[Skip Version] A Lovely Coincidence 12


ALC final 2

A Lovely Coincidence [Shot: 12]

 

Arsvio | Kyuhyun Cho, Adelynn Lee, Daehyun Cho | PG-15

Menikmati sapuan lembut angin yang membelai wajahku, aku terpaku menatap aktifitas di aliran sungai Thames. Merenung dengan menatap riak sungai terpanjang di England ini menjadi rutinitasku selama setahun di London. Walaupun air sungai tidak bergelombang, namun ketenangannya tidak menular padaku.

Paska menjalani pembedahan, aku divonis mengalami retrograde amnesia yang menjadikanku lupa pada beberapa hal di masa lalu. Aku juga tidak tahu sampai jangka berapa lama bisa mendapatkan ingatanku kembali. Dari sekian memori yang terhapus, aku menyesal salah satunya adalah Adelynn Lee.

Selain amnesia, pembedahan berdampak pula pada penurunan kognitifku; daya pikir, kemampuan berbahasa, dan cara berpikir. Pada awalnya, aku sangat kesulitan memilih kata untuk mengekspresikan pikiran dan keinginanku. Konsentrasiku akan pecah jika beban multi tugas diberikan berbarengan. Kemampuan pemahaman dan penyelesaian masalah juga mengalami kemunduran cukup berat.

Pemulihan operasi hanya memakan waktu satu bulan, namun hal terberat adalah dampak paska operasi. Aku menjalani berbagai terapi untuk memulihkan daya ingat dan kemampuan kognitif. Meskipun mengalami kemajuan cukup pesat, namun aku belum mendapatkan diriku seperti semula sebagai seorang Kyuhyun Cho.

“Kau sudah di sini, Hyung?” Daehyun bergabung denganku di bangku. “Kutinggalkan dia di apartemenmu. Dia butuh waktu untuk menyendiri.”

Aku memalingkan kepalaku pada Daehyun. Wajah yang kukenal penuh senyum dan bersahaja, saat ini tergelayuti oleh mendung. Sebagian kognitifku memang menurun, namun aku masih bisa mengenali bebannya menggunakan rasaku.

“Aku tahu alasanmu meninggalkannya.” Daehyun mengumbar pandangannya pada arus sungai yang mengalir tenang. “Aku juga tahu alasanmu menjaga informasi mengenai keadaan dan keberadaanmu darinya.”

Aku menunduk dan mencermati kalimat Daehyun. Menelusuri diriku di masa lalu, aku mencari celah untuk menemukan cintaku untuk Lynn.

“Tapi akulah yang menyaksikan bagaimana dia terpuruk menyesali kepergianmu.” Mimik Daehyun menjadi begitu kaku saat mengatakan kalimat tersebut. “Akulah yang ikut merasakan kesedihannya saat menanggung rindu padamu.”

Aku memejamkan mataku dan mengobrak-abrik hatiku untuk menemukan perasaan yang dialami Lynn. Setiap hari secara perlahan jantungku memberikan debaran yang menghentak setiap aku menatap beratus gambar dirinya di dinding kamarku. Saat pertama kali kembali ke Singapore setelah menghilang, aku menemukannya meringkuk di closet. Hatiku terasa didera arus yang sangat kuat saat mengamati kulit wajahnya yang pucat dengan bekas air mata.

“Aku tahu kau tidak ingin membebani dirinya dengan kondisimu, tapi menghilang darinya tanpa jejak juga bukan pilihan bijak.”

“Kau jatuh hati padanya, Daehyunnie?” kalimat tanya ini meluncur begitu mudah dari mulutku. Menilai sikap dan caranya melindungi Lynn, aku menduga sedikit banyak perasaan itu terasah.

Daehyun hanya menyeringai, kemudian menghela napas dengan halus. Dia menunduk memerhatikan pola blok yang menyusun trotoar. “Rasaku tidak akan mengubah apa pun.”

Aku seolah merasakan sesuatu menusuk tenggorokanku ketika mendengar pernyataan implisit Daehyun. Usahaku untuk mengaitkan satu per satu kenangan mengenai Lynn mulai membuahkan hasil, namun aku tetap sadar keterbatasanku. Aku bukan Kyuhyun yang memimpin anak cabang Vichou Finance dengan cemerlang, aku hanya pria yang mengalami disfungsi otak. “Jika—“ aku memaksa kata yang kurangkai keluar, “—aku menyerah dan tidak kembali, apakah kau akan menggapainya?”

Daehyun melenguh untuk mencibir. “Jangan membuat pengandaian yang bisa menyurutkan ideologimu, Hyung.” Kedua tangan Daehyun menumpu di paha dan menjadi topangan dagunya. “Katakanlah aku seorang determinis untuk hal ini.”

Menelengkan kepalaku, aku tidak mengerti pilihan kata yang digunakan Daehyun. Mungkin dia terbiasa berbicara seperti ini pada diriku yang lama. Menyadari kebingunganku, Daehyun tersenyum.

“Hatiku adalah milikku, namun pada siapa hati ini terpaut ada di luar kendaliku. Adelynn memang bukan pribadi yang terbuka dan mudah untuk disukai. Butuh waktu untuk memahami dan mendapatkan kepercayaannya. Sayangnya waktu itu secara tidak langsung kau berikan padaku. Dan aku tidak bisa menghindar untuk terjatuh dalam pesonanya.”

Kelugasan Daehyun memberikan desir pahit di kerongkonganku. Rasa bersalahku terhadap orang-orang terkasihku bertumpuk. “Kau mencintainya?”

Daehyun terkikik ringan untuk suatu alasan yang tidak kumengerti. Agaknya dia menertawakan aku dan dirinya. “Aku tidak tahu ingin kunamakan apa rasa ini. Jatuh cinta pada tunangan hyung-ku sendiri menempatkanku seperti seorang pengkhianat.”

“Kau ingin aku mundur?”

“Jikau kau mundur, apakah itu menjadi jaminan bagiku untuk bisa mendapatkan Lynn?”

“Setidaknya jika bersamamu, Lynn mendapatkan pria sempurna.” Aku mengepalkan tanganku di atas paha. Perasaan pilu menyambangi hatiku lagi.

“Darimana kau tahu aku adalah pria sempurna yang dibutuhkan Lynn?”

Memalingkan wajahku ke arah lain, aku ingin mengakhiri permbicaraan ini. Saat ini rasa benci pada keterbatasanku terakumulasi di ubun-ubun. Aku pernah berjanji untuk tidak menyesali jalan yang kuambil, namun hari ini aku ingin memundurkan waktu. Andai saja aku mati, Daehyun dan Lynn tidak perlu tersiksa seperti ini.

Hyung, aku tidak akan minta maaf atas rasaku untuk Adelynn. Kuanggap hal ini sebagai kecerobohan manusiawi yang kau lakukan di masa lampau.”

Kesalahanku yang disebut Daehyun sebagai hal manusiawi nyatanya melukai orang-orang yang berharga bagiku. Aku ingin mundur, namun bagian lain diriku menahan niatku. “Untuk kesalahan itu, akulah yang seharusnya minta maaf.”

“Seiring waktu aku yakin dapat menetralisir rasaku, namun aku tidak yakin kau bisa melakukan hal yang sama. Dia kebutuhanmu, Hyung.” Daehyun menghentak dan berdiri. “Satu lagi—“

Aku mendongak dan menatap Daehyun. Meskipun belum kutemui seluruh rasaku untuk Lynn, namun alam bawah sadarku membenarkan kalimat Daehyun. “Apa?”

“Ide menjadi sopir dan sakit perutmu benar-benar konyol!” Daehyun meninju pundakku.

Mau tak mau aku terkekeh. “Menurutmu, apa yang mampu seorang Kyuhyun lakukan jika berada dalam situasi seperti itu?”

“Itu adalah teka-teki yang harus kau pecahkan sendiri.” Mengangkat tangan, Daehyun berjalan mundur. “Good luck.” Berbalik dan merentang tangan, dia berteriak lantang. “I’m brokenhearted!”

***

Aku mengetuk kamar apartemenku, kemudian memutar kenop untuk membuka pintu tanpa menunggu jawaban. “Hi.” Kusapa Lynn yang nampak kaget dengan kemunculanku. Berjalan mendekat, aku duduk di sebelahnya. “Do you know? this picture also my favorite.” Aku menunjuk foto di tangan Lynn. Sebuah foto dirinya yang tengah tersenyum hingga memamerkan lengkung mata bulan sabit.

“Darimana kau mendapatkan foto diriku sebanyak ini?” Lynn memandang sendu foto-fotonya yang kutempel di dinding kamar. Hampir-hampir foto-foto tersebut memenuhi dua sisi dinding.

Aku membuat suatu video rekaman mengenai keluargaku, tunanganku, dan segala perasaanku sebelum melakukan pembedahan. Menyadari telah melupakan hal penting, aku meminta Daehyun untuk membantu memulihkan ingatanku. “Daehyun mengirimkannya padaku.”

So this past year, Daehyun became your spy, didn’t he?”

Aku mengedikkan bahu ringan untuk membenarkan. Kuraih foto yang berada di tangan Lynn, kemudian meletakkannya di meja. Mengulurkan tanganku, aku berharap Lynn mau menyambutnya. “Let’s have evening walking with me.”

Seperti pradugaku, Lynn menganggurkan tanganku. “Where’re we going?”

Tak pupus harapan, aku mengambil tangan Lynn dan menyentakkannya agar dia bangun dari duduk. “Some place I know.”

***

Rerumputan yang tengah menghijau pada bulan Juli di taman St. John’s Wood menebarkan aroma khas wewangian alam. Warna-warni butterfly bush, bluebeard, dan lilac menjadi central taman yang memukau. Ini adalah musim panas kedua yang kulewati di London. “I held my surgery in Wellington Hospital. In the meantime, I always go to this garden when get bored.” Tempat ini berjarak kira-kira 200 meter dari rumah sakit tempatku dirawat.

Lynn berjalan di sisi kiriku. Meskipun diam, aku lega dia mau mendengarkan. Jemari lentik yang mengisi ruang di sela jemariku membuatku menarik senyum secara sembunyi-sembunyi.

When I wake up after surgery, I barely knew my name.” Aku mengingat bagaimana kosongnya diriku saat terbangun setelah operasi. “I felt empty.”

Secara tiba-tiba Lynn menghentikan langkahnya. Entah sadar atau tidak, jemarinya mengerat di genggamanku. Aku menunggu responnya, namun kembali dikecewakan dengan mulutnya yang membungkam.

Gyah!” Menghempaskan diriku di rerumputan, aku menyukai tekstur karpet alam ini. Kutarik tangan Lynn untuk mengajaknya bergabung. “Come on, it’s comfortable.”

Menekuk lututnya, Lynn mengikutiku duduk di rerumputan. Meskipun terlihat cantik, namun raut wajahnya cenderung murung. Mata biru yang kukagumi kejernihannya meredup dan rona pipi yang kusukai memucat.

Aku menselonjorkan kakiku, kemudian berinisiatif mengangkat kaki Lynn dan meletakkannya di atas pahaku. Tidak kupedulikan pekik kecil penolakan Lynn. Aku semata ingin membuat keintiman di antara kami. Kupalingkan wajahnya untuk menatapku. “Slowly, I remembered myself and my family.” Aku meneruskan ceritaku. “But, there’s one person I didn’t remember—“ kutatap bening matanya, “—and I disappointed myself that the person was you.

Mengigit bibir bawah, Lynn memandangku getir. Aku tahu kalimatku akan melukainya, namun saat ini aku ingin kejujuran. Kutelusurkan ujung jemariku di kantung mata Lynn untuk mengagumi warna samudera yang diusung matanya. Bagaimana aku bisa melupakan hal ini?

I got other problem beside my amnesia. I thought, you already knew.” Lynn pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi padaku saat menginspeksi kamarku tadi.

Menggeleng kecil, Lynn menatap harap padaku. Bukan dia tidak bisa membuat praduga, namun kuasumsikan dia ingin aku mengatakannya dengan lugas.

I got cognitive affect. I hardly spoke up my thought, I couldn’t use my language properly, I slowly understanding some given problems, and I lost my ability for solving problems.” Aku merasa sangat buruk mengakui kelemahanku di depannya, tapi pundakku terasa lebih ringan saat mengatakan sebenarnya. “I felt like a fool.”

And that’s why this past year you avoided me, didn’t you?” Suara serak Lynn mengindikasikan sumbatan di tenggorokannya.

Mengangguk mengiyakan, aku merasa bersalah telah mengabaikan Lynn setahun ini. Aku hanya tidak ingin kecacatku membebaninya. Memberikan yang terbaik baginya, melindunginya, menyayangi, dan mencintai dirinya dengan seluruh hatiku adalah ideologiku. Akan tetapi paradigmaku malah membawa luka lain untuk Lynn.

I don’t need the perfect of you, Hyun.” Segaris air mata menuruni pipi pucatnya.

I’m sorry. I’m still a man with a pride. I want to give you the best, but my apology Adelynn, in the end I merely hurt you.” Kusapukan ibu jariku di pipi Lynn untuk mengusap air matanya.

Lynn mencekal jemariku dan menurunkannya di pangkuan. Menunduk memerhatikan jalinan tangan kami, dia mengusap telapak tanganku dengan ibu jari. “I don’t know what I should do to make you forgiven. It’s still hurt so much.” Anak-anak rambutnya yang diembus angin memberikan kesan feminin. “I already gave up, Hyun.”

Kalimat sederhana yang terucap dari bibir Lynn tidak kusangka bisa begitu menyakitkan untuk kuperdengarkan. Kucegat gerakan ibu jarinya di telapak tanganku. “Aku tahu kekuranganku, Lynn. Kau memang pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.”

Memandangku getir, Lynn menyerap segala perhatianku. “Kau tidak pernah mengerti maksudku, Hyun.” Telapak tangannya yang menjadi sedikit lebih dingin menangkup pipiku. “Pernahkah kau mempercayaiku?”

Aku mengerutkan alisku. Meresapi tekstur tangan Lynn, aku menunggunya membuka mulut.

“Kau selalu menanggung bebanmu sendiri dan tidak membaginya. Kau selalu takut aku terluka tanpa pernah menanyakan apakah aku baik-baik saja dengan segala situasi yang kita alami. Kau memutuskan sendiri apa yang terbaik untukku dan untukmu tanpa mendiskusikannya denganku.” Lynn menunduk dan melepas kontak mata kami. Tindakan yang membuatku sedikit kecewa karena kekagumanku atas matanya lepas. “I’m tired, Hyun.”

Mengulum bibir bawah, aku menelaah penjelasannya. Butuh waktu bagiku untuk mengerti setiap kata yang dengan jelas diutarakan Lynn. Bukan karena maksudnya yang tersembunyi, melainkan karena keterbatasanku.

Lynn menarik kakinya, kemudian berdiri. “I have decided to give up and faced a new story of my life. It’s not because of your lacking, but it’s you yourself.” Tanpa menunggu tanggapanku, Lynn berbalik dan berjalan cepat meninggalkanku termangu.

Aku tercenung untuk sementara waktu. Merenungi penolakan Lynn atas diriku, aku mengkaji kembali alasan yang dia berikan. Merogoh saku celana jeans-ku, aku merasakan bentuk melingkar suatu logam yang kupersiapkan sebelumnya. Setelah apa yang kami lalui, haruskah aku diam saja menerima penolakannya?

Menggeleng untuk menjawab pertanyaanku sendiri, aku sudah memutuskan. Setahun lalu, aku pernah melepaskannya. Kali ini aku tidak ingin mengulanginya lagi. Berdiri cepat, aku mengejar Lynn.

Mengerutkan keningku, napasku tertahan dengan cepat ketika mendapati dua lelaki menyergap Lynn. Aku mempercepat laju lariku meskipun belum mengerti sepenuhnya apa yang terjadi. Dengan kalap, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mencapai tempat Lynn saat melihat tubuhnya diseret masuk dalam sebuah van. Kuayun langkahku secepat mungkin untuk menyusul van tersebut, namun gagal.

Oh Shit!” Meninju udara, aku merogoh ponselku. Napasku yang terengah-engah dan jemariku yang bergetar memperlambat aksiku. Aku tidak bisa mengenali mereka karena penutup kepala yang mereka gunakan. “Dae-ya—“

Hyung!” Pekik Daehyun begitu telephonku tersambung. “Aku tidak peduli kau hilang ingatan atau tidak, tapi saat ini aku ingin kau—“

“Adelynn was abducted!” teriakku untuk memotong cerocosan Daehyun.

Damn it!” umpat Daehyun. “Hyung, ingat kembali perusahaan bernama Axxe yang kau masukkan dalam daftar black list Vichou,” ujar lambat Daehyun. “Setahun yang lalu, perusahaan itu merintis kembali—“

Stop your bullshit things about Vichou!” Kemarahan naik ke mercu kepalaku..

“Ahmad Matter!”

Who the hell is he?” kutekan kata-kataku untuk mengetahui informasi Daehyun. “Daehyun!”

“Dia—“

Sebelum mendengarkan penjelasan Daehyun, suatu pukulan keras kurasakan di tengkukku. Pandanganku menjadi gelap total secara mendadak

***

Aku merasakan dingin air yang tersiram di wajahku. Kubuka kelopak mataku dan kuraup udara dengan rakus. Air yang masuk di tenggorokanku menyebabkanku terbatuk. Berusaha untuk mengenali situasi, aku mengedarkan pandanganku. “Oh shit…” umpatku lirih.

Long time no see, Kyuhyun Cho.” Suara lantang seorang pria dengan wajah asia dan tinggi kira-kira 170-an. Dia berjalan mendekat ke arahku, menekuk lutut di depanku, dan menepuk-nepuk pipiku. “The same bastard I ever know,” ucapnya.

Aku memeras otakku untuk mengingat pria ini, namun sama sekali tidak kutemukan ingatan tentangnya. Walaupun berwajah asia, namun perucapan English-nya sangat jelas. Jika dia bermasalah denganku, maka tebakkanku dia adalah orang Singapore. Kutarik kedua tanganku untuk mencekalnya, tapi tertahan oleh suatu ikatan. Menggertakkan gigi-gigiku, aku memandangnya murka. “What do you want?”

Kekehan renyah pria itu menggaung di ruangan cukup luas yang kuasumsikan sebagai gudang. Beberapa kotak kayu besar dan kardus-kardus yang tertumpuk menguatkan dugaanku bahwa tempat ini adalah gudang bongkar muat barang di pelabuhan. Dengung suara kapal yang tertangkap telingaku membenarkan dugaanku.

You still remain as a straightforward man, Cho.” Dia mengangkat daguku. “I do like this side of you.” Menjentikkan jemari, dia memerintah anak buahnya. Sebuah meja diangkat dan diletakkan di depanku dengan suatu dokumen terlentang di atasnya. “I want my company back, Cho.”

Mataku menelusuri setiap kalimat yang tercetak di lembar kertas yang diangsurkan padaku. Aku tidak mengerti isinya secara keseluruhan, namun kutangkap isi paragraf terakhir. Kurasa dia menginginkan sejumlah asetku di Vichou. “What’s this?”

As you can read, by signing this document means you agree to hand in all your shares to me.

“Kenapa aku harus melakukannya?”

Seseorang di dekat pria itu berbisik. Kuduga dia sedang menterjemahkan kalimat yang kuucapkan. Jika pria ini tidak bisa hangul, maka kemungkinan dia keturunan melayu. Mengingat pembicaraan singkatku dengan Daehyun, aku yakin dia Ahmad Matter. “Perkembangan Vichou di Singapore menyebabkan Axxe mengalami kebangkrutan.” Pria yang bertugas sebagai penerjemah mewakili kalimat Ahmad.

Aku menunduk dan tersenyum geli. Mulai kukaitkan informasi dari Daehyun untuk menganalisis situasi. “Jadi kau menculikku untuk alasan kebangkrutan perusahaanmu? Jangan menyalahkan orang lain atas ketidakbecusanmu berbisnis.” kulecehkan dia. Selang beberapa saat, aku mendapat pukulan di rahangku.

If you and your brother didn’t come to Singapore, my company would stand still!” Ahmad mencengkeram kerahku.

Aku menyeringai. “You were defeated by youngers like us, didn’t you?” kuhinakan dirinya. “You must have rubbishy brain.” Sekali lagi kepalaku tertoleh saat pukulan mendarat di rahangku. Kuludahkan rasa asin darah yang terbaur di salivaku.

Sign this contract to finish our business, Cho!” telunjuk Ahmad menekan kertas di depanku. Sepertinya dia menginginkan asetku untuk dijadikan modal bagi perusahaannya yang tengah dirintis kembali.

If I don’t want, what will you do?”

Ahmad menyeringai dan menjentikkan jemarinya. “You will regret it.”

What the…” umpatku saat melihat Lynn yang diseret masuk. Tubuhnya dihempaskan ke lantai dengan kasar. Tangannya terikat dan mulutnya tertutup perekat.

Seorang di antara mereka menarik perekat untuk membebaskan mulut Lynn. Tubuh Lynn diseret untuk mendekat ke arahku.

Aku meronta untuk dapat menolongnya. Menggesekkan tali yang membelitku, aku tetap tidak bisa terbebas. Ingin kuhajar pria itu dengan tanganku karena memperlakukan wanitaku dengan demikian rupa. “Bebaskan dia. Adelynn sama sekali tidak berkaitan dengan urusan kita.”

Penerjemah berbisik pada Ahmad. Dia terkekeh setelah mengetahui maksud ucapanku. “If you made acquisition in Axxe, like what you did to Xian Group, my company wouldn’t collapse.”

What?” Aku sama sekali tidak mengerti urusan antara Vichou, Axxe, dan Xian Grup. Ingatanku benar-benar payah.

“Bukankah gadis ini yang membuatmu mengakusisi penuh Xian Grup?” penerjemah meneruskan kalimat Ahmad.

Ahmad mendekati Lynn, kemudian berjongkok di sampingnya. Jemarinya yang menelusuri pipi Lynn membuat amarahku kian tersulut. “No wonder you fall for this lady.” Dia mencondongkan wajahnya mendekati Lynn. “She’s very beautiful, isn’t she?”

Get your face away from her!” Aku menggeletukkan gigiku.

Lynn berusaha menarik mundur wajahnya. “You can’t use me to threat him. I’m no longer his fiancée.” Meskipun berupaya untuk bertindak tegas, tapi aku bisa melihat sorot ketakutannya.

Ahmad terkikik ringan mendengar kalimat Lynn. “But, he loves you, doesn’t he?”

Aku berusaha membebaskan diri. Kugesek-gesek ikatanku di kursi, walaupun mungkin akan berakhir sia-sia. Aku terlonjak kecil ketika merasakan ikatanku terkait oleh sesuatu. Kugunakan ujung jemariku untuk meraba permukaan kayu kursi yang kududuki. Kurasakan sebuah paku yang mencuat dari permukaannya.

Let’s watch how he reacts, Sweetheart.” Ahmad semakin memapas jaraknya. Dia mengenduskan hidungnya di pelipis Lynn.

Go away!” Lynn memukuli pria itu dengan kepala tangannya yang terikat.

Ya! Let go of her, you bastard!” Aku berteriak di ujung tenggorokanku dan meronta untuk menggapai Ahmad, namun dua orang anak buahnya menahan pundakku. Kudapatkan beberapa tonjokkan di perutku ketika semakin brutal memberontak. Napasku terhenti beberapa saat karena tonjokkan di abdomen tersebut menghantam sisi bawah sistem pernapasanku.

Meludahi wajah Ahmad, Lynn memukulkan kepalan tangannya di pipi pria paruh baya itu. “Never have a dream to touch me!” Dia menggertak.

Tindakan Lynn membuat raut Ahmad mengeras. Dengan sekali ayun, tangannya menghempas pipi Lynn dengan keras.

You jerkr! If you dare to touch her—“

What the hell will you do, Cho?” Ahmad berpaling ke arahku. Dia menjambak rambut Lynn dengan keras. Lelaki yang kutaksir sudah kepala empat itu kembali mengendusi leher Lynn.

Aku memberontak di tempatku, sedangkan Lynn berusaha melawan kekuatan Ahmad. Tidak kupedulikan beberapa pukulan yang mengena tubuhku saat fokusku hanya pada keselamatan Lynn. “Damn you!” kuludahkan darah dari mulutku.

Sign that contract, Cho!” Ahmad menghentikan tindakannya.

“Apakah jika aku menandatangani ini, maka kau menjamin keselamatan kami?”

Tertawa lepas, Ahmad menjungkalkan Lynn. Dia berucap keras kepada penerjemahnya dalam bahasa mandarin.

Aku mengerutkan dahiku untuk semakin berpikir mengenai jati diri pria ini.

“Sekali pun kau menyerahkan semua asetmu, tidak akan mengembalikan apa yang telah terambil dariku. Ayahku bunuh diri karena putus asa menghadapi kebangkrutan Axxe. Sayangnya, ibuku menyusul setelah itu. Hal yang ditinggalkan ayahku adalah skandalnya dengan pelacur yang ternyata telah memberikannya seorang putra.”

Kucermati ucapan penerjemah yang membuatku merinding. Aku tersenyum kecut mengetahui motif penyekapanku di sini. Pria ini bukan hanya mengincar asetku, namun juga berniat balas dendam.

Do you want to know what made me very eager to kill this lady back then?” Ahmad menarik lengan atas Lynn. “To  show you the sorrow of loss.”

Aku memejamkan mataku ketika tiba-tiba memori datang berjubelan. Kenangan akan penculikan Lynn di hari pertunangan kami dan kecelakaan terencana yang menimpa kami. Membuka mataku kembali, aku mengeratkan kepalan tanganku.

“Hari ini aku ingin kau merasakan apa yang pernah aku rasakan dua tahun lalu.” Ahmad menerima sebilah pisau dari seorang anak buahnya. Dia menggerakkan mata pisau tersebut di leher Lynn. “Aku ingin kau menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri bagaimana aku menguliti gadis ini hingga kemarahan membakarmu.”

Aku mencoba lepas dari belenggu ikatan dengan menggesekkan talinya secara diam-diam di paku. Mataku dengan tajam menyorot perlakuannnya pada Lynn. “Jika aku menandatangani perjanjian ini, apakah kau akan melepasnya?!” tawarku putus asa.

Ahmad menelengkan kepala sembari mengusap dagunya yang ditumbuhi cambang. “Jika kau memaksa, aku bisa bermurah hati untuk membiarkan wanita ini hidup. Akan tetapi wanitamu terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.” Ahmad melirik Lynn dengan tatapan penuh  nafsu. “Let see what you can do when I rape her in front of you.”

Don’t ever dare!” Aku mengutuki pria itu.

Lynn menggigit bibir bawahnya saat air mata melumuri pipinya. Tubuhnya bergetar, namun matanya menyorot tajam. Dia bergeming untuk bertahan. “I prefer to die,” desisnya.

Mencakup dagu Lynn dengan tangan, Ahmad memberikan ancaman. “Of course, I’ll gladly to make your wish come true.” Dengan sigap, Ahmad menyobek lengan atas blus Lynn hingga menampakkan pundak putihnya.

Damn you!” Aku meronta sekuatku untuk mencegah pria itu. Beberapa kali pukulan dan tendangan menghantam tubuhku, tapi aku tidak menghiraukannya. Lebih baik tubuhku dipenuhi luka daripada melihat wanitaku terenggut kehormatannya.

Lynn bergulat sekuat tenaga untuk melawan Ahmad. Dia menjejak-jejakkan kakinya untuk melawan. Sebelum pria itu berbuat lebih jauh, sebuah dentum keras dari arah belakang menghentikannya.

Oh damn you, Chen!” Ahmad menjauhkan diri dari Lynn.

Keterkejutanku semakin menjadi saat melihat Chen masuk dengan mendorong Daehyun yang telah terikat tangannya. Chen menendang belakang lutut Daehyun untuk membuatnya berlutut. Dia menekan pucuk senapan ke pelipis Daehyun.

Do you want to know the son who was born by my father’s whore, Cho?” Ahmad mendekati Chen. “Your personal assistant,” sebutnya dengan bangga.

Aku mengumpat dalam hatiku. Dari beribu orang yang bekerja padaku, mengapa harus Chen yang terlibat dalam masalah pelik ini. Dia adalah tangan kananku yang bahkan rela mengikutiku ke London selama setahun ini. Tidak heran bagaimana Ahmad dapat mengetahui keberadaanku. “Why are you betraying me, Chen?”

Bukannya menjawab, Chen malah mendorong Daehyun hingga tersungkur. “He’s the one who has all the assets,” ucap Chen kepada Ahmad.

What do you mean?” Ahmad angkat bicara.

“Kyuhyun gave all his shares to him,” jawab Chen.

Daehyun bangun dan menyeringai. “Pria yang kau tangkap itu bahkan tidak memiliki sepeser pun harta di Vichou. Dia menyerahkan semuanya padaku setahun lalu sebelum pergi ke London.”

Ahmad mencengkeram kerah Daehyun. “Don’t try to fool me!”

Daehyun terkekeh nyaring. “Andai kau tahu apa yang terjadi padanya, Luo Zi.” Dia menatap balas Ahmad.

Aku semakin dibuat bingung dengan perucapan Daehyun. Mengapa dia memanggil Ahmad Matter dengan Luo Zi?

“Ahmad Matter adalah nama yang kau gunakan untuk memasuki Vichou. Seperti halnya Chen, kau juga keturunan Cina. Walaupun bersaudara, namun kalian memiliki tujuan yang berbeda.  Kau bergabung di Vichou untuk balas dendam, sedangkan Chen  menginginkan kehidupan yang lebih layak bagi dirinya dan ibunya,” papar Daehyun.

“Kau sempat bekerja sama dengan Tuan Seo untuk menyingkirkan Adelynn. Akan tetapi dia membatalkan konspirasinya denganmu saat mengetahui rencana balas dendammu terhadap Kyuhyun,” lanjut Daehyun. “Kau merintis Axxe kembali untuk menghimpun dukungan finansial. Selain itu, kau juga mengajukan kerja sama kepada Vichou, kemudian berniat menikam Vichou dari dalam.” Daehyun menyeringai untuk melecehkan. “Adakah sesuatu yang kulewatkan, Luo Zi?”

Ahmad atau Luo Zi bertepuk tangan dan tertawa. “You did a great investigation, Daehyun Cho! But, it’s too late.” Mengangkat tangannya untuk menyuruh Chen, dia memberikan perintah dalam bahasa mandarin.

Chen berjalan mendekatiku, kemudian menunduk untuk mensejajarkan kepalanya dengan telingaku. “I’m sorry, Sir,” ucapnya. Dia menonjok keras perutku.

Aku membungkuk dan menggeram, namun kurasakan ikatanku melonggar. Berusaha mencerna pesan Chen, aku mengamati situasi. Aku kurang mengerti di pihak mana dia berdiri. Beberapa menit lalu dia masuk sebagai kaki tangan Ahmad, namun baru saja dia melepaskan ikatanku secara samar.

Daehyun mendapat tonjokkan keras di rahangnya hingga terjungkal ketika dia menolak menandatangani dokumen pemindahtanganan asetnya. Seingatku dia menolak saham yang pernah kutawarkan padanya. Dia terkikik ketika seorang anak buah Ahmad mengarahkan senjata padanya. “Kau pikir kepolisian London tidak akan campur tangan pada kejahatan yang kau perbuat sekarang?”

They wouldn’t get involve to our business. That’s why I got all of you in here.” Ahmad menarik sudut bibirnya. “Setidaknya kepolisian London tidak akan bertindak cepat untuk menangani urusan warga asia.

“Tentu saja! Akan tetapi bagaimana jika ternyata kriminalisasimu membahayakan salah satu warga negara mereka?” Daehyun terkikik angkuh. “You missed one detail, Luo Zi.” Dia berpaling pada Lynn dengan senyum kemenangan. “Adelynn, could you tell this man what your citizenship is?”

Lynn menatap Daehyun dengan misterius. “I’m British.”

Oh, shit!” umpat keras Ahmad begitu menyadari kesalahannya.

Daehyun dengan gerakan cepat menyambar pisau Ahmad, kemudian menendang pria itu hingga tersungkur. Memperoleh tanda, aku memutar tubuhku sigap dan menghantamkan tinjuku pada salah seorang dari mereka. Kuangkat kursi dan mengayunkannya hingga memukul beberapa orang. Merentang kakiku, aku menendang senjata yang terarah padaku. Setiap tindakan impulsifku untuk melawan seolah-olah adalah hal biasa. Aku seperti hafal dengan setiap gerakan perlawanan dan pertahanan diri.

Kuraih balok kayu untuk kugunakan sebagai senjata. Dada dan abdomenku sedikit nyeri ketika aku bergerak untuk beradu tanding. Aku berotasi dengan cepat dan berlindung ketika suara tembakan terdengar beberapa kali. Mengamati keadaan, agaknya mereka memang tidak mempersenjatai diri dengan baik. Kulihat hanya Chen dan dua orang yang memegang senjata. Kemungkinan mereka tercekal sekuritas penggunaan senjata di negara ini.

Mengitarkan pandanganku, aku menangkap sosok Lynn merapat di sebuah peti kemas. Kueratkan cekalanku pada kayu yang kupegang. Menghantamkan kayu tersebut untuk menghadapi lawanku, aku berusaha untuk mencapai tempat Lynn. Tubuhku tersungkur ketika aku tidak bisa mengantisipasi sebuah tendangan.

Silau yang dipancarkan dari suatu logam membuatku mengumpat dalam hati. Pisau dengan panjang 4 inchi yang dipegang oleh lawanku membuatku lebih awas. Berguling ke sisi kanan untuk menghindari tikaman, aku dapat merasakan pisau itu menyobek pakaianku. Kugunakan tangan kananku untuk menangkis dan menahan hujamannya, namun pria lawanku terlalu kuat.

Aku mencoba menahan ujung pisau yang mengarah ke leherku. Tubuhku tidak bisa bergerak karena pria ini menindih dadaku dengan lututnya. Aku mengerahkan seluruh tenagaku menahan usahanya untuk menikamku. Tusukan kecil dapat kurasakan mengenai kulit leherku. Saat tusukan kurasakan semakin dalam dan aku tak mampu menandingi tenaga pria ini, sebuah tembakan tepat mengenai dada atas lawanku hingga membuatnya tumbang.

Menendang lawanku, aku berbalik dan mendapati Lynn mengarahkan senjata padaku. Dia menahan senapan dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar dengan wajah pucat pasi sebagai reaksi keterkejutan.

Bangkit dari posisiku, aku bergerak mendekati Lynn. “Calm down, Sweetie,” aku mensugesti Lynn untuk tenang. Agaknya dia terlalu kaget karena tembakannya mampu membunuh sebuah nyawa.

Hyung, watch out!”

Teriakan Daehyun membuatku bergerak refleks untuk merebut senapan di tangan Lynn. Mengarahkan senapan ke sisi kananku, tembakanku tepat mengenai kepala Ahmad. Pria tersebut sepertinya sedang membidikku dan siap melepaskan tembakan, namun kudahului. “The same bastrad I ever know,” ucapannya padaku yang kukembalikan.

Tangan kiriku merengkuh kepala Lynn dan menekannya ke dadaku. Tubuhnya yang gemetar berada sepenuhnya dalam dekapanku. Aku menjatuhkan senjata api yang kupegang saat denging sirine bergaung.

Setelah memperdengarkan peringatan untuk menyerahkan diri, beberapa polisi merangsek masuk dalam gudang dengan mengarahkan senjata. Mereka membekuk dan melumpuhkan beberapa anak buah Ahmad yang berusaha kabur.

Are you ok, Sir?”

Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan seorang polisi. Dia membimbing kami keluar dari gudang. Tim medis dengan sigap memberikan pertolongan pada kami yang terluka. Kulirik Daehyun yang mendapat penanganan pada lebam di wajahnya.

Sir…” Chen mendekat padaku.

Aku manggut-mangut dan menepuk lengan atasnya. “Thanks a lot, Chen.”

I’m sorry for bertraying you. He has my mother.”

Aku bergumam untuk menanggapi Chen. “I know you aren’t like that damn man. About your family—“

I have just a mother as my family.”

Aku baru ingin menyampaikan permintaan maafku karena telah menghabisi kakak tirinya, namun penuturan Chen mencegatku. Kurasa Chen tidak menginginkan dirinya bersangkut paut dengan Luo Zi atau Ahmad Matter. “Aku akan menutup mulutku mengenai hubunganmu dengan Luo Zi di hadapan hukum.” Kupikir hanya ini yang bisa kuberikan sebagai balas jasa.

Chen membungkuk padaku. “Thank you, Sir.”

***

Hidungku membau anyir darah yang melekat pada kulit dan bajuku. Mataku dengan awas mengamati pergerakan Lynn yang duduk di sebelahku. Kepalanya tertunduk dan jemarinya yang saling meremas bergetar. Aku seperti pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

Secara naluriah, aku mengangkat tanganku dan menelusupkan pada jemari Lynn. Kupisahkan jemarinya yang saling terpaut untuk kugantikan dengan milikku. Lynn mendongak dan menatapku dengan sepasang mata yang berair.

Mengeratkan tautan jemari kami, aku merengkuh kepala Lynn. Kubimbing kepalanya untuk menyandar di pundakku. Mengecup puncak kepala Lynn, aku membagi kekuatanku secara psikis. Aku ingin membaurkan ketakutan dan kegetiran kami, kemudian menemukan cara untuk saling menopang.

“Hyun, I’m scared.” Lirih Lynn sembari menekan kepalanya ke pundakku.

Me too,” kuusap pipi Lynn.

Mr. Kyuhyun Cho.” Seorang polisi berdiri di depan kami. “We will work with your country to take over this case because it involved our citizen. Until it’s done, you and your fiancée are forbidden for leaving England.

Aku mengangguk untuk mematuhi perintah tersebut. “I understand. Thank you.” Setelah polisi tersebut berlalu, aku berdiri dan menyentak lembut tangan Lynn. Kugandeng dirinya untuk keluar dari kantor kepolisian.

“Chen, please bring me to St. John’s Wood garden.” Aku ingin meneruskan perjalananku yang sempat tertunda.

***

Menganjurkan tangan, aku membantu Lynn keluar dari mobil. Kami kembali ke taman ini. Aku mungkin sudah gila karena waktu hampir menunjukkan dini hari, sedangkan seharian kami belum istirahat. Kutarik tepi cardigan Lynn untuk merapatkan agar dia tidak kedinginan. “Aku ingin kembali di titik terakhir kita di sini. Duduk di rerumputan untuk saling menemukan diri kita di masa lalu, tapi tidak mungkin kita lakukan karena di pagi seperti ini permukaannya pasti sangat lembab.”

Lynn hanya tersenyum ringan menanggapi keinginanku. “I’m sorry for leaving you before. If I didn’t, we wouldn’t experience—“

Aku meletakkan telunjukku di bibir Lynn untuk menghentikan penyesalannya. Tidak ada yang harus disesali untuk kejadian hari ini. Jikalau pun dia tidak meninggalkanku, penculikan itu tetap terjadi.

Menarik Adelynn untuk berjalan, aku menemukan bangku taman. Kuusap titik-titik embun yang membasahi permukaan bangku dengan ujung lengan kemejaku. Aku menepuk pahaku agar Lynn menaikkan kakinya di pangkuanku. Terkekeh kecil, aku menertawakan ekspresi bingungnya.

Why are you laughing?”

Kubungkukkan punggungku untuk mengambil kaki Lynn, kemudian mengangkatnya ke pangkuanku. Aku menyukai keintiman yang terjadi dengan persinggungan seperti ini. “May I kiss you, Adelynn?”

Kepala Lynn menegak seketika saat mendengar permintaan konyolku. Alisnya beradu untuk menanggapi permintaan yang dikiranya sebagai guyonan.

I’m sorry.” Debaran jantungku menggila seketika. Aku menunduk dan terkekeh kecil untuk menertawakan polahku.

“Sejak kapan kau meminta izin untuk hal tersebut?”

Huh?” Aku mendongak menatap wajah Lynn seketika. Bibirku membuat lengkung senyum kelegaan sebagai respons positif atas pertanyaan ambigunya. Tanganku menepuk ringan puncak kepala Lynn. Kurapatkan kakinya ke arah perutku untuk memapas  ruang di antara kami. Kuusap pipinya untuk memfokuskan perhatiannya padaku. “Let’s assume that it’s a yes, Adelynn.”

Memiringkan kepalaku, aku melesapkan ujung hidungku di bibir atas Lynn. Mataku secara naluriah menutup saat permukaan bibir kami bersentuhan. Sengatan elektrik di selaput bibirku merambatkan detak tidak berirama pada jantungku. Aku mengingat rasa bibir tipisnya saat menyatu dengan milikku.

Tindakan impulsif Lynn saat di Singapore membuat ingatanku dijejali potongan-potongan memoriku atas dirinya. Meskipun aku belum mengenali waktu dan tempat terjadinya setiap kejadian, namun cukup lega karena bingkai kenangan tersebut berhasil kutemukan. Itu mengapa aku meminta sebuah ciuman pada Lynn. Katakanlah ada sleeping beauty di dalam ragaku yang menunggu ciuman dari pangerannya. Aku tahu ini terlalu klise, tapi setiap skinship yang kulakukan dengannya selalu dapat membangunkan ingatanku yang tersimpan di alam bawah sadar.

Aku meraup bibir atas Lynn dengan lembut dan meresapi setiap sensasi yang diakibatkannya. Darahku seakan berdesir dan berkumpul di wajah untuk menghangatkannya sebelum menyebar dengan laju kuat ke seluruh penjuru tubuh. Perutku seakan digelitik dan diremas dengan kuat. Aku menguatkan cekalanku di pinggang Lynn ketika bibir bawahku dilumat dengan pelan olehnya.

Interaksi kami menimbulkan kelebat kenangan yang kunantikan hadir. Kenangan akan ciuman kami di depan gereja ketika malam natal, ciuman kami di ferris wheel saat malam tahun baru, ciuman kami di rumah sakit, dan ciuman terakhir kami di malam sebelum aku berangkat ke London. Memori mengenai sapaan manisku untuknya dan rasa kekhawatiranku atas setiap situasi yang membahayakannya.

Aku tersenyum di sela bibir Lynn untuk mengapresiasi ingatanku. Kuberikan kecupan akhir sebelum memutuskan kontak bibir kami. Mengadu keningku dengan kening Lynn, kami sama-sama berupaya mengembalikan irama normal napas kami. “Thank you, My Dear.

Pupil mata Lynn bergerak-gerak gelisah mendengar sapaanku terhadapnya. Bukan hanya aku, tapi dia juga menyadari perubahanku melalui hal kecil tersebut. “You—“

Ok, Lynn.” Kupotong kalimatnya dengan cepat. Aku mengangkat kakinya dari pahaku, kemudian bangkit. Kuulurkan tanganku untuk membantunya berdiri. “Let’s go. There’s one last place I want you to know.

Bibirku menyungging senyum yang tak lekang sejak beberapa menit lalu. Kuayunkan jalinan jemari kami di udara. Kurang dari seratus meter berjalan menyusuri areal taman, tampak juga gedung bercat kuning gading dengan empat pilar utama bergaya Eropa. Kuangkat tangan Lynn dan menepuknya pelan sebelum melepaskannya.

Aku berjalan dengan langkah lebar untuk mendahului langkah sempit Lynn. Kuputar tubuhku membelakangi gereja St. John’s Wood. Tempat suci ini adalah ruang perenungan yang menghubungkanku dengan penguasa hidup. Kutarik sudut bibirku semakin berlawanan ketika mendapati raut tanya Lynn.

You do your worship here, don’t you?”

Yes, I do. Right now in here, I want God be my witness.”

A witness for what?”

For asking you to be mine,” kutegaskan kata-kataku. Ekspresi Lynn mendadak tegang dengan jawabanku. Aku ingat betapa besar keinginanku untuk memilikinya seorang diri. Untuk memperoleh kesempatan itu, saat ini aku mempertaruhkan seluruh hatiku di hadap Tuhan untuk meminta.

“Aku sadar begitu banyak kekurangan dan keterbatasan yang kusandang saat ini. Terlebih aku belum menemukan diriku yang lama seutuhnya. Aku bukan Kyuhyun Cho dengan segala kebanggaan yang melekat padanya. Aku hanya pria yang tengah belajar untuk menjadi lebih baik.” Kutarik napas untuk menghentikan kalimatku.

“Aku yang menjadi pengecut saat bersangkutan dengan dirimu, aku yang menjadi begitu posesif terhadapmu, aku yang tidak bisa percaya padamu dan memutuskan sepihak hal terbaik untuk kita; maaf.”

“Aku ingin memintamu memberikan kesempatan padaku lagi. Bukan permintaan atas kesempatan terakhir kali, namun ribuan kesempatan jika kuulang kesalahan yang sama karena aku tidak bisa berjanji untuk tidak melakukannya kembali.” Aku tidak ingin menjajikan hal yang tidak bisa kutepati. Kesalahanmu semata karena ingin memberikannya hal terbaik.

“Adelynn Lee, all I know, it’s because I love you. And I’m still waiting your answer about your heart to me.” Kuanjurkan tanganku terbuka ke muka. Cahaya matahari pagi menghangatkan telapak tanganku. “If you love me back, please marry me. If you don’t, I wish you finding your happiness with whoever you love.” Aku menggigit bibir bawahku untuk menelan kalimat pahitku yang terakhir. Jika hal tersebut terjadi, mampukah aku mengakomodasi kesedihanku? Kurasa tidak. Aku memang bodoh.

Lynn menutup mulutnya dengan punggung tangan. Aku tidak bisa mengartikan genangan air mata di korneanya. Jika air mata itu adalah bentuk kesedihan, maka kukutuki diriku. “How could you?” Lynn masih bergeming di tempatnya. “After leaving me without a single word, now you proposed me, didn’t you?”

Aku mulai gamang dengan pernyataannya. Luka yang kutorehkan agaknya terlalu dalam. Aku merasa tidak pantas untuk berdiri di sini. “I’m sorry, Adelynn. I’m such a coward, rite?” masih kutahan tanganku mengambang di udara.

Lynn menurunkan tangannya, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Siluetnya yang dibentuk oleh sinar pagi menyilaukanku. Mengusapkan tangan ke pipi, dia membesut air mata. Berjalan lebih dekat, dia masih menganggurkan tanganku.

Aku gugup dan takut jika dia mengatakan tidak. Wajahnya yang memerah karena air mata menambah bentuk keraguanku. Saat harapan itu tipis, aku mulai menurunkan tanganku. Secara tiba-tiba kedua tangannya merangkul bahuku dan menarikku hingga punggungku menekuk ke arahnya.

How could I say no to such a coward like you?” Suara paraunya. “With all my heart I have, I love you, Kyuhyun Cho. I don’t need the perfect of you. All I need is just you.”

Butuh waktu bagiku untuk mencerna kalimat yang kutunggu selama setahun ini. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya, kemudian kutegakkan badanku. Menjadikan kakiku sebagai poros, aku mengangkat tubuhnya dan memutarnya di udara. Tawaku meledak sebagai ekspresi kegembiraan. Aku tidak perlu lagi takut untuk mencintainya karena brain herrmohage. Aku juga tidak perlu khawatir dia berpaling karena hatinya adalah milikku.

Menurunkan tubuh Lynn, aku menunduk dan mengadu kening kami. “Thank you, Lynn. I can’t promise anything, but I promise to be a better man for you and a piece of eternity.” Kuambil tangan Lynn. “Let’s get inside. The pastor’s waiting for the bride.

What?” Lynn melebarkan matanya. “But, Hyun. Why so sudden?”

I have asked you.”

Yes, you did. But I thought, the wedding’s—“ Lynn kehilangan kata-kata saat kukecup bibirnya singkat.

I have waited this day for a year, so this wasn’t in rush. I know you must have a dream wedding like another women.” Aku tersenyum dan mengusap pipi Lynn saat dia memandangku sayu. “But Lynn, I can’t wait to make you mine. I’ll repeat the wedding to whatever times you want. But this time, let me have my dream wedding.”

So what’s a dream wedding of yours like?”

A perfect moment when I settle my heart to a woman.”

Bibir tipis Lynn melengkung indah. Tangannya menyusup di pinggangku hingga kepalanya merapat ke dadaku. “Thank you.”

Aku merendahkan kepalaku dan berbisik di samping telinga Lynn. “Let’s hurry, Dear. I’m afraid the pastor isn’t patient at all.”

Aku merasakan jemari Lynn mengerat di lenganku. Meskipun tulang rusukku terasa akan retak karena detak jantungku yang menghebat, namun senyum di bibirku mengembang. Mungkin otakku sudah terbalik atau tertukar dengan otak lain saat di meja operasi karena saat ini yang kupikirkan hanyalah cara untuk memilikinya.

I, Kyuhyun Cho, take you, Adelynn Lee to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish ’till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness.” Aku menatap matanya lekat dan melafalkan janji pernikahan dibimbing oleh pastor.

“I, Adelynn Lee, take you, Kyuhyun Cho to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish ’till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness.” Janji suci terucap dari bibir Lynn dengan terang, tanpa keraguan. Hatiku menjadi sangat ringan saat setiap janji keluar dari bibirnya.

Mengambil jemari Lynn, aku menyusupkan cincin yang sudah kusiapkan sebelumnya. Sebuah cincin dari Tiffany & co dengan permata biru sebagai representatif kekagumanku pada warna matanya. Mata yang menarikku dalam pusarannya saat pertama kali aku memandangnya.

You still wear this ring.” Lynn tersenyum sambil menarik cincin pertunangan kami yang masih melingkar di jariku. Dia menggantikan cincin tersebut dengan cicin pernikahan kami. Untukku sendiri, kupilih cincin yang identik dengan kepunyaan Lynn, namun tanpa permata.

Aku memanjangkan tanganku untuk merengkuh kepalanya. Kudaratkan kecupan di keningnya. “I love you, Adelynn Lee.”

I love you too, Kyuhyun Cho.”

You’re beautiful.” Aku menunduk dan mengamati wajahnya.

Tersenyum lucu, Lynn menarik ujung sweatshirt yang kupakai. “It’s only me, the bride who wears jeans on her wedding. Also, having some bruise in my face.

Aku terkikik kecil dengan komplainnya. Kurengkuh dia dalam pelukku. “We’ll back to Singapore and held the wedding party whatever you want.

***

Mencium puncak pundak Lynn yang menghadapku, aku mengeratkan lingkaran lenganku di perutnya. Punggungnya yang berhimpitan dengan dadaku membaurkan kehangatan tubuh kami. “Where did you go with Daehyunnie?” Bergelung di ranjang yang sama untuk memiliki waktu berdua yang berkualitas seperti saat ini, entah berapa kali aku memimpikannya.

We had a boatshow along Thames river, and walking around Regent Park.” Lynn memainkan jemariku di perutnya.

So, both of you had fun, didn’t you?”

Of course, yes. We’re having fun.” Lynn memekik ceria.

Without me.” Aku memelankan perucapanku sebagai nada kecewa.

What’s wrong with your tone?”

Nothing.”

Are you jealous?” Lynn memutar wajahnya.

No, why would I?”

Hei, bukankah itu fotoku saat memakan es krim bersama Daehyun?” pekik Lynn tiba-tiba. Telunjuk Lynn menunjuk suatu foto di antara ratusan fotonya yang kutempel.

Ice cream?”

Yeah.” Lynn terkekeh kecil. “Itu fotoku saat makan siang di ruangan Daehyun. Itu foto saat menemani Daehyun ke charity ball. Lihat, itu foto waktu kami jogging bersama. Wah, Daehyun benar-benar berbakat menjadi mata-mata.”

Aku baru menyadari bahwa interaksi Lynn dan Daehyun begitu banyak, mungkin melebihi apa yang tertempel di sini. Tidak heran bagaimana rasa itu tumbuh di hati adikku. Mengubur wajahku di ceruk leher Lynn, aku merasakan hatiku ngilu. Baiklah, aku cemburu.

Aku semakin menyurukkan wajahku di lekuk leher Lynn. Wangi feminin dan kulit lembutnya membuatku terkikis di batas kesadaran. Kugesekkan garis tepi hidungku di kulitnya. Mengecupi sepanjang garis lehernya, aku menetapkan dadaku untuk tidak meledak.

“Hyun…”

Aku menarik tubuh Lynn hingga menelentang di bawah kuasaku. Kuanalisis lekuk wajahnya dengan teliti. Telunjukku menyapu bekas kebiruan yang sudah memudar di sudut bibirnya. “Masih sakit?”

Lynn mengambil telunjukku, kemudian menciumnya. Dia menggeleng untuk menjawab pertanyaanku. “This bruise is nothing compared to yours.”

Menundukkan kepala, aku mengecup ringan luka lebam Lynn beberapa kali.  “I’m sorry,” lirihku untuk menyesali bekas luka tersebut. “Adelynn…” Aku menepikan poninya yang berantakan.

Hmm?” Bergumam untuk meresponsku, mata biru Lynn merefleksikan wajahku dengan penuh.

What part of me did you miss the most?” Aku hanya ingin tahu bagian diriku yang paling dirindukan oleh Lynn selama setahun tidak bertemu.

Mengerutkan bibirnya, Lynn berpikir untuk memberikanku jawaban. “These eyes—“ telunjuknya menyapu kantung mataku, “—this nose,” menuruni garis hidungku, “—these lips,” menyapu permukaan bibirku. “I missed every single detail of you, Hyun.”

Jantungku berdebar lebih cepat untuk merespons jawaban yang Lynn berikan. Senyumku melengkung dengan cepat. “And tell me what should I do to make redemption?”

You have made it.” Tangan Lynn menyusup di antara dada kami yang beradu. Dia membuka jemarinya untuk menunjukkan cincin ikatan kami. “I got a perfect marriage this morning.”

Menangkup jemari Lynn, aku menekannya di dada. “Let me have you by myself, Adelynn Lee.” Senyumnya merupakan persetujuan atas permintaanku. Mendekatkan wajahku, bibirku mengisi ruang di antara bibirnya yang terpisah. Kutangkup bibirku untuk menekan bibir atasnya yang terperangkap. Memberikan lumatan dengan pelan, akalku kembali melayang. Kedua tanganku menyusup di punggungnya, sedangkan sikuku menopang badanku agar tidak terlalu menindihnya.

Aku dapat merasakan jemari Lynn yang menyelisik di antara rambutku. Respons dan balasan ciumannya memberikan getaran yang menghebatkan debar jantungku. Papil lidahnya yang menyapu bibir bawahku membuatku semakin rakus untuk menguasainya.

***

Aku menghalau sinar pagi yang menyorot wajahku. Kugerakkan kelopak mataku secara pelan untuk membuka melawan cahaya yang menyilaukan. Menghirup udara pagi, aku secara spontan melengkungkan senyum.

Menolehkan kepala ke samping, senyumku semakin lebar. Hal sederhana yang pernah kumimpikan, melihat wajah Lynn tertimpa sinar di pagi aku membuka mata, akhirnya kudapatkan. Kubangunkan seluruh inderaku untuk menyesapi suasana pagi ini.

Kulit dada telanjangku dapat merasakan lembut pipi Lynn yang tertempel di sana. Lengannya yang melingkar di perutku memberikan beban yang tak berarti. Wangi rambut dan bau tubuhnya memenuhi pernapasanku.

Sesaat, bulu mata Lynn yang bergerak saat kelopak matanya membuka menggelitik kulitku. Dia mendongak, kemudian memanjangkan lehernya untuk mengecup pipiku. “Good morning, Hyun.”

Good morning, Beautiful.

Menarik diri dari tubuhku, Lynn menjumput selimut dan menahannya untuk tidak melorot melewati dadanya. “It’s still early.” Dia menoleh pada jam yang kuletakkan di meja, lalu berbaring kembali di sisiku.

Yeah.” Aku mendekat dan menaruh ujung daguku di pundak terbuka Lynn.

So, what will we do in this meantime? We stuck in London till the case is done.”

Let’s have summer holiday,” aku menjauhkan diri. “I’ll contact my personal attorney to take over the lawsuit as soon as possible.” Bangun untuk kemudian menyandarkan punggung di kepala ranjang, aku membiarkan selimut jatuh di pangkuanku.

Hmm, I love that idea.” Lynn mendongak menatapku.

One more thing to settle down, My Dear.” Aku mengusap puncak kepala Lynn.

What? To inform our family about our marriage?”

Aku menggeleng. “Aku sudah meminta izin ayahmu untuk melakukan pernikahan di London sebelum terbang kemari.”

You did it!” Lynn memebelalakkan matanya.

Yes, I did.” Aku menjawab dengan mantap. “Tentang kewarganegaraanmu, Lynn.”

Ah,” Lynn memalingkan pandangannya dariku.

“Aku tetap menyandang kewarganegaraan korea, meskipun telah lama tinggal di Singapore. Sampai saat ini, aku belum menetapkan diri untuk menetap di Singapore karena seluruh keluargaku berada di Korea, begitu pun dengan pusat Vichou Finance.”

“Kau menginginkanku untuk mengubah kewarganegaraanku menjadi korea?”

Will you?”

“Hyun, you forgot one thing.” Lynn memandangku ragu. “Aku memang menyandang kewarganegaraan inggris, namun pada mulanya aku menyandang double kewarganegaraan.”

Aku meneleng karena tidak mengerti ucapan Lynn.

“Oleh karena aku lahir di London dan memiliki darah inggris dari ibuku, aku berhak atas kewarganegaraan inggris karena negara ini menganut ius soli. Akan tetapi karena ayahku berdarah korea dan asas ius sanguinis yang dianut negara itu, aku mendapatkan kewarganegaraan korea.”

Aku mencermati penjelasan Lynn dengan seksama. Mungkin di masa lampau hal kecil seperti ini tidak luput dari pengamatanku.

“Lalu?”

“Aku sudah memilih untuk menyandang kewarganegaraan inggris saat aku pindah ke London. Oleh karena itu aku khawatir tidak bisa kembali menjadi warga negara korea.”

Mengusap kening Lynn, aku memberikan ciuman. “Kita akan pikirkan masalah ini, Lynn. Aku hanya ingin tahu apakah kau mau mengikutiku?”

What do you think?”

Menarik sudut bibirku, aku menyeringai. Kukecup bibir Lynn kilas. “You will definitely follow my decision.”

You already knew it. Let’s wake up and have breakfast.”

Aku mencebikkan bibirku dengan kecewa karena bedtime kami berakhir.

Oh come on, we have so much time for doing what’s on your mind!” tandas Lynn seolah bisa membaca pikiranku.

***

“Aku menolak kerja sama Axxe tepat sebelum kita terbang ke London, Hyung.” Daehyun melemparkan dokumen ke hadapanku. “Kecurigaanku atas perusahaan tersebut berawal dari catatan Aiden Hyung setahun lalu. Dia menyimpan review pribadinya terhadap perusahaan itu.”

Aku membuka dokumen yang Daehyun anjurkan dan membolak-balikkan halaman demi halaman. Mengurut pelipisku, aku dipusingkan dengan laporan yang kubaca. “Damn it, Dae-ya!”

“Berhentilah mengutuk karena kata-kata itu tidak memberikan solusi.” Daehyun memandangku jengah. “Laporan yang kau buat menganai kerja sama Vichou dan Axxe dua tahun lalu menghilang. Kemungkinan Ahmad Matter telah menghapusnya.” Dia terus melaporkan kasus mengenai Axxe.

Menumpuk beberapa map dengan ketebalan hampir 10 inchi, Daehyun mengentakkan tangannya di atas tumpukan. “Ini beberapa laporan mengenai perkembangan Vichou Insurance setahun terakhir.”

Melorot salah satu map, aku membukanya. Deretan angka dalam table-tabel yang tidak kumengerti membuat perutku bergejolak. Aku mengangkat kedua alisku, kemudian menjauhkan dokumen tersebut dari area pandangku. “Stop it, Daehyunnie. Berhentilah menumpuk laporan-laporan yang membuatku ingin mencekikmu saat ini.”

“Ya! Kau pikir aku tidak ingin melakukan hal sama terhadapmu karena tidak menghadirkanku dalam pernikahan kilatmu!” pekik Daehyun yang terganggu dengan perucapanku. “Kau masih belum bisa memahami garis besar isi dari dokumen-dokumen ini?”

Kubuang tatapanku ke arah lain untuk menghindari pandangan Daehyun. Dua hari lalu kami diperbolehkan kembali ke Singapore, namun kebebasan tersebut tidak membuatku lega. Besok Vichou Insurance mengadakan jamuan anniversary yang ketiga dan aku diharuskan muncul kembali di depan publik setelah lama menghilang.

“Tenangkan dirimu, Hyung. Mrs. Sarah sudah menyiapkan pidato yang akan kau ucapkan nantinya.”

Aku mendesah halus untuk solusi yang Daehyun rencanakan. Dia memberikan saran agar aku menyembunyikan kondisiku untuk menjaga citra di depan investor dan pemegang saham. Kepulanganku ke Singapore memberikan ekspektasi tinggi pada Vichou Insurance. Akan tetapi dengan kemampuanku sekarang, aku hanya akan membawa perusahaan ini dalam kemunduran.

Aku menepuk kedua pahaku, kemudian bangun dari duduk. “I need time to think over again.” Melangkah keluar ruangan, kutinggalkan Daehyun dengan segudang laporan Vichou.

***

Memelankan langkahku, aku mendekati Lynn yang tengah membelakangiku. Kusejajarkan telingaku pada telinganya untuk mencuri dengar pembicaraannya di telephon. Kutahan kepala Lynn agar tidak menjauh dariku. Mengadu alisku, aku merenggangkan jarak telingaku dengan ponsel Lynn. Kris sepertinya berada di seberang jaringannya.

Menekuk punggungku, aku merendah untuk dapat menumpukan daguku pada pundak Lynn. Kulingkarkan tanganku untuk sepenuhnya melingkupi pinggangnya. Mataku memejam untuk menentramkan gejolak hatiku akhir-akhir ini.

What’s up?”

Kurasakan tepukan halus di pipiku. Aku menahan kata risauku hingga menyuarakan gumaman. Mengeratkan kekangan tanganku, aku merasa aman dengan kedekatan ini. Lynn tidak setangguh Daehyun atau sehebat Aiden Hyung untuk menangani persoalan perusahaan, namun aku merasa terlindungi berada di dekatnya. Seharusnya di masa lalu, aku lebih bisa mempercayainya. Bukan pada masalah perusahaan, melainkan pada setiap situasi yang kami hadapi.

“Kau mengkhawatirkan acara besok?”

Aku hanya diam, tidak perlu menjawab pertanyaan retoris Lynn.

“Kau akan melakukan yang terbaik, Hyun.” simpul Lynn pada akhirnya.

“Bagaimana jika aku menggagalkan rencana Daehyun?”

“Aku tidak berkata bahwa jalan terbaik adalah jika kau melakukan rencana Daehyun dengan sempurna.”

Aku mengurai rengkuhanku di pinggang Lynn, kemudian memutar tubuhnya untuk bersemuka denganku. “Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan rencana tersebut, bukan?”

Lynn menggeleng, lalu tangannya melonggarkan dasiku. “Daehyun hanya menawarkanmu solusi, bukan keputusan final. Jika kau merasa solusi tersebut adalah yang terbaik, maka lakukanlah. Jika tidak, maka pikirkan matang-matang rencana yang kau ambil.” Dia melorot dasiku, kemudian menyampirkannya di lengan. Membuka dua kancing teratas kemejaku, Lynn meletakkan kedua tangannya di dadaku.

“Aku takut tidak bisa memutuskan dengan baik.” Mengakui ketakutanku kepada Lynn meringankan sedikit kegelisahanku. Sepertinya ini pertama kali aku membagi kelemahanku padanya.

Menggunakan pundakku untuk tumpuan, Lynn menjinjit dan mengecup ujung hidungku. “Don’t be, Hyun. You have us who always support you no matter what mistakes you’ve done.”

Aku melengkungkan senyumku dengan segera. “And I have you.”

Sure, Baby.”

How about that dude?” Aku menanyakan perihal Kris.

“Kris?”

Who else,” aku memutar mataku.

“Aku telah memberikan jawabanku jauh hari sebelum pergi ke London.”

“Dan jawabanmu…?” aku mengambangkan kalimat tanyaku.

“Aku tidak bisa menerima tawarannya padaku.”

Mengerutkan keningku, aku heran mengapa Lynn menolak lamaran Kris sekaligus menolakku pada awalnya. “Kau juga tidak menerima tawaranku.”

Yeah,” Lynn memanggutkan kepalanya. “Sebelum bertolak ke London, aku telah melepaskan hatiku untuk rasaku padamu maupun Kris. Aku ingin memulai sendiri kisahku dari titik pangkal.”

“Itu berarti kau bisa saja menerima pria lain untuk berada di sisimu?” Aku menyimpan nama Daehyun untuk tidak terucap agar tidak menimbulkan pergesekan lain dalam rumah tanggaku. Aku tidak mementingkan apakah Lynn mengetahui perasaan Daehyun atau tidak. Adikku sudah menutup rasanya bagi Lynn dan bagiku itu sudah merupakan solusi akhir.

Maybe.” Lynn mengangkat pundaknya.

“Lalu apa yang membuatmu menerimaku lagi?”

“Pengalaman penyekapan kita oleh Ahmad Matter.” Menyihirku dengan tatapan teduh, pupil Lynn tidak bergerak. “Merasakan bagaimana kau melindungiku dan bagaimana aku melindungimu, aku sadar bahwa aku tidak bisa kembali lagi ke titik pangkal. Aku tengah berada pada ujung jalan antara menerimamu kembali atau tidak. Pada akhirnya, aku memilih opsi pertama.”

Aku tersenyum puas, kemudian membawa Lynn dalam pelukku. Kucumbu lehernya dengan lebut. Perlahan, kususupkan telapak tanganku melalui kerahnya dan merasakan kulit pundaknya. “I love you,” kubisikkan kata sederhana yang selalu dapat menghangatkan perasaanku.

***

“Hei.” Lynn menarik kesadaranku dari lamunan. Dia menegakkan kerahku dan melingkarkan dasi bewarna biru tua. Jemarinya dengan lincah menyimpulkan dasiku. “You didn’t allow me to help you tying your tie back then.”

Aku mengerutkan bibirku, lalu memiringkan kepalaku. “Why?”

Mengangkat pundak terbukanya, Lynn memberikan jawaban. “I dunno either.”

Aku memeras ingatanku untuk menemukan memori tersebut, namun gagal. Membuang napasku, aku mengalihkan tatapanku pada Lynn. Gaun strapless bewarna cerah yang dia kenakan tidak mengurangi keindahan kulit putihnya. Panjang gaun yang mencapai mata kaki menutup kaki jenjangnya yang kupuja. Rambutnya yang tergelung tinggi memaparkan kulit dan lekuk lehernya yang mampu mengikis kesadaranku. Pernik permata imitasi bewarna senada dengan dasiku menghiasi bagian pinggang langsingnya yang selalu terperangkap dalam rengkuhanku.

Aku menyeringai kecil dan menunduk ketika mengingat rasa ini di masa lalu. “I found it,” lirihku.

What?”

The reason of your statement before.”

Do you mind to tell me?” Lynn menarik dasiku dan menyelesaikan simpulannya.

Aku membungkukkan diriku untuk berbisik. “Karena mengagumimu dengan gaun seperti ini malah membuatku ingin menguasaimu seorang diri.”

Nappeun!” gemas Lynn seraya meninju dadaku. “Let’s get hurry. The occasion will start strictly at 02.00 p.m!”

Aku memelorotkan bahuku sebagai ungkapan kecewa.

Berkacak pinggang menghadapku, Lynn memasang wajah sewot. “Let’s finish this thing, first! We can have our time after that to whatever you want me to do.

Ekspresiku mencerah dengan jaminan Lynn. Memantapkan langkah kakiku, aku menggandengnya keluar. Guyonan kecil kami nyatanya mampu mengeliminasi keresahanku beberapa jam lalu mengenai pesta anniversary Vichou. Bagaimana pun aku belum siap untuk menghadapi publik lagi.

***

Aku meremas jemariku, mengatur irama napasku, dan memfokuskan diriku. Menerima tablet dari Chen yang berisi sambutan yang harus kuucapkan di depan hadirin, aku menyapukan pandanganku secara menyeluruh pada ruangan. Memejamkan mataku, aku di ambang keputusanku. Kumatikan display tablet saat aku membuka mata. Aku tidak menginginkan rencana ini.

Terpaan lampu flash kamera dari beberapa wartawan yang kami undang mengawali waktuku. “I’m very nervous standing here right now,” kalimat icebreaking-ku mengundang kekehan dari para tamu. “Good evening ladies and gentleman. I’m Kyuhyun Cho, the managing director of Vichou Insurance Singapore.” Tepukan menyambutku dengan gempita.

It’s been long time I left my position here due to my health. I received a surgery a year ago in abroad and couldn’t lead Vichou at that time.” Beberapa wajah memasang ekspresi terkejut, sisanya hanya menerima penjelasanku tanpa ekspresi. “Unfortunately, I’m not fully recovered yet.” Sebagian dari mereka berbisik-bisik.

Most of you here, I believe, are worrying about the future of Vichou Insurance. Please, don’t be.” Menggerakkan tubuhku untuk menyamping dan menghadap seseorang, aku yakin pada keputusanku. “Until I’m recovered, I have appointed someone to lead Vichou. In his hand, I’m sure Vichou will survive in better way. Please welcome new director managing of Vichou Insurance, Mr. Aiden Lee.”

Semua pandangan terarah pada Aiden Hyung yang tengah berdiri dan memberikan sapaan hormat. Kilatan blitz para wartawan yang meliput terarah padanya. Aku telah meminta persetujuan Aiden Hyung akan hal ini sekembalinya dia dari Korea.

And, I’ll introduce someone who always become my inspiration.” Aku menganjurkan tanganku untuk menunjuk seseorang dengan gaun bewarna peach yang duduk di tengah tamu undangan. “My wife, Adelynn Lee.” Semua perhatian tertuju pada sosok cantiknya yang melebarkan senyum dan membungkuk hormat.

The last question that settled in all of you, I guess, about me to enlist myself as the next CEO of Vichou Finance Korea.” Beberapa orang mengangguk setuju pada tebakkanku. Aku putra pertama keluargaku, seharusnya memang tanggung jawaabku untuk meneruskan Vichou. Akan tetapi aku memiliki pertimbangan lain. “I won’t submit myself as the next CEO.” Jawabanku mencengangkan mereka.

I’m belong here, in Singapore, where my new family live in.” Aku merujuk pada rumah tangga yang baru saja kubangun dengan Lynn. “I’ll settle myself in Singapore.” Aku rasa, bukan hanya Lynn yang akan mengubah kewarganegaraannya, namun juga diriku. Sudah kuputuskan bahwa aku akan membangun keluargaku sendiri di negara ini.

And about Vichou Finance Korea, someone will lead this company way better than me. Here he is the next generation of Vichou Finance, my brother Daehyun Cho.” Aku bertepuk tangan untuk menyambut Daehyun. Dia jauh lebih kompeten dibanding diriku. Aku yakin Daehyun akan memberikan performa terbaiknya bagi Vichou. Menunduk memberikan penghormatan, aku mengakhiri sambutanku.

***

Lynn mengeratkan jemarinya padaku dan menindihkan kepalanya di pundakku. “I love your speech, Hyun.”

Aku tersenyum, lalu mengalihkan tatapanku pada keramaian jalanan yang kami lalui sepanjang perjalanan pulang. Kugenggam tangan Lynn tak kalah erat. “And I love you.”

Lynn terkekeh ringan dengan spontanitasku. “I know.”

“Kau tidak keberatan jika membangun keluarga kita di negara ini?” aku menanyakan pendapat Lynn atas keputusanku. Dia juga berhak memutuskan hal terbaik bagiku dan baginya karena ini hidup kami.

You don’t know how much I love that idea.” Lynn menyurung kepalanya di lekuk leherku.

Aku merilekskan punggungku untuk menyandar jok penumpang bagian belakang, kemudian meletakkan kepalaku di ubun-ubun Lynn setelah menciumnya. Warna jingga langit yang menantang perjalanan pulang kami mengentalkan kebahagianku. Ini bukan akhir dari perjalanan hidupku. Di masa depan, aku yakin lebih banyak rintangan yang akan kami arungi. Akan tetapi aku dapat menyampingkan sedikit rasa khawatirku karena saat ini dan seterusnya, aku memilikinya.

Adelynn Lee, you make me complete in whatever I do and whatever I am. I love you.

 

The End*

Glosarium:

Retrograde amnesia: hilangnya memori akan suatu kejadian di masa lalu atau informasi yang telah dipelajari sebelum cidera. Subyek lebih akan kehilangan kenangan baru yang lebih dekat dengan peristiwa traumatis daripada kenangan yang lebih terpencil.

Ito lemma: lemma/ aturan yang secara matematis menjelaskan pergerakan harga saham.

Note:

Aku sedang tidak bisa mengecek permintaan password. Jadi dengan part ini, kalian bisa bebas membaca tanpa repot meminta password.

58 thoughts on “[Skip Version] A Lovely Coincidence 12

  1. chenphy says:

    happy ending..kaya lagunya 2ne1.. ahhaahhahahaa..
    manis bgt hyun disini ikh,,sprt dl sm hwa,,ngelakuin apa aja.. iya kan?? sekarang Lyn,,bukankah dia manis..
    hiihihhiiii..
    semoga dae menemukan gadis yg sesuai..
    amin..

  2. hyaaa happy ending🙂 aah bener2 lega liat Kyu sama Lynn akhirnya bersatu kembali😉 walaupun ga baca part 4 & 5 tapi tetep ga mengurangi rasa kagumku sama alurnya.. daebakk ga tau harus ngomong apa, dari awal masalah penyakit kyuhyun sampe dia dioperasi dan amnesia itu bener2 bikin penasaran slalu ga bisa nebak mau kayak gimana jadinya ini cerita. blum lagi masalah perusahaan yg melibatkan Tuan seo, ahmad matter, chen dan yg lainnya bener2 bikin bingung sekaligus berdecak kagum.. karna dari awal aku slalu kurang ngerti kalo udh bahas perusahaan tapi akhirnya terpecahkan juga akar masalahnya ð̀ĩ part ini.. aaah jinjja aku bener2 kagum sama author yg bikin ini ff!! aaah eonni you are my favourite author!! diitunggu karya lainnya :)) daebakkk!!

  3. compatablemind says:

    i miss part 4 and 5 because i dont know the pass. but its okey. i love the story, alur ceritanya ga ketebak, selalu ada surprise.. hihi.. terutama di akhir cerita.. keep writing~

  4. HAAAH gila keren bgt!!! speechless! pas kyu sama adelynn diculik, itu feelnya dpt bgt, aku sampe nangis kebayang kyuhyun dipukulin sampe babak belur, dan pas adelynn mau diperkosa ak udah teriak2 sendiri, gilaaaaakk. aku suka romantisme kyuhyun adelynn , akhirnya nikah juga, pdahal rintangan nya mereka byk bgt, suka bgt ama crita ini. kadang bingung sama kamu thor, kok bisa bikin ff kaya film sih, konflik2nya itu bener2 masuk akal, hih aku ngefans ah sama author, keren bgt ff nya^^ keep writing thor, and fighting author!!!

  5. HalcaliGaemKyu says:

    Holaaa… Akhirnya selesai jg baca ff a lovely coincidence nya🙂.
    Neomu daebak!
    Keputusan kyu itu memang tepat. Menyerahkan pekerjaan untuk daehyun dan aiden krn dia belum sepenunya sembuh.
    Yg pasti so romantic!
    Gk nyangka dipart2 akhir kyk gini msh aja ada penculikan yg dialami hyun dan lynn. Sempet lupa sm kasus yg belum terselesaikan mengenai ahmad matter.
    Tp semuanya keren! Apalagi waktu penculikan itu. Aksi kyu bener2 wow kekeke..
    Pernikahan kyu yg diadakan mendadak jg merupakan cara unik. Ya…cm kyu yg bs kekeke…
    Ff mu keren!
    Lanjut ya ke ff behind…(BTBE) klo gk salah.
    Aku hrp permintaan pw belum ditutup chinguuu.. Krn aku mau baca semua ff mu.
    Gumawo

  6. raraa says:

    Aku pikir endingnya adelynn bakalan pergi sama kris , tp ternyata tidak dan akhirnya sama kyu , meskipun td ada lg adegan penculikan adelyn dan semua terselesaikan sudah
    Skrang malah mereka berdua sudah married .

    Tinggal tunggu anak lahir lengkap sudah hidupnya kyu hahahah😀

  7. Waaaaahhhhh baca jugaaaakhirnyaaa😀
    Walaupun bacanya yg skip version (wkwkwk ketaun pengen baca nc :p) tapi gak masalah sih yang penting kan ceritanyaaa eon ya.

    huhuhu sempet bingung loh pas liat sikap kyuhyun agak aneh gitu. tapi ya yang penting dia tetep kyuhyun yang lyn suka. Awalnya aku kira itu Daehyun nyamar jadi kyuhyun loh wkwkwk duh fantasi aku tuh suka berlebihan kalo udah mengenai kyuhyun :p

    tapi kasian sama kriss eonn😦 hikssss padahal kasih pasangan dong eon buat dia wkwkwk biar kisahnya makin panjang gitu wkwkwk :p tapi ya yang penting sih lyn sama kyuhyun bahagiaaaa yayyyyy dan gak ada yang matiii hahahaha

    makasihhh eonn udah bikin ff yang menghiburrrr😀

  8. lol unnie, i typing a lots of words and it’s not fits in here. hahaha thankyou unnie for make this such a good ff, you already made me feels random while read it lol >< you know, i never had a clue here /sigh/ i meant about their complicated conxern! haha okok enough and last, thankyou unnie!

  9. upksy says:

    Keren akhirnyaaa,mengharukan..tp sedih Kyu blom recovery kmmpuan kognitifnya ya..Buat bang Kris..sini samaa aku Aja,hehe,tp disini bnyak twistnya,yang bagian ngbndingin Donghae Dan Kris kocak banget deh,ngbyanginnya..wkwk

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s