Behind Those Beautiful Eyes [6]


BTBE 9

 

Behind Those Beautiful Eyes [6]

Arsvio | Siwon Choi, Miyoung Hwang, Kyuhyun Cho | PG-16 | Tell Me (David Archuleta, No Matter How Far)

Seeking for Salvation

Dengan kesadaran yang masih minim, aku menginspeksi raut Seobin dengan lebih teliti. Wajah ayunya tampak kuyu dengan warna merah merona yang menyusupi kulit pipi pucatnya. Mata yang berjendul di kantungnya menegaskan kesenduan akibat sisa tangis atau mungkin akibat terjaga semalaman. Jemarinya tangannya yang saling meremas membuatku yakin dia sedang mengeliminasi kegugupannya. “Ada keperluan apa hingga kau ingin menemuinya?” kuturunkan intonasi bicaraku karena ketidaktegaan melihat keadaan Seobin.

“Kumohon Miyoung-ssi. Kau bisa menghukumku kapan saja, namun tidak untuk saat ini.”

Aku menunduk dan menyeringai kecil untuk mengapresiasi perkataan Seobin. “Untuk urusan apa aku akan menghukummu, huh?”

“Kumohon,” Seobin menangkup kedua tangannya di depan dada. Seketika air matanya memenuhi permukaan bola mata.

Aku menarik napas panjang sambil memikirkan tindakan yang akan kuambil. Jika kubiarkan dia bertemu Kyuhyun, kemungkinan terjadi dua hal buruk. Pertama, kebohonganku atas ketidaktahuan mengenai kakak perempuan Kyuhyun akan terbongkar. Hal kedua yang paling tidak diinginkan adalah jika Seobin dan Kyuhyun saling melukai.

Aku baru akan membuka mulutku ketika tubuhku kehilangan kesetimbangan ketika seseorang dari dalam membuka pintu tempatku bersandar. “Woops!” teriakku saat menyiapkan diriku mendarat di lantai dengan keras. Napasku terhenti sesaat ketika punggungku malah menabrak bidang padat. Menolehkan kepalaku ke belakang, aku menjumpai raut datar Siwon.

Membantuku berdiri tegak, Siwon mengamati Seobin dengan alis berkerut. Agaknya dia berpikir keras untuk mengenali sosok Seobin yang meskipun asing, namun terlihat familier karena kemiripan senyumnya dengan Kyuhyun.

“Kyuhyun di dalam, masuklah.” Aku menggeret pergelangan tangan Seobin. Mencermati ekspresi Seobin yang tak ubahnya seperti milik Siwon, aku tidak ingin baik dia maupun Siwon bertatap muka lebih lama. Bukan tidak mungkin Seobin menduga yang tidak-tidak atas keberadaan kakakku di sini.

“Bicara denganku!” Aku mencekal lengan atas Siwon ketika dia ingin mencegah Seobin. Kututup pintu rumahku dan kuseret Siwon untuk menjauh. Kudesak dirinya hingga mencapai tempat di mana dia memarkir mobilnya.

“Siapa wanita itu?” geram Siwon yang meskipun menuruti perkataanku, tetap berlaku angkuh.

“Bukan urusanmu,” jawabku sambil melipat kedua tanganku di depan dada. “Bagaimana kau bisa bebas keluar masuk rumahku?” tanyaku balik. Pertanyaanku lebih berupa pernyataan penentang karena aku sudah bisa menduganya. Meskipun aku sendiri, secara tidak langsung, menyetujui permintaan Kyuhyun agar dia bisa bertemu dengan Siwon di rumah kami, namun bukan berarti aku berkenan dengan kedatangannya.

Sistem keamanan rumahku tidak menggunakan password, melainkan sidik jari. Jika Siwon dapat mengakses pintu rumahku, maka sidik jarinya terdaftar sebagai salah satu user pada sistem keamanan rumahku. Oleh karena hanya ada dua admin di rumah ini, aku dan Kyuhyun, maka bisa kupastikan Kyuhyun yang mendaftarkannya sebagai pengguna.

Siwon berkacak pinggang dengan ekspresi kaku. Walaupun badannya berhadapan denganku, namun pandangannya masih tidak lepas dari pintu depan rumahku yang tertutup. Sebegitu khawatir kah dia dengan Kyuhyun?

“Choi Siwon!” sentakku untuk memperoleh perhatiannya.

Siwon memalingkan wajahnya ke arahku dengan sedikit kaget. Dia mendengus sebal dan merajut kedua ujung dalam alisnya saling mendekat. “Jawab pertanyaanku lebih dahulu.”

Aku menolehkan kepalaku ke samping dengan cepat. Tersenyum kecil untuk melecehkan, aku sudah menduga reaksi Siwon. Kuputar wajahku untuk bertemu dengan Siwon kembali, “Kutegaskan padamu, Choi Siwon. Meskipun Kyuhyun mengizinkanmu memiliki akses atas rumah ini, namun aku menentangnya. Ini kali terakhir kau bisa bebas melenggang di rumah ini. Jangan harap lain kali kau bisa melakukannya!”

Siwon berdesis lirih untuk mengguyoni ancamanku. “Dengan atau tanpa izinmu, aku tetap bisa melakukannya.”

“Kalau begitu, kau bisa meminta Kyuhyun memotong jarinya,” sarkasmeku.

Siwon membalik posisi kami dengan cepat hingga mengimpit tubuhku ke badan mobilnya. Kedua tangannya yang menekan lengan atasku menjadikan punggungku menabrak sisi Audinya. Rahangnya yang terkatup kokoh dan matanya yang mendelik, sebenarnya, membuat nyaliku menciut. Akan tetapi aku tidak ingin menunjukkan ketertekananku padanya. “Jangan membuatku berlaku kasar, Youngie.”

“Maka mulailah dengan tidak menyudutkan kesabaranku atas perilakumu.”

“Kau pikir, siapa yang memulainya lebih dulu?” walaupun diucapkan dengan nada rendah, namun Siwon menekan setiap kata-katanya.

“Memang apa yang sudah kulaku—“ aku menutup mulutku sekejap dan tidak merampungkan kalimatku. Terkekeh renyah, aku menemukan jawaban pertanyaan retorik Siwon. Jika kekesalannya berkaitan denganku, maka tidak ada hal lain yang bisa menjadi alasan tepat kecuali Kyuhyun.

Aku menjadi terang mengenai motif Kyuhyun membopongku melalui hall depan Assan tadi malam. Dia ingin membuat pertunjukkan di mana aku terlihat sakit hingga tidak bisa mengangkat pantatku sendiri. Andai kami berjalan langsung menuju basement, maka kemungkinan terpergok oleh khalayak sangatlah minim. Lain halnya jika kami berjalan melalui hall depan yang pasti dipenuhi oleh pasien dan pengantar atau bahkan wartawan dan paparazzi. Kuasumsikan dalam hal ini rencana Kyuhyun berjalan lancar.

Sayangnya usaha Kyuhyun untuk menyelamatkan nama baikku dari tudingan mangkir konferensi pers berimbas sedikit buruk. Di sinilah sekarang Siwon, sang kekasih, yang kebakaran jenggot karena cemburu. “Kau membuang energi untuk mencemburui sesuatu yang tidak penting,” komentarku.

Siwon mengerutkan pusat keningnya untuk merespons komentarku. “Jika kau paham, maka berpikirlah dua kali untuk melakukannya lagi. Lain kali kau melibatkan Kyuhyun dalam masalahmu, aku tidak segan untuk membuat perhitungan langsung denganmu.”

Perucapan Siwon menyentak emosiku hingga ke ubun-ubun. Kutarik kerah jaket Siwon dengan kedua tanganku. “Katakan hal itu pada ayahmu,” ucapku tegas. “Andai dia melibatkanku lagi dalam masalahnya, maka aku juga tidak sungkan untuk membuat perhitungan!” Kekesalanku karena kebijakan politik abeoji secara tidak langsung membuat kekacauan pada konferensi pers Dae-A masih berbekas di benakku.

Giliran Siwon yang menertawakanku. Dia menjumput helaian rambutku, kemudian menyisipkannya ke belakang telinga, “Youngie…Youngie,” ulangnya dengan nada merendahkan. “Kapan gadis kecil ini berhenti menjadi seorang yang naïf?” olok Siwon padaku.

Aku mengeratkan cengkeramanku pada kerah Siwon. Meskipun tidak nyaman dengan kedekatan kami, namun aku tidak mau kalah dengan intimidasinya. “Senaif apa pun diriku di matamu, aku lebih bangga mengakuinya daripada menjadi seorang pendosa yang mengkuduskan Tuhannya.”

Siwon memapas jarak antara kami dengan cepat sesaat setelah kupungkasi cibiranku padanya. “Jaga ucapanmu, Youngie.” Napas hangatnya yang menerpa sisi wajahku dan cambang halusnya yang menggesek pipiku membuatku bergidik. “Dengar baik-baik, adikku. Tidak melibatkanmu pada urusan lelaki itu adalah tidak mungkin karena kau mewarisi separuh darahnya.”

Kedua tanganku yang mencengkeram kerah Siwon mengendur. Pikiranku berkecamuk untuk memahami makna ucapannya. Otot wajahku berkontraksi untuk menunjukkan ekspresi tanya ketika Siwon memundurkan wajahnya dariku diselingi sebuah seringai.

Aku masih berada dalam batas kebimbanganku ketika bunyi bantingan keras mengagetkanku, juga Siwon. Serta merta dia menjauhkan badannya dariku saat sosok Kyuhyun muncul dari dalam rumah dengan menyeret Seobin.

“Kumohon, Kyuhyun-ah,” Seobin menahan kedua tangannya di depan dada. Langkahnya yang terseok-seok karena digeret oleh Kyuhyun, akhirnya tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuh. Tubuh Seobin jatuh terduduk di lantai granit saat Kyuhyun menghempaskannya dengan kasar.

“Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi!” tekan Kyuhyun yang walaupun tidak berteriak, namun tetap jelas kudengar.

“Aku akan tetap di sini hingga kau mengabulkan permintaanku,” kukuh Seobin.

Kyuhyun hanya menyeringai, sebelum melirik ke arah kami, aku dan Siwon. Pandangannya yang seolah mengulitiku membuatku was-was. Tanpa sepatah kata, dia memutar bahunya untuk masuk ke dalam rumah.

“Kyunie!” Siwon berlari cepat menggapai Kyuhyun dan menarik pergelangan tangan Kyuhyun.

“Tidak sekarang, Won.” Kyuhyun menekan tinjunya ke dada Siwon. Dia agaknya enggan untuk mengakui pertemuan dengan kakak perempuannya.

Aku tidak tahu apa yang bersarang di otak Siwon saat ini hingga ingin kulemparkan dia ke ruang angkasa saat secara impulsif dia mengecup pelipis Kyuhyun. Aku tidak ingin membuat keributan dengan menyisip di antara mereka. Pagi ini sudah cukup buruk untuk ditambah drama lain, andai aku menghardik mereka berdua dengan segala kosakata umpatanku.

Memalingkan wajahku ke arah lain, aku menyedekapkan kedua tangan. Tidak selang lama, suara pintu mobil yang membuka dan menutup disusul deru mesin melegakanku. Ketika menolehkan kepalaku lagi, aku sudah tidak mendapati Kyuhyun di muka pintu.

Aku bermaksud pergi dan tidak ingin campur tangan atas masalah keluarga Kyuhyun, namun telingaku yang menangkap isak kecil Seobin menghentikan langkahku. “Pergilah, Seobin-ssi. Meskipun kau berlutut di sini hingga kakimu lumpuh, Kyuhyun tidak akan mengubah keputusannya,” usirku.

“Kalau begitu biarkan kedua kakiku lumpuh,” jawab Seobin dengan tersengal kecil.

Membalikkan badanku, aku menatap Seobin. “Apa yang terjadi?” hatiku tergerak untuk bertanya ketika air matanya meleleh susul menyusul.

Bibir Seobin bergetar ketika dia ingin menjawab. “Cheonsa…” lirihnya, “sekarat.”

Aku bergeming untuk meneruskan informasi yang Seobin katakan ke pusat otakku. Ingatanku melayang dan menumbuhkan suatu jawaban atas keingintahuanku di waktu pertama kali melihat raut sayu Cheonsa. Aku memang tidak mengenal bocah itu, namun mendengarnya sekarat bukan suatu berita menyenangkan. Bergerak mendekat, secara naluriah empatiku muncul melihat ketidakberdayaan Seobin. Kuremas bahu Seobin untuk menunjukkan sedikit rasa kepedulianku. “Bangunlah.”

Seobin menggeleng keras untuk menolak.

Aku mengigit bibir bawahku atas keputusasaan Seobin. “Tidak akan ada manfaatnya dengan bersikeras seperti ini.” Mengingat begitu persistennya Kyuhyun, aku ragu dia mau mengulurkan tangannya dengan suka rela untuk menolong Cheonsa.

“Hanya Kyuhyun satu-satunya harapanku untuk menyelamatkan Cheonsa.”

Menghela napas panjang, aku menepuk-nepuk pundak Seobin beberapa kali. “Meskipun demikian, bukan seperti ini caranya menyelesaikan masalah. Bangunlah dan temui Cheonsa. Kurasa dia lebih membutuhkanmu untuk di sampingnya.”

Seobin terdiam, mungkin, merenungkan pendapatku.

“Tunggu sebentar.” Aku berlari ke dalam untuk mengambil kartu namaku di rak yang terletak di dekat pintu masuk. Kuangsurkan kartu namaku kepada Seobin. “Kau bisa menghubungiku untuk apa pun.” Meskipun aku tidak yakin bisa melakukan sesuatu untuk gadis cilik itu, namun aku benar-benar tulus menyampaikan simpatiku.

Seobin hanya memandangi tanganku beberapa saat, sebelum dengan ragu menerima kartu namaku. “Ini—“

“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” tukasku untuk memotong ucapan Seobin.

Seobin berdiri dari posisi bertekuk lutut, kemudian membungkuk dalam ke arahku. “Gamsahammida, Miyoung-ssi.”

Aku balas membungkukkan badanku dengan sungkan. Setelah menjawab salam perpisahan Seobin, kuperhatikan sosoknya hingga keluar dari halaman rumahku.

Kakiku melangkah ke dalam rumah dengan pikiran yang berkecamuk. Ucapan Siwon terngiang jelas di ingatanku dan menimbulkan rasa tanya. Tidak kuperhatikan jalanku hingga suatu tabrakkan ringan mampu membuatku terjengkang andai lenganku tidak ditahan oleh sang penabrak.

Aku mendongak untuk disuguhi raut kaku Kyuhyun. Menebalkan kupingku, aku menyiapkan diri menerima apa pun cibirannya. Keningku mengerut secara refleks ketika Kyuhyun melepaskan lenganku dan berlalu tanpa sepatah kata. Badanku memutar untuk menurutkan pandanganku pada sosok Kyuhyun. Aku tidak tahu bagaimana mendiskripsikan emosi yang tersirat dari sinar matanya. Walaupun kulihat kekecewaan mendominasi, namun kesedihan juga terselip di sana. Meluruhkan kedua bahuku, aku membiarkan keadaan seperti ini dulu karena agaknya baik Kyuhyun maupun Seobin membutuhkan waktu untuk meredakan emosi masing-masing.

#

“Kau sengaja melakukannya, Miyoung-ssi?” Ahreum menghadapkan diri ke jendela kacanya yang menampilkan kesibukkan khas masyarakat kota Seoul.

Aku mengusap kening untuk menghadapi sentimentalitas Ahreum atas fotoku dan Kyuhyun yang beredar di dunia maya. Awalnya aku memang tidak awas akan intensi Kyuhyun melakukannya, namun sekarang setelah mengetahuinya, aku sedikit lega. Setidaknya foto tersebut menguatkan alasan absensiku di konferensi pers. “Disengaja atau tidak, foto itu secara tidak langsung membuat testimonium mengenai kesehatanku.”

“Kegagalan konferensi pers Dae-A masih betah menjadi headline hingga pagi ini. Sayangnya, kehidupan pribadimu memberi warna kurang menyenangkan pada pemberitaan ini.” Ahreum masih mematung di posisinya, ketimbang duduk berhadapan denganku.

Aku memainkan rotasi kursiku untuk sekedar mengurangi keteganganku menghadapi sikap Ahreum. “Maaf, hal tersebut ada di luar kendaliku.”

“Aku bukan kecewa karena kau tertangkap basah meninggalkan Dae-A saat konferensi pers berakhir ricuh atau pun ketika kau tertangkap kamera meninggalkan Assan bersama suamimu.” Ahreum memutar badannya untuk menghadapku. “Aku tidak meragukan kemampuan tim arsitek di bawah kepemimpinanmu. Aku juga tidak menyangsikan kemampuanku untuk menyelesaikan perkara lahan Disney.”

Aku mengerutkan otot keningku, “Lalu?”

“Aku,” Ahreum berjalan mendekat, “seolah belum menangkap suatu poin penting dalam kasus kita. Sesuatu yang terlewat dari evaluasiku dan hal tersebut membuatku…” Dia menggantung kalimatnya.

“Frustrasi?” tawarku untuk melengkapi kalimat mengambangnya.

Ahreum hanya mengangkat bahunya untuk menjawab. Dia mendesah ringan sebelum duduk di kursinya. “Hingga kudapatkan kepingan puzzle yang hilang dari evaluasiku, aku berharap kau lebih berhati-hati.”

“Aku tidak menyukai spekulasi ketidakpastianmu, Banjangnim[1].”

Ahreum tersenyum tipis untuk menanggapi komentar tajamku. “Suka tidak suka, mau tidak mau, seorang anak akan tetap membawa nama ayahnya. Demikian juga dirimu, Miyoung-ssi. Aku tidak bisa menyalahkanmu karena sangkut pautmu dengan kebijakan politik Choi Sajangnim yang secara tidak langsung membuat kemelut di konferensi pers Dae-A.”

Mendengarkan pendapat Ahreum, aku mengeratkan rahangku ketika kalimat Siwon pagi ini melintas kembali di pikiranku. Siwon bukan tipikal mulut besar yang sembarang bicara tanpa dasar. Jika dia mengucapkan kalimat tersebut, maka pasti terdapat hal yang melatarbelakanginya. Aku menghentikan rentetan pemikiranku mengenai drama keluargaku pagi ini. “Terima kasih atas kepercayaan dan pengertianmu. Aku akan bekerja keras untuk menyelesaikan proyek ini.” Aku undur diri setelah mengucapkan salam.

#

Meskipun ragaku lelah dengan pekerjaan yang belum selesai, aku tidak bisa membelenggu diriku untuk tidak memenuhi kekhawatiranku. Tiga jam lalu, Seobin menghubungiku dan mengabarkan perkembangan kesehatan Cheonsa yang, sayangnya, memburuk. Di sinilah sekarang aku berdiri, mengamati gadis cilik yang terbaring tak berdaya.

Aku tidak bisa mendekat, kemudian beramah tamah untuk mengucapkan simpatiku. Belum ada usahaku yang membuatku pantas untuk melakukannya. Aku hanya orang asing yang kebetulan lewat untuk menyaksikan pemandangan menyedihkan ini. Perasaanku saat ini tak ubahnya seperti saat melihat kecelakaan di jalan, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menggeleng dan berharap kejadian serupa tidak menimpaku.

Melihat sekilas rumah sakit yang terletak di pinggiran kota Seoul ini, kuduga fasilitas medisnya tidak secanggih dan selengkap rumah sakit di Seoul. Bangsal yang berisi enam ranjang pasien ini tidak memberikan perawatan maksimal terhadap pasien. Terlebih jika pasien tersebut, seperti yang Seobin ucapkan, menderita penyakit kronis.

Seobin tidak salah mengambil langkah untuk mendatangi Kyuhyun. Aku tahu dengan kemampuan medis dan finansialnya, Kyuhyun mampu memberikan harapan bagi Cheonsa. Hal yang disayangkan adalah hubungan Seobin dengan Kyuhyun, yang jauh dari kata harmonis, memupuskan harapan Cheonsa.

Aku menunduk dan mengamati ujung high heels, sebelum memutuskan untuk pergi.

“Miyoung-ssi.”

Aku merapatkan lingkaran kedua tanganku pada mug yang kupegang untuk mendapatkan kehangatan. Sudah hampir sepuluh menit kami duduk di ruang tunggu, dan selama itu Seobin masih menutup mulut. Mengamati sosok Seobin saat ini membuatku ragu mengenai sosok angkuhnya yang pernah mengeluarkan cibiran menyakitkan. Dia terlihat begitu lelah dan rapuh. “Apa yang diderita Cheonsa?”

Seobin masih menunduk dan meremas jemarinya. “Dokter hanya mengatakan Cheonsa menderita tumor otak.”

Aku mengernyitkan dahiku. “Dia membutuhkan operasi segera?” tanyaku ragu.

“Dokter belum mengatakan hasil observasi lanjut mengenai keadaan Cheonsa, namun mereka bilang tidak bisa menangani kasus Cheonsa di rumah sakit ini.”

Aku tidak perlu menanyakan alasan Seobin belum memindahkan Cheonsa ke rumah sakit lain karena jawabannya pasti berkaitan dengan masalah keuangannya. Saat berkunjung ke rumahnya, aku bisa menilainya. Kuturunkan ketegangan bahuku, kemudian kualihkan topik kami ke masalah yang menjadi perhatianku. “Boleh aku bertanya suatu hal pribadi?”

Seobin mendongakkan kepalanya hingga bertatap muka denganku. Dia mengangguk untuk mempersilakan.

“Kau menyayangi Kyuhyun?”

Seobin sedikit terkejut dengan pertanyaanku, sebelum sebuah seringai tipis tersungging di bibirnya. “Kakak mana yang tidak menyayangi adiknya, Miyoung-ssi.” Dia membenahi duduknya agar lebih nyaman. “Aku melakukannya demi Kyuhyun.”

Aku belum bertanya lanjut, namun Seobin menyela lebih dulu seolah dia tahu arah perbincanganku.

“Kyuhyun adalah figur kesempurnaan bagiku,” Pandangan Seobin menerawang. “Saat dia lahir, dia seperti malaikat kecil yang hadir di tengah keluarga kami. Malaikat kecil ini tumbuh dengan baik menjadi pria tampan yang cerdas, genius mungkin lebih tepat menggambarkannya,” Seobin tersenyum kecil. “Sayangnya semakin dia bertambah dewasa, semakin kuat juga tekanan yang harus diterimanya sebagai pewaris Assan. Tidak hanya dituntut menjadi seorang dokter yang potensial, dia juga diharuskan mengetahui seluk beluk manajemen rumah sakit,” nada bicara Seobin semakin menyurut.

Aku mendengarkan penjelasan Seobin dengan saksama.

“Hingga suatu saat ketika aku memergokinya,” Seobin tersedak kata-katanya sehingga menghentikan ucapan. Matanya bergerak-gerak gelisah.

Menganjurkan tanganku, aku meremas kepalan tangan Seobin untuk memberikan ketenangan. Seakan-akan aku ingin mengatakan ‘tidak apa-apa jika kau mengatakan hal terburuk sekali pun’. Hidupku sudah dipenuhi dengan ketimpangan, andai kata ditambah satu lagi tidak akan memperburuknya.

Seobin menatap langsung kedua mataku. “Aku…,” dia menunduk dengan cepat untuk menyembunyikan sesuatu yang meluruh dari matanya, “dia…meniduri pria atau wanita yang berbeda—“ Seobin tidak mengakhiri kalimatnya.

Aku memejamkan mataku saat sesuatu yang tajam kurasakan menusuk ulu hatiku. Walaupun telah menyiapkan diri, namun memperdengarkan kesaksian Seobin tetap menorehkan goresan. “Kenapa kau meninggalkannya?”

Getaran bahu Seobin tidak menyurutkanku untuk mengetahui kenangan pahitnya lebih dalam. “Kami sering terlibat pertengkaran mengenai kebiasaan buruk untuk melarikan frustrasinya hingga aku tiba di batas kemampuan bertahanku. Aku ingin dengan kepergianku, Kyuhyun belajar menghargai apa yang menjadi miliknya dan belajar mempertanggungjawabkan hidupnya.” Seobin mengangkat pandangannya untuk bertemu lagi denganku, “tapi kurasa…aku gagal.”

#

Aku terhuyung di pangkal high heels 9 centimeterku, bukan karena kelelahan ragaku, melainkan bertumpuk hal yang disampaikan Seobin. Waktu hampir menunjukkan tengah malam ketika aku tiba di rumah. Mencengkeram tas Louis Vuitton-ku dengan erat, aku melanjutkan langkahku menuju kamar. Aku terhenti sementara ketika melihat punggung Kyuhyun di bar mini kami.

“Kau masih terjaga?” dengan ekspresi yang kujaga tenang, aku menghampiri Kyuhyun.

Kyuhyun menarik sebelah sudut bibirnya untuk menggubris sapaanku. Dia memutar gelas wine di tangannya, lalu menyesapi minuman tersebut. Dua kancing teratas kemeja hijau mudanya terbuka, sedangkan dasi bergaris dengan warna yang lebih tua telah melonggar dan menggantung rendah di lehernya. Lengan kemeja yang tergulung asal hingga siku dan gaya rambutnya yang carut marut menegaskan harinya yang buruk.

Aku menjangkau sebuah gelas di rak dan mengentakkannya di depan Kyuhyun agar dia membagi winenya. Menelengkan kepala, aku menunjukkan raut tanyaku ketika Kyuhyun tidak mengabulkan permintaanku. “Kenapa?”

“Bukankah kau lebih menyukai berenang di tengah malam atau menghabiskan berbutir sedatif daripada meneguk alkhohol?” sindir Kyuhyun. “Mungkinkah malam ini kau sedang kehilangan mood untuk berenang? Ataukah kau kehabisan stok pil sedatif?”

Aku mendengus dan meletakkan gelasku. Dalam keadaan seperti ini pun, Kyuhyun masih sempat menyulut api untuk memulai percekcokkan denganku. “Benar, aku lebih menyukai berenang.” Aku menarik sebuah kursi bar yang tingginya mencapai satu seperempat meter hingga menimbulkan deritan. Menghentikan tarikanku, aku memposisikan kursi tersebut di tepi kolam renang.

Kyuhyun mengikuti gerakku dengan alis yang beradu. “Apa yang kau lakukan?”

“Berenang,” sinisku singkat sambil melepaskan sepatuku. Menggunakan lututku untuk menumpu di permukaan kursi, aku memanjat hingga seluruh tubuhku berada di atasnya. Aku berdiri dengan hati-hati di atas kursi yang kurang stabil. Punggungku berlawanan dengan kolam renang, sedangkan kedua tanganku merentang lebar.

“Young,” lirih Kyuhyun sembari bangun dari duduknya.

Jantungku berdetak lebih cepat dengan posisiku kini. Aku memang tidak akan terbunuh jika menceburkan tubuhku dari ketinggian sekarang. Akan tetapi jika aku menjatuhkan diriku ke air dengan gaya seperti ini, maka seluruh permukaan tubuhku akan menerima tumbukkan cukup kuat dengan permukaan air. Terlebih aku berdiri di tepian kolam renang yang kedalamannya rendah. Meskipun air bisa menahan laju jatuhku, namun tidak akan menghindarkanku dari tubrukkan dengan lantai dasar kolam. Aku memejamkan mataku dan memancal tepi kursi.

“Young!”

Dengan kilat tubuhku tersentak maju berlawanan dengan arah kolam. Mataku secara intuitif membuka ketika kedua telapak tanganku mendarat di pundak Kyuhyun. Ujung kakiku masih berada di puncak permukaan kursi, sedangkan tubuhku melekuk ke depan dan bertumpu sepenuhnya di tubuh Kyuhyun.

“Kau gila?!” pekik Kyuhyun. Dia mengeratkan kekangan tangannya di pinggangku, kemudian mengangkatku turun dari kursi. “Apa maumu?” Kyuhyun menyorong tubuhku, namun aku menahan jemariku mengerat di pundaknya.

“Kenapa?” tanyaku. Akibat dada kami yang beradu tanpa jarak, aku bisa merasakan degub cepat jantungnya.

“Pertanyaan macam apa itu?”

“Kenapa kau tidak membiarkanku jatuh, tapi kau membiarkan keponakanmu sekarat?” Aku menuju pokok tujuanku melakukan hal yang disebut gila oleh Kyuhyun tadi.

Kyuhyun berdesis ringan, kemudian menertawai tindakanku baru saja. “Jadi ini intensimu?” Sekali lagi dia mendorong tubuhku agar terlepas darinya, namun aku bersikukuh. “Jangan mencampuri urusanku, Young,” geram Kyuhyun.

“Aku bukan memintamu berlaku sebagai pamannya.” Kutatap iris coklat tua Kyuhyun dengan dalam, “aku memintamu berlaku sebagai seorang dokter.”

Cish, tahu apa kau mengenai prinsip itu.”

“Kenapa kau tidak bisa melakukannya untuk Cheonsa, sementara kau bisa melakukannya untukku?”

“Jadi anak itu bernama Cheonsa?” seringai Kyuhyun melebar. “Kau bahkan sudah menemuinya?” singgung Kyuhyun yang menyadarkanku bahwa aku baru saja membuka rahasiaku sendiri.

“Kau tidak berhak menghakimiku karena menemui Cheonsa. Aku ke sana bukan atas namamu.”

Kekehan sinis Kyuhyun membawaku ke tepi kesabaran. “Lalu untuk apa kau menemuinya? Dia bukan keluargamu dan setahuku kau bahkan tidak acuh pada keluargamu sendiri.”

“Sebesar apa pun kebencianmu padaku, kau tetap merawatku, lalu mengapa mengatakan tidak bagi Cheonsa yang bahkan belum pernah kau temui?”

“Aku tidak membencimu, Young,” jawab Kyuhyun datar.

“Tapi kau juga tidak menyukaiku, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun menarik bibirnya untuk menertawakan kalimatnya yang kukembalikan. “Cheonsa…Cheonsa…” senandung lirihnya memerahkan telingaku karena Kyuhyun melakukannya untuk mengolok. Dia melingkarkan penuh kedua tangannya di pinggangku, kemudian menundukkan kepalanya untuk menyamaiku. “Kenapa tidak kita biarkan sang cheonsa menemui Tuhannya, Young?”

“Cho Kyuhyun!” Kedua tanganku di pundak Kyuhyun meremas kemejanya. Aku sungguh dikecewakan dengan perkataannya. Meskipun sudah terbiasa dengan sarkasme Kyuhyun, namun aku tidak bisa mentolerir kalimat yang baru saja terucap dari mulutnya. “Lalu kenapa kau tidak membiarkanku mendahului Cheonsa untuk menemui Tuhannya? Kenapa kau tidak membiarkanku mati membeku dan membusuk di rooftop saat malam ulang tahunku?”

“Siwon!” teriak Kyuhyun hingga otot lehernya menegang.

“Apa?”

“Siwon yang melakukannya.”

“Apa?” kata tanyaku tercekat di tenggorokkan.

“Siwon yang membopongmu turun,” ucap lambat Kyuhyun. “Jika bukan karenanya, aku tidak akan sudi merawatmu,” tegas Kyuhyun.

Rahangku menggantung dan kedua tanganku yang mencengkeram kemeja Kyuhyun mengendur. Kepalaku dijejali informasi mengejutkan dalam sekali waktu hingga membuatnya berdenyut. Hubunganku dan kakak lelakiku yang tidak pernah akur membuatku bimbang akan ucapan Kyuhyun.

Aku mengangkat tanganku dan menggunakan pangkalnya untuk memijat pelipis. Ucapan Siwon pagi ini kembali berdengung di telingaku. Mengapa dia mengatakan hal itu? Hal yang ingin kuanggap sebagai lelucon, namun bagian diriku yang lain seolah mempertimbangkan perkataan Siwon dengan dalam. “Errghh…” eluhku.

Dengan masih memelukku erat, Kyuhyun menggerakkan tubuh kami ke depan, menuju kolam renang. “Kenapa kau selalu menyimpulkan secara prematur sesuatu yang hanya kasat mata, hah? Kau melarangku menghakimimu atas intervensimu pada keluargaku, tapi kau dengan lantang menghakimi hubunganku dan Siwon. Kau sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai kami!”

“Hyunnie…” langkahku tersaruk mundur dengan desakan Kyuhyun.

“Jangan berlagak sebagai malaikat penyelamat, Young.”

Aku menoleh ke belakang dan berusaha menahan laju Kyuhyun. Akan tetapi tenagaku tetap tidak berbanding dengannya. “Berhenti!” perintahku ketika usahaku sia-sia. Dia menghentikan dorongannya ketika ujung tungkaiku merasakan tepian kolam.

“Bukankah kau bilang ingin berenang?”

Aku sangat tidak menyukai raut licik yang Kyuhyun tunjukkan saat ini. Jemariku menggapai dan mencengkeram erat kemejanya untuk berjaga-jaga andai dia mendorongku ke kolam. Walaupun mungkin upayaku akan berakhir percuma jika Kyuhyun benar-benar merealisasikannya. “Kyuhyun-ah.”

“Kenapa, Young?”

Aku memejamkan mataku ketika waspada dengan pergerakan Kyuhyun. Merasakan rotasi yang cepat, jantungku berdesir kuat ketika gravitasi menarikku. Tidak! Aku membuka mataku dengan cepat. Bukan aku, tetapi kami!

Napasku tertahan dengan spontan dan mataku terbuka lebar untuk menyaksikan tubuh kami bertumbukkan dengan permukaan air hingga menimbulkan cipratan besar. Aku tidak merasakan kesakitan di punggungku karena Kyuhyun membalik posisi kami sehingga punggungnya lah yang bersimuka dengan permukaan air kolam. Dengan tangkas aku menyusupkan jemariku di belakang kepala Kyuhyun untuk menghindarkannya dari benturan.

Kekerapan air memang memperlambat kecepatan jatuh kami, namun tidak cukup membuatnya berhenti. Massa tubuh Kyuhyun ditambah massaku yang berada di atasnya praktis membuat punggung Kyuhyun bertubrukkan dengan lantai dasar kolam.

Secara intuitif aku mengayuh kedua kakiku agar mengambang. Kedua tanganku mengguncang pundak Kyuhyun agar dia membuka mata terpejamnya, kemudian kuseret dia menuju permukaan.

Aku terbatuk-batuk karena air yang tidak sengaja masuk ke tenggorokkan, demikian juga Kyuhyun. Kuembus udara dari hidungku dengan kuat untuk mengeluarkan air yang menggenang di rongga kerongkongan. Lelaki ini benar-benar tidak terprediksi.

Aku berenang menepi, mengikuti Kyuhyun yang mendahuluiku. Menggapai peganggan kolam, aku mendongak ketika tangan Kyuhyun terulur. Kuterima uluran bantuannya sebagai kompensasi telah menjungkalkanku ke kolam. Setelah keluar sepenuhnya dari kolam, Kyuhyun meninggalkanku begitu saja. Sejenak aku termangu memandangi punggungnya ketika dia berjalan menuju lantai dua.

#

Menggapai remote AC, aku menaikkan suhunya saat tubuhku semakin menggigil. Aku meringkuk di bawah selimut tebal yang membebatku hingga puncak kepala. Kupejamkan mataku rapat-rapat untuk menghapus denging suara Kyuhyun yang terputar di otakku secara berulang-ulang; tentang kepedulian kakakku padaku dan celaanku  pada hubungannya dengan kakakku.

Menelaah kembali informasi Seobin, aku masih tidak mengerti alasan Kyuhyun memilih melarikan frustrasinya dengan jalan keras seperti ini. Diantara wanita dan lelaki yang ditemuinya, mengapa harus kakakku yang dia pilih menjadi perlindungan?

‘Kenapa Siwon mengucapkannya? Kenapa Siwon melakukannya?’ kalimat ini terus berkeliaran di pikiranku. Belasan tahun hidup bersama, aku baru sadar bahwa secuil pun tidak mengenalnya. Aku bahkan tidak tahu makanan dan warna favoritnya, olah raga dan film kesukaannya, atau pun tempat berlibur yang ingin dikunjunginya. Merapatkan kakiku ke dada, bola mataku menghangat dengan ketidakacuhanku pada Siwon.

Oppa…” lolosku lirih. Aku juga tidak tahu mengapa kata sederhana ini begitu sulit kualamatkan untuk Siwon. Kesadaranku semakin tergiring ke batasnya hingga tubuhku merileks. Mungkin suatu hari di masa mendatang ada saat yang tepat dimana aku bisa melafalkan sapaan ini tanpa rasa terbebani. Aku berharap…

Aku terlonjak bangun ketika dering ponselku mengusik tidurku. Dering nada melankoli dari ponselku menjadi hal sensitive bagiku karena aku tidak mengharapkan telephon kabar buruk dari Seobin. Sesalnya, doaku tidak terkabul ketika kubaca nama yang tertera di layar ponselku.

Yeo—“

“Miyoung-ssi…Cheonsa-ya…” suara serak Seobin memotongku.

“Katakan dengan tenang apa yang terjadi dengan Cheonsa.”

“Cheonsa-ya…”

#

Ugh,” aku terlonjak kecil ketika kulit jariku tersengat panas. Dengan cepat kukulum jariku yang tidak sengaja menyenggol penggoreng. Aku mengibas-ngibaskan tanganku saat salivaku tidak cukup mendinginkannya. Pikiranku melanglang buana ke berita yang Seobin sampaikan pagi ini hingga tidak berkonsentrasi pada masakkanku dan akhirnya kecerobohanku melukai diriku sendiri.

Kepalaku tertoleh ketika tanganku digeret ke bak cuci piring oleh Kyuhyun. Dia membuka keran dan mengairi luka bakarku. Wajahnya yang kaku mendorongku untuk menarik tanganku, namun dengan sigap Kyuhyun menahannya. Menutup keran air, Kyuhyun menjangkau tissue untuk mengeringkan tanganku.

Aku menarik tanganku ketika Kyuhyun melepaskannya. Dia pergi meninggalkanku sebentar, sebelum akhirnya kembali dengan sebuah salep di tangannya. “Lupakan saja!” tolakku saat Kyuhyun menggapai tanganku kembali.

Tangan Kyuhyun masih menggantung di depanku, meminta agar aku mengulurkan tanganku. Tidak kunjung memperoleh respons dariku, dia menyamakan level pandangannya padaku dan melirik tajam. Rahangnya yang terkatup erat tidak jua membuka untuk menyanjungkan cibiran seperti biasa.

“Lupakan saja, Hyunnie.” Aku berjalan menjauh dengan cepat. Kyuhyun tidak bisa seperti ini di saat keponakannya lebih membutuhkannya.

#

Aku menyusuri koridor Assan dengan langkah tergesa begitu Seobin menelphonku beberapa menit lalu untuk mengabarkan bahwa dia telah sampai di sini. Mencapai ruang gawat darurat, aku mengedarkan pandang untuk mencari sosoknya. “Seobin-ssi!”

Seobin menabrakkan tubuhnya padaku begitu aku mencapainya. Badannya yang bergetar membuatku bertambah prihatin. Menyelipkan tanganku melewati punggungnya, aku mengusap-usapnya pelan.

Aku memperhatikan seorang dokter dan perawat yang memasang alat bantu vital di tubuh Cheonsa. Agaknya sang dokter hanya melakukan pemeriksaan dasar. “Cho Sonsengnim.” Sapaan dokter muda tersebut membuatku menoleh ke belakang.

“Apa-apaan ini?”

“Pasien ini ditransfer ke sini dari rumah sakit Byong-Un di Daegu karena mereka tidak mempunyai tenaga ahli untuk menangani kasusnya,” jawab dokter yang memeriksa Cheonsa.

Kyuhyun melirik ke arahku dengan menyeringai kecil. “Aku tidak bertanya!” sentaknya pada dokter tersebut. “Kirim kembali anak ini ke Byong-Un atau transfer dia ke rumah sakit mana pun asalkan bukan di sini.” Dia membalik badannya dengan cepat.

“Aku pengantarnya!” teriakkanku membuat Kyuhyun menoleh ke arahku. “Aku yang akan menjadi walinya selama anak ini dirawat di sini,” tandasku.

Kyuhyun mencapai tempatku dengan kilat, kemudian menggeret lenganku. Dia tidak memperhatikan protes kesakitanku atau pun pandangan beberapa orang yang bersisipan dengan kami. Menghempaskanku ke sudut ruangan, Kyuhyun memojokkanku. “Apa maumu, Young?” geramnya.

Aku mengangkat wajahku untuk menatap Kyuhyun. “Aku yang meminta Seobin untuk mentransfer Cheonsa ke Assan.”

Kyuhyun memejamkan matanya, menahan amarah. Dia merangsek maju dan menekan belikatku. “Kau sadar dengan tindakkanmu?”

“Jika kau tidak berkenan untuk menanganinya, maka biarkan dokter lain yang mengambil alih.” Aku mengerti tindakanku membawa Seobin dan Cheonsa ke Assan akan memberikan pengaruh pada Kyuhyun maupun keluarganya. Akan tetapi jika bukan melalui cara seperti ini, maka mereka akan terus menerus bermain kucing-kucingan. “Minggir,” usirku.

Jemari Kyuhyun merambat ke leherku dan menekan tubuhku hingga punggungku mengentak tembok. Hela napasnya yang panjang menerpa wajahku hingga membuatku sedikit bergidik. “Kau tidak pernah mengerti akibat dari tindakkan gegabahmu.” Kyuhyun menekanku sebelum menjauhkan diri. Dia berjalan cepat meninggalkanku.

#

Aku duduk gelisah di tempatku, begitu juga dengan Seobin yang berada di sampingku. “Ny. Kim, dengan menyesal aku tidak bisa memberikan kabar baik untuk kesehatan Cheonsa.” Dokter yang memperkenalkan diri sebagai Kim Jongwoon ini menyampaikan rasa simpatinya. “Cheonsa menderita difusse intrinsic pontine glioma yang, salah satunya, menyebabkannya kesulitan untuk berbicara. Ke depannya, lambat atau cepat, dia juga akan kesulitan bergerak.”

Aku mengalihkan pandanganku sejenak ke arah Kyuhyun yang duduk di belakang dr. Kim dengan tak acuh. Dia menghadapkan kursinya ke arah samping sehingga tidak bersemuka dengan kami, aku dan Seobin. Meskipun Kyuhyun abai dan marah dengan tindakkanku membawa Cheonsa ke Assan, namun dia masih bersedia mendampingi dr. Kim untuk menjelaskan keadaan Cheonsa pada kami. “Bisakah kau menjelaskannya dengan lebih gamblang?” Aku tidak mengerti nama penyakit yang dr. Kim sebutkan.

“Dengan kata lain, Cheonsa menderita tumor otak.”

Seobin menundukkan kepalanya rendah seraya memijit-mijit jemarinya. Setegar apa pun sosoknya, dia tetaplah seorang ibu yang menaruh kesehatan sang anak di atas segalanya. Kelelahan fisik dan psikis tercetak jelas di raganya saat ini.

“Kim Sonsengnim, bisakah kita berbicara di lain waktu? Aku akan menghubungimu kembali secepatnya. Sementara ini, tolong berikan yang terbaik bagi Cheonsa.” Aku memutus pembicaraan ini karena kurasa Seobin tidak mampu lagi mendengarkan berita buruk mengenai putrinya.

Kyuhyun secara tiba-tiba berdiri dan meninggalkan ruangan dengan membanting pintu cukup keras.

Tatapanku yang mengikuti arah gerak Kyuhyun kembali terfokus pada dr. Kim. “Aku akan mensubmit kontak pribadiku sebagai wali Kim Cheonsa. Apa pun yang perkembangan Cheonsa, aku mohon kerja samanya untuk menghubungiku.”

“Ah, ne.” dr. Kim tampak salah tingkah dengan sikap kasar Kyuhyun. “Kami akan mengusahakan yang  terbaik.”

Aku menepuk punggung Seobin untuk mengisyaratkannya berdiri. Membungkuk singkat, kami meninggalkan ruangan dr. Kim.

#

Aku masih betah menemani Seobin duduk di ruang tunggu rumah sakit. Cheonsa sudah dipindahkan ke ruang perawatan yang jauh lebih baik daripada di rumah sakit sebelumnya. “Cheonsa…” desahku melafalkan nama indah anak ini. “Cheonsa…” aku mulai mengerutkan kening ketika selintas pemikiran mengenai nama gadis ini menggangguku. “Seobin-ssi, mungkinkah kau menamainya karena,” aku menggamit bibir bawahku ragu, “Kyuhyun?”

Seobin meluruskan tangannya yang menumpu siku, kemudian mengangguk kecil.

“Malaikat kecil yang hadir di tengah keluarga kami,” aku mengulang kalimat Seobin saat mendiskripsikan kelahiran Kyuhyun. Dia mengambil makna kelahiran Kyuhyun untuk menamai putrinya. Bertahun-tahun berpisah dengan Kyuhyun, aku rasa dia juga mengalami tekanan. Mungkin melalui Cheonsa, dia ingin mengobati kerinduannya pada Kyuhyun.

Yeobo,” panggilan dengan nada rendah membuat kepalaku dan Seobin terangkat.

Seobin langsung bangkit dari duduk dan menghambur ke arah lelaki yang memanggilnya. Di sela pelukan mereka, aku bisa mendengar isak keduanya. Hati mana yang tidak hancur menanggung keadaan seperti ini.

Aku ikut bangun dari dudukku ketika merasa kehadiranku di sini tidak lagi dibutuhkan. Kubiarkan Seobin menenangkan diri dengan sang suami. Saat ini, dia membutuhkan dukungan moril yang besar dari keluarga terdekatnya. Melangkah menjauh, aku membuka pintu ruang inap Cheonsa.

Mengambil posisi duduk di tepi ranjang Cheonsa, aku dengan jelas memperhatikan gerak kelopak matanya yang mengedip-ngedip. “Annyeong, Cheonsa-ya.” Kugapai tangan mungilnya untuk kugenggam.

Cheonsa berusaha menarik bibirnya dari balik masker oksigen. Gerak bola matanya mengindikasikan bahwa dia mengenaliku.

Aku menyungging senyum untuk menjawab bahasa tubuh Cheonsa. Menganjurkan tanganku, aku membelai pipi pucat Cheonsa. “Gadis pintar, kau tentu saja mengenaliku,” pujiku. Cheonsa hanya memandangiku dengan kedua mata bulatnya yang jernih, seakan ingin menyampaikan berjuta kata. Walaupun hatiku serasa berdesir perih, namun senyumku tidak memudar melihat bagaimana dia mencoba berinteraksi denganku.

Suara pintu terbuka membuatku menoleh ke arahnya. Punggungku menegak seketika saat sosok Kyuhyun muncul di sana. Dia tidak mendekat; hanya bersedekap dan menyandar di pintu untuk mengamati Cheonsa. Tatapannya mengarah padaku sejenak sebelum keluar.

Aku membuang napas panjang atas kunjungan singkat Kyuhyun. Memaling kembali ke arah Cheonsa, aku menangkap tanya di tatapannya. Jemariku mengelus tekstur kulit pipinya yang sangat lembut. “Kyuhyun Samchon sangat tampan, bukan?” candaku.

Mata Cheonsa melengkung membentuk bulan sabit saat mendengar ucapanku. Dia agaknya menyetujui perkataanku.

“Beristirahatlah agar kau cepat pulih.” Membenahi selimut Cheonsa, aku mengelus-elus dadanya untuk membantunya terlelap.

#

Memasuki ruangan yang familier, aku mendorong pintu dengan punggungku agar tertutup. “Jelaskan seberapa buruk kondisinya.”

“Kau tidak punya tangan untuk mengetuk, Young?” sinis Kyuhyun yang masih menyibukkan diri dengan beberapa kertas di mejanya.

Menegakkan tubuhku, aku memberanikan diri mendekat ke meja Kyuhyun. “Cho Kyuhyun…” panggilku putus asa. Berharap dengan seperti ini, dia mau sedikit lebih lunak pada Cheonsa.

Kyuhyun meletakkan penanya, kemudian menolakkan punggungnya ke sandaran kursi. “Setelah kuselesaikan sebuah kesepakatan, akan kukatakan padamu keputusanku untuk kondisi anak itu.”

“Cho Kyuhyun!” sentakku yang akhirnya tidak tahan dengan sikap tak acuhnya. Kedua tanganku mengepal erat dengan kekeraskepalaan Kyuhyun. Kesepakatan apa lagi yang harus diselesaikan jika bukan mengenai Seobin. Mungkinkah jika dia menawari Seobin suatu barter untuk harapan kesembuhan Cheonsa?

Ck…ck…ck…” Kyuhyun berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia bangun dari posisinya dan berjalan mendekat hingga berdiri tepat di hadapku. “Lain kali, belajarlah untuk mengucapkan namaku dengan lebih halus, Young.” Jemari Kyuhyun mendongakkan dan mencengkeram daguku.

Aku menepis tangan Kyuhyun dengan kasar. Mengusap daguku, kutunjukkan rasa jiijik atas perkataannya. “Aku wali Cheonsa di sini. Apa pun yang berkaitan dengannya, saat ini adalah tanggung jawabku. Jadi sampaikan dengan jelas mengenai kondisinya.”

Kyuhyun menatap angkuh, kemudian menyandarkan pinggangnya di tepi meja. Ingin kupukul wajahnya ketika dengan tenang dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Difusse intrinsic pontine glioma atau DIPG secara umum dikenal sebagai tumor otak. Tumor ini terletak di tengah batang otak, bagian yang terletak di struktur otak paling bawah yang mengubungkannya dengan sungsum tulang belakang. Letaknya sel tumor membuatnya sulit diangkat bahkan tidak mungkin karena berada di daerah kritis yang memuat fungsional utama tubuh. Kau ingin tahu hal yang lebih menarik?” Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya.

Aku menahan emosiku sebisa mungkin untuk tidak menghantamkan tamparan ke wajah Kyuhyun ketika untuk kesekian kali dia menyeringai.

“Diantara anak-anak yang didiagnosis menderita DIPG, lebih dari 90% mati dalam kurun waktu 18 bulan dan 97% tidak akan bertahan lebih dari tiga tahun.”

Terhuyung ke belakang, aku menguatkan kakiku untuk menopang tubuhku sendiri. Tanganku terangkat untuk mengusap kening. “Tidak bisakah kau melakukan sesuatu?” bisikku.

“Mungkin menunggu keajaiban?” remeh Kyuhyun.

“Bukankah masih terdapat 3% hingga 10% penderita bertahan hidup?” kurangkum informasi Kyuhyun.

Kyuhyun meraih pinggangku dan merendahkan kepalanya hingga embusan napasnya kurasakan menggelitik telingaku. “Berharaplah malaikat pencabut nyawa berbaik hati padanya, Young,” ucapnya.

Tubuhku seketika meregang saat sesuatu yang lembut menyentuh kulit leherku. Kyuhyun menekan permukaan bibirnya di sana untuk beberapa saat sebelum menarik mundur wajahnya. Dia melepaskan kekangannya padaku dan berlalu begitu saja tanpa mempedulikan diriku yang berdiri kaku dengan tindakannya baru saja.

Aku mengerti kemunculan Seobin tiba-tiba membuat Kyuhyun marah atau pun terluka. Akan tetapi kondisi Cheonsa tidak memberikan opsi yang lebih baik untuk mengutamakan perasaan terluka Kyuhyun. Untuk sat ini, anak itu lebih membutuhkan prioritas daripada Kyuhyun.

Memejamkan mataku untuk menetralisir gemuruh dadaku, aku semakin mengeratkan kepalan tanganku sampai kuku-kukuku menyakiti kulitku sendiri. Jauh di lubuk hatiku, aku percaya Kyuhyun lebih baik dari ini.

TBC*

 

Reference:

http://www.reflectionsofgrace.org/index.php/diffuse-intrinsic-pontine-glioma-dipg.html

Note:

Ok, jika kalian mencermati pertemuan Miyoung dan Cheonsa pertama kali di part 4, maka kalian akan menaruh curiga juga mengenai kondisi Cheonsa. Dan jangan tanya kenapa Kyuhyun kembali mencium Miyoung di lehernya Xp

And, don’t hate nor bashing Wonnie Oppa, I really love this dude. Seriously, it’s hurt me when you cursing him TT pretty please, ok? Bear with my story and restrain yourself.

tumblr_msf677kE1H1raleico1_500

Kami, Lentera Jingga mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Adha 1434H, semoga amalan kita yang tertuang dalam qurban diterima olehNya dan mendapatkan balasan yang lebih baik. Amin

 

 

 


[1] Banjangnim: supervisor

339 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [6]

  1. VivitYulia says:

    Kyuhyun tega bnget sma cheonsa. Smoga hati kyuhyun melunak trus mau nolongin cheonsa. Bingung sma klimat siwon yg “kau mewarisi separuh darahnya” bner2 ngantung, jdi minyoung ank kndungnya tuan choi gitu. trus berarti mreka bkan saudara tiri dongg. bner2 penuh teka teki. btw part slnjutnya di protect, need pw please ^_^

  2. Please Kyu nya kenapa kejem banget fyuuh~
    Kesian cheonsa :”
    Etdah enak ya kalo punya suami dokter, suami macem kyu pula, diperiksa suhunya aja sambil dicium gitu gimana periksa yg lain/? Bruakakak #plakk hehe
    Ah jebal bagian kyu sama siwon bikin aku merinding hihi.

  3. sparkyukyu says:

    kau mewarisi separuh darahnya. Ya dimaksud tuan choi kan? Jdi mereka sebenarnya saudara kandung dong. Dan siwon sebenarnya sangat care dengan miyoung tpi diat tdk menunjukkannya di depan miyoung.

  4. sparkyukyu says:

    kyuhyun keterlaluan, masa sih dia tidak tergugah hatinya untuk nolong cheonsa yg tidak lain adalah keponakannya sendiri.

    kau mewarisi separuh darahnya. Darah siapa, apakah tuan choi? Klau benar berarti siwon saudara kandung miyoun dong.

  5. sparkyukyu says:

    kyuhyun tega banget, masa sih dia tidak tergugah hatinya untuk menolong cheonsa yang tidak lain keponakannya sendiri.
    Mewarisi separuh darahnya, darah siapa? Tuan choi kah?
    Jdi miyong adik kandung siwon dong. Sumpah penasaran dengan lanjutannya…

    Ternyata part selanjutnya d protect ya. Ku boleh minta pwnya kan?
    Ini alamat email ku angelcho60@yahoo.com

  6. sparkyukyu says:

    kyuhyun tega banget, masa sih dia tidak tergugah hatinya untuk menolong cheonsa yang tidak lain keponakannya sendiri.
    Mewarisi separuh darahnya, darah siapa? Tuan choi kah?
    Jdi miyong adik kandung siwon dong. Sumpah penasaran dengan lanjutannya…

    Ternyata part selanjutnya d protect ya. Ku boleh minta pwnya kan?
    Ini alamat email ku angelcho60@yahoo.com2

  7. fida says:

    omg…. ini ff keren bgt…. kyuhyun jenguk cheonsa itu udh mlai tergugah hatinya.. cma msh gengsi aj kali heheheh… ya ampunnnn aku rsa tiffany bnr2 mncntai kyuhyun ap adnya sekrng…. ff ini keren bgt^^

  8. Cukup mengejutksn ternyata malah siwon yang membopong miyoung dari rooftop.semakin membuatku penasaran akan kelanjutan hubungan antar saudara tiri ini.aku tidak cukup jeli baca part 4 bagian cheonsa menyapa miyoung.rupanya author sudah sedikit ngasih clue.apa tumor otak tidak bisa disembuhkan????

  9. Ini… ini nih.. part ini.. begitu mendebarkan dan bikin penasaran setengah mati. Ternyata yg gantiin baju si miyoung itu siwon. Terus pembicaraan miyoung sama siwon yg.. kayanya si Miyoung hasil hubungan gelap mamanya Miyoung sama papanya siwon ya? *perkiraan liar* haha
    ah sumpah yaaaa bikin gregetan. Adegan di kolam renang juga bikin aksizjzksjissjsjwhs banget haha. Kyuhyun bener2 gabisa ditebak. Siwon juga. Alamak..

    Gregetan banget sama sikapnya Kyuhyun ke Cheonsa. Yaaaa walau dia tuh kaya tega tapi gatega gitu jatohnya. Bilang ga padahal yaaa sebenernya sedikit menolong. Yaaaa aduh.. aku penasaran gimana atuh, author :((( kurang bagus apa ff ini bikin saya penasaran gini hadeh

  10. triharis23 says:

    sebenci itukah kyuhyun sama kakaknya? kasian keponakannya…😥

    siwon gatau tempat bangettt ishh kezzzeelll. tp untung ketemu sisi baiknya jg, dia ternyata yg nyuruh ngerawat miyoung. huehehe

    akankah miyoung luluh dan memanggil oppa pada siwonnn? next yukkk

  11. Aku baru nemu ini ff yang keren penasaran siwon itu punya kelainnan dari dulu atau jangan jangan dia trauma gak bisa bersama minyoung di liat liat tapi belum tau siwon suka sama miyoung dulunya dan min aku udah mention di twitter aku minta pw part 7,8.17 yaa bales yaa twitter ku @nuyazizah5

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s