A Lovely Coincidence [Shot: 3]


a lovely coincidence true co

Lovely Coincidence [Shot: 3]

Sembari bersedekap, aku memandangnya dengan tatapan menghakimi. Apa maksud tindakannya baru saja? My goodness, He just kissed me! Dan dengan entengnya, dia berlaku seperti tidak terjadi sesuatu. Melahap makanannya, dia tiba-tiba menghentikan suapannya dan meletakkan sendoknya. “Stop staring like you wanna bite me.”

So?”

“It just a gratitude kiss, ok?”

A gratitude?” aku menaikkan nada bicaraku sebagai ungkapan tidak percaya. Apakah wajar mengungkapkan rasa terima kasih pada orang, yang tidak memiliki hubungan khusus, melalui ciuman?

“Tidak perlu memperbesar masalah. Bukankah hal seperti itu wajar terjadi dalam budaya barat?”

Oh, sekarang dia mengkambinghitamkan budaya barat. “Kita sedang berada di Asia dan berupaya mematuhi adat yang berlaku di timur.”

Bukannya mengalah dan meminta maaf, dia malahan mengukir seringaiannya. Kembali tangannya meraih sendok dan memasukkan sesuap soup ke mulutnya. “Kalau begitu pendapatmu, maka belajarlah untuk memanggilku dengan sapaan hormat, My Adelynn,” ucapnya dengan menekankan dua kata terakhirnya.

Skakmat! Dia kembali meyindirku dengan hal ini. Haruskah aku memanggilnya ‘Oppa’? Oh tidak, aku hanya menggunakannya untuk Aiden. Dan sekarang dia sudah menambahkan possessive di depan panggilan untukku. Great Cho Kyuhyun! “Not the point.” Aku memalingkan wajah untuk menghindar.

“Jadi, berkiblat pada budaya mana hubungan yang akan kita jalani?” tanyanya dengan nada menyebalkan. Aku kembali memandangnya, kali ini dengan tatapan was-was. “Budaya timur atau barat?” Dia menyodorkan dua pilihan.

Aku mulai memikirkan konsekuensi dari dua pilihan tersebut. Kebebasan bergaul ala barat memungkinkan terjadi hal incidental seperti tadi. Dan itu berarti aku harus menguatkan jantungku agar tidak jatuh saat tiba-tiba menghentak kuat. Pilihan kedua, etika dalam budaya timur mungkin menghindarkan hal-hal seperti tadi, namun itu berarti aku harus belajar memanggilnya ‘Oppa’. Tidak…aku merinding mendengar sapaan ‘Oppa’ terlontar dengan nada manja bak gadis perayu.

Tunggu sebentar…”Why should we care about it?” Benar, mengapa aku harus memperhatikan hal tidak penting seperti itu.

“Hanya ingin menegaskan sikapku berdasarkan budaya yang kau anut.” Dia menggerakkan sebelah bahunya sebagai tanda tak acuh.

It isn’t something important, Mr. Cho Kyuhyun!” tandasku kemudian beranjak. Aku tidak ingin berdebat masalah sepele sehingga terjebak dalam permainannya. Segera kuambil tasku yang berada di sofa ruang tamu dan bergegas keluar dari apartemennya.

“Kuantar.” Aku mendengar derap langkah terburu di belakangku, namun tidak kuhiraukan karena aku sedang kesal oleh tindakannya. Bahkan saat aku sudah mengabulkan permintaannya, sikapnya sama sekali tidak berubah.

***

Aku mengarahkan pandanganku ke luar jendela mobil Hyun. Singapore di waktu malam sangat memesona dengan lampu-lampu kota dan kehidupan metropolisnya. Memikirkan kembali keputusan yang aku ambil untuk menyetujui pertunangan ini, aku tenggelam dalam duniaku.

Jujur saja, aku sangat terkejut dengan kenyataan kondisi Hyun. Pada awalnya, rasa kasihan yang muncul di benakku. Kemarahan pada Hyun karena kukira dia punya andil dalam penculikanku, lenyap begitu saja saat aku memergokinya kesakitan. Aku bisa melihat dengan jelas raganya melayu saat penyakitnya kambuh. Dan itu bukan pemandangan yang menyenangkan.

Dia yang selalu terlihat begitu tegar dalam balutan jas dan kemejanyanya, dia yang selalu bersikap tegas dalam setiap langkah keputusannya, dan dia yang selalu menyungingkan senyum kharismatik dalam upaya membangun image, ternyata tunduk pada brain herrmohage. Terlepas dari sikapnya padaku, Hyun adalah sosok mengagumkan, young entrepreneur, smart, enchanting, and mature. Bukannya jatuh hati, aku hanya bersikap obyektif.

Menoleh ke arah Hyun, aku tanpa sengaja mengamatinya lekat. Dengan satu tangan memegang kemudi, konsentrasinya terpusat ke arah jalanan. Mata sipit yang menajam, wajah yang terbentuk tegas membuatku kagum pada fisiknya. Aku ingin meraih sebelah tangannya yang berada di samping tubuhnya, menggenggamnya, kemudian mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja. Tapi, Hyun bukan tipe orang yang akan menerima simpati seperti itu. Dia menafsirkan bahwa simpati merupakan rasa kasihan sehingga dia membencinya.

Kuhirup nafas panjang dan kembali menoleh pada jajaran landscape yang berkelebat di sisi lain. Aku semakin tenggelam dengan pemikiranku, sedangkan Hyun juga diam. Begitu banyak pertanyaan yang tercetak di otakku mengenai Hyun, namun tidak pernah terucapkan. Menyangsikan Hyun akan menjawabnya jika aku melontarkannya.

Aku merasakan laju mobil melambat seiring jarak rumahku yang kian dekat. Bersiap turun, aku menyangkutkan tali tas pada bahuku. “Thanks for walk me home.”

Sorry.”

Menoleh dengan cepat saat pendengaranku menangkap kata maaf dari Hyun, aku mengernyit meski tak kentara. “Pardon?” Aku hanya ingin dia memperjelas kata maafnya. Namun tidak ada penjelasan yang kuperoleh karena dia hanya menepuk ringan puncak kepalaku sembari tersenyum kecil.

Nite.” Aku tahu makna ucapannya adalah sebagai kata perpisahan. Dan itu artinya, dia tidak ingin aku betanya lanjut. Baiklah, mungkin hari ini waktu bersamanya terisi dengan poin penting, yaitu keputusan kami untuk bertunangan.

***

Memandangi diriku di depan kaca, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa event kali ini akan berjalan sesuai rencana. Sengaja Aiden mendatangkan perias untuk membantuku dan hasilnya tidak buruk. Rambut pendekku ditata sedemikian rupa hingga terlihat ringkas layaknya disanggul. Aku berjalan menuju meja rias untuk mengambil asecoris yang akan kukenakan.

Waktu masih tersisa cukup lama sebelum launching digelar. Tubuhku menegak begitu dering bel pintu rumah terdengar. Sesegera mungkin aku turun ke bawah untuk melihat siapa yang datang.

Hi.”

“Daehyun?”

“Hem…” Dia mengangguk singkat. Kemudian memandangku dengan menelisik. Mengangkat kedua tangannya untuk terbuka di udara, Daehyun menyunggingkan senyum manis. “What a beautiful you are.”

Thanks.” Aku membalas senyum Daehyun.

I’m here to pick you up.”

I think it’s too early.” Aku lega karena Daehyun yang datang untuk menjemput. Mengingat hari pertunangan lalu, aku sedikit waspada andai orang yang tak kukenal yang bertugas menjemputku. Masih sedikit trauma dengan penculikanku, tadinya aku ngotot untuk pergi sendiri ke kantor Vichou, tapi Hyun tidak mengizinkannya.

There’s something I have to talk with you. So, could we leave now?” tanyanya dengan sopan. Berkebalikan dengan kakak lelakinya, Daehyun bersikap lebih bersahabat. Dia bukan tipe orang yang akan mengintimidasi lawan bicaranya dengan tatapan tajam pada situasi umum.

Sure.”

***

Aku menyuapkan sesendok ice cream rasa vanilla yang terasa lembut saat melumer di dalam mulutku. Entah darimana Daehyun mendapat referensi kedai ice cream ini, mungkin lain waktu aku akan sering mengunjungi tempat ini untuk mencoba rasa ice cream yang lain. “It’s really tasty.”

Lagi-lagi Daehyun tersenyum untuk menanggapiku. Dia memesan ice cream dalam double porsi! Aku pikir pria maskulin sepertinya tidak akan melakukannya. “Aku senang kau menyukainya.”

Delapan puluh persen wajah Daehyun, menurutku, adalah hasil copy paste dari kakaknya. Hidung mancung, bibir penuh, shaping melingkar pada dagu tepat di bawah bibir, dagu yang terbentuk tegas, dan pipi yang sedikit chubby, semua itu gambaran dari kedua Cho bersaudara. Hanya saja, Daehyun memiliki bentuk mata yang lebih lebar dan bulat dibanding Hyun. Oh? “I called your brother ‘Hyun’ and it’s part of your name too. So…

Daehyun terkekeh kecil sebelum aku menyelesaikan kalimatku, sepertinya dia tahu arah pembicaraanku. “I love the way you called him, Lynn.” Kami seumuran, sehingga pantas saja jika saling memanggil nama tanpa embel-embel sapaan hormat. Dia mengusap sudut bibirnya dengan sapu tangan. “How about call me cute Dae, handsome Dae, gorgeous Dae—“ dia mencoba mencairkan suasana, “Eum…”

Aku menggeleng pada kepercayaandirinya. “Just Dae!” pekikku.

That’s not cool, Lynn,” protesnya. “Maybe…”

“GD!” pekik kami berbarengan. Kami terkekeh bersama. Saat mengantarkanku pulang tempo lalu, dia memutar lagu milik salah satu personil BB, dan bercerita kalau dia merupakan fans darinya. “GD for ‘Gorgeous Dae’, like your favorite singer.”

“Yep, I love it!” Daehyun mencoba menetralkan suasana, mungkin dia sedang mengatur kalimat untuk disampaikan padaku. “Lynn—“ Dia mulai berbicara serius, “—it’s about Kyuhyun Hyung.”

Aku meletakkan sendok ice cream-ku dan menegakkan badan. Tanda bahwa aku siap mendengarkan.

Please, take care of him.” Daehyun menghembuskan nafas panjang dan memainkan jemarinya di atas meja. “Aku agak terkejut begitu mendengar dia mengajukan lamaran padamu.”

Aku memiringkan kepala dan memasang mimik tanya secara spontan. Adakah hal ini menjadi beban baginya? Menilik dia juga merupakan pewaris Vichou. Siapa tahu, Daehyun layaknya orang kebanyakan yang mendukung Hyun bersama Soehyun.

“Oh, jangan salah paham dengan perkataanku.” Dia mengangkat telapak tangannya sebagai bahasa tubuh. “Tadinya aku pikir hanya Hwa Young Noona yang ada di kepalanya, tapi sekarang aku cukup lega dia mau melepaskan Youngie Noona dan memutuskan bertunangan denganmu.”

Jadi masalah ini…

“Bukannya meragukan keputusan Hyung, hanya saja menurutku tenggang waktu ini terlalu singkat.” Daehyun terlihat berat untuk menceritakan kisah kakaknya dari sudut pandangnya. “Dulu, Hyung pernah mencoba berpaling ke gadis lain karena Youngie Noona, menurutku, hanya menganggap hubungan mereka sebagai teman. Tapi, hubungan Hyung dangan gadis itu hanya bertahan satu bulan.”

“Apakah yang kau maksud Soehyun?”

Daehyun tersenyum kemudian mengangguk. “Tapi hubungan singkat itu sempat terdengar oleh para direksi dan membuat lambungan harapan pada keduanya. Dan hingga sekarang, beberapa orang masih berharap mereka bersatu kembali.”

Aku mulai mengerti sedikit duduk perkaranya. Meski bukan Hyun langsung yang menceritakannya, kurasa keterangan Daehyun cukup membantuku untuk memahami posisi Hyun. Tapi, Hyun berkata padaku bahwa jika bukan karena penyakit itu dia akan kembali pada Soehyun, bukankah itu berarti dia mencintai gadis itu dan sudah bisa melupakan Hwa Young?

“Keberadaan Soehyun di Singapore untuk beberapa waktu ini, kemungkinan juga karena alasan tersebut. Selain ekspektasi untuk memperkuat kedudukan di perusahaan, Soehyun sendiri memiliki rasa terhadap Hyung.”

“Dan kurasa, Hyun juga demikian…” lirihku tanpa sadar.

“Lynn…” Kesekian kali Daehyun tersenyum untuk membuat nyaman lawan bicaranya. Dia mencondongkan badannya mendekat ke arahku. “Dalam pandanganku sebagai sesama lelaki, apa yang ditunjukkan Hyung pada Seohyun bukanlah seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu?”

“Temukanlah jawabannya sendiri, Lynn. Aku harap kau mengerti suatu hari nanti.”

“Jika kau sudah mengetahuinya, mengapa tidak memberitahukannya?”

Daehyun tersenyum simpul. “Aku hanya berspekulasi mengenai sikap Hyung pada Soehyun, jadi tidaklah tepat jika kuungkapkan padamu. Takutnya, spekulasi tersebut meleset hingga membuatmu salah paham.”

Bagaimana jika sampai batas Hyun bertahan, aku tidak bisa menemukan jawaban perasaan Hyun terhadap Soehyun? Bagaimana jika aku kehilangan kesempatan tersebut? Dan kenapa aku harus mengetahuinya? Kuremas jemariku saat ketakutan tersebut tiba-tiba menjalar.

“Aku yakin tidak mudah untuk berada di sisi Hyung. Tapi, jika Hyung sendiri yang memilihmu, itu artinya dia percaya padamu.”

Bagaimana jika Hyun memilih orang yang salah? Dia tidak mengenalku, jadi bagaimana jika harapannya tidak terwujud? Dia mempunyai misi dan sampai sekarang, itulah yang kupercaya sebagai alasan Hyun memilihku.

“Jadi, buatlah Hyung berpaling sepenuhnya padamu. Pastikan hatinya hanya untukmu dan pandangannya terisi oleh sosokmu.”

“Aku…”

“Kau bisa melakukannya, Lynn. Aku yakin itu.” Andai kesempatan itu ada, maka tidak ada salah untuk mencoba. Hanya saja sikap Hyun memaksaku untuk tetap menjaga jarak. Lagipula, ada hal lain yang lebih crucial daripada masalah hati dan hal itu adalah kesehatan Hyun.

***

Daehyun merenggangkan lengannya dan memandangku agar menautkan tanganku di sana. Dengan yakin, aku menyelipkan jemariku di lengan Daehyun. “Fighting!” dia mengepalkan tangan untuk menyemangatiku.

Aku bisa melihat Hyun berdiri dua puluh meter di depanku. Dia nampak sempurna dalam balutan jas hitam. Senyum tipis yang mengembang di bibirnya menambah kharismatik sosoknya. “And in this event, I want to introduce someone to all of you—“ Hyun berdeham kemudian mengangkat tangannya untuk mempersilakanku mendekat, “—here she is, Adelynn Lee.”

Aku mencoba setenang mungkin untuk menghampirinya yang baru saja selesai menyampaikan sambutan di sana. Saat kami berjalan menuju tempat Hyun berdiri, aku merasakan semua tatapan terarah padaku dan Daehyun. Bukan hanya tatapan kagum dan kaget, namun juga tatapan sengit. Aku yakin beberapa dari mereka terlibat konspirasi dalam usaha menggagalkan akusisi, termasuk juga penculikanku. Jantungku berdebar keras, bukan hanya nervous tapi juga bentuk ketakutanku. Lingkungan ini terlalu asing bagiku. Seolah aku bisa merasakan ancaman dari mereka.

Kueratkan peganganku di lengan Daehyun hingga aku berada tepat di depannya. Dia tersenyum, kemudian meraih pinggangku untuk menarikku mendekat. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum begitu menawan ke arahku dan itu sedikit menghiburku. “And she’s my fiancée.” Setelah ucapan itu selesai, kelap-kelip blitz terarah pada kami.

***

Tidak terbiasa dengan sorot media, aku mengeratkan jalinan jemariku dengan Hyun. Tersenyum senatural mungkin untuk menutupi kegugupanku, kami menerobos beberapa kerumunan wartawan yang masih penasaran dengan hubungan kami yang baru saja dipublikasikan Hyun. Beberapa bodyguard berjaga di sampingku juga Hyun untuk membantu kami mencapai mobil. Sebelum mobil berjalan, Hyun sempat mengangkat jalinan jemari kami dan melambaikannya ke arah wartawan.

Aku dengan sadar masih menggenggam jemari Hyun. Bukannya melepaskan, aku malah semakin mengeratkannya. Berbanding terbalik dengan sikapnya, genggaman Hyun terasa hangat. Menunduk untuk memperhatikan jalinan jemari kami yang berada di pangkuanku, aku berusaha meredam ketakutanku. Mereka, yang membenci pertunangan ini, bisa melakukan hal apa pun termasuk menyakiti salah satu dari kami atau bahkan keluargaku. Dan hal tersebut menjadi momok bagiku sejak berjalannya press conference.

Melihat dari ekor mataku, aku tahu Hyun memandangku beberapa kali. Mungkin terheran dengan kebisuanku. “Aku…” tanpa kuhendaki suaraku sedikit bergetar. Aku meloloskan udara melalui mulut dan secara perlahan melepaskan tangan Hyun.

Satu tahap terlewati dengan cukup baik. Walaupun beberapa wartawan belum puas mengenai penyebab batalnya acara pertunangan kami, setidaknya keterangan Hyun sudah lebih dari cukup. Dia hanya mengatakan bahwa terdapat sabotase pada event organizer pertunangan hingga membuatku terseret dalam penculikan.

Stop here. You can go back, I’ll drive by myself.” Hyun secara tiba-tiba menghentikan mobilnya di tengah perjalanan. Aku tak tahu alasannya. Hanya merasa bahwa Hyun mengusahakan privasi bagiku tanpa orang lain. Dan aku bersyukur atas tindakannya karena itu membuatku nyaman. Penculikan dan press conference hari ini membuatku waspada pada orang asing.

“Pindah ke depan,” perintahnya. Dia menjeplakkan pintu mobil dan berpindah untuk mengambil kemudi setelah sopirnya keluar.

Where will we go?” Hyun mengubah arah perjalanannya, bukan lagi ke arah rumahku atau apartemennya.

Having lunch.” Memang selepas press conference, Hyun memutuskan untuk undur diri dan tidak bergabung untuk menikmati jamuan. Mungkin menghindari kekacauan para wartawan yang masih penasaran.

***

Moodku berangsur membaik setelah beberapa saat kami duduk di sebuah restoran. Aku menggulung-gulung spaghetti dalam piringku tanpa niat menyantapnya. Makanan favoritku saat ini tidak lagi membuatku tertarik karena tiba-tiba otakku mengingat konten pembicaraanku dengan Daehyun. Pembicaraan yang malah membuat daftar pertanyaanku pada Hyun bertambah banyak.

“Kau melamun?”

Aku tersentak kecil dengan perkataan Hyun. Kulihat gulungan spaghetti-ku yang tak karuan. Meletakkan garpu dan sendok, aku menyandarkan punggungku saat nafsu makanku menghilang. “Hanya sedikit berpikir,” jawabku pada pertanyaan Hyun.

“Kau bisa membuat daftar pertanyaan padaku, dan menanyakannya satu-persatu setiap kita bertemu.” Aku tersentak dengan sensitivitas Hyun. Pertama, saat kami di mobil dan ini kali kedua dia seakan tahu apa yang sedang kupikirkan.

Will you answer it?”

As long as I have the answer, and of course, depend on your question.”

Mendapatkan penawaran seperti itu, kini aku kebingungan dengan hal yang pertama ingin kutanyakan padanya. “Hyun, apakah mereka bisa menerima penjelasanmu mengenai pembatalan pertunangan kita kala itu?”

Aku bisa melihat dahi Hyun mengerut. “Maksudmu media?”

“Ya.”

Never.” Hyun meletakkan sendok dan garpunya. “They’re too greedy, Lynn.”

And then, it’s mean all we have done today left in vain, isn’t it?”

“Media tidak akan pernah merasa puas dengan sekecap penjelasan diplomatis. Mereka akan terus mencari tahu karena memang tuntutan pekerjaan. Tapi hal tersebut bukanlah ssesuatu yang harus kau khawatirkan. Mengingat kita bukan public figure sehingga mereka perlu mengekspos kehidupan kita secara mendetail.”

“Meski begitu, bukan tidak mungkin mereka membangun asumsi sendiri dan menimbulkan hoax yang tentunya akan merugikan bagi perusahaan.” Aku mencoba membuat kemungkinan terburuk. “If it is happened what will you do?”

It’s a second question, Lynn.”

My God, dia benar-benar perhitungan. Aku memelorotkan bahu dan memandang kesal ke arahnya.

Meet me tomorrow at lunch time.” Hyun tersenyum kecil.

***

Aku mengecek waktu baik di ponsel atau pun arlojiku berulang kali. Mengapa waktu terasa lambat berputar? Mendesah kesekian kali, aku kembali menuliskan hasil praktikumku.

You will have the tenth sigh after this.”

“Eh?” aku mendongak untuk menatap rekan diskusiku. Dan dia hanya tersenyum dengan alis yang sedikit dinaikkan untuk menggoda.

Do you have an appointment?”

“Oh, just a lunch. I’m sorry to make you uncomfortable.”

With that young-wealthy-dude?”

Aku meringis kecil pada sapaan Kris untuk Hyun. “Who else?” retorikku. Tak sabar untuk menemui Hyun, aku tak sengaja melakukan gerakan reflex seperti menghela nafas berulang kali. Rasa penasaranku seperti bendungan jebol yang mengalirkan muatan airnya dengan deras.

Kris merupakan teman diskusi yang menyenangkan. He’s smart and open minded. Kami mengambil mayor yang sama untuk graduate program. He’s half Canadian and half Chinese. Penduduk Singapore memang terdiri dari berbagai etnis dan kebanyakan adalah cina atau melayu. Dia tipe orang yang tidak banyak bicara, namun tetap menyenangkan dengan sikapnya yang ramah. And also, he makes some girls kept staring on him as he passes them.

Dia mengangguk-angguk kemudian meneruskan pekerjaannya. “I think you shouldn’t make him waiting for any longer.

Aku mulai mengemasi barang-barangku. “I will put my assignment on dropbox.” Janjiku untuk menyelesaikan tugas yang belum sepenuhnya kami selesaikan. “Bye.” Aku berdiri dan mengangkat tangan untuk sekedar melambai.

“Hmm.” Kris mengangguk dan tersenyum untuk membalas pamitku.

***

Aku menelusurkan telunjukku di meja Hyun, lalu menghentikan di papan namanya. Director, Kyuhyun Cho. Mengetuk-ngetukkan telunjukku di sana, aku hampir bosan menunggunya. Jam makan siang hampir berlalu dan, menurut sekretarisnya, dia belum menyelesaikan meeting. Entah mengapa bertemu dengannya menjadi hal menarik bagiku. Mungkin karena aku terlalu exicted akan jawaban pada keingintahuanku.

Mendengar suara pintu terbuka serta derap langkah, aku menoleh dan mendapati Hyun dengan map yang sedang diperiksanya sambil berjalan. Cish, begitu sibukkah dia? Detik selanjutnya, aku mendengar panggilan namanya oleh seorang gadis yang mengekornya. Belum sempat Hyun menoleh, kertas-kertas di tangannya terjatuh begitu saja. Dia mengerjap-ngerjapkan mata sembari sebelah tangannya terangkat untuk memijat pelipis. Tubuhnya mulai membungkuk.

“Kyuhyun Oppa,” panggil gadis itu, Soehyun.

Aku berjalan cepat untuk menjangkaunya. Ketika mataku menangkap Soehyun berdiri di belakangnya, kuselipkan tanganku melewati pinggang Hyun. Sebelah tanganku terangkat dan menopang kepala Hyun untuk menyandar di bahuku. Dapat kurasakan Hyun mencengkeram punggungku sebagai penyaluran rasa sakitnya.

Memandangnya untuk bermaksud mengusir, Soehyun nampak terkejut. Ini seperti dejavu saat aku memergokinya berciuman. Aku mengusap punggung Hyun untuk meyakinkan gadis itu bahwa kami butuh waktu privasi. Bukan karena aku ingin balas dendam, melainkan karena ingin menyembunyikan Hyun yang sedang kesakitan. Dan tindakan ini berhasil. Soehyun keluar dengan raut marah.

Where’s your drug?” Aku memapah Hyun ke sofa.

Second drawer.” Matanya mengerut saat memejam. Kentara kalau penyakit tersebut menyiksanya.

Aku panik saat mencari obat-obatnya. Melihatnya begitu menderita, bukan hal menyenangkan. Kuangsurkan obat dan air putih ke arahnya. Dan dia meminumnya dengan terburu. “Are you getting better?” meletakkan kembali gelasnya, aku menempatkan diri duduk di sebelahnya.

Dia hanya bergumam sambil menunggu obatnya bekerja. Pertanyaan yang kususun hilang sudah. Menjadi tidak penting saat melihat kondisi Hyun. Meski aku tidak menyukaimu, aku juga tidak membencimu. Hyun, be strong!

***

“Ugh!” aku memundurkan kepalaku saat bibirku secara tiba-tiba tersentuh sesuatu yang dingin. Aku tersenyum kecil saat mendongakkan kepala dan menemukannya menjulang di sampingku sembari mengulurkan ice cream.

Daydream?” dia ikut duduk di sampingku.

Aku menerima ice cream yang diangsurkan padaku. “Thanks, Kris.”

I have handed in our assignment.” Dia menginformasikan tugas kami yang sudah diserahkan pada dosen.

Aku menjilati ice cream dan menikmati bagaimana rasa dingin dan lembut melumer di rongga mulutku. Sangat menyukai sensasi memakan ice cream yang selalu bisa membuatku lebih rileks. Semenjak terakhir aku melihat Hyun sakit, pikiranku dipenuhi oleh sosoknya. Some question keep popping out in my mind. Bagaimana keadaannya? Apakah dia merasa sakit lagi? Apakah dia mengalami hari berat?

“Kris?”

“Hum.”

“Apakah wajar jika kau merasa rindu terhadap orang yang tidak kau kenal?” Kris menoleh padaku, menatap heran. “Maksudku, kau mengetahui nama, profesi, dan hal umum lainnya. Tapi kau tidak mengenalnya secara dekat.”

“Itu berarti emosimu mulai terikat padanya.” Kris mendongak menatap birunya langit. “Kau merindukannya karena kau menginginkan untuk mengenalnya lebih dekat. Bukan masalah wajar atau tidak, kau hanya perlu menuruti rasamu saja.”

Benarkah? Aku hanya merasa khawatir pada keadaannya saja. Bukan maksud lain. Dan kekhawatiran itu membuatku ingin menemuinya.

“Kau sedang membicarakan tunanganmu itu?”

Hatiku berdetak keras saat Kris menyinggungnya. Kuangkat kedua bahu cuek untuk menjawabnya. Menikmati semilir angin, tidak terasa waktu berjalan cepat. “Oh!” aku menadahkan tangan saat air langit turun. “Yaa!” segera kami berdiri saat tiba-tiba hujan semakin deras. Cuaca akhir-akhir ini memang sulit diprediksi.

Kris melepas jaketnya untuk menaungi kepala kami. Berlari untuk menemukan tempat berteduh, tubuh kami hampir basah. Aku mem-pout-kan bibir saat blous yang kupakai lengket, sedangkan Kris malah tertawa.

I think getting drenched isn’t that worst, Lynn.”

Bagaimana tidak buruk jika sekarang blous-ku basah dan melekat sempurna di tubuhku hingga mencetak lekuk-lekuknya? Aku menarik-narik bajuku untuk melonggarkannya. Merasa tidak nyaman.

“Pakailah.”

Seolah mengerti, Kris menyampirkan jaketnya di punggungku. Meski jaket tersebut kondisinya tak jauh beda dengan bajuku, tapi setidaknya bisa menutup tubuhku. “Thanks a lot.” Aku mengeluarkan smartphone-ku dari dalam tas saat mendengar deringnya.

Hello.”

“…”

I’m at campus.“

“…”

But—“ aku mendelik menatap layar ponselku saat bunyi ‘tut’ berulang. Bisakah dia tidak berlaku semena-mena? Aku masih terjebak hujan dan dengan seenaknya dia menyuruhku datang ke apartemennya segera? Oh my

***

Aku mengibas-ngibaskan jaket milik Kris. Masih sedikit lembab, namun lebih baik daripada tiga jam lalu. Kupindahkan paper bag ke sebelah tanganku, sedangkan tanganku yang lain terangkat untuk memencet bel. Tidak ada jawaban. Kulirik panel di sebelah pintu. Meragu untuk memasukkan kombinasi, namun pada akhirnya aku melakukannya.

“Hyun?” aku memanggilnya meski tak yakin akan mendapat jawaban. Melangkahkan kaki lebih ke dalam, aku menemukannya mengusap rambut dengan handuk. Dari wangi yang menyeruak, agaknya dia baru saja selesai mandi.

“Kau tidak perlu menekan bel jika sudah mengetahui kombinasinya, bukan?”

“Aku masih punya etika untuk memasuki rumahmu dengan izin.” Dia memandangku secara menyeluruh. Menelisik keadaanku yang mungkin sedikit berantakan. Tangannya bersedekap dan tatapannya menajam. Aku seperti seorang anak gadis belum cukup umur yang ketahuan berpacaran oleh ayahku. “Aku akan meletakkan belanjaanku di dapur.” Tidak nyaman dengan pandangannya, aku mencoba menghindar.

“Ganti bajumu.” Dia melemparkan sesuatu padaku yang kutangkap dengan cepat.

Kurasa kaus yang kebesaran lebih baik daripada blouse yang basah. Aku kembali ke ruang tengah usai mengganti bajuku. Berjalan mendekat ke arahnya dengan hati-hati saat melihatnya menyandarkan punggung serta kepala di sofa sembari memejamkan mata. Aku duduk di sampingnya dan megamatinya.

Hembusan nafasnya yang tenang membuatku menduga dia tertidur. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya. Apakah dia mengalami hari berat? Apakah masalah akusisi membebaninya? Wajahnya sedikit pucat. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh poninya kemudian menepikannya ke atas. Kusentuhkan punggung tanganku di pipinya untuk mengecek kondisi. Badannya agak hangat. Kau sakit lagi?

Mendadak Hyun mencekal jemariku dan menurunkannya. Tanpa membuka mata, dia merangsek ke arahku. Menyandarkan kepalanya di bahuku. “Hyun?”

“Mereka mulai membuat pergerakan.”

“Hem?” aku memiringkan kepala saat tidak menangkap maksud Hyun. “Siapa?” mungkinkah yang Hyun maksud adalah orang-orang di perusahaan? Keresahan menjalar dengan cepat. Bukannya menjawab, Hyun malah melesakkan kepalanya ke leherku. Membuatku bisa merasakan tubuhnya yang sedikit demam.

Dan jantungku mulai berdetak lebih keras ketika Hyun membenahi kepalanya di pundakku. Dengan sebelah tanganku yang berada di genggamannya, aku tidak bisa berkutik. Aku bisa membedakan dengan jelas berdebar sebagai bentuk ketakutan atau hal lain. Tapi saat ini, aku ragu untuk mengartikan debaranku.

“Adelynn?”

“Hem?”

“Tetaplah di sisiku.”

TBC*

Glosarium:

hand in: submit, menyerahkan

dropbox: ini semacam media penyimpanan di web. Jadi kalian bisa menyimpan file-file di dalamnya dan sharing dengan orang-orang yang terhubung dengan dropbox kalian. Dibanding email yang repot untuk mengupload dan mendownload, fasilitas dropbox bisa langsung diinstal di PC kalian. Jadi layaknya sebuah folder, kalian hanya perlu menaruh file di dalamnya dan teman kalian akan bisa melihatnya. Silakan coba di http://www.dropbox.com.

Note:

Kris Wu

tumblr_m32sy58uxr1qc3fy9o1_r1_500-1Hands up for ya who love this dude!

Aku menggunakannya karena latar belakangnya yang sesuai, yaitu Chinese-Canadian. Yang juga berbahasa Inggris.

The short haircut Tiffany Hwang:

lynnIni gambaran Lynn dengan rambut pendek.

Ingat pas Tiff awal debut. Cute banget. Aku sempat searching, dan baca bahwa awalnya dia punya banyak haters karena attitude dan rumor operasi plastiknya.

Menurutku:

Tiff hanya mengalami culture shock, yang tadinya besar di barat kemudian tinggal di timur. Aku rasa, dia hanya butuh adaptasi. Dan terbukti sekarang, Tiff menjadi pribadi yang lebih baik. Mengenai oplas, oh ayolah bahkan jika itu benar kita tidak dirugikan dengan oplas tersebut. Dont be narrow minded, ok?

Part ini memang lebih berisi pada kegalauan Lynn. Jadi mohon maklum jika lebih banyak diskripsinya.

Ok, I’m waiting your riview. Bye ^^) /

340 thoughts on “A Lovely Coincidence [Shot: 3]

  1. Ewiq says:

    waaaghhh sebenrx sikap kyu ke adelyn gmn?kasihn juga si kyu ternyta punya penyakit….apa mungkin otak dr penculikan itu si seohyun?oke gue next bc ya thor

  2. nina says:

    Suka banget sama part ini ngeliat mereka uda mulai deket dan hyun uda mulai bergantung sama lynn. Bener Tiff cute bgt dngn rmbt pendek itu. Menurut ak tiff cocok klo disandingin sama kyu. Lanjut part 4 deh..

  3. vany says:

    ngikutin gayaa barat aja deh heheh biar seru😀 disini kyuhyun udah mulai nunjukin perhatiannya sama lynn dan mulai bergantung.
    kriss suka sm lynn ya? tp blm terlalu nunjukin. daehyun peduli bgt sama kakaknya. tp takutnya nanti dia malah suka sama lynn heheh tapi bagus bagus. tunggu kelanjutnnya thor. tp kayanya di pw ya. aku boleh minta pw nya ga? kirim ke email erinashivani@yahoo.co.id

  4. jihyun_cho says:

    cieee yang dah mulai dket,,,, hihihihi ska bnget ma Adelynn Lee,,, Meski aku tidak menyukaimu, aku juga tidak membencimu. Hyun, be strong! manis!!!!

  5. Shatia says:

    Makin kesini ceritanya makin seru, feelnya dapet banget, gimana klo seandainya ada diposisi Lynn, pasti bingung n galau..berharap Hyun dan Lynn tetep bersama walau banyak rintangan dan badai menghadang untuk misahi mereka..

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s