A Surrogate Baby [Step 1]


ASB2

A Surrogate Baby

Arsvio | Donghae Lee, Langit Senja | PG-15

Plak!

Kepala Donghae tertoleh seketika dengan pipi yang berdenyut dan tentunya memerah. Dia menahan gerakannya beberapa detik, sebelum kembali memaling dengan tertuntuk rendah. Kedua tangannya yang mengepal erat di sisi tubuh menonjolkan larik kebiruan dari otot di punggung tangan. Sebengal apa pun perilakunya, dia dididik untuk menghormati orang tuanya, terlebih yang dihadapi adalah ayahnya sendiri.

Lee Sooman, ayah Donghae, mengurut dadanya yang nyeri akibat emosinya yang terlampau besar. Kerutan dan otot yang berjendul di pelipisnya merupakan representasi kemarahan. “Berapa tahun aku mengajarimu, Lee Donghae?”

Donghae tidak memberanikan diri membuka mulut untuk menanggapi retorika ayahnya.

“Apakah baru kemarin kau belajar mengendalikan perilakumu?” teriakan lantang Sooman menggema. Dia menarik sebuah harian surat kabar, kemudian melemparkannya ke wajah Donghae.

Donghae memerhatikan surat kabar yang jatuh menutupi sepatu pantofelnya. Tanpa bertanya sekali pun, dia sudah mengetahui kesalahan yang diperbuatnya. Halaman surat kabar yang terpapar jelas menunjukkan foto dirinya dan seorang pria, yang dikaburkan wajahnya, bercumbu di suatu bar kelas atas.

Bukan perkara besar jika dia tertangkap basah berciuman dengan wanita jalang sekali pun. Toh predikat playboy tidak terlalu memalukan untuk disandang pria tampan dan mapan sepertinya. Gadis dan perempuan mana yang tidak dengan rela melemparkan tubuh mereka untuk dijamah oleh generasi kelima Daewoo? Kalangan artis maupun model papan atas sekali pun akan bertekuk lutut.

Sayangnya, Donghae tidak tergiur untuk menyentuh tubuh mereka, walaupun sesekali waktu hasratnya berkata lain. Sederhana saja, dia pria normal yang memiliki nafsu untuk dilampiaskan. Hanya saja dia tidak memiliki waktu untuk membebaskan gairahnya sebab kedudukan sebagai putra tunggal membelenggunya dalam pekerjaan.

“Aku tidak peduli jika kau meniduri wanita mana pun!” Sooman menggebrak meja, “bahkan jika dia seorang pelacur!” Jantung tuanya yang berdetak hebat membuat napasnya tersengal, “tapi tidak dengan homoseks, Donghae.”

Abeoji—“

“Tutup mulutmu!” Sooman memantapkan langkahnya dengan bertumpu pada tongkat. “Jika sampai aku mendengar kabar kau bersama pria itu, maka tidak segan-segan kutendang kau ke jalanan meskipun kau putraku, Donghae.” Dia mendekati Donghae yang mematung di tempatnya. “Jika kau tidak becus, maka aku punya banyak pengganti yang lebih potensial untuk kutempatkan di posisimu.” Sooman menekan telunjuknya di dada Dongae sebelum berlalu meninggalkan Donghae yang mengeratkan rahangnya.

Donghae menjumput Koran di kakinya, kemudian meremas-remasnya hingga menjadi bola. Dia melemparkan remasan tersebut dengan penuh amarah hingga menerjang beberapa keramik kecil di meja display. Mengeluarkan posel dari saku jas, dia menghubungi sekretarisnya. “Temukan pria itu dan buatkan aku janji dengannya!” sentaknya begitu sambungan telephonnya terhubung.

#

Senja meluruhkan pundaknya dan memandang pasrah ketika seorang teman sekelasnya menyilangkan kaki di bangku kosong yang hendak dia tempati. Bukan kali pertama dia mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti ini hanya karena dirinya memiliki garis wajah Indonesia yang berbeda dari kebanyakan warga Korea. Meskipun seluruh hidupnya dihabiskan di negara gingseng ini, bahkan kini dia berstatus resmi sebagai warga negara, dia tetap dianggap warga asing. Tidak ingin membuang waktu karena perkuliahan segera dimulai, Senja melangkahkan kaki ke belakang untuk mencari bangku kosong.

Diperlakukan kurang menyenangkan, Senja tidak lantas menerima begitu saja. Ada kala dia melawan atau pun menghardik jika dirasa perlu, namun saat ini dia tidak ingin membuat keributan di kelas yang akan berujung pada perolehan nilai D. Terlebih dosen pengampu mata kuliah ini sering menunjukkan sikap diskriminasi terhadapnya.

Di semester sembilan yang sedang dia jalani, Senja hanya perlu bertahan satu atau dua semester lagi untuk lulus dari Korea University. Dia tersaring masuk di salah satu universitas unggulan ini karena otaknya yang cukup pandai. Untuk membayar biaya pendidikan yang tidak tergolong murah, dia hanya bisa mengandalkan beasiswa. Sayangnya beasiswa tersebut diberhentikan karena Senja telah melampaui batas waktu studi yang seharusnya hanya delapan semester.

Secermerlang apa pun otaknya, tidak banyak membantu karena beban untuk bertahan hidup di negara sudah cukup berat. Untuk keperluan sehari-hari, Senja mengandalkan kerja paruh waktu yang gajinya tidak seberapa. Terlebih dia masih menanggung hutang orang tuanya yang sudah meninggal. Senja bahkan heran uang yang dipinjam ayahnya dihabiskan untuk keperluan apa karena seingatnya sang ayah bukan tipe begundal yang suka bermain judi atau hobi meminjam sana sini.

Senja menekan pulpennya pada buku hingga berbekas cukup dalam. Hanya perlu bertahan di mata kuliah ini dan menggarap lanjut skripsinya, selanjutnya dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak untuk memenuhi kebutuhan hidup dan, jika beruntung, menabung untuk ke Indonesia. Walaupun dia belum pernah sekalipun berkunjung ke negara asal kedua orang tuanya, tapi dia ingin ke sana karena mungkin saja masih ada saudara dari ayah atau ibu yang bisa dia temui. Hidup di Korea sebatang kara tetaplah bukan sesuatu yang menyenangkan, meskipun faktanya dia lahir dan besar di negara ini.

“Langit Senja.”

Senja menegakkan kepalanya dengan terlonjak kecil ketika menangkap namanya disebut. Dosen yang diumpatinya dalam hati mengetuk-ngetuk whiteboard dengan marker untuk menyuruhnya mengerjakan suatu persoalan di depan.

What’s a weird name,” komentar sang dosen dengan broken English yang membuat Senja ingin melontarkan olokkan. Teman-teman sekelasnya yang tertawa lepas atau pun hanya mengulum senyum membuatnya kian jengah. Dia tahu dosen tersebut sengaja menggunakan English sebagai cara untuk merendahkannya hanya karena dia tidak memiliki nama marga.

Dengan malas, Senja mengangkat bokongnya dari kursi dan maju ke muka. Dia tidak habis pikir apa yang harus dikerjakan di papan tulis. Mata kuliah yang diikutinya bukan semata menyelesaikan soal eksak yang sering digunakan guru untuk memajang murid-muridnya di depan kelas. Memasang ekspresi malas, Senja akan melakukan apa saja yang diucapkan sang professor asalkan lulus di mata kuliah Hukum Sipil ini.

#

“Lee Sungmin, 30 tahun. Seongbuk-gu, Seoul.” Eunhyuk melongokkan kepalanya dari balik monitor, “Wah, kau mengencani pria yang lebih tua darimu?” Dia berdecak sambil mengusap dagunya untuk mengejek atasannya, yang entah sedang berdiam diri atau bermeditasi, yang duduk di sofa dengan mata terpejam. “Seoul prostitusi sejak 2006,” sekali lagi Eunhyuk menggeleng-geleng heran. “Ini adalah record terburukmu dalam memilih teman kecan,” komentarnya lagi. “Oh, tapi setidaknya dari foto ini,” Eunhyuk mengangkat sebelah bahunya, “pria ini memiilki kulit porselen. Yah, seleramu tidak buruk juga.”

“Kau ingin dengan sukarela menutup mulutmu atau ingin aku yang melakukannya?” ancam Donghae yang masih bergeming di posisinya. Matanya yang terpejam, kedua tangannya yang terlipat di depan dada, dan ayunan kakinya yang menyilang tidak membuatnya lengah untuk menerima sindiran Eunhyuk.

“Kupikir kau ingin aku membacakan profil dari teman kencanmu.” Eunhyuk melengkungkan sedikit bibirnya ke bawah dan tidak terlalu ambil pusing dengan ancaman Donghae. Telinganya sudah terlampau tebal untuk mendengarkan sarkasme Donghae sekali pun.

Membuka kelopak mata, Donghae menatap datar ujung kakinya. “Buatkan aku janji dengannya.”

“Sudah kulakukan.” Eunhyuk mengatur jadwal Donghae dan mengecek ulang semua janji dengan rekan bisnis Donghae untuk memastikan tidak ada yang terlewat. “Sebagai informasi, Daewoo Electronics dan Daewoo Motor sedang melakukan persuasi kepada sejumlah anak perusahaan Daewoo untuk mengajukan memorandum kepada pemegang saham yang isinya menggugatmu turun dari jabatan karena alasan ke’normal’anmu,” Eunhyuk menjentik-jentikan jari telunjuk dan jari tengah untuk menekan kata normal.

Heish!” Donghae menyambar barang terdekat dan melemparkannya ke arah Eunhyuk. Tentu dia sudah memperkirakan lemparannya meleset sebab semarah apa pun, dia tidak ingin melukai asisten pribadi sekaligus temannya tersebut.

Eunhyuk memiringkan kepalanya ke arah lain sebagai gerak refleks untuk menghindar. Dia berdiri dari duduk dan mengintip barang yang telah menghantam meja. “Ya!” Telunjuknya terangkat untuk menuding Donghae. “Kau tahu itu ipad versi terbaru?! Aku harus menunggu selama seminggu untuk mendapatkanya!”

“Kalau begitu berhentilah mengucapkan komentar tidak penting!”

Aigoo…” Eunhyuk mengurut belakang lehernya dan kembali duduk. “Aku tidak bercanda mengenai masalah ini.”

“Kalau begitu gunakan otakmu untuk ikut memikirkan solusinya,” Donghae memijit keningnya.

“Mengenai itu,” Eunhyuk mencondongkan badannya dan berbisik, “apakah kau benar-benar seorang gay?”

Kontan Donghae melirik tajam ke arah Eunhyuk dan bersiap melempar apa pun dalam jangkauannya.

Ok! Tidak untuk jam itu,” Eunhyuk menahan Donghae untuk tidak melempar jam antik. “Nikahi saja seorang wanita dan punya anak. Masalah selesai,” ucap datar Eunhyuk.

Donghae meluruhkan kedua bahunya turun. Eunhyuk pasti sedang menggurauinya karena hingga saat ini hanya satu yang bisa menjadi istri Donghae; pekerjaan. Bukan dia tidak tertarik untuk mencari pendamping, hanya saja dia masih memiliki prioritas lain. Di usia yang masih terbilang muda, Donghae ingin memenuhi segala idealismenya mengenai prestasi yang harus dicapai.

Eunhyuk menggeleng prihatin sebab dirinya tahu, saat ini, Donghae tidak memiliki seorang yang spesial untuk dinikahi. “Aku bisa mengatur beberapa kencan buta untukmu. Kau tinggal memilih salah satu dari wanita-wanita itu untuk kau nikahi. Dalam setahun pastikan Donghae junior telah lahir untuk membungkam dewan direksi.”

“Kau tidak bermaksud untuk menyuruhku mengencani lebih dari 7 wanita dalam satu minggu, bukan?” sindir Donghae.

“Jika perlu, kenapa tidak.”

“Kalau begitu kau saja yang melakukannya. Aku tidak punya waktu untuk melayani rengekkan mereka.”

Eunhyuk meniru ucapan Donghae tanpa suara untuk mengejek. “Oh! Aku pilihkan seorang wanita untuk menikah kontrak denganmu. Setelah kalian punya anak, kau bisa menceraikannya.”

“Dan kepalaku akan pusing dengan urusan perceraian, apalagi jika sang wanita nantinya tidak mau kuceraikan. Plus,” Donghae menegakkan telunjuknya, “jika masalah kawin kontrak ini bocor ke media, maka aku akan terlibat masalah lebih besar.” Donghae menggeser tangannya secara horizontal di udara, “Tidak! Terima kasih.”

Cish, kau percaya diri sekali seolah wanita itu akan tergila-gila padamu,” cibir Eunhyuk.

“Kenapa tidak?”

Oh, Tuhan,” Eunhyuk sontak berdiri dan mengetuk-ngetukkan tangannya yang terbuka di udara. “Bunuh saja aku…” ucapnya putus asa. “Kalau begitu kau tiduri saja seorang pelacur untuk kemudian kupotret dan fotonya kusebarkan ke internet!”

“Kau sudah tak waras,” cemooh Donghae.

“Lalu gara-gara siapa aku menjadi seperti ini?” Eunhyuk menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. “Andai kau ditendang ke jalanan, nasibku tidak akan lebih baik.” gerutu Eunhyuk.

“Pertama, jika aku mengencani banyak wanita dalam satu waktu, gossip miring akan menyebar dan memperburuk citra diriku. Kedua, jika aku menikah kontrak, maka sama halnya menanam bom waktu. Tenang untuk sesaat, namun ketika bom meledak, hancur sudah semua. Tidak hanya aku dan istri kontrakku yang akan terkena imbasnya, lebih buruknya putraku nantinya.” Donghae merangkum sangkalannya hingga membuat Eunhyuk terbengong untuk mencernanya karena Donghae mengucapkannya bagai laju kereta api. “Lagipula, aku tahu seleramu dan aku tidak tertarik,” goda Donghae.

Wae? Setidaknya aku masih bisa membedakan antara wanita dan pria!” sentak Eunhyuk tak terima.

Donghae mendengus, kemudian mengembus napas panjang untuk mengurai ketegangan. Dia menyeringai getir untuk menertawakan dirinya. “Sekian lama aku mengabdi untuk keluarga ini, mana mungkin kubiarkan skandal kecil ini menghancurkan apa yang sudah kubangun.”

“Kecil?” pekik Eunhyuk. “Oh, kau pasti bercanda. Dimana kau taruh akalmu saat mencumbu pria itu?”

“Frustrasi dan alkhohol,” jelas Donghae. “Aku bahkan tidak ingat bagaimana diriku menarik pria itu.” Donghae tidak berdusta mengenai hal ini. Kala itu dia sedang dalam tekanan karena kehilangan salah satu proyek besar.

“Koreksi, Hae. Kau menciumnya dengan brutal.”

“Pria itu—“ Donghae mengepalkan tangannya, kemudian meninju sandaran sofa dan menggeram ketika tidak menemukan kata yang tepat untuk mendiskripsikan Lee Sungmin.

“Cantik?” tawar Eunhyuk untuk membantuk. “Yah, seperti yang kukatakan tadi. Pria itu memiliki kulit yang diirikan oleh kaum wanita.” Dia melanjutkan mengklik sana sini pada halaman web yang sedang dibaca.

“Jangan membuatku bertambah buruk, Hyuk.” Donghae menurutkan tubuhnya untuk berbaring nyaman di sofa. Dia menyilangkan kakinya yang berselonjor hingga memenuhi badan sofa. Bulan ini adalah bulan berat baginya karena selain pekerjaan, dia dipusingkan dengan skandal. Bagaikan bola salju, pemberitaan skandalnya kian membesar.

Sementara Donghae meredam pikirannya, Eunhyuk menajamkan konsentrasinya untuk membaca sebuah artikel yang menangkap perhatiannya. Senyumnya perlahan melebar hingga menunjukkan gusinya ketika dia mendapatkan sebuah jakpot. Menekan icon print, Eunhyuk menunggu hingga beberapa lembar artikel tersebut tercetak. Dia mengambil, kemudian menjepitnya menjadi satu. “Hei, Lee Donghae,” Eunhyuk tidak bersusah-susah menambahkan embel-embel penghormatan saat mereka hanya berdua. “Kutinggalkan solusi di mejamu. Pastikan kau memeriksanya!”

Donghae hanya bergumam ringan dan mengangkat tangan untuk menyuruh Eunhyuk pergi dari ruangannya. Dia masih malas untuk meladeni ide-ide konyol sahabatnya tersebut. Mungkin sedikit waktu sendiri akan meredamkan frustrasinya barang sejenak.

#

Senja mendongakkan kepalanya ketika suatu senggolan menyentak kesadarannya. Dia mendongak dan menggerakkan kepalanya dengan gugup. “Wae?” tanyanya ketika tidak mendapati suatu alasan yang membuat sang teman membangunkan lamunannya.

“Kau melamun lagi, Noona,” cibir Baekhyun.

Senja berdeham ringan, kemudian berpura-pura merapikan apron yang dikenakannya. Dia tersenyum simpul ketika Baekhyun berdecak kecil untuk mengolok. Diantara kemalangannya, Senja cukup bersyukur ada Baekhyun yang sudah dianggap sebagai namdongsaeng sendiri.  Dikarenakan hidup bertetangga sejak kecil, secara praktis membuat mereka tumbuh bersama. Meskipun demikian, diantara keluarga Byun, hanya Baekhyun yang mau bersosialisasi dengannya. Mereka tidak membenci Senja, namun juga tidak menyukainya. Suatu kontradiksi yang membuat Senja selalu gamang jika berhadapan dengan keluarga Byun.

Noona, aku antarkan pesanan ini dulu. Kau menyusul dengan menu yang lain,” ucap Baekhyun sambil mengangkat nampan berisi beberapa variasi makanan tradisional korea.

Senja mengangguk dan melirik beberapa chef yang masih belum selesai mempersiapkan pesanan. Merogoh saku apron, jemari Senja memainkan sebuah kartu nama di dalamnya. Dia menunduk dan memikirkan kembali putusannya dengan bimbang. Haruskah dia mundur atau maju untuk melakukan pekerjaan yang baru diperolehnya?

Hei,” suara lantang dan denting logam membuat Senja menegakkan kepala.

Senja bergegas menata menu makanan ke atas nampan, sebelum mendapatkan omelan dari kepala chef. Dia mengangkat nampannya, kemudian menyusuri pintu-pintu untuk mencapai ruangan pemesan. Ketika bersisipan jalan dengan Baekhyun, Senja hanya memberikan senyum kecil.

“Kau hanya membuang waktuku!”

Senja menjengit ketika suara keras terdengar dari ruangan yang dia tuju. Menahan langkahnya, dia ragu untuk masuk dan menyajikan hidangan karena agaknya suasana di dalam ruangan sedang tidak bersahabat.

“Katakan nominal yang kau inginkan?”

“Aku tidak butuh uangmu, Tuan Lee.”

“Aku hanya ingin tahu imbalan yang kau inginkan untuk menutup mulut dan tidak berkoar-koar di media.”

“Mengapa kau harus malu untuk mengakui perbuatan yang sudah kau lakukan?”

“Apa yang kau inginkan?”

“Sederhana saja, kau.”

“Kau gila!”

Senja masih mematung dan tidak sengaja mendengarkan keributan kecil pelanggan. Menilik suara, hanya ada dua pria di ruangan yang dia tuju. Dia ingin maju untuk menutup pintu ruangan agar pelanggan tersebut mendapatkan privasi, namun langkahnya tertahan dengan suara berat syarat ancaman yang lagi-lagi menciutkan nyalinya. Bukannya dia takut untuk menghadapi kemarahan orang tersebut, namun karena rasa hormatnya terhadap pelanggan.

“Dengar Lee Sungmin-ssi, kutegaskan padamu bahwa aku tidak tertarik dengan sesama pria!”

“Lalu mengapa kau mencumbuku?”

“Tutup mulutmu! Jika kau tidak bisa diajak berunding dengan cara halus, maka aku bisa melakukan cara lain yang bahkan tidak kau inginkan!”

Senja memutar arah tujuannya ketika mendengar derit kursi. Dia membalik badannya lagi ketika panik. Sayangnya, Senja mengambil langkah yang salah karena nampan di tangannya menyenggol seseorang yang menuju ke arahnya. Segala makanan sebagian besar tumpah ke arahnya. Dia memekik ringan saat kuah sup yang cukup panas menumpahi tangan kirinya. “Mianhammida.” Membungkuk dan mengabaikan rasa sakit, Senja meminta maaf atas kesalahannya.

Shit!”

Memberanikan diri menegakkan kepala, Senja mengobservasi keadaan orang yang ditabrak. Dia meringis ketika menyadari kekacauan yang telah diperbuatnya. Kepalanya menoleh ke belakang untuk memeriksa derap langkah yang menghampirinya. Mengerutkan ekspresi wajahnya, Senja dilanda kepanikkan ketika manajernya mendekat.

“Lee Bujangnim,” ucap sang manajer.

#

Donghae mengurai kancing satu persatu, kemudian melepaskan atasannya dengan kesal. Dia melempar kemeja dan jas yang kotor di ke sudut kamar mandi karena baunya yang tidak tertahankan. Melepaskan lilitan ikat pinggang, dia membiarkan celana formalnya melorot, kemudian menendangnya ke sudut. Tangannya menggapai tuas shower, lalu menyentakkannya ke atas.

Wajah Donghae mendongak untuk menyambut rintik air yang diharapkan mampu meredakan emosinya. Pertama, pria bernama Lee Sungmin yang membuatnya naik pitam karena alot untuk diajak berunding. Pernyataan terbuka Sungmin yang menunjukkan ketertarikan pria itu pada dirinya, mau tak mau membuatnya bergidik. Kedua, seorang pelayan berwajah melayu yang memperburuk malam ini dengan menumpahkan menu makan malam ke tuksedonya. Walaupun manajer restoran menjamin telah menskors pegawai itu, namun kemarahan Donghae masih belum pupus.

Donghae memejamkan matanya yang perih akibat terlalu lama terguyur air, lalu mematikan shower. Dia menggapai handuk putih untuk mengeringkan badannya dan menggapai handuk lain untuk menutupi tubuh bawahnya. Tanpa repot mengenakan baju ganti, Donghae berjalan ke ruang kerja sambil mengusap-usap rambutnya yang masih basah.

Donghae tidak perlu khawatir seseorang memergokinya setengah telanjang karena dia menghuni apartemennya sendiri. Di samping itu, dia tidak perlu malu untuk menunjukkan tubuh atletisnya.

Tangan Donghae menyambar artikel yang tadi sore diberikan oleh Eunhyuk, kemudian membaca judulnya dengan pelafalan jelas, “Surrogacy.” Menelengkan kepala karena keawaman pada topik tersebut, Donghae menggeret kursi dan mulai membaca.

Donghae terlalu larut untuk memahami metode surrogacy untuk menghadirkan buah hati melalui rahim wanita lain. Dalam hal ini wanita tersebut bukanlah pasangan dari orang yang meminta surrogacy.

Sebagian besar negara di Asia memang masih awam terhadap metode ini, meskipun negara seperti India sudah melegalkannya. Tidak seperti halnya Jepang maupun Taiwan yang dengan keras melarang metode ini, Korea Selatan sendiri belum menetapkan hukum atas tindakan surrogacy.

Tidak hanya penjelasan, Eunhyuk juga telah mencetakkan beberapa agensi di Korea Selatan yang menyediakan layanan surrogacy. Oleh karena status hukum yang masih kabur, belum terdapat lembaga resmi seperti rumah sakit yang melayani khusus surrogacy.

Donghae menggapai telephon dan bergumam ringan untuk menjawab suara Eunhyuk. “Aku sedang membacanya, Hyuk. Kau pikir aku bisa mendapatkan dukungan dewan direksi lagi jika memiliki anak?”

“Kenapa tidak. Melalui kehadiran seorang anak, setidaknya kau mempertegas kelangsungan penerus Daewoo dan secara tidak langsung membuktikan kenormalanmu.”

Donghae berdesis ringan dan memijit pelipisnya. “Bisakah kau hilangkan kata terakhir pada kamus bahasamu?” sindir Donghae.

Arraso…arraso!”

“Lalu bagaimana dengan status hukum,” Donghae berdeham tidak nyaman, “anakku nanti? Maksudku, andai aku setuju menggunakan metode ini.”

Ah, jadi kau sudah mempertimbangkannya?”

“Hyuk,” melas Donghae agar Eunhyuk tidak menggodanya.

“Aku sudah sertakan beberapa negara yang melegalkan surrogacy. Kau tinggal memilih di mana kau ingin melakukannya.”

Hei, jika aku melakukannya di luar Korea, maka bagaimana aku mengawasi perkembangan kehamilan dari si ibu surrogate?”

“Oleh karena itu aku sudah mencarikan agensi atau pun perseorangan di Korea yang menyediakan jasa surrogacy. Kau tinggal menentukan wanita yang kau inginkan mengandung anakmu, lalu kalian lakukan surrogacy di luar negeri. Masalah selesai.”

Donghae menyeringai untuk mengapresiasi kerja Eunhyuk. Meskipun asistennya tersebut kadang kehilangan kesetimbangan otaknya, namun profesionalitas Eunhyuk tidak perlu diragukan. “Kau di bar?” tanya Donghae saat mendengar gemuruh suara.

“Ya, di tempat biasa. Kemarilah.”

Donghae menggeleng pelan dan tersenyum kecil. “Secepatnya!”

#

 “Hei!” Eunhyuk menyalami Donghae sambil meninju kecil bahu sahabatnya tersebut. “Aku memanggil little cousin juga, tapi sudah setengah jam dia belum muncul,” kesal Eunhyuk.

Donghae menatap Enhyuk suram. Bukan berarti dia membenci sepupunya, yang oleh Eunhyuk disebut sebagai little cousin, namun dia sedang enggan meladeni kesintingan yang sering dilakukan duo Eunhyuk dan sang sepupu.

Hyung!”

Donghae meneguk minumannya dengan cepat dan mengabaikan sang sepupu yang memanggilnya dari kejauhan dengan riang.

Hi, dude! You have such unpredictable taste on that freaking slut!”

Eunhyuk menyeringai dan memanggut senang ketika memiliki sekutu untuk mengejek skandal Donghae.

Memijit belakang leher dan memutar kepala, Donghae menyiapkan diri untuk menerima cemooh dari mereka. “It’s oppa, Amber,” tegas Donghae untuk ribuan kali ketika sang sepupu memanggilnya dengan tidak wajar.

Eih…,” dengus Amber jengah, “go pass that words to your feminine man.” Lahir dan besar di Kanada membuat Amber masih sering menggunakan bahasa ibunya ketimbang hangul. Rambutnya yang diblonde dan dicukur separuh, serta dandannya yang maskulin membuat orang yang melihat berpikir dua kali untuk men-judge gendernya. Meskipun berdandan tomboi, tidak dipungkiri bahwa Amber tetap memiliki sisi feminin di wajahnya. Lihat saja bentuk bibir penuhnya yang sensual dan mata bulatnya yang berbulu mata lentik.

Donghae berdiri, kemudian berjalan menjauh dari Eunhyuk dan Amber karena kegilaan mereka berdua tidak membantu menyelesaikan masalah. Meskipun duo tersebut memanggil-manggil namanya, Donghae dengan santai menjawabnya dengan mengangkat tangan. Ketika dia duduk, tanpa diminta seorang bartender telah meracikkan minuman yang menjadi favoritnya.

“Kau tampak buruk,” komentar Chanyeol, sang bartender yang sering disapa Chanie oleh Donghae.

Donghae menyeringai dan tidak menggagas komentar Chanie. Tanpa berniat turun ke lantai dansa, dia menikmati dentum musik yang menyentak jantung untuk berdetak seirama. Pandangannya menyapu ruang diskotik hingga mendarat di sosok seorang pelayan. Alisnya mengerut dan rahangnya mengeras seketika. “Chanie, siapa gadis itu? Aku tidak pernah melihatnya.”

“Gadis yang mana?” bingung Chanie karena ruangan ini dipenuhi banyak gadis.

“Gadis pelayan berwajah melayu di sana.”

Ah,” Chanie mengangguk, “Dia Senja. Bos baru memperkerjakannya seminggu ini, tapi kudengar dia pernah bekerja di Rose bar kawasan Itaewon.”

Donghae mendesis lirih untuk menertawakan gadis tersebut.

“Oh Hyung, kuperingatkan jangan menyen—“ Chanie menghentikan ucapannya ketika Donghae sudah lenyap dari tempat duduknya. “Hash, dia benar-benar mencari masalah,” prihatin Chanie.

Donghae memposisikan tubuhnya di belakang Senja hingga dadanya berimpitan dengan punggung gadis tersebut. Tangan kanannya secara naluriah melingkar di pinggang Senja, sedangkan tangan kirinya mencekal lengan atas Senja. Dia merendahkan wajahnya untuk berbisik di samping telinga Senja. “Berapa harga yang harus kubayar untuk jasamu semalaman?” ucap Donghae dengan nada seduktif. Donghae bukan menginginkan gadis itu, melainkan hanya mempermainkan saja karena insiden di restoran sore tadi masih membuatnya kesal.

Terkejut dengan aksi seorang tamu, Senja berniat menjauhkan diri. Akan tetapi kedua bahunya yang dicengkeram oleh Donghae membuatnya tidak berkutik. Dia mencoba meronta dengan halus untuk menolak pengunjung yang tidak diketahuinya. “Maaf, Tuan, aku tidak menyediakan jasa yang kau maksudkan. Silakan kau cari penghibur lain,” tolak Senja.

“Bagaimana jika aku memaksa?”

Senja menyentak kedua tangannya agar terbebas, namun gagal. Walaupun dia awas dengan resiko bekerja di bar, namun tetap saja tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang menjadi pemasukkannya. Dia sudah mempersiapkan diri dengan kejadian seperti ini, namun keintiman dengan lelaki asing tetap membuatnya tidak nyaman.

“Kau berani melawan permintaan seorang tamu?” bisik Donghae. “Apakah kau ingin memperpanjang waktu skorsingmu?”

Senja mencerna perkataan Donghae dengan cepat, lalu berusaha menolehkan wajahnya untuk bersemuka dengan Donghae. Matanya menatap marah Donghae. Akibat dari tuan muda yang temperamental ini, Senja harus menerima skors selama seminggu dari restoran tempatnya bekerja. Jika dia tidak bekerja, maka dia tidak memiliki pemasukan. “Lepaskan!”

“Bukankah kita masih memiliki urusan yang belum selesai,” Donghae memutar tubuh Senja untuk menghadap ke arahnya tanpa mengendurkan kekangannya, “Senja?” Dia membenturkan tubuh Senja ke sisi tubuh depannya hingga gadis tersebut harus menolakkan tangan untuk melawan. “Katakan saja hargamu, aku akan membayarnya penuh dengan bonus.”

Senja menggeletukkan giginya dengan hinaan Donghae. Meskipun marah, dia tidak bisa menyalahkan Donghae karena melecehkannya. Ketika bekerja di tempat seperti ini, dia sudah siap menerima asumsi miring terhadap dirinya. Hal yang membuatnya betah adalah karena upah yang diterimanya cukup besar untuk menutupi kebutuhannya. Selain itu, alasan suatu balas jasa yang belum bisa dia tebus.

Sebelum bertindak jauh, sepasang tangan melingkar di perut Senja untuk menariknya berlawanan dari Donghae. Dia melenguh kecil ketika punggungnya menabrak dada seseorang yang sudah dihafalnya. Jemarinya mengecup ringan di pipinya. Meskipun Senja selalu tidak nyaman dengan perlakuan lelaki tersebut, dia tetap bersyukur karena tindakan tersebut selalu berhasil mengusir tamu kurang ajar macam Donghae.

“Bukankah wanita ini sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia bukan sewaan, Lee Bujangnim?” Seunghyun menyeringai di akhir perucapannya. Dia membau wangi manis khas rambut Senja, lalu mendaratkan sebuah ciuman di kepala belakang gadis tersebut.

Donghae mendengus kesal ketika mangsanya direbut. “Bahkan jika dia bukan sewaan, aku bisa membelinya,” angkuh Donghae untuk mempertahankan harga dirinya.

Seunghyun terkekeh, kemudian menggeleng-geleng ringan. “Sayangnya aku tidak menjadikannya sebagai dagangan.”

“Lalu untuk apa dia mondar-mandir di sini, jika bukan untuk disewakan jasanya?”

“Sederhana saja, dia bekerja untukku,” ucap Seunghyun dengan tenang. “Silakan kau cari mangsa lain di ruangan ini. Kecuali dia, setiap gadis akan dengan sukarela menyerahkan dirinya.” Merenggangkan rengkuhannya pada Senja, dia ingin mengakhiri perseteruan kecil di barnya.

“Kau tahu aku bisa mendapatkan apa pun,” Donghae mengangkat alisnya, “termasuk gadis itu atau bahkan bar ini.”

Seunghyun menggerak-geraknya rahang bawahnya dengan lambat. “Tidak semua hal berada di bawah kakimu, Lee Bujangnim. Jika kau tidak bisa bersikap, maka aku tidak segan untuk menendangmu keluar.”

Donghae mendesis kecil untuk melecehkan. “Kau tidak tahu harga yang harus kau bayar jika melakukan hal tersebut?” sindirnya.

“Bukan aku yang akan membayarnya, melainkan dirimu.” Tawa Seunghyun meledak hingga membuat Donghae kian meradang. “Reporter akan dengan senang hati meletakkan foto wajahmu di halaman depan surat kabar mereka andai tahu alasanmu diseret paksa dari bar ini.”

“Kau!” Donghae merangsek maju dan menarik kerah kemeja Seunghyun saat dia meradang dengan sindiran Seunghyun. “Ucapanmu bisa membuatku melenyapkan bar ini dalam sekejap.”

Diancam demikian, Seunghyun malah terkekeh. “Kau tidak akan melakukannya, Lee Bujangnim. Tidak hanya di tempat ini, bahkan kau pun terancam ditendang dari Daewoo.”

Donghae siap menghantamkan tinjunya ke wajah Seunghyun sebelum kedua lengannya ditarik dari belakang oleh duo Eunhyuk Amber. “Hei, lepaskan!” Dia sempat meronta ketika diseret mundur oleh mereka.

Oh, Hyungnim. Kau tahu bukan akhir-akhir ini dia sedang sensitif,” ucap Amber sambil memiting tangan Donghae ke belakang punggung.

Ne…ne. Kami yang akan mengurusnya, Seunghyun-ssi.” Pamit Eunhyuk untuk menghindari persiteruan.

Seunghyun merapikan kemejanya dengan gestur angkuh dan mengibaskan tangan untuk menyuruh ketiganya pergi. Dia memastikan hingga ketiga orang tersebut hilang dari pandangannya. Memutar tubuhnya, dia memendeliki Senja yang masih mematung di tempat. “Lain kali hal ini terulang lagi, kau bisa memanggil keamanan!” tegasnya.

Senja menunduk ketika mendapat bentakkan Seunghyun. “Gomawoyo,” lirihnya.

“Seharusnya aku sudah memecatmu dari dulu,” ucap Seunghyun sembari beralalu. Bagaimanapun dia kesal karena harus beradu mulut dengan salah satu pelanggannya. Apalagi pelanggan kali ini adalah salah satu orang yang berkuasa. Grup Daewoo adalah chaebol terbesar kedua setelah Grup Hyundai yang bisa saja melenyapkan usahanya dalam sekejap.

Berlari kecil untuk mengekor Seunghyun, Senja mencoba meminta kesempatan lagi. “Kumohon beri aku kesempatan lagi,” mintanya.

Seunghyun membalik badannya kilat dan menatap kesal Senja. “Kalalu begitu, segera tanggalkan hem ini,” dia mencengkeram kerah baju kerja Senja, “dan berlakulah seperti gadis penghibur yang lain.”

Senja menahan napasnya ketika wajah Seunghyun tepat berada di depan wajahnya. Kedua tangannya mencengkeram bawahannya untuk menyalurkan ketakutannya pada lelaki ini.

Walaupun Senja membisu, Seunghyun paham gadis itu menjawab ‘tidak’ untuk perintahnya. Entah sudah berapa kali dia memperingatkan Senja akan hal ini. Dia melepaskan cengkeramannya pada kerah Senja sambil memberikan dorongan kecil. Mendengus sebal, untuk ke sekian kali juga, Seunghyun mengalah pada prinsip Senja. “Pergilah,” ucapnya dingin.

Senja membungkuk kecil sebelum meninggalkan Seunghyun. Sekasar apa pun Seunghyun, dia tetap menaruh hormat pada lelaki itu. Andai bukan bantuan Seunghyun, dia sudah menjadi bulan-bulanan rentenir yang menagih hutang ayahnya.

#

“Ada apa denganmu, Hyung?” Amber mengikuti langkah Donghae. “Kau menjadi begitu temperamental karena masalah kali ini.” Dia menghentikan kakinya ketika Donghae juga berhenti.

Donghae meremas rambutnya dan berkacak pinggang sebelum membalikkan badannya untuk berhadapan dengan sang sepupu. “Lalu kau berharap apa? Berharap aku diam saat pria itu menghinakan diriku?” pekik Donghae.

Amber berdecak ringan untuk mengejek, “Bukan dia yang bermasalah, tapi kau.”

“Benar! Sekarang semua telunjuk mengarah padaku untuk mendakwaku atas kesalahan yang tidak kusengaja!”

Nah, kau tahu,” Amber menghempaskan diri ke ranjang milik Donghae dengan tertelungkup. Dia mulai menutup mulutnya karena sadar tidak pernah menang beradu argumen dengan Donghae. Selain itu, dia tidak ingin membuat Donghae lebih terbebani. “Tidur di luar,” ucapnya secara komikal mirip seorang istri yang sedang merajuk.

Hei, sejak kapan—“ sangkalan Donghae terhenti ketika secara refleks dia harus menghindari bantal yang melayang ke wajahnya. “Heish, gadis ini!” Dia memukul ringan pantat Amber dengan bantal sebelum berlalu. Meskipun Amber sering membuat kepalanya berdenyut, Donghae terlalu menyayangi gadis ini. Oleh karena dirinya merupakan putra tunggal, kepindahan Amber ke Korea lima tahun lalu membuatnya bertanggung jawab sebagai seorang oppa.

Good night, sleep tight,” bisik Amber setengah sadar.

Donghae tersenyum kecil, kemudian mematikan lampu dan menutup pintu kamarnya. Dia mengangkat telephon untuk memberitahukan bibinya bahwa Amber menginap di tempatnya. Gadis itu terkadang menginvasi apartemennya untuk merengek ini dan itu, kemudian berakhir dengan bermalam untuk sekedar bermain game atau menonton film.

Melangkahkan kaki ke ruang kerja, Donghae kembali memeriksa artikel surrogacy. Dia menyalakan PC untuk menelusuri nama agensi surrogacy yang Eunhyuk sebutkan. Dari beberapa agensi yang tertulis, Donghae memulainya dengan Cheon-Ai. Halaman depan web Cheon-Ai berisi pengetahuan umum mengenai surrogacy yang sudah dia baca. Menggeser pointer, Donghae mulai melihat beberapa kandidat ibu surrogate yang ditawarkan agensi tersebut.

Donghae berdecak ringan tatkala memperhatikan satu persatu foto wanita yang terpasang sebagai ibu surrogate. Dengan mata besar, hidung meninggi, dagu V-shaped, bibir tipis, dan wajah kecil, Donghae tahu benar semua hanya rekayasa yang mereka dapatkan secara medis. Meskipun plastic surgery merupakan fenomena umum di Korea, namun dia tidak ingin anaknya kelak mewarisi pembawaan asli sang ibu.

Idealisme wanita Korea akan patokan cantik membuat mereka terkadang kelewat batas dalam memperbaiki wajah. Bukan dia membenci fenomena yang mulai mengadat ini, melainkan rasa risih andai para wanita tersebut terlalu berlebihan dalam upaya mengikuti idealism cantiknya. Dalam hati dia mengumpati Eunhyuk untuk hal ini.

Menurunkan pointer, kening Donghae berkerut saat mengamati foto terakhir. Jemarinya secara spontan mengklik tautan untuk melihat profil lengkap sang wanita. “Langit Senja,” lafalnya dengan sedikit kaku. “Mata bulat dengan double eyelid, bulu mata hitam legam yang lentik dan memanjang, bibir tipis dengan lesung pipit di sudutnya, dagu membulat dengan tulang pipi yang menonjol,” Donghae menilai kontur wajah Senja dengan saksama, “dan wajah melayu.”

Donghae menyeringai lebar, kemudian memundurkan punggungnya untuk bersandar. Dia memainkan kursinya dengan rotasi kecil berlawanan, sambil membaca profil lengkap Senja. “Sempurna,” bisiknya.

TBC*

Glosarium:

Bujangnim: wakil direktur

Note:

Aku sebenarnya ingin menulis hingga pertemuan resmi Donghae dan Senja, namun sepertinya akan panjang dan menghabiskan waktu lebih lama untuk update. Jadi untuk part perdana, kucukupkan sampai di sini saja.

Berbeda dengan BTBE yang ketiga karakter tokoh dan atmosfir ceritanya suram, ASB lebih bewarna dengan kehadiran Eunhyuk dan Amber. Meskipun karakter Donghae akan memiliki beberapa kesamaan dengan Kyuhyun di BTBE, namun dia lebih realistis dalam menghandle masalahnya.

Ok, thank you for always supporting. If you aren’t pleased with Indonesian OC, just step back cause I don’t want to read any whines. I respect your personal taste, so let my lead this story wuth my OC. I thought, Indonesian girls are beautiful with their own way. 

Bye, Happy Weekend

tumblr_mt1fycHR0j1sy5uvdo1_500

gif’s not mine, tumblr

133 thoughts on “A Surrogate Baby [Step 1]

  1. halo salam kenal.aku reader br di blog ini ^^

    aku suka fanficnya..keren..awalnya gak ngeh nama cwenya senja,tapi setelah diteliti namanya senja.hehe.oh yah ijin lanjut baca lagi yah.

  2. annyeong,
    ya ampun lee donghae, ga nyangka malah sama sungmin
    hahahahahhahaha
    ampun dah,,,
    ada-ada aja tingkahmu,
    hmm dasar playboy ya,
    serem abis ah donghae..
    eh ada TOP,,,mas cool nongol.
    hahahhaa

  3. just fia says:

    ijin baca
    surrogate itu semacam bayi tabung ya?…. keren ceritanya… ini awal pertemuan senja dan donghae…. kok bisa donghae kena skandal sama sungmin? apa segitu mabuk nya donghae jadi ga bisa befain perempuan dan laki lagi… agak geli juga pas baca donghae kissue sama sungmin…. di lanjut lagi ceritanya, bagus ini, sayang kl ga di terusin..
    aku cuma mau bilang tetap semangat dan jaga kesehatan supaya bisa bikin karya yg lain lagi….

  4. Yurizde says:

    Daebakkk! Cool🙂
    Pengetahuan baru juga, T.O.P dah pokok’e.
    Ditunggu kelanjutannya ^^
    Suka karakter duo Eunhyuk-Amber, sempurna buat naikin tekanan darah, bahkan akselerasinya bisa nyamain buggati. Lol😀

  5. keren ceritanya.😀
    terus nanti si Senja mau jadi ibu surrogate-nya?
    penasaran sama si Bos pemilik bar yang nolongin Senja, emang beneran baik gitu apa sebenernya dia suka juga sama Senja.

  6. Yukehh says:

    Unique plot, indeed! And the Senja’s character seems real, though she must be strong to face the racist there:/ karakter donghae agak cocky gitu ya but he could handle the situation with his rational-minded way of thinking. Amber+Eunhyuk = definitely the mood maker. Great combinationn, kak!Ahahaha. Pace nya gak terlalu cepet nor too slow jadi enjoy bacanya. Anyway, moving forward for the next chapter :3

  7. entik says:

    Jalan cerita nya bgs, aku kira krkter hae gk akan a kya hyun BTBE. dia emosional tpi mash berfikir scra rasional..
    Dan amber kalo gk slah dia member Fx ya yang mirip sama kaya hae?
    Bener gk ya??
    Heheh.
    Aku tunggu kelanjutannya ya sist.

  8. boice says:

    Kyaaaaa da senghyun oppa dsn,,,, oppa kan tipkl cwo mestrs dan pendm,, krkter ny dsn ku msh blm tau sprt pa ni kan msh part awl tp c yg pst dr perckpn sm senja itu loch dya kyny pedl tp bermult tjm jg* sok tau bgt abaikan
    surrogate crt ny mnrk bgt,,, dya ky sewa rahm gthu kan istilahnya,,
    Surrogate sama insiminasi buatan sm ga c?
    Dan ku jg pnsrn sebbny senghyun itu nlng senja itu pa cm kshn taw da sst yg ln ehmmm,,,

    Kirain pas bc awl crt donghae itu gay dan pngn pny baby trz dya ikt surrogate mother gthu,,, trnyt bkn py dsn donghae bkn bisexsual jg kan??? Penderitaan senja bkn cm dtnggln bnyk utng sm ortu ny py d kucilin dr sosial cm gara bd ras doank * syahhh terll
    Dan sy juga galau ga jls bgt pas bc btbe part 9 ku dah komen sepnjng kenangn py pas mu ngepost komen g msk,,,,, y sudah lahhhhhh

    Dtngg kelnjtn certny y eoni ( blh kan ku mnggl eoni heeeee)

  9. ryumin says:

    wow, just read this story and my curiosity about this story almost killing me!! hahaha.. #exaggerate btw, you will continue to write this story right?
    fall in love with donghae’s and jingga’s character here and also the unique plot that you have here🙂
    Looking forward for the next chapter and keep up your spirit!

    P.S. Gomawoyo for writing such a nice story😉

  10. WOW cool….Indonesian OC dan sama sekali nggak ada darah Koreanya ka.n??
    Sempet was2 waktu Hyuk muncul…kali aja dia kaya’ siwon di BTBE kkkkk~~but Lee SungMin how could youo_O
    Bakal ikutin ff ini….. hahahaha worth it !!!!!

  11. cutelfishy says:

    Kirain donghae homo trnyata ga ya😀
    yeoja na keturunan melayu..Senja..
    knp senja ikut jd ibu pengganti pasti coz uang ya😦
    Donghae ngerencanain apa tu ke Senja?
    penasaran bgt aq..bner2 KEREN! KEREN BGT!!😀 (y)

  12. Ternyata Donghae tdk homo, untung. Hihi:p. Selalu kagum sama ff mu, dan ini pertama kalinya aku gak ilfeel sama ff yg membawa OC indonesia, kakak selalu apik dlm membawa ff. Jd seneng bacanya. Nice:’)

  13. brighitta says:

    oh my >< awalnya aku pikir donghae emang homo ama sungmin. Trus dia bikin baby buat nutupin statusnya,

    ehh, nyatanya tidak😀 aku suka karakter donghae dan seluruh kata.katanya..
    Next part ditunggu🙂

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s