A Lovely Coincidence [Shot: 2]


lovely coincidence

A Lovely Coincidence [Shot: 2]

Kusingkap manset lenganku untuk mengecek kembali sudah berapa menit keterlambatan mereka. Aku mengatur ekspresi setenang mungkin agar para tamu tidak curiga. Hampir 45 menit berlalu dari waktu yang dijadwalkan, namun dia belum juga datang. Eomma melirik padaku kesekian kali untuk mendapat kejelasan, dan hanya kubalas dengan anggukan ringan untuk menenangkannya. Senyum kuulas pada relasi bisnis yang kini sedang beramah tamah denganku. “Please enjoy the party,” ucapku untuk menarik diri saat kulihat asisten pribadiku memasuki ballroom.

We got lost, Sir.” Asistenku mendekat dan membisikkan hal yang membuatku mengernyit. “Miss Adelynn was missing.” Berita yang seketika membuat jantungku menghentak keras dan darahku berdesir ke bawah dengan deras.

Something did wrong, Hyung?” Daehyun, adik lelakiku, ikut mendekat.

Handle the situation here, Dae-ya. I’ve an urgent business.”

Hyung!” Daehyun menahan lengan atasku. Memandangku untuk menuntut penjelasan.

Aku tidak bisa memberikan penjelasan apa pun, jadi yang kulakukan hanya membalas tatapan Daehyun dengan tegas. Kuharap dia tahu maksud implisit dari pandanganku. “I count on you.” Melangkah pergi, setelah sebelumnya aku menepuk ringan lengan Daehyun.

***

“Kami telah menelusuri mobil yang menjemput Nona Adelynn, dan beberapa saat lalu, kami menemukannya di pinggiran kota.” Asistenku mengangsurkan tablet untuk menunjukkan temuannya.

Kuterima tablet tersebut dan mataku menyusuri foto sebuah sedan. Aku memperbesar ukuran gambar untuk melihat nomor kendaraannya. “Kau sudah menelusuri kepemilikan mobil ini?”

“Menurut sumber kami, mobil tersebut terdaftar atas nama Ahmad Matter. Namun ternyata, pagi ini sang pemilik melapor pada pihak berwajib bahwa mobil tersebut dicuri.”

“Sebar orangmu untuk menyisir beberapa pelabuhan, dan juga periksa bandara.” Aku benar-benar khawatir andai mereka membawa Lynn ke luar Singapore. Menilik luasan negara ini yang kecil, sangat mudah untuk melarikan diri ke luar negeri dalam waktu singkat. Bahkan untuk mencapai Malaysia maupun Indonesia hanya butuh beberapa menit melalui jalur laut. Gosh! Kupijat keningku dengan tekanan keras.

“Ahmad Matter?” Aku bergumam kecil saat merasa nama tersebut tidak asing.

“Dia sekretaris manager bagian pemarasan.” Keterangan asistenku menjawab rasa penasaranku. Terlalu dangkal jika aku menarik kesimpulan pencurian mobil Ahmad Matter dan penculikan Lynn adalah suatu kebetulan. Telingaku cukup terbuka bahwa memang ada beberapa pihak yang tidak menyetujui keputusan akusisi Grup Xian.

“Selidiki dengan siapa dia bekerja dan berpihak. Dan berikan padaku daftar pelabuhan di negara ini, baik legal atau illegal.” Sembari menunggu asistenku mengerjakan yang kuminta, segera mungkin kuhubungi pihak kepolisian untuk melapor. Meski sudah mengerahkan orang-orangku, namun dengan bantuan pihak berwajib akan memudahkan akses birokrasi untuk menyisir bandara atau pun pelabuhan.

Sir, here the list of some port and its location.”

Kuamati dengan jeli peta yang terpampang di tablet. Kutandai beberapa titik, yang merupakan pelabuhan terdekat dengan perbatasan Malaysia maupun Indonesia, yang mungkin menjadi tempat pelarian. “Pusatkan pencarian di titik-titik ini. Sementara ini yang terpenting adalah mencegah mereka kabur ke luar negeri.”

I understand.”

Did you find another clue?”

We don’t get it yet.”

***

“Yash!” aku memukul body mobil untuk menyalurkan segala bentuk emosiku. Ini pelabuhan keempat yang aku periksa, namun belum juga mendapat petunjuk. Pihak kepolisian dan orang-orang yang kusebar juga masih tidak mendapatkan kabar. Hari hampir gelap, dan kami belum menghasilkan sesuatu pun.

Aku sungguh tidak bisa memaafkan diriku andai terjadi sesuatu pada Lynn. Jika hipotesisku benar, maka penculikan ini hanya dilakukan oleh orang-orang dekat, yaitu mereka yang menentang pertunangan ini. Tidak bisakah mereka untuk tidak campur tangan pada urusanku?!

Hyung!” kulihat Daehyun berlari-lari kecil menjangkauku. “Sepertinya akan sia-sia jika kita memeriksa pelabuhan legal. Aku menanyakan pada beberapa penduduk sekitar, dan sepertinya terdapat pelabuhan kecil yang sering digunakan untuk berlabuh para nelayan. Tempatnya sedikit tersembunyi karena terlindung semenanjung.”

Aku mulai antusias dengan penjelasan Daehyun. “Aku sudah memerintahkan untuk menyusuri pelabuhan-pelabuhan illegal. Tapi tidak ada salahnya kita mencoba tempat itu.”

***

Bau amis menyeruak dalam hidungku begitu kami sampai di pelabuhan yang dimaksud Daehyun. Aku bisa melihat pelelangan-pelelangan kecil di sini. Agaknya, memang benar bahwa tempat ini hanya dipakai oleh penduduk sekitar yang jumlahnya tak seberapa.

“Kau sudah menghubungi orangmu, Hyung?” Daehyun berjalan mendekat. “Sepertinya tidak ada apa-apa di sini.” Dia terlihat putus asa setelah kami tadi berpencar. Mendongak untuk meredakan pegal, Daehyun kemudian menatapku. “Kau tahu dalang di balik semua ini?”

Aku mengitarkan pandanganku ke sekitar. Barangkali kami melupakan sesuatu yang kecil. “Aku masih tidak pasti Dae. Sampai kita mendapat bukti kuat, tidak ada yang bisa kulakukan untuk menuntutnya.”

“Sebagian direksi tidak menyetujui akusisimu, Hyung.”

Pandanganku seketika terlalih sepenuhnya pada adik lelakiku tersebut. “Dae, kumohon. Saat ini aku tidak peduli dengan pemikiran direksi.”

Sorry.” Daehyun memijit tengkuknya. Seharian penuh kami berusaha, dan kelelahan itu secara nyata kurasakan, namun aku tidak berniat berhenti. “Sepertinya, bukan tempat ini juga.” Dae menepuk punggungku untuk mengajakku beranjak.

Tepat setelah itu, kudengar derap kaki berlari yang membuat suara halus dalam pasir. Aku menajamkan pendengaran dan menarik Daehyun untuk berlindung di belakang kotak-kotak besar tempat ikan, yang baunya, astaga…

Adelynn…lirihku begitu seorang perempuan dengan gaun bewarna salmon berlari melintasi tempat persembunyian kami. Segera kuikuti langkahnya, dan dengan gerak cepat, aku membungkam mulutnya dari belakang.

Let…me…go…” dia terus memberoktak hingga terpaksa aku sedikit mengangkatnya.

“Lynn, this’s me,” bisikku di telinganya. Dan dia masih berusaha melepaskan diri, sedangkan aku menariknya mundur ke tempat persembunyianku dengan Daehyun. “Calm yourself, it’s me!” Aku mempertahankan volume suaraku. Kueratkan sebelah tanganku di perut Lynn. “Adelynn!” bentakku meski dalam nada rendah.

Dia mulai luruh. “Kau bersamaku, ok.” Aku membalik badannya hingga menghadapku. Tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya yang menunduk karena penerangan yang minim. Dan itu membuat persembunyian kami terlindung.

Kuraih dia dalam dekapanku. Dan syukurnya, dia menurut dan tidak memberontak. Dapat kurasakan getaran tubuhnya, dan tangannya yang mencengkeram kuat kemeja depanku. Aku melindungi kepalanya dengan telapak tanganku, dan memeluknya dengan protektif. Mencoba memberikan rasa aman saat dia berusaha meredam ketakutannya dalam dadaku.

“Polisi sebentar lagi tiba. Dan aku juga sudah menghubungi orang-orangmu,” bisik Daehyun.

Beberapa saat kemudian, aku bisa mendengar beberapa orang berteriak dan bergerak ke arah kami. Sepertinya mereka menyadari bahwa Lynn berhasil melarikan diri. Mereka menyorotkan lampu senter, bahkan beberapa lampu mobil dinyalakan untuk membantu.

There’s a car here!” Nafasku tercekat saat mendengar teriakan seseorang. Itu pasti mobilku. Aku semakin merapat, demikian juga Daehyun. Kami berdua, ditambah lagi dengan keberadaan Lynn, adalah sasaran empuk. Aku bisa mendengar mereka mengumpat.

Dan secara tiba-tiba, sorot lampu mobil menerangi kami. “Mereka di sini!”

Aku menarik Lynn dan menyembunyikan di belakang tubuhku. Otakku masih berpikir bagaimana cara meloloskan diri. Aku tak yakin bisa melindungi mereka berdua dan mengalahkan lima orang yang mendekat ke arah kami.

“Lepaskan perempuan itu. Dia milik kami,” ucap seseorang yang membuatku geli.

“Milik kalian?” sinismeku. Aku melirik Daehyun, mengisyaratkan agar dia membawa lari Lynn sementara aku menahan gerombolan ini sebisaku. Dan Daehyun mengangguk mengerti. Kami berjalan menyamping selangkah demi selangkah untuk menghindar dan mengulur waktu. “Hitungan ketiga, Dae. Satu…dua…ti…sekarang!”

Aku bisa merasakan Daehyun menarik tangan Lynn yang melingkar di perutku. Jika kau tidak menyerang, maka kau diserang. Dan hasilnya akan sama. Jadi aku memilih opsi pertama. Kulayangkan tinjuku pada orang yang ingin mengejar Daehyun. Tubuhku dengan gesit menghindar saat seseorang lain menyerangku.

Aku bertahan sebisaku melawan tiga orang. Mengandalkan kemampuan bela diri yang pernah kupelajari saat kuliah, aku menyerang mereka. Kuusap pipiku pelan saat sebuah pukulan mendarat di wajahku. “Gezz…” belum sempat aku bangun, salah satu diantaranya mengunci kedua tanganku di belakang. Dan rekannya melayangkan pukulannya di perutku. “SHIT!” umpatku saat kurasakan mulutku asin.

Aku mencoba memberontak dengan menginjak dan menendang orang yang memegangku. Kupelintir balik tangannya hingga menjerit, dan saat itu kugunakan kesempatan untuk lari. Melawan tiga orang berperawakan bodyguard, agaknya bukan pilihan tepat. Sekuat tenaga kupacu langkahku.

Nafasku memburu, saat kurasakan kebutuhan oksigen begitu mendesak, aku berhenti. Tusukan-tusukan kecil kurasakan di perut akibat berlari. Menoleh ke belakang, aku mendapati jarak mereka kian dekat. Hingga kudengar suara sirine yang membuatku terselamatkan. Beberapa polisi segara bergerak untuk mengejar. Aku memegang perutku sembari menegakkan badan.

Are you ok, Sir?” Seorang polisi menghampiriku.

Do you find my brother and my girl over here?” Aku khawatir jika begundal itu menangkap mereka.

Don’t worry, they’re with us.”

Hyung!” Daehyun melambai ke arahku. “Oh, dude!” meninju kecil pundakku, aku melihat kelegaan di wajahnya.

“Dimana Lynn?”

“Dia bersama keluarganya.”

Aku mengangguk dan berjalan mendekat ke arah Aiden. “Thanks a lot.” Pantaskah aku mendapatkan ucapan terima kasihnya, jika penculikan Adelynn disebabkan secara tidak langsung olehku?

Oppa, please get me out here.” Lynn, yang kini berada dalam pelukan Aiden, terlihat masih terguncang. Dia merengek agar secepatnya meninggalkan lokasi ini dengan nada bergetar.

Show your gratitude to him, Dear.” Aiden mengusap lembut kepala Lynn. Dan dibalas gelengan oleh Lynn. “Please, Oppa…” Lynn terlihat menghindari untuk memandangku. Atau mungkin dia hanya shock saja?

Aku mengangguk agar Aiden menuruti saja permintaan Lynn. Esok akan kupastikan keadaannya. Untuk sekarang, bersama keluarganya adalah yang terbaik. Biarlah penyidikan menunggunya hingga lebih tenang.

***

Kuputar kenop pintu kamarnya dengan perlahan. Sepagi mungkin aku kemari untuk melihat kondisinya. Senyumku mengembang tipis saat mendapatinya masih bergelung, dalam posisi miring, di bawah selimut. Kulirik jam di meja kecilnya, bukannya membangunkannya karena hari semakin siang, aku malah berinisiatif membenahi selimutnya.

Kutarik dengan pelan selimutnya ke atas hingga menutup pundaknya. Mengamati wajah terlelapnya, membuatku sedikit lega. Setidaknya setelah hari berat yang dilaluinya kemarin, dia bisa istirahat dengan nyenyak. Tanganku sepertinya tidak bisa kukontrol karena begitu saja mengusap kepalanya, dan membenahi anak-anak rambutnya.

Apakah dia seorang yang polos atau patuh? Bagaimana bisa dengan enteng memotong rambut panjangnya hanya demi sebuah pertaruhan bodoh yang kami buat? But well, I admit that she still look gorgeous even if in short haircut.

Kutarik segera tanganku saat dia menggeliat. Mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan cahaya, mata birunya membuka. Dan itulah bagian favoritku. The ocean is in her eyes. Apakah aku jatuh cinta padanya saat pertama kami berjumpa? Oh my, I do not believe in love at the first sight. Yang dapat kujaminkan adalah bahwa aku mengaguminya saat itu, bukan jatuh cinta.

“Eug!” pekiknya halus sebagai bentuk keterkejutan. Dengan sigap dia bangun kemudian duduk. Orang-orang berpendapat bahwa wanita akan terlihat kecantikannya saat bangun tidur, kini aku bisa melihatnya. “What are you doing here?” nada serak bangun tidurnya.

Just wanna see your condition,” jujurku. Namun dari cara dia menatapku, aku meragu bahwa dia percaya. Sorot matanya menajam, meski itu tak mengubah keindahannya.

What do you want from my family?” desisnya.

Aku mengernyit heran dengan pertanyaan frontalnya. “Apa maksudmu?”

You know exactly what I meant.” Dia masih mempertahankan kekakuan ekspresinya. Adelynn tipe gadis riang walau sedikit keras kepala, lembut walau terkadang ketus, penyayang walau di saat tertentu sisi egoisnya muncul, juga penuh semangat. Bagaimana aku tahu? I’ll tell you later. Tapi sekarang…

Kuhembuskan nafas pelan dan kuhindari tatapannya. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu kemarin sehingga kurasakan terdapat perubahan pada sikapmu hari ini.” Setiap ucapanku padanya cenderung datar dan dingin.

Don’t judge someone you don’t even know.”

“Kau mengenali salah satu dari orang yang menculikmu? Atau mendapatkan petunjuk mengenai mereka? Apakah mereka memperlakukanmu dengan buruk?” berondongku. Aku tidak sabar ingin mengetahuinya.

Get out from my room, Hyun!” teriaknya.

Alih-alih menuruti perintahnya, aku bergeming di tempatku, duduk di tepi ranjangnya. “Adelynn…” ujarku dengan sabar. Kucoba untuk bersikap lembut padanya, mungkin untuk kali ini. “Kasus ini tidak akan selesai dengan kau berteriak padaku. Bicaralah mengenai hal yang mungkin bisa membantu kami menyelidiki dan menuntaskan masalah penculikanmu.” Aku hanya mencoba realistis.

“Menuntaskan?” sinisnya. Dia menjangkau suatu benda dari meja kecil di samping ranjang dan melemparkannya padaku. “Menjauhlah dari keluargaku. Karena aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.”

Aku dibuat semakin heran dengan ancamannya. Mengambil sebuah pendulum yang dilempar Lynn, aku sedikit mengerti alasannya. “Kau mendapatkan pendulum ini saat kau diculik?” Kuangkat pendulum yang merupakan lambang Vichou tersebut.

“Apa yang kau rencanakan?” tantangnya.

Baiklah, aku tidak menyalahkan atas segala tuduhannya. Dia tidak mengenalku, jadi bagaimana bisa dia percaya bahwa aku tidak terlibat apa pun dalam penculikkannya. Aku sedikit tak yakin kesalahpahaman ini bisa mudah terselesaikan. Tapi aku ingin mencoba. “Listen to me carefully, Adelynn—“ kutatap langsung kedua mata birunya, “—I didn’t related to any conspiracy to kidnap you.

Dia tersenyum kecil untuk mengingkar. “Should I believe you?”

“Hingga kudapatkan bukti, tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu percaya. Bukan begitu?” Aku menyadari bahwa eksistensiku tak lebih dari seorang asing baginya. Tapi apakah rencanaku hanya akan terhenti sampai di sini? Aku sangat tidak rela.

Mungkin dia memang butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Kutumpukan kedua tanganku pada masing-masing paha untuk beranjak. Kurogoh saku jasku dan mengeluarkan kotak cincin, seharusnya cincin ini sudah tersemat di jarinya. Meletakkan kotak tersebut di mejanya, aku berharap dia bisa memikirkan pertunangan ini kembali.

Matanya terus mengawasi tingkahku dengan jeli, seolah aku adalah serigala berbahaya. Saat kutarik tanganku, ribuan paku serasa menghujam kepalaku secara tiba-tiba hingga terpaksa kutumpukan kembali tanganku di meja. Kumohon jangan saat ini. Aku meringis untuk menahan rasa sakitnya. Kakiku mulai goyah untuk menopang tubuh.

Damn it! I can’t hold this pain. Ingin sesegera mungkin enyah dari hadapan Lynn, tapi kakiku terasa semakin kaku dan lemas. “Agh!” kuangkat tanganku untuk memijit pelipis. Saat dorongan lain timbul, sekuat mungkin kuangkat kakiku untuk berlari ke kamar mandi di ruangan Lynn. Meski terseok-seok, akhirnya aku bisa menjangkaunya.

Kumutahkan semua isi perutku, padahal pagi ini aku hanya meminum secangkir kopi. Meski tak ada yang bisa dimuntahkan lagi, perutku terus bergejolak. Hingga yang bisa kukeluarkan hanya cairan yang membuat tenggorokanku terasa pahit. Kujeplakkan keran untuk mengalirkan air. Kutadah air tersebut dengan tanganku untuk kugunakan berkumur.

“Hyun…”

Aku melirik Lynn yang berdiri di depan pintu dengan dress tidur dan raut bingungnya. Great! I am opening my As. Rasa menusuk di kepalaku masih belum berkurang, hingga tubuhku melorot perlahan. Sebisa mungkin kutumpukan kedua tanganku di wastafel sebagai pegangan. Anggota gerakku terasa lemas sekedar untuk berdiri. Kurogoh kunci mobilku, kemudian kuangsurkan pada Lynn. “Please, bring my medicine here.”

Lynn diam di sampingku sembari menatap lekat salah satu kotak obatku di tangannya, sedangkan aku masih berusaha mengembalikan kesadaran dan kondisiku. Kami bergeming, duduk di dinginnya lantai kamar mandi Lynn. Kusandarkan punggungku di tembok untuk merilekskan badan.

Why on earth do you consume this drug?” dia masih tidak melihatku.

Aku tersenyum kecut. “Mengapa bertanya suatu pertanyaan retorik, Lynn?”

“Aku bukan dokter.”

“Tapi kau mengambil mayor Pharmacy. Setidaknya, kau tahu guna obat itu.”

“Hyun!” bentaknya terhadap tarik ulurku. Astaga, gadis ini…bisakah dia memanggilku dengan sapaan hormat? Mengingat aku 3 tahun lebih tua darinya? Yah, walau dia lama di barat, tetap saja ada darah timur yang mengalir di tubuhnya.

Brain hemorrhage,” jawabku singkat pada pertanyaan yang ada di kepalanya.

Wha..t?” gagapnya. Aku melirik mimik wajahnya. Keterkejutannya tergambar jelas di sana. Dia menggigit bibir bawahnya, kemudian menunduk untuk mengamati obat di tangannya. Sekotak painkiller sebagai pereda nyeri, corticosteroids untuk mengurangi pembengkakan, dan aku tidak tau lagi yang lain.

“Pertanyaan terbesarmu bukan pada kondisiku melainkan motifku melakukan akusisi dan bertunangan denganmu, bukan?” Kuangkat kembali pertanyaannya dulu. Bukankah memang ini yang ingin diketahuinya?

Dia membisu, tidak menyahut pertanyaanku. Dan kuanggap, itu berarti iya. “Jangan kau kira tidak ada pertimbangan untuk mengakusisi Grup Xian. Ide cemerlang Oppamu, menghasilkan produk financial yang kuperkirakan akan diminati pasar jika saja Grup Xian mampu memasarkannya. Namun sayangnya, kurs Singapore yang kian melemah membuat pembayaran hutang perusahaan ke luar negeri berlipat dan membuat Grup Xian collapse.”

Lynn mulai menatapku dengan serius. Kepalanya memiring, tanda bahwa dia memperhatikan dan mendengarku. “Tentang tunangan ini, anggaplah aku meminta timbal balik atas usaha menyelamatkan Grup Xian dari kebrangkutan.” Sekejap, Lynn mendengus.

“Aku dan Seohyun, kami sering dipasangkan dan diharapkan menjadi the next generation of Vichou. Itu mengapa aku pernah menjalin kasih dengannya, dan memang bukan hal yang sulit untuk jatuh hati padanya. Namun, di lain sisi, ternyata pesona Hwa Young Shim memikatku lebih dalam.”

“Cish, bad boy…” desis Lynn yang membuatku tertawa kecil. “Dan karena Hwa Young Shim telah menemukan pendampingnya, maka kau berencana kembali pada Seohyun?”

“Ya. Bukankah itu yang memang diharapkan oleh beberapa orang di Vichou?” Aku manggut-manggut kecil.

“Lalu mengapa menghendaki pertunangan ini?”

“Karena penyakit ini, Lynn.” Aku ingin menertawakan diriku sendiri atas takdir yang mengikatku. Melepaskan Hwa Young untuk Choi Siwon adalah keputusan paling tidak egois yang pernah kubuat. Karena aku tahu, perempuan itu tidak bisa hidup dengan laki-laki yang bahkan harapan hidupnya kian menipis setiap hari. “Seohyun bukan tipe orang yang mudah menyerah atas kemauannya. Aku perlu meyakinkan padanya, bahwa ada orang lain yang—“ aku sedikit ragu untuk mengucapkannya, “—kuinginkan untuk menjadi pendampingku.”

“Karena itu kau menggunakan pertunangan ini untuk menjauhinya?”

Aku memasok oksigen lebih banyak. Kejujuran atas motifku pasti akan melukainya. “Ya.” Akhirnya kata itu lolos. “Aku berharap kau mempertimbangkan permintaan pria sekarat ini,” candaku.

“Mengapa tidak berterus terang mengenai kondisimu padanya?”

“Untuk mendapat tatapan iba? Atau melihatnya bersedih dengan kondisiku? Tidak.”

Aku meraih pinggiran wastafel untuk bertumpu dan membantuku berdiri. Namun karena belum sepenuhnya pulih, tubuhku sedikit limbung hingga kurasakan tangan memegangiku. “Berikan aku waktu lima menit. Biar ku antar.”

***

“Kenapa kau melakukan ini?” Kulihat wajah Seohyun berlinang air mata. “Kau jahat, Oppa!” Dia memukul pundakku beberapa kali. “Aku tidak akan membiarkan kau pergi sejengkal pun dariku!” Dia berdiri kemudian mmengusap wajahnya kasar. “Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.” Aku ingin berdiri dan menggapainya, tapi badanku kaku. Sedetik setelahnya, dia berlari meninggalkanku yang ingin meneriakkan namanya.

“Aku percaya pada keputusan yang kau ambil, Kyunie.” Suara berat ini sudah kuhafal semenjak kecil. “Akusisi ini, pasti kau sudah mempertimbangkannya dengan baik.” Kerutan di wajah tuanya menambah karismatik raut wajahnya. “Tapi Appa harus menelan kekecewaan karena pada akhirnya kau tidak bisa meneruskannya…”

“Kyunie, kau sudah pulang?” Senyum di wajah tuanya selalu menenangkanku. “Eomma memasakkan makanan kesukaanmu. Duduklah kemari sayang.” Aku diam, mengamati geraknya. “Kau tidak suka makanannya?” Aku ingin menggeleng, tapi lagi-lagi leherku tak bisa digerakkan. “Eomma sedih karena kau tidak memakannya…”

Hyung!” Ini Daehyun. “Kau tidak bisa melimpahkan tanggung jawab Vichou hanya padaku!” Dia mengeraskan ekspresinya. “Kenapa menyerah pada takdirmu? Mengapa?” Dia menjerit frustasi.

“Oppa…Kyunie…Hyung!”

“Hyun…”

“Hyun…”

“Hyun…”

Aku tersentak dengan menarik nafas panjang dan tiba-tiba. Kukerjap-kerjapkan matakuku dan kuatur nafasku yang memburu. Aku dapat merasakan jemari dalam genggamanku. Kuamati jemari tersebut sembari kuusap pelan untuk menikmati kelembutannya yang menenangkanku.

“Kita sudah sampai.” Aku menoleh dan mendapati Lynn menatapku. “Kau tidak apa-apa?”

Aku menetralkan gemuruh akibat mimpi singkatku selama tertidur dalam perjalanan. “I’m fine.”

“Jadi, bisakah kau melepaskan tanganku?” Aku tersadar dan buru-buru melepaskannya.

I’m sorry.” Bagaimana bisa dengan tidak sadar aku masih menggenggam tangannya? Dan bagaimana bisa aku menggenggamnya? Ah, mungkin dia bermaksud membangunkanku. “Kau bawa saja mobilnya. Biar nanti kusuruh orang untuk mengambilnya.”

“Tidak perlu, aku bisa naik taksi.” Tepat setelah itu, kudengar jendela mobil di sebelahku diketuk pelan. Segera aku turun dari mobil begitu tahu siapa pelakunya. “Kau di sini, Dae-ya?”

Daehyun hanya mengangkat bahu ringan. “Kau membiarkan gadismu menyetir, Hyung?” herannya.

“Sudahlah.” Putusku dengan segera agar pembicaraan tidak merembet jauh. “Dae-ya, ini Adelynn Lee.” Aku mengenalkan Lynn pada Daehyun. Mereka, secara formal, baru pertama kali bertemu. Daehyun tidak menetap di Singapore, jadi seharusnya dia bertemu pertama kali dengan Lynn saat pertunangan. Meski malam kemarin dia sempat melihat Lynn, tapi dalam situasi tak kondusif.

Daehyun Cho, nice to meet you.”  Daehyun mengulurkan tangannya pada Lynn, kemudian memandangku untuk menggoda. Dia menaikkan alisnya, seakan mengucapkan ‘Oh, Hyung, she’s so pretty’.

“Kebetulan, kau di sini Dae. Tolong antar Lynn pulang.”

“Eh?”

“Kepalaku pening, jadi dia tadi menyetir untukku.” Jelasku dengan sesingkatnya. Daehyun tidak tahu apa-apa mengenai kondisiku, begitu juga dengan kedua orang tuaku. Aku menyembunyikannya dari mereka.

Dae kembali mengangkat bahu ringan. “Ok.”

Aku mengamati mobil Daehyun yang baru saja meluncur. Kakiku masih setia berdiri di tempatnya. Bukankah mereka serasi? Aku tersenyum kecut. Daehyun adalah satu-satunya harapan penerus Vichou. Walau terkadang bertingkah kekanakan, dia tipe orang bertanggung jawab. Dan aku rasa, keduanya berpeluang untuk bersama.

***

Menarik laci mejaku, aku mengeluarkan pendulum berbahan emas dengan berlian membentuk lambang kebesaran Vichou yang diberikan Lynn kemarin. “Tolong cari dan periksa kepemilikan berlian ini. Menilik bentuk dan rupanya, aku yakin hanya beberapa orang kalangan atas yang mempunyainya.”

Setelah asisten pribadiku undur diri, kuperiksa kembali beberapa berkas mengenai Grup Xian. Aku memperkirakan perusahaan ini bisa kembali berjalan seiring pemulihan perekonomian Singapore dan sekitarnya. Hanya sebagian pemegang saham tidak bisa meilhat dari sisi lain mengenai potensi Grup ini.

Aku mendongakkan kepala ketika pintu ruanganku diketuk. Meletakkan pena yang sedang kupegang, aku memutar kursiku dan bangkit untuk menyapa ‘tamu undanganku’. “Aku apresiasi tanggapanmu yang begitu cepat terhadap panggilanku—“ aku berjalan mendekat, “—Mr. Matter.”

“Adakah bagian pemasaran melakukan kesalahan hingga Anda memanggil saya secara pribadi?”

Tawa renyahku memenuhi ruangan. “Apakah jika aku memanggil karyawanku, berarti dia melakukan kesalahan?” Semakin kupapas jarak, hingga aku berada satu meter di depannya. Tidak suka membuang waktu, kuubah ekspresiku dengan drastis. “Where were you while all the staff assembly to congratulate me?”

I’m sorry, Sir. In that time, I’ve another business.” Dia menjawab dengan tenang, namun tetap menunduk. Aku memeriksa daftar tamu pesta pertunanganku, dan tidak menemukannya di sana. Tidak cukup itu, aku juga memeriksa aliran dana dalam rekeningnya. Terdapat transaksi cukup besar yang masuk dalam rekeningnya tepat di hari penculikan Lynn. “Pastinya Anda salah paham mengenai mobil saya yang ditemukan—“

“Tidak. Aku sudah memeriksa bahwa kau telah melaporkan pencurian mobilmu,” tangkisku. “Dengan siapa kau bekerja?” frontalku.

“Maaf, Sir. Aku tidak memahami maksud Anda.”

Kurasa pembicaraan ini akan berlangsung alot. Kutarik kerahnya dan mencengkeramnya. “Aku masih memaafkanmu untuk saat ini. Tapi, jika lain kali kau menyentuh gadisku lagi, maka jangan harap kau bisa lari dariku, Tuan Matter.” Kulepas kerahnya dengan kasar. “Tinggalkan ruanganku segera sebelum aku berubah pikiran.”

Aku curiga orang-orang dalam sedang membangun ancaman untuk menggagalkan akusisi ini. Bahkan mungkin, beberapa pemegang saham tertinggi juga terlibat. Tidak bisa berbuat apa pun karena memang belum ada record kejahatan mereka, kecuali untuk kasus penculikan Lynn. Aku menyerahkan sepenuhnya pada pihak berwajib. Jika memang terdapat indikasi orang dalam terlibat, aku sendiri yang akan mendupaknya keluar.

***

Aku berjalan menyusuri koridor apartemenku. Hampir waktu makan malam saat aku tiba di apartemenku. Hari ini aku memang terlambat untuk pulang, tapi toh tak ada yang peduli dengan rutinitasku. Aku terperanjat saat mendapatinya meringkuk di depan pintu apartemenku. Dengan menekuk kedua lutut dan memeluknya, dia menumpukan kepalanya di atas lutut.

Aku berjalan mendekat dengan memelankan ketukan sepatuku. Kutekuk kakiku untuk melihatnya. Astaga, apa yang gadis ini lakukan hingga tertidur di sini? Tidak tega, aku segera mengguncang bahunya pelan. “Adelynn…”

“Eugh.” Dia mendongak untuk memandangku. “You here, Hyun.”

Aku berdiri dan mengulurkan tangan padanya untuk membantu berdiri. “Kau menungguku?” Menggeser penutup panel kunci, aku kemudian memasukkan angka kombinasi. Aku mengamatinya sebentar. Yes, she looks chic only with that ‘felix’ t-shirt and hot pants, a daily style of her. “Lynn, it’s 252525.”

What?”

It’s 259 times my age now times 39, have a unique result, rite?”

Your key of combination?”

Aku mengangkat alisku untuk membenarkan. Kuberikan angka kombinasi apartemenku agar lain kali dia tidak perlu tertidur di depan pintu. Kulepaskan jasku dan menaruhnya di sandaran kursi. “Ada yang ingin kau sampaikan hingga menemuiku?” Kulepas kancing manset kemejaku dan kugulung lengannya hingga setinggi setengah dari lengan bawah.

Dia mengeluarkan kotak cincin yang aku tinggalkan di kamarnya, lalu meletakkan di meja tamu. “Aku berpikir keras untuk keputusan ini—“ dia terlihat sedikit gugup, “—Apakah ini yang terbaik? Aku pun tidak yakin.”

Aku melipat tanganku di depan dada sambil mengamatinya. Dia duduk dengan gelisah, dan begitu pun denganku, sebenarnya. Tapi sebisa mungkin kukendalikan raut tegasku.

“Apakah jika rencanamu berhasil, kau akan melepaskanku?”

Aku tertawa kecil menanggapi pertanyaan tak terduganya. “Maksudmu tentang rencanaku untuk menjauhi Seohyun?”

Dia mengangguk. “Meski pertunangan ini gagal, aku berterima kasih karena kau menepati janjimu untuk membantu Grup Xian. Yeah, walau status perusahaan itu bukan lagi kepemilikan keluargaku, setidaknya kami mendapat manfaat dari akusisimu.”

“Jika aku bisa menjauhi Soehyun, mungkin saja waktuku sudah habis.” Aku mencoba berpikir logis.

“Hyun…”

“Jangan memandangku iba, Lynn. Aku benci itu,” tandasku dengan mempertahankan intonasi tegas. Dalam kesimpulanku, hampir semua orang membenci perpisahan. Jadi, daripada bersikap baik dan lembut, aku memilih membangun benteng antaraku dan Lynn dengan sikap angkuh dan dingin. Andai suatu hari berpisah, setidaknya tidak meninggalkan kepahitan baginya. “Jadi keputusanmu?”

“Aku menerima pertunangan ini,” jawabnya mantap. Kupejamkan mataku sejenak, berdoa agar keputusan ini tidak membawa bencana baginya. Aku membuktikan perkataan Aiden dulu, that she’s a soft hearted girl. Dia akan tetap mengulurkan tangannya pada seekor kucing jalanan yang kelaparan, meski tahu bahwa mungkin saja kucing itu mencakar tangannya.

Aku mengambil kotak cincin di atas meja dan mengambil cincin di dalamnya. Kuraih jemari Lynn, dan kusematkan cincin berlian terebut di jari tengahnya. “Tak ada pesta megah yang mengiringi sakramen ini atau pun nuansa romantis, tapi aku tetap ingin menyematkan cincin ini di jarimu—“ kutatap mata birunya, “—sebagai simbol bahwa mulai saat ini kau resmi menjadi tunanganku, Adelynn Lee.”

Lynn mengamati cincin tersebut dan tersenyum kecut. “Hubungan kita tidak lebih dari partner kerja. Jadi aku tidak memerlukan pesta atau pun nuansa romantis. Karena cincin ini adalah simbol dari kerja sama kita.”

Aku sedikit sakit mendengar penuturan Lynn. Tapi, begitulah adanya. Dan aku tidak bisa mengingkarinya. “Deal.” Tiba-tiba, pembicaraan kami terganggu oleh suara yang kurutuki mati-matian.

“Kau belum makan malam?”

Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.

Bisa kucium aroma harum dari dapur minimalisku. Aku keluar kamar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Mengamati punggungnya dari jauh tidak membuatku puas. Aku mendekat dan menyandarkan pinggangku di tepi konter. “Apa yang kau masak?”

Soup,” ucapnya sembari mengaduk masakannya.

Aku mengamati lekat cara dia mencicipi masakannya, dan antusiasmenya saat menemukan rasa soupnya, mungkin, telah cocok dengan seleranya. Menarik, sangat menarik.

“Minggu depan produk financial kreasi Aiden kuluncurkan ke pasar. Aku memanfaatkan even launching itu sekaligus sebagai pers conference pertunangan kita.” Aku memikirkan hal ini selama dua puluh menit lalu.

Dia hanya mengangguk patuh, lalu meneruskan kegiatannya. Dua bulan setelah aku bertemu dengannya di bandara, aku menelusuri latar belakangnya. Dia mewarisi darah Inggris dari ibunya dan Korea dari ayahnya. Semenjak high school, Lynn berada di Inggris, sedangkan keluarganya memutuskan menetap di Singapore. Beberapa bulan sebelum datang ke Singapore, Lynn sempat bekerja di USA. Gadis ini menyandang kewarganegaraan Inggris karena asas ius soli yang dianut negara tersebut, sedangkan ayah dan kakak lelakinya telah mengubah kewarganegaraannya menjadi warga Negara Singapore.

Aku menelusuri semua tentang dirinya, hobbynya, akademisnya, kehidupannya, sosialitasnya, setiap detail dirinya. Dan kujaminkan, aku jatuh hati padanya saat setiap hari kutemukan hal menarik pada dirinya. Tapi sayangnya, keadaanku tidak mengizinkanku untuk memikirkan gadis ini. Dan pilihanku adalah menyelesaikan perasaanku terhadap Seohyun, sembari menikmati waktu bersama Lynn. Aku egois? Ya.

Melihatnya berdiri di sekitarku membuatku nyaman. Membuatku merasa lega karena aku masih hidup. Sebab aku bisa dengan jelas merasakan detak jantungku yang kuat.

Aku tidak bisa menghentikan diriku yang mencondong ke arahnya. Dan motorikku bekerja mengalahkan akalku. Bibirku mengecup pipinya dengan lembut. Hanya beberapa detik.

Dia terlonjak pelan, kemudian memalingkan wajahnya kepadaku. Memandangku bingung dengan kedua iris birunya. Aku sungguh merutuki tindakanku. O…o…you did a wrong movement, Kyuhyun Cho.

TBC*

Glosarium:

Perdarahan otak (brain hemorrhage): adalah tipe stroke. Ia disebabkan oleh arteri dalam otak yang pecah dan menyebabkan perdarahan lokal pada jaringan-jaringan sekelilingnya. Perdarahan ini membunuh sel-sel otak. Luka adalah penyebab yang paling umum dari perdarahan dalam otak pada mereka yang berumur dibawh 50 tahun.

Asas ius soli: asas pemberian kewarganegaraan berdasarkan tempat kelahiran. Inggris (England) yang termasuk Negara UK (United Kingdom) menganut ius soli dengan syarat tambahan (modified jus soli), yaitu bahwa setidaknya salah satu dari orang tua harus berkewarganegaraan UK.

Note:

Daehyun Cho: [Chi Hood]

tumblr_m26h0v6s711rtuvuxo1_1280

Kyuhyun Cho

2k

Kenapa dia? Meski tidak terlalu mirip dengan Kyuhyun. Mereka (Chi Hood dan Kyuhyun), menurutku, memiliki karakter wajah yang mirip: sharp nose, full lips, round chin, and cubby cheeks. So I fall for this ulzzang to become Kyuhyun’s lil brother.

Kombinasi apartemen Kyuhyun didapat dari 259 x umur x 39. Kalian juga bisa coba ganti umur sesuai umur kalian dan lihat hasilnya. Cantik bukan?

Aku masih kena demam Nice Guy…kekeke…jadi ingat Ma Roo yang sakit hematoma. Poor him. Kemudian, ada beberapa yang tanya mengapa Kyuhyun dipanggil Hyun bukan Kyu/Kyunie/Hyunnie? Karena, pertama: ingin ganti suasana, dan menurutku lebih cool dipanggil Hyun. Kedua: setting tempat pertama kali Lynn dan Kyuhyun bertemu adalah Singapore, jadi tidak menambahkan akhiran pada panggilan nama.

Kalau ada yang masih belum ngerti dengan beberapa istilah, silakan tanyakan.

I’m sorry for not replying your comment one by one, but I guarantee, I read yours one by one. Bye, I am waiting your review^^

321 thoughts on “A Lovely Coincidence [Shot: 2]

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s