[Drabble Collection] (Un)Intentional Meeting, Reconciliation, The Encounter


(Un)Intentional Meeting

946113_4236398927200_1340973888_n

Arsvio | Rate: All ages

Mengecek smartphone-ku, aku mencebikkan bibir sebagai ekspresi kecewa ketika chat terakhirku tidak jua mendapat balasan. Aku terpaksa menonaktifkan mobile phone-ku enam jam lalu ketika pesawat yang membawaku ke Negeri Merlion akan terbang. “Shit! This girl is driving me nut[1]!” Aku mengumpat kecil dan mendapat sodokkan Siwon Hyung di rusukku.

 Jariku mengetikkan beberapa kalimat, kemudian menekan tanda enter beberapa kali. Mendengus keras, aku kesal ketika deret kalimat tersebut masuk daftar pending di ID Jingga. Melangkahkan kakiku menjauh dari para hyung[2]-ku, aku berniat membeli kopi untuk mengurai penat.

 “Kyuhyun-nie, eodigayo[3]?”

 Berbalik untuk menanggapi teriakan Siwon Hyung, aku menunjuk sebuah kedai kopi sebagai bahasa tubuh. Kami, aku dan dua hyung-ku yang lain, berada di Singapura untuk pemotretan suatu majalah. Tidak ada kerumunan fans yang menyambut kedatangan kami karena kemunculan kami ditujukan sebagai surprise.

 Aku mengentak-entakkan ujung sneakers sembari bersedekap ketika mengantri. Men-swap layar ponsel, aku mengetikkan lagi chat untuk Jingga. Kopi mengingatkanku pada gadis pencinta mocha[4] ini. Sudut bibirku tertarik berlawanan ketika kudapati balasannya. Aku terlalu sibuk dengan duniaku hingga suatu dorongan ringan membuatku tidak bergeming.

 “Oh, I’m sorry,” suara feminis menyapaku. Gadis yang mengantri di depanku menoleh untuk meminta maaf karena menabrakku dengan punggungnya.

 Mengerjapkan mata, aku menjatuhkan rahangku ketika terpesona dengan sepasang mata hazel[5] gadis tersebut. Tersenyum di balik masker, aku kembali mengetikkan chat pujaan bagi gadis yang baru saja kutemui untuk membuat Jingga cemburu.

 Aku mengamati kepangan fishtail[6] gadis tersebut hingga membuatku berimajinasi pada sosok Jingga. Dia pasti terlihat sangat cantik jika rambutnya dikepang demikian rupa. Terkikik ringan, aku merasa menang ketika Jingga membalas pesanku dengan emotion sedih.

 Setelah memesan cappuccino[7], aku memilih duduk di sisi jendela kaca. Kulihat kedua hyung-ku juga sedang bersantai di lounge. Menelengkan kepalaku, aku kembali beride jahil ketika kulihat gadis tadi duduk berjarak dua meja dari tempatku.

 Saat gadis itu menyerutup kopinya, aku dapat melihat sebuah gelang bewarna magenta[8] melingkar di pergelangannya. Oh, Jingga, aku menemukan gadis yang memiliki selera warna sepertimu. Kulancarkan beberapa pesan untuk memanasi Jingga. Aku hanya membalas kekesalanku karena dia mengabaikan pesanku tadi.

 Mengangkat kamera DSLR[9], gadis itu mencoba membidik areal sekelilingnya. Dia mengarahkan kameranya secara random, kemudian mengamati hasil jepretannya. Bibir merah mudanya mengerut karena, mungkin, tidak menangkap obyek yang sesuai keinginan. She’s beautiful.

 Memelorotkan bahu, dadaku berdesir begitu cerminan Jingga yang juga menyukai fotografi tergambar di diri gadis itu. Rasaku membesar untuk segera bersua dengan gadis yang memenuhi hari-hariku selama setengah tahun belakangan. Gadis yang selalu menampung keluh kesahku dan menyemangatiku dengan pesan-pesannya.

 Mengerutkan kening, aku memicingkan penglihatanku untuk terfokus pada gadis di depanku. Mocha, hazel eyes, fishtail braid, magenta, dan photography. Aku menahan nafasku sejenak, lalu merogoh tasku. Kutuliskan sebuah kata di kertas.

 Kuangkat kertasku di depan dada saat gadis itu membidikkan kameranya ke arahku. Jemari lentiknya memutar fokus kamera, sebelum menurunkannya. Dia memandangku dengan gamang untuk beberapa saat, namun perlahan senyum merekah di bibirnya. Dia balas menuliskan sesuatu di tissue dan mengangkatnya agar terbaca olehku. “Lentera Jingga-imida.”

 Aku mencopot maskerku untuk bertukar senyum lebar dengannya. Memandang tulisanku, dadaku berdebar ketika menemukannya. ‘Evil_Math’, ID chat-ku dengan seorang gadis berkebangsaan indonesia.

END

[1]This girl is driving me nut: gadis ini membuatku gila

[2] Hyung: panggilan dari laki-laki yang lebih muda (adik/ teman akrab)kepada laki-laki yang lebih tua darinya

[3]Eodigayo: kata tanya yang artinya ‘kemana’

[4]Mocha: minuman kopi yang terbuat dari campuran espresso dengan coklat dan susu. Espresso sendiri adalah minuman yang dihasilkan dari mengekstraksi biji kopi. (id.wikipedia.org/wiki/Kopi_moka)

[5]Hazel: iris mata bewarna coklat keemasan

[6]Fishtail braid: jenis kepangan (terlihat seperti di poster) [7]Cappuccino: minuman khas Italia yang dibuat dari espresso dan susu. (id.wikipedia.org/wiki/Cappuccino)

[8]Magenta: warna yang diperoleh dari campuran merah dan biru secara maksimum. Penampakannya seperti merah muda yang matang.

[9]DSLR: Ditigital Single-Lens Reflex. Merupakan kamera kombinasi antara kamera SLR dengan digital. Suatu kamera yang secara tipikal menggunakan sebuah cermin dan sistem prisma (reflex). (en.wikipedia.org/Digital_single-lens_reflex_camera dan en.wikipedia.org/Single-lens_reflex_camera)

Reconciliation

reconciliation

Arsvio | Rate: PG-15

Aku memutar kenop pintu dengan perasaan was-was. Mengigit bibir bawahku, jantungku berdebar dengan intensitas lebih ketika pintu terbuka. Kudekati figur yang bergelung dengan nyaman dan aman dalam selimut bewarna peach[1]. Dengan sangat hati-hati, aku mendudukkan tubuhku hingga membuat tepi ranjangnya mencekung karena bobotku.

Sebuah pigura tertelungkup yang terletak di mejanya membuatku membentuk kerutan diantara kedua alis. Tanganku menganjur untuk membuka foto tersebut. Senyumku terukir pahit ketika mendapati kenangan liburan terakhir kami di Singapura diperlakukan demikian rupa.

Napasku memberat begitu mataku menyapu detail kamarnya. Berpuluh gambar diri kami tidak lagi terpajang di ‘whiteboard’-nya dan segala benda memorial kami tidak satu pun nampak. Mungkin gadis ini sudah mendermakannya ke panti asuhan. Bagaimana mungkin aku menyalahkan aksinya jika semua masalah bersumber padaku?

Mengambil tepi selimut, aku menyibakkannya dengan hati-hati sebelum menelusupkan badanku untuk bergabung dengan gadis ini. Kutumpu sikuku pada permukaan dan kusangga kepalaku menggunakan kepalan tangan. Pandanganku menyelisik setiap gurat yang membentuk wajah ayunya. Ujung jariku secara refleks menelusuri garis hidung mungil bangirnya hingga ke ujung, kemudian turun di bibir tipisnya hingga ke sudut.

Aliran darahku yang memanas di dalam rusuk mendiskripsikan rasa rinduku. Aku mencondongkan tubuhku untuk memberikan sebuah kecupan di pipinya.

Terlonjak kecil dan secara spontan menjauhkan badanku, aku terkejut saat dia menggeliat. Jemarinya menggapai-gapai kemejaku dengan tidak sadar. Pipiku memanas ketika dia mengendus-endus wangiku, kemudian menggesekkan ujung hidungnya di dadaku. Dalam pengaruh bawah sadarnya, dia menyurukkan kepalanya ke arahku.

Terkekeh kecil tanpa suara, aku menertawai tingkahnya. Kulingkarkan tanganku ke pinggangnya untuk membuatnya terlindungi dalam ceruk pelukku. Usapan kontinuku dipunggungnya mengingatkan pada pertengkaran terakhir kami. Begitu banyak perbedaan yang menjadi barrier dalam hubungan ini; bahasa, kebangsaan, culture, dan jarak.

Aku melonggarkan pelukkanku ketika kelopak matanya mengerut. Bibirku melengkung saat iris karamelnya menatapku. Dia diam dalam usaha mengenali keberadaanku. “Good morning, Beautiful Fiancée,” sapaku.

Terlonjak dan bersikap awas, dia mendorongku hingga memberi ruang di antara kami. Napasnya yang memburu ketika terjaga menjadi kontradiksi keadaan beberapa detik lalu. “What on earth are you doing here[2], Donghae—“

Kupagut bibirnya dengan segera untuk memotong ucapan selamat paginya yang mengiritasi pendengaranku. “—Oppa[3],” aku menyambung kalimatnya.

What?” Alisnya mengerut dan bibirnya membuka sebagai tindakan oposisi.

I would be pleased if you called me oppa[4].” Kujangkau lengannya ketika dia siap beranjak. Kurebahkan punggungku begitu dirinya jatuh dalam kuasaku.

Let go of me!” Memukul-mukul dadaku ringan, dia mencoba memberontak terhadap belenggu kedua tanganku.

Never do I let you go again.” Mataku mengabur dengan lapisan tipis yang menghalangi korneaku. Kutekan tubuhnya lebih intim untuk membuatnya tenang.

This relationship won’t work out[5], Hae.” Suaranya tenggelam dalam serak tangis.

Then, I’ll make it works.” Menundukkan pandanganku, aku bisa melihat lelah yang sama terefleksi di ekspresinya. Senyumku melebar dengan kabar baik yang kubawa. “I was transferred to handle new branch here[6]—“, aku menumpukan sikuku hingga mengangkat tubuh kami berdua, “—in Indonesia where my heart belongs to.”

Linang air mata adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum ujung hidungku menggesek pipinya dan bibirku kembali menjangkaunya. “Langit Senja, please, be my only.” Aku tidak membutuhkan jawaban ketika kedua tangannya mengalung di bahuku dan bibirnya meresponku.

END

[1] Peach: warna pucat antara pink dan oranye

[2] What on earth are you doing here?: Apa sih yang kau lakukan di sini?

[3] Oppa: sapaan bagi wanita yang lebih muda (adik/ teman dekat) terhadap lelaki yang lebih tua darinya.

[4] I would be pleased if you called me oppa: aku akan senang jika kau memanggilku oppa

[5] This relationship won’t work out: hubungan ini tidak akan berhasil

[6] I was transferred to handle new branch here: aku dipindahkan untuk menangani cabang (perusahaan) baru di sini

THE ENCOUNTER

428392_580753195283225_1259666210_n

‘lil sist | Rate: All ages

Ouch…” pekikku lirih saat tidak sengaja menabrak pria setinggi 180-an centimeter di depanku. “Watch your step!” sinismenya. Kuputar bola mata, sekedar menunjukkan kedongkolanku. What an unmannered man!

 ***

 Kulorotkan punggungku dan kupijit keningku perlahan. “This is crazy”’ ucapku lirih. Hampir semua tenagaku terkuras untuk menangani korban yang terus berdatangan ke rumah sakit darurat yang didirikan oleh International Red Cross ini.

Better you go home if you just twiddling your thumb [1],” sindir seorang pria bersuara bas dengan aksen korea yang sangat kental. Sayangnya pria tersebut terburu pergi sebelum aku sempat mendebatnya.

Bangkit dari duduk, kurasakan deritan disakuku. ‘Beautiful Monster’ itulah nama yang tertera begitu aku men-swap screen ponselku.

How’s your day my lovely Indonesian girl?

Sebuah senyum terulas dibibirku, kuakui pesan singkat ini cukup menjadi mood bosterkuhari ini. Dialah ‘Beautiful Monster’, setidaknya begitulah dia menyebut dirinya selama ini, pria berdarah korea yang aku kenal semenjak menjadi member aktif di forum International Red Cross. Meskipun sudah menjalin komunikasi selama 2 tahun, tapi aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Pembawaannya yang humoris dan romantic disetiap pesan atau pun chat yang dikirimnya membuatku jatuh hati pada pria korea satu ini. Yes, this is the LDR of mine[2]. Ku ‘tap-tap’ kan jariku untuk membalas pesannya.

***

 “Could you turn it off? It’snot the right time playing with your sophisticated phone[3],” sebuah sarkasme menginterupsiku.

Oh My God, what’s wrong with him? Dia, pria yang aku duga juga seorang relawan di Ya’an, selalu menunjukkan sinismenya sejak pertama kali kami bertemu. “Yes, Sir,” kutekankan setiap silabel pada ucapanku, sedikit menyindir. Wajahnya yang tampan dengan tulang hidung yang tinggi dan bibir penuh serta pipi yang sedikit chubby sangat berbanding terbalik dengan personality-nya. He’s so damn annoying.

There’s stranger scolding me. I’ll call you later[4],” pesanku untuk si Beautiful Monster.

 Im also in Ya’an, can we meet?” Balasan singkat ini cukup membuat dadaku berdesir.

Seeyou in Lan Shan Coffee at 8 pm tomorrow.” Tunggu, apa dia juga di Ya’an?

 ***

 Kulangkahkan kakiku memasuki coffee shop yang cukup lengang ini. Kutarik sebuah kursi sebelum aku mendudukinya. Aku memainkan kuku-kuku jariku untuk menutupi kegugupan yang mendera. Kuedarkan pandangan untuk mencari sesosok pria yang mengenakan green tosca t-shirt. Aku rasa dia belum datang.

Tiktok jarum jam begitu mengusik. Kusandarkan kepalaku di kepalan tangan sementara sikuku menumpu di meja. How long have you been here, Kidung?[5]” suara bas itu,suara yang cukup familiar ditelingaku. Kudongakkan kepala dan mendapati sesosok pria jangkung berdiri disampingku. Kuikuti gerak-geriknya saat dia menarik kursi di depanku dan kuberikan tatapan what-are-you-doing-here milikku.

So, my real name is Kyuhyun Cho, a stranger who scolded you couple days ago and also your Beautiful Monster. I’m sorry for not telling you earlier[6],” ucapnya straightforward.

 I’m so out of words yet fascinated, mataku mengerjap. “H-how did you know me?” akhirnya sebuah kalimat terbata meluncur dari mulutku.

Because I knew you before I metyou—“ senyum di wajahnya membuat perpaduan yang sempurna untuk sebuah ketampanan, “—and I could feel your existence[7].

Kusunggingkan senyum kecil untuk membalasnya, kehangatan diam-diam menelusuk relung hatiku. So, I finally met him.

END

Glossarium:

International Red Cross: Palang Merah Internasional

Twiddle one’s thumb (idiom): bermalas-malasan

Mood booster: pemberi semangat

Ya’an: kota di Sichuan, China yang dilanda gempa pada tanggal 20 April 2013

Green tosca: warna hijau kebiru-biruan

Straightforward: tanpa basa-basi

Out of words (idiom): kehabisan kata-kata

Conversation Notes:

[1] Lebih baik kamu pulang jika hanya bermalas-malasan

[2] Ini adalah LDR versiku

[3] Bisakah kamu mematikan benda itu? Ini bukan waktu yang tepat untuk memainkan ponsel canggihmu itu

[4] Ada orang asing yang memarahiku. Aku akan menghubungimu nanti

[5] Sudah berapa lama kamu di sini, Kidung?

[6] Jadi, namaku adalah Kyuhyun Cho, orang asing yang memarahimu beberapa hari yang lalu dan juga ‘Beautiful’ monstermu. Maaf karena tidak memberitahumu sejak awal

[7]  dan aku bisa merasakan eksistensimu

Mungkin banyak dari kalian yang pernah membaca Drabble diatas, karena memang ini hanya merupakan repost dari fanfic yang pernah kita kirimkan untuk sebuah fanfic competition. Untuk yang bertanya kenapa fanfic-nya cuma pendek, itu dikarenakan adanya ketentuan pemakaian kata maksimal (500 kata) dari penyelenggara fanfic competition.

Thanks a bunch

‘lil sist

27 thoughts on “[Drabble Collection] (Un)Intentional Meeting, Reconciliation, The Encounter

  1. wow dari ketiga drabble ð̀ĩ atas semuanya bener2 sweet.. pendek sih karna emang drabble tapii ttp ga menghilangkan rasa kagumku çαмα ketiga ceritanya.. terkesan sweet dan romantic karna ceritanya menggambarkan hubungan 2 org yg saling suka tanpa harus tau wajahnya.. klise memang tapi siapa yg bisa menebak hati org kalo udah suka sama sesuatu hati ga akan bisa dibohongi.. semua drabble menitik beratkan pada hubungan yg ð̀ĩ batasi jarak.. tapi ttp aja jarak tidak bisa menghalangi takdir dan cinta dua org insan😀 #ngomongapasih-,- yg pasti aku suka bgt drabblenya! jjang🙂

  2. HalcaliGaemKyu says:

    Wow… Semuanya itu krn kenal dr media jejaring sosial? Eh kecuali hae kekeke…
    Aku suka yg story kyuhyun di cafe dan bertemu lentera jingga. Yg itu keren bgt!

  3. Guixianra says:

    WOW… Aku kira judul drabble diatas itu untuk satu cerita, ternyata 3 drabble.. 2 Kyuhyun, 1 Donghae… Semua drabble nya bagus.. Menyuguhkan cerita yang berbeda sekaligus menarik.. Cukup ngerti, meskipun aku gak bisa b.inggris, apalagi diakhir dibantu dengan adanya glossarium.😀

Comments are closed.