A Lovely Coincidence [Shot: 10]


a lovely coincidence

A Lovely Coincidence [Shot: 10]

Arsvio | Kyuhyun Cho, Adelynn Lee | PG-16

Read the fiction appropriated to your age

[Seoul: 08.00 a.m, Seoul National University Hospital]

Aku mencoba untuk membuka kelopak mataku saat pendengaranku menangkap isak tangis. Kukerjapkan mataku untuk mengadaptasikannya dengan cahaya yang masuk. Kugerakkan leherku untuk menoleh ke sumber suara. “Eomma…” aku bahkan hampir tidak mendengar suaraku sendiri.

“Kyuhyunnie, wae?” Eomma menggenggam tanganku dan meletakkan di pipi.

Aku melengkungkan bibirku untuk menjaminkan keadaanku pada beliau. “Uljima, ne.”

Ketukan sepatu yang kudengar segera memunculkan sosok appa. Meremas bahu eomma, dia memandangku dengan sayu. Ketegasan yang selalu tersorot dari mata beliau hilang. Aku tahu berjuta kalimat ingin beliau sampaikan padaku, namun rahang tersebut terlalu kaku untuk membuka.

Appa…”

Appa meremas tanganku yang berada di genggaman eomma. Harapan untukku masih bisa kubaca dari tindakkan tersebut. Hanya saja, aku terlalu lelah dengan segala rasa sakit yang menyiksa ini. “Operasi akan dijadwalkan setelah kondisimu stabil.”

“Aku lelah.” Kutolak gagasan appa untuk mengoperasiku. Aku sungguh di ambang kesabaranku untuk penyakit ini.

“Jika perlu, aku bisa menjadwalkan penerbangan ke US agar kau mendapatkan perawatan yang lebih baik.”

Aku menggeleng untuk menolak. “Appa, kumohon.”

Air mata eomma semakin menderas dengan penyangkalanku. “Kyunnie, kau pasti bisa pulih seperti sedia kala, eoh?”

Aku tersenyum untuk mengapresiasi kasih sayang beliau padaku. “Eomma, aku tahu kondisiku dengan baik. Kumohon, jangan memaksakan diri untuk berharap. Aku sangat lelah.” Kupejamkan mataku untuk menghindari pemandangan yang menyayat hatiku. Aku tak kuasa mellihat wajah wanita yang telah melahirkanku dirundung kesedihan. Maaf, Eomma.

***

Aku menoleh ke samping untuk mengecek gerangan yang datang saat kutangkap derit kursi yang ditarik. Kuputar kepalaku kembali untuk mengagumi kesibukkan Seoul dari tempatku berdiri. “Dae-ya, jika kau ingin mesugestiku untuk melakukan operasi, maka aku tidak berminat mendengarnya.”

“Aku datang sebagai siapa pun yang ingin kau temui.”

Menghela napas, aku memutar tubuh menghadap Daehyun sembari menyeret penyangga infusku. “Bereskan administrasiku segera, aku tidak ingin menghabiskan sisa waktuku untuk terkurung di tempat seperti ini.”

Daehyun menumpu kedua siku di atas ranjangku. “Setelah itu, apa yang ingin kau lakukan?”

“Aku harus menuntaskan kasus pidana terhadap Tuan Seo.”

“Aku mengatasnamakan perusahaan untuk mempidanakan Tuan Seo. Jadi kau tidak perlu turun tangan lagi. Aku yang akan menyelesaikannya.”

Aku mendudukkan tubuhku di tepi ranjang. Jawaban Daehyun membuatku lega sekaligus bimbang. “Kalau begitu aku ingin pulang dan menghabiskan waktuku di rumah, bersama kalian. Sejak pindah ke Singapore, aku jarang melonggarkan waktuku untuk pulang.”

“Kau—“ Daehyun menunjukku dengan telunjuknya, “—tidak ingin kembali ke Singapore?”

Aku menerawang sejenak atas pertanyaan Daehyun. Mulanya aku sangat bersemangat untuk kembali ke Singapore, namun kondisiku yang melemah menyurutkan niatku. Aku tahu pertanyaan Daehyun ditujukan untuk mengklarifikasi hubunganku dengan Lynn. “Biarkan seperti ini.” Kuhela napas lagi dan kutundukkan kepalaku. “Biarkan dia membenciku untuk mengurangi kesedihannya jika aku pergi.”

Hyung, kau pikir cara demikian efektif untuk mengurangi kesedihannya?”

“Lalu?” aku menoleh ke arah Daehyun.

“Sebagai seorang putra, aku mengerti bahwa kau ingin menghabiskan waktumu dengan appa dan eomma lebih banyak. Kau berusaha untuk tidak memberikan harapan kosong akan kesembuhanmu untuk tidak melihat mereka terluka lebih dalam. Sebagai seorang adik, aku berusaha memahami keputusanmu dan menempatkan diriku di posisimu. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin menyeretmu ke meja operasi, namun tidak kulakukan karena kau sendiri telah menyerah. Bagiku, aku ingin apa pun yang bisa membuatmu bahagia.” Daehyun memundurkan badannya dan bersandar.

“Dae-ya…” Aku tidak tahu bahwa dia berpikiran sedalam itu.

“Tapi sebagai seorang pria, aku tetap tidak bisa mentolerir kepengecutanmu.” Daehyun berdiri dari duduknya. “Jika kau ingin menyerah, maka katakan padanya dengan jujur. Aku yakin, Lynn akan berbijaksana menerima keputusanmu.”

Daehyun menepuk pundakku dan membuatku mengamati raut wajahnya. Dia kelihatan muram, tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat.

Hyung, aku ingin kau tetap melakukan operasi sekecil apa pun harapannya. Kuharap kau bisa memahami betapa hancurnya perasaan kami melihat orang yang kami sayangi menyerah.”

***

Aku meresapi angin malam yang berhembus menusuk-nusuk permukaan kulitku. Suhu dingin yang dibawa sang bayu tidak bisa menandingi bekunya hatiku. Kulongokkan kepalaku ke bawah untuk mengukur tinggi gedung rumah sakit ini. Asumsikan saja bahwa aku langsung tewas di tempat jika menerjunkan diriku dari sini. Mungkin aku hanya akan merasakan sakit sejenak saat tubuhku remuk. Aku tidak perlu merasakan brain hermmohage menggerogotiku lagi hanya dalam hitungan detik. Kucengkeram pagar pembatas dan kucondongkan tubuhku karena pikiran menggiurkan tersebut.

Aku menarik napas panjang dan menolakkan tanganku pada pagar untuk menjauhkan diri. Jika aku mati dengan cara ini, maka keluargaku akan kewalahan menanggung pemberitaan. Terlebih mungkin khalayak akan mempertanyakan kebenaran kasus korupsi Tuan Seo jika aku bunuh diri dengan cara ini.

Kuseret langkahku menjauh, lalu kududukan diriku di beton yang tak kalah dingin. Aku lelah dengan penyakit ini. Semakin lama kekerapan kambuhnya semakin intens dan rasa sakitnya semakin luar biasa. Seperti sore ini saat aku kembali collapse. Ragaku kian layu untuk mengimbangi rasa sakit yang mendera.

Aku tidak ingin menjalani pengobatan atau pun operasi karena hal tersebut tidak menjanjikanku pulih. Bahkan mungkin aku hanya akan terperangkap dalam sakit yang lebih berkepanjangan karena operasi dan serangkaian terapi.

Keputusasaanku membuat pikiranku berimajinasi liar. Aku bahkan melakukan browsing pada beberapa zat racun. Perhatianku teralih pada ricin dan arsenik. Zat kimia yang jika masuk dalam sistem tubuh dalam jumlah berlebih bisa menimbulkan kematian.

Aku men-drag list kontakku ke bawah untuk menemukan nama seorang teman yang bekerja di bidang farmasi. Mungkin dia bisa membantuku mendapatkan ricin ataupun arsenik.  Jika bukan kugunakan saat ini, mungkin suatu hari jika aku benar-benar menyerah. Tanganku baru akan menyentuh nama kontak tersebut ketika kudengar suara.

Memutar kepala, aku mencari suara tangis bocah yang jelas terdengar. Kugeser tubuhku menyamping dan melihat seorang anak perempuan kecil yang meringkuk dan membenamkan wajahnya di kedua lututnya.

“Hei, apakah kau baik-baik saja?” Aku mengguncang bahu anak tersebut untuk memperoleh perhatiannya. Aku khawatir andai dia terluka.

Anak itu menegakkan kepalanya dan menatapku dengan matanya yang memerah. Dia mengusapkan lengan secara horizontal untuk menghapus air mata. Kepalanya menjegit-jengit karena sisa isakan tangis.

Kuanjurkan tanganku untuk membantu membesut sisa air mata gadis cilik ini. “Kau terluka?” Aku menekuk lututku dan mensejajarkan pandanganku dengannya.

An…aniyo, Ahjussi.”

“Lalu mengapa kau menangis, hum?” Aku memutar tubuhku dan duduk di sampingnya. Gadis ini diam sejenak dan memandangku dengan mata bulatnya. Mungkin dia sedang mempertimbangkan apakah ingin menjawabku atau tidak. “Heish, kau tidak perlu takut aku akan menculikmu.” Kuacak puncak kepalanya.

Dia menggeleng. “Ahjussi tidak mungkin seorang penculik.”

Wae?”

Telunjuk gadis itu menunjukku. “Tidak ada penculik yang berwajah tampan dan menggunakan pakaian rumah sakit sepertimu.”

Aku terkekeh dengan kepolosan gadis yang kutaksir umurnya sekitar 6 atau 7 tahun ini. “Ok, gadis pintar. Bisakah memberitahuku siapa namamu?”

“Kim Daeyoung.”

Aku mengusap kepalanya lagi. “Kau bisa memanggilku Kyuhyun Ahjussi, ne?” Gadis itu mengangguk lagi. “Jadi kenapa Daeyoungie menangis, hum?”

Gadis itu menunduk dan memandangi jemari mungilnya. “Eomma.”

Eomma waeyo?”

Mata Daeyoung menyelisikku. “Eomma sangat sakit.”

Aku menarik napas dalam. Entah dorongan dari mana, kutarik Daeyoung ke pangkuanku. Tanpa bertanya pun, aku tahu dia menangis di sini karena tidak ingin sang eomma memergokinya. Kuletakkan tangan mungil Daeyoung di telapak tanganku. Aku begitu takjub atas perbandingan tangan kami. “Daeyoungie tahu eomma sakit apa?”

Gelengan Daeyoung dapat kurasakan menggesek dadaku. “Eomma meminum obat banyak sekali.”

“Jika Daeyoung eomma meminum obat, maka eomma pasti sembuh, ne?” Aku mencoba menjawab secara diplomatis untuk bocah seumurannya.

Daeyoung memutar dan mendongakkan kepala kepadaku. “Apakah eomma akan segera bangun juga?”

Aku mengerutkan kening untuk berpikir mengenai maksud pertanyaan Daeyoung. “Eomma belum bangun?”

Sekali lagi Daeyoung hanya menggeleng. Dia menatapku dengan mata bening bulatnya. Mungkin maksud Daeyoung, eomma-nya belum sadarkan diri.

Aku menyelami kedua mata coklat Daeyoung yang tampak begitu bersih dari dosa. Dadaku berdebar menatap refleksi diriku sendiri di sana. Aku kian terhanyut ketika bayanganku semakin lama berubah menjadi lebih muda. Kini yang kulihat adalah seorang anak laki-laki yang tersenyum lebar memamerkan keceriaannya. Dia berlari dengan suka dalam penglihatanku. Tangan kecilnya memanggilku untuk bergabung. “Daddy!” Aku terlonjak seketika dengan napas memberat. Kukerjapkan mataku beberapa kali.

Ahjussi, waeyo?”

Kurasakan tangan dingin Daeyoung menyentuh pipiku. Merasakan kegugupan yang tiba-tiba, aku mencoba mengakomodasi emosiku di depan Daeyoung. “Daeyoungie seharusnya menemani eomma agar cepat bangun, ne.” Kutegakkan badan Daeyoung dari pangkuanku.

“Ayo ahjussi antar Daeyoung ke ruangan eomma.” Kuulurkan tanganku untuk menggandeng gadis cilik ini.

Menundukkan kepala, Daeyoung nampak ragu untuk memasuki ruang inap yang berjarak dua kamar dari milikku. Dia meremas jemariku dengan jemari lembutnya.

Kutekuk lutut kananku untuk bertumpu pada lantai. “Lekaslah masuk, Daeyoungie. Eomma pasti senang jika dia bangun dan melihat Daeyoung di sampingnya.”

Daeyoung memutar tubuhnya untuk menghadapku. “Gamsahammida Kyuhyun Ahjussi.” Dia memiringkan badannya dan mencium pipiku. “Ahjussi lekas sembuh.”

Mencoba menarik bibirku membentuk senyum, aku mengusap puncak kepala Daeyoung. “Sampaikan salam ahjussi untuk appa dan eomma.”

Aku berdiri dengan hati bimbang saat Daeyoung telah masuk. Perkataan tulus Daeyoung menyerap perhatianku. “Permisi.” Aku memanggil seorang perawat yang kebetulan lewat. “Bisakah aku bertanya, apa yang diderita pasien di ruangan ini?” Aku menunjuk ruang inap eomma Daeyoung.

“Maksudmu Ny. Kim Minrae?”

Ah, ya.” Aku hanya mengusap tengkukku.

“Ny. Kim menderita kanker panreas stadium akhir.”

Aku tertegun dan mengalihkan tatapanku ke pintu ruang inap tersebut. Jadi eomma Daeyoung tak ubahnya seperti diriku yang berada di ambang batas hidup? Tanganku bergetar dan menekan kontak Daehyun di speed dial.

Yeoboseyo, Hyung?”

“Dae-ya, tolong siapkan satu tiket penerbangan ke Singapore untuk esok pagi.”

***

[Singapore: 05.00 p.m, Vichou Insurance Office]

I heard from my secretary that you have come back.” Aiden Hyung melemparkan berkas-berkas ke mejaku dengan kasar. Raut wajahnya terlihat begitu kaku. Aku tahu dia marah padaku karena foto skandalku dengan Seohyun.

What’s this, Hyung?” kuraih map-map tersebut dan menyampingkan persoalan pribadiku.

“Di tahun 2010 akhir, Vichou Insurance pernah mengakusisi saham Axxe Insurance sebesar hampir 40%.”

Aku meneliti berkas tersebut sembari mengingat. “Ya, saat itu aku mengadakan kerja sama dengan Axxe Insurance. Namun kerja sama ini gagal karena pihak pengelola Axxe tidak mampu menjalankannya dan malah berakhir bangkrut.”

“Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan kerja sama ini, Hyung?” Aku bahkan heran dengan topik yang dibawa Aiden Hyung. Kukira dia akan memarahiku karena skandalku.

“Aku mendengar desas desus bahwa Axxe mulai merintis lagi bisnisnya. Oleh karena itu aku mencermati latar belakang perusahaan ini.” Aiden Hyung mengerutkan keningnya. “Vichou hampir dilanda kerugian besar dengan mengakusisi Axxe. Apakah ada sesuatu yang lain yang berhubungan dengan Axxe?”

Aku memutar kursiku ke kanan dan kiri dengan putaran kecil. Kuusap daguku untuk mengingat kerja sama yang telah lama berakhir. “Kurasa urusan Vichou dengan Axxe telah berakhir dengan kebangkrutan Axxe. Mengapa kau menanyakan ini, Hyung?”

Aiden Hyung memijat pangkal hidungnya. “Insting,” jawabnya singkat.

“Insting?”

“Aku seperti melewatkan sesuatu hal yang penting dalam jalinan kerja sama Vichou dengan Axxe.” Aiden Hyung mengurai ekspresinya menjadi lebih santai. “Aku orang baru di Vichou dan memang tidak tahu menahu mengenai kerja sama ini.”

“Mungkin kau hanya stress, Hyung.”

Don’t underestimate your instinct, Kyunie.” Aiden Hyung menyaku kedua tangannya. “Bicaralah padanya. Kupikir kalian butuh meluruskan keadaan.”

Aku tertegun dengan nasihat Aiden Hyung yang tiba-tiba membelok dari topik. “Kau tidak marah padaku, Hyung?”

“Jika pemberitaan itu benar, kau tidak mungkin berani menampakkan wajahmu di hadapanku. Aku juga tahu kerasnya persaingan bisnis.” Aiden Hyung melangkah untuk keluar ruangan.

Hyung!” Aku berdiri dan memanggilnya. Ingin kuakui kebenaranku padanya. “I proposed Lynn in a purpose.” Aku tidak takut untuk mendapatkan amarahnya karena aku memang pantas menerimanya.

Aiden Hyung berhenti sebentar, kemudian berjalan ke arahku. Dia memandangku dengan cermat. Tanpa kuantisipasi, tinjunya melayang ke rahangku hingga aku terjengkang ke belakang.

Aku mengusap rasa berdenyut di pipiku dan mencoba bangun. Kuraih pinggir meja untuk membantuku menegakkan tubuhku. Aiden Hyung berhak untuk mengganjarku dengan kemarahannya.

“Sejak beberapa bulan lalu, aku ingin melakukan hal ini, Kyunie. Aku diam bukan berarti aku tidak mengetahui apa pun.” Aiden Hyung mengepalkan tangannya. “I already knew it from the beginning.”

Why didn’t you stop me, Hyung?”

Memejamkankan mata, Aiden Hyung sepertinya sedang menimbang alasan yang ingin dia berikan. “Karena semenjak kematian eomma-ku, kau adalah pria pertama yang membuat Lynn membuka diri.” Nada bicara Aiden Hyung melunak. “Lagipula, dari caramu melindungi Lynn, aku tahu perspektifmu berubah.”

Aku memejamkan mataku untuk bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang hebat; Daehyun juga Aiden Hyung. Prestisius lelaki ini memang tidak diragukan. “Hyung, what if I leave her?”

Mata Aiden Hyung menajam ke arahku. “Kyunie—“

I do love her, Hyung.” Kupotong sanggahan Aiden Hyung dengan segera.

***

Aku menyandarkan punggungku di badan mobil dan menyaku kedua tanganku di hoodie. Hampir 20 menit aku menunggu Lynn di depan rumahnya. Rinduku begitu membuncah untuk menemuinya. Rasaku menggebu ingin melihat senyum yang menghilangkan matanya di balik lengkung bulan sabit. Aku mengangkat kepalaku saat sebuah Camry merah melintasi pintu gerbang kediaman keluarga Lee.

Aku menelengkan kepalaku sambil tersenyum kecil saat dia keluar dari mobilnya. Dia memakai outfit t-shirt bertuliskan dodgers, team baseball professional dari LA. Aku tidak pernah tahu bahwa Lynn mengandrungi olah raga.

Mata Lynn membesar ketika dia menangkap sosokku di dekatnya. “What’re you doing here?” nada datarnya terkesan angkuh.

I need to see my fiancée.” Pertanyaan retoris Lynn kujawab apa adanya.

Lynn mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya. Sepertinya dia terganggu dengan jawabanku. “I thought you’ve mistaken me as yours.”

“Lynn, we need to talk.”

We? It’s supposed to be you.” Lynn ingin melangkah meninggalkanku, namun segera kutahan lengannya.

Please, give me minutes to make it clear.”

“I didn’t need to know because it’s clear enough.” Mata Lynn menatapku dengan sorot terluka. Meskipun Lynn berbicara dengan nada dingin, namun aku tidak melihat dominasi kemarahan di matanya. Dia menurunkan paksa tanganku yang mencengkeram lengannya.

Aku semakin dibuat terperanggah ketika mataku menangkap jemarinya. Kutarik jemari Lynn ke atas. “Where’s your ring?” Aku tidak bisa menyembunyikan kekalapanku saat tidak kutemukan cincin pertunangan kami melingkar di jarinya.

Don’t worry, Hyun. I’ll back the ring to you soon.” Lynn menarik jemarinya dan segera berlalu dariku.

Mematung memandang pintu kokoh yang telah tertutup, hatiku bertambah ngilu. Sejauh inikah dia membenciku sekarang?

***

Sir, until now I can find any clue that Mr. Ahmad Matter related to the corruption in Vichou Finance.” Chen melaporkan penyelidikannya.

Aku juga heran bagaimana Ahmad Matter tidak memiliki kaitan dengan Tuan Seo. Sampai sekarang aku hanya tahu bahwa dia menerima dana cukup besar di hari penculikan Lynn dari Tuan Seo. Keterkaitan Tuan Seo pada penculikan Lynn masih dalam investigasi lanjut. “Chen, could he move by himself?”

Chen sejenak merenungkan pertanyaanku. “I don’t have any idea, Sir. But, you not need to worry, Mr. Ishak will inform us about their move.”

Aku membuat gerakan kecil dengan jemariku di meja. Otakku yang membuat hipotesis-hipotesis kian membuatku khawatir. “Tempatkan orang tambahan sebagai mata-mata, Chen. Aku takut dari awal mereka memang sebuah konspirasi terpisah dari Tuan Seo.”

Yes, Sir.”

“Laporkan perkembangan penyelidikan ini pada Manager Aiden Lee juga.” Aku pikir sudah saatnya Hyung tahu bahwa aku diam-diam mengamati pergerakan Ahmad Matter. Dia akan sangat membantu menemukan kaitan-kaitan yang belum kupecahkan.

Yes, Sir.” Chen membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruanganku.

Aku mengamati ponselku untuk sekian kali. Beberapa panggilan dan pesanku diabaikan Lynn dari kemarin. Aku bukan tersiksa karena sikapnya terhadapku, melainkan karena dirinya yang terluka atas kelakuanku. Kutekan kembali nomor Lynn agar terhubung dengannya.

Bunyi tunggu yang terdengar secara diskrit mengiritasi telingaku. Bagaimana pun caranya, aku harus bicara padanya. Aku segera menegakkan punggungku ketika telephonku dijawab. “Lynn?”

Please, don’t disturb me. Don’t worry, I’ll assume that our engagement has been called off so it won’t mess you relationship with her. You don’t neet to discuss it later.

“Lynn, wait. Adelynn!” Aku berteriak untuk memintanya tidak memutus komunikasi kami, namun sia-sia.

Damn it!” Kuremas ponselku dan kuurut keningku. Bagaimana bisa Lynn mengira bahwa aku kembali menjalin hubungan dengan Seohyun. Foto-foto skandalku terlalu premature untuk menjatuhkan keputusan seperti itu.

Aku segera bangkit, lalu menyambar jas dan kunci mobilku. Tidak akan kesalahpahaman ini kubiarkan berlarut-larut. Suka tidak suka, aku harus menjelaskan keadaanku padanya.

***

“Lynn.” Aku menghampiri dan mencegatnya. “Follow me.” Tanpa basa-basi, kutarik pergelangan tangannya.

Let go of me.” Lynn meronta dan mencoba menarik tangannya. Dia menyentak tangannya hingga terbebas dariku. “Enough! Please, let it be the end of us. I won’t ask anything.”

Aku melihat beberapa orang memandangi kami dengan bertanya-tanya. “Please, don’t make it hard. Let’s talk in private space.” Aku ingin menyingkir dari keramaian kampus karena tidak nyaman dengan kondisi terbuka seperti ini.

I have said it before, Hyun. You don’t need to clarify everything.” Lynn berjalan mundur dariku beberapa langkah. “Congratulation to you. You must be happy with her.” Air mata yang luruh menjadi pemandangan terakhir yang kulihat sebelum Lynn membalikkan badan dan berlari.

“Adelynn!” Aku menyusulnya berlari menyusuri koridor kampus. “Excuse me.” AKu berulang kali meminta maaf karena menabrak orang lain. Kudongakkan kepalaku untuk mencari sosok Lynn yang telah hilang dari pandangan.

Aku tetap menyeret langkahku untuk menemukan Lynn. Napasku yang terengah-engah tidak menyurutkanku. Kuputar tubuhku dan menyapukan pandanganku ke areal kampus. Berjalan lagi, aku memutari koridor-koridor kelas, namun tak jua menemukan Lynn. Karena tidak familiar dengan tempat ini, akhirnya aku menyerah untuk mencarinya.

***

Kujalankan mobilku dengan perasaan yang masih resah. Sejak tadi, telephonku hanya masuk dalam mailbox Lynn. Kusorongkan dahiku pada kemudi saat lampu merah menghentikan lajuku. Selalu saja ada akibat dari setiap keputusan yang kuambil. Dan aku tidak mengira konsekuensi yang kutanggung juga melukai Lynn demikian rupa.

Aku baru akan menarik tuas kopling saat mataku menangkap sosok familiar. Tanganku mencengkeram kemudi dengan erat saat melihat siapa yang berdiri di depan coffee shop. Telingaku semakin tuli akan bunyi klakson yang menginginkanku menyingkir dari jalur.

Adelynn berdiri di sana dalam pelukan seorang pria. Kutajamkan pengamatanku untuk mengenali pria tersebut. Cengkeramanku mengerat saat kutahu bahwa dia Kris. Pria jangkung itu mengusap punggung Lynn dan melingkarkan sebelah tangannya di kepala Lynn. Dadaku memanas karena perasaan tidak rela.

Aku ingin keluar dan menarik Lynn dari dekapan Kris. Namun jika kulakukan hal itu, maka aku akan lebih tidak termaafkan. Kutekan amarahku untuk tidak meluap. Mungkin sekarang, Lynn membutuhkan orang lain untuk berbagi.

***

Kuusap rambutku yang basah dengan handuk untuk mengeringkannya. Aku berjalan menuju intercom ketika mendengar bel berbunyi. Kubukakan pintu ketika melihat jasa pengiriman datang.

Sign it, Sir.”

Aku menandatangani bukti penerimaan dan menerima barang yang dikirimkan padaku. “Thank you.”

Memasuki apartemenku, aku membolak-balikkan kotak yang kuterima. Tidak kutemukan alamat pengirim di barang ini. Merobek bungkusnya, dadaku berdesir saat kutemukan sebuah kotak familiar. Aku yakin beberapa bulan lalu, kutaruh kotak ini di kamar Lynn. Hatiku semakin resah untuk membukanya. Ketakutanku terbukti saat kulihat cincin pertunangan milik Lynn berada di dalamnya.

Melangkahkan kakiku dengan cepat, aku menjangkau ponselku. Tanganku mengepal menahan gejolak emosiku ketika Lynn tidak mengangkatnya. Kuketikkan pesan untuknya dengan jemariku yang bergetar.

Aku membanting ponselku dan mengeram frustasi. Kuserampang segala benda yang berada di mejaku hingga berjatuhan. Bagaimana aku memperbaiki kekacauan yang kubuat jika Lynn saja tidak mau bertemu denganku?

***

Aku duduk berselonjor di antara barang-barangku yang berceceran. Kusandarkan punggungku di badan ranjang. Agaknya Lynn tidak mengindahkan pesanku lagi. Ini sudah hampir pukul 10 malam, namun dia tidak muncul. Kutumpu sikuku di lutut yang kutekuk. Kusapu keningku ke belakang hingga menyingkap poniku.

Aku menoleh dengan cepat saat deheman mengiterupsi perenunganku. “Lynn…” Dia berdiri di ambang pintu kamarku. Wajahnya yang sedikit pucat menggambarkan kelelahan yang sama denganku.

I just have ten minutes for you to speak.” Mempertahankan kekakuan di antara kami, Lynn tidak mendekat. Aku tahu dia sedikit terkejut dengan kondisi kamarku yang sudah sangat berantakan akibat amukanku.

Aku menyeringai menanggapinya. “Apa yang bisa kulakukkan untuk mengubah presepsimu hanya dalam waktu sepuluh menit?”

Nothing,” jawab Lynn datar.

“Lalu apa yang kau ingin dengar dariku selama sepuluh menitmu?” aku menoleh dan menatap Lynn. Bayangan permasalahan kami yang belum selesai dan kecemburuanku begitu jelas di mataku.

“Hyun, jika kau tidak berniat bicara, maka kuanggap masalah di antara kita selesai!”

Then, what will you do?” Aku bangun dari posisiku dan menantangnya. “Pernahkah aku mendeklarasikan bahwa hubungan kita usai?!” Emosiku berada di ambang batas kemampuanku untuk menahannya.

“Apakah tindakanmu tidak cukup memutuskannya?” Lynn menjawabku dengan bibirnya yang bergetar.

You never give me a chance to explain!”

For the many times, I said I don’t need your explanation!” Lynn balas berteriak padaku.

Aku menarik salah satu sudut bibirku ke arah berlawanan. “You want our engagement ended so you’ll be free to be with Kris, won’t you?”

What?”

“Kau selalu menuding bahwa aku dan Seohyun bersama, tapi kenyataannya kau hanya mencari kambing hitam! Berapa lama kau bermain di belakang punggungku, Lynn?” Aku sungguh tidak bisa mengontrol rasa ketidaksukaanku pada hubungan Lynn dan Kris.

Don’t drag Kris on our problem, Hyun. He’s nothing to do with me.” Lynn menekan setiap kata dalam kalimatnya.

Then what else could make you treat me like this if it wasn’t Kris?”

Stop it! You know nothing about me and Kris!”

And so do you!” Aku membalikkan perkataannya. “You know nothing about me and Seohyun!” Hatiku bertambah nyeri setiap Lynn membela Kris.

Lynn memalingkan wajahnya untuk menghindariku. Dia mengusap pipinya yang basah dengan ujung lengan kaosnya. “From the beginning, yes, I knew nothing about you nor Seohyun. I’m just your tool to avoid your egoism toward her. I’m merely a gratitude for thanking your acquisition of Xian Group.

Dadaku serasa dipukul dengan telak. Aku dilemahkan dengan perkataan Lynn. “You’re judging without any reason.” Aku semakin mengeratkan kepalan tanganku untuk menyalurkan amarahku.

I always give you time to speak up, but you keep silent. And now, you claimed I never gave you chance.” Aku tidak menyukai mata biru Lynn yang tergradasi merah karena hal itu membuat hatiku perih. “If you said I should be with Kris, then why not. He’s a good man, though.

Adelynn Lee!”

Don’t dare to call my name that way!”

Arrrgghhh…” Tanganku merampas sesuatu dari meja dan melemparkannya ke tembok. Bunyi benturan yang keras serta pekikkan Lynn menarik kesadaranku. Aku menatap jalang pada perbuatanku dengan kaget dan napas memburu. Kualihkan pandanganku pada Lynn yang masih melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Kurasakan tanganku bergetar hebat. What’d I do?

Aku mundur selangkah untuk menjauh. Tubuhku jatuh terduduk saat kusesali perbuatanku. Emosiku benar-benar membahayakan Lynn. Apa yang ada di pikiranku hingga melemparkan sebuah bola dari gelas kaca padanya? Bagaimana jika lemparanku meleset dan mengenainya? Damn you, Cho Kyuhyun. Aku mengutuki diriku sendiri. “Go away, Lynn. I’m not in the right mind.”

Air mata yang jatuh memanaskan suhu pipiku. Kuremas dengan sangat rambutku. Semarah apa pun, aku tidak pernah sekasar ini, terlebih dengan seorang perempuan. Aku mengangkat pandanganku saat melihat sepasang kaki berhenti di hadapanku.

“Ayo bicara baik-baik. Jangan seperti ini.” Lynn menekuk lututnya dan duduk bersimpuh di hadapanku. “Please.”

Aku melengos untuk menghindarinya. “Next time.” Kujawab permintaannya karena aku masih takut dengan emosiku. Aku merasakan tangan kananku di tarik. Menoleh kembali pada Lynn, aku menemukannya mengobati tanganku yang terluka. “Let it be.” Meskipun aku menolak, namun aku tidak menarik tanganku dari pangkuan Lynn.

I ever said to you not to hurt yourself, didn’t I?” Lynn masih menunduk untuk berkonsentrasi membersihkan lukaku.

Merasakan jemari lembutnya bergerak menggesek kulit tanganku membuat dadaku berdesir. Aku sangat merindukan sentuhannya. “We’ll talk later when I’m in the mood.” Sesungguhnya, aku tidak ingin mengakhiri sentuhan-sentuhannya untuk merawat lukaku.

Then, what should I do to make your mood better?”

Just leave me alone, Adelynn. I’ll catch you tomorrow.”

Should I tell you a funny story?” Lynn menelengkan wajahnya untuk mencuri perhatianku. Dia sama sekali tidak memedulikan perkataanku. “Hum?” Bergumam pelan, wajah Lynn merupakan percampuran dua kontradiksi. Sisa-sisa air mata masih terlihat jelas di sana, namun dia berusaha mencerahkan ekspresinya. “It’s a yes, right?”

Aku ingin menyanggah tawarannya, namun mulutku tertahan. Lynn menggeser duduknya searah denganku hingga dia berada tepat di sampingku.

So, what should I tell you?” Lynn mengetuk-ketukkan telunjuk di pipinya untuk berpikir. Rautnya yang bersinar mengatakan bahwa dia menemukan bahan cerita. Celotehannya mengalir begitu saja tanpa peduli aku akan mendengarkan atau tidak.

“Lynn…”

Just listen, okay?”

Aku memandangnya yang sedang bercerita dengan intens. Suaranya kian menyurut dalam hampa udara. Fokusku terkunci pada setiap lekukan wajahnya. Mengagumi bagaimana bibirnya tertarik membetuk lengkung menawan, bagaimana tulang pipinya terangkat saat dia terkekeh ringan, bagaimana alisnya menyatu saat keningnya berkerut, bagaimana mata birunya menyipit dan membentuk bulan sabit saat tersenyum, semua itu membuatku hilang akal.

Kutumpukan tanganku di lantai agar aku bisa lebih mendekati keindahan itu. Perlahan secara sadar, aku merangsek ke arahnya. Hingga saat dadaku menyentuh pundaknya, dia berjengit pelan. Memundurkan wajahnya, dia menunjukkan ekspresi was-was. Oh Adelynn! You make me fall for you.

Telingaku sungguh tersumpal sesuatu hingga suaranya hanya berdenging. Dari gerak bibirnya, aku tahu dia mencicitkan namaku. Aku terus berusaha memapas jarak hingga kini wajahnya hanya terpaut beberapa centi dariku. Hangat nafasnya yang menerpa lembut wajahku membuatku tak sabar untuk menarik tengkuknya dan mencumbu bibirnya.

Kueratkan kepalan tanganku. Tuhan, tolong jangan membuatku jatuh lebih dalam padanya. Kutahan sebisa mungkin nafsu yang terus menggempur. Melawan insting naluriah untuk mendekat, kutundukkan kepalaku dengan cepat untuk menguasai diri. Terus mensugesti diri bahwa aku akan menyakitinya jika kulakukan keinginanku. Secara perlahan, kutarik mundur diriku.

Kupertahankan kepalaku yang tertunduk untuk menyembunyikan kenaifanku. “Hyun, are you feeling ok?” Kudengar nada khawatirnya dan kurasakan goncangan pelan di pundakku. Jangan lakukan itu, Lynn. Atau mungkin aku bisa kehilangan kontrol. “Do you feel any pain?” Jemari lembutnya menangkup pipiku. Hentikan! Sentuhanmu membuat egoku mencuat lagi. “Hyun…” cercanya saat aku tak kunjung menjawabnya.

Enough! Kutarik jemarinya yang berada di pipiku dan kulingkarkan tangannya melalui perutku. Kurengkuh tengkuknya dengan cepat untuk menyatukan bibir kami. Aku bisa merasakan reaksi keterkejutannya melalui pekikkan halus dan nafasnya yang tertahan secara cepat. Aku benar-benar hilang akal saat bibir kami bertemu. Oh, bernapaslah Lynn atau kau akan kehabisan oksigen!

Aku masih diam beberapa detik untuk menunggu reaksinya. Dia mematung. Jadi kuputuskan untuk melepas kontak bibirku. “Breathe in, Lynn.” Aku terseyum kecil saat mengamati wajahnya lekat. Dia mulai menarik nafas dan mengerjap. Sapuan bulu mata lentiknya di udara begitu jelas. Demikian juga dengan gurat lembut di bibirnya yang sedikit mengerut.

I’m sorry,” lirihku tepat sebelum menjangkaunya kembali. Dan kini, tanpa keraguan, kulumat bibir atasnya dengan lembut. Kuusap punggungnya sembari menariknya kian merapat dan kutahan tengkuknya untuk memperdalam ciumanku. Dia masih pasif di beberapa saat, hingga kurasakan balasannya untuk mengisap bibir bawahku.

Gosh! Aku sangat takjub dengan bagaimana jantungku berdetak sangat cepat dan keras hingga mengalirkan sensasi berdesir di setiap sel tubuhku. Mengecap tiap inchi bibirnya dan tiap kelembutannya membuatku menginginkannya lebih. Ciumanku semakin rakus saat balasannya membuaiku. Otakku terisi penuh dengan eksistensinya.

Menyapukan lidahku di permukaan bibirnya, membuatku merasakan selaput tipis bibirnya pada papil-papil lildahku. Akalku semakin menepi dalam batas kesadaran saat kutelusupkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Melumas lidahnya dengan salivaku, menjadikan penguasaan diriku lenyap.

Ketika dorongan kebutuhan udara menerpa kami, kulepaskan pagutan bibirku. Aku masih mempertahankan tanganku untuk menyangga tengkuknya. Sembari meraup udara, kecup-kecup ringan kulayangkan di bibirnya. Pertanda bahwa aku tidak rela melepas ciuman kami.

Kami bisa leluasa memasok udara setelah bibir kami tak lagi terpagut. Dia mendongak untuk menatapku dengan mata indahnya ketika aku belum jua melepas pelukanku. Wajahnya memerah, begitu pun dengan bibirnya. Membuatku menjatuhkan nilai sempurna padanya, namun menumbuhkan ketidaksempurnaan dalam diriku. Ketidaksempurnaan atas egoku untuk memilikinya seorang diri.

Aku ingin mengorek pemikirannya setelah apa yang kami lakukan. Mengetahui lebih dalam atas asumsinya pada tindakanku. Adakah dia menganggap bahwa yang aku lakukan hanya dorongan nafsu? Semoga tidak. Kuulas senyum untuk mengatakan segala hasratku terhadapnya. Terima kasih dan maaf.

Kutarik kembali dia masuk dalam dekapku hingga aku bisa memendam wajahku di pundaknya. Tuhan, aku tidak ingin berdusta lagi…tidak lagi. Aku sangat ingin hidup lebih lama untuk memilikinya. Melihatnya tersenyum di sisiku, menemukan wajahnya tertimpa sinar matahari di pagi aku membuka mata, dan mendengar suara merdunya saat memanggil namaku. Kueratkan pelukkanku ketika kurasakan sesuatu yang hangat mulai menyembul di sudut mata.

Aku mengusap puncak kepala Lynn yang berada di pangkuanku. “What did you guys discuss about, hmm?” Rambut halus Lynn menyisip di antara jemariku.

Lynn mengerutkan bibirnya dan memandangku penuh tanya. “What do you mean?”

Aku berdeham untuk membersihkan kerongkongan dari rasa mengganjal, sekaligus mengurangi kegugupanku. “When you were in front of coffee shop.”

Lynn mengerjapkan mata dan terlihat berpikir. “You saw us, didn’t you?” kaget Lynn sembari bangun dari pangkuanku, namun kutahan bahunya.

Relax, Sweetie.” Kukecup keningnya.

Lynn berdecak. “How could I relax when you threw me a ball of glass?”

I’m really sorry…” Aku menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman. “I was—“

Jealous?” potong Lynn cepat. Dia mendongak dan menatapku intens dengan bola mata biru samuderanya.

Menurunkan bahuku, aku menyerah. “Yes.”

“Hyun, from the beginning I always trust you.” Lynn melarikan jemarinya di poniku. “I know something gone wrong when your picture spread through internet.

Kutangkap tangan Lynn. “You didn’t get angry, did you?”

Menggelengkan kepala dalam pangkuanku, reaksi Lynn mengejutkanku. “Errr…maybe little bit—“ dia mengigit bibir bawahnya, “—jealous.” Lynn menarik jalinan jemari kami dan meletakkan di atas perutnya. “Aku pernah berbincang dengan gadis itu. Menilai bagaimana dia bereaksi, menurutku dia terlalu klise. Jadi tadinya aku berpikir bahwa berita itu juga salah satu trik klisenya.”

But why did you avoid me?” Aku tidak mengira bahwa Lynn mempunyai praduga demikian.

I was afraid to hear your words.” Lynn meremas jemariku.  “Kebisuanmu untuk tidak mengklarifikasi berita itu membuatku beranggapan bahwa asumsiku salah. Aku mengira bahwa kalian kembali bersama.”

Aku menghembuskan napas panjang. Bukan salah Lynn jika dia menggeser asumsinya. Kepengecutanku untuk menghubunginya lah yang patut kusesali. Aku juga tidak pernah mengungkapkan perasaanku secara gamblang padanya.

“Hyun, but now, I’m still waiting your explanation.”

Of course we didn’t back together.” Kuacak rambutnya pelan ketika matanya membulat. She’s too lovable. “Hubungan kami telah berakhir sejak masa kuliah dulu.”

But—“ Lynn sedikit mendongakkan kepalanya, “—I…I saw you kissed.” Dia melirihkan nada bicara, kemudian mengulum bibir bawahnya.

Kissed? When?” Menelengkan kepala, aku mengingat momenku dengan Seohyun yang mungkin membuatnya salah paham.

It was two days before our scheduled engagement.” Suara lirih Lynn yang terdengar malu. Dia menundukkan wajahnya dan memainkan jemari kami.

Aku memutar memoriku untuk mengingat. “Ah…” Memanggut-manggutkan kepala aku ingat momen itu. “Saat itu, aku dalam keadaan mabuk dan Seohyun datang di waktu yang tidak tepat.”

So you’ll kiss random girl when you drunk?!” Lynn memelototkan matanya ke arahku dengan tidak percaya. “Nappeun namja.” Dia mencubit punggung tanganku.

Terkekeh geli dengan rajukkannya, aku mengagumi kontur wajahnya dengan leluasa. “No, of course not. I thought Seohyun was in her frustration too. And I caught off guard when she dragged me into a kiss. It was nothing, okay?” Aku menjawil ujung hidugnya.

Lynn menarik napas cukup panjang. “No, it’s not my point. Beside, I’m no one.” Pandanganya meredup. “Bahkan jika kau kembali pada Seohyun saat ini, aku tidak berhak marah karena di awal pertunangan kita kau sudah dengan tegas memaknai hubungan ini.”

Aku merasakan hatiku ditikam dengan ucapan Lynn. Kuakui, aku terjebak dalam permainan yang kubuat. “Setelah apa yang kita lalui, kau masih menganggap hubungan kita sebatas simbiosis? Keterikatan untuk sekadar saling mengambil keuntungan?”

“Maaf, tapi seperti itulah yang aku tahu mengenai esensi hubungan ini. Suatu saat, ketika kau selesai dengan urusanmu, maka pertunangan ini berakhir.”

Rasa panas di dadaku seolah menusuk kerongkongan ketika mendengar pendapat Lynn. “Go on, Lynn. I wanna hear your thought,” ucapku datar.

Mata Lynn memandangku ragu. Mungkin saja dia menyadari perubahan nada suaraku. “Kau pernah mengatakan bahwa pertunangan ini hanya caramu untuk tidak melukai Seohyun lebih jauh. Jadi aku pikir, ketika masalah korupsi Vichou terselesaikan maka kalian—“ Lynn tidak menyelesaikan kalimatnya. Memilih menggigit bibir bawahnya, Lynn tidak meneruskan perkataannya.

“Kau tahu apa yang kurasakan setiap kali kau berada dalam bahaya karenaku?” Aku hampir meledakan emosiku lagi. Tidakkah Lynn mengerti sedikit mengenai segala tindakan protektifku padanya? Suasana kondusif yang beberapa saat tadi terbangun, tiba-tiba menjadi suram. “Kau tidak pernah tahu bagaimana aku menahan egoku ketika berada di dekatmu.”

“Aku—“

“Penculikanmu dan kecelakaanmu!” Emosiku semakin diaduk ketika bayangan memori tersebut melintas. Kengerian selalu membayangiku andai aku tidak datang tepat waktu. “Bahkan hingga saat ini aku belum bisa memastikan dalangnya, Lynn,” aku menekan akhiran kalimatku.

I’m sorry, Hyun.” Telapak tangan Lynn menangkup sebelah pipiku. “I just—“ dia memberi jeda untuk mengumpulkan keberanian, “—have no courage to figure out our relationship.”

Aku menekuk punggungku untuk mengadu keningku dengan kening Lynn. Beberapa hari ini temperamenku memang buruk. Kupejamkan mataku untuk mengecapi setiap detik yang kuhabiskan dengannya. “I know. It’s my fault, though.”

“Aku hanya membutuhkan suatu alasan untuk hubungan ini,” ungkap Lynn.

Menggeser wajahku, aku melesapkan hidungku pada hidung Lynn untuk menjangkau bibirnya. Lembut pipi Lynn yang menggesek ujung hidungku membuat emosiku mencuat lagi. Aku meyapukan permukaan bibirku sepanjang bibir Lynn sebelum melumatnya kembali. Hangat nafas kami yang berbaur saat aku menjauhkan bibirku menyembulkan air mata di sudut mataku. Kukecup ringan bibir Lynn sebelum pengakuanku berlanjut. “It’s because I fall in love with you.” Akhirnya kalimat tersebut lolos dari mulutku.

Mata biru Lynn yang membulat sempurna menghipnotisku untuk terperangkap dalam pesonanya. Kedalaman samudera yang tidak bisa kuukur dari sorot matanya senantiasa membuatku frustasi. “I…I—“ gagap Lynn untuk menjawab pengakuanku.

I don’t need an answer, Lynn. I utterly gave a reason to hold you.” Kurendahkan kepalaku untuk mengecup dahinya. “I love you with all my heart, Adelynn Lee.” Tangan Lynn yang melingkar di leher menahan tubuhku untuk menegak. Aku membiarkan kami berada dalam posisi ini selama beberapa saat.

I—“ Lynn membuka mulut untuk menjawab pernyataanku.

Please, answer me when you settle your heart.”

Lynn melengkungkan senyum lega. Aku tahu dia membutuhkan waktu untuk berpikir ulang dan me-reset asumsinya mengenai hubungan kami. “Thank you.”

Aku kembali meluruskan punggungku ketika Lynn melepaskan pelukannya. “Setelah melepaskan Shim Hwa Young, tadinya aku memang berencana kembali pada Seohyun karena keluarga kami memiliki harapan besar terhadap pernikahan kami.” Kuterangkan masa laluku padanya agar dia tidak salah menilai. “Pada mulanya aku berpikir untuk mulai membangun perasaan tulusku untuk Seohyun. Tapi setelah melakukan beberapa pertimbangan aku memutuskan menolak pernikahan tersebut.”

It’s because you didn’t want to hurt her, wasn’t it?”

Aku menggangguk untuk membenarkan. “Pertama, aku tidak ingin kembali melukai perasaan Seohyun seperti masa lalu ketika aku melarikan patah hatiku padanya. Kedua, aku tidak ingin membuat rumit permasalahan korupsi di perusahaan dengan menikahi Seohyun.”

Lynn menggeser kepalanya dan memasang raut tanya. “What did you mean?”

“Tuan Seo, appa dari Seohyun, dia terbukti melakukan korupsi di perusahaan.” Senyumku melebar saat Lynn mengangguk kecil. “Do you wanna me sing a lullaby?”

But I have to back home.”

I’ll call Aiden Hyung to make an excuse. Please, for this night.” Aku mengukir senyum kemenangan ketika Lynn mengangguk setuju. Berdeham untuk membersihkan tenggorokkan, aku mengingat bait lagu ‘Angel’ di ingatanku.

I sit and wait. Does an angel contemplate my fate? And they know the place where we go…” Mulai menyanyikan lagu, aku membelai rambut Lynn. Kurajut jemariku dalam sela-sela jemari Lynn, kemudian meletakkan jalinan jemari kami di atas perutnya.

Cause I’ve been told. That salvation lets their wings unfold. So when I’m lying in my bed, thoughts running through my head…” Aku menyelisik wajah ayu Lynn yang berada di pangkuanku. Kelopak matanya yang menutup menyembunyikan keindahan iris yang selalu kupuja. Bibir tipis yang terkatup selalu mengundangku untuk menjamahnya. Pipi merona yang membuat shade membulat saat dia tersenyum kini merileks.

Kukulum bibir bawahku sejenak untuk menahan air mataku meluruh. “When I come to call she won’t forsake me. I’m loving angels instead…” Tuhan, kuatkan aku untuk melangkah sejenak dari sisinya.

Aku mengangkat tubuh Lynn ketika dia telah terlelap. Kutahan gerakkanku saat dia menggeliat kecil dalam gendonganku.

“Hyun…” Lynn bergumam dengan mata yang terpejam. Dia menyurukkan wajahnya di lekuk leherku.

It’s cold lying on the floor, Sweetie.” Aku berbisik untuk menenangkannya.

Kubaringkan tubuh Lynn di ranjangku, kemudian kutarik selimut untuk menghangatkannya. Menyangga bobotku di sisi tubuh Lynn, aku menggeleng-geleng pelan saat peningku menyergap. Kupijat pelipisku dengan pangkal tangan. Pandanganku kembali pada sosok Lynn saat diriku bisa menguasai rasa sakit. “I wish, I’ll have your answer about your heart when I’m back.”

Kucium keningnya cukup lama sebelum mendaratkan ciumanku di bibirnya. “I love you, Adelynn.” Hatiku berdesir perih saat kutegakkan tubuhku untuk menjauh. Please My Lord, strengthen me always.

Melangkah keluar kamarku, aku memerhatikan figur diri Lynn yang terlelap untuk terakhir kali. Kudongakkan kepalaku ketika air mataku menggenang. Dengan hati-hati, aku menarik kenop pintu yang menghilangkan pandanganku pada Lynn.

***

Kupandangai tiket penerbanganku dengan hati remuk. Demi sebuah harapan tipis, aku meninggalkan hatiku di negara ini. Kubekap mulutku saat emosiku muncul dalam linang air mata. Saat ini, aku berharap seorang gadis bermata biru berlari dari sela kerumunan dan memelukku erat, kemudian mengatakan padaku untuk membawanya serta.

Menggelengkan kepala, aku mengusir imajinasiku. Lynn punya kehidupan dan mimpi yang harus dia jalani di sini. Aku menyayanginya, dan inilah caraku untuk menjaganya. Mencoba untuk tidak bersikap egois, aku meninggalkan gadis itu.

Hyung, I’ll take care of her. You have my words.”

Mendengar suara Daehyun, aku menolehkan kepala. Rangkulannya di pundakku menguatkan tekadku. “Dae, jika pengobatanku gagal—“

“Kalau begitu berjuanglah agar tidak gagal,” potong Daehyun cepat.

“Jika dia menemukan sosok pria yang lebih baik dariku, maka aku melepaskannya. Sekali pun pria itu adalah kau.” Aku tidak bisa berharap pengobatanku bisa memulihkan kondisi. Jadi kulepaskan Lynn untuk berada di tangan seorang pria yang lebih baik.

Hyung…”

Please, Dae-ya. I’m trying to think realistically.”

Daehyun memelukku dan menepuk punggungku. Melepaskan pelukannya, mata dan hidung Daehyun memerah. Aku tahu dia mencoba mengontrol emosinya. “Kembalilah dengan sosok Kyuhyun Cho yang kami banggakan. Jangan khawatirkan keadaan di sini. Aku akan meng-handle-nya dengan baik.”

Aku menepuk lengan atas Daehyun bersamaan dengan pengumuman penerbanganku. Melangkah menuju pintu keberangkatan, kuangkat tangan untuk melambai pada Daehyun. “Someday, I’ll come back here to pick my heart up.”

TBC*

Glosarium:

Ricin: Ricin merupakan zat beracun yang berasal dari tanaman kacang castor dan bahkan dianggap sebagai zat alam paling beracun, menurut Fakultas Studi Hewan di Cornell University. FYI, pada tanggal 17 April, sebuah surat yang dikirimkan kepada Presiden Barack Obama dinyatakan positif mengandung ricin.

Arsenik: keracunan arsenik dapat terjadi secara akut akibat konsumsi arsen berlebih atau kronis akibat terpapar terus-menerus meski dalam kadar rendah. Masuknya arsenik dalam jumlah besar ke dalam tubuh secara mendadak menyebabkan serangan akut berupa rasa sangat sakit perut akibat pencernakan yang rusak, rasa haus yang hebat, keram perut, dan akhirnya syok, koma, dan kematian. FYI, racun ini digunakan untuk membunuh Munir, seorang aktifis HAM Indonesia. Hingga sekarang kasus ini masih kabur dari jalur hukum.

Called off: dibatalkan

Bonus pic:

Ini mengapa aku memilih Tiffany Hwang sebagai refleksi Adelynn:

 tiffff

Wajahnya yang terlihat mixed antara eastern dan western merupakan alasan sempurna untuk menjadikannya sebagai karakterku. And, she’s gorgeous after all.

And, this’s Kyuhyun ‘Love Dust’ project and Tiffany ‘dodgers’:

I’m not sippering them. I’m just love both of them.

kyu tiff

Note:

I’m sorry for making our lovely Hyun leaving. I’ll not end this story by a sad ending, okay? Just bear for a while.

Aku menyebutkan Axxe Insurance bukan tanpa alasan. Silakan menebak-nebak dulu kaitannya. Kemudian, momen Kyuhyun dan Daeyoung juga adalah alasan yang menjadikan dia mau berobat. Detail kenapa dia mau berobat akan kujelaskan di epilog.

Be good reader by leaving review/ comment/ your feeling toward this ff before I make this ff protected. I’m serious about this. Aku tidak masalah kalian bercuap-cuap apa pun. Demikian itu, aku lebih merasa dihargai daripada kalian diam.

248 thoughts on “A Lovely Coincidence [Shot: 10]

  1. haruyaa says:

    Hwayoung masih belum tau kondisi kyuhyun ya?:(
    Wah, abis di’hantam’, Lynn langsung melunak perasaannya. Kyuhyun kacau banget emang😦 Itu kyuhyun pergi ke korea apa ke US ya?

  2. chenphy says:

    hyun,,kau mau berobatkah????
    terus gmn klo misal operasinya gagal?? gmn sama lyn,,haduh mg ga ada apa2 ya.. amin ya robby..

    hua.. hyun manis bgt jg lyn sabarnya harus jd panutan thu,, hahhahahahaha..
    jerman korea bukan?? pictnya aku suka bagus bgt apalagi editannya.. ga hrs maksain ini itu but keren..
    ijin baca part berikutnya..

  3. Cici says:

    This is so sad chapter. Ah! I wanna cryy!!
    Kyu, why you leave her??
    Oh, pasti ketika Lynn bangun dan tidak menemukan Kyuhyun, dia pasti bakalan sedih. God!

  4. Wah, rasanya kaget banget baca paragraf terajhir kalo si Hyun mau berobat. Semoga berobatnya berhasil. Iyaaa aku gamau sad ending, maunya happy ending ajaaaa😀

  5. Argghht kyuuu please bertahan babe T.T ayo kamu harus bisa sembuh jangan mau kalah sama penyakitnya :’) Adelynn untuk kesekian kalinya ditinggal dan digantung oleh kyu.. semoga aja Lynn tau kyu pergi untuk berjuang buat dirinya buat masa depan mereka.. hiks hiks part ini bener2 bikin emosional banget.. ada keselnya, marah, sedih, dan sweet juga..😥

  6. syalala says:

    ah it’s so sudden kyuhyun met daeyoung! there must be a story behind it. ahhhh kyuhyun lynn moment at the ending story is the sweeties moment omggg I wanna cry with a bright smile really and finally I did it when I read this. hope kyuhyun will recover from illness and back to lynn asap. cant see their separate. kyuhyun such a gentle guy ever ah jinjja. next chapterrr

  7. Rania says:

    Hmm.. Aku sbenernya rada kurang ngerti yaw sma scene Hyun ngelihat mata anak kecil wktu di RS,,
    Hyun liat ada bayangan anak kecil, itu maksutnya liat bayangan dia wktu kecil apa dia ngebayangin masa depan dya ato gmna yak? Hadeuh bingung..
    Trus Aiden,,,
    Aiden memang tidak se”polos” kelihatannya kan ternyata..
    Ugh btw aku ikut trharu Hyun akhirnya mau di oprasi..:)

  8. haaah omo nangis beneran ini😥 akhir nya kyuhyun ngaku jga kalo dia cinta sama adelynn, tp knapa dia mau berobat gak bilang sama lynn, bener2 gak bisa bayangin endingnya nanti, yg penting kyuhyun harus sembuh :’) suka bgt sama critanya, critanya seru dan bikin penasaran🙂 keep writing and fighting^^

  9. HalcaliGaemKyu says:

    Sempet kesel jg sm kyu yg nolak untuk dioperasi tp kemudian dgn kedatangan daeyoung kecil yg sedang sedih krn eommanya belum sadar mungkin kyu sadar bahwa setipis apapun harapan untuk sembuh dan hidup, org2 disekitarnya, yg mengasihinya sgt berharap besar bagi kesembuhannya.
    Adooohhhh sedih bgt!
    Kasian kyuhyun.
    Mengenai Matter (lupa namanya), mungkin aja dia bekerja sendiri, kecelakaan itu mungkin dia lah penyebabnya.

    Tp akhirnya kyu mau berjuang! Akan lbh baik jika byk keluarga dekat disekelilingnya. Tp yg namanya kyu…mungkin dia gk mau membuat ortunya tambah sedih klo dia tdk bs bertahan nantinya, makanya dia pergi sendiri.
    Pembicaraan antara kyu dan lynn di kamar itu bener2 so sweet tp perpisahannya sedih.
    FF nya daebak deh.
    Lanjut ya

  10. complicated.
    sudah cukup membuat emosiku pasang surut huh -,- lynn selalu salah paham, hyun juga selalu ngulur waktu, tapi ya emang gitu sih kenyataannya, masalah cewek sama cowok wkwkwk. heol, akhirnya hyun mau berobat! semoga sukses ya! lol^^

  11. raraa says:

    gag nyangka akhirnya kyu mau juga ngejalanin operasi itu , smoga berjalan lancar kyu oppa operasinya terus cepat kembali dan jemput pujaan hatimu :’)

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s