A Lovely Coincidence [Shot 11]


a lovely coincidence 3

A Lovely Coincidence [Shot 11]

One year later, Singapore…

Aku membuka tangan dan merentangkannya semampuku. Memejamkan mata, aku mendongakkan kepalaku dan meresapi setiap terpaan hujan yang menumbuk kulit. Pukulan dan tusukan ringan dari air hujan membuatku semakin mati rasa. Aku mengernyit saat merasakan sentuhan di telapak tanganku.

Kutolehkan kepalaku ke samping dan mendapati senyum lebar Kris. Dia mengikuti poseku untuk menantang hujan. Tanpa bicara, aku melanjutkan perenunganku dan membiarkan jemariku digenggam olehnya.

Aku membuka mataku tiba-tiba ketika tanganku tersentak. Kris mengedikkan kepala dan menggenggam sebelah tanganku yang lain. Dia mengeratkan pegangannya dan mengayunkan tubuh kami memutar. “Woops!”

Kurasakan tawarnya air hujan yang masuk dalam mulutku ketika aku tertawa bersama Kris. Putaran kami yang bertambah cepat membuat kepalaku semakin pusing. Tubuhku disentakkan maju dan ditangkap oleh Kris dalam peluknya.

We’re going crazy, huh?”

Yeah, actually you were the one who starting.” Aku meninju dada Kris ringan.

***

Aku menganjurkan coklat panas pada Kris yang sibuk menggulung ujung celana training milik Aiden Oppa. Kutangkup mulutku yang ingin meledakkan tawa saat celana Aiden Oppa menggantung beberapa inchi di atas mata kakinya. Damn! This dude is very tall compared to Aiden.

Well, it’s better.” Kris menyerah dan menerima cangkir yang kuanjurkan.

You’re home alone, huh?” Menyerutup coklat panasnya, pandangan Kris mengitari ruang keluarga rumahku.

Kuangkat bahu untuk menjawab pertanyaan Kris. Semenjak setahun lalu, Aiden Oppa ditarik ke Korea untuk menangani Vichou Finance sehingga praktis aku hanya tinggal bersama ayahku. Sebagai gantinya, sudah bisa ditebak siapa yang meng-handle Vichou Insurance di Singapore; the adorable handsome Daehyun Cho.

What’s bring you here, Kris?” Aku menekan remote TV untuk menyalakannya.

Nothing.” Kris meletakkan cangkirnya. “I missed you, so I came.”

It’s cheesy.” Kusodok lengan atasnya dengan sikuku.

I’m serious, tough.”

Aha…” Aku menganggutkan dagu untuk menggoda balasan Kris.

Why did you soak yourself under rain?”

Kris mengubah mood-ku dengan pertanyaannya. Kutekuk kedua kakiku dan menaikkannya ke sofa, kemudian kutarik ujung lengan kausku dan menyatukan tangan untuk memeluk kakiku. “I were merely want to feel the rain.”

Oh, come on, Lynn. I know you wouldn’t do such romantic yet emotional act for nothing.”

Hari ini tepat setahun dia meninggalkanku. Walaupun aku berusaha untuk menata hati dan hidupku setelahnya, namun hingga saat ini rasa dan pikiranku masih kacau. Kepergiannya terlalu berdampak bagiku.

Aku ingat dengan jelas bagaimana kalapku saat tidak menemukannya di apartemen di pagi aku membuka mata. Jantungku terasa dijatuhkan dari ketinggian saat mencarinya di kantor Vichou dan yang kutemui hanya Daehyun. Tidak ada lagi jejaknya di sana karena ruangan kerjanya dirombak secara menyeluruh. Hatiku semakin hancur kala Daehyun menjawab kegusaranku dengan mengangkat bahu dan berkata “Aku tidak tahu apa yang kau katakan.”

Meskipun aku berteriak histeris di depan wajah Daehyun, dia tetap menjawab tanyaku dengan kalimat yang sama. Seolah Daehyun ingin mengaburkan kenanganku tentang kakaknya. Senada dengan Daehyun, keluarganya di Seoul juga memintaku untuk menyerah dan melupakan dia. Setidaknya, aku ingin kata perpisahan terucap dari bibirnya sebelum dia pergi. Bukan meninggalkanku menggantung seperti ini.

Aku mengistirahatkan kepalaku di puncak lututku yang tertekuk dan memalingkan wajahku dari Kris. Air mata yang meluruh membuat hatiku semakin diliputi kegetiran. Aku tidak tau bagaimana mengekspresikan perasaanku sekarang, membencinya atau kah merindukannya?

It’s about him, isn’t it?”

Aku menggeleng untuk berdusta. “I’m okay.” Mataku terbuka lebar dan buru-buru kuhapus jejak air mataku saat dengan kilat Kris berpindah tempat duduk hingga bersemuka denganku.

It’s been a year, Lynn.” Kris membesut air mataku. Dia merangsek maju untuk memapas jarak kami. Merengkuhku dalam pelukan, Kris selalu berusaha membuatku aman dalam lindungannya. “Now that you’re here, even your heart still ache, but you will be ok.”

Aku ingin mempercayai kalimat Kris, namun apa yang kualami setahun ini membuatku gamang. Setelah dia pergi, aku seakan hilang arah dan tujuan. Semangatku pudar dan jiwaku lumpuh. Awalnya, aku membutuhkan kehadirannya yang dapat menenangkanku. Namun semakin hari, kebutuhanku atas dirinya terlalu menuntut hingga tanpa sadar, aku jatuh hati padanya.

Aku merasakan jemari Kris mengangkat daguku hingga pandangan kami bertemu. “Please, let your heart be free again.”

I’m trying, Kris.” Suaraku pecah ketika air mata menyumbat kerongkongan. “But, I always fail to set my heart like the first time.

It’s because there’s still hope in you that he’ll come back someday.”

I—“ Aku kehilangan bantahan ketika bagian hatiku membenarkan pernyataan Kris. “I dunno.

“Lynn, give me a try. I promise, I’ll make you forget your pain.” Tangan hangat Kris menangkup pipiku.

Aku membeku ketika Kris perlahan mengeliminasi ruang antara wajah kami. Wangi tipikal maskulinnya meresap dalam indera penciumanku. Bibirnya yang tadi sempat membiru karena dingin kini mulai memerah. Aku memejam dan membiarkan kedekatan kami mengaburkan kenanganku dan Hyun. Hela napasku terhenti saat permukaan bibir Kris menyentuh selaput tipis bibirku. Sinar menyilaukan yang terlintas di pikiranku membuatku membuka mata dan secara intuitif memundurkan kepalaku.

Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan untuk menyembunyikan kekalutanku. “I’m sorry, Kris.” Kugelengkan kepalaku.

It’s ok. We’ll start slowly.” Kurasakan tangan Kris yang berada di punggungku menarikku merapat. Telingaku yang tertempel di dadanya mendengarkan detak tak berirama.

Sungguh, aku merindukan detak lain yang familiar di telingaku. Degub yang bergenderang menyapa gendang telingaku ketika aku memeluk pemiliknya. Merindukan wangi maskulin lain yang dengan lembut merasuk dalam sistem pernapasanku. Wangi yang selalu membuatku aman ketika pemiliknya membawaku dalam ceruk peluknya.

Hei, I said, it’s ok.” Kris menepuk-nepuk lengan atasku. Dia membuka kedua telapak tanganku yang menutup seluruh wajahku hingga aku dapat melihat senyum indah Kris. “Let’s have dinner in this weekend. I’ll give you time to think over again.”

Aku menatap mata Kris yang penuh dengan harapan. Tegakah aku menghancurkan ketulusannya? Dengan ragu, pada akhirnya kupaksa kepalaku mengangguk. Mungkin, aku memang harus memulai menata hati dan pikiranku yang tercecer.

***

Let’s break Sajangnim.” Aku menaruh kotak bekal makan siang di meja tamu di ruangan Daehyun. Senyumku tersungging untuk sekadar menjahili Daehyun yang nampak serius dengan kertas-kertasnya.

Oh, hi, Sweetie.” Daehyun bahkan tidak menyadari ketukan sepatuku saat aku masuk. Hubungan kami masih seperti dulu, meskipun pada beberapa hal kami bersitenggang. Dia masih saja menyapaku dengan manis.

Aku meraih pegangan kursi untuk memutarnya. Kuposisikan diriku duduk senyaman mungkin di depan Daehyun. Melihat beberapa berkas yang terbuka, aku mengasumsikan bahwa Daehyun sangatlah sibuk.

Daehyun menutup beberapa map untuk memberi ruang kosong di mejanya. Sepeninggal Hyun, aku berusaha meluangkan waktu untuk mengantarkan makan siang untuk Daehyun. Aku berharap dengan tindakanku, Daehyun mau membuka mulutnya tentang keberadaan dan keadaan Hyun.

Have you been busy all day long?”

Daehyun hanya mengangkat alisnya untuk mengiyakan. “There’re much things I have to take over.” Mengerutkan dahi, Daehyun menjangkau map yang pada sampulnya terdapat logo dengan huruf A dan doubel x. “Please wait for minutes, Lynn. I thought, I forgot about this document.” Dia membuka map tersebut dan menelusuri isinya dengan cepat, sebelum menutupnya kembali.

Menjangkau telephon di sisi kanannya, Daehyun menekan panggilan untuk sekretarisnya. Aku mulai menghafal segala hal di ruangan ini. “Mrs. Sarah, please make an appointment to meet the representative for Axxe Insurance in three following days. I’m considering their proposal.

“Kau tahu, keriputmu semakin banyak,” candaku pada Daehyun.

“Tapi aku tetap tampan.”

Oh, please,” aku membuat mimik melecehkan, walaupun mengakui kalimat Daehyun. “What’s wrong with that proposal?” Mengamati raut Daehyun yang terlihat begitu berpikir keras, kutebak sesuatu tidak berjalan lancar.

Daehyun melemparkan proposal kerja sama tersebut ke tumpukkan map di sisi kiri. “Aku ragu untuk menerima kerja sama Axxe kembali. Vichou pernah mengakusisi saham Axxe hampir separuhnya, namun perusahaan itu gagal untuk mengelola. Kali ini, Axxe menawarkan produknya untuk dipasarkan di bawah Vichou.”

Aku sedikit bingung dengan penjelasan Daehyun. “Lalu apa salahnya jika Vichou mencoba menjalin kerja sama kembali dengan Axxe?”

“Tidak semudah itu, Lynn. Aku tidak menemukan laporan Kyuhyun Hyung mengenai Axxe, tapi dia memasukkan perusahaan ini dalam daftar black list.

Secara tidak sadar, aku mengangkat kedua alisku ketika mendengar nama Hyun disebut. “Jadi karena hyung-mu memasukkannya dalam black list, maka kau menolak kerja sama itu?”

“Aku tahu prestisius Kyuhyun Hyung. Jika dia menetapkan demikian, maka ada penjelasan logis yang mendasarinya. Lagipula melihat perkembangan Axxe setahun belakangan, aku memang harus berpikir dua kali untuk menerima kerja sama tersebut.”

“Maksudmu, Axxe tidak kompeten?”

“Secara implisit, itulah kesimpulanku sementara ini. Sampai kuperoleh observasi yang lebih detail, aku menangguhkan tawaran Axxe. Mungkin Kyuhyun Hyung dapat menjelaskan lebih lanjut mengenai laporannya.”

Telingaku menegak mendengar pernyataan terakhir Daehyun. “Apa maksudmu mengatakan hal tadi?”

Daehyun kaget saat tersadar bahwa dia melakukan kesalahan. “Oh, sorry. I’m not meant it.

“Daehyun, please.” Aku memohon untuk ribuan kali agar dia membuka mulut. “Apakah kalimatmu mengartikan bahwa suatu saat Hyun akan—“ kugigit bibir bawahku, “—kembali?”

“Lynn, stop it. You already know my answer.” Untuk ribuan kali juga, Daehyun mengelak.

“Apa yang membuatmu menahan informasi mengenai Hyun?” Aku lelah dengan ingkaran Daehyun. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu dariku. Hyun sangat mempercayai adik lelakinya, jadi tidak mungkin Daehyun tidak tahu menahu mengenainya. Kepindahan Daehyun ke Singapore dan penarikan Aiden Oppa ke Korea mempertegas ada rencana terstruktur di antara mereka. “I don’t even know whether he still alive or not!” Berteriak marah, aku di ambang emosi.

Menumpu dahiku dengan pangkal tangan, aku memejamkan mata. Udara yang kusedot memanaskan rongga tenggorokanku. Irama napasku selalu menjadi kacau saat masalah Hyun disinggung. Salahkah jika aku ingin mengais sekecil apa pun berita mengenainya.

“Adelynn, trust me. You’ll know about him in time.” Kurasakan tubuhku dimiringkan ke samping. Aku bisa merasakan kehadiran Daehyun yang berdiri di sisi kananku.

Give me a reason to trust you, Daehyun-ah.” Aku mendongak dan menarik tepi jas Daehyun. “Please, I  wanna know his condition.”

Not this time, Lynn. As I said, you’ll know it.”

How long should I wait for him?” Aku akan menerima apa pun berita mengenai Hyun, yang terpahit sekali pun. Sebelum menata kembali hati dan hidupku, aku membutuhkan kepastian kondisinya.

Daehyun hanya mengusap punggungku dan memuramkan ekspresinya. “Hei, what menu did you bring for lunch?” Dia membelokkan topik pembicaraan kami. “Let’s have lunch. I’m very hungry.” Mengusap perutnya, Daehyun menarikku bangun dari duduk.

You’re my second favorite chef after eomma.” Daehyun memenuhi mulutnya dengan makanan.

Memainkan sumpitku, aku memandang Daehyun melahap makan siangnya. Kuambil tissue dan kuangsurkan padanya. Kutunjuk pipi kiriku dekat bibir untuk mengisyaratkan pada Daehyun bahwa ada sisa makanan di sudut tersebut.

Thanks.”

This weekend, I’ll have my graduation ceremony.” Sudah dua tahun berlalu semenjak aku mengambil graduate program di NUS. Setelah jatuh bangun mengerjakan thesis, akhirnya beberapa minggu lalu aku dinyatakan lulus melalui sidang untuk mempertahankan tugas akhir tersebut di depan penguji. Hal terberatku selama menyelesaikannya bukan hanya karena materi, melainkan kondisi psikisku sejak Hyun pergi. Di masa itu, aku bersyukur Kris ada untuk menyemangatiku.

Ah, I almost forget that, Lynn. No need to ask, I’ll definitely come!” Daehyun membungkam mulutku dengan jaminannya. “Sepertinya aku memerlukan referensi restauran pada Mrs. Sarah untuk mengajakmu dinner di malam kelulusanmu,” guraunya.

Meletakkan sumpitku, aku sedikit gamang untuk mengutarakan isuku. “About that, I’m afraid I can’t accept your favor.

Mengangkat sebelah alisnya, Daehyun memandangku dengan menyelidik. “You have had another dinner invitation, haven’t you?”

Technically, yes.” Kuanggukkan kepala dengan ragu.

Ah, kau pasti ingin merayakan kelulusanmu dengan ayahmu,” tebak Daehyun yang kujawab dengan gelengan.  “Lalu?”

I’ll go along with Kris.” Aku mengambangkan akhir kalimatku saat menyebutkan nama Kris.

Menyemprotkan makan siangnya, Daehyun tersedak dan terbatuk. Dia memukul-mukul dadanya.

Segera kuanjurkan air putih dan kutepuk punggungnya. “Be careful, Daehyun-ah.”

So, you rejected me just because that dude?!” Daehyun memandangku tak percaya.

Oh come on, he’s not ‘just that dude’, Dae-ya.” Aku menjentik-jentikkan jari tengah dan telunjukku. Aku rasa reaksi Daehyun sangat berlebihan. Meniru hyung-nya, Daehyun juga tidak akur dengan Kris.

Mengetuk-ngetukkan sumpit, Daehyun melirikku sambil mencebikkan bibir. Dia mendesahkan napasnya dengan halus. “Apakah kau sudah menetapkan hatimu padanya?”

Aku bimbang dengan jawaban yang ingin kuberikan pada Daehyun. “Sementara ini aku tidak memutuskan apa pun. Aku masih berharap kau membeberkan sedikit saja kabar kakakmu agar aku bisa mengambil keputusan.”

Daehyun menghentikan suapannya, kemudian meletakkan alat makan di meja. “Adelynn—“ dia mengambil tanganku, “—your heart is yours.” Meremas jemariku, Daehyun menatapku lembut. “Aku tidak ingin berada di pihak manapun antara kau dan hyung. Jika kau memutuskan untuk menunggu, maka tunggulah dia sebagai kabar baik atau buruk. Sebaliknya, jika kau memutuskan untuk membuka kembali hubungan dengan pria lain, maka simpan kenanganmu dengan hyung sebagai masa lalu.”

Aku tidak tahu bagaimana bisa Daehyun mengucapkan penengah seperti itu. Padahal dia sangat menghormati dan menyayangi kakaknya. Setahun bergaul dengannya tidak membuatku mendalami sifat dan karakternya. Dia pribadi terbuka sekaligus tertutup. Selama di sampingnya, dia akan menyambutku dengan ramah. Tapi aku tidak pernah bisa mengorek bagian misterius dirinya. “Mengapa kau mengatakan ini padaku?”

“Sederhana saja, Lynn. Aku ingin kau bahagia dengan pilihanmu.”

“Bagaimana jika ternyata aku salah memilih?”

Daehyun bangkit dari duduknya, lalu berlutut di depanku. “As a friend or a man, whatever you want me to be, I’ll be there to catch you.

Kalimat Daehyun seolah menjadi suatu garansi bagiku untuk melangkah. Meskipun bertabiat ramah, namun aku yakin dia bukan pengumbar janji. Kuangkat tanganku untuk merangkul Daehyun dan menariknya ke arahku. Mengistirahatkan lelahku di pundaknya, aku memejamkan mata.

***

That’s a cheesy speech, Kris.” Aku merapatkan boneka alpaca berbulu lembut ke dadaku.

Melemparkan tubuhnya ke sebelahku, Kris menggeram pelan. “You don’t know how hard I squeezed my brain to make this damn speech.” Dia memukulkan kepalan tangannya di dahi untuk mengutuki barisan sambutan yang akan disampaikan di upacara kelulusan kami.

Aku terkekeh ringan melihat wajah frustasinya. “Even you spill cheesy words out, they’ll be captivated by you.” Aku tidak berbohong masalah ini. Meskipun Kris menyampaikan pidato yang membosankan sekali pun, dia tetap terlihat menarik dengan kharisma dan senyumnya.

Memutar kepala ke arahku, Kris menyangga kepalanya. “And do you so?”

Eum, let me think about it later.” Aku meringis untuk mencandainya.

Kris memandangku secara komikal. “Gimme back my alpaca.” Dia melentang tangannya dan menjentikkan ujung jarinya untuk meminta alpakanya.

No! You gave him to me.” Aku memalingkan boneka domba berbulu putih darinya.

Give my son back!” Memanjangkan kedua tangan, Kris berupaya merebut boneka tersebut.

No…no…” Aku menyudut di tepi sofa dan menyembunyikan alpaka, yang dinamakan Ace oleh Kris, di balik punggungku. Beringsut ke kanan atau kiri, aku menghindari tangannya yang menggelitik pinggangku. Kami hanya tertawa melakoni kekonyolan yang dia buat. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali tertawa lepas seperti ini. Rasanya otot pipiku merenggang setelah sekian lama stagnan. Sampai tindakan impulsifnya membuatku diam total secara tiba-tiba. Kris mencium pipiku!

Wajah Kris tepat berada di hadapku dan kedua tangannya menyudutku. Kehangatan napas kami beradu. “Be prettier for me tomorrow, Adelynn.” Dia menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum. Mencium ujung hidungku, Kris mebekukanku. “See you tomorrow.” Bangkit dari posisinya, dia menyambar jaketnya. “Oh, you can keep my boy!” Mengedipkan sebelah matanya, Kris membuatku terkekeh.

***

Last thing, I want to make a wish to someone who take my heart little by little—“ Kris berdeham pelan dan mencuri seluruh perhatianku, “—I wish, I can get back the old of you. The prettiest smile I ever know, I missed it.” Kedua mata Kris tidak beralih dariku.

Aku mengulum bibirku dan mencegah perasaan haruku untuk keluar. Begitu suramkah diriku selama setahun ini? Aku bahkan tidak menyadari bahwa banyak hal yang kulewatkan. Kepergian Hyun cukup untuk menyerap seluruh hati dan pikiranku.

I know it’s hard for you to cope this past year, but I don’t want you to fall in sorrow over again. Let me by your side and I promise you happiness.”

Melebarkan mataku, aku mencerna kalimat terakhir Kris. Dia memang berada di podium, namun pandangannya mengunciku. Jantungku berdetak lebih keras ketika dia melembutkan pandangannya. Detak yang aku lupakan rasanya, kini hadir lagi untuk pria lain. Meraba dadaku, aku masih berada di antara batas ketidakpercayaan. Did he propose me?

***

Cogratulation, Sweetie!” Daehyun melebarkan tangannya dan menangkupkannya kembali saat tubuhku berada di peluknya.

“Thank you.” Aku mengagumi karangan Casablanca yang dianjurkan Daehyun padaku. “I thought that you’re too busy to come.

“Sudah kukosongkan jadwalku karena aku sudah berjanji padamu untuk datang.” Daehyun memang selalu memegang perkataannya. “Ah,” memekik kecil, Daehyun mengamati layar ponselnya. “Maaf, aku harus mengangkat panggilan ini.” Dia menjauh untuk mendapatkan privasi.

Hi, you’re beautiful.” Kris sudah berada di sisiku dan menyelipkan sebelah tangannya di pinggangku. Dia merendah dan memberikan kecupan di pipiku. “Congratulation for your graduation.

You too, Kris.”

Anyway, did you consider about the dinner?”

Of course.”

I’ll pick you up tomorrow.”

Oh, no need. My driver will escort me.” Semenjak setahun lalu, daddy tidak memberikan izin padaku untuk menyetir sendiri karena keadaanku yang kacau. Dia menyewa sopir yang untuk mendampingiku. “It’s my dad’s rule.” Aku memberikan alasan pada Kris saat melihat wajah murungnya karena penolakanku.

Ok, then.”

“Lynn, sorry. I have to—“ Daehyun kembali dan menghentikan kalimatnya saat menangkap sosok Kris di sampingku. Dia mengubah raut wajahnya menjadi kurang bersahabat.

You have to go?” Aku meneruskan kalimat Daehyun untuk memotong atmosfer yang tiba-tiba memanas.

Yes. I have a meeting.” Daehyun menarikku ke arahnya. Memberikan pelukan singkat, Dia merendahkan kepalanya di sisi telingaku. “I save another gift for your graduation.”

A gift?”

And I bet you’ll like it.” Menjauhkan diri, Daehyun menjawil ujung hidungku. “Have a nice day, Sweetie.” Dia berlalu tanpa memedulikan keberadaan Kris. Sikapnya kali ini seperti sisi lain Daehyun. Di setiap kesempatan, Daehyun senantiasa bersikap ramah. Namun ketika berhubungan dengan Kris, dia menjadi begitu tak acuh. Setidaknya aku masih lega dia bukan orang yang mudah melontarkan sinisme pada orang yang tidak disukainya.

***

Aku memikirkan ulang hubunganku dengan Kris. Dia adalah kesempatan untuk melangkah keluar dari pergelutan batinku selama ini. Selama mengenalnya, Kris tidak pernah mengecewakanku dengan sikapnya. Dia pria yang baik.

Mengunjungi kondominium Hyun untuk terakhir kali, aku tidak ingin masa laluku mengusik pikiran dan hatiku saat merenungkan tawaran Kris. Aku ingin mulai meletakkan beban masa laluku di sini, di awal aku memulai kisahku dengan Hyun.

Menelusurkan jemariku di puncak mebel, aku meresapi segala hal yang pernah terabadikan di kamar ini, termasuk pertengkaran terakhir kami. Daehyun sengaja tidak menempati kondominium ini agar aku bebas berkunjung jika merindukan Hyun. Saat ini, aku benar-benar merindukan sosoknya.

Hyun pergi tanpa mengubah apa pun yang ada di sini, tak terkecuali dengan isi closet-nya. Mungkin hanya beberapa lembar baju yang dia ambil, aku juga tidak tahu persisnya. Seolah-olah Hyun memang sudah merencanakan kepergiannya jauh hari.

Membuka closet, aku melarikan jemariku di koleksi fashion Hyun; puluhan jam tangan dan sun glasses. Pantofel dan sneakers-nya yang tertata rapi di bagian bawah mulai dilapisi debu. Aku mempekerjakan seorang housemaid untuk rutin membersihkan kondominiumnya, kecuali kamarnya. Aku sendiri yang melakukannya.

Aku menyukai ruang sempit ini karena wangi Hyun sangat kentara dalam kerapatan udara ini sini. Mengambil sebuah kemeja biru tua dari gantungan, aku mengusap permukaannya dan mengimajinasikan saat Hyun memakainya.

Mengubur wajahku dalam kemeja tersebut, aku mulai tergugu. Kujatuhkan tubuhku ke lantai. Kulampiaskan segala bentuk emosiku dalam tangis. Aku kecewa karena dia tidak pernah mengucapkan selamat tinggal dan tidak jujur. Aku marah karena dia menggantungkanku dan meninggalkan harapan yang menipis setiap harinya.

Sekali pun Hyun tidak pernah menghubungiku. Dia meninggalkan semua alat komunikasinya di sini. Email atau pun jejaring sosialnya yang tidak aktif lagi membuatku bertambah putus asa.

Memeluk erat kemeja Hyun, aku tidak peduli akan membuatnya kusut. Aku merindukannya hingga kepalaku terasa ingin pecah saat bayangannya melintas. Aku merindukannya hingga halusinasiku bergelora liar akan sosoknya. Aku merindukannya hingga  dadaku ingin meledak karena kenangannya yang berjubel di sana.

Dan aku lelah dengan ketidakpastian ini. Malam ini, aku ingin meletakkan semua bebanku dan memulai babak baruku. Seperti apa pun kondisi Hyun saat ini, aku berharap dia bahagia.

***

Membuka kelopak mataku, aku melawan kepedihan akibat menangis semalaman. Kujatuhkan tanganku di sisi kepala dan merasakan lembutnya kain. Menggesekkan kakiku, aku merasakan kehangatan melingkupiku. Kukumpulkan kesadaranku untuk menyadari keberadaanku.

Terbangun awas, aku menyibakkan selimut. Seingatku semalam aku belum berpindah dari closet Hyun, namun pagi ini aku sudah berada di ranjangnya. Mungkinkah Daehyun kemari? Aku menurunkan kakiku dari ranjang saat telingaku mendengar bunyi berisik dari arah dapur.

Aku merasa janggal saat penciumanku mengendus bau pancake. Sepengetahuanku Daehyun alergi terhadap urusan dapur. Dia bahkan bisa membuat gosong panci saat merebus air.

Dadaku berdetak lebih keras begitu menangkap punggung yang familiar. Setiap langkah yang kuambil seakan dibebani berton-ton batu. Napasku mulai memberat saat kukenali dengan benar siluet lelaki yang berada di areal dapur. Aku membeku seketika saat dia memutar tubuhnya. “H…Hyun?”

Oh, yo…you wake up.” Hyun dengan kaku menggaruk tengkuknya. “Good morning.”

What…on earth is going on here?” Suaraku pecah untuk mengenali situasi pagi ini. “Who…are you?” Tidak, dia bukan Hyun. Aku masih ingat nada percaya diri Hyun saat berbicara padaku atau memanggil namaku.

I’m Kyuhyun Cho, of course.” Kentara benar kecanggungan dalam kata dan sikapnya. “Do want to join a breakfast, A…delynn?” Menarik kursi, pria ini meletakkan sepiring pancake.

Wait…you—“ aku menggantungkan telunjukku ke arahnya, “—no! You aren’t Hyun, are you?” Aku mundur beberapa langkah saat pria itu mendekat.

I’m Hyun.”

Stop it!” Aku berteriak dan membuka kedua tanganku ke udara untuk menghentikannya mendekat. Deru napasku yang kacau balau memanaskan tenggorokanku. “No! You aren’t him.”

“Adelynn, what’s…what’s wrong?”

Ini tidak benar. Meskipun aku merindukan Hyun sampai ruhku melayang, namun aku tidak ingin lagi terkelabuhi halusinasiku. Aku melangkah mundur sebelum berbalik dan berlari keluar dari apartemen Hyun.

***

Aku meremas-remas ponselku setelah mengkonfirmasikan kejadian pagi ini pada Daehyun. Menanggapi kegusaranku, Daehyun hanya tertawa lepas. Dia dengan enteng mengatakan bahwa kakak lelakinya telah kembali.

Kutangkup wajahku menggunakan kedua tangan. Setelah sekian lama aku menunggu kabar darinya, kini tiba-tiba dia datang dan tanpa rasa bersalah menyapaku dengan good morning-nya. Haruskah aku mempercayainya lagi? Kuberikan seluruh rasa percayaku padanya, namun dia tidak pernah melakukan hal yang sama. Buruknya, aku merasa terkhianati dengan kepergiannya.

Miss Adelynn?” Ketukan di pintu kamar menegakkan telingaku.

Yes, come in.” Aku mengusap dan menepuk-nepuk ringan wajahku.

A man was looking for you.” Seorang pelayan yang bekerja pada keluargaku beberapa minggu lalu membawakan informasi.

“Kris?” Pertanyaanku dijawab gelengan. “Daehyun?”

He isn’t Mr. Wu or Mr. Cho. Do you want to meet him?”

Yeah,” Aku mengangguk kecil sambil berpikir. “Give me ten minutes to come down. Thank you.” Setelah membasuh wajahku dan merapikan penampilanku, aku turun untuk menemui tamuku.

Aku melambatkan langkahku dan menemukan pria yang mengenakan plain black tee duduk di ruang tamuku. Dari gerak-geriknya, aku tahu dia sedikit gusar sepertiku. Dia seorang Cho, pelayanku saja yang tidak mengenalinya. “What do you want?” aku mempertahankan nada datarku untuk menyapanya.

Oh.” Hyun bangun dari duduk. “Hi, Adelynn. I…I…” Dia nampak gugup. Hal yang tidak pernah kutemui dalam sosok Hyun.

Make it clear and quick, I don’t have time.” Nadaku yang cenderung dingin membuat Hyun menatapku dengan berharap. Dia hanya diam dan memandangku dengan sendu. “I’m sorry. I have another bussines.” Tidak tahan dengan sorot matanya, aku berbalik.

“Adelynn, please.” Hyun mencegatku. “I need to talk to you.”

About what?”

About me and you; us.”

Us?”

“Daehyunnie said that—“

So, it’s because Daehyun you came here, right?” Hyun menambah daftar kekecewaanku padanya. Dia datang karena Daehyun menyuruhnya?

No, I meant—“

Please, go. I don’t have any intent to talk to you.” Aku segera berlalu tanpa menunggu tanggapannya lebih lanjut.

***

Aku mematut diriku di depan cermin. Gaun berpotongan leher rendah dengan panjang tiga per empat paha dan ruffle di bagian bawah membuatku tampil sederhana namun tetap elegan. Membenahi lengan gaunku yang bewarna salem pucat, aku mengambil beberapa perhiasan untuk melengkapi penampilanku. Rasa kebas karena kejadian pagi ini tidak membuatku melupakan janji makan malam dengan Kris.

Aku sudah memutuskan untuk meletakkan masa laluku, jadi kemunculan Hyun tidak akan mengubahnya. Bukan hanya karena dia terlambat, melainkan juga karena sikapnya selama ini. Hatiku tidak seluas samudera. Bagian diriku yang lain masih tidak bisa memaafkannya.

Aku bersegera turun saat mengecek waktu di pergelangan tanganku. Mataku melebar sempurna tatkala melihat seorang membukakan pintu mobil. “What the hell are you doing here?!” Berteriak marah di ujung tenggorokanku, aku menerima ringisan Hyun.

I’m your driver for tonight.” Hyun mengangkat bahunya ringan.

Don’t kidding me, Hyun. Go away.” Aku mengaduk clutch bag untuk menemukan ponselku.

Sorry, but I have your daddy’s permission.”

What the—“ Aku berdesis marah dengan mencengkeram ponselku.

Miss. Adelynn, you’ll come late if don’t get hurry.” Hyun mengayun tangannya ke udara untuk menyilakanku masuk ke mobil.

Kutepuk dahiku pelan untuk mengutuki suasanaku. Tidak punya pilihan, aku membanting tubuhku di jok penumpang.

***

“Adelynn!” Aku memutar tubuhku saat Hyun memanggilku. Kutatap dirinya dengan tajam. “Errr…Miss Adelynn.” Dia mengerem laju langkahnya mendadak. “The weather is really cool,” menekan kata ‘really’ dalam vokal ‘e’, Hyun melepas kardigannya. Tanpa izinku, dia menyelimutkan kardigannya di bahuku.

What are you doing?!” kesalku saat Hyun mengambil tanganku dan memasukkannya dalam lengan kardigannya.

It’s cool. With that thin dress, you can get flu.” Hyun merapatkan kardigan dengan menarik kedua tepinya hingga menutup tubuhku. Kardigannya yang mencapai setengah paha praktis menenggelamkan tubuhku.

Aku memberontak untuk melepaskan diri darinya, namun dia menjaga kardigan dan mengaitkan satu persatu kancingnya.

Nah, you look very breathtaking with it!” Hyun memamerkan senyum bocah yang membuatku mengerutkan alis.

Ya!” Aku mengurai kancing satu persatu, tapi dicegat oleh Hyun.

No, you can’t!” Hyun membenahi lagi kancing yang lepas.

“Kyuhyun Cho!”

Seriously, you’re more beautiful wearing this cardigan.”

Aku mengusap keningku dengan pelan untuk mengekspresikan betapa menyebalkan perilaku Hyun. Menarik kedua tanganku yang dicengkramnya, aku memberi jarak. “You got my nerve, Hyun!” Menghentakkan kakiku, aku berlalu dari hadapnya.

I’m sorry.” Aku menyesal membuat Kris menunggu cukup lama.

It’s ok.” Kris memundurkan kursi untukku.

Menarik ujung lengan, aku melepaskan kardigan Hyun dan meletakkannya di pangkuanku. Nuansa glamour dengan cahaya lilin yang temaram mengentalkan konsep candle light dinner. Aku mengernyit saat smartphone-ku berdering. Mendesah kesal, aku menutup pesan tidak penting yang dikirimkan Hyun.

Dua pelayan yang sedang menyajikan makan malam membuat jeda antaraku dan Kris. “Please enjoy your dinner,” salah satu di antara mereka mengucapkan ramah tamah sebelum pergi.

For our graduation.” Kris mengangkat gelas wine untuk mengajak bersulang.

Aku mengguncang lemah gelas wine, menyesap aromanya sebelum meneguknya. Keningku berkerut saat ponselku lagi-lagi menyuarakan pesan masuk.

Have you been busy?”

Oh, no. It’s nothing.” Menutup pesan yang dikirimkan Hyun, aku memasukkan ponselku ke dalam clutch.

Do you have any plan after graduation?” Kris mengambil garpu dan pisaunya.

Not yet. I’m still considering about L’Oreal offer. How about you?”

“Lynn, I plan to back to Canada.”

Aku menghentikan suapanku begitu mendengar ucapan Kris. Kuletakkan pisau dan garpuku ketika bagian hatiku merasa dihempas sesuatu. “When will you back?” Tenggorokanku rasanya tercekat sesuatu.

As soon as possible.” Jawaban singkat Kris memapas nafsu makanku. “Adelynn—“ Dia meraih jemariku dan meremasnya, “—tonight, I want to ask you. You already heard my speech yesterday.” Mengambil jeda, Kris memandangku lembut. “Will you be mine?”

Jantungku terasa jatuh ke tumit kala Kris mengulang statmennya dengan lebih jelas. Aku tidak berharap akan secepat ini karena hatiku yang terluka masih belum menemukan penyembuhnya. Kegugupan melandaku seketika. Namun sebelum aku mengeluarkan kata-kata, smartphone-ku kembali nyaring berdering, kali ini menandakan panggilan masuk. Ingin mengabaikan panggilan tersebut, namun kegaduhan dari dering ponselku memaksaku menjawabnya. “What?” sebalku.

Oh please, I my stomach…” Kudengar nada merintih Hyun.

Are you kidding me?”

No, please….It’s hurt badlyerrggghhh…”

“Hyun?” Aku mulai tergagap mendengar erangannya. “Wa…wait a second, ok?” Berdiri dengan segera, aku menyambar tas tanganku.

What’s up, Lynn?”

I’m sorry, Kris. Something came up. I have to go.” Kujawab Kris dengan cepat.

Aku segera berlari keluar. Kurutuki stiletto 12 cm yang memperlambat lajuku. Terpincang untuk melepas sepatuku, aku tidak menghentikan laju lariku. Kugedor kaca jendela mobil dengan gusar saat mengintip Hyun menggelinjang kesakitan. “Hyun…” Kuguncang bahu Hyun begitu membuka pintu mobil.

Help me, please…”

Hold on, ok?” Aku memutar kap depan dan duduk di jok kemudi. Tanganku mendadak gemetar hingga sulit untuk memasukkan kunci pada lubangnya. “Hold on, Hyun…” Aku semakin panic saat melihat rambut depannya yang basah karena keringat.

Keluar dari areal parkir restaurant, aku melajukan mobilku dengan kencang. Beberapa kali kulirik Hyun di sampingku yang masih menggeliat sambil memegangi perutnya. “I’ll take you in nearby hospital, ok? Hold on…” Aku seolah dikembalikan seperti saat menemukan Hyun pingsan di kondominiumnya. Saat ini, bisa kurasakan kegelisahan yang sama seperti waktu itu.

Hospital? No!” teriak Hyun.

No?! For God sake, Hyun!”

Just take me to my condo.

You need a doctor to help you.”

No…no…”

What’s up with your no?”

I’m way better.” Hyun memiringkan badannya ke arahku. “I…I hate hospital!”

What?!” Aku menurunkan kecepatanku saat mendengar suara Hyun yang normal.

Ah…it’s hurt.” Hyun mengelinjang lagi dan memalingkan wajah dariku.

Menginjak rem saat lampu menyala merah, mataku mengamati botol air yang terletak di dashboard. Tanganku mencengkeram kemudi dengan kesal saat suatu pemikiran melintas. “Hey?” Kutepuk lengan atas Hyun untuk membuatnya menoleh padaku.

Hmm?” Hyun bergumam ringan.

Mencondongkan tubuhku ke arahnya, kuambil helai rambutnya yang basah. Kudekatkan wajahku untuk menciumi bau keringat yang melekat di rambutnya. Memukul ringan dada Hyun, aku menjauh kesal. Jelas-jelas rambutnya basah karena air, bukan keringat karena aku tidak mengendus bau keringatnya. “You!”

Errr….” Hyun meringis tanpa dosa.

Darimana Hyun mendapat watak kekanakan seperti ini? Dia jauh berbeda dengan sosok yang kukenal. Menarik tuas kopling dan menginjak pedal gas, aku melajukan mobilku dengan mendongkol karena kejahilan Hyun.

***

Hey, stop ignoring me!” Hyun menjangkauku yang berjalan lebih dahulu.

Kutatap dia dengan tajam untuk menghentikan rengekkannya. Menghentak lenganku, aku melepaskan diri dari cekalan Hyun. Melenggang menelusuri koridor, aku memasukkan kode akses kondominium Hyun.

Explain!”

What?” jawab Hyun lemah.

Aku memandang dengan kesal saat Hyun menatapku dengan wajah melas. Dia melengkungkan bibirnya ke bawah, menyorot dengan tatapan puppy eyes, dan memelorotkan bahu. Selama mengenalnya, aku tidak pernah melihat dia berekspresi seperi ini. Seolah aku sedang menghadapi orang lain.

Mendengus melalui hidungku, aku memijak sofa agar tinggi tubuhku menandingi Hyun. Aku menggigit bibir atasku lebih keras untuk menekan ledakan emosi. Berkacak pinggang, aku menahan selaput bening di korneaku membanjir. “Come closer.”

Why?” Hyun sedikit mendongakkan badan ketika tinggiku mengunggulinya beberapa centi. “Did I do something irritating?”

Aku menyeringai untuk mencibir pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Dengan polos dia menanyakan hal tersebut, padahal dia telah menghancurkan acara makan malamku dengan Kris.

Are you mad to me?” Hyun bergerak mendekat hingga tubuh kami bersentuhan.

Dengan gamang kuangkat tanganku dan melarikan jemariku untuk menyapu kening Hyun hingga menyingkirkan poninya. Kutatap mata karamelnya untuk menemukan sosok Hyun di sana. Adakah Hyun yang aku rindukan bersembunyi di badan ini? Kami sama-sama diam untuk saling menemukan pribadi lama kami.

Aku menyinggungkan ujung jemariku sepanjang garis hidung mancung Hyun. Pupil mata Hyun yang bergeming, merefleksikan diriku dengan jernih. Tanganku mulai gemetar ketika kutelusuri permukaan bibir penuhnya. Kecapan yang tidak pernah kulupakan bagaimana rasa dan pengaruhnya pada diriku.

Mencondongkan tubuhku, laksana magnet secara perlahan aku memiringkan kepalaku untuk menjangkau bibirnya. Mataku perlahan memejam ketika permukaan lembut bibirnya tertempel padaku. Gemuruh dan desir di dadaku membangkitkan memori lama kami. Kenangan bahagia yang satu persatu muncul menghangatkan relung hatiku. Namun aku mengerutkan dahiku ketika perlahan kenangan tersebut terganti dengan kepedihanku selama setahun belakangan. Air mata yang menghangatkan pipi menarik kesadaranku.

Aku bergerak menjauh dan melepaskan bibirku secara impulsif. “I…I’m sorry,” gagapku dengan tubuh gemetar. Meloncat turun dari sofa, aku mengaduh ketika lututku membentur sudut meja.

Are you okay?” Hyun memegang sikuku.

Aku menggeleng dan menarik lenganku dari Hyun. “I’m sorry, Hyun. This wasn’t right.” Kuusap air mataku dan segera berlari keluar dari kondominium Hyun.

Menutup mulutku yang mulai terisak, pandanganku mengabur. Jarak menuju parking lot seakan menjadi lebih panjang padahal aku sudah berlari. Aku ingin berdusta bahwa Hyun yang sekarang adalah pribadi lain, namun momentum kami mengugurkan bantahanku. Rasa sama yang kutemui saat bibir kami bersatu seolah mengkikis waktu setahun yang memisahkan kami.

Aku membuka pintu mobil dan menjatuhkan tubuhku dengan keras di jok. Kusorongkan dahiku di kemudi ketika luapan perasaanku tumpah. Tanganku mengikuti lekuk melingkar kemudi untuk menopang tubuh. Pundakku terguncang hebat saat tangisku mengeras. Dia…Hyun-ku. Kyuhyun Cho yang setahun lalu meninggalkanku.

Ketukan keras di kaca mobil membuatku mau tak mau mendongak. Aku menunduk sebentar untuk membersihkan wajahku yang kacau. Menelengkan kepalaku, aku melihat Daehyun mengisyaratkan untuk menurunkan kaca mobilku.

Please, let me in.”

Aku ragu, namun tetap mengizinkan Daehyun masuk dan duduk di bangku penumpang sebelahku. “What’s your issue?” Kupalingkan wajahku ketika suaraku masih serak.

Eumm—“

“GD, please. If you bring some issues about your brother, I don’t want to hear.”

No.”

Then, what?” aku memberanikan diri memaling ke arahnya.

Let’s have a trip.” Wajah Daehyun berseri untuk menatapku. Dia melebarkan senyumnya.

W…what?!”

Have a trip with me, please? Just two of us.”

Mendengar permintaannya, aku menggantungkan rahangku beberapa saat. “Are you joking?” Aku semakin heran ketika Daehyun menggeleng keras. “Did you mean having a holiday?”

Yes!”

But, why—“

“Aku tidak menerima penolakan.” Daehyun membuka pintu. “London will be nice, rite?” Dia menepuk dan mengusap pipiku sebelum berlalu. Meninggalkanku termangu dan terheran di tempatku dengan permintaan anehnya. “Daehyun!” Aku keluar mobil dan memanggilnya.

Daehyun berjalan mundur dengan pelan untuk menanggapi teriakanku. “This Friday, I’ll pick you up at 07.00 am. See you!” Dia segera berbalik dan mengangkat tangan untuk melambai. Tanpa mendengar jawabanku, Daehyun sudah pergi.

Errrgghhh…” Aku menggeram frustrasi dengan menutup wajahku. Cho bersaudara berhasil menaik turunkan emosiku. Kuhantamkan keningku ke ujung pintu mobil beberapa kali. They’re really

TBC*

Bonus Pic:

tiffany cf

Bayangkan saja kalapnya Hyun jika Lynn berdandan seperti ini untuk bertemu pria lain X)

Note:

Hai, oke mungkin updatenya sedikit terlambat dari janjiku. But, it’s still weekend. Semoga part ini menjadi penutup weekend yang manis dan awal minggu kalian yang sibuk. Part kali ini memang datar karena hanya berupa jembatan sebelum final. Aku masih harus menyelesaikan hubungan Hyun dan Lynn, juga dengan kerja sama Axxe untuk part selanjutnya.

Untuk Maysea: please calm down, dear. Hidupkan sosok Kyuhyun dalam imajinasimu seperti apa yang kau inginkan. Lepaskan dia dari kehidupan pribadinya sehingga kau tidak terbebani dengan segala gossip mengenainya dengan wanita itu. Sandingkan dia dengan siapa pun yang kau inginkan!

Demikian juga untuk kalian my beloved reviewer yang sedih melihat gosip-gosip mengenainya dengan beberapa gadis.

Bye and bow ^^

218 thoughts on “A Lovely Coincidence [Shot 11]

  1. haruyaa says:

    Kyuhyun malah makin parah haha
    Abis nangis2, trus ketawa grgr kyuhyun evil gitu lmao
    Poor kris haha udah pergi aja jauh dari Lynn :))

  2. entik says:

    Hyun nya beneran sehat lagi? Gmn bisa jadi berubah sikap nya sma lynn?
    Trus adik nya hyun itu jadi suka sama lynn ato malah mau nyatuin lynn sama hyun?
    Penasaran.

  3. chenphy says:

    “Aku tidak ingin berada di pihak manapun antara kau dan hyung. Jika kau memutuskan untuk menunggu, maka tunggulah dia sebagai kabar baik atau buruk. Sebaliknya, jika kau memutuskan untuk membuka kembali hubungan dengan pria lain, maka simpan kenanganmu dengan hyung sebagai masa lalu.” bijak bgt sie dae n dalem bgt ya,,suka kalimat ini.. hampir smw part diff ini aku punya kalimat yg aku suka ya spertinya.. hiihihihii..

    hyun is back.. hehehhehehee..

    bukannya hyun berubah jd oarng lain tp itu hyun yg sebenarnya,,jd berasa waktu hyun msh sm hwa.. iya ga?? manja,,suka merajuk n pencemburu jg posesif.. hua.. hyun bgt thu,,hiihihihiii..
    gmn ma kris thu,,kshn ditinggal sndrn direstoran n holiday with dae,,mau pake bgt..
    tp bnrn sama dae apa hyun hayu,,mrk kn sama2 jahilnya..

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s