[Epilog] The Gift


nathanael

[Epilog] A Lovely Coincidence: The Gift

Oppa!” Aku memekik begitu sambungan kami terhubung. Mempercepat langkah kakiku, aku memutar kepala ke samping kanan untuk mencegat taxi. Di saat seperti ini, aku berharap mobilku sedang tidak dalam perawatan. Teriakan Oppa dan suara kepanikannya membuatku bertambah kacau. “I’m on a way. Could you please come after me?” Aku bersegera masuk ke taxi. Kujauhkan smartphone dari telinga untuk memberikan perintah, “Please go to Cheerish Nursery School.

Meremas-remas jemariku, aku berlari sepanjang koridor taman kanak-kanak. “What’s the matter? How could this happen? Where’s my son?” Aku memberondong wanita paruh baya, yang kuduga adalah penanggung jawab di sini, dengan pertanyaan yang mewakili kegelisahanku.

Please calm down, Mrs. Cho. We’re trying to find him all over the school.”

Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan diri agar tidak lepas kendali. Beberapa menit lalu pihak sekolah memberitahukan bahwa putraku menghilang. Jadi dalam situasi seperti ini, bagaimana aku bisa menenangkan diri? Oh God!

Did you call the police yet?”

Not yet because according to securities there’s nobody pass the gate at the time when Nael vanish.”

Oh, God!” Aku mengurut keningku.

We assumed that Nael still around the school.”

We’ll join to search him.” Suara berat yang menginterupsi pembicaraan dan tepukkan halus di pundakku membuatku menoleh. “Hurry up, Lynn.” Oppa menarikku untuk ikut bersamanya mencari putra kami.

“Nael!” Kuletakkan kedua tanganku di depan mulut untuk mengeraskan panggilanku. Kami berpencar di halaman belakang sekolah karena salah satu pengajar mengaku melihat Nael bermain di taman belakang sebelum menghilang.

“Nael!” Suara lantang Oppa yang berada di ujung halaman terdengar hingga ke tempatku. Beberapa suara dari orang-orang yang mencari Nael juga terdengar olehku.

Father, please keep him safe. Kusatukan kedua tanganku saat mataku meluluhkan air mata. Aku takut dia mengalami kecelakaan kecil seperti tergelincir, terjatuh, atau terjebak di suatu tempat. Jantungku yang berdebar kuat dan tubuhku yang gemetar tidak jua mereda. Aku hampir putus asa saat menyapu areal sekelilingku yang kosong. Menggapai batang pohon terdekat, aku mencari peganggan ketika kepalaku pening.

Sssttt…stay with me, okay?”

Aku langsung mendongakkan kepala begitu suara cadel malaikatku masuk ke pendengaranku. “My goodness…” bedesis untuk bersyukur, aku melihatnya duduk di ranting pohon. Kututup mulutku menggunakan dua telapak tanganku. Bagaimana dia bisa mencapai tempat setinggi itu bersama…seekor kucing?

Mommy!” Nael melambai padaku dengan sebelah tangannya yang bebas.

“Nathanael Cho.” Kupalingkan wajahku dan mendapati Oppa berdiri di sampingku. Dia menekankan setiap suku kata panggilannya sembari berkacak pinggang. Ekspresi lega bercampur dengan kekesalan mendominasi raut wajahnya.

Daddy!” Berbanding terbalik dengan keadaan kami, Nael memekik antusias.

What on earth are you doing there?!” Aku tahu Oppa benar-benar dalam ambang batas kesabarannya.

Mengangkat anak kucing di pelukkannya, Nael menunjukkan pada kami apa yang menyebabkan dia berada di sana. “Kitty trapped here, Dad. She couldn’t come down by herself.”

Menjatuhkan rahangku, aku menahan tawa dengan jawabannya. Nael bahkan memberikan panggilan bagi kucing, yang kujamin, baru ditemukannya. Kubesut sisa-sisa air mataku.

Then, why didn’t you come down?”

I can’t get down, Daddy.” Nael menggeleng.

You could climb over there, why in the world you couldn’t come down!” Oppa mengarahkan telunjuknya ke bawah.

Mengangkat bahu kecilnya, Nael mencebikkan bibir dan menggeleng putus asa dengan menggemaskan. “I don’t know.” Kurasa aku tahu dari mana dia mewarisi ekspresi tersebut.

God…” Oppa memukulkan telapak tangannya ke dahi dengan frustrasi. Pandangannya mengitar dan menemukan tangga yang digunakan pekerja untuk mengecat. Mengambil tangga tersebut, Oppa menegakkannya dan mulai memanjat.

Sweetheart, don’t move. We’ll help you to come down. Ok?” Aku khawatir melihat kaki mungilnya terayun-ayun di antara ranting setinggi itu.

Yes, Mom.”

Belum separuh jalan Oppa memanjat tangga, suara meong dan tindakan tiba-tiba kucing itu mengagetkan kami bertiga. Aku mengerjapkan mataku saat kucing itu meloncat dari pelukkan Nael ke tembok sekolah dengan lincah.

Ya! You’re betraying me, aren’t you?!” Nael meletakkan sebelah tangganya untuk berkacak pinggang, sedangkan tangan yang lain menuding kucing itu. Mengeong beberapa kali, kucing itu mengusap kepalanya dengan kaki depan sebelum berlari meninggalkan Nael dengan mulut membulat. “Ya! Kitty!”

Aku membekap mulutku saat tidak bisa menahan tawa. Astaga…ekspresi kecewa Nael saat kucing tersebut lari sungguh menggelikan. Aku mengulurkan tanganku ke atas, bermaksud menerima Nael dari tangan Oppa, namun Oppa tetap menahan anak itu dalam pelukannya.

Do you know, you made me skip the meeting just for that reckless kitty?!” marah dan kesal Oppa. Dia menenteng Nael di pinggangnya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang lain mencubit pipi Nael.

Daddy, it’s hurt…” Nael menangkup pipinya yang dicubit oleh Oppa sambil melengkungkan bibirnya ke bawah.

Aku mengekor mereka seraya menahan tawa. Membungkukkan badanku untuk berpamitan pada penanggung jawab sekolah, aku juga menyampaikan maaf atas kenakalan Nael.

I’ll drop you home.” Oppa melirik ke arah spion untuk mengecek Nael yang berada di belakang. “Make a call to excuse from work. I think you need to take care of him.” Kupatuhi perintah Oppa untuk meminta izin kantor.

Melongok ke arah belakang, aku melihat Nael menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah cemberut. Agaknya dia masih kecewa dengan kucing itu. Seragamnya yang kotor serta beberapa luka kecil di wajah dan tubuhnya membuatku trenyuh.

I’ll home at dinner.”

Ok. See you later.” Aku mencodongkan tubuhku pada Oppa dan memberikan kecupan di pipi. “Drive safely.”

Mengikuti langkah-langkah kecil Nael yang cepat, aku mengekornya untuk masuk ke rumah. Aku segera mencari antiseptic dan band aid serta pakaian ganti untuk Nael. Meletakkan barang-barang tersebut, aku berjalan untuk menjangkau ponselku yang berdering. “Ya, Oppa?”

“…”

Ne?” Terkejut, aku segera mencari Nael begitu Oppa memberitahukan suatu hal penting. Senyumku mau tak mau tersungging saat terharu dengan pemandangan yang kulihat. “Oppa, Nael took your self-phone. Guess what did he do with that?” Kuarahkan ponselku agar Oppa lebih jelas mendengar apa yang putranya lakukan dengan ponselnya.

Grandpa, please don’t mad at Daddy.” Nael mengepalkan kedua tangan kecilnya di depan dada sambil menatap layar ponsel. “Pretty please,” mohonnya. Dia membuat sambungan video call dengan kakeknya di Korea.

What’s wrong Nathan-nie?” Abeoji mengalamatkan panggilan yang sedikit berbeda pada Nael.

I made Daddy skipped his meeting today.”

Eh?”

I…I helped a kitty trapped on the tree, but unluckily I couldn’t come down. And…and…Daddy came to help me. He said I made him lose the meeting.” Nael menerangkan kronologi kericuhan yang diabuatnya dengan gerakan tangannya. “I’m sorry, Grandpa.”

Gelak tawa Abeoji membuat senyumku melebar. “You really resemble to your dad.” Beliau menunjuk Nael dengan bangga. Aku setuju dengan abeoji. Selain meng-copy paste wajah Oppa, Nael juga mewarisi sikap Oppa.

Pipi chubby, hidung mancung, dagu membulat, dan ekspresi Nael menurun semuanya dari Oppa. Sejujurnya aku sedikit iri dengan kemiripan mereka berdua.

Summer holiday will come. Ask your daddy to spend your holiday in Korea, Nathan-nie. Ok?” suara antusias abeoji disambut anggukan setuju oleh Nael.

Aku menggeleng gemas sembari meletakkan ponselku ke telinga. “Your son…”

He’s really…” Aku tahu di ujung sambungan Oppa juga sedikit geli. “Give my kiss to him, Sweetie. Catch you later. I love you.”

I love you, too.”

***

“Nael?” Aku memeriksa kamarnya. “Sweetheart?” Menghela napas, aku tidak menemukannya berkeliaran semenjak setelah makan malam. Biasanya dia berada di ruang keluarga atau di kamarnya.

Kuputar kenop pintu ruang kerja Oppa untuk menanyakan apakah dia melihat Nael. Menyandarkan bahuku di pintu, aku menyilangkan tanganku sambil menikmati kemesraan ayah dan anak itu. Oppa sibuk memeriksa beberapa dokumen di tangannya, sedangkan Nael bergelung nyaman di pangkuannya sambil memeluk teddy kesayangan. Meskipun dibebani berton pekerjaan, Oppa selalu menyempatkan diri memberikan konseling pada Nael.

Kulangkahkan kakiku mendekat, kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Oppa. “Let me take him to bedroom.” Aku melirihkan suaraku agar tidak membuat Nael terbangun.

It’s ok. I am almost done my paper.Oppa menandatangi dokumen di tangannya sebelum meletakkannya di meja. Dia kembali memundurkan punggungnya. Kedua tangannya memeluk malaikat kecil kami. Disandarkan dagunya di puncak kepala Nael.

Kuanjurkan tanganku untuk mencopot kaca mata Oppa dan meletakkannya di meja. “Tired?” pertanyaanku hanya dijawab gumaman Oppa. Dia menepuk-nepuk ringan punggung Nael sembari memejamkan mata.

May I ask you about something?” Aku sungguh penasaran mengenai suatu hal di masa lalu.

Sure.Oppa meneleng ke arahku.

“Lima tahun lalu, eomonim memintaku untuk tidak berharap pada kesembuhanmu dan merelakanmu pergi. Aku tahu betapa hancurnya hati beliau mengatakan hal tersebut. Kala itu, kau bersikeras tidak mau melakukan operasi. Tapi, lihat sekarang—“ aku membuka tanganku, “—kau kembali. Oppa, boleh aku tahu alasanmu?”

Terkikik ringan, aku tidak tahu apa yang menyebabkan Oppa melakukannya. “Time goes so fast, doesn’t it?” Dia merilekskan bahunya. “I miss you back then, when you kept calling me Hyun.”

Aku meninju lengan atasnya seraya tersenyum. Kuubah panggilanku padanya semenjak putra kami lahir. Bagaimana pun, kami orang timur. Sudah sepantasnya aku menyapanya dengan panggilan hormat, mengingat dia lebih tua dariku. Alasan lain, aku ingin menanamkan tindakan ini pada Nael.

Oppa menundukkan pandangannya pada Nael. “It’s him who made me took that decision.”

“Nael?” Aku mengulang pernyataannya dengan heran. “How could—“ aku terlalu terkejut dengan jawabannya. Bagaimana mungkin alasannya karena Nael, padahal di waktu itu putra kami belum lahir.

“Aku putus asa dengan kondisiku dan berniat menyerah saat itu. Aku bahkan berencana mengakhiri hidupku.”

Aku menahan napasku sejenak. Oppa tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya. “What’s on your mind…” desisku.

Oppa memandangku dengan tersenyum. “Di tengah keputusasaanku, aku bertemu dengan seorang anak kecil yang tengah bersedih karena kondisi ibunya. Dia menyendiri untuk menyembunyikan tangisnya. Awalnya kupikir pandangan tersebut sangat menyakitkan.”

“Lalu?”

Oppa menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku salah. Hal tersebut adalah manusiawi; dimana kita berupaya tegar untuk orang yang kita kasihi. Seperti halnya anak itu yang berusaha tegar untuk ibunya. Dan percaya atau tidak, aku melihat Nael dalam masa depanku di matanya.”

Insight?”

“Bukan, aku tidak memiliki keistimewaan seperti itu, Sweetie.” Oppa terkekeh mendengar pertanyaanku. “Hal yang aku lihat lebih seperti harapan. Suatu harapan bahwa aku bisa memiliki kebahagiaan jika tidak menyerah. And here I go…” Oppa mengelus kepala Nael dan menciumnya. “Thanks, Adelynn for gave birth this beautiful little angel.”

Aku hampir menitikkan air mata haru. Mengingat moment pertama kali Oppa menggendong Nael dan mengecup keningnya, menghilangkan seluruh rasa sakitku paska melahirkan. Ekspresi haru Oppa saat itu sungguh tidak pernah terhapus dari benakku.

Kuambil dagu Oppa untuk memalingkan wajahnya ke arahku. “And thanks to you for came back to me, for being a good husband, and for being caring daddy to Nael.” Kumajukan tubuhku untuk memberikan kecupan di bibirnya. “And that’s why you named him Nathanael?”

Oppa menggangguk dan tersenyum indah. “Yeah, a gift from God.” Dia melafalkan arti nama Nathanael; suatu anugrah dari Tuhan. Merentangkan tangannya, Oppa merengkuhku untuk bergabung dalam peluknya. Merapatkan pundakku padanya, dia menjangkau bibirku kembali.

Ciuman hangat menjadi simbol dan cara kami meluapkan kasih terhadap masing-masing. Persinggungan yang selalu membuat jantungku mendesir hebat dan menjadikan intensitas detaknya meningkat. Punggungku semakin terdorong ke belakang ketika ciumannya menuntut. Kuputus kontak bibir kami ketika mendengar gumamman kecil. “Nael,” aku menggerakkan bibirku tanpa suara.

Oppa menggembungkan pipinya dan mendesah. “Ok, Sweetheart. Let your daddy and mommy have their fun.” Dia berdiri dan menggendong Nael. Dengan nyaman, kedua tangan Nael melingkar di leher Oppa. Nael bahkan tidak bangun dari tidurnya ketika teddy-nya terjatuh. “Come on, Babe.” Dia menganjurkan tangan untuk membantuku berdiri.

Aku menyambut tangannya dan berjinjit untuk memberikannya kecupan singkat di pipi. “I love you.”

Oppa menoleh padaku dengan senyum miringnya. “I love you more, Adelynn. And of course, I do love this little reckless angel.” Dia mencium puncak kepala Nael.

***

Kris Wu kembali ke Canada lima tahun yang lalu. Kami masih berkomunikasi hingga sekarang. Karirnya makin gemilang saat dia diangkat menjadi manager bagian pengembangan dan penelitian suatu perusahaan besar, namun kisah cintanya tidak semulus karirnya. Aku tidak tahu apa yang mengganggunya karena hingga saat ini tidak kudengar dia menjalin hubungan serius dengan seorang gadis.

Aiden Oppa, dia menikah dengan seorang gadis keturunan melayu tepat setahun setelah pernikahanku. Gadis yang berprofesi sebagai konsultan hukum tersebut membuatku merasakan memiliki kakak perempuan. Selain cantik, dia juga berkepribadian menyenangkan.

Joohyun Seo, gadis ini memangku jabatan strategis di Vichou Finance. Hubungan kami semakin membaik seiring waktu. Meskipun tidak sering, namun kami masih menjalin komunikasi. Kami bercerita dan saling berbagi masalah wanita. Menurut rencana, Seohyun menikahi seorang relasi bisnis di akhir bulan ini. Dan dia bahagia dengan pernikahannya kali ini.

Daehyun Cho, dia membawa Vichou menjadi salah satu perusahaan finance terkemuka di Asia. Kecerdasan dan kepiawaiannya menjalankan bisnis dengan kerja keras menuai hasil. Beberapa bulan yang lalu, Daehyun resmi bertunangan dengan seorang gadis keturunan korea.

Aku tahu kisah kami dimulai dengan ketidaksempurnaan, namun aku bahagia saat dia meneruskan kisah ini dengan melengkapi setiap ketidaksempurnaan tersebut. Lima tahun telah berlalu sejak pengangkatan CEO Vichou yang baru.

Kyuhyun Cho, paska pesta pernikahan yang kami langsungkan di Singapore dia mendapatkan tutorial selama tiga tahun untuk memulihkan ingatannya. Memulai dari nol, Hyun tidak pernah menyerah untuk mempelajari bidang business kembali. Selama dalam masa tersebut, Vichou Insurance Singapore dijabat sementara oleh Aiden Oppa.

Aku menyadari bahwa suamiku sangat tampan, namun selalu saja terdapat momen yang membuatku jengah dan memutar mataku. Seperti saat dia keluar dari Lamborghini-nya dengan seringaian khas, style casual plus sun glasses yang membentuk lekuk hidung mancungnya dengan pas. Telingaku selalu dapat mendengarkan alunan ‘Paradise’ yang sama seperti saat F4 muncul di layar kaca.  Para perempuan dan wanita menjatuhkan rahangnya, membulatkan mulut, dan memelototkan mata untuk mengaguminya.

Namun alunan paradise menyurut seketika dengan akhiran bunyi seperti pada kaset rusak saat sebuah suara dengan lantang memanggilnya. Rahang-rahang terkatup, mata-mata mengerjap tak percaya, dan tangan-tangan menutup mulut ketika teriakan ceria menyapanya. “Daddy!” Oh gosh! Pemandangan ini selalu membuatku geli. Sorry ladies, but he had has a four-year old son. No matter what, I love him, Kyuhyun Cho. I always have and always will.

 

END*

nael2

146 thoughts on “[Epilog] The Gift

  1. NAEL IS SO CUTE.
    nael bener bener hadiah buat kyuhyun sama lynn.kyuhyun jadi lebih dewasa setelah nael lahir.ini akunya jadi penasaran sama kisah cintanya donghae sama wanitanya itu.berharap ada other storynya eww

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s