A Lovely Coincidence [Shot: 8]


a lovely coincidence 3

A Lovely Coincidence [Shot: 8]

Aku mengerjap dan membuka kelopak mataku secara perlahan. Wangi maskulin Hyun menggelitik penciumanku begitu inderaku terbangun awas. Menggeser kepalaku yang berbantal lengan atas Hyun, aku merasakan terpaan hangat nafas teratur Hyun di wajahku. Aku masih betah memandangi wajah terlelapnya untuk beberapa saat untuk mengagumi keelokannya.

Kami tertidur di sofa tamu dalam posisi duduk berhadapan. Kehangatan menyeruak ketika aku menunduk memerhatikan jemariku dalam genggam tangan Hyun yang berada di pangkuannya. Perasaan yang sama setiap kali dia melingkupi jemariku dengan miliknya. Dengan hati-hati aku menarik tanganku agar tidak membangunkan Hyun. Aku menahan nafasku saat Hyun menggeliat kecil.

Bangkit dari dudukku, aku kemudian menuju kamar Hyun untuk mengambil bantal dan selimut. Hyun tidur dengan pulas sehingga membuatku tidak tega untuk membangunkannya sekedar membuatnya pindah ke kamar. Lagipula, sofa di ruang tamu cukup lebar dan panjang untuk memuat tubuhnya yang tinggi.

Dengan hati-hati kuselipkan tanganku di antara kepala Hyun dan sandaran sofa. Kubaringkan tubuhnya, kemudian kutarik selimut untuk menghangatkannya. Tanganku menyapu lembut anak-anak rambut di dahinya dan ujung telunjukku menyusuri lekuk bibirnya hingga ke sudut. Aku menggigit bibir ketika debaran jantungku menguat karena tindakanku. Bibir ini…aku harap lebih banyak menyungging senyum. Kucondongkan tubuhku untuk mengecup ujung hidung Hyun. “Sleep tight,” bisikku.

Aku melihat waktu yang ditunjukkan jam tangan baby-G bewarna merah muda yang kupakai, lalu menepuk jidat. Gosh! Aku tertidur hampir 3 jam dan kini sudah tengah malam. Aku tidak membawa mobilku karena masih dalam perbaikan dan tidak mungkin pulang selarut ini dengan angkutan umum.

Menekuk lututku, aku duduk di lantai dan menyandarkan sisi tubuhku di badan sofa. Aku menjangkau ponselku di meja dan merasa resah karena lupa untuk memberitahukan keberadaanku pada Aiden Oppa. Mengerutkan kening, aku terheran karena tak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari Aiden Oppa. Aku menelengkan kepala, kemudian menoleh ke arah Hyun. Mungkinkah dia yang menghubungi Aiden Oppa? Memelorotkan bahu, aku menarik kesimpulan yang membuatku lega.

Kusorongkan kepalaku di badan sofa dan kutekuk lutuku untuk kubawa merapat ke dada. Wajahku berhadapan dengan wajah terlelap Hyun. Sekali lagi, kusapukan jemariku di rambutnya. Mengingat raut marahnya saat kami mendapat kecelakaan membuatku berpikir bahwa mungkin terdapat konspirasi dalam kejadian tersebut. Baik Hyun maupun Aiden Oppa menutup mulut mereka saat aku menanyakan perihal kecelakaan tersebut. Jadi aku hanya menerka-nerka.

Dugaanku semakin kuat ketika tadi aku berpapasan dengan Seohyun. Keberadaannya di Singapore kurasa bukan tanpa alasan. Menilai dari ekspresi tidak menyenangkan milik Seohyun, aku mengira telah terjadi ketegangan antara dirinya dengan Hyun. Kami hanya saling beradu pandang ketika berpapasan, tidak lebih.

Aku membelai garis lelah di bawah mata terpejam Hyun. Dia selalu berusaha menanggung dan menyelesaikan perkaranya sendiri. Walaupun sikap dewasa dan tindakannya menjadi kekagumanku, namun aku ingin suatu saat Hyun membagi bebannya.

Apakah pertunangan kami yang direncanakan oleh Hyun malah membawanya pada keadaan yang semakin sulit? Aku tidak bisa berhenti berpikir mengenai hal ini setelah kecelakaan kami. Sepertinya, kecelakaan tersebut menjadikanku sebagai target. Hal yang menjadi perenunganku adalah tindakan gegabah Hyun. Mengapa dia menggatikan posisiku untuk tertabrak? Tidakkah dia menyayangi dirinya?

Wajah Hyun mengabur saat kelopak mataku memberat. Tanganku yang mengusap rambutnya melemas. Cahaya menggaris seiring mataku yang menutup.

***

Aku menggeliat malas dan menjaga mataku masih terpejam ketika rasa kantuk masih menggelayut. Kuusapkan tanganku ke daerah di sisi wajah hingga merasakan tekstur lembut kain, kemudian kutinggikan selimut. Kunikmati setidaknya beberapa menit saja waktu sebelum bangun. Keningku mengerut, lembut kain? Selimut?

Mataku sontak membuka ketika ingat bahwa seharusnya aku tertidur bersandar badan sofa. Aku bangun dan mengumpulkan kesadaran untuk menilai keberadaanku. Ini kamar milik Hyun. Mendesah ringan, aku merutuk karena tidurku sama sekali tidak terganggu ketika Hyun memindahkanku ke kamarnya. Menyingkap selimut, aku bangkit untuk menemukan sosok Hyun.

Berjalan melewati ruang makan, aku menemukan segelas susu dan sepotong roti yang telah dioles selai coklat di meja makan. Kutarik kertas note yang salah sudutnya ditindih oleh gelas susu.

Good morning, Adelynn

Sorry for not waking you up. I have an urgent meeting this morning, so I’m heading to office first. Eat your breakfast before leaving. I’ll pick you up this afternoon at campus. See you.

Your handsome fiancé.

 

Aku mengulang barisan kata terakhir Hyun. “Your handsome fiancé?” Aku menyuarakan kalimat tersebut dengan nada tanya. Sejak kapan Hyun menuangkan kalimat manis yang memuji dirinya sendiri? Tersenyum untuk menanggapinya, dadaku menyeruak kehangatan hanya dengan kalimat narsisme Hyun.

***

Menutup buku dan membereskan peralatan tulisku, aku menjejalkannya ke dalam tas. Perutku sudah tidak sabar untuk diisi dengan makanan. Senyumku mengembang saat menangkap sosok Kris tengah berdiri di depan pintu kelasku. Kami mengambil beberapa mata kuliah yang berbeda, namun dia selalu menyempatkan menjemputku untuk sekedar makan siang bersama. “Hi,” sapaku ringan.

Sebelah tangan Kris menarik tali tas yang tersampir di bahu kanannya untuk membenahi. Dia mengedikkan kepala dan tersenyum kecil membalas sapaanku. “Let’s go. My tummy was already groaning.

Kuputar garpuku untuk menggulung spaghetti sebelum memasukkannya ke dalam mulutku. “So, you shaved your hair off.” Aku mengamati gaya baru Kris dengan rambut cepak. Rambut bewarna gold-nya kini berubah menjadi warna hitam alami dan poninya tercukur habis.

Do you like it?”

Aku terkikik kecil sembari menggelengkan kepala. Pria ini tetap terlihat memesona dengan style-nya yang baru. “Every girl still keeps their eye on you.” Aku menaik-turunkan alisku sebagai isyarat agar dia memerhatikan sekelilingnya.

Kris menundukkan kepalanya sembari tersenyum kecil untuk menanggapi pendapatku. Dia tetap acuh pada perhatian para gadis yang tertuju kepadanya. “And every girl means you in it.

Aku mengangkat bahu dan memasang tampang tak peduli untuk mencandainya. Bagaimana pun kuakui pria ini memang memiliki daya tarik. “Aww…” mengeram, aku mengelus pipiku yang dicubit oleh Kris.

Tsk, just admit that you’re captivated by my charm.”

Aku tertawa renyah sambil menutup mulutku. “I wish, I’m single now so I can flirt with you .” Seketika kuperhatikan Kris yang menghentikan suapannya dan memandangku. “Hey, I’m just kidding,” seruku untuk membuyarkannya.

But, I hope so.”

Rasa geliku terhenti saat itu juga. “What—“ getaran ponselku memotong ucapanku sebelum bertanya lanjut. Aku memandang layar iphone-ku sejenak untuk mengenali id caller yang belum tersimpan di kontakku.

Hello.”

I need to talk to you privately. Palm Beach restaurant at 2 p.m.” Suara feminis menjawab sapaanku dengan tidak bersahabat.

Who’s speaking?”

You’ll know it, later.” Setelahnya panggilan terputus.

Aku menurunkan ponselku dari telinga dan memandangi layarnya untuk beberapa saat. Mungkinkah dia? Jika benar, maka apa yang ingin dia sampaikan padaku secara pribadi? Meski dia terlibat perang dingin dengan Hyun, namun tidak ada sangkut pahutnya denganku.

Something gone wrong?” Kris menarik kesadaranku dari lamunan singkatku.

Oh, none!” Aku menarik bibirku mendatar hingga membuat senyum hambar.

Ah, I have to go to NTU tomorrow. And I wish you’ll come with me.”

Why should I?”

You’ll regret if if you refuse my offer.”

Aku terkikik dengan ekspresi Kris ketika menekankan betapa penting penawarannya. “Ok, just drop the time.”

***

Aku berjalan menyusuri pinggiran trotoar di dekat Merlion Park yang menjadi tempat menyenangkan untuk berkumpul bersama keluarga, kekasih maupun teman. Di sisi bersebrangan, terdapat restoran terbuka dengan kanopi-kanopi yang memayunginya. Berjalan lebih jauh, akhirnya kutemukan tulisan ‘Palm Beach’ yang tergantung.

Kusapukan pandanganku pada areal restoran. Mataku memicing untuk memerhatikan seorang perempuan dengan sun glasses dan dress berwarna turquoise. Aku meniupkan udara dari tampuan di pipi karena tebakanku benar. Yes, she is Seo Joo Hyun.

Aku menarik kursi di depan Seohyun agar menimbulkan deritan untuk menarik perhatiannya. “Good afternoon,” sapaku.

Seohyun tersenyum kecil, kemudian melepas kaca matanya. Beberapa helai rambutnya yang tertiup-tiup angin menambah kesan sempurna pada refleksi wajah ayunya. Tidak heran jika Hyun jatuh cinta pada gadis ini. Aku mengulum bibirku atas pemikiran yang membuat dadaku berdesir.

Tsk, bagaimana bisa Kyuhyun Oppa jatuh hati pada gadis asing sepertimu?” celoteh Seohyun, yang meskipun lirih namun tetap dapat kutangkap dengan jelas. Dia menatap selidik padaku, “Gadis yang bahkan tidak mengenali budaya tanah kelahirannya.” Sengaja atau tidak, Seohyun meneruskan celotehannya dalam bahasa Korea.

I’m fluent in Korean too, Miss Seo.” Kutegaskan ucapanku agar dia tahu bahwa aku mengerti ucapan-ucapan pedasnya dalam hangul.

Ow,” Seohyun membulatkan bibirnya dan menatapku dengan jijik, seolah aku adalah suatu hama. “Bagaimana bisa seorang sepertimu mengklaim diri sebagai seorang Korean?”

Pardon?”

“Dengan mata biru dan aksen barat, siapa yang akan menyangka jika kau seorang yang berdarah Korea, huh?”

Aku menarik nafas berat dan mengepalkan tanganku yang berada di meja untuk menahan diri atas segala cemooh Seohyun mengenaiku. Fine. Aku memang gadis keturunan Korea dengan mata biru yang tidak mengenal budaya tanah kelahiranku sendiri. “Could you just bring your issue to me and stop your non sense words?” Kutatap Seohyun dengan tidak bersahabat.

“Lihat…lihat, siapa yang mengatakan dirinya fasih hangul?” sindir Seohyun ketika aku masih menggunakan English.

Drop your issue, Miss Seo.” Aku melambatkan pelafalanku dan menekan meja dengan telunjukku.

Seohyun memundurkan badannya dan bersedekap. “Tinggalkan Cho Kyuhyun,” jawabnya mantap sambil menatapku tegas.

Aku mengerjap beberapa kali dan menjatuhkan rahangku, tak percaya. “Untuk alasan apa aku harus menurutimu?”

Seringaian terbentuk di bibir Seohyun untuk mengejek pernyataanku. “Sederhana saja, Nona Lee. Keberadaanmu hanya membawa bertubi masalah kepadanya.”

Memejamkan mata sejenak, aku mencoba mengenyahkan rasa panas di dadaku. Kelebat kejadian di flyover menghantarkan getaran di tubuhku. “Apakah masalah akan hilang seiring aku meninggalkannya?” serangku balik.

Cish, tidakkah kau berpikir bahwa kau dan Grup Xian adalah permasalahannya!” Seohyun mencondongkan tubuhnya padaku dan hampir-hampir mengebrak meja. “Sia-sia Kyuhyun Oppa mengakusisi grup yang hampir bangkrut. Di tengah krisis ekonomi ini, akusisi hanya akan membawa kerugian untuk Vichou.”

Telingaku terasa panas dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut Seohyun. Ekonomi dan bisnis memang bukan bidangku, sehingga pengetahuanku terhadap kedua hal tersebut sangat minim. “It’s Kyuhyun’s business, not mine nor yours.”

Seohyun mengatupkan rahangnya kuat-kuat dan memandangku tajam. “Kau tidak tahu siapa yang kau lawan, Nona Lee.”

“Aku tidak pernah menempatkan diriku dalam duel, Nona Seo.” Kubalas tatapan tajamnya dengan serupa. “Jika aku dan Grup Xian adalah sumber masalah bagi Kyuhyun, maka kau perlu menilik lagi siapa yang membuatnya didera skandal dan membuatnya harus bekerja ekstra menangani kecurangan pemasaran produk Vichou,” sarkasmeku.

Wajah Seohyun memerah dengan ucapanku padanya. Tangannya mengambil gelas berisi air putih untuk disiramkan padaku. Tapi dengan cepat kuraih gelas tersebut dan kutekankan ke meja dengan keras hingga air di dalamnya membasahi tangan kami berdua. “What a cliché, but nice try, Miss Seo,” ledekku. Kumundurkan kursiku begitu selesai dengan ucapanku. Langkahku tertahan, namun badanku tidak membalik untuk menghadap Seohyun saat kudengar tawanya.

“Lalu kau pikir Kyuhyun Oppa melamarmu karena dia mencintaimu? Aku bahkan meragukan segala hal mengenai hubungan kalian.”

Aku mengepalkan tanganku, kemudian berbalik cepat. “You get under my skin, Miss Seo!”

***

Ketukan di pintu kamarku menyantakkan kesadaranku ke alam nyata. Aku menepuk keningku pelan ketika sadar bahwa aku terpengaruh dengan ucapan Seohyun tadi sore. Melihat layar ultrabook-ku yang menghitam pertanda dalam mode sleep, hampir-hampir aku tidak ingat berapa lama aku melamun.

Hi.” Kepala Hyun menyembul dari balik pintu, sebelum aku menyilakannya masuk. “May I come in?”

Aku memutar bola mataku. “You just came in.” Lelaki ini benar-benar tidak tahu bagaimana meminta izin.

Hyun meringis dengan sindiranku. Dia melenggang masuk ke kamarku, kemudian menghempaskan dirinya di ranjangku. Raut lelahnya tergambar jelas di wajah saat dia memejamkan mata. Hyun bahkan masih memakai kemeja kerjanya dengan lengan yang tergulung hingga siku. Sore ini setelah menjemputku, dia ikut makan malam bersama keluargaku. Dan jangan tanyakan apa yang dia kerjakan setelahnya! Overworking with my lovely brother.

You were completely spaced out, today.”

Ugh?” Aku melirik ke arahnya.

Does something bother you?” Hyun melipat kedua tangannya dan meletakkannya sebagai bantalan kepala.

Aku memutar kursi belajarku hingga berhadapan dengan Hyun dan pandangan kami bertemu. Mengulum bibirku, aku sejenak bimbang untuk menyuarakan ganjalan hatiku. Tidak mungkin kukatakan dengan terus terang bahwa sore ini aku bertemu Seohyun.

Hyun bangun dari posisi berbaring, kemudian menarik pergelangan tanganku hingga kursi berodaku meluncur ke arahnya. Dia menatap lurus ke arahku. “You can share anything, Sweetie.” Menyelipkan helaian anak-anak rambutku ke belakang telinga, tindakan Hyun selalu berhasil membuat jantungku berdetak berlebihan.

Ini pertama kalinya aku mendengar sapaan manis dari Hyun untukku. Sikap dan ucapannya padaku memberikan dorongan terhadapku untuk mengetahui esensi hubungan kami di matanya. “What are we?”

Kerutan terbentuk secara kentara di antara dua alis tebal Hyun. Dia mengatupkan rahangnya dan memandangku dengan gamang. “What do you mean with that question?”

You know exactly what I mean, Hyun.”

Hyun menarik tubuhnya ke belakang untuk memberi jarak di antara kami. Dia terlihat ingin menghindari topik yang aku utarakan. Melipat tangannya di depan dada, Hyun terlihat berpikir. “Adelynn, I thought we know—“

No, I don’t,” potongku cepat. Kami memang bertunangan, namun ikatan tersebut ibarat suatu simbiosis mutualisme. Aku menerimanya sebagai ungkapan terima kasih atas akusisinya dan dia juga mengambil keuntungan dari hubungan ini. Namun belakangan, dia menunjukkan emosinya, kekhawatirannya, dan perhatiannya padaku. Dan aku tidak tahu bagaimana harus menerimanya. “Answer me, Hyun.”

Hyun mengurai tangannya, kemudian mendesah panjang. “It’s late night, we will discuss it tomorrow.” Dia menumpu tangannya untuk bangun.

Bingo! Hyun benar-benar menghindari pembicaran ini. “It’s simply to answer, isn’t it?”

I’ll give my answer whenever I have it.” Mencodongkan tubuhnya, Hyun mengusap puncak kepalaku. Dia berniat memberikan sekedar kecupan selamat tinggal, namun dengan segera aku berpaling.

Kesangsiannya untuk menjawab pertanyaan sederhanaku meyakinkanku bahwa pertunangan kami hanya sebatas hubungan saling menguntungkan. Tidakkah ini terlalu menyakitkan? Kurasakan usapannya di pipiku.

Good night, Sweetie.”

Aku berjalan mendekat ke arah jendela ketika mendengar suara derum mobil. Sebuah Lamborghini Aventador perlahan memacu kecepatannya untuk keluar dari halaman rumahku. Hyun meminta mobilnya yang berada di Korea untuk dikirim ke Singapore karena Ford-nya benar-benar tak berbentuk.

***

Aku menyenggolkan bahuku pada Kris saat kami berjalan beriringan untuk sekedar menggodanya. Kumiringkan tubuhku untuk menatapnya. “Cish, don’t say that you didn’t affect by Annabelle. She’s really nice.” Senyumku melebar ketika melihat wajah kesal Kris. Gadis yang kusebutkan adalah mahasiswa NTU yang bekerja sama dengan kami.

I’m here to finish our working paper, not to flirt.” Kris menjitak pelan kepalaku.

Aish.” Kuikuti langkah lebarnya untuk menyusuri koridor Department of Chemistry milik NTU. Takut-takut aku tertinggal dan tersesat karena tidak menghafal lika-liku gedung ini.

Let’s go. I have another schedule too meet Professor Jang.” Kris mengangsurkan helm padaku. Kuraih bahu Kris untuk membantuku naik Ducati-nya yang cukup tinggi. “Ya!” Aku memekik ketika kedua tanganku ditarik oleh Kris untuk melingkar di pinggangnya.

Wangi maskulin Kris menyeruak dalam penciumanku seiring kedekatan kami. Harum yang berbeda, namun mampu mengingatkanku pada Hyun. Ekspresi dan kebimbangannya tadi malam menggangguku seharian ini. Aku memejamkan mata dan tanpa sengaja memeluk Kris lebih erat.

Aku dan Hyun. Kami bukan pasangan seperti kebanyakan. Ikatan kami hanya didasari karena bisnis. Hyun pernah mengatakannya dengan jelas. Bodohnya aku yang masih menanyakannya.

Aku menumpu daguku pada punggung Kris ketika mataku memanas. Paru-paruku seketika merasa sesak tanpa akibat fisik. Dadaku memanas hanya dengan mengingat momen-momenku dengan Hyun. Dia hanya memanfaatkanku…

Kubuka mataku dengan tiba-tiba saat merasakan Kris mengerem dengan mendadak. Aku memiringkan badanku untuk melihat sebab yang menjadikan perjalanan kami terganggu. Membulatkan mata, aku sangat hafal nomor kendaraan yang menghalangi kami. Lagipula, hanya segelintir orang yang mengemudikan mobil mewah tersebut.

Perawakan yang sudah sangat familiar keluar dari mobil dan menghampiri kami dengan ekspresi marahnya. My handsome fiancé, Kyuhyun Cho. What a coincidence. Kedua tangan Hyun melingkar di tubuhku dan menarikku dengan paksa untuk turun dari motor Kris.

Put the helmet off.”

“Hyun!” Aku memberontak saat dia dengan semena-mena melepaskan kaitan helm yang kukenakan.

Hyun dengan kasar menganjurkan helm tersebut pada Kris. Dia menarik pergelangan tanganku dan menyeretku ke arah mobilnya.

Let go of me.” Aku memutar pergelangan tanganku agar terlepas. Namun tindakanku berakhir sia-sia dan hanya membuat kulitku perih.

Hyun membukakan pintu di sisi penumpang. Dia menekan lenganku untuk menyuruhku masuk, namun tindakannya terhenti ketika Kris berada di depan kami.

She came with me!” tegas Kris.

Get in to the car, Lynn.”

Aku bergeming di tempatku dan mengabaikan perintah Hyun. Memandang raut marah dari kedua lelaki ini membuatku bergidik.

Get in to the car, Adelynn.” Tegas Hyun dengan melambatkan setiap syllable-nya sambil menatapku galak.

“Kris—“ aku menatapnya, “—see you.” Tidak ingin menempatkannya dalam masalah, aku menuruti perintah Hyun.

No! Lynn!” Kris menahan bahu, namun segera ditepis oleh Hyun.

I can handle this. It’s ok,” yakinku pada Kris sebelum masuk ke dalam mobil Hyun.

***

“Hyun, let me go!” aku menarik tanganku. Kuusap pergelangan tanganku yang pedih dan memerah karena tindakan Hyun. Dia bertindak kalap tanpa sebab yang kuketahui. “What’s wrong with you?”

Hyun mengacak rambutnya dengan frustasi. “What’s wrong with me?!” teriaknya sembari menunjuk dirinya sendiri. “I should ask that question to you!” Dia mengacungkan telunjuknya padaku.

As far as I know, I didn’t do anything wrong.”

Menarik kasar lenganku, Hyun menatapku garang. Dia menyeringai untuk melecehkan perkataanku. “Cheating me with another guy and you said didn’t do anything wrong?!”

Aku memejamkan mata ketika Hyun berteriak tepat di wajahku. “Cheating?” remehku pada pernyataannya. Bagaimana Hyun bisa berkata bahwa aku menyelingkuhinya, padahal dia sendiri ragu dengan hubungan kami? Sungguh lucu. “I’m nothing to you, so—“

Kalimatku terpotong ketika dengan cepat Hyun memagut bibirku. Melumat bibirku dengan kasar, kedua tangannya menangkup wajahku. Dia terus berusaha menjamah bibirku tanpa peduli dengan pemberontakanku.

Aku memukul-mukul dadanya dan mencoba terbebas dari belenggunya. Kudorong Hyun sekuat mungkin. Ketika dirinya membebaskanku, tanganku secara refleks menampar pipinya. Bekas kemerahan tercetak jelas di pipi putihnya.

Berbalik sesegera mungkin ketika mataku memanas, aku mempercepat langkahku untuk keluar dari kondominium Hyun. Kuusap pipiku dengan telapak tangan saat merasakannya basah. Tanganku terulur untuk menarik kenop pintu, namun kepalaku segera tertoleh ketika mendengar bunyi bedebam cukup keras.

“Hyun?” Aku kembali melangkah masuk dengan pelan untuk memastikan keadaan Hyun. Tidak ada jawaban, hatiku merasa risau. “Hyun!” Kembali ke ruang tengah, aku menemukannya tergeletak di lantai.

“Hyun…” rintihku seraya mengangkat kepalanya dan menaruhnya di pangkuanku. Kutepuk-tepuk pipinya untuk menyadarkan. “Please, wake up,” tangisku pecah ketika melihat wajah pucatnya. Dengan tangan bergetar aku merogoh ponselku, kutekan nomor panggilan darurat untuk meminta ambulan.

“Hyun, please…”

***

Menggenggam jemarinya yang dingin, aku membawanya ke pipiku. Peralatan medis yang terpasang di tubuh Hyun bukannya membuatku tenang, namun malah bertambah khawatir. Bunyi diskrit yang teratur dari kardiograf merupakan alunan yang kuharap tidak terhenti.

Kucium punggung jemarinya dan kuusap sisi pipi Hyun yang tidak tertutup masker oksigen. Tubuhnya tergolek tak berdaya, memberikan pemandangan menyakitkan bagiku. Aku menoleh saat seorang menepuk pundakku.

Miss Adelynn, doctor Lim wanna see Mr. Cho’s family.” Chen berdiri di sisiku.

***

Glad to see you, soon-to-be-Mrs. Cho,” doctor Lim menyalamiku sembari bercanda, padahal aku belum bisa meredakan kegelisahanku. Dia mempersilakanku duduk.

His overwork sends so many burdens towards his body. And his illness—“ dr. Lim mengulum bibir atasnya, “—made it worst.” Pria paruh baya tersebut mengusap dagunya. “This boy is really something.” Dia menggeleng-geleng pelan.

Aku mengeratkan jalinan jemariku. Tidak siap menerima hal terburuk, jantungku terus berdebar. “And what’s the solution?”

Memandangku dengan ragu, dr. Lim mengetuk-ngetuk jemarinya di meja. “I have told him the solution, Miss. But, Mr. Cho rejected it. I hope you can asure him to take an operation. His medical report wasn’t good. And his condition gets worse day by day.”

***

Aku bertumpu pada dinding koridor rumah sakit ketika kepalaku terasa pening. Perkataan terakhir dr. Lim menggema di ingatanku. His condition gets worse day by day. Aku siap terjungkal ketika kepalaku terasa berputar dan air mataku membuat penglihatanku kabur.

Miss Adelynn.” Sebuah tangan menopangku agar tidak terjatuh. Dia menuntunku untuk duduk di bangku terdekat.

Why couldn’t he take an operation?” Aku meloloskan kata tanya sebagai bentuk ketidakpercayaan dan membiarkan tanyaku mengambang tanpa jawaban.

Chen yang duduk di sampingku berdeham. “He have un-finished business.”

But his health is more important than that damn business!” Aku mengepalkan tanganku dan memukul pelan pahaku.

Mr. Cho has his consideration, Miss. Dia tidak berani mengambil resiko kegagalan operasi. Jika operasi membawanya pada kematian, maka tidak akan menjadi hal besar baginya. Ketakutannya adalah ketika operasi membuatnya cacat dan menjadi tidak berguna. Oleh karena itu, Mr. Cho ingin merampungkan urusannya sebelum melakukan operasi.”

Menoleh memandang Chen, aku tidak menyangka dia mengerti detail tersebut. “How did you know?”

Chen seolah tersadar dengan keherananku hingga membuatnya salah tingkah. Dia menganggukkan kepalanya. “I’m sorry, Miss. I shouldn’t tell you.”

No, it’s ok.” Walaupun aku tidak mendengarnya secara langsung dari mulut Hyun, namun penjelasan tersebut cukup mewakili. Lagipula, aku ragu Hyun akan menjawabku jika aku menanyakan padanya.

What I can do now is to help him finish his business so he can take the operation, soon.”

Aku mengangguk untuk berterima kasih pada Chen atas kerja kerasnya. “Thank you so much, Mr. Chen.”

No need, Miss. Though, I owe him a lot.” Chen berdiri dan membungkuk padaku. “Take care yourself, Miss. And please, take care of him, too.”

***

Aku kembali ke ruang inap Hyun dengan gontai. Ingin kutarik bibirku membentuk senyum ketika melihatnya sudah membuka mata. Namun konten perbincanganku baik dengan dr. Lim maupun Chen menahan senyumku untuk melebar. Aku berjalan mendekati ranjangnya saat senyumnya menyapaku.

Hyun membuka selimutnya dan merentangkan tangan kanannya ke samping. “Come and lay down, here.

Bergeming di tempatku, aku menimbang tawarannya. “Why should I?” Egoku masih mendominasi segala tindakanku.

Please, Adelynn.” Tangan kanan Hyun meraih jemariku dan menyentakkannya dengan lembut.

Aku menunduk dan memperhatikan jalinan jemari kami. Mataku memanas dan siap mencuatkan emosiku yang terbendung. Aku melepas flat shoes yang kupakai, kemudian merayap ke sisi Hyun. Dengan segera kusurukkan wajahku ke dadanya agar dia tidak melihat air mataku. Terdengar tawa ringan Hyun untuk menertawakan sikap merajukku, namun aku sedang tidak memiliki rasa humor. Kueratkan cengkeraman tanganku di piyamanya untuk menunjukkan bahwa aku sedang tidak ingin bercanda.

Aku merasakan hangat selimut melapisi tubuhku dan usapan kontinu Hyun di punggungku. Tangannya di punggungku beralih mengelus kepala dan sebelah tangannya lagi menarik daguku. Tindakan yang membuat wajahku kini berhadapan langsung dengan wajahnya.

Why on earth did this pretty face turn so horrible?” ejek Hyun sambil mengusap air mataku. Dia seperti seorang ayah yang sedang menenangkan putri kecilnya. Merasa malu dengan wajahku yang pastinya memerah sempurna, aku menunduk, namun dengan tangkas Hyun menahannya. “But the pretty one always looks pretty, no matter what her state,” Hyun mengucapkannya dengan tanpa ekspresi seolah kalimatnya adalah hal wajar.

Kalimat dan ekspresinya membuat aliran air mataku bertambah deras. Aku menutup kelopak mataku ketika wajah Hyun merangsek maju. Sentuhan lembut bibirnya kurasakan di kedua kelopak mataku secara bergantian. Setelahnya, perlahan aku membuka mataku.

What should I do to stop you from tearing, hum?” Jemari Hyun masih bergerak secara horizontal di pipiku untuk menghapus air mata.

Aku menggeleng cepat. Bukan karena tidak mengetahui jawabannya, namun karena tidak mengerti bagaimana menyampaikan jawabanku. Melintangkan tanganku melalui perutnya, aku membenahi letak kepalaku di dadanya.

If it’s about my roughly act, I’m sorry. I really am, My Dear.” Aku memang tidak bisa melihat raut wajahnya, namun dari nada bicaranya aku tahu Hyun sangat menyesali tindakan kasarnya.

Emm,” Aku kembali menggeleng ketika kerongkonganku tersumbat air mata sehingga tak bisa mengartikulsikan suatu kata pun. Takut-takut jika aku melakukannya, air mataku bertambah deras.

I was so jealous back then.”

Jealous?” aku mengangkat pandanganku dengan tiadk percaya. Hyun cemburu dengan…Kris? Mulutku akan membuka untuk menanyakan lebih lanjut, tetapi Hyun menaruh telunjuknya di bibirku untuk menghentikannya.

Ok, wait for second. I have to call someone.”

Aku menunggu Hyun sembari menenangkan hatiku. Kusesap wangi maskulinnya yang tercampur dengan bau khas medis. Mendengar detak konstan jantungnya membuatku lebih rileks.

Hyung, Lynn will be stay with me tonight. Don’t worry about her. I’ll send her home tomorrow.

Mendengar percakapannya, aku menjadi tahu siapa yang berada di seberang jaringan Hyun. Jika bukan dalam kondisi seperti ini, maka aku akan membantah langsung permintaan Hyun. Siapa yang setuju untuk menginap di sini bersamanya? Dia mengakhiri panggilan dan meletakkan ponselnya di meja kecil samping ranjang.

What are we?” ulang Hyun pada pertanyaanku saat itu.

Aku merasakan helaan nafasnya yang panjang ketika dadanya bergerak naik. Sepertinya tanpa aku menuju pokok pembicaraan, Hyun telah memulainya. Selama ini, dia memang selalu bisa menebak warna hatiku.

Then what do you think about us?” Hyun memundurkan kepalanya, sedangkan aku mendongakkan kepalaku untuk menatapnya. Dia seperti seorang profesor yang sedang memberikan umpan balik pada pertanyaan mahasiswanya.

I dunno either,” suaraku terdengar parau.

Hyun memutar matanya ke atas dan berekspresi seolah dia sedang berpikir keras. “Eum…let’s say that we are engaged.”

Yes, we did.” Aku ingin jawaban lebih dari sekedar kalimat tersebut. Pertunangan kami semula adalah sebuah gratitude atas akusisinya, sekaligus rasa peduliku untuk menolongnya memecahkan hubungan rumitnya dengan Seohyun. Namun seiring waktu yang kami habiskan bersama, aku ingin dia memaknai setiap interaksi kami. Apakah prinsip kebersamaan ini masih sama ataukah…

Did you enjoy the time we spent together?”

Ugh?” Aku kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan tak terduga Hyun.

Ah, I thought you did. But of course, exclude that kidnapping case and the accident in flyover,” Hyun terkekeh kecil dan membuatku ikut tersenyum bersamanya.

Yes, I did,” tekanku dengan nada rendah. Dari posisiku, aku bisa melihat garis rahangnya, jakunnya, dan hidung mancungnya yang menjulang tinggi. Tepukan halusnya di pundakku dan perubahan ekspresinya menjadi kaku membuatku mengerutkan kening.

Do you consider this engagement as the fake one, Lynn?” Jemari Hyun menaikkan daguku hingga wajah kami kembali bertemu. “Hemm?” gumamnya ketika aku hanya terdiam.

I just consider it as a business matter like you said.” Sungguh aku tidak mengerti bagaimana kalimat ini meluncur dari mulutku. Masih segar dalam ingatanku bagaimana Hyun mengatakan statement tersebut dengan raut dan nada dingin. Selanjutnya yang kurasakan adalah permukaan lembut bibir Hyun menyapu bibirku. Memberikan sebuah ciuman singkat.

I’m sorry for that too, My Dear.” Mata coklatnya mengunciku. “I didn’t mean it.” Jemarinya menyusup dalam helai rambutku. “Andai kau tahu…” kalimatnya menggantung.

Try me then.”

Do you remember the first time we met?” Aku masih belum bisa menangkap ke mana arah pembicaraan Hyun. “It’s a lovely coincidence for me,” Dia mengukir senyum di bibirnya. Senyum yang membuatku lebih dalam mengaguminya. “These blue eyes trapped me in their beauty.” Hyun menyapukan telunjuknya di bawah mataku dan membuat pipiku memanas. “And because of this, I have desire to start my live on.”

Jantungku berdetak tak karuan dengan pengakuan tak terduga Hyun. Pria ini terlalu unpredictable. Ini pertama kalinya dia membagi perasaannya padaku.

But the realistic stopped me.” Ada nada sedih dalam kalimat Hyun.

“…your illness?” aku menelan tanyaku dengan pahit. Tentu saja salah satu alasan Hyun untuk tidak memiliki hasrat dalam hidupnya adalah penyakit yang diderita.

Hyun memberikanku senyum datar sebagai penekanan bahwa pertanyaanku adalah retoris. “But still, I couldn’t stand to track about you.” Pernyataannya membuat bibirku yang kini tertarik datar. “That’s how I know Xian Group more.”

“Kau mengetahui permasalahan dalam grup Xian karena menelusuri latar belakangku?” Aku mempertegas penjelasannya.

Hyun mengangguk. “And the problems start there. I proposed you in purposed.”

Aku mengigit bibir bawahku ketika ingatanku membawaku ke masa lalu. Saat ketika Hyun mengajukan lamaran pada keluargaku hingga akhirnya aku mengetahui tujuannya melamarku. It’s a bittersweet for me.

Vichou face so many problems; krisis ekonomi Asia yang melemahkan pasar, korupsi, pengkhianatan orang dalam—“

“Pengkhianatan?”

“Aku masih berusaha mengumpulkan dan mencari bukti akan hal tersebut. Kasus penculikanmu dan kecelakaan di flyover, kuduga sebagai perbuatan mereka—“

“Mereka?”

Hyun malah terkekeh dengan pertanyaanku, kemudian menjawil hidungku. “You keep cutting my words with that expression.

Mencebikkan bibirku, aku memukul dada Hyun ringan. Aku tidak tahan dengan penjelasan bertele-tele Hyun. Dia masih berbicara sekitar bisnis dan aku belum menemukan jawabanku atas kejelasan hubungan kami.

As I said before, My Dear, I’m still not sure about who are they.” Hyun mengusap pipiku. Sentuhan-sentuhannya kepadaku membuatku bertambah nyaman untuk berada di dekatnya. “Kami, aku dan Aiden, masih menelusuri kejanggalan di Vichou Singapore. Setidaknya hal ini adalah langkah awalku untuk menguak kebusukkan orang-orang dalam. Aku pikir, tadinya masalah berakar di Vichou pusat. Namun kecelakaanmu membuatku berpikir kemungkinan yang lain.”

Aku mengerutkan keningku dan memasang wajah bingung. Apa hubungan kecelakaanku dengan dugaan awal Hyun bahwa mungkin permasalahan terjadi di kantor Vichou Singapore?

“Kami sama sekali belum menemukan bukti keterkaitan orang pusat dengan kecelakaanmu. Di samping itu, belum kutemukan adanya aliran dana mencurigakan yang masuk ke orang-orang di cabang Singapore.”

How did you know? I mean, maybe they used another account.”

“Lynn, suatu konspirasi dalam perusahaan tidak terjadi hanya antara satu atau dua orang. Mereka membutuhkan suatu jaringan agar konspirasi berjalan mulus—“

And you put your man on that network?”

Exactly!” Hyun mencubit pipiku gemas dan membuatku mencebik lagi.

Aku memutar otakku dan sebuah pemikiran muncul. “Don’t tell me you got the man who made us in accident work for you.

Perfectly smart!” Pujinya terhadap terkaanku. “Aku membiarkan orang tersebut untuk tetap menjaga posisinya sebagai bagian dari konspirasi. Dia menjadi mata-mataku terhadap gerakan mereka.”

Aku mengangguk mengerti. Rasa bersalah tiba-tiba hadir dalam batinku. Hyun menanggung begitu banyak beban dan aku masih bersikeras menuntutnya dengan hubungan kami. Tidakkah aku begitu egois?

And that’s all the reason why I have a thought to stay away from you. Cause I’m afraid they gonna harm you.”

Kalimat Hyun memukul hatiku dengan keras. Aku tidak pernah tahu dia memikirkan diriku sedemikian rupa. Detik ini aku tahu kemana arah pembicaraanya. Dia mencoba memaparkan sebab-sebab sebelum menuju poin pentingnya.

And when you asked me ‘what are we’, I lost my word. I’m afraid to give a wrong answer and to jeopardize you even more. It’s hard for me to stay away from you, cause all I know, I need you.”

Aku menyurukkan kepalaku di lekuk leher Hyun untuk menyembunyikan air mataku yang meleleh. Mengapa dia tidak jujur sejak awal? And I want assure him that I do need him, too.

About our engagement, what I can say now is it’s the precious thing I have in my live.

Aku semakin mengeratkan pelukanku di pinggang Hyun. Keraguanku terjawab, meskipun masih ada hal-hal yang menurutku tidak bisa diutarakan secara gamblang. Namun semua penjelasannya cukup untuk membuatku mengerti. He need me and so do I.

Hyun mengangkat wajahku lagi dan membesut air mataku. “I’m not pleased to see these tears.

Aku mengontrol emosiku ketika mataku menyelami iris coklat tua Hyun. Tidak ingin membuatnya merasa terbebani lagi, aku sebisa mungkin menahan tangisku. Bahuku tersengal-sengal sebagai akibat tindakanku.

Menutup kelopaku, aku merasakan sentuhan lembut bibir Hyun lagi. Lumatannya kali ini tidak hanya membuat jantungku berdebar lebih kecang, namun di sisi lain juga menenangkanku. Ciumannya adalah bahasa tubuh untuk menyampaikan keputusasaannya, kasihnya, dan perhatiannya.

Aku mengangkat tanganku dan membelai pipi Hyun ketika dia memperdalam ciumannya. Kuusap pipinyanya dengan jemariku dan hatiku semakin remuk ketika mendapati pipinya juga basah.

Hyun yang selalu bertahan dengan kemampuannya, yang selalu berdiri di kedua kakinya, yang selalu tampil tegar untuk menenangkanku, kini luluh. Aku menerima sisi manusiawinya sebagai bagian dirinya yang tersembunyi.

Dorongan kebutuhan udara yang sangat crucial membuat kami mau tak mau melepaskan pagutan bibir kami. Kusapukan ujung jemariku pada pipinya, kemudian merambah bibirnya. “I’m sorry for acting so childish.”

Hyun mengambil jemariku, lalu mengecupnya. “You deserve my explanation. It’s ok.”

I will get scold by hospital staff for staying here.” Candaku untuk memecah situasi mengharu-biru kami.

Hyun tertawa atas candaanku. “Even so, I still insist you to stay here. And—“ dia memutar bola matanya, “—for compensation to get scolded, I’ll sing a lullaby. How about it?”

Deal.”

Hyun berdeham untuk membersihkan kerongkongannya. “I can show you the world, shining, simmering, splendid. Tell me princess—“

Yaa…That song is my 7 years old lullaby,” protesku ketika Hyun menyenandungkan ‘A whole new world’. Sebenarnya apa pun yang dia nyanyikan, aku tidak masalah karena suara bass-nya adalah favoritku. Aku hanya ingin mengerjainya saja.

Owh, ok…” Hyun terlihat berpikir. “Fly me to the moon and let me play among the stars—

Yaa…it’s my kindergarten song.” Kudengar tawa renyah Hyun atas godanya padaku.

I hung up the phone tonight. Something happened for the first time…”

Aku tersenyum saat Hyun menyanyikan ‘Crush’ milik David Archuleta. Meskipun lagu ini bagus, namun nada cerianya sedikit tidak pas untuk sebuah pengantar tidur.

“…am I crazy or falling in love—“

Crazy,” jawabku pada bagian reff lagu yang dinyanyikan Hyun.

Ya!”

Aku tergelak dengan wajah kesalnya saat nyanyiannya kupotong dengan semena-mena. “Hya, Hyun…stop it!” Berteriak sembari menggeliat, aku menghindar dari usaha Hyun untuk menggelitikku. “Ok…ok…I’ll listen.”

Hyun mengeratkan pelukannya. “Hey baby, when we are together doing things that we love. Every time you’re near I feel like I’m in heaven feeling high. I don’t want to let go, girl. I just need you to know, girl…”

Aku membeku dan tercenung ketika Hyun melantunkan ‘No Promise’ milik Shayne Ward. Lagu ini adalah tentangnya…

I don’t wanna run away, baby, you’re the one I need tonight. No promises. Baby, now I need to hold you tight, I just wanna die in your arms here tonight…

Kudekap tubuhnya dengan erat seolah tak rela untuk kehilangannya. Bait lagu tersebut terlalu dalam untuk menggambarkan keadaannyanya. Father, I don’t want to lose him. Please, keep him by my side. Please, I beg you…

Good night, My Dear. Have a sweet dream,” kurasakan kecupan di keningku sebelum Hyun melanjutkan nyanyiannya lagi.

***

Aku merasakan goncangan di sampingku. Kubuka mataku perlahan dengan malas dan kutemukan sisi tubuh Hyun. Aku mendongak untuk mengeceknya, namun keningku berkerut dengan ekspresi kakunya. Kuikuti arah pandangan Hyun dan tubuhku secara reflek terlonjak kecil.

“Apa yang kau lakukan di sini, Seo-ya?” Sapaan Hyun menyadarkan bahwa mataku tidak terkelabuhi dengan sosok Seohyun yang berdiri di depan ranjang dengan mulut terbuka.

It’s not good

 

TBC*

NTU                                                    : Nanyang Technological University

Get under (somebody) skin      : berlaku mengganggu/ menjengkelkan bagi seseorang

Note:

Bonus Pic:

Adorable Tiffany Hwang as Adelynn Lee

tumblr_mkoihmdAQf1r8u7pfo1_500

 The CEO’s and Tiffany Hwang:

tumblr_lmmw3xJvcP1qeb1ao

 

Wish you enjoying the Adelynn’s thought. Aku hanya ingin menampilkan sisi feminisnya sebagai gadis yang menginginkan kejelasan hubungannya.

Aku tidak menyukai fiksu sad-ending, jadi karyaku akan kuusahakan happy-ending.

Wish me luck for thesis proposal examination.

Bye and bow (^^)/

I need and highly appreciate your review. Thanks a lot.

220 thoughts on “A Lovely Coincidence [Shot: 8]

  1. sparkyukyu says:

    kyu-lyn makin lengket aja. Suka dengan setiap momen yang mereka lalui meski di tengah keadaan kyu yang lagi drop…
    Trus seo ngapain coba pake muncul pagi2?

  2. Shatia says:

    Kyu makin romantis dengan caranya sendiri, dan ku suka, bikin cewek kelepek-kelepek..
    Akhirnya Kyu jujur juga sama perasaannya ke Lynn, meskipun dengan kata-kata yang muter-muter dulu gak langsung ke intinya..
    Makin gak suka ajah niy sama si Seo..

  3. chenphy says:

    “Your handsome fiancé?” hey,,bukannya hyun sering blg ini dl sama hwa brt bnr dong udah bs nunjukin dia itu gmn.. hihiihihihihiii..

    ikh.. ngapain itu soe dtg lagi sie?? semakin seru ikh,,maaf ya klo coment lngsung brp part hbs itu ilang kmn cuz klo ada wkt aku mampir keblog ini..
    manis ngt ky dark coklat.. sedikit pahit tp manis lbh mendominasi..

  4. Cici says:

    Sebenernya perasaan Kyuhyun ke Adelynn udah jelas dari awal, tapi tidak segamblang ini.
    Dan kenapa Seo harus datang sepagi itu? Terus darimana dia tau Kyu masuk rumah sakit??

  5. Yeeeyyeyeyee akhirnya mereka sudah tau perasaan masing masing kan🙂 romantis banget loh kyu disini aaaaa tapi kenapa pas akhir harus ada soo -.-plis happy ending ya hiks hiks. Keren.

  6. waaah part ini mengharu biru sedih banget °//(ㄒoㄒ)//° hiks hiks kyuuuu harus bisa bertahan babe.. ayoo eonni usahain happy end ya.. aku ga ♏äƱ liat kyu mati😥 syukurlah akhirnya Lynn †au gimana perasaan kyu yg sbnrnya dan ciyee mereka udh resmi donk ya *udah tunangan kalee -,- * eh tapi tapi itu seo joo hyun mau ngapain lagi dateng nemuin kyu? waah capcus ah ke next chapt ßȋȋ̊ǟƦ ga penasaran😀

  7. syalala says:

    spending night together like that is such a sweety night everrr! just imagined how was their position when they fell asleep at sofa huhuhuhu so sweet. ah kyuhyun showed his jealousy for the first time kkkkk it shows he really fall in love with here. ah there is another sweety moment at hospital! I love it sososo much. okey next chapterrrr

  8. Rania says:

    Part ini sukses bikin aku nangis,
    Padahal jaraaaaang banget nangis gegara baca ff,,
    Moment Kyu-Lynn makin intens, ,
    Kyu mulae frustasi sma penyakitnya..:(

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s