A Rough Trail


A Rough Trail

[A wave of the east sea]

 

By: Arsvio | Cast: Donghae Lee, Hyukjae Lee, Lentera Jingga, Kyuhyun Cho | Rate: PG-17 | Genre: Romance, Married life

Ketukan-ketukan ringan tanpa irama terhentak dari flat shoes coklat tua. Gerakan-gerakan kecil jemari lentik menyentak meja dengan lembut. Cebikan bibir merah muda, topangan dagu, helaan nafas, semua terintegrasi untuk menandakan bahwa gadis itu sudah bosan. Hampir tiga puluh menit lewat dari waktu yang dijanjikan. Dan pria yang ditunggunya belum juga menampakkan diri.

Dia menarik tangannya dari atas meja, kemudian membenahi topi baseball-nya agar lebih menutup wajah. Menggapai tas punggung di sebelahnya, dia memutuskan untuk pergi. Namun ketika belum sepenuhnya berdiri, tubuhnya disentakkan untuk kembali duduk oleh seseorang dengan menekan kedua bahunya.

Sorry for coming late, Sweety.” Pria yang ditunggunya mengambil topi yang dikenakan sang gadis dan mempermainkannya dengan memutarkan di udara. “Have you been waiting for a long time, Jingga-ya?”

“Yeah, quite a while,” jawab gadis yang bernama Jingga dengan malas. Walau sebenarnya dirinya ingin melonjak kegirangan karna lelaki yang ditunggunya datang, tapi dia gengsi mengakui. “Get back my cap,” tangannya menggapai topi yang tadi dirampas, tapi kalah cepat dengan gerakan lelaki tersebut.

“Eish,” dia menggoyangkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Give me a kiss, and I’ll back your cap.” Lelaki itu menepuk pipinya dengan telunjuk dan mengarahkan pada Jingga.

“Ya! Lee Hyuk Jae!” teriak gadis berdarah melayu tersebut dengan mendorong pipi Hyuk Jae dengan telapak tangannya.

“Mwo? Lee Hyuk Jae?” Mata Hyuk Jae melotot jengkel. “This girl really something!”

Jingga memundurkan wajahnya dan merenggut kesal. “Arrayo, Eunhyuk Oppa,” tekan Jingga pada kata ‘oppa’. Dia tahu bahwa Hyuk Jae, yang lebih akrab dipanggil Eunhyuk, paling tidak suka dengan pelanggaran sopan santun untuk menghormati yang lebih tua.

Eunhyuk memandang topi di tangannya. Menelusuri bordiran benang bewarna merah yang membentuk kata Blue Bogy. “Kau masih menyimpannya?” retoriknya sambil mengangsurkan topi tersebut pada Jingga. Salah satu benda kenangan mereka saat menonton tim baseball nasional tersebut berlaga.

Jingga mengabaikan pertanyaan Eunhyuk dan memilih menarik kembali topi tersebut untuk diletakkan di sampingnya. “Did something bad happen?” gadis tersebut nampak khawatir melihat raut lelah yang jelas tercetak di wajah Eunhyuk.

Eunhyuk mengangkat sebelah alisnya, kemudian tersenyum lebar menunjukkan gummy smile-nya. “Apakah jika aku meminta bertemu, berarti telah terjadi sesuatu yang buruk?” dijawilnya hidung Jingga. Dia mempertahankan wajah cerianya, padahal kondisi emosinya sudah terbaca oleh gadis di depannya.

“Tak perlu berekspresi seperti itu,” telunjuk Jingga menunjuk wajah Eunhyuk. Dia menumpukan kedua sikunya di meja. Memandang penuh keyakinan pada pria tersebut agar mau menceritakan masalahnya.

Senyum kecut tersungging singkat di bibir Eunhyuk. Tak tahukah bahwa kekhawatiran yang melandanya adalah mengenai gadis yang kini sedang menatapnya lekat? Eunhyuk menganjurkan kedua tangannya untuk menangkup pipi Jingga. “Aku sangat penasaran dengan kehidupanmu sekarang. Katakan padaku, apakah kau bahagia?”

Jingga menarik mundur wajahnya. Entah sudah berapa kali pria itu menanyakan pertanyaan sama. Dan dia mulai lelah untuk menjawab, meyakinkan sandiwaranya. Anggukan kecil disertai gumaman dia berikan sebagai jawaban.

Eunhyuk meletakkan kedua tangannya di meja. Sengaja menempatkan bersampingan dengan tangan Jingga. Dia sedikit memundurkan badannya, hingga jemarinya bisa menggenggam kedua tangan Jingga. “Aku tidak ingin kebohongan, Jingga-ya. Katakan jika kau tersiksa dengan kehidupanmu sekarang, maka aku akan—“

“Apa yang akan kau lakukan Hyukjae-ssi?”

Kepala Jingga mendongak ke samping dan wajahnya memucat begitu menyadari kehadiran lelaki lain disampingnya. “Donghae Oppa…”

“Kuanggap pembicaraan kalian telah selesai.” Donghae, lelaki yang dimaksud Jingga, menarik tangan Jingga dengan paksa agar terlepas dari genggaman Eunhyuk. Dia menyentakkan lengan Jingga agar gadis tersebut berdiri. Diambilnya tas Jingga dengan kasar. Tapi, saat kakinya ingin melangkah menjauh sesuatu menahannya.

Eunhyuk menahan sebelah lengan Jingga. Dia memberikan tatapan menghujam pada Donghae. Menekankan bahwa dia tidak menyukai cara Donghae memperlakukan Jingga.

“Eunhyuk Oppa…” lirih Jingga supaya Eunhyuk mau melepaskannya. “Please…” lanjutnya saat Eunhyuk masih tidak menurunkan intensitas tatapannya yang tajam pada Donghae.

Merasa tertantang, Donghae melangkah maju mendekati Eunhyuk. Memapas jarak mereka berdua. “Perlukah kutegaskan siapa pemilik gadis ini sekarang?” bisik Donghae di samping telinga Eunhyuk.

***

How many times should I warn you?” Setelah menyeret Jingga dengan kasar, Donghae menghempaskan tangan gadis tersebut dengan serupa. Dia berkacak pinggang dan memandang Jingga dengan penuh amarah.

We just met as a friend, and—“

Do I care about it? Aku tidak peduli dengan nostalgia kalian. Sudah semestinya kau menempatkan dirimu!” Kemarahan terasa kental dalam sorot mata Donghae. Suhu tubuhnya memanas seiring emosinya yang kian meroket. “Kuharap, ini adalah terakhir kali aku mengucapkannya, Jingga-ya.” Donghae mengambil jeda, menahan diri agar tidak berteriak. “Aku melarangmu untuk bertemu lagi dengan Lee Hyukjae, apapun alasannya,” ucapnya dengan penuh penekanan.

Jingga memandang lelaki di hadapnya tersebut dengan mata kerkaca-kaca. Bukan kali pertama mereka bertengkar karna masalah sama dan berakhir dengan dirinya yang mengalah pada keputusan Donghae. Dia berusaha mengeluarkan pendapatnya yang tertahan saat Donghae sudah membalik badan ingin meninggalkannya. “Mengapa kau selalu mempermasalahkan hubunganku dengan Eunhyuk Oppa?”

Donghae menahan langkah, menunggu kelanjutan pertanyaan retoris Jingga. Bukankah sudah berkali dia menjelaskan ketidaksukaannya pada hubungan gadis tersebut dengan saudara sepupunya? Cemburu? Ya. Dan alasan itu juga yang mendorongnya untuk memiliki gadis keturunan Indonesia tersebut. Donghae enggan membalikkan badan meski kebisuan melanda mereka beberapa saat.

What make you worry about our relation?”

Worry?” ulang Donghae dengan nada rendah. Dia tersenyum meremehkan. “Apa yang harus kukhawatirkan?” tanya balik Donghae.

“Jika kau pun tidak menemukan alasan untuk mengkhawatirkan hubungan kami, maka begitu pun denganku.” Jingga menarik nafas panjang untuk memberikan pasokan oksigen sebagai energi untuk menguatkan setiap sel tubuhnya. “Kau jelas tahu bahwa kami tidak mungkin kembali seperti dulu, karna sekarang aku telah terikat.” Dia mengepalkan tangan, menundukkan kepala hingga bisa mengagumi cicin emas putih bertahta berlian yang melingkar di jari manisnya. “Dan lebih dari itu, aku tidak ingin menyakitinya lagi,” lirih Jingga yang masih bisa tertangkap jelas oleh Donghae.

Donghae semakin mengeraskan kepalan tangannya. Alasan terakhir Jingga-lah yang paling tidak disukainya. Ada apa dengan semua orang? Apakah karena Lee Hyukjae adalah pewaris utama Grup Shinwa maka mereka rela melakukan apa pun untuk melindungi pria itu? Emosinya yang tadi sempat surut, kini terpacu kembali. Gemuruh di dadanya menghebat. Dia berbalik dengan cepat, lalu mencengkeram kedua sisi lengan Jingga hingga gadis itu sedikit memekik.

“Oppa…” mohon Jingga agar Donghae melepaskannya. Dia menyadari kilatan amarah Donghae dari sorot mata yang menghujamnya. Sadar bahwa perkataannya telah mengusik lelaki tersebut. Tubuhnya bergetar pelan sebagai manifestasi ketakutannya.

Donghae masih mengintimidasi gadis tersebut dengan tatapannya untuk beberapa saat. Pandangannya menelusup ke dalam iris coklat tua milik Jingga untuk memberikan suatu gertakkan agar gadis itu menjaga perkataan dan sikapnya. Sejenak setelahnya, dengan sekali dorong, dia menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas ranjang. Menjadikan dia menindih dan mengurung sempurna Jingga. “Katakan padaku, apa yang ada di dirinya yang tidak kumiliki? Hingga kalian selalu mengunggulkannya?” geram Donghae.

Seketika jantung Jingga menghentak-hentak dengan keras. Reaksi atas ketakutan, kekalutan, dan kecintaannya pada lelaki tersebut. Merasakan sebuah ancaman, Jingga mendorong dada Donghae dengan kedua tangannya. “Akhh!” dia memekik saat Donghae dengan sigap mencekal kedua tangannya dan menguncinya di atas kepala.

Dengan jarak sedekat sekarang, pria manapun akan merasa kagum pada lekuk wajah gadis Indonesia tersebut, tak terkecuali dirinya. Nafasnya yang memburu bercampur dengan milik Jingga, menghasilkan hawa yang lebih panas. “Pria yang kau elukan itu, dia bahkan tidak melakukan apapun untukmu saat aku merampasmu dari sisinya.” Donghae membentuk seringaian dengan bibir tipisnya.

Perlahan tapi pasti air mata menyembul dari sudut mata Jingga. Pengakuan Donghae atas arti dirinya selalu membuatnya tersakiti. Andai dulu dia tidak membuka hati untuk pria tersebut, ataupun menerima segala kebaikannya, mungkin sesal itu tidak sebesar sekarang. Mata bulat indah miliknya memerah. Dan air mata yang terlanjur turun, membuat bulu mata lentiknya semakin terlihat jelas.

Donghae menggeram kecil saat nafas Jingga menggelitik bibirnya. Dia memejamkan mata dan menunduk untuk meredakan hasrat lain yang tumbuh. Cengkeramannya di pergelangan Jingga menguat saat sesuatu di dadanya menggempur begitu kuat. Sekejap dia membuka mata dan tanpa aba bibirnya memagut bibir Jingga dengan kasar.

“Opp…mmphhh…” Jingga meronta dengan segenap tenaga yang dimiliki. Kedua tangannya tidak bisa diandalkan karna terkunci kuat, sedangkan kakinya yang sedari tadi menjejak-jejak kini bernasib serupa dengan kedua tangannya. Hanya air mata yang terus keluar sebagai bentuk perlawanannya.

Donghae terus melumat lebih dalam saat kelembutan itu membuainya. Sebelah tangannya yang bebas menelusup di leher Jingga. Menekan tengkuk Jingga ke arahnya. Dia tidak peduli dengan rasa asin dari air mata Jingga yang sedikit berbaur dalam ciumannya. Percuma saja jika saat ini amarah dan nafsu sedang merajai pikirannya.

Pada akhirnya, Jingga menyerah. Tidak ada dari usahanya yang mampu menghentikan Donghae. Tubuhnya tergetar pelan saat merasakan sentuhan telapak tangan Donghae di kulit perutnya. Persinggungan yang seharusnya dia nikmati berubah saat setiap sentuhan Donghae malah membuatnya merasa direndahkan.

Jingga menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya yang tertekuk. Dia menarik selimut yang lebih tipis dalam upaya menutupi tubuh polosnya, sekaligus menghangatkannya saat dingin lantai membuat tubuhnya semakin bergetar. Dia diam dalam tangisnya yang semakin tergugu. Hanya malam yang kian larut yang memberikan perlindungan agar dia menumpahkan segala laranya.

Donghae perlahan membuka mata saat cahaya matahari yang menembus jendela menyilaukannya. Dia menggeliat, menikmati sisa-sisa kantuknya. Tangannya meraba sisi sebelahnya, dan seperti biasa, dia sudah tidak menemukan perempuannya di sana. Dia sudah tahu akan selalu seperti itu, tapi entah mengapa tetap melakukannya, meraba sisinya. Donghae mengangkat kepala dan matanya mengerjap-ngerjap lambat untuk menangkap obyek di seberangnya.

Siku kanan Donghae digunakan sebagai tumpuan saat dia memiringkan badan. Keningnya berkerut dengan raut wajah penuh tanya. Menyingkap selimutnya, dia turun dari ranjang, dan berjalan memutari separuh ranjang untuk menjangkau Jingga. Donghae menekuk lututnya pelan, merasa heran mengapa Jingga malah tertidur dengan posisi duduk meringkuk di lantai.

Tanpa pikir panjang, Donghae mengambil sebelah tangan Jingga, lalu dia melingkarkan tangannya melalui belakang lutut Jingga. Dia membopong Jingga dan memindahkannya ke ranjang. Tangannya dengan spontan terangkat dan mengusap kepala Jingga. Dia memandang perempuan tersebut dengan datar selama beberapa saat sebelum dirinya kemudian bersiap untuk bekerja.

***

“Lee Uisa, ini beberapa rekap medis yang kau minta.” Seorang asisten menyerahkan bertumpuk map kepada Donghae.

Donghae mengangkat pena, kemudian melirik tumpukan berkas tersebut. “Apakah persiapan operasi Gui Xian sudah selesai?” Dia meletakkan pena, kemudian berdiri untuk menjangkau jas putihnya yang tersampir di gantungan.

“Ah, ne.” Sang asisten hanya mengangguk singkat. “Rapat pemegang saham diajukan satu jam dari jadwal semula.”

Donghae menghentikan sejenak aktifitasnya untuk memakai jas. Dia menahan tangannya yang tengah merapikan kerah. “Adakah hal penting hingga membuatnya diajukan?”

“Tuan Jung Ma Joon yang menghendakinya. Desas-desus yang saya dengar, beliau berencana menjadikan putrinya sebagai kepala bagian farmasi di rumah sakit ini.”

“Jung Jessica?” Donghae memiringkan kepala. Tertarik dengan berita belum pasti yang disampaikan oleh asistennya. Darahnya selalu berdesir dengan apa pun yang berkaitan dengan putri pemilik saham terbesar kedua rumah sakit milik Grup Shinwa. Dua tahun lalu hingga sekarang relung hatinya terisi oleh nama perempuan tersebut. “Segera bersiap dan atur ulang agendaku dengan tuan Park Jung Min.”

Ye, Uisa.”

***

Jingga tercenung di bangku taman sejak dua jam lalu. Rasa sakit di hatinya masih tertinggal sebagai sisa-sisa perlakuan Donghae semalam. Seharusnya hal demikian bukan masalah, karna statusnya adalah istri sah seorang Lee Donghae. Namun jika semua tidak dimulai dengan pemaksaan, bukankah akan terasa lebih indah?

Dia berpikir dan berpikir ulang mengenai hidupnya. Tidak seperti dulu yang hidup dengan pas-pasan, sekarang dia memiliki beragam fasilitas. Jika dulu semenjak kedua orang tuanya meninggal dia hidup sebatang kara di negeri gingseng tersebut, kini telah ada orang yang menjadi teman hidupnya. Tapi semua menjadi sia saja ketika dia mendapati kebenaran perasaan Donghae padanya. Lelaki itu hanya berambisi untuk memilikinya, bukan mencintainya.

Hi!” seorang gadis seumuran menepuk pundak Jingga hingga membuatnya sedikit terlonjak kaget. “What are you doing here?”

Hi, Jae Hwa.” Jingga tersenyum lemah sebagai tanggapan. Dia tak perlu menyembunyikan keadaannya pada gadis itu. “Have you been finishing your class?”

Emm,” Jae Hwa mengangguk mantap. Dia memerhatikan raut lesu Jingga. Tidak perlu menebak apa yang membuatnya demikian. Sejak pernikahannya dengan Lee Donghae, Jingga memang sering terlihat melamun. Untungnya, Tuhan maha adil. Diantara berbagai kekurangan dan musibah yang melandanya, Dia masih berbaik hati untuk memberikan otak yang cemerlang bagi Jingga. Meskipun Jingga dibebani banyak masalah karena pernikahannya, perkuliahannya tetap berjalan normal.

You didn’t read the announcement yet, did you?” alih Jae Hwa pada topik lain. Bukannya dia tidak ingin mendengar keluh Jingga, hanya saja dia tidak ingin melihat sahabatnya tersebut lebih terluka lagi.

What announcement should I read? And why should I read it?”

Oh, Gosh!” Jae Hwa menepuk keningnya pelan. “You should be in hurry to catch it.” Dia berdiri dari duduk dan mengambil tangan Jingga untuk menarik gadis tersebut agar mengikuti langkahnya.

***

“Lama tak berjumpa, Hae.”

Donghae memberikan senyum terbaiknya. “Bagaimana kabarmu Sica-ya?” Dia berjalan mendekat ke arah gadis yang disapa Sica olehnya. Jung Jessica. “Ah, seharusnya aku mengucapkan selamat untuk pengangkatanmu sebagai kepala bagian farmasi yang baru.”

Kekehan kecil keluar dari mulut Sica. Dia menonjok ringan bahu Donghae. Sebuah tindakan kecil yang menunjukkan keakraban mereka. “Tetap saja aku berada di bawah kepemimpinanmu, Isanim.”

Donghae mengangkat bahunya cuek. Dia selalu menyukai bagaimana Jessica melengkungkan bibirnya membentuk senyum. “Kau keberatan dengan hal itu, Nona Jessica?”

“Tidak sama sekali.” Jessica menahan senyum dan memberi hormat untuk bercanda.

Lihat bagaimana dengan mudahnya gadis tersebut membuat mood Donghae membaik. “Wanna have a coffee?” tawar Donghae.

Sure.” Jessica segera mengambil tasnya. “Maaf karna tidak bisa hadir di pernikahanmu.” Dia mengimbangi langkah Donghae untuk berjalan beriringan.

Langkah Donghae memelan tanpa disadari. Dia hanya tersenyum singkat sebagai jawaban. Jika boleh menjawab, maka dia lebih senang Jessica tidak hadir di pernikahannya. Namun apa pun itu, menikahi Jingga adalah keputusannya. Jadi, tidak ada kata menyesal karna semua berjalan sesuai rencananya.

***

Brak!

Sebuah kotak tersampar oleh Jingga ketika dia membersihkan meja kerja Donghae. Dia berjongkok, memanjangkan tangan untuk menjangkau kotak yang jatuh ke kolong meja. “Gotcha!”

Diamati kotak berbungkus beludru biru tersebut. Merasa penasaran dengan isinya, Jingga membukanya. “It’s beautiful,” pujinya pada sebuah kalung di dalam kotak tersebut. Sebuah kalung emas putih berbandul huruf J dengan taburan berlian.

Ditariknya kalung itu keluar, dan diangkat tinggi untuk mengaguminya. Dia menilik kembali ke dalam kotak dan menemukan secarik kertas kecil bertuliskan: ‘To my precious’. Jingga tersenyum, namun ketika dia membalik kertas tersebut, senyumnya lenyap.  Sebuah nama terukir disana: ‘Jessica Jung’.

Don’t ever dare to touch my property!” Dengan cekatan, Donghae menarik kalung di genggaman Jingga.

I’m sorry. I wasn’t in purpose.” Jingga gelagapan untuk menanggapi Donghae. Mengapa semakin hari, harapan untuk menggapai lelaki itu semakin jauh. Hal-hal kecil yang menunjukkan betapa Donghae sesungguhnya tidak menganggapnya. Jingga mengerutkan keningnya. “Jika kau mencintai gadis yang namanya tertulis di kertas itu, mengapa tidak menikahinya? Mengapa kau malah menyandingku?”

“Kau tidak perlu tahu motifku.” Donghae memasukkan kalung tersebut di kotaknya.

Jingga mencoba berpikir cepat mengenai jawaban pertanyaannya sendiri. Dia takut untuk mengorek lebih dalam mengenai esensi pernikahannya karena dia sudah cukup tersakiti dengan sikap Donghae. Namun saat alasan paling logis melintas pikirannya, dia merasa begitu hina. Kedekatan mereka dan pernikahan ini sudah diperhitungkan dengan cermat. “Apakah selama ini pertemuan dan pernikahan kita sesungguhnya sudah kau rencanakan?”

Donghae menatap Jingga. “Untuk apa kau mengungkitnya.”

Answer me, Oppa!”

“Untuk apa?”

“Apakah hanya Shinwa dan perempuan itu yang bisa menjadi bagianmu?”

“Aku tidak ingin membahasnya.”

“Aku tidak masalah jika kau merengkuhku hanya karna ambisi! Tapi tidak kau bisakah menyisakan sedikit tempat di hatimu untukku?” Jingga menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran. “Sedikit saja.”

“Kau sendiri yang memutuskan menerimaku hadir di hidupmu.” Donghae menyeringai. “Dan setelah sampai di titik ini kau baru menyesalinya?”

“Ya, aku menyesal telah membuka hatiku.” Jingga mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

Donghae menggenggam kalung tersebut erat. Sebuah hadiah yang dulu belum sempat tersampaikan. “Aku tidak mengizinkanmu menyentuh barang pribadiku.” Dia membelokkan ke topik semula.

Jingga melipat bibirnya. “Kau juga tidak mengizinkanku menyentuh sedikit saja hatimu.” Dia berlalu dengan mata berkaca-kaca.

Donghae kian meradang dengan jawaban Jingga. “Yash!” Dia membuang kotak yang digenggamannya ke sembarang arah.

***

Senyum sumringah wanita baya itu menyambut Jingga. “Kau datang, Chagiya?” dia memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri Jingga bergantian. “Lihat betapa cantiknya dirimu,” pujinya.

Gamsahammida, Eommonim.” Jingga mengedarkan penglihatannya ke seluruh butik untuk mengagumi gaun dan dress yang tergantung di sana.

Ny. Kim mengamati antusiasme Jingga. Sejak bercerai 2 tahun lalu dari Tuan Lee Jungshik, ayah dari Lee Donghae, dia menggunakan marga keluarganya. “Lihat-lihat dirimu. Bagaimana bisa kau setia dengan skinny jeans dan blouse?” Ny. Kim memutar tubuh Jingga. “Ah! Aku ada ide,” serunya kemudian memanggil karyawannya.

Setelah hampir dua jam berlalu, inilah hasil ide Ny. Kim. “Apakah ini tidak terlalu terbuka?” Jingga menarik tali tunggal yang tersampir di masing-masing bahunya. Tidak nyaman dengan dress selutut yang dikenakannya sekarang.

“Hei, kau sangat cantik dengan dress itu.” Mata Ny. Kim berbinar memandang Jingga. Dia sangat bersemangat untuk mencobakan beberapa dress pada Jingga. Merasakan memiliki seorang putri. “Akan kuambilkan blazer senada agar kau merasa nyaman.”

Jingga mendekati Ny. Kim dan duduk di sebelahnya. Dia juga merasa senang menghabiskan waktu dengan wanita itu. Meski hubungan Donghae dengan ibunya kurang begitu baik, tapi tidak menyurutkan niat Jingga untuk menjalin komunikasi dengan Ny. Kim.

“Apa Donghae memperlakukanmu dengan baik?”

Jingga melengkungkan senyum. Dia ingin berdusta, dan mengatakan bahwa putra wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi getaran di hatinya menghalangi. Jadi, dia memutuskan untuk mengangguk.

“Meski Donghae kadang temperamental, tapi sejujurnya dia anak baik. Kau harus bersabar untuk berada di sisinya. Mendampingi dan mengarahkannya selalu.” Ny. Kim membelai pipi Jingga. “Gantikan aku untuk menjaganya, Jingga-ya.”

Jingga menahan tangan Ny. Kim agar melekat di pipinya. Merasakan kelembutan belaian seorang ibu yang tidak akan pernah bisa diperolehnya dari ibu kandungnya. “Bisakah Eommonim memelukku?” pintanya yang disambut baik oleh Ny. Kim. Hanya dengan seperti ini, dia mengumpulkan kekuatannya untuk bertahan di sisi Donghae.

“Besok adalah ulang tahun Donghae. Meski terlihat dewasa, tapi dia terkadang bertingkah kekanakan. Merajuk jika orang terdekatnya sampai melupakan hari lahirnya.” Ny. Kim mengusap punggung Jingga. “Berikan dia surprise, dia akan menyukainya.” Ny. Kim melepas pelukannya dan tersenyum riang.

Andai Jingga orang terdekat Donghae yang diharapkan lelaki itu di hari ulang tahunnya, maka dengan senang hati memberikan surprise. “Ini sudah sore, aku harus pulang. Terima kasih atas dressnya, Eommonim.”

“Ji Hyunna, tolong bungkus semua dress yang tadi dicoba oleh Jingga.”

“Ne? Itu tidak perlu.” Jingga mengibaskan tangannya untuk menolak.

“Kenapa menolak pemberian seorang ibu?” Ny. Kim menjawil hidung bangir Jingga. “Anak nakal,” kekehnya.

***

“Oppa sudah pulang?” retorik Jingga. Dia menghidangkan dua mangkuk masakan di meja. Bertengkar kemudian berbaikan, bukan berbaikan, tapi melupakan masalah untuk sejenak.

Donghae menggulung lengan kemejanya. Melihat makan malam yang menggoda perutnya. Setelah membasuh tangannya, dia menarik kursi makan dan duduk. Mengambil sumpit, Donghae mulai menyuapkan makannya. “Uhuk.” Tiba-tiba dia tersedak, melihat Jingga yang melepas celemeknya.

“Kau tidak apa-apa?” Jingga menyodorkan minum dan menepuk-nepuk punggung Donghae.

Ada yang salah dengan gadis itu? Kemana perginya celana jeansnya? Kenapa malam ini dia mengenakan dress dengan bahu terbuka? Dan yah, Donghae tidak memungkiri bahwa istrinya memang cantik. Penampilan Jingga benar-benar membuatnya panas.

Merasa diperhatikan, Jingga mengusap tengkuk dengan kaku. “Eommonim gave it to me,” jelasnya saat mengerti arti tatapan Donghae. “Maaf, aku tidak memberitahumu.” Takut-takut Donghae marah jika Jingga menemui ibunya.

Donghae tidak marah, dia hanya tidak peduli. Dilanjutkan makannya setelah tahu yang sebenarnya. Rasa terpukaunya gugur sudah. Hubungannya dengan sang ibu memang tidak berjalan baik sejak dua tahun belakangan.

“Beliau menitipkan salamnya untukmu.”

“Jangan bahas mengenai dirinya.”

Jingga membungkam mulut. Sudah tahu akhirnya seperti ini. Memang sampai kapan Donghae tidak mengacuhkan perantaranya lahir ke dunia? Semarah apa pun dia, Ny. Kim tetaplah ibu kandung yang pantas mendapat hormat darinya sebagai putra tunggal.

***

Jingga meletakkan pensilnya, kemudian menggulung sketsa jembatan yang baru saja diselesaikan. Melirik jam dinding yang sudah menunjukkan tengah malam, Jingga segera beranjak dari kursinya. Dia menyelinap masuk ke kamarnya.

Dengan penerangan temaram, dia memperhatikan wajah terlelap Donghae. Haruskah dia membangunkannya? Sekedar mengucapkan happy birthday? Jingga memanjangkan tangannya untuk menyingkap poni Donghae. Tindakannya membuat lelaki tersebut menggeliat pelan.

What a gorgeous one,” bisik Jingga. Tenggelam dalam pesona Lee Donghae, Jingga terus melengkungkan senyum selama beberapa menit. Adalah waktu yang langka dimana dia bisa dengan leluasa mengagumi Donghae. Mencondongkan tubuhnya ke depan, Jingga mengecup lembut kening Donghae. “Happy birthday, Oppa. Wish His blessing always shine among you,” ucap pelan Jingga agar tak membangunkan Donghae.

***

“Gunakan segala cara agar kita memenangkan kasus ini.” Donghae melempar map yang baru saja diperiksa. Komplain dari seorang pasien mengenai ketidakpuasannya pada pelayanan rumah sakit menyebar luas di internet. Membuat pandangan miring pada rumah sakit Shinwa. “Ajukan gugatan dengan tuntutan pencemaran nama baik Grup Shinwa.”

“Ye, Isanim.” Sang asisten segera mematuhi perintah Donghae dan beranjak dari tempatnya.

“Kau masih sibuk di hari lahirmu?” suara yang sudah Donghae kenal mengusik telinganya.

“Ah, Sica-ya.” Donghae memutar kursinya dan berdiri untuk menyambut rentangan tangan Jessica. Dia menerima pelukan perempuan itu untuk memberikan ucapan selamat.

Saengil chukae.”

Gomawoyo.” Donghae menyesapi wangi feminis Jessica. Dia menahan pelukkannya beberapa saat. Untuk segala rasanya bagi gadis itu, biarkan sejenak dia menyesapinya.

“Kau sudah punya rencana untuk malam ini?”

Donghae mengerutkan bibir, lalu melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di meja. “Kurasa tidak ada.”

“Bagus. Bagaimana dengan sebuah dinner?”

“Kurasa itu bukan ide buruk.”

“Ok, sampai bertemu nanti.” Jessica menepuk ringan lengan atas Donghae. “Bye.”

Memutar tubuhnya, Donghae menjangkau iphone. Dia membuka kembali inbox message, siapa tahu melewatkan suatu pesan dari sekian banyak pesan yang masuk untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Dia men-swap layarnya ke atas-bawah, namun ternyata tidak menemukan pesan yang diharapkan. Meletakkan kembali iphonenya, Donghae mendesah pelan.

***

Melakukan persiapan kejutannya dengan ceria, Jingga sangat berharap Donghae cepat pulang. Dia menata cake ulang tahun, mempersiapkan hadiah kecilnya, juga surprise lain yang dalam sebuah amplop putih. Duduk dengan menopang dagu, Jingga mengamati sajian di meja makan. Tersenyum membayangkan suasana hangat yang tercipta dengan kejutannya.

Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, dua jam, hingga empat jam lelaki yang ditunggunya tak kunjung pulang. Menoleh ke arah jam dinding, Jingga memijat tengkuknya yang pegal. Hari ini hampir terlewat, tinggal beberapa menit lagi.

Dia menunduk lesu. Seharusnya dia sudah memprediksi bahwa Donghae tidak akan pulang cepat di hari ini. Lelaki itu punya banyak relasi dan teman untuk merayakan hari spesialnya. Dan dia, meski berstatus sebagai istrinya, bukan termasuk dalam prioritas Donghae.

Menyalakan semua lilin di atas kue ulang tahun Donghae, Jingga kemudian menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan mata. “Tuhan, ini adalah hari dimana 27 tahun lalu, salah satu malaikatmu lahir. Segala karuniamu atas kesehatan, keselamatan, dan kegembiraan yang kau berikan padanya, aku mengucapkan syukur. Limpahilah dia dengan kasih sayangmu, sinari dia dengan cahyamu. Kuatkan selalu langkahnya di jalanMu. Amin.”

Jingga membuka matanya. Dan mendapati pipinya yang telah basah tanpa disadari. Dia meniup lilin hingga padam dan bertepuk pelan. “Selamat hari lahir, Donghae Oppa.”

Donghae masuk ke dalam rumahnya dengan sedikit sempoyongan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pening. Padahal dia sudah memperkirakan alkhohol yang diteguknya tidak akan membuatnya mabuk.

Bermaksud mencari air dingin untuk mengurangi pusingnya, Donghae berjalan ke arah dapur. Dahinya berkerut ketika mendapati Jingga yang tertidur di meja makan. Berjalan mendekat, Donghae memerhatikan segala sesuatu yang disiapkan perempuan itu. Dia tersenyum miris dengan kejutan yang dilewatkan. “Cish, kau mempersiapkannya?”

Tangannya memanjang, mencolek krim cake dan memasukkan ke mulutnya. Dia menjangkau kotak kecil berpita merah kemudian mengguncangnya. Tidak berniat mengetahui isinya, Donghae meletakkannya kembali. Penglihatannya segera terarah pada amplop putih di sampingnya. Menjangkau benda tersebut, lalu membuka konten di dalamnya. Ada “X” ganda sebagai logo di kop surat. Matanya bergerak ke kanan-kiri mencermati isi dokumen.

“Jadi kau berhasil meraih mimpimu? Chukae,” ucapnya asal. Donghae meletakkan kertas tersebut. Sebuah panggilan dari perusahaan Axxa kepada Jingga. Perusahaan bonafit di bidang konstruksi. Meski dua atau tiga bulan lagi Jingga baru akan menyelesaikan studi bachelor dan dipastikan mendapat gelar cumlaude di bidang arsitektur, namun ternyata dia sudah berhasil menembus perusahaan sekelas Axxa.

“Ji-ya,” Donghae mengguncang tubuh Jingga.

“Eugh…” perlahan Jingga menggeliat dan membuka mata. “Oh, Oppa. Kau sudah pulang? Maaf karna aku tertidur.”

“Tidurlah di kamar,” ucap dingin Donghae.

“Apa kau sudah makan? Aku akan menghangat—“

“Aku sudah makan. Segeralah tidur.”

“Baiklah, setelah kubereskan ini dulu.” Dia berdiri dan mulai membereskan meja makan.

“Apa kau tidak mendengarkanku?”

“Uh?”

“Lekaslah tidur. Besok baru kau bereskan semua ini.” Donghae melangkah pergi meninggalkan Jingga.

Memang apa yang diharapkan jika Donghae melihat kejutannya? Toh lelaki itu sudah bersenang-senang dengan teman-temannya. Kentara sekali bau alkhohol yang tercium dari nafasnya. Jingga memelorotkan bahu, dan segera menyusul Donghae.

***

Berlari-lari kecil, Jingga kembali ke rumahnya. Dia bergegas untuk mencari dokumen yang dimaksud Donghae. “Hello, Oppa.”

“…”

“Map biru di tumpukan teratas bukan?”

“…”

“Sebentar.” Jingga membuka map tersebut untuk mengecek isinya apakah sesuai dengan yang diminta Donghae. “Kontrak dengan perusahaan Dexan?”

“…”

“Ok. Aku akan mengantarkan secepatnya.” Jingga menutup sambungan, lalu memasukkan dokumen tersebut di tas miliknya. “Yah…” dia sedikit kesal saat mendapati hujan sudah turun. Diraih jas hujan dan payungnya untuk kemudian berlari menembus hujan.

***

“Owh…” Jingga menyisir rambutnya yang lembab dengan tangan. Hujan begitu deras mengguyur. Walaupun sudah memakai jas hujan dan payung tetap saja badannya lembab dan dingin. “Hastchi…” Jingga mengusap kedua lengan atasnya dengan bersilangan. Tubuhnya gemetar sembari menunggu lift. “Ah,” badannya terdorong oleh seorang pria.

Mianhammida,” pria itu berucap singkat. Dari gerak-geriknya yang tidak tenang, Jingga yakin pria itu sedang terburu. Mata Jingga meneliti pria jangkung itu dari atas ke bawah. Dia membaca name tag di dada kiri jas putihnya. Cho Kyuhyun.

Ting!

Jingga tersadar dari lamunannya dan sedikit gelagapan saat melihat angka yang ditunjukkan di dinding lift. Hampir-hampir dia terjatuh andai seorang tidak sigap menangkapnya. “Gomawoyo,” Jingga mendapati dokter muda bernama Cho Kyuhyun memegangi lengannya. “Ah, apakah kau mengetahui ruangan Lee Donghae Uisa?”

“Oh, kau berniat ke sana juga? Kita bisa bersama. Kebetulan aku juga ingin bertemu dengan Lee Uisa.” Kyuhyun menyelaraskan langkahnya dengan gadis yang baru dijumpainya.

Jingga tertegun sejenak melihat Donghae yang tengah berbicara akrab dengan seorang perempuan. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya pada senyum menawan Donghae yang tertuju pada perempuan tersebut. Sebuah senyum yang tidak pernah dia dapatkan. Apakah perempuan itu Jessica Jung? Seketika dia merasa cemburu.

“Ah, dia benar-benar menyebalkan!” cerocos Kyuhyun.

“Kenapa?” Jingga tersadar dengan lelaki yang datang bersamanya.

“Lihat, dia menyuruhku bergegas menyelesaikan laporan pasien-pasien tapi ternyata dia malah asyik bercengkerama.” Kyuhyun berdecak. “Kudengar Lee Uisa sudah menikah. Tapi melihat keakraban mereka, kurasa dia menyelingkuhi istrinya. Jika aku jadi istrinya, sudah kucekik keduanya.”

Jingga hanya tersenyum masam saat hatinya tertohok. Tidak hanya tersinggung dengan ucapan Kyuhyun, dia juga merasa sakit dengan pendapat lelaki itu. Menyelingkuhi istrinya? Kemungkinannya memang besar.

“Oh, Jingga-ya!”

Jingga berjalan mendekat kemudian mengangsurkan map di tangannya. “Ini dokumen yang Oppa minta.”

“Oppa?” lirih Kyuhyun yang berdiri di belakang Jingga.

“Kyuhyun-ssi, kau sudah menyelesaikannya.”

“Ah ne.” Kyuhyun memberikan laporannya.

“Jingga-ya, ini Jessica Jung. Dan Sica, ini…istriku.” Mau tak mau Donghae mengenalkan Jingga pada Jessica. Risih saat dia harus menyebut Jingga sebagai istrinya.

Mata Kyuhyun membulat sempurna. “Aku undur diri, Lee Uisa.” Dia membalikkan badan dan bersiap pergi dari ruangan dokter seniornya. “Mianhata,” dicondongkan tubuhnya ke samping saat melewati Jingga.

***

Jingga berdeham untuk mengusir rasa mengganjal di tenggorokannya. Rasa perih yang menusuk pertanda tenggorokannya meradang. Pasti karna kemarin dia berhujan-hujan. Dia meneguk air hangat untuk meredakan sakitnya. Dia terbatuk dan itu menambah sakit di tenggorokannya.

“Kau sakit?” Donghae mengambil air minum.

“Kurasa hanya flu.”

Memiringkan kepala untuk melihat dengan lebih jelas, Donghae mendapati wajah Jingga memucat. Dia mengambil senter kecil dan stetoskop untuk memeriksa. “Buka mulutmu.” Dia melakukan pemeriksaan dasar. “Tenggorokanmu meradang. Akan kuambilkan beberapa obat.” Dia membereskan peralatannya. Untung saja, Donghae menyimpan stok obat di rumahnya.

Jingga mengamati obat yang baru saja diresepkan Donghae. Dia membolak-balik bungkus obat tersebut untuk membaca nama antibiotic yang diberikan Donghae. Penmox.

“Minum selama delapan jam sekali.” Donghae mengambil cangkir kopinya. Seperti biasa, bersikap tak acuh dengan perempuan itu.

“Tapi Oppa, aku aler—“

Donghae mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Jingga. Dia lebih mementingkan panggilan yang masuk ke telphonnya setelah membaca display name. “Yeoboseyo, Sica-ya.”

Jingga menajamkan telinganya. Hatinya selalu gusar setiap kali nama perempuan itu disebut. Rasa tidak suka selalu hadir sebagai tanggapan.

“Aku harus pergi.” Selesai mengatakannya, Donghae melesat begitu saja meninggalkan Jingga.

Lagi-lagi, Jingga tersingkirkan. Dia hanya bisa melenguh kecil saat hatinya ngilu. Suami yang didambakan begitu mengutamakan perempuan lain. Meminum obatnya dengan cepat, Jingga tak peduli dengan alergi antibiotic yang dideritanya.

***

Kakinya membuat ketukan sesuai irama lagu yang dinyanyikan. Sudah berkali-kali lagu itu dia nyanyikan untuk membunuh waktu yang berjalan lambat. Dia berjalan mondar-mandir di depan pintu, kemudian menelengkan kepala ke arah jalan. Belum ada tanda-tanda bahwa suaminya pulang.

Lelah dengan berdiri, Jingga memutuskan duduk. Menopang dagu dengan kesal, Jingga sudah lelah menunggu. Namun lelah fisiknya bukan alasan untuk memupuskan niat menunggu Donghae hingga pulang.

Di sisi lain, Kyuhyun terus mengomel tak jelas. Mengumpati dokter seniornya yang memberi tugas di malam seperti ini. Astaga! Memang dikira dia kurir yang seenaknya disuruh mengantar laporan laborat pasien? Dia memukul kemudi mobil. Kepalanya melongok ke samping untuk mengecek alamat yang diberikan padanya. “Baiklah, Lee Uisa. Setelah ini, biarkan aku tidur tenang.”

Kyuhyun membuka pintu mobil, dan masuk ke halaman rumah Donghae. “Oh!” dia tertegun mendapati seorang perempuan tertidur dengan posisi duduk menyandar dinding. “Agashi,” Kyuhyun mencoba membangunkan Jingga. Tak memperoleh jawaban, diberanikan mengguncang pundak Jingga. “Agashi.

Mendapati sesuatu yang tak wajar, Kyuhyun berjongkok dan memeriksa Jingga lebih dekat. “Shit!” umpatnya saat mendapati nafas dan denyut nadi Jingga yang lemah. “Ya! Agashi!” ditepuk-tepuk pipi Jingga agak keras untuk menyadarkan perempuan tersebut. “Ya!”

Sesegera mungkin Kyuhyun memberikan CPR. Sembari berusaha menyadarkan Jingga, Kyuhyun secara kontinu memberikan nafas buatan. Dia membopong Jingga dan melarikannya ke rumah sakit.

***

“Apa kau tidak berpikir resikonya!”

Bentakkan dari sang manajer membuat Eunhyuk memundurkan kepala. Telinganya pengang mendengar omelan dari sang manajer. “Sudahlah, Hyung. Aku hanya menemuinya sebentar. Dan lagi restoran itu cukup privasi.”

“Tidak peduli berapa lama kau menemui gadis ini. Dan ini yang kau sebut privasi?” Sang manajer melempar beberapa foto Eunhyuk dengan Jingga saat mereka bertemu dulu. “Dengarkan aku Lee Hyukjae. Saat ini karirmu sedang menukik naik. Jika sampai sedikit saja gossip miring beredar, maka itu sangat membahayakan namamu.”

Eunhyuk menghela nafas. Dia tidak bisa tinggal diam saat mengetahui keadaan kehidupan Jingga. Dua bulan lalu dia meninggalkan gadis itu untuk melakukan promo di China. Dan hanya dalam sekejap, status gadis itu berubah menjadi istri sepupunya sendiri. Menyalahkan Jingga? Tidak. Karna sebelum dia meniti karir di bidang entertainment, Eunhyuk sudah melepaskan gadis itu.

“Kau sudah berusaha keras untuk mencapai prestasi sekarang. Jangan hanya emosi sesaat, kau menghancurkan semua.” Sang manajer menepuk pundak Eunhyuk ringan. “Akan kuajukan protes pada restoran tersebut. Kukira ini adalah ulah pegawainya.”

Mengangguk setuju dengan saran sang manajer, Eunhyuk tertunduk pasrah. Dia memalingkan wajah saat ponselnya berdering.

***

“Apakah kau tidak tahu antibiotic yang kau minum termasuk golongan penicllin?” sinisme Kyuhyun. “Amoxcillin ataupun penmox adalah antibiotic sejenis.”

Jingga menggeleng sebagai jawaban. Bersyukur Kyuhyun datang di waktu tepat. Jika tidak mungkin nyawanya sudah melayang.

“Kau kan bisa mengatakan pada dokter yang memeriksamu kalau kau alergi penicillin!” Kyuhyun berteriak karna dia tegang. Ini adalah pengalaman pertamanya untuk menangani keadaan darurat. Tak sanggup membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu. Alergi antibiotic tidak bisa diremehkan. Andai terjadi sesak nafas secara tiba-tiba ketika orang tersebut tertidur, seperti yang dialami Jingga, maka bisa jadi mengancam nyawa.

Gomawoyo, Cho Uisa.”

Kyuhyun tersadar. Benar. Dia sekarang adalah seorang dokter. Sudah seharusnya belajar mengatasi situasi darurat. “Akan kutuliskan resep baru untuk radangmu.” Dia mengambil kertas. “Dokter?” dia memiringkan kepala untuk mengingat. “Bukankah kau bisa bertanya pada suamimu?” heran Kyuhyun.

“Ah, itu…”

Melihat kecanggungan Jingga, Kyuhyun tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia memang terkenal berlidah tajam dan bertingkah semaunya, tapi Kyuhyun cukup tahu diri untuk menempatkan sikapnya. “Akan kutuliskan beberapa merk dagang penicillin. Jadi kau bisa waspada di lain kesempatan.”

Jingga mengangguk paham. Dia menyanding seorang dokter, tapi sepertinya keberadaan Donghae tidak bisa diandalkan.

“Aku sudah menelpon seseorang dari kontakmu. Tadinya kucoba menghubungi Lee Uisa, tapi tidak bisa.”

Thanks a bunch.”

***

Dan sepertinya, Kyuhyun menghubungi orang yang salah. Membuat suatu masalah timbul diantara saudara sepupu. “Diam kau!” Eunhyuk membentak Jessica yang merengek agar dia tidak membuat keributan. Matanya kembali menatap tajam Donghae. “Aku tidak terima saat kau menyakiti hatinya, tapi—“

Donghae menyeringai. “Tapi apa? Rebut dia kalau kau bisa.” Tantang Donghae.

Eunhyuk menggebrak meja. “Dia sakit dan kau meninggalkannya sendiri. Memilih bersenang-senang dengan wanita lain?”

“Oppa, kami sedang mengerjakan laporan—“

“Tutup mulutmu, Sica-ya! Aku mengenalmu dengan baik. Dan dalam pandanganku, kau bukan perempuan yang sudi menjadi orang ketiga. Jadi jangan rusak penilaianku.”

Donghae bangkit dari duduk. “Shut up!” Dia geram dengan gertakan Eunhyuk pada Jessica.

Eunhyuk tersenyum meremehkan. Dia bukannya tidak tahu mengenai perasaan sepupunya pada Jessica. Mereka bertiga tumbuh bersama, jadi sepantasnya jika Eunhyuk mengetahui seluk beluk hubungan Donghae dan Jessica. Itu mengapa dia bisa langsung melabrak Donghae. “Jingga ada di bawah. Seorang dokter menelphonku kalau Jingga masuk rumah sakit.”

Mwo?”

Damn it!” Donghae meninju udara. Nafasnya terengah-engah karna berlari-lari untuk mengejar Jingga. tapi sayang, taksi yang ditumpangi Jingga sudah melaju saat dia tiba.

“Lee Uisa? Jadi sedari tadi kau berada di rumah sakit?” Kyuhyun yang mengantar Jingga hingga depan keheranan dengan keberadaan Donghae di sana.

“Jadi kau yang menanganinya?”

“Ye.”

“Apa yang terjadi?”

“Sesak nafas. Dan buruknya, aku menemukannya dalam kondisi tertidur di luar rumah.”

Donghae mengeratkan kepalan tangannya. Dia mengusap wajahnya kasar. Sudah pasti gadis itu sedang menunggunya pulang. Sudah berkali dia berpesan jika Jingga tak perlu menunggunya. Namun berkali juga, perempuan itu tidak mengindahkan.

“Dia alergi terhadap penicillin.”

Mwo?”

Jantung Donghae berdetak keras. Tangannya gemetar sebagai bentuk rasa gelisah. Menyadari kesalahan yang diperbuatnya. Dia baru saja membahayakan nyawa seseorang, dan yang paling tidak disukainya, orang tersebut adalah istrinya. “Gomawoyo, Kyuhyun-ssi.” Dia berlalu menuju basement tempat mobilnya diparkir. Meninggalkan urusannya dengan Jessica.

***

Tersentak, Donghae segera membuka matanya. Dia menganjurkan jari telunjuk untuk diletakkan di ujung hidung Jingga. Mengamati pergerakan dada Jingga untuk mengecek nafas. Sudah tiga kali dia tebangun. Tidurnya gelisah karna kejadian tadi.

Gosh!” dia menangkup wajah dengan kedua tangan. Semestinya dia tidak perlu melakukan hal tersebut karna Kyuhyun sudah menangani alerginya. Entahlah, tetap saja dirinya dirundung kecemasan berlebih.

Donghae menoleh dan mengamati Jingga. Dia mempersempit jarak. Mengadu keningnya dengan kening Jingga, dan sebelah tangannya menangkup pipi gadis tersebut. Bahkan nyawanya terancam karna Donghae, tapi Jingga sama sekali bungkam. Gadis itu berlaku seolah tidak terjadi apa-apa. “What should I do, Jingga-ya?”

***

Donghae mengacak beberapa surat di meja kerjanya. Tangannya berhenti di amplop dari kedutaan. Dia menarik isi dari amplop tersebut dan membacanya. Donghae meletakkan dokumen tersebut di meja. Dulu surat inilah yang ditunggunya, tapi ketika pemberitahuan itu datang mengapa tumbuh ketidakrelaan di hatinya?

“Hae, kau ingin makan siang?” Jessica menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Dia mengamati Donghae yang tidak merespon panggilannya. Pandangannya teralih pada kertas di depan Donghae. Mengambil kertas tersebut, Jessica membacanya dengan teliti. “Jadi istrimu masih berkewarganegaraan asing?”

Tersadar dari lamunan, Donghae sedikit heran mendapati Jessica sudah di ruangannya. “Apa kau bilang?”

Desisan keluar dari mulut Jessica. “Istrimu.” Jessica mengangkat kertas yang baru saja dibaca.

“Ah, itu…” Donghae bangkit dan merebut kertas di tangan Jessica.

“Apakah isi dokumen itu benar?”

Donghae mengangkat bahu sebagai jawaban. “Ayo kita makan siang.”

“Hae.” Jessica menahan Donghae dengan meletakkan tangannya di dada Donghae. “Apakah jika itu terjadi, kita masih punya kesempatan?”

Di luar dugaan Donghae, topik itu malah terlontar dari mulut Jessica. Dia benar-benar bingung untuk menjawabnya. “Sica-ya, aku—“

Jessica meletakkan telunjuknya di bibir Donghae. “Kumohon katakan iya.” Sedikit demi sedikit Jessica memapas jarak mereka. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Donghae. Dimiringkan kepalanya, dan beberapa detik setelahnya bibirnya sudah tertempel sempurna di bibir Donghae.

Ingin menolak, tapi hatinya berkata lain. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang Jessica. Dia masih belum merespon lumatan gadis itu untuk beberapa saat. Tidak tahan dengan godaan gadis itu, akhirnya Donghae mengambil alih untuk mendominasi ciuman mereka.

“Cho Uisa.” Jingga membungkuk. “Annyeonghaseyo.”

“Ne,” Kyuhyun membalas sapaan Jingga dengan tindakan serupa. Dia tersenyum geli.

Merasa heran, Jingga mengerutkan kening dan memperhatikan penampilannya. “Ada sesuatu yang lucu?”

“Untuk kedua kalinya kita dipertemukan dengan tujuan sama.”

“Maksudmu? Kau ingin menemui Donghae Oppa juga?”

“Ya.” Kyuhyun menunjukkan map-map di tangannya. “Aku benar-benar ingin mencekik suamimu itu karna memberikanku tugas sebanyak ini.”

Jingga menutup mulut untuk tertawa geli. “Sudah sepantasnya karna kau junior di sini.”

“Ah benar. Membully junior memang menjadi tradisi.” Kyuhyun meringis. “Ngomong-ngomong, kau bukan orang  Korea?”

“Ah, ye. Aku dari Indonesia.” Pertanyaan Kyuhyun mengingatkan tujuannya. Dia ingin menemui Donghae berkaitan dengan urusan kewarganegaraannya. Karna pagi ini dia juga mendapat pemberitahuan deportasi dari kedutaan.

Tanpa terasa mereka sampai di depan ruangan Donghae. Sudah mengetuk beberapa kali dan tidak mendapat tanggapan, Kyuhyun memutuskan membuka pintu. Dan betapa terkejutnya dia dengan adegan yang dilihatnya.

Terlebih lagi Jingga. Dia mengangkat kedua tangan untuk menutup mulut. Hujaman pisau di hatinya begitu perih. Lapisan bening terbentuk seketika di bola mata Jingga. Bahunya tergetar pelan melihat sang suami sedang berciuman panas dengan perempuan lain.

“Lee Uisa!” Kyuhyun mengeraskan suaranya. Menjadikan, baik Donghae maupun Jessica terlonjak dan melepaskan pagutan mereka. “Aku menyerahkan laporan.” Dengan santai Kyuhyun melenggang melalui Donghae dan Jessica. Dia meletakkan map-mapnya dan membungkuk hormat. Pria ini memang memesona dengan tindakannya yang kurang ajar.

“Ma…maaf…mengganggu…” gagap Jingga. Dia menunduk dan segera berlari.

“Jingga-ya…” Donghae tersadar dan kaget saat mendapati Jingga juga di sana. Dia reflex mengejar perempuan itu, namun lengannya tertahan.

“Oppa, kumohon…”

“Maaf, Sica-ya.” Dengan halus Donghae menepis tangan Jessica. “Dia masih istriku.”

Jingga terus berlari dengan air mata berurai. Dia mengabaikan beberapa orang yang tertabrak olehnya. Hatinya terasa hancur sudah. Tidak ada lagi harapan tersisa. Pria itu benar-benar telah menyelingkuhinya, bahkan sebelum mereka berpisah.

Dan tanpa sadar, Jingga melalui Eunhyuk yang kebetulan memiliki janji dengan sang ayah untuk bertemu di rumah sakit. “Jingga-ya…” Tanpa disuruh, Eunhyuk mengejar gadis itu.

***

Jingga mengusap pipinya yang basah karna air mata. Dia melakukan berulang-ulang hingga dirinya merasa kesal saat air mata baru tak henti-hentinya membasahi pipi. Jika dengan menangis akan mengurangi laranya, maka dia lebih senang melakukannya sehari penuh. Adegan ciuman Donghae dengan perempuan lain benar-benar menamparnya. Dan ini jauh lebih sakit dibanding jika Donghae mengabaikannya.

Dari kejauhan, Eunhyuk berdiri mengamati Jingga. Dia meremas topi yang dipegangnya sebagai bentuk rasa sakitnya. Hatinya sudah sering merasakan pedih karna melihat perempuan tersebut tersakiti. Eunhyuk menguatkan keputuusannya sebelum menghampiri Jingga.

“Kau di sini.” Eunhyuk memakaikan topi baseball milik Jingga yang dulu sempat tertinggal saat mereka bertemu. Dia membenahi topi tersebut hingga menutup sepertiga wajah Jingga. Helaan nafas terdengar jelas keluar dari mulut Eunhyuk. Dia berlutut di depan Jingga, dan menggenggam kedua tangan gadis tersebut.

Air mata Jingga masih mengalir, namun isakannya sudah tak sekeras tadi. Hanya bahunya yang masih terguncang pelan sebagai sisa kepedihan. Mata berairnya menatap wajah yang dulu sempat mengisi hari-harinya.

“Jingga-ya, dengarkan aku sekali ini. Anggaplah ini adalah permintaan dari seorang Oppa untuk seorang yang sangat disayangnya.” Ibu jari Euhyuk membesut air mata Jingga. “Kumohon, pulanglah ke Indonesia. Tinggalkan semua cinta dan citamu di Korea. Biarkan kedua hal itu terkubur di sini. Dan raihlah cinta dan cita yang baru di tanahmu.”

“Oppa…” parau Jingga.

“Jikalau pun kau harus melupakanku juga, maka aku lebih rela.”

“Aku tidak bisa.”

“Tidak ada yang tersisa di sini kecuali kepedihan. Dan aku tidak bisa melihatnya lebih jauh. Cukup sudah semua berakhir di titik ini.” Perlahan lapisan air mata juga terbentuk di bola mata Eunhyuk. “Aku membenci diriku yang tidak bisa melakukan apa pun untuk kebahagiaanmu.”

Jingga menggeleng cepat. “Itu tidak benar. Kau—“

“Kumohon, jika kau tidak bisa melakukannya untuk dirimu, maka lakukanlah untukku.” Eunhyuk menyatukan kedua tangan Jingga dan menciumnya lembut. “Maafkan aku yang hanya bisa berdiri melihatmu terluka.” Dia sungguh menahan diri untuk tidak berbuat di luar batas. Karir dan namanya dipertaruhkan jika sampai berbuat nekat. Lebih dari itu, dia sadar sudah lagi tak memiliki hak atas gadis tersebut.

“Tapi, ayah dan ibuku di makamkan di tanah ini. Dan aku tidak bisa meninggalkan—“

“Kau bisa bertandang sesekali kemari. Hmm?” sebelah tangan Eunhyuk terangkat untuk mengusap pipi Jingga, sedangkan sebelah tangannya meremas jemari Jingga. “Jangan khawatirkan mengenai segala hal di sini. Aku akan mengurusnya. Kau hanya perlu memulai hidup dengan baik. Arrachi?” maksud Eunhyuk pada pernikahan Jingga. Dia menguatkan hati untuk berbicara demikian. Tidak dipungkiri jika hatinya terluka andai tidak lagi bisa melihat Jingga. Namun itu jauh lebih baik daripada melihat perempuan tersebut selalu tersakiti, sedangkan dia tidak bisa berbuat apa pun untuk menolongnya.

Dan berjarak hanya 10 meter dari mereka, semenjak tadi Donghae menyimak pembicaraan. Dia mengeraskan ekspresinya saat melihat pemandangan yang membuatnya terbakar. Rasa panas di dadanya begitu nyata hingga rasanya dia ingin menarik istrinya dan memberi pelajaran Eunhyuk atas kelancangannya. Siapa pria itu hingga dengan mudahnya menyentuh dan memerintahkan Jingga sedemikian rupa.

Tapi, Donghae tidak bisa menggerakkan kakinya untuk mendekat. Harga dirinya yang begitu tinggi mengikatnya untuk diam di tempat. Bukankah ini yang diharapkannya? Dengan deportasi Jingga, maka jalan cerai akan terbuka lebar? Tapi ketika kesempatan itu datang, bukannya kelegaan yang dia terima malah suatu sumbatan yang membuatnya semakin sesak.

Eunhyuk memberikan pelukan pada Jingga. Dia tahu kalau Donghae berdiri di sana, tepat dibelakang Jingga. Mereka saling bertukar pandang sengit. Diusapnya punggung Jingga lembut. Memberi tanda pada Donghae bahwa gadis itu berharga baginya.

***

Dengan langkah gontai, Jingga memasuki rumahnya. Saran dari Eunhyuk bukan suatu hal yang bisa diabaikan. Sepertinya, itulah jalan pilihannya, meski sebenarnya dia meragu untuk bisa melakukannya. Jingga sedikit terhenyak dari lamunannya saat ruangan menjadi terang. Dan dia dapat melihat Donghae yang berdiri di sana dengan bersedekap.

“Lihat betapa manisnya istriku. Setelah bermesraan dengan pria lain, kau masih punya muka untuk kembali ke rumah?” sakartisme Donghae.

Jingga mengerutkan kening dan memasang wajah bingung. Bukankah seharusnya dia yang marah dengan kelakuan Donghae? Mengapa malah sebaliknya? “Aku tidak mengeti maksudmu, Oppa,” ucap datar Jingga. Dia berusaha sebisa mungkin menahan amarahnya. “Maaf, aku lelah,” elak Jingga.

“LENTERA JINGGA LEE!” Tumpah sudah semua emosi yang menyumbat dada Donghae. Dia sengaja menambahkan marganya di belakang nama istrinya sebagai penegasan bahwa perempuan tersebut masih harus mematuhinya.

Nyali Jingga mengkeret seketika saat mengdengar namanya disebut keras oleh Donghae. Meski mereka sudah sering adu mulut, tetapi suasana kali ini terasa lain. Beberapa masalah belakangan membuat konflik diantara mereka memanas. “Mengenai masalah deportasiku—“ Jingga memberanikan diri untuk melontarkan pikirannya setidaknya untuk kali ini, “—aku yakin hal tersebut adalah yang kau tunggu-tunggu. Aku akan menerima tuntutan cerainya.” Lolos sudah apa yang ad dibenaknya. Tapi saat beban di pundaknya terasa terangkat dengan perkataannya…

PLAK

Kepala Jingga terhempas ke samping. Perih di pipinya segera merembet ke ulu hati. Menularkan rasa perih yang sangat ke bagian tersebut. Perlahan dia menolehkan kepalanya kembali pada Donghae.

Donghae tersentak dengan perbuatannya sendiri. Begitu sakral kata cerai yang diucapkan Jingga bagi pendengarannya. Amarahnya memuncak saat hatinnya merasa tertebas dengan tajamnya ucapan Jingga. Tangannya bergetar pelan ketika menyadari perbuatannya sudah sangat kelewatan. Sesungguhnya, dia juga bukan orang yang ringan tangan. Tapi entah mengapa dirinya hilang kontrol saat segitu Jingga menyinggung perceraian.

Ok. I really understand,” perkataan Jingga terasa mencekik di lehernya. Dia mengamati Donghae yang diam dengan ekspresi terkejut. Air mata langsung meleleh dari kedua bola matanya. Jadi seperti inilah watak sang suami. Tidak tahan dengan perlakuan Donghae, dia membalik badan. Dan tanpa diminta, segera lari meninggalkan rumah.

“ARRRGGGHHH!” Donghae mengacak rambutnya kasar. Menjambak-jambak rambutnya dengan keras agar pikirannya kembali jernih. Tapi sayangnya itu tidak membantu sama sekali.

***

Yeoboseyo, Oppa,” Jae Hwa menghimpit ponsel dengan pundak dan kepalanya agar tidak terjatuh. Kedua tangannya sibuk memeras kain kompres untuk kemudian ditempelkan di kening sahabatnya.

“…”

“Oppa, bisakan aku minta tolong untuk dicarikan sebuah homestay?” Dia sedikit lega karna orang yang ditelphonnya merespon baik.

“…”

“Tidak, bukan untukku, tapi Jingga.” Jae Hwa mengangsurkan tangannya untuk membelai Jingga. Prihatin dengan keadaan perempuan tersebut. Jingga datang padanya dengan keadaan basah kuyup dan menggigil. Ditambah lagi wajahnya yang suram serta bekas memar di pipi membuat Jae Hwa ingin merajam lelaki itu. Tak perlu penjelasan siapa yang melakukannya, dia sudah bisa menebaknya.

“…”

“Dia sedang istirahat. Keadaannya kacau.”

“…”

“Hanya demam. Kalau bisa, malam ini juga tolong jemput kami.” Jae Hwa hanya ingin menyembunyikan Jingga untuk sementara waktu. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa sahabatnya jika lelaki itu sampai menemukannya.

“…”

Gomawoyo, Eunhyuk Oppa.”

***

Donghae duduk dengan menumpu kedua sikunya di paha. Dia berpikir keras mengenai kelumit rumah tangganya. Gadis keturunan Indonesia itu, seharusnya dia dengan mudah mendapatkan dan melepaskannya. Namun hal kedua mengapa terasa sangat sulit?

Mungkin karna dia terbiasa dengan kehadiran Jingga. Melihat punggung sempitnya, senyum menawannya, keceriaannya, segala hal mengenai perempuan tersebut bagaikan candu baginya. Apakah dia mencintainya? Oh, yang benar saja. Alasan mengapa dia memperistri Jingga bukan karna hal tersebut, melainkan karna ingin merebut satu per satu milik Hyukjae.

Ya, dia sangat egois. Berambisi meraih Shinwa dalam genggamannya. Mengalahkan pewaris utama yang menurutnya tidak bertanggung jawab, namun sering dipuja karena kecermelangannya di dunia hiburan. Yang benar saja! Mereka tidak mungkin membiarkan lelaki seperti Hyukjae yang tidak berkompeten untuk memimpin Shinwa bukan?

Donghae tersadar saat suara petir begitu keras menyambar. Dia menegakkan badan dan menolehkan kepalanya ke pintu dan jendela kaca di sampingnya. Hujan sangat deras dengan kilatan petir yang begitu mengerikan. “Jingga…” desisnya. Donghae segera berdiri saat mengingat perempuan tersebut.

“Jingga-ya!” suaranya menggema di penjuru rumah. Dia mengecek semua ruangan di rumahnya. Berharap perempuan tersebut sudah kembali. “Jingga-ya!” Donghae semakin panik saat tidak menemukan sang istri dimana pun.

Oh my goodness.” Donghae menepuk keningnya pelan. Memang apa yang diharapkannya setelah menampar perempuan tersebut? Dia segera menyambar kunci mobil. Persetan dengan rasanya untuk Jingga. Yang jelas, dia mengkhawatirkan perempuan itu sekarang.

***

“Jae Hwa-ssi!” Donghae memencet bel apartemen Jae Hwa berulang-ulang dengan tidak sabar. Sudah hampir sepuluh menit dia berdiri di depan pintu, tapi tidak ada tanda-tanda Jae Hwa merespon panggilannya. “Jae Hwa-ssi!” ulangnya dengan nada keras. “Aishh.” Donghae menghantam pintu dengan kepalan tangannya.

“Apakah kau mencari Jae Hwa?” seorang perempuan paruh baya menyapa Donghae saat tidak tahan dengan keributan yang lelaki itu perbuat.

“Ah, ne. Apakah apartemennya kosong?” Donghae membungkukkan badan untuk bersikap hormat.

“Aku melihatnya keluar bersama seorang pria dan seorang wanita beberapa jam lalu.”

Donghae terlihat berpikir. “Bagaimana rupa pria dan wanita itu?”

“Ah, aku tidak tahu rupa si pria karna dia mengenakan masker dan topi untuk menutupi wajah. Mungkin mereka ke rumah sakit, karna kulihat si pria membopong sang wanita. Agaknya wanita itu sedang sakit.”

Donghae menarik nafas. Jelas sudah siapa si pria dan wanita yang dimaksud. Lee Hyukjae. “Gamsahammida ahjumma,” Donghae membungkuk hormat dan segera berlari.

***

Terlalu kaget hingga tak bisa melawan, Eunhyuk pasrah saat tubuhnya terdorong menumbuk dinding. Kerahnya dicekal seseorang, dan dia hanya mendengus untuk meremehkan saat mengetahui pelakunya. “Cish, apa maumu?” tanya Eunhyuk dengan nada menantang.

Donghae mengeratkan cengkeramannya di kerah Eunhyuk. Dia memandang nanar sepupunya tersebut. “Dimana Jingga?”

Eunhyuk tertawa hampa. Bukan karna lucu, tapi untuk meledek. “Setelah apa yang kau lakukan padanya, kau masih pura-pura peduli?” Dia menyeringai. “Hentikan semua ini Lee Donghae!” Secara drastis, Eunhyuk mengubah mimik wajahnya menjadi tegas.

“Keparat kau, Lee Hyukjae!”

BUGH

Wajah Eunhyuk tercampak ke samping dengan keras hingga darah mengalir di sudut bibirnya. Dia mengangkat tangan untuk membesut sudut bibir saat merasakan aliran cairan di bibirnya. “Siapa yang sebenarnya keparat, Lee Donghae!” Dengan cepat dia membalikkan kondisi. Menarik kerah Donghae dan menghimpit pria itu di tembok. Merasa kalap dengan perbuatan Donghae pada Jingga atau pun dirinya, Eunhyuk memberikan beberapa kali pukulan di wajah dan perut Donghae.

Tidak melawan, tubuh Donghae merosot ke lantai tatkala Eunhyuk melepaskan cengkeramannya. Bukan tidak mampu membalas, dia hanya tidak ingin melakukannya. Donghae tertawa miris sembari memegangi perutnya. “Inikah hidup itu?” dia masih tertawa.

“Kau masih bisa tertawa, huh?” Eunhyuk berjongkok, kembali mencengkeram kerah Donghae. “Tidak tahukah bahwa tindakanmu menghancurkan dirinya? Menikahinya dengan dasar membenciku, berlaku semena untuk menyakitinya, dan terakhir kau masih punya hati untuk menamparnya? Pria macam apa kau ini!”

“Jika bukan karnamu aku tidak akan melakukan sejauh ini!” Donghae balas berteriak. “Kau bebas menjadi apa pun tanpa terbesit sedikit saja rasa bertanggung jawab pada Shinwa? Hah!”

“Kau benar-benar picik, Hae-ya.”

“Apa lagi kata umpatan untukku?”

“Brengsek kau, Hae!” Eunhyuk kembali melayangkan bogemnya untuk menghantam wajah Donghae.

“Selama hidupku kuhabiskan menjadi bayang-bayangmu. Menanggung beban untuk meneruskan Shinwa, namun pada akhirnya Shinwa tetap tidak bisa kurengkuh. Kenapa? Karna kaulah pewaris utamanya.”

“Dan karna itulah kau berusaha merebut apa pun dariku? Termasuk Jingga?”

“Benar. Dan lihat rencanaku berhasil.” Donghae merentangakan kedua lengannya.

“Kau menginginkan Shinwa?” Eunhyuk mengguncang Donghae. “Hanya itu? Maka aku bersedia melepas hak warisku. Karna sebenarnya, aku juga muak dengan kalian.”

“Kau melepasnya demi gadis itu?” Donghae tersenyum meremehkan.

“Tidak juga. Aku melepasnya karna aku menginginkannya. Tidakkah kau berkaca pada keluargamu?” Eunhyuk sebenarnya enggan menyinggung hal ini, tapi apa mau dikata. “Bagaimana Ahjumma tersingkir dari keluarga besar kita, menanggung derita seorang diri. Seharusnya kau memikirkan hal itu?”

“Jangan bawa-bawa keluargaku!”

“Dan kau kira Eommaku tidak serupa? Dia hanya tegar dalam balutan pakaian formalnya. Menyembunyikan kesedihannya dalam kesibukan Shinwa. Dan kau akan menjadi generasi selanjutnya?”

“Kau membual, Hyuk?”

“Andai bisa kulakukan, Hae.” Mempertajam sorot matanya, Euhyuk masih belum melepaskan cengkeramannya. “Menyingkirkan wanita-wanita hebat yang berjasa bagi kita, yang tidak pernah menuntut balas atas apa yang mereka lakukan. Seperti itukah hidupmu?”

“Itu sebuah pengorbanan untuk memajukan Shinwa.”

“Dan aku tidak tahu hal-hal kotor apa lagi yang ada di persaingan Shinwa.” Eunhyuk melepas kerah Donghae. “Itu alasan aku melepasnya. Dan setelah ini, jangan berharap kau bisa menyakitinya lagi.” Dia berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya. “Aku sangat berharap, Shinwa berubah menjadi lebih baik dengan kepemimpinanmu.”

Pikiran Donghae serasa dijejali banyak hal. Membuatnya pening untuk memilah-milah mana yang benar dan salah. Dia menggapai kaki Eunhyuk sebelum pria itu masuk ke dalam apartemennya. “Bagaimana keadaannya, Hyuk?”

Eunhyuk menatap ke bawah. “Kupastikan dia akan baik-baik saja.”

***

Membanting setirnya ke kiri, Donghae menghentikan laju mobilnya. Dia menyandarkan punggungnya di jok dan memijit pangkal hidungnya. Menelaah pembicraanya dengan Eunhyuk. Bahwa dia menemui pemikiran yang sama tentang keburukan Shinwa dengan lelaki itu. Hanya saja, selama ini dia memilih tidak menggubrisnya.

Donghae membanting pintu mobil dengan keras. Dia memukul-mukul body Ford miliknya dengan kedua kepalan tangan. Berteriak kesetanan di bawah hujan deras yang mengguyur badannya. “Arrghh…” sekali lagi dilepaskan segala amarahnya.

Hatinya benar-benar terasa ngilu. Dan dia benci saat mengetahui usahanya untuk menyembuhkan hatinya sia-sia saja. Perempuan yang tanpa disadari selalu menjadi penyembuhnya lepas karna kesalahannya. Donghae membalik tubuhnya hingga punggungnya beradu dengan body mobil. Dia memerosotkan badannya sampai terduduk di dinginnya aspal. Membiarkan air langit untuk meluruhkan segala perihnya.

***

“Jingga-ya!” Jae Hwa mengeraskan volume bicaranya. Sengaja untuk mengagetkan Jingga yang sedang melamun.

Hi,” dengan wajah kuyu, Jingga menjawab sapaan temannya. “Kau berbelanja banyak?” dia terheran saat melihat dua paper bag besar yang tergeletak di meja dapur.

Yes, I did. Tought that you’ll need it.” Jae Hwa mengeluarkan bahan belanjaannya, dan mulai menata di kulkas.

It’s too much, Darl.” Jingga mengambil sebuah apel dari bungkusan kemudian mencucinya di wastafel.

“Ya! Bisakah kau membantuku dulu.”

No, I won’t.” Jingga menggigit apel yang diambilnya dan bersikap cuek untuk mengerjai.

“Hya!” Jae Hwa mendekat, berusaha merebut apel dari tangan Jingga. Namun Jingga malah memutar tubuhnya ke kanan dan kiri untuk berkelit. “Hei, kau bukan anak kecil lagi. Hentikan!” marah Jae Hwa.

Mehrong…” Jingga memeletkan lidah. Ingin menciptakan suasana hangat.

“Ya! Jingga Lee!”

Dan seketika Jingga menghentikan kebrutalannya. Dia diam saat telinganya menangkap dengan baik perkataan Jae Hwa. Meski dia tahu, gadis itu tidak sengaja. “I don’t have a family name,” lirihnya.

Menyadari kesalahannya, Jae Hwa menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Dia segera meraih Jingga dalam pelukannya. “Sorry, Honey. I weren’t meant it.”

Jingga membalas pelukan Jae Hwa. Mengubur wajahnya di pundak gadis itu. Hari ini adalah dimana dia mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Dan beberapa hari lagi surat tuntutannya akan disampaikan pada sang suami.

***

“Cabut gugatan kita kepada Park Jung Min. Secara resmi, atur pertemuanku dengannya juga keluarganya.” Donghae men-swap layar tablet miliknya. “Dan tuan Soe, tolong jadwalkan sebuah konferensi pers.”

Tuan Soe menatap atasannya dengan tanya. “Untuk apa diadakan konferensi pers, Isanim?”

“Kita akan meminta maaf kepada publik untuk kelalaian penanganan beberapa pasien.”

“Isanim…” semua kepala yang tadinya menunduk kini serentak menegak dan menoleh pada Donghae. Keputusan atasan mereka bisa jadi memperburuk citra rumah sakit di kalangan masyarakat.

Donghae yang menyadari semua tatapan terarah padanya, menegakkan punggungnya. Telunjuknya menyurung frame kama mata untuk membenahi letaknya. Ditatapnya semua peserta meeting. “Ini adalah langkah awal untuk memulai pembaharuan.”

“Tapi kepercayaan publik akan menurun.”

“Maka dari itu, kita perlu meningkatan mutu pelayanan rumah sakit ini, Jessica-ssi.”

“Tindakanmu sama artinya bunuh diri, Isanim.”

“Aku ingin semua daftar tenaga medis dan staf yang bekerja di sini. Adakan seminar dan workshop tentang keprofesionalan kerja untuk bulan depan, tuan Soe.”

“Ye, Isanim.” Dengan semangat, tuan Soe mencatat agenda yang diberikan Donghae.

“Tuan Park, tolong periksa ulang semua fasilitas rumah sakit. Tuan Jang, rapikan daftar administrasi kita. Nona Jessica, periksa semua supplier dan mutu dari setiap produk kesehatan yang mereka tawarkan. Semuanya, tolong laporkan padaku akhir minggu ini.” Donghae merapikan berkas dan tabletnya. “Meeting ditutup. Selamat siang.” Dia bangkit dan keluar dari ruangan.

“Hae!” Jessica berlari kecil untuk mengejar Donghae. “Hae-ya!” dia mencekal lengan Donghae agar lelaki itu menghentikan langkahnya. “Kita perlu bicara.”

“Kalau begitu, silakan bicara.”

“Tidak di sini.”

“Maaf aku tidak punya waktu saat ini. Setengah jam lagi, aku ada operasi.”

Jessica mengusap pelipisnya. Di hadapnya kini, berdiri seorang yang sepertinya tidak dia kenal. “Apa yang terjadi padamu? Mengapa tiba-tiba memutuskan seperti ini.”

Donghae menghela nafas. Banyak hal yang terjadi padanya, mulai pertengkarannya dengan Jingga, perkelahiannya dengan Eunhyuk, dan sekarang pernikahannya di ujung tanduk. “Aku ingin memperbaiki semua.”

“Dengan melawan arus?” Jessica membuka kedua tangannya. “Pemegang saham akan memusuhimu jika kau meneruskan langkah ini.”

“Maka aku akan berjuang, meski itu artinya mereka akan mematahkan kaki dan tanganku.”

“Hae…” Jessica menatap sendu ke arah Donghae. “Jangan seperti ini. Ayo kita menikah, dan menguasai Shinwa. Baru kau bisa berlaku sesukamu.”

Donghae tersenyum miris. Andai dua tahun lalu gadis itu mengucapkannya, dia pasti menyanggupinya. Tapi sekarang, dia sedang menanti sebuah keputusan dari seorang perempuan. Dan itu bukan Jessica Jung. “Tentang kejadian antara kita waktu itu, aku benar-benar menyesal. Maaf karna emosi sesaat, aku terdorong melakukannya. Sekali lagi, maaf, Sica-ya.”

“Ini tidak benar, Hae.”

“Pasienku menunggu. Sampai bertemu nanti.” Donghae membalik badan dan bersegera meninggalkan Jessica. Mengungkapkan rasa penyesalannya, Donghae merasa bebannya sedikit terangkat. Dia yakin tindakannya kali ini sudah dipikir dengan akal dan logika.

***

Melangkah lesu, Donghae membuka pintu rumahnya. Semenjak Jingga pergi, kembali ke rumah selalu membuatnya tersiksa. Banyak kenangan di sana. Dan sayangnya, itu bukan kenangan manis.

Kaki Donghae mundur selangkah ketika menginjak amplop coklat yang terselip melalui pintunya. Dia memungut amplop tersebut dan membukanya. Seketika, dirinya merasa ditimpa langit runtuh. Dokumen tuntutan cerai Jingga sudah berada di tangannya.

Hal yang dulu diidamkan, kini malah berbalik menyakitkan. Hatinya terasa dihujam dengan sadis hingga hancur. Udaranya terasa mencekik leher. Menjadikannya sulit bernafas. Rasa panas di dadanya membakar saat menemukan benda lain di amplop itu. Benda lambang ikatan mereka. Cincin pernikahan milik Jingga.

“Yash!” Donghae membuang amplop tersebut. Pupus sudah harapannya untuk mengambil perempuan itu ke sisinya kembali. Dia mengusap wajah hingga naik ke kening dengan marah. Berjuta ngengat serasa menggerogoti jantung.

Memukul-mukul tembok dengan tangannya, Donghae terlihat kacau. Sakit yang dirasakan di punggung jemari seolah tidak berarti. Dengan lebih intensif dia menghantam tembok. Menyalurkan letupan emosi yang mungkin saja bisa membuatnya gila.

Baik, takdir memang menang dan dia kalah. Dia mencintai gadis itu. Sangat mencintainya hingga tanpa disadari, Jingga sesungguhnya sudah merebut semua tempat di hatinya. “Jingga-ya…Jingga-ya…”

***

Teriakkan pada perempuan itu bahwa dia sangat bodoh jika melakukannya. Makilah dirinya atas tindakannya. Tapi apa yang bisa menghentikannya? Tidak ada.

Jingga membuka pagar rumah yang dulu sempat ditinggalinya. Dia memandang bangunan tersebut dengan takjub. Seolah dia sangat memuja tempat itu. Dilangkahkan kakinya ke taman kecil depan rumah. Menikmati atmosfer yang dulu menjadi pelindungnya, Jingga termenung cukup lama.

Dia ingat rasanya selalu membuncah ketika melihat Ford putih milik suaminya memasuki halaman rumah. Rasa tak sabar untuk melihat wajah kuyu sang suami yang akan tetap tersenyum ke arahnya. Tapi itu dulu sebelum dia tahu kenyataan pahit.

Dia juga ingat bagaimana tanaman-tanaman di sana dirawat baik oleh tangannya sendiri. Temaram lampu taman dan gemericik air terjun buatan menjadi teman untuk menunggu kepulangan Donghae. Meski sikap Donghae berubah, tapi dia tidak peduli. Akan tetap menunggu hingga lelaki itu kembali. Dan di sinilah pemberhentiannya. Di titik kejenuhan untuk mengharapkan Donghae mengubah sikapnya.

Jingga mengusap air mata yang entah kapan merembes. Untuk terakhir kali, dia ingin mengumpulkan memori di rumah itu sebelum kemudian menguburnya di dasar kalbu. Dia beranjak dari duduk saat merasa sudah cukup. Namun langkahnya terhenti saat pintu utama rumah terbuka dan menampakkan sosok yang dirindunya.

“Jingga…” Tak percaya dengan penglihatannya, Donghae segera mendekat. Dia mengamati istrinya dari ujung kaki hingga rambut. Menemukan kelelahan yang sama dengan dirinya di diri Jingga.

Annyeonghaseyo, Oppa.” Ingin menghindar jika bisa, tapi lelaki itu terlanjur melihatnya. “Kupikir kau belum pulang,” basa-basi Jingga. “Walau bukan suatu hal yang penting bagimu, tapi aku tetap ingin mengatakannya.”

Mulut Donghae terkunci. Lidahnya kelu untuk mengucap berjuta rasa yang sebenarnya ingin disampaikan. Memilih menunggu Jingga berucap.

“Lusa aku kembali ke Indonesia. Dan mengenai persidangan cerai kita, aku mewakilkan semua pada pengacara.” Ribuan semut serasa mengerubungi hatinya. Keputusan yang dengan matang sudah ditetapkan masih jua membawa luka. “Aku cukup tahu diri untuk masuk di hidupmu. Bukan aku yang kau harapkan berada di sisimu. Meski diriku hancur di sampingmu, tidak akan berpengaruh padamu. Kau hanya butuh wanita bernama Jessica Jung dan Grup Shinwa melihat ke arahmu. Jadi, aku mundur.” Dikuatkan dirinya untuk tidak menangis, walau sangat ingin melakukannya.

Donghae melipat bibirnya saat tergetar. Dia mendongak menatap langit yang mulai kelam. Menghalau desakan air mata yang secara nyata menyembul. Ingin menyangkal semua perkataan Jingga, tapi air mata terlalu menyumbat kerongkongannya. Kepalanya terasa berdenyut.

“Oppa, kau baik-baik saja?” dia memberanikan diri bertanya. Jika dilihat lebih teliti, Donghae memang kacau. Rambut yang acak-acakkan, empat kancing teratas kemejanya yang terbuka, wajah muram. Jingga menganjurkan tangannya untuk melihat jemari Donghae yang mencuri perhatiannya. “Tanganmu berdarah, Oppa.”

Sentuhan Jingga menghantarkan sengatan pada sel-selnya. Secara impulsive, Donghae menarik Jingga ke arahnya. Menempelkan bibirnya ke bibir Jingga. Kedua tangannya menangkup wajah Jingga. Lembut dan penuh perasaan, dia menghisap bibir Jingga. Menyampaikan berjuta kata yang tidak sempat terucap dengan sebuah ciuman.

Saraf motorik Jingga lumpuh seketika. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan tidak percaya dengan tindakan Donghae padanya. Dipaksakan matanya memejam ketika ciuman Donghae semakin dalam. Tak bisa mengelak, jika dia juga merindukan sentuhan lelaki tersebut. Dia terhenyak saat merasakan pipinya basah, bukan karna air matanya. Jadi sudah bisa dipastikan itu air mata Donghae.

Donghae melepas pagutannya. Dia masih mempertahankan kedua tangannya untuk menangkup wajah Jingga sambil menormalkan deru nafasnya. “Aku tidak baik-baik saja. Aku terluka. Di sini.” Donghae mengambil tangan Jingga dan meletakkannya di dadanya. Tempat segala nyeri bersumber. “Sangat sakit. And I’m dying because of this feeling.”

Jingga merasakan degub-degub kencang yang terhantar di telapak tangannya. Dia memandang Donghae, kemudian mengusap pipi lelaki tersebut yang basah karna air mata.

“Bisakah kau kembali untuk mengobatinya? Menyelimutinya dengan segala kasih sayangmu.” Donghae meremas jemari Jingga di dadanya. “Aku salah. Kumohon, maafkan aku.”

Pupil Jingga bergerak gelisah untuk menatap Donghae. Bermimpikah dia? Apakah dengan ini berarti sang suami tidak menghendakinya pergi.

“Lentera Jingga Lee, kumohon nyalakan kembali api yang sempat padam. Terangi aku saat bahkan semua cahaya padam.” Donghae yakin inilah rasanya. Dia tidak membutuhkan Shinwa melihatnya, atau bahkan Jessica Jung. Yang dia butuhkan adalah perempuan ini, untuk selalu di sisinya ketika bahkan Shinwa akan memusuhinya. “With all of my heart, Jingga Lee, I love you.” Dia mengecup tangan Jingga. “So much.”

Perempuan itu tidak bodoh. Dia hanya menyambut kebahagiaan yang akhirnya datang. Jingga hanya mengangguk sebagai jawaban. Kakinya melemas saat pening tiba-tiba menyerang kepala. Mungkin saja dia terlalu bahagia.

“Sayang,” dengan sigap Donghae meraih pinggang Jingga. Dia menempelkan tangannya di kening Jingga untuk mengecek suhu tubuh. “Kau demam.” Dia membungkuk dan melingkarkan tangannya di belakang lutut Jingga untuk kemudian membopong sang istri masuk ke dalam rumah.

***

Jemarinya masih setia mengusap kepala Jingga. Menelusupkannya di helaian rambut Jingga, menikmati halusnya rambut Jingga saat dia menarik keluar jemarinya. Dia mengamati wajah ayu yang terlelap di dadanya.

Jingga tidur dengan posisi diagonal dan miring ke arahnya. Kepala perempuan tersebut berbantal dada Donghae. Membuat lelaki tersebut bersyukur untuk menikmati keindahan yang diberikan Tuhan padanya. Dianjurkan tangannya mengusap pipi Jingga. “Tidur nyenyak?” tanya Donghae saat melihat Jingga membuka mata.

“Kau tidak tidur, Oppa?”

“Aku tidak bisa memejamkan mataku barang sejenak karna keindahan di depanku sangat sayang terlewat begitu saja.” Telunjuk Donghae menyusuri kening Jingga. Membenahi plester penurun panas yang tertempel di sana.

“Hentikan gombalanmu, Oppa!” Jingga memukul ringan dada Donghae.

“Auch,” ringis Donghae. “Aku tidak menggombal, tapi merayu,” belanya. Dan sepertinya kedua kata itu hanya berbeda tipis sekali, atau bahkan mungkin bersinonim. “Hei, aku ingat sesuatu,” ucap Donghae dengan antusias.

“Apa?”

“Kau belum membalas ungkapan cintaku.”

Jingga memajukan bibirnya. Wajahnya memerah. Dengan cepat dibalikkan tubuhnya untuk membelakangi Donghae.

“Eish, kembali berbalik,” kesal Donghae. Dia menarik tubuh Jingga hingga sedikit ke atas. Menjadikan kepala perempuan tersebut membentur dagunya. “Baik, aku minta balasan lain saja jika kau memang tidak mau mengucapkannya.”

Jingga mendongakkan kepalanya. Sepertinya tawaran Donghae bukan suatu hal yang lebih baik.

“Cium aku.”

Benar kan. Jingga secepatnya menunduk kembali, tapi sayangnya tangan Donghae terlanjur menangkap dagunya. “Kau mau menghindar lagi?” Donghae memberikan tatapan jenaka dan lembut. “Hemm?” godanya.

Jingga menatap Donghae cukup lama. Mengagumi kesempurnaan wajah sang suami. Jantungnya segera menggila. Dengan lambat, dia merangsek maju. Melesapkan hidungnya melalui hidung mancung Donghae, sebelum akhirnya bibirnya menyentuh bibir Donghae. Secepat kilat dia menarik mundur wajahnya kembali tatkala jantungnya tak terkendali.

“Ya! Apa itu yang disebut ciuman!” protes Donghae. Kesalnya berubah drastis saat menyadari mimik Jingga. Dia tersenyum nakal, mengamati wajah Jingga yang memerah. Dengan gerakkan cepat, tubuhnya menindih Jingga. “Aku bahkan belum mendapat ucapan dan hadiah ulang tahun darimu.”

Jingga berpikir dan mengingat. Memang surprisenya gagal karna Donghae pulang larut. “Lalu apa yang kau inginkan, Oppa?”

“Katakan kau mencintaiku.”

“Apa jika aku mengatakannya, kau akan melepasku?” Jingga mulai was-was karena seutuhnya dia di bawah kuasa Donghae.

“Eumm…” Donghae mengerutkan bibir dan berpura berpikir. “Tidak!”

“Yak!”

“Jika kau mengucapkannya, maka aku tidak akan melepasmu.”

“Oppa…”

“Besok akan kuurus masalah deportasimu. Jadi, bersediakah kau mengubah kewarganegaraanmu?”

Tanpa ragu, Jingga mengangguk. Di sinilah sekarang tanahnya. Tempat dimulainya kehidupan dalam lembar baru. “Saranghae.”

Donghae tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia melingkarkan kedua tangan Jingga di lehernya. “Na do saranghae, Jingga Lee.” Dengan pasti, didekatkan kepalanya. Memulai sebuah ciuman hangat yang mungkin akan memanas di menit selanjutnya. Dan dari sinilah, kebahagian itu dijemput.

END*

Special for Donghae Lee birthday.

A wave of the east sea. A wave that cheer our day up. A gorgeous wave that make us awing to it. Happy birthday, Donghae Oppa.

Glosarium:

Uisa: dokter

Isa: direktur

Note:

Mian ya, kalau malah bikin ff baru bukannya menyelesaikan TOB atau JoH. Habis oppa tercinta lagi ultah, masak diam saja. Sengaja menggunakan cast orang Indonesia, agar kalian bisa membayangkan sebagai diri kalian. Ok?

Dan di atas ada inspirasi dari kasus Prita. Ibu rumah tangga yang tersandung kasus dengan sebuah RS swasta.

Dan apakah leher kalian pegal? Ini adalah oneshot terpanjangku, 50 halaman. Tadinya akan kubuat twoshot, tapi karna hari ini special, jadi kuputuskan menjadikannya satu. Lain kali kemungkinan akan kujadikan twoshot.

Ok, aku sodorin Kyuhyun ma Eunhyuk tuk pijat leher kalian..haha😄

I’m waiting for your review. Tell me your feeling after read this ff. Bye and bow. (^^ )/

150 thoughts on “A Rough Trail

  1. Atika clalu ceria says:

    aaaaa..gila
    nyesek bgt.aku sampai naik pitam saat donghae oppa selingkuh.
    kembang kempis nch dada saat mengikuti alur yg panjang ini.Dipikir eunhyuk bakalan merebut jingga dr donghae.Tp syukurlah happy ending.

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s