[Two Shot] The Worst Tragedy: First Assault


the worst tragedy

The Worst Tragedy [First Assault]

By: Arsvio | Cast: Danish Lim, Siwon Choi, Donghae Lee| Rate: PG-15

“Terima kasih karena sudah bekerja keras hari ini.” Ketua koordinasi tim relawan kami, Kim Joon Myeon, memberikan salam perpisahan dengan membungkuk dan melambai pada beberapa rekan. “Your bodyguards are waiting, Danish-ssi.” Joon Myeon atau lebih akrab dipanggil Suho mengedikkan dagu ke arah luar sembari tersenyum kecil.

Aku memelorotkan bahu dan mendengus kecil begitu melihat sebuah BMW terpakir di halaman depan posko pengungsian korban pembombardiran Pulau Yeonpyeong, tempat di mana aku berada sekarang. Seorang berperawakan tegap lengkap dengan jas dan alat komunikasi yang terhubung di telinganya berdiri tepat di samping mobil. “I’ve to go now.” Aku mengangkat tas punggungku dengan malas. “Bye.”

Kuangkat tanganku untuk menolak ketika seorang bodyguard menawarkan untuk membawakan tas punggungku. Pintu tertutup sempurna begitu aku meletakkan pantatku dengan manis. Seiring mobil berjalan, aku bisa menangkap tatapan tanya dari beberapa orang pengungsi yang memergoki ‘proses penjemputan’-ku yang terlalu berlebihan.

“Kita akan tiba pukul 06.45, setelahnya Nona memiliki jadwal untuk menghadiri gelar budaya Korea-Indonesia pada pukul 07.30.”

Mengabaikan informasinya, aku merengut sebal dengan menyilangkan kedua tanganku di depan dada. “I thought that we have a deal!”

“Kami hanya melaksanakan tugas.”

Oppa!” Aku mendelik ke arah lelaki yang duduk di sampingku karena terganggu dengan sikapnya yang menonjolkan formalitas. Dia adalah asisten sekaligus pengawalku semenjak empat tahun belakangan. “Hish.” Aku berdesis dan memalingkan wajahku ke arah jendela saat menangkap ekspresi datarnya.

“Korea Utara membombardir Yeonpyeong hingga menimbulkan korban jiwa. Ini suatu bentuk perang, bukan bencana alam. Seingatku, aku tidak pernah menyetujui kondisi ini.”

Beberapa kali aku beradu argumen dengannya mengenai kesanggupanku menjadi relawan bagi pengungsi Yeonpyeong, namun dia tetap tidak bisa menerima. Kami bersepakat mengenai satu hal, bahwa mereka bodyguard tidak akan mengantarkan atau menjemputku di lokasi pengungsian. Konyol memang. Aku hanya tidak ingin terlihat berbeda dengan relawan lain hanya karena status putri dari seorang ambassador yang kusandang. “Tapi Oppa tahu sendiri bahwa kami berada bermil jauhnya dari Yeonpyeong!” Aku memilih untuk memanggilnya dengan sapaan ‘oppa’ ketimbang ‘-ssi’ untuk melenyapkan kekakuan antara kami.

“Nona, kau hidup di tahun 2013, ratusan mil dapat dijangkau dalam hitungan detik oleh sebuah misil.”

“Siwon Oppa!” Aku mengepalkan kedua tanganku ke muka dan hampir meraung dengan tindakan oposisinya.

“Apa pun bentuk penolakan Nona, aku tetap akan mengawasi selama Nona bertugas bagi korban Yeonpyeong. Jika Nona berkeberatan, maka sampaikanlah pada Tuan Lim.”

Kukorek telingaku dengan sengaja sebagai bahasa tubuh bahwa aku muak dengan sikap formalnya. Tak terhitung berapa kali aku memintanya untuk tidak memanggilku ‘Nona’ selagi di luar tugas. Aku mensedekapkan tangan, mendengus sebal, dan memalingkan wajahku ke arah jalanan.

***

Kubanting pintu kamar, kemudian berlari kecil menuju ruangan paling privasi bagiku, bathroom. Aku membenamkan diri di air hangat sembari menikmati wangi lavender dari busa mandiku. Menangkupkan kedua tanganku pada wajah, aku masih kesal dengan tindakan Siwon Oppa. Dia memang diberikan wewenang untuk mengatur aktifitas dan mengawasiku, namun bukan berarti segala urusanku harus dalam jangkauan areanya.

“Nona, your bath time is up.”

Aku membuka mata dan menatap pintu kamar mandi dengan sebal. Tidak menjawab peringatan dari Siwon Oppa, aku malah memainkan air hingga membuat riak kecil. Apakah sulit untuk menganggapku tidak berbeda dengan warga lain yang melakukan aksi sukarela sebagai bentuk kepedulian?

“Danishie…”

Ingin rasanya kusumpal pendengaranku ketika suara lembutnya menyapa gendang telingaku. Sikap manisnya selalu dapat meluruhkan rajukkanku. Tanpa membantah lagi, aku keluar dari tub, membilas tubuh, kemudian meraih piyama mandiku.

“Makan malam akan di—“

Aku mengangkat tanganku ke udara untuk menghentikan perkataan Siwon Oppa. Berjalan mendekati ranjang, aku duduk di tepian. “Give me 20 minutes to get ready,” ucapku tanpa mengindahkan keberadaannya.

Aku berjengit pelan tatkala Siwon Oppa menyelipkan beberapa helai anak rambutku ke belakang telinga. Dia menekuk lutut kanannya sehingga sejajar dengan lantai, sedangkan lutut kirinya digunakan untuk bertumpu. Tersenyum manis ke arahku, aku tahu dia berusaha meredakan amarahku.

I told you before, Danishie.” Meskipun saat bertugas di lapangan Siwon Oppa memasang wajah dingin, namun sesungguhnya dia berhati lembut. Hal inilah yang membuatku luluh padanya. “Keberadaanmu di Korea adalah sebagai representasi negaramu. Jika sampai terjadi sesuatu padamu, bukan hanya keluargamu namun rakyatmu akan berduka—“

“—dan hal itu bisa membahayakan hubungan bilateral Korea Selatan dan Indonesia.” Lanjutku yang sudah hafal dengan argumennya. “I got it, Oppa. Tapi tidak bisakah aku berperan sebagai bagian dari kalian? Aku hanya tidak ingin dianggap berbeda!” sentakku. Aku benci orang-orang yang memandangku sebagai bagian asing dalam komunitas.

Hampir-hampir aku melelehkan air mata karena ledakan emosiku. Aku marah bukan karena Siwon Oppa menjemputku di pengungsian, namun karena aku lelah untuk dianggap asing. Dua darah berbeda yang mengalir di tubuhku cukup membuatku kehilangan Ibu dan kakak lelakiku 11 tahun silam.

Arraso.” Siwon Oppa mengelus puncak kepalaku. “I’ll give you time to prepare.” Dia berdiri kemudian meninggalkanku sendiri.

***

Memandang penampilan sebuah band dari negaraku, aku bertepuk tangan dan memasang senyum saat performance mereka telah usai. Aku tidak bisa berkata bahwa aku membenci negaraku karena kenyataannya aku mewarisinya dalam separuh darahku. Darah campuran yang baru diakui 10 tahun silam ketika rezim telah berganti.

Aku setia duduk di kursiku untuk menghadiri pekan budaya South Korea-Indonesia karena tanggung jawabku. Ibu yang selalu mengajarkanku untuk teguh memegang apa yang menjadi tanggung jawabku. Dialah yang memperlihatkanku bagaimana membawa sebuah tanggung jawab hingga kematian menjemputnya. Aku memejamkan mata ketika bayangan kelabu mengenai Ibu terlintas di pikiranku.

“Nona,” Siwon Oppa mengangsurkan smartphone-ku.

Aku membuka mataku dan menerima ponselku. Sebuah pesan masuk yang membuatku tak berpikir lama untuk menjawabnya. “Siwon-ssi, tolong buat jadwal makan siangku lebih lama untuk besok. Aku ingin bertemu dengan Donghae.” Dalam acara resmi, meskipun berbisik, aku berhati-hati untuk menyapanya menggunakan sapaan formal.

***

Aku meletakkan tentengan moccacino di meja Donghae hingga membuat dia mendongakkan kepala. “Hi,” sapaku.

Donghae melongokkan kepalanya melalui tubuhku, kemudian melepas kaca matanya. “Where’s your bodyguard?”

Berdecak kecil, aku menarik kursi di depan meja kerja Donghae. Dia selalu bersikap tidak bersahabat dengan Siwon Oppa dan aku malas meladeni rasa tanyanya kali ini. Walaupun aku pernah menolak pernyataan cintanya dua tahun lalu, hubungan kami sebagai teman tidak merenggang jadi aku tak perlu berbasa-basi. “Kau masih sibuk?”

Donghae memijat pangkal hidungnya, lalu membolak-balik sebuah dokumen. “Sebenarnya, ya. Tapi aku bisa meninggalkannya sejenak jika kau ingin berceloteh.”

Ya…” aku memasang wajah tidak terima meskipun membenarkan ucapannya. Donghae adalah sahabat tempat aku menumpahkan segala unek-unekku. Kami berdiskusi mengenai sains, politik, hukum, dan isu-isu terkini. Tentu saja pria ini sangat fasih menanggapi rasa penasaranku pada bidang-bidang tersebut karena dia seorang lawyer. “Yeonpyeong,” ucapku singkat.

Memundurkan punggungnya, Donghae mencapai sandaran kursi. “Kali ini aku terpaksa sepihak dengan Oppa-mu itu,” tekannya pada kata ‘oppa’.

Memutar mataku, aku merasa kesal dengan mereka berdua. “Jangan memberikan penjelasan,” tahanku ketika Donghae akan membuka mulut. Aku sudah tahu arah penjelasannya.

“Dannie, katakan padaku apa yang bisa membuatmu berhenti kali ini.” Donghae mencondongkan badannya dan menumpukan kedua sikunya pada meja. “Hanya untuk kejadian Yeonpyeong ini—“ dia menatapku tegas, “—dan kejadian serupa di lain waktu. Tolong berhentilah menjadi sukarelawan.”

Aku ikut mencondongkan badanku dan melipat kedua tanganku di meja untuk bertumpu. “Nothing should be worried.” Entah berapa kali aku mengatakan kalimat tersebut.

“Pembombardiran Yeonpyeong oleh Korea Utara kali ini sungguh di luar perkiraan. Aku tidak bisa berspekulasi bahwa mereka akan mengadakan invasi. Tentu saja penduduk sudah dipindahkan pada jarak aman, namun…”

Aku tidak fokus pada perkataan Donghae saat tak sengaja mataku menangkap foto-foto di mejanya. Sepertinya sebelum aku datang kemari, Donghae sedang menganalisis suatu kejadian. Tanganku mulai bergetar dan perlahan aku menarik sikuku dari meja Donghae.

“Dannie…”

Bibirku ikut bergetar dan tak mampu melafalkan suatu jawaban ketika Donghae memanggilku. Menundukkan kepala, aku mencoba memeluk ragaku sendiri untuk mencari perlindungan.

Oh, shit!” Aku bisa mendengar umpatan Donghae dan bunyi hentakkan dari kursinya. Merangkul pundakku, Donghae membantuku berdiri. Dia membimbingku keluar dari ruang kerjanya.

“Nona!” Begitu mencapai pintu, aku bisa mendengar derap langkah mendekat. Aku bisa merasakan tubuhku dirampas dari pelukan Donghae.

Merasakan dekap hangat, aku bisa mencium wangi maskulin milik Siwon Oppa. Kukeraskan rahangku untuk menguasai emosi dan kuangakat tangan gemetarku untuk meraih jas depan Siwon Oppa. “Kita kembali,” ucapnya yang kutanggapi dengan anggukan.

I’ll catch you later, Danish.” Aku tidak bisa membalas ucapan perpisahan Donghae ketika Siwon Oppa membimbingku pergi dengan cepat.

***

“Aku akan membatalkan janjimu dengan Profesor Kim siang ini.” Siwon Oppa men-swap tablet untuk mengubah jadwalku.

Menolakkan pundak kiriku di sandaran jok, aku memandangi raut tegas Siwon Oppa. Tidak ada kontak fisik di antara kami, namun aku selalu puas dengan hanya melihat segala ekspresinya. Dia yang menghanyutkanku dalam pesonanya. “Tidak perlu.” Aku mencegat tangan Siwon Oppa untuk menghubungi profesorku.

“Nona yakin?”

Mengangguk lemah untuk menjawab pertanyaannya, mataku menghangat. “I’m tired, Oppa. It’s been fifteen years passing by, but those memories seem so close.” Aku tidak canggung untuk mengungkapkan ganjalanku karena keberadaannya di sekitarku adalah ketenangan. Siwon Oppa adalah orang kedua setelah Donghae yang benar-benar bisa kupercaya.

Telingaku dapat menangkap helaan nafas Siwon Oppa. Dia menyimpan tablet, kemudian menghadapkan wajahnya padaku. Mengangkat tangannya, Siwon Oppa membesut air mataku. “Setiap memori yang mengesankan selalu terasa dekat, Danishie. Pikiran dan perasaanmulah yang memilih dengan cara bagaimana menanggapi setiap kilasannya.”

I wanna let it go.”

Don’t.” Siwon Oppa menelusup dan menghipnotis perhatianku dengan mata elangnya. “Karena setiap kenangan adalah tahapan penting yang membawamu sampai di titik sekarang. Learning how to make a deal with it is the best way, Danishie.” Menyapukan tangannya di puncak kepalaku, Siwon Oppa membuatku rileks.

I try a lot, but it doesn’t work.”

Then try again till it works.”

Aku mengatur nafasku dengan tenang. Menahan dadaku yang terasa panas, aku menggigit bibir bawahku. Mudah untuk berbicara dan memberikan nasihat, tidak tahukah dia bagaimana sulitnya mengatasi kenangan burukku.

Kepalaku terasa pening setiap kali teriakan dan erangan kesakitan ibu dan kakak lelakiku bergema di pikiran. Otot perutku menegang dan tubuhku bergetar setiap aku mengingat bagimana tetes-tetes kental bewarna merah menyebar di lantai rumahku, dulu.

Sentuhan tangan Siwon Oppa di pipiku membuyarkan lamunan. Dia memasang wajah sedikit kesal. “Itu mengapa aku tidak suka kau menemui lelaki itu di kantor,” ucapnya untuk menyinggung pertemuanku dengan Donghae.

“Hae terlalu sibuk akhir-akhir ini. Jadi sudah seharusnya aku yang mengalah untuk mendatanginya.”

Mengedikkan bahunya ringan, Siwon Oppa mengalihkan tatapannya dariku. Aku sungguh berharap gesture dan ucapan proteksinya adalah bentuk cemburu. Tapi tentu saja aku tidak bisa menyimpulkannya sepihak karena hal tersebut sudah menjadi kewajiban Siwon Oppa sebagai asistenku.

You have a class at 4.00 pm after meet your professor.”

Sekali lagi aku hanya mengangguk untuk merespon. Kupejamkan mata sejenak sebelum tiba di kampus.

***

Ah,” aku memekik kecil ketika kurasakan tusukan di pipiku. Menoleh ke kiri, aku mendapati cengiran lebar milik Donghae. “What are you doing here, Hae?” aku menyamakan langkahku dengan Donghae.

I’m sorry.” Aku menoleh menatap Donghae yang pandangannya menatap datar lantai koridor kampus yang kami lewati.

Aku tersenyum memaklumi. Bukan salah Donghae jika foto-foto investigasi kasusnya berada di meja kerjanya. Itu adalah pekerjaannya. “It’s my faults, not yours.”

Merasakan tangan Donghae mengacak rambutku, aku merenggut kesal ke arahnya. “Let’s have dinner,” ajaknya.

“Maaf, Nona. Anda harus tetap bersama kami.” Siwon Oppa menahan pintu mobil Donghae ketika dia membukakannya untukku.

Berkacak pinggang, Donghae menunjukkan muka jengah. “Dia Nonamu, bukan wanitamu,” frontalnya. Inilah bagian yang selalu tidak kusuka ketika mereka berdua bertemu.

“Hae…” aku menahan dada Donghae untuk merangsek maju mendekati Siwon Oppa.

“Aku akan menyetir dengan ekstra hati-hati agar Nonamu tidak terluka, ok?” sindir Donghae yang ditanggapi dengan wajah tanpa ekspresi Siwon Oppa.

It’s ok, Oppa.” Aku ingin masuk ke mobil Donghae, namun Siwon Oppa masih mencekal pinggir pintu penumpang agar tidak tertutup.

Oh Dude!” Donghae mencapai Siwon Oppa dan menghentakkan tangannya dengan kasar. Namun sebelum berbuat lebih jauh, Siwon Oppa memelintir tangan Donghae hingga dia memekik.

Stop it!” Aku mencapai mereka berdua secepat kilat dan secara paksa melepaskan cengkeraman Siwon Oppa pada tangan Donghae. “Siwon Oppa, please,” mohonku ketika dia tak kunjung melepaskan Donghae.

“Ok, aku menurutimu,” putusku.

“Ya! Dannie—“

Shut up, Hae!” sentakku. “Let’s get hurry. My tummy is groaning.”

Aish…” kesal Donghae sebari masuk ke dalam Land Rover-nya.

***

“Siwon Oppa hanya menjalankan prosedur.” Aku melongokkan kepala dari balik buku menu untuk mengamati raut kesal Donghae.

Menutup buku menu dengan kasar, tindakan Donghae membuatku sedikit terlonjak. “Oppa?” ucapnya dengan nada sindiran yang menyebalkan. “Dia asistenmu, Danish. Gunakan sapaan formal selama kalian di depan publik.”

“Kami berada di hadapmu, bukan publik.”

“Tapi aku adalah pelayan publik.”

“Bagiku kau sahabatku, bukan pelayan publik.” Aku memainkan bibirku dengan mengerucutkannya sembari mataku mengabsen satu-persatu nama makanan. Aku tertawa kecil di balik buku menuku ketika mendengar helaan nafas Donghae. “Apa yang kau pesan, Hae?” Aku mengangkat pandanganku ketika mendengar decakan Donghae. “Waeyo?”

“Kau mengklaim aku sebagai sahabatmu bukan?” Dia mencondongkan tubuhnya dan aku hanya mengangguk setuju. “Kau tidak memanggil sahabatmu dengan sapaan ‘Oppa’ dan malah memanggil asistenmu—“

I got it.” Aku memotong cerocosan Donghae dan memaksa bibirku tertarik keluar membentuk senyum. “Hae terdengar lebih bagus daripada oppa,” belaku.

“Kalau begitu tambahkan kata oppa dibelakangnya.” Donghae memberikan senyum manisnya untuk merayu.

“Itu akan merusak estetikanya,” bantahku tak mau kalah.

Heish…apa yang kau tau mengenai estetika? Estetika yang kau pahami hanyalah ketika bilangan membentuk suatu barisan monoton konvergen.” Donghae menyentuhkan telunjuknya di ujung hidungku.

Aku memutar bola mataku untuk menanggapi kebenaran ucapan Donghae. “Auch…” Mengusap pipiku yang dengan tiba-tiba dicubit olehnya, aku meringis sedangkan dia tertawa lebar.

Beginilah cara kami bercengkrama untuk membahas hal-hal tidak penting. Donghae, di luar profesinya, adalah pribadi yang menyenangkan. Polah kekanakannya, senyum bocahnya, tawa lebarnya, dan kejahilannya yang ditujukan padaku, kusadari, adalah caranya berinteraksi denganku. Inilah cara Donghae untuk mengaburkanku pada masa lalu dan latar belakangku. Dan selalu saja berhasil. “Ya! Tuan Lee, berhenti tertawa bodoh!”

Ok, soon-to-be-Mrs-Lee.”

***

Terbangun dengan nafas tak beraturan, tanganku dengan gemetar meraih segelas air putih di meja kecil samping ranjang. Aku mengusapkan telapak tanganku pada keningku yang basah karena keringat. Kuturunkan kedua kakiku hingga rasa dingin yang merambat dari ujung jari kakiku ketika menyentuh lantai membuatku sedikit bergidik.

Aku berjalan menuju taman belakang dan mendudukan tubuhku di bangku taman. Bulu romaku berdiri begitu angin malam berhembus ke arahku. Pemandangan langit kelam dengan sejuta bintang selalu membuatku takjub akan pesona dan misterinya. Berdiam beberapa saat, aku merasakan suatu kehangatan jatuh di bahuku.

“Mimpi buruk?” Siwon Oppa mengambil tempat di sebelahku.

Aku mengangguk dan menarik kedua sisi jas Siwon Oppa yang tersampir di pundakku untuk merapatkannya. Kucium wangi parfumnya yang tertinggal di jasnya. Memandang penampilan Siwon Oppa, aku kemudian mengerutkan kening. “Kau terlihat sangat formal, Oppa.”

Berdeham dan mengusap tengkuk, Siwon Oppa terlihat salah tingkah. “Ya. Keluargaku mengadakan jamuan makan malam.”

“Jamuan?”

Oh, bukan sesuatu yang penting,” ringisnya.

Aku merasa heran dengan tingkahnya yang canggung, tapi aku juga tidak memiliki hak untuk bertanya lebih jauh. Berada di sisinya tanpa kata sekali pun dapat membuatku rileks.

“Sudah larut, Danish. Kuantar kau kembali ke kamar.”

Memelorotkan bahu, aku sedikit kecewa karena waktuku bersamanya berakhir. “Lil bit more,” rayuku.

Tangan kiri Siwon Oppa menjentik di hadapku, menyuruhku agar segera berdiri. “No more negotiation, Miss.”

Aku mencebik dan mengangkat tubuhku untuk mematuhinya. Kusambut tangan Siwon Oppa untuk membantuku berdiri. “Oppa, di negaraku tidaklah sopan untuk berinteraksi dengan orang lain menggunakan tangan kirimu.”

Oh, sorry,” Siwon Oppa salah tingkah dengan pemberitahuanku.

It’s ok,” aku tersenyum melihat wajah Siwon Oppa. Sengaja tidak kulepaskan genggamanku padanya. Kuayunkan jalinan jemari kami hingga membuatnya terkekeh ringan karena sikap kekanakanku.

***

Aku melirik Siwon Oppa yang sedang menyetir sambil menjawab suatu panggilan. Setelah tadi berdebat cukup lama, dia membiarkanku duduk di sampingnya, bukan di belakang. Siluetnya yang menentang cahaya pagi selalu menjadi pandangan yang indah. Itu mengapa aku ingin di sisinya untuk menikmati keindahan tersebut.

Meskipun aku ingin menganggap Siwon Oppa lebih dari seorang asisten atau pun bodyguard, tapi aku tidak berani mengutarakan perasaanku padanya. Well, aku tetaplah seorang perempuan yang memiliki gengsi jika mengakui perasaanku pertama kali. Sebenarnya, ayah juga tidak pernah membatasi teman pergaulanku, hanya saja aku tidak ingin mempersulit keadaan Siwon Oppa. Bagaimana pun akan menjadi gunjingan jika seorang ajudan mempunyai affair dengan nonanya, bukan?

“Ya, Oppa!” Aku memekik saat tablet-ku diambil oleh Siwon Oppa dengan tiba-tiba. Mataku memandangnya dengan waspada. “What’s wrong?”

Nothing gone wrong, Miss.” Ekspresi Siwon Oppa tidak mendukung jawabannya. Ada resah yang tergambar di wajahnya.

“Tidak—“ aku menggeleng, “—sesuatu pasti telah terjadi. Kembalikan tablet-ku, Oppa.”

Siwon Oppa menjauhkan tablet tersebut dari jangkauanku sambil berusaha berkonsentrasi untuk menyetir. Tidak tinggal diam, aku berusasaha merebutnya, namun dengan cekatan dia melemparkan tablet itu ke belakang. “Aku mempunyai hak untuk mengaturmu, Nona.”

Oppa!” Kupukulkan kepalan tanganku di lengan atasnya. “Informasi apa yang kau sembunyikan, huh?!” Aku tahu dia sedang menghindarkanku atas suatu informasi.

“Untuk hari ini, semua alat komunikasimu kusita.”

“Ya! Itu sangat tidak adil!”

“Demi keamananmu, ikutilah prosedur yang berlaku, Nona.”

Aku mendengus keras dan membanting punggungku pada sandaran jok. Ini gila! Sia-sia jika melawan perintah Siwon Oppa karena ayah pasti mem-backing-nya. Kuputar otakku untuk bisa mendapatkan akses. It’s must be about Yeonpyeong.

***

“Ya, Suho-ssi,” aku berlari-lari kecil sepanjang koridor kampus sembari menjaga agar tetap terhubung dengan Suho. Kusabotase ponsel milik Yeun, sahabatku, untuk berkomunikasi dengan Suho. Dan apa yang kukhawatirkan benar adanya. Suho memanggil kami, para relawan, agar segera berkumpul karena pengungsi Yeonpyeong terus berdatangan dan tim relawan yang bertugas kewalahan.

Mataku memicing ketika menangkap bayangan Siwon Oppa sedang berbicara dengan seorang gadis yang tidak kukenal. Gadis itu nampak cantik dengan rambut ikal gantungnya. Namun ekspresi murungnya sedikit mengurangi keelokan wajahnya.

Mempercepat langkahku, aku segera membuka pintu mobil bagian penumpang untuk meletakkan tas kuliahku. Siwon Oppa yang berdiri beberapa meter dari mobil segera menghampiriku dan menarik lenganku ketika aku akan pergi untuk berkumpul dengan sesama relawan.

“Nona, not this time.”

Aku baru akan membuka mulutku saat mataku menangkap sesuatu yang disembunyikan Siwon Oppa dibalik punggungnya. Ingin aku menanyakan, tapi karena kondisi sedang mendesak, kuputuskan untuk mengabaikannya. “Yeonpyeong kembali diserang, dan relawan di sana tidak mencukupi.” Aku mengatakannya dengan nada rendah namun syarat kemarahan di setiap tekanan suku katanya. Tentu saja aku marah karena pagi ini dia berusaha memblokirku dari informasi mengenai Yeonpyeong.

“Tim relawan sudah cukup memadai meskipun kau absen.”

“Si—“

Oppa, bisakah kita bicarakan masalah kita hingga selesai?” Gadis yang kulihat bersama Siwon Oppa mendekat ke arah kami. Dia mencekal lengan Siwon Oppa dan memandang dengan tatapan memohon.

“Kumohon, Fany. Kita bicarakan masalah ini nanti,” tegas Siwon Oppa.

Please,” mohon gadis yang dipanggil Fany.

Aku menarik lenganku yang dicekal Siwon Oppa untuk terbebas, namun dia malah memfokuskan kembali dirinya padaku. “Please, I need to go.” Senada dengan gadis itu, aku juga meminta Siwon Oppa melepaskanku.

Oppa—“ Fany semakin mengeratkan cengkeramannya pada lengan Siwon Oppa. Agaknya terdapat masalah pelik diantara mereka yang harus diselesaikan. Kuputar bola mataku karena rengekkan Fany semakin mengulur waktuku.

Bunyi derit ban yang beradu dengan aspal membuat kami bertiga menoleh. Great! Sekarang aku sungguh tidak punya pilihan. Donghae keluar dari mobil dan menghampiri kami dengan tergesa. Dia mengerutkan kening dengan kondisi kami bertiga yang saling menjalin seperti rantai; Siwon Oppa mencekalku dan Fany mencekal Siwon Oppa.

“Ikut denganku,” ujar Donghae sambil memutus cekalan Siwon Oppa padaku.

Ya! Lee Donghae!” Aku memberontak ketika dia dengan semena-mena menyeretku. Menoleh pada Siwon Oppa, dia sedang sibuk untuk menangani ulah Fany. Entah siapa gadis itu, yang jelas aku tidak suka bagaimana dia merajuk manja pada Siwon Oppa.

“Lepaskan!” kuputar pergelangan tanganku, namun sia-sia.

Donghae membuka pintu mobilnya dan memaksaku masuk. Dia membanting pintu dan berlari memutar kap depan untuk mencapai sisi kemudi.

Aku ingin membentaknya dengan lantang, namun tatapan garangnya membungkamku. Memukul tepi jendela, aku mengalihkan pandanganku ke luar dan melihat pemandangan yang membuatku mendidih. Siwon Oppa memeluk gadis yang bernama Fany, namun matanya dengan awas mengikuti gerak mobil ini.

Mengeratkan tangkupan rahangku, emosiku memuncak. Pertama karena dua pria yang menggagalkanku untuk mengikuti rombongan tim relawan untuk membantu pengungsi Yeonpyeong. Kedua karena scene Siwon Oppa dengan gadis yang tidak kukenal. Setahuku, selama ini Siwon Oppa tidak pernah berdekatan dengan seorang gadis kecuali diriku.

Tubuhku terdorong maju sebagai reaksi kelembaman saat mobil berhenti mendadak. Telingaku menangkap riuh yang membuatku menoleh pada lcd di depanku. Konsentrasiku terpusat pada berita yang disiarkan secara live dari lokasi pengungsian Yeonpyeong. “That’s why I have to go—“

And that’s why I forbade you to go!” Donghae kembali menatapku tajam.

Kepalan tanganku mengerat dengan sikap Donghae. Dia sengaja menemuiku untuk memastikan aku tidak pergi ke camp pengungsian. Mataku melirik dan melihat beberapa relawan kepayahan untuk menangani beberapa korban Yeonpyeong.

“Ini bukan hanya politik dan gertakan perang, Dannie. Mereka membuktikan gertakannya.”

“Aku tidak peduli apakah ini politik atau perang, Hae.” Kutatap Donghae dengan amarah ketika melihat beberapa korban di belakang reporter yang terbengkelai, belum tertangani. “Yang kutahu, mereka membutuhkanku!”

Donghae men-swap layar lcd dan menunjukkan video berita lain. “Pikirkan dengan baik.”

Aku meremas ujung blouse ketika melihat berita yang ditunjukkan Donghae. Sebuah black hawk milik tentara US jatuh di perbatasan Korea Utara ketika mengadakan latihan gabungan dengan tentara Korea Selatan.

“Bahkan pemerintah kita sudah mengantisipasi perang ini dengan bersekutu dengan US.” Meskipun Donghae menurunkan intensitas nadanya, namun ekspresinya masih sekaku tadi. “Ini perang, Dannie. Kau tidak bisa berada di jangkauan daerah konflik.”

Aku menoleh pada Donghae. “Apa pun bentuk bencana kemanusiaan itu, aku tidak peduli. Tenagaku dibutuhkan disana. Dan demi apa pun, kau malah menahanku di sini!” teriakku untuk melontarkan kekesalan.

Donghae meremas rambutnya. “Pagi ini—“ dia mencondongkan tubuhnya padaku dan menatapku lekat, “—dua relawan, satu dokter, dan lima warga disandera. Dan kau masih mementingkan egomu untuk tetap ke sana?!”

Aku mengkeret dengan bentakan Donghae. Selama kami mengenal, dia tidak pernah semarah ini terhadapku. Aku benci bagaimana raut wajah penuh amarahnya menentangku.

“Berpikirlah mengenai negaramu dan rakyatmu, Dannie. Jika sesuatu hal buruk menimpamu, tidak hanya Korea Selatan yang menjadi sorotan karena ketidakmampuannya melindungi representasi negara lain, namun juga negaramu.”

Sungguh aku tidak menyukai penjelasan Donghae. Kupingku sudah panas untuk mendengarkan penjelasan serupa dari Siwon Oppa. “Karena aku warga asing?” Pandanganku mengabur karena lapisan air mata yang telah terbentuk. Aku benci dianggap asing!

“Aku tidak peduli negaraku akan berduka. Aku tidak peduli…” sinisku sembari menyeringai. “Dimana kuasa negaraku ketika tangan-tangan itu mencabik tubuh ibu dan kakakku!” kugelengkan kepalaku untuk mengingkari. “Dimana keadilan yang diagungkan negaraku ketika penguasa mencabut hak rakyatnya?!”

Damn, Dannie! Hentikan ego dan trauma masa lalumu untuk sejenak.” Donghae memukul kemudi dengan keras. “Aku tidak mengizinkanmu untuk ke sana!”

“Kau sama sekali tidak berhak melarangku, Hae! Kau bukan siapa-siapa!”

Wajah Donghae memerah untuk menahan marah karena ucapanku. Pandangannya mengunciku untuk beberapa detik. Dia keluar dari mobil dan membuka pintu di sisiku dengan kasar. “Silakan pergi jika kau tak lagi memedulikanku.”

“Hae, jangan membuatku memilih.”

“Silakan pergi dan lupakan kalau aku pernah datang di hidupmu.”

“Hae!”

“Urusi egomu dan puaskan rasa kemanusiaan yang selalu kau banggakan,” sarkasmenya.

Aku menurunkan kakiku dengan sedikit gemetar. Kuputuskan untuk pergi, bukan hanya karena  ucapannya yang menohok, melainkan karena prinsipku. Jangan salahkan aku jika akhirnya persahabatan ini pupus. Dia yang membuatku memilih. Seharusnya dia juga tahu pilihanku.

Belum beberapa meter kuseret langkahku, tubuhku terhentak untuk berbalik ketika Donghae menjangkauku. “Lepaskan! Aku sudah memutuskan.” Kupukul-pukul punggung Donghae hingga dia menghadapku, lagi. Tapi kali ini rautnya melunak.

“Aku lebih rela kau memukuliku hingga mati di sini daripada aku melepaskanmu untuk pergi, Dannie,” ucapnya dengan lembut.

Air mataku merata di pipi. “Please, Hae.”

No.” Dia merangsek ke arahku.

“Aku membencimu…aku membencimu.” Kepalanku terus kuarahkan pada dada Donghae ketika dia membawaku dalam pelukkannya.

***

Aku meloncat turun dari mobil Donghae begitu dia menghentikan mobilnya di halaman kedutaan Indonesia. Mempercepat langkahku, aku menjangkau ayah yang terlihat akan pergi. “Ayah!”

“Sayang, kumohon. Tidak untuk kali ini.” Beliau memotongku dengan cepat seolah tahu yang akan kuucapkan. “Aku harus pergi. Park Chanyeol-ssi akan menggantikan Siwon-ssi untuk hari ini.” Kulihat Siwon Oppa dan ayah segera memasuki mobil.

“Dannie, maaf aku juga harus pergi. Ada sidang yang harus kuurus.” Donghae menepuk bahuku. “Jika kau sampai melarikan diri, maka kupastikan aku yang akan menangkapmu.” Tangannya meraihku, kemudian sebuah kecupan didaratkannya di keningku.

Aku mendongak untuk melihat sorot matanya yang redup. Donghae sungguh tidak terlihat seperti biasanya, kharismatik dan penuh percaya diri. Hari ini dia terlihat khawatir dan insecure. Is that because of me?

***

“Nona, kau tidak ingin melakukan sesuatu?” Chanyeol memiringkan tubuhnya untuk mengecek kondisiku yang murung.

Please, Chanie.” Selain Siwon Oppa, Chanyeol adalah asisten lain yang dekat denganku. Pembawaannya yang riang dan humoris membuatku mudah akrab dengannya.

“Baiklah.” Chanyeol menjauh dariku beberapa langkah dan membiarkanku sendiri.

Mengerutkan kening, aku memicingkan mata saat seorang pelayan menghampiri Chanyeol dan memberikan sesuatu padanya. Sebuah benda yang sedikit familiar bagiku. “Apa itu, Chanie?” Aku mendekatinya dan tidak bisa membendung tanyaku.

Chanyeol terlonjak kecil dengan kehadiranku yang tiba-tiba. “Oh, bukan apa-apa, Nona.” Dia menyembunyikannya di balik punggung, seperti Siwon Oppa.

“Chanie, kuperintahkan kau untuk memberikan itu padaku!”

Err…mungkin kau tidak akan menyukainya.”

“Suka tidak suka, aku tetap ingin melihatnya!”

“Tapi…”

“Park Chanyeol!”

Dengan perlahan, Chanyeol memberikan sebuah kertas bewarna gold padaku, sebuah undangan. Mataku membulat dan nafasku terhenti begitu nama yang terukir di atas undangan tersebut kubaca. Choi Siwon dan Hwang Tiffany.

“Nona?”

Tanganku yang gemetar terjatuh di sisi tubuh. Dadaku memanas, begitu juga dengan mataku. Waktuku seolah terhenti. Aku seperti dihianati oleh kenyataan. Jadi apa yang kulihat mengenai Siwon Oppa tidaklah benar? Dia sudah memiliki seseorang. Bagaimana bisa? Jadi gadis yang kutemui tadi pagi adalah…

“Chanie, kemarikan ponselmu.”

“Nona—“

“Tolong, jangan membantah lagi.” Aku merebut ponsel Chanyeol untuk menghubungi seseorang. Semua alat komunikasiku masih dalam sitaan, jadi terpaksa kugunakan milik Chanyeol.

“Suho-ssi, di mana posisimu?” jangan tanya bagaimana aku bisa menghafal nomor Suho. Nomornya mempunyai prioritas bagiku.

“…”

“Ok.”

Kukembalikan ponsel Chanyeol. “Aku ingin beristirahat di kamarku. Aku tidak ingin menemui siapa pun. Jadi bisakah kau berjaga untukku?”

Ah, ye!” Chanyeol menganggukkan kepala.

***

Kukencangkan tali sneakers-ku dan kurapatkan jaketku. Kuturunkan hoodie-ku untuk menutup separuh wajah. Menyelinap ke belakang, aku menyusup ke semak-semak. Lubangnya yang tidak terlalu lebar hanya bisa dilalui beberapa orang berperawakan sepertiku.

Mengesampingkan semua larangan, aku memutuskan pergi ke camp pengungsian. Untuk apa aku memedulikan omongan mereka, jika mereka mengabaikanku. Bahkan Siwon Oppa, yang setiap harinya bersamaku, tidak jujur padaku. Dan kenyataan yang datang di belakang selalu berhasil membuat luka.

Siwon Oppa akan menikah dalam waktu dekat dan aku bahkan tidak tahu apa-apa. Kisah cintanya dan kehidupan pribadinya, aku buta. Bodohnya aku yang tidak mendeteksi gerak-geriknya semenjak kemarin malam. Jamuan keluarga, tangan kiri yang terulur padaku, dan gadis tadi pagi.

Aku tidak mengerti mengapa Siwon Oppa berusaha menyembunyikannya dariku. Dia menawariku tangan kirinya agar aku tidak memerhatikan sesuatu yang tersemat di tangan kanannya. Siwon Oppa bukan seorang yang ceroboh. Dia mengetahui latar belakangku dan sedikit banyak culture-ku. Jadi pastilah dia tahu mengenai sopan santun menggunakan tangan kanan dan kiri. Dan pagi ini, dia juga berusaha menyembunyikan undangan pernikahannya dariku.

***

“Izinkan aku membantu.” Kutuang alkhohol pada kapas dan kubantu seorang pengungsi untuk membersikan lukanya. Kubalutkan kasa setelah sebelumnya kuberikan obat luar untuk mengatasi lukanya.

“Danish-ssi, bisakah kau membantuku di lantai satu? Pengungsi yang baru datang banyak yang terluka.” Suho memerintahkanku untuk mengikutinya.

Aku menganga begitu kulihat kondisi beberapa pengungsi baru. Agaknya penyerangan tadi pagi membawa dampak yang lebih buruk daripada pembombardiran dua hari lalu. Dengan segera, aku menghampiri mereka yang terluka. Kubantu mereka untuk mengobati luka-lukanya.

“Tahan sebentar, ini akan terasa sakit,” aku memperingati gadis berumur kira-kira lima tahun yang sedang kurawat. Dia menggigit bibir bawahnya dan berusaha untuk tidak menangis. Aku tersenyum akan ketegarannya.

Suara ledakan disertai goncangan membuat tubuhku tidak stabil dan terjatuh. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi saat semua orang menjadi panik. Melongokkan kepalaku, hanya asap putih yang terlihat di halaman depan pengungsian. Apa ini?

Spontan, aku menundukkan kepala setika suara tembakkan terdengar beberapa kali. Kuraih gadis yang sedang kurawat dan pelukanku. Instingku menyuruhku untuk berlari mengikuti arus. Reruntuhan gedung membuat debu-debu yang menyulitkan pergerakkkan kami. Kami harus awas kalau-kalau langit-langit gedung runtuh.

Kulihat Suho mencoba memandu kami untuk bergerak ke belakang. Aku mengikuti arahannya sambil membantu pengungsi lain. “Tolong jaga anak ini dan bergeraklah ke belakang.” Kuberikan anak lima tahun di pelukanku pada seorang ibu-ibu. Kulawan arus untuk menuju ke bagian depan, dimana beberapa orang yang terluka berada di sana.

Pemandangan yang kuperoleh menciutkan nyaliku. Halaman yang tadinya hijau karena rerumputan kini berubah menjadi medan perang. Darah, potongan tubuh, dan korban berceceran di sana. Kebanyakan kami hanya pengungsi dan relawan.

Aku mendekap ragaku saat bayangan ibu dan kakakku terlintas. Kumohon, jangan saat ini. Berusaha kutarik kakiku yang lemas untuk menepi ke tempat yang aman. Aku masih mencoba menguasai traumaku saat kutangkap orang-orang berseragam turun dari truk-truk. Kugelengkan kepalaku ketika menangkap sosok mereka dengan jelas. Tidak, mereka bukan kesatuan tentara Korea Selatan. Kupejamkan mataku ketika aku menyerah dengan kondisiku.

Terdengar beberapa kali tembakan, dan secara sadar aku merasakan seseorang melindungiku. Kubuka mataku untuk melihat penyelamatku. “Oppa…”

“Kau bisa bergerak?”

Aku mengangguk, kemudian melingkarkan tanganku di pinggang Siwon Oppa. Dia membimbingku untuk menjauh. Kami menyusul beberapa pengungsi yang berkumpul di bagian belakang, di jalur evakuasi.

“Apa yang terjadi?” Siwon Oppa menanyai seorang tentara yang berjaga di sana.

“Mobilisasi terkendala karena banyaknya kendaraan tidak memadai untuk semua pengungsi.”

“Berapa lama bantuan akan datang?”

“Sepuluh menit paling cepat.”

“Lalu apa rencana kalian?” Aku dapat merasakan genggaman tangan Siwon Oppa mengerat.

Tentara itu menggeleng untuk menyatakan harapannya yang tipis. “Bertahan.”

Wajah Siwon Oppa menjadi begitu kaku. Aku tahu tidak mungkin kami bertahan dengan jumlah tentara yang hanya beberapa saja. “Danish, dengarkan aku kali ini saja.” Siwon Oppa menangkup wajahku. “Bimbing wanita dan anak-anak untuk menyelamatkan diri.”

Aku menggeleng dan merasakan aliran air mataku menderas. Ketika berkata demikian, aku tahu Siwon Oppa akan ikut bertahan dengan tentara lain. “Tidak…”

“Kumohon, Danish.” Siwon Oppa memejamkan mata dan mengadu keningnya padaku.

Kulingkarkan kedua lenganku di pinggangnya untuk memeluknya erat. Aku lebih rela dia dimiliki perempuan lain, daripada melepasnya untuk berperang. Ini bukan menjadi perang jika jumlah kami dan lawan kami berpaut begitu jauh. Ini akan menjadi pembantaian. “Tidak, Oppa.”

“Kau ingin menjadi seorang yang berguna bagi yang lain, bukan? Itulah mengapa kau selalu ingin berbakti bagi mereka. Sekaranglah saatnya, Danish.” Siwon Oppa merenggangkan pelukannya. Aku sedikit terkejut ketika dia menjatuhkan sebuah kecupan di dahiku, keningku, dan… bibirku.

Jatungku berdebar keras, bukan hanya karena ciuman tersebut, namun juga karena suara gemuruh yang semakin jelas mendekat. Kutahan sebisa mungkin sesenggukanku karena bukan saatnya aku meratap.

“Ini negaraku, dan kewajibanku adalah melindunginya. Pergilah.” Siwon Oppa menarik tanganku agar melepaskan cengkeramanku di jasnya.

Time to go, Dannie,” Sebuah tarikan melepaskan cengkeramanku dari Siwon Oppa dengan sempurna.

“Hae?!” Dia membawaku menjauh saat aku meronta. Menoleh ke arah Siwon Oppa, yang kudapati adalah punggungnya. Sekuat mungkin kukuasai emosiku dan rasa takutku. “Please, Hae. Bantu pengungsi yang lain.” Donghae menatapku dalam dengan mata cokelatnya sebelum melepasku.

Kuatur napasku sambil membantu evakuasi wanita dan anak-anak untuk menaiki truk. Donghae berada di sisiku dan ikut menolong. Pikiranku semakin kacau ketika suara tembakan terdengar semakin riuh. Tidak bisa…aku tidak bisa membiarkan pembantaian terjadi dua kali karenaku.

Aku berlari ke depan saat Donghae lengah untuk memerhatikanku. Kurapatkan badanku dengan dinding untuk berlindung. Mengintip ke luar, aku melihat sosok Siwon Oppa mengangkat senjata untuk melepaskan beberapa tembakan perlawanan.

Napasku semakin memburu ketika beberapa lawan kulihat semakin berdatangan. Barikade pertahanan kami terdesak dan mundur ke belakang. Menoleh ke sisi samping, tubuhku sejenak lumpuh saat beberapa penembak merangsek. Aku berlari sekuatku dan menabrakkan diriku ke punggung Siwon Oppa.

Hal selanjutnya yang kurasakan adalah panas yang menyebar dari punggungku. Nafasku semakin memberat seiring tubuhku yang merosot. Aku sama sekali tidak bisa merasakan tubuhku kecuali rasa sakit yang sangat dan panas di daerah belakang.

“Danish…Danish…”

Kulihat wajah Siwon Oppa penuh dengan air mata. Aku ingin menganjurkan tanganku untuk mengusapnya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja, namun bibirku tidak bisa kugerakkan.

Stay with me…” Aku tahu dia menepuk-nepuk pipiku, namun kulit wajahku sama sekali tidak merasakannya.

Penglihatanku memutih dan hal terakhir yang kulihat adalah beberapa tentara dengan badge bendera US di sisi lengannya melewati kami. Aku tersenyum dan menutup mataku ketika perasaanku tenang karena bala bantuan sudah tiba. Biarkan aku beristirahat, Oppa

TBC*

Glosarium:

Black hawk: jenis helicopter. Sebuah black hawk milik US pernah jatuh di perbatasan Korea Utara saat mengadakan latihan gabungan dengan tentara Korea Selatan.

Penembakan Yeonpyeong: adalah peristiwa ketika artileri Korea Utara mulai membombandir pulau Yeonpyeong, Korea Selatan. Peristiwa ini dimulai pada pukul 14:34 KST (04:34 UTC) tanggal 23 November 2010.

Note:

Hehe…aku sudah garap ff ini cukup lama dan memang merencanakan publish untuk bulan Mei. Nanti akan kuberikan alasan di part selanjutnya kenapa harus Mei. Hal tersebut berhubungan dengan masa lalu Danish. Petunjuknya: kejadian hebat yang menimpa Negara kita di bulan itu, yang menjadi titik balik demokrasi kita. Alasan yang menjadikan trauma Danish dan kebenciannya pada negaranya.

Aku belum menyelesaikan ALC, jadi daripada aku lama update, ku selesaikan dulu fiksi yang satu ini karena tadinya sudah 50% dikerjakan.

Oke, Siwon atau Donghae? Give me your reason.

Bye (^^ / im waiting your review.

84 thoughts on “[Two Shot] The Worst Tragedy: First Assault

  1. eon.. menarik cerita..
    seorang relawan punya trauma sendiri n’ jatuh cinta sm bodyguardny sendiri..
    trauma ap yg d’alami danish? penadaran..
    sifat hae ngingetin aku am drama korea deh? tp lupa jdlny..
    cie2 yg suka am bodyguard sendiri…
    trs kykny hae suka am danish deh, ap bkl ad triangel love nih…
    ok lanju baca…🙂

  2. eon.. menari cerita..
    seorang relawan punya trauma sendiri n’ jatuh cinta sm bodyguardny sendiri..
    trauma ap yg d’alami danish? penadaran..
    sifat hae ngingetin aku am drama korwa deh? tp lupa jdlny..
    cie2 yg suka am bodyguard sendiri…
    trs kykny hae suka am danish deh, ap bkl ad triangel love nih…
    ok lanju baca…🙂

  3. milia says:

    Baru balik lagi ke blog ini, dan baru baca.
    Sumpah keren bangetttt, ga tau mesti ngomong apa yg pasti bikin terperangah #lebay

    Kalo ini film tuh kaya film box affice aja, kamu pencinta film tragedy gitu ya? Abisnya ini kaya lagi nonton film dan aku lagi baca naskahnya. Hahhaaa

    Kerennnn

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s