A Lovely Coincidence [Shot: 1]


A Lovely Coincidence [Shot 1]

By: arsvio | Genre: romance | Cast: Adelynn Lee, Kyuhyun Cho | Rate: PG-13

Aku menyuapkan gulungan spaghetti dalam mulutku dengan sedikit rakus. Dapat kurasakan saus mengotori tepi mulutku, namun tidak kuindahkan. Biarlah beberapa orang yang sedang care dengan sekelilingnya, melirik heran padaku. Kemarahanku sedang mendominasi akal pikiran sehingga yang bisa kulakukan hanya melampiaskan pada makanan di hadapku.

Can you stop your disgusting act?” sinisme pria yang sedari tadi diam di depanku. Sejak keluar dari restoran kelas atas sekitar satu jam lalu, pria yang notabenenya calon tunanganku tersebut sibuk bergelut dengan pemikirannya sendiri. Ini adalah kali kedua dia mengacaukan pertemuan dengan keluarga kami. Bukan karena sikapnya yang kekanakan, melainkan pendapatnya yang terlalu frontal.

Kami bukan sepasang kekasih yang saling mencintai, kemudian memutuskan menikah. Hubungan kami sedikit lebih berbelit dari kisah kebanyakan seperti itu. Bukan pula perjodohan, karena pihaknya-lah yang mengajukan lamaran. Koreksi, bukan lamaran, lebih tepatnya syarat.

Aku baru dua bulan berada di Negara Merlion ini, dan juga dua bulan mengenalnya. Dia, pria yang secara tidak sengaja bertabrakan denganku di bandara. Kami sempat mengobrol singkat. Awalnya aku pikir dia pribadi yang menyenangkan, tapi setelah lebih jauh mengenalnya, penilaianku berubah. Dan sekarang kusesali mengapa aku mau datang ke Negara ini.

Hurry up. I’ve another schedule.” Dia mengangkat tangannya dan merogoh dompet. Saat pelayan memberikan bond, dia langsung membayarnya, kemudian berdiri.

Just go first. I wanna stay for a while,” tolakku. Tanpa memandangnya, aku bisa mendengar desah nafasnya. Dan beberapa detik setelahnya, dia pergi begitu saja. Kuikuti sosoknya dengan pandanganku hingga menghilang dalam Ford putihnya.

Aku memejamkan mata dan mendorong punggungku hingga menyandar. Memikirkan kembali acara pertunangan yang akan digelar seminggu lagi. Pertunangan sebagai syarat perusahaan Vichou agar bersedia mengakusisi perusahaan milik keluargaku.

***

Aku memutar badanku saat beberapa waitress menyibakkan tirai. Berharap ini adalah gaun terakhir yang aku coba. Kugigit bibir bawahku saat masih tak melihatnya bereaksi, sedangkan ibunya sudah berteriak antusias. Selama hampir dua jam ini dia hanya duduk manis dengan menyilangkan kaki, bertugas sebagai komentator. Oh gosh! He driving me nut!

What a pretty one you are.” Puji Ny. Cho untuk kesekian kali.

Dia hanya mendongak kecil, kemudian kembali menunduk untuk menekuri konten ipad-nya. Sepertinya headlines itu lebih menarik daripada persiapan pertunangan kami. “Change,” ucapnya singkat yang membuatku menghela nafas lelah.

“Kyunie, I think this gown is fit on her.” Ny. Cho membelaku. Mungkin saja beliau juga jengah dengan fitting yang tak kunjung selesai ini.

I don’t expect other guys to look into her uncovered back.” Dia masih tidak memalingkan wajahnya pada lawan bicara. Dan itu sedikit menguntungkanku, karena wajahku pasti merona sekarang. Bukan sebab tersipu, tapi malu pada kebenaran pendapatnya. Gaun ini benar-benar mengekspos punggungku. Dan setelahnya, aku kembali tenggelam di balik tirai dan menerima gaun yang lain.

Aku tidak bisa menghitung berapa gaun yang kucoba. Jemariku menyusuri manik-manik dalam ruffles gaun yang sedang kucoba. Warnanya yang soft memberikan kesan elegan. Meski panjang bagian depan berada di atas lutut, bagian belakang gaun ini mengekor cukup panjang.

Saat tirai dibuka, dia masih belum berkomentar apa pun. Mengusapkan telunjuk dan ibu jarinya pada dagu, aku hafal bahasa tubuhnya semenjak beberapa jam lalu. Dan itu berarti dia sedang dalam perenungan untuk menolak. Aku mendengus sebal. “I take this!” ucapku sembari menuruni lantai ganti. Terserah dia setuju atau tidak, aku tidak peduli.

***

 Aku memandangi sepasang cincin pertunangan yang baru saja kami beli. Cincin untukku berbahan platinum dari Matthew Stephens Jewellers. Cantik, begitu elegan dengan bentuknya yang sederhana dan sebuah berlian bewarna semburat hijau transparan. Kuhela nafas saat menutup kotak cincin tersebut, dan meletakkannya kembali. Andai ikatan ini adalah kehendaku, maka sungguh akan membahagiakan.

Kepalaku tertoleh secara reflex saat dering bel pintu terdengar. Mendengar derap langkah, kurasa Hyun sedang membukakannya. Aku tertarik untuk ke depan begitu mendengar pekikkan riang. Siapa yang datang?

Mematung di tempatku, aku sungguh tidak mengerti harus bersikap bagaimana. Seorang gadis, yang sedang dipeluk oleh Hyun, menyunggingkan senyum menawannya. Dari tipe wajahnya, sudah pasti dia Korean. Bukan cemburu, namun aku merasa canggung di antara mereka. Saat matanya membuka dan menemukanku, dia melepaskan pelukan Hyun.

“Dia…” tunjuknya padaku.

Hyun berbalik, dan menghadapku. “Kenalkan, dia Adelynn Lee. Kami—“ Hyun berdeham, “—akan bertunangan akhir minggu ini.”

Mwo?” gadis itu membulatkan mulut dan matanya. Aku mendekat dan mengulurkan tangan. Bisa kulihat keraguan gadis tersebut untuk menyambut uluran tanganku, meski begitu dia tetap meyambutnya. “Soe Joo Hyun.”

Mataku mengerjap lambat saat melihat keakraban antara dua hyun tersebut. Soehyun, gadis itu adik angkatan Hyun saat mereka kuliah. Aku belum pernah melihat senyum dan tawa Hyun selepas ini. Dia seperti sebuah pribadi yang berbeda dari yang kukenal.

Tidak dipungkiri lagi. Dari bagaimana Hyun menatap dan menggoda gadis itu, rasanya ada untuk Soehyun. Aku menarik nafasku dengan panjang untuk mengisi paru-paruku yang terasa sedikit sesak. Sepertinya bukan di sini tempatku. “I’m sorry,” ucapku menginterupsi. “I’ve a class this afternoon, so I’m leaving first.”

“Perlu kuantar?” Hyun mengekorku hingga pintu.

No need to escort me.” Kuulas senyum datar.

“Eomma dan Appa tiba di Korea pagi tadi. Rencananya, mereka akan kembali lagi ke sini Sabtu pagi. Eomma sempat menanyakanmu.” Keluarga Hyun memang menetap di Korea, hanya dia yang berada di Singapore untuk mengurus cabang Vichou di sini. Aku mengangguk menanggapi ucapannya. “I’ll call her later. Bye.”

***

Aku menyusuri jalanan NUS dengan gontai. Tidak seperti biasanya, penjelasan dari profesorku hanya semisal angin lalu saja. Padahal aku menarget menyelesaikan graduate program-ku dalam 3 semester. Entahlah, bayangan Hyun dan gadis de apartemennya lebih menyita pikiranku. Oh Adelynn! What are thinking of? Kupukul kepalaku ringan.

You’ll have brain concussion if you continue to hit your head like that.” Aku menegakkan kepala ketika suara Aiden menginterupsi. Dia tersenyum dan membukakan pintu mobil.

You do here?” heranku. Jarang-jarang kakak lelakiku tersebut menjemputku di kampus. Dia juga Dad akhir-akhir ini disibukkan dengan urusan akusisi perusahaan kami. Krisis ekonomi yang terjadi di Singapore berimbas pada stabilitas perusahaan. Meski aku tidak banyak tahu mengenainya, singkatnya aku tahu bahwa perusahaan kepayahan karena pembayaran hutang luar negeri yang meroket karena nilai tukar kurs dollar Singapore melemah.

How’s your day, Lynn?”

“Hmm, not bad.” Memang aku harus menjawab apa? Berbelanja untuk mempersiapkan pertunangan yang bahkan tidak kau inginkan. Aku melakukan ini demi keluargaku, karena hanya Dad dan Aiden yang kumiliki. Oh koreksi, Aiden Oppa. Dia akan marah jika aku hanya memanggil namanya.

Tiba-tiba kurasakan Aiden Oppa menepikan mobilnya, padahal kami masih di tengah perjalanan pulang. Aku menoleh padanya dan menemukan raut lelahnya. “Lynn, let’s stop it.”

What?”

Your engagement. Just back to USA, and reach your dream. I’ll take over the company’s problem.”

Aku menggigit kecil bibir bawahku. Penawaran Aiden Oppa sungguh menggiurkan. Tapi bisakah aku abai dengan keluargaku? Tidak. Kugelengkan kepala lemah. “It’s my decision to be here. And it’s me, the one who want this engagement.” Memang perusahaan mana lagi yang bersedia mengakusisi perusahaan yang hampir bangkrut karena terlilit hutang selain Vichou?

“Kau membuatku terlihat buruk dengan pertunanganmu!” sentak Aiden Oppa. “Kebrangkutan ini bukan salahmu, tapi mengapa kau harus menanggungnya!” dia memukul kemudi frustasi. Dia mengadu keningnya dengan kemudi untuk menutup air matanya yang terlanjur tumpah.

“Aiden…” aku merangsek ke arahnya. Kulingkarkan kedua tanganku melewati punggung dan perutnya, dan kuletakkan daguku di pundakknya. “Aku bukan melakukan ini demi perusahan, melainkan demi kalian. Karena aku menyayangi kalian. Salahkah tindakanku?”

Kurasakan Aiden Oppa menggeleng. “I’m sorry dear. So sorry,” suaranya parau.

Aiden, tetaplah di sisiku, maka aku bisa melalui ini. Semua akan berjalan dengan baik. Bukankah setelah pertunangan, kami akan memiliki waktu bersama yang cukup banyak? Kurasa seiring waktu, cinta itu bisa kutumbuhkan. Everything gonna be ok, rite?

***

“Kau sudah di sini?”

Aku menutup majalah yang kubaca dan menatap Hyun yang baru saja keluar dari ruangannya. “Aku tidak perlu memastikan tempatnya, kuikuti pilihanmu saja.” Membayangkan pemilihan lokasi juga akan berakhir seperti saat fitting gaun, sudah membuat moodku turun. Jadi, kurasa bagian ini kuserahkan saja padanya.

“Tidak bisa. Pertunangan ini bukan mengenaiku saja.” Dia melenggang begitu saja melewatiku. Kuelus kening pelan untuk mereda emosiku. Memang pertunangan ini rencana siapa? Jika bisa memilih, aku lebih baik meninggalkannya.

Kakiku melambat saat pembicaraan di ruangan sebelah tertangkap telingaku. Jelas bahwa pembicaraan mereka kurang kumengerti karena aku awam masalah bisnis.

“Kurasa Direktur Cho perlu memikirkan ulang akusisi ini”

“Benar. Tidak ada yang tersisa dari kejayaan Grup Xian. Bahkan pemerintah tidak bisa menyelamatkannya.”

“Aku khawatir pernikahan Direktur Cho akan berimbas negative pada saham Vichou.”

Tapi, aku juga bukan orang bodoh yang tidak bisa membuat penilaian. Kuhela nafas saat mendengar pendapat mereka. Aku bisa melihat punggung Hyun menjauh, tapi saat ini aku sedang tidak mengindahkan. Lebih tertarik dengan curi dengar yang kulakukan.

“Kudengar, putri Tuan Soe datang kemari.”

“Benar. Aku sungguh tidak mengerti dengan pemikiran Direktur Cho. Bukannya menikahi putri Tuan Soe yang jelas akan memperkuat posisinya dalam perusahaan, dia malah berencana menikahi putri Grup Xian.”

“Desas-desus, Tuan Soe mewariskan hampir seluruh sahamnya pada putri tunggalnya tersebut. Bukankah bagus jika bisa memiliki gadis itu.”

Aku mengisi rongga paru-paruku dengan helaan cukup panjang. Jadi, kedatangan Soehyun mungkin bukan murni liburan. Agaknya ada pihak yang memang ingin mengambil keuntungan. Entah orang lain, atau bahkan keluarga Soe sendiri. Bukan tidak mungkin kehadirannya merupakan alat untuk membatalkan pertunangan. Aku tidak tahu harus merasa senang atau sebaliknya?

“Apakah kau tidak pernah diajarkan sopan santun, Nona Lee?” Aku mendongak kaget saat mendengar suara bass milik Hyun. Dia menyeringai kemudian berdecak kesal. “Aku tidak ingin membuang waktuku karena kau yang lambat.” Hyun menyingkap lengan bawahnya untuk mengecek waktu.

“Aku mengerti!” ketusku sembari melaluinya.

***

Aku masih memikirkan konten pembicaraan di kantor Hyun yang tak sengaja kudengar. Kugigit kuku ibu jariku, kebiasaan saat aku berpikir. Jika memang dengan menikahi Soehyun, lelaki ini bisa memperkuat kedudukannya dalam perusahaan, lalu mengapa dia malah memutuskan jalan lain? Lagipula, menilik interaksi mereka, Hyun pasti menyukai gadis itu.

“Kita sampai.” Lamunanku buyar saat Hyun membuka pintu mobil. Tidak ingin mendapat masalah seperti tadi, aku buru-buru mengekornya.

Sebuah ballroom di hotel Ritz Carlton, tentu sudah tidak diragukan kualitasnya. Mataku menyapu areal secara acak dan kilas. Konsentrasiku masih bias dengan masalah yang belum kutahu jawabannya. “Hyun, kenapa kau melakukan ini semua?” pertanyaan itu meluncur begitu saja.

“Maksudmu?”

This engagement.”

“Bukankah kita sudah pernah membahasnya?” senyumnya meremehkan.

“Kau seorang yang mempunyai pilihan, dan pilihan yang kau ambil saat ini, menurutku bukan yang terbaik.” Aku mencoba berargumen.

“Apakah kau yang menentukan baik buruknya keputusanku, Nona Lee?” sakartisnya. Dia akan memanggilku dengan sapaan ‘nona’ atau lainnya jika sedang menyindir.

“Soe Joo Hyun. Putri tunggal pemilik saham terbesar kedua di Vichou. Dan jika perkiraanku tidak salah, dia juga gadis yang kau suka. Jadi, mengapa tidak menikahinya?” Aku sedikit melirihkan kalimat terakhirku.

Hyun hanya menyungingkan senyum miring. “Perkiraan? Kau pikir pertemuan pertamamu dengan Soehyun cukup menjadi dasar perkiraanmu, heh?”

“Jika pendapat keduaku salah, maka pendapat pertamaku cukup untuk menjadi alasan bagimu untuk memilihnya.”

“Apakah aku terlihat berambisi untuk meraih kedudukan?”

“Berambisi atau tidak, sebuah profit tetaplah suatu hal yang berharga bagi kalian pebisnis.” Aku masih membantah ucapannya untuk melihat reaksinya.

“Kau tidak bisa menarik generalisasi dari pikiran singkatmu, Nona Lee.”

“Maka pendapatku benar, bahwa kau menyukainya.”

“Adelynn Lee!” Dia mulai menaikkan nada bicaranya.

“Adakah dari ucapanku yang salah?” tantangku. “Aku tidak tahu motifmu melakukan pertunangan ini. Karena dari sisiku, jalan yang kau ambil sama sekali tidak menguntungkan. Jadi, bisakah kau menjabarkannya sekarang?”

“Cish, kau bukan orang yang berhak untuk memperoleh penjelasan. Asalkan keputusanku bisa meyelamatkan Grup Xian, bukankah itu sudah lebih dari cukup?” Hyun melangkah pergi.

Kutahan lengan Hyun dengan cepat. “Apa motifmu sebenarnya, Hyun? Keuntungan apa yang kau peroleh?” kutatap langsung bola mata coklatnya.

Dia menyeringai untuk kesekian kalinya. “Begitu pentingkah motifku untukmu, Adelynn?” Dia menarik tanganku hingga terlepas dari lengannya. “Kau memiliki waktu tiga hari untuk menemukan jawabannya sendiri sebelum pertunangan kita. Jika dalam waktu itu kau menyelesaikannya, maka aku akan membatalkan pertunangan ini dan memberikan Grup Xian pinjaman untuk melunasi hutang tanpa akusisi. Jika tidak, maka apa yang kau tawarkan?”

Aku berpikir keras untuk menjawab tantangannya. Bayangkan saja, jika aku berhasil maka selain lepas darinya, perusahaan keluargaku bisa memperoleh pinjaman cuma-cuma. “Jika tidak, aku akan memotong pendek rambutku, dan mematuhi semua perintahmu,” jawabku asal dan sebal.

“Deal.”

***

Kuacak rambutku frustasi. Apa yang harus kulakukan hanya dalam waktu tiga hari untuk menemukan kebenaran di balik keputusan Hyun. Ini sudah hari kedua, dan aku tidak menemukan sesuatu pun. Sudah kucoba menelusuri akun social Hyun, barangkali aku menemukan petunjuk. Tapi nihil.

Aku juga menyelidiki biodata Soehyun. Bagian penting yang kugarisbawahi adalah bahwa dia menjadi adik kelas Hyun. Menurut gossip, mereka pernah menjalin hubungan walaupun itu hanya sebentar. Dan selain Soehyun, ada sahabat Hyun lainnya yang juga pernah dikabarkan menjalin kasih dengan Hyun. Hwa Young Shim.

Saking gilanya, aku juga menyusuri latar belakang Hwa Young Shim. Sepertinya hubungan Hyun dan Hwa Young untuk sekarang ini memang sekedar sahabat, mengingat perempuan itu kini sudah bersuami dan sedang menunggu kelahiran putra pertama mereka. Sekali, aku pernah menghubungi Hwa Young Shim, dan jawaban pertanyaanku hanya ditanggapi secara diplomatis.

“Errrghhh…” aku mengerang frustasi lagi. Haruskah aku menyewa orang untuk menculik Hyun, kemudian memaksanya mengaku? Tidak…tidak. Itu fantasi yang berlebihan. Atau mungkin aku bisa menyelinap ke apartemennya untuk mencari bukti?

Aku berpikir sejenak. Bukti? “Benar. Jika Hyun memang merencanakan sesuatu, pasti dia memiliki rekamnya di gadget atau agendanya.” Ok. Aku menemukan pemikiran. Kurasa aku akan ke apartemen Hyun. Besar kemungkinan pentunjukku ada di sana.

***

Aku memang tidak bisa masuk tanpa izin ke apartemen Hyun karena tidak mengetahui kombinasi kuncinya. Tapi setidaknya, aku bisa berpura-pura di sana sembari mencari petunjuk. Meski besar peluang aku harus menghadapi sikapnya yang dingin.

Kuangkat tanganku untuk memencet bel. Tapi ku urungkan saat melihat pintu apartemen yang tidak menutup sempurna. Karena belum dua menit, pasti system auto-locknya belum bekerja. Kurasa Hyun baru saja tiba.

Kuberanikan diri untuk membuka pintu. Dan begitu masuk, aku disuguhi pemandangan yang memanaskan mataku. Aku tidak tahu bagaimana tiba-tiba udara begitu terasa menyesakkan saat ini hingga membuat dadaku nyeri. Kakiku terasa kaku untuk digerakkan, begitu juga dengan anggota badanku yang lain.

Dia, Hyun, dalam posisi membelakangiku sedang berciuman dengan seorang gadis. Dan karena tinggi gadis itu yang menjadi sejajar saat Hyun menundukkan kepalanya, aku yakin dia…Soehyun.

Aku masih terpaku di tempatku tanpa bisa bergerak. Hingga sekejap kulihat Soehyun membuka matanya dan pandangannya menemukanku. Bukannya kaget, dia malah memejamkan kembali matanya. Menikmati ciuman panas mereka. Seolah ingin menunjukkan padaku bahwa Hyun adalah miliknya.

Oh Adelynn, get out from here! Move on! Teriakku dalam hati untuk membuat badanku bergerak. Kutundukkan kepala dan memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan energiku. Perlahan dengan sedikit gemetar, aku mundur dan menutup kembali pintu apartemen Hyun.

***

Tidak ada lagi harapan untuk menyelamatkan perusahan selain menerima akusisi Vichou. Karena sejak terakhir aku memergoki Hyun berciuman, aku tidak memiliki semangat untuk mengetahui motifnya. Dan sekarang di sinilah aku.

Menepati janjiku pada tantangan yang kami sepakati. Aku tidak menghiraukan betapa rambutku terpotong tak rapi. Karena memang aku memotongnya sendiri dalam keadaan marah. Aku tidak tahu marahku tertuju pada siapa? Apakah karena kekalahanku pada tantangan Hyun? Apakah karena memergoki Hyun berciuman? Atau karena sudah dengan bodohnya menerima tantangan Hyun?

Kukepalkan tanganku kuat-kuat, dan kutegakkan jalanku. Aku harus bisa melalui ini. Kuhentikan langkahku saat menemukannya. Dia, dengan jarak kurang dari 15 meter, sedang berbincang dengan rekan kerjanya. Aku menguatkan hati untuk menghadapinya, tapi kakiku tertahan. Mataku memanas. Mungkin lebih tepatnya, aku sedang meratapi nasibku.

Dan saat pandangan Hyun menemukanku. “Adelynn…” desisnya lirih. Kau merasa menang bukan? Kau senang dengan pertaruhanmu Hyun?

Dia berjalan cepat menjangkauku, namun aku segera berbalik dan berlari untuk menghindarinya. Kupacu langkahku dengan cepat. Aku tidak bisa menemuinya. Tidak bisa dalam kondisi pikiranku sekacau ini.

Kerongkonganku terasa panas saat kebutuhan oksigen begitu mendesak. Kurapatkan tubuhku dengan tembok. Perlahan, tubuhku merosot ke bawah mengikuti gravitasi. Dengan nafas yang tersengal, aku menumpahkan kemarahanku dalam tangisan.

Aku tergugu sembari memeluk ragaku sendiri. Air mata terasa memenuhi wajahku dan menyumbat tenggorokanku. Kenapa aku harus mengalami ini semua? Pertunangan demi akusisi, calon tunangan yang bahkan mencintai gadis lain, rasanya cukup membuatku sesak.

Dulu aku sedikit optimis bahwa mungkin saja waktu akan menumbuhkan cinta di antara kami, tapi setelah melihat kenyataan tersebut, aku salah. Baginya, aku tak lebih dari sebuah barang jaminan. Sebuah jaminan atas akusisi Grup Xian. Andai saja akusisi itu malah merugikan, setidaknya dia sudah mengikatku. Mungkin dalam rencananya, dia bisa memanfaatkanku.

***

Aku diam saat penata rias memoles wajahku. Bahkan sapuan brush di wajahku tidak begitu dapat kurasakan karena sepertinya kulitku mati rasa. Mereka juga membantuku mengenakan gaun. Aku bagai boneka yang menurut pada empunya. Pandanganku tak fokus dan otakku terasa kosong.

Aku tidak tahu berapa jam yang sudah terlewat untuk persiapan ini. Terkulai duduk, aku membiarkan tubuhku beristirahat barang sejenak. Baru sebentar, beberapa orang berjas menjemputku. Tidak punya pilihan, aku mengikuti mereka.

Kukerjap-kerjapkan mataku untuk mengamati jalanan. Sudah tidak bisa menghindar, kurasa inilah takdirku. Setidaknya di atas penderitaanku, ada banyak orang yang berbahagia, Dad dan Aiden Oppa, juga para karyawan perusahaan yang tidak perlu mencemaskan akan PHK.

Aku menarik nafas panjang. Saat sekali lagi kupusatkan pandanganku ke arah jalanan, aku mengernyit heran. Ini…bukan jalan untuk menuju tempat pertunangan. Meski waktu itu aku sempat melamun, tapi aku ingat jelas jalanan yang harus dilalui untuk menuju ke Ritz Hotel. Kutolehkan wajah ke samping, “Kita akan kema—“

Aku meronta sekuatnya saat orang yang kukira dari even organizer pertunanganku membekap mulutku dengan sapu tangan. Kurasakan dia mengeratkan bekapannya padaku. Sebuah bau menyengat masuk dalam rongga hidungku. Dan setelahnya, semua menjadi gelap.

TBC*

Glosarium:

Akusisi (atau pengambilalihan): pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor. Akuisisi sering digunakan untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku atau jaminan produk akan diserap oleh pasar.

NUS: National University of Singapore. Termasuk dalam 50 besar world best University. Tahun 2012-13, NUS menempati urutan ke 29.

Graduate program: program pascasarjana (s2)

Note:

Ini adalah bagian dari side story atau pun sequel dari The Obedient Bride. Jadi, nuansanya masih sama, mengenai perjodohan dan intrik bisnis. Karena aku hanya meneruskan karakter Kyuhyun dalam TOB. Meski begitu, aku membuatnya sedikit berbeda dengan mengambil point of view dari tokoh-tokohnya. Shot 1 ini POV-nya adalah Adelynn. Dan rencanaku, untuk shot 2 adalah Kyuhyun.

Well, I’m not in any shipper. I’m not SoeKyu shipper nor KyuYoung. I’m just someone who like Tiffany Hwang. That’s why aku pake dia sebagai appearance, selain juga memudahkan mendapat fotonya.

Kenapa bukan ulzzang? Karena sering kali aku ‘ngeri’ dengan mereka. Sudah dapat ulzzang yang pas, tapi kemudian lihat foto-fotonya dengan pose dewasa atau ekspose tubuhnya. Buat aku kurang sreg aja.

Ok, bye and bow. I’m waiting your comment. ^^

360 thoughts on “A Lovely Coincidence [Shot: 1]

  1. jihyun_cho says:

    wah sebenernya apa tujuan kyu tunangan ma Adelynn Lee? trus knpa kyu main blkang ma seo??? sebenernya apa yang terjadi ma kyu??? hah harus lanjut bacanya !!!! pnasaran akut nih!!!! trma kasih,,,

  2. rachma says:

    Siapa yang nyulik Tiffany..? Dan apa motif kyu mw bertunangan sm fanny.. masih banyak teka-teki yang belum terjawab.. penasarn bgtt nihh..

  3. nurwiniaprilia says:

    penasaran bgt dg motif kyuhyun sebenarnya, masak karna cinta? Tapi dia berciuman dg seohyun kan. Kayaknya adellyn diculik! Mungkin seohyun?

  4. aku baru di sini. Dan langsung tertarik sama judul ini kkk. Emang ceritanya udah umum, tentang perjodohan karena bisnis. Tapi aku yakin, penyampaian cerita dan jalan nya bakal lebih oke.

  5. myjawlinehyuk says:

    Iam new readers here! Wow pas baca lgsg excited banget karena banyak pake english languange.. masih agak bingung sama ceritanya sih,motifnya kyu apa..izin baca next chapter hihi

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s