[Two Shot] The Worst Tragedy: Last Assault


the worst tragedy

The Worst Tragedy [Last Assault]

[Jakarta: May, 1998]

Namaku Danisha Tribhuana Tunggadewi. Nama Danisha diambil dari kata ‘danish’ yang berarti orang Denmark. Ayah memberikan nama tersebut karena aku lahir di Denmark ketika beliau bertugas sebagai diplomat di negara tersebut. Tribhuana Tunggadewi sendiri diambil dari gelar Ratu Majapahit, Dyah Gitarja, yaitu Tribhuana Wijayatunggadewi. Satu-satunya ratu yang memimpin kerajaan Hindu-Budha terbesar dalam sejarah Indonesia.

Ayahku berkebangsaan Indonesia, sedangkan ibuku adalah keturunan Tionghoa yang dilahirkan di Indonesia. Meskipun hidup di Indonesia, ibu mewarisi marga kakek dalam namanya, Meisya Lim. Selain kedua orang tuaku, aku memiliki seorang kakak laki-laki lima tahun lebih tua dariku, Putra Bagus Airlangga.

#

Eumph—“ mataku langsung terbuka ketika kurasakan seseorang membekap mulutku saat aku tertidur. Kuurungkan diriku untuk meronta ketika wajah Kak Angga memenuhi penglihatanku. Dia meletakkan telunjuk di bibirnya untuk menyuruhku diam. Aku mengangguk kecil.

Kak Angga memaksaku bangun, padahal ini masih pukul 02.00 dini hari. Dia menata gulingku dan menyelimutinya kembali hingga menyerupaiku. Menuntunku, Kak Angga bersikap awas dengan mengintip keluar pintu kamarku sebelum meninggalkannya. Aku dibuatnya heran dengan sikapnya.

Membuka almari buffet, Kak Angga mendorong tubuhku untuk masuk ke dalamnya. Mataku melotot marah padanya untuk mengatakan ketidaksetujuanku. Memangnya lucu di usia remaja, kami masih bermain petak umpet?

Pandangan tajam Kak Angga membuatku patuh pada perintahnya. Dia menekuk lututnyanya dan mensejajarkan pandangannya denganku yang sudah sepenuhnya masuk dalam buffet. “Adik tidak boleh keluar. Pokoknya, apa pun yang terjadi, Adik harus tetap di sini,” ucapnya pelan.

Kak Angga menutupiku dengan beberapa barang sebelum menutup pintu buffet. Pandanganku sirna saat pintu tertutup rapat, dan hanya menyisakan secelah lubang untuk mengintip keadaan luar.

Bahuku terlonjak kecil begitu mendengar teriakan ibu disusul suara gaduh yang tidak kutahu apa gerangan. Mataku membulat ketika dari celah pintu buffet aku bisa melihat orang-orang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala menginvasi rumahku.

Aku membekap mulutku dengan sangat rapat untuk menghentikan keinginanku berteriak. Mataku dengan jelas menangkap kilau parang yang diarahkan pada tubuh Kak Angga. Dia mencoba melawan, namun apa daya jika tiga orang berperawakan tegap mengeroyoknya. Tikaman yang mengoyak tubuh Kak Angga tidak hanya sekali dua kali.

Darah kental yang mengalir di sisi parang membuat tubuhku semakin bergetar. Telingaku menangkap kesakitan Kak Angga beberapa saat sebelum suaranya lenyap. Aku ingin keluar dan menubrukkan diriku pada salah satu dari orang yang menyerang kakakku, tapi kulihat mata Kak Angga mengarah ke tempatku dan menyuruhku diam.

Aku menekan mulutku semakin erat untuk menyembunyikan suara tangisku. Salah satu dari mereka menendang tubuh kakakku tanpa perikemanusiaan dan menikamnya kembali. Kugeleng-gelengkan kepalaku dan kupejamkan mataku saat hatiku tidak kuat untuk menerima kekejaman mereka.

Kutajamkan pendengaranku untuk mencari suara ibu. Teriakan dan rintihan yang tadinya sempat kudengar kini juga lenyap. Hanya suara gaduh dari beberapa perabotan yang terjatuh memenuhi pendengaranku. Aku mendekap tubuhku saat suara derap langkah mereka berkeliaran di penjuru rumahku. Percakapan mereka dengan bahasa Indonesia dan sumpah serapah mereka dengan dialek kedaerahan yang kental meyakinkanku bahwa mereka warga pribumi.

Kepalaku pening, mataku sembab, dan dadaku sesak. Ketika kudengar tanda bahwa mereka bergerak meninggalkan rumahku disusul derum mobil, aku memberanikan diri untuk terisak. Kupeluk lututku saat nyaliku ciut untuk sekedar melongok keluar atau meminta bantuan.

#

Air mataku sudah mengering, namun dukaku belum jua berkurang. Beberapa polisi berlalu lalang di depanku dan mencoba menanyaiku, namun mulut dan rahangku kaku. Salah seorang kerabat menemaniku dari pagi hingga siang ini. Pikiranku terlalu kacau, sampai-sampai untuk mengenali kerabatku saja, aku tidak bisa.

“Danish, ayahmu akan tiba dari Belanda sore ini.” Kurasakan dia mengelus puncak kepalaku.

“Nyonya, bisakah saya mengetahui nama anak ini dan hubungan Anda dengannya?” Seorang polisi akhirnya bertanya pada orang di sampingku.

“Saya bibi dari pihak ayahnya dan anak ini bernama Danisha Tribhuana Tunggadewi.”

Telingaku menegak ketika namaku disebut. Hatiku tidak rela dengan nama tersebut. Aku bisa merasakan kebencianku tumbuh terhadap nama belakangku. Kucoba menggerakkan bibirku untuk menyangkal. “Da…Danish Lim.”

“Kau bicara apa, Sayang?”

“Namaku Danish Lim.”

***

[Seoul: May, 2013]

Aku menyedot udara dari hidungku untuk memenuhi rongga paru-paruku. Mencoba melawan keengganan untuk bangun, aku perlahan membuka kelopak mataku. Kukirimkan impuls untuk menjentikkan jemari-jemariku. Kupaksakan inderaku untuk menerima segala macam rangsangan; cahaya, udara, dan…sentuhan.

Aku mengenali dengan baik wajah yang tergolek di samping ranjangku. Kugerakkan jemariku yang berada dalam genggamannya, bukan untuk membuatnya terbangun, namun untuk merasakan persinggungan kulit kami.

Air mataku meleleh ketika bagian kelabu dalam hidupku hadir dalam mimpi buruk. Aku semakin rakus untuk menguasai udara di sekelilingku ketika panikku melanda. Dadaku sesak ketika proses bernapasku tak mencukupi pasokan udara. Aku semakin tidak bisa menguasai emosiku ketika bayangan masa laluku semakin mendekat.

“Dannie…Dannie…” Donghae segera terbangun dan aku bisa melihatnya begitu kalap.

Sayup-sayup aku mendengar bunyi ‘tut’ yang kerap dan keras.  Selang beberapa saat, orang-orang berjas putih masuk dan mengerubungiku. Aku mencoba menahan tangan Donghae agar dia tidak melepaskanku, namun gagal. Seorang berjas putih dari mereka memaksanya keluar.

Aku mengulurkan tanganku agar Donghae kembali menggenggamnya. Aku takut, sangat takut. Tapi dayaku semakin lemah seiring sosok Donghae yang menghilang di balik pintu karena seseorang mendorongnya. Please

***

“Bagaimana keadaanmu?” Donghae mengusap rambutku dan menciumi jemariku. “Kau membuatku ketakutan, Dannie.”

Aku mencoba melengkungkan senyumku untuk menjawabnya. Aku bahkan tidak tahu apakah Donghae bisa melihat senyumku atau tidak karena halangan dari masker oksigen yang terpasang di wajahku. Menggerakkan mulutku, aku ingin mengatakan ‘ayah’ untuk mengetahui keberadaan beliau.

“A…ayah?” Donghae berusaha menebak gerak bibirku. Aku mengangguk kecil. “Appa-mu sedang mengurus beberapa keperluan. Kemarin dia menungguimu dan pagi ini ada sesuatu yang mendesak.”

Aku ragu untuk menanyakan keadaan Siwon Oppa pada Donghae. Takut-takut dia menyalahkan Siwon Oppa atas kondisiku saat ini. Mataku dan keningku secara spontan menunjukkan gambaran hatiku.

Desahan Donghae cukup tertangkap oleh pendengaranku. “Siwon-ssi sedang mengurusi hal yang crucial. Kau tak perlu khawatir, dia baik-baik saja.”

Aku tersenyum ketika tanpa kuminta, Donghae menjelaskan apa yang kuinginkan. Walaupun aku sangat ingin menemui Siwon Oppa, namun untuk saat ini cukuplah mendengar bahwa dia baik-baik saja. “Kau lelah?” Aku masih berusaha mendapatkan suaraku kembali.

“Aku lelah, tapi aku ingin di sini untuk menemanimu.” Donghae mencodongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan di dahiku.

Kututup mataku saat kurasakan bibir lembut Donghae menyapu kulit keningku. Desir-desir kecil menggodaku untuk membentuk senyum. Aku merasa aman saat dia berada dalam jangkauan pandangku, terlebih saat aku bisa menggenggam tangannya lagi. Hanya Donghae yang bisa memberikan perasaan ini. Aku tidak perlu cemas dia akan meninggalkanku atau terebut dari sisiku karena dia sahabatku yang tidak tergantikan.

Lain halnya dengan Siwon Oppa. Aku selalu tenang dengan hanya melihat ekspresinya. Perutku terasa penuh kupu-kupu dan dadaku bedebar setiap dia di dekatku. Moodku selalu membaik ketika dia tersenyum. Namun di sisi lain, aku juga sangat takut jika dia meninggalkanku. Perasaan khawatir andai hubungan kami memberatkannya juga selalu menghantui.

“Tidurlah kembali. Kau perlu banyak istirahat untuk memulihkan kondisimu.” Donghae mengerutkan keningnya ketika bibirku bergerak-gerak lagi. “Aku?” dia menunjuk dirinya sendiri. “Tenang saja, aku selalu di sini jika kau membutuhkan sesuatu.”

***

Hei…hei, kau tidak bisa mengklik kotak ini,” aku menepis tangan Donghae. “Lihat, di kanannya ada angka 3, sedangkan di kiri ada angka 2. Kemungkinan besar ini adalah bom.” Semenjak dua jam lalu, kami memainkan minesweeper dan beberapa game lain di tablet-ku.

Donghae hanya melirikku sembari memajukan bibir bawahnya. “Ini giliranku. Jadi kau diam saja.” Dia mengabaikanku dan menyentuhkan tangannya di kotak tersebut. Bunyi ledakan membuat Donghae meringis.

Aku memukulkan kepalan tanganku pada lengan atas Donghae. “Apa kubilang.” Ini sudah dua hari setelah aku siuman, namun Siwon Oppa sama sekali belum menjenguk. Aku tidak tahu masalah sepenting apa yang menahannya untuk datang kemari. Punggung kanan atas dan betisku terluka tembak, namun sekarang sudah cukup membaik.

Setidaknya ada beberapa hal yang menurutku perlu kami, aku dan Siwon Oppa, bicarakan. Aku membutuhkan kejelasan mengenai arti ciumannya kala itu dalam hubungan kami. Apakah Siwon Oppa memiliki rasa yang sama sepertiku?

Hei, kau melamun lagi?” Donghae menjentikkan ibu jari dan telunjuknya hingga menimbulkan bunyi.

Ugh?” Aku menatap Donghae, terkejut. “Hei…” Aku merengek untuk memprotes begitu tahu bahwa dia menutup permainan kami dan menggantinya dengan yang baru.

Aku menoleh saat suatu ketukan terdengar diikuti derap langkah memasuki ruanganku. Mataku membulat dan rahangku mengatup keras ketika mengenali dokter yang akan memeriksaku. Berbeda dengan dokter itu yang terlihat tenang berjalan ke arahku, aku merasakan emosiku perlahan meninggi.

Oh, Tiffany-ssi.” Donghae tersenyum dan menganggukan kepala. Aku heran bagaimana dia bisa mengenal gadis tersebut.

“Dimana dokter Kim?” ucapku galak.

“Dannie…”

“Dimana dokter Kim?” repetitive-ku dengan nada yang lebih tinggi.

“Aku menggantikan dokter Kim Jongwoon untuk memeriksamu. Dia sedang bertugas keluar kota untuk tiga hari ke depan. Mohon kau bisa memakluminya,” jawab Tiffany dengan tenang.

“Silakan keluar.” Aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela. Kehadiran Tiffany menyentakkan kesadaranku bahwa Siwon Oppa tidak lagi single. Dia milik orang lain.

“Setelah memastikan kondisi dasarmu, aku akan keluar.”

Aku menepis tangan Tiffany saat dia menyentuh pergelangan tanganku. “Keluar!” hardikku. Sungguh aku tidak ingin melihatnya. Kekalutan terhadap hubunganku dengan Siwon Oppa berkali lipat lebih dalam dengan melihat gadis ini. Aku jadi menerka-nerka gerangan yang membuat Siwon Oppa tidak menemuiku. Adakah hal itu berkaitan dengan pernikahan mereka? Aku sangat merindukannya.

“Dannie, jaga sikapmu.” Donghae mencegat tanganku.

“Panggilkan aku dokter yang lain. Aku tidak ingin dia memeriksaku.”

“Jangan bersikap kekanakan. Tiffany-ssi hanya akan memeriksamu.”

Aku mendelik ke arah Donghae saat dia membela Tiffany. Sebenarnya dia sahabatku bukan, sih?

“Maaf, Danisha-ssi. Aku yang ditugaskan untuk menanganimu. Jika kau tidak menyukai kehadiranku, maka anggaplah aku sebagai orang lain. Kau hanya perlu berpura-pura untuk waktu kurang dari lima belas menit.” Tiffany mengucapkannya dengan tenang. Mungkin dia memang tidak mengerti mengapa aku tidak berkenan dengan kehadirannya.

“Lepas! Pergi!” Aku meronta saat Tiffany memaksakan diri untuk mengecek keadaanku. Kudorong tubuhnya hingga dia terhuyung ke belakang. “Arrghh…” aku merintih karena tindakanku menyebabkan kontraksi otot belakangku yang membuat lukaku terasa nyeri.

“Tolong cek lukanya!” perintah Tiffany pada perawat yang menyertainya.

“Pergi kalian!” Kutahan dan kuabaikan rasa sakitku.

“Dannie, hentikan.” Donghae menahan kedua tanganku untuk menyerampang sekelilingku. “Hentikan!” Dia menekan tanganku.

Aku berusaha terbebas dari cengkeraman Donghae. “Pergi! Pergi!” Sepertinya kosa kata yang tersimpan di otakku untuk merekan hanya kata tersebut. “Tidak…tidak!” aku berteriak kalap ketika perawat itu berusaha menyuntikku. Aku menggunakan sebelah kakiku yang tidak terluka untuk melawan hingga suntikan dan peralatannya terlontar jauh.

“Danisha!” Donghae membentakku keras.

Aku juga tidak mengerti mengapa diriku menjadi sangat kalap. Moodku benar-benar buruk. Keberadaan Tiffany hanya mengingatkanku tentang Siwon Oppa. Aku tidak bisa bergerak ketika Donghae mengeratkan kekangannya. Kugeleng-gelengkan kepalaku untuk menolak. Tangisku meledak mengiringi luapan emosiku.

“Aku akan mencoba menghubungi dokter yang lain. Jaga jangan sampai dia melukai dirinya.” Kudengar pesan cepat Tiffany sebelum dia keluar.

“Kau sungguh keterlaluan, Dannie.” Donghae melepas tangannya. “Tidak bisakah kau berhenti untuk bersikap egois?”

Aku mengusap air mataku dengan sapuan kasar. “Tapi perempuan itu—“

“Aku tahu!” Suara tinggi Donghae membuatku terhenyak. “Dia tunangan dari orang yang kau cintai, huh?”

Aku membelalakan mata sebagai reaksi keterkejutanku. Aku tidak pernah bercerita mengenai perasaanku terhadap Siwon Oppa pada Donghae atau yang lain. kusimpan rasa ini serapat mungkin, namun kurasa aku gagal menyembunyikannya. “Jika kau tahu, mengapa kau tetap memaksaku menerimanya?”

“Dia hanya ingin memeriksa kondisimu, tapi kau memperlakukannya seolah dia berbuat buruk.”

“Aku tidak peduli,” ucapku rendah seraya memalingkan wajahku.

“Benar. Kau selalu tidak peduli!” Donghae mempertahankan nada tingginya. “Kau tidak memedulikan ucapanku dan tetap pergi ke camp pengungsian Yeonpyeong. Kau tidak memedulikan ayahmu dan melanggar larangannya untuk terjun dalam masalah Yeonpyeong. Kau bahkan tidak memedulikan dirimu sendiri hingga terluka seperti ini!”

Aku mengepalkan tanganku pada semua tuduhan Donghae. Air mataku meluruh turun untuk membenarkan perkataannya. Seburuk itukah aku? Aku hanya ingin…

“Kau hanya menggunakan tameng jiwa sosialmu untuk menyembunyikan keegoisanmu.”

Aku memutar cepat wajahku untuk menatap Donghae. Kalimatnya terlalu menyakitka untuk kudengar. “Jika aku egois, mengapa kau masih berada di sini?” Aku mengutuk mulutku untuk mengatakan kalimat sarkastik tersebut.

Donghae berkacak pinggang dan menghela nafasnya. Menatapku marah, rahangnya mengatup. Dia membalikkan badannya dan berjalan keluar ruang inapku tanpa sepatah kata pun.

Tubuhku bergetar begitu punggung Donghae menghilang di balik pintu. Semarah itukah dia padaku? Kugigit bibirku saat isakanku mulai lolos. Rasa sakit di ragaku menjadi tidak seberapa jika dibanding dengan sakit hatiku karena kata-kata Donghae.

“Danish, Sayang?”

Aku mendongak dan mengulurkan kedua tanganku untuk memeluk ayah. Kubenamkan wajahku ke dadanya untuk menangis. Ayah berdesis untuk membuatku tenang sambil menepuk-nepuk punggungku.

***

“Kalian bertengkar?” Ayah meletakkan irisan-irisan apel di piring.

Aku melambatkan kunyahanku tanpa ada keinginan untuk menjawab pertanyaan ayah. Kemarin malam setelah Donghae pergi, ayah yang berjaga untuk menungguiku. Hingga siang ini, aku belum melihat Donghae lagi. Bahkan mungkin tidak akan melihatnya lagi, mengingat perkataanku padanya.

“Ayah tidak tahu hal apa yang membuat kalian bertengkar, namun ayah berharap kalian bisa berbaikan secepatnya.” Ayah menaruh pisau di nampan setelah selesai memotong-motong apel menjadi irisan-irisan kecil. “Tidak pernah ayah melihat Donghae begitu kaku seperti pagi ini.”

Aku menelengkan kepalaku heran. “Donghae di sini?”

Ayah mengangguk untuk mengiyakan. “Semalaman dia di luar, tapi pagi ini dia pergi karena suatu urusan.”

Pandanganku secara naluriah menuju pintu, berharap bisa melihat setidaknya bayangan Donghae. Jadi Donghae tidak meninggalkanku semalam? Mengapa dia tinggal padahal aku sudah melukainya?

“Donghae pria yang baik Danish. Dia selalu menyempatkan diri untuk menjagamu di tengah kesibukkannya. Tidak hanya kali ini, namun selama ayah mengenalnya.” Memelorotkan bahu, ayah mendesah ringan. “Seharusnya ayah mengambilnya sebagai menantu.” Ucap ayah yang kutahu hanya sebuah godaan saja.

“Ayah…” Aku menarik lengan kemeja ayah untuk menyangkal gurauannya. “Dia hanya sahabatku, tidak lebih. Ok?”

Gelak tawa ayah memenuhi ruangan. Tangan beliau terangkat dan mengelus kepalaku penuh kasih. “Apa salahnya? Kurasa Donghae telah jatuh hati pada putri ayah ini. Hanya masalah waktu untuk membuatmu jatuh hati padanya juga.”

“Ayah…” aku memanjangkan rengekkanku.

“Baiklah…baiklah. Dengan siapa pun itu, ayah harap kau bisa bahagia.” Ada harapan yang begitu terang di mata ayah untuk masa depanku. Beliau tidak pernah pesimis dengan traumaku dan selalu menatapku dengan tatapan bangga. Aku tidak pernah menjadi putrinya yang sempurna, namun ayah menyanjungku seolah aku yang terbaik.

***

Membolak-balikkan halaman suatu web, aku terus mengikuti perkembangan terkini Yeonpyeong. Tanganku tergetar atas berita yang menjadi headline pagi ini. Sandera konflik Yeonpyeong pagi ini ditemukan di teluk Korea, 500 m dari pesisir Yeonpyeong dalam keadaan tak bernyawa. Aku men-scroll down berita tersebut dan membaca bahwa Donghae ditunjuk sebagai salah satu anggota tim investigasi. Tidak heran, karena dia memang pengacara dengan dedikasi yang patut diacungi jempol.

Aku sendiri karena baik ayah maupun Donghae sepertinya sibuk dengan urusan mereka. Wajahku terangkat begitu mendengar suara pintu terbuka. “Oo…oppa,” gagapku.

Siwon Oppa tersenyum dan menghampiriku. Dia dengan sedikit ragu mengusap puncak kepalaku. “Bagaimana keadaanmu?” Menurunkan tangannya dari kepalaku, Siwon Oppa tidak menyempatkan diri untuk duduk. “Maaf, aku baru bisa datang.”

Aku membisu mengamati wajahnya. Seperti biasa, Siwon Oppa senantiasa terlihat memukau, namun kali ini ada mendung yang menggelayut di ekspresinya. Dia tersenyum, tapi kesedihan itu tetap jelas tersirat di rautnya.

“Kau marah padaku?” Siwon Oppa mengambil sebelah tanganku dan menggenggamnya. Pandangannya merujuk pada tautan tangan kami. “Maaf, Danishie.” Dia menghela napas cukup panjang. “Kumohon, jangan mengorbankan dirimu lagi.” Ibu jarinya mengusap punggung tanganku.

“Aku tahu konsekuensi dari apa yang kulakukan, Oppa.”

“Tapi pengorbananmu membuatku terlihat sangat buruk. Seharusnya seorang ajudan lah yang terluka untuk melindungi nonanya, bukan sebaliknya.” Nada bicara Siwon Oppa terdengar begitu rapuh, tidak seperti biasanya yang tegas dan percaya diri.

“Apakah hubungan ini di matamu hanya sebatas nona dan asistennya?” Aku sedikit kecewa dengan pengakuan Siwon Oppa mengenai arti pengorbananku.

“Danishie, dengar aku.” Daguku diangkat untuk memandang wajah Siwon Oppa. “Apa pun yang kulakukan untukmu dari awal hingga sekarang adalah ketulusan. Namun aku tidak bisa mengapresiasi perasaanku padamu karena kau terlalu sulit dijangaku. Bukan karena kau adalah nonaku, melainkan egomu.”

Oppa—“ aku menggeleng, “—aku tidak mengerti ucapanmu.” Suaraku bergetar sebagai manifestasi ketakutan presepsiku pada kalimat Siwon Oppa.

I try a lot to catch you, but it seems didn’t enough.”

Are you trying to say that you had already felt for me before?”

Senyum hambar Siwon Oppa menjawab pertanyaanku. “Tapi di akhirnya, aku tetap tidak bisa mendapatkan hatimu. Kau hilang dalam egomu.”

No. Oppa kurasa kau salah mengartikan sikapku.”

Siwon Oppa menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga. “Kumohon, jangan melukai dirimu sendiri.” Dia mengangkat tanganku dan mencium jemariku. “Kami selalu menunggumu untuk kembali.”

Oppa, aku benar-benar tidak mengerti ucapanmu.” Aku menatap datar padanya. Kenapa harus menungguku? Aku tidak mengerti makna implisit dari setiap katanya. Ketukkan di pintu membuatku dan Siwon Oppa menoleh ke belakang.

“Maaf, aku harus pergi.”

Oppa.” Aku menahan tangannya. Dia baru saja beberapa menit di sini dan ini pertemuan pertama kami setelah aku sadarkan diri. “Please don’t go.”

“Aku harus pergi, Danishie.” Siwon Oppa melepaskan genggamanku. “Park Chaeyeol ada di luar jika sewaktu-waktu kau membutuhkan sesuatu.”

“Jaga dirimu—,“ Siwon Oppa membungkukan badannya, “—Nona.”

Aku masih meratapi kepergian Siwon Oppa dengan mulut yang membuka. Kebimbanganku, ketidakmengertianku, dan keterkejutanku pada pernyataan Siwon Oppa begitu sulit kuakomodasi. Aku memerhatikan arah pintu dan menangkap bayangan yang sangat familiar. “Hae?”

“Hae!” berteriak untuk memanggilnya, aku sungguh ingin bersua dengannya. Ingin kutumpahkan segala pikiran dan perasaanku padanya. “Hae…” merintih pelan, aku menahan isakku saat bayangan tersebut berlalu.

***

Meremas selimutku, semua perkataan Siwon Oppa bermain ulang di memoriku untuk kesekian kali. Aku merasa kosong karena satu-satunya teman tempatku mencurahkan segala unek-unekku juga pergi. “Hae, aku tahu kau di luar.”

Aku juga mengingat perilaku burukku terhadap Tiffany. Sungguh aku tidak bermaksud untuk melukainya. Kehadirannya memperburuk kekalutanku karena merindukan Siwon Oppa saat itu. Sekaligus mengingatkanku bahwa mereka segera terikat dalam waktu dekat. Hal tersebut sangat menyayat hati.

“Hae, please. Can we talk?” Aku mengamati sosoknya menyandar di pintu ruang inapku dari sisi kaca laminated yang terlihat sedikit kabur. Dia sama sekali tidak menggagasku, padahal aku yakin suaraku cukup terdengar karena pintu yang sedikit membuka.

“Lee Donghae!” Aku memekik saat dia mengangkat punggungnya dari kaca dan pergi, lagi. “Kembali…kembali…” Rasa takut mulai menguasaiku. Punggung Kak Angga yang menjauh saat meninggalkanku di persembunyian, punggung ibu yang kuingat terakhir kali begitu beliau selesai mengantarkanku tidur, dan terakhir punggung Siwon Oppa yang dengan dingin berlalu tanpa menjanjikan bahwa kami bisa bertemu kembali.

“Hae…kumohon kembali…” Aku beringsut ke tepi ranjangku. Kurutuki kakiku yang terluka dan tidak bisa mengejarnya. Kugapai tiang infus untuk menyangga bobotku, namun gagal. Tubuhku terjatuh dari ranjang dengan keras tanpa bisa kuhindari.

Rasa sakit menjalar dari kaki dan punggungku yang terluka. Kulihat perban putihku di kaki memerah karena kaki kananku yang terluka malah menjadi tumpuan saat tubuhku terjatuh.

Oh God!” Donghae kembali, dia kembali. Menyusupkan tangannya di belakang lututku, dia membopongku untuk kembali ke ranjang. Tangannya memanjang untuk menggapai tombol darurat di sisi atas ranjangku.

“Kumohon jangan pergi.” Kulingkarkan kedua tanganku di pinggang Donghae untuk menahannya beranjak. Aku menyurukkan wajahku ke dadanya. Kueratkan cengkeramanku pada kemeja Donghae ketika jemariku bergetar. “Jangan tinggalkan aku seperti mereka meninggalkanku, Hae.” Suaraku menjadi serak karena air mata yang menyumbat kerongkongan.

Aku bisa merasakan kehadiran beberapa perawat yang menangani luka di kakiku. Meski begitu, aku tidak melepaskan pelukanku terhadap Donghae. Beberapa menit kemudian, kudengar langkah tim medis keluar dari ruangan.

“Aku ada di luar jika kau membutuhkanku.” Donghae menarik kedua lenganku untuk melepaskan dekapanku.

Please stay here…” Aku mencengkeram jemari Donghae seerat mungkin agar tidak terlepas.

“Kau tidak membutuhkanku di sini.”

Aku menggeleng cepat untuk menolak perkataan Donghae. “Tetaplah di sini meski pun aku kekanakan, egois, dan tidak beretika.” Menunduk untuk menghindari pandangannya, aku malu pada sikapku.

Mendengar derit kursi yang ditarik, hatiku melega. Donghae duduk, kemudian menghela nafas. “Tatap aku, Dannie.” Tangan Donghae mengusap pipiku dan ibu jarinya membesut air mataku.

Pelan-pelan aku mengangkat pandanganku untuk bertemu Donghae. Gurat kelelahan tercetak di wajahnya. “I’m sorry. I really am. I’m not meant about what I said before.”

“Dannie, aku ingin suatu saat kau bisa belajar untuk menghargai dirimu sendiri terlebih dahulu.”

Aku tidak mengerti ucapan Donghae. Bagian mana dalam diriku yang tidak menganggap diriku sendiri.

“Pengorbanan kakak dan ibumu bukan suatu yang sia-sia untuk terus kau sesali. Kau perlu melanjutkan hidupmu dan menatap masa depan. Biarkan mereka tenang dengan kebahagiaanmu.”

Mataku memanas kembali dan kurasakan sesuatu sudah menyembul di sudutnya. Donghae jarang menyinggung masa laluku. “Aku bahagia,” sanggahku yang dijawab gelengan oleh Donghae.

“Suatu saat aku yakin kau bisa merasakan kebahagianmu sendiri, bukan kebahagiaan untuk melanggengkan kenangan kakak dan ibumu.”

“Hae…” Aku mencengkeram tangan Donghae kuat-kuat.

Please let me in, Dannie. And I promise, I’ll help you.”

Aku merasakan segaris kehangatan yang meluncur di pipiku. Begitu tertutupkah aku hingga tanpa sadar tidak mengizinkan siapa pun termasuk sahabatku sendiri untuk menginvasi hidupku?

“Kau melukai dirimu lagi demi orang lain.” Donghae menatap kakiku.

“Itu karena kau tidak mengindahkanku.”

“Walaupun aku meninggalkanmu sekali pun, kau tetap harus menyayangi dirimu sendiri.”

“Kau akan melakukannya?”

Donghae mengembuskan napas pelan dan panjang. “Meninggalkanmu? Tidak,” tegasnya. “Kau diperbolehkan keluar rumah sakit besok. Setelah menemui klien, aku sendiri yang akan menjemputmu.”

“Kau tidak perlu melakukannya jika kau sibuk.” Aku tahu Donghae begitu pontang-panting menjalani rutinitasnya karena aku dirawat di rumah sakit.

“Aku ingin mengajakmu untuk belajar melihat sekelilingmu dengan lebih terbuka.”

Aku mengerutkan keningku. “Kemana?”

“Kau akan tahu besok. Sekarang istirahatlah.” Donghae membenahi letak bantalku dan membantuku berbaring. “Kau tidak perlu menggenggamku seerat ini—“ Donghae mengangkat tangannya, “—aku tidak akan pergi. Okay?”

“Tidak.” Aku menutup mataku dan menarik tangan Donghae, menggenggamnya, dan menaruhnya di atas perutku. Aku membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berdamai dengan diriku setelah ibu dan kakakku pergi. Sekarang Siwon Oppa mungkin saja meninggalkanku. Dan aku tidak tahu berapa lama aku akan membutuhkan waktu untuk menguasai emosiku. Jadi, aku tidak ingin Donghae juga pergi.

***

White lily?” aku heran saat Donghae meletakkan karangan lili putih di pangkuanku. “Ini bukan jenis favoritku,” aku bergumam.

Donghae mendorong kursi rodaku. “Siapa yang bilang bunga itu untukmu, hum?”

“Lalu?” Aku semakin dibuat heran ketika kami berhenti di tempat persemayaman abu jenazah yang telah dikremasi. Kursi rodaku terus bergerak menelusuri aisle hingga berhenti di depan sebuah nama. Mataku bergerak gelisah saat menangkap foto wanita cantik yang wajahnya begitu familiar, walaupun aku yakin belum pernah berjumpa dengannya. “Michelle Hwang…” dadaku berdebar ketika membaca nama tersebut.

Donghae mengambil bunga di pangkuanku dan meletakkannya di depan foto wanita tersebut. “Dia dokter, salah satu sandera konflik Yeonpyeong yang jasadnya kemarin ditemukan di teluk Korea.”

“Dan dia…” Aku tak mampu melafalkan kata-kataku begitu bayangan seseorang melintas di benakku.

Donghae menggangguk. “Kakak perempuan dari Tiffany Hwang.”

Kututup mulutku begitu Donghae melanjutkan dan memperjelas wanita tersebut. Air mataku meluruh tanpa kusadari. Aku terlalu dibutakan dengan diriku sendiri dan masa laluku hingga tidak bisa memperhatikan sekelilingku.

Kepalaku menoleh ketika ketukan high heel menggema di ruang sempit ini. Aku menggigit bibir bawahku saat perempuan cantik itu mematung. Bunyi berisik plastik mengisi kebisuan kami ketika perempuan itu mendekap karangan lili putih di tangannya.

***

“Ibu dan tim relawan untuk kemanusiaan mengadakan konferensi pers mengenai tragedi Mei 98 sehari sebelum beliau dibunuh. Berpuluh ancaman dialamatkan padanya agar menghentikan bantuannya terhadap investigasi internasional atas pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran sejumlah gadis dan perempuan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 98.” Semilir angin menerpa wajahku. Umurku baru sepuluh tahun ketika kerusuhan tersebut terjadi. Namun aku cukup tahu keadaan saat itu.

“Rencananya, pagi hari dihari terbunuhnya ibu, beliau akan berangkat ke Amerika bersama saksi lain untuk memberikan kesaksian kepada kongres Amerika mengenai kerusuhan itu.” Dadaku sesak mengingat jeritan ibu dan kakakku. “Ibu banyak memberikan bantuan konseling pada korban kerusuhan. Beliau melakukannya dengan suka rela.”

“Danisha-ssi, kau tidak perlu menceritakannya jika—“

“Tidak. Aku ingin melepaskan beban ini,” kupotong interupsi Tiffany. Jemariku menghangat ketika tangan Tiffany menggenggamnya. “Kakak lelakiku juga menjadi korban karena dia memergoki pembunuhan tersebut.”

“Itu alasan traumamu?”

Aku mengangguk. “Sejak saat itu, aku membenci sebagian darah yang mengaliri tubuhku. Namun sehebat apa aku menyangkal, aku tetap keturunan Indonesia.” Sesuatu yang lembut menyapu permukaan pipiku begitu aku selesai menceritakan masa laluku. Jemari lentik Tiffany mengusap air mata yang tanpa kusadari telah luruh.

“Aku tidak tahu bagaimana menghiburmu karena aku sendri membal dengan kata penghibur apa pun atas kematian Michelle.”

“Kalau begitu, ceritakan mengenai dia.”

Tiffany menghela nafas dan memelorotkan bahunya. “Kami selalu bersaing—“ suara tawa hambar Tiffany menyela, “—dalam hal apa pun; prestasi dan karir. Perbedaannya, dia begitu terobsesi dalam bidang kemanusiaan, sedangkan aku tidak.”

Menilik wajah Tiffany, dia nampak sepertiku; berdarah campuran. Mungkin itulah yang membuatnya menyapa kakak perempuannya tanpa embel-embel seperti yang tertanam di budaya timur. Raut wajah cantiknya saat ini mengingatkanku ketika kami pertama bertemu, muram.

“Terakhir kami melakukan kontak adalah di malam sebelum pembombardiran Yeonpyeong.” Mata bulat Tiffany menerawang. “Pagi harinya, aku menemui Siwon Oppa untuk meminta pertolongannya. Itulah pertama aku bertemu denganmu.”

Jadi alasan Tiffany begitu merajuk pada Siwon Oppa adalah masalah penculikan kakaknya. Dan aku menjatuhkan penilaian burukku pada gadis ini kala itu. Aku terlalu menutup mataku…

“Aku sangat kacau saat mengetahui dia dibunuh tanpa perikemanusiaan. Hampir-hampir kami tidak mengenali wajahnya.” Air mata Tiffany menuruni pipinya. Kali ini giliran aku yang menghapusnya. “Dia terlalu baik untuk diperlakukan demikian.”

“Kau menyesali kematiannya?”

Diluar dugaanku, Tiffany menggeleng. “Aku ingin melakukannya, Danisha-ssi. Tapi aku tidak ingin menyesali apa pun keputusan yang Michelle ambil. Dia bahagia dengan keputusannya menjadi relawan. Sudah seharusnya aku mendukungnya.”

Aku bahkan lupa bahwa gadis ini adalah tunangan Siwon Oppa. Kami larut dalam kenangan kelabu masing-masing. Keningku mengerut begitu kuusap jemari Tiffany. “Kau tidak memakai cincinmu?”

Tiffany buru-buru menarik tangannya. Senyumnya tertarik datar untu menutupi kegugupannya.

“Maaf, jika aku lancang, Tiffany-ssi.” Aku tidak berhak menginterogasinya.

“Dia—“ Tiffany menggigit bibir bawahnya, “—mencintai gadis lain.” Dia memandangku dengan sendu. “Aku tahu bahwa kalian saling mencintai. Oleh karenanya, aku juga tidak bisa memaksanya menikahiku.”

“Kau mencintai Siwon Oppa?”

“Ya,” jawab Tiffany tegas. “Namun aku juga tidak ingin menikahi orang yang tidak mencintaiku. Dari pandangan matanya, kekhawatirannya, dan segala sikapnya, aku tahu dia sangat mencintaimu.”

Aku seharusnya senang dengan perkataan Tiffany, tapi bagian hatiku ada yang tidak berkenan. Tiffany memperlakukanku dengan baik, meskipun tidak demikian denganku. Dia menjaga profesionalitasnya sebagai dokter, walaupun tahu aku adalah orang yang dicintai tunangannya.

“Danisha-ssi, gomawoyo. Jeongmal gomawoyo.”

“Untuk?”

“Menyelamatkannya.” Lengkung sipit matanya terbentuk saat dia tersenyum. “But, can I ask you for a favor?”

Dengan ragu aku mengangguk. Bagaimana bisa seseorang melewatkan kesempatan untuk memiliki gadis secantik ini.

“Dia tidak baik-baik saja.”

Nugu?”

“Siwon Oppa. Meskipun terlihat tegar, dia sangat terpukul dengan pengorbananmu untuknya, juga dengan kematian Michelle. Dia merasa gagal untuk melindungi.”

Tiffany begitu peduli dengan Siwon Oppa. Dia bahkan menyampingkan egonya dan mendahulukan orang yang dia kasihi, tidak sepertiku. “Apa yang bisa kulakukan? Terakhir aku bertemu Oppa, dia meninggalkanku begitu saja.”

“Bicaralah padanya. Berikan semangatmu padanya. Dia pasti akan mendengarkanmu.”

Bibirku melengkungkan senyum, walaupun bukan jaminan bahwa aku bisa meluluhkan Siwon Oppa, tapi setidaknya jaminan bahwa aku akan mencoba. “How about you?”

I’m fine as long as he happy. I really am.”

Aku tersentuh dengan ucapannya. Menganjurkan tanganku ke depan, aku membukanya lebar. “Could you give me a hug?”

Of course.”

Wangi lembut Tiffany menyapa penciumanku. Aku seperti menemukan sesuatu yang hilang dariku; seorang sahabat perempuan. I’ll do my best, Tiffany. You have my words. You deserve to have a happy life, too.

***

Aku membaca ulang dokumen di tanganku dengan hati yang remuk. Surat pengunduran Siwon Oppa dan surat pemberitahuaan bahwa dia diterima di blue house. “Oppa…”

Siwon Oppa menekuk lututnya di depanku. Dia meraih dokumen di tanganku dan melipatnya. “Jika kau menginginkanku tinggal, maka aku akan menurutinya.” Tidak ada ekspresi di wajahnya.

“Karena rasa bersalahmu?” Aku menarik tangan Siwon Oppa untuk meminta perhatiannya. “Jika kau tinggal, maka kau akan hidup dalam rasa bersalahmu. Bukan begitu?” Aku akan lebih sakit lagi jika alasannya tinggal adalah rasa bersalahnya padaku.

“Sudah seharusnya, Nona.”

Dadaku sesak ketika panggilan formal dialamatkan padaku. “Hentikan Oppa. Kau tentu tahu alasan aku melakukannya.”

“Apa pun bentuknya, aku tidak pantas menerima pengorbananmu. Kau membahayakan nyawamu hanya demi aku. Terlebih, aku menyusulmu karena kehendakku, bukan perintahmu.”

Kutatap matanya yang redup, tidak seperti biasanya yang begitu terang. Tiffany benar. Siwon Oppa tidak baik-baik saja. “Oppa, aku tidak tahu bagaimana menenangkan dan menentramkan seseorang. Namun hari ini aku belajar banyak hal.”

Aku mencengkeram jemari Siwon Oppa. Jika melepaskannya, aku takut dia pergi. Ingin kuunggulkan sikap egoisku seperti biasanya, tapi aku akan melukai banyak hati. “Aku mencintaimu, Oppa.” Akhirnya kalimat yang kupendam bertahun-tahun lolos dari mulutku.

“Danishie…”

“Aku tidak ingin kehilangan orang  yang kucintai lagi. Cukup ibu dan kakakku. Aku juga telah kehilangan banyak hal setelah kepergian mereka; jati diriku, kepercayaandiriku, sikap peduliku, dan separuh hidupku.” Aku mulai mengerti arti kalimat Siwon Oppa kala itu.

Selama ini aku kukuh untuk menjadi relawan karena ingin melanggengkan kenangan ibu. Bukan karena aku ingin meneruskan kebaikannya, namun semata karena aku merasa dekat dengan ibu selama aku berbakti menjadi relawan. Aku seperti hidup bersama ibu ketika melakukan aksi suka rela. Semangat dan pengabdian ibu, aku ingin menyandingnya selalu.

Tapi semua itu menjadi salah karena aku melakukannya bukan demi kemanusiaan, melainkan memenuhi egoku. Donghae benar, aku hanya bersembunyi dalam rasa sosialku. Hal yang benar-benar aku lakukan sepenuh hati adalah pengorbananku untuk Siwon Oppa.

“Aku tidak ingin kehilangan lagi, namun aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama padamu, Oppa.” Setetes air mataku jatuh di kepalan tanganku. “Aku tidak ingin kau hidup sepertiku. Hidup dengan beban masa lalu karena perasaan bersalah.”

Siwon Oppa menunduk dan balas mengeratkan genggamannya padaku. “Aku gagal, Danishie…aku gagal…”

“Tidak, kau tidak gagal. Kau menyelamatkanku; nyawaku dan hidupku.” Aku tidak membayangkan apa yang terjadi padaku jika Siwon Oppa tidak menyusulku. Mungkin tubuhku sudah tergeletak tak benyawa saat pasukan asing menginvasi pengungsian. Dan karenya, aku memiliki keberanian untuk berkorban. Bukan lagi karena kenangan ibu, tapi karena aku mencintainya.

“Aku membutuhkan luka ini untuk menyadari bahwa aku memiliki hasrat untuk melindungi apa yang kucintai, Oppa.” Aku mengalungkan tangaku di bahunya dan memeberikan pelukan. “Jadi kumohon, jangan pernah menyesali apa yang kuperbuat untukmu.”

Merasakan Siwon Oppa yang memelukku, aku menepuk punggungnya. Bahunya tersengal kecil dan isakkannya terdengar meskipun lirih. “Kau harus bahagia, Oppa. Karena aku juga akan bahagia…”

***

Cha, sudah waktunya istirahat.” Donghae mengangkat kedua tanganku ke bahunya untuk membantuku berpindah dari kursi roda ke ranjang. Dia menyempatkan diri mampir untuk menjengukku setelah pulang dari kantor.

Aku menahan kedua tanganku untuk tetap mengalung di bahu Donghae saat dia ingin menurunkannya. Kubenamkan wajahku di dadanya. Mengeluarkan segala bentuk perasaanku, aku tergugu. Aku tidak tahu apakah keputusanku melepaskan cintaku adalah benar. Yang kutahu saat ini, dadaku sangat sakit.

You’ll be okay, Dannie. Trust me.” Suara rendah Donghae membisikkan janji yang ingin kupercaya. Tangannya yang melingkar di pinggangku membuatku kuat. Setidaknya, aku tidak kehilangannya…

***

[Seoul: June; Three weeks after]

Wajahku memanas dan jantungku berdebar kuat. Aku mengalihkan pandanganku dari pemandangan di depanku. Tanganku berkeringat dalam genggaman Donghae. Kukuasai ledakan perasaanku sebisa mungkin karena aku tidak ingin menghancurkan suasana bahagia ini.

“Angkat dagumu, Dannie.” Bisikkan Donghae di telingaku sedikit mengagetkan. Perlahan aku meuruti perkataan Donghae. Senyum indah yang selalu kukagumi terlontar untukku, tapi kali ini senyum lain yang tak kalah indah berada di sisinya. Siwon Oppa dan Tiffany.

Aku menarik sedikit demi sedikit bibirku untuk membalas senyum mereka. Kali ini, aku tulus melakukannya. Mereka pantas untuk bersama. Senyumku semakin melebar ketika Donghae mengangkat jalinan jemari kami dan melambaikannya pada pasangan pengantin itu.

Sekarang, aku mendapatkan jawaban atas keraguanku. Aku tidak melakukan kesalahan ketika melepasnya. Dia akan bahagia karena aku yakin Tiffany akan menjaganya dan melimpahinya dengan kasih sepenuh hati.

***

Ya…yawhere’re we heading to?” Aku menepuk-nepuk lengan Donghae ketika dia melajukan mobilnya ke semenanjung buatan sebagai dermaga kapal. Aku menoleh ke belakang dan mengukur jarak yang kami tempuh dengan panik. “Kau sudah gila!” Kupukul dadanya pelan.

Donghae menyeringai padaku ketika dia menghentikan mobilnya di ujung dermaga. Sempitnya dermaga hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Dan untuk kembali, kami tidak bisa memutar. Satu-satunya jalan adalah memundurkan mobil. “Ayo keluar.”

“Kalau kau berniat bunuh diri, jangan mengajakku!” Aku menghardiknya sambil membanting pintu.

Merentangkan kedua tangan, Donghae menikmati semilir angin laut. Dia berdiam beberapa saat dan tidak menggubris celotehanku. Matahari bahkan hampir tenggelam dan angin laut mulai menerpa kulit dengan tidak bersahabat.

“Lee Donghae!”

Donghae membalik badannya dan berjalan menghampiriku. Dia benar-benar tidak lucu dengan mengajakku ke tempat ini. Teriakanku tidak diindahkan saat dia mengangkat tubuhku dan mendudukkannya di kap mobilnya. “Kenapa kau berisik sekali?” Kedua tangannya memerangkapku.

Get my ass down from here, Hae.” Kutekan telujukku ke bawah untuk memerintahkannya menurunkanku dari kap depan mobilnya. Damn…kenapa mobilnya harus setinggi ini.

“Jika aku tidak mau?”

“Kau pikir aku tidak bisa melompat, heh?” Kusilangkan kedua tanganku di dada.

Donghae menarik sebelah sudut bibirnya dan merangsek ke arahku. Lututku yang menyentuh perutnya membuatku menjengit dengan kedekatan kami. Dia membenahi poniku yang berantakan, namun percuma karena angin laut mengusik rambutku terus-menerus. “You’re beautiful and—“ Donghae mengusap pipiku, “—alive, Dannie.”

Aku merasakan tengkukku di tarik maju secara perlahan. Tubuhku kaku dan jantungku mulai berdebar kuat ketika wajah Donghae mendekat. Napasku mulai tak beraturan saat ujung hidung kami bersentuhan. “Danisha Tribhuana Tunggadewi,” bisik Donghae tepat di depan bibirku.

Sekejap, air mataku menuruni pipi. Sudah lama sekali aku tidak mendengarkan nama panjangku disebut. Jujur, di dalam lubuk hatiku, aku merindukan diriku sendiri sebagai Danisha Tribhuana Tunggadewi bukan Danish Lim.

Mataku menutup saat kehangatan dan kelembutan jatuh di bibirku. Aku tidak berani bergerak saat semua tubuhku terasa lumpuh dengan sentuhan ini. Air mataku menderas saat Donghaae menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir bawahku. Dia membuatku utuh sebagai diriku sendiri.

Kukumpulkan keberanian untuk membalas ciuman Donghae. Tanganku bergerak untuk menumpu di dadanya. Kurasakan deguban jantung Donghae menyentak permukaan tanganku. Detakkan ini untukku seorang, aku tahu itu.

Donghae yang membukakan mataku untuk melihat sekelilingku. Dia mengajariku untuk peduli dari hatiku. Kesabarannya, ketulusannya, dan kasihnya untukku membuatku bertahan. Setelah kehilangan Siwon Oppa, hatiku kembali merapuh. Tapi Donghae selalu menguatkannya.

“Ma…maaf,” Aku menundukkan wajahku ketika ciuman kami terlepas. Ini salah. Aku tidak bisa melarikan patah hatiku padanya. Donghae terlalu baik untuk mendapat perlakuanku. “A…aku…”

Donghae mengangkat daguku hingga tatapan kami bertemu. “Aku tahu kau masih menyisakan hatimu untuknya.” Mata indah Donghae menelusuri wajahku dengan sorot sedih. “Berikan aku kesempatan untuk memulainya, Dannie.” Kutatap dalam iris caramel milik Donghae. “Jika sampai pada waktunya kau masih tidak bisa menerimaku, maka aku—“

“Ajari aku mencintaimu. Berikan aku waktu untuk memindahkan seluruh hatiku untukmu,” kupotong kalimat Donghae. Aku merelakan kepergian ibu dan kakakku. Aku juga belajar melepaskan Siwon Oppa. Kali ini, aku ingin belajar menggenggam apa yang diberikan Tuhan padaku.

Senyum Donghae memesonaku. “With my pleasure, Dannie. I’ll teach you how to love me.” Dia mendaratkan ciuman di keningku. “Aku tidak bisa menjanjikan hidupmu akan mudah jika bersamaku, namun aku akan berusaha di sisimu selalu. Jadi, bisakah kau berjanji untuk mencoba membuka hatimu untukku?”

Aku mengangguk yakin. Traumaku atas masa lalu memang belum sepenuhnya menghilang. Aku masih bergetar jika melihat genangan darah dalam realita maupun hanya dalam sebuah foto. Dan profesi Donghae sebagai pengacara bukannya menjauhkanku dengan hal tersebut, namun malah mendekatkan. Sampai sekarang aku tidak berani datang ke kantornya karena pasti ruang kerjanya dipenuhi foto investigasi. Namun aku yakin, Donghae akan si sisiku selalu dan membimbingku untuk melalu ini semua.

Donghae menarikku dalam pelukannya yang nyaman dan aman. Dia membisikkan kata kedua terbaik dalam sejarah hidupku. “Please, marry me.” Melepaskan pelukannya, dia memperdengarkan kata terbaik yang pertama. “I love you, Danisha. I always have and always will.”

END*

 

Inspirasi:

Ita Mardinata Haryono (lahir 1980, wafat di Jakarta Pusat, 9 Oktober 1998 di usia 18 tahun) adalah seorang aktivis Ham Indonesia yang tewas dibunuh secara misterius. Nama sesungguhnya adalah Martadinata Haryono, namun lebih dikenal dengan Ita Mardinata. Siswi kelas III SMA Paskalis berusia 18 tahun ini ditemukan mati dibunuh di kamarnya. Perut, dada, dan lengan kanannya ditikam hingga sepuluh kali, sementara lehernya disayat.

Hal ini terjadi hanya tiga hari setelah tim relawan untuk kemanusiaan mengadakan konferensi pers dan menjelaskan bahwa beberapa dari anggota tim telah menerima ancaman akan dibunuh jika tidak menghentikan bantuan mereka terhadap investigasi internasional atas pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran sejumlah gadis dan perempuan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998.

Pihak berwajib mengumumkan kematian Ita hanyalah suatu kejahatan biasa, yang dilakukan oleh pecandu obat bius yang ingin merampok rumahnya, namun tertangkap basah. Namun banyak pihak yang meragukan hal ini karena menurut rencana, Ita dan ibunya segera berangkat ke Amerika Serikat dengan empat korban kerusuhan Mei 1998 untuk memberikan kesaksian kepada Kongres Amerika Serikat. (id.wikipedia.org)

 

Glosarium:

Kaca Laminated: adalah lembaran kaca yang terdiri dari 2 lapisan kaca yang direkatkan, sehingga dapat berfungsi untuk mencegah kemungkinan jatuh atau hancurnya kaca akibat benturan pada salah satu sisinya.

Blue house: adalah kantor eksekutif pemerintahan Korea Selatan.

 

Note:

I’m sorry. I’m not meant to deceive you. Dari awal aku mendapat inspirasi ini, memang ingin kuakhiri dengan Donghae. Mian yang kecewa. Hehehe…

Adorable smile:

tumblr_mhm3u5tKNc1s52uigo1_500tumblr_mjc8ubRx5f1qi6fjoo2_500

(Picture gif: not mine. Tumblr search)

70 thoughts on “[Two Shot] The Worst Tragedy: Last Assault

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s