[Drabble] An Ending


tumblr_mg7jmm3yqX1qm94o5o1_500_large

Author: ‘lil sist | PG: All ages | Cast: Jocelyn Kim (own cast), Kris Wu

AN ENDING

“How about today?” sebuah suara berhasil membuyarkan lamunanku. Ku endikkan bahuku ringan sebagai balasan. Aku tau inference dari pertanyaan Gendis, oleh karena itu aku tidak ingin membahasnya. Bergegas kumasukan buku dan pensilcase ke dalam ransel. Kurapihkan kunciran rambut sebelum pergi meninggalkan kelas. Hampir 2 jam aku mengikuti kelas Linguistics, but I got nothing. Anganku terbang entah kemana sementara ragaku duduk manis termenung di kelas.

“I’m going to book store wanna come with me?” tawarku pada gadis keturunan Indonesia ini. Aku yakin dia tidak akan menolak ajakanku.

***

“Ups…I’m so sorry.”  pekik Gendis. Kini satu cup penuh mochaccino latte telah tumpah di t-shirt teenie weenie-nya.

“I bet you don’t have eyes.” gertak seorang gadis berambut blonde dengan sepasang amber eyes.

“What have happened here?” tanyaku untuk memecah keributan.

“Oh! She’s your friend rite?”’ tunjuk gadis itu pada Gendis. “Teach her how to walk properly.” ucapnya sengal.

“What happened?” aku dengar sebuah suara-yang cukup berat- tepat di belakangku. Tanganku mengepal menahan emosi yang mumuncah di dada.

“Kris…look what have this girl done to me. She bumped into me and now my mochaccino latte spilled out.” rajuk gadis itu.

“I’m sorry.” tangkasku, aku tidak mau membuat diriku terjebak dalam situasi ini. Kubungkukan badanku, sementara Gendis masih terpaku melihat seorang pria yang kini berdri dihadapannya. Untuk mempersingkat ‘kekacauan’ ini, segera kutarik tangan Gendis dan membawanya menjauh.

***

“ Jocelyn! Are you crazy?” omel Gendis sepanjang jalan. “He’s Kris.”

“I know.” jawabku singkat.

“What’s wrong with you? You should talk to him?”

“I have nothing to talk to.” Sejak awal, memang tidak ada komitmen diantara kami-aku dan Kris-. Tidak pernah ada janji yang terucap, yang menyatukan kita sebagai sepasang kekasih.

***

Kupandangi Canary flower yang bermekaran serta daun-daun yang mulai menghijau di sepanjang jalan pulang. Kutarik hoodie jaket yang aku kenakan hingga menutup kepala, meskipun ini spring tapi udara yang dingin dan sedikit basah sangat mampu membuat tubuh bergidik kedinginan.

Keengganan menelusup ketika aku melihat sebuah Range Rover putih sudah terpakir tepat di depan rumah. Kuputar langkahku cepat agar sang pemilik mobil tidak melihatku. Beberapa jam berikutnya aku lewati dengan duduk sendiri di taman tidak jauh dari rumah.

***

“Where are you come from?”

Aku tahu ini pasti akan terjadi, Woo Bin oppa would scold me. “Just walked around.” Kuberikan senyum terbaiku.

“Walked around? Until midnight?” intimidasinya. “Where is your hand phone? I’ve tried to call you for many times, but it ended up in vain.”

“Oh…my handphone went off.” Kuangkat hand phone ku setinggi wajah dan sedikit kugoyangkan.

“Kris was looking for you.”

“Jinjja?” berpura-pura aku terkejut, itulah yang aku lakukan sekarang.

“Call him as soon as possible.”

“Okay.”Aku menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahku di belakang punggung kemudian berjalan naik ke kamarku. “Good night, oppa.”

***

Kurapatkan cardigan pink-salmon saat aku keluar dari kelas Psycholinguistics. Kepalaku sedikit pening karena selama hampir dua jam otakku dijejali oleh teori-teori language acquisition. “I need to talk to you.” Sebuah tangan menarik lenganku dan memaksaku masuk ke sebuah Range Rover putih. Kugosok lenganku yang sedikit perih akibat cengkraman paksa Kris.  Mobil mulai melaju sementara diantara kami berdua masih terdiam. Egoku berkata bahwa bukan aku yang harus memulainya, jadi kuputuskan untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

“I came back from Canada since 4 days ago___”

Belum ada satu katapun yang aku utarakan.

“­­___during my 4 days in Korea I’ve tried to call you, but it seems you are avoided me. Even, I came to your house___”

“___and the girl that you met in book store is my cousin. I wish you don’t misunderstand us.”

“Do I need to know who is she? What do you wanna talk to?” sebuah kalimat akhirnya berhail aku sampaikan.

“I will back to Canada the day after tomorrow.”

“So, what should I do?”God, kenapa kalimat ini berhasil lolos dari mulutku begitu saja. Dalam hati kurutuki diriku yang dengan ceroboh mengeluarkan kalimat retorik semacam ini. Dengan ekor mataku kulihat Kris menoleh ke arahku dengan memberikan tatapan tajamnya.

“I think you aren’t ready to talk to me. I will drop you home.”

Sepanjang perjalanan yang tersisa hanya ada kebisuan yang melingkupi kami berdua. Dengan segala cara ku tahan air mata agar tidak jatuh. Berulang kali aku mencengkeram ujung cardiganku untuk menghapus keringat dingin di kedua telapak tanganku.

***

Kumasuki rumah yang masih sepi. Dengan gontai kunaiki tangga dan masuk ke kamar bercat ungu milikku. Segera kutelungkupkan badanku di bed. Aku rasa Woo Bin oppa belum pulang, jadi hari ini aku dapat menangis sepuasnya.

Kudapati diriku tertidur dengan masih mengenakan cardigan, t-shirt dan jeans yang aku pakai hari ini.

“Come down and eat your dinner.” Tiba-tiba saja oppa menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

“Em…”

“Are you okay? You look so messy?”

“Nan gwaenchana, oppa. I’ll take a bath first and then I will come down” Kuikat rambutku asal, sejurus kemudian kutarik tas yang tergeletak di lantai. Kuambil hand phone dan kuadapati ada beberapa beberapa pesan masuk.

From: Kris

I’ll to talk to you before going to airport. See you.

Kumelorotkan bahuku dan kuhembuskan nafas kasar. Another side of me say that I miss him, while another one say “I don’t care anymore”. I wish I know the ending of this tiring story.

***

Sudah kesekian kali aku keluar ke balcony tapi aku belum juga melihat tanda-tanda kedatangannya. Hari ini seharusnya menjadi hari keberangkatannya ke Canada.

Kugelembungkan pipiku dan kukeluarkan semua udara yang mengisinya, kugembungkan dan kukeluarkan lagi, begitulh seterusnya. Untung saja derit hand phone mamaksaku berhenti untuk melakukan kegiatan konyol ini. ‘Kris’, ID caller yang terpampang di screen hand phone ku.

“I’m waiting for you in the park near your house.” Tut. Kudengar sambungan telepon terputus. What the.. Even, I got no chance to speak.

Tergesa, kutarik parka jacket yang tersampir di punggung kursi. Satu langkah sebelum keluar kamar, keraguan tiba-tiba menyergap, I’m afraid of how my story ended. Butuh beberapa saat untuk mengumpulkan kembali keberanianku. “Jocelyn, brave yourself”.

***

Kudengar bunyi ayunan berdecit. Oh Gosh, ayunan itu terlalu mungil untuk pria setinggi 187 cm. Aku berjalan mendekat.

“Sit down.” pinta Kris sembari menunjuk ayunan disampingnya yang masih kosong. “I take the last flight.” Does he really know what I’m thinking about?.

“So, what should we end our story?”

“What do you mean by ‘our story’?”

“Happy ending or sad ending?”

“We never start our story, so we don’t need an ending.” Deklarasi singkatku sudah cukup menyampaikan apa yang aku inginkan sekarang. I hope this is a right decision.

Aku sudah cukup letih dengan semua keraguan akan hubungan yang telah kami jalin. Aku juga takut salah mengartikan rasa yang Kris tunjukkan selama ini. Dia dapat meninggalkanku begitu saja, jadi begitulah yang sebaiknya aku lakukan sekarang.

“I want a happy ending.” Tatapan mata kami bertemu ketika Kris menoleh ke arahku. Dengan cepat kualihkan pandanganku menuju obyek lain.

“Apa tujuanmu pulang ke Korea? To say goodbye? Csk, it’s too late. Seharusnya sudah sejak 6 bulan lalu kau mengatakannya.” Aku gigit bibir bawahku untuk meredam emosi yang menyeruak. Memoriku berputar kembali ke 6 bulan lalu saat Kris secara sepihak meninggalkanku-dan Korea-. Keputusannya untuk kembali ke Canada secara diam-diam dan tanpa ada proper farewell-lah yang membuat emosiku mencapai klimaks.

“Keputusan sepihakku pasti sangat melukaimu. I’m so sorry”

“I don’t need your apologize.” Aku bersiap untuk beranjak, semakin lama aku berada disisinya akan semakin membuatku meragu akan keputusanku.

“I have to handle my family company due to my dad’s illness.”

Aku terhenti untuk beberapa saat.”So, that’s your reason why you came back to Canada. I’m sorry, but it’s too late.” Kekalutan menguasai semua emosiku, sehingga aku tidak dapat menerima sebuah alasan pun.

“I said I want a happy ending.” tegas Kris dengan tone yang sedikit mengintimidasi.

“But I don’t believe in happy ending.” kupersiapkan langkah untuk pergi. Tetapi, sebelum aku sempat melangkahkan kaki lebih jauh, Kris menarikku dan membawaku ke rengkuhannya. Aku memberontak, ku tumpukan kedua telapak tanganku di dada Kris agar aku bisa terlepas dari pelukannya. “Let me go!”

“I said I want a happy ending.” tegasnya untuk yang kesekian kalinya.

“I’m tired. I wanna end it now.” Aku sudah tidak mampu lagi menahan emosiku. Kali ini kubiarkan diriku menangis di hadapan pria ini.

“I’m sorry for hurting you.” Dapat kurasakan Kris mencium puncak kepalaku.

“‘We are together doing things that we love. Every time you’re near I feel like I’m in heaven feeling high I don’t want to let go, girl. I just need you to know, girl. I don’t wanna run away, baby, you’re the one I need tonight.”

Isakanku semakin menjadi saat Kris membacakan 1 bait lyric dari lagu yang dulu sering kita nyanyikan bersama. Masih dalam posisi memelukku, Kris menepuk-nepuk pelan punggungku.

“If you asked what’s make me come back to Korea, so the reason is you. I need to settle down my heart before I could live peacefully in Canada___”

Kris sedikit memperlebar jarak diantara kami. “___so, Jocelyn Kim, would you mind to officially accept me as people who you can lean on and as your fiancé?”

Aku tidak tau harus berkata apa. I feel like there are thousand butterflies filling my stomach. Tapi sekali lagi dapat kurasakan keraguan dalam diriku. Satu menit, dua menit, empat menit kulewati dengan diam.  “Okay, I need time to think.”

“Pesawatku akan take off 2 jam lagi.”

Aku tarik nafas dalam-dalam. ” So, is it a proposal?”

“It can be…”

“Why don’t you bring me in candle light dinner, then. What kind of proposal is this.” ucapku dengan terbata. Kris tertawa ringan, sejurus kemudian dia mengacak rambutku.

“So, what’s your answer.” Dia menatap tepat di manik mataku. The more he gives me that kind of gaze, the more I have a difficulty to breathe.

Manik mataku bergerak tak tentu arah untuk menghindari tatapannya. “Emm____”

“___so do I, I want a happy ending, so my answer is………………….yes, I would”

Kali ini Kris benar-benar melepas pelukannya, dia mengeluarkan sebuah red box dari saku coat yang dikenakannya. Tidak lama kemudian sebuah cincin silver dengan blue diamond telah tersemat di jari manisku.

Kris melingkarkan tangannya di pinggangku. Hembusan nafasnya hangat menyapu wajahku saat dipertemukanya dahi kami berdua. Dengan jari telunjuk, dia sedikit mengangkat daguku. Jantungku berdetak hebat tatkala Kris mulai memberikan lumatannya. Secara naluriah, kukalungkan kedua tanganku di lehernya. Sementara sebelah tangannya mengusap pelan pipiku.

“I want you to believe in me tomorrow and beyond. And I cross my heart not to hurt you anymore.”

END

Glossarium:

Teenie weenie: salah satu clothing brand yang cukup terkenal di Korea

Amber: warna kuning kecoklatan

Canary: salah satu jenis bunga. Di Korea, Bunga Canary biasanya akan bermekaraan waktu spring

Cross one’s heart: berjanji

Whoever who have watched To The Beautiful You, School 2013, A Gentleman’s Dignity or maybe Running Man 138 must be familiar with him

large

30000190882_59_20121127101511

Yes yes yes, he’s Kim Woo Bin. Here, I made him as Jo’s oppa.

Mungkin kalian akan merasa plot yang aku buat terlalu cepat, karena memang sengaja aku buat cepat karena dari awal aku memang berencana cuma buat drabble sama mumpung lagi ada mood buat nulis, jadi nyoba-nyoba nulis lagi.

Bye and bow

37 thoughts on “[Drabble] An Ending

  1. entik says:

    Keren dari pertama aku bca ff di blog ini aku suka krna l
    kata2 seperti novel.
    Akhir yang bahgia.
    Aku kira yang jdi kak nya won bin aktor senior ternyata aku salah.
    ( orang ejaan nama nya aja udh beda )

  2. oh syukurlah happy ending🙂 aku kira bakal sad karna liat sikap Jocelyn yg ga ♏äƱ maafin kris.. simple but sweet😉 kris untunglah kamu dikasih maaf kalo ga kepulanganmu ke korea berakhir sia2.. aaah kenapa setiap baca drabble aku yg ngefly ya >< yaiks

  3. ria says:

    Q selalu suka ff2 neo chingu walaupun castny bkukan my baby kyu xixixixi…especially bahasa inggrisny q suka jadi q bisa sambil belajar nambah kosa kata bahasa inggris q yg pas2an hahahaha…

  4. Author aku suka semua FF disini walau tokoh, Setting tempat dan Waktunya dikorea Author lebih pilih make b. Inggris dari pada Korea !! Yah dgn keterbatasan b. Inggrisku yg sangat minim, aku agak gak ngerti dg beberapa kalimatnya, hehehe,😀 ! Tapi over all i like it .

  5. hey, author..🙂
    it’s been long time not visiting your blog..
    really good English, by the way..
    but I thought don’t mix up English and Indonesian in a paragraph..
    it’s a bit confusing..
    anyway, good story.. <– I like Kris the most
    nice simple crunchy stories always made my day..🙂
    I hope I'll find your other stories later..
    happy writing, Author..🙂

    • Hei, just call me tata or ‘lil sist. It sounds weird being called ‘author’🙂
      Oww thank you. If you mind, you cud correct my grammar or vocab if there are any mistakes.
      Emm..okay, next time I might use English only in conversation.
      So do I, Kris is my ultimate bias in EXO🙂

      Thanks awfully for your review🙂

  6. za says:

    Kak, spt biasa aku suka sma crtnya, alurnya bg aku g’brs cpt koq, feelnya dpt. Aku suka sama kata&gaya pnulisan kak. Kesan alur&karakter tokohnya g’mksa. Oh, y trkhr typo ya? “cross my heart ” (atau aku-nya yg g’ngrti kali ya)
    Kak, blh saran gak? kl blh&bs, tlsan yg berbhs Inggris di Italic, krn tulisannya kan bkn full bhs Inggrs. Tetap trs brkrya kak🙂

    • Gomawo ~
      Oh…cross my heart (and I hope to die) itu diucapin buat emphasizing sesuatu, bisa juga nunjukkin kalau apa yang kamu katain/ janiin itu bener-bener sincere/ ikhlas. Contohnya di lyric maroon 5 yang one more night “….and I cross my heart and I hope to die that I only stay with you one more night”
      Ya kurang lebih seperti itu.
      Di Italic? Okay, that’s a good idea. Terima kasih sarannya🙂

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s