Svyataya Zemlya


Svyataya Zemlya

By: Arsvio | Genre: Fantasy | Cast: Brielle Choi (OC), Jayden Cho (Kyuhyun Cho, SJ) | Rate: PG-16

Svyataya Zemlya: tanah suci

Nymph: peri (English)

Cavaler: ksatria (Rumania)

Noble: bangsawan (Prancis)

Prensler: pangeran (Turki)

Prenses: putri (Turki)

Kral: raja (Turki)

Kralice: ratu (Turki)

Elev: pelajar (Swensk)

Suram, satu kata itu cukup menggambarkan bagaimana aura di dunia itu. Sayap-sayap mereka terkatup, kaki mereka menapak dinginnya tanah, kepala mereka tertunduk. Isak-isak cukup jelas terdengar di antara nyanyian sendu cantant yang terbang mengiringi sosok ayu yang telah terbujur kaku. Cantant, peri nyanyian berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa dengan sayap bewarna keemasan, terus menyenandungkan kidung lara. Enam pengiring dengan jubah bertudung bewarna putih menjaga tangannya terangkat di sisi tubuh. Menjaga agar sosok ayu itu mengambang di udara.

Mahkota berlian yang dikenakan, hari ini, sama sekali tidak terlihat bersinar. Redup seiring tubuh sang putri memasuki ruang penghormatan. Tidak ada air mata, hanya kepedihan yang tergambar jelas di wajah tuanya. Tangannya mencengkeram kuat tongkat kebesaran, menjaga tubuhnya agar tidak limbung. Kral Yoseph.

Berbeda dengan wanita di sampingnya, air mata tak kunjung menyusut. Bibirnya bergetar, tangannya terangkat untuk meredam isakannya. Hatinya terasa dihujam hingga hancur. Seharusnya seorang anak yang menghantarkan pemakaman orang tua, tapi ini tidak. Semakin dicengkram dadanya saat tak kuasa menahan perih. Kralice Evelyn.

Wajah tampannya ternoda dengan setitik air mata. Namun dia sama sekali tak berniat menghapusnya. Tetap dibusungkan dadanya, menghormati hidup sang adik yang telah menoreh jasa. Rahang tegasnya terkatup sempurna, memperlihatkan wajah wibawanya. Prensler Andrew.

Laksana dinginnya bulan januari, green eyes gadis itu menatap tajam iring-iringan duka. Tak ada seberkas pun air mata yang keluar, namun mimiknya tak lantas membaik. Bibirnya tertutup kaku. Kepalan tangan di kedua sisinya mengerat. Prenses Brielle.

***

“Segel telah dibuka, darah cavaler dan nymph bersatu.”

“Perkuat kristal selubung.”

“Sia-sia, kekuatan blackeas semakin membesar.”

Cavaler berkhianat, mereka membunuh Prenses Yvone demi memusnahkan dunia kita.”

“Umumkan perang pada cavaler, persekutuan kita berakhir.”

“Tidak bisa, kekuatan kita tersedot untuk mempertahankan kristal selubung.”

“Maka izinkanku untuk menyusup.”

Semua tatapan terarah pada sumber suara terakhir. Mendapati  gadis cantik bermata hijau itu berdiri dari duduknya. Menatap penuh keyakinan semua yang hadir disana. “Darah dibayar darah. Pengkhianatan tak termaafkan. Izinkan aku membunuh seorang cavaler untuk dipersembahkan pada blackeas.”

“Prenses Brielle…” sang ratu langsung menegapkan badan. “Tidak putriku, aku menentangnya!”

Semua punggung menyandar di sandarannya. Mata-mata penuh ambisi meredup. Mulut-mulut terkatup dari perdebatan.

“Kenapa hanya diam! Aku tidak ingin kehilangan putriku untuk kedua kali.”

“BRIELLE! Tinggalkan ruangan ini dan kurung dirimu di kamar untuk merenung!” Kral Yoseph mengacungkan telunjuknya. Dia murka sekaligus sedih.

“Your majesty.” Brielle melangkah ke tengah ruangan dan berlutut. “Bulan purnama segera tiba, kekuatan para nymph akan surut kecuali light nymph—“

“Prensler Andrew!” teriak Kral Yoseph untuk memotong ucapan Brielle. “Bukan kau yang akan mengemban tugas ini, tapi dia. Ini keputusanku.” Dia membalik badannya untuk meninggalkan ruangan. Namun tertahan.

“Prenses Brielle.” Terdengar suara bass yang familiar di telinga Brielle, dan dia siap untuk membantah kakaknya tersebut. Namun di luar dugaan, Andrew telah di sampingnya, ikut berlutut. “Izinkan dia yang mengemban tugas ini, Your majesty.”

Brielle menolehkan kepalanya ke samping. Kakak adik ini saling menatap. Berkomunikasi dengan pikiran mereka, hingga Andrew mengangguk untuk memutuskan kontak. “Prensler Andrew akan tetap di Utopia. Hanya kekuatannya sebagai light nymph yang bisa diandalkan untuk menjaga Kristal selubung di saat kekuatan para nymph menyusut,” alasan Brielle.

Kral Yoseph masih enggan memandang putra-putrinya. Dia memejamkan mata dan mendesah. Diayunkan tangannya di udara sebelum dia meninggalkan aula tersebut dengan amarah.

***

Brielle meringis saat merasakan panas di punggungnya. Tak pernah menyangka bahwa mantra pelenyap sayap bisa sesakit ini. Bukan lenyap untuk menghilangkan sayap selamanya, tapi hanya menghilangkannya secara kasat mata. Perlahan sayap indah Brielle tertekuk teratur dan merapat ke arah punggungnya, kemudian menghilang seolah menembus punggung. Ada jejak keunguan seperti tattoo di tempat hilangnya sayap itu.

“Aku adalah kakak terburuk.” Andrew memutar tubuhnya menghadap Brielle setelah menyelesaikan mantranya untuk sayap Brielle. Dia menatap sendu sang adik. “Mengirim adiknya ke dalam bahaya,” bibirnya tersenyum getir.

“Prensrel Andrew…” Brielle melembutkan tatapannya dan tersenyum. “Kau adalah kakak terbaik.” Dia merangsek untuk memberikan pelukan. “Berjanjilah untuk bertahan demi Utopia.”

“Dengan segenap jiwaku, Dear.” Andrew balas memeluk. Mengelus punggung sang adik dan merasakan desir perih saat dia tidak lagi menemukan sayap indah Brielle. “Dan berjanjilah untuk kembali lagi.” Dia melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Brielle. Memberikan kecupan di kening, ujung hidung, dan bibir adiknya.

Brielle mengangguk, meski dia meragukan kesanggupannya untuk memenuhi permintaan Andrew. “Aku menyayangimu.” Dia berjinjit dan bertumpu di pundak Andrew untuk mengecup pipi sang kakak.

“Aku juga menyayangimu, Brielle.”

***

Brielle memandangi bentangan areal latihan cavaler yang sangat luas. Dia mengerdarkan ke seluruh penjuru, benteng tinggi yang kokoh mengelilingi areal itu; beberapa pedang, tobak, panah, dan sejenisnya tersusun rapi di beberapa sudut; para elev tersebar di segala penjuru untuk berlatih.

Hampir setengah hari mereka berlatih, Brielle menekuk lututnya dan menggunakan pedang untuk menyangga bobotnya. Nafasnya terengah-engah. Dengan satu sapuan, dia membuang peluh di dahinya. Sembari mengatur nafas, kepalanya mendongak dan memerhatikan sejumlah penjaga yang hilir mudik di atas sana. Dia mempertajam penglihatannya saat menangkap sosok yang berpakaian berbeda dengan yang lain.

Sosok lelaki itu nampak gagah dengan balutan serba hitam. Sebilah pedang bertengger di pinggang sisi kirinya. Untaian seperti manik-manik yang tersemat di dada depan cukup menjadi bukti kecil bahwa orang tersebut berkedudukan. Dia mensedekapkan kedua tangannya di dada dan memerhatikan keseluruhan arena.

“Dia Jayden Cho, pemimpin cavaler sayap kanan yang baru.” Suara seorang gadis mengakhiri tatapan menghujam Brielle ke arah lelaki tersebut. “Hi, aku Tiffany Hwang,” sang gadis mengulurkan tangan.

Brielle berdiri lalu menyambut tangan teman barunya. “Brielle Han.”

“Kau elev baru?”

Brielle mengangguk dan tersenyum singkat. “Apakah dia sering kesini?”

“Maksudmu Tuan Jayden?” Tiffany meletakkan busurnya di penyangga. “Eumm…yah lumayan sering. Terkadang malah dia turun tangan untuk mengetes kemampuan para elev.” Dia mangut-manggut. “Tapi kuharap itu tidak terjadi padamu.”

“Kenapa?”

“Tuan Jayden tak segan-segan membunuh lawannya.”

“Meski itu elev?”

“Ya. Dia berkata tak ada tempat untuk yang lemah di sini.”

Brielle kembali melayangkan tatapannya ke atas. Jayden Cho. Tanpa disadari tatapannya menghujam ke arah Jayden. Dia sangat tahu betapa tangguh pasukan khusus dari bangsa cavaler yang menjaga noble. Ada dua kesatuan utama, yang tidak diragukan kekuatan dan kebengisannya. Pasukan cavaler sayap kanan dan sayap kiri.

Tangannya semakin terkepal saat teringat peristiwa yang menimpa Prenses Yvone. Dia melihat sendiri dari kejauhan, bagaimana sang kakak dibunuh saat terjadi perundingan antara cavaler dan nymph. Sebenarnya dua bangsa ini bersekutu melindungi nobel, gabungan kekuatan ksatria dan peri sungguh dasyat. Tapi entah apa yang terjadi hingga pertemuan wakil dari kedua bangsa ini berakhir tragedy. Dan wajah itu, Brielle yakin, berada diantara para cavaler. Dia bahkan tidak menurunkan intensitas tatapannya ketika matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Jayden.

“Brielle…” sentuhan Tiffany di pundaknya menyadarkannya. “Sepertinya kau mendapat masalah…” lirihnya saat melihat Jayden lenyap dari tempatnya.

“Ambil pedangmu, Nona.”

“Dia elev baru, Tuan,” bela Tiffany sembari menunduk memberi hormat.

“Maaf Tuan Jayden, aku mentornya. Dia baru saja bergabung pagi ini,” Spencer, mentor Brielle, menyusup masuk diantara ketiga orang.

“Pernahkah aku mencabut tantanganku?” tanya retoris Jayden. Dia tetap mempertahankan posisinya yang tengah menghunus pedang.

Spencer memposisikan tubuhnya di depan Brielle. “Saya mohon, Tuan. Dia masih di bawah tanggung jawab saya.” Dia masih mengusahakan pengampunan bagi murid barunya.

Jayden mendekat, menyentuh pundak Spencer. “Minggir, atau lima elevmu harus menghadapiku hingga salah satu dari kita mati,” bisiknya tajam di telinga Spencer. Tangan Jayden menyikirkan tubuh Spencer ke samping. Dia mengangkat pedangnya. “Ayo kita mulai.”

Brielle memutar tubuhnya ke samping, tanpa keraguan, dia menatap tajam Jayden. Ada emosi yang meletup-letup di dirinya. Sekejap mata, tubuhnya berputar untuk menyabitkan pedang.

Jayden tak menggeser kakinya, dia meladeni serangan demi serangan yang dilancarkan Brielle. Dentingan pedang mereka yang beradu menjadi satu-satunya bunyi di arena itu karna elev lain menghentikan latihannya dan memilih menonton. Jayden melengkungkan punggungnya ke belakang saat pedang Brielle menebasnya dari depan sejajar dadanya. Dia dapat merasakan gerakan angin di sampingnya saat tubuh Brielle melaluinya. Dengan cekatan, sebelah tangannya meraih perut Brielle, dan melemparkannya.

Brielle mengubah dorongan akibat lemparan Jayden menjadi kekuatan untuk melentingkan tubuh. Dia mengerem laju tubuhnya dengan pedang yang ditancapkan ke tanah. Dengan menumpukan tubuhnya di pangkal pedang, Brielle mengayunkan tubuhnya untuk memberikan tendangan.

Sayang, kakinya dengan mudah ditangkap Jayden. Dia memelintir kaki Brielle, tapi belum sempat itu terjadi, pedang Brielle sudah menyapanya. Tersentak, Jayden mundur. Dia mengamati Brielle dengan seksama. Paras gadis itu yang meski kotor terkena debu dan keringat, tetap terlihat memesona. Mata hijau Brielle yang meski terlihat damai tapi menatapnya tajam. Dia mengayunkan pedang untuk memberikan serangan.

Brielle menangkis serangan tersebut dan berkelit ke kiri. Dia melakukan salto saat Jayden menyerangnya dengan bertubi-tubi. Dan tanpa disadari, tangan Jayden yang bebas meraihnya. Menghentikan kecepatannya untuk menghindar.

Pedang Jayden melintang di leher Brielle. Dia menyeringai penuh kemenangan. Sekali tebas, maka habislah sudah. Jayden sedikit memberikan tekanan hingga darah merah merembes mengotori pedangnya.

Namun, di saat kritis itu pun, alih-alih memejamkan mata, Brielle malah memandang dalam Jayden. Dia mengeraskan ekspresinya.

Dan saat semua nafas orang-orang yang menyaksikan tertahan, tak ada yang menyangka bahwa Jayden menarik pedangnya. Dia menurunkan pedangnya. “Kita bertarung satu bulan lagi, nona…” Jayden menggantungkan ucapannya karna tak tahu mesti memanggil apa.

“Brielle,” tegas Brielle.

“Nona Brielle.” Jayden memberikan seringaian khasnya sebelum meninggalkan arena.

***

“Hei, anak gadis apa yang kau lakukan di sini? Keluarlah, ini pesta kalian!” tuan Han menyapa Brielle yang tengah duduk sambil membaca bukunya.

“Aku tidak memiliki hasrat untuk mengikuti festival macam ini,” Brielle memberikan senyum singkat tanpa mengalihkan tatapannya pada buku.

“Eiy, akan ada banyak pemuda di sana. Siapa tahu salah satu mereka adalah jodohmu,” rayu tuan Han agar Brielle mengankat pantatnya dari kursi kayu oak itu.

Brielle menengus sebal dan menatap ayahnya, ayah yang disihirnya, dengan memohon. Ya, dia memasukkan kenangan palsu pada pasangan suami-istri Han yang sebenarnya tidak mempunyai anak. “Aku masih berumur 20 tahun, dan baru saja bergabung menjadi elev, Ayah. Sama sekali tidak berniat dengan festival bodoh seperti itu.” Ada suatu tradisi yang berlangsung setahun sekali di mana pemuda-pemudi cavaler saling mencari jodoh. Suatu festival besar diadakan di jalanan, dimana mereka berbaur bersama, berdansa, makan malam romantis, berciuman, dan hal lain layaknya kekasih.

“Kudengar, pasukan sayap kanan maupun kiri ikut bergabung di festival tahun ini. Yah, memang sudah waktunya bagi mereka untuk mencari pasangan,” hasut Tuan Han. Bagi gadis cavaler, adalah suatu kehormatan jika bisa bersanding dengan salah satu pasukan khusus. Hey! Siapa tidak mau untuk menikahi pria tampan dan berilmu tinggi seperti mereka.

“Benarkah?” Brielle Nampak tertarik. Mungkin ini bisa menjadi peluang untuknya supaya bisa mengorek keterangan sebanyak mungkin tentang pasukan cavaler.

“Kemarikan tanganmu, gadis nakal,” canda Tuan Han. Dia mengusap pergelangan tangan Brielle sambil mulutnya berkomat-kamit membaca mantra univias. Sebuah mantra hadiah dari kral terdahulu untuk bangsa cavaler. Mantra unik yang menyatukan dua hati. “Selesai. Sekarang berdandanlah.”

Brielle menggelung rambut panjangnya. Dia mengenakan dress bewarna peach, yang jatuh pas di atas lutut. Tangan kirinya mengelus tattoo yang melingkari pergelangan tangan  kanannya. Bibirnya tersenyum kecut. Dia tidak peduli dengan tattoo itu, yang benar saja, dia seorang nymph. Tidak mungkin seorang cavaler akan menjadi jodohnya. Belum ada sejarah pernikahan nymp dan cavaler.

***

Jalanan ramai dengan pesta. Pemuda yang beruntung akan menemukan jodohnya. Gelang univias akan berpendar merah jika seorang itu dekat dengan jodoh mereka. Saat itu terjadi, akan terbentuk benang merah yang menuntun pada gadisnya.

Brielle menyusup diantara kerumunan. Matanya dengan cermat mengamati sekeliling. Banyak lelaki cavaler yang mendesah kecewa saat Brielle melewatinya. Tentu saja itu karena univias mereka yang tidak menyala. Langkah Brielle semakin cepat untuk mendekati kediaman pasukan cavaler. Dia mengamati sekeliling, kemudian melentingkan badannya melewati tembok. Dipelankan langkahnya untuk menyusuri atap. Dengan ekstra hati-hati, dia meloncat turun.

Brielle merapatkan badannya. Menguping beberapa ruangan. Namun dia belum menemukan suatu petunjuk. Hingga dirinya tiba di samping sebuah ruangan yang terlihat terang karena pancaran lampu dari dalamnya.

“Kematian Tuan Dennis tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

Noble telah menyusun siasat perang terhadap nymph. Sungguh disayangkan harus berakhir seperti ini.”

“Tapi bagaimana dengan persekutuan bangsa nymph dan cavaler yang sudah berlangsung berabad-abad?”

“Mereka telah berkhianat. Prenses Yvone memasang jebakan.”

Mata Brielle membulat, tangannya terkepal. Dia semakin merapatkan telinganya di tembok. Hingga tanpa disadari, sebelum dia sempat menghindar, sebuah tangan melingkar di perutnya dari arah belakang. Dia tidak mungkin melawan karna pastinya akan menimbulkan keributan.

“Menikmati waktumu, Nona Brielle?” bisik seseorang tepat di telinganya. Orang itu menyeret dan membekap mulut Brielle. Setelah cukup dirasa aman, dia menghempaskan tubuh Brielle.

Nafas Brielle tercekat. Lidahnya tak dapat mengartikulasikan kata. Sepertinya akan sia-sia jika melawan orang itu. Mungkin Brielle unggul dalam kecepatan, tapi kekuatannya di bawah lelaki itu. Dia sudah merasakan sendiri dua hari lalu melalui adu pedang.

“Apakah selain menatap petinggimu dengan tidak sopan, kau juga memiliki hobi menyelinap?” sinisme Jayden. Dia mensedekapkan tangannya di depan dada.

Brielle membuang muka. Enggan meladeni lelaki tersebut. “Itu sama sekali bukan urusanmu!” desisnya tajam.

“Kau tertarik dengan peristiwa terbunuhnya Tuan Dennis Park?” tanpa menunggu Brielle membuka mulut, Jayden tahu jawaban gadis tersebut. “Tanpa kau menyelinap, Mentormu akan memberitahukannya di kelas sejarah.”

“Maaf, jika tidak ada urusan, saya pergi.” Brielle hampir melangkah pergi.

Nymph mengkhianati persekutuan kita. Prenses Yvone membunuh Tuan Dennis dengan jala beracunnya.”

Brielle menoleh. “Bagaimana mungkin?”

“Aku berada di sana saat Tuan Dennis terbunuh. Jaring berpendar mirip sarang laba-laba dibuat oleh Prenses Yvone. Biasanya perjanjian disimbolkan dengan ikatan jaring tersebut.” Jayden meletakkan kepalan tangan kanannya untuk menyangga dagu, sedangkan tangan kirinya meyilang di depan perut. “Tapi tiba-tiba prenses memantrai jaring itu hingga mencekik Tuan Dennis.”

Brielle Nampak berpikir. Kemarahannya hilang ketika mendengarkan cerita tragedy itu melalui versi bangsa cavaler. Ada sedikit kejanggalan di sini. “Dan sekarang noble serta cavaler berencana melakukan penyerangan pada nymph?” untungnya dia berhasil menyembunyikan kegugupannya.

Jayden mengerutkan dahinya. Dia melirik tajam Brielle. “Kau terlalu ikut campur, Nona.” Jayden berjalan mendekat, mempersempit jaraknya dengan Brielle. “Aku bahkan tidak pernah percaya dengan tradisi univias, tapi yah, festivalnya tidak terlalu buruk. Setidaknya karna itulah aku menemukan seorang penyusup.”

Brielle mengerutkan keningnya. Dengan kilat dia mengalihkan pandangannya pada pergelangan tangan. God! Tattoonya berpendar. Dia mengangkatnya perlahan.

Jayden menyingkap lengan bajunya. Menunjukkan gelang univias miliknya yang juga berpendar. “Jadi, apa yang seharusnya kita lakukan nona Brielle,” senyum liciknya. Dia semakin maju dan mencondongkan wajahnya ke arah Brielle, membuat gadis itu perlahan mundur. “Atau mulai sekarang aku harus memanggilmu Brielle sayang?”

Brielle baru saja bersiap mendorong Jayden dan berkelit mundur. Namun belum sempat dia melakukannya, pinggangnya sudah ditarik maju oleh Jayden. Menjadikan tubuh mereka berimpitan. “Aku juga tidak pernah percaya dengan tradisi konyol ini. Jadi bisakah kau melepaskanku, Tuan Jayden?”

Jayden menyeringai. Sebelah tangannya merayap naik menopang punggung Brielle. Karena tinggi gadis itu yang hanya sebatas dagunya, dia harus menunduk untuk mendekatkan wajahnya. “Berikan aku alasan untuk melepasmu?” ucapnya tepat di depan bibir Brielle.

Brielle dapat merasakan deru hangat nafas Jayden menyapu bibir atasnya. Jantungnya bergegub kencang. Entah atas reaksi ketakutan atau yang lain. Dan sepersekian detik kemudian, sesuatu yang lembut menyentuh permukaan bibirnya. Dia ingin menolak dan mendorong tubuh Jayden. Tapi secara tiba-tiba tenaganya hilang. Kedua tangannya mencengkeram lengan atas Jayden dan mermas kemeja lelaki tersebut.

Jayden tersenyum samar di tengah ciumannya. Dia mengulum bibir atas dan bibir bawah Brielle secara bergantian. Tangannya mengusap lembut punggung Brielle. Lumatan lembutnya semakin menuntut saat Brielle tak membalas ciumannya.

Brielle memejamkan mata saat sensasi aneh melemaskan inderanya. Bisa dirasakan gesekan ujung hidung Jayden di pipinya. Jemarinya semakin meremas lengan baju Jayden.

Jayden melepaskan ciumannya saat nafasnya tersengal. Dia memandang mata hijau Brielle. Menatap wajah cantik gadis tersebut yang tengah terengah-engah, tak jauh berbeda dengannya, untuk mengatur nafas. Tak disiakan kesempatan, dia kembali mengecupi leher Brielle, membuat gadis itu serasa tak menapak tanah. Kelopak mata Jayden mengerut ketika bibirnya merasakan tekstur goresan luka yang belum kering benar. Goresan dari pedangnya. Dia melembutkan kecupannya sepanjang luka tersebut.

“Hentikan!” Brielle mengumpulkan kesadarannya untuk mendorong tubuh Jayden. Meski tubuhnya menerima setiap sentuhan Jayden, namun otaknya berpikir lain. Tidak mungkin nymph dan cavaler bersatu. Jika ya, bagaimana mereka hidup? Cepat atau lambat salah satunya akan mati, atau mereka akan memilih berpisah. Mantra univias mungkin keliru. Dia mengusap bibirnya dengan punggung tangan.

Jayden berjalan mundur. Dia menyapukan ibu jarinya di bawah bibir, membersihkan sisa saliva yang menempel. “Tidak buruk.” Jayden menyeringai sebelum meninggalkan Brielle.

***

Brielle berjalan diantara rak-rak buku untuk menemukan tulisan tentang legenda Zemlya. “Hish…” desisnya saat rak tempat buku yang ia inginkan terlalu tinggi. Kepalanya menoleh kesamping kanan-kiri. “Cathavos!” ucapnya pelan hingga buku yang ia maksud sudah berada di tangannya. Bibirnya mengukir senyum tipis.

Dia melangkah ringan dengan buku tebal yang ditenteng di samping tubuh. Tapi secara tiba-tiba, Brielle menghentikan langkahnya. Dia merapatkan badannya dengan tembok saat tertarik dengan dengan dua orang yang sedang berbincang tepat di sisi yang besikuan dengannya.

Brielle menelengkan kepalanya untuk mengintip. Menilik dari pakaian yang digunakan, Brielle bertaruh lelaki yang berdiri di sana adalah salah satu noble. Namun jaraknya yang cukup jauh, ditambah volume suara yang rendah, tidak memungkinkannya untuk mendengar percakapan. “Earos!” desisnya untuk mempertajam pendengaran.

“Penyerangan telah diputuskan, Jay. Siapkan dirimu juga pasukanmu.”

“Saya akan menyusun strateginya.”

“Aku tidak meragukanmu, tapi bekerja samalah dengan Jerome. Dia sudah membuat antipasti untuk melawan sihir para nymph. Penghianatan Utopia harus mendapatkan hukuman.”

“Ya.”

Gemuruh di dada Brielle kian membesar. Dia memejamkan mata sejenak untuk sekedar meredam emosinya. Kakinya melangkah berlawanan dengan tujuan semula. Jelas sudah bahwa gendering perang telah ditabuh, dan negerinya dalam bahaya. Dipercepat langkahnya menuju ruang baca.

***

Brielle membenahi bootsnya. Ini entah kali ke berapa dia menyusup. Targetnya kali ini adalah kediaman pimpinan pasukan sayap kiri, Jerome Kim. “Opeas!” tangannya sedikit menyentak udara untuk membuka jendela. Dengan lincah, dia masuk dalam ruang pribadi Jerome.

Begitu memasuki ruangan, Brielle memutar kepalanya saat terperanggah. Peta penyerbuan tebentang rapi. Dia dapat melihat beberapa titik yang sudah ditandai sebagai pusat penyerangan atau camp pasukan. Perhitungan pasokan pangan, senjata yang digunakan telah terencana. Pemimpin-pemimpin setiap penyerbuan terpampang di dinding.

“Jayden Cho, Jerome Kim…” mulutnya bergerak tanpa suara. Dadanya terasa sesak seketika. Sepertinya noble akan melakukan serangan besar-besaran. Terbukti dengan diturunkannya pemimpin pasukan khusus.

“Aah…” dengan cepat Brielle menghindar saat dirasakan udara di belakangnya bergerak ke arahnya. Dan bingo! Di hadapnya kini sudah ada pemimpin pasukan calaver sayap kiri. Jerome Kim. Jangan ditanya kemampuannya. Meski dia belum pernah mencoba, kabarnya hanya 11-12 dengan pria bermarga Cho itu.

Beberapa kali Brielle berkelit. Dia menyerang dengan belati kecil. Namun sayang, ia kalah spekulasi. Jerome sudah sangat hafal detail ruangan tersebut, hingga memudahkannya bergerak di kegelapan. Dan Brielle, dia tidak bisa menggunakan sihirnya jika tidak ingin terlucuti jati dirinya.

***

Muka Brielle terhempas ke kiri saat tamparan yang kesekian kali mendarat di pipinya. Sudut bibirnya telah mengalir darah segar. Memar biru menghiasi wajahnya. Kepalanya tertarik ke belakang saat penginterogasi menjambak rambutnya.

“Terakhir kali sebelum aku melakukan lebih dari ini, katakan dengan siapa kau bekerja!”

Brielle mengunci mulutnya. Dia meronta pelan, namun sia-sia.

PLAK!!

“Kau masih tidak mengaku!”

“Buka pintunya.” Seorang pria masuk dengan wajah tegangnya. “Bodoh! Kau tak lulus,” ucapnya yang tidak dimengerti beberapa orang yang hadir di sana, termasuk Brielle. “Lepaskan, dia elev bimbinganku.”

“Apa maksudmu Jay?” Jerome memandang heran Jayden.

“Aku yang menyuruhnya untuk menyusup di kediamanmu. Jika dia berhasil, maka lulus tantanganku.”

***

“Kenapa menolongku?” Brielle memandang tajam wajah yang tepat di sampingnya. Dia dapat melihat hidung bangir yang pernah ia rasakan hembusan hangatnya, bibir penuh yang selalu tersenyum misterius, sorot mata yang mengintimidasi lawannya. Dieratkan pegangan tangannya di bahu Jayden. Andai saja kakinya baik-baik saja, dia tidak akan pernah sudi dibopong oleh manusia satu ini.

“Kau tidak ingin berterima kasih dahulu, Sayang?”

“Hentikan memanggilku dengan sapaan menjijikan seperti itu!”

Jayden mengangkat punggung Brielle agar lebih tinggi hingga dia bisa mendekatkan wajahnya pada perempuan itu. “Atau, aku harus memanggilmu peri bersayap?” bisiknya tepat di bibir Brielle.

Seketika itu juga Brielle mendorong pundak Jayden. Dia melompat dari gendongan Jayden. Tubuhnya roboh di tanah saat nyeri menyerang pergelangan kakinya. Menggunakan sayap? Itu sama saja bunuh diri. “Sejak kapan kau mengetahuinya?”

Jayden menarik sudut bibirnya. Berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan Brielle. “Saat pertama kali kita bertanding. Bahkan hanya beberapa kaum cavaler yang mempunyai kelincahan seperti itu, kecuali para nymph. Dan sebentar lagi dugaanku yang lain juga akan muncul,” senyum licik Jayden.

Beberapa detik setelah Jayden selesai dengan kata-katanya, Brielle merasakan sesak di dadanya. Nafasnya tersengal. Detak jantungnya melemah. Dia meraba sisi pinggangnya, kepanikannya muncul saat tidak menemukan kantong kecilnya.

“Kau membutuhkan ini, Brielle?” Jayden mengayunkan sebuah kantong kecil di hadapan Brielle.

“Kembalikan!” Brielle semakin kesulitan bernafas. Tenggorokannya terasa terbakar.

Bukannya memberikan, Jayden malah merangsek mendekat. Dia menyelipkan kantung tersebut di jubah dalamnya. “Bagaimana jika kutawarkan bantuan?” dengan cepat dia merengkuh tengkuk Brielle. Menempelkan bibirnya dengan bibir Brielle.

Brielle memukul-mukul pundak Jayden. Udaranya semakin menipis. Dia menghentikan pukulannya saat dirasakan udara berhembus melewati mulutnya. Dia diam. Mencoba memasok paru-parunya dengan udara yang dialirkan mulut ke mulut oleh Jayden.

Jayden sempat tersenyum penuh kemenangan saat dia melepaskan bibirnya untuk mengambil udara. Dia sedikit menggoda dengan melumat bibir Brielle. Menikmati CPR yang dilakukannya.

***

Brielle menetralkan nafasnya. Mengatur pasokan udara di paru-parunya. Lelaki brengsek itu masih berbaik hati menyerahkan pil buah plumnya. Seorang nymp membutuhkan buah tersebut untuk dapat bernafas di Zemlya, begitu juga sebaliknya. Zemlya, tempat hidup para cavaler dan noble.

“Aku menunggumu bicara, nona Brielle.” Jayden memiringkan kepalanya, menelanjangi gadis itu dengan tatapannya.

“Katakan dulu alasanmu menolongku. Bukankah jika kau mengungkap identitasku di hadapan para cavaler, akan menjadi suatu jasa bagimu?”

Jayden mendengus. Dia mencengkeram dagu Brielle dengan kuat. “Bukan kapasitasmu untuk menawar, Brielle.”

“Maka aku juga tidak akan mengatakannya.” Brielle menatap dalam irish coklat tua Jayden.

“Kau tidak takut aku mengungkapkan identitasmu di depan noble?” ancam Jayden.

“Kau tidak akan pernah melakukannya, Tuan Jayden,” seringai Brielle.

“Bagaimana kau yakin?”

Brielle menelengkan kepalanya sambil tersenyum meremehkan. Buat apa Jayden menolongnya, jika tidak ada maksud terselubung.

“Damn!” umpat Jayden saat bisa menebak pikiran Brielle. Dia melepaskan cengkeramannya. “Aku mencurigai adanya pemberontakan yang dilakukan oleh perdana mentri kepada raja. Entah apa kaitannya dengan tragedy perjanjian nymph dan cavaler, hingga dia berambisi memusnahkan Utopia.”

“Maksudmu, serangan yang akan mereka lakukan adalah atas perintah perdana mentri?”

“Ya. Sebulan ini raja sakit, dan perdana mentri berusaha menutupinya. Mungkin maksudnya, agar segala keputusannya dianggap rakyat sebagai keputusan raja.”

Brielle menundukkan kepala. Dia mencoba menyambungkan peristiwa demi peristiwa. “Jadi seperti itu…” Perlahan dia membuka mantra sayapnya, hingga sayap indahnya merekah sempurna.

Mata Jayden melotot melihat keindahan sayap Brielle. Dia sering melihat nymph yang terbang dengan sayap peri mereka, tapi tidak dalam jarak sedekat ini.

Brielle mengangkat tangannya. Dia melafalkan suatu mantra hingga di depannya kini terpampang seperti hologram kejadian pada waktu pertemuan Prenses Yvone dan Tuan Dennis Park. “Aku bertugas di sudut ini,” jarinya menunjuk suatu tempat.

Jayden mengitari paparan tersebut. dia mengamati dengan cermat setiap kejadian di sana. Bisa dikatakan seperti menonton film 4D live.

“Lihat dengan seksama saat Prenses Yvone terlihat seperti menyihir jaringnya untuk mencekik Tuan Dennis.”

Mata Jayden menajamkan penglihatannya. Dia sedikit tercekat saat menemukan keganjilan.

“Kau melihatnya? Bahkan Prenses Yvone terlonjak saat jaring itu bergerak sendiri. Dia mencoba menolong, tapi sayangnya, jarring telah dimantrai dengan kuat.”

“Tapi hanya kalian nymph yang bisa menyihirnya.”

Brielle menggeleng. “Kral Lewis memberikan kemampuan mantra ini pada noble. Dan ini adalah sebuah rahasia. Jadi aku ingin bertanya, dari orang-orang yang kalian kirimkan, adakah salah satunya keturunan noble?”

Jayden menaruh tangan kirinya di belakang punggung, sedangkan tangan kanannya mengelus dagu. “Seharusnya tidak ada, pasukan kami murni keturunan caval—“ ucapannya terhenti saat mengingat sesuatu, “—oh my goodness. Tuan Fredrick Kang, aku pernah membaca mengenai jati dirinya dalam sebuah misi khusus.”

“Jika dugaanmu benar, maka perdana mentri sengaja mengadu domba nymph dan cavaler. Dan penyerangan ini, adalah pemusnahan nymph serta cavaler.”

“Dan tujuannya, kemungkinan adalah meleyapkan kekuatan pendukung raja.” Jayden mengangguk paham. “Tapi kebanyakan pasukan adalah cavaler.”

“Benar. Kalian akan ditempatkan di garis depan, ketika tenaga kalian terkuras untuk melawan nymph, noble akan menyerang kalian.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Maka itu, tidak ada salahnya memiliki hobi menyelinap,” sinisme Brielle. “Tuan Jayden…” Brielle merendahkan bicaranya. Ada satu hal lain yang teramat penting. “Kematian Prenses Yvone dan Tuan Dennis tidak saja meninggalkan perseturan. Darah mereka digunakan noble untuk membuka segel blackeas. Ada tidaknya penyerangan, Utopia terancam musnah.”

“Jadi legenda blackeas nyata?” Jayden kira itu hanya sebuah mitos. Lubang hitam yang bisa menyedot dunia nymph. Pembukanya adalah darah light nymph dan pemimpin cavaler. Ditambah pengorbanan seorang noble dan ritual rumit.

Brielle mengangguk. “Bisakah kau mengusahakan untuk menghentikan penyerbuan ini?” dia menyapukan tangannya di udara untuk menghilangkan sihirnya. “Masalah blackeas, kurasa aku bisa menanganinya.”

“Akan kurundingkan dengan petinggi cavaler.” Jayden mendongak dan melihat refleksi bulan purnama di kolam. Dia menoleh cepat ke arah Brielle. “Kau seorang light nymph?” tanyanya lebih berupa seperti pernyataan.

Brielle tidak menjawab. Malam inilah waktu kekuatan nymph surut, kecuali light nymph yang merupakan keturunan raja Utopia. “Atas bantuanmu, aku mewakili rakyat nymph mengucapkan terima kasih,” dia menunduk hormat sambil kembali mengerutkan sayapnya.

“Prenses Brielle…” desis Jayden. Dia baru ingat jika Kral Yoseph memiliki dua putri dari sang permaisuri. Tangannya merogoh kantung dalam jubahnya. “Mungkin saatnya aku mengembalikan ini,” Jayden menggenggam sebuah liontin.

Mulut Brielle membuka. Dia tahu benar liontin itu adalah milik kakak perempuannya, Prenses Yvone. Tangannya bergetar untuk meraihnya. Melihat liontin itu, terasa bayangan sang kakak begitu dekat. Perlahan tapi pasti, air mata menyembul. Kesedihan yang dia tahan akhirnya lolos juga. Ada beban yang berkurang saat dia mengeraskan isakkannya. Satu-satunya alasan dia tidak menangis di pemakaman sang kakak adalah kebenciannya yang begitu besar pada cavaler. Tapi ketika semua jelas, maka inilah bentuk emosinya. Bahunya terguncang. Didekap dengan erat peninggalan satu-satunya dari Yvone.

Jayden menyentuhkan telapak tangannya di puncak kepala Brielle. Dia dapat melihat berlipat kesedihan yang ditanggung gadis itu. Dengan pasti, direngkuhnya Brielle ke pelukkannya saat hatinya juga terasa diremas.

***

“Kumpulkan pemimpin cavaler yang setia terhadap raja.”

“Gagalkan perang!”

“Tidak mungkin! Perdana mentri telah memberangkatkan sebagian pasukannya.”

“Pemberontak menyusupi pasukan cavaler.”

“Lindungi Raja, lindungi Zemlya!”

***

The war…

Sulit dibedakan mana yang memihak Raja di Zemlya mana yang memihak perdana mentri. Zemlya menjadi saksi bisu pertumpahan darah nymph, cavaler, dan noble. Sayap-sayap nymph tercabik pedang dan panah. Darah cavaler dan noble memerahkan tanah.

Brielle berlari, lalu terbang. Dia membuka kesepuluh jarinya untuk memberikan kekuatan bagi Kristal selubung Utopia. Retakan-retakan semakin nyata melebar. Serangan dari noble dan cavaler membuat kekuatan nymph terpecah. Tenaganya hampir habis, namun selubung Utopia malah semakin pecah. Serpihan-serpihan tersedot masuk ke dalam blackeas.

Dia terbang, bukan lagi menghadap Utopia, tapi menghadap Blackeas. Brielle terbang merendah, kemudian menapak tanah. Dicabut pedangnya. Sejenak dia mengamati bilah pedang tersebut untuk meyakinkan tindakannya. Dan dalam sekali ayunan dari belakang punggungnya ke atas, dia menebas sayapnya. “Arrgghhh…” pekiknya.

Tangannya membuat gerakan melingkar, mulutnya bergerak-gerak melafalakan mantra. Dengan sihirnya, dia membuat sayapnya melebar dan menerbangkan ke arah blackeas. Lagi-lagi, kedua tangannya terangkat ke udara. Menopang sayapnya yang tengah menutupi seluruh blackeas. Dia berusaha menyatukan dua telapak tangannya, agar sayapnya dapat mengatupkan blackeas. Sejenak usahanya sepertinya berhasil. Namun, kekuatan blackeas semakin menjadi hingga tanggannya terhentak. Brielle bergerak mendekat. Dia menahan perih saat kulitnya tergores serpih-serpih yang tersedot dalam blackeas. Kembali dia menghunus pedang, kali ini untuk memotong nadinya. Darah yang mengucur bergerak merembet naik, ke arah blackeas.

“BRIELLE! MUNDUR!” Andrew meneriaki adiknya dari dalam selubung. Dia tidak bisa bergerak. Jika dia melepas kekuatannya untuk menopang selubung, maka Utopian akan dengan mudahnya tersedot. “BRIELLE! JANGAN LAKUKAN ITU!” dia terus mencoba memperingati sang adik. Dengan sihir yang sekarang dilakukan Brielle, Andrew tahu rencana gadis itu. Pengorbanan. “HENTIKAN!” dia mengepalkan kedua tangannya. “Kumohon, Sayang…” rintihnya saat menangkap luka-luka di sekujur tubuh Brielle. “ARRRGHHH….!”

Jayden menebas para nobel yang melakukan serangan. Jantungnya terasa terhenti seketika saat menangkap sosok gadis berada di jarak dekat blackeas. Menilik dari sihir dan jaring sayap yang menutup blackeas, dia paham tindakan gadis itu. Pengorbanan. Secapat mungkin dia berlari untuk menggapai Brielle sebelum tubuh gadis tersebut tersedot masuk. “Damn!” umpatnya saat beberapa nobel atau cavaler menyerang. “Univias!” teriaknya. Hingga benang merah muncul untuk menghubungkannya dengan Brielle.

Jayden menyentak pergelangan tangannya hingga di ujung sana pergelangan tangan Brielle tertarik. Kakinya terus berlari kencang. Tangannya meraih pinggang Brielle hingga tubuh mereka merapat. Matanya menyusuri luka-luka di wajah Brielle. “Bodoh!” ucapnya kemudian memeluk tubuh Brielle. Dan selanjutnya, dia ikut memotong nadinya. Membiarkan darah cavalernya menyatu dengan darah Brielle. Sebelah tangannya yang bebas semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh mereka terbanting.

***

Two months after…

“Kami menyerah.”

“Apa maksud kalian!”

“Pengobatan Prenses Brielle hanya sia-sia. Tubuhnya menolak segala ramuan yang kami buat, Your Majesty.”

“Sihir nymph?”

“Sudah kami usahakan, tapi sepertinya Prenses Brielle tak lagi bisa hidup di Utopia. Kondisi tubuhnya memburuk saat kami membawanya ke Utopia.”

“Bagaimana bisa?”

“Udara Utopia tidak lagi bisa memenuhi pasokan nafasnya.”

“Dan di Zemlya?”

“Keadaannya juga tak membaik.”

“Izinkan dia tetap di Zemlya, Your Majesty.  Kupastikan dia membuka matanya.”

“Jayden…”

***

“Kenapa kau masih enggan membuka matamu, Sayang?” jemari lelaki itu menyusuri tulang pipi Brielle. Merasakan kerinduan membuncah di dadanya. Telunjuknya menyapu kelopak mata Brielle. “Aku rindu bagaimana sepasang green eyes ini menatapku.” Bibirnya mengecup lembut bibir Brielle. “Aku juga rindu bagaimana bibir ini membantah ucapanku.”

Tak mendapat tanggapan, tangannya bergerak menyamping. Menahan bobot tubuhnya untuk tidak menimpa Brielle. Dia mencondong, membenamkan wajahnya di lekukan leher Brielle. Hidungnya dapat dengan leluasa bernafas dengan menghirup harus gadisnya. Bibirnya bebas menciumi kulit leher Brielle. Hingga air matanya perlahan merembes turun. Jayden, lelaki itu, beranjak ikut menyusupkan tubuhnya di bawah selimut. Dia lelah. Lelah menunggu kepastian hidup Brielle.

Gadis itu lebih memilih terlelap dalam tidur panjangnya. Para tabib telah menyerah untuk mengobati luka Brielle. Seorang nymph tapi telah kehilangan sayapnya. Sudah pasti tidak akan bisa hidup di Utopia, namun bukan berarti dapat hidup Zemlya, tempat para cavaler dan noble.

Dia menyusupkan tangannya di bawah leher Brielle, kemudian menarik tubuh Brielle merapat. Menempatkan kepala Brielle di dadanya. Tangannya mengusap lembut lengan Brielle. “Selamat malam, Sayang.”

***

Segenap kekuatan dikumpulkan untuk melawan rasa kaku tubuhnya. Kelopak matanya perlahan terbuka. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Paru-parunya mengembang-mengempis beraturan, menyesuaikan dengan udaranya kini. Tubuhnya menggeliat pelan hingga dapat dirasakan kekangan yang melingkupinya. Kepalanya mendongak, dan seketika bibirnya membentuk senyum. Dia bangun dengan hati-hati. Menumpukan beratnya di dada lelaki tersebut. Sedikit beringsut, dia mencapai bibir lelaki itu. Memberikan kecupan selamat paginya. “Bodoh!”

***

“Hah, aku sangat menyukai mantra ini. Univias.”

“Bukankah kau membencinya?”

“Dulu, tapi gara-gara ini aku dapat mengikatmu.”

“Aku merindukan Utopia.”

“Kau masih bisa berkunjung.”

“Merindukan diriku sebagai seorang nymph.”

“Kau menyesal?”

“Untuk?”

“Untuk tidak bisa lagi bernafas di Utopia dengan bebas, untuk kehilangan kebanggaanmu sebagai nymph, untuk terjebak selamanya di Zemlya.”

“Svyataya Zemlya. Aku tidak pernah menyesali apa yang aku lakukan untuk tanah ini.”

“Hanya itu?”

“Memang?”

“Seharusnya kau katakan tidak menyesal untuk hidup denganku.”

“Itu sama sekali bukan pokok yang penting untu—“…”—mmphh.”…”Yak! Jayden Cho! Jangan memotong ucapan—“…”—mmph.”…”Kau benar—“…”—mmphh.”

“Semakin kau membantah, semakin berat hukumanmu.”

“Kau! Mmphh—“

END*

Note:

Hahaha../tawa/miris. Fantasy fail. Mian, aku lagi stuck untuk nulis TOB maupun JOH. Jadi berimajinasi liar seperti ini.

Spencer is Eunhyuk, Jerome is Yesung, and Dennis is Leetuk, and of course you know exactly, who Andrew is. Yeah, our sexiest handsome guy, Siwon oppa. Kenapa hanya Kyuhyun yang kuubah nama baratnya? T____T soalnya aku tidak suka dengan nama ‘Marcus’, terdengar gimana gitu…/puk2/kyu. Masak ntar panggilnya ‘Mar’ atau ‘Cus’, gak enak banget..T.T. Lagippula, desas-desus, nama barat oppadeul juga karena fantasy elf. But don’t know. Karena di wiki pun, tidak dicantumkan nama barat mereka.

Bye and bow (^^ )/

77 thoughts on “Svyataya Zemlya

  1. azulla lim says:

    Ceritanya segeeerrrr bgt, genre2 fantasi emang yg paling seruu.Apalagi yg maen abang atu entutuuuu waah ^^. Aku kira jg bakal sad ending tp ternyata, jodoh emang ga kemana ya ;D (?).
    Pilihan namanya jg cocok mba, Jayden Cho kreeeeen ^^)b

  2. entik says:

    Keren, di awal baca d kira bakal membosan kan kerna banyak kta kata aneh, tpi setelah d baca terus cerita seru.
    Khayalan yang keren.

  3. kyaaaa aku suka banget cerita fantasy kek gini.. kereeen!! aku kira ga bakal ada ð̀ĩ blog ini tapii ternyata beruntungnya aku nemu ff sekeren ini {} idenya bener2 keren bikin kagum.. aku smpe bayangin gimana sosok para nymph gimana sosok cavaler and nobel.. pastinya bayangin yg cakep2😀 Brielle tangguh banget walaupun cewek tapi dia jago beladiri.. jayden aku setuju banget kalo nama marcus cho diganti jadi jayden cho, menurut aku nama marcus itu aneh ga enak didenger dan dibayangin -,- #ditabokkyu

  4. Mrs. byun says:

    kyaaaaaaaaaaaa aku baru ketemu ff onnie yg ini, karena aku kangen banget sama tulisan onnie, aku cari2 ff yg mungkin blm aku baca dan kyaaaaaaaaa nemu ini… Jatuh cinta banget sama ff fantasy ini, ga gagal sama sekali… Errr manis banget… Aku juga suka sama nama Jayden Cho keren banget onn…. Kyaaaaaaa syukkkaaaaa semoga onn mau bikin lg keje…. Cinta banget sama ff ini…

  5. jujur awalnya bingung sama namanamanya:3 mesti bolakbalek lihat kosakata dulu._. tapi kak, seriusan aku suka ff fantasy begini, berasa ada disana, kita dibikin ngehayal tinggi. pokoknya keren abiiiis!<3 itu loh pas si brielle berusaha buat ngorbanin dirinya, terus kyu datang pakai mantra univias, aaaaa so sweet bangeeet nget nget:'' haha iya kak, aku juga ga suka sama nama baratnya kyu "marcus", agak berasa apa gitu wkwk

  6. HalcaliGaemKyu says:

    Fantasyyyyy!!!
    Keren! Keren bgt!
    Biasanya klo pke nama barat kyu dipanggilnya Marc=mark gitoh hihihi.. Tp jayden jg keren hahaha…
    Uh.. So sweet bgt deh ff ini. Aku suka ff fantasi.. Membutuhkan imajenasi yg tinggi nih buat author yg buat dan reader yg baca.
    Scene waktu kyu dan briells berusaha untuk menutup blackeas (aduh, klo salah namanya sorry ya) itu fantastik bgt. Aku kira mereka sdh mati bersama, berdua. Tp ternyata enggak. Jayden msh bs hidup sedang briells koma(?). Ah.. Itu romantis bgt deh. Pengorbanan dr 2 makhluk yg saling mencintai.
    Gumawo.

  7. Guixianra says:

    Hohoho, belum sepenuh nya ngerti sama jalan ceritanya, apalagi kan ini FF Fantasy, kudu baca berulang-ulang baru ngerti. Hehehe apa emang kapasitas otak aku aja yang lemot, hihihi. Tapi, serius eonni, cerita nya bagus banget.. Seneng kalo udah disuruh berfantasy ria,,, aku setuju sama eonni, aku juga kurang suka sama nama barat nya Kyuhyun. *digetok Kyu*😀

  8. Astaga FF genre fantasy yg keren bgt ini… gila keren bgt…. Author kau bener-bener wow… ide ceritamu sgt menarik.🙂
    Jujur sedih kalo dibuat oneshoot saja,,,bener-bener bagus jika seandainya dibuat series….*banyak maunya ditendang author*
    Karakter kyu bener-bener diluar perkiraan aq,,, (ˆ▿ˆʃƪ) Love you Kyu
    Mantra univias,,benang merah,,jodoh… aiissshhh keren euyyyy heheheh😀
    Tuegang bgt pas baca scene Brielle mengorbankan sayapnya demi melindungi utopia,,,tapi akhirnya Kyu cepat menyelamatkan Brielle… *gigit bantal*
    Endingnya bikin aq membeku ditempat kekekekek ( ≈ˆ3(¯▾ˆ◦)♡ Kyuuuuu
    Daebak…. semoga ada ff fantasy lagi…. Author fighting (^____^)9

  9. Ingga says:

    Huwaaaaaaaaaa…
    Sumpah Q sukaaaaaaaaaaa bgt sm critaaanyaaaaaaaaaaa…
    Syukur deh akhirny mreka b2 bhgiaaa..
    Yeeeee..

  10. sh1zu says:

    Awal-a krng ngrti,tp cb diulang lg&bth berulang kali jg utk bs ingt istilah2-a. Tp rasa-a agk krng pnjng/mndetail d bgn2 akhr. Tapi ide&crt-a tetap bagus..

  11. saaarraahh.... says:

     Dan selanjutnya, dia ikut memotong nadinya. Membiarkan darahcavalernya menyatu dengan darah Brielle. Sebelah tangannya yang bebas semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh mereka terbanting.
    Wah adegn ni mngharukn,,tpi untungny mrk ga mti bnern,,dn lbh sneng lgi akhirny s putri bngun,,dn hdup bhgia sma kyu…

  12. wuhuuuu.. keren abis! walopun mereka beda, tapi jodoh emang nggak bisa diapa apain lagi.
    untung brielle tetep bertahan buat kyuhyun. ihiiii… hahaha daebak🙂

  13. kyu's heartbeat says:

    ok MAR . . . yuk CUS . . .kkkk~~ #ditabokkyu
    great ff i ever read . . butuh pengorbanan buat hafalin itu bahasa turki . . .
    so far menarik, sangat menarik bahkan. cuma mungkin kependekan. jujur sih buat cerita yg semenarik ini sayang kalo harus bikin one shoot. soalnya keren emang (ini bukan bualan yg keren thor, daebak thor)
    ada yg kurang lagi yaitu penggambaran karakter yg lain selain si jayden. n kaum nymph.
    mustinya makin detail penggambaran tokoh makin keren.
    ada niatan buat di bikin novel? ato mungkin nongol di kumpulan ff? lakukan thor!!!!!🙂

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s