Jar Of Heart [Heart 3: End]


Jar Of Heart [Heart 3: End]

By: Arsvio | Main Cast: Aiden, Nam Ryung Cho, Sehun Oh, Luhan | Rate: PG-13

Previous:

“Jadi kau mempunyai double hutang padaku.”

“Kudengar kau bekerja sama dengan Gyuri untuk menyelesaikan naskah drama ini.”

“Oya, tiga hari lagi pertandinganku.”

“Kau akan datang kan?”

“Of course.“

“Gyuri-ssi, bisakah kau lebih serius? Waktuku terbatas.”

“Ini tanggung jawabmu. Kau tidak bisa seenaknya meninggalkan pementasan itu!”

“Ada gadis lain yang menghambur dan memeluk sang kapten. Dan keduanya nampak berjingkat merayakan kemenangan. Senyum mereka merekah tanpa beban.”

“Katakan sesuatu, Aiden. Katakan kata penghibur untukku. Katakan kata dusta untuk menggembirakanku.”

“Sehun-ssi…”

“Berdiri kataku!”

Here the story:

Sebisa mungkin kutahan sesenggukan yang membuat nafasku tersengal. Kulirik seseorang yang hampir 30 menit berada di sampingku. Dia hanya diam, menatap lurus semburat jingga di langit sore. Masih ingat bagaimana dia tadi membentakku. Dan aku mengabaikan perintahnya. Alih-alih pergi, dia malah memposisikan duduk di sampingku.

“Sudah selesai?” tanyanya datar.

Kuusap pipi kanan dan kiriku secara bergantian. Kusedot ingus atau air mata yang akan turun lewat hidung, sedikit menjijikkan. Hey! jangankan tissue, semua barangku tertinggal di lab. “Kenapa kau di sini.”

Dia menoleh, menatap tajam padaku lalu berdecak. “Benar. Seharusnya aku tidak menyiakan waktuku di sini. Menemani gadis yang meratapi pacarnya yang berpelukan dengan gadis lain.” Kata-katanya benar-benar membuatku kesal. “Aku yakin kau masih punya akal untuk berpikir logis. Jadi pikirkanlah,” ucapnya sembari menyurung pelipisku dengan telunjuknya.

“Ya! Oh Sehun!” suasana hatiku belum membaik, dia malah memperburuk dengan cemoohnya. Aku reflex memundurkan wajahku ketika wajahnya merangsek maju. Dia menyipitkan mata. Sepertinya tidak suka saat aku meneriaki namanya.

“Ck,” dia, Sehun, hanya berdecak lalu berdiri. Tanpa berkata-kata, dia berlalu pergi meninggalkanku.

“Cih!”

“Hey, hanya sebagai informasi bahwa aku ada di sini.”

Aku menoleh ke sumber suara dan menemukan Aiden dengan senyum mendatarnya. Heish…kenapa mereka semua menyebalkan! Aku ikut berdiri, kemudian menghentakkan kaki. Air mataku kembali meleleh turun. Bukan hanya karena masalah Luhan, tapi juga karena terlalu sebal dengan sikap Sehun dan Aiden.

***

Kuputar kenop pintu dengan pelan. Aku menyembulkan kepala, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar bernuansa biru. Dan hell yeah! Sudah kuduga dia pasti di sana. Duduk manis di karpet, menghadap lcd berukuran 40 inch, dengan joystick di tangannya. Kulangkahkan kakiku mendekat, dan oppaku yang amat terobsesi dengan starcraft ini tidak menyadari keberadaanku. Aku heran bagaimana bisa Lynn tahan berpacaran dengannya. Well, aku memanggilnya tanpa embel-embel ‘eonni’ karena memang dia besar di barat. Sedikit kurang ajar sih, tapi Lynn sendiri yang memintanya. Ok, kesampingkan masalah itu.

“Oppa…” dia bergeming. “Oppa…” panggilan kedua yang diabaikan. “YAA, OPPAAA…!” teriakku sembari menendang punggungnya dari belakang.

“Heish! Kau Miss Cho! Bisakah tidak menggunakan suara cemprengmu itu.” Oppa berbalik dan memandangku kesal.

Baru aku akan membuka mulut, oppaku berbalik kembali memunggungiku. Aku benar-benar akan meraung jika satu orang lagi mengabaikanku. Sehun, Aiden, sekarang oppaku. Kutarik kausnya dari belakang untuk minta perhatian. “Oppa…”

Dia hanya ber’hmm…’ untuk merespon.

Mataku kembali memanas. Apakah tidak ada yang peduli? Kutahan air mata yang sudah menggenang. Aku lebih mendekat. Kutekuk lututku, kemudian kulingkarkan kedua tanganku di leher oppa. Sembari menyenderkan tubuhku di punggungnya, kubenamkan wajahku di pundaknya. Kurasakan oppa sedikit berjengit. Ini jalan terakhirku untuk menenangkan diri.

“Hey?” ucapnya melembut.

Kurasakan tangannya yang mengacak pelan puncak kepalaku.

Did something happen?” oppa menyentuh lengan bawahku yang melingkar di leher depannya. Dia mengoyang-goyangkan pelan tubuh kami ke kiri-kanan.

Will you sing a lullaby tonight?”

No, I’ve a level to finish,” jawabnya tanpa dosa. Memangnya menyelesaikan satu level game lebih penting ya?

“Ya, oppa…” rengekku. Aku semakin mempererat pelukanku.

“Kau benar-benar menyusahkan nona Cho.”

Kurasakan oppa mulai berdiri. Dan aku tetap mempertahankan posisiku. Tidak mau oppa melihat wajahku yang kacau. Dengan mudah tubuh mungilku terangkat. Dia melingkarkan tangannya di kedua lututku. Piggy back. Aku tahu dia membawaku keluar dari kamarnya.

“Kau seperti simpanse,” ledeknya.

“Dan kau kakak simpanse,” ucapku jengkel.

***

Aku tahu ini keterlaluan, tiga hari ini aku menghindar. Jangan kira aku mengganti nomorku. Tidak akan. Untuk hal yang menyakitiku, untuk apa kulakukan sesuatu sekonyol itu? Hanya akan merugikanku. Semua message Luhan kuabaikan, calling Sehun ku reject, tidak datang untuk melatih anak theater, dan kuhindari semua yang berbau dengan Gyuri. Ya. Gadis yang memeluk Luhan saat itu. Gadis yang Luhan kejar mati-matian, dulu, atau mungkin masih sampai sekarang. Intinya, hari-hari ini aku berubah menjadi egois.

Aku tertegun sejenak saat melihat ke depan. Laki-laki yang aku hindari muncul di koridor sana. Berjalan ke arahku, mungkin. Kuangkat daguku, berjalan tak acuh dengan keberadaannya. Aiden tetap setia disampingku. Akhir-akhir ini dia banyak diam, sama sekali tidak mendebatku. Sedikit aneh memang, tapi aku sedang tidak peduli.

“Ryu, kita perlu bicara.”

Kurasakan seseorang mencengkeram lenganku. Kutatap dia tajam. “But sorry, I don’t have anything to talk.” Kuputar tanganku agar terlepas, tapi tak bisa, Luhan terlalu mencengkeramnya dengan erat.

“Dengarkan aku dulu!” bentaknya.

Bagus! Kita berada di koridor, dan dia mengeraskan volume suaranya. Kupelototkan mataku sebagai penolakan. Tapi, sepertinya Luhan memang tidak menyerah. Tanpa memedulikan sekeliling, dia menyeretku. Dan semua energiku kukerahkan untuk meronta. “Hya! Lepaskan!”

Dia melepaskan tanganku saat kami tiba di tempat yang sedikit sepi. “Ryu, saat itu—“

“Saat apa?” tepisku segera.

“Aku dan Gyuri, kami tidak kembali seperti yang kau pikirkan.” Luhan menatapku dengan melas untuk meyakinkan. Tapi maaf, aku lebih mempercayai apa yang kulihat.

“Aku tidak peduli,” acuhku. Kuputar tubuhku dengan segera, namun Luhan kembali menahan lenganku. “Apa aku perlu mendengarkan penjabaran yang membuatku terluka sehingga kau mau melepaskanku?” sinisku.

“Hubungan kami memang membaik, tapi hanya sebatas teman.”

Aku menghadapkan badanku padanya. “Teman yang selalu menerima keluhan dan kekesalannya, teman yang berbagi pelukan dalam euphoria kemenangan, dan teman yang rutin menempelkan stiker hati di lockermu. Well, your friendship was great!”

“Cho Nam Ryung!”

Don’t dare to call my name that way!” aku tahu bahwa premisku untuk memutuskan bahwa hubungan Luhan dan Gyuri kembali, sangat dangkal. Tapi, kau tidak tahu, betapa di dalam sini keraguan itu membesar.

“Harus bagaimana aku meyakinkanmu?” Luhan menopang kedua tangannya di pundakku. Menatapku dalam.

“Tidak ada.”

“Ryu, please.

If nothing to discuss more, I’m leaving.” Ketusku sembari menepis kedua tangan Luhan dengan kasar. Kuputar langkahku dengan cepat sebelum dia memberikan protes.

***

“Aku ingin bicara.” Kulihat jemari mengetuk pelan meja tempatku. Kepalaku mendongak dan menemukan sosok ketua kesiswaan berdiri di depanku. Apakah ketidakacuhanku begitu berdampak pada mereka?

Kututup buku yang sedang kubaca. “Sorry, I’ve nothing to talk.”

Bukannya pergi dengan penolakanku, Sehun malah menarik kursi di depanku dan duduk di sana. Dia menumpukan kedua sikunya di meja, lalu mata tajamnya menatapku. “Beginikah caramu mengatasi masalah, Nam Ryung-ssi?” nadanya menyindir. “Dengan menghindar?”

Aku menolehkan pandangan ke sekitar, nampak beberapa siswa berbisik dan menunjuk ke arah kami. Terang saja, ini perpustakaan dan Sehun sama sekali tidak menurunkan intonasi bicaranya. Terlebih, mungkin mereka heran, ketua kesiswaan yang mereka puja terlihat care dengan seorang gadis.

“Kau ingin kita menjadi pusat perhatian di sini?”

“Aku sedang tidak menghiraukan topik lain, Ryung-ssi.” Wajahnya benar-benar kaku.

Aku berdiri dengan menyentak dan kesal. Sepertinya, Sehun serius untuk menjadikan kita bahan gossip murahan dengan bicara di tempat umum. “Kita bicara di tempat lain, Sehun-ssi.” Ucapku sembari melalui tempatnya duduk.

***

Aku menggoyang-goyangkan novel di tanganku dengan malas. Hampir lima belas menit, Sehun belum membuka mulutnya. Dan aku juga malas untuk memulai pembicaraan. Bukankah dia yang ingin bicara, mengapa sekarang diam?

“Selesaikan tanggung jawabmu atas pementasan siswa theater.” Akhirnya, kalimat itu yang keluar dari mulut Sehun. Cish, dia tentu saja lebih mementingkan kesuksesan event-nya. Tidak peduli dengan keadaanku. Setelah terakhir tercipta ketegangan antaraku dan Gyuri, bintang siswa theater, mana mungkin mereka mau bekerja sama denganku.

“Aku tidak berminat.”

“Berminat atau pun tidak, kau sudah memulainya. Dan kewajibanmu untuk menyelesaikannya.”

“Kami tidak bisa bekerja sama.”

“Kau yang tidak mau bekerja sama.”

“Aku tidak nyaman dengan lingkungan mereka.”

“Alasan kekanakan.”

Aku menoleh dan mendelik kesal padanya. Sehun juga memangdangku, tapi kali ini dengan tatapan yang lebih lunak. Dia terlihat menghembuskan nafas, lega. Mungkin saja. “Bagaimana keadaanmu?”

Aku mengernyit heran dengan perubahan tiba-tiba topik pembicaraan kami. Melengos untuk menghindari pandangannya, aku merasakan darahku berdesir ke bawah. Tidak menjawab pertanyaannya, karena aku tidak tahu motifnya melontarkan pertanyaan tersebut.

“Sebuah masalah kecil, mampu membuatmu mengabaikan tanggung jawab dan sekelilingmu. Apakah itu setimpal, Ryung?”

Apakah aku salah dengar? Sehun mengubah intonasinya secara total. Perkataannya semacam pertanyaan retorik seorang sahabat. Dan entah mengapa, aku senang mendengar nada bicaranya. Dan, aku semakin terkaget saat kurasakan sesuatu menyentuh puncak kepalaku. Dengan hati-hati aku menoleh padanya.

“Kau memiliki banyak hal yang jauh lebih berarti, andai kau tidak mengabaikannya. Akademismu, teman-temanmu, perlombaan debatmu, dan entah apa lagi yang kau tekuni, yang pastinya lebih membutuhkan perhatianmu daripada sebuah masalah sepele.”

Sungguh, baru kali ini aku mendengar Sehun berkata begitu panjang. Dan ya, aku menangkap kebenaran di tiap katanya. Aku masih memandang takjub padanya, saat kemudian dia menurunkan tangannya dari kepalaku.

“Masalah tidak akan selesai dengan kau menghindarinya, Ryung.”

But—“

“Aku tahu, kau hanya butuh waktu. Kuharap, tidak dalam waktu lama, kau kembali. Tunjukkan, bahwa kau hebat.”

Aku tenang dengan ucapannya. Merasakan bahwa dia berdiri di pihakku. Terima kasih untuk ini, Sehun-ssi. Dan jantungku berdetak lebih kencang saat Sehun kembali memandangku dengan keyakinan dan senyum tipis. Meruntuhkan asumsiku bahwa dia akan mengintimidasiku dengan pembicaraan ini.

“Oh,” kurasakan ponselku bergetar. Mataku membulat selesai membaca pesan dari salah seorang temanku.

***

“Kau tidak tulus padanya.”

Aku menahan tanganku untuk menggeser pintu ruang kesehatan saat mendengar suara gadis dari dalam. Langkahku terhenti di depan pintu.

“Kau hanya menggunakannya untuk melupakanku, benar bukan?”

Rasanya dadaku kembali sesak. Inikah alasan sebenarnya, Lu? Aku terus mendengarkan pembicaraan mereka. Penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Luhan.

“Kau tidak benar-benar jatuh hati pada gadis itu bukan? Dia sahabatmu. Rasamu padanya hanya sebatas pada seorang teman, tidak lebih.”

“Kalau pun itu benar, sama sekali bukan urusanmu.”

Akhirnya keluar juga jawaban yang membuatku penasaran. Seharusnya dari awal aku sudah menduga bahwa posisi Gyuri di hatinya memang begitu kuat.

“Menjadi urusanku, karna saat ini aku memutuskan untuk menatapmu!”

“Pergilah, aku ingin istirahat.”

“Apakah karna dia kau kehilangan konsentrasimu, hingga menciderai dirimu sendiri?”

“Sudah kukatakan, itu bukan urusanmu!”

“Aku disini, Lu. Tidakkah ini yang kau inginkan, hum?”

“Ya. Tapi sekarang, ada hal lain yang lebih kuinginkan.”

Aku melengos, ingin memutar langkahku. Menjauh dari tempat itu, namun Sehun dengan cepat menangkap pergelangan tanganku dan mengisyaratkan untuk tetap tinggal. Kupandang dengan datar wajah cantiknya saat dia keluar dari ruang kesehatan. Gyuri. Dia nampak terkejut dengan keberadaanku di sini.

Kurasakan genggaman Sehun mengerat di pergelangan tanganku. Seolah menegaskan bahwa dia ada di sisiku. Dan tindakannya, membuatku yakin untuk menghadapi Luhan.

Hi, what are you feeling?”

Luhan tersenyum ke arahku. Senyum menawan yang selalu kusukai. “Hanya sebuah kecelakaan kecil di lapangan.” Dia menunjukkan kakinya yang sudah berbalut kasa putih.

Aku menghembuskan nafas pendek, dan melirik ke arah pintu. Tidak tahu apakah Sehun masih berada di sana atau tidak. Tapi aku sangat berharap, dia masih berdiri menungguku. “Lu, lets end this relationship.

“Ryu…”

Aku menarik bibirku membentuk senyum datar. “Kurasa, kita perlu melihat ulang hubungan ini.”

“Tidak. Aku tidak ingin mengakhirinya.”

“Kau egois jika seperti itu. Melukai dua hati sekaligus dalam satu keputusan.”

“Sudah kukatakan bahwa aku dan Gyuri tidak—“

“Aku percaya,” potongku cepat. “Meski begitu, kau masih sedikit banyak berharap padanya. Dan aku tidak ingin hubungan kita membuatmu bimbang di dua pilihan. Itu menyakitkanku, juga dia.”

“Aku telah memutuskan, dan aku memilihmu.”

Kugelengkan kepala singkat. “Bukan itu yang ingin kudengar, Lu. Kumohon, selesaikan dulu urusanmu dengan Gyuri. Aku tidak ingin terluka di antara kalian.” Aku tersenyum singkat, kemudian memutar langkahku.

“Ryu?”

“Ne?” aku berbalik saat dia memanggilku.

“Bisakah kita tetap bersahabat?”

Aku mengangguk. Entah mengapa ini terasa mudah. Jauh dari bayanganku. “Sure. We are friends.”

***

Kubaca ulang script di tanganku. Menandai beberapa kata yang menjadi tekanan emosi bagi pemainnya. Sudah tiga hari semenjak aku memutuskan Luhan, secara perlahan, sesuai sarannya, aku menata kembali rutinitasku.

Senyumku mengembang saat mendapati Aiden yang tengah bosan menungguku. Dia memainkan udara di mulutnya. Menggembungkan pipi, mengoper tampuan udara dari pipi kanan ke kiri, kemudian menghembuskannya. Entah, beberapa hari lalu dia menghilang begitu saja.

Boring?” bisikku dengan mengangkat script untuk menutup wajahku agar yang lain tidak curiga bahwa aku sedang berbicara dengan Aiden.

Dia mengangguk dengan ekspresi pasrah. “Kau belum juga menyelesaikannya?”

“Tinggal beberapa lagi.”

“Hah…” dia menumpukan dagunya di meja dengan wajah kecewa. Dan ekspresinya menggelitikku. My goodness! Why on earth do he so cute?

I know,” jawabnya singkat. “Para bidadari sudah sering mengatakannya.”

Aku mencibir. Menyebalkan! Mengapa dia bisa membaca pikiran sih. Ini sangat mengganggu privasi. Kepalaku menoleh saat mendengar dering ringtone. Mataku menelusur meja di mana beberapa buku, kertas, alat tulis, berserakan di sana. Tanganku mengangkat beberapa buku untuk mencari sumber suara. Mungkin seseorang tidak sengaja meninggalkan ponselnya. Berhubung ini sudah sore, jadi tidak banyak yang berada di ruang kesiswaan.

Ah, got it.” Aku menggapai smartphone yang sedari tadi bordering. Bukannya melihat caller ID, aku lebih tertarik pada sepenggal wallpaper yang terlihat di layar. Walaupun wajah gadis yang menjadi wallpaper tersebut tidak jelas karna posisinya yang menyamping, aku yakin benar itu adalah diriku.

Sebelum lebih jauh aku mengamati, seseorang sudah merampas ponsel di tanganku. “Could you respect others’ privacy?”

Aku gelagapan. Salahku juga karena mengangkat ponsel milik orang lain. “About that, I am really sorry, Sehun-ssi.

Sehun men-lock layarnya, kemudian menyaku smartphone-nya. Dia terlihat marah. “Bukan berarti kau berada di sini, bisa melanggar batas-batas privasi kami!”

Aku mengernyitkan kening. Mengapa kata-katanya semakin tidak enak didengar. “Aku minta maaf—“

“Kau mengecewakan, Ryung,” desisnya tajam sembari berlalu.

Aku membulatkan mulut dan menatap Aiden  penuh tanya. Apakah kesalahanku sefatal itu? Dan hei, mengapa dia memakai fotoku untuk wallpaper-nya?

***

Aku benar-benar merasakan hidupku akhir-akhir ini bagai menaiki roller coaster. Menukik kemudian menghujam turun. Masalahku dengan Luhan selesai begitu saja dengan pembicaraan kami di ruang kesehatan kala itu. Berita baiknya, hubungan kami kembali seperti teman. Sedikit agak canggung, tapi aku yakin itu hanya proses.

Dan sekarang, yang tidak kumengerti adalah Sehun. Dia seperti tak acuh padaku. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dingin, seperti semula. Dan aku mulai merasa kehilangan sosoknya.

“Apakah dia harus semarah ini?”

Aiden hanya mengangkat bahu dan menarik bibirnya melengkung ke bawah. “Dia hanya terkejut.”

About what?”

“Kau akan tahu nanti.” Aiden tersenyum bangga dengan perkataannya. Seolah dia baru saja mengatakan sesuatu yang luar biasa.

Aku memasang wajah kecewa. Kuatur nafasku yang sedikit memberat. Rasanya ada yang membuatnya sesak di dalam sini. Aku sungguh merindukan nada bicaranya yang menenangkan, raut wajahnya yang jarang tersenyum, dan mungkin perhatiannya.

“Dia hanya belum siap. Berikanlah sedikit waktu.” Aiden mensejajarkan tingginya denganku. Aku mulai terbiasa dengan keberadaannya di sekelilingku. Bahkan, sekarang terasa aneh jika dia tidak di sisiku. Dia teman fantasy yang menyenangkan. Aku tidak takut bosan atau kesepian karena dia menceriakan hariku.

Kulirik Aiden dengan pandangan sengit yang dibuat-buat. “Aku tidak mengerti maksudmu!” Kujulurkan lidah untuk mencibirnya.

“Ya! Kau dasar, lambat berpikir.”

“Mehrong.” Aku memang tidak mengerti maksudnya, tapi jika Aiden sudah mengatakan bahwa suatu saat aku akan mengetahuinya, aku percaya. Akan kutunggu hingga mengerti maksudnya. Oh Sehun, aku menunggumu.

***

Hari terus bergulir, detik berlalu membawa perpindahan. Dan aku hanya bisa menyaksikannya dari sini. Dia, dengan kertas-kertas di tangannya yang terlihat merepotkan, melalui hari-hari dengan biasa. Tidak sepertiku yang berharap masalah saat itu mendapat titik terang. Demi Aiden yang tidak berkumis, ini hanya masalah kecil. Dan dia terlalu berlebihan untuk menanggapinya.

Aku bersiap melangkah saat mata kami bertemu. Nafasku tertahan sejenak. Mulutku ingin terbuka menyuarakan namanya, namun tertahan saat dia memutus kontak di antara kami. Berjalan menjauh. Oh Sehun, kau berhutang penjelasan padaku!

***

“Hey?” suara bisikan seseorang.

Aku menolehkan kepala ke samping kanan dan kiri. Tak ada seorang pun. “Aiden?” balasku dengan berbisik, takut-takut Miss Angelle mendengarnya. Sepertinya bukan. Tadi Aiden bilang ingin pergi ke suatu tempat. Jadi?

“Stt…”

Aku menegakkan kepalaku lagi saat mendengar desisan. Kuputar kepalaku ke belakang. Gosh! Apakah ini benar dirinya? “Ya, apa yang kau lakukan di sini?” kugerakan mulutku tanpa suara.

Bukannya menjawab, dia malah menempelkan sebuah kertas di kaca meja yang membatasi kami. ‘Meet me on top after this’.

Aku mengernyit. Belum sempat kutanya lanjut, terdengar ketukan high heel mendekat. Kuputar kembali kepalaku menghadap depan. Berkutat kembali dengan beberapa soal yang diberikan Miss Angelle. Aku sedikit was-was andai Miss Angelle memergoki Sehun yang bersembunyi di meja belakangku. Aku lega ketika Miss Angelle hanya mengoreksi kilas pekerjaannya.

Kuketuk kaca meja belakangku sekali. Ketika Sehun memunculkan kepalanya, aku menunjuk smartphone-ku. Isyarat agar dia mengirimkan pesan saja. Sehun juga mengangkat ponselnya, memencet-mencetnya tapi screennya tidak menyala, dengan begitu aku tahu ponselnya mati. Kugelengkan kepala. Aku menuliskan pesan di bukuku ‘Catch u later. And get out from here before u drop me into problem’. Kuangkat bukuku sehingga dia dapat membacanya.

***

Aku mengedarkan pandangan, menelusuri areal rooftop. Sepi, tak ada seorang pun di sini. Kulangkahkan kaki ke satu-satunya bangku di sana. Kusandarkan punggungku dan kudongakkan kepala untuk menikmati bintang-bintang di langit.

Kret…kret…kret…

Aku menoleh saat mendengar deritan di sebelahku. Mataku menyipit untuk menangkap obyek yang berputar saat terkena hembusan angin, di sampingku. Kugapai kayu penyangga, yang dijepitkan di celah bangku, penopang baling-baling tersebut. Kuamati dengan seksama baling-baling bewarna magenta tersebut. Bukankah ini? Aku membaliknya dan menemukan tulisan yang sangat familiar ‘Silence like a morning wind’. Bibirku tersenyum. Ini adalah baling-balingku yang kupasang di rooftop saat hari pertama masuk sekolah. Sudah dua tahun lalu.

“Aku menemukannya sudah rusak kala itu. Mungkin seekor burung tak sengaja menabraknya,” ucap seorang dengan sedikit nyleneh.

Aku menoleh ke samping ketika merasakan kehadiran seseorang di sampingku. “Kau yang memperbaikinya?”

“Yah, apa boleh buat. Sepertinya sang pemilik tidak peduli.”

Aku memberangut, kemudian kusodok lengannya agak keras.

“Aww…” dia memekik.

Thanks, Sehun-ssi.” Kuangkat baling-baling lebih tinggi sehingga putarannya menjadi kencang. “Emm, apa karena ini kau mengajakku kemari?” kuturunkan tanganku.

Sehun mengusap belakang kepalanya. “Yep.” Pandangannya menatap kelamnya langit. “Tentang kemarin, aku minta maaf karna membentakmu. Yah—“ Sehun mengayunkan tangan dengan lambat ke udara, “—katakanlah sedikit—“ dia mengulum bibir bawahnya, “—terkejut.” Akhirnya kalimatnya selesai juga. Dia meringis dengan ekspresi datar. Sungguh bukan gayanya.

Ah, maybe I would do the same if I were you.” Kuayun-ayunkan kakiku. “But, about the wall—“

“Ah!” tiba-tiba dia memekik. “Kau tahu, waktu itu aku tak sengaja melihat baling-balingmu patah. Jadi aku menyambungnya,” dia berusaha membelokkan topic. “Di sini—“ dia menarik peganggan baling-balingku, “—lihat ini.”

Aku mengangguk saat melihat sambungan yang tak kentara. Namun saat aku ingin membantah dengan mengalihkan wajahku padanya, nafasku tertahan di kerongkongan. Pipiku menghangat seketika. Wajahnya terlalu dekat denganku. Sampai-sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya di pipiku. Kutolehkan wajahku sesegera mungkin, tapi belum sepenuhnya menoleh, kurasakan tangan yang menangkup pipiku.

“Sampai kapan kau selalu menghindariku?”

Mataku membulat sempurna saat menangkap wajahnya tepat di depanku. Lidahku kaku untuk menjawab. Degub-degub jantungku secara nyata meningkat seiring dalamnya tatapan irish coklat tua itu padaku. Aku mengunci mulutku.

I’m tired being crush with you.”

Telingaku terbuka, aku yakin itu. Tapi kata-kata Sehun, bagaimana bisa? Being crush with me?

Tatapannya lembut, beda seperti biasanya. “Ini salahku. Aku tidak pernah menyatakan secara lugas betapa aku mengagumimu.” Dia menghela nafas. Segala ekspresinya terlihat jelas karena tangannya belum lepas menangkup pipiku. “Cute and beautiful in the same time, cheerful, care but selfish, smart but lil careless,” dia terkekeh.

Aku mengerutkan bibirku. Dia memuji atau mencemooh sih. Dan hebatnya, jantungku semakin giat berdetak karena ucapannya. Aku meremas rok saat kurasa keringat membasahi telapak tanganku. Could he just lifting his hand from my cheek?

“Melihatmu jatuh cinta membuatku patah hati, tapi melihatmu menangis karna cemburu membuatku lebih sakit. Dan merasakan perubahan dirimu menjadi lebih egois membuatku marah.”

Susah payah aku menelan air liur.

“Dan semua itu bukan karnaku. Malam ini, aku hanya ingin berani untuk mengungkapkannya. Bahwa di sini—“ Sehun menunjuk dadanya dengan sebelah tangannya yang bebas, “—ada rasa untukmu. Naneun neomu joaheyo.”

Oh, Aiden, could you give me oxygen? Kerongkonganku memanas. Nafasku tercekat dalam satu tarikan. Aliran darahku terasa tajam menerobos sel-sel tubuhku. Aku benar-benar tak menyangka, dan payahnya lidahku kelu untuk hanya mengeluarkan kata-kata.

“Dan setelah kau mengetahuinya, malam ini, aku ingin melepas perasaan ini.” Sehun menarik tangannya dari pipiku.

What? Setelah dia merebut oksigenku, sekarang seenaknya menghembuskan karbondioksida?

“Karena mungkin saja, kau benar-benar menyukainya. hingga dia bisa mempengaruhi mood dan temperamenmu.” Sehun tidak lagi memandangku. Dia beralih menatap kelip-kelip bintang yang memang lebih indah.

Aku mengepalkan tanganku. Klek. Saking eratnya, bamboo baling-balingku patah. Kalau seperti ini keputusan yang diambilnya, bukankah seharusnya dia tidak usah mengatakannya?

“Mengagumimu membuatku lebih bersemangat menanti hari-hari, menyukaimu membuatku belajar untuk merengkuhmu—“

“Sorry,” kupotong kata-katanya dengan cepat. Kupingku sudah memanas untuk mendengarnya. Kulirik jam tanganku, memerhatikan titik-titik warna forsor biru yang berpendar untuk menunjukkan angka. “I’ve an appointment.” Aku segera berdiri. “I’m leaving first.” Kuhempaskan begitu saja baling-baling lamaku.

***

Lututku terasa terbakar karena aku terus berlari. Nafasku tersengal-sengal. Dan air mataku terus mengalir di pipi. Aku jelas tahu perasaan tidak rela ini. Apakah begitu menyakitkan untuk menyukai aku? Ini keputusannya, jadi aku bisa apa?

Kuhentikan lariku. Kuusap dengan kasar pipiku. Tidak ingin jika Aiden memergoki wajahku yang mengenaskan. Ya, kami berjanji bertemu di taman. Bibirku tersenyum tipis saat melihatnya duduk di ayunan. “Hi,” sapaku seraya meraih ayunan di sebelah Aiden.

“Hi, kau terlambat 10 menit.”

Aku tersenyum. “I’m sorry.” Aku menghentakkan kakiku hingga ayunan yang ku duduki terayun di udara. “Ada apa? Bukankah kita bisa bertemu di rumah?” tanyaku heran.

“Hey, bisakah kau hentikan ayunanmu. Aku tidak bisa melakukan tugasku jika kau terombang-ambing di udara seperti itu!”

Aku menapakkan kaki di tanah untuk mengerem laju ayunanku. Kucebikkan bibir ke arahnya. Dan dia membalasnya dengan senyum. Sangat memukau. Membuatku mengerjapkan kelopak mata dengan lambat.

Aiden, seperti ritual biasanya, menggerakkan tangannya melingkar di udara sehingga guci keperakkannya muncul. Dia menarik vector rasa dari dalam hatiku. Kali ini bewarna merah muda yang berpendar. Cantik sekali. Dia memutar kembali tangannya, dan guci itu menghilang. “Aku dihukum.”

“Hemm?” aku menelengkan kepala. Mencermati ucapan Aiden.

“Kau tahu gara-gara aku memecahkan jambangan, aku dihukum turun ke bumi. Parahnya, kekuatanku juga dicabut,” selorohnya dengan kesal. Dia merubah ekspresi tenangnya menjadi jenaka seperti biasa. “Astaga, bayangkan saja hanya sebuah jambangan.” Kedua tangannya terulur ke udara.

What kind of jar did you break?”

“Err…” dia menelusuri poninya dengan telunjuk. “Jar of heart.” Aiden membuat cengiran. “Sebuah guci yang menampung segala rasa manusia.”

Aku memandang datar padanya seraya menggeleng-geleng. Pantas saja. “Dan singkatnya, kau ditugaskan untuk mengumpulkan rasa itu kembali melalui aku?” tunjukku pada diri sendiri.

Aiden memelorotkan bahunya. “Yah, begitulah.” Dia bangkit dari ayunannya dan berjalan mendekatiku. Sosoknya menjulang di hadapku. “Maaf, akhir-akhir ini aku mengabaikanmu. Tuhan menghukumku karena menggunakan energiku.”

Aku mengernyit. “For what?”

Dia menekuk lutut kanannya, sedangkan lutut kiri digunakan untuk penopang di tanah. “Untuk menyentuhmu.” Dia menghela nafas saat tahu ekspresi tidak mengertiku. “Saat kau melihat Luhan berpelukan dengan Gyuri, aku sengaja meninju bahumu untuk menyadarkan.” Raut wajahnya kembali serius. Apa dia pemain opera? Hingga bisa merubah dengan drastic mimic wajahnya?

Kepalaku menegak saat kutangkap sesuatu bergerak di belakang Aiden. Fokusku tak teralih barang sejenak saat benda putih itu dengan perlahan muncul di punggung Aiden. Semakin membentang. Sayap? “Aiden, is that your wings?” aku terpukau. Warna putih dari bulu yang terlihat lembut, lengkung tulang yang melebar dengan kokoh. Bibirku tersenyum. “It’s so beautiful.”

It’s my time, Ryung.” Dia berdiri.

Aku bingung dengannya malam ini. Dia seperti bukan Aiden yang kukenal, yang ceria dan konyol. Malaikat di depanku ini nampak mature. “Time for what?”

“Aku telah merampungkan tugasku—“

“Kau akan kembali?!” sergahku. Aku langsung menegakkan badanku.

Dia mengangguk sembari tersenyum. “Terima kasih.”

“Hanya itu?” aku meremas jemariku. Meski awalnya aku sangat terganggu dengan kehadirannya, tapi lama-lama aku merasa nyaman dia berada didekatku. Daripada malaikat yang sedang dihukum, dia benar-benar menjelma layaknya malaikat pelindungku. “Aiden…” lirihku.

“Hmm?”

“Bisakah kau memperpanjang waktumu di sini?”

Dia menyipitkan mata dan mendengus sebal. “Kau senang jika aku dihukum ya?” candanya.

Aku mengangguk tanpa rasa bersalah. Mataku terasa memanas. Aku benci perpisahan.

“Heish, bocah ini,” desisnya sembari menyilangkan tangan di depan dada. Dia memutar bola matanya ke atas, terlihat berpikir. “Tunggu saja sampai aku memecahkan guci lagi.”

“Kau akan melakukannya?” aku sangat bersemangat. “Kalau begitu, pecahkan saja semua guci di sana.” Senyumku melebar walau pandanganku terasa buram karna air mata.

“Itu pemikiran terbodoh yang pernah kudengar. Mana mungkin aku melakukannya?!” erangnya frustasi.

“Lalu bagaimana denganku?”

“Apanya yang bagaimana? Kau tinggal menjalani harimu.” Dia tampak acuh. Apakah sesenang itu jika berpisah dariku? Aiden mendesah. “Aku juga tidak ingin berpisah denganmu,” aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku. “Kau tinggal melihat langit berbintang dan memanggilku. Katakan saja jika merinduku.”

“Dan kau akan datang?”

“Tidak,” ujarnya datar, dengan tanpa dosa. Dia kembali membuat cengiran bodoh. “Tapi, mungkin saja Tuhan mengasihimu yang hampir mati karna merindukan malaikat tertampan ini sehingga mengizinkanku menemuimu. Bagaimana?”

“Kau bodoh!” teriakku. Apa narsisnya tidak bisa dihentikan barang sejenak? Meski terlihat konyol dalam perpisahan yang sama sekali tidak mengharukan ini, air mataku tetap saja turun. Kugerak-gerakkan jari telunjukku sebagai isyarat agar dia mendekat. Dia menurutinya dan mensejajarkan wajahnya denganku. “Thanks a lot.” Kumajukan wajahku. Aku tahu ini akan sia-sia, tapi aku tetap ingin melakukannya. Kukecup pipi kanannya. Sejenak hanya kehangatan udara yang terasa membelai bibirku namun lama kelamaan terganti dengan kehangatan kulit pada umumnya. Aku terperanggah dan menarik wajahku.

“Terima kasih. Aku bersyukur telah dikirim padamu.” Terlihat sayap Aiden semakin membentang. Perlahan tubuhnya terangkat ke udara. Dia melambaikan tangan sebelum melesat ke udara.

Air mataku kembali jatuh. Kenapa perpisahan selalu meninggalkan kekosongan seperti ini? Mataku terbelalak lebar saat sesuatu yang cepat menghampiriku dan wajah Aiden muncul di depanku.

Just wanna tell you, that the last vector is love. So, don’t worry about the emptiness. It’ll fulfill with abundant of love,” dia mengerling. Menoyor pelipisku kemudian mengecupnya sebelum melesat pergi.

Bibirku tersenyum meski tak mengerti maksudnya. “Bodoh!” aku mengatainya untuk kesekian kali. Aku masih berdiri, memeluk ragaku. Menundukkan kepala agar air mataku bebas jatuh. Kenapa berpisah dengan malaikat kesasar itu bisa sesedih ini? Tapi kalau dia bahagia, aku seharusnya juga bahagia. Dan rasa dingin udara tiba-tiba lenyap, terganti dengan kehangatan. Aku bisa merasakan seseorang memelukku.

“Baboya!” bisiknya. Dan tanpa melihat, aku tahu suara siapa ini.

Kudorong pelukkannya. Tapi tidak bisa saat dia mengeratkannya. “Let me go!” ucapku tegas dan terkesan dingin. “I’ve no business with you!”

But I’ve.” Dia, Sehun, melonggarkan pelukannya. Menjauhkan tubuhnya beberapa centi dariku. “Kenapa meninggalkanku begitu saja? Aku belum selesai bicara,” katanya lembut dengan senyum.

Jangan tersenyum seperti itu! Kau membuatku semakin sulit berpaling.

Dia mengusap pipiku. Membersihkan air mata. “Dengarkan ucapanku hingga selesai.”

Aku memberangut. “Maaf, aku tidak sudi.” Aku memutar tubuh ke samping dan siap melangkah pergi. Namun tiba-tiba dengan cepat wajahku ditarik menghadap Sehun. Dan mataku membulat saat sesuatu yang lembut mengecup kilas bibirku. Jantungku bereaksi cepat oleh karenanya. Damn! He kisses me, doesn’t he?

“Dan karena mencintaimu membuatku berharap akan masa depan.” Dia melengkungkan bibirnya. Tampan, sangat. “Aku hanya ingin melanjutkan perkataanku tadi.”

Aku mematung. Lalu apa maksudnya ini? Dia menyerah? Lalu kembali dengan mengucapkan cinta? Ok, aku benar-benar bingung. “Aku—“

“Tidak usah menjawab. Aku tahu jawabannya dari matamu.” Dia memutar tubuhku dan merangkul pundakku. “I’ll walk you home.”

Kakiku melangkah mengiringi langkahnya. Tapi ruhku masih belum terkumpul. Aku menoleh dan mendongak untuk menatapnya yang lebih tinggi. “And then?” akhirnya hanya itu yang dapat terucap dariku.

Dia menghentikan langkahnya dan menoleh padaku juga. “Then, let’s growing up and become more mature. Till the time I lead you to altar.”

Aku menyipitkan mata, meski tak kupungkiri pipiku memanas karna ucapannya. “Too much confident.”

Yes, I do,” ucapnya ringan. “Kyuhyun Hyung bahkan sudah mempercayaiku.” Dia melangkah santai mendahuluiku.

Otakku berpikir sejenak. “Yak! Jangan-jangan waktu itu—“ ucapanku menggantung.

Dia membalikkan badan. “Benar. Hyung tidak memarahiku. Malahan, dia memberi tahuku jadwalmu. Juga, yah sedikit kebiasaanmu.”

“What?!” teriakku. “Lalu tentang berkasmu yang kotor, dan kepala sekolah mar—“

“Ah, sebenarnya aku ingin memberitahumu. Tapi kau terlalu bersemangat untuk menebus kesalahanmu. Jadi kubiarkan saja.”

“Apa?”

“Kepala sekolah memarahiku bukan karna kertasnya yang kotor, tapi karena kesalahan pengetikan tanggal pengesahan, juga gelarnya.”

Hehh…rasanya aku akan meledak. Tuhan, jika aku mencekiknya apakah kau akan marah? “Yak! OH SEHUN!” aku berlari mengejarnya. Dan ketika akan kutarik kemeja belakangnya, dia tiba-tiba berbalik. Kakiku mengerem mendadak hingga membuat tubuhku terdorong ke belakang dan siap terjatuh andai tangan itu tidak menangkapku.

“Dan awas saja kalau kau berani mencium lelaki lain lagi,” ancamnya. Tangannya menarik daguku dan kembali mengecup bibirku kilas hingga kurasakan sengatan volt kecil mengalir di tubuhku.

Nafasku tercekat. Jangan katakan jika dia…“Bagaimana kau—“

Sehun mengerlingkan mata. “Dia terlalu berisik.”

Kukerjapkan mata, mencoba menelaah perkataan Sehun. Itu berarti dia menyadari kehadiran Aiden kan? Dengan gerakan cepat aku mengalungkan kedua lenganku, mumpung dia masih menunduk. Tubuhnya sedikit tertarik ke arahku saat aku mengeratkan kekangan tanganku di lehernya. “I do like you,” bisikku.

END*

Vocabulary:

Being crush with someone: menyukai seseorang namun belum berani menyatakannya.

Lead to the altar: menikahi

Note:

Mian ya klo gak optimal. Otakku baru aja direfresh gegara jadwal mid yang beruntun 3 hari ini. Pingin banget jedotin kepala. Sudah kutulis semampuku. Semoga tidak mengecewakan.

Oh, dan jangan bashing tentang IU (model yang kugunakan untuk poster ini). Tentang hubungan IU dan Eunhyuk Oppa, menurutku itu adalah privasi mereka. Tidak perlu fanbash atau fanwar, Ok? Please, restrain yourself.

We love Sj, and Eunhyuk Oppa, too. And that’s enough.

Untuk penggemar, The Obedient Bride, targetku dalam tiga hari ini aku bisa merampungkannya. Jadi, bersabar ya.

54 thoughts on “Jar Of Heart [Heart 3: End]

  1. Guixianra says:

    Ah!!! Sedih waktu Aiden harus kembali ke asal nya. JADI ? Selama ini Sehun mengetahui, menyadari, dan melihat eksistensi (?) Aiden yang berada di dekat Nam-Ryung ? Sulit di percaya *cengo* tapi seneng, cerita ini berakhir dengan happy ending..😀

  2. saaarraahh.... says:

    Lets we growing up togethrere n become more mature,and i’ll take u to altar uwwaahhh romntisny tu klimat…
    Daebakk onniee…

  3. chokohyung says:

    annyeonghaseyo, saya new reader di blog ini onni, dpet info dri temen ktanya blog ini ff nya bgus2, setelah saya search trnyata bener, ahaha ga nyesel deh,

    ga mau jdi silent reader, mau comment klo ff jar of heart ini keren sumpah, udh baca dri part 1,2,3 ah keren, ada malaikat kesasar, cinta masa sma yg komplit ahihi jdi kebawa fantasi sendiri(?)
    masih bgung onni kenapa si sehun juga bsa liat si aiden, trus knapa si aiden suka liatin miss angelle ahaha, tpi sumpah keren, bikin sequelnya onni hehehe, saya suka bgus2^^)b

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s