The Obedient Bride [Rule 8]


The Obedient Bride [Rule 8]

 

Hwa Young duduk dengan gelisah di tempatnya. Dia menunduk untuk menyembunyikan raut cemas. Sekuat apa pun dirinya membangun wibawa di hadapan lawan bicara, dia masih mempunyai sopan santun jika dihadapkan dengan orang tua. Ini kali kedua dirinya dan Siwon disidang oleh segenap keluarga Choi. Agenda kali ini adalah masalah penculikannya yang berbuntut pada tertembaknya putra sulung mereka.

“Bagaimana lukamu, Siwonnie? Apakah sudah membaik?”

Siwon menggeser tubuhnya hingga miring menghadap penanya. “Ye, Eomma. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya tinggal pemulihan saja.”

“Youngie-ya, ambilah cuti untuk dua minggu ke depan. Kau juga butuh memulihkan kondisi psikismu.”

Hwa Young mendongak untuk menanggapi. “Aku rasa itu tidak perlu, Abeoji. Hyundai department store sedang melakukan promo. Jika aku mengajukan cuti maka akan menghambat program ini.” Kekhawatirannya tidak hanya terletak pada Hyundai, melainkan juga Aphrodite. Dia tidak mungkin mengambil cuti di waktu kritis seperti sekarang.

Desahan napas berat terdengar cukup jelas saat semua mulut bungkam. “Jangan pikirkan masalah itu, co-CEO Jang Minhyuk akan menanganinya. Ambilah liburan. Kau juga Siwonnie, anggaplah sebagai bulan madu kalian yang sempat tertunda.” Tangan keriput tuanya menepuk paha pelan untuk menekankan keputusannya.

Siwon yang tadinya hanya memandang ke bawah langsung menegakkan kepalanya. Dia berdeham kecil, mengurangi kecanggungan atas dua suku kata yang menggelitik telinganya; bulan madu. “Tidak bisa seperti itu, Appa. Hyundai automotive sedang menggodok konsep terbaru untuk beberapa versi city car yang akan diluncurkan tahun depan. Tentunya aku tidak bisa absen dan meninggalkannya begitu saja.”

“Kalian berdua ini…” Tuan Choi menggeleng pelan sambil mengusap pelipisnya. “Aku akan turun tangan langsung untuk menanganinya jika kau tidak mempercayakan posisimu pada yang lain!” hardik sang ayah.

Yeobo,” Ny. Choi menggenggam tangan suaminya untuk menenangkan. “Wonnie, dengarkan kata appa-mu. Ini juga demi kebaikan kalian. Setidaknya, kau pikirkan istrimu.”

Siwon melirik Hwa Young yang tertunduk lesu di sampingnya. Dia tahu kecemasan Hwa Young bukan hanya pada Hyundai, namun juga pada kasus Minna. Walaupun sebenarnya dia sangat setuju dengan usul sang ayah agar Hwa Young beristirahat untuk sementara waktu. Akan tetapi dia juga harus memikirkan perasaan Hwa Young.

“Youngie, bagaimana dengan keadaanmu sendiri? Penyelidikkan kasus ini apakah sudah selesai?” suara bijak menengahi.

Hwa Young menatap orang tertua di sana; halmeoni. “Masing-masing dari kami yang berada di lokasi kejadian telah selesai dimintai keterangan dan sekarang kasus masih dalam tahap penyelidikan.”

“Kau mengenal orang yang menculikmu, Youngie?” Halmeoni mencondongkan punggungnya ke depan untuk menatap cucu menantunya yang baru saja bergabung dengan Hyundai.

Hwa Young memandang Siwon sejenak untuk meminta pendapatnya mengenai jawaban yang harus dia berikan. Dia meragu untuk mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

“Tidak, Halmeoni. Kami tidak mengenalnya.” Mengerti situasi, akhirnya Siwon yang menjawab.

“Kedudukan Youngie memang strategis. Dua tahun menjadi salah satu manager di Shawn Corp dan sekarang menjadi co-CEO Hyundai Department Store. Tidak heran mengapa ada orang yang mengincarnya dengan rencana illegal seperti itu.” Tuan Choi angkat bicara kembali. “Oleh karena itu, aku mengusulkan cuti untukmu Youngie. Selain mengembalikan psikismu, setidaknya dengan kepergianmu aku berharap bisa meredakan suasana.”

Siwon menatap ayahnya untuk berbicara, bukan tatapan angkuh hanya sebuah tatapan memohon. “Aku sangat mengerti pertimbangan Appa. Bukan bermaksud tidak hormat dengan menolak keputusan appa, hanya saja ini adalah rumah tanggaku. Jadi aku mohon, biarkan aku yang memutuskan.”

“Bukan aku ingin ikut campur, kau tentu tahu media begitu gencar untuk mengorek keterangan dari kasus ini. Meski kita berusaha keras untuk menutupi, namun pers mempunyai kebebasan yang tidak mungkin kita langgar. Ditambah lagi, mereka mulai menduga kuat pria yang bersama kalian saat itu adalah pewaris Dexxa. Benarkah itu? Dan sejak kapan kau akrab dengan CEO muda itu, Wonnie?” Tuan Choi masih berusaha meyakinkan Siwon atas keputusannya. Walaupun sebenarnya dia juga diam-diam menyetujui permintaan Siwon.

Siwon melirik Hwa Young, bukan untuk meminta izin menjawab pertanyaan kali ini, tapi untuk menenangkannya. “Benar, pria itu adalah Cho Kyuhyun. Aku berjumpa dengannya di beberapa kesempatan, dia salah satu kenalan Youngie. Secara kebetulan, berkenaan dengan bulan promo Hyundai, saat itu Youngie membuat janji untuk mengurus beberapa pembayaran melalui Dexxa.” Dia berusaha melindungi rahasia rumah tangganya. Tidak mungkin mengatakan dengan gamblang bahwa Cho Kyuhyun adalah rivalnya. Bisa-bisa pembicaraan ini baru berakhir besok pagi.

Tuan Choi mengangguk paham atas jawaban Siwon. “Akan bertambah beresiko jika media sampai mengungkap kebenaran ini. Mereka terlalu rakus untuk mendapatkan bahan berita kehidupan chaebol.” Pria yang hampir berkepala lima ini mendesah pelan lalu memandang Siwon dan Hwa Young bergantian. “Aku tetap menyarankan kalian berdua untuk cuti sementara waktu.”

Siwon mengerutkan keningnya, dan memandang kecewa ayahnya. “Kumohon Appa. Hormatilah wibawaku sebagai kepala rumah tangga. Youngie adalah istriku, dia tanggung jawabku.”

Halmeoni mengangguk setuju. Kedua tangan tuanya yang sudah berkeriput terjalin. “Kurasa memang seharusnya Siwonnie yang mengambil keputusan.”

Tuan Choi mengalihkan tatapannya pada sang istri yang duduk di sampingnya, kemudian merasakan ketenangan saat tangan Ny. Choi mengelus lengan bawahnya. “Baiklah jika Eomma juga berpendapat seperti itu. Aku akan menghargai keputusanmu. Meski begitu aku menginginkan kalian pindah ke rumah ini, paling tidak untuk sebulan mendatang. Setidaknya ada kami yang ikut menjaga Youngie.”

Siwon dan Hwa Young langsung menegakkan kepala mereka begitu mendengar keputusan ini. Sepertinya pindah ke kediaman keluarga Choi tidak lebih baik ketimbang liburan. “Appa—“

“Aku tidak ingin mendengar bantahanmu lagi, Wonnie. Malam ini juga kalian tinggal.” Tuan Choi langsung berdiri begitu selesai bicara. Dia menyilang tangannya di belakang punggung, kemudian menoleh sebentar. “Ikut denganku, aku ingin bicara berdua denganmu, Wonnie.”

***

PLAK!

Wajah Siwon terhempas ke samping begitu sebuah tamparan melayang di pipinya. Dia masih menunduk, tidak berucap sepatah kata pun. Jika bukan karena hal yang sangat membuat sang ayah kecewa beliau tidak akan bertindak sedemikian kasar.

“Ini pertama kali kau mengecewakanku, Choi Siwon.” Tuan Choi memutar tubuhnya, lalu duduk di salah satu sofa ruang kerjanya dengan tenang. “Duduk!” perintahnya dengan tegas.

Siwon menuruti perintah ayahnya. Dia menunggu Tuan Choi untuk memulai pembicaraan. Dari raut dan gerak-gerik ayahnya, agaknya Siwon bisa menebak arah perbincangan mereka.

“Selama ini aku diam, bukan berarti tidak tahu. Hubunganmu dengan model itu sudah terlewat batas hingga aku terpaksa menegurmu seperti ini.” Tuan Choi menyandarkan punggungnya, menumpukan kedua sikunya di pinggiran kursi, dan menjalin jemarinya. “Kupikir menyandingkanmu dengan Hwa Young bisa mengubah perasaanmu sedikit demi sedikit, tapi keberadaan Park Minna dalam penculikan Youngie cukup menunjukkan bahwa kasus kalian tidak hanya sebatas penculikan untuk kepentingan bisnis. Mulailah dengan menjelaskan detailnya?”

Siwon duduk tegak dengan meletakkan masing-masing kepalan tanganya di paha. Dia tidak salah menduga mengenai topik yang sang ayah bicarakan. Saat ini masih diselidiki keterkaitan Minna dalam penculikan Hwa Young. Meskipun Hwa Young sendiri sudah menutupi dengan alibi bahwa Minna hanya saksi yang kebetulan memergoki mereka, namun penyidik masih meragukan hal tersebut. “Mianhamnida Appa.”

Tuan Choi memejamkan mata. Sesungguhnya dia ingin mendengar penjelasan secara jujur dari Siwon, namun agaknya harapannya sia-sia setelah beberapa saat Siwon tak kunjung mengucapkan sepatah kata pun. “Aku menunggumu bicara, Wonnie.”

“Pernikahan ini bagi kami terlalu mendadak. Tidak ada hasrat untuk menjalin sebuah komitmen dalam fondasi rumah tangga kami. Hanya satu alasan sebagai penyatuan kami; jalinan bisnis.” Siwon bukan berusaha mengalihkan topik, melainkan membicarakan akar dari segala permasalahan yang muncul. “Kami seperti dua orang asing yang terpaksa terikat untuk berbagi tempat tinggal dan hidup bersama,” dia tersenyum kecut mengingat awal kehidupan pernikahannya.

“Jadi selama ini kalian bersandiwara sebagai pasangan di hadapan kami semua?” Tuan Choi mengangkat sebelah alisnya. “Shim Hwa Young—“

“Dia cantik, cerdas, juga mandiri,” potong Siwon. “Aku tidak meragukan pilihan appa. Seperti perkataan appa dulu, dia pendamping yang tepat untukku.” Dia memberanikan diri meluruskan lehernya yang sedari tadi menunduk. “Namun tidak segampang itu mengubah sebongkah hati.”

“Kau masih mengharapkan model itu?” nada rendah Tuan Choi sedikit bergetar dengan sisipan nada kecewa.

“Kami membutuhkan waktu dan aku tidak mengira bahwa di selang waktu tersebut ternyata banyak persoalan yang muncul diantara kami. Pergesekkan masa lalu yang belum tuntas mulai menuai konflik.”

“Bukan karena status sosial Park Minna yang membuatku ragu memilihnya menjadi menantu. Siapa pun gadis itu, asalkan dia mampu mendampingimu, aku tidak akan menghalangi.” Tuan Choi menguraikan pemikirannya. “Ada sesuatu dalam dirinya yang kuragukan dan sesuatu itu bernama kepercayaan.”

Appa tidak pernah mengenalnya, bagaimana mungkin membangun penilaian secara subyektif seperti itu?” nada tak terima Siwon. Sangat kental di ingatan Siwon semua mengenai Minna; paras ayunya, senyum menawannya, sikap manjanya, segalanya. Dia bertaruh, dirinya lebih mengenal sosok Minna ketimbang Hwa Young.

“Kau mengenal subyektifitasku, Siwonnie.” Jalinan tangannya mengurai, kemudian menunjuk Siwon tepat di dadanya. “Terkadang ada yang tidak bisa dijelaskan dengan akal, namun sebongkah daging itu mampu membuat spekulasi.”

Siwon memandang intens ayahnya dan menelaah petuah Tuan Choi dengan kening berkerut. Dia mendesah pelan ketika mengerti maksud sang ayah. Terlepas dari alasan sentimental Tuan Choi, Siwon sendiri sering bertanya pada dirinya apakah hubungannya dengan Minna pantas untuk diperjuangkan. Dengan keterlibatan Cho Seung Hyun, hatinya terhadap gadis itu semakin bimbang. “Apa pun langkah yang kuambil, tetap akan ada yang terluka.”

“Sekeras apa pun usahamu, probabilitas untuk suatu resiko akan tetap ada, Siwonnie. Ekor kurva normal tidak akan pernah memotong nol,” analogi Tuan Choi atas permasalahan pribadi Siwon dengan salah satu sifat dalam manajemen resiko. “Putuskan dengan hati-hati sehingga kau bisa mendapatkan tingkat kepercayaan maksimal pada kerugianmu.”

Siwon meraup udara dengan tarikan panjang sambil memikirkan dengan saksama keputusan yang akan diambil. Sampai saat ini bayangan Minna masih sering berkelebat di pikirannya. Walaupun dia tidak memungkiri bahwa eksistensi Hwa Young semakin mengaburkannya.

“Sekali lagi aku bertanya padamu, apakah kau masih mengharapkan Park Minna?”

Siwon memejamkan mata, lalu menggeleng lemah. “Aku tidak tahu, Appa.”

“Ada satu hal yang harus kau tahu tentang pernikahanmu, dan semoga saja yang kusampaikan bisa menjadi bahan pertimbanganmu.” Deheman Tuan Choi membuat Siwon mengernyit. “Bukan karena akuisisi, merger, atau perjanjian bisnis yang membuatku memutuskan untuk mendampingkan Shim Hwa Young denganmu,“ Tuan Choi mengamati ekspresi serius putranya.

Ne?” suara lemah Siwon yang syarat keheranan.

“Hal itu karena aku yakin Hwa Young mampu untuk berada di sisimu sebagai sekadar rekan maupun pendamping hidup. Dia sama halnya denganmu,” Tuan Choi terkekeh mengamati kerutan kentara di antara alis Siwon, “pandangannya terhadap pekerjaan dan keluarga.”

Siwon tersenyum tipis terhadap pendapat appa-nya ketika tidak menemukan penyangkalan. “Tapi ego dan dominasi kami yang sama menakutkanku untuk berjalan bersamanya.”

Tuan Choi menepuk-nepuk lengan sofa yang didudukinya. “Aku yakin kalian akan belajar, terutama kau Siwon. Mengenai dominasi, cish,” Dia mendengus untuk mengejek putranya, “Kau mempermalukanku andai tidak bisa membuat Hwa Young bertekuk lutut padamu.”

Siwon tertawa kecil tanpa suara mendengar olokan sang ayah yang dia terima sebagai tantangan.

“Rasa cinta bukan sekadar tumbuh karena saling mengisi kekurangan, tapi juga karena saling mengerti satu dengan yang lain. Bukan hanya yang kuat menolong yang lemah, tapi saling menguatkan satu dengan yang lain.”

Siwon menelan dan memahami nasihat ayahnya. “Jadi mengenai alasan bahwa Shawn Corp tidak stabil—“

“Itu hanya reka daya kami orang tua,” Tuan Choi memotong dengan cepat, lalu mengibaskan tangannya di udara.

Siwon menunduk dengan senyum yang sulit diartikan. Dia memandangi jemarinya yang terbuka untuk berpikir. Apakah dia marah? Bahkan dirinya sendiri ragu emosi tersebut ada dalam dirinya saat ini.

Tuan Choi memanjangkan tangannya untuk menepuk lengan atas Siwon. “Kau sudah mengalaminya. Bahkan dari caramu melindunginya, aku tahu jawabannya.” Beliau sengaja mengimplisitkan maksud perkataannya agar Siwon menyadari sendiri. “Kau putra kebanggaanku, Siwonnie. Aku yakin pada keputusanmu.” Tuan Choi memutuskan mengakhiri pembicaraan mereka. Setelah menyuguhkan pilihan pada Siwon, kini saatnya menarik tangan dari kisah percintaan sang putra. “Kembalilah.”

Dengan perlahan Siwon berdiri dari duduknya. Keraguannya sedikit menemukan titik terang melalui pembicaraannya dengan sang ayah, meski dia masih gamang untuk mengambil keputusan. “Selamat malam, Appa.” Siwon mengangguk untuk memberikan hormat sebelum meninggalkan ruangan.

***

Long time noo see, My Brother!” pria muda yang tampan itu membuka kedua tangannya di udara untuk menyambut kedatangan kakak lelakinya. “What’s bring you here?”

What a warm welcome.” Seung Hyun menatap datar adik lelaki satu-satunya, kemudian melempar tubuhnya di sofa yang cukup untuk memuat tinggi tubuhnya. Dia menekuk lehernya ke kiri dan kanan untuk meredakan rasa kaku setelah hampir sepuluh jam berada di pesawat. “I’ll thank for a wine to celebrate our encounter, Minho-ya.”

Minho terkekeh ringan kemudian melangkah ke sudut ruangan dimana terletak bar minimalis. Menarik salah satu botol red wine, dia menuangkan cairan merah tersebut ke dua gelas. Berjalan mendekat ke Seung Hyun, dia mengangsurkan segelas pada kakaknya. Terdengar dentingan toast sebelum tetesan Dom Romanee Conti[1] membasahi tenggorokan mereka.

The berry aroma always be a good choice,” pujinya pada pilihan red wine Minho. “Aku hanya memiliki dua puluh menit untuk bicara padamu sebelum menikmati sunset di Harbour Bridge.”

Ah, your habitual to derive me from priority isn’t something new.” Minho berdiri dengan berkacak pinggang. “So tell me your business, Hyung.”

“Kembalilah ke Korea, aku memerlukan bantuanmu untuk meretas PC pribadi istri rival lamaku.” Seung Hyun memutar gelasnya, menyesap harum wine, lalu meneguknya kembali.

Minho mengadu alis tebalnya setelah mendengar permintaan kakak lelakinya. “Rival lama?” ulangnya dengan nada tanya. Bukan perkara sulit untuk kembali ke Korea, dia hanya lebih menikmati hidupnya kini di negeri kangguru. Setelah menginjak remaja, Minho memutuskan untuk melanjutkan studi ke Australia. Boleh dikatakan, dia melarikan diri karena malas untuk terlibat dalam urusan sang kakak.

The other damn Choi.”

Kekehan terdengar meluncur dari mulut Minho hingga dia terpaksa menahan rasa gelinya saat Seung Hyun menatapnya tajam. “Beita yang kudengar dia sudah menikah.” Dia mengelus dagunya. “Minna Noona pasti sangat patah hati,” komentar Minho yang mengetahui afair kakak tirinya dengan ‘the other damn Choi’ yang disebutkan Seung Hyun.

It is not your business, little Bro,” sergah Seung Hyun yang tidak menyukai kata terakhir adiknya.

Then I shouldn’t back, right?” Minho menantang kakaknya, lalu berjalan melewati Seung Hyun dan menghempaskan tubuhnya di sofa. “Apa yang membuatmu harus mensabotase PC pribadi istri sainganmu?”

Seung Hyun mendengus sebal atas keingintahuan Minho. Adiknya tersebut terlalu menuntut tugasnya terperinci. “Bisakah kali ini kau melakukan saja yang aku perintahkan tanpa bertanya detailnya?” sinisme Seung Hyun.

Minho menggeleng dan menggoyangkan telunjuknya ke kanan-kiri. “If the case like that, try to find others.” Dia menumpukan tangan di paha dan bersiap berdiri.

Ok, you got me,” Seung Hyun membuka kelima jarinya di udara untuk menahan Minho. “Minna mensubmit kekerasan pada sebuah LSM bernama Aphrodite. Aku tidak mengetahui motifnya, tapi sepertinya dia tidak menyebutkanku sebagai pelaku kekerasan.”

“Kau melakukan kekerasan pada Minna Noona?” nada meninggi Minho menunjukkan rasa tidak sukanya.

Just once. I were outta control,” bela Seung Hyun.

“Kau selalu mengamankan posisimu,” sengit Minho sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

I know I did something wrong, Ok?” Seung Hyun menghentakkan kedua tangan di udara agar Minho menghentikan intimidasinya dan membiarkannya menyelesaikan ucapannya. “Tapi seorang jaksa dari Aphrodite kemudian menyelidikinya dan menemukan keterkaitanku dengan Minna. Dia sempat mengirimkan email dan data diriku sebagai pelaku kekerasan.”

“Dan penerima email itu adalah istri Choi Siwon?” Meski dari awal Minho tidak menyukai konten pembicaraannya, dia tidak punya pilihan lain selain mendengarkan. Jika tidak, maka kakaknya akan terus merecoki hidupnya hingga dia menyerah.

“Ya. Istrinya menjadi petinggi di divisi bantuan hukum Aphrodite.” Seung Hyun menyandarkan punggungnya. “Kemungkinan hanya dia dan jaksa itu yang mengetahui diriku.”

Minho memundurkan punggungnya dan menatap malas kakaknya. “Bukankah kau tinggal menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi keduanya. Seperti itu kan cara kerjamu?” cela Minho pada kebiasaan Seung Hyun. Dia menggeleng lemah untuk mengejek. “Kau masih saja menganut kebiasaan lama.”

Seung Hyun menggeletukkan giginya; tidak mengingkari apa yang dikatakan adiknya. “Aku jauh-jauh kemari bukan untuk mendengar kuliahmu.”

Minho mengangkat kedua bahunya ringan, lalu berdiri. “Aku tidak tertarik pada urusanmu, Hyung. Selesaikan saja sendiri bersama orang-orangmu.”

“Kau lebih rela jika binis keluarga kita ditutup dan aku dijebloskan di penjara?”

Serve you right!” gertak Minho. “Lagipula aku meragukan pengakuanmu. Jika noona sampai melapor pada lembaga itu, maka aku yakin dia berada di batas kemampuannya untuk menanganimu.” Dia melenggang dan menjangkau kunci mobilnya di atas counter bar.

Your hazel eyed girl!”

Minho menghentikan langkahnya, “What?”

Seung Hyun mengukir senyum kemenangan dengan tawarannya. “Shim Hwa Young, she is Choi Siwon’s wife.”

***

Hwa Young menolehkan kepalanya ke belakang saat mendengar bunyi kenop pintu kamar yang diputar. Dia tersenyum ringan ketika melihat Siwon berjalan mendekat. “Apakah semua baik-baik saja?” Hwa Young memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap Siwon dan menangkap raut gelisah suaminya.

“Ya. Kami hanya berbincang mengenai beberapa hal terkait kasusmu,” sahut Siwon sebelum Hwa Young bertanya lanjut. Dia menarik ujung lengan jas bagian kiri untuk melepaskannya, kemudian bergantian lengan yang kanan. Menyampirkan jas tersebut di sandaran sofa, dia mengurai pengunci manset kemejanya.

Aboeji—“

“Jangan khawatirkan tentang beliau,” potong Siwon cepat. Dia meringis singkat saat tangan kanannya menekuk untuk meraih dasi guna melonggarkannya.

“Izinkan aku membantumu,” meski Siwon tidak menunjukkan dengan kentara ekspresi sakitnya, tapi mata Hwa Young cukup jeli untuk menangkapnya. Jemarinya dengan lincah sudah mengurai dasi Siwon, lalu menyampirkannya di lengan bawah. Dia juga menekuk lengan kemeja Siwon hingga berada satu jengkal di atas pergelangan tangan.

Siwon tersenyum tipis memerhatikan tindak-tanduk Hwa Young ketika membantunya. Dia menunduk untuk mengamati ekspresi perempuan tersebut. Walaupun hanya sentuhan sederhana, tidak diragukan lagi degub jantungnya yang meningkat dengan tipis. Esensi terpentingnya adalah bahwa Siwon merasa sangat senang diperlakukan seperti ini. “Gomawo.”

Hmm,” Hwa Young bergumam untuk menjawab. “Tunggu sebentar biar kusiapkan air panasnya.” Dia menawarkan diri tanpa diminta, lalu berjalan melalui Siwon sembari meraih jas Siwon yang tersampir begitu saja di sandaran sofa.

Senyum bibir tipis Siwon semakin tertarik keluar mendekati kedua telinganya ketika melihat Hwa Young sibuk untuk mengurusinya. Ditumpukan kedua tangannya di puncak sandaran sofa sembari matanya terus mengamati gerak-gerik Hwa Young hingga leyap di kamar mandi. Saat ini juga, dia mematangkan keputusannya mengenai hubungan percintaannya dan rumah tangganya.

***

Kyuhyun menekan berkali-kali tombol volume up di remote DVD player. Setelah memperoleh tingkat volume yang diinginkan, boleh dikata lumayan keras, dia melemparkan remote tersebut lantai yang tertutupi karpet. Jari-jarinya membuka kancing kemejanya satu persatu hingga tuntas, menanggalkan kemeja tersebut, dan melemparkan dengan sembarang. Kyuhyun menelentangkan dirinya di ranjang dengan hempasan kasar. Dia merentangkan kedua tangannya hingga memenuhi luas ranjang king size miliknya.

Pandangannya memusat mengamati langit-langit kamarnya yang bewarna gading dengan ukiran yang terbuat dari gypsum[2]. Telinganya terbuka lebar untuk menikmati alunan more than this milik One Direction. Pikirannya menggerayang melampaui batas waktu hingga terhenti di kenangan saat dia memergoki Hwa Young berciuman dengan Siwon. Kyuhyun mengerutkan dahinya tatkala dia masih merasakan perih di dadanya. “Tolong, jangan pernah ubah hatimu,” monolognya.

Dia memejamkan mata untuk memperjelas bayangan kenangan tentang dirinya dan Hwa Young. Walaupun dia mengencani berlusin gadis, dengan ketampanan dan kemapanannya hal ini bukan hal sulit, namun perempuan itu masih mengisi sebagian besar hatinya. Dia sudah berusaha menetralkan rasanya untuk Hwa Young ketika perempuan itu menganggapnya sebatas teman atau bahkan saudara. Jangan mengira bahwa Kyuhyun tidak awas dengan hal demikian, dia hanya berusaha mengabaikannya.

Kyuhyun tidak bisa mengungkapkan betapa dirinya kecewa saat perempuan tersebut memutuskan menikahi pria lain. Di hadapan Hwa Young dia memiliki harga dirinya sebagai pria sehingga sebisa mungkin mengontrol ekspresi terlukanya, tapi dia tetap manusia yang akan jatuh jika hatinya terus-menerus digerogoti.

Dua tahun lalu, Kyuhyun dikirim ke Singapur untuk memimpin anak cabang Dexxa di negara itu. Perusahaan asuransi tersebut mengembangkan sayapnya ke Asia Tenggara dan memutuskan Singapur sebagai pionir. Jika bisa memilih, maka dia lebih menyukai iklim kerja dan tantangan yang dihadapi di negara merlion itu. Bukan Kyuhyun tidak menyukai buminya sendiri, namun dia ingin mengembangkan dirinya dan keluar dari bayang-bayang kebesaran sang ayah. Akan tetapi karena kesehatan sang ayah yang memburuk, Kyuhyun ditarik kembali ke Korea untuk menggantikan kedudukan ayahnya sementara waktu. Selain itu, dia memiliki Hwa Young sebagai alasan lain untuk kembali.

***

“Sepertinya untuk sebulan ini kita harus berbagi ranjang,” Siwon mengambil selimut, lalu menelusupkan dirinya. “Tentu saja jika kau tidak keberatan,” lanjutnya dengan menatap lekat Hwa Young yang masih bersandar di kepala ranjang dengan ipad di tangannya. Dia sekadar tidak ingin membuat Hwa Young merasa tidak nyaman dengan perpindahan mereka yang sangat mendadak.

“Tentu, Oppa.” Hwa Young menoleh kilas pada Siwon hanya untuk menjawab sebelum dia kembali menekuri ipad-nya.

Siwon menggeser tubuhnya mendekat untuk memapas jaraknya dengan Hwa Young. “Kau mengamati pergerakan saham?” retoriknya saat menangkap konten yang ditekuri sang istri. “Kali ini saham mana yang menarik minatmu?” pancingnya untuk membuka pembicaraan.

Hwa Young mengangkat kepalanya dan mengulas senyum tipis ke arah Siwon. “Hanya memastikan pertikaian Samsung dan Apple[3] tidak berimbas pada Shawn Corp,” jarinya menyapu layar tablet dan menampilkan grafik analisis milik Samsung.

“Kurasa kemenangan dari salah satu pihak akan menuai dampak tersendiri bagi produsen ataupun konsumen android.” Siwon lebih merapatkan dirinya dengan Hwa Young hingga tubuh mereka berimpit. Dia menunjuk grafik saham Samsung di layar tablet sang istri. “Samsung sempat mengalami bearish[4] bulan lalu. Meskipun kemudian pergerakannya perlahan naik, tapi belum mencapai kestabilan seperti dua tiga bulan lalu.”

Mata Hwa Young mengikuti pergerakkan jari Siwon. Dia mencermati dan mendengarkan pendapat Siwon tentang pemberitaan yang akhir-akhir ini kerap mewarnai headline di beberapa media. “Ya,” dia mengangguk setuju.

“Apakah Shawn Corp mengalami penurunan signifikan?”

Kepala Hwa Young menggeleng sebagai jawaban. “Untuk kali ini belum. Kurasa keputusan di Korea cukup adil untuk mengganjar keduanya sama-sama saling melanggar hak paten.” Dia menoleh hingga tanpa sengaja hidungnya sedikit menggesek pipi Siwon karena mereka yang sudah tidak berjarak dan tindakannya membuat pikirannya melayang pada ciuman mereka. Secepatnya Hwa Young mengalihkan tatapannya kembali pada tablet dengan kecanggungan yang tidak sengaja diciptakannya.

Alih-alih menjauhkan diri, Siwon malah menyenderkan punggungnya di kepala ranjang untuk merilekskan diri. “Bisakah kita bicara sebentar.”

“Kita sudah bicara semenjak tadi, Oppa,” canda Hwa Young dengan tersenyum kecil. Dia mengetahui maksud Siwon adalah untuk berbicara diluar topik perusahan yang baru saja mereka diskusikan. Sementara dia mematikan ipad, Siwon sibuk merangkai kata untuk memulai pembicaraan. “Jadi?” Hwa Young memiringkan badannya untuk menghadap Siwon setelah meletakkan tablet-nya di meja kecil sebelah ranjang.

“Apa arti pernikahan ini untukmu?”

Hwa Young mengernyitkan keningnya saat mendapat pertayaan tidak terduga. Dia menarik napas panjang sebagai upaya untuk menenangkan diri. Tadinya dia berpikir bahwa Siwon akan menanyakan kabar Minna dan perkembangan kasusnya sehingga dirinya sudah merancang jawaban. Meskipun Hwa Young penasaran dengan hubungan mereka, tetapi sesungguhnya dia sendiri belum siap untuk menghadapi kenyataan pernikahannya. “Sebuah ikatan,” jawabnya secara diplomatis.

“Jawabanmu bermakna terlalu umum,” kecewa Siwon. Dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menunggu reaksi Hwa Young.

Mengangkat kedua bahu dengan ringan, Hwa Young menunjukkan mimik tidak acuh. “Aku tidak tahu harus bagaimana memaknainya lebih lanjut karena kenyataannya kita berdua masih memiliki tanggungan masa lalu yang belum selesai.”

Siwon mengangguk paham untuk menyetujui alasan Hwa Young. Dia tidak akan menguraikan pandangannya tentang pernikahan mereka, karena, seperti perkataan Hwa Young, masih ada masa lalu yang belum tuntas. “Youngie-ya,” dia berdiam sejenak.

Hem?”

“Jika aku ingin kau meninggalkan Kyuhyun, apakah kau akan melakukannya?”

Ne?” nada terkejut Hwa Young. “Apa maksudmu?”

Siwon menyunggingkan senyum getir. Keterkejutan Hwa Young sudah merupakan bentuk penolakan kecil baginya. “Selama kita terikat, bisakah kau meninggalkannya?” perjelas Siwon. “Seperti ucapanmu, masing-masing dari kita masih memiliki masa lalu yang belum terselesaikan. Jadi bisakah kita mulai menyelesaikannya?” Siwon menatap lekat mata Hwa Young.

“Dengan aku meninggalkan Kyuhyun?” Hwa Young menunjuk dirinya dengan meletakkan telapak tangannya di dada. “Dan bagaimana dengan—“

“Aku akan melakukan hal yang sama,” tegas Siwon untuk menyatakan bahwa dia akan melakukan hal yang serupa; meninggalkan Minna. “Dengan seperti itu, kuharap kita bisa menentukan orientasi pernikahan kita terlebih dahulu tanpa melibatkan mereka.”

“Keputusan ini,“ Hwa Young menggeleng-geleng pelan kemudian menunduk ragu, “akan melukai mereka.”

Siwon mengangsurkan tangannya untuk mengangkat dagu Hwa Young. Dia melembutkan pandangannya agar Hwa Young bersikap kooperatif dengan keputusannya. “Tapi mereka akan lebih tersakiti dengan ketidakjelasan suatu hubungan. Terasa atau tidak, saat ini kita menggantungkan sebuah hubungan yang nantinya akan melukai mereka lebih dalam.”

Menatap penuh pertimbangan, Hwa Young ingin membuka mulutnya, namun lebih dahulu disela oleh Siwon.

“Jangan minta aku mengorbankan pernikahan ini untuk kebaikan kita bersama. Penyelesaian dengan langkah itu akan menuai konflik yang lebih besar karena kita sudah terikat secara legal,” serobot Siwon tatkala ketakutan tiba-tiba muncul. Dia memiliki Minna dan pernikahannya di sisi lain. Melepaskan salah satunya merupakan hal yang berat, namun dalam pertimbangannya terdapat konsekuensi yang lebih berat jika dia menyerah pada pernikahannya; dua keluarga besar, Hyundai, dan Shawn Corp.  Lupakan alasan tersebut karena di sudut kalbunya, Siwon hanya memiliki satu alasan fundamental.

Manik mata Hwa Young bergerak gelisah, sementara barisan gigi-gigi rahang atasnya menggigit bibir bawah. “Hati bukan suatu barang yang bisa dibuang saat kita tidak memerlukannya lagi.”

“Aku tidak memintamu mencampakanya, Youngie.” Siwon menghembuskan napas panjang. “Aku ingin masing-masing dari kita menegaskan hubungan di luar pernikahan ini. Mungkin di matamu, aku tidak lebih dari pria brengsek yang menyimpan kekasih; tidak lebih dari pengecut yang kehilangan arahan logis; tidak lebih dari suami bejat yang mengkhianati pernikahannya.” Sesak di dada Siwon membesar begitu dia mengingat beberapa bulan yang dilaluinya dengan Hwa Young. Meskipun bertubi-tubi dia memberikan sikap konfrontasi, wanita ini masih bertahan di sisinya tanpa sekecap penyesalan.

Oppa…” Hwa Young memiringkan tubuhnya hingga menangkap segulir air mata membasahi pipi Siwon. Menganjurkan tangannya untuk membesut air mata tersebut, dengan segala keberaniannya Hwa Young merangsek maju dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Siwon. Setelahnya, dia menyusupkan kedua tangannya di pinggang Siwon dan memeluk lelaki itu. “Kita pernah berbuat salah.”

Membaui wangi feminin Hwa Young, Siwon kemudian membenamkan wajahnya di pundak perempuan itu. Kedua tangannya membalas pelukan Hwa Young tidak kalah erat. Dia meraup segala usaha Hwa Young untuk membuatnya nyaman. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki apa yang sudah kumulai, Youngie.”

“Tapi menegaskan hubunganku dengan Kyuhyun, tanpa menyakitinya adalah hal mustahil,” Hwa Young memikirkan tanggapan pria itu andai dia menyuarakan masalah ini, “Demikian juga Minna.”

“Aku tahu kau menyayangi Kyuhyun, aku tahu itu.” Cemburu menyusupi dada Siwon saat mengucapkan kalimat tersebut. “Lakukanlah demi Kyuhyun. Kita tidak bisa berlaku egois dengan melarikan kekecewaan pernikahan ini pada mereka.”

“Mengapa kau mengatakannya seolah mudah bagimu meninggalkan Minna-ssi?”

Siwon lagi-lagi harus melapangkan hatinya untuk menuruti semua keingintahuan Hwa Young. “Setelah hampir dua tahun menjalin hubungan dengannya, aku akui bukan suatu hal yang mudah untuk meninggalkannya.” Siwon membawa tubuh mereka menyandar ke kepala ranjang, tanpa melepaskan pelukannya. Dengan posisi dan kedekatan seperti ini, dia merasa lebih tenang.

“Lalu mengapa kau merencanakan ini semua?”

“Karena aku menghargainya sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian hidupku, Youngie. Aku tidak ingin dia lebih tersakiti. Jadi kumohon, bicaralah dengan Kyuhyun.”

Hwa Young mendongak untuk mencari fokus tatapan Siwon agar memantapkan hatinya sebelum menjawab. Dia tidak memungkiri kebenaran gagasan Siwon; cepat atau lambat dia harus memilih. Tentu saja dengan melepaskan Kyuhyun, dia tidak lantas mencampakkan lelaki tersebut. Dia tetap akan menjadi Hwa Young, seorang teman yang tidak pernah Kyuhyun takutkan untuk terlepas. “Aku akan mencobanya.”

Sebuah senyum kepuasan terbentuk di bibir Siwon, meskipun jawaban Hwa Young masih penuh keraguan. “Karena apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan  dalam ikatan kita, tidak akan pernah tercerai oleh upadaya manusia,” ingatnya pada secuil sakramen pernikahannya.

“Bagaimana jika sampai suatu waktu, salah satu dari kita tidak bahagia dengan rumah tangga ini?” tanya Hwa Young tiba-tiba.

Siwon menahan ucapannya di tenggorokkan ketika dia merasa berat untuk meloloskan bait jawaban yang sebenarnya sudah tersusun di otaknya. “Maka aku akan melakukan hal serupa, melepaskanmu.”

***

“Bagaimana kau bisa yakin mereka tidak menyebutkanmu dalam kasus penculikan itu?” Minho menatap garang kakak lelakinya sambil membereskan segala gadget-nya.

“Kau tentu tidak sedang meremehkanku?” Sudut bibir Seung Hyun tertarik datar membentuk seringaian. “Aku mengamati perkembangan kasus ini sebelum terbang ke Aussy. Dengan Hwa Young yang bungkam akan keterlibatanku, aku menduga bahwa dia tidak ingin mencampurkan masalah Aphrodite dengan penculikannya.”

Minho berkacak pinggang setelah berhasil menjejalkan semua perangkat ke dalam kopernya. “Aku benar-benar kehilangan kata-kata untuk tindakanmu. Bagaimana bisa kau memutuskan menculik serta pewaris Shawn Corp, jika kau tahu kemungkinan timbul masalah setelahnya.” Dia menghentakkan tangannya, lalu menggeleng putus asa dengan kelakukan kakaknya.

“Kau tidak tahu betapa berharganya perempuan itu,” Seung Hyun menyilangkan kakinya untuk membuat dirinya rileks dari berondongan serapah adiknya. “Hwa Young tentu telah berspekulasi tidak mencuatkan kasus Minna ke permukaan demi menghindari kemarahan fan atau netizen dan keputusannya sedikit memberikan waktu bagiku untuk melenyapkan bukti.”

Suara sentakan kecil dari tarikan koper sengaja Minho ciptakan untuk memberi tanda pada hyung-nya bahwa dia sangat kesal. “Let’s get ready,” ucapnya sembari menyeret bawaannya.

***

Hwa Young mengedarkan pandangannya melewati hamparan luas yang menghijau di hadapnya. Dia mengatur embusan napasnya dengan ritme yang sedikit lebih panjang untuk menikmati udara sore itu; selain untuk mengurangi ketegangan diri. Dia sudah memutuskan untuk menyetujui permintaan Siwon sebagai langkah awal untuk menyelesaikan hubungan rumit diantara mereka berempat.

Hwa Young sedikit tersentak saat kepala telah bersandar di bahu kananya dan sepasang tangan mendekapnya dari belakang. Wangi maskulin segera menyeruak di hidungnya. “Maaf tidak memberitahukan sebelumnya jika ingin berkunjung,” dia menolehkan kepalanya, tapi terbatas karena pipinya sudah menumbuk sisi kiri kepala lelaki tersebut.

Glad to know that you here.” Kyuhyun melepaskan pelukannya, lalu berjalan memutari ayunan yang diduduki Hwa Young. Dia ikut masuk dalam ayunan kayu favorit mereka. Mengambil tangan Hwa Young yang berada di pangkuan, dia kemudian sedikit mengangkatnya untuk membuat ruang cukup untuknya menyusup dan membaringkan kepalanya di pangkuan perempuan tersebut. “Kau merindukanku?” godanya sembari menikmati wajah Hwa young dari posisinya.

Hanya senyum yang mampu Hwa Young berikan sebagai jawaban. Dia mengusap lembut poni Kyuhyun untuk menyibakkannya dan merasakan helaian halus rambut lelaki tersebut yang masuk ke sela-sela jarinya. “I’ve something to be told.”

Then tell me,” Kyuhyun dengan santainya memejamkan mata untuk menikmati sore melelahkan setelah seharian penuh duduk di belakang meja CEO-nya.

“Kau lelah?” Hwa Young mengamati wajah terpejam Kyuhyun. Hatinya merasa tidak tega untuk meloloskan topik berat yang ingin dibicarakan.

“Ya dan buruknya, aku tidak bisa melemparkan badanku ke ranjang karena pukul 7 nanti keluarga Jang mengundangku makan malam.”

Hwa Young memiringkan kepalanya untuk berpikir keluarga Jang mana yang mampu menurunkan mood Kyuhyun. “Jang Go Joon? Pemilik saham terbesar kedua Dexxa?”

Yeah,” jawab malas Kyuhyun. Dia masih setia menutup matanya sembari menikmati belaian Hwa Young di puncak kepala.

“Sepertinya aku mencium aroma pertemuan di sini?” canda Hwa Young. Bukan tidak mungkin keluarga Jang mengincar lelaki tersebut untuk dipertemukan dengan putri mereka. Mengingat pesona Kyuhyun lewat kinerja dan paras rupawannya tidak heran jika kawakan relasi bisnis berusaha mendekatinya.

“Kalau itu terjadi lagi, aku akan membunuhnya di tempat!” sadisme Kyuhyun.

Hwa Young hanya terkekeh geli menanggapi penolakan Kyuhyun. Dia mengusap pipi Kyuhyun lembut. “Sampai kapan kau akan menghentikan kebiasaanmu itu, huh?”

“Kebiasaan?” ulang Kyuhyun sembari membuka matanya.

“Ya, kebiasaan mengacaukan pertemuan yang dirancang oleh keluargamu atau pun relasi bisnismu.”

Kyuhyun mendengus sebal dengan jawaban Hwa Young. Jelas-jelas wanita itu tahu pasti alasan dia melakukannya. “Aku sudah memikirkan seseorang dan itu kau! Jadi mereka tidak perlu repot-repot menyodorkanku gadis.”

“Kyu…” lirih Hwa Young yang mulai menyadari kekeraskepalaan Kyuhyun. Menggigit bibir saat lidahnya kelu, Hwa Young merasa tenggorokannya tercekat dengan kalimat yang akan meluncur.

“Youngie?”

Hem?” gumam Hwa Young yang sudah kehilangan semangat untuk meneruskan pembicaraan.

“Kenapa kau diam?”

“Aku,” Hwa Young mengulum bibir sekadar untuk memberikan keyakinan pada dirinya sendiri, “hanya sedang berpikir.”

“Tentang apa?” Kyuhyun bahkan sudah bisa memprediksi pemikiran Hwa Young, namun dia enggan untuk mengacuhkannya.

“Mungkin apa yang akan kuucapkan akan menyakitkan—“

“Kalau begitu jangan ucapkan,” potong Kyuhyun cepat ketika tanda dugaannya mulai muncul dengan tepat.

“Tapi aku harus mengucapkannya,” Hwa Young menundukkan kepala hingga pandangannya bertemu dengan iris coklat tua Kyuhyun. Sorot mata yang selalu menjadi peneduhnya, walaupun orang lain menghakiminya lewat tatapan tajam. Andai boleh jujur, Hwa Young sangat takut kehilangan pandangan teduh ini.

“Jangan,” Kyuhyun mengubah pandangannya menjadi sendu. Dalam situasi seperti ini, dia rela dikatakan sebagai pengecut yang memilih menghindar. Berhadapan dengan Hwa Young terkadang membuat rasionalismenya menipis.

“Dengarkan aku, Kyu,” minta Hwa Young. “Aku hanya ingin kau tidak terluka karenaku.”

“Asalkan kau di sisiku, Youngie.”

Hwa Young memelorotkan bahunya dengan egoisme Kyuhyun. Andai belum terikat, sangat mungkin dia memilih jatuh hati dengan sahabatnya. Akan tetapi keputusannya menikahi pria lain tidak bisa ditarik begitu saja. “Aku melakukannya karena menyayangimu. Jadi kumohon,” lagi-lagi Hwa Young mengigit bibir bawah, “lepaskan aku,” akhirnya kalimat itu lolos juga dari mulutnya. Sejurus kemudian, dia merasakan sesak yang luar biasa ketika Kyuhyun menatapnya dengan tajam; tatapan yang tidak pernah diperolehnya dari Kyuhyun.

Kyuhyun membungkam mulutnya dalam usaha mencerna permintaan Hwa Young. Sejenak kemudian, dia bangun dari berbaring dan segera berdiri. “Kalau kau menyanyangiku, maka tetaplah di sisiku!” ucapnya tegas sebelum berlalu. Dia tidak akan menyesal untuk mengutamakan egosentrisnya asalkan wanita itu berada di sampingnya.

***

“Apa ini sebuah kejutan?” Minna melongokkan kepalanya dari balik punggung Siwon. Dia menyusupkan tangannya di pinggang lelaki tersebut, sebelum mengeratkannya.  Merasakan rindu saat menemukan sosok Siwon berada di dapur minimalisnya, dia meletakkan kepalanya di punggung hangat Siwon.

“Hei,” Siwon membalas sapaan Minna. Kedua tangannya sibuk memindahkan makanan, yang tadi sempat dibelinya dari restoran favorit, dari karton pembungkus ke piring. “Gantilah baju, kita makan bersama,” perintahnya.

Minna merenggut kecewa ketika Siwon mengabaikan pelukannya; tidak seperti biasa yang selalu menyambut setiap gestur kasihnya. “Tidak ada ciuman?” manjanya.

Siwon tersenyum kecut memperdengarkan rengekkan kekasihnya, yang segera dibubuhkan kata mantan di depannya. Perasaan bersalah bergumul di dadanya karena membiarkan hubungan terlarang ini berlarut-larut. Andai dan andai yang dibuatnya tidak akan menyelesaikan masalah. “Mungkin nanti.” Siwon menjawil hidung mancung Minna, kemudian mengurai pelukkan gadis itu sebelum dia merajuk lagi.

Ok,” jawabnya sebari menyeret kakinya untuk ke kamar.

Minna menarik-narik ujung bajunya untuk memperbaiki kekusutannya. Dia berjalan ke arah ruang makan, kemudian menatap takjub pada makan malam yang disiapkan Siwon. Meski bukan Siwon yang memasaknya sendiri, tapi dia tetap tersentuh dengan segala sesuatu yang disiapkan kekasihnya. Tidak butuh waktu lama hingga tangannya sibuk memasukkan suapan makanan. Dia tidak berkomentar apa pun karena boleh jadi Siwon akan marah setelah kejadian penculikan Hwa Young.

“Apa makanannya enak?” Siwon memandang Minna dengan senyum dan menikmati paras ayu kekasihnya yang lama tidak dia jumpai. Dia marah ketika Minna tidak jujur atas kasusnya, tapi dia tidak berhak untuk meluapkan kekecewaan pada gadis tersebut. Dia sudah berstatus sebagai suami orang lain dan sudah saatnya membatasi diri untuk campur tangan dalam kehidupan Minna.

Minna menganggukkan kepala untuk menjawab Siwon. Dia menelan makanannya sebelum menjawab dan bertanya lanjut kepada lelaki di depannya. “Ini sangat enak.” Dia meletakkan garpu dan pisaunya saat makanannya sudah separuh habis. “Oppa, aku—“

“Selesaikan makanmu terlebih dahulu,” perintah Siwon agar Minna menghentikan bicaranya. Dia tidak ingin kegiatan makan malam ini, barangkali untuk terakhir kali, terganggu dengan hal lain yang akan menghancurkan suasana.

“Aku tidak bisa menahannya hingga nanti. Perasaan ini terasa sangat mengganggu,” lirihnya seraya meremas jemarinya sebagai manifestasi kegugupannya.

Siwon mengangkat alisnya, kemudian ikut meletakkan alat makannya. Dia mengelap bibirnya dengan serbet makan sebelum memfokuskan dirinya untuk mendengarkan Minna. Walaupun dia bisa menebak apa yang menjadi ganjalan Minna, tapi dia tetap berusaha mendengarkan dari perspektif gadis tersebut.

“Aku minta maaf karena tidak berterus terang padamu tentang kasusku,” Minna menegakkan badan. “Kali ini, aku hanya ingin menyelesaikannya sendiri,” Minna melirik Siwon yang masih diam. “Bukan ingin membohongimu, hanya saja—“

“Tidak apa-apa,” potong Siwon cepat.

Ne?” sentak Minna saat dengan ringan Siwon menyahut pengakuan kesalahannya. “Kau tidak marah?”

“Tidak.”

Minna meredakan ketegangan bahunya dan tersenyum lega. “Syukurlah, aku kira kau tidak mau menemuiku karena masih marah. Dan maaf untuk tidak menjengukmu di rumah sakit. Aku tidak mungkin muncul di hadapan keluargamu dan media.”

Siwon menarik bibirnya getir; andai gadis di depannya mendengar keputusannya. “Aku tahu dan tidak mempermasalahkannya.”

Gomawoyo, Oppa,” senyum sumringah Minna. Dia meraih tangan Siwon yang berada di atas meja dan menggenggamnya erat.

Siwon tidak menghindar sentuhan tersebut, bahkan membalasnya sebagai rasa terima kasih. Matanya menatap lekat jemari mereka yang terjalin, namun kali ini sentuhan mereka terasa hambar. Tidak ada detak-detak yang menyentak dadanya atau pun desir halus yang mengalir deras di darahnya. “Minna-ya…”

Ye?”

“Aku melepaskanmu.”

Udara yang tadinya bersahabat, menjadi terasa mencekik bagi Minna. Dia memelototkan matanya dan membulatkan mulut ketika tidak mempercayai perkataan Siwon barusan. “Apakah aku salah dengar, Oppa? Kau baru saja bilang—“

“Tidak.” Siwon memandang tegas mata Minna. Dia harus melakukan ini agar gadis tersebut tak tersakiti lagi olehnya. Bukan dengan cara lembut atau pun manis, tapi dengan tegas karena dia tahu Minna akan merajuk dan mungkin saja menggoyahkan keputusannya. “Aku melepaskanmu. Maaf karena baru kulakukan saat ini.”

Minna melepaskan tangannya dan menggeleng-geleng pelan. “Tidak, kau tidak boleh melepasku, Oppa.” Sebentar saja, air mata sudah memenuhi permukaan bola matanya. “Kau jahat, Oppa!” pekiknya berbarengan dengan air mata pertama yang menuruni pipi.

“Maaf,” Siwon mengulangnya. Rasanya dia ingin berlari melewati meja ini dan merengkuh gadis itu dalam pelukkannya, kemudian mengatakan bahwa dia hanya bercanda atau pun berbohong. Akan tetapi tidak bisa, ada bagian di hatinya yang sudah terisi oleh seorang lain yang harus dijaganya. Berdiri di antara dua hati, lalu melukai salah satunya membuat Siwon merasa menjadi pria brengsek.

“Kalau kau memutuskan melepaskanmu, maka aku memutuskan menggenggammu!” sentak Minna sebelum dia berdiri dan membuang serbet di pangkuannya.

“Minna-ya…” Siwon tidak berusaha mengejar. Dia hanya memerhatikan punggung Minna hingga menghilang di balik pintu kamar. Menyandarkan punggungnya di kursi makan, dia melakukan monolog, “Maaf karena melukaimu.”

TBC*


[1] Dom romanee conti: jenis wine.

[2] Gypsum: material yang biasanya digunakan untuk menghias langit-langit; merupakan campuran antara sejenis bubuk putih dengan air yang akan mengeras dengan cepat ketika mengering.

[3] Pertikaian Samsung dan Apple mengenai hak paten pada ponsel mereka.

[4] Bearish: ungkapan untuk menunjukkan terdapat penurunan harga saham yang cukup berarti; lawan katanya bullish.

348 thoughts on “The Obedient Bride [Rule 8]

  1. yah… akhirnya mereka meninggalkan masa lalu mereka. Duh apa yg bakal minho sama seunghyun perbuat? Terus kyuhyun sama minna gimana itu ya.. ah author.. balas mention saya di twitter please ;; mau tau kelanjutannya. Sama yg BTBE juga.. hehe atau email ya.. riska.rid@gmail.com

  2. HOLLA baru bisa komen disini… Heheh sebelumnya baca pakai browser BB jadi gak log in… Skrg udah log in… Ceritanya aku suka ini perjodohan bukan perjodohan biasa… Banyak pelajaran yg di ambil heheh…. O ya pas Chap 9 n 10 di PW jika berkenan bolehkah saya minta ini emailnya aktif saya kak,,, dllaldeana.dah@gmail.com semoga cepat dibalas ya soalna gak sabar pengen baca kelanjutannya….

  3. Eva Solihah says:

    Di sini appa siwon bijak banget dan kata kata yang di ucapkan juga bagus untuk di tiru.
    oh ya apa hubungan minho sama hwayoung, sehingga dia mau menuriti permintaan kakaknya. Dan bagai mana nasib kyuhyun dan minna

  4. Bintang says:

    Aku takut klo akhir nya hwa young ngak sama siwon -.-
    Dan dsini siwon gentle bgt..
    Love your ff so much haha
    Ohya i left a tweet on your twitter account to get pw, hope you reply as soon as you can!!
    Or you can send me an email at bintangswift@ymail.com
    Hhmm thanks a bunch hihi

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s