Behind Those Beautiful Eyes [4]


BTBE 6

Behind Those Beautiful Eyes [4]

What a family is?

Aku menghabiskan bubur, yang sedikit keasinan, yang diantarkan Kyuhyun tadi. Kupaksakan diriku untuk menelan setiap suapnya karena aku membutuhkan energi untuk beraktifitas hari ini. Walaupun tidak menyukai obat, namun aku juga menelan semua obat yang disiapkan Kyuhyun. Kepalaku masih terasa berat sehingga aku tidak punya pilihan selain mengikuti sarannya.

Menurunkan kakiku dari ranjang, aku berdiri dan mengukur kemeja Kyuhyun yang menutup hingga separuh pahaku. Dia pasti punya alasan mengapa harus menggantikan pakaianku. Aku menggelung tinggi rambutku secara asal sambil menguasai stabilitas tubuhku untuk menegak. Rasa pusing yang mendera kepalaku membuatku terseok-seok mencapai kamar mandi. Mataku tertuju pada keranjang cucian yang berjumbul dengan bajuku semalam. Tanganku menganjur dan meremas kainnya yang ternyata lembab. Hidungku mengembus napas pendek, bersyukur Kyuhyun masih punya hati untuk tidak membiarkanku mengenakan pakaian basah semalaman.

Memiringkan kepala, aku membiarkan rambut basahku menjuntai untuk kemudian kuusap-usap dengan handuk. Kugerakkan pergelangan kakiku yang terluka untuk mengobservasi kondisinya. Meskipun masih nyeri, namun tidak semenyakitkan kemarin. Meletakkan handukku, aku mulai mengaplikasikan pelembab ke kulit wajahku disusul beberapa jenis make up lain.

#

Aku menekan sisi nampan, berisi mangkuk dan gelas kosong, ke perutku untuk menjaganya agar tidak merosot. Tangan kiriku kugunakann untuk penumpu berat tubuhku di pengangan tangga karena kakiku yang terluka masih belum sepenuhnya pulih. Aku sedikit kerepotan hanya untuk mengusung perkakas sarapanku ke bawah.

“Kau dianugerahi mulut untuk bersuara,” sinisme Kyuhyun, “dan telingaku masih berfungsi baik untuk mendengar cicitan minta tolong darimu.” Tanpa diminta, dia mengambil nampan dari tanganku.

Aku melipat bibir sebal, lalu mengekor Kyuhyun ke dapur untuk mengambil air putih. Hampir-hampir kusemburkan air dari rongga mulutku saat terkaget dengan bunyi keras di dapur. Menutup pintu kulkas yang menghalangiku dari area dapur, aku menemukan perkakas makanku berserakan di lantai disertai rupa jijik Kyuhyun. “Ada apa?”

Kyuhyun bergumam tidak jelas sembari merapat ke sisi konter yang berhadapan dengan bak cuci. Telunjuknya menunjuk sesuatu dan bibirnya tertarik datar.

My goodness.” Aku menepuk dahiku pelan saat memeriksa hal yang ditunjuk Kyuhyun. “Demi apa pun, itu hanya seekor kecoa!”

“Kecoa tetaplah kecoa, dan binatang itu sangat menjijikkan!”

Aku mengambil spatula untuk membunuh kecoa di bak cucianku. Memukulkannya beberapa kali pada binatang itu, aku kemudian membuka penutup saluran air dan menyentorkan air keran untuk membuang binatang tersebut. Beride jahil, aku mengangkat spatula dan mengarahkannya pada Kyuhyun.

Hya! Jauhkan benda itu!” Kyuhyun berkelit dan memutari konter untuk menghindar.

Jika kakiku tidak terluka, maka sudah kupastikan mengejarnya dan mengerjainya untuk membalas semua sinismenya padaku. “Astaga, kau takut pada seekor kecoa?” Aku mengulum senyumku, memerhatikan raut buruk Kyuhyun. “Sungguh tidak bisa dipercaya!”

“Aku tidak takut! Aku hanya jijik dengan binatang itu!” Tangannya berkacak pinggang.

Tadinya aku bertanya-tanya mengenai hal yang bisa mengalahkan kebengalan Kyuhyun. Saat aku menemukannya dengan tidak sengaja, bagaimana bisa aku menahan tawaku untuk tidak meledak. Aku memegangi perutku hingga membungkuk untuk menertawakan raut lucu Kyuhyun. Menepuk-nepuk permukaan konter dengan tangan kiriku, aku menggunakan punggung tangan kanan untuk menutup kekehanku.

“Young, berhenti tertawa bodoh dan buang benda tidak higienis itu.” Kyuhyun memperingatiku. Dia menekan digit angka di telephon yang dibawa, sebelum menempelkan ke telinganya. “Yeoboseyo, tolong kirimkan petugas kebersihan atau pembasmi serangga, atau apa pun namanya ke rumahku!” Kyuhyun mencerocos dan meninggikan nada bicaranya.

Gosh! Kau tidak perlu melakukannya,” protesku. “Itu hanya seekor kecoa!”

“Aku ingin memastikan rumah ini bersih dari binatang itu dan sejenisnya.” Sementara jemari Kyuhyun menggenggam telephon, telunjuknya mengacung padaku. “Pastikan kau membuang spatula itu!” tandasnya sebelum berlalu.

Aku menggeleng geli dengan perintahnya. Selama ini Kyuhyun selalu menampilkan sisi maskulin, namun pagi ini seakan kecoa telah membawa kabur sisi tersebut. Melemparkan spatula ke plastik sampah, aku menuruti perkataan Kyuhyun. Dia benar-benar terlihat kekanakan ketika berteriak dan berlari dari godaku.

#

Aku melongok dari balik kemudi untuk mencocokkan nama jalan yang kulihat dengan alamat yang tertera di kartu nama yang kupegang. Selain foto seorang wanita, aku menemukan sebuah catatan kecil di surat Kyuhyun yang kusembunyikan. Menelusuri alamat ini tanpa sepengetahuan Kyuhyun memang tindakan kurang ajar, tetapi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.

Setelah memastikan alamatnya benar, aku menghentikan laju mobilku dan memarkirnya di depan sebuah toko buah. Kutekuk leherku ke kanan dan kiri beberapa kali untuk meredakan letih akibat perjalanan ke daerah Gwangju memakan waktu hampir 5 jam. Mengoleskan lip balm di bibir untuk melembabkannya, aku bercermin dan melihat wajahku yang memucat. Tadinya aku sempat mengira Kyuhyun mengkhawatirkan kondisiku karena berulang kali menyarankan agar aku menggunakan jasa sopir daripada menyetir sendiri. Akan tetapi mengingat profesinya sebagai dokter, yang sudah sewajarnya memberikan simpati pada seorang pasien, mengugurkan hipotesisku. Kakiku yang belum membaik ditambah keadaan tubuhku yang masih lemah membuatku sempat berpikir dua kali, namun tujuanku berkendara hari ini tidak mungkin kubeberkan pada orang lain.

Keluar dari mobil, aku mendekat ke sisi depan toko. Tidak selang lama, suara wanita menyapaku dengan sopan sebagai pembeli. Aku menganggukkan kepalaku ketika wanita tersebut muncul dari dalam. “Annyeonghaseyo.”

Sapaanku tidak berbalas karena wanita itu nampak terkejut melihatku. Dia menjatuhkan rahangnya, namun segera menguasai ekspresinya kembali. Mengubah rautnya menjadi tegang, aku yakin dia mengenaliku. “Nona Choi tidak mungkin kemari hanya untuk membeli buah, bukan?”

“Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri.”

“Atau mungkin kau lebih berkenan jika aku menyapamu sebagai nyonya muda Cho?” Wanita itu membalik badan dan menggeser pintu untuk mengisyaratkanku agar mengikutinya.

Aku melepaskan sepatu saat memasuki rumahnya. “Lalu apakah aku mesti memanggilmu eonni seperti seharusnya seorang adik menyapa kakak iparnya?” Kukembalikan ucapan tidak menyenangkan wanita ini. Menekuk lututku, aku duduk bersimpuh saat dia mempersilakanku dengan dingin. “Cho Ahra-ssi, apakah aku juga harus mengalamatkanmu sebagai Kim Seobin?” cercaku.

Wanita yang berhadapan denganku saat ini tidak lain adalah Cho Ahra, kakak perempuan Kyuhyun. Untuk mengaburkan jejak, dia mengganti namanya menjadi Kim Seobin. Perawakannya yang tidak lebih tinggi dariku membuatnya malah terlihat sangat manis. Mata sipit, hidung mungil meninggi, dan bibir merah muda yang penuh menyempurnakan penampakan fisiknya. Sayangnya ekspresi kaku dan sikap tidak bersahabatnya membuatku menjatuhkan nilai buruk padanya.

“Aku tidak mengharapkanmu datang menemuiku. Diluar dugaan bahwa kau yang datang, bukannya adik lelakiku.” Mata Seobin menatap angkuh padaku. Tipikal seseorang yang sedang mempertahankan diri.

“Kau tentu tidak mengharapkan dia akan datang menemuimu, bukan?” pertanyaan retorikku adalah sebuah sindiran. Dari bagaimana Seobin menyambutku, tidak mungkin wanita ini mendambakan bertemu Kyuhyun. Walaupun cukup terkejut dengan reaksi Seobin, tetapi aku tetap menjaga emosiku datar.

“Cepat atau lambat, aku tahu Kyuhyun akan menemukanku.”

“Kalau begitu, mengapa kau tidak menghubunginya?”

Seobin menarik sudut bibirnya untuk melecehkan pertanyaanku. “Apa maumu, Miyoung-ssi? Kau di sini tentu bukan mewakilkan Kyuhyun. Tidak perlu ragu untuk melepaskan topeng yang selama ini kau kenakan karena aku lebih tahu mengenai keluargaku sendiri.”

Aku mengutuki diriku yang tidak mempersiapkan diri menghadapi pertemuan ini. Bahkan diriku sendiri tidak mengetahui tujuanku menememukan kakak perempuan Kyuhyun. Tindakanku kali ini lebih seperti naluriah. “Mengapa kau meninggalkan keluargamu, Seobin-ssi? Aku tidak yakin kau pergi hanya karena mengikuti pria yang kau cintai.”

Seobin tertawa hambar untuk menanggapi asumsi sepihakku. “Jika alasanku memang seperti itu, maka apa mau dikata?” tantangnya.

Senyumku terkembang tipis untuk merendahkannya. “Aku sudah meletakkan topengku, kini giliran kau melakukan hal sama.” Aku tahu persis maksud ‘topeng’ yang disebutkan oleh Seobin. Itu berarti dia mengerti benar bahwa aku menikahi Kyuhyun bukan karena kami saling mencintai, melainkan atas dasar perjodohan atau apa pun itu.

Dibandingkan denganku, Seobin menurutku lebih beruntung karena lahir dan tumbuh di lingkup suatu keluarga terpandang. Indoktrinasi kehidupan sosialita atas tentunya sudah mengental di darahnya daripada aku yang berasal dari proletariat. Jika aku berada di posisinya, maka tidak mungkin kutinggalkan keluargaku hanya demi satu kata menggelikan bernama cinta.

“Aku tidak meninggalkan mereka, jika mereka tidak meninggalkanku terlebih dahulu. Kau tentu tidak menyangka bahwa aku adalah anggota keluarga Cho, Miyoung-ssi.”

Aku mendengarkan Seobin tanpa mengindahkan kakiku yang mulai mati rasa.

“Mereka tidak menginginkan seorang anak perempuan karena seorang anak lelaki lebih berguna untuk mewarisi Assan. Sayangnya mereka akan menelan pahit dogma itu karena putra yang mereka banggakan memiliki sisi kelam.”

Aku menelan gumpalan salivaku, mendapati pernyataan implisit Seobin yang mengetahui perilaku menyimpang Kyuhyun. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Seobin meragukan pernikahanku dengan adiknya. “Mengatakan pernyataan tersebut dengan mudah seolah menunjukkan bahwa kau tidak peduli dengannya.”

“Apakah aku harus berlapang dada dengan dosa yang adikku lakukan, Miyoung-ssi? Dia terlalu jauh melewati batasannya. Keangkuhan dan harga dirinya yang tinggi hanyalah kedok dari kebusukkannya. Dia tidak lebih dari seonggok sampah yang tersimpan dalam kemewahan.”

“Kau kakak kandungnya, Seobin-ssi!” tanpa sadar aku mengeraskan nada bicaraku. Aku bahkan memukulkan tinjuku pada permukaan meja. Mendengar kritik keras Seobin pada Kyuhyun memanaskan kupingku.

Eomma…” suara kecil menyahut dari belakangku.

Saat aku menoleh, aku menjumpai seorang gadis cilik berumur empat atau lima tahun. Menunduk memandangi kaki kecilnya, dia terlihat gamang untuk masuk.

“Oh, Cheonsa-ya.” Seobin menganjurkan tangannya untuk memanggil gadis itu. Dia melipat tangannya ketika gadis kecil itu menubrukkan diri ke pelukannya. “Berikan salam kepada bibimu, Agiya.”

Cheonsa memutar tubuhnya menghadapku, kemudian menundukkan kepala memberi hormat. “Annyeonghaseyo, Kim Cheonsa-imida.”

Walaupun terkejut dengan kenyataan yang kuperoleh, namun aku tidak punya pilihan selain menjawab sapa gadis ini. “Annyeong, Cheonsa-ya.” Aku mengulurkan tanganku untuk membelai pipi tirus Cheonsa. Meneleng wajahku, aku sedikit bertanya mengapa gadis kecil ini terlihat begitu rapuh.

Agiya, bisakah kau bermain di luar bersama appa, sementara eomma berbicara dengan Miyoung Imo?” Seobin menepuk halus badan Cheonsa.

Cheonsa mengangguk paham. Sebelum dia berlalu, tubuhnya menghadapku dan jemari mungilnya menyentuh sudut bibirku. “Miyoung Imo neomu neomu yeppeo.” Wajah lucunya terlihat bertambah menggemaskan ketika dia tersenyum.

Aku tersenyum tulus memaknai pujian Cheonsa.

“Seperti yang kau lihat, Miyoung-ssi,” suara Seobin menarikku kembali, “aku telah memiliki keluargaku sendiri di sini. Bahkan jikalau pun Kyuhyun sendiri yang datang, tidak akan mengubah keputusanku.”

“Kau mencemburui adikmu kandungmu karena dia akan mewarisi Assan?”

“Aku bahkan pernah berharap dia tidak pernah dilahirkan,” tandas Seobin yang mencengangkanku. “Aku selalu berharap orang tuaku mau memerhatikan segala prestasiku, meskipun tidak secermelang Kyuhyun. Akan tetapi mereka tidak pernah melakukannya. Aku bagaikan sebuah pencilan di keluargaku sendiri.”

“Oleh karena alasan tersebut, kau memilih kabur dengan orang lain?” Aku menggeletukkan gigi-gigiku.

“Dia bukan orang lain, Miyoung-ssi! Dia adalah orang yang mencintai dan dicintai olehku. Orang yang kuharapkan memberikan esensi keluarga yang hilang dariku.”

Dalam hati aku juga berharap Kyuhyun tidak pernah bertemu dengan Seobin sehingga dia tidak perlu mendengarkan pendapat kasar kakaknya sendiri. “Kurasa tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi.” Menumpukan tangan pada lantai kayu, aku bangkit dari duduk. Akan tetapi rasa pening di kepalaku dan rasa kesemutan di kakiku menghempaskan badanku kembali duduk.

“Kau baik-baik saja, Miyoung-ssi?”

Aku melihat tubuh Seobin menduplikat dan memiring. Memijat pelipisku, aku mencoba meredakan rasa pening. Kutepis tangan Seobin yang memegangi pundakku. “Aku baik-baik saja.” Berdiri dengan mengerahkan seluruh tenagaku, aku menunduk untuk meberikan salam. Tidak kuucapkkan kalimat perpisahan seperti adat biasa karena pembicaraan kami tidak berkenan.

Mencapai pintu, gerakkanku tertahan saat Seobin membuka mulutnya kembali.

“Aku memiliki malaikat yang harus kujaga, Miyoung-ssi. Kuharap kau mau mempertimbangkan hal tersebut,” ucap Seobin.

“Meskipun Kyuhyun adalah seorang gay, tidak lantas membenarkanmu untuk menghinakannya. Aku menyadari pernikahan kami tidak lebih dari suatu kamuflase, namun Kyuhyun tetaplah suamiku. Lain waktu kau merendahkannya, kupastikan kau menyesali perkataanmu, Seobin-ssi.” Arogansiku secara impulsif mencuat.

“Kalau begitu, jagalah dia sebagai kehormatanmu. Hal yang tidak pernah bisa kulakukan,” lirih Seobin seakan menyesali perucapannya tentang Kyuhyun. “Satu lagi, Miyoung-ssi.”

Kutahan tubuhku untuk berdiri membelakangi Seobin.

“Kyuhyun bukanlah seorang gay.”

Tercengang dengan kalimat Seobin, aku menghadapkan tubuhku padanya. Alisku berpaut untuk mengekspresikan rasa tanyaku. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada Kyuhyun akhir-akhir ini hingga kau menilai dirinya sebagai gay. Dia seorang biseksual.”

Meskipun sempat merasa kacau dengan perucapan Seobin mengenai Kyuhyun, aku tidak mengacuhkan perkataannya dan segera pergi meninggalkan rumahnya. Begitu duduk di belakang kemudi, mataku menangkap sosok Cheonsa yang melambaikan tangannya ke arahku. Malaikat yang Seobin harus jaga adalah gadis cilik itu; Cheonsa.  Menurukan kaca mobil, aku balas melambai. Kuberikan senyum terbaikku sebagai salam perpisahan bagi Cheonsa. Seburuk apa pun hubunganku atau Kyuhyun dengan Seobin, Cheonsa tidaklah terlibat. Tercenung sejenak tatkala seorang pria menggendong Cheonsa, aku melirik catatan kecil alamat Seobin yang membawaku kemari. Meremas catatan catatan tersebut, aku melemparkannya keluar sebelum menutup kembali kaca mobil.

#

Aku menyesap wangi cappuccino sebelum meneguknya dalam kuantitas kecil. Kuperiksa kembali arlojiku yang tengah menunjukkan pukul 10 malam. Sekembalinya dari Gwangju, aku menghubungi orang kedua yang ingin kutemui hari ini. Dera letih akibat menyetir seharian tidak menyusutkan niatku.

Kaos polo bewarna gelap dipadu dengan blazer semi formal dan celana jeans membuat pria yang berjalan ke arahku tampil sederhana, namun memukau. Pada dasarnya, dia selalu terlihat menarik walaupun hanya mengenakan kaos dan celana santai. Rambutnya yang kini bewarna blonde dicukur rapi dan jambulnya yang meninggi mengekspos jelas dahinya. Dia tampak berlipat lebih tampan dengan gaya rambut seperti itu. Walaupun kami tidak akur, namun aku tidak malu untuk mengakui pesona kakakku. Seriously ladies, he’s freaking damn hot!

“Sudah lama menunggu, Youngie?”

Aku menggeleng untuk menjawab. Mengaduk tasku, aku mengeluarkan kotak bewarna biru yang dihadiahkannya untuk ulang tahunku. Walaupun ingatanku secara lamat-lamat memaknai pemberiannya, tetapi aku tidak tahu maksud dirinya meghadiahkan kenangan kecil ini.

“Kau ingin mengembalikan hadiah yang kuberikan?” Siwon mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak,” jawabku datar, “aku hanya tidak tertarik dengan pemberianmu.”

Siwon terkekeh ringan. “Kau juga tidak tertarik saat dulu aku memberikannya.”

“Apa motifmu, Siwon-ssi?” Aku tidak mau memanggilnya dengan sebutan oppa, namun jika kulakukan, maka kami akan membuat keributan di tengah publik.

Siwon mengembuskan napas pendek. Kantung mata dan raut kuyu mempertegas kelelahannya. Meskipun hubunganku dengan Siwon tidak lebih baik daripada Kyuhyun dengan kakak perempuannya, namun Siwon tidak pernah menghinakanku seperti apa yang Seobin lakukan. Mungkin Siwon juga berharap aku dan ibuku tidak pernah hadir dalam kehidupan keluarganya, tetapi dia tidak pernah melafalkannya secara gamblang di depan wajahku. “Apakah salah jika aku memberikan kado bagi adikku di hari ulang tahunnya?” ucapnya yang diakhiri dengan menarik salah satu sudut bibir.

Aku memutar mataku jengah. “Kita tahu persis hubungan kakak beradik ini hanyalah lelucon.”

“Kau masih sama seperti Miyoung kecil yang kukenal,” sinis Siwon dibarengi seringai, “unreachable.”

“Baik dulu maupun sekarang, aku tidak menangkap intensimu memberikan benda tersebut.”

“Kau mengingat sesuatu, Youngie?” Tubuhnya yang tiba-tiba mencondong ke arahku mengesankan antusiasmenya. “Bagian apa yang kau ingat?”

“Apa maksud pertanyaanmu?” Kumundurkan tubuhku hingga mencapai sandaran kursi. Sikap defensifku selalu muncul ketika Siwon mempersempit jaraknya terhadapku karena kedekatannya merupakan ancaman.

Siwon menggerakkan rahang bawahnya, menimbang jawaban yang ingin dia berikan. Dia menarik diri, kemudian mengurut dahinya. Agaknya kakak lelakiku ini sedang dirundung masalah. “Tidak ada. Aku hanya berasumsi bahwa kau mungkin menemukan,” Siwon membaringkan telapak tangannya di udara, “buah cemara itu atraktif.”

Jawabannya yang canggung meragukanku, tetapi aku malas bertanya lebih lanjut. “Kau bermasalah?” Keingintahuanku muncul begitu saja.

Siwon menautkan alis tebalnya hingga dahinya berkerut.

Aku tidak berani menyuarakan nama Kyuhyun sebagai tebakkanku karena besar kemungkinan akan menimbulkan atmosfir panas antara kami. Baginya dan Kyuhyun, aku adalah orang ketiga yang berpotensi memperburuk dan memperkeruh hubungan mereka. “Abaikan pertanyaanku, Siwon-ssi.” Kuambil kotak kado dari Siwon untuk kumasukkan ke dalam tasku. “Masing-masing dari kita mengemban misi kehidupan yang berbeda. Kuharap suatu hari kita bisa hidup selaras tanpa tertekan atas eksistensi lainnya.” Memundurkan kursiku, aku berdiri. “Terima kasih atas kadonya,” walau belum menemukan kepastian, aku tetap berterima kasih untuk hal ini.

“Youngie,” panggilan Siwon menghentikanku, “jika kita tidak dipertemukan dalam keluarga Choi, mungkinkah saat ini hubungan kita bisa lebih baik?”

“Akan kuutarakan pendapatku jika aku telah mempertimbangkannya dengan baik, Siwon-ssi.” Melalui ucapan tersebut, aku menutup pertemuan kecil dengan kakak lelakiku.

#

Melepaskan blazer putih dan melemparkannya ke ranjangku, aku menurutkan tubuhku untuk berbaring. Kelopak mataku memejam tanpa mengindahkan bunyi perutku yang meronta untuk diisi. Pekerjaan dan pertemuan dengan dua orang yang kusebut keluarga menyerap seluruh energiku.

Aku memaling ke sudut ranjangku dan mendapati kemeja Kyuhyun yang terlipat rapi. Sekilas pandang, aku tergoda untuk mengenakannya kembali. Wangi dan lembut bahannya membuatku nyaman. Dolce and Gabbana tentunya!

Senyumku tersungging secara spontan mengingat raut lucu Kyuhyun pagi ini. Sayang sekali aku tidak membawa kamera untuk mengabadikan ekspresi ketakutannya pada binatang yang tak lebih besar dari ibu jarinya. For God sake, seekor kecoa! Menyimpan memori ini, aku menyeluduk ke alam mimpi dengan tersenyum.

#

Holy crap! What the heck did you do with your hair?” Aku memegangi dadaku saat melihat gaya baru Luhan.

Coloring pink, I guess.” Luhan menyengir dan mengangkat bahunya enteng. Jemarinya menurut jambul yang kini bewarna pink dengan gradasi yang lebih tua di pangkalnya. “As I remembered what pink monster said,” dia membuat tekanan horizontal di udara, “all the pinks are mine!”

And, did you address me as pink monster?” teriakku histeris. Pink adalah warna favoritku sejak kecil karena fantasi akan fairy tale dimana kefemininan dilambangkan oleh warna ini.

Who else?” Luhan mengerling kepadaku.

Drop your cheesiness and,” sebelah tanganku berkacak pinggang, “don’t flirt with me!”

“Oh, c’mon, Youngie.” Luhan mengekorku hingga aku mencapai kubikelku.

Mengangkat tanganku, aku bermaksud menghentikan rengekkan Luhan. Aku menghadiahi tatapan tajam ketika dia mulai mencebikkan bibirnya. Jangan salah mengira dengan wajah ‘cantiknya’, dia berkelakuan molek. Luhan jauh dari kata itu.

Ok, fine!” putus Luhan. “By the way, Ahreum Noona memanggilmu ke ruangannya.” Raut wajahnya berubah secara drastis, yang tadinya humoris menjadi kaku.

“Ada apa?”

“Areal pembangunan Disney menjadi sengketa.”

Aku menyilangkan tanganku di depan dada. “Lu, setahuku persoalan tersebut bukan kewenangan kita. Masalah pembebasan lahan ada di luar tanggung jawab tim kita.”

“Aku tahu, Youngie,” tekan Luhan, “tapi Noona memaksamu tetap menemuinya. Sepertinya kita akan secara resmi mengadakan konferensi pers terkait proyek Disney.”

“Hanya karena isu lahan, kita perlu mengklarifikasinya melalui media?”

“Tidak, bukan itu. Ahreum Noona menginginkan beberapa orang penting terkait proyek Disney untuk hadir di konferensi pers, termasuk kau sebagai ketua tim arsitektur.”

Ok, aku akan menemuinya nanti.”

“Youngie, kau sakit?” Luhan menganjurkan tangannya untuk mencapai keningku, namun sebelum menyentuhku, aku terlebih dulu menangkis tangannya.

“Tidak,” tandasku dengan tatapan waspada untuk memberitahukan Luhan bahwa aku tidak berkenan dengan sentuhan orang asing. “Aku baik-baik saja.”

“Kau pucat.”

“Terima kasih atas perhatianmu. Sekarang kembalilah ke mejamu dan berikan aku design logo Disney yang sudah kau rombak dalam dua jam!”

#

Mengurut pelipisku, aku meletakkan tasku di atas meja makan dan melenggang ke dapur untuk mencari air putih. Tubuhku terasa lunglai karena masalah yang dihadapi timku bertambah. Meneguk air yang melegakan dahagaku, kupingku mendengar ketuk sepatu mendekat.

“Kau bisa jelaskan ini, Young!” Kyuhyun melempar sesuatu ke meja makan.

Begerak mendekat, aku mengamati amplop yang dilemparkan Kyuhyun. Memaki dalam hati, seharusnya aku menyembunyikan amplop tersebut di tempat lain.

“Kau memeriksa suratku?” tanya Kyuhyun dengan nada yang tidak menyenangkan.

Aku memutar mataku dan memikirkan alibi yang tepat. “Aku tidak sengaja menumpahkan air minum pada amplop sebelumnya sehingga terpaksa menggantinya dengan yang baru.”

“Jangan macam-macam, Young,” geram Kyuhyun sembari mendekat. “Apa yang kau tahu mengenai kakak perempuanku?” Rahangnya yang mengeras merupakan representasi kemarahannya.

Aku tidak ingin mengaku intervensiku pada urusan Kyuhyun dengan kakak perempuannya. Kelugasan Seobin untuk memberikan pendapatnya mengenai adiknya sendiri terlalu melukai. Di pihak lain, aku juga tidak ingin memperdaya Kyuhyun dengan kebohongan. Membungkam mulut, aku berharap Kyuhyun memaknai tindakanku sebagai ketidakmengertian.

Mendorong tubuhku, Kyuhyun mengimpitku pada meja makan. Tangannya mencengkeram ringan leherku, sedangkan matanya menatap tajam wajahku. “Apa yang kau temukan di dalam amplop sebelumnya, Young?”

“Apa maksudmu?” Aku menggeram ketika Kyuhyun mengeratkan cekikkannya.

“Jangan berlagak bodoh!” sentaknya.

“Keuntungan apa yang kuambil dengan mencampuri skandal keluargamu, Kyuhyun-ah?” Kuharap sarkasmeku bisa menghentikan intimidasi Kyuhyun.

Cish,” Kyuhyun menyeringai untuk mengapresiasi retorikaku. “Banyak orang yang menginginkan bukti otentik kebobrokkan keluargaku, Young,” ungkap Kyuhyun dengan getir.

Aku lupa kalau masyarakat akan dengan rakus mengkonsumsi skandal pemilik Assan andai masalah ini sampai di tangan media. “Kalau begitu, aku adalah suatu eksepsi.”

“Bagaimana aku bisa menganggapmu pengecualian kalau kau dengan lancang mengusik privasiku?!”

“Kalau begitu, mengapa kau tidak menanyakan informasi yang kau perlukan pada detektif yang kau sewa?” Aku mengulur waktu dengan tantangan tersebut. Andai Kyuhyun melakukannya, habis sudah sandiwaraku.

Kututup mataku dan kupalingkan wajahku dengan cepat saat Kyuhyun memajukan wajahnya. “Andai aku bisa melakukannya, Young.” Napasnya yang hangat dan tidak beraturan menumbuk pipiku. “Sayangnya, detektif itu tewas dibunuh pagi ini!” raung Kyuhyun.

Membuka mata dan menjatuhkan rahang, aku tidak tahu harus bersyukur atau mengasihani. Kugigit bibir bawahku yang tiba-tiba bergetar.

Kyuhyun menghempaskan tubuhku dengan kasar sebelum berteriak frustrasi. Dia menjambak rambutnya, kemudian menyerampang benda-benda di atas meja makan. Perkakas yang kebanyakan terbuat dari kaca maupun porselen berjatuhan dengan keras. Beling segera menyebar dan merata di lantai.

Aku mematung dengan tindakan impulsif Kyuhyun. Agaknya masalah kakak perempuannya adalah hal penting baginya. Bukan karena Kyuhyun ingin bertemu Seobin, melainkan karena hal yang ingin dia capai andai berhasil menemukan Seobin. Aku menyimpulkan demikian karena mengingat kebencian Seobin pada Kyuhyun. “Apa yang ingin kau lakukan jika kakakmu ditemukan?”

Kyuhyun berkacak pinggang dengan dada naik turun. Rambutnya yang berantakan, ekspresinya yang suram, dan kemeja birunya yang kusut mendiskripsikan kekacauan dirinya. “Melimpahkan Assan padanya,” ucapnya singkat.

“Dengan begitu kau bebas terbang ke Kanada untuk mengikat diri dengan Siwon?”

“Ya!” lantang Kyuhyun secara spontan yang membuatku terhuyung. Andai kata dia sedang tidak kacau, mungkin tidak akan mengungkapkan ganjalan hatinya. “Dan kau telah mengacaukannya, Young!” tudingnya.

Aku merasa terkhianati sekaligus lega. Terkhianati karena ternyata Kyuhyun secara implisit telah mendefinisikan tenggat waktu pernikahan kami. Lega karena aku melakukan tindakan benar dengan menyembunyikan kenyataan tentang Seobin.

Kuraih lengan Kyuhyun sebelum dia berlalu. Lidahku terasa kelu untuk melafalkan kekecewaanku. Meremas lengan kemeja Kyuhyun, aku mencoba melisankan kalimat di ujung lidahku. Akan tetapi kepalaku yang terasa pening menahanku. Mengangkat tanganku, aku menggunakan pangkalnya untuk memijit pelipis. Pandanganku yang berputar memutih dan menggelap di detik selanjutnya. Pendengaranku hanya menangkap pekik namaku dari mulut Kyuhyun.

#

Aku membuka kelopak mataku dengan pasti, namun penglihatanku mengabur putih. Memejamkan mata kembali, hidungku mengendus bau obat yang cukup mengganggu karena aku sensitif terhadap hal-hal medis. Kubuka mataku kembali dan kuangkat tanganku ke depan wajah. Menemukan suntikan selang infus tertancap di punggung tanganku, aku berpikiran berada di rumah sakit. Mendesah pasrah, aku kembali memfokuskan penglihatanku agar lebih jelas. Warna putih langit-langit dan warna merah muda pucat dinding yang kukenal meruntuhkan dugaanku. Bernapas lega, aku berada di kamarku.

Napas yang kuembuskan malah terasa membakar kulit wajahku. Seluruh permukaan tubuhku terasa begitu panas, persendianku terasa ngilu, dan anggota gerakku terasa lumpuh. Tenggorokkanku yang kering dan sakit membutuhkan air untuk menyejukkannya.

Menoleh ke arah samping untuk menemukan air, aku malah mendapati Kyuhyun meringkuk di sisiku. Tubuhnya yang menindih selimutku mengindikasikan bahwa dia tidak sengaja tertidur di sini.

Aku menganalisis wajah Kyuhyun dengan teliti. Mata sipit tajamnya yang meruncing di ekor, batang hidung bangirnya yang meninggi dengan sempurna, serta bentuk papar dagunya merupakan representatif sisi maskulin. Pipi cubby yang menyamarkan ketegasan garis rahangnya dan bibir penuh yang kini bewarna pucat mewakilkan sisi feminin. Poni menggantung di dahinya yang hampir menutup alis terkadang menonjolkan sisi manisnya. Kyuhyun adalah maskulinitas dengan injeksi feminin yang tepat.

Gerakan halus Kyuhyun membuatku bertindak waspada. Bagaimana pun dia adalah lelaki. Aku menoleh ke sisi berlainan untuk membuka laci meja. Memanjangkan tanganku, aku berupaya meraih botol sedatif yang kemarin kusimpan untuk persediaan. Aku hanya berjaga-jaga andai tidak bisa mengendalikan emosiku lagi dengan kedekatan seperti ini. Aku mengerang karena residual energiku seakan tidak mampu untuk sekadar mengangkat tanganku.

Damn it, Young! Apa yang kau lakukan?!” Kyuhyun menyampar tanganku yang tengah meraih botol penenang. Dia mencekal pergelangan tanganku dengan tangan kanan, sedangkan siku tangan kirinya menumpu bobotnya. Tubuhnya yang menjulang melaluiku membuat wajahku beradu dengan dadanya.

Sebelum kami beradu argumen, dering ponsel yang kupastikan milik Kyuhyun menunda persiteruan. Kyuhyun melirik tajam untuk membungkamku selama dia menerima telephon. “Yeoboseyo, Appa.” Dia tidak menarik tangannya yang mencekalku. “Bisakah dr. Kim Jongwoon menggantikanku? Young demam tinggi sehingga aku tidak bisa meninggalkannya.” Kyuhyun menggunakan nada datar dengan mata yang awas menatapku. “Aku akan membawanya ke Assan jika sore ini keadaannya memburuk.” Menekan kata terakhir, dia seolah menyampaikan kalimat tersebut untukku. “Ne, Appa.”

Menutup panggilan, Kyuhyun menghempaskan tanganku. Dia kembali berbaring, lalu meremas rambutnya. “Riwayat demam sebelumnya, kelelahan, dan malnutrisi,” dia menyebutkan hal yang membuatku terbaring lemah di sini. “Jika sore ini demammu belum turun, maka terpaksa aku harus membawamu ke Assan untuk observasi lanjut karena takutnya kau terserang pneumonia atau meningitis,” serak bangun pagi Kyuhyun membuat suaranya terdengar memberat.

Kyuhyun bangun, kemudian meraih gelas berisi air putih. Dia membantuku minum. “Dehidrasi adalah hal wajar karena demammu hampir mencapai 40 derajat celcius.” Meletakkan kembali gelas tersebut, Kyuhyun meraih botol sedatif yang tadi ingin kuambil. “Sejak kapan kau menggunakannya, Young?”

Aku menghindari tatapan Kyuhyun dengan berpaling ke arah lain.

“Siapa yang meresepkannya untukmu?” Kyuhyun bergeming di sisiku, sementara aku masih menutup rapat bibirku. “Untuk keperluan apa kau menggunakannya?” pertanyaan kali ini, aku tidak mungkin menjawabnya karena hal tersebut adalah kelemahanku. “Bisakah kau membuka mulutmu!” teriak Kyuhyun yang mulai habis kesabaran. “Kalian hanya akan membuat kepalaku meledak!” Aku melihat botol obatku melayang menumbuk dinding di depanku.

Menoleh untuk bertatapan dengan Kyuhyun, aku mendapati raut kacaunya. “Dengar Kyuhyun-ah, aku tidak ingin mengorek privasiku akan hal ini. Aku tahu kapasitas tubuhku sehingga kau tidak perlu mencemaskanku,” kugigit bibirku, “seperti dokter mengkhawatirkan pasiennya.”

Kyuhyun memejamkan mata dengan napas yang memburu. Wajahnya yang merah padam menandakan kemarahannya tidak main-main. Mengingat kekusutan yang sama dengan Siwon, agaknya mereka berdua juga sedang dalam masalah.

“Siwon?” lirihku untuk menawarkan topik yang mengganggu Kyuhyun saat ini.

Membuka mata, Kyuhyun tersenyum hambar. Dia membanting tubuhnya hingga terbaring lagi di sisiku dengan tangan bersedekap. Aku bersyukur ranjang ini berukuran cukup besar sehingga kami tidak berdekatan secara intim. “Terima kasih untukmu sehingga hari ini aku memiliki day off.”

Aku melirik Kyuhyun dengan perasaan was-was. Pertengkaran kami semalam dan masalahnya dengan Siwon, yang tidak kumengerti, membuatnya terlihat sangat buruk. “Hyunnie…” ucapku dengan volume kecil untuk menarik perhatiannya.

“Seharusnya aku membiarkanmu sekarat! Seharusnya aku membiarkan hyung mematahkan kakinya!” ucap frustrasi Kyuhyun.

Aku diam karena tidak tahu harus bercakap apa. Berpaling ke sisi meja, aku menggapai ponselku yang berunyi menandakan panggilan masuk. “Yeoboseyo.”

“Kau dimana, Youngie?” suara Luhan terdengar gusar.

“Di rumah.”

“Nyalakan televisimu sekarang!”

Aku meraih remote tv yang kusanding, kemudian mengarahkannya ke depan. Berita mengenai konflik Korea Selatan dan Korea Utara yang sedang memanas masih betah menjadi headline seminggu ini. Wajah abeoji sebagai menteri pertahanan memenuhi layar kaca. Dia menyampaikan pidatonya mengenai aksi yang diambil oleh negaraku. Mengganti chanel, berita mengenai sengketa tanah yang akan dijadikan lahan Disney Land menjadi topik baru yang cukup menarik. “Aku sudah melihatnya, Lu. Itu mengapa sore nanti Dae-A akan mengeluarkan pernyataan resmi mengenai proyek ini.”

“Batalkan konferensi pers itu, Youngie. Setidaknya, biarkan aku yang mewakilkanmu,” tawar Luhan.

“Tidak!” tolakku keras. “Untuk apa aku melakukannya?”

“Apakah kau belum mengerti juga? Appa-mu baru saja mengeluarkan instruksi terkait konfrontasi negara kita dengan Korea Utara. Sebagai informasi, ini pertama kali negara kita membuat pernyataan terbuka selama seminggu ini.”

“Lalu apa hub—“ Aku memukul dahiku pelan ketika mengumpat. Luhan mengkhawatirkan keberadaanku di konferensi pers nantinya akan membawa kericuhan terkait kebijakan politik abeoji.

“Jika kau sudah mengerti, lekas bawa wajahmu ke kantor!”

“Berikan aku waktu dua jam untuk ke sana.”

Sebelum pembicaraanku selesai, Kyuhyun dengan gesit menyambar telephonku. “Aku dr. Cho Kyuhyun, suami sekaligus dokter pribadi Miyoung.”

“Kyuhyun-ah!” Aku mencoba meraih sisinya dan merebut kembali ponselku dari tangan Kyuhyun. Akan tetapi untuk mengangkat kepalaku, aku sudah kepayahan.

“Hari ini, aku tidak mengizinkannya beraktifitas karena kesehatannya memburuk.” Tangan kanan Kyuhyun menahan gerakanku, sedangkan tangan kirinya memegangi ponselku. “Jika ada yang perlu disampaikan, maka kau bisa menghubungi Assan Medical Center divisi bedah untuk meninggalkan pesan.” Memutus panggilan, Kyuhyun menjatuhkan ponselku ke lantai.

Tanganku yang memanjang tidak mampu mencegah ponselku yang jatuh. Memukul dada Kyuhyun, aku menyalurkan kekesalanku. “What the hell—“ amarahku terhenti begitu rasa menusuk menyambangi tenggorokkanku dan rasa pening mencampakkan kepalaku jatuh di dada Kyuhyun.

“Lihat,” sarkasme Kyuhyun, “kau bahkan tidak bisa mengangkat kepala bebalmu!”

Aku memegangi kepalaku yang terasa berputar. Mataku memejam dan mulutku hanya bisa menggeram kecil. Merilekskan ketegangan otot-otot wajahku, napasku mulai berirama teratur. Pipiku yang menempel di dada Kyuhyun dapat merasakan kontur tubuhnya, yang meskipun tidak terlihat berotot, tetapi terasa padat. Wangi maskulin dengan wangi manis yang minor menyuruk rongga hidungku. Aku bersiap mengangkat kepalaku sebab takut andai traumaku kambuh, namun pundakku tertahan.

Terdiam sejenak, aku mempersiapkan diri untuk memperoleh guncangan emosi lagi. Akan tetapi selang beberapa saat, aku tidak merasakannya. Walaupun jemariku bergetar ringan dan hatiku risau, namun aku masih bisa menguasai kekalutan. “Kalian bertengkar karenaku?” suaraku yang serak nyaris tidak terdengar.

Aku bisa merasakan Kyuhyun menghembus napas dengan cepat saat kepalaku mengikuti kembang kempis dadanya. “Salah satunya, ya.” Agaknya ketegangan di antara kami sedang meluruh karena Kyuhyun menjawabku dengan nada lemah.

Aku tidak pernah menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis secara intensif, namun menyadari posisiku sebagai pihak ketiga bukanlah hal menyenangkan. “Andai aku mengucapkan permintaan maaf, apakah akan melegakanmu?” Belajar dari pengalaman hidupku, satu kata ini tetap tidak bisa menghapus semua luka yang sudah tertoreh.

“Walaupun kau mengucapkannya berulang kali, tidak akan memperbaiki apa pun.”

“Kyuhyun-ah?”

Hmm…” Kyuhyun bergumam kecil untuk menjawab panggilanku. Dia terdengar malas sekaligus dan pasrah.

What a family is?”

Kyuhyun membisu cukup lama begitu aku selesai menyuarakan pertanyaanku. Gerak dadanya yang teratur membuatku berpikir dia tengah merenungkan jawaban. Bukan tidak mungkin, Kyuhyun layaknya Seobin atau bahkan diriku yang belum bisa memaknai doktrin ini.

Aku menggerakkan kepalaku untuk menengadah hingga bersemuka dengan Kyuhyun. “Kau tidak akan mendapatkan sanksi untuk jawaban pertanyaanku.” Memecah keheningan, aku memberikan guyonan ringan.

Ponsel Kyuhyun yang kembali berdering memupus percakapan kami. Merogoh ponsel, dia memeriksa penelphonnya sebelum men-swap layar untuk mengangkat panggilan. “Yes Love?” dengan sapaan seperti itu, Kyuhyun sekaligus mengisyaratkanku untuk diam. “Aku tidak ada jadwal operasi. Jadi saat ini, aku bebas.”

Mempertimbangkan diriku yang tidur berbantal dada Kyuhyun, aku merasa sebagai pelacur yang menyelingkuhi kekasih orang lain. Kupingku tidak tuli untuk mendengarkan percakapan Kyuhyun dengan Siwon yang membuat perutku sedikit bergejolak.

“Kutemui kau di tempatmu, Hyung.” Kyuhyun membantuku berbaring begitu dia selesai menerima telephon. Dia memperbaiki infusku yang sempat tertarik karena pergulatanku tadi. “Jangan beraktifitas, Young. Aku akan kembali siang nanti untuk memeriksamu.”

Aku tidak menggubris pesan Kyuhyun. Melengoskan wajahku darinya, aku menurunkan kelopak mataku.

Guncangan ranjang menandakan bahwa Kyuhyun telah bangun. “Young,” panggilannya menarik perhatianku, meskipun aku tetap bergeming, “idealisasiku, keluarga adalah perlindungan.”

Mendengar pintu yang tertutup, aku memberanikan diri membuka mata. Air mataku meluncur diluar kendali hingga menggaris di sudut luar mataku. Aku tidak terisak, aku hanya merasa emosional untuk sesaat. Kubesut air mataku yang menuruni pelipis. Aku menangis akibat demamku yang terlalu tinggi, mungkin…

TBC*

Glosarium

Proletariat: lapisan sosial paling rendah

Cheonsa: malaikat (Korean)

Eksepsi: pengecualian

Pneumonia: peradangan paru-paru

Meningitis: peradangan pada selaput otak

Note:

Well, kebetulan ad aide untuk part 4, jadi aku bisa menuliskannya di sela-sela menunggu dosen atau saat jenuh dengan garapan tesis. Semoga kalian bisa mengapresiasi part ini. Tanyakan jika ada hal yang belum kalian mengerti. Aku akan berusaha membalasnya semampuku.

Pic Spam:

The hot pinky Luhan

pinky hair lulu

Mischievous smile, Kyuhyun—Opera

kyuhyun opera

264 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [4]

  1. array says:

    Kyu takut sama kecoa, memalukan untuk pria dengan image sempurna seperti dirinya..
    Kan benar dugaan aku kyu bukan gay tapi biseksual…
    Aku suka definisi fisik kyuhyun menurut miyoung ‘Kyuhyun adalah maskulinitas dengan injeksi feminin yang tepat.’
    aku penasaran sama tulisan kamu yang sebagus ini, ada gak sih penerbit yg mau terbitin salah satu tulisan kamu?? Kamu nulis gak setengah2. Risetnya lama gak sih abisan semuanya dijelasin dengan rinci..

  2. fida says:

    woahhh gak rela saat kyuhyun kembli mntingin hub dia sma siwon.. pdhl kan dia udh gimana gtu sma tiffany…..
    authornya emg plg bisa bkin reader gelabakan campur aduk persaannya

  3. VivitYulia says:

    kenapa ahra blang klw kyuhyun bkn gay? brarti msih ada pluang kyu bsa jtuh cnta sma minyoung kn.

    soal hbngan antr kyu sma ahra gk nyngka klw hbnganx sedngin itu..

    dan yg pling lcu adlah seorang cho kyuhyun tkut kecoa itu bkin ngakakkk..

  4. Kebencian ahra pada kyuhyun hanya sebaras iri akan perhatian orang tua saja.apa pada assan juga?kyuhyun bukan gay.hello lalu merwka ngapain di kamar berdua – dua.bikin saya berpikiran negativ aja.sebenarnta siwon benci miyoung g sich….

  5. Part 4 hehehe..
    Ah gila aku ganyangka bisnis disneyland bakal dihubungin sama politik Mr. Choi sumpah. Gakepikiran haha.
    Saya seneng banget pas si Miyoung belain Kyuhyun didepan kakaknya. Haha.
    Yaaaaaa saya agak kaget denger kata “Yes Love” hahaha. Tapi its not a problem lah.
    Sisi gelap dan permasalahan tiap tokoh bikin greget banget. Lagi2 saya suka sama cara skinship kyu-miyoung hoho. Saya suka kalo Kyu seakan akan terbuka sama si Miyoung cerita ini itu. Hoho. Yah masih penasaran ini -_-

  6. triharis23 says:

    omg!!! kyu takut kecoa HAHAHA. minyoung itu jadi kaya trauma sama pria krn bokapnya yaaa. sadis juga sampe trauma kaya gitu. tp di sini lagi2 kyuhyun nunjukkin sikap perhatian bgt sama minyoung.

    keluargaku adalah perlindunganku…. oh!!!

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s