Behind Those Beautiful Eyes [2]


BTBE2

Behind Those Beautiful Eyes [2]

Arsvio | Siwon Choi, Miyoung Hwang, Kyuhyun Cho | PG-16 for the language

Read the fiction appropriated to your age

Could one of you explain what’s happening here?” Aku mengabsen satu persatu wajah mereka.

Kyuhyun meniupkan udara dari tampuan di rongga pipi hingga mengangkat helaian poninya. Dia memutar mata dan menyandarkan punggungnya dengan malas. Suatu gesture yang secara tak langsung membenarkan hipotesisku.

Siwon memijit keningnya pelan. “Setidaknya kita tidak perlu repot menjelaskan padanya,” ucapnya pada Kyuhyun.

“Tertangkap basah adalah cara yang tidak elit, Hyung. Bagian yang tidak kusukai adalah teriakannya yang mengiritasi pendengaranku dan menghancurkan waktu kita.” Kyuhyun bergumam pelan untuk menjawab pernyataan kakakku.

“Toh cepat atau lambat dia akan mengetahuinya.”

Aku menarik napas panjang untuk meluaskan kesabaranku. Sesungguhnya aku tidak perlu penjelasan karena romansa mereka sudah secara eksplisit menunjukkan hubungan mereka. “Guys, stop talking non sense and explain what you’ve done!”

Siwon menyeringai dan mengusap dagu runcingnya. “How silly you are, Youngie.”

Aku tidak mengindahkan cemooh kakakku. “Ini motifmu menyetujui pernikahan ini, Kyuhyun-ssi?” Hubungan sesama gender masih merupakan hal tabu di kebanyakan negara Asia termasuk Korea. Kyuhyun sepertinya menggunakan pernikahan ini sebagai tameng publik atas penyimpangannya. Seperti katanya, dia punya reputasi yang harus dijaga; nama besar dirinya dan keluarganya.

“Kata pernikahan terlalu sakral untuk digunakan pada hubunganmu dengan Kyuhyun, Youngie.” Siwon bagkit dari duduk. Menyilangkan kedua tangan di depan dada, dia berjalan mendekat. “Apa yang membuatmu pantas melafalkannya, huh? Kalian hanya melakukan perjanjian konyol di depan pastor,” cibir Siwon di depan wajahku.

Shut your fucking mouth up, Choi Siwon!”

Watch out your language, Choi Miyoung!”

Aku mendesis tajam melalui gigi-gigiku. “I’m not Choi’s.”

Ah, a Hwang’s, rite?” sarkasme Siwon. “Begitu bangganya dirimu menyandang marga ayahmu yang membusuk di pejudian, huh?”

Aku mengeratkan kepalan tanganku atas hinaan Siwon. Menghantamkan tinjuku pada rahang lelaki ini bukan pilihan bijak karena posturnya yang jauh mengungguliku. “Aku lebih rela menyandang marga ayahku yang membusuk di pejudian daripada menanggung malu karena ibu yang mati bersama selingkuhannya ketika melarikan diri,” ungkitku tak kalah pedas.

Memejamkan mata, aku melihat kibasan tangan Siwon di udara. Aku bisa saja menangkalnya, namun tenagaku akan berakhir sia-sia jika dibandingkan dengannya. Menahan rasa panas di dadaku, aku membuka mata saat tak kurasakan hempasan menghantam pipiku.

Hyung, hentikan.” Kyuhyun berdiri di sela antara aku dan kakakku. Memunggungiku, dia mencekal tangan Siwon. “Kau tidak akan menyelesaikan masalah. Kita sudah sepakat untuk hal ini bukan?”

Siwon menarik tangannya dan mendengus kesal. “Sekali lagi mulutmu membuka mengenai masalah itu, kau akan tanggung konsekuensinya, Youngie,” ancam Siwon dengan menekan telunjuknya ke arahku.

Try me, Choi Siwon,” sengitku.

“Young!” teriak lantang Kyuhyun. Perhatianku dan kakakku langsung terarah padanya. Kami sama-sama membungkam mulut karena teriakan Kyuhyun dan atmosfir panas yang kami ciptakan. “Kita bicara nanti, Young.” tekan Kyuhyun tanpa memutar tubuhnya menghadapku.

Aku menarik napas panjang sekali lagi untuk membuat diriku tenang. Mempertimbangkan situasi saat ini, kukira lebih baik kami meredam kemarahan lebih dahulu. Menghentakan kaki, aku meninggalkan mereka.

***

Memainkan ponselku, telingaku tiba-tiba menegak saat namaku dipanggil oleh seorang perawat. Aku mungkin sudah tidak waras hingga harus melakukan hal kekanakan seperti ini. Tapi aku membutuhkan tempat dan teman untuk bicara. Untungnya temanku ini memiliki shift kerja ekstra di weekend. Melenggang memasuki ruangan yang di pintunya tergantung papan nama Jessica Jung, aku mengedikkan bahu saat melihat raut tanya Jessie.

You do here, Youngie. A good news, huh?” seringai Jessie.

Menghempaskan diri di kursi pasien, aku menggeram kecil atas ironinya. Dia kira aku hamil hingga butuh penanganannya? Yang benar saja! Bukan itu maksud tujuanku kemari. “Oh, please, Jessie.”

What?”  Aku bukan kaum sosialis yang memiliki banyak teman, satu-satunya teman diskusiku hanyalah gadis ini. Dia tahu motif pernikahanku dengan Kyuhyun. “You hate each other but you have sex with him, huh?”

Shut up, Jess!” Mulut Jessica memang tidak semanis wajahnya.

Kutumpu sikuku di permukaan meja dan kubenamkan wajahku di kedua telapak tangan. “Aku heran bagaimana kau bisa menjadi seorang dokter dengan mulut tajammu.”

“Kuanggap itu sebagai pujian, Youngie.” Jessie memandangku tak acuh. “So, what’s make you bring your ass here?”

Aku mengangkat bahuku ringan. “I guess, need a talk.”

For God sake, Youngie!” Kuasumsikan ruangan Jessie kedap suara karena kalau tidak mungkin pasien-pasiennya sudah angkat kaki mendengar teriakan dan umpatannya. “Kau membuang waktuku hanya demi sebuah pembicaraan? Choi Miyoung kau benar-benar sinting.”

Oh come on, Jess. I’m your patient right now.”

Jessie menarik sudut bibirnya dan mengangkat tangannya untuk menyerah pada desakkanku. “Kau berhutang pada pasien-pasienku yang mengantri di luar sana.”

Aku hanya mendesah panjang tanpa tahu dari mana harus kumulai ceritaku. Mungkinkah kuakukan pada Jessie bahwa aku menikahi lelaki gay? Telingaku pengang akan teriakan dan omelan Jessie saat dulu aku mengaku motifku menerima pernikahan dengan Kyuhyun.

What? Kyuhyun?” Tanya Jessie saat aku tak kunjung membuka mulut. “Your brother?”

Aku tersenyum miris dengan topik yang Jessie tawarkan. Semenjak di bangku sekolah menengah, dia sudah hafal apa yang dapat mampu mengobrak-abrik moodku. “I’m a Hwang, am I?”

Jessie memutar matanya sebal. “Look, Youngie. Siapa di Korea ini yang mengetahui bahwa kau seorang Hwang? Ibumu, ayah dan kakak tirimu, aku—“ tunjuk Jessie pada dirinya, “—dan Kyuhyun. Aku tersanjung menjadi salah satu dari sekian juta penduduk Korea yang mengetahui rahasia kotormu.”

Jessie berkata benar. Semua identitas diriku diubah menjadi Choi Miyoung, tak terkecuali akta kelahiranku. Ayah tiriku mati-matian mengaburkan identitas asliku dari media. Selama dua belas tahun lebih aku hidup sebagai seorang Choi, bukan Hwang seperti keyakinanku. “Satu orang lagi, mungkin,” sanggahku mengingat kecerobohanku saat berkenalan dengan sepupu Kyuhyun.

Damn, Youngie.” Jessie lagi-lagi mengumpat untuk mengutukiku. “Kau melakukan hal ceroboh apa lagi?”

“Aku tidak sengaja memperkenalkan diriku sebagai Hwang pada Victoria Song.”

“Sepupu Kyuhyun?”

Aku mengangguk untuk membenarkan. “Kukira Victoria tidak akan menggagas ucapanku.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Entahlah—“ kukedik bahu kananku, “—dia terlihat sebagai perempuan yang baik.”

Don’t judge a book by its cover.” Aku meneruskan kalimat Jessie. “Nah! Kau tahu itu.” pekiknya. “Kau memancing masalah baru karena perempuan yang kau anggap baik itu adalah keponakan Cho Dong Woon.”

Berbicara dengan Jessie seringkali membuat kepalaku tambah berdenyut, namun pendapat terbukanya memang patut dicermati. Seperti yang kukatakan, dia gadis cantik bermulut harimau. Hal yang membuatku betah berkawan dengan Jessie adalah kesamaan watak kami; keras kepala.

“Berharap saja perempuan itu bukan keponakan kesayangan pamannya.” Jessie bersedekap. “Mungkin kau bisa menyumpal mulutnya jika suatu hari dia membeberkan jati dirimu pada mertuamu.”

“Kau gila,” desisku. Kuurut keningku sebelum beranjak dari kursi. “Anyway, thanks.” Kukira kepalaku akan meledak dengan kalimat Jessie jika pembicaraan kami merembet pada konflikku dengan Kyuhyun.

Hei, Youngie.”

Aku menoleh saat Jessie memanggilku kembali.

“Setiap hari kerja aku memiliki waktu luang saat makan siang.” Jessie mengangkat ujung dalam alisnya. Sudah kuduga dia tahu bahwa aku masih memiliki beban lain.

Kuangkat telapak tanganku untuk memberikan lambaian. “I know. Have a nice weekend, Jess.”

***

Aku menghentikan pergerakanku saat mendengar langkah Kyuhyun di tangga. Kenyataannya kami belum berkomunikasi seharian ini. Mungkin definisi ‘nanti’ bagi Kyuhyun adalah dalam waktu masa depan yang tidak terbatas.

Kyuhyun berhenti di depan pintu kamarnya dan memandangku balik. Dia menyelisikku dengan tatapannya hingga membuatku membeku di tempat. Tidak ada yang salah dengan gaun tidur yang kukenakan karena jikalau pun aku telanjang, dia tidak akan tertarik. Membuka pintu kamar, mulutnya bergerak pelan hampir berbisik. “Good night.”

Menghela napasku, sepertinya aku memang harus menyiapkan kesabaran untuk menghadapi pria ini. Aku bukan tipe orang yang suka menahan suatu masalah. Jika memang dapat diselesaikan sekarang, maka tidak perlu menunda waktu. Demikian juga dengan pertengkaran kami pagi ini. Akan tetapi Kyuhyun agaknya sedang tidak berkenan untuk berbicara denganku.

***

Disneyland in South Korea?!” Aku membaca dengan keras proyek terbaru yang dilemparkan Luhan di mejaku. “Wah, jika proyek ini terwujud maka akan menjadi saingan keras bagi Lotte Ltd.”

Luhan dengan tidak sopan menaruh pantatnya di mejaku dengan sebelah kakinya yang menggantung. “Ini proyek besar, Youngie. Bayangkan kita bisa bekerja sama dengan Disney! Salah satu perusahaan pengeruk keuntungan besar di dunia.”

Aku membolak-balikkan proposal yang diangsurkan Luhan. Aku, Luhan serta tiga orang lainnya berada dalam satu tim arsitek di bawah suatu perusahaan konstruksi. “And Princess Lulu, tell me about the detail.” Aku meringis saat memanggilnya dengan sapaan tersebut. Lelaki keturunan Cina ini memang terlihat cantik untuk kaumnya.

Mendengus untuk menanggapi sapaanku, Luhan mencondongkan tubuh ke arahku. “Kau akan menjadi ketua tim kita untuk proyek ini karena investor menginginkan seseorang yang fasih dalam English.”

Okay,” aku menganggukkan kepala. “Kapan kita bertemu dengan investornya?”

“Secepatnya setelah kita membahas proyek ini lebih lanjut, Youngie.”

Aku berdecak kecil untuk memprotes panggilannya untukku. “Youngie Noona.” Kukoreksi ucapan Luhan dengan penekanan kata noona.

Luhan tertawa dan memperlihatkan sisi manisnya. “Kau hanya lebih tua 6 bulan dariku, Youngie.” Dia turun dari mejaku. “Oh, kau sudah mempertimbangkan permintaanku?”

“Aku sudah menjawabnya semenjak pertama kau meminta, Lu.” Aku dan Luhan lebih akrab dibanding rekan lain dalam tim karena hobi kami yang sama; fotografi. Kami hanya fotografer amatiran yang menekuni bidang ini untuk kesenangan. Dia pernah memintaku untuk menjadi modelnya.

“Ayolah, Youngie. Aku tidak akan mempublikasikan fotomu. Foto kali ini semata untuk konsumsi dan koleksi pribadi.”

Nah! Itulah yang menambah alasan aku menolaknya. Kau bisa mengambil model wanita lain.”

“Tapi figurmu adalah idealisasiku. Tentu saja minus sifat keras kepala dan arogansimu.”

Aku memukul lengan Luhan dengan agak keras. “Kalau begitu mulailah mencari model yang sesuai kriteriamu.” Berdiri menyambar gelas kopiku yang sudah kosong, aku berlalu untuk ke pantry.

Oh, ayolah…” Luhan mengekor dan membuatku risih karena tatapan para rekan kerja. “Aku akan membayarmu tinggi.”

“Begitu menyedihkannya diriku hingga ingin menarik bayaran darimu, huh?”

Ok, akan kupenuhi satu permintaanmu. Apa pun itu!”

“Lu, stop it!” Aku berbalik dan menatap kesal Luhan.

“Itu berarti kau setuju.” Luhan tersenyum dan menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri.

“Kapan aku bilang sejutu?”

Oh, tentu saja. Kau tidak akan bisa menolak permintaan rekan tersolidmu.” Luhan berjalan mundur dan mengerling. Dia membuatku kehilangan kata-kata dengan paksaannya.

“Xi Luhan!”

***

Aku menyumpal mulutku dengan potongan daging. Walaupun sudah tinggal terpisah, ibu masih memaksaku datang untuk sekadar makan malam. Tadinya dia menyuruhku untuk membawa serta Kyuhyun, tetapi aku menolaknya.

“Kudengar kau menangani proyek Disney, Youngie.” Ayah tiriku selalu mengetahui perkembangan diriku selangkah lebih dahulu.

Ne, Abeoji.”

Wah, selamat untukmu, Chagiya.” Pekik senang ibuku. “Aku tidak salah untuk mengundangmu makan malam. Anggap saja ini perayaan untuk proyek besar yang kau terima.”

“Kau memang selalu menjadi putri kebanggaanku, Youngie.” Senyum abeoji di sela-sela mulutnya yang masih mengunyah.

Gendang telingaku sudah terbiasa mendengar pujian ayah padaku. Hal yang membuatku risih hingga saat ini adalah pengakuannya atas diriku. Dia selalu saja menyebut putriku tanpa suatu beban bahwa aku hanya putri tirinya. “Gamsahammida, Abeoji.”

“Sayang sekali Kyuhyun tidak bisa ikut makan malam.” Kalimat kecewa eomma membuatku secara spontan menegakkan kepala. Bukan hanya aku seorang, namun juga kakakku yang duduk di depanku.

Siwon memandang tajam ke arahku, demikian juga sebaliknya. Aku tahu dia sangat ingin mencaci maki diriku. Pertengkaran minggu pagi kami masih terbayang di ubun-ubunku dengan jelas.

***

“Jangan melangkah melewati batasanmu, Youngie.”

Aku menghentikan tanganku untuk menata beberapa barangku yang tertinggal di kamar lama di rumah keluarga Choi. Memutar badanku, aku menemukan Siwon menyandar di gawang pintu kamarku. “Aku tidak mengerti batasan apa yang kau maksud.”

Melangkah masuk ke dalam kamarku, Siwon menutup pintu kamar. Dia tentu tidak ingin orang tua kami memergoki putra dan putrinya beradu mulut. “Tidakkah kau bisa menggunakan otak dari putri kebanggan abeoji-mu?”

Menyilangkan tangan di depan dada, aku mengerutkan bibirku kesal. “Kau cemburu karena abeoji memujiku? Sepertinya kebiasaanmu memang tidak berubah.” Aku menggeleng melecehkan. Aku hanya merasa Siwon selalu cemburu jika abeoji menyangkut prestasiku atau apa pun mengenai diriku. Akan tetapi hal ini terlalu lucu mengingat dia sudah hampir kepala tiga.

“Astaga, apa peduliku.”

Aku memijit keningku. “Apakah ini mengenai Kyuhyun?”

“Aku menjadi tertarik untuk mengetahui motifmu menyetujui pernikahan konyol kalian.”

Kuembus tampuan udara dari rongga mulutku. “Apakah hal itu penting untukmu, Siwon?”

Damn, Youngie. Kau masih berada di rumah, jadi gunakan sapaan hormat.”

“Kamarku kedap suara, jika kau lupa.”

Siwon menekan tinjunya di meja dan mencodong ke arahku. “Tapi telingaku tidak kedap suara, Youngie. Berapa kali kuingatkan kau akan hal ini, huh?” Dia menggertakkan giginya.

Aku mendorongkan kedua tanganku di dada Siwon untuk menjauhkan dirinya dariku. Kedekatan fisik kami senantiasa membuatku gelisah. Siwon sepertinya menyadari hal ini dari dulu, namun dia selalu melakukannya. Aku tahu dia bermaksud mengintimidasiku.

Menangkap kedua lengan atasku, Siwon menarik tubuhku lebih dekat ke arahnya. Aku bahkan bisa merasakan terpaan hangat napasnya di wajahku. “Apakah aku yang menjadi motifmu keluar dari rumah ini?”

Aku mengatur irama napasku yang berantakan. Kueratkan kepalan tanganku untuk meredam gemetar. Melirik Siwon tajam, seharusnya dia bisa membaca jawabanku dari ekspresiku sekarang.

“Kau salah langkah jika ingin keluar dari rumah ini karenaku.” Suara Siwon yang berbisik di samping telingaku membuat degub jantungku meningkat. “Hidupmu tidak akan lepas dariku, Youngie.”

Aku mundur selangkah saat Siwon melepaskan cengkeramannya padaku. “Kau hanya satu di antara alasanku, Siwon.”

Sebelah lenganku ditarik kembali oleh Siwon saat aku tidak mematuhi ancamannya. “Oppa, Youngie. Camkan itu!” tegasnya dengan nada rendah.

Kutarik lenganku untuk terbebas. “Aku tidak pernah sudi untuk berotasi dalam hidupmu.” Kuhentak kakiku dan kusambar tas yang penuh dengan barangku yang tertinggal. Membuka pintu kamar, aku meninggalkan kamar lamaku.

***

Merasakan aliran lembut air menggesek pori-poriku, aku meluruskan tangan untuk mempersempit permukaan tubuhku yang melawan air. Kakiku bergerak untuk memberikan dorongan, sedangkan tanganku mengayuh untuk menambah laju renangku. Rasanya begitu tenang saat tubuhku membaur dengan berkubik air.

Aku tidak peduli pukul berapa sekarang, mungkin sudah hampir tengah malam. Berenang di waktu seperti ini memberikanku ketenangan tersendiri karena sunyi yang tercipta. Aku sering melakukannya jika pikiranku sedang kacau. Sayangnya ibuku akan mengomel andai memergokiku melakukan aktifitas ini.

Kusentuhkan telapak tanganku di dinding kolam dan kuturunkan kakiku dari permukaan air ketika sampai di tepi. Aku mengusap wajahku untuk menyusutkan air yang membasahinya. Mendenguskan air agar keluar dari hidungku, aku mengusap rambutku ke belakang.

“Menikmati ketenanganmu, Young?” Kyuhyun berada di tepi kolam entah dari kapan. Dia menekuk sebelah kakinya untuk berlutut di sisiku yang masih terendam air. Mengguncang gelas wine di tangan, Kyuhyun menyesapnya. Diantara orang yang mengenalku, hanya Kyuhyun yang memanggil namaku tanpa sufiks.

Malas meladeni sinisme Kyuhyun, aku tidak mengindahkannya. Kujejakkan kakiku ke diding kolam untuk memberikan dorongan saat meluncur di air. Kukayuhkan tanganku untuk memberikan laju.

“Inikah yang kau lakukan untuk pelampiasan?” Nada keras Kyuhyun masih terdengar. “Alasan sebenarnya dari eksistensi kolam renang di rumah ini.”

Aku melihat Kyuhyun berdiri di seberang dengan menyaku sebelah tangannya. Kuamati penampilannya yang tidak rapi. Tiga atau bahkan empat kancing kemeja putihnya lepas hingga menunjukkan kulit pucatnya. Lipatan kemeja di pinggangnya sudah carut marut keluar. Demikian juga dengan rambut dan poninya yang semrawut. Hal yang masih konsisten adalah seringai khasnya.

Mungkin para gadis akan memekik terpesona melihat penampilan Kyuhyun saat ini. Meskipun acak-acakan, namun dia memiliki pesona tersendiri dari sorot mata dan seringainya. Sayangnya mereka para gadis harus kecewa karena Kyuhyun tidak tertarik dengan kaum kami.

Aku menggeleng kecil menyadari diri kami yang sama-sama kacau. Mungkin dia juga mengalami hari yang berat. Berenang kembali ke tepi dimana Kyuhyun berdiri, aku ingin menyudahi aktifitas berenangku.

Kutepis tangan Kyuhyun yang terulur untuk menawarkanku bantuan keluar dari kolam renang. Berjalan mendekati kursi santai, aku mengambil bathrobe bewarna ivory dan menyimpul talinya sembarangan.

Eighty five for your body, Young.”

Aku memutar bola mataku untuk cibiran Kyuhyun. “Aku tidak ingin berdiskusi dengan seseorang yang berada pada tingkat kesadaran rendah.”

“Ini gelas pertamaku dan aku memiliki toleransi alkhohol yang tinggi.” Kyuhyun menghempaskan badannya di kursi santai. Meyisipkan jemarinya di rambut depan, dia menyapu poninya ke belakang.

Memperhatikan raut wajah dan kondisi Kyuhyun, aku menyerah dan ikut duduk di kursi santai sebelahnya. Sepertinya dia memang tidak mabuk, dia hanya kacau. “Kau menggunakan pernikahan ini untuk bersembunyi dari cibiran publik?”

Cish!” Kyuhyun mendesis untuk mencemooh. “Andai kakak perempuanku tidak memilih kabur dengan bajingan itu, tentu aku tidak perlu menjadi putra tunggal.”

Aku mengerutkan dahiku untuk mencerna kalimat Kyuhyun. Kupikir tadinya Kyuhyun adalah putra tunggal keluarganya. Menjadi putra tunggal berarti beban tanggung jawab bertumpu di pundaknya seorang. Aku menutup mulutku, tidak ingin bertanya lebih lanjut mengenai pelik keluarganya karena aku juga tidak suka orang mengorek aib keluargaku.

“Assan dalam masa pengembangan, namun terkena beberapa isu miring.” Kyuhyun menyandarkan punggungnya dan menikmati tegukkan terakhir wine-nya. “Aku bisa saja lari dan meletakkan semua tanggung jawabku, namun sebejat-bejatnya diriku, aku masih punya harga diri.”

Aku memiringkan badanku ke arah Kyuhyun untuk menilai ekspresinya. Seperti biasanya, dia tidak terlalu banyak menarik otot-otot wajahnya. Aku tidak mengerti masalah Assan. Berita yang terakhir kudengar adalah isu manajemennya yang kurang baik.

“Aku bukan pemuja cinta dan meletakkan satu rasa itu di atas segala-galanya.” Kyuhyun melemparkan pandangannya dalam jangkauan jauh. “Otakku masih mampu untuk berpikir logis. Demikian halnya dengan Siwon Hyung.”

Aku menegakkan telingaku saat nama kakak tiriku disebut. Ketidakuran kami membuatku tidak tahu menahu mengenai lelaki itu. Meskipun cukup kaget mendapati kenyataan bahwa dia seorang gay, namun aku tidak begitu ambil pusing. Pada dasarnya aku abai akan hal-hal yang menyangkutnya.

Hyung mempunyai tanggung jawab besar setelah pengangkatannya menjadi co-Chef Financial Officer Samsung. Perusahaan itu memang sedang melebarkan pasarannya dan berupaya mempertahankan posisinya sebagai vendor smartphone raksasa Korea.”

Mulutku mengunci untuk tetap memfokuskan diri mendengar. Aku juga sangsi jika dua lelaki metrosexual ini kabur dan meninggalkan dunia mereka yang sekarang dimana finansial dan kesenangan terjamin.

“Solusi yang terbaik untukku dan hyung adalah tetap di Korea sembari mengamankan hubungan kami.”

“Sampai kapan?”

“Entahlah Young.” Kyuhyun mengangkat bahunya ringan. “Dua, tiga, atau bahkan empat tahun.” Dia menolehkan pandangannya padaku. “Kau pun bebas menjalin hubungan dengan siapa pun. Seperti ucapanmu, anggap saja kita adalah roommate.”

Cish, aku tidak memerlukan barter, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun tertawa renyah. “Kau masih menggunakan sapaan formal untukku? Dimana kekakuanmu untuk memanggilku oppa seperti yang kau lakukan di hadapan keluarga kita?” sindirnya.

Aku menarik sebelah sudut bibirku. “Aku bahkan tidak menggunakan sapaan itu pada orang yang dua belas tahun tinggal bersamaku,” ucapku enteng untuk merujuk Siwon. Katakanlah aku kurang ajar untuk hal ini.

“Terserah kau sajalah.” Kyuhyun menegakkan punggungnya. “Kau tidak nyaman dengan kehadiran hyung di sini?”

Aku menghela napas pelan. “Andai kata aku berkata ya, kau pun tidak akan mencegah kehadirannya di rumah ini bukan?” sinisku.

Kyuhyun menyeringai kecil. “Terlalu sering bertemu di luar beresiko terendus khalayak maupun media.”

“Lakukan sesukamu karena bagaimana pun kau memiliki investasi atas rumah ini.” Memang apa yang bisa kuperbuat untuk mencegah Siwon datang? Kyuhyun ikut andil dalam pendanaan rumah ini. “Asalkan kau tidak membawa pelacur dan menidurinya di rumah ini, aku masih bisa mentolerirnya.”

Kyuhyun berdiri dan terkekeh ringan. “Setiap hari kerja, saat kau mendengkur di kamarmu, atau saat kau mengunci diri di ruang kerjamu. Kupastikan kalian tidak bertemu karena kalian bisa membuat tuli kupingku saat bersiteru.”

Aku tersenyum angkuh untuk keputusan dan sindiran Kyuhyun. “Kuartikan kau cukup mengerti.” Kepalaku sedikit terdorong ke belakang dan mataku membulat saat tiba-tiba ibu jari Kyuhyun menekan bibirku.

“Bibirmu sudah membiru. Jangan berenang lagi.” Setelah perucapan tersebut, Kyuhyun melenggang pergi.

***

Aku menyeret langkahku, kemudian menekuk lutut di depan salah satu foto favoritku. Daun maple yang menjadi lambang negara Canada ini kujepret ketika aku berlibur. Padahal foto ini hanya gambar lembaran daun maple yang tengah menghijau, namun Kyuhyun dapat menebak tempat dan arti dari foto ini dengan benar.

Cho Kyuhyun dan Choi Siwon, mereka membuat kepalaku pening. Aku terlalu naïve jika keluar dari kediaman keluarga Choi hanya demi menghindari kakak tiriku. Melakukan pernikahan bukan hal sepele untuk motif seperti itu. Pernikahan tetaplah pernikahan, terlepas dari esensi yang diambil setiap pasangannya. Meskipun bukan umat yang taat, namun aku masih menghargai makna ikatan di depan Tuhan.

Aku tidak berbicara ngawur ketika menuduh ibuku terlibat dalam pembunuhan ayahku. Pemikiran ini selalu bergelayut dalam otakku. Demi apa pun, aku masih sangat muda saat itu. aku tidak mengerti apa yang orang dewasa rencanakan untuk hidupku. Di sinilah aku pada akhirnya. Hidup sebagai seorang Choi, tidak punya latar belakang atau pun catatan sebagai Hwang.

Pernah kucoba menelusuri tempat tinggalku di pesisir Mokpo, namun nihil. Beberapa tetangga yang dulu kukenal sudah tidak bertempat di sana. Desa itu seakan berubah total. Tidak ada jejak seperti yang kuingat pada masa kecilku.

Menumpu kepalaku di atas lutut, aku memejamkan mata. Malam ini mungkin aku tertidur lagi di galeriku, tapi sudahlah, aku tidak peduli.

***

Damn!” Aku mengumpat sambil mengaplikasikan lipstick di bibirku. Gara-gara tertidur larut, aku bangun kesiangan. Kusambar high heels dan tas kerja. Berlari turun ke bawah, aku membuka kulkas untuk meneguk setidaknya jus atau susu sebagai pengisi perut.

“Kau bisa tersedak,” ucap Kyuhyun datar. Dia sedang menikmati kopi dan koran pagi.

Berjalan cepat untuk meletakkan gelas di bak cucian, aku tidak memperhatikan langkahku. Tubuhku praktis menyentuh dingin lantai karena high heel yang kukenakan menyandung langkahku sendiri.

“Jika kau tidak memerhatikan cara minummu, maka setidaknya perhatikan cara jalanmu, Young.” Kyuhyun melongok untuk mengolok.

Menggeram kecil, aku mencari pegangannya untuk berdiri. Tubuhku kembali merosot saat kakiku tidak bisa kugerakkan. “Damn!” entah berapa kali aku mengumpat pagi ini.

“Berhentilah mengumpat!” Kyuhyun berlutut dan melepas high heel yang kukekakan. Dia mengurut bagian di bawah mata kakiku dan membuatku memekik kesakitan. Mengambil tanganku, dia melingkarkan di pundaknya dan mengangkat tubuhku dengan enteng seolah bobotku bukan apa-apa.

Menurunkanku di kursi, Kyuhyun meluruskan kakiku. Dia kembali mengurut bagian di dekat mata kaki dan membuatku, lagi-lagi, memekik. “Bisakah kau tutup mulutmu?” sentaknya galak.

Kugigit bibir bawahku untuk meredam jeritanku. Aku tidak berbohong mengenai rasa sakitnya. Bisa kurasakan air mata menggenangi bola mataku akibat perlakuan Kyuhyun.

“Kakimu terkilir. Kusarankan untuk ke rumah sakit karena luka dalamnya akan membengkak.”

Oh shit!”

“Berhentilah mengumpat!”

My goodness, aku punya meeting pagi ini!” Aku berteriak melawan Kyuhyun. “Lakukan apa saja asalkan kaki ini bisa membawaku duduk manis di ruang meeting-ku!” Aku kembali memekik kesakitan saat Kyuhyun menekan lukaku dengan sengaja.

Behave, Young.” Ucapnya tajam sambil berdiri dan meninggalkanku. Selang beberapa saat, dia kembali dengan salep dan bandage di tangannya. Berlutut di depanku, Kyuhyun mengangkat kakiku di pangkunya. Dia mengoleskan ibuprofen, sebelum membalut kakiku.

Aku diam mengamati ekspresi Kyuhyun yang tengah bekerja. Wajah datarnya terlihat begitu serius. Baru kusadari bahwa dia memiliki hidung yang begitu mancung. Ditambah sinkronisasi bibir penuhnya, pantas saja kaum hawa memujanya. “Thanks,” aku mencoba mengangkat kakiku saat Kyuhyun selesai membalutnya.

Berdiri dengan menumpu pada kursi, aku merasakan tusukan di kakiku. Sepertinya hari ini aku tidak membutuhkan sepatu untuk sampai di tempat kerja. Kucoba berjalan, namun karena kakiku yang masih kaku aku limbung.

Menarik napas dengan cepat, aku merasakan tangan Kyuhyun meraih pinggangku. “Kau butuh tumpangan pagi ini?”

“Ti—“

“Pikir dua kali untuk menolak tawaranku, Young.” Kyuhyun memasang wajah mengejek untuk memotong kata penolakanku. “Sendimu bahkan tidak bisa digerakkan karena pembengkakan.”

Menelan harga diriku sedalam-dalamnya, aku menangkup rahangku kuat-kuat. “I’ll be glad if you can bring my ass to my office.”

Dengan sekali ayun, Kyuhyun sudah membopongku. “And I’ll be glad if you can use proper language.”

Dengan kedekatan sekarang, aku bisa menangkap jelas garis rahang Kyuhyun. Anak-anak rambutnya bahkan kurasakan menggesek keningku. Seperti biasa, jantungku mulai bereaksi tak karuan. Sama halnya setiap kali aku berinteraksi dengan lelaki dengan cukup intim.

Tiba-tiba saja pembicaraan kami saat di galeri terputar di memoriku. Aku memotret beberapa tempat yang menjadi ciri khas suatu negara dengan gamblang seperti tembok besar Cina, Juliet’s house, Westminster Abbey, Manchester town hall, dan beberapa lagi. Akan tetapi Kyuhyun justru tertarik dengan potret konotasi daun maple. “Canada,” lirihku.

What?” Kyuhyun menoleh hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan.

What’s wrong with Canada, Hyunnie?”

TBC*

Glosarium:

Ibuproen: salep untuk mengurangi sakit dan pembengkakan.

Note:

Hallo! Finally, aku rampung untuk part 2. Entah mood ku lagi menukik untuk menyelesaikan BTBE. Semoga fanfic ini menjadi update yang kalian tunggu di samping ALC.

Untuk yang akan menjalankan ibadah puasa, aku ucapkan Happy fasting! Semoga Ramadhan kali ini lebih banyak lagi berkah yang teraih. Amin.

I’m sorry for using un-appropriate words. Aku sudah ingatkan di awal fiksi bahwa part ini menggunakan bahasa yang aku rated. Aku tidak mensensornya karena membuat tulisannya tidak rapi.

Jadi katakan padaku bagaimana pendapat dan perasaan kalian mengenai fiksi ini as far?

Pic Spam:

Little deer

luhan-at-ceci-magazine582402_555354394492971_860526785_n

293 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [2]

  1. array says:

    Hubungan siwon sama miyoung rumit sekali.. pasti selama ini mereka berdua punya hidup yg sulit..
    aku bingung kyuhyun itu terkadang baik tapi selalu sinis sama miyoung, aku suka panggilan ‘young’ kyuhyun untuk miyoung, aku ngerasa seperti pengganti panggilan sayang..
    aku ngerasa kyu bukan gay tapi biseksual, yah semoga aja jadi mereka berdua kemungkinan bisa tetap bersama..

  2. sparkyukyu says:

    tebakanku benar ada motif tersendiri bagi miyoung maupun kyuhyun menerima pernikahan tersebut. Ternyata miyong yang ingin keluar dari kediaman keluarga choi dan kyuhyun ingin menutupi kelainan seksualnya dihadapan publik. Tpi aku berharap miyong dapat mengubah kyuhyun…

  3. sparkyukyu says:

    itukah alasan mereka menikah pernikahan?
    Miyong bisa ke luar dari kediaman keluarga choi, sedangkan kyuhyun untuk menutupi penyimpangan seksualx dihadapan publik…
    Bagaimana nasib pernikan tsb nantinya?
    Lanjuutttt…

  4. VivitYulia says:

    kyakx minyoung udh mlai nyman sma kyuhyun.
    smga aja ada getaran2 cnta antra mnyoung sma kyu.
    #Alabahasanya
    Jdi pnasarn..lnjuttttt,,,

  5. Bahasanya mudah dicerna dan tidak muluk2.fiksi ini benar2 membuat enjoy orang yang membaca karena mungkin konfliknya juga tidak terlalu rumit dan monoton.bacaan yang menyegarkan disore hari.miyoung dan kyuhyun sekalipun saling dingin dan acuh mereka cukup solid kerjasama untuk mendapatkan keuntungan masing2

  6. Hey, saya meninggalkan jejak comment yaaa.. hehe.
    part 2 ini saya suka si kyu suka perhatian gitu hehe. Hmm.. di part ini tuh seakan2 kyuhyun mulai menaruh hati sama si miyoung. Entah kenapa saya agak menaruh dugaan buruk sama luhan haha. masih dengan kesan yg sama dengan part 1. Saya penasaran tingkat tinggi sama kelanjutannya. Masih menduga2 bakal kaya gimana dan apa yg terjadi di masa lalu mereka

  7. God
    For the first time reading a fanfiction with yaoi in it
    But i can’t just stop it because of Miyoung wkwk
    Smoga masih ada kejutan tak terduga untuk hubungan miyoung dan kyuhyun kedepannya
    I can know miyoung have some feels for cho!!
    I’ll read the next chap

  8. rachma says:

    Kayanya miyoung sudah mulai ada rasa ke kyu secara kyu ngelakuin miyoung dengan baik andai kyu tidak punya kelainan.. di sini aku sebel sama siwon.. sipp dh biat eonnie yg twlah berhasil merubah image siwo di mataku.. heheh mw lanjut baca part3
    Cussssss

  9. timurkece says:

    aduch siwon oppa ganggu aja nih , tp ya unikny siwon malah sm kyu bkn sama miyoungny hahaha aku suka karakter ketigany disini, mnurutku unik aja. aduch ff ini serba unik dan aku ga sbr ma klnjutan hub kyu miyoung

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s