[Drabble] Promise You: K.R.Y Story


promise you

K Story: It’s Out Of Blue, Hyun

[Kyuhyun Cho, Adelynn Lee]

 

God damn, Lynn!” Kyuhyun menyampar tumpukan map di sudut kanan mejanya hingga menimbulkan bunyi berisik saat dokumen-dokumen tersebut tercecer di lantai ruang kerjanya. “How many times should I tell you not to interrupt me!” Otot lehernya yang terlihat menonjol membuktikan betapa amarahnya sedang berkuasa.

Lynn menahan tubuhnya untuk tidak bergetar dengan mengatupkan rahangnya dan mengeratkan gigi-giginya. Sebuah undangan dengan warna dominan dark purple yang dipegangnya jatuh begitu saja. Membuang wajah ke samping, Lynn mengangkat tangan untuk mengusap tetes air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk. “Do you wanna stop this?” Diberanikan memalingkan wajahnya menghadap Kyuhyun, dia lelah dengan perdebatan yang berlangsung selama dua puluh menit terakhir. Dua puluh menit mereka yang kesekian kali dihabiskan untuk berteriak dan menyalahkan.

You just gave me an alternative, didn’t you?” Kyuhyun mengusap keningnya kemudian memberikan tekanan beberapa kali untuk mengurangi ketegangannya, tapi itu sama sekali tidak berhasil.

This marriage means nothing to you. Then, why should we carry on this?” Lynn hanya lelah dengan segala alasan mereka, Kyuhyun maupun dirinya. Bukannya tidak mengenal Kyuhyun, Lynn tahu benar bahwa tunangannya begitu workaholic. Tapi apakah sifat tersebut menghalanginya untuk berada di sisi Kyuhyun? Tidak. Bahkan sampai titik ini dia akan mengatakan tidak, andai Kyuhyun tahu.

“Melibatkan diri dalam persiapan pernikahan, apakah itu cukup mendefinisikan bahwa pernikahan ini penting untukku?” Kyuhyun hanya akan mengangguk saat Lynn memberikan pilihan gaun dan tuxedo yang akan mereka kenankan untuk pernikahan. Atau hanya berkata ‘just take it’ kemudian berlalu ketika mereka memilih cincin pernikahan berbarengan dengan sebuah panggilan masuk dari relasi bisnisnya. Selain itu, dia menyerahkahkannya kepada event organizer. Seluruhnya. “Apakah pesta pernikahan sesuai mimpi kecilmu, dengan gaun putih panjang, tiara berlian, dekorasi light purple, white lily, and so all lebih bermakna melebihi esensinya? Oh, come on, Lynn.”

Lynn memasok udara dalam tarikan panjang. Salahkah jika dia ingin detail pesta pernikahannya sesuai keinginan? Dan bukan karena Kyuhyun mengabaikan segala bentuk persiapan pernikahan mereka yang membuatnya lelah, persetan dengan hal itu. Dia hanya menyayangkan bahwa sampai detik, dimana pernikahan tinggal menghitung hari, Kyuhyun masih menempatkannya sebagai urutan kesekian dari daftar prioritasnya. “Sebatas itukah yang kau tahu mengenalku, Hyun?”

“Kau ingin sedalam apa aku mengenalmu? Akademismu, sosialita—“

I know how it works.” Lynn memotong cepat ucapan Kyuhyun. Dia tahu bagaimana Kyuhyun mengenalnya. Lelaki itu akan mengangkat telephonnya, mengkontak asistennya, untuk mengetahui latar belakang dirinya. “Let’s end up here.” Lynn membungkuk untuk menjumput undangan pernikahan mereka. Percuma beradu argument dengan Kyuhyun. Dia berjalan mendekat ke arah Kyuhyun, meletakkan undangan tersebut di meja kerja Kyuhyun, dan berusaha menarik bibirnya membuat senyum. “I’ll take that chance, Hyun. Thank you for giving me such wonderful memories.

Jantung Kyuhyun mulai bereaksi lagi, berdetak dengan keras. Kata-kata Lynn begitu jelas dia dengar. Dia ingin menyuarakan ketidaksetujuannya, namun terlanjur mati rasa karena pertengkaran mereka. Mematung di tempatnya dengan deru nafas tak beraturan, dia melihat senyum terpaksa Lynn.

Good bye, Cho Kyuhyun.” For the last time, she called the name she loves. Memenuhi satu alasan yang membuatnya dan Kyuhyun bertengkar, dia sudah memilih keputusan tersebut. Meninggalkan Korea untuk kembali ke London dimana sebuah tawaran menjadi staff pengajar diperolehnya dari University of London.

Kyuhyun mengepalkan tangannya dan memalingkan wajah ke arah lain. Dia hanya berusaha abai dengan kenyataan berakhirnya hubungan mereka. Hatinya terlanjur kaku untuk diajak berkompromi sekarang.

Menumpukan sikunya di bagian pinggir kursi penumpang, Lynn memuaskan pandangannya pada landasan pacu areal bandara. Seoul memberikannya harapan, namun harapan tersebut pupus dengan kalimatnya sendiri. Dia mengeluarkan tampungan udaranya dengan hembusan lembut. Memijit kantung matanya, dia merasakan pedih karena menangis semalaman. Bahkan sampai sekarang air matanya masih belum mengering sempurna karena merembes kembali.

Agh.” Memekik halus, dia sungguh tidak tahu begitu cepat tubuhnya tertarik ke samping. Tangannya secara spontan mendorong orang yang memeluknya tiba-tiba, namun segera ditahannya saat merasakan jantungnya berdetak keras. Lynn meresapi bau maskulin yang tercampur dalam udara yang tersedot masuk ke hidungnya. “Hyun?”

I know, I’ve never been perfect for you.” Kyuhyun mengeratkan lingkaran tangannya di punggung Lynn. Tidak peduli serendah apa gadis itu memandangnya, dia hanya ingin menjemput hatinya. “But, could you consider this workaholic man?”

“Hyun, aku telah memutuskan. Dan keputusan ini adalah keputusan dimana kau menempatkan kita di jalan terpisah.”

Then don’t take it.” Kyuhyun semakin menguatkan pelukannya. Dia tidak tahu bagaimana menahan Lynn dan memintanya kembali. Yang dia tahu, hatinya sangat sakit ketika gadis itu meninggalkannya dan mengeluarkannya dari rencana masa depan. “Promise you. I will live thinking about you more. Holding you tightly and I will promise the piece of eternity.

Lynn menarik Hyun untuk melepaskan pelukannya. Mata birunya menyapu wajah tunangannya dengan melas. Mengangkat tangan, Lynn mengusap setitik air mata di sudut dalam mata Kyuhyun. “Please, don’t make it hard, Hyun. Jangan membuat janji dimana kau tidak bisa menetapinya.”

What I want to tell you is just that I love—“

Lynn menaruh ujung telapak tangannya di depan bibir Kyuhyun untuk menghentikan ucapan lelaki tersebut. Dia menggeleng ringan untuk menolak kalimat tersebut. “Please, don’t say it.” Sudah cukup hatinya tersakiti dengan kalimat tersebut, kali ini, dia ingin menahannya.

Kyuhyun meraih jemari Lynn, menggepalkannya, kemudian meninjukannya di dadanya secara kontinu dengan intensitas ringan. “Then tell me how to get rid of this pain.” Dia menggerakkan tangan Lynn untuk tetap memberikan pukulan ringan di dadanya. “Tell me…”

Membekap mulutnya, Lynn berusaha meredam tangis. Ditarik tangannya untuk menahan Kyuhyun melukai diri sendiri. Dia tidak bisa berlaku tak acuh pada perasaannya. Melingkarkan kedua tangannya di leher Kyuhyun, Lynn menarik lelaki tersebut ke pelukannya. “I’m sorry…I’m sorry…repetitive-nya.

Tangan Kyuhyun mengusap kepala Lynn lembut. “Tidak. Akulah yang seharusnya dimaafkan.” Dia mengecup lembut puncak kepala Lynn dan memendam wajahnya di pundak sempit gadisnya. “I can’t promise anything more. But, I promise to love you more every single day.”

Bukannya mengusap air mata sendiri yang merata di pipi, Lynn malah menganjurkan tangannya untuk membersihkan air mata Kyuhyun begitu pelukan mereka terlepas. “How about the marriage?” tanyanya dengan heran.

I got the fund on charity.” Kyuhyun mengangkat kedua bahunya. Dia menekan rasa gelisahnya pada keputusan Lynn. Namun cukup lega saat Lynn mengangkat topik pernikahan mereka.

A charity?” Tidak ada nada marah pada ucapan Lynn saat tahu Kyuhyun menyumbangkan dana pesta pernikahan mereka pada kegiatan amal. “You are out of blue, Hyun.”

Westminster abbey might better,” canda Kyuhyun.

You must be kidding me, Dude.” Lynn meninju kecil pundak Kyuhyun sembari mengatur emosinya dan sisa tangisnya. Dia terkekeh ringan dengan candaan Kyuhyun untuk melakukan pernikahan di gereja kebesaran the British royal family yang tidak mungkin diizinkan.

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya untuk mengecup ringan bibir Lynn. Tekstur lembut yang membuatnya selalu kehilangan arahan. Disapukan ujung jarinya di poni miring Lynn. “Maaf untuk mengabaikanmu.”

Lynn melingkarkan tangannya di lengan Kyuhyun kemudian mendekapnya erat. “I don’t care how simply the marriage of, as long as with you, it will be the best.” Dia mendongak, memanjangkan leher, dan memberikan ciuman balasan. “I love you.”

I love you too, My Dear.”

***

R Story: It’s What I Called Love, Ai

[RyeoRyeowook Kim, Airi Hyuuga]

Ryeowook menepuk-nepuk koper terakhirnya. Ini adalah hari terakhir promonya di Jepang dan esok hari dia kembali ke tanah kelahirannya, Korea. Mendesah lega karena telah menyelesaikan program promonya selama hampir dua bulan, Ryeowook mendudukan diri di atas ranjang. Matanya mengabsen satu persatu pernak-pernik kamar yang yang ditinggalinya selama di Jepang. “It’s over.”

“Ryeowook-kun? There’re some prize from your fans.” Ai mengangkat beberapa paper bag masuk ke dalam kamar Ryeowook. “I think you should take it with you.” Dia menyusun hadiah-hadiah tersebut dalam paper bag agar lebih ringkas.

Ryeowook tidak memberikan tanggapan terhadap usulan Ai. Dia membiarkan gadis itu sibuk dengan persiapannya. “Ai, have you consider what I’m asking to you?”

Tangan Ai terhenti sejenak ketika pendengarannya menangkap maksud Ryeowook. Bukan dia tidak ingin memenuhi permintaan lelaki itu untuk mengikutinya ke Korea, namun Jepang adalah motherland untuknya. Di sinilah tanahnya, budayanya, dan mimpinya. Meski hatinya juga terpaut pada lelaki tersebut, namun pengorbanan untuk bersama Ryeowook,  baginya, terlalu berat. “I have the same answer.” Perlahan dia memutar tubuhnya dan memandang Ryeowook untuk bisa memahami posisinya.

“Tidak bisakah kau memasukkanku dalam rencana masa depanmu?”

Ai mengulum bibirnya ketika merasakan pandangan Ryeowook mengulitinya. Dia juga terluka dengan perasaannya, namun sampai sekarang dia mempunyai pendirian bahwa lukanya akan sembuh seiring waktu. “Aku rasa, kita telah dengan jelas membahasnya.”

“Kau tidak pernah tahu betapa aku menginginkanmu.” Ryeowook menarik dan mengeluarkan nafasnya yang memberat. “Kau selalu bertindak egois.” Dia hanya sedih saat Ai tidak mempertimbangkannya. Manager promonya selama di Jepang tersebut memilih untuk menghindari perasaannya dengan segala alasan.

“Katakanlah seperti itu. Setidaknya egoku membuatku memilih tetap menjalani kehidupan di tanahku.” Ai tidak kebas dengan cemoohan Ryeowook. Dia merasakan sakit yang sangat di hatinya, namun semua ditanggung demi mempertahankan prinsipnya.

Have you ever think of me?” Dua hari lalu hingga sekarang, Ryeowook selalu memikirkan perasaannya terhadap gadis itu.

It’s just a crush. It’ll vanish as the time goes by and replace by another love.” Perkataan Ai sesungguhnya meracuni dirinya sendiri, tapi apa boleh buat. Demi bertahan, dia memberikan argument yang menurutnya bisa menjelaskan perasaannya terhadap Ryeowook dan sebaliknya.

A crush?!” Ryeowook menaikkan nada bicaranya begitu mendengar penjabaran Ai mengenai hubungan mereka. “Do you think a crush could feel this deeply?” Ryeowook menahan hentakan amarahnya yang membuncah. “Kurasa aku jatuh cinta pada orang yang salah.” Entah bagaimana Ryeowook bisa meloloskan kalimat tersebut. Mungkin jika amarah sedang tidak merajai, dia tidak mungkin memiliki keberanian untuk mengucapkan.

Just stop it!” teriak Ai keras. Cukup sudah batas dia bertahan. Hatinya pedih, sangat pedih. “Good night.” Dia menyeret langkahnya untuk secepat mungkin keluar dari kamar Ryeowook. Melarikan perasaannya yang bisa kapan saja tumpah andai dia bertahan lebih lama di sana.

Ryeowook mengamati dokumen penerbangannya, entah apa yang membuatnya begitu berbeda saat ini. Digigit bibir atasnya saat langkah demi langkah menuju keberangkatannya terasa begitu berat. Sepertinya, pertengkaran dengan Ai semalam adalah terakhir kali dia melihat gadis itu.

Pagi ini, Ai sama sekali tidak datang untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal. Dan dia menyesali perkataannya. Jika waktu mengizinkan, mungkin saja dia akan berlari kembali untuk meminta maaf atas ucapannya terhadap Ai. Bagaimana pun, Ai adalah orang yang berjasa untuk membantu karirnya selama di Jepang. Dan juga, gadis yang selama dua bulan ini mengisi relung hatinya.

Ryeowook tahu benar bahwa perasaannya terhadap gadis itu bukan sekedar rasa kagum. Dia menaruh hatinya untuk gadis keturunan Jepang tersebut, namun perbedaan prinsip agaknya menjadi pembatas utama mereka. Ryeowook menoleh cepat ketika merasakan ruang di sela jemarinya terisi oleh jemari lain. “Ai?”

“Eum, I think you should show me some beautiful place in Korea.” Ai dengan cuek memandangi leaflet wisata Korea di tangannya. Dia membolak-balik kertas tersebut dengan sebelah tangannya yang lain. “Ah, maybe Gangnam for the first!” pekiknya dengan antusias.

Ryeowook tidak dapat menahan bibirnya untuk tidak melengkung sempurna. Apakah gadis ini sengaja mempermainkannya? Sudahlah, dia tidak peduli. Disentakkan tangan Ai yang menggengam jemarinya hingga gadis itu jatuh di pelukannya. “You really something!” dengan gemas, dia mengeratkan pelukannya.

Ai menepuk sekali pundak Ryeowook. “If you continue like this, some fans will notice us.” Dia hanya mengingatkan bahwa tindakan Ryeowook bisa mengundang tanya para fansnya yang mengantarkan ke bandara.

Dengan berat hati, Ryeowook melepas pelukannya. Dia tetap harus menyadari bahwa dirinya seorang public figure yang tidak bisa berperilaku semaunya. Tapi, dia akan berjanji untuk menjaga cita dan cintanya yang kini tergenggam. Ryeowook tersenyum kemudian mengecup bibir Ai kilas. “Gomawoyo, Airi Hyuuga.”

“Yah! You can’t do that!” Pekik Ai begitu kesadarannya kembali dan menelaah tindakan Ryeowook yang mampu membuat jantungnya berdetak sangat keras. Padahal hanya sebuah kecupan kecil, tapi reaksi tubuhnya begitu dasyat.

Yes, I can. And I can even do more—“ Ryeowook menyentak ringan tangan Ai agar gadis itu mengikutinya, “—later.” Dia mengerlingkan mata. “Promise you. I will live thinking about you. We are connected by our heart to heart.

Ai memalingkan wajahnya ke arah Ryeowook dan menetapkan keputusannya untuk mengikuti lelaki tersebut. Keputusan yang dipikirkan selama semalaman. Dia tidak bisa lari lagi dari perasaannya. Cukup sudah dia bersembunyi dalam egonya. Biarkan ini menjadi kisah awal mereka. “I’m afraid.” Dia tetaplah gadis biasa yang takut andai Ryeowook tidak memenuhi perkataannya.

Ryeowook seketika menghentikan langkahnya, dan memutar tubuhnya hingga menghadap Ai. “Me too. But, I can hold this feeling toward you. So, what I want to tell you is just that I love you.” Dia memandang jalinan tangan mereka dan mengusap punggung tangan Ai yang digenggamnya menggunakan ibu jari. “I wish, my simply words can make a reason for you to stand still beside me. It’s what I called love, Ai.

I love you, too.” Kali ini Ai ingin lelaki itu mengetahui perasaan sebenarnya.  Dia berusaha jujur dengan perasaannya.

Sure, My Sweetheart.” Ryeowook merengkuh kepala Ai dan memberikan kecupan di dahi. Ciuman tulus tanpa nafsu untuk menunjukkan betapa dia bersyukur gadis itu ada untuknya.

***

Y Story: It’s About Us, Aby

[Jong Woon Kim, Ciera Abigail]

One step more and our relationship will be ended here!” tegas Yesung dengan setengah berteriak untuk menghentikan langkah gadisnya.

Seketika langkah Aby terhenti dengan ancaman tersebut. Dia takut jika kekasihnya mengabulkan perkataannya, namun hal yang lebih ditakutinya adalah permasalahan mereka yang tidak terselesaikan. “We need to break up for a while, think again for this relationship.” Aby memutar tubuhnya menghadap Yesung.

For a while? Then, how long do you define ‘for a while’?” Yesung mengepalkan tangannya hingga bisa merasakan kuku-kukunya menancap dan menyakiti di telapak tangannya sendiri. “Could you just stop your childish things?” Dia merasa terganggu dengan ulah Aby yang menurutnya terlalu kekanakan; menaruh surprise di meja kerjanya, mengirimkan pesan lucu, memesan tiket nonton ‘Rise of The Guardian’, atau merengek untuk menghabiskan satnite bersama.

Childish? Ah, then I know how you look into me.” Aby mengusap kasar air mata, yang dirutukinya, turun di saat tak tepat. Dia hanya tidak ingin terlihat menyedihkan atau pun lemah di depan Yesung. “So, what do you want from me? To act like an adult? Like what?” tantang Aby. Dia memang gadis yang cenderung menyukai hal-hal berbau cute dibanding sesuatu yang mature. Meskipun demikian, Aby tipe gadis mandiri yang berusaha mengandalkan diri sendiri untuk melakukan aktifitasnya. All because, she just have a father as her family.

Yesung memejamkan mata terlalu rapat hingga kerut-kerut di kelopak matanya tercetak jelas. Dia hanya ingin Aby tidak mengganggunya dalam situasi dimana beberapa cafenya, saat ini, sedang membutuhkan perhatiannya. Perkembangan cukup pesat ‘Mouse and Rabbit’ membuatnya harus bekerja ekstra untuk menghandel beberapa franchise. “Don’t disturb me whenever I do my job. Is it clear for you?” Yesung mengucapkannya dengan nada rendah penuh tekanan untuk menghindari ledakan dirinya.

Aby menanggapinya dengan mengangguk-angguk, bukan karena dia menyetujui melainkan karena dia mengerti. “Arraso,” ucapnya menggunakan hangul. Walapun sudah lima tahun menetap di Korea, bahasanya masih sering tercampur dengan bahasa internasional. “I will.” Ucapnya untuk mengakhiri pertengkaran mereka. Jika hanya syarat tersebut, mungkin dia akan melakukannya. Mencoba untuk menaati peraturan Yesung untuk hubungan mereka. Mungkin saja, dia memang terlalu ‘mengganggu’ bagi lelaki itu.

Menghembuskan nafas, memelorotkan pundak, dilanjutkan mencebikkan bibir, Aby lelah dengan aktifitas hari ini. Hampir pukul 07.00 malam saat dia keluar dari perpustakaan kampusnya. Dia mengecek sekali lagi arlojinya, kemudian tertegun ketika melihat tanggal. Sudah seminggu, sejak pertengkaran mereka yang terakhir, dia tidak menghubungi Yesung. Demikian sebaliknya, lelaki itu kemungkinan besar terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan kabarnya.

Tersenyum miris, Aby mendongakkan kepala untuk menghalau air mata yang akan keluar. Tidak bisa, dia tidak boleh merindukan kekasihnya atau pun membuat panggilan yang akan mengganggu Yesung. “My goodness…” Ditepuk ringan keningnya saat teringat jadwal kereta terakhir. Berlari-lari kecil, dia tidak memerhatikan tundakan turun karena perhatiannya sedang terfokus pada isi tasnya.

Akh.” Belum sepuluh detik, kakinya keseleo dan menyebabkannya jatuh terjerembab di tundakan terakhir. Aby benar-benar kesal saat melihat barangnya berhamburan dan dia jatuh terduduk. Segera dipunguti barang-barangnya dengan merengut. Tangannya terhenti saat dengan tidak sengaja sebuah kertas note merah muda tersembul dari agendanya. Perlahan dia menarik kertas tersebut dan membaca ulang kalimat yang pernah dituliskan yesung untuknya. ‘It’s about us, Aby’. Kalimat yang menjelaskan bahwa mereka bisa bertahan dengan perbedaan budaya di antara mereka, karena hubungan ini adalah tentang mereka.

Aby membungkam mulutnya untuk terisak ringan. Dia menghentikan diri untuk menjumputi barang-barangnya. Ditekuk kedua lututnya, kemudian dibenamkan wajahnya di antaranya. Dia tidak peduli dimana sekarang keberadaannya atau ketinggalan kereta, karena yang dia pedulikan saat ini hatinya sangat sesak.

Bagaimana rasanya melihat orang yang kau kasihi menderita karena ulahmu? Lukanya lebih menyakitkan daripada yang ditanggung orang terkasih tersebut. Mematung sejenak, Yesung merasakan bagaimana pemandangan di depannya begitu menyayatnya. Dia merindukan gadis itu! Merindukan bagaimana gadis mencoba hadir dalam setiap kegiatannya melalui surprise ringan dan message-nya. Yang dengan bodohnya, dia menyalahkan sikap Aby atas tindakan kecilnya sebagai bentuk perhatian.

Yesung menekuk lutut untuk menggapai Aby lebih dekat. Dia bisa melihat luka gores di punggung tangan Aby. Dirogohnya sapu tangan miliknya, kemudian dibalutkan pada tangan Aby hingga membuat gadis itu mengangkat kepala dengan ekspresi terkejut.

What do you want?” Meski rindu terkumpul di hatinya, Aby masih bisa merasakan sakit terhadap pertengkaran terakhir mereka. Dia mencoba menarik tangannya, tapi Yesung menahan pergelangan tangannya. “I can do it by myself.”

But, I want do this for you.” Yesung menekan luka Aby untuk menguragi darah yang keluar sebelum mengikat ujung sapu tangannya. Dia juga membantu memunguti sisa barang Aby dan memasukkannya ke dalam tas. Berdiri lebih dulu, Yesung menganjurkan tangan untuk membantu Aby berdiri.

Aby menumpukan tangannya dan berdiri sendiri, mengabaikan bantuan Yesung. “I told you before, I can rely myself. This is what you called mature, rite?” sindir Aby. “Thank you for helping me.” Dia bahkan bersiap melangkah pergi.

Mendapat setiap penolakan Aby, bagaimana dia bisa berkata hatinya tidak perih? Ini salahnya. Dengan cepat, Yesung menarik lengan Aby dan membawa gadis itu dalam pelukannya. Dia mengeratkan dekapannya saat Aby meronta. “I’m sorry, I’m sorry… Abigail.”

Aby terdiam dengan ucapan maaf Yesung. Dia membiarkan dirinya luruh dengan perasaan rindunya. Disurungkan keningnya di dada kekasihnya ketika air mata susul menyusul keluar dari sumbernya.

Promise you. I want to live my life thinking about you.” Bukan wanita yang bersikap dewasa yang dibutuhkan, melainkan gadis yang sedang dipeluknya, yang menunjukkan perhatian dengan cara tersendiri.

Don’t promise anything.” Aby mengangkat kedua tangannya untuk melingkar di pinggang Yesung. Dia tidak ingin Yesung membuat janji, yang mungkin tidak dapat dipenuhinya di lain hari. “Just don’t.”

Mengambil udara untuk memenuhi rongga paru-parunya, Yesung menahan seluruh keinginannya yang menggebu. Keinginan untuk menyanding gadis itu sehingga dia bisa menjadi lebih tenang karena Aby di sisinya. Perlahan, Yesung melepas pelukannya. Sembari menatap wajah Aby, dia membentuk senyum. “What I want to tell you is just that I love you.”

Aby tersenyum dengan kalimat sederhana tersebut. “I love you, too, Kim Jong Woon.”

Yesung menangkup kedua pipi Aby kemudian memberikan kecupan di dahi, hidung, dan bibir gadis tersebut. “Thank you for standing still beside me.” Dia tersenyum memukau untuk memiliki kembali gadisnya.

END*

Glosarium:

Out of blue: tidak sesuia harapan, melenceng dari perkiraan

Note:

Gegara single album Promise You yang baru liris short versionnya, jadi kepikiran buat drabble ini. Melting dengan K.R.Y di videonya, juga dengan suaranya.

I know it’s  epic fail T.T, but tell me which one do you like the most? Waiting your respond, bye and bow (^^ /

88 thoughts on “[Drabble] Promise You: K.R.Y Story

  1. Kyu-Lynn the best couple !! overall semuanya keren🙂 sweet bikin melting *-* tapi ttp aku paling suka pasangan Kyu-Lynn entah udh jatuh cinta banget sama ini couple :* semua ceritanya ada konflik tersendiri tapi kyu sama yesung konfliknya mirip bgt. çαмα² workaholic cuma bedanya Kyu udh mau married sedangkan yesung ga.. sweet bgt 3 drabblenya kereeen :*:*

  2. buka drabble, caricari yang castnya sj, kekeke~ ideide ff mu selalu aja keren kak:” “dont promise anything”, iyaa bener, mending ga usah banyak janji daripada nantinya tetep ga bisa nepatin:’) untuk kesekian kalinya, ffmu baguuuus kak! feelnya dapet hiks

  3. HalcaliGaemKyu says:

    Whoaa..
    Ini mah namanya oneshoot kekekeke…
    Kesalahan pertama: kyuhyun yg lbh mementingkan kerjaannya drpd pesta pernikahannya yg tggl bbrp hari lg.
    Yg kedua: ttg perjuangan ryeowook nih buat ngeyakinin wanitanya yg beda negara agar mau ikut bersamanya kenegaranya. Duh duh duh..
    Yg ketiga: ttg yesung yg meminta kekasihnya spy bersikap lbh dewasa krn sikapnya selama ini justru dianggap mengganggu pekerjaannya. Yg ini sedih bgt.
    Semuanya keren2, hanya yg paling sedih itu ff yesung itu menurutku.

  4. Guixianra says:

    Inang!! Alamak… Sempet emosi sama Kyuhyun karena dia workaholic jadi menyepelekan pernikahan, tapi ujung-ujung nya nyesel. Kyu, harus ubah sifat mu okey!! Keseluruhan cerita nya menarik,,, thanks eonni😀

  5. azulla lim says:

    “I wish, my simply words can make a reason for you to stand still beside me.”
    ga kebayang gmn Ryeowook oppa yg polos & unyu2 blg kalimat itu kalo bneran ^^
    aaah sweet skali..

  6. Linda Lestari says:

    suka semua kisahnya…. ^^
    arsvio emank paling cetarrrr ceritanya….

    akhirnya ada FF dengan cast ryeowook yg mengena di hati….

    tetap semangad berkarya yah.. ^^

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s