Behind Those Beautiful Eyes [9]


BTBE 13

Behind Those Beautiful Eyes [9]

Arsvio | Tiffany Miyoung Hwang, Kyuhyun Cho, Siwon Choi | PG-15 | Dark Side (Kelly Clarkson)

Unveiling the Stoic Heart

Aku melangkah menuruni tangga sambil membawa nampan berisi perkakas sarapan. Menangkap bunyi bising, aku mempercepat langkahku. Begitu berada di lantai dasar, aku keheranan saat menjumpai beberapa pekerja sedang menguras kolam renang. Merasa janggal karena aku tidak menjadwalkan pembersihan kolam renang dalam waktu dekat, aku mendekati salah satu dari mereka. “Maaf, sepertinya aku tidak merasa mempekerjakan pembersihan kolam untuk hari ini.”

Lelaki di hadapanku nampak kebingungan, kemudian menanyakan pertanyaanku pada rekannya. Salah seorang yang kuyakin mandor mereka mendekatiku. “Tuan Cho Kyuhyun memanggil jasa kami pagi ini, Agashii.”

Ne?” spontaniasku. Aku semakin tidak tenang ketika mereka mulai membereskan peralatan berat, sementara kolamku masih dalam keadaan terkuras habis. “Lalu apa maksudnya ini? Kenapa kalian tidak mengisinya kembali?”

“Tuan Cho memerintahkan untuk melakukan pengurasan kolam renang.”

M…mwo[1]?” gagapku. Aku memijit pelipis begitu menyerap situasi yang terjadi.

“Oleh karena kami telah selesai mengerjakannya, kami mohon diri, Agashii.” Lelaki di depanku membungkuk singkat dan berbalik untuk mengisyaratkan pada rekan kerjanya untuk bersegera.

Ketika mereka sudah mengosongkan rumahku, aku menghentakkan kakiku menuju dapur untuk meletakkan peralatan makan yang kubawa di bak cuci piring. Mengetuk-ngetuk jariku pada pinggir counter, aku memikirkan sumpah serapah yang ingin kutujukan pada Kyuhyun. Jariku dengan cepat menggeser pengunci layar, kemudian menekan nomornya. Ujung kakiku mengentak-entak dengan tidak sabar saat sambunganku tidak segera terhubung. Menurunkan ponselku dari telinga, aku mematikan sambungan untuk melakukan redial. Akan tetapi Kyuhyun masih tidak menjawab panggilanku. Mengurut kening, aku berkesimpulan dia masih berada di ruang operasi. Tanpa bersusah mengirimkan pesan singkat, aku akan menunggu dia untuk menghubungiku kembali.

Saat merasakan kejanggalan yang lain, aku segera membuka dan mengaduk-aduk isi tasku. Kuambil botol obat penenangku, kemudian kubuka penutupnya. Rahang atas dan bawahku mengadu erat saat mendapati isinya yang hanya terdiri dari satu pil saja. Siapa lagi yang mengosongkannya jika bukan Kyuhyun.

Mengamati telepon pribadiku, aku juga memeriksa andai-andai Kyuhyun juga menjamahnya. Benar saja, aku menemukan kontaknya di speed dial nomor satu. “Cho Kyuhyun…” geramku akan namanya untuk kedua kali di pagi ini.

#

Aku mengherankan keberadaan Ahreum di meja kerjaku saat aku tiba di sana. “Selamat pagi, Banjangnim,” sapaku mengejutkan Ahreum yang agaknya melamun sebelum aku datang. Kuletakkan tasku di atas meja, kemudian kugeret kursi terdekat denganku karena kursiku digunakan oleh Ahreum.

“Selamat pagi, Miyoung-ssi.” Ahreum menumpukan sikunya di tangan kursi dan menyangga kepalanya dengan kepalan tangannya. Dia menunjuk sesuatu di papan perencanaanku, “Kau sudah menyelesaikannya, Youngie?”

Mataku mengikuti telunjuk Ahreum hingga melihat hal yang ditunjuk olehnya; design logo Disneyland khusus Seoul yang dirancang Luhan. “Jadi kau berada di sini pagi sekali untuk urusan pribadi?” Kuasumsikan hal tersebut karena mendengar sapaan non formal Ahreum padaku.

Ahreum menyandarkan punggungnya hingga melengkungkan sandaran kursi ke belakang. Pandangannya masih menelusuri beberapa kertas note berisi rencana kerja proyek Disney di papanku. “Kami masih mengusahakan yang terbaik, namun usahaku meraih pokok persoalan kasus kita seakan terbentengi oleh tembok tak terlihat.”

Aku menyilangkan kedua tanganku di dada sambil menganalisis wajah Ahreum dengan cermat. Meskipun berpenampilan seperti biasa, namun Ahreum tidak bisa menyembunyikan kekusutan di ekspresinya. “Aku tidak mengerti maksudmu, Ahreum-ssi.

Oh,” Ahreum mengambil sebuah kartu di mejaku, “kau memiliki nama barat yang cantik,” alihnya tiba-tiba. “Stephanie…Stephanie…” ulang Ahreum pada nama yang kugunakan selama aku melakukan studi di US. Ahreum memelorotkan bahunya begitu menyadari aku memandanginya dengan dahi berkerut. “Aku seolah dihalangi untuk mencapai penyelesaian kasus kita.” Telunjuk Ahreum mengetuk suatu kolom di surat kabar hari ini.

Aku melorot surat kabar tersebut dan membaca headline hari ini. Berita pertikaian Dae-A menjadi sorotan utama hingga memenuhi hampir seluruh muka halaman utama; mulai dari masalah lahan, ganti ruginya, kerusuhan yang berujung pada jatuhnya korban hingga pemutusan kerja sama Disney secara sepihak. “Perkara seperti ini tidak akan hilang dalam satu atau dua hari, bukan?” aku melemparkan surat kabar tersebut ke mejaku.

“Segala tindakan preventif yang kulakukan berakhir sia-sia. Bahkan sekarang media telah mengetahui penundaan proyek Disney.” Ahreum menghantamkan tinjunya berulang secara ringan di permukaan meja. “Jika kuandaikan perkara Disney di meja ini dan seharusnya aku bisa mengulurkan tanganku untuk menggenggamnya. Akan tetapi aku tidak bisa melakukannya saat terdapat sebuah penghalang tak kentara,” Ahreum mengambil papan nama transparanku dan meletakkan di muka jarinya, “seperti ini di depan tanganku.”

Aku mengambil tangan Ahreum dan melompatkannya melalui plakat namaku, “Tapi kau selalu bisa melompatinya seperti ini.” Kuremas tangannya dengan pasti untuk memberikan sugesti.

Ahreum menyunggingkan senyum tipis syarat kegetiran. Dia membalas remasan tanganku dengan lembut.

“Untuk perkataanku kemarin, aku minta maaf.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Youngie. Aku juga mengecewakan keputusan sepihak Disney.” Ahreum melepaskan tautan tangan kami kemudian berdiri dari duduknya. “Oh ya, kau memiliki hobi fotografi?” lagi-lagi Ahreum mengangkat suatu topik di luar perkiraanku, setelah nama baratku.

Aku mengangguk untuk mengiyakan.

“Aku melihat Luhan menempel suatu poster perlombaan fotografer amatir di papanmu kemarin sore,” Ahreum memutar tubuhnya ke samping untuk menunjukkan padaku poster yang dimaksud. “Semoga hal itu bisa mengalihkan kekecewaanmu untuk sementara waktu,” ujar Ahreum yang membuatku lebih menghormatinya lagi. Dia selalu menemukan cara bagi kami bawahannya untuk merasa nyaman di dekatnya tanpa terintimidasi dengan perfeksionisnya.

Aku melongokkan kepalaku untuk mencermati poster perlombaan tersebut, lalu mengangkat kedua bahuku. “Entahlah,” jawabku yang mewakili kebimbanganku.

Have your time, Stephanie.” Ahreum mengerling dan tersenyum jenaka untuk melumerkan suasana kaku pagi ini. Dia, seperti lazimnya, menepuk atau meremas bahuku sebelum meninggalkanku.

Sepeninggalan Ahreum, aku meraih buku agendaku dan membukanya untuk mencari nomor salah satu kolega; financial and accounting department of Samsung. Kuraih gagang telepon dan kutekan nomor tujuanku. Setelah mendengar sapa seseorang yang kupastikan adalah sekretaris, aku menyampaikan maksudku. “Bisakah aku membuat janji dengan Choi Siwon-nim untuk sore ini?”

#

Jariku menggeret halaman web semakin ke bawah ketika yang kutemui hanyalah berita-berita mengenai Dae-A. Ahreum boleh saja tenang di hadapanku, namun perkara rumit ini, aku yakin, menyita semua perhatian dan usahanya. Hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini hanya tenang dan menyelesaikan pekerjaan yang menjadi bagianku.

Aku mendesahkan napas panjang, kemudian menjatuhkan kepalaku di puncak sandaran sofa. Mengangkat pergelangan tanganku, aku mengamati sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan di sini; menunggu. Hampir dua puluh menit, namun kakak lelakiku belum juga menyelesaikan meeting-nya. Sekretarisnya yang mempersilakanku menunggu di ruangannya, bukan di ruang tunggu.

Bohong jika aku tidak gugup untuk menemui Siwon; terlebih setelah apa yang terjadi antaraku dan Kyuhyun. Jika aku punya pilihan menghindar, maka akan kugunakan sebaik-baiknya. Akan tetapi setelah kemarin aku menghubunginya dengan spontan dan membawa pembicaraan yang kurang tepat, aku tidak bisa lagi lari. Cepat atau lambat kami harus duduk bersama untuk membicarakan kehidupan kami.

“Sudah lama menunggu, Youngie?”

Kuangkat kepalaku, kemudian kuturutkan pandanganku mengikuti sosok Siwon yang baru saja memasuki ruangan. Aku tidak munafik untuk selalu mengakui bahwa kakakku begitu tampan. Dengan setelan jas bewarna abu gelap dipadu dengan veste[2] hitam dan kemeja kotak-kotak, penampilannya semakin sempurna dengan dasi merah matang. Urusan mode bepakaian, aku tidak pernah meragukan selera Siwon.

Siwon membuka dua kancing jasnya, kemudian duduk bersikuan denganku. “Mulailah dengan menjelaskan maksud teleponmu kemarin,” ucapnya dingin, seperti biasa. Dia menyilangkan kakinya sehingga paha kanannya menindih yang kiri. Kantung matanya yang menghitam membuatku bertanya-tanya akan penyebabnya.

Who I am?” tanyaku secara langsung.

“Saat menelponku dan setelahnya, kau berada dimana?” Siwon tidak mengacuhkan pertanyaan dasar yang membawaku kemari. Mata elangnya memandangku penuh ketegasan.

Where’d I come from?”

“Kenapa kau mengganti sapaanmu padaku saat itu?”

Am I a love child[3]?”

“Kenapa kau mematikan teleponmu secara sepihak?”

Am I really a Choi?”

“Apa yang ada di kepalamu saat itu?”

“Choi Siwon!” bentakku dengan keras ketika emosiku terus menerus diuji dengan rentetan pertanyaannya. “Bisakah kau menjawab saja pertanyaanku?” aku meninggikan suaraku.

“Dan bisakah kau melakukan hal serupa?” balas Siwon. Belum ada sepuluh menit kami duduk bersama, suasana di antara kami sudah memanas. Ini mengapa aku sempat bimbang untuk menemuinya atau tidak. Siwon secara mendadak menarik pergelangan tanganku. “Kau pikir lucu bermain-main denganku demikian rupa, Youngie?”

Aku memberontak untuk menarik tanganku, namun cengkeraman Siwon terlalu kuat. “Lepaskan!” tandasku dengan ketus.

“Apa yang kau ingat?” Siwon merangsek maju ke arahku dengan gestur mengintimidasi.

Nah!” Aku menghentakkan tanganku yang lain ke udara. Dengan pertanyaan seperti itu, jelas sudah bahwa Siwon mengetahui fase hidupku yang terlupa. “Katakan kenapa aku di sana?”

Mwo?” Siwon mengerutkan kening hingga alis tebalnya beradu.

“Katakan mengapa hanya kau yang disampingku?”

“Youngie…”

“Katakan kenapa aku tidak mengingat apa pun?”

“Youngie.” Cengkeraman Siwon mengendur hingga akhirnya lepas. Dia beranjak dari duduknya dan berlutut di depanku.  Tangannya menelusup di antara kedua tanganku yang berada di sisi kepala, kemudian menangkup sebelah pipiku. Dia mengangkat wajahku hingga bertatapan dengannya. “Sejauh mana kau mengingatnya, Youngie?”

Aku menatap sepasang mata indahnya yang bersorot tajam dan merasakan tekstur kulit telapak tangannya di pipiku. Mata yang sama, telapak tangan yang sama. Ingatanku lagi-lagi menampakkan sesuatu secara acak; anak lelaki yang menangis, buah cemara yang mengering, senyum berlesung pipit yang menawan, mobil terbalik yang terbakar, sirine yang menyakitkan telinga, terowongan yang dalam.

Tanganku semakin menekan sisi kepala saat kilasan memori random tersebut menyakitkanku. “Errrghhh…” raungku rendah ketika kepalaku semakin berdenyut. Api yang menggelora dari mobil yang terbakar itu rasanya ikut memanaskan kepalaku, sementara asapnya yang hitam pekat menyesakkan paru-paruku. “Hentikan…hentikan…” mohonku pada siapa pun itu.

“Youngie…Youngie…Kau mendengarku?”

Aku memaksa mataku membuka saat sayup-sayup kudengar suara memanggilku di batas kesadaranku. Hal yang kudapati adalah ekspresi panik dan tegang dari wajah yang sudah kuhapal sejak…

Kukerjap-kerjapkan kelopak mataku untuk menjaga diriku tetap sadar. Tanganku memanjang dan mencoba meraih tasku untuk mengambil penenang atau ponselku; sekadar mematuhi saran Kyuhyun untuk menghubunginya. Akan tetapi aku terlalu terlambat.

…kecil. Setelahnya, wajah itu menghilang seiring pandanganku yang menggelap. Suara berat dan dalam yang memanggilku secara berulang segera lenyap dari pendengaranku di detik saat ragaku melumpuh.

#

Aku menaikkan kelopak mataku, kemudian memijat pelipisku dengan pangkal tangan. Menggeram kecil, aku membenci keadaan seperti ini dimana aku kehilangan kesadaran dan bangun di tempat lain. Kugunakan siku kananku untuk menumpu di permukaan ranjang. Aku mencermati sekelilingku, lalu bernapas lega karena berada di kamarku.

Memutar ingatanku kembali, aku sangat yakin terakhir aku bersama kakakku di ruangannya. Dia sepertinya berbaik hati membawaku pulang atau mungkin menelpon seseorang untuk menjemputku di tempatnya. Setidaknya aku bersyukur kakakku tidak melemparkanku keluar dari ruangannya di lantai sepuluh.

Menyingkap selimut, aku menurunkan kedua kakiku. Begitu berdiri, aku baru menyadari telah memakai kaus, bewarna putih dengan lengan hijau kebiruan, yang kebesaran hingga menutup sepertiga pahaku. Aku mendengus kecil ketika berspekulasi pemilik kaus ini. Beberapa kali sudah aku terbangun dengan mengenakan pakaian Kyuhyun; kemeja, sweter, dan sekarang kausnya. Menarik leher kaus dan mengintip tubuhku, aku melega karena masih memakai semua pakaian dalamku secara lengkap!

Tanpa repot mengganti pakaianku, kulangkahkan kakiku keluar kamar. Aku tertarik mendekat ketika melihat segaris cahaya berpendar dari celah pintu kamar Kyuhyun yang tidak tertutup rapat. Kutahan diriku untuk berada di luar ketika telingaku menangkap suara lain selain Kyuhyun; kakakku.

“Kau tidak berada di sana untuk menyaksikan bagaimana dia menatapku, Kyu-ah?” Siwon melantangkan suaranya. “Setelah berbelas tahun terlupakan, dia kembali lagi di titik dimana kewarasannya terambil. Lalu kau berharap aku diam saja?!”

Aku memundurkan kakiku saat memperdengarkan teriakan Siwon.

“Won…” keluh halus Kyuhyun. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat tangan Kyuhyun melingkari pinggang Siwon. Sementara kedua tangannya mengerat, dia menyeludukkan kepalanya di tengkuk kakakku. “Dia pernah melalui masa sulit itu. Aku yakin dia akan melaluinya lagi kali ini.”

Oleh karena halangan pintu, aku tidak sepenuhnya melihat sosok kakakku yang membelakangi Kyuhyun. Melihat romantika mereka, apa yang kurasakan saat ini bukan lagi rasa jijik; mungkin aku sudah kebal akan rasa tersebut. Aku seakan menikmati radiasi keakraban mereka.

“Aku tidak tahu pemicu yang menyebabkannya kehilangan kontrol.” Siwon menurunkan intensi kekerasan suaranya. “Namun jika seseorang dengan sengaja melakukan ini semua, aku tidak segan untuk meledakkan kepalanya,” geram Siwon.

“Termasuk jika orang itu adalah aku?” tanya Kyuhyun.

Jeda sejenak sebelum, “Baby…” rengek Siwon yang baru pertama kudengar.

Suara tawa rendah Kyuhyun membuatku menarik bibir secara tidak kentara.

Aku tidak pernah tahu kakakku berada di pihakku seperti saat ini. Otakku berupaya mengingat kejadian sore ini di kantornya. Tanganku menyisip pada helaian rambutku dan meremasnya ketika mengingat kepingan-kepingan masa lalu yang berkelebat cepat di kepalaku. Kenangan itu bukan tentangku, melainkan tentang kakakku. Siwon kecil yang menemuiku dengan berlinang air mata karena kematian ibunya, namun kuabaikan.

Aku mengerjapkan mataku ketika pikiranku dengan jelas menampilkan pemberitaan sebuah kecelakaan beberapa belas tahun silam. Kecelakaan mobil yang terjadi di sebuah terowongan hingga menyebabkan sang ibu meninggal di tempat.

Mendongakkan kepalaku, aku menjumpai Kyuhyun tengah menciumi garis bahu kakakku. Tanganku terangkat ke muka tubuh dan meremas kaus yang kukenakan ketika dadaku terasa nyeri.

“Emosinya tidak stabil, Won,” ucap Kyuhyun di sela ciumannya, “sedangkan tubuhnya terlalu ringkih untuk menerima semua memorinya yang kembali dalam satu waktu. Itu mengapa dia mudah untuk kehilangan kesadaran.”

Siwon mengendurkan lingkaran tangan Kyuhyun dan membalik badannya hingga bersemuka dengan Kyuhyun. Meskipun aku tidak melihat dengan mata kepalaku raut wajah Siwon saat ini, aku yakin dia menatap Kyuhyun dengan pandangan terteduh yang dia punya. Sebelah tangannya menangkup wajah Kyuhyun dan membawanya mendekat. “I’m sorry for barking at you, Baby. I’m just—“

“—vulnerable?” tanya Kyuhyun.

Yes.”

Aku memejamkan mataku saat bibir mereka berjarak helaian napas. Kedua tanganku yang terletak di atas dada dapat merasakan degub jantungku yang mengeras. Wajahku menghangat dengan emosi yang merambat keluar ketika telingaku mendengar kecap bibir mereka. Tubuhku bergetar, namun aku menjaga kakiku tegak berdiri. Bukan kecemburuan yang kurasakan saat ini, melainkan keirian terhadap keintiman mereka untuk saling berbagi.

She’s Choi Miyoung, Baby. She’s a Choi not a Hwang. We share the same blood from the person I hate the most.

Kedua mataku sontak membuka saat menangkap jelas maksud perkataan Siwon. Kedua tanganku membekap bibirku yang bergetar, sedangkan kakiku perlahan melangkah mundur. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan kenyataan yang baru kuterima. Aku memutar tubuhku dengan cepat, kemudian berlari.

#

Aku menarik lengan panjang kaus yang kukenakan untuk kugunakan menyeka air mataku. Walaupun aku sudah menduga kenyataan tersebut, namun memperdengarkannya secara tidak langsung dari mulut Siwon tetap membuatku merasa terkhianati. Kami, aku dan Siwon, adalah saudara seayah beda ibu. Jika seperti itu, maka sudah dapat dipastikan bahwa aku adalah anak haram dari hubungan gelap abeoji dengan eomma-ku. Meskipun sekarang abeoji secara resmi menikahi eomma, namun demikian tidak mengubah histori kelahiranku. Kenapa begitu banyak sandiwara yang terjadi dalam hidupku?

Orang yang paling dibenci kakakku bukan ibunya yang ditemukan tewas bersama selingkuhan; bukan ibunya yang memperlakukannya dengan angkuh dan dingin. Melainkan ayahnya yang menurutnya paling bertanggung jawab pada semua kejadian buruk yang dialaminya.

Aku membesut sisa-sisa air mataku, kemudian menselonjorkan kakiku. Dari rooftop tempatku berada sekarang, pendengaranku dapat menangkap deru mobil di bawah, setelahnya dapat kulihat sebuah Audi melintasi jalan di muka rumahku. Choi Siwon, mengapa banyak misteri pada dirimu?

Aku sibuk berdamai dengan diriku hingga tidak menyadari kehadiran seseorang.

“Rupanya kau senang sekali menyiksa diri, huh?”

Aku mengabaikan sinisme Kyuhyun hingga kurasakan dia mengambil tempat di sisiku. Selembar selimut yang jatuh sisi muka badanku mau tak mau menolehkan kepalaku ke arahnya. Dahiku mengerut dan tanganku menjumput tepi selimut, “Kenapa?”

“Aku hanya tidak ingin direpotkan nantinya,” alasan Kyuhyun. Apa mau dikata, semenjak serumah dengannya setiap aku jatuh sakit, Kyuhyunlah yang merawatku. Dengan kebencianku pada rumah sakit, aku bersyukur akan hal ini. Setidaknya aku tidak perlu menciumi wangi steril rumah sakit karena dia menanganiku di rumah.

Bibirku menarik senyum getir tipis, namun kedua tanganku merapatkan selimut ke badanku.

“Siwon Hyung sudah pulang.”

“Aku tahu.” Kujawab perkataannya dengan tidak bersemangat. “Jika lain kali aku hampir mati di sini, apakah kau juga akan membongkar tempat ini?” sindirku pada masalah pagi ini.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Kyuhyun memutar kepalanya ke arahku. “Mungkin aku bisa mulai memasukkan rencana itu dalam agendaku, Young.”

“Kau gila.”

“Setidaknya jika sekarang kau menerjunkan diri ke kolam renang, kau hanya akan mengalami fraktur[4] tulang atau gegar otak ringan andai kepala bebalmu mendarat dahulu,” olok Kyuhyun.

“Kembalikan kolam itu seperti semula,” perintahku dengan nada datar.

“Akan kupertimbangkan meski tidak dalam waktu dekat.”

“Kalau begitu kembalikan juga sedatifku,” tawarku yang mulai habis kesabaran untuk menghadapi sikap tenang Kyuhyun.

“Aku akan mengatur dosis benzodiazepines[5]-mu setiap hari,” jawab Kyuhyun enteng.

“Cho Kyuhyun!” Aku memalingkan wajahku pada Kyuhyun dan memandangnya dengan kekesalan yang berada di ujung ubun-ubun.

Berbeda dengan keadaanku, Kyuhyun mengembalikan pandanganku dengan tenang. “Setelah upayamu menenggelamkan diri, apakah aku harus percaya jika suatu saat kau tidak menelan seluruh penenangmu?” sarkastis Kyuhyun. Barangkali tindakan nekat untuk menelan sedatifku hingga mengalami overdose akan terlintas di benakku andai pikiranku tidak terkontrol kembali.

Aku baru akan membuka mulut untuk membantah sebelum terdahului oleh Kyuhyun.

“Jangan mencoba mendapatkan penenang di luar dari apa yang kuberikan.”

Cish,” desisku untuk mencela peringatannya. Telingaku sudah tebal dengan kalimat serupa yang keluar dari mulut Jessie. Tanpa resep dari dokter, akan tidak mungkin untuk mendapatkan pil itu kecuali secara ilegal.

“Mobilmu baru saja diantarkan,” Kyuhyun tiba-tiba saja mengganti topik, “dan aku ingin tahu untuk keperluan apa kau pergi ke Gonjiam.”

Aku tersentak kecil dengan perkataan Kyuhyun. Memilah dengan cara bagaimana Kyuhyun mengetahuinya, aku kemudian menyimpulkan sesuatu. “Kau memeriksa mobilku?” nadaku meninggi. Kyuhyun tidak mungkin mengetahui hal tersebut andai tidak menemukan amplop berisi alamat dan foto Gonjiam yang tertinggal di mobilku.

“Kumohon, Young. Aku lelah untuk beradu argumentasi denganmu.” Kyuhyun menghadapkan wajah kuyunya kepadaku. “Haruskah aku mengaku dosa padamu agar kau membuka mulut, hum?” dia menawar saat aku tak kunjung bicara.

Aku yakin kerutan di antara kedua alisku menebal ketika tidak mengetahui negosiasi yang Kyuhyun bicarakan.

“Aku sempat menyuruh detektif untuk menyelidiki latar belakangmu sebelum detektif tersebut akhirnya dibunuh. Jika kau bertanya untuk keperluan apa, maka kujawab untuk memenuhi rasa penasaranku saja.” Kyuhyun menyeringai tipis; boleh jadi karena memerhatikan raut bodohku. “Jangan kira aku tidak tahu kau juga menyembunyikan dosa bersangkutan dengan ini.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Bukankah kau sempat menemui kakakku karena dokumen yang seharusnya detektif itu kirimkan padaku terbuka olehmu?”

Aku mengigit bibir bawahku dan mengumpat dalam hati ketika rahasia kecilku terbongkar. “Lalu mengapa kau tidak mengkonfrontasiku akan hal itu?”

“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Young. Jawab dulu pertanyaanku mengenai Gonjiam.”

Aku mendengus kecil untuk meledek pertanyaan Kyuhyun. “Kau menyewa detektif untuk menelusuri kehidupanku. Kau bahkan memiliki sumber akurat untuk kau tanyai secara langsung,” rujukku pada Siwon, “lalu mengapa kau masih menanyakannya padaku?”

“Andai aku sudah mendapat jawaban, tidak mungkin aku membuang waktu untuk bertanya kepadamu.” Kyuhyun menekuk sebelah kakinya dan menaruh tangannya di atas lutut, sementara kaki yang lain berselonjor. “Hal yang kutahu hanya kasus pembunuhan appa-mu yang sudah ditutup; atau haruskah aku berspekulasi bahwa dia sebenarnya appa tirimu mengingat racauanmu mengenai margamu sebenarnya.”

Aku menarik senyum getir ketika Kyuhyun berpura-pura tidak mengetahui jati diriku sebenarnya. Mengingat pertanyaan Siwon mengenai pemicu ledakkan emosiku, sepertinya Kyuhyun tidak memberitahukan padanya bahwa aku berkunjung ke Gonjiam. Aku menekuk kedua lututku dan merapatkannya ke dada. Meletakkan dagu di atas lutut, aku sembari memikirkan tanggapan untuk pernyataan Kyuhyun. “Tidakkah Siwon mengatakan sesuatu mengenai hal itu?” Aku ingin sedikit mengorek informasi dari Kyuhyun.

“Won tidak pernah mengatakan apa pun menyangkut pribadimu, tapi yang kurasakan dia selalu mencemaskanmu.” Kyuhyun menunduk dan memerhatikan jemarinya yang menangkup dan membuka. “Lucu bukan?” dia menolehkan kepalanya padaku sambil menyeringai, “Bahkan yang kutahu kalian tidak akur, namun Won selalu bersikap keras hati ketika berhubungan denganmu.”

Aku mengolah perkataan Kyuhyun dengan perasaan campur aduk; antara tidak percaya dan bingung. “Kau mencemburuiku akan hal yang bahkan tidak kuketahui?”

“Sangat,” tekan Kyuhyun, “maka jawab pertanyaanku agar aku menemukan cara untuk menyingkirkanmu dari perhatian dan kecemasannya.”

Aku menarik napas panjang begitu Kyuhyun selesai memberikan alasan sentimentilnya. “Gonjiam adalah bagian diriku yang terlupa. Jangan tanyakan bagaimana dan mengapa aku melupakannya karena aku juga tidak mengetahuinya secara pasti. Foto dan alamat Gonjiam secara misterius dikirimkan olehku.”

Kyuhyun mengantukkan kepala belakangnya pada pembatas dengan ringan. “Aku heran mengapa kaummu selalu menggunakan kelemahan kalian sebagai upaya untuk menundukkan kaumku.”

“Jika maksudmu adalah bagaimana, menurutmu, aku memperoleh perhatian dari Siwon,” aku menekan tanganku di udara, “maka aku sama sekali tidak memiliki intensi tersebut. Akan tetapi jika kau berbicara mengenai sebagian besar kaumku, maka aku tidak akan mengelaknya.” Aku tidak bisa menyangkal pernyataan Kyuhyun sepenuhnya karena, katakanlah secara kasar, kaum hawa memang menggunakan air matanya untuk membuat kaum adam bertekuk lutut.

“Dan itulah yang lebih mengherankanku, Young,” Kyuhyun menatapku dengan sayu. “Mengapa aku menemukan pengecualian itu di dirimu, huh?”

Aku membalas tatapan Kyuhyun secara lebih intensif. Dia seakan menarik ulur plot pembicaraan kami. Aku terlalu termenung memikirkan diskusi kami hingga tidak menyadari kepala Kyuhyun yang sudah tersandar di bahuku.

“Ahra Noona,” Kyuhyun tertawa kecil, “mungkin mulai sekarang aku harus memanggilnya Seobin Noona. Kau tidak salah jika mengasumsikan aku mati-matian mengusut jejaknya.” Dia mulai bercerita mengenai kehidupannya bahkan tanpa aku menanyakannya. “Begitu dia menghilang, aku ingin menemukannya untuk ikut bertanggung jawab terhadap masa depan Assan.”

“Supaya kau bisa bebas bersama Siwon?” Aku tidak tega untuk mengguncang bahuku agar Kyuhyun mengangkat kepalanya.

Kyuhyun mendramatisir embusan napasnya sehingga terdengar olehku. “Sudah pernah kukatakan bahwa kami bukan pemuja cinta hingga meletakkan rasa itu di atas segalanya. Walaupun tetap ada keinginan untuk melarikan diri dari segala tanggung jawab kami.”

“Kanada, huh?” singgungku lagi.

“Ya,” jawab singkat Kyuhyun. “Namun ketika noona muncul dengan segala keadaannya, bagaimana aku mampu untuk melimpahinya dengan tanggung jawab Assan jika menanggung kehidupannya saja sulit?”

Aku tergetar dengan jawaban Kyuhyun; barangkali inilah yang membuatnya menjauhi Seobin dan Cheonsa. Mengangkat tanganku, aku memberanikan diri mengelus pipi Kyuhyun yang dingin. Siapa pun akan kecewa jika rencananya pupus dan Kyuhyun bukan suatu eksepsi[6]. “Apakah dengan seperti itu, kau merelakan Seobin untuk menjalani hidupnya sendiri?”

“Rela tidak rela, apa yang mampu kuperbuat, Young?” ucapnya dengan sinisme. “Kau juga sudah mengetahui bagaimana keluargaku bereaksi atas kembalinya noona.”

Aku menarik tanganku dan mendalami situasi Kyuhyun. Jika aku bermasalah dengan masa laluku, maka lain halnya dengan Kyuhyun yang bermasalah dengan rencana masa depannya. Akan tetapi Kyuhyun tidak ubahnya seperti diriku; kacau.

Mengangkat kepalanya, Kyuhyun belum mengenyahkan wajahnya dari sisi pundakku. Bukannya menjauh, dia semakin mendekatkan wajahnya hingga hangat napasnya menerpa pipiku. Akibat tindakkannya, jemariku mulai membuat gerakan kecil karena kalut. “Cium aku, Young.”

Mendengar perintahnya, aku secara spontan memundurkan wajahku, namun tangan Kyuhyun yang berada di belakang kepalaku mencegahku lebih dahulu. “U…untuk apa aku melakukannya?” Aku berusaha menguasai kegugupan, namun suaraku menggagap.

Alih-alih menjawabku, Kyuhyun terpingkal kecil kemudian melepaskan tautan tangannya di belakang kepalaku. Dia menekuk kakinya hingga duduk bersila, kemudian menarikku untuk menghadapnya dan melakukan hal serupa. Meskipun aku tidak mengerti tujuannya, namun tetap menurutinya. Tangannya menganjur ke bahuku dan meremasnya lembut, “Redakan ketegangan bahumu.” Tangannya beralih menjumput tanganku dan meletakkannya di atas perutku, “Lakukan pernapasan dalam. Belajarlah mengontrol pernapasanmu untuk menenangkan diri. Jika dirasa perlu, aku akan merekomendasikanmu kelas yoga.”

Dengan demikian, aku mengerti dia memberikan tutorial untuk meredakan kepanikanku. “Bagaimana dan sejak kapan kau tahu?” Aku sungguh ingin mengetahui bagaimana dia bisa menangkap kegelisahanku setiap berdekatan dengan lawan jenis.

“Saat pertama kali aku menciummu,” jawab Kyuhyun. “Kau begitu tegang ketika aku menyentuhmu. Walaupun keteganganmu sempat mereda beberapa saat, namun setelah kau tersadar, kepanikan melandamu. Kau bahkan melarikan diri dariku hingga meninggalkan barang pribadimu di ruanganku.”

“Dan kau sempat menggeledah tasku,” lanjutku dengan nada ketus. Dari situ dia mengetahui bahwa aku mengkonsumsi benzodiazepines.

“Apa boleh buat,” Kyuhyun mengangkat bahunya. Dia menepuk kedua pahanya sembari mendesah pasrah kemudian berdiri. Membungkukkan badannya sedikit, dia mengulurkan sebelah tangannya kepadaku.

“Turunlah lebih dulu, aku masih ingin di sini.”

“Aku tidak memintamu beranjak dari sini.” Kyuhyun mempertahankan tangannya yang menggantung di depan wajahku. “Anggaplah ini sebagai apresiasi kecil dariku atas pembicaraan kita.”

Aku mendongak dengan ekspresi tanya. Mengabaikan tangan Kyuhyun, aku bergeming di posisiku.

Oh, come on, Young. It won’t hurt.” Kyuhyun mengentakkan ujung jemarinya.

“Memperdengarkan ucapanmu, aku jadi sangat ingin menolak apa pun pemberianmu,” olokku untuk mencandai. Meletakkan tangan kananku di atas tangan kanan Kyuhyun, aku menerima ulurannya. Aku sedikit menggantungkan bobotku saat dia menarikku berdiri.

Kyuhyun membawa kedua tanganku untuk melingkar di lehernya, sementara kedua tangannya berada di pinggangku. Dia menarik sebelah sudut bibirnya ketika kuasumsikan merasakan keteganganku. “Rileks, Young,” kepalanya merendah di samping telingaku, “aku tidak akan memakanmu.” Kyuhyun menjauhkan wajahnya untuk kembali bersemuka denganku. “Orang bilang, aku mampu meluluhkan siapa pun dengan suaraku,” angkuhnya.

Full of yourself, huh?”

I’ve been living with a shadow over head, I’ve been sleeping with a cloud above my bed…” Kyuhyun mengalunkan lagu ‘way back into love’[7] yang mampu membungkam mulutku seketika.

Aku termenung mengagumi suaranya yang mengaliri pendengaranku; membenarkan pendapat orang yang Kyuhyun sombongkan barusan. Keteganganku dan segala rasa yang membebani pikiranku malam ini melarut bersama suara maskulinnya yang bersenandung rendah. “I’ve been hiding all my hopes and dreams away, just in case I ever need ‘em again someday…” Aku meneruskan bait kedua dari lagu tersebut hingga menjumpai senyum tipis Kyuhyun.

Kyuhyun membimbing badan kami terayun ringan. Meskipun tidak memiliki double-eyelids[8], namun aku menyukai bagaimana mata almond-nya menatap balik dengan dalam. Tidak melewatkan juga bagaimana lesung pipit tungggalnya muncul dan lenyap di bawah sudut bibir kanan.

All I wanna do is find a way back into love. I can’t make it through without a way back into love.” Kami menyanyikan bagian refrein[9] bersama. “…and if you help me to start again, you know that I’ll be there for you in the end.

Untuk saat ini, aku meyakini penutup lagu yang kami nyanyikan bermakna kosong. Merasakan tusukan lembut rambut Kyuhyun di jemariku, aku seakan terperdaya dengan situasi kami. Aku tidak ingin menurutkan diriku untuk mencandui eksistensinya. So, Cho Kyuhyun, don’t you dare to take my breath away

TBC*

Note:

Sebuah update yang memang lebih pendek jika dibandingkan dengan chapter BTBE yang lain. But, here their story is. Walaupun aku menaruh ‘Dark Side’ sebagai theme song, aku malah mendengarkan lagu One Direction yang baru ‘Story of My Life’ ketika mengetik cerita ini. Seriously, that song is really nice and ear-catching. Try to listen to it!

But, you have to listen ‘Dark Side’ by Kelly Clarkson, too. That song is so BTBE.

And yo, who dared to mess up with Youngie, get ready to have a right shoot on your head from Daddy Dimples!


[1] Mwo (Korean): apa

[2] Veste: vest (eng), rompi.

[3] Love child: anak haram.

[4] Fraktur: keretakkan atau keadaan patah.

[5] Benzodiazepines: salah satu nama perdagangan obat penenang.

[6] Eksepsi: pengecualian.

[7] Way back into love dipopulerkan oleh Hugh Grant (feat Drea Barrymore). Lagu ini pernah dinyanyikan oleh Super Junior: Kyuhyun dan Donghae bersama SNSD: Taeyeon dan Jessica.

[8] Double-eyelids: lipatan kelopak mata (di atas bola mata) yang terlihat ketika kita membuka mata kita.

[9] Refrein: bagian (lagu) yang diulang.

Pic Spam:

Choi Siwon and his pretty little bride (eehh??)

tumblr_mvn6ffv9SU1sjigpqo2_500

Yak, Kyuhyun-ah, put that bandanna off! Let me wear it instead! *whining*

If it’s not cropped, I wouldn’t have a glimpse thought that man standing next to Tiff was Kiyu, but he wasn’t:

tumblr_mwjkqnF5hE1syps1co2_500

And Thanks to you @widanong, @CTkyuw, @DyahChoRini for sharing me breathtaking pics. Aloha~~

FYI:

Berdasarkan salah satu sumber yang aku peroleh, ada beberapa hal penyebab orang mengubah preferensi seksualnya menjadi gay. Beberapa diantaranya adalah: pengalaman homoseksual, lingkungan keluarga, pengalaman seksualitas semasa kecil, dan pengaruh kultur. Salah satu penyebab yaitu lingkungan keluarga misal:

–Ibu yang dominan, posesif, atau pun penolakkan dari ibu.

–Ayah yang memberi jarak pada putranya atau dengan kata lain tidak dekat.

–Orang tua yang juga homoseksual. Khususnya mereka yang memberikan pengalaman seksual kepada sang anak sesama jenis.

–Saudara yang homoseksual, yang juga memberikan pengamalan seksualitas kepada saudara yang lain.

–Kurangnya penanaman kepercayaan.

–Perceraian orang tua, dan lainnya.

219 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [9]

  1. VivitYulia says:

    Misteri tentang siapa sbenarnya choi minyoung ke jawab di part ini. dia sama siwon saudara kndung mskipun beda ibu. seriusan choi siwon bner2 misterius bget, gk ketebak. btw scene kyu sma minyoung pas di rooftop romatis bngett, apalagi wktu kyu nyanyi “way back to love. feel nya dpettt.
    mskipun blum bca part 7&8 te2p aja critanya daebakkk bngett thorrr. ^_^

  2. sparkyukyu says:

    karena penasaran akhrx langsung baca part 9 dulu sambil nunggu pw part 7 dan 8.
    Dan pada akhrx miyoung tau klau siwon dan dia seayah. Dan makin lama perhatian kyu semakin besar terhadap istrinya. Mungkinkah perasaan kyu terhadap siwon sudah teralihkan ke miyoung?
    next…..

  3. fida says:

    agak bngung seh bcanya… soalnya 2 part belum bca….

    oalah kyanya tiffany ini adik kandung siwon ya?
    terus top deh buat perhtian cho kyuhyun ama tiffany….. jjanggg

  4. Saya lompat2 bacanya.bolehkah saya minta password untuk part sebelumnya? Mitajessika@gmail.com.kyuhyun-kah pengantin siwon di picture di atas?mungil banget badannya.Part ini mengugkap fakta siapa sebenarnya .seorang choi bukan hwang.kenyataan ini bikin dia tambah down.astaga…aku tambah tegang mau baca part berikutnya.penasaraaaannnn…..

  5. Tuhkan.. siwon sama miyoung saudara kandung. Kyu ngasih sentuhan ke miyoung itu buat “obat” nya miyoung doang atau ada ketertarikan tersendiri karena kyuhyun bisexual ya? Hmmm.. saya loncat dari part 6.. abis yaaa balasan passwordnya agak lama ya.. hehe. Keburu gatahan (?)

  6. Seneng baca ff2nya
    Selalu ada informasi2 serta diksi baru
    Seneng juga sama poster2nya, kayaknya cocok gtu posternya terlebih karakter miyoung sebagai seorang arsitek
    Dan author sepertinya berhasil membuat saya mengharapkan eksistensi perasaan di hati kyu dan young
    Oke adegan dansa di rooftop sambil nyanyi way back into love buat saya senyum senyum sendiri sambil mengenang kembali masa masa sugen masih ramai di dunia kpop
    Oke lanjut baca chap selanjutnya
    Saya udah komen di password requsest smoga bisa dapet passwordnya

  7. rachma says:

    Wahh fakta baru terungkap trnyata miyoung itu sebenarnya saudara satu darah beda ibu sm siwon.. makin penasaran aja next baca part selanjutnyaa

  8. nalinali says:

    aku baca chapter yg ini buat ngetest gmn rasanya kelongkap 2 chapter sekaligus dan wow aku gk ngerti apapun jln ceritany, tiba2 udh kyk gini dan tpi ttp aja wonkyunya msh berhubunganㅠㅠ ayo dong min bls komenku soalny aku gk bisa baca seterusny karna gk ngerti apa2 hiks;;;;;

  9. windy3288 says:

    huaaaa karena saking ingin baca nya dan belum mendapatkan pw untuk part 7 & 8 akhirnya aku loncat deh padahal agak gak ngerti juga jalan cerita sebelumnya😦 tapi yasudahlah gue harus lebih ekstra sabaaar ehehehe

    si kyu perlahan lahan udah mulai lembut deh disini meskipun minyoung masih acuh.. dan memang siwon itu penuh misteri banget dan ternyata mereka satu ayah ? wow. yaa sebenernya dari awal pembunuhan detektif kyu juga udah berasa banyak misteri disini tentang masa lalu mereka bertiga. dan aku baru tau ternyata minyoung pernah lupa ingatan dan dia kaya sedikit menderita apa yaa semacam depresi ringan sampe minum obat penenang ..

  10. abellia cho^ says:

    smbil nunggu pw part7,8
    lngsung bca part 9 mskipun agak rancu si..
    klo kyu suruh milih anta siwon ataw minyoung, siapa yg akn kyu perthankan??

  11. amidamaru says:

    Langsung lompat kesini dari chapt 6 . Bingung hehe. Gimana kabar ponakan kyu ya. Aaih malem2 bernyanyi di rooftoop, so sweet

  12. yahhh walaupun aku gak bisa baca part 7 dan 8.. dan agak bingung pas baca part ini, tapi aku suka deh.. sbnernya apa yg trjadi saat miyoung di gonjiam?? dan apakah ayah tiri miyoung tau kalo miyoung bukan anaknya?? hmm —

  13. cica says:

    surprised me in this part : won- young trnyata sodara kandung. aku lgsg lmpat dri part 6 ksini,aga bngung sih.. tpi jujur deh sptinya akan terus dan trus menarik. masi geli plus jijik gt ya pas part moment kyuwon berbgi keintiman xD but seriously moment kyuyoung nya ckup manis :’) .seandainya kyu pria normal,seandainya mrka sungguh2 dlm menjalani pernikahan ini,seandainya ah.. trlalu bnyk seandainya xD wkwk

  14. april says:

    singkat tapi bermakna.. miyoung akhirnya tau kalo dia ternyata saudara satu ayah sama siwon.. meskipun belum baca yg part 7 dan 8 tapi cukup nyambung sama part ini.. mari lanjut ke part berikutnya

  15. suka banget sama part ini..
    Suka banget gimana Kyuhyun khawatir ttg youngie..^^
    Dan KAGET bangt ttg fakta Siwon sama Youngie yg ternyata satu ayah, Siwon itu sosok oppa idaman ya?hehe
    suka banget kalo Kyuhyun nyanyi way back into love ..
    mimiknya pas nyanyi itu keren bangettttt (y)..
    Kyuhyun lagi bingung nentuin perasaan ya kayaknya di part ini ^^

  16. celin says:

    kenapa setiap siwon sama miyoung ketemu selalu berdebat??
    jujur aja sampai sekarang aku masih geli dengan adegan romantis WonKyu masih belum nerima kalau siwon itu gay!!! dan miyoung malah iri dengan kemesraan mereka.. tp miyoung~ah kau dengan kyuhyun bahkan lebih romantis menurut aku…
    aku kaget ternyata mereka ber2 seayah pantesan siwon itu over protectif ke miyoung pdhl mereka kan saling musuhan,,dan makin kesini rasa perhatian kyuhyun ke miyoung makin besar….tp kalau kyu sm miyoung bagaimana nasib siwon?? kasihan juga dianya kalau d tinggalkan gtu aja sm kyu

  17. momo says:

    Semacem agak bingung baca ini gaara2 blm baca yg part 7 sama 8 tapi ternyata di part ini siwon itu lovely menurutku:) ini kyu suka ma miyoung ga si?

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s