya ke arah kamar mandi. Menyuruh gadis tersebut mandi untuk sedikit mengurangi letih.

“Kau tidak menyuruhku untuk membersihkan diri di kamar mandi seorang pria kan?” canda Hwa Young.

“Memang kenapa? Kau juga akan terbiasa nanti setelah menjadi istriku.”

“Mmm,” gumam perempuan itu saat speechless. Dia menarik bibirnya membentuk lengkung senyum. Entah mengapa pernyataan itu terasa janggal di telinga. Biarlah, yang terpenting sekarang Kyuhyun bisa istirahat. “Pejamkan matamu.” Dia mengambil sebelah tangan Kyuhyun dan menggenggamnya. “Night, Kyunie,” diciumnya kepalan tangan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum samar saat merasakan lebutnya bibir Hwa Young di tangannya. Dia menarik tangan mereka yang saling menggenggam dan meletakkan di atas dadanya. Malam ini, dia akan tidur lelap meski dengan flunya.

***

Hwa Young menalikan gaun tidurnya dan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan tepat tengah malam. Dia memijat tengkuknya. Merasakan letih mendera tubuhnya. Kakinya melangkah turun karena kerongkongannya kering. Dia sempat mengecek keberadaan Siwon di kamarnya, namun nihil. Lelaki itu belum kembali ke rumah.

Ketukan ringan terdengar sebagai akibat beradunya gelas kaca dengan meja marmer di ruang makan. Hwa Young menarik kursi dan meraih ipadnya. Dia mengecek inbox email, barangkali Sungmin mengirimkan suatu pentunjuk lain. Ingin rasa mata memejam dan meletakkan sejenak lelahnya, tapi dia tidak bisa abai pada menghilangnya Sungmin. Hwa Young memelorotkan bahunya ketika tidak mendapati email baru di inboxnya.

Otaknya mengingat segala hal yang diceritakan Siwon. Dia membuat beberapa coretan di note ipad. Menghubungkan antar fakta yang diperolehnya. Hwa Young juga mengecek berita kebakaran suatu rusun di daerah Incheon, dan memang benar adanya. Jari telunjuknya men-swap layar hingga menunjukkan beberapa korban meninggal. Dan diantaranya terdapat 5 orang bermarga Park. Dua orang diantaranya adalah pasangan suami istri yang ditaksir merupakan orang tua Minna.

Tangannya menutup mulut saat dirinya menguap. Hwa Young membesut setitik air mata di sudut mata akibat terlalu mengantuk dan pedih karena menatap screen ipad. Dipejamkan matanya, sambil tangannya mengurut pelipis. Sampai-sampai dia tidak tahu sudah berapa lama waktu bergulir.

Siwon melongokkan kepala ke ruang makan saat melihat lampu masih menyala. Dia berjalan mendekat dan menemukan Hwa Young tertidur dengan kepala menelungkup di meja. Ditekuk lututnya hingga tingginya sejajar dengan posisi tidur Hwa Young. Siwon menyibakkan rambut yang menutupi wajah sang istri. Dia menggapai ipad yang masih menyala dan memperhatikan note yang ditulis Hwa Young pada kasus Minna.

“Kau pasti sangat lelah,” dia meletakkan kembali ipad tersebut setelah menyimpan dan men-shut down-nya. Helaan nafas panjang mengalir begitu saja melalui mulutnya. “Bolehkah aku berharap bahwa kau tertidur di sini bukan karna mengkhawatirkan menghilangnya jaksa Lee Sungmin, melainkan karna menungguku, hum?” ucap lembut Siwon agar tak membangunkan Hwa Young.

Siwon mengambil sebelah tangan Hwa Young yang terkulai dan menyampirkan di pundaknya. Dia menjaga kepala Hwa Young untuk bersandar di pundak kanan. Dilingkarkan tangannya melalui belakang lutut sang istri untuk kemudian membopong tubuh Hwa Young. Siwon memelankan langkahnya, jangan sampai mengusik tidur perempuan tersebut.

Dibaringkan tubuh Hwa Young di ranjang dengan hati-hati. Setelahnya, dia menarik selimut untuk menjaga kehangatan tubuh istrinya. Memandangi dengan intens wajah terlelap Hwa Young. “Kenapa semakin hari, kau semakin mengusikku. Membuatku bimbang di dua pilihan.” Siwon mengusap lembut pipi Hwa Young. “Katakan padaku, apa yang harus kulakukan? Karna meski tak kau akui, aku sudah memilikimu sejak kita mengikat janji. Dan adalah kesalahanku membuat perjanjian bodoh itu.” Dia mendesah panjang untuk mengeluarkan karbondioksida yang tertampung di paru-paru.

“Selamat malam, Youngie,” Siwon membenahi selimut Hwa Young. Dia mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan di kening istrinya. Entah dorongan dari mana, dia tidak peduli. Hanya ingin melakukan sesuai kehendak hatinya.

***

“Ny. Choi ada pesan dari tuan Cho Kyuhyun, dia ingin membuat janji makan siang dengan Anda,” sekretaris Hwa Young mengikuti langkah atasannya.

Hwa Young menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. “Tolong jadwalkan untuk siang ini,” perintahnya. Dia ingat bahwa ponselnya tertinggal di kamar Kyuhyun tadi malam sehingga lelaki itu terpaksa menghubungi sekretarisnya untuk membuat janji. Meski ada nomor lain yang dia pakai, namun itu hanya dikhususkan untuk rekan bisnis. Dan Kyuhyun bukan termasuk daftarnya, jadi bisa dipastikan tidak mengetahui nomor tersebut.

“Oh, dan tolong sekalian buatkan aku janji dengan Direktur Choi Siwon di Hyundai Automotive pukul 02.00 nanti,” titahnya. Pagi ini dia bangun dengan keheranan karena dirinya sudah bergelung nyaman di ranjang. Dia tahu Siwon yang memindahkannya, memang siapa lagi. Baru dia menapakkan kaki di lantai, telinganya menangkap suara deru mobil Siwon. “Adakah pesan dari seseorang bernama Oh Haneul?”

Asisten perempuan itu menggeleng. “Tidak ada Nyonya. Tapi, ada pesan dari wanita bernama Park Minna, dia meminta Anda menghubunginya segera.”

Kening Hwa Young mengernyit. “Kapan dia menghubungi?”

“Kira-kira setengah jam sebelum meeting berakhir.”

“Berikan aku contactnya dan kau bisa kembali ke tempatmu.”

“Baik Nyonya.” Sang asisten menyerahkan apa yang diminta Hwa Young. Dia menunduk untuk memberi hormat dan segera keluar dari ruang kerja Hwa Young.

“Yeoboseyo.”

“…”

“Bukankah seharusnya kau berada di perlindungan Aphrodi?”

“…”

“Untuk urusan apa hingga aku harus menemuimu di apartemenmu?”

“…”

“Mwo?” mata Hwa Young membulat. “Tunggu aku di sana.”

***

“Kau melakukan sesuatu yang baik, Minna-ya.” Lelaki di samping Minna merengeratkan tangannya di pinggang gadis tersebut. Dia menelusuri garis rahang Minna dengan telunjuknya. Menangkap mimik ketakukan Minna. “Kenapa denganmu? Kau takut padaku? Sungguh lucu, bukankah kau sudah mengenalku dari umur 7 tahun, adik tiri?”

“Hentikan Seung Hyun-ssi!” dengan segala keberanian, Minna menepis tangan lelaki itu.

“Berani menolakku, Minna-ya?” geram Seung Hyun. Dia menangkup wajah Minna dengan sebelah tangannya.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Minna memejamkan mata saat tubuhnya mulai gemetar.

Seung Hyun menarik Minna masuk dalam pelukkannya. “Ssstt…jangan takut, Chagi,” dia mengelus punggung gadis tersebut. “Aku selalu menginginkanmu. Kau jelas tahu hal itu. Dan bukankah kau juga sebaliknya?” dia berbisik di telinga Minna. “Jika tidak, untuk apa kau kembali setelah lama pergi dariku?” Seung Hyun mengecup berulang-ulang pundak terbuka Minna. “Berhentilah bermain-main denganku, Chagi.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Seung Hyun terkikik ringan. “Mengapa kau menolak menyandang marga keluargaku? Bukankah kau putri kesayangan orang tuaku?” belok Seung Hyun pada topik lain. “Tapi, aku juga lega. Setidaknya, kau akan menyandang marga ‘Choi’ karena ikatan pernikahan kita, bukan karna menjadi adikku.” Dia masih mempertahankan posisinya.

Minna mendorong tubuh Seung Hyun ketika dering bel apartemennya berbunyi. “Itu pasti dia. Kubukakan dulu,” gugupnya sembari berdiri.

“Hwa Young-ssi, kau datang,” bisik Minna. Dia membuka sedikit pintunya dan menyembulkan kepalanya keluar.

“Kau tidak membiarkan aku ma—“

Minna mengangkat tangannya dan meletakkan telunjuk di depan bibir untuk memotong perkataan Hwa Young. “Maaf,” dia masih mempertahankan volume suaranya serendah mungkin. “Mereka mengancam mencelakai Siwon Oppa,” sesalnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Hwa Young mencoba melongok ke dalam. Ingin mengetahui situasi Minna. Dari raut Minna, dia menilai telah terjadi sesuatu. Mungkinkah orang yang selama ini dicari ada di dalam?

“Pergilah, akan kutangani ini.”

Hwa Young mengernyitkan kening. Suatu perintah Minna yang di luar nalar. Perempuan itu memintanya datang ke apartemennya, namun kini menyuruhnya pergi. Dia masih berdiam, mencoba menimbang tindakan apa yang harus dilakukan. Bagaimana pun mereka berdua hanya perempuan. Dan dirinya juga tidak memiliki bekal bela diri. Sangat mudah untuk melumpuhkan dua wanita seperti mereka.

“Pergilah, cepat! Hwa Young-ssi,” Minna mengibaskan tangannya di udara.

Jika dia pergi, maka ada peluang untuk memanggil bantuan. Namun di sisi lain jika dia pergi, belum tentu keselamatan Minna terjamin. Jadi inilah keputusannya. “Minna-ya, kenapa membiarkanku di luar saja!” sengaja Hwa Young mengeraskan volume suaranya.

***

Kyuhyun mengecek sekali lagi arlojinya. Sudah hampir setengah jam dia menunggu Hwa Young, namun perempuan itu tak kunjung tiba. Dia putuskan menghubungi nomor kantor Hwa Young. Kerutan terbentuk di antara kedua alisnya saat sekretaris Hwa Young mengatakan jika atasannya sudah keluar hampir dua jam lalu.

Tangannya meremas smartphone miliknya. Dia mengusap dagu untuk berpikir. Hwa Young tidak pernah mengingkari janjinya ataupun datang terlambat tanpa kabar apa pun. Matanya melirik iphone bewarna metalik di hadapnya. Sebuah pemikiran terlintas.

Kyuhyun menyalakan iphone tersebut. Setelah start-up, dia menemukan beberapa message juga pesan suara. Bukannya ingin berlaku tidak sopan dengan membongkar pesan pribadi Hwa Young, dia hanya khawatir. Kyuhyun juga mendengarkan salah satu pesan suara. Matanya mendelik dan jantungnya berdetak kian cepat. Dia menjauhkan ponsel Hwa Young dari telinganya dan memandang tak percaya. “Apa yang kau lakukan, Youngie?” Firasat buruk menghantuinya. Tanpa pikir panjang, Kyuhyun menyambar kunci mobilnya.

***

“Dimana Youngie?” Kyuhyun menarik jas Siwon begitu dia masuk ke ruangan. Mengguatkan cengkeramannya melewati meja kerja Siwon sebagai jarak pemisah mereka.

Siwon yang kaget dengan tindakan Kyuhyun balas menatap tajam. “Apa maksudmu?” Dia melepaskan dengan kasar cengkeraman tangan Kyuhyun di jasnya. “Tentu saja di kantor Hyundai Department Store!” sentaknya.

“Setelah kekasihmu menghubunginya, mungkinkah Hwa Young masih berada di sana?!” teriakan Kyuhyun menggema di ruangan Siwon.

“Mwo? Apa yang kau katakan?” Siwon berdiri dari duduknya.

“Park Minna. Dia kekasihmu bukan?” Kyuhyun mengepalkan tangannya. “Dia beberapa kali menghubungi Hwa Young.” Kyuhyun menarik keluar iphone Hwa Young dari saku jas dalamnya.

***

“MINNA-YA!” Siwon berteriak kesetanan begitu masuk ke apartemen Minna. “Minna-ya,” panggilnya seraya menelusuri beberapa kamar.

Kyuhyun mengamati apartemen tersebut. Dia mengangkat sebuah gelas kosong dan membauinya. “Red wine,” selorohnya.

“Kosong. Mereka berdua tidak berada di sini.” Nafas Siwon terengah-engah.

“Ini milik kekasihmu? Seleranya cukup bagus.” Kyuhyun menunjukkan gelas bekas wine pada Siwon. Karena jikalaupun Hwa Young pernah berkunjung, wanita itu tidak akan memilih wine sebagai minumannya.

Siwon mengambil gelas di tangan Kyuhyun. “Aku tidak pernah memergokinya minum wine di tengah udara panas seperti ini.”

Kyuhyun memutari ruangan. Dia sedikit limbung karena pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.

“Kau tidak apa-apa, Kyuhyun-ssi?”

Diangkat telapak tangannya di udara sebagai jawaban. Jika diperhatikan, wajah Kyuhyun memang masih pucat. Dia belum sembuh benar dari sakitnya. Memaksakan diri untuk bisa bertemu Hwa Young hari ini, selain untuk mengembalikan ponsel juga karena dia ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu.

Kyuhyun berjalan ke depan di sekitar pintu masuk apartemen. Dia mengitari daerah tersebut untuk mencari petunjuk. Saat memandang ke bawah, matanya menemukan serbuk hijau seperti remukan pil di lantai. Tangannya terulur menjangkau serbuk tersebut. Kyuhyun mendekatkan remukan tersebut ke hidung untuk mencoba mengenali jenisnya. “Youngie pernah datang kemari.”

“Apa maksudmu? Bagaimana bisa kau tahu?”

Tangan Kyuhyun memanjang ke depan. Menunjukkan temuannya pada Siwon.

“Apa ini?”

“Obat maag yang selalu di bawa Hwa Young.”

Siwon ikut mengamati lantai dan menemukan bercak-bercak bekas obat yang sepertinya terinjak oleh sepatu. “Youngie menderita maag?”

“Tidak. Bukan dia, tapi aku.” Kyuhyun berkacak pinggang, dan mengedarkan pandangannya untuk mencari petunjuk lain. “Dia selalu membawa obat itu di tasnya sebagai cadangan karna aku selalu ceroboh meninggalkannya.” Tentu saja Kyuhyun mengenali bau sejenis mint dari obat maagnya. Dia ingat persis bagaimana rupa dan bau obat tersebut.

Siwon memandang Kyuhyun dengan tatapan yang sulit diartikan. Terkejut juga terluka. Tidakkah dengan itu menunjukkan eratnya hubungan sang istri dengan lelaki itu? Sampai-sampai Hwa Young rela menyediakan obat di tasnya hanya karena Kyuhyun sering lupa membawanya. “Bagaimana jika kau salah? Obat seperti ini lazim digunakan.”

Kyuhyun memandang tajam Siwon. Dia mengambil satu pil yang masih terlihat utuh di sudut pintu. “Sekarang injaklah,” perintahnya.

Siwon terdiam. Hanya memandang heran Kyuhyun dan pil itu. Tidak mengerti dengan maksud Kyuhyun.

“Heish,” desis Kyuhyun yang mulai hilang kesabaran. Dia menginjak pil tersebut beberapa kali dengan sepatunya. “Lihat bagimana pil ini masih utuh karena kekerasannya,” dia mengambil dan menunjukkan pil tersebut pada Siwon. “Sekarang lihat di sekitarmu, berapa pil yang harus hancur agar bisa membuat bercak ini?”

Siwon menunduk dan memerhatikan sekelilingnya seperti yang ditunjukkan Kyuhyun. “Beberapa,” ucapnya spontan. “Dan hanya tekanan dari high heel yang memungkinkan pil ini hancur,” jawab Siwon yang mulai mengerti maksud Kyuhyun. Jika seorang menginjaknya dengan bagian sepatu yang lebar, maka itu tidak cukup untuk menghancurkan pil tersebut. Lain halnya jika terinjak oleh high heel dimana tekanan bertumpu padanya. Dan peluang pil terinjak oleh high heel, yang hanya mempunyai luasan kecil, adalah sangat tipis. Tapi ternyata di lantai cukup terdapat beberapa remukan. Itu berarti seseorang sengaja melakukannya.

“Hwa Young memberikan kita petunjuk.” Kyuhyun memberikan tatapan tegas. “Petunjuk selanjutnya tergantung padamu, Siwon-ssi.”

TBC*

Note:

Huee…part 6 kelar juga, fiuh. May I ask you for a request? Please call my name. Call me ARUM or ARSVIO or just AR, atau Kak/Eonni/Mb. Don’t call me THOR/AUTHOR. it’s seemed really absurd. Ok?

Ok, terjawab sudah masa lalu Minna juga teka-teki pria yang bersamanya. Choi Seung Hyun, atau kalian lebih mengenalnya dengan TOP Big Bang.

Kenapa pakai dia? Karna tampangnya rada criminal (?) /dipelototin/TOP. Calm down, bang, meski bertampang criminal dirimu tetep cakep. Our handsome monster. He’s my fav rapper…^^

Ok, put your hands up! Bagi yang minta adegan Siwon membopong Hwa Young di atas. Mian karna tidak bisa balesin komen kalian satu-persatu di part 5. Aku masih kesulitan online kala itu. Tapi aku selalu baca komen kalian koq. Makasih riviewnya.

Dan yeah, now I’m back from my holiday.

I’m waiting for your feedback. Bye and Bow (^^ )/

287 thoughts on “The Obedient Bride [Rule 6]

  1. jen says:

    Ar, ceritanya makim seruu, kasihan hwa young bakal jd korbann😦. ehbtp siwon sm kyi kerja sama:o. makim seruu. emosi naik turun bacanyaa. makin bagusss

  2. jen says:

    Ar, cerotanya makim seruu, kasihan hwa young bakal jd korbann😦. ehbtp siwon sm kyi kerja sama:o. makim seruu. emosi naik turun bacanyaa. makin bagusss

  3. Maya Sherlita says:

    aahhh ada TOP juga… tapi disini dia kok jahat banget sih eonn??
    makin bikin penasaran aja nih sama kelanjutan cerita nya…

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s