Behind Those Beautiful Eyes [3]


BTBE 5

Behind Those Beautiful Eyes [3]

The dark side of me

Mataku secara awas menelusuri setiap baris informasi yang tercantum di layar tablet sebagai hasil penelusuranku atas Kanada. Negara Amerika Utara ini awalnya diduduki oleh orang aborigin, namun di awal abad ke-15 beberapa koloni Eropa, seperti Inggris dan Prancis, mulai merambah dan mendominasinya. Akibat dari hal tersebut, Kanada menggunakan Canadian English dan Canadian French sebagai bahasa resmi. Multikultur inilah yang membuat negara ini unik.

Aku menangkup jemariku yang tertelungkup di meja begitu suatu sumber menghentikan penelusuranku lebih lanjut. Sayangnya negara konstitusi monarki yang dikepalai Ratu Elizabeth II ini melegalkan pernikahan sesama gender sejak tahun 2005. Tepatnya tanggal 20 Juli 2005, Kanada menjadi negara keempat di dunia yang mengakui pernikahan sesama jenis.

Kyuhyun memang hanya mengangkat bahunya ketika aku menanyakan perihal Kanada. Mulutnya tidak bercakap lebih lanjut mengenai negara ini, namun otot rahangnya mengencang selama kami dalam perjalanan. Suatu gesture yang mengoposisi sikap tak acuhnya.

Aku tidak pasti dengan perasaan yang saat ini merambati hatiku. Tidak peduli adalah sikap yang biasanya kutonjolkan untuk menghadapi Siwon maupun Kyuhyun. Akan tetapi di sisi lain, aku tidak memungkiri bahwa secuil rasa itu ada; kecewa.

Suatu sodokkan kecil di lenganku yang membuatku tidak bergeming memupus perenunganku. Aku menoleh ke sisi kiri dan mendapati raut masam Luhan. “Ada apa?” lirihku menyadari kami masih berada dalam rapat.

Luhan menggerakkan bola matanya ke arah depan untuk menunjukkan hal yang mengganggunya. Dia berdecak kecil dan menunduk untuk mengamati sketsa desainnya.

Menolehkan kepala mengikuti arah mata Luhan, aku mengurut kening. “Maaf,” ujarku sebagai penyesalan karena tidak berkonsentrasi pada presentasi yang tengah berlangsung. “Istirahat 15 menit,” putusku kemudian.

Kusorongkan punggungku pada sandaran kursi dan kutekuk leherku beberapa kali ke sisi berlawanan untuk merilekskan diri. Kakiku yang terkilir menyebabkanku tidak bisa bebas untuk keluar ruangan mencari udara segar. Kumatikan sumber tenaga tablet untuk memperoleh fokusku kembali.

“Setelah pagi ini menghebohkan kantor dengan suami tampanmu,” Luhan menekan kata terakhir, “yang rela memapahmu hingga ke ruangan, saat ini pikiranmu masih berpaut dengannya, huh?”

Aku memijit-mijit keningku dan mengabaikan sindiran Luhan.

“Apa jadinya jika kakak lelakimu yang besok mengantarkanmu ke kantor? Semua karyawati pasti dengan kilat meninggalkan tempatnya untuk berbaris mengagumi kakakmu!”

Aku mendengus untuk menanggapi celaan Luhan. “Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi meskipun bumi terbalik!”

Oh, jangan menyuguhkan pernyataan hiperbolis, Youngie.”

Aku menarik sudut bibirku secara samar. Kakak lelakiku yang elok itu tidak akan sudi menyingkap lengan bajunya untuk mengurusi diriku. Khalayak saja yang dibutakan dengan lakon keluarga harmonis kami. “Sudahlah, aku tidak berminat untuk menggunjing urusan keluargaku,” potongku sebelum Luhan menyusulkan sindiran anyar.

“Aku heran mengapa kau selalu menutup diri mengenai keluargamu. Padahal aku ingin suatu saat memotret ‘The gorgeous Choi’s siblings’.” Badan Luhan memiring beberapa derajat ke arahku.

“Berharap saja itu terjadi dalam mimpimu.” Tanganku meraih gulungan sketsa yang kupersiapkan untuk konsep Disneyland Korea Selatan. Beberapa wahana paten yang  harus ada dalam area Disneyland memerlukan konsep lanjut mengenai kesesuaian dengan lokasi. Melebarkan gulunganku, aku mencermati detail rancangan keseluruhan area taman bermain kelas dunia ini.

“Hei, bagaimana jika aku menawarkan tumpangan selama kakimu dalam perawatan?”

Tanpa menggerakkan kedua tanganku yang menjaga agar kertas sketsa tidak kembali menggulung, aku melirikkan mataku. “Aku tahu imbalan yang harus kubayar untuk jasamu. Maaf, aku tidak tertarik.” Lelaki ini pasti akan memintaku menjadi model  pribadinya sebagai imbal jasa.

Luhan menolakkan tangan kanannya di meja untuk memundurkan punggungnya melawan sandaran kursi. Memainkan pena di jemarinya, bibirnya mencebik. “Kau mematahkan impianku, Youngie.”

“Hentikan rengekkan bocahmu karena waktu istirahat telah habis, Xi Luhan,” tegurku dengan nada datar. Aku tidak begitu mengerti doktrin yang tertanam di otaknya sehingga terobsesi padaku atau pun kakakku. Melihat antusiasmenya menjadikanku sebagai model, aku menjadi berpraduga bahwa media berhasil mensugesti masyarakat Korea atas keharmonisan keluargaku.

Kutegakkan punggungku bersamaan dengan tiga rekanku yang lain memasuki ruang meeting. Kuambil pensil untuk menandai beberapa hal penting yang kulupakan. Aku menggambar rancangan kasar peletakkan beberapa wahana dan membandingkan dengan Disneyland di beberapa negara. “Aku menggeser area Mickey’s Toon Town lima puluh meter ke utara untuk memperlebar area instalasi pipa air. Monorel yang terpasang di permukaan akan memberikan tekanan kuat dan lunaknya tanah tidak bisa mengamankan pipa air yang tertanam di bawahnya.”

“Aku setuju dengan ide itu. Seiring banyaknya pengunjung di musim liburan, beban pada transportasi monorel akan bertambah. Meskipun kita memadatkan tanahnya, aku tidak yakin pipa air dapat menanggung tekanan berat dari bobot monorel.”

“Bagaimana dengan desain logo Disneyland, Luhan-ssi?”

“Aku akan mempresentasikannya.” Luhan bergerak maju untuk menjelaskan desain logo Disneyland yang dikhususkan untuk Korea Selatan. Tentu saja dia hanya diperbolehkan menambah atau mengembangkan logo dasar, tanpa mengubahnya.

Dua jam ke depan, aku memusatkan perhatianku pada pembahasan proyek yang dikerjakan timku. Kami harus memertimbangkan detail pengairan lokasi, keleluasaan pengunjung untuk menggunakan segala fasilitas, dan yang paling utama adalah keselamatan setiap wahana.

#

Aku sedikit menyesal menolak tawaran tumpangan dari Luhan. Sudah lima belas menit berlalu dan aku masih bergeming di posisiku berdiri untuk mencegat taxi. Bodohnya diriku yang tidak melakukan panggilan di muka untuk memesan jasa ini. Mendengus sebal, aku merogoh posel di tas untuk menghubungi bagian sekretariat kantor yang bisa memberikanku nomor panggilan taxi.

Aku baru akan menyentuhkan ujung jari telunjukku pada kontak yang kutuju saat sedan bewarna metalik berhenti di sampingku. Kaca di bagian kemudi yang turun, segera memunculkan pengendaranya. “Kau ingin pulang, Miyoung-ssi?”

Kubungkukkan badanku untuk menyamakan pandanganku dengan tinggi sedan. “Annyeonghaseyo, Ahreum-ssi.” Dia adalah atasanku di perusahaan; Dae-A Construction Co, Ltd.

Ahreum mengamatiku secara keseluruhan untuk mengambil kesimpulan mengenai alasanku berdiri di sini daripada duduk manis di tungganganku. “Naiklah, aku akan mengantarkanmu.” Dia mengedik kepalanya ke arah bangku penumpang.

“Tidak perlu,” kuanjurkan kedua telapak tanganku terbuka untuk menolak.

“Kau tentu tidak sedang menunggu suami atau sopirmu bukan?” Keberadaanku di pinggir jalan seperti ini pastinya sudah memberikan gambaran mengenai apa yang kulakukan. “Naiklah. Jika kau merasa sungkan, aku bisa menurunkanmu di Assan.” Klinik Assan selain sejalur, letaknya hanya lima belas menit dari kantorku.

“Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tidak ingin merepotkanmu.” Aku memang berencana pergi ke rumah sakit, namun bukan berarti bersedia datang ke tempat kerja Kyuhyun.

Ahreum keluar dari mobil, kemudian menggandengku. “Sudahlah, kau tidak perlu khawatir akan merepotkanku. Kebetulan rumahku sejalur. Lagipula ada hal menyangkut proyek Disney yang ingin kutanyakan padamu.” Dia menuntunku menuju bangku penumpang di sebelah kemudi.

Aku ingin menarik diri, tetapi rasa hormatku pada Ahreum sebagai atasan mengurungkan niatku. Isu mengenai pekerjaan yang dia bawa membungkamku agar menuruti tawarannya. Aku tidak lagi berkutik saat dia memapahku mencapai sisi penumpang.

#

Dari berpuluh bahkan beratus klinik di Seoul, aku menyesal harus berakhir di Assan. Aku ingin mengumpat dan menyalahkan ketidakberuntunganku, tapi keberadaanku sekarang tidak memungkinkanku melakukannya. Berharap saja bahwa aku tidak lebih sial dari ini.

Oh damn it…” lirihku yang pada akhirnya tidak bisa menahan mulutku. Beberapa dokter dengan pakaian steril bewarna biru melewati koridor. Ayah mertuaku yang berada di ujung rombongan melepaskan masker wajahnya. Tidak perlu menebak lagi mengenai sosok yang berjalan di belakangnya, yang baru terlihat separuh badan.

Aku tidak ingin bertindak bodoh dengan bersembunyi atau pun mencoba berpaling karena beberapa perawat di sini mengenaliku. Kupasang badanku untuk menyambut pertemuan dengan mertuaku secara tidak sengaja. “Annyeonghaseyo, Abeoji.” Aku menekuk setengah badan untuk memberikan salam.

Oh, Youngie-ya.” Abeoji menghentikan langkahnya begitu pun beberapa dokter di belakangnya. “Apa yang membawamu kemari?” Tanpa menunggu jawabanku, Abeoji memutar badannya separuh putaran penuh untuk mencari sosok Kyuhyun di belakangnya. “Kalian ada janji?” sumringahnya.

Kyuhyun memandangku dengan tatapan tidak bersahabat hingga membuat kerut di antara kedua alisnya. Walaupun dia belum membuka masker wajahnya, namun aku seolah dapat melihat mulutnya bergerak mencaciku. “Ne, Appa. Young di sini untuk memeriksa kakinya yang terluka pagi ini karena ulahnya sendiri,” geram Kyuhyun dengan lambatan di akhir kalimat untuk menyindirku.

Oh!” Abeoji memaling perhatiannya kepadaku secara penuh. Agaknya beliau baru menyadari kondisiku. “Apa yang terjadi Youngie-ya?”

“Bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, Abeoji. Kyuhyun,” aku menggigit lidahku, “Oppa sudah memberikan pertolongan.” Kusorotkan pandanganku menantang Kyuhyun. Menambahkan senyum di akhir kalimatku, aku hanya ingin mengejek Kyuhyun.

Arraso. Lain kali lebih berhati-hatilah.” Abeoji memutar kepalanya ke belakang untuk menemukan Kyuhyun. “Kyuhyun-ah, kau periksalah Youngie lebih dahulu. Kita diskusikan operasi Tuan Seo Jun lain waktu.”

Kyuhyun mengangguk, namun matanya menatap awas kepadaku. “Ne, Appa.”

Abeoji menepuk ringan pundakku sembari berlalu diikuti beberapa dokter. Aku mengamati rombongan itu menjauh hingga menghilang di tikungan koridor.

“Kau ingin bermain-main denganku, Young?” bisikkan Kyuhyun di samping kepalaku membuatku sedikit terlonjak. Sebelum sempat bergerak menjauh, lenganku sudah dicekal olehnya.

“Percaya atau tidak, aku juga tidak ingin berada di tempat ini.” Aku menjaga rahangku tidak terbuka lebar saat menjawab retorik Kyuhyun.

Cish, kau tentu tidak berharap aku mempercayai alibimu, Young.” Dada Kyuhyun beradu dengan punggungku, sedangkan tangannya mencekal kedua lenganku. Tanpa aba, tubuhku kembali melayang di udara saat Kyuhyun membopongku dengan kilat. “Untuk permainan yang kau mulai sendiri, jangan menyesal atas kekalahan yang akan kau terima.”

Aku menoleh-nolehkan kepalaku saat merasa risih dengan apa yang Kyuhyun lakukan. Beberapa perawat yang sempat melihat kami bahkan tersenyum-senyum malu sambil berbisik dengan rekannya. “Kita tidak pernah tahu siapa pemenangnya sampai mencapai final, Hyunnie.” Kukencangkan cengkeraman tanganku di pundak Kyuhyun untuk menyatakan aku tidak kalah dengan intimidasinya.

Kyuhyun hanya menyeringai menanggapi balasanku. Dia berjalan sepanjang koridor, sebelum memasuki lift dan menyuruhku menekan angka 7.

#

Aku berdiam diri saat Kyuhyun membalut ulang pergelangan kakiku yang terkilir. Aku hanya mencoba menuruti perkataan Ahreum mengenai menerima bantuan orang lain. Kyuhyun tidak banyak cakap ketika bekerja, meskipun pasien yang ditangani adalah aku. Pakaian steril dan masker yang tadi dikenakannya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang tergulung lengannya.

Ada kala aku merasa bahwa Kyuhyun adalah pria normal pada umumnya. Akan tetapi imajiku rusak ketika aku diingatkan pada Siwon. Aku ingin mengetahui sejauh mana kedua pria metroseksual ini merencanakan masa depan mereka. “Apa yang Siwon miliki, yang tidak kau miliki, yang membuatmu begitu memujanya?”

“Apakah dia harus memiliki keunggulan lebih untuk membuatku memilihnya?” pertanyaanku berbalas pertanyaan lain dari Kyuhyun.

“Bukankah hal tersebut merupakan alasan fundamental seseorang pribadi untuk tertarik dengan pribadi lain?”

Kyuhyun menyelesaikan balutannya, sebelum memiringkan tubuhnya untuk berhadapan denganku yang duduk di ranjang pasien.  Ketimbang meminta bantuan perawat, dia menanganiku seorang diri. “Jangan termakan dengan opini publik, Young.” Dia membereskan peralatan medis yang tadi digunakan untuk merawat lukaku, kemudian meletakkannya di rak teratas. Setelah mendorong rak tersebut ke tepi, Kyuhyun kembali menghadapku. “Mereka bilang pasangan adalah seseorang yang dapat melengkapi kekurangkan kita.”

Aku mendengarkan pendapat Kyuhyun dengan memasang ekspresi datar.

Cish,” Kyuhyun berdesis ringan untuk melecehkan gagasan umum yang baru saja diucapkannya. “Kau terlalu naïve jika membawa opini tersebut dalam kehidupan keluarga kita, Young.”

“Maskulin dan feminin adalah dua sifat yang secara natural saling tarik menarik seperti saat kedua kutub berbeda bertemu, atau saling mengisi seperti zin dan zang yang bersinergi.” Meskipun cukup lama tinggal di US, aku tidak lantas membenarkan hubungan sesama jenis.

Kyuhyun terkekeh mendengar pendapatku hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Setelah didewasakan dengan kehidupan keras yang kau jalani, ekspektasiku padamu jatuh dengan pendapat lugumu, Young. Kupikir kau bisa menghadirkan sentimen berbeda untuk memaknai suatu percintaan. Nyatanya, tidak.”

Aku menarik sebelah sudut bibirku untuk merespons cibiran Kyuhyun. “Aku lebih memilih menjadi lugu ketimbang menjadi bejat seperti kalian. Percintaan yang kau anut, bagiku tidak lebih dari sesuatu yang menjijikkan.”

Rahang Kyuhyun mengeras seketika begitu aku menyelesaikan kalimatku. Dia mencodongkan badannya secara pelan ke arahku. “Kau ingin kutunjukkan hal yang lebih menjijikkan dari apa yang kulakukan, Young.” Menyeringai tepat di depan wajahku, Kyuhyun semakin menyudutkanku.

Stay away, Kyuhyun Cho!” ucapku rendah dan tegas. Kedua tanganku meremas sprei untuk menyembunyikan ketakutanku pada kaumnya.

“Kenapa aku harus melakukannya, Young?” Napas hangat Kyuhyun menerpa wajahku.

Jantungku menggila dengan segera saat punggungku menabrak dinding. Irama napasku menjadi kacau dengan embusan pendek-pendek. “Back off,” mintaku dengan suara berbisik. Kurasakan keringat mulai terbentuk di keningku, tepat di atas kedua alisku.

Let’s start the show, Young,” bisik Kyuhyun di depan bibirku.

Bibirku bergetar ringan dengan hawa yang pria ini embuskan. Pandanganku berputar secara cepat hingga menghilangkan visualisasiku atas Kyuhyun dan ruangannya. Kepalaku begitu pening saat putaran tersebut tak jua berhenti.

Eomma…” rintihku ketika tubuh ringkih ibuku muncul di penglihatanku. Bercak darah di sudut bibirnya belum sepenuhnya mengering. Luka lebam yang membiru memenuhi wajah dan permukaan tubuhnya yang hampir seluruhnya terpapar. Beberapa sayatan di kulit putihnya meneteskan darah segar. Kelembaban udara di ruangan yang memerangkap kami tidak membuatnya lebih baik.

“Pergilah keluar, Youngie,” suara lemah eomma. Dia berusaha mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat.

Aku terpaku di tempatku seraya meremas jemariku yang begitu dingin. Ingin kuturuti perkataan eomma, namun tubuhku sangat kaku untuk digerakkan. Rahangku yang gemetar membuatku ingin menangis.  Aku mematung memandangi sosok eomma hingga seseorang memutar tubuhku. Dia menekan kepalaku ke perutnya dan menaruh sebelah tangannya di bahuku. Meredam tangisku di kemejanya yang berbau wangi, aku merasa terlindungi.

Napasku melambatkan iramanya menjadi lebih teratur. Jantungku tidak lagi mendebarkan sentakkan yang menyakitkan. Jemariku yang meremas sprei merilekskan ruas-ruasnya hingga tak lagi menegang. Bibirku yang tadinya bergetar memerangkap kelembutan yang kulumat dengan pelan. Sesuatu yang lunak melumat bibir atasku dengan pelan dan kontinu.

Aku tertarik ke alam sadarku dan membuka mata secara awas ketika kelembutan tersebut lepas dari bibirku. Kutajamkan konsentrasiku untuk menguasai diri dan mengerti akan sesuatu yang sudah terjadi.

Kyuhyun mengusapkan ibu jari di permukaan bibirnya. Dia memberikanku tatapan penghinaan. “Apa yang bisa kau banggakan dari kaummu, Young?” Melipat kedua tangan di depan dada, Kyuhyun memandangku angkuh. “Tidak ada hal spesial yang bisa kuambil dari kalian. Jika kau mengalamatkan kata menjijikkan padaku, maka kata apa yang lebih rendah untuk mendiskripsikan kaum kalian yang dengan suka rela melemparkan tubuhnya padaku, Young?”

Aku mengupas kesadaranku untuk menelaah ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun mencondong ke arahku lagi. “Lihat betapa mudahnya dirimu membalas ciumanku, Choi Miyoung,” bisiknya. “Kau tidak ubahnya seperti kaummu yang murahan.”

Aku mendorong pundak Kyuhyun dan meloncat turun dari ranjang. Hampir-hampir tubuhku hilang keseimbangan karena kakiku yang masih sakit. Tidak peduli kondisiku yang pincang, aku mencoba keluar dari ruangan Kyuhyun. Kutahan rasa ngilu luar biasa yang menyerang pangkal kakiku ketika dengan tertatih-tatih, aku menyeret langkahku. Kubawa kakiku kemana pun asalkan menjauhi ruangan Kyuhyun.

Air mataku menggenang di permukaan bola mata sebab rasa sakit di pergelangan kaki. Aku terus memaksakan langkahku dengan menumpukan sebelah tanganku di dinding. Jarak yang normalnya kutempuh dengan kilat, seolah menjadi berlipat jauhnya.

“Youngie?” suara yang kukenal membuatku lega.

Aku menganjurkan sebelah tanganku untuk meminta tolong Jessie yang tidak sengaja berpapasan denganku. “Please, take me out of here,” lirihku ketika Jessie melingkarkan tangannya di pinggangku untuk membantuku berjalan.

Tanpa banyak bicara, Jessie mengambil tanganku dan mengalungkan melalui pundaknya. Dia memapahku berjalan melalui koridor rumah sakit dan turun ke lantai 5 dimana ruangannya berada.

Jessie mendudukanku di kursi, kemudian mengecek kondisiku. “Apa yang terjadi padamu, Youngie?” Perhatiannya teralih pada balutan di kakiku.

Jemariku saling meremas ketika pandanganku kembali mengabur. Sebuah mata pisau silet nampak dari lubang tempatku mengintip. Ujung puntung rokok yang bewarna merah membara mengepulkan asap tipis. Teriakan eomma menggaung di ruang sempit yang kuintai saat bara puntung rokok melesap di kulit pahanya. Tamparan keras disertai bentakkan kasar seorang pria membuat eomma-ku membungkam mulut. Aku bisa mengenali sosok berjaket hitam yang memunggungiku dari suaranya. Lelaki itu seharusnya menjadi pelindung keluargaku.

“Youngie…Youngie…” tepukkan halus di pipiku dan suara wanita yang familier menelusupi kesadaranku. Aku dapat melihat raut Jessie dan suaranya yang terdengar begitu jauh dari jangkauanku. Mulutku ingin berteriak meminta tolong, namun rahangku tidak mau membuka. “Dimana kau menaruh penenangmu?” ucap Jessie panik.

Aku merasa sangat lemah untuk alasan tertentu. Udara yang menyentuh kulitku terasa begitu dingin hingga membuatku memeluk ragaku sendiri. Kugerakkan leherku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jessie. Kututup mataku untuk melenyapkan bayangan pisau silet yang menandas kulit pucat eomma. Meraung dengan rendah, aku berupaya mengusir kelabu yang berseliweran di pikiranku.

Aku tersiksa dengan setiap detik yang terlampaui sebelum suatu cairan kurasakan masuk ke tubuhku. Pembuluh-pembuluh darahku terasa meregang ketika cairan tersebut terbawa dalam sistem peredaran darah untuk menyebar ke seluruh sel-sel tubuhku. Sensasi relaksasi membuatku hangat kembali. Aku mengatur napasku untuk memperoleh penguasaan diri.

“Youngie, kau bisa mendengarku?”

Kubuka mataku secara perlahan dan kuanggukkan kepalaku. Kepalaku tergolek di puncak sandaran kursi. Ketenangan yang menjalar di dalam badanku meredakan rasa gelisah. “Berikan aku waktu sepuluh menit, Jess.” Aku kembali memejam setelah mengucapkan permintaan tersebut.

Telingaku dapat mendengar ocehan tak jelas Jessie. Agaknya dia memeriksa luka kakiku. Rasa sakit di bagian pergelangan kakiku saat Jessie mengurutnya tidak begitu kurasakan.

“Bukalah matamu, kau tidak apa-apa.”

Aku menuruti perintah Jessie, kemudian menegakkan punggungku. Kutumpukan kedua tanganku di kursi untu membantuku membenahi posisi duduk.

“Apa yang lelaki brengsek itu lakukan padamu?” Jessie bersedekap dan memasang raut wajah geram.

Mengusapkan telapak tangan ke kening, aku memundurkan helaian poniku yang basah karena keringat. Aku tidak bisa mendiskripsikan secara gamblang apa yang baru saja kualami karena kesadaranku saat itu menipis. “Jess, berikan aku dosis sedatif yang lebih tinggi.” Aku menghindari pertanyaannya.

Damn you, Youngie!” Jessie mengurai lipatan tangannya, lalu menyentakkan ke udara. “Inilah alasan aku menentang pernikahanmu. Akan tetapi otakmu terlalu bebal untuk mencerna laranganku!”

Aku sudah terbiasa dengan ucapan kasar Jessie. “Aku butuh lebih dari sekadar benzodiazepines, Jess.” Kuabaikan kemarahannya.

“Aku bukan ahli jiwa, Choi Miyoung! Jangan harap aku memberikanmu resep sedatif lebih dari apa yang kau terima!”

Aku menyeringai merespons bentakkan Jessie. “Akan tetapi kau menanganiku dua tahun belakangan.”

“Dengar, Youngie,” Jessie memegang kedua pundakku, “jangan coba-coba mengkonsumsi penenang melebihi dari apa yang kuberikan. Jika kau tidak punya seseorang untuk kau jadikan alasan hidup, maka hiduplah untuk dirimu sendiri.”

Jessie selalu mengulang statemen tersebut ketika aku diambang batas keletihanku terhadap kehidupan yang kujalani. “Apa gunanya aku hidup untuk diriku sendiri, Jess?”

Kedua tangan Jessie kian mencengkeram pundakku. “Aku tidak perlu meregenerasi ulang otak tololmu, Youngie. Kau punya segalanya di tanganmu, terlebih kau punya harga diri.” Jessie menyentakkan pundakku dan melepaskan cekalannya. “Akan kupanggilkan taxi untukmu.”

#

Aku membuka kotak surat dan menenekan puluhan surat di tanganku ke dada agar tidak terjatuh. Kusandarkan crutch penopang kakiku di dinding dan kutumpu seluruh bobot tubuhku di sebelah kakiku yang tidak terluka. Aku menggeser penutup panel kunci pintu, kemudian menekankan ibu jariku di permukaannya. Bunyi klik terdengar saat pemindai mengenali sidik jariku. Aku meraih kembali crutch tunggal yang kubawa, lalu mendorong pintu agar terbuka.

Kujatuhkan surat-surat di dadaku pada meja makan dengan sembarang. Aku berjalan mencapai kulkas untuk menemukan air yang dapat menghilangkan dahagaku. Setelah menuangkan air putih yang dingin, aku kembali ke meja makan untuk memeriksa beberapa surat yang masuk. Kusingkirkan surat-surat yang bukan termasuk prioritas.

Aku menegakkan kepalaku dan mengalihkan perhatianku pada telephon yang berdering di atas counter dapur. Memanjangkan tanganku, aku mencoba untuk menggapai gagang telephon tanpa beranjak dari tempatku duduk. Aku memekik ringan dengan bangga saat meraih telephon tersebut. “Gezz…,” namun euforiaku tak bertahan lama saat tanganku yang lain menyampar air minumku.

Yeoboseyo.”

“Youngie?”

Aku mengerutkan alisku ketika suara eomma terdengar di seberang jaringan. “Ne, eomma.” Tangan kiriku kugunakan untuk menahan telephon, sedangkan tangan kananku membereskan beberapa surat yang basah karena tumpahan air minum.

“Kau tidak menyanding ponselmu? Eomma menghubungimu nomor ponselmu beberapa kali.”

Kutepuk dahiku dengan kepalan tangan ketika mengingat tasku yang tertinggal di ruang kerja Kyuhyun. “Ponselku tertinggal di ruang kerja Kyuhyun. Mungkin Kyuhyun sedang menangani pasien sehingga tidak memerhatikan panggilan masuk di ponselku.” Aku mencerocoskan alasan sebelum eomma bertanya lebih lanjut.

Oh, arraso. Eomma menelphon untuk menanyakan perayaan ulang tahunmu, Chagiya.”

Sial! Aku bahkan melupakan hari lahirku sendiri. “Eomma, kau tahu aku tidak suka ulang tahunku dirayakan dengan pesta.” Setiap tahun aku selalu beradu argumen dengan eomma atau pun abeoji mengenai hal ini, namun selalu aku yang keluar menjadi pemenangnya. Meskipun begitu, eomma akan tetap mengadakan jamuan makan malam untuk kami sekeluarga. Mengingat status pernikahanku, mungkin eomma ingin mengundang keluarga Cho.

Eomma tahu, Youngie. Makan malam dengan keluarga suamimu tidak terhitung sebagai pesta, bukan?”

Bingo! Aku lebih tidak menyukai ide tersebut karena akan menimbulkan atmosfer panas antara aku, Kyuhyun, dan tentu saja, Siwon. “Eomma, eumm…” aku memeras ideku untuk menghindar. “Aku berencana merayakan ulang tahunku hanya bersama Kyuhyun,” kutekan kata ‘hanya’ untuk menyangatkan pernyataanku.

“Bagaimana jika—“

Aku menyisihkan surat terakhir yang permukaan amplopnya hampir basah seluruhnya. Kutarik salah satu pojok surat tersebut, namun karena kurang berhati-hati kertas amplopnya malah robek. “Darn it…” Mengibaskan tanganku, aku menarik surat tersebut hingga isinya menyembul keluar.

“Youngie, apa yang sedang kau lakukan?”

Eomma, keputusanku sudah final.”

Chagiya, eomma mengerti. Akan tetapi tidak bisakah kalian menyisihkan waktu sekadar—“

“Kumohon, Eomma,” aku menegakkan telunjukku sebagai penegasan, meski eomma tidak bisa melihatnya, “aku dan Kyuhyun akan disibukkan dengan perkerjaan untuk waktu ke depan. Jadi biarkan kami memiliki momen ini berdua.” Kutandaskan kebohonganku untuk meyakinkan eomma.

Arraso, Chagiya. Kalian berhak menikmati waktu bersama. Bersenang-senanglah,” helaan halus eomma terdengar, “dan saengil chukae uri Miyoung.”

Aku menutup panggilan tanpa menggagas ucapan selamat dari eomma. Meletakkan telephonku, aku kembali mengurusi amplop yang tidak sengaja sobek. Aku mengumpat kecil lagi saat membaca nama penerima surat. Sepertinya aku berada dalam masalah besar karena surat tersebut dialamatkan pada Kyuhyun.

Kutarik isi amplop keluar untuk menghindarkannya dari kelembaban. Bukannya menyingkirkan isi tersebut, aku malah memelototinya. Aku mencermati satu foto di tanganku, kemudian menariknya dan menyusupkannya di bawah untuk mengamati foto yang lain. Seorang wanita muda yang kutaksir berumur tiga sampai lima tahun lebih tua dariku menjadi fokus jepretannya. Wanita ini bahkan tidak menyadari bahwa dirinya dijadikan obyek foto. Berdasarkan hasil landscape yang luas, foto ini diambil dari kejauhan.

Aku menelengkan kepalaku ketika pertanyaan-pertanyaan berjubel memenuhi pikiranku. Kudekatkan foto wanita tersebut ke wajahku untuk mencermatinya lebih lanjut. Lamat-lamat aku menemukan kemiripan senyum wanita ini dengan…”Kyuhyun,” lirihku. Aku membereskan kekacauanku dengan cepat saat menyadari masalah yang kutimbulkan.

Aku berdiri dan berjalan tertatih untuk mencapai buffet. Menarik keluar laci, aku mengambil amplop baru dan memasukkan foto-foto tersebut ke dalamnya. Setelah memastikan surat tersebut rapi, aku menyembunyikannya di dalam laci. Aku tahu tidak memiliki hak untuk melakukannya, namun instingku mengatakan aku harus bergerak demikian.

#

Aku tidak menyukai alkhohol sebagai sedatif, namun malam ini rasanya aku terpaksa menggunakan zat ini. Pada kondisi normal, aku lebih memilih melampiaskan kerisauanku dengan berenang daripada meneguk berliter alkhohol. Mempertimbangkan luka di kakiku, aku terpaksa tidak melakukannya. Terlebih lagi, obat penenangku tersimpan di dalam tas yang tertinggal di ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun merupakan kebalikan dari diriku. Mengamati bermacam merek wine di bar mini kami, sepertinya dia penggemar berat minuman jenis ini.

Jemariku menelusuri botol-botol wine di rak untuk memperjelas pelafalanku pada namanya. Mengambil salah satu botol wine, aku meletakkannya di atas meja bar. Menekan pembuka tutup botol, aku memutarnya dan mencabutnya. Desis kecil keluar dari mulut botol.

Aku mengangkat wajahku ketika ketuk sepatu yang melawan lantai terdengar mendekat. Menahan tanganku untuk mengambil gelas, aku memandang tajam pria yang melewatiku. Kami hanya bertukar tatapan sengit tanpa sepatah ucapan. Di malam ulang tahunku, kehadiran kakak lelakiku adalah kado terburuk.

Hyung.” Kyuhyun menyusul dari belakang dan menepuk pundak Siwon. Gerakkannya membuat Siwon dan aku memutuskan kontak mata kami. Dia melirik kepadaku sejenak, sebelum mendorong kecil punggung Siwon.

Aku menyambar kasar leher botol wine, tanpa mengindahkan gelas yang tadinya ingin kuambil. Berhati-hati untuk menaiki tangga menuju rooftop, aku bertumpu pada crutch untuk menyeimbangkan langkahku.

Aku berdiri di sudut rooftop yang bersikuan dengan lantai dua. Mengangkat botol wine, aku meneguk isinya dalam jumlah banyak. Alkhohol yang kuat menyuruk rongga mulut dan hidungku hingga menimbulkan rasa sakit. Rasa pening menyergap seketika hingga membuatku limbung. Pada dasarnya, aku memang bukan peminum yang baik.

Kutolakkan pinggangku pada pagar pembatas dan kuturutkan tubuhku melorot mengikuti bentuk pagar. Menggunakan pangkal telapak tangan untuk memijit kening, aku merasakan kepalaku berputar. Kujatuhkan kepalaku ke belakang saat menyerah dengan sensasi memabukkan yang kuperoleh. Pada akhirnya, dengan seperti inilah aku melewatkan malam ulang tahunku ke dua puluh lima.

Sugesti Jessie untuk memaknai hidup terngiang lagi di telingaku. Dia berulang kali berkata bahwa aku memiliki segalanya; kecantikan, kemolekkan, kekayaan, kecerdasan…

Aku menolehkan kepalaku ke samping saat sorot lampu menyilaukan penglihatanku. Penerangan di kamar Kyuhyun yang menyala terang tidak tertamengi kain gorden sehingga merambatkan radiasinya. Akibat dari sisi yang berhadapan denganku merupakan kaca penuh, bukannya dinding bertembok, aku dapat melihat jelas postur Siwon, tanpa mengenakan atasan, berdiri di mukanya. Kyuhyun menyusul dari arah belakang dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Siwon. Oleh karena tinggi mereka yang hampir sejajar, Kyuhyun dengan mudah meletakkan dagunya di pundak Siwon. Dari gerakan bibir Siwon, aku tahu mereka sedang bercakap. Menilik raut kaku Siwon, agaknya sesuatu telah terjadi antara mereka.

…akan tetapi aku tidak memiliki hal penting di atas kesempurnaan yang disebutkan Jessie dan hal itu bernama kepercayaan.

Kepalaku menghianati hatiku untuk memaling ke arah lain daripada memerhatikan dua pendosa mengadu badan mereka. Semua kancing kemeja putih Kyuhyun sudah lepas dari lubangnya hingga menampakkan kulit tubuh pucatnya. Sebelum mengamati badan Kyuhyun lebih lanjut, Siwon memutar tubuhnya hingga menutupi tubuh Kyuhyun dari pandanganku. Kedua tangannya menangkup kedua sisi muka Kyuhyun, sedangkan bibirnya mencumbu bibir Kyuhyun.

Kututup kelopak mata untuk menghalangiku melihat lebih jauh. Hal fundamental yang membuat Kyuhyun menjatuhkan pilihan pada Siwon, bukan karena lelaki itu memiliki keunggulan yang dia puja, melainkan kepercayaan. Inilah alasan substansial dari perdebatan argumen kami siang tadi. Suatu rasa untuk mempercayai dan dipercayai oleh seseorang yang Kyuhyun dapatkan dari Siwon.

Aku membiarkan kesadaranku melayang mengikuti imajinasiku ke negeri utopia. Suatu tempat di mana aku dapat membagi resahku, tanpa takut orang lain akan menemukan kelemahanku. Aku mendekap tubuhku sendiri ketika anganku mulai menyeluduk ke alam bawah sadar. Kuukir senyuman di bibirku karena saat ini aku merasa aman…

#

Aku menarik leherku untuk meneleng kepalaku ke arah berlawanan. Kusedot udara dari hidungku dengan tarikan kuat dan merasakan sumbatan lendir di rongganya. Membuka kelopak mataku, aku menggeram kecil ketika rasa serak menggigit tenggorokanku. Kuangkat tanganku untuk mengurut kepalaku yang terasa pening, namun malah menemukan handuk lembab tertempel di sana. Mengambil handuk tersebut, aku menoleh ke sisiku, kemudian meletakkannya di dalam baskom. Aku menyangsikan Kyuhyun merawatku, tetapi tidak ada lagi orang yang menghuni rumah ini selain kami berdua.

“Sudah bangun, Nona muda?” sinisme yang sudah akrab di telingaku membuatku lebih terjaga. Mengamati figur Kyuhyun yang berjalan mendekat, aku menjumpai kantung matanya menghitam.

Aku berniat bangun dengan menumpu kedua sikuku di permukaan ranjang, namun rasa berat dan pening di kepalaku membaringkanku kembali. Mencium wangi maskulin Kyuhyun, aku menunduk dan mengamati pakaian yang kukenakan. “Holyshit!” ringisku saat mendapati kemeja bewarna pastel, yang kupastikan milik Kyuhyun, menggantikan pakaianku semalam.

“Aku menghormati privasimu dengan tidak mengobrak-abrik closet atau pun almarimu untuk mencarikanmu piyama.” Dengan santai Kyuhyun meletakkan nampan berisi sarapan, kutebak seperti itu, di sisi kiriku. “Seharusnya kau berterima kasih.”

“Haruskah aku berterima kasih kepadamu yang melucuti pakaian dan melihat tubuh telanjangku tanpa seizinku?”

Kyuhyun duduk di sisiku hingga bobotnya membuat tepi ranjangku mencekung. “Tidak, melainkan sebuah terima kasih untukku yang membiarkanmu mengenakan kemeja Dolce and Gabbana milikku sebagai piyama.”

Aku mengurut pelipisku kesal dengan seloroh Kyuhyun.

“Buka mulutmu.”

Aku bergeming dari perintah Kyuhyun. Agaknya Kyuhyun tidak benar-benar melihatku telanjang karena aku bisa melihat warna hitam bra yang kukenakan semalam sedikit menerawang dari balik kemeja. Itu berarti dia hanya menggantikan pakaian luarku. Aku tidak ingin bersikap naïve dengan berteriak kekanakan, kemudian memukuli Kyuhyun dengan bantal. Pada saat seperti ini, aku bersyukur Kyuhyun adalah pria gay.

“Buka mulutmu,” tegasnya untuk kedua kali. Kyuhyun menyorotkan lampu senter kecil ke arah wajahku.

Aku melengos ke samping karena silau dari pancaran lampu senter. Akan tetapi Kyuhyun menahan daguku dengan cepat. Dia menekan daguku ke bawah untuk memaksaku membuka mulut.

“Turuti perintahku jika kau tidak ingin melihatku berlama-lama di sini,” geram Kyuhyun.

Mau tidak mau, aku menyerah. Membuka mulutku dan menjulurkan lidahku keluar, aku membiarkan Kyuhyun memeriksa kondisiku. Berdasarkan rasa sakit di kerongkonganku ketika aku bicara dan menelan ludah, agaknya aku terkena radang.

Kyuhyun mematikan senter, kemudian meletakkan benda tersebut di meja. “Puaskah menyiksa diri dengan tidur di luar pada suhu udara seperti ini, huh?” sarkasme Kyuhyun yang tidak kuindahkan. “Lagipula siapa yang mengizinkanmu menghabiskan separuh lebih burgundy milikku?”

“Akan kuganti berapa pun harganya,” suaraku menjadi parau ketika aku mengeraskannya. Rasa menusuk menyambangi tenggorokanku karena memaksakan diri berteriak.

Cish,” Kyuhyun menyeringai untuk meledekku. Dia memasang stetoskop di telinganya, kemudian menyentuhkan ujungnya di dadaku. “Tarik napas, kemudian embuskan secara pelan.”

Aku menuruti perintahnya agar terhindar dari adu mulut.

Kyuhyun menyudahi pemeriksaannya padaku. Dia mencabut dan meletakkan stetoskopnya. “Kau memiliki alergi terhadap antibiotik?”

“Tinggalkan aku sendiri. Itu lebih dari cukup untuk mengobatiku sekarang.” Aku sedang malas meladeni ucapan dan sindiran Kyuhyun.

“Jangan membuatku mengulang pertanyaan yang sama setiap kali aku bertanya, Young!”

Aku berdesis untuk menjawab bentakkan Kyuhyun. “Tidak! Aku tidak memiliki alergi.”

“Baguslah, kau bisa meminum obat yang sudah kusiapkan di nampan.” Kyuhyun beranjak dari tempatnya. “Kubawakan serta tasmu yang tertinggal di ruanganku.” Dia menunjuk tas burberry yang tergeletak di kursi riasku. Melenggang meninggalkan kamar, Kyuhyun menyaku kedua tangan di celana denim yang dikenakannya. “Ah, satu lagi,” dia memutar badan menghadapku, “Hyung meletakkan kado ulang tahunmu di sana.” Kyuhyun menarik sebelah tangannya keluar dari saku untuk menunjuk sisi kananku.

Hubunganku dengan Kyuhyun memang tidak harmonis, namun untuk kebaikannya telah merawatku, aku tetap tahu cara berterima kasih. “Hyunnie,” kupanggil dia sebelum benar-benar keluar dari kamarku, “gomawoyo.”

Kyuhyun menahan langkahnya tanpa menoleh kembali padaku. Punggung tegapnya bersemuka denganku. “Saengil chukae, Cho Miyoung.” Dia menegakkan lehernya untuk mengangkat kepala. “Lain kali kita perlu bicara.”

Aku tertegun sejenak dengan nama depan yang dialamatkan padaku, namun nada dingin di kalimat terakhir Kyuhyun menghapus imajiku untuk membuat hipotesis lanjut. Aku menunggu hingga pintu tertutup sebelum menjangkau kotak kecil bewarna biru dengan pita senada di samping kananku. Membuka kotak tersebut, aku menjumpai buah cemara yang mengering.

Mengangkat tinggi buah tersebut, aku mengamatinya lebih dekat. Penglihatanku memutih, kemudian menampakkan kain bewarna merah jambu pucat dengan renda di tepinya. Aku begitu takjub dengan kerapatan dari rajutan benang-benang hingga membentuk gaunku. Menggerakkan tangan mungilku, observasiku beralih pada kulitku sendiri. Gurat-gurat tipis yang dipahat sang Pencipta di permukaan kulitku begitu indah.

“Youngie…Youngie…”

Aku berusaha mengabaikan guncangan kecil di bahuku, namun suara merdunya saat memanggilku membuatku menyerah. Senyum lebar seorang anak laki-laki menyambutku saat aku mengangkat wajah.

“Lihat!” Anak laki-laki itu menunjukkan sesuatu.

Aku menahan bahuku tetap melorot dan punggungku tetap membungkuk untuk menunjukkan ketidaktertarikanku pada benda yang dia bawa. Aku sama sekali tidak memedulikan bentuk unik buah cemara yang dianjurkan ke mukaku. Senyum rupawan anak lelaki itu lebih menarik perhatianku. Perlahan kuangkat tanganku untuk menampik buah tersebut.

“Youngie…”

Aku tidak membuka mulutku ketika mendengar nada sedih anak lelaki itu. Aku bahkan tidak membuka mulutku untuk berkomunikasi atau berceloteh. Memandang intens anak itu, aku ingin dia tersenyum lagi. Akan tetapi harapanku tidak terwujud karena seseorang menarikku, kemudian mendorong kursi rodaku menjauhi anak lelaki tersebut. Aku tidak menyempatkan diri untuk menoleh karena aku lebih menyukai ketenangan yang tercipta atas kebisuanku.

Visualisasiku kembali pada buah cemara yang kupegang. Aku menurunkan buah tersebut, lalu meletakkan kembali ke kotaknya. “Choi Siwon…” desisku lirih untuk melafalkan nama anak lelaki dalam fantasiku.

TBC*

Glosarium:

Sedatif: atau sedative (dalam English) adalah obat penenang

Benzodiazepines: salah satu merek dagang obat penenang

Substansial: bersifat inti, sesungguhnya

Burgundy: adalah wine yang dibuat di daerah Burgundy, Prancis bagian timur.

Note:

I’m sorry for making you waiting too long. I tried my best to finish this chapter. Semoga update kali ini bisa menjadi pengantar manis hari rayamu.

Dan maaf, karena koneksi internetku tersendat, permintaan password ALC 12 belum bisa kupenuhi. Aku tidak tahu untuk berapa lama akan menunda permintaan password karena selain alasan tersebut, untuk bulan ini aku disibukkan dengan finalisasi thesisku. Kemungkinan akan segera ku update yang skip version saja, sehingga kalian tidak perlu meminta password.

And, tell me about your feeling after read this chapter ^^

Kami, Lentera Jingga:

Mengucapkan selamat Idul Fitri 1434 hijriah. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

 Pic Spam:

btbe 3

277 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [3]

  1. array says:

    Aku penasaran kenapa namanya klinik assan? Bukan RS assan??
    Aku suka kata2 jessica yg ini “Jika kau tidak punya seseorang untuk kau jadikan alasan hidup, maka hiduplah untuk dirimu sendiri.” Trauma miyoung kayaknya parah sekali.. sampai pake obat penenang gitu??
    Jangan bilang di foto itu kakak kyuhyun??
    Kok Aku ngerasa kyu sama siwon itu gmana ya jelasinnya. Mereka berdua tu mungkin gak sih Cuma saling jadi tempat pelarian aja, gak benar2 cinta, bisa aja kan mereka berdua salah mengartikan perasaan mereka berdua???
    bagian lucu disini pas miyoung ngecek pakaiannya yg diganti sama kyu hahaha:D
    aku ngerasa disini siwon itu enggak benci sama miyoung..

  2. sparkyukyu says:

    bingung dengan kyu. Kadang dia keterlaluan dengan miyoung tpi bisa jga sangat perhatian.
    Aku kasihan dengan miyoung, nampaknya dia trauma dengan ayahnya sampai harrus mengonsumsi obat penenang.
    Dan apa maksud siwon memberikan kado buah cemarah kering?
    Next…..

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s