Behind Those Beautiful Eyes [5]


BTBE 6

Behind Those Beautiful Eyes [5]

Arsvio | Siwon Choi, Miyoung Hwang, Kyuhyun Cho | PG-16 | Standing in front of you, Breaking your own heart (Kelly Clarkson, Stronger)

The Lost Memories

Memperbaiki lilitan syal di leherku, aku memantapkan langkahku yang limbung. Jari telunjukku menyurung pusat bingkai sun glasses yang menutupi lingkar hitam mataku. Dengan jelas aku menangkap warna merah matang lipstick yang menyamarkan bibir pucatku ketika pintu lift yang tertutup merefleksikan wajahku.

Aku mengangkat pergelangan tanganku dan mendesah pelan karena waktu sudah menunjukkan pukul 03.00, hampir lima jam setelah Luhan menelphon. Cukup lama waktu yang kuperlukan untuk berdamai dengan kondisi tubuhku. Ketidaksengajaan menangkap luka kecil di punggung tanganku, akibat jarum infus yang kucabut dengan paksa, mengingatkanku pada Kyuhyun. Walaupun dia berjanji memeriksaku siang tadi, namun batang hidungnya tidak tampak. Agaknya masalah dirinya dengan Siwon menangguhkannya untuk pulang. Lagipula, apa peduliku. Aku pun tidak berharap dia menepati ucapannya.

Aku ikut menyebar keluar bersama beberapa orang ketika lift mencapai lantai sepuluh. Mengembus napas pendek dengan cepat, aku menegakkan pundakku untuk memasuki ruang meeting. Semua kepala yang tadinya menunduk segera menegak dan memaling ke arahku. Agaknya kedatanganku atau siapa pun itu menjadi hal yang sensitif bagi mereka.

Meletakkan kertas-kertas di tangannya, Ahreum yang sedang berdiri di ujung serta merta menghampiriku. “Miyoung-ssi, kita bicara di ruanganku.”

Mengekor Ahreum keluar ruangan, aku tidak punya pilihan untuk menolaknya. Setidaknya aku tidak perlu meladeni tatapan tidak menyenangkan dari anggota rapat. Walaupun aku sendiri tidak mengerti secara pasti arti tatapan tersebut, namun kuduga berkaitan dengan konferensi pers sore nanti.

Ruangan Ahreum, sebagai technical advisor, berada di sudut koridor. Setelah meletakkan pantatku dengan manis di kursi, aku mencopot sun glasses dan melipat bingkainya. Mengobservasi kekakuan Ahreum, aku bersiap diri untuk menerima berita tidak menyenangkan.

“Aku membatalkan dirimu untuk hadir dalam konferensi pers.”

Memutar mataku sebal, aku memajukan tubuhku. “Untuk sebuah kebijakan politik yang tidak bersangkutan secara langsung denganku, kau melakukan tindakan preventif yang konyol.”

Ahreum dengan tenang menanggapi olokkanku. Dua tahun bekerja di bawah kepemimpinannya, aku tidak pernah dikecewakan dengan profesionalitasnya. Akan tetapi hari ini, keputusan menyingkirkanku dari konferensi pers membuat cela dirinya di mataku. “Situasimu tidak memberikanku opsi lain.” Kedua tangan Ahreum tergeletak bersisian di permukaan meja.

“Kalau begitu, biarkan aku menyelesaikan kewajibanku sebagai ketua tim.” Sejujurnya aku tidak suka orang lain mengkaitkanku dengan kedudukan abeoji. Aku selalu menggarisbawahi bahwa upadaya yang kulakukan adalah untuk hidupku sendiri, bukan orang lain.

“Miyoung-ssi,” Ahreum melembutkan ucapannya, “kali ini kesampingkan dahulu ego dan perfeksionismemu.” Pembawaannya yang tenang dan berwibawa membuatku menaruh rasa hormat. Dia adalah kiblat wanita mandiri yang kukagumi. “Aku tidak pernah meragukan prestisiusmu, namun aku harus mempertimbangkan segala aspek yang mengganggu stabilitas perusahaan terkait cakupan wewenangku.”

“Akan tetapi kita melakukan konferensi pers bukan karena mengklarifikasi isu lahan, melainkan ingin mengukuhkan prestasi Dae-A sebagai perusahaan konstruksi yang mampu menangani proyek kelas dunia.”

“Aku tahu,” Ahreum mempertahankan ekspresi tenang, “namun kita tidak bisa menghindari masalah tersebut.” Menganjurkan surat kabar, telunjuk Ahreum mengetuk salah satu kolom berita yang berada di halaman depan.

Pikiranku bergerak cepat untuk menyerap berita tersebut. Foto pendemo di lokasi pembangunan memarakkan berita penggusuran lahan proyek. Tuduhan kesalahan prosedur dialamatkan pada Dae-A terkait pembebasan lahan dan ganti rugi. Meskipun berita ini masih simpang siur, keberanian media untuk mengangkatnya ke permukaan membuat konflik kian meradang.

“Aku tidak menyangka pemberitaan berkembang seperti ini,” Ahreum merangkai jemarinya menjadi satu. “Oleh karena itu aku tidak bisa menanggung resiko lain dengan menampilkanmu di depan publik terkait kebijakan politik Tuan Choi Sang Hoon.”

“Akan tetapi konferensi pers Dae-A tidak ada kaitannya dengan kebijakan politik abeoji.”

“Disneyland berada di bawah supervisi Walt Disney. Jika kau lupa, perusahaan ini—“

“—merupakan salah satu perusahaan besar di Amerika,” potong dan lanjutku dengan cepat. “Kau terlalu ketat untuk menarik hubungan kebencian orang-orang Korea Utara terhadap Amerika dengan proyek Disney yang kita kerjakan.”

“Kau tentu tahu netizen terlalu gila mengais sesuatu yang kecil agar atraktif untuk dijadikan cemoohan.” Ahreum memberikan pandangan yang kusetujui; sensitivitas netizen memang terlalu menakutkan.

Memundurkan punggungku, aku mengurut keningku yang pening karena penyakit dan masalah. Jika berada di posisi Ahreum, maka aku akan melakukan hal yang sama. Konflik dengan Korea Utara, meskipun sudah berlangsung lama, namun selalu menjadi topik hangat di mata dunia internasional. Walaupun aku jarang muncul di media lantaran jabatan abeoji, tetapi mengingat situasi politik yang sedang memanas, kemunculanku memang tidak akan banyak membantu. Bahkan mungkin saja malah membawa dampak buruk bagi perusahaan.

“Kau tampak kurang sehat.” Suara Ahreum menariku dari perenungan.

Aku mengangkat sebelah sudut bibirku untuk meremehkan dugaan Ahreum. “Sehat atau tidak sehat, kau akan mencarikan alasan bagiku agar mangkir dari konferensi pers.”

“Youngie,” Ahreum berdiri dan menghapiriku. Jarang-jarang wanita ini memanggil bawahannya dengan sapaan non formal. Dia menekan pundak kiriku, kemudian meremasnya lembut. Suatu tindakan yang secara tidak langsung meminta kepercayaan dan persetujuanku atas keputusannya.

“Ada atau tidaknya diriku, wartawan maupun reporter akan tetap mencecar posisiku.”

“Aku tahu. Setidaknya, kami berusaha untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.” Ahreum menarik tangannya dari pundakku.

“Siapa yang menggantikanku?”

“Luhan. Sementera kami merapatkan masalah lahan proyek, kalian berdua berdiskusilah mengenai hal yang akan disampaikan dalam konferensi.” Ahreum menepuk ringan pundakkku beberapa kali sebelum berlalu. Ketukan high heel Ahreum menjauh dan menghilang seiring bunyi pintu tertutup.

Bangun dan berdiri dari duduk, aku menyusul Ahreum keluar ruangannya untuk berpindah ke ruang meeting lain yang tidak digunakan. Setelah membuat diriku duduk nyaman di salah satu kursi, aku mengeluarkan tablet dan menyalakannya untuk memeriksa perkembangan berita. Bukannya menyelisik berita mengenai Dae-A, perhatianku malah terserap dengan berita pembunuhan seorang detektif swasta.

Mengingat ucapan Kyuhyun pada pertengkaran kami, aku tertarik menelusuri berita tersebut lebih lanjut. Menurut penyelidikan, sang detektif meninggal karena luka tembak di pelipis kirinya. Diduga sebelum dibunuh, dia mendapat penyiksaan. Hingga berita ini diturunkan, kepolisian belum menetapkan tersangka dan motif pembunuhan.

Aku mengaduk tasku untuk mencari ponsel. Menekan sebuah kontak, aku ingin memenuhi rasa tanyaku terhadap pembunuhan ini. “Yeobeseyo?”

Yeoboseyo, Youngie-ya. Kali ini kejahatan apa lagi yang harus kulakukan?” Sindir Max dengan nada malas.

Aku terkekeh kecil menanggapi leluconnya. Beberapa tahun belakangan, semenjak Max memacari Jessie, aku kerap ‘mengganggunya’. Berulang kali aku memintanya untuk menyelusuri sesuatu terkait latar belakangku, lebih tepatnya pembunuhan appa. Meskipun sampai sekarang usahaku belum menemukan titik terang karena kasus tersebut dibekukan. Pekerjaannya di Blue House memungkinkannya mendapatkan informasi yang kuinginkan. “Hanya sebuah keingintahuan kecil,” aku mengatupkan telunjuk dan ibu jariku, “mengenai pembunuhan seorang detektif swasta.”

Oh, berita itu.”

“Kau memiliki waktu luang?”

“Sebenarnya tidak.”

Come on Max, just couple minutes!” Aku mengentakkan tanganku di udara.

Mendengar hela napas Max, aku bisa membayangkan wajah frustrasinya. “Malam ini pukul tujuh aku menjemput Jessie di Assan. Jika kau mau, aku bisa mengusahakan datang lebih awal.”

Melebarkan bibirku untuk tertarik keluar, aku tidak bisa membendung antusiasmeku. “Ok, sampai bertemu nanti.” Aku meletakkan  ponselku berbarengan dengan deheman yang menginterupsi. Mengangkat kepala, aku menemukan Luhan membawa setumpuk map dan gulungan design.

“Kau sepertinya menikmati absensimu, Youngie?” Luhan mengurai beberapa dokumen sambil memberikan sindiran yang tidak kumengerti.

Aku menaikkan sebelah alisku dan mennyilangkan kedua tanganku di depan dada untuk menunggu Luhan mengklarifikasi sinismenya.

Luhan menegakkan pandangannya, kemudian mendecak kecil. “Aku dokter Cho Kyuhyun, suami sekaligus dokter pribadi Miyoung dan bla…blabla…” tiru Luhan diakhiri dengan memutar bola matanya jengah. “Oh yang benar saja. Sejak kapan dia menjadi penjawab otomatis telephonmu, huh?”

“Dia punya otoritas untuk melakukan itu, Lu,” tandasku untuk menghentikan ejekkan Luhan.

Luhan menggantungkan rahangnya terbuka dan menatapku dengan tatapan tidak percaya. “Unbelievable, Youngie! Apa yang pria itu lakukan sehingga kau rela menyerahkan kebebasanmu?”

“Menikahiku,” kuangkat jemariku untuk menunjukkan cincin pernikahan, “jika kau lupa.”

Cish, aku tidak percaya arogansi seorang Choi Miyoung kalah pada benda itu,” tunjuk Luhan, “ah koreksi, Cho Miyoung,” tekannya pada margaku untuk mengolok.

Melorot salah satu gulungan, aku memukulkannya pada lengan Luhan hingga dia meringis kecil. “Hentikan sinisme konyolmu karena aku tahu kau hanya melampiaskan kekesalanmu padaku.” Telunjukku membuat gerakan kecil untuk menunjuk rambutku.

Menangkap isyaratku, Luhan mendengus sebal. “Ahreum Noona mengancam akan membotakiku jika aku tidak mengembalikan warna natural rambutku.” Dari sekian bawahan Ahreum, hanya Luhan yang menyapanya akrab. Mereka berdua sudah saling mengenal semenjak duduk di universitas.

“Andai itu terjadi, aku dengan senang hati ikut berpartisipasi.” Mengurai gulungan, aku melebarkan kertas gambar design untuk memulai pelimpahan materi kepada Luhan.

“Luhan, kita mengadakan konferensi pers perusahaan konstruksi bukan mengorbitkan boy band,” ucap Luhan dengan nada kewanitaan yang sepertinya meniru komentar Ahreum.

“Jika kau tidak menutup mulutmu, maka aku akan menggundulimu saat ini juga dengan atau tanpa rambut merah mudamu!”

Ok, Youngie,” Luhan sedikit memundurkan punggungnya dan mengangkat kedua tangannya di sisi kepala, “kau lebih mengerikan daripada Ahreum Noona.”

“Kita hanya punya waktu satu jam untuk menyiapkanmu.” Aku mengetuk-ngetuk dokumen di hadapanku. “Aku harap kau bisa memaparkan proyek ini pada media dengan apik.”

“Aku mencoba yang terbaik.”

“Aku tahu.” Mataku mengamati beberapa dokumen yang dibawa Luhan.

“Kau,” Luhan mencondongkan tubuhkan ke arahku, “baik-baik saja?”

Mendesah ringan, aku jengah dengan pertanyaan seperti itu. “Sejujurnya tidak,” kuangkat pandanganku agar bertemu dengan Luhan, “tapi aku bisa mengatasi kondisiku.”

Luhan berdeham dan menundukkan kepalanya untuk memfokuskan diri pada garapan kami. Dia mengangguk-angguk saat aku mulai menerangkan detail rancangan pembangunan areal Disneyland secara keseluruhan.

#

Aku menyandarkan bobotku pada dinding sembari bersedekap. Mataku dengan awas mengamati siaran live konferensi pers Dae-A yang sudah berjalan hampir 30 menit. Sejauh ini, tim kami menguasai situasi dengan menginformasikan kerja sama Disney dengan Dae-A. Walaupun aku tidak ikut terjun langsung, jantungku serasa lemah untuk menggantung di tempatnya; takut andai konferensi ini tidak berlangsung sesuai rencana. Menggigit kuku ibu jari, aku semakin menekankan tubuhku ke dinding ketika Luhan mulai angkat bicara.

Luhan menerangkan konsep design dasar Disneyland dengan lancar. Dia nampak rileks di tempatnya, berbeda dengan diriku di sini yang tegang. Setelah merampungkan ucapannya, beberapa wartawan mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan. Jantungku terasa jatuh di perut ketika seorang penanya menyelidik absensiku dari konferensi pers.

Dengan tersenyum, Luhan memberikan alasan kesehatan sebagai keterangan mangkirku. Akan tetapi pertanyaan tidak berhenti di situ, beberapa penanya bersahutan untuk mengetahui pengaruhku pada proyek berkaitan dengan isu politik saat ini. Oh crap!

Ahreum mengambil alih porsi Luhan untuk memenuhi rasa tanya pers. Dia menjawab secara diplomatis bahwa eksistensiku di Dae-A adalah sebagai ketua tim arsitektur bukan sebagai putri Choi Sang Hoon. Mulailah perdebatan kecil untuk membantah perucapan Ahreum. Bagian humas mencoba membela, namun suasana malah semakin memanas.

Di saat permasalahan diriku sebagai salah seorang pemegang posisi strategis dalam proyek Disneyland meluruh, isu lahan dicuatkan oleh beberapa penanya. Mereka menitikberatkan masalah penggusuran dan ganti rugi. Tak urung sesi tanya jawab ini juga menuai perdebatan kecil yang menyulut kericuhan.

Aku menegakkan tubuhku dan mengepalkan tinjuku ketika melihat beberapa sekuriti mulai masuk ke ruang konferensi untuk mengamankan situasi. Mengambil tasku, aku berjalan cepat untuk keluar ruangan. Aku menekan panggilan taxi, sembari menyurukkan sun glasses ke wajahku.

Melewati hall depan, aku melihat beberapa wartawan berkerumum di pintu masuk. Aku memutar langkahku untuk mengambil sisi lain agar tidak bersimuka dengan mereka. Dengan ayunan langkah cepat, aku keluar dari kantor Dae-A untuk mencapai taxi yang sudah kupesan.

#

Begitu memasuki kafetaria Assan, telephonku berbunyi dan menampilkan display name Ahreum Lee. “Kau dimana, Miyoung-ssi?”

“Assan,” jawabku singkat.

Embusan napas Ahreum yang menimbulkan bunyi gemerisik di telephon memperdengarkan frustrasinya. Menit selanjutnya kami terdiam, hanya bunyi deru napas yang meyakinkanku bahwa Ahreum masih di seberang jaringan. Aku bukan ingin melarikan diri dari  permasalahan Dae-A, melainkan memberi ruang bagi Ahreum untuk berpikir ulang. Jika masih di sana, aku mungkin saja menghardik Ahreum.

“Kau benar,” ucap Ahreum untuk memecah kebisuan.

“Kau sudah melakukan hal terbaik yang kau bisa.” Meskipun kecewa, aku tidak bisa menghakimi Ahreum dengan ucapan ‘sudah kubilang kan?’

“Kita bertemu besok. Jaga dirimu, Youngie.” Kalimat terakhir Ahreum yang terucap lemah mengetuk hatiku. Wanita ini menelphon bukan sebagai atasan, melainkan mencari seseorang yang bisa diajak bicara. Sebelum aku sempat menjawab, sudah terdengar bunyi dengung berulang.

Menurunkan ponselku dari telinga, aku mengedarkan pandangan untuk mencari Max. Senyumku terkembang kecil saat menemukannya melambai untuk menandai keberadaannya. Kulangkahkan kakiku mendekat, “Hi.

Tanpa berbasa-basi, Max melorot tablet-nya, kemudian menghadapkan padaku. “Hanya ini yang kuperoleh untuk memenuhi rasa tanyamu.” Beginilah seorang Shim Changmin, yang akrab dipanggil Max, berinteraksi. Dia pribadi frontal yang tidak suka mengulur-ulur waktu.

Aku menurutkan mataku untuk mengamati foto-foto TKP pembunuhan detektif swasta yang kuminta sebelumnya. Perutku bergejolak ketika melihat gambar lelaki paruh baya tergeletak bersimbah darah di bagian kepala.

“Dia tewas karena luka tembak di pelipisnya.” Max menyapukan jemarinya pada permukaan layar untuk menampilkan foto berikutnya. “Polisi memang menduga pria ini mengalami penyiksaan sebelum akhirnya dibunuh, tapi menurutku tidak.”

Aku mengangkat pandanganku untuk meminta penjelasan lebih.

Max membuat gerakan melingkar dengan telunjuknya untuk menandai bagian foto. “Luka di bagian pipi kirinya yang terlihat seperti sayatan, menurutku hanya luka karena kuku.”

Aku mengernyit untuk memerhatikan bagian yang ditunjuk Max. “Jika luka ini bekas cakaran, maka akan terlihat pola sayatan-sayatan sejajar, Max. Akan tetapi luka sayatan ini tunggal, kemungkinan benda tajam yang menandasnya.” Kuungkapkan ketidaksetujuanku atas pendapat Max.

“Bagaimana jika luka ini hanya efek samping karena tamparan, Youngie?” Max menandai lagi bagian yang harus kuperhatikan. “Lebam karena tamparan tidak terlalu kentara karena mayatnya ditemukan 10 jam dari perkiraan waktu kematian. Selain itu, luka ini juga tersamar karena luka tembak di pelipisnya. Jika dugaanku benar, tamparan yang diperolehnya tidak terlalu keras sehingga bekas lebamnya tidak kentara.”

Aku baru akan mengajukan pertanyaan lanjut, namun kehadiran wanita pujaan Max menangguhkanku. Kusorong punggungku ke belakang sambil memutar mata ketika mereka berciuman tanpa sungkan di depanku. “Bisakah kalian berdua mengontrol hormon seksualitas kalian?” Telunjukku menggantung untuk mengacungi bibir mereka yang sebelumnya saling melumat, meski dalam intensif kecil.

Max hanya mengangkat kedua bahu dan tersenyum kecil, sedangkan Jessie bersikap tak acuh. “Berhentilah memikirkan latar belakangmu dan nikmati saja dirimu yang sekarang, Youngie.” Sepengetahuan Jessie, selama ini aku menghubungi kekasihnya memang untuk menelusuri pembunuhan appa.

Trust me, I always try to do it.” Aku menutup display foto-foto yang diperlihatkan Max padaku, kemudian mengangsurkan kembali tablet-nya. Kutarik bibirku melengkung ringan untuk mengisyaratkan Max supaya tidak membuka mulut mengenai hal yang baru saja kami bicarakan. Bukan karena aku ingin mengelabuhi Jessie, melainkan karena tidak ingin membuatnya khawatir.

“Kau tampak buruk, Youngie.” Jessie mengangsurkan tangannya untuk mengusap kantung mata dan pipiku. Meskipun terkadang tidak bisa mengontrol mulutnya, namun Jessie satu-satunya orang, yang kutahu, peduli padaku. “Akan kupanggilkan dr. Kim untuk memeriksamu setelah ini karena aku memiliki janji makan malam.” Jessie menopang tangannya dan memasang ekspresi masa bodoh andalannya.

“Tidak perlu.” Aku mengalungkan tas di bahuku dan bersiap pergi. “Aku cukup pulang dan tidur di ranjangku yang nyaman,” ucapku datar.

“Sepertinya kau tidak bisa melakukannya,” Jessie menggeleng ringan, “karena dr. Cho yang akan memeriksamu.”

Sebelum aku membuka mulut, sebuah sentuhan menyelinap di perutku dan radiasi hangat menyentuh pipiku. “Sejak kapan kau di sini, Young?” suara berat Kyuhyun yang bergema lirih di telingaku menghantarkan getaran menuruni punggungku.

Secara refleks, aku menegakkan punggungku dan meremas bawahan yang kukenakan saat pundak Kyuhyun menggesek pundakku. Kugigit bibir bawahku untuk menyembunyikan rasa gelisah dan ketidaknyamananku dengan kedekatan kami. Ingin rasanya kutarik tangan Kyuhyun dari pinggangku untuk kemudian kupatahkan menjadi beberapa bagian.

Pundak Jessie nampak menegang dan jemarinya telah mengepal erat. Bibirnya yang mengerut dan pandangannya yang menusuk membuatku takut andai dia tidak bisa mengontrol diri. Aku tahu benar betapa Jessie membenci pernikahanku. Untungnya Max dengan tanggap meraih kepalan tangan Jessie dan meremasnya untuk mencuri perhatian.

“Kurasa kau tidak perlu khawatir karena sudah ada dokter yang menangangi Youngie.” Max sedikit menarik paksa Jessie untuk beranjak dari tempatnya.

I believe you know how to deal with a bastard,” sindir Jessie ketika Kyuhyun masih memertahankan posisinya di belakangku. Pandangannya masih secara awas memerhatikanku.

Salah tingkah dengan ucapan Jessie, Max menggeretnya merapat. “Kurasa kami harus pergi. Senang bertemu lagi denganmu, Kyuhyun-ssi,” ramah Max.

Bergeming di tempatku, aku mengamati punggung Max dan Jessie menjauh.

“Lekaslah beranjak jika tidak ingin menimbulkan masalah, Young,” bisik Kyuhyun di telingaku.

Aku tidak mengerti ucapan Kyuhyun dan bermaksud menanyakannya, tetapi cengkeraman Kyuhyun di pinggangku yang mengerat menumpulkan lidahku. Menuruti perintah Kyuhyun, aku berdiri dari duduk. Napasku tertahan sejenak ketika dengan tangkas, Kyuhyun merengkuh tubuhku sehingga menempel ke sisi tubuhnya. Kudorong kecil pinggang Kyuhyun untuk menjauhkannya, tetapi tatapan matanya menyuruhku tidak bertingkah.

Baru beberapa langkah berjalan, senyum semringah seorang wanita yang berjalan menuju arah kami menghentikan kami sejenak. “Annyeong, Miyoung-ssi.”

Aku menarik bibirku dengan kaku dan menjawab sapa Victoria setengah berbisik.

“Aku turut prihatin dengan kekacauan konferensi pers Dae-A,” Victoria menyampaikan empatinya dengan merubah mimik wajahnya menjadi sendu. “Beruntungnya kau tidak berada di tempat kejadian.”

Aku menaikkan sebelah alisku atas kalimat terakhir Victoria. Daripada memaknainya sebagai sebuah empati, aku mendengarkannya lebih seperti sinisme terselubung. Sekali lagi bibirku hanya tertarik kaku untuk merespons ketika Victoria tersenyum manis.

“Vic, kami permisi dulu karena Young tidak enak badan,” Kyuhyun membuka mulut.

Ah, benar.” Victoria menepuk dahinya pelan. “Maaf aku tidak memerhatikanmu.” Dia mengusap lenganku untuk menunjukkan simpatinya. “Seharusnya aku ingat bahwa rekan kerjamu sudah menyampaikan alasan absensimu di konferensi pers.” Wanita ini sungguh tahu cara beramah tamah. Dengan wajah di atas rata-rata dan pribadi menyenangkan, dia merupakan dambaan kaum adam.

Akan tetapi aku malah berpikir sebaliknya. Aku melihat Victoria yang berdiri di hadapanku sekarang sebagai wanita bermuka dua. Aku selalu bersikap objektif untuk menilai sesuatu, namun saat ini subjektifku malah mendominasi. Mungkin akulah yang terlalu jalang untuk menilai wanita baik-baik sepertinya.

Setelah menganggukkan kepala dan mengucapkan perpisahan, aku dan Kyuhyun kembali berjalan. Terlalu larut dengan pemikiranku sendiri mengenai Victoria, aku tidak sadar sudah mencapai ruang kerja Kyuhyun. Hempasan pintu yang tertutup membuatku menegakkan kepala.

“Kau tidak mengingat laranganku, Young?” ucap Kyuhyun dengan nada sindiran yang kental. “Dan lihatlah dirimu,” dia mencekal lenganku dan memutar tubuhku hingga berhadapan dengannya. “Kau seperti pelacur yang semalaman telah melayani lelaki hidung belang.” Kyuhyun menekankan ibu jarinya di permukaan bibir bawahku dan menggerakkannya secara horizontal.

Pipiku terasa memanas dengan amarah dan kedua tanganku terkepal sebagai respons hinaan Kyuhyun. Kupalingkan wajahku, namun Kyuhyun lebih dulu menahan daguku. Dia mengusap bibir bawah dan atasku secara bergantian hingga kulihat ibu jarinya memerah karena lipstick-ku. Aku dibingungkan dengan tindakannya.

Menyisipkan sebelah tangan di pinggangku, Kyuhyun kembali membuat tubuh kami berimpit. Dia menekuk punggungnya sehingga kepalanya sejajar denganku. “Lain kali perhatikan dimana kau harus menggunakannya, Young.”

Aku yakin dia sedang menyeringai di akhir kalimat, meskipun aku tidak bisa melihatnya. Emosiku yang merambat naik ke ubun-ubun menggerakkan tanganku untuk mendorong dada Kyuhyun, namun tidak membuahkan hasil karena dia menekan kepalaku ke arahnya. Terpaan napas Kyuhyun di leherku membuat bulu romaku meremang.

“Sudah kularang kau beraktifitas, tapi kau tidak mengindahkannya,” ucap Kyuhyun dengan intonasi lambat yang syarat sinisme.

“Kau tidak berhak melarangku untuk melakukan rutinitas,” sanggahku.

“Pembangkang,” lirih Kyuhyun.

Mataku mendelik dan detak jantungku terpacu dengan cepat ketika kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh kulit leherku. Aku menggeram kecil dan kembali mendorong dada Kyuhyun saat sentuhan tersebut berjalan sepanjang leherku. “Hentikan,” bisikku dengan gemetar. Kelopakku menutup dan mengerut saat Kyuhyun tak jua mengakhiri tindakan abusive bibirnya di leherku.

Kakiku seolah menjadi tak bertulang saat permukaan lunak yang lembab melumasi kulit leherku. Kedua tanganku menguatkan cengkeramanku di kemeja Kyuhyun. “Hentikan,” ulangku dengan sedikit memberikan guncangan. Aku semakin tidak bisa mengandalkan logikaku ketika kurasakan dia menghisap dan menggigit kecil kulitku.

Imajiku melayang hingga menampakkan jemari yang menyentuh pundak terbukaku. Walaupun jemari-jemari itu menyentuhku lembut, namun menimbulkan ketegangan luar biasa pada tubuhku. Bibirku yang bergetar dan air mata yang tertampung di atas kantungnya tidak menghentikan sentuhan jemari itu. Aku memohon dengan lirih dengan menekan rasa ketakutanku, tapi jemari tersebut malah bergerak menjamah leherku.

“Hentikan…hentikan,” kerongkonganku terasa tersumbat air mata. “Kumohon…” tanganku mengepal dan meremas sesuatu untuk menekan rasa gemetar seluruh tubuhku. “Hentikan…hentikan…” ulangku dengan lebih keras. Air mataku membeludak keluar tanpa bisa kukendalikan.

“Young.”

“Young.”

“Choi Miyoung!” Sentakan dari suara berat dan tepukan kontinu di punggungku membawaku kembali dari ingatan burukku. “Young, ini aku,” ucap Kyuhyun pelan, “ini aku.”

Aku belum berani membuka mata ketika air mata terus menerus mengalir dari sumbernya. Wajahku yang terbenam seluruhnya di dada Kyuhyun meredam suara isakku. Kusorongkan dahiku lebih dalam saat kekokohan ini membuatku terlindungi. Sesuatu yang mengantuk ubun-ubunku membuatku menduga Kyuhyun menumpu dagunya di sana.

Entah berapa lama kami bertahan seperti ini hingga isakanku menghilang. Kusorong ringan tubuh Kyuhyun untuk mengisyaratkannya melepas pelukan. Memalingkan wajahku ke arah lain, aku tidak ingin Kyuhyun memergoki rupa kacauku. Sebelum mengangkat tangan untuk membesut sisa air mata, tangan Kyuhyun lebih dahulu melakukannya. Kali ini dia tidak memaksa memalingkan wajahku ke arahnya.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan emosiku yang tiba-tiba meledak jika Kyuhyun bertanya. Bayangan peristiwa yang kulihat terlalu kabur untuk kumengerti. Seolah aku mengalaminya sendiri, namun hingga saat ini aku tidak mengingat kelanjutan peristiwa tersebut. Begitu juga dengan waktu dan tempat kejadiannya.

“Demammu sudah turun. Akan kusiapkan obat untuk kau minum nanti,” ucap Kyuhyun dengan lunak.

Kyuhyun melepaskan jas putihnya, kemudian menggantungnya di gantungan sambil menyambar cardigan. Dia menjumput kedua sisi cardigan, kemudian menyelimutkannya melalui bahuku. “Ayo pulang,” ajaknya sembari menjalin jemarinya padaku.

Aku menurut dan bersiap pergi, namun tiba-tiba tubuhku limbung dikarenakan terlalu lama berdiri menyebabkanku tidak siap.

Dengan cepat Kyuhyun menyanggaku, “Kau merasa pusing?”

Aku menggeleng meskipun kepalaku sebenarnya terasa pening.

Kyuhyun menurunkan cardigan dari bahuku ke pinggang, kemudian menalikan lengannya. Dia menarik kedua sisi cardigan hingga bertemu di depan pahaku dan mengancingkan beberapa kancingnya. Rok hitam yang kukenakan tersalip oleh panjang cardigan yang menutup kakiku hingga bawah lutut.

Aku hanya terdiam dan mengamati Kyuhyun dengan tatapan tidak mengerti. Pekik kecil lolos dari mulutku ketika tubuhku terangkat. Secara spontan kedua lenganku mengalung di bahu Kyuhyun untuk berpegangan.

“Hitung-hitung kita memberikan pertunjukkan kecil bagi mereka.”

Kukerutkan keningku ketika tidak menangkap maksud Kyuhyun.

Mendorong pintu dengan punggung, Kyuhyun membopongku keluar dari ruangannya. Wajahnya yang kaku mengunci mulutku untuk bertanya mengenai tindakannya. Aku lebih terheran ketika memasuki lift, Kyuhyun menyuruhku menekan ‘G’ untuk menuju lantai dasar. Bukankah seharusnya kami menuju basement tempat dia memarkir kendaraan?

Aku menyurukkan wajahku ke lekuk leher Kyuhyun saat kami melintasi hall depan Assan. Wangi maskulin yang tercampur dengan bau manis keringatnya meredakan keteganganku. Bukan aku ingin memamerkan kemesraan, melainkan menyembunyikan keadaan wajahku yang berantakan.

Kyuhyun menurunkanku saat kami mencapai pintu masuk Assan. Dia merogoh saku celananya dengan tangan kanan untuk mengambil kunci mobil, sementara tangan kirinya masih melingkar secara protektif di pinggangku. Memanggil seorang sekuriti, Kyuhyun menyerahkan kunci tersebut untuk meminta sang sekuriti mengambilkan mobilnya.

Walaupun bersikap tidak menyenangkan, namun seingatku Kyuhyun bukan pribadi manja yang suka berlagak dengan kekuasaannya. Agaknya dia memiliki intensi lain dengan berlaku seperti ini. Memiringkan badanku ke arah Kyuhyun, aku menghindari tatapan orang-orang yang melewati kami. Ketika sebuah Audi R8 bewarna hitam berhenti di depan kami, aku membiarkan Kyuhyun membimbingku dan membukakan pintu mobil.

#

Kami, aku dan Kyuhyun, selain membisu selama perjalanan juga tidak bercakap ketika tiba di rumah. Aku sedikit lega dia tidak mengungkit perihal emosiku di rumah sakit tadi. Membisu tidak selamanya buruk sebab diam memberikan kita ruang untuk menenangkan diri.

Mengecek ponsel, aku dikejutkan dengan banyaknya panggilan dan pesan masuk. Sambil menyeret langkahku menuju rooftop, aku membuka beberapa pesan dan mengecek panggilan. Hampir seluruh pesan berasal dari Luhan, sebagian lainnya dari Ahreum. Konten pesan mereka menanyakan keberadaan dan keadaanku.

Berdiri di sudut rooftop, aku menikmati embusan dingin angin malam menyusupi kain yang melekat di tubuhku. Aku bahkan belum menanggalkan cardigan milik Kyuhyun yang menutupi sebagian kakiku. Sebentar saja seperti ini, sebelum aku turun ke bawah dan bergelung di bawah selimut.

Aku menoleh ketika lampu di kamar Kyuhyun menyala terang. Dia selalu membuka tirai sisi kaca lebar-lebar hingga aku bisa dengan jelas melihatnya mondar-mandir dari spot yang menjadi favoritku untuk menyendiri ini.

Kyuhyun yang tengah melepas kemeja membelakangiku hingga aku disuguhi punggung telanjangnya. Dia melemparkan kemeja bewarna gading ke arah ranjang dengan asal dan kesal. Meremas rambutnya, Kyuhyun berkacak pinggang tanpa mengubah posisi. Dia terlihat frustrasi untuk suatu alasan yang tidak kuketahui.

Akalku mencoba merangkai dan mengingat kembali kilasan memori yang kulihat saat bersama Kyuhyun, namun gagal. Seberapa pun kuatnya diriku untuk menemukan ingatan tersebut selama perjalanan pulang, secuil pun tidak kutemui titik terang. Aku memang selalu gusar dengan segala keintiman dengan lelaki, tapi tidak pernah kudapati diriku yang hilang kontrol seperti tadi.

Seingatku, aku mengkonsumsi penenang semenjak dua atau tiga tahun lalu karena kegelisahan yang berlebih. Oleh karena aku yang malas untuk berkonsultasi ke psikolog maupun psikiater, Jessie yang meresepkan sedatif untukku. Hei, lagipula aku bukan orang gila yang memerlukan perawatan intensif seorang psikiater! Akan tetapi saat tadi emosiku labil, aku bahkan tidak membutuhkan sedatif untuk menguasai emosiku kembali.

Jemariku meraba bagian sisi leher yang tadi dijamah Kyuhyun. Tekstur bibir dan lidahnya masih melekat di benakku hingga membuatku merinding. Darahku berdesir hangat memanaskan tengkuk dan pipiku. Aku mendesah ringan dengan keganjilan psikisku.

Mengangkat ponsel, aku menekan nomor Luhan untuk mengkonfirmasi pesan dan panggilannya. Kujauhkan ponselku dari telinga begitu suara jerit Luhan membuat kupingku berdengung. “Lu—“

“Kau gila, Youngie. Kau benar-benar gila,” cerocos Luhan.

“Apa lagi yang kulakukan kali ini?” balasku dengan malas.

“Kau belum melihat pemberitaan?”

Aku merajut alisku saling mendekat untuk menunjukkan ketidaktahuanku. Setelah melihat kekacauan konferensi pers Dae-A, aku memang belum memeriksa perkembangan berita.

“Kau tertangkap kamera keluar dari Dae-A petang tadi di saat konferensi pers berakhir ricuh!”

Mataku membulat, “Shit!” umpatku pelan.

“Kau tahu apa artinya itu?” Luhan setengah berteriak. “Publik akan meragukan masalah kesehatanmu sebagai alasan absensimu dari konferensi pers!” Aku bisa membayangkan wajah murka Luhan saat ini. “Kau dalam masalah, Youngie.”

Beberapa kali aku memukulkan tinjuku di atas pagar pembatas dengan ringan. Mengangkat dagu, aku kembali melihat sosok Kyuhyun yang duduk dengan menumpu kedua sikunya di paha dan membenamkan wajahnya di telapak tangan. Napasku tertahan sejenak dan rahangku menggantung terbuka saat menemukan maksud Kyuhyun menyeretku dari kafetaria Assan tadi. Dia menghindarkanku dari paparan publik agar tidak memperbesar masalah.

“Youngie, kau masih di sana?”

Aku bergumam ringan untuk menjawab. Terlepas dari orientasi seksual Kyuhyun yang menyimpang, aku sungguh tidak mengerti seperti apa sesungguhnya sosok seorang Cho Kyuhyun. Dia laksana kegelapan yang menakutkan sekaligus menenangkan.

“Suruh suamimu membuat testimonium mengenai kesehatanmu untuk menjernihkan masalah ini.”

Aku baru akan bercakap ketika suara tumbukkan ringan menginterupsi. Menurunkan ponselku dari telinga, aku secara impulsif merapat ke pagar pembatas ketika melihat punggung polos Kyuhyun menempel secara paksa di kaca. Tanganku mencengkeram kuat pagar ketika melihat wajah pelaku yang mendorong Kyuhyun dengan jelas; Choi Siwon.

Sebelah tangan Kyuhyun yang dipiting ke atas kepala dan tubuhnya yang terimpit di kaca membuatku mengencangkan rahang. Meskipun kekedapan udara membuatku tidak bisa mendengar hal yang diteriakkan Siwon, namun dari raut wajahnya yang penuh emosi, aku tahu dia dikuasai amarah. Mereka terlibat adu mulut beberapa saat sebelum Siwon menangkup wajah Kyuhyun dan menciumnya kasar.

Debaran jantungku dan tusukan kecil di dadaku sedikit menyulitkanku untuk bernapas. Meremas kemeja depan, aku mencoba mengurangi rasa tidak nyaman ini.

Kyuhyun memberontak untuk sejenak, sebelum akhirnya menyerah. Tangannya yang melemas dan menggantung di sisi tubuh, akhirnya menemukan cara untuk menyusup di balik jaket Siwon. Bukannya menjauh, dia malah mendorong tubuhnya lebih intim ke arah Siwon. Ciuman mereka melembut seiring Kyuhyun yang menyerahkan dirinya pada sentuhan Siwon.

Dengan cekatan, tangan kokoh Siwon menangkap tubuh Kyuhyun dalam pelukannya. Secara lambat namun pasti, dia bergerak mundur menjauhi kaca. Sentakkan kecil, entah siapa yang menginisiasi, membuat keduanya terjatuh di ranjang dengan saling menindih.

Pandanganku yang terbatasi tidak bisa melihat lagi tubuh mereka selain kaki-kaki yang masih saling mengait. Aku menormalkan deru napasku yang sempat memburu dengan mengambil napas panjang. Kupijit pusat keningku dengan pangkal tangan untuk mengurai pening. Sampai kapan aku melihat dua pendosa mengadu badan mereka untuk bercinta?

Menuruni tangga dengan gontai, aku melangkah melewati kamarku dan berhenti di depan pintu kamar Kyuhyun. Walaupun masing-masing kamar kami kedap suara, namun aku tidak ingin tidur di kamarku yang bersisian dengan milik Kyuhyun, dimana dua pria itu bergumul bersama. Mataku memandang nanar pintu tertutup yang memisahkan kami, sebelum setetes air mata yang jatuh membuatku tertunduk.

Membalik badanku, aku mengurai lilitan lengan cardigan di pinggangku. Berjalan menuju lantai bawah, aku menyentak ujung cardigan dengan keras hingga mengurai paksa kancing-kancingnya. Kubiarkan cardigan tersebut melorot melalui pinggangku dan terjatuh di tangga.

Aku melorot salah satu koleksi wine milik Kyuhyun, yang tidak kuketahui nama dan jenisnya, untuk kubuka sumbatnya dan kutuangkan isinya ke gelas. Kuteguk beberapa gelas wine hingga zat sedatif ini cukup memabukkanku. Kesadaranku menipis sedikit demi sedikit sampai aku tidak kuat menyangga kepalaku. Pipiku merasakan dingin meja bar ketika kepalaku tergolek, namun aku tidak peduli karena yang kubutuhkan saat ini hanya rasa tenang.

#

Aku menggeliat kecil ketika bunyi berisik mengganggu tidurku. Kututup sebelah telingaku dengan tangan ketika tidak tahan dengan suara gaduh. Dering berlanjut yang cukup keras, akhirnya membuatku terjaga dengan kesal. Punggungku menegak dari posisi tidur duduk seperti semalam. Melirik jam bergaya vintage yang tergantung di sisi rak, aku bertanya-tanya siapa yang membunyikan bel pintuku dengan brutal di pagi buta seperti ini.

Aku menyeimbangkan badan dengan berpegangan pada pinggir meja bar saat tubuhku terhuyung. Kakiku melangkah menuju pintu depan, kemudian membukanya. Mataku mengerjap-ngerjap melawan kantuk untuk membuatku mengenali wajah orang yang bertamu.

Annyeonghaseyo.”

Secara naluriah aku menghadang pintu dengan tubuhku saat mengenali wanita yang berdiri di depanku. “Seobin-ssi…” Melongokkan kepala melalui bahu Seobin, aku menjumpai Audi hitam serupa milik Kyuhyun masih terpakir di depan pintu garasi. Dalam hati aku mengutukki kakak lelakiku yang belum enyah dari rumahku. Menutup pintu, aku menghalangi Seobin untuk masuk. Kusedekapkan kedua tanganku di depan dada untuk memperlihatkan wibawaku.

“Miyoung-ssi, Kyuhyun-nie—“

Aku memotong ucapan Seobin dengan cepat, “apa maumu?”

TBC*

Let’s guessing:

Siapa yang tahu maksud tindakan Kyuhyun menghapus lipstick Miyoung dengan sinis? Kemudian menciumi lehernya dengan anarkis? Ah

Dang it!

Kyuhyun sebenarnya hanya ingin memeriksa suhu badan Miyoung sehingga dia mendekatkan wajahnya dan menciumi leher Miyoung. Kenapa harus mencium? Karena dia menyindir Miyoung dengan penampilan sensualnya, mengenakan lipstick merah. Kenapa dia tidak menyukainya? Karena penampilan Miyoung mengingatkannya pada wanita murahan. Oleh karena itu Kyuhyun mengeluarkan sarkasme terhadap Miyoung.

Note:

Fiksi ini menggunakan satu sudut pandang, jadi agar kalian tidak terlalu bingung, aku buat sesi ‘Let’s Guessing’ saja. Aku juga sudah memberikan hint kenapa Youngie merasa sedikit nyaman di dekat Kyuhyun. Sudah dikatakan di part 4, menurut Youngie “Kyuhyun adalah maskulinitas dengan injeksi feminin yang tepat.”

Have a nice day and talk to me, how’s your feeling after reading it, kay?

Pics Spam:

The freaking damn hot daddy and his sulking baby

siwon

Kyuhyun and Tiffany close up! (Too pity, I didn’t have Siwon’s)

kyuhyun tiffany close up

Miyoung and Kyuhyun’s lovely house

glass-house-6

Perhatikan letak rooftop di lantai tiga dan ruangan full sisi kaca di lantai dua (yang merupakan kamar Kyuhyun). Di lantai pertama, terdapat kolam renang dan bar mini yang bersisian, masing-masing adalah tempat favorit Miyoung dan Kyuhyun.

280 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [5]

  1. VivitYulia says:

    jdi kyuhyun nyium leher minyoung cma bwt ngecek suhu bdan #hemmm. mkin lma kyaknya minyoung mkin nyaman sma khadiran kyuhyun.
    wktu scene kyuwon bner2 bkin aq geli. astagaaa klian itu ngapain. btw itu seobin knapa nyari kyuhyun.? terjadi sesuatukah.? knfliknya mkin lma mkin complicated. good job author.

  2. array says:

    aku yakin victoria itu jahat!!!!
    kaget pas kyuhyun cium leher miyoung!!! Alasan untuk cek suhu miyoung manis sekali!!!
    yah kyuhyun selalu jenius, PDA di assan!!
    Muak sama dua pendosa!! Kenapa sih mereka harus kyk gtu didepan miyoung???
    Bisa aja kan perasaan itu datangnya dari rasa nyaman, dan gak menutup kemungkinan kalau kyuhyun sama miyoung bisa saling jatuh cinta..
    Mampus seobin datang, dan siwon masih dsana!!!

  3. sparkyukyu says:

    KYUWON. Mereka benar2 keterlaluan. Padahal miyoung sudah mulai ada rasa dengan kyu. pasti dia sangat kecewa dengan kelakuan suami dan kakaknya.
    Makin lama konflinya makin terlihat ditambah lagi kedatangan kakak kyu. Apakah sesuatu hal yg sangat penting terjadi?

  4. sparkyukyu says:

    sepertinya miyoung mulai menyukai kyuhyun dhe.
    Aduh gemes dhe ma kyu, pasti miyong bingun dengan sifatnya yg kadang perhatian banget, tpi tak jarang juga sinis.

    Konfiknya makin panas…

  5. fida says:

    thh kann.. kyuhyun iyu sbnarnya perhtian sama tiffany…. dia mungkin bngung aj apakh itu cnta yg ia rsakan sma tiffany… ciye tiffany cembru neh hahahah…

    ehhh benci bgt saat siwon dtg…. thor knpa mesti bng siwon seh hadeuhhhh

    aduhhh knpa tuh cho ahra dtg?

  6. Aku pikir kyuhyun mulai goyah hingga memicu ketengan antara dia dan siwon.apa miyoung sekarang mulai berharap lebih pada pernikahannya dengan kyuhyun karena perhatian yang diberikan kyuhyun.apalagi miyoung sering kalut dengan masalah yang seolah tak ada habisnya dan entah secara kebetulan atau tidak kyuhyun selalu disisinya.

  7. Satu kata buat konflik bisnis di part ini. Daebak. Hahaha. Gila yaaaa logis beneeeeeerrrrrr wkwk. Ah author ini bikin saya jatuh cinta emang eheh.
    Entah keberapa kali saya bilang saya suka sekali bagaimana cara kyuhyun berinteraksi sama miyoung. Gaterduga gitu. Ah saya kasian sama traumanya miyoung. Kakaknya Kyu dateng? Hmm..

    Atulah.. saya mau komen apa lagi? Menikmati sekali suguhan author haha

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s