Life Exchange [1st Soul]


LIFE EXCHANGE: 1ST SOUL

By:

Lil Sist

Cast:

Kris Wu

Jocelyn Kim

Annabelle Wu

Genre:

Fantasy

PG-Rating:

All ages

***

Author POV

“Aku tau kau bisa diandalkan.”

“Aku melakukan ini bukan karenamu.”

“Hahahahaha!.” Tawa renyah bergema keseluruh ruang berukuran 5×5 meter itu. “Ternyata kau tidak pernah berubah Hyo, penuh ambisius dan egoistic.”

“Jangan samakan aku denganmu. Setidaknya aku melakukan ini demi keluargaku.”

“Okay..okay..I know, Hyo.”

“Sebaiknya kau jangan berbasa-basi, sekarang berikan apa yang telah kau janjikan padaku..” pinta pria bernama Hyo itu kepada lawan bicaranya.

“Baiklah..baiklah, mahasiswa cerdas dan berprestasi sepertimu patut untuk mendapatkannya.”

***

….Putri Keluarga Wu, Annabelle Wu, menjalani rawat inap di Seoul National University Hospital

“….Annabelle Wu, Antares Wu’s sister, suffered from rare disease. Doctors still examining that disease…”

“….Apakah sakit yang diderita Annabelle Wu berkaitan dengan terpilihnya Antares Wu sebagai pemenang tender pembangunan tempat latihan militer bersama antara prajurit Korea Selatan dan Korea Utara?….”

“….Apakah Antares Wu akan tetap menandatangani kontrak dengan pemerintah?….”

Kris membanting remote televise yang kini digenggamnya. Telinganya terasa pengang mendengar semua berita tentang adiknya.

“Dad, you have to do something.”

“I know Kris, I’ll hold a press conference tomorrow. You don’t need to worry about it”

***
Author POV

10 PM. Seoul National Hospital Hall.

Blitz camera mengiringi langkah Tuan Antares Wu, Pemilik sekaligus CEO J&K Corporation, saat memasuki ruang konferensi.

“Pertama-tama saya Antares Wu mengucapkan banyak terima kasih karena saudara telah bersedia menghadiri press conference pagi hari ini.” Tuan Antares memulai pembicaraanya.

“Saya sebagai CEO J&K Corporation akan memberikan pernyataan resmi bahwa J&K Corporation akan tetap meneruskan kerja sama untuk membangun tempat latihan bersama untuk militer Korea Selatan dan Korea Utara?” lanjutnya.

“Masalah yang pribadi yang terjadi pada saya tidak akan mempengaruhi kerjasama ini. Any Questions?”

“I’m Amy Winchester from BBC News. Mr. Antares, We all know that your daughter suddenly suffered fom rare disease. Does it have any associated with this cooperation?”

“Bagaimana saya bisa menghubungkan masalah kesehatan dengan masalah bisnis? Memburuknya kesehatan putri saya sama kali tidak berkaitan dengan kerja sama ini.”

“Saya Dae-ha Kim dari Daily News. Putri Anda, Annabelle Wu, tiba-tiba jatuh sakit tepat setelah anda memenangkan tender. Tuan Antares tentu tau bahwa pembangunan tempat latihan militer bersama ini diklaim sebagai proyek besar Korea Selatan dan Korea Utara. Pernahkan Tuan berpikir bahwa ada pihak yang dengan sengaja mejatuhkan anda, dalam hal ini membuat Annabelle jatuh sakit, agar anda membatalkan kerja sama?”

“Saya tegaskan sekali lagi bahwa tidak ada pihak yang berusaha menjatuhkan saya dengan membuat putri saya sakit. Bisnis dan kesehatan adalah dua hal yang berbeda. Oleh karena itu J&K Corporation akan tetap meneruskan kerja sama yang telah disepakati, demi keprefesionalan kerja yang selama ini terus kami jaga.”

“Tapi Tuan……….”
“Terima kasih.” Tutup Tuan Antares sebelum seorang wartawan sempat menyelesaikan kalimatnya.

Dengan tenang Tuan Antares meninggalkan tempat press conference. Dia masih bisa mendengar jelas beberapa wartawan menanyakan pertanyaan yang belum sempat dia jawab.

***

‘Someone’ POV

“Antares Wu…..jadi ini maumu sebenarnya. Ini baru permulaan, putrimu tersayang tidak akan bisa sembuh begitu saja.” Seringai seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesaranya.

“Kenapa Anda begitu untuk menghancurkan Antares Wu, Tuan.” Ucap seorang pria berkacamata yang berdiri disampingnya.

“Karena pembangunan tempat latihan militer bersama dapat mejadi ancaman besar untuk bisnisku. Kau tau,jika Korea Utara dan Korea Selatan bersatu, bisnis senjata api illegalku akan mengalami kendala.”

“Ternyata kau sangat cermat Tuan. Jika mereka bersatu, konsumsi senjata illegal Korea Utara akan berkurang.”

“Kau benar. Untuk itu, aku akan melakukan apapun untuk menghancurkan J&K Corporation.” Tegas pria tersebut

***

Kris POV

3 years later

Wait for a minute”, kataku seraya mengambil Iphone yang tersimpan manis di kantong jasku

“………”

“Jocelyn-ssi, can you handle this meeting?” Terlihat jelas rona kebingungan dari wajah perempuan berusia 25 tahun yang telah setia menjadi asisten pribadiku selama 2 tahun terakhir ini.

I’ve to go to the hospital.” Ucapku utuk memecah kebingungannya.

“Ah..ne, Sajangnim.”

***

Kupacu Black Audi menembus kesibukan Seoul. Sudah berulang kali aku memacu mobilku beradu dengan waktu untuk menuju ke sebuah tempat yang tidak terasa asing bagiku, rumah sakit. Tapi rasa ini tidak pernah berubah sedikitpun, my heart is bumping so fast, my hand becomes cold, and I can’t concentrate. Aku tidak akan pernah berhasil untuk menghindari tiga reaksi tubuhku tersebut disaat-saat seperti ini.

Ciiiiiiiit……

Suara decit ban mobilku saat kuinjak pedal rem secara tiba-tiba. “Damn! Why the hell did that suck traffic light suddenly turns into red!” umpatku seraya memukul kemudi untuk menyalurkan kekesalan.

***

Bergegas kuparkirkan Black Audi ku dan menuju sebuah kamar dimana dua orang yang paling berarti dalam hidupku menunggu.

“Dad, how’s Annabelle condition?”

“Kris, kau sudah datang rupanya.”  Kulihat Daddy menarik dalam-dalam nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya.

 “Her condition is getting worst, I hope your sister can live longer.“ Kulihat sebuah cairan bening menetes dari mata tuanya. Gurat lelah terukir jelas di wajah daddy.

“Dad! Why on earth did you say something bullshit like that? She’s my strong sister, she can survive!” Saat ini juga kurasakan sebuah cairan hangat menetes, mengalir lembut di pipiku.

“Believe me, I don’t wanna lose Annabelle just like I lost your mom years ago. I’ll do anything to make Annabelle live happily. Bahkan, daddy bersedia menukar nyawa untuknya”

“Dad……….”

“It’s daddy’s fault”

***

Bau obat seketika menyeruak ketika kumasuki ruang rawat inap Annabelle. Dapat kulihat seorang gadis berumur 16 tahun terbaring lemah disana. Rambut ikal hitam sebahu itu, hidung bangir itu, bibir merah mungil itu, senyum manis bak angel itu berpadu dengan indah membentuk sebuah kecantikan yang sempurna.

Hello honey, how are you today, hum?” Kutarik kedua sudut bibirku untuk membentuk seulas senyum terbaikku.

“Never better, oppa. I just got a little ‘trouble’ today, but as you see, I am fine.” Seulas senyum manis tersungging dari bibir mungilnya.

“Benarkah? “ Kulihat gadis kecilku mengangguk kecil untuk mempertegas bahwa dia baik-baik saja.

“Sudah pasti kau harus baik-baik saja, karena kau gadis kecil Oppa.”  Kuangkat tanganku untuk mengusap lembut puncak kepalanya.

“Oppa..”

“Emm….”

“My birthday is getting closer. Can I request something as my birthday present?”

“Of course dear, tell me what you want. I’ll buy it for you.”

“This is something that you can’t buy with money, oppa.”

“Uhh? Di dunia ini apakah ada hal semacam itu?” Kuletakkan jari telunjukku dagu, kubuat ekspresi agar mengesankan aku sedang berpikir keras.

“Ya! Oppa. Stop doing that kind of expression. Itu sungguh menggelikan” Ucap Annabelle seraya memukul ringan tanganku. “Tentu saja ada, Oppa.”

“Jika bukan dengan uang, dengan apa aku harus membayarnya?.” Sekali lagi kuletakkan jari telunjukku di dagu,  kukeluarkan ekspresi yang sama dan sedikit aegyo.

“Aigoo, Oppa, please stop doing that. Kau sudah berumur, jangan coba-coba untuk mengeluarkan aegyo.”

“Cih, walaupun Oppa sudah berumur, tapi lihat…Oppa masih terlihat tampan bukan? Jadi katakan dengan apa aku harus membayarnya.”

“Time.” Ucap Annabelle singkat

“Uh? Time?”

“Yup. I don’t need your money, I just need your time. I wanna spend the rest of my life with daddy and Oppa.”

Deg. Kurasakan desiran kuat didadaku. Saat ini, aku bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

“….aku hanya ingin itu Oppa, I wanna Oppa and daddy’s time. I will also ask God to give me more time as my birthday present.” Senyum kecil kembali tersungging dari bibir Annabelle.

Sekali lagi kurasakan desiran di dadaku, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Untuk sesaat aku terlalu bingung reaksi macam apa yang harus kukeluarkan untuk menanggapi semua yang dikatakan Annabelle.

Ehh…of course dear, tanpa kau mintapun Oppa dan daddy akan selalu memberikan waktu yang berharga kami untukmu.”Entah sudah berapa kali kutarik paksa kedua sudut bibirku ini untuk memberikan Annabelle sebuah senyuman.

***

Jocelyn POV

Knok knok knok. Ku ketuk pintu kantor atasanku. “Masuk.” Ucapnya setengah berteriak. Perlahan kumasuki ruang kantor Kris-ssi.

“Ini berkas-berkas hasil rapat kemarin, Sajangnim.” Kuletakkan tumpukan berkas di meja yang berdiri kokoh di hadapanku.

Okay. Terima kasih karena kau telah membantuku, Jocelyn-ssi”

“Sudah menjadi tugas saya untu selalu membantu ,Sajangnim. Emm. I’m sorry Sajangnim, Are you okay? Sajangnim terlihat sangat kacau hari ini.”

“I’m fine, Jocelyn-ssi. Nothing should be worried.” Ucapnya sembari mengangayunkan tangan ke udara dan terkekeh ringan.

“Apa saya harus membatalkan meeting hari ini, Sajangnim”

“Why.”

“I think you have to take a rest for a while. Pergilah ke suatu tempat dan tenangkan pikiran Anda.”

“Perlukah aku melakukan itu?”

Aku menganggukan kepala sebagai tanda bahwa aku benar-benar yakin dengan ucapanku tadi.

“Tapi banyak laporan yang juga harus aku periksa. Selain itu…..”

I’ll handle all of the matters here, Sajangnim.” Sergahku sebelum pria itu mengeluarkan segudang alasannya untuk menolak tawaranku.

Kulihat CEO muda itu menyandarkan punggungnya ke sandaran empuk kursi kerjanya.

“I know I can count on you, Jocelyn-ya. I’ll take your offer.”

***

Kris POV

Kukemudikan perlahan mobilku. Entah kemana aku akan membawa diriku untuk sementara menghindar dari pikiran-pikiran yang selama ini menggangguku.

Deburan ombak terdengar riuh ditelingaku. Hamparan pasir putih berpadu dengan indahnya dengan birunya laut. Lengkungan biru horizon menambah indah pantai yang terletak paling dekat  dari Seoul ini. Kubiarkan anganku menyatu dengan hembusan angin yang dengan lembut meniup setiap anak rambutku.

1 jam…

2 jam…

3 jam…

4 jam…

Kubiarkan tubuhku berdiam mematung disini selama berjam-jam. Nothing I can think right now, just me and myself. Kulepaskan semua kerinduan dan sesak yang selama ini mengurungku. Anganku melayang jauh ke waktu dimana Ann, nama kecil Annabelle, masih bisa menyunggingkan senyum tanpa beban apapun.

***

“Oppa! You are so handsome.” Ann menggelayut manja di lenganku.

“I know.”

“Oppa! You are so so so handsome.” Ann mulai mengeluarkan aegyo andalannya.

“Ehem, I know. So, tell me what do you want.”

“I wanna go to beach tommorow…”

“So………….”

“So, you have to accompany me, daddy won’t let me go by myself.” Ucap Ann manja seraya mengedip-edipkan kedua matanya.

“I won’t.” Kugelengkan kepalaku, kembali kualihkan pandanganku ke sebuah tabloid otomotif yang sedang aku baca.

“Why? You will be more handsome if you accompany me to go to beach.” Ann mulai menarik-narik kecil lengan kemejaku.

“Aku sudah handsome jauh sebelum kau lahir, dan tanpa menemanimu ke pantai pun aku sudah handsome.”

Ann mulai menggembungkan pipi chubby-nya. Dia terlihat cute dengan ekspresi seperti itu. Ku tangkupkan tanganku di kedua pipi Annabelle, lalu kugeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Rambut kuncir dua Ann ikut bergoyang kesana dan kemari. Itu membuatnya tampak lebih cute.

“Are you mad to me, dear.”

“Tentu saja.”

“I’ll change my answer if you give me a present.”

“Jinjja. What should I give to you oppa?”

“Kiss me.” Tunjukku pada pipi sebalah kanan

Cup. Ann mengecup pipiku singkat.

“Sudah.” Katanya singkat.

“You forget something, dear.”

“Huh..What is it?”

Lalu kutunjuk pipi sebelah kiriku. “ This cheek wanna get a kiss from you too.”

Sekali lagi Annabelle mengecu pipiku singkat. “Pipi kiri, sudah. Pipi kanan juga sudah. Ummmm, kening oppa juga ingin dicium olehmu.” Kutundukkan kepala agar Annabelle dapat mencium keningku dengan mudah.

“Ya! Oppa, I have kissed you twice.” Protes gadis kecil yang sedang duduk di sampingku ini.

“Jadi, kau tidak mau mencium kening oppa. Okay, I won’t accompany you to go to beach.” Kusilangkan kedua tanganku di dada, dan kupasang ekspresi marah.

Okay..okay I’ll kiss your forehead.”

Kembali kutundukkan kepalaku.

“Sudah. Jadi oppa akan menemaniku ke pantai kan?”

Kugelengkan kepalaku, kuangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya di udara. “Give me one more kiss.” Godaku

Annabelle kembali menggembungkan pipi chubby-nya. “Dimana lagi harus menciummu oppa?”

“Here.” Tunjukku di bibir.

“What! No, I won’ do it!” teriak Annabelle.

“Hahahaha…” tawaku renyah. Ku acak pelan poni yang menutupi keningnya. “You are too cute dear. Okay, I’ll accompany you.”

Thank you oppa, you’re the best oppa ever.” Ucap Annabelle dengan memelukku.

***

Pikirku kembali melayang ke realita yang harus aku hadapi. Tapi lihat sekarang, semua keadaan telah berbanding terbalik. Annabelle bahkan dia tidak dapat bermain dengan teman sebayanya. Dia terlalu rapuh.

Dia harus menjalani serangkain kemoterapi dan transfusi trombosit setiap dua hari sekali. Nothing I can do except protects her tightly. Sebagai seorang oppa aku merasa gagal untuk melindunginya, sudah kesekian kali Annabelle harus keluar masuk rumah sakit karena keadaanya yang semakin menurun akhir-akhir ini. God, please save my little angel.

***

Matahari mulai beranjak dari peraduannya dan meninggalkan sebercak cahaya keemasan di ufuk timur. Hari mulai gelap dan Kris masih tetap mematung bersama angannya.

“Annyeonghaseyo Agassi” sapa sesorang dari balik punggungnya

“Ah…annyeonghaseyo”

“Bolehkan saya duduk sini” tunjuk pria itu pada space kosong disamping Kris

“Ye, silakan..”

“Sudah berjam-jam Agassi berada disini sendiri. Masalah tidak akan selesai jika Agassi hanya duduk berdiam sepanjang hari.”

Kalimat tersebut tak ayal membuat refleksnya bekerja, dia secara refleks menoleh pada pria yang berumur sekitar pertengahan 20an tersebut. Raut bingung terlukis jelas di wajah tampan seorang Kris Wu.

“Hahaha…Agassi tidak perlu memasang wajah tegang seperti itu. Saya sudah bertahun-tahun tinggal disini, jadi saya tau benar jika seorang CEO muda seperti Agassi datang sendiri dan berdiam diri sehari penuh di pantai ini jika bukan untuk memikirkan sebuah masalah.”

“Tapi, bagaimana Agassi tau jika saya adalah seorang CEO?” Lagi-lagi perkataan pria tersebut membuat Kris terhenyak.

“Siapa yang tidak kenal orang sepenting Anda, Kris Wu-ssi. Seorang CEO muda, pewaris utama J&K Corporation.”

“Ah…arraseo.” jawab Kris singkat.

“Apa Anda pernah mendengar tentang life-exchange, Kris-ssi.”

Life-exchange? Yah…aku pernah mendengarnya beberapa kali. Waeyo ?”

“Apa Agassi percaya?”

That’s just a myth, I don’t believe it.”

“Bagaimana kalau hal tersebut benar-benar ada?” ucap pria bermata cukup besar dan bergaris hidung tinggi tersebut tanpa menoleh sedikitpun pada Kris.

“Aku tetap tidak percaya hal tersebut benar-benar ada. I’m an educated person, I don’t believe on myth. Bagaimana dengan Agassi, apa Agassi percaya?”

“Saya akan menjawab ‘ya’ pada pertanyaan yang Agassi ajukan.”

“Berikan aku alasannya.”

“Saya tidak menutup mata terhadap kejadian yang terjadi disekitar saya, termasuk keajaiban dan misteri. Tidak ada satu orangpun yang yakin bagaimana dunia yang menyimpan segudang misteri ini diciptakan, tidak ada satu orangpun yang tau kapan maut akan menghampiri mereka. Semua itu adalah contoh keajaiban dan misteri, Kris-ssi. Saya dapat bertemu dengan orang seperti Agassi juga sebuah keajaiban.”

“Hahahaha..” Kris terkekeh ringan. “Saya rasa Agassi dapat bertemu dengan saya merupakan sebuah kebetulan, bukan keajaiban. Saya sama seperti Agassi, saya hanya manusia biasa, tidak ada yang istimewa dari saya.”

“Apakah Kris-ssi yakin jika saya dan Anda sama? Saya malah tidak yakin dengan hal itu.”

“Hanya centimeter yang membedakan saya dengan Agassi, selebihnya kita sama.” Canda Kris.

“Anda benar Agassi, Agassi memang jauh lebih tinggi dari saya.” Timpal pria tersebut seraya tersenyum kecil.

“Ada satu lagi perbedaan kita, kita mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam memandang suatu masalah. Aku lebih percaya pada ilmu pengetahuan, sedang Anda lebih percaya pada keajaiban dan misteri. Jadi kesimpulannya, aku tetap tidak percaya pada life-exchange.”

“Itu hak Agassi untuk percaya atau tidak, saya akan berada disini jika Agassi membutuhkan saya. I’ll go first.

Kris tetap terpaku ditempatnya. Angin semilir bertiup ringan seiring beranjaknya pria tersebut.

“Agassi tunggu……….” Teriak Kris, tapi nihil. Pria tersebut sudah menghilang dari pandangan.

***

Life-exchange….Life-exchange….” Kris berucap pada dirinya sendiri sembari memainkan cup coffee yang telah kosong.

“Kris-ssi?” suara lembut memecah sementara konsentrasinya.

“Jo-ya, come here…” Kriss memanggil gadis yang kini tengah berdiri dibelakangnya, Jocelyn.

“What are you doing here Kris-ssi, at office rooftop?”

I’ve told you for many times, call me Oppa whenever we aren’t on work.”

“But we are in office, Kris-Wu-ssi.” Tekan Jocelyn pada setiap kata terakhir yang diucapnya.

It’s a break time Jo-ya, so call me Oppa.” Kris menarik gadis tersebut sehingga dia tepat menghadap kearahnya.

Call me Oppa.” Tandas Kris. Kris menatap tajam tepat di mata coklat milik Jocelyn.

Okay…okay…you win, Oppa” Jocelyn menyerah. Dia tidak akan pernah bisa menghindar dari tatapan tajam, sekaligus memesona, milik Kris. Hatinya luluh setiap Kris memberikan tatapan itu padanya.

What are you doing here Kris-Wu-Op-pa?” Sekali lagi Jocelyn menekan setiap suku kata di akhir kalimatnya.

Nothing, just chillin.”

Just chillin? But a couple minutes ago I heard that you talk to yourself. Tell me, what are you thinking about?

Kris menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan gadis yang hampir selama satu setengah tahun ini mengisi ruang kosong di hatinya. Dia tahu benar bahwa tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari kekasihnya tersebut. Jocelyn dapat membaca setiap perubahan terkecil dari ekspresi wajah Kris.

“Baiklah aku menyerah.” Kris mengangkat kedua tangannya ke ruang kosong di udara, bertindak seolah-olah buronan yang tak sanggup melarikan diri lagi.

“Kau tahu life-exchange?” sambungnya

Life-exchange..err…aku tidak tau?” Tanya gadis itu dengan penuh keragu-raguan

Yeah life-exchange. Kau belum pernah mendengarnya sama sekali?”

Jocelyn mengangguk mantap untuk menjawab pertanyaan Kris.

“Bisa dikatakan bahwa life-exchange adalah sebuah mitos. Kau dapat bertukar nyawa dengan orang lain, yah…mereka bilang seperti itu. Tapi itu hanya mitos dan tidak akan mungkin terjadi.”

“Benarkah? Tapi……”

Kris mendaratkan ciumannya di bibir gadis tersebut sebelum Jocelyn sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia melumat bibir merah Jocelyn, membuat Jocelyn lemas tak berdaya. Secara reflex Jocelyn mengalungkan kedua tangannya di leher kekasihnya, untuk membantunya agar tetap berdiri. Dengan berlahan Kris melepaskan ciumannya pada Jocelyn.

The time is out, honey. It’s time to work again.” Kris melirik sekilas arloji yang melingkar sempurna di tangannya, angka menunjukkan tepat pukul 1 pm. Kembali dia mencium bibir Jocelyn, hanya sebuah ciuman singkat.

“Anggap ini sebagai morning kiss, yeah even though it’s too late.”

How about….” Ambang Jocelyn ditengah kalimatnya

The first kiss? Anggap itu sebagai hukumanmu karena telah memanggilku dengan sapaan formal diluar jam kerja. Kajja.”

Kris merangkul pinggang Jocelyn, membimbing gadisnya untuk memasuki kantor.

***

“Annyeong hasimnika, Suho-ssi.” Sapa Kris pada rekan kerjanya

“Annyeong hasimnika, Sajangnim. Saya membawa proposal dari Han Corporation.”

“Han Corporation? Salah satu perusahaan property terbesar di Korea.”

“Anda benar, Sajangnim. Mereka meminta J&K Corporation untuk membangunkan 5 kantor cabang baru. Mereka tidak tanggung-tanggung menggelontorkan dana triliyunan won untuk proyek ini Sajangnim.”

Kris tampak mengetuk-ketukkan ujung penanya ke meja. Dia berpikir.

“Tolak proyek ini, Suho-ssi.”

“Sajangnim, ini adalah proyek besar. Kita bisa mendapatkan keuntungan besar dari proyek ini.” Suho berusaha meyakinkan atasannya.

“Kita bekerja di bidang yang tidak hanya mementingkan keuntungan, Suho-ssi. Kepuasan dan keselamatan pelanggan adalah prinsip utama kita. Masih banyak proyek yang belum kita selesaikan.”

“Aku mengerti, Sajangnim. Aku akan mengembalikan proposal ini ke Han Corporation. Saya permisi, Sajangnim.”

“Tunggu Suho-ssi, tolong sampaikan permintaan maafku kepada Han Corporation.”

“Baiklah, Sajangnim.” Suho setengah membungkukkan badan dan meninggalkan ruangan Kris.

***

Author POV

“Tuan, J&K Corporation menolak proposal yang telah kita ajukan. Selain itu, Kris-ssi juga menyampaikan permintaan maafnya”

“Benarkah?”

“Benar, Tuan. Berani-beraninya mereka menolak proposal kita.”

“Apa yang harus saya lakukan, Tuan.”

“Young Wan, segera hubungi J&K Corporation, katakan aku ingin bertemu secara langsung dengan CEO mereka.”

“Baik, Tuan.”

Pria yang yang dipanggil Young Wan membungkukkan diri, dan segera melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Tuannya.

“Kris Wu. Berani-beraninya kau menolak tawaranku. Kau sama dengan ayah yang selalu kau banggakan itu. Like father, like son

“Aku akan segera memulainya, Kris. Jangan harap kau bisa menghindar.” Seringain kecil terbentuk di sudut bibir pria tersebut.

***

TBC

Annyeong, yeorobun. ‘Lil sisit here…

Jujur, ini adalah FF pertama yang aku buat. Arsvio eonni terus maksa aku untuk menelurkan sebuah FF. Katanya, klo aku udah terbiasa nulis dari sekarang, itu memudahkan buat nulis skripsi. Padahal aku masih semester 3 *tuiltuil telunjuk*

Cast awalnya aku mau pake oppa kita bersama yang paling ganteng, Cho Kyuhyun | Kyuhyun: *angkat tangan* itu..aku..itu..aku|. Tapi arsvio eonni terus bilang kenapa aku gak ngebuat FF EXO aja. Huuuuh…habis itu baru aku ganti cast nya jadi Kris gege | Kyuhyun: minta di timpukin mercon ni bocah|. Kenapa aku pilih Kris gege? Karena dia ganteng..Hahahah. Gak tau kenapa aku suka banget sama Kris gege, padahal pas awal-awal EXO aku pernah bilang klo Kris gege itu…….errr….gak gitu ganteng. Kena karma kali yak…

Yaudah segitu aja pidato saya. Maaf klo kata-kata yang aku gunakan masih kaku dan belum sedramatis kata-kata yang di pake Arsvio eonni  dan maaf klo alur yang aku pake masih berantakan*deeb bow*

Chu…..*tarik Kris gege*

34 thoughts on “Life Exchange [1st Soul]

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s