A Lovely Coincidence [Shot 9]


a lovely coincidence

A Lovely Coincidence [Shot: 9]

Arsvio | Kyuhyun Cho, Adelynn Lee, Aiden Lee, Daehyun Cho, Seo Joo Hyun | Romance | PG-15

[Singapore at 07.00 am: Singapore National University Hospital]

“Apa yang kau lakukan di sini, Seo-ya?” Aku memandang harap-harap cemas pada Seohyun. Wajahnya yang memucat tidak mengurangi intensitas pandangan tajamnya pada kami, aku dan Lynn. Membuang wajahnya ke samping sejenak, Seohyun menghadap kami lagi dengan bibir yang mencoba melafalkan kalimat.

I…ige mwoya, Oppa?” Menelusur ekspresi wajahnya, aku yakin Seohyun sudah mengetahui kondisiku. Dia merentangkan sebelah tangannya dan mengigit bibir untuk menyalurkan rasa ketidakpercayaannya.

Aku hanya memberikan tatapan datar kepadanya untuk menekankan bahwa apa yang dilihatnya adalah kenyataan; bahwa aku di sini, terbaring karena brain hermmohage. Berdasar ekspresinya, aku yakin Seohyun sudah mengetahui keadaanku. Lagipula, gadis ini cermat untuk menganalisis maupun mengantisipasi keadaan.

Seohyun mendesis ketika aku hanya diam. Dia menghentakkan kaki kemudian memutar tubuhnya dan berjalan cepat untuk keluar dari ruang inapku.

Let her go,” aku menahan pergelangan tangan Lynn saat dengan spontan dia ingin mengejar Seohyun.

But—“ mata Lynn memandangku gelisah.

I’ll talk to her later.”

***

Aku mengancingkan lengan mansetku, kemudian memastikan dasiku terpasang dengan benar. Pagi ini sengaja kuminta Chen untuk mengirimkanku pakaian kerja. Kulirik Lynn yang duduk di tepi ranjang dengan mata yang terus mengikuti gerakku.

Could you stay here until your condition gets better?”

Memutar badanku menghadap Lynn, aku menyungging senyum untuk menjaminkan keadaanku padanya. “I’m much better, Sweetie.” Dia terlihat tidak berkenan dengan jawabanku. Ketukan di pintu yang kuduga adalah Chen membuatku membalikkan badan.

Ugh…” Pekik kecil meluncur dari mulutku ketika aku merasakan punggungku dihempas sesuatu. Aku menggeleng dan tersenyum ringan saat melihat sepasang tangan melingkar di pinggangku. “Give me ten minutes more, Chen.” Kulihat Chen di ambang pintu salah tingkah saat memergoki adegan ini.

Mengurai tangan Lynn di pinggangku, aku kembali menghadapkan badan padanya. Kususupkan kedua tanganku di sisi tubuhnya, kemudian kuangkat tubuhnya untuk kembali duduk di tepi ranjang. Tanganku yang bertumpu di masing-masing sisi Lynn memerangkapnya dalam kuasaku. Gurat resah tidak luntur dari wajah Lynn. “Hey…”

Please, Hyun.” Lynn menelengkan kepalanya dan memasang wajah memohon. “Consider the operation, hum?”

Kuhela nafas pelan dan kupasang wajah murung. “I have ton works to do, Adelynn. There’re many workers depend on me.”

You just take a rest for a night, for good sake.” Lynn mulai mendebatku.

Listen to me, Sweetie.” Kuambil dagu Lynn dan kuhadapkan wajahnya padaku. “Not now—“ aku menggeleng, “—I couldn’t take the risk of that operation for now cause Vichou needs me. It’s my responsibility.”

Dengan mata biru yang menatapku lekat, aku tahu Lynn berusaha menerima alasanku. Beberapa detik dia hanya memandangku gamang sebelum tangannya mengangsur ke depan. “Promise me that you’ll have the operation as soon as possible.” Kelingking Lynn menyembul dari kepalan tangannya.

Aku terkikik ringan untuk menanggapi sikap kekanankannya. Pinky promise, huh? Kuambil kelingking Lynn dan kugenggam tangannya. Kutarik kepalan tangannya ke dadaku agar dia merasakan detak jantungku, sedangkan tanganku yang lain menarik dagunya mendekat ke arahku. Kucumbu lembut bibirnya untuk menghentikan rajukannya. Maaf, Adelynn. Aku tidak bisa berjanji untuk melakukan operasi tersebut, namun aku berjanji untuk bertahan semampuku.

Is that a yes?” Lynn mengerutkan alisnya begitu kuakhiri ciuman kami.

Kukedikkan bahu, lalu kubawa tubuh Lynn masuk ke dalam pelukanku. Kuusap punggungnya dan kuberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang bahunya. “Let’s get hurry, Dear. Your brother will chop me into pieces if I don’t send you home this morning.”

Mencebikkan bibir, Lynn mengoposisi ucapanku dengan tindakannya. Kuanjurkan tanganku untuk membantunya turun dari ranjang. Meski aku tidak menyukai sikap manja kebanyakan wanita, tapi pagi ini aku menikmati rajukkan gadisku. Kurasa dengan cara itulah Lynn menyampaikan pedulinya.

***

You spent a good night, didn’t you, Boss?” Aiden menyapaku dengan nada sindiran sembari matanya yang tak lepas dari berkas-berkas. “What’s the meaning of that grins?” Telunjuk Aiden menunjuk ke wajahku ketika kujawab sindirannya dengan seringai.

Actually, yes I did.” Aku meletakkan pantatku dengan manis di kursi kebesaranku.

As long as you don’t make her pregnant before the marriage.”

Aku mengerutkan alisku. “Hei, we didn’t make love, ok?” Kutumpu sikuku dan kucondongkan tubuhku untuk bersemuka dengan Aiden.

You’re so straightforward, Kyunie.” Menggeleng-gelengkan kepala, Aiden berdecak untuk menanggapi pernyataan frontalku.

I don’t wanna get punches from her protective brother.” Kuangkat alisku untuk merujuk Aiden. “I do love myself.”

Kekehan Aiden yang terdengar renyah membenarkan pernyataanku. “Yes, I will beat you into pulp if you dare to hurt her.” Dia menganjurkan kepala tangannya ke muka.

Ne, arraso, Hyung.” Kuangkat kedua tanganku ke samping kepala.

So, I get this.” Aiden melemparkan berkas yang penuh coretan dan tulisan yang ditandai dengan warna highlight. “Aku mencocokkan laporan pertanggungjawaban dari Vichou Finance dan laporan yang kau minta dari Hyundai Automotive.”

Aku mencermati dengan seksama berkas yang diteliti oleh Aiden. Beberapa hari lalu, kuputuskan untuk melibatkannya dalam investigasi mandiriku terhadap Vichou Pusat. Kemampuannya tidak pernah mengecewakanku. Aku meminta laporan Hyundai Automotive secara pribadi pada Siwon Hyung karena laporan tersebut bersifat sangat rahasia. “Ketimpangannya cukup besar, Hyung.”

Yap.” Aiden memundurkan punggungnya dan menyeringai terhadap hasil kerjanya. “Jika kau tidak mengenal direktur Hyundai secara dekat, maka tidak akan mungkin mendapatkan laporan yang sebenarnya—“ dia mengangkat bahunya, “—dan investigasi ini akan sia-sia.”

“Aku hanya perlu menemukan bukti utama,” ucapku dengan mantap. “Pembukuan keuangan yang sebenarnya.“ Kuusap telunjuk dan ibu jariku pada dagu. “And it’ll over.”

Good luck, then.” Aiden memundurkan kursinya kemudian melangkah untuk meninggalkan ruanganku. “Ah, one more—“ dia menahan pintu dengan sebelah tangannnya, “—periksa bagian modeling dan forecasting. Mungkin kau akan mendapatkan petunjuk dan bukti tambahan.”

Kuketuk-ketukkan telunjukku pada meja sembari berpikir. Mengangkat telephon, aku menghubungi sekretarisku. “Sarah, siapkan satu tiket untuk penerbangan ke Korea besok.”

***

Hi, Sweetie.” Memberikan pelukan dari belakang, aku menyusupkan kedua tanganku di pinggangnya dan menumpu daguku di bahunya. Sebuah tindakan klise, namun sangat efektif untuk mengurai penatku seharian ini.

Hi,” sekecap jawaban Lynn.

Aku memejamkan mata ketika Lynn tidak menolak perilakuku padanya. Mengeratkan belenggu kedua tanganku pada pinggangnya, aku menyurukkan hidungku di ceruk lehernya. Aku ingin wangi feminisnya memonopoli penciumanku dan tidak membaginya dengan wangi masakan yang sedang dimasaknya.

“Hyun—“ Lynn mengeluh ketika dengan nakal aku menelusuri garis lehernya dengan butterfly kiss.

Tersenyum kecil, aku menghentikan tindakanku. Aku sendiri juga takut tidak bisa mengontrol nafsu dan hormonku jika kulanjutkan perbuatanku. Mataku membuka saat kurasakan sebuah logam yang hangat menyentuh permukaan bibirku.

Try this.”

Mematuhi perintah Lynn, aku menyerutup sup yang dia buat. “As usual, Sweetie. It’s taste good.” Aku enggan untuk melepaskan tanganku dari tubuhnya. “I’ll take a bath and join you for dinner after that.”

Hmm…” Lynn mengangguk untuk menjawabku.

***

Mataku mengikuti gerak tubuh Lynn yang mondar-mandir untuk menyiapkan makan malam. Bibirku mengukir senyum tipis dan sikuku menjadi tumpuan kepalan tangan yang menyangga kepalaku. Bagaimana mendiskripsikan rasaku ketika aku menemukannya di kondominiumku begitu pulang dari kantor? Rinduku yang terbayar, letihku yang pupus, bahagiaku yang membuncah, dan dadakuku yang menjadi sangat lapang.

Come here, Dear.” Aku membuka tanganku dan menepuk pangkuanku. Kujentikkan jemariku ketika Lynn hanya mematung. “Should I make it clear?” Aku menyeringai ketika menyadari rona yang menyebar di pipinya.

I…I…” Lynn menarik kursi di sisiku.

Put your ass on my lap, Adelynn,” kulambatkan kata-kata nakalku. Kugapai dan kutarik pergelangan tangannya untuk membawa tubuhnya mendekat, kemudian kududukkan dirinya di pangkuanku. “This way is much better.”

Aku mendekap Lynn hingga bahunya beradu dengan dadaku. Ingin kutunjukkan bahwa frekuensi denyut jantungku meningkat karena dirinya. “Feed me, Sweetie.”

Mengerutkan kening dan memandangku heran, mata biru bening Lynn menghipnotisku. “You can feed yourself by your hand.”

But right now, I’m using my hands to hug you.” Aku memasang tampang tak berdaya yang membuatnya berdecak.

Lynn menganjurkan sesuap nasi dengan potongan daging ke mulutku. Dia menaruh sebelah tangannya di bawah sendok untuk berjaga agar makanan tersebut tidak mengotoriku. “Have you talked to Seohyun?”

Aku bergumam tak jelas karena mulutku penuh dengan makanan. “Not yet. I thought, she was already back to Korea this morning.” Ketika suapan yang lain datang, aku dengan senang hati membuka mulutku. “Lynn, I have to go to Korea tomorrow.”

Lynn mematung untuk berusaha mencerna kata-kataku. Kekhawatiran tergambar jelas di sorot matanya. Apakah dia berpikir bahwa aku pulang karena menyusul Seohyun?

For business matters, Sweetie.” Aku memberikan alasan kepergianku untuk mengeliminasi kegelisahannya.

Di luar dugaan, Lynn melingkarkan kedua lengannya di leherku dengan cepat. ”But your health…w…what if you’re collapse…it’ll…” dia meracau.

Kutarik kedua lengannya untuk melepaskan pelukan dan kuambil dagunya untuk menfokuskan dirinya padaku. “I’m afraid too—“ aku tidak berbohong bahwa sesungguhnya aku juga takut, “—but nothing can I do to avoid this responsibility, Dear.” Kutatap dalam mata birunya yang meneduhkan. “I commit my life to handle Vichou. That’s my duty as the first son in my family.

Lynn menunduk, mungkin untuk menghindari tatapanku. Kuangkat dagunya agar pandangan kami bertemu kembali. “Will you wait for me?” Hatiku terasa ringan ketika tanpa ragu Lynn menganggukkan kepalanya. “Thank you, Dear.” Kudekap kembali tubuhnya untuk mengungkapkan rasa terima kasihku.

***

Am I that gorgeous?” Aku menyeringai jahil saat beberapa kali melirik Lynn yang tak jua melepaskan pandangannya dariku. Senyum jahilku menghilang saat raut sedihnya tak lekang karena candaku. Jemariku menghangat ketika jemari lembut Lynn membungkusnya.

You should take a rest rather than drive me home.”

Aku merasakan bertubi kebahagiaan malam ini dengan segala perhatian Lynn padaku. “I had told you, I merely wanna spend my time with you.” Kuangkat tanganku yang digenggamnya dan kucium jemarinya seraya mataku awas pada jalanan. “Stop arguing. I’m glad to do this. I really am, Sweetie.”

Membukakan pintu, aku menganjurkan tanganku untuk Lynn. “I will have your car picked from my condo.”

Hmm,” Lynn mengangguk. “Thanks anyway.”

My flight will board at early morning. No need to escort me to the airport.” Aku menarik tubuhnya untuk merapat. “Mind to give me a goodbye kiss, Sweetie?”

Lynn terkekeh ringan sebelum mengalungkan kedua tangannya di bahuku. Tindakannya setelahnya lebih mengejutkanku! Adelynn menempelkan bibirnya padaku. Demi Tuhan, aku sangat mensyukuri semua yang Dia anugrahkan padaku. “Eh? Is that a kiss?” Aku memprotesnya ketika dengan cepat dia menarik bibirnya.

A light kiss is still a kiss, right?”

Aku berdecak dan mendengus terhadap retoriknya. “Let me show you what a kiss is.” Aku menguatkan kekangan tanganku di pinggangnya hingga membuat tubuhnya terangkat. Kucumbu dan kulumat bibirnya yang terasa manis di bibirku. Setiap ciuman yang kami bagi selalu menggairahkanku. Aku memperdalam ciumanku ketika sebelah tangannya membingkai pipiku, sedangkan tangannya yang lain melintang di bahu belakangku. Intimasi kami bukan sekedar pemuasan nafsuku, melaikan kebutuhanku. “Thank you, My Dear.” Kubisikkan kata tulusku diantara deru napasku yang masih memburu.

***

[Seoul, Korea at 03.00 pm: The headquarters of Vichou]

Aku langsung menuju kantor Vichou begitu pesawatku landing. Tidak ingin membuang waktu, aku menuju ruangan Daehyun. Kuanggukkan kepala ketika sekretarisnya menyapaku dan menyilakanku masuk. “Good afternoon, My Dear Brother.”

Daehyun mengangkat pandangannya dari kertas-kertas di hadapannya untuk melihatku. Dia terdiam dengan wajah kaku untuk beberapa saat sebelum dengan gerak cepat mencapai posisikuku. “What the hell is it, Hyung?” Aku tersentak begitu dia mencengkeram kerahku. “Why the heck did you hide it from me?” Meski Daehyun mengucapkannya dengan nada rendah, namun penekanan katanya syarat emosi.

Aku mengumpat dalam hatiku setelah tahu penyebab kemarahan Daehyun. Seohyun pasti telah menceritakannya pada Daehyun. Seharusnya aku mengantisipasi kemungkinan ini. Kuturunkan tangan Daehyun dari kerahku dengan paksa. “Let me sit and you’ll have my explanation.”

Aku menceritakan semua kronologi kecelakaan dan riwayat penyakitku, serta alasan menyembunyikannya dari keluargaku. Sepanjang aku bercerita, Daehyun memasang wajah tanpa ekspresi. Dia menjadi sangat tidak manusiawi dengan raut datarnya. Bukan seperti adik laki-lakiku yang begitu ekspresif di setiap suasana. “Dae-ya, I’m sorry.”

Get your ass out here.”

“Dae…”

“Lakukan operasi dan tinggalkan semua bebanmu padaku. Kau tahu bahwa aku selalu bisa kau andalkan.” Daehyun masih mengucapkannya dengan datar.

“Keberadaanku di Korea bukan untuk mendapatkan ocehan yang sama, Cho Daehyun.”

Hyung!”

“Ini bukan tanggung jawabmu! Ini tanggung jawabku, Dae!”

Please, Hyung—“ Daehyun tiba-tiba menundukkan kepalanya, “—kau adalah satu-satunya saudaraku.” Kedua tangannya melindungi kepala dan dia mulai tergugu. “It can’t be…” Dia terlihat begitu terpukul dan frustasi dengan keadaanku. Inilah bagian yang tidak kusuka jika keluargaku mengetahui kebenaran kondisiku.

“Daehyunnie, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk meratapi apa yang sudah terjadi. Jadi kumohon, berhentilah menyesali keadaanku.”

Daehyun mengusap wajahnya yang memerah dan mengangkatnya. Bahunya yang tersengal menjadi tanda kecil penguasaan emosinya. “Apa yang bisa kulakukan untukmu, Hyung?”

Tersenyum tipis, aku mengangsurkan sebuah map padanya. “Ketimpangan kerja sama Vichou Finance dan Hyundai Automotive di tahun 2010.”

Pupil mata Daehyun bergerak ke kiri dan kanan untuk membaca berkas yang baru saja kuberikan. “What the hell is it?” Dia berdesis untuk menanggapi hasil analisis tersebut. “Jadi ini hasil investigasimu, Hyung?”

Aku mengangguk untuk membenarkan. “Aku secara resmi bergabung di Vichou di tahun 2010 dan mengendus sesuatu yang tidak beres pada kerja sama tersebut. Namun aku juga tidak bisa berbuat banyak karena appa memindahkanku ke Singapore.”

Emosi Daehyun lebih stabil daripada beberapa menit lalu. Dia menelengkan kepala untuk menyimak. “Kau mencurigai Tuan Seo bahkan sejak kau bergabung dengan Vichou?” tanyanya untuk menyatakan kembali apa yang sudah kuutarakan.

“Ya.” Aku mengusap daguku. “Aku memerlukan bukti utama berupa pembukuan keuangan Vichou yang sebenarnya untuk kerja sama itu, Dae.”

Mengerutkan kening, Daehyun memikirkan sesuatu. “Aku tidak akan bisa banyak membantu karena pembukuan yang asli pasti disimpan oleh Tuan Seo sendiri.”

“Aku tahu…aku tahu,” aku manggut-manggut sembari memutar otak. “Periksa semua departemen di bawahmu dan pastikan bersih dari praktik korupsi ini. Dan juga…”

“Juga apa, Hyung?”

“Aiden Hyung menyarankanku untuk memeriksa bagian modeling dan forecasting. Aku membutuhkan seorang aktuaris independen, Dae.” Bagian modeling dan forecasting adalah hal di luar jangkauanku. Aku tidak mengerti dengan pasti bagaimana seorang aktuaris memodelkan dan membuat program untuk suatu produk financial.

“Bagian modeling berada di bawah kuasa Tuan Seo.”

“Aku akan meminta izin appa untuk melakukan inspeksi mendadak.”

Daehyun memelorotkan bahunya. “Hyung, kau akan mengalami kesulitan untuk menghadapi direksi karena practically kau bertugas di Vichou Insurance Singapore, bukan di pusat.”

“Aku mengerti, Dae. Oleh karenanya aku membutuhkan bantuanmu.”

***

 Aku membolak-balikkan profile seorang aktuaris yang dipilih Daehyun. Beruntungnya, Appa memberikan izin untuk melakukan koreksi independen terhadap bagian modeling. Langkahku terhenti saat suara dehaman menyapa pendengaranku.

“Apa kabar, Cho Kyuhyun?”

Menarik salah satu sudut bibirku, aku menujukan senyum miringku sebagai hinaan. “Sangat baik, kuharap demikian juga keadaan Tuan Seo.”

“Kau kembali ke Korea hanya demi memeriksaku?” sindirnya.

Aku berjalan mendekat dan melihat Seohyun berdiri di belakang ayahnya dengan gelisah. “Sebenarnya, aku hanya ingin mengorek beberapa kebusukkan dalam Vichou. Tuan Seo tidak perlu khawatir jika memang bagian yang kuperiksa bersih dari praktik kotor.”

“Kau pikir berapa lama kau berkiprah di dunia bisnis hingga berani mengajariku?”

“Aku akan melaporkan hasil investigasiku, sesegera mungkin.” Aku mebungkuk untuk mengakhiri pembicaraan yang tidak penting ini.

“Gunakan waktumu dengan baik, Kyuhyun. Aku ingin lihat bagaimana kau menghalangiku dalam waktu sempit yang kau punya,” bisik Tuan Seo ketika dia berada di sampingku.

Mengepalkan tanganku, aku tidak heran jika Tuan Seo mengetahui keadaanku. “Tentu saja aku akan mempergunakannya dengan baik. Tuan Seo tidak perlu khawatir,” serangku balik.

***

Mencopot kaca mataku, aku menekan-nekan pangkal hidungku. Mataku terasa sangat pedih dan badanku terasa remuk. Seharian ini aku sama sekali tidak meluangkan waktu untuk beristirahat. Kulihat Daehyun yang masih sibuk berkutat dengan tablet dan beberapa dokumen. D.O, aktuaris independen yang dipekerjakan Daehyun, menganalisis beberapa model financial untuk produk-produk Vichou yang lumayan menggunung.

Aku berdiri dari tempatku dan membuka pintu balkon ruang kerja Daehyun untuk sekedar merilekskan diri sejenak. Ruangan ini berhadapan langsung dengan taman botani kecil milik eomma, tempat di mana kami dulu sering mendapat marah eomma karena memetikki tanaman kesayangannya. Suatu kenangan yang kurindukan.

Coffee.”

Aku menoleh saat mendengar sapaan Daehyun di belakangku. “Thanks.” Kuambil sekaleng kopi dari tangan Daehyun.

“Bagaimana dengannya, Hyung?”

Aku berhenti meneguk kopiku dan menurunkan kalengnya dari wajahku. “Siapa yang—“

“Adelynn.” Daehyun menyandarkan pinggangnya di pembatas balkon dan merentangkan kedua tangan di atasnya untuk menyangga bobot tubuh.

Memutar kaleng kopiku, aku baru menyadari bahwa seharian ini belum menghubungi Lynn. “Dia mengetahui keadaanku saat aku memintanya bertunangan denganku. Aku memintanya membantuku untuk mengatasi hubungan rumitku dengan Seohyun.”

“Kau mempergunakannya?!” pekik Daehyun dengan mata melotot. “Kau gila, Hyung!”

“Aku tidak punya pilihan lain saat itu, Dae. Tuan Seo, bahkan Appa mendesakku untuk menikahi Seohyun. Padahal saat itu aku mulai menaruh curiga pada Tuan Seo. Jika pernikahan kami terjadi, maka Tuan Seo mendapatkan jalan untuk memperkuat kedudukannya di Vichou melalui aku atau pun appa.”

“Dia terlalu baik untuk hanya kau peralat, Hyung.”

Dalam pikiranku, aku menyetujui pernyataan Daehyun. “Aku mengaguminya sejak pertama kami bertemu dan aku tidak bisa menahan diriku untuk abai pada eksistensinya.” Aku meloloskan udara di rongga mulutku dengan embusan lambat saat kenangan pertama kali bertemu Lynn muncul di benakku.

“Kau—“ Daehyun sedikit ragu melanjutkan kalimatnya, “—jatuh hati padanya?”

Aku mengangguk dan tersenyum kecil. Barangkali aku akan tergelak jika dapat melihat raut wajah tak berdayaku saat ini. “Aku membutuhkannya untuk menyempurnakanku, dan aku—“ kugigit bibirku, gamang, “—mencintainya.”

Daehyun terkikik ringan untuk menertawai pengakuanku. “Does it mean that the date has been fixed?” Dia menyerutup kopinya.

Aku menggeleng untuk menjawab goda Daehyun. “Aku tidak mungkin menikahinya dengan kondisiku, Dae-ya. Aku seorang pengecut yang tidak berani mengutarakan perasaanku padanya dan memilih bersembunyi di balik brain hermmohage.”

Hyung…”

“Dae, ini takdirku. Aku tidak pernah menyesal dengan jalan ini. Bagaimana pun, kehadiran Adelynn di hidupku adalah suatu kemurahan Tuhan yang luar biasa.”

“Berapa persen kemungkinanmu untuk kembali normal?”

“Aku bahkan terlalu takut untuk mengkalkulasinya. Semampuku, aku akan bertahan. Kumohon bantu aku menyelesaikan kemelut Vichou agar—“ aku menahan napasku sejenak, “—seandainya aku pergi, aku bisa tenang karena telah menyelesaikan tanggung jawabku.”

Daehyun diam untuk menelaah kata-kataku. Dia memalingkan wajahnya dariku saat air mata meleleh. Dengan cepat dia membesutnya dengan telapak tangan supaya tidak membebaniku. “Aku menghormati segala keputusanmu, tapi aku tetap berharap kau bisa melakukan operasi secepatnya. Gagal atau berhasil, apa pun hasil operasi nantinya tidak akan mengubah kenyataan bahwa kau adalah hyung terbaikku, pedomanku, dan inspirasiku.”

Aku menepuk pundak Daehyun dengan bangga. Anak ini selalu bisa mengatasi kesulitannya dengan cara tersendiri. Dialah generasi Vichou yang sesungguhnya; cerdas, berpengalaman, dan matang dalam bertindak.

I got it, Hyung! I got it!” teriakan D.O dari dalam menarik dunia melankolisku dan Daehyun. Kami segera berlari untuk memeriksa apa yang diperoleh D.O. Dia menyeringai dan menunjukkan layar notebooknya yang penuh dengan bahasa pemrograman yang kurang kumengerti. “Di sini.” D.O menunjukkan hasil kerjanya.

Hey kid, I’m not that smart to understand this confusing code.” Aku menatap D.O galak.

Arraso, Boss.” D.O membagi jendela layarnya dalam dua bagian untuk membandingkan. “Program ini akan mengambil 0,00001% keuntungan dari setiap transaksi produk. Kecurangan ini tidak akan terdeteksi oleh karyawan lain karena, kemungkinan besar, hanya kepala bagian modeling yang memiliki hak seluruhnya terhadap program yang digunakan di pasar. Lagipula, angka tersebut sangat kecil.”

“Dengan kata lain, ada keuntungan sebesar 0,00001% yang disisihkan dari setiap transaksi produk.” Aku merangkum perkataan D.O.

Yep.”

“Dan bayangkan ada berapa juta transaksi yang terjadi setiap harinya.” Daehyun melipat tangannya. “Tuan Seo akan menjadi milyader hanya dalam hitungan bulan.”

Aku menyeringai untuk mengapresiasi kinerja D.O. “Print out hasil kerjamu.” Kuanjurkan telunjukku ke wajah D.O. “Gunakan bahasa awam untuk menjelaskannya. Jangan gunakan bahasa logika progammu yang runyam.”

“Siap!” D.O meletakkan tangannya di tepi dahi.

Hey kid!”

Yaaa…I’m not that kiddo, Daehyun Hyung.” D.O merengek ketika Daehyun juga memanggilnya demikian.

“Jika kau tertarik, kau bisa menjadi manajer bagian modeling Vichou Finance yang baru. Akan kurekomendasikan dirimu secara pribadi pada Presdir Cho.” Ucap Daehyun tenang yang membuatku tersenyum geli.

Jinjja?” D.O memelototkan matanya tidak percaya. “Gladly accepted, Hyung!”

***

How’s you day going on? Did you surpass your body too much? Do you get your meal on time?” bombardir pertanyaan Lynn begitu skype kami terhubung membuatku terkekeh geli. Kusapukan telunjukku pada wajah ayunya yang memenuhi layar ipad-ku.

Calm down, Babe.”

Babe?” Dia melawan sapaku dengan mengerutkan bibirnya. “Don’t babe me, Hyun.”

Why?” Kukedikkan bahuku. “Nothing’s wrong with that.” Aku melengkungkan senyum.

Could you just answer my curiousity?”

Ne, arraso.” Aku memiringkan tubuhku dan membuat posisi tidurku nyaman. “I was very busy this day and the day before and I’m really sorry for not calling you.” Kuletakkan sebelah tanganku di bawah pipi. “Don’t worry, eomma always become my alarm to have my meal on time. How’s your day?”

At always, just had another class and some papers that eating me up.”

Merasakan keberadaan kami yang terpisah jarak adalah pengalaman baru. Menanggung keinginanku untuk menjangkaunya dalam dekapku adalah siksaan, namun aku menikmati setiap rasa ini. Tanpa sadar, aku menguap untuk mengapresiasi kantukku.

“Hyun, it must be late night in Seoul. Take a rest and sleep tight—“

No…no…please,” aku menahan Lynn agar tidak menutup koneksi kami. “Keep in touch till I fall asleep.” Celotehnya yang renyah menjadi alunan lullaby bagiku. Senyum tipisnya menjadi pemandangan indah sebelum mataku menutup.

***

Mengangkat wajahku, aku menghentikan koreksiku atas suatu dokumen. Kuadu alis untuk mengungkapkan keherananku. “Kurasa kita memang memiliki urusan yang belum selesai, Seo-ya.” Tanpa basa-basi, aku menyapa Seohyun yang sudah berdiri di depan meja kerja Daehyun yang kugunakan.

Seohyun menghadapkan layar tablet-nya padaku. “Kau mencari ini, Oppa?” Beberapa kali dia men-swap layarnya untuk menunjukkan barisan angka-angka yang mulai kumengerti. Dokumen pembukuan keuangan kerja sama Vichou dengan Hyundai yang asli.

“Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?” dengan kalem, kujalin jemariku menjadi satu. Aku tahu Seohyun tidak mungkin memberikan laporan tersebut secara cuma-cuma.

“VIPS restaurant at 07.30 pm. Sebuah makan malam dengan kekasih.” Seohyun menutup case tablet dan memasukkannya ke dalam tas. Dia meninggalkan ruangan Daehyun dengan senyum kemenangan.

Menggeram dan meremas rambutku, aku menggebrak meja. Seharusnya tidak mengherankan jika Seohyun memiliki copy file laporan keuangan yang asli. Mungkin dia terlibat menangani proyek itu.

“Seohyun baru saja menemuimu?” Daehyun datang dengan setumpuk laporan.

“Dia memiliki file yang kita cari, Dae-ya.

Mwo?!” Daehyun menjatuhkan tumpukan mapnya di meja hingga menimbulkan bunyi bedebam ringan. “Apa syarat yang dia ajukan?”

Dinner.

Daehyun mendengus dan meninju udara. “Mengingat insiden pesta natal lalu, aku yakin dia sudah merencanakan sesuatu. Tidak mungkin sebuah dinner mampu menebus file yang mungkin akan menjeratnya dalam pidana berat.”

I have a plan, but I need your men.”

Melipat tangannya di depan dada, Daehyun menaikkan alisnya. “Ok, tell me the detail later.” Dia berjalan ke sudut ruangan di  belakangku dan menggerutu tidak jelas.

Kuputar kursiku seratus delapan puluh derajat agar dengan jelas menangkap gerutu Daehyun. “Ada yang salah, Dae?”

Remote cameraku tidak bekerja.” Daehyun memukul-mukulkan remote kecil di pergelangan tangannya, kemudian mengarahkan benda tersebut ke atas.

Mulutku menganga begitu tahu letak kamera yang dipasang Daehyun. Kamera mikro itu tertempel di sisi lukisan tepat di bagian belakang kursi yang kududuki. “Kau begitu menyanjung dirimu hingga perlu untuk memasang kamera di situ?”

Hei, don’t be narrow minded, Hyung.” Daehyun memandangku dengan tatapan mengejek. “Aku perlu merekam beberapa hal sebagai diary karena akhir-akhir ini aku sering melupakan detail.” Dia mengusap dahinya. Tekanan kerja sebagai salah satu direktur di usianya yang masih belia tidak mengurangi profesionalitas dan kredibilitasnya.

A camera?” Aku menyuarakannya dengan rendah. “A camera?!” pekikku seakan mendapatkan jackpot. “You’re daebak, My Bro.” Aku berdiri, tersenyum lebar, dan menepuk-nepuk lengan Daehyun.

Hyung, kau membuatku takut.”

Aku tertawa meski Daehyun mengolokku. Kuacak rambutnya dengan gemas persis ketika kami masih kecil. Dia berteriak kesal saat gaya rambutnya totally messy.

***

Kupotong steak di depanku menjadi bagian-bagian kecil, lalu kuangkat piringnya untuk menganjurkannya pada Seohyun. Aku tidak memungkiri kecantikannya yang nampak begitu sempurna dalam temaram cahaya di candle light dinner kami. Warna biru tua gaun strapless-nya jatuh tanpa cacat di kulit putihnya.

“Aku merindukan momen ini, Oppa.” Seohyun menyuapkan potongan steak dengan hati-hati agar tidak merusak make up-nya. “Seharusnya kita lebih banyak membuat kenangan seperti ini dahulu.”

“Kita sedang melakukannya saat ini,” kuberikan tanggapan sekenanya pada pembicaraan Seohyun. “You’re really a beautiful woman, Seo Joo Hyun.”

Seohyun menghentikan tangannya untuk mengadu garpu dan pisaunya. Dia memandangku dengan ragu.

I said a true compliment.”

Gomawoyo, Oppa.” Tersipu malu, Seohyun melanjutkan makannya.

“Tapi mengapa gadis cantik ini hanya dapat melihatku?” Aku memainkan telunjukku pada ujung gelas wine. “You should find a man whom you love and loves you back.”

“Aku telah menemukan lelaki yang kucintai.” Seohyun mengalamatkan tatapannya padaku untuk mengimplisitkan bahwa lelaki itu adalah diriku.

But this man couldn’t give his heart to you.”

Seohyun meletakkan alat makannya dengan sedikit kesal. “Oppa, aku tidak peduli dengan penyakitmu atau pun presentase harapan hidupmu. Selama kau menerimaku di sisimu, itu lebih dari cukup. Tidak bisakah kau mengabulkan keinginan sederhana ini?”

Kusesap bau harum wine sebelum mengecap rasanya yang sangat familiar bagi lidahku. “Aku minta maaf setulusnya untuk luka yang kutorehkan di masa lalu.” Perbincanganku dan Seohyun selalu stagnan di titik ini. “Aku tidak ingin mengulangi kesalahanku untuk kedua kali, Seohyunnie. Aku sungguh menghargaimu sebagai wanita. Oleh sebab itu, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu.”

“Lalu mengapa kau malah menyanding gadis itu?”

“Seo-ya, please don’t bring Adelynn in our issues.”

Menolehkan muka ke samping, kepalan tangan Seohyun di atas meja mengerat. “Aku tidak bisa melenyapkan iriku padanya. Betapa dia beruntung bisa memilikimu.”

Aku menggeleng untuk menyangkal. Bagian mana yang bisa disebut keberuntungan bagi Lynn jika beberapa kali nyawanya terancam karenaku. “Kau tentu tahu bagaimana oposisiku membahayakannya karena dia berdiri di sisiku.”

“Hal tersebut tidak perlu terjadi jika rencana pernikahan kita dulu terealisasi.”

Aku menghela napas lelah. “Masa lalu selalu tertinggal di belakang, Seo-ya. Past is a past. It’s merely a part of our life. Hal terpenting adalah saat ini. Bagaimana kita membuat keputusan agar masa sekarang tidak menjadi penyesalan kita besok.”

Tubuh Seohyun pasrah untuk bersandar di kursinya. “Pernahkah kau mencintaiku, Oppa?”

Menarik sudut bibirku, kutanggapi pertanyaan Seohyun sebagai hal yang sia-sia. Pertanyaan klasik sebagai bentuk putus asa yang akan menyakiti dirimu sendiri. “I did ever love you or Shim Hwa Young with my heart. But, it seemed didn’t enough to me. I’m sorry, Seohyunnie. Please, this’s time to you to move on.

Seohyun mengulum bibir atas dan bawahnya. “Gomawoyo, Oppa. Meskipun aku hanya sempat merasakan kenangan denganmu sebentar saja, namun dengan hal itu aku menemukan keinginanku.”

Aku terheran dan bermaksud untuk menanyakan maksud perkataan Seohyun, namun senyumnya menghentikanku. Dia terlihat ingin mengakhiri pembicaraan kami dengan kata-katanya. “It’s nothing compare to what I’ve done to you.” Aku memundurkan kursiku dan berdiri, namun pening tiba-tiba menyerang kepalaku.

Oppa?”

Kuangkat tanganku ke depan untuk menahan Seohyun agar tidak perlu khawatir. Kugeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat saat mataku mengabur. Pangkal tanganku kugunakan untuk menekan sumber rasa pusing di kepalaku. Ini bukan karena penyakitku, ini semacam pusing yang kurasakan ketika mabuk berat. Damn! It must be her. Umpatan dalam hatiku adalah terakhir aku berada di kondisi sadar.

***

Aku membuka mataku perlahan ketika wajahku menghangat karena terpaan sinar matahari pagi. Kuurut kepalaku ketika sisa-sisa peningku mulai lenyap. “Holy shit!” aku memaki pelan ketika mengenali figur yang terbaring di sisiku.

Kusibak selimutku dan kujumputi pakaianku yang tersebar di lantai. Kupakai celana panjangku dan kemejaku dengan asal. Kuraih smartphone-ku dan kunyalakan dengan segera. “Pick me up on fifteen minutes.”

Kusambar clutch bag milik Seohyun dan kutumpahkan seluruh isinya. Tidak ada satu barang pun yang mencirikan sebuah storage disk. Sejak awal gadis ini memang tidak berniat untuk melakukan barter. “Cish,” aku mendesis kecewa.

Wake up sleepy princess.” Kukeraskan nadaku untuk membuat Seohyun terbangun.

Ugh, Oppa?” Seohyun menutupi wajahnya dari sorot cahaya matahari dengan sebelah tangannya. “Bagaimana kau bisa di si—“ dia berniat bangun, “—omo!” Menarik selimut untuk menutupi tubuh atasnya, Seohyun bermuka bingung dan menatapku.

“Tidak perlu memasang wajah sandiwara, Seohyunnie. Bukankah seharusnya kau bersorak karena rencanamu terlaksana, huh?” Aku duduk di sofa dan menyilangkan kakiku dengan tenang. Kutumpu sikuku di pinggir sofa dan kusangga dahiku dengan ujung jemariku. “Menikmati malam yang kita habiskan bersama?” sarkasmeku.

Seohyun menurunkan kakinya dari ranjang. Dia membebatkan lapisan selimut yang lebih tipis untuk menutupi tubuhnya. “Ya. Aku sangat menikmatinya, Oppa.” Mulutnya mengerucut saat menekan kata ‘oppa’. “Dan aku tidak sabar menunggu keberuntunganku setelah malam tadi.”

Kupejamkan mataku dan kuusap wajahku dengan santai seakan perkataannya tidak membebaniku. Sudut kanan bibirku tertarik keluar untuk mencemooh statement-nya.

Seohyun menjumputi pakaiannya di lantai. “So, will you join me to bath?” ucapnya dengan nada seduktif.

“Apakah kau telah kehilangan harga dirimu?”

“Aku tidak merasa harga diriku menjadi rendah karena tidur dengan calon suamiku.”

“Sejak kapan aku mendeklarasikan diriku sebagai calon suamimu?” Aku semakin jijik dengan perbincangan kami. Sungguh di luar nalarku bahwa wanita baik-baik yang kukenal ini menjadi demikian liar.

“Bagaimana kau bisa berkelit dengan pengalaman kita semalam?”

Mengontrol amarahku untuk tidak meledak, aku memejamkan mataku lagi barang sejenak. “Hentikan sandiwara dan permainan kotor ini atau—“

“—atau apa, Oppa?” Seohyun mendekatiku. Tangannya mencengkeram tepi selimut agar tidak melorot dan mengekspos tubuhnya.

Aku berdiri dan mengangkat tanganku untuk menunjuk sesuatu. “Atau bukan hanya aku yang akan merugi, tapi juga dirimu.”

Seohyun mengerutkan kening untuk mencoba mengerti ancamanku. “Apa yang kau mak—“

Kata-katanya terhenti begitu matanya dengan jeli menangkap sesuatu yang kutunjuk. “One, two, three—“ aku memutar tubuhku, “ah, maybe we can get more.” Aku sudah memprediksi akan berakhir seperti ini. Jadi kubuat rencana untuk mengikuti alur permainannya; seperti kata Aiden, aku juga bisa bermain kotor. “Bagaimana bisa sebuah kamar hotel memiliki CCTV sebanyak ini? Bukankah kamar VVIP seharusnya bersifat sangat privasi?” sinismeku.

Badan Seohyun bergemetar saat menyadari maksudku. Bukan hanya aku yang masuk dalam jebaknya, namun juga dia. Dia menyangga tubuhnya ke badan ranjang ketika limbung. Rahangnya terkatup dan tatapannnya mengulitiku. “Kau…”

“Menikmati malammu, Seohyunnie?” sindirku seraya bergerak untuk meninggalkan kamar sialan ini. “This’s an old fashioned trick,” cemoohku pada jebakannya.

“Kita lihat siapa yang menang di permainan ini, Oppa. Setidaknya kau juga mengantisipasi media.”

Aku terdiam sebentar, kemudian tergagap untuk mengecek berita pagi. “Damn it!” Gigi-gigiku bergemeletuk saat menemukan headline pagi ini. Lagi-lagi dia menggunakan media.

“Aku ingin tahu, bagaimana berita pagi ini menyapa gadis yang kau puja.”

Aku mengepalkan tanganku dengan amat erat hingga kuku-kukuku membuatku perih. “Don’t you dare to lay your finger on her or else you will get my claws.”

***

“Semua CCTV di lobi dan sepanjang koridor hotel telah dimatikan sebelum kau datang, Hyung.” Daehyun mengevaluasi kinerja kami. “Kita beruntung karena mereka memilih hotel ini sebagai tujuan. Shim Changmin dengan senang hati mengizinkanku untuk menginvasi hotelnya sementara waktu untuk meletetakkan beberapa CCTV.” Cengiran lebar Daehyun dan keberhasilan kami tidak membuat mood-ku membaik. “Ada masalah lain?” dia memerhatikanku dengan seksama.

“Media,” kujawab tanya Daehyun dengan singkat.

Yah, aku juga tidak menyangka mereka dengan cepat menggunggah fotomu di web. Tapi aku sudah mengupayakan pemblokiran untuk beberapa site resmi. Tenang saja, kita memiliki bukti autentik bahwa kau hanya dijebak.”

Aku tidak peduli jika foto skandalku beredar ke seluruh penjuru sekali pun, namun lain halnya jika foto tersebut melukai gadisku. Tidak tahu apa yang menahanku, tapi hingga saat ini aku belum menghubungi Lynn. Aku terlalu malu untuk memintanya mentolerir keadaanku, lagi.

Tepukkan Daehyun di pundakku menyadarkanku. “Hyung, get ready.” Dia mendahuluiku keluar dari ruangan untuk menuju rapat dewan direksi.

***

Kasak-kusuk di antara anggota dewan mengenaiku tidak kuindahkan. Aku terlalu muak dengan pendapat mereka. Beberapa mata memandangku rendah, namun rasaku telah kebas dan karsaku menginginkan semua cepat berakhir.

“Presdir Cho, kurasa kita tidak perlu melakukan sidang dadakan untuk agenda yang sangat tidak masuk akal ini.” Tuan Park, seorang anggota dewan, menghinakan pertemuan ini. Beberapa hanya mengamini dan sisanya tidak berkomentar apa pun.

“Meskipun Cho Kyuhyun putramu, tapi dia tidak berhak mengintimidasi Vichou pusat karena dia bertugas menangani Vichou Insurance di Singapore.”

Kulihat appa yang berwajah masam sepertiku. Setelah melihat bukti-bukti yang kupaparkan sebelumnya, dia sangat marah. Mungkin kecewa lebih mendominasinya karena Tuan Seo adalah salah seorang kepercayaannya. “Aku memutuskan untuk mendengarkan hasil investigasnya. Jika di antara kalian tidak berkenan, maka silakan tinggalkan ruangan ini. Dan andai saja, Cho Kyuhyun melakukan kesalahan terhadap pemeriksaannya, aku sendiri yang akan memberikannya sanksi.”

Aku menundukkan badanku untuk menghormat. Kuulas hasil kerjaku mulai dari kecurangan kerja sama Vichou Finance dengan Hyundai, kecacatan program untuk setiap produk financial, hingga beberapa kasus penyelewengan kecil lainnya. Tidak hanya itu, kuhadirkan D.O untuk mempertegas tindakan korupsi yang dilakukan departemen modeling di bawah Tuan Seo.

“Apakah kalian percaya dengan omongan bocah ini?” Tuan Seo memprovokasi anggota dewan. “Bagaimana bisa kalian percaya pada orang yang tidak mempunyai kredibilitas?” Sanggahannya menjadikan beberapa orang berbisik. “Skandal-skandalnya menunjukkan bahwa dia tidak patut berdiri di sini. Apalagi membual.”

Aku menahan emosiku untuk meroket. Kutayangkan sebuah foto sebagai bukti utama. Foto file pembukuan kerja sama Vichou yang pernah Seohyun perlihatkan padaku. Foto ini tidak sengaja terambil karena Daehyun memasang kamera kualitas HD di belakang kursinya.

Semua anggota dewan, termasuk Tuan Seo dan Seohyun sendiri menjatuhkan rahangnya begitu melihat bukti ini. Dehaman untuk mengusir keterkejutan dan kecanggungan, Tuan Seo loloskan. “Setelah apa yang terjadi antara dirimu dengan putriku, bagaimana kau bisa melakukan ini, Cho Kyuhyun?” ucap manisnya membuatku ingin memuntahkan sarapanku.

Seohyun tampak gelisah di tempatnya. Menggigit bibir bawah, wajahnya memucat. Rekaman CCTV tentu akan lebih memalukan jika ditunjukkan di depan para dewan. Terlebih karena dia seorang wanita.

“Kami memiliki bukti atas skandal ter—“

Aku mengangkat tanganku untuk menghentikan ucapan Daehyun. Mataku lurus menatap Seohyun yang tidak nyaman di tempatnya. Dia tidak pernah menunjukkan wajah memelas seperti saat ini. Andai aku mempertontonkan video CCTV, maka pupus sudah semua mimpinya untuk berkarir di dunia bisnis. Orang akan menghakiminya sebagai wanita ‘rendah’ yang patut diragukan kredibilitasnya.

“Semua yang terjadi antaraku dan Seo Joo Hyun hanyalah kesalahpahaman. Kami hanya dua anak muda dengan darah panas hingga melakukan kesalahan tersebut.” Aku menekuk lututku untuk memohon di hadapan dewan direksi. “Kumohon, beri kami kesempatan untuk memperbaikinya.”

Hyung!” Daehyun berlari ke sisiku dan menggoyahkan pundakku. “Apa yang kau lakukan?!”

Aku bergeming dengan posisiku dan menunggu keputusan mereka. Kurasakan kuku-kuku Daehyun yang menancap di pundakku. Aku tahu dia mengherankan tindakanku.

Beberapa saat kemudian, kudengar sesenggukan Seohyun. Dia ikut berlutut bersamaku untuk meminta kesempatan. Menundukkan wajah, pundaknya terguncang pelan. Aku tahu, kali ini dia sungguh menyesal.

Suara ketukan di pintu, disusul beberapa orang berseragam merangsek masuk ke dalam ruangan. Salah satu dari mereka menghadap appa dan memberikan hormat. “Saya membawa perintah penangkapan atas nama Tuan Seo Joon Pyo. Kami telah melakukan penggeledahan dan menemukan bukti-bukti yang sekarang ada dalam sitaan.”

Aku mengukir senyum kemenangan. Sebelum rapat diadakan, aku mengirimkan bukti-bukti awal untuk mempidanakan Tuan Seo. Meeting dadakan ini ditujukan untuk mengosongkan kantor dan membuang kesempatan Tuan Seo untuk melenyapkan bukti yang sesungguhnya.

“Sial kau, Cho Kyuhyun!”

Appa…” Seohyun merintih untuk menangisi appa-nya yang diseret paksa oleh petugas. Meski demikian, dia masih berdiam di posisinya.

Appa memandangku dengan raut yang tidak bisa kuartikan. Aku takut jika keputusanku mengecewakannya. “Menimbang kiprah kalian untuk Vichou, aku memberikan maafku untuk kalian berdua. Bagaimana dengan direksi yang lain?”

Satu persatu, bahkan hampir semua direksi berdiri dan menggangguk setuju. “Kesalahanmu tidak membuat profesionalitasmu menurun, aku setuju dengan Presdir Cho.” Pernyataan Tuan Park yang tadinya sempat bersitegang di muka membuatku lega.

Daehyun mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri setelah semua anggota dewan mengosongkan ruangan. Dia memelukku dan menepuk-nepuk punggungku. “Kau yang terbaik, Hyung.”

Kutinju dada Daehyun ringan. “Terima kasih untuk mengerahkan semua usahamu, Daehyunnie. Kau juga yang terbaik.”

Oppa…” Aku dan Daehyun menoleh pada Seohyun yang juga masih tertinggal di ruangan.

I know, Seohyunnie.”

Senyum tulusnya merekah di bibir. “Terima kasih, Kyuhyun Oppa.” Dia menunduk untuk menghormatiku.

“Kembalilah ke Singapore, dan selesaikan masalah cintamu.” Ucap tiba-tiba Daehyun.

Aku tersenyum miris untuk menanggapi isu Daehyun. Seharusnya dadaku menjadi lega karena masalah korupsi Vichou selesai, nyatanya tidak. Aku masih merasakan himpitan yang membuatku sesak. Bukan hanya karena Adelynn, namun sesuatu lain yang belum kuingat dengan baik. “Ya, aku harus kembali secepatnya ke Singapore.” Kulangkahkan kakiku keluar, namun baru beberapa meter tubuhku limbung.

Hyung?” Kurasakan Daehyun menahan badanku.

Rasa sakit yang selalu menghantuiku secara pelan menyebar di kepalaku. Aku membungkuk ketika rasa tusukkan-tusukkan mendera kepalaku. “Errrgghh…” Kali ini entah mengapa kesakitannya lebih dari yang biasa kurasakan. Tubuhku merosot ketika kakiku tak mampu menopang.

Hyung…Hyung,” Lamat-lamat kudengar suara kepanikan Daehyun. “Panggil ambulan, cepat!” sosoknya menghilang seiring kesadaranku yang memudar.

TBC*

Bonus Pic:

The gorgeous of both

tumblr_mj7teyigCr1rjzp5yo1_500

Tiffany Hwang as Adelynn Lee

tumblr_mjbuhpwfAU1rdh52fo1_500

Kyuhyun Cho as himself

Note:

Mian, aku tidak sempat membuat beberapa glosarium. Jika ada bagian yang tidak dimergerti, silakan tanyakan. Part ini memang sedikit momen Kyuhyun-Adelynn, aku harap kalian masih bisa menikmatinya. English isn’t my tongue language, so I’m still learn too. Don’t worry about the English. Let’s learn together. ^^

Selanjutnya, aku masih akan menggunakan POV Kyuhyun untuk menyelesaikan masalah cintanya. Errr…mungkin aku akan menyelesaikan cerita ini di chapter 12/ 13.

Buat Dyah Eonni:😄 gara2 ambil kuliah komputasi dan ahli nujum, jadi aku masukin aja ke cerita ini. Don’t shot me, Eonni.

And for my beloved reviewer: aku senang kalian berkomentar apa pun; entah perasaan kalian setelah baca ff ini, koreksi, atau sekedar bualan. Jadi jangan minta maaf jika kalian berkomentar panjang lebar. I like to read it rather than just ‘lanjut’.

Bye (^^ / im waiting ur review.

228 thoughts on “A Lovely Coincidence [Shot 9]

  1. haruyaa says:

    Urusan satu selesai, urusan lain masih menunggu untuk diselesaikan. Untung kyuhyun baik, masih mau nutupin kelakuan busuk seohyun. Lynn apakabar di sana?😐

  2. entik says:

    Sungguh mengahurkan
    Aku harap hyun akan baik2 saja, selalu d akhiri dgn rasa penasaran sebelum aku baca part selanjut nya.

  3. chenphy says:

    suka sama sikap hyun yg seperti itu,,msh menyampingkan egojg sangaaaat menjaga wanita.. suka..
    dae,,aku jatuh hati padamu ikh bnran..
    wah.. gmn reaksi lyn ya,,hanya dr gosip,,udah baikan mlh timbul slah paham.. dan hyun kau knp?? tuan cho bs tahu dongklo hyun sakit parah??

  4. Cici says:

    Glad for Cho Kyuhyun!!
    Congratulations!!
    Aku berharap Adelynn bisa ngerti posisi Kyuhyun.
    Dan aku berharap kalo mereka akan bertambah romantis.

  5. Hahahhaa akhirnya dalang dari semua kejahatan U̲̣dǝ̥н̲̣̣ ketangkep! yeeey semoga aja dengan ditangkapnya tuan seo tidak ada lagi masalah yg akan dtng.. sukurin seo joo hyun makanya Κ̲̅ã̬̩̊L̅ ̲o̲̅ ♏äƱ bertindak pikir dulu.. untung aja kyu pinter dan sigap. jadinya seohyun sendiri yg dapet ganjaran dari ulahnya.. aaah kyu kenapa itu?? jangan bilang next chapt kyu koma?? aah jangan sampe😦 kyu kamu harus bisa lawan penyakitnya! Lynn semoga aja dia †au kalo kyu ga pernah ngelakuin apa yg diberitakan ð̀ĩ media

  6. syalala says:

    eiy kyuhyun asked lynn to feed him and her position was in his lap! how sweet they areeeeeeee, happy to imagine that situation. ah kan kyuhyun has a kind heart, he respects seohyun even thought seohyun did it to him. hope he will be back to singapur asap. nexxxttt chapterr

  7. Rania says:

    Aish jinja..
    Beneran yaw ff ini kereeen,,
    Satu lage kelebihan Hyun, berbesar hati, menutupin kesalahan Seohyun,
    Seo salah satu yg pernah disukain ma Hyun, dan Hyun menyelamatkan harga diri Seo ddpan orang byak, scene ini sesuatu banget…!

  8. Elelele~
    Kyu-Lynn makin mesra yaaa. Saya jeles. Hahaha

    Hyun bersodara ini emang cerdasnya luar biasa. Saya sudah panik pas Kyu mendadak pusing, mendadak klise dengan adegan women trap. Eh ternyata Dae-Kyu sudah nyediain another trap yang lebih kece. Rasain Seo.
    Dan dengan kerennya Kyu nggak membeberkan perbuatan Seo di rapat.
    Duh yaaa. Makin nggak tega nyebangin endingnya bakal gimana setelah Kyu pingsan mendadak. T_T

  9. HAH! selalu dan selalu ff ini bikin greget, feelnya slalu dapet bgt. konfliknya makin seru, dan sedikit khawatir kalo adelynn salah paham antara seo sama kyu, hah seo jahat bgt sih disini, tp kyu cerdik jg udah siapin cctv >< dan author bener2 slalu berhasil bikin aku hampir nangis pas kyuhyun kesakitan, aku gak tega TT smoga kyu cepet sembuh dan cptan nikah sama adelynn :') keep writing thor! and fighting kkk

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s