The Obedient Bride [Rule 7]


The Obedient Bride [Rule 7]

By: Arsvio | Main Cast: Siwon Choi, Hwa Young Shim, Kyuhyun Cho | Rate: PG-17

“Ada beberapa tempat yang aku curigai,” Siwon mengusap dagunya. “Itaewon, Incheon, atau bahkan mungkin Seoul.”

“Pilah dengan seksama Siwon-ssi atau mungkin kita bisa berpencar?”

Siwon mengerutkan dahi hingga membuat alis tebalnya berpaut. Jika berpencar, maka usaha mereka akan mengefisienkann waktu. Akan tetapi sepertinya tidak akan efektif mengingat Kyuhyun adalah orang cermat. Kedekatannya dengan Hwa Young memudahkan dia mendapatkan petunjuk yang ditinggalkan Hwa Young. “Aku tahu ini sungguh memalukan,“ Siwon berkacak pinggang, lalu mendesah, “tapi demi keselamatan Youngie, aku memerlukanmu untuk menemukannya.” Siwon akhirnya merendahkan diri. Tidak ada guna mempertahankan harga diri sebagai suami, yang seharusnya paling mengenal istrinya, di saat seperti ini. “Kita tetap bersama.”

Kyuhyun menatap Siwon datar. “Kau tidak salah sebut, Siwon-ssi?”

“Maksudmu?”

Kyuhyun memutar tangannya ke udara sebagai bahasa tubuh. “Kau baru saja mengatakan bahwa ini untuk Youngie. Bukankah semestinya kau mengkhawatirkan kekasihmu?”

Ucapan Kyuhyun benar-benar menohok Siwon hingga membuatnya geram. Andai saja tidak ingat bahwa dia membutuhkan pria di sampingnya kini, mungkin sudah dilayangkan tinjunya. Siwon dengan sadar menyebutkan nama Youngie, bukan Minna karena demikian itu refleksi kegelisahannya. Bukan karena dia tidak mencemaskan Minna, tapi jika firasatnya benar maka…

“Siwon-ssi? Kita harus cepat,” ucapan Kyuhyun yang membuyarkan lamunan Siwon.

“Karena dia istriku, Kyuhyun-ssi,” jawabannya pada pertanyaan Kyuhyun sebelumnya. Siwon berjalan mendahului Kyuhyun, sambil merogoh kunci mobil. “Kita ke Incheon, biarkan aku menyetir,” tegasnya.

***

“Aku minta maaf atas kekasaranku, Nona Shim,“ pria itu menjentikkan jari, “oh seharusnya aku memanggilmu Ny. Choi, bukan begitu?” Dia tersenyum karismatik dengan menyunggingkan sebelah sudut bibir.

Hwa Young melengos untuk menanggapi sindiran lelaki itu. Dia menggesek-gesekkan kedua pergelangan tangan dengan menggerakkan secara berlawanan untuk mengendurkan bebatan tali, namun gagal. Perbuatannya malah membuat pergelangan tangannya terasa perih dan panas. Mengalihkan pandangan ke depan, Hwa Young secara angkuh menatap lelaki tersebut. “Apa yang kau inginkan, Choi Seung Hyun-ssi?”

Wow…wow…” Seung Hyun membuka kesepuluh jarinya di udara sebagai ekspresi takjub. “Apakah kau selalu bersikap demikian frontal?” dia menaruh telunjuk dan ibu jarinya di dagu. “Tapi aku suka dengan gayamu yang tidak bertele-tele.” Seung Hyun mencondongkan badannya hingga wajahnya terpampang besar dan penuh.

“Tidak ada gunanya kau menyekapku di sini.” Hwa Young menyeringai untuk menunjukkan elegansinya.

“Sebaliknya, Hwa Young-ssi,” wajah Seung Hyun menjauh. “Ingin mendengar penjabaranku seberapa berartinya dirimu?” dia berdeham. “Putri generasi keempat Shawn Corp yang juga menjadi istri pewaris Hyundai. Dua tahun berkiprah di Shawn Corp dan sekarang dipindahkan ke Hyundai. Tidakkah posisimu sangat strategis?” pria itu terkekeh.

“Apa maumu sebenarnya?” Hwa Young menduga Seung Hyun tidak menginginkan materi karena uang senilai sebuah tebusan untuk peculikan tidak akan berarti untuk seorang pengusaha bar sesukses Seung Hyun.

Seung Hyun mengerutkan kening, sejenak kemudian tertawa. Dia menjentikkan jari sebagai isyarat pada anak buahnya. “Kau wanita cerdas! Baca dengan seksama proposal itu, Hwa Young-ssi.”

Hwa Young menyipitkan mata pada lembaran kertas yang diangsurkan oleh anak buah Seung Hyun. Memahami kalimat demi kalimat yang tertera di sana, dia mengeratkan katupan rahangnya ketika mengerti maksud Seung Hyun. “Kau gila, Seung Hyun-ssi,” desisnya tajam.

“Apa kata tersebut patut kau katakan pada relasi bisnismu, Ny. Choi?” sindir Seung Hyun. Matanya yang menajam membuat tatapan sangar. “Kau cukup menandatangani proposal itu. Keuntungan yang akan masuk ke rekeningmu sudah tercantum. Ditambah lagi,“ dia menegakkan jari telunjuknya, “kuanggap campur tanganmu pada masalah kekasihku selesai.”

“Sampai kapan pun aku tak akan sudi menandatanganinya!” teriak Hwa Young. “Bawa saja mimpimu enyah dari hadapku!” tolaknya kasar pada permintaan Seung Hyun. Hwa Young harus membayar mahal karena sebuah tamparan mendarat di pipinya seusai dia berteriak. Dia mendesis dan meringis kesakitan ketika wajahnya terhempas ke sisi kiri.

“Kau sudah berjanji tidak menyakitinya, Oppa!” Minna yang berada tepat di belakang Hwa Young angkat bicara setelah membisu; memerhatikan intimidasi terhadap Hwa Young. Dia meronta saat anak buah Seung Hyin menahannya.

Stt..stt… Kita punya aturan main, Minna-ya. Di sini, akulah penentunya.” Seung Hyun meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. “Apakah keuntungan yang ku tawarkan kurang menggiurkan, Hwa Young-ssi?” Dia bernegosiasi dengan Hwa Young.

“Aku tidak akan sudi mendapat keuntungan dari barang harammu,” geram Hwa Young. “Perbuatanmu sangat menjijikkan,” cemoohnya. “Arrghh…“ dia memekik tertahan saat rambutnya di tarik ke belakang.

“Aku rasa kau kurang pintar memilih kata, Hwa Young-ssi,” Seung Hyun menggeleng-geleng untuk melecehkan. “Orang-orang itu membutuhkan narkotik dan aku menyediakannya. Bukankah demikian berlakunya prinsip ekonomi?”

Cish, oleh karena orang-orang sepertimulah generasi kami rusak.” Hwa Young memejamkan mata saat merasakan tarikan rambutnya semakin kencang.

“Jangan berceramah di sini Ny. Choi.”

“Sekali lagi, aku tidak akan pernah menyetujui kontrakmu,” tegas Hwa Young. “Daripada menyetujuinya, bunuh saja aku,” determinasinya.

“Hwa Young-ssi!” pekik Minna tidak terima. “Tidak bisakah kau menuruti saja permintaannya, huh?” Meskipun hubungannya dengan Hwa Young tidak baik, namun teriakannya mewakili rasa peduli terhadap sesama kaum hawa. Selain itu, Minna sudah hafal dengan perwatakan Seung Hyun yang akan melakukan apa saja agar tujuannya tercapai.

Seung Hyun terkikik ringan dengan kegigihan Hwa Young. “Membunuhmu? Itu urusan mudah. Hanya saja orang sepertimu terlalu berharga untuk dibiarkan mati sia-sia.”

“Aku tidak berbisnis dengan cara ini dan tidak berbisnis dengan bajingan sepertimu!” pekiknya yang kemudian kembali mendapat hadiah tamparan dari anak buah Seung Hyun.

“Sayang sekali, Hwa Young-ssi. Padahal aku sangat mengharapkan kerja sama ini berjalan lancar. Cabang Hyundai dan Shawn di Asia akan memudahkanku menyebarkan barang-barang ini,” perjelas Seung Hyun. Dia mengharapkan agar Hwa Young meloloskan barang haramnya untuk diselundupkan dalam produk-produk Hyundai maupun Shawn Corp. Seung Hyun memikirkan strategi ini untuk mengirimkan Narkoba ke beberapa negara di Asia. Melalui cara seperti ini, dia berharap barangnya sulit terdeteksi sebab dititipkan dalam produk legal Hyundai atau Shawn Corp.

“Tidak akan pernah,” tandas Hwa Young sekali lagi.

“Bagaimana jika aku memberikan sedikit pertimbangan?” Seung Hyun mengangkat tangannya. Setelah itu, beberapa anak buahnya masuk sembari menyeret seseorang.

“Sungmin-ssi…” lirih Hwa Young.

***

“Ada apa?” Kyuhyun menahan beratnya dengan sebelah tangan saat secara tiba-tiba Siwon menginjak remnya. Mereka baru saja akan keluar dari basement apartemen Minna, namun Siwon menghentikan mobilnya bahkan sebelum keluar dari basement.

Tanpa penjelasan, Siwon keluar dari mobil. Dia membungkuk di depan mobil dan terlihat mengambil sesuatu. “Sepertinya kita benar-benar ke Incheon,” dia menyerahkan temuannya pada Kyuhyun begitu masuk mobil.

“Apa ini?” Kyuhyun mengambil potongan logam kekuningan mirip emas yang berbentuk daun.

“Tidak salah lagi, ini bagian gelang Youngie. Mungkin dia sengaja mematahkannya.”

“Bagaimana kau mengenalinya? Perhiasan Hwa Young tidak hanya satu atau dua.”

“Karena aku yang membelikannya.”

Sejenak Kyuhyun terhenyak dengan jawaban Siwon. Dia mengangkat patahan tersebut dan mengamatinya. “Daripada menjatuhkan gelangnya, dia memilih mematahkan bagiannya. Kemungkinan pertama, dia masih membutuhkan gelang itu, yang bisa jadi untuk memberikan pejuntuk selanjutnya. Kemungkinan kedua, dia meminimalisir kecurigaan jika harus menjatuhkan barang sebesar gelang,” analisis Kyuhyun.

Bingo! Akan kusuruh orangku untuk melacak mobil Youngie.”

Kyuhyun mengangkat tangannya untuk berpegangan di handel atas saat Siwon melajukan mobilnya di atas rata-rata. Dia menoleh ke arah lelaki di sampingnya dan menemukan raut tegang Siwon. Sesungguhnya, Kyuhyun sangat tidak menyukai bagaimana lelaki itu menyebut Hwa Young sebagai istrinya. “Kau mencemaskannya?”

“Jika itu pertanyaan memancing, maka sudah kukatakan dengan jelas. Ya!” Siwon melirik kilas ke arah Kyuhyun.

“Kekasihmu,” maksud Kyuhyun pada pronominal ‘nya’.

Siwon kembali menoleh pada Kyuhyun untuk sejenak; cukup untuk menunjukkan keterkejutannya. Dia mengusap dagunya kasar kemudian memukul kemudi. Sedari tadi, Kyuhyun benar-benar menguji emosinya. “Tentu aku mengkhawatirkannya. Akan tetapi saat ini, aku lebih mengkhawatirkan istriku.”

Kyuhyun mendengus sebal saat, lagi-lagi, Siwon mengalamatkan Hwa Young sebagai istrinya. “Dia hanya akan menjadi milikmu sementara,” ucap Kyuhyun dengan nada rendah yang tetap bisa didengar Siwon.

“Aku akan berusaha mempertahankannya,” balas Siwon juga dengan nada rendah.

Kyuhyun menoleh; menatap tak bersahabat pria di sampingnya. Tangannya secara naluriah mencengkeram erat pegangan.

Deringan ponsel Siwon sedikit mengurai suasana tegang antara keduanya. Menyadari suatu panggilan penting, Siwon menggapai headset dan memasangnya di telinya. “Ya, aku di sini.” Pupil matanya yang tidak bergerak tetap fokus pada jalanan. “Sampai ada kabar dariku, tempatkan beberapa orangmu di sana.”

Kyuhyun memutar kepalanya ke arah Siwon untuk meminta penjelasan.

“Mobil Youngie ditemukan di Itaewon. Kusuruh orangku berjaga dan menyisir daerah itu. Kita tetap ke Incheon.”

“Pengalihan?”

“Ya. Tidak ada penjahat bodoh yang sengaja meninggalkan petunjuk di sekitar lokasinya, bukan?” retoris Siwon.

“Tidak perlukah kita melibatkan polisi?” Kyuhyun benar-benar gelisah dengan keselamatan Hwa Young. Akan lebih baik jika pihak berwajib turun tangan.

“Youngie menghilang belum sampai 24 jam. Kita akan menjadi bahan tertawaan jika mendaftarkan kasus ini. Polisi kemungkinan akan bergerak setelah salah satu dari yang hilang sudah tak bernyawa.” Memikirkan hal tersebut, jemari Siwon secara impulsif mencengkeram kemudi dengan erat.  “Lagipula, sepertinya kasus ini adalah urusan intern Aphrodite atau nostalgia rival lama.”

Kyuhyun mengernyitkan dahi begitu mendengar penjelasan Siwon, namun dia tidak terlalu ambil pusing. Merogoh ponselnya, dia mengkontak seseorang. “Aku membutuhkanmu. Lacak ponselku dan segera susul aku,” perintah Kyuhyun pada beberapa anak buahnya.

Siwon terlihat berpikir keras ketika mereka sampai di daerah Incheon. “Bar belum dibuka di sore seperti ini. Ada kemungkinan Youngie di bawa ke tempat itu.” Siwon membuka pintu mobilnya, tapi tiba-tiba lengannya dicekal Kyuhyun.

Mata Kyuhyun mengawasi situasi lingkungan di sekitar bar. Dia menyimpulkan secara sepihak bahwa menghilangnya Hwa Young terkait dengan pemilik atau siapa pun yang berhubungan dengan tempat ini. “Dia tidak akan kemari, Siwon-ssi. Pikirkan kemungkinan lain.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Ini areal keramaian yang padat pengunjung. Kecil kemungkinan menyekap seseorang di daerah seramai ini.”

“Maksudmu?”

“Kekasihmu mengirimkan pesan pada Youngie bahwa mereka menawan seorang bernama Lee Sungmin. Jika aku tidak salah ingat, bukankah dia jaksa berprestasi yang baru-baru ini bergabung di Aphrodite?”

Siwon mengangguk ringan, namun segera mengumpat begitu menyadari sesuatu. “Shit!” Dia menyalakan mesin mobil, kemudian memutar mobilnya dengan cepat.

“Ada apa?”

“Kau tentu tidak asing dengan Choi Seung Hyun.”

Kyuhyun memutar otak untuk menyaring beberapa kolega yang memiliki nama tersebut. Jika nama itu berkaitan dengan bar maka tidak salah lagi dugaannya. “Pemilik Groove bar?” tebak Kyuhyun. Salah seorang pengusaha yang dia jumpai beberapa kali di pesta kalangan sosialita atas.

“Ya. Sepertinya dia dibalik semua ini.” Siwon semakin menggila untuk melajukan mobil.

“Lalu tujuan kita?”

“Bekas kediaman keluarga Choi. Berita buruknya, istana tua mereka berjarak hanya 15 menit dari bandara!” Siwon menjelaskan kegusarannya. Dia tidak main-main ketika menyebutkan kediaman Choi sebagai istana menilik kemegahan dan keluasannya.

God damn it!” Kyuhyun mengelus keningnya. Tanpa Siwon menjelaskan, dia sudah berspekulasi bahwa adanya bandara akan memudahkan orang tersebut untuk melarikan diri andai tindakannya diketahui.

***

“Permainan kita cukup mudah, Hwa Young-ssi. Penawaranku yang pertama adalah nyawanya.” Seung Hyun menunjuk Sungmin.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Sungmin menggeleng. Penampilannya sangat buruk dengan beberapa luka lebam yang menghiasi wajahnya. Cipratan darah nampak mengotori kemeja putihnya. Rambutnya yang terlihat lembab dan basah melekat pada wajah putihnya. “Jika kau menyetujui permintaannya, maka kita kalah,” lirih Sungmin diantara kesakitan yang ditanggung.

“Lepaskan ikatannya!” perintah Seung Hyun untuk membebaskan tangan Hwa Young agar perempuan itu bisa menorehkan tanda tangan.

Dengan tangan gemetar, Hwa Young mengambil pena. Dia menatap wajah Seung Hyun kemudian beralih pada Sungmin.

“Jangan Hwa Young-ssi.” Sungmin terus mensugesti Hwa Young. Dia sudah berjanji untuk mengabdikan dirinya pada negara sehingga situasi sekarang ini adalah pembuktian kesetiaannya pada janji tersebut. Jika pun dia mati, dia akan mati sebagai pria terhormat, bukan hidup sebagai orang yang menanggung kesalahan besar.

Hwa Young mencengkeram kuat pulpen. Dia memandang sekali lagi berkasnya. Ujung pena dia tekan di kertas tersebut, siap membubuhkan tanda tangan.

“Hwa Young-ssi!” teriak Sungmin.

Hwa Young menyentak dengan keras pulpen yang dipegang ke atas meja. Dia tidak bisa abai pada pelanggaran hukum macam ini. Jika dia menyetujuinya, maka hal tersebut akan membahayakan Hyundai dan Shawn Corp.

“Kau masih bersikeras?” ucap santai Seung Hyun. “Baik…”

Door!

“Sungmin-ssi!” Hwa Young berteriak dan menghambur, namun tubuhnya ditangkap oleh seorang anak buah Seung Hyun kemudian dihempaskan kembali dengan kasar di kursinya. “Kumohon…”

Errgghhh…”

“Itu baru peringatan, Ny. Choi.”

Hwa Young menggeleng pelan dengan air mata yang susul menyusul membasahi pipinya. “Jangan sakiti dia,” rintih Hwa Young saat melihat rembesan darah membasahi kemeja putih Sungmin di bagian lengan atas.

Oppa…” Minna ikut memohon. Dia tidak sanggup melihat ketidakadilan tersebut.

Wae Minna-ya?” Seung Hyun mengalihkan tatapannya pada Minna. “Ini adalah pelajaranmu agar kau tidak melawanku, Chagi. Kau tahu mengapa aku memilih tempat ini?” wajah Seung Hyun kembali terpampang jelas.

Minna terisak; dia tidak berniat menjawab retorika Seung Hyun karena apa pun jawabannya dia sudah muak dengan tindakan semena-mena lelaki itu.

“Karena ini adalah rumah kenangan kita. Kau masih ingatkan, ketika Minna kecil memasuki pintu besar di sana. Ah, momen itu terasa baru kemarin.” Seung Hyun membelokkan pembicaraannya sebentar. “Hwa Young-ssi?”

Sungmin mengangkat wajahnya. Dia tersenyum ke arah Hwa Young meski panas di lengannya terasa perih dan membakar. Mencoba meneguhkan wanita itu untuk tetap berjalan di kebenaran, dia sudah membulatkan tekadnya untuk berkorban.

Seung Hyun mengedikkan kepalanya.

“Jangan!“ pekik Hwa Young ketika seorang pesuruh Seung Hyun mengarahkan ujung pistolnya di kening Sungmin.

“Bagaimana, Hwa Young-ssi?”

***

“Kau pernah menembak sebelumnya, Kyuhyun-ssi?” Siwon membuka dashboard mobilnya kemudian mengeluarkan senjata api dari dalamnya.

Kyuhyun mengadu alisnya keheranan ketika Siwon menghentikan mobilnya di belakang sebuah bangunan. Melihat kemegahan bangunan tua tersebut, Kyuhyun menyetujui frasa Siwon; istana tua. “Bagaimana kau bisa memiliki senapan?”

“Aku memilikinya secara legal untuk berjaga-jaga.”

Memusatkan perhatian pada Siwon, Kyuhyun mengusap tengkuknya ragu. “Pernah, di waktu aku berumur 7 tahun,” candanya. “Tapi kau bisa mengandalkanku untuk kemampuan bela diri.” Dia menerima senjata yang diangsurkan Siwon padanya dengan bimbang. “Setidaknya, aku pernah mendapat sabuk hitam.”

“Bagus. Posisikan tanganmu seperti ini.” Siwon meluruskan kedua tangannya untuk memberikan les singkat menggunakan senjata.

“Lalu kau sendiri?”

“Kita lihat apa yang dapat kita peroleh nanti. Kau pakai ini.” Siwon melemparkan masker pada Kyuhyun.

“Untuk?” Meskipun bimbang, namun Kyuhyun mematuhi perintah Siwon.

“Mereka belum mengenalmu. Kita menyusup lewat belakang.”

Merapat ke pagar bagian belakang, mereka menelusup melalui sebuah pintu kecil yang tingginya tidak sampai satu meter; mungkin dulu digunakan oleh anjing-anjing peliharaan. Kyuhyun mengekor gerakan Siwon. “Kau pernah kemari sebelumnya?” dia sedikit heran karena sepertinya Siwon hafal dengan denah lokasi rumah tersebut.

“Aku pernah berminat membeli kediaman ini, namun kubatalkan karena suatu hal,” jawab Siwon sembari memperhatikan langkahnya.

“Apa?” Kyuhyun merapatkan tubuhnya ke tembok.

“Aku membenci suara gemuruh pesawat,” canda Siwon sembari menarik sebelah ujung bibirnya.

Kyuhyun menyeringai kecil atas guyonan Siwon. Dia yakin ada alasan masuk akal yang membuat Siwon membatalkan minat pada kediaman keluarga semegah itu. Pebisnis muda sekelas Siwon tentu tidak akan menyia-nyiakan letak strategis dari kediaman ini untuk dijadikan lahan usaha.

Menerima tanda kedikan kepala dari Siwon, Kyuhyun ikut mengintip dan melihat seorang penjaga membelakangi mereka. Dengan gerakkan cekatan, dia menjangkau penjaga tersebut; membekap dan memelintir lehernya sebelum sempat memberontak.

Siwon segera melucuti senjata yang dibawa penjaga tersebut. Dia dan Kyuhyun tersentak saat mendengar suara tembakan dari dalam. Menjentikkan jari, Siwon mengisyaratkan Kyuhyun mendekat. “Agaknya mereka berada di ruang tengah,” bisik Siwon. “Kau naik ke lantai dua dari tangga yang sering digunakan pelayan di dekat dapur,” Siwon menunjuk arah yang harus dilalui Kyuhyun, “Dari lantai dua kau dapat melihat jelas ruang keluarga.”

“Kau sendiri?”

“Aku menyusup langsung ke depan. Lindungi kami dari posisimu.”

***

“Bagaimana kalau kita mulai menghitung, Hwa Young-ssi? Tiga hitungan,“ Seung Hyun membuka ketiga jarinya, “jika kau tidak bersedia menandatanginya, maka bush, peluru yang akan bicara.”

“Kau gila…” ratap Hwa Young.

“Satu…” Seung Hyun menegakkan telunjuk.

Tangan Hwa Young gemetar hebat. Meskipun hubungannya dengan Sungmin sebatas rekan kerja, namun dia tidak bisa tinggal diam ketika melihat orang lain bertaruh nyawa atas keputusannya. Dia melengos saat Sungmin tersenyum ke arahnya sambil menutup mata.

“Dua…” kali ini Seung Hyun menegakkan jari tengahnya.

Hwa Young menggeleng lemah. “Tidak bisakah kau berunding dengan lebih gentleman…” lirihnya untuk menawar dan mengulur waktu. Jika dia menandatangani proposal kerja sama itu, Hyundai maupun Shawn Corp akan menerima dampak besar.

“Ti-ga…” Seung Hyun tidak menggubris ocehan Hwa Young dan tetap meneggakkan jari manisnya.

“Tunggu!” pekik Hwa Young.

Dor! Dor!

Dua kali tembakan diiringi pekik keras Hwa Young. Semua mata terbuka lebar saat seseorang diantara mereka ambruk. Bukan Sungmin yang roboh, melainkan anak buah Seung Hyun.

Well, sepertinya rival lama muncul. Sayang sekali kerja sama kita terganggu. Selamat bersenang-senang,” setelah Seung Hyun menyelesaikan kalimat, layar besar di ruangan itu mati; memutuskan kontak Seung Hyun dengan orang-orang di sana. Dia cukup cerdik untuk tidak terlibat langsung di tempat kejadian.

Selang beberapa saat, baku tembak terjadi. Ada lima orang anak buah Seung Hyun di sana; tiga diantaranya menjaga masing-masing sekapan. Seorang yang berdiri di sisi Sungmin sepertinya sudah tak bernyawa karena tembakan Kyuhyun mengenai dadanya. Meskipun tidak pernah menggunakan senjata api sungguhan, agaknya ketepatan bidikan Kyuhyun dipengaruhi oleh game yang biasa dimainkan.

Siwon merapat ke tembok dan mengintip ke ruang tengah. Begitu mendengar tembakan dari dalam, dia menendang sebuah rak beroda ke dalam sebagai pengalihan. Ketika tembakan mereka terarah ke obyek bergerak tersebut, Siwon dengan cekatan menujukkan tembakannya pada anak buah Seung Hyun yang tersisa.

Sungmin bangkit dari kursinya dengan sisa-sisa tenaga. Dia menyeruduk seorang anak buah Seung Hyun yang berada di sisi Hwa Young hingga jatuh. Melancarkan pukulan-pukulan pada wajah orang tersebut, Sungmin berusaha melumpuhkannya. Beruntungnya, orang itu sudah terluka karena terkena tembakan, entah dari Kyuhyun atau Siwon. Sebagai pemungkas, Sungmin menyodokkan sikunya di perut orang tersebut hingga tak sadarkan diri.

Sementara itu Minna di tengah ruangan meringkuk, menjerit, dan melindungi kepalanya. Dia takut bergeerak karena salah-salah kepalanya tertembus peluru.

Hwa Young menunduk dan bersembunyi di bawah meja. Ketika telinganya mendengar jerit Minna, dia melirik perempuan yang berada di tengah ruangan tersebut. Menggunakan tumpuan lutut dan siku, Hwa Young merangkak mendekati Minna. Dia menyeret perempuan tersebut untuk merapat ke salah satu bufet besar untuk berlindung.

Di lantai dua, Kyuhyun mendesah kesal saat pelurunya habis. Dia bangun dari posisi tiarap dan berlari membungkukkan badan untuk menghindari tembakan. Napasnya tercekat saat melihat bayangan seorang yang memegang pistol mendekati arahnya. Oleh karena merasa terpojok, dia siap mengambil ancang-ancang menghindar. Akan tetapi sebelum dia menggerakkan kakinya, orang itu jatuh berdebam karena tertembak.

Sajangnim,” teriak seorang yang membuat Kyuhyun bernapas lega. Orang-orangnya datang dan mengatasi anak buah Seung Hyun yang berjaga di depan.

Oppa!“ teriak tertahan Hwa Young saat mengetahui seorang anak buah Seung Hyun mengarahkan tembakannya pada Siwon. Dia menerjang orang tersebut hingga tubuh mereka terguling. Hwa Young bersiap bangun, namun lelaki itu sudah sigap dengan senjatanya. Dia berpaling dan memejamkan mata ketika menyadari telah menjadi target. Selain suatu tubrukkan di badannya dan tembakan terdengar beberapa kali, Hwa Young tidak merasakan apa-apa. Merasa sesuatu tidak jatuh sesuai prediksinya, dia mengangkat kepala.

Siwon melonggarkan pelukannya ketika kepala Hwa Young mendongak. Matanya bertemu pandang dengan hazel eyes yang dia puji. “Kau tidak apa-apa?” senyumnya terkembang, namun tidak lama tubuhnya melorot.

Oppa…Siwon Oppa…” jerit Hwa Young sambil menangkap tubuh Siwon yang ambruk ke pelukannya. Dia meraba punggung Siwon hingga mendapati tangannya yang basah dan pekat. “Kumohon, bangunlah,” isaknya. Secara naluriah, Hwa Young menggunakan telapak tangannya untuk menekan luka Siwon di punggung kanan atas, tepat di bawah bahu, untuk meminimalisir perdarahan. “Kumohon, tetaplah bersamaku…” Hwa Young mengguncang bahu Siwon pelan, agar dia tetap terjaga.

Kyuhyun terengah-engah dengan dada naik turun setelah dia berhasil melumpuhkan anak buah Seung Hyun yang menembak Siwon. “Panggil ambulans dan hubungi polisi secepatnya!”

“Ye, Sajangnim.”

***

Kyuhyun mengeratkan pelukkannya pada Hwa Young saat menyadari getaran tubuh. Dia tidak terdengar isakan, namun merasakan kemejanya basah. “Dia akan baik-baik saja, Youngie,” bisiknya.

Hwa Young memilih tidak menanggapi usaha Kyuhyun untuk menenangkannya. Dia menenggelamkan seluruh wajahnya di dada Kyuhyun. Tanggannya melingkar dengan erat di pinggang Kyuhyun dan bibirnya bergetar. Pikirannya melayang-layang pada kejadian beberapa saat lalu; menyesali tindakkan Siwon yang menjadikan dirinya sebagai tameng peluru untuk menyelamatkannya.

Kyuhyun mengusap lengan Hwa Young, kemudian mengecup puncak kepalanya beberapa kali untuk menenangkan. Biasanya kegelisahan Hwa Young akan segera mereda jika diperlakukan seperti itu, namun saat ini agaknya usahanya tidak berhasil. “Youngie, Sayang,” dia menepuk Hwa Young pelan saat melihat dokter keluar dari ruang operasi.

“Adakah di sini keluarganya?”

“Saya istrinya.”

***

Siwon mengerut-ngerutkan kelopak matanya dan mencoba untuk membukanya. Dia melawan pengaruh obat bius yang mulai menghilang dari sistem tubuhnya. Matanya terasa sangat lengket, namun dia terus berusaha membukanya seiring sayup suara yang sangat dikenal masuk ke indera pendengarannya.

“Siwon OppaOppa…kau bisa mendengarku?”

Siwon berusaha menarik bibirnya untuk membuat jawaban, namun kerongkongannya terasa sangat kering sehingga yang bisa dilakukan hanya tersenyum. Dia melega ketika menjumpai wajah Hwa Young. “Youngie…” paraunya yang hampir tidak terdengar.

“Kau membutuhkan sesuatu, Oppa?”

“Air…” lirihnya hampir-hampir hanya seperti membuat gerakan mulut.

Hwa Young meninggikan setengah bagian atas ranjang Siwon dengan panel di sisi ranjang. Dia mengambilkan air putih dan membantu Siwon untuk meminumnya. Setelahnya, dia meletakkan kembali gelas yang sudah kosong sepertiganya. “Aku panggilkan dokter, Oppa,” Hwa Young beranjak, ingin memutari ranjang Siwon untuk menggapai tombol intercom. Akan tetapi dia berbalik ketika Siwon mencekal pergelangan tangannya. “Adakah sesuatu lain yang kau butuhkan?”

Siwon menyentak pelan tubuh Hwa Young hingga menghadapnya. Dia mengangkat tangan, mengusap lembut sisa lebam di pipi Hwa Young. “Sakit?”

“Sebentar, aku panggil dokter untuk memeriksa kondisi dasarmu, Oppa,” Hwa Young tidak mengacuhkan pertanyaan Siwon. Dia kembali memutar tubuhnya.

“Aku tidak membutuhkan dokter,” Siwon mempertahankan cekalannya dengan tenaga yang masih lemah.

“Jangan bersikeras, Oppa. Kau baru saja siuman dan membutuhkan pemeriksaan dasar. Aku akan panggil dokter Han,” kukuh Hwa Young yang tidak memperhatikan mimik kecewa Siwon.

“Dan bisakah aku meminta tolong?”

Hwa Young memiringkan kepalanya. “Tentu. Apa yang kau butuhkan?”

“Tolong panggilkan istriku. Aku ingin melihat keadaannya.”

Oppa…” Hwa Young memandang Siwon pasrah. Dia menghadap kembali Siwon dengan patuh. Rasanya bibir ingin tertarik membuat lengkung senyum ketika memperdengarkan kalimat klise Siwon. “Aku dalam keadaan sangat baik, tidak bisakah kau melihatnya?”

Siwon menyentak pelan tangan Hwa Young agar mendekat. Dia memegang dagu Hwa Young dan memutar wajah Hwa Young menyamping agar dapat memerhatikan luka perempuan tersebut dengan jelas. “Apakah masih sakit? Kau sudah mengobatinya kan?”

“Tidak perlu khawatir, aku sudah mengobatinya. Untuk sekarang, kau hanya perlu mengindahkan kondisimu dulu, Oppa.” Hwa Young membeku ketika jemari Siwon mengusap pipinya. Bukan karena sedikit nyeri akibat tindakan Siwon mengenai lebamnya, melainkan desir kecil dalam darahnya.

“Apakah ada luka lain?” Siwon memutar badan Hwa Young; mengabaikan kondisinya sendiri. Dia memeriksa tubuh Hwa Young dari ujung kaki hingga ujung rambut. Memegang kedua pergelangan tangan Hwa Young, Siwon mengusapnya pelan. Dia menjumpai bekas kebiruan yang tersemat di sana akibat eratnya tali yang mengikat Hwa Young saat itu.

Perlakuan Siwon membungkam mulut Ha Young. Dia membiarkan lelaki itu mengamatinya lekat. Menggulum bibir bawahnya, Hwa Young sedikit ragu untuk mengungkapkan rasa tanyanya. “Kenapa kau melakukannya?” ucapnya pada akhirnya. Ketika akalnya tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri, dia tidak punya pilihan selain menanyakannya pada sang empunya perkara.

Menangkap nada tegas pada pertanyaan Hwa Young, Siwon menghentikan tindakkannya. Kepalanya terangkat dan menjumpai raut kaku Hwa Young. Dia siap membuka mulut untuk menanyakan maksud pertanyaan Hwa Young, namun diurungkan saat melihat mata perempuan tersebut sudah tergenang cairan bening. Saat itu juga dia mengerti makna pertanyaan istrinya.

“Tidakkah kau mempertimbangkan sesuatu sebelum bertindak?” suara Hwa Young terdengar getir. “Seolah berpikiran pendek, kau menghambur untuk sekadar menghindarkanku dari tembakan. Kau bukan penangkal peluru, Oppa!“ sentak Hwa Young yang mulai kehilangan kontrol emosi. Keteguhannya seolah sedang berada di awang-awang saat berhadapan dengan situasi seperti ini.

“Tidakkah tindakkanku berarti lebih dari ‘sekadar’, Youngie?” jawab Siwon dengan tenang. Sesungguhnya dia tidak menyukai bagaimana Hwa Young menganggap remeh situasi yang hampir saja merenggut nyawanya sendiri. Bukan berarti Siwon menolak seluruhnya pernyataan Hwa Young. Siwon mengakui dirinya berpikiran pendek ketika melihat Hwa Young dalam bidikan. Akan tetapi dia sangat sadar dengan perbuatannya ketika memeluk perempuan tersebut untuk menamenginya dari peluru.

“Kau membahayakan nyawamu sendiri demi seseorang yang bahkan—“ Hwa Young menghentikan kalimatnya ketika kehabisan kosa kata untuk menggambarkan arti dirinya bagi Siwon. Sepengetahuannya, hubungannya dengan Siwon bukan sesuatu yang dapat mendorong lelaki itu untuk mengorbankan nyawanya.

“Bahkan tidak berarti? Tidak kau cintai? Tidak penting bagimu?” Siwon memberondong Hwa Young dengan pilihan penyambung kalimat menggantung Hwa Young.

Mengendurkan ketengangan bahunya, Hwa Young memejamkan matanya. “Ya,” ujarnya mengamini semua pilihan kalimat Siwon. Segaris air mata meluncur di pipinya tanpa kendali ketika hatinya terasa perih dengan mengiyakan kalimat Siwon. Bagaimana pun tegarnya Hwa Young, dia tetaplah wanita yang memiliki hati.

Melihat kepasrahan Hwa Young, secara naluriah Siwon mengepalkan tangannya. Dia tidak marah kepada siapa pun kecuali dirinya. Dia tidak mengharapkan sanjungan sebagai pahlawan atas upayanya menyelamatkan Hwa Young, namun menjumpai penyesalan wanita itu mau tak mau mencabik hatinya. Menganjurkan tangannya, Siwon membesut air mata Hwa Young. Dia menarik Hwa Young mendekat, kemudian melingkarkan kedua tangannya di punggung Hwa Young. “Jika kau bertanya mengapa aku menyelamatkanmu, maka aku belum memiliki jawaban pasti.”

Siwon memendam wajahnya di lekukan leher Hwa Young dan mengecapi harum tubuhnya. “Jadi kumohon berikan aku waktu untuk memaknainya, Youngie.” Dia tidak ingin gegabah memberikan jawaban yang nanti akan disesalinya. Seiring waktu, Siwon yakin hatinya akan diteguhkan.

“Jangan lakukan hal bahaya semacam itu lagi,” lirih Hwa Young sambil sebisa mungkin menahan air mata yang sayangnya tidak jua berhenti keluar. Dia tidak menjawab permintaan Siwon secara lisan, namun dalam hati menyetujuinya. Bukan hanya Siwon, dirinya juga memerlukan waktu untuk memikirkan makna hubungan mereka.

Siwon melonggarkan pelukannya dan menjauhkan tubuh Hwa Young. Jemarinya menyentuh bawah dagu Hwa Young, kemudian mengangkatnya untuk bertemu pandang. Siwon sedikit meringis saat merasakan ngilu di pundak kanannya. “Apakah kau mengkhawatirkanku?” ucapnya jenaka untuk melenyapkan atmosfir kaku mereka.

Manik mata Hwa Young bergerak-gerak gelisah. Keningnya mengerut, tapi sejenak kemudian bibirnya meloloskan tawa kecil. Dia memahami usaha Siwon untuk memutar balik mood mereka. “Kau pikir?”

Hei, aku benar-benar bertanya.”

“Jika aku mengatakan tidak—“

“Kau tidak akan di sini, andai bukan karena mengkhawatirkanku,” putus Siwon seketika. Mencandai Hwa Young merupakan hal baru yang akhir-akhir ini cukup ampuh untuk menaikkan suasana hatinya.

“Kebetulan lewat,” singkat Hwa Young yang terlarut dengan plot drama yang diciptakan Siwon untuk menghangatkan suasana.

Cish!” Siwon menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Alasan macam apa itu?” Secara tak sadar, dia mencebikkan bibirnya hingga membuat Hwa Young tergelak.

“Kau sangat tidak cocok untuk berekspresi seperti itu?”

Senyum tipis terulas di bibir Siwon. Tanpa bertanya sekali pun, Siwon tahu jawabannya. “Terima kasih karena sudah megkhawatirkanku. Aku juga mencemaskan—“

“Minna dalam perlindungan Aphrodite juga kepolisian,” potong Hwa Young dengan cepat.

Lagi-lagi Siwon harus dikecewakan dengan reaksi Hwa Young. Mengenai Minna, dia yakin sang istri akan mengusahakan yang terbaik. “Bukan dia yang kucemaskan saat ini, tapi kau.” Siwon mengusap pelan pipi Hwa Young, kemudian menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. “Jika aku boleh mengetahui, apa yang mereka inginkan darimu?”

Hwa Young mengambil tangan Siwon, kemudian meremasnya lembut. “Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Aku sudah berbicara dengan pengacaraku untuk menangani kasus penculikan ini.” Dia tersenyum untuk menjaminkan keadaannya yang baik pada Siwon.

“Jadi kau lebih memilih membagi masalahmu dengan pengacara ketimbang denganku?”

Alis Hwa Young teradu; keheranan. “Apakah pernyataanku mengimplisitkan seperti itu?” tanya baliknya. Mendapat anggukan Siwon sebagai jawaban, Hwa Young hanya mampu tersenyum. “Hal yang ingin kukatakan adalah jangan mengkhawatirkan masalah hukum kasus penculikanku. Aku akan menuturkannya padamu setelah kau pulih, Oppa.”

Siwon tersenyum kecil, bukan saja karena lega tapi juga menertawakan sikap kekanakannya. Andai bukan bersama Hwa Young, dia tidak akan pernah menemui sisi kekanakan dalam dirinya; sungguh lucu. Melepaskan genggaman tangan Hwa Young, Siwon menyusupkan tangannya di pinggang Hwa Young, kemudian menumpukan dagunya di bahu Hwa Young saat tubuh mereka tidak berjarak. Dia memejamkan matanya untuk menikmati postur Hwa Young yang berada aman dalam dekapannya. “Lebih dari apa pun, aku bersyukur dengan keselamatan kita.”

Hwa Young begumam untuk mengiyakan. Setelah melalui pengalaman buruk ini, dia menyadari sesuatu telah berubah antara dirinya dan Siwon.

Mengendurkan pelukkannya, kepala Siwon tertoleh untuk mendaratkan ciuman rasa syukurnya di pipi Hwa Young.

Terkaget dengan tindakan Siwon, secara impulsif Hwa Young memutar kepalanya hingga dia bertemu pandang dengan Siwon. Seluruh perhatian Hwa Young tersedot saat melihat senyum lebar Siwon hingga kedua lesung pipitnya muncul.  Dia membeku di tempat tatkala menyadari Siwon memangkas sedikit demi sedikit jarak di antara mereka.

Seiring bibir mereka yang bertemu, Siwon menurunkan kelopak matanya; demikian juga Hwa Young. Awalnya, Siwon sekadar menekan bibirnya untuk tertempel sempurna pada bibir Hwa Young hingga merasakan aliran kehangatan dari persinggungan mereka. Ketika desiran darah memicu deguban jantung yang kian menghentak, Siwon tahu dia menginginkan lebih. Secara perlahan, dia menggerakkan bibirnya melumat bibir bawah sang istri saat tidak mendapat penolakan.

Hwa Young dapat merasakan bibir Siwon yang sedikit kering. Saat Siwon semakin menekan bibirnya, dia semakin mengeratkan cengkeramannya di piyama Siwon. Jantungnya sudah berdetak tidak terkendali. Rongga perutnya terasa digesek-gesek dengan bulu halus beruang ketika Siwon memberikan lumatan kecil.

Ketika kebutuhan udara semakin mendesak untuk tercukupi, Siwon melepas pagutan. Bukan hanya karena membutuhkan oksigen, melainkan juga takut tidak bisa mengontrol dirinya. “Terima kasih untuk—“

Kepala Hwa Young tertoleh ketika merasakan kehadiran seseorang, “Kyunie?” Dia menangkap tatapan terluka Kyuhyun ke arahnya. Mereka bertatapan sejenak seolah dapat saling berkomunikasi dengan cara itu. Kakinya secara otomatis ingin mengikuti Kyuhyun saat lelaki itu menghilang dengan cepat dari pandangan, namun dirinya tertahan saat pergelangan tangannya ditarik secara berlawanan.

“Jangan.” Siwon menatap Hwa Young penuh harap. “Jangan pergi,” pintanya.

Hwa Young memandang Siwon, lalu beralih memandang pada pintu kamar dimana tadi Kyuhyun berdiri. Hatinya memberontak melihat kekosongan di sana. Dia sadar, tindakannya sangat melukai Kyuhyun. “Maaf, aku tidak bisa,” Hwa Young melepaskan tangan Siwon dari pergelangannya dan berlari menyusul Kyuhyun.

***

“Kyunie!” Hwa Young mempercepat laju larinya. Dia melihat Kyuhyun yang sudah mencapai mobilnya. “Kyu, komohon berhenti.” Tangannya berhasil menggapai Kyuhyun dan menyentakkan badan Kyuhyun hingga berbalik menghadapnya.

“Penjelasan apa yang ingin kau utarakan?” Kyuhyun merangsek maju hingga menjepit tubuh Hwa Young di badan mobilnya. “Jangan membisu, Youngie!” teriaknya saat Hwa Young tak kunjung membuka mulut.

“Kyu…” lirih Hwa Young. Dia kebingungan memilih suatu alibi untuk menjelaskan ciumannya dengan Siwon. Mungkin akan lebih mudah mengatakan bahwa ciuman tersebut hanya sebuah letupan emosi; tidak lebih. Akan tetapi jauh di dalam lubuk hati Hwa Young dia memaknai ciumannya lebih dari sekadar hasrat. Oleh karena itu, dia tidak ingin membuat kebohongan yang akan melukai Kyuhyun.

“Katakan bahwa yang kulihat hanya sebuah kesalahpahaman. Aku akan mempercayainya meskipun tidak demikian.” Kyuhyun mengangkat tangannya, kemudian ibu jarinya bergerak secara mendatar di bibir Hwa Young. Dia menangkup wajah Hwa Young dan mengecup kilas bibir Hwa Young. “Kau tidak jatuh hati padanya, kan?” lirihnya penuh keraguan sembari memeluk tubuh Hwa Young.

Hwa Young mengangkat kedua tangannya untuk melingkar di pinggang Kyuhyun. Dia memejamkan mata saat telinganya menangkap deguban kencang jantung Kyuhyun. Irama yang selama ini mampu membuatnya tenang. Secara perlahan tangan Hwa Young menepuk-nepuk punggung Kyuhyun untuk menenangkannya. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah rela jika Kyuhyun tersakiti. Meskipun pria itu sering bertindak sesukanya atau pun berkomentar pedas, namun Hwa Young tahu lebih dari siapa pun kelembutan yang tersembunyi di diri Kyuhyun.

***

“Bagaimana keadaanmu, Sungmin-ssi?” Hwa Young menjabat tangan Sungmin.

“Tidak akan lebih baik dari ini,” jawab Sungmin dengan sumringah. Dia mempersilakan Hwa Young duduk.

“Bagaimana perkembangan kasusnya?” Hwa Young duduk, kemudian meyilangkan kaki bertindihan.

Sungmin menarik bibirnya mendatar. “Aku sudah berbicara dengan pengacaramu. Kami sepakat untuk membawa kasus ini sebatas penculikan dan penyekapan. Penyidik masih mengusut keberadaan pelaku utama. Yah, kita tidak bisa dengan gamblang menyebutkan nama Choi Seung Hyun. Salah-salah kita bisa mendapat tuntutan pencemaran nama baik. Sampai bukti terkumpul, kita hanya bisa menunggu.” Sungmin memainkan kursinya dengan memutar sedikit ke kiri dan kanan.

“Lalu Minna?”

“Dia sudah beraktifitas seperti biasa, meski masih dalam pengawasan baik kepolisian maupun Aphrodite.”

Hwa Young meanggut-manggutkan kepalanya tanda mengerti. “Masalah kian rumit karena Choi Seung Hyun juga memiliki keterkaitan dengan kekerasan yang dialami Minna.”

“Sampai saat ini kita masih berspekulasi bahwa dia pelaku kekerasannya, Hwa Young-ssi.”

“Bagaimana bisa? Bukankah hal tersebut sudah sangat jelas?”

“Pernahkan Minna mengakui bahwa Choi Seung Hyun melakukan kekerasan padanya?” pancing Sungmin.

Hwa Young menggeleng, “Tidak.”

“Lalu apakah kita memiliki saksi yang melihat tindak kekerasan terhadap Minna?” pancing Sungmin lagi.

Hwa Young mendesah ringan ketika mengerti, “Tidak.”

“Kita tidak memiliki pengakuan korban dan tidak memiliki saksi. Sejauh ini yang bisa kita lakukan hanya menyimpulkan.”

Mengeratkan tangannya, Hwa Young kesal dengan fakta yang dibeberkan oleh Sungmin. “Kau benar.”

“Kepolisian masih menyelidiki keterkaitan kita di tempat kejadian perkara. Proposal kerja sama barang haram itu cukup menjadi alasan penculikan dirimu,” jelas Sungmin sambil mengelus dagunya. “Kita bekerja di LSM yang sama; aku menjadi penasehat hukummu. Kebetulan kau sedang bersamaku untuk mengkonsultasikan sesuatu saat mereka menculik kita. Suami dan rekan kerja suamimu menyadari bahwa kau menghilang sehingga mereka mencoba melacakmu. Itulah berita acara yang kusepakati dengan pengacaramu.” Sungmin menerangkan karangan perkara yang dia buat.

Hwa Young mengangguk paham, “Kurasa kita memang harus lebih berhati-hati.”

Sungmin mencondongkan tubuhnya dan menumpukan sikunya di meja. “Hwa Young-ssi, seorang yang seharusnya berhati-hati adalah kau.”

Hwa Young mengerutkan dahinya.

“Kau saksi yang mengetahui dengan jelas kerja sama penyebaran narkoba itu. Kau juga penerima tunggal email biografi Choi Seung Hyun dariku. Kuasa dan keterkaitanmu dengan kasus Minna juga menambah daftar alasan Choi Seung Hyun untuk mengincarmu kembali.”

***

Siwon menggeram frustasi untuk kesekian kali. “Aww…” dia memekik saat wajahnya tergores pisau cukur. Menyerah dengan kesulitannya, dia menjauhkan alat pencukur dari wajah. Dia meluruskan kembali tangannya saat ngilu menyerang. Oleh karena posisi luka tembak berada di bagian bawah pundak kanan, rasa sakit akan mendera di bagian bekas operasi ketika dia memaksa menekuk lengannya untuk bercukur.

Oppa kau di dalam?” terdengar ketukan Hwa Young dari luar. “Kau bisa terlambat jika tidak bersegera.” Ingat wanita itu dari luar kamar mandi. Dia memberanikan diri memasuki kamar Siwon karena lelaki itu tak kunjung turun ke bawah untuk sarapan.

“Youngie, masuklah!” teriak Siwon dari dalam kamar mandi.

Eh?” sejenak Hwa Young meragu akan perintah Siwon.

“Aku membutuhkan bantuanmu.”

Hwa Young memegang kenop ketika keraguan merambatinya. Haruskah dia masuk ke dalam dan menginvansi ruang sangat privasi milik Siwon? Hwa Young menggigit bibir bawah saat pipinya memanas.

Di dalam kamar mandi, Siwon memandangi pintu yang tidak kunjung terbuka. “Jangan berpikiran aneh-aneh. Aku berpakaian. Ok?” senyum jahil terkembang di bibir tipisnya saat membayangkan alasan mengapa Hwa Young tidak bersegera masuk ke dalam.

Mempercayai ucapan Siwon, Hwa Young memutar kenop. Dia mengembuskan napas dengan pelan udara dari mulut. Wajahnya menunduk dengan cepat saat menangkap sosok Siwon hanya dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Dia bukan malu; astaga, di usianya kini sudah bukan barang mengherankan melihat lelaki tanpa atasan! Akan tetapi dengan situasi mereka saat ini, dia merasa risih.

Siwon tersenyum kecil melihat reaksi Hwa Young. Senyum yang tersamar dengan putihnya foam di sekitar mulut. “Kemarilah. Aku perlu bantuanmu untuk bercukur.” Dia menganjurkan pencukur.

Dengan sedikit kesal, Hwa Young mendekat. “Bagaimana jika melukaimu?” Meskipun ragu, dia menerima alat cukur yang diberikan Siwon.

“Lakukan saja. Aku tahu kau orang yang cermat.” Siwon memutar tubuhnya menghadap Hwa Young.

“Tapi—“ Hwa Young masih ragu karena baru kali ini dia membantu seorang pria untuk bercukur.

“Lakukan saja, Ok? Aku tidak ingin para karyawati terpikat denganku karena cambang ini,” canda Siwon.

Cish,” desis Hwa Young pada rasa percaya diri Siwon. Walaupun demikian, mau tidak mau dia membenarkan perkataan Siwon. Dengan cambang halus itu suaminya, ehem, tampak memesona. Hwa Young mengibaskan tangannya naik turun. “Err…bisakah Oppa merendah sedikit?” mintanya saat kesulitan mencapai posisi pas karena tinggi badannya yang hanya sepundak Siwon.

Siwon mematuhi permintaan Hwa Young. Dia menekuk lututnya untuk mensejajarkan tubuhnya, namun detik selanjutnya dia menyesali perbuatannya. Oleh karena posisinya sekarang, dia dapat menangkap dengan jelas pesona sang istri; mata bulat bewarna coklat terang, hidung mungil meninggi, dan bibir tipis merah muda. Ditambah dengan ekspresi serius Hwa Young saat mengerjakan apa yang dimintanya, semua terlihat sempurna.

Salahkan Tuhan yang menciptakan sang istri dengan begitu sempurna sehingga Siwon tidak bisa mengontrol motoriknya. Tangan kiri Siwon terangkat untuk memegang pergelangan tangan kanan Hwa Young yang sedang mencukur, kemudian menyingkirkannya ke samping. Tangan kanannya melingkar di pinggang Hwa Young dan menarik perempuan itu merapat. Dengan pasti dia mendaratkan bibirnya di bibir Hwa Young. Merasa tidak puas dengan posisi mereka, dia menegakkan badannya hingga tubuh Hwa Young terangkat. Walaupun pundak kanannya terasa sedikit ngilu karena menahan beban tubuh Hwa Young, tapi di momen ini dia tidak peduli.

Hwa Young hanya bisa menerima perlakuan Siwon saat kaki-kakinya seolah menjadi tak bertulang. Dia merasakan tubuhnya terangkat sebelum terduduk di pinggir wastafel. Bunyi gemerisik kecil terdengar saat foam di wajah Siwon tertekan ke wajahnya. Secara naluriah, tangannya melingkar begitu saja di leher Siwon. Memiringkan wajahnya berlawanan, dia memberikan balasan. Bunyi denting timbul dari alat cukur yang jatuh, tapi hal itu tidak mengusik. Telapak tangannya merasakan dinginnya kulit dada Siwon yang terbuka. Menggeser telapak tangannya ke bawah, dia bisa merasakan perut terbentuk milik Siwon.

Siwon mengerang kecil dengan sentuhan Hwa Young di perutnya. Sengaja atau tidak, perempuan itu membangkitkan hasratnya. Akan tetapi daripada menuruti nafsunya, Siwon memilih meredakannya sebelum terlambat. Dia sadar aka nada waktu yang tepat untuk memilikinya. Seiring oksigennya yang kian menipis, Siwon merubah lumatannya menjadi kecupan-kecupan ringan sebelum mengakhiri pertautan bibir mereka.

“Aku tidak akan meminta maaf atas kejadian di rumah sakit saat Kyuhyun memergoki kita berciuman,” ucap Siwon dengan sedikit terbata sebab dirinya masih mengatur napas. Dia ingin marah ketika Hwa Young memilih meninggalkannya untuk mengejar Kyuhyun kala itu. Akan tetapi jika dia meledakkan emosinya lagi, maka hubungan mereka akan bertambah buruk. “Karena kupikir, itu bukan suatu kesalahan,” maksudnya pada ciuman mereka.

Hwa Young hanya menatap mata coklat tua Siwon dengan takjub. Dia masih berusaha menetralkan detak jantung dan pernapasannya. Saat itu juga dia mengakui bahwa dirinya sedikit banyak telah jatuh hati pada lelaki itu. Baru saja dia akan membuka mulut, Siwon menyentuh dagunya dan memutar wajahnya ke cermin.

“Kau nampak menggemaskan,” goda Siwon saat melihat bercak-bercak putih foam mengotori wajah Hwa Young.

Ya!” Hwa Young mengusap foam di sekitar mulut dan pipinya. Dia memukul ringan dada Siwon untuk melampiaskan kekesalan. “Bercukurlah sendiri.” Hwa Young merasa malu atas kejadian barusan hingga memerahkan telinganya. Dia bersiap meloncat turun dari wastafel, namun Siwon menghalanginya.

Ok…ok, aku tidak nakal lagi.” Senyum Siwon melebar dan lagi-lagi sepasang lesung pipit itu memperdaya Hwa Young. Menunduk ke bawah, Siwon mengambil pencukur tadi dijatuhkan oleh Hwa Young. “Please,” mohonnya sambil menunjukkan wajah memelasnya sebaik mungkin.

Hwa Young merebut pisau cukur di tangan Siwon sambil menatap lelaki itu dengan tatapan peringatan. Sejenak bertatapan, dia kemudian tertawa untuk menertawakan kekonyolan yang mereka perbuat di pagi ini dan mengajak Siwon tertawa bersamanya.

***

“Aku tetap menginginkan wanita itu.” Seung Hyun meletakkan gelas wine-nya. “Siapkan tiket penerbangan ke Australia secepat mungkin. Aku ingin menemui adik kesanganku.”

Ye,” jawab asisten yang berdiri di belakang Seung Hyun dengan patuh.

“Kau terlalu banyak mengetahui tentang diriku, Ny. Choi Hwa Young.” Seringaian licik terukir di bibir Seung Hyun. “Kita kan bertemu lagi, cepat atau lambat.” Dia berdiri seraya merapikan jasnya.

 

TBC*

294 thoughts on “The Obedient Bride [Rule 7]

  1. Ahilah. Jantung saya berdebar waktu mereka berciuman wkwkw. Wah.. seru bangetlah part ini sama part sebelumnya bikin tegang. Hadeh.. suka lah sukaaa. Wkwk.

  2. jen says:

    hwa young dlm masalah besarr. huhuhu. siwon tmbh perhatian sm hwa young nih. hahah. well kyu dn siwon bakal jadi rival nih. haha

  3. Maya Sherlita says:

    aku suka banget jiwa analisis kyuhyun bener-bener tepat kerennn!!!
    tuh kan bener dugaanku kalau seung hyun berhasil melarikan diri waktu itu… kenapa dia jahat banget sih nyebelin!

  4. nayla says:

    ”agaknya ketepatan bidikan Kyuhyun dipengaruhi oleh game yang biasa dimainkan”
    ga tau kenapa baca ini aku bener-benr pengen ngakak. soalnya dari awal part ini udah mulai tegang. dan bagian itu sedikit mencairkan suasana, bener-bener karakternya real.

    itu seunghyun kok bisa sekejam itu ya,

    apa yang aku khawatirin di awal mulai kecium bau-baunya (emang bau apa). apapun yang terjadi, hwayoung ga mau menyakiti kyuhyun. oh, seru…seru..seru….

    oen kok bisa ya bikin ff sebagus ini, aku juga mau bisa dong. hehe

  5. celin says:

    benar2 jahat si seunghyun!! masih gak rela my tabi jadi orang jahat..
    Meskipun tidak pernah menggunakan senjata api sungguhan, agaknya ketepatan bidikan Kyuhyun dipengaruhi oleh game yang biasa dimainkan. disaat tegang2nya ini yg muncul.. buat aku ngakak haha:D
    ya ampun siwon kau gentleman!! tp apa yg dirasakan minna ya? ngelihat siwon lindungi hwayoung
    boleh kah aku blang kalau hwayoung terlihat hmm sedikit murahan?? dia ciuman dengan siwon terus d pergoki sm kyu dan dia nerima aja waktu kyu cium dia,,, walaupun aku senang akhirnya siwon hwayoung melakukan skinship lebih dari gandengan.. adegan ciuman mereka yg aku tunggu2..
    dan adegan d kamar mandi aaaa sweet!!

  6. momo says:

    Lucu banget yang di kamar mandi wkwkwk ada foamnya pula, kena si seunghyun masih aja ada -_- duhh penasaran next part

  7. ga tau harus berkata apa, masih belom percaya kalau Seunghyun-ku sejahat itu hiks…hikss..hiksss…

    dan itu coba tolong adegan romantisnya Hwayoung sama Siwon bikin envy banget…

    ya ampun eon.. aku suka banget deh sama pilihan-pilihan kata dalam tulisanmu, baguuusssss🙂

  8. manisaulia says:

    Saya suka scene cukur mencukur..
    dan bkan hanya hwa young yg bingung memilih kyu ato siwon, aku juga bingung..mau dukung kyu ama hwa ato siwon ama hwa..

  9. Kyuhyun Wife :3 says:

    Arrrhh author (?) *lupa tadi namanya author siapa –v*
    bagus banget ff ny aku udah seharian baca ff ini :’ skrg udah jam 1:55 malem :’ tapi aku masih penasaran kisah ini :3 mian eonni aku cuma komen dsni..soalnya greget pengen tau kisahnya >_<

  10. milky says:

    kyaaaa… kisseu. akhirnya skinship mereka naik tingkat juga. kkk.
    oh noo.. aku suka banget bagian siwon nyelamatin hwayoung dari peluru walaupun agak sedikit cemburu sih ama hwayoung..

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s