Holding Tears


Holding Tears

Type: drabble | Genre: romance | Rate: PG-17

Oppa, listen to me. No matter what, he’s your hyung. So, you can still keep in touch with him every time you miss him.” Kujaga iphone terhubung ke telingaku sembari memperhatikan jalan.

“…”

The change is just about the existence that he isn’t surrounding.” Kugeser penutup panel di samping pintu, kemudian memasukkan deretan kombinasi angka. Sebelah tanganku mengurai tali sneakers untuk melepaskannya. Kepayahan karna tali yang sedikit kusut, terpaksa kuabaikan ponsel, dan kugunakan kedua tangan untuk mencopot sepatu. “Oppa?”

“…”

Think about how many fans out there who shed tears. You have to cheer them up, too.” Kulepaskan coat dan menyampirkannya di gantungan. Menggapai saklar lampu yang sudah kuhapal letaknya, aku sedikit terperanjat saat mendapati punggung seseorang yang sudah sangat familiar.

“…”

Just stay healthy, and that’s enough. Calm and comfort yourself. Sleep tight, Oppa. Nite.” Kuletakkan iphone di buffet, dan segera menghampirinya. Kuhela napas pelan, kurasa hari ini memang berat, baik bagi Leetuk Oppa atau mereka yang kehilangan malaikat tanpa sayapnya. Yah, termasuk dia.

Turn off the light,” perintahnya dengan datar dan singkat bahkan sebelum aku mengeluarkan sepatah kata.

Kulangkahkan kaki mendekat. Mengamatinya yang duduk dengan bersedekap. Coat bewarna hitam, jeans, kaos merah, dan topi coklat muda yang menutup sepertiga wajahnya. Bahkan dia enggan untuk melepas coat dan topinya meski sudah di ruangan. Moodnya pasti masih kacau. “Wanna have coffee?” tawarku saat dia tak jua memandangku yang sudah berada di depannya.

Don’t you hear my words? I said—“ nadanya mulai meninggi.

I will,” potongku cepat. Segera kuputar langkah untuk menuruti perintahnya. Tidak ingin berdebat karna aku tahu suasana hatinya sedang buruk. Meski terlihat paling tegar untuk melepas hyungnya, namun, menurutku, dialah yang terapuh. Hae Oppa menumpahkan ketidakrelaannya dengan air mata, begitu juga dengan yang lain, tapi dia…

Kuaduk kopi dengan putaran lambat. Melongokkan kepala ke ruang tengah, aku masih mendapati dia bergeming di tempatnya. Bunyi kecil terdengar sebagai hasil beradunya mug yang kuletakkan dengan meja kaca. Kuberanikan diri menggapai topi baseballnya dan melepaskan. Tidak ada penolakan, tanganku terulur dan membenahi rambutnya yang sedikit teracak karna tindakanku barusan. “Minumlah selagi hangat.”

Dia diam, tidak menyahut perkataanku. Kuanjurkan tangan kananku untuk menangkup pipinya. Merasakan kulitnya yang dingin. Sudah berapa lama dia di sini tanpa menyalakan penghangat? “I know, coffee won’t make your feeling gets better. But, it’ll give you lil warm.

Kutunggu reaksinya hingga beberapa menit, namun dia masih membungkam mulutnya. Membuatku memelorotkan bahu. Daripada diam, dia lebih sering mengapresiasikan kemarahan dan rasanya dengan berteriak atau hal yang ekspresif lain. “Setidaknya nyalakan penghangat agar kau tidak membeku.” Aku bersiap melangkah pergi untuk menggapai remote sebelum tanganku ditarik ke arah berlawanan. Menyebabkan tubuhku jatuh tepat di pangkuannya. “Kyu…”

Kurasakan tangan kirinya mengerat di pinggangku, sedangkan tangan kanannya memerangkap kedua tanganku. Semakin dilesapkan wajahnya di lekukan leherku. Membuatku sedikit bergidik karna kulit wajahnya benar-benar dingin.

Kutarik sebelah tanganku agar terbebas dari kungkungannya. Kulingkarkan di kepalanya sambil membelai rambutnya. “There’s no one except me, so no need to hold your feeling.”

Dia masih diam sejenak. Mungkin saja memikirkan pendapatku. Dan sejenak setelahnya, kurasakan getaran tubuhnya, disusul tetesan air mata yang membasahi leher dan pundakku yang tak tertutup kaos. Kutelusupkan jemariku di sela-sela rambutnya, dan kukecup puncak kepalanya cukup lama.

Dia semakin tergugu dalam penyaluran emosinya. Kulit leher dan pundakku benar-benar terasa basah. Isakannya walau terdengar ringan, tapi cukup membuatku merasakan ngilu di sudut kalbu. Membuat suasana remang di ruang tengah apartemenku semakin melankoli. Tidak pernah selama aku mengenalnya, dia menumpahkan emosinya seperti ini.

Cho Kyuhyunku yang evil, Cho Kyuhyunku yang tegar, Cho Kyuhyunku yang ceria, malam ini biarkan image yang melekat padanya luruh sejenak. Di waktu ini, biarkan dia hanya menjadi seorang dongsaeng yang baru saja melepas hyungnya untuk tugas bela negara.

Kurasakan dia menegakkan kepala. “Feels better?” kusapukan kedua tanganku dari lereng hidung mancungnya ke arah luar untuk mengusap sisa air mata. Dia menggeleng pelan untuk menjawab.

So, what can I do to comfort you?” aku kehabisan akal untuk mengantisipasi kesedihannya. Jika itu Hae Oppa, setelah membiarkannya menangis, dia pasti akan merasa lebih baik. Tetapi dia, aku tidak tahu bagaimana menenangkannya.

Just give me a warm kiss,” seraknya.

Dan seketika penilaianku runtuh sudah. Dia benar-benar mewarisi darah setan. Kupandang wajahnya dengan ekspresi are-you-out-of-mind-?

Please,” melasnya.

Ingin kugeplak kepalanya, andai aku tidak mengamati rautnya dengan lebih seksama. Walaupun dalam temaram, dengan jarak sedekat ini, aku bisa menangkap mimiknya dengan jelas. Tidak ada gurauan atau seringaian di sana, hanya kesenduan yang tercetak jelas.

Belum sempat aku menjawab, tangan kirinya sudah mendorong tengkukku maju ke arahnya. Dia memagut bibirku dengan cepat. Membiarkan dia memulai sebuah ciuman. Kukira, dia akan melakukannya dengan kasar, tapi aku salah. Lumatannya di bibirku dilakukan dengan sangat lembut namun dalam. Seolah ingin menyalurkan segala kesedihannya melalui ciuman.

Kubiarkan dia memimpin ciuman kami. Menerima setiap getir kerisauannya melalui hisapannya di bibir bawahku. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain memejamkan mata untuk menikmati dan menerima segala rasanya. Pipiku merasakan hangatnya aliran air mata, tentu miliknya. Kuangkat kedua tanganku untuk menangkup dan mengusap pipinya. Berharap itu bisa memberikan ketenangan. Saat ciumannya semakin dalam dan lidahnya menyapu permukaan bibirku, kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit perutku. Segera saja kulepas pagutan kami secara sepihak. “YA! CHO KYUHYUN!” teriakku murka.

Wae?” dia nampak kesal.

Kukepalkan tangan kananku, siap memukul kepalanya jika dia tidak segera menarik tangannya. “Take off your hand out of my t shirt,” tekanku di setiap kata.

Waeyo?” tuntutnya tanpa rasa bersalah, dengan sebelah tangannya yang masih di perutku. “You offered me something to comfort. Tapi, kau mengakhirinya secara sepihak. Wae?” dia mencebikkan bibir. Sepertinya sudah kembali ke kepribadiannya.

Kupukul-pukulkan dengan ringan kepalan tanganku di dahinya. Berharap otaknya yang tertranslasi segera kembali ke titik semula. “You really bad jerk!”

Appoyo, Lynn…” akhirnya dia menarik tangannya dari dalam kausku dan mengusap kepalanya pelan. “Bad jerk?” dia segera membulatkan mata setelah sadar ucapanku. “Pertama, kau memanggilku tanpa embel-embel ‘oppa’, sekarang kau mengataiku ‘jerk’? YA!”

Ok, aku benar-benar melakukan kesalahan karena menawarkannya sesuatu. Seharusnya kukunci mulutku dan membiarkan saja dia menangis sepuasnya. “Hish!” desisku saat situasi kami tak lagi kondusif. Niatku beranjak dari pangkuannya untuk menjauh, tapi Kyuhyun kembali mengeratkan kekangan tangannya di pinggangku.

Dia menarik tubuh kami untuk terdorong ke belakang hingga punggungnya tersandar di punggung sofa. Tangannya membimbing kepalaku untuk bersandar di pundaknya. Dan sekarang giliran aku yang dengan bebas bisa menghirup aroma maskulinnya. “Apakah rasanya juga seperti ini jika tahun berikutnya akulah yang melaksanakan wajib militer?”

Aku menggeliat pelan agar punggungku tidak terlalu tegak untuk bersandar di badannya. “Kau pernah mengalami cidera hingga tulang rusukmu patah—“ aku meraba dadanya, “—jadi, besar kemungkinan kau terbebas dari peraturan ini. Atau, kalaupun terjadi, setidaknya kau hanya akan ditempatkan di pelayanan masyarakat.”

“Dan jikalau pun itu terjadi, aku tetap akan merasa jauh.”

“Tentu saja tidak. Hanya sebuah aktifitas dan kebiasaan yang akan berubah selama dua tahun. Kau masih leluasa untuk bertemu siapa pun.”

When the time come by, will you wait for me?”

Aku tersenyum ringan dengan pertanyaannya. “Of course. There’s no one who I have to wait if not you are.

Gomawoyo.

You’re welcome.”

“Jadi—“

“Jadi?” aku mengerutkan kening dan mendongakkan kepala untuk menatapnya.

“Bisakah kita melanjutkan ciumannya?”

Aku memukul dadanya dengan kesal. Kami bertukar pandangan. Dia memandang penuh harap, sedangkan aku memandang penuh prihatin. Prihatin karna otaknya bertranslasi semakin jauh dari titik kesetimbangan. Dan setelahnya, kami terkekeh secara bersamaan.

Thanks a lot for soothing me, my blue eyed girl.

Aku hanya bergumam pelan, kemudian membenahi letak kepalaku agar nyaman melesap di lekuk lehernya. “Be strong. Cause I know that you can do well without him, Kyuhyun Cho.”

END*

Note:

Haha…gara-gara ikutan galau lihat pelepasan Leetuk Oppa. Dan gak tega lihat bagaimana Kyu berusahan nahan tangis. Jadi, sambil tadi tungguin Tata jemput, ya sudah buat ini drabble. ^^

93 thoughts on “Holding Tears

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s