Behind Those Beautiful Eyes [10]


BTBE 13

Behind Those Beautiful Eyes [10]

Arsvio | Tiffany Miyoung Hwang, Kyuhyun Cho, Siwon Choi | PG-16 | Dark Side (Kelly Clarkson)

The (Un)wanted Gift

Aku mengangkat pergelangan tangan untuk memastikan sekali lagi bahwa waktu telah memasuki jam istirahat. Menekan panel lift pada tombol turun, aku bersegera memasuki lift setelah pintunya terbuka. Melarikan diri dari kantor untuk suatu makan siang menjadi kebiasaanku sebulan ini. Jangan tanyakan siapa orang yang paling sering kuusik untuk menemaniku; my only BFF[1].

Sebulan terakhir, perkembangan kasus Dae-A memanas setelah beberapa orang yang ditangkap kepolisian mengaku sebagai suruhan petinggi Dae-A untuk menyerang pendemo. Ini memasuki minggu kedua penjadwalan pemeriksaan terhadap setiap karyawan Dae-A sebagai saksi. Pemeriksaan terhadapku sendiri kuabaikan dengan alasan bualan dan ini sudah kedua kalinya.

Aku mendongak secara intuitif ketika denting alarm lift yang berbunyi disusul pintu yang terbuka menampakkan sosok Ahreum. Dia memutuskan teleponnya, sebelum melangkah masuk ke lift dan mengambil tempat di sisiku.

“Kudengar kau mangkir lagi dari pemeriksaan?” ucapnya dengan kaku. Semenjak kasus ini memburuk, Ahreum menjadi begitu uring-uringan. Emosinya mudah tersulut jika bawahannya melakukan kesalahan kecil. Ketenangannya yang selama ini kutahu seakan terkikis.

Aku hanya menyeringai kecil untuk membalas pertanyaan Ahreum. Meskipun kami tidak berhadapan, namun Ahreum dapat melihat refleksiku di pintu lift. “Aku akan datang jika kuputuskan untuk datang,” jawabku sekenanya.

“Dan kapan kau memutuskan untuk datang?” Pertanyaan Ahreum disela oleh denting alarm lift dan pintu yang kembali membuka. Dua karyawan yang menunggu di depan lift menahan gerakan kakinya begitu melihat kami berdua. Bukannya bersegera masuk, mereka hanya membungkukkan badan hingga pintu tertutup kembali.

“Mungkin sampai mereka lelah menghadapi kebadunganku sehingga terpaksa menyeret bokongku ke kepolisian,” ucapku asal.

Cish, kau selalu bertindak semaumu.”

“Sampai kapan kau mempertahankan sikap intimidasimu?” singgungku. Tidak seperti biasanya, karyawan yang membungkuk kepada Ahreum bukan karena mereka menghormatinya, melainkan karena takut terkena damprat. Aku mencermati ekspresi Ahreum yang mengeras begitu singgunganku mengenainya.

“Setelah seorang pengacaraku menghilang seminggu ini, haruskah aku bersikap tenang?”

Aku mengubah mimik datarku menjadi bertanya-tanya akan perucapan Ahreum. “Seorang pengacara?” ulangku dengan menaikkan intonasi di ekornya.

“Park Jaehwan, satu dari tujuh pengacara dalam tim hukum Dae-A.”

“Mungkin dia terbang ke belahan dunia lain untuk menghindari dampratanmu,” canda sinisku. Tidak hanya Ahreum yang menjadi emosional di kantor ini; bahkan setiap karyawan juga tertekan dengan situasi saat ini. Itu mengapa aku memilih makan siang di luar daripada di kantin Dae-A yang atmosfirnya tidak lagi menyenangkan.

Hah!” Ahreum menghentakkan high heel-nya untuk keluar dari lift ketika kami mencapai basement. “Lain kali kau bisa memilih guyonan yang lebih berkelas!” Ahreum mepercepat langkahnya, membuatku kelabakan untuk mengekornya. Ketika mencapai Mercedes Benz-nya, dia membalik badan karena sepertinya menyadari keberadaanku di belakangnya. Memelorotkan bahu, Ahreum kemudian menyilangkan tangan dan menyandarkan punggungnya ke badan mobil. “Aku sedang tidak ingin bercanda, Youngie.”

“Aku tidak bercanda dengan ucapanku, Ahreum-ssi. Aku yakin kau menyadari atmosfir yang kau ciptakan melalui sikapmu terhadap kami,” balasku langsung pada pokok persoalan.

Memalingkan wajahnya ke arah lain, Ahreum menggembungkan pipinya kemudian mengembuskan udaranya dengan kuat dan cepat. “Aku akan menghubungimu nanti,” putusnya sambil membuka pintu mobil bagian kemudi. “Dan Youngie,” panggilnya sebelum aku menjauhkan diri, “Jika kau mangkir dari panggilan sekadar untuk mengulur waktu agar kami dapat menyusun rencana, maka aku sangat berterima kasih.” Ahreum membuat seringai sebelum memasuki mobil.

Cish,” desisku ketika Ahreum menebak dengan benar alasanku berkelit dari panggilan pemeriksaan. Selain dari alasan pribadi yang membuatku malas untuk berurusan dengan kepolisian. Aku lekas-lekas memasuki mobilku sendiri dan memacunya keluar dari Dae-A menuju restoran tempat aku dan Jessie janji bertemu.

#

“Kau tidak bosan-bosan untuk mengusik jam makan siangku, heh?” sinisme Jessie begitu aku datang. Dia mengaduk jusnya menggunakan sedotan di tangan kanan, sementara tangan kirinya menumpu dagunya ringan. “Dan terima kasih untukmu karena sekali lagi membatalkan kencanku,” lanjut kesinisannya.

“Sampaikan terima kasihku pada Max untuk hal itu,” tanggapanku. Aku membaca menu dengan tenang; tidak terlalu menggubris Jessie. Seburuk-buruk ucapannya, aku sudah terbiasa semenjak sekolah menengah. Kala itu Jessie merupakan murid pindahan dari US. Oleh karena belum fasih hangul, Jessie tidak bersosialisasi dengan murid lain. Boleh jadi pada dasarnya dia tidak pandai bergaul dan hal itulah yang membuatku klik dengannya. Pada mulanya kami hanyalah teman duduk di perpustakaan yang saling membisu hingga saat dimana dia menawarkan sapu tangan cantiknya padaku untuk menghapus air mata.

Mengangkat tanganku, aku memanggil pelayan untuk memesan. “Salmon bibimbap, beef soup, dan mint iced tea.” Aku menutup buku menu dan mengangsurkannya pada pelayan.

Jessie mengembus napas malas dan menatap prihatin kepadaku. “Apa lagi alasanmu kali ini?” tanyanya.

Mengetahui maksud pertanyaan Jessie, aku menaikkan kedua alisku. Mulutku tidak pernah membicarakan masalah mangkirku dari pemeriksaan, namun mengetahui bahwa kabar tersebut telah sampai ke telinga Jessie, seseorang pasti telah memberitahukannya. “Sejak kapan Max menjadi mata-matamu?”

Oh, dia tidak sekadar menjadi mata-mataku,” acung Jessie padaku, “dia selalu bisa menjadi yang kubutuhkan.”

Cish, cheesy,” aku mencemooh gombalan Jessie.

I’d rather to say it romantic,” timpal Jessie.

“Aku harus memuji Max untuk kesabarannya menjadi kekasihmu,” olokku yang ditanggapi raut jengah Jessie. Memundurkan badanku, aku menyandar di punggung kursi. “Perkara yang melibatkan Dae-A kali ini cukup berat karena selain menyangkut proyek kelas dunia, juga pertimbangan adanya korban jiwa. Jika Dae-A terbukti bersalah, maka kami harus bersiap menerima memorandum dari pemerintah atau lebih buruknya pencabutan izin usaha.”

“Masalah ini cukup menyita pemberitaan nasional,” komentar Jessie, “bahkan mulai merambat ke ranah internasional.”

Aku mengangguk mengiyakan, “Oleh karena alasan itu juga, aku pikir ada baiknya mengulur waktu agar kami bisa mematangkan perencanaan menghadapi peradilan.” Aku menutup mulut ketika pelayan datang untuk menyajikan pesanan makan siang kami.

“Tapi usaha licikmu kali ini tidak akan membantu banyak, Youngie.”

“Aku tahu,” ujarku pasrah, “namun setidaknya mereka masih memandang jabatanku dalam proyek.” Aku menyendok potongan daging dalam supku dan menyuapkannya ke mulutku. Kulambatkan kunyahanku ketika bau amis daging terasa menyengat rongga penciumanku. Perutku secara tiba-tiba bergejolak dan mendesakku untuk memutahkan isinya. Menyambar tissue dengan kilat, aku menutup mulutku. Aku memundurkan kursiku dan bergegas ke belakang ketika merasakan akan muntah tiba-tiba.

Tangan kananku memutar keran, sementara tangan kiriku kugunakan untuk menyibak dan mengikat rambutku. Mual yang sangat membuatku mengeluarkan seluruh isi perut hingga perutku rasa-rasanya mengalami kesemutan ringan. Aku mencekungkan telapak tanganku untuk menadah air yang kugunakan berkumur dan membasuh mulut.

“Youngie, kau tidak apa-apa?” suara Jessie dan pijatan di pangkal leher belakangku membuatku mendongak. Wajah khawatir Jessie terlihat di cermin, selain juga wajahku yang memucat.

Aku menegakkan punggungku begitu rasa mual dan desakkan untuk muntah berkurang. Menggapai tissue, aku mengeringkan mulut dan tanganku. “Gezz, mungkin perutku sedang tidak mentolerir daging,” candaku untuk menghilangkan kekhawatiran Jessie.

“Aku tidak pernah mendengar kau bermasalah dengan makanan itu.” Beraut serius, Jessie menyilang kedua tangan di depan dada.

“Mungkin hari ini adalah pengecualian,” selorohku. Aku menggeser tubuhku, namun sebelum menjauh, aku limbung. Kukerjap-kerjapkan mataku untuk mengembalikan kesadaranku yang sepersekian detik lalu menghitam. Jemariku menyibak rambut depan dan meremas pelipisku. Sebelah tanganku yang lain menyangga tubuhku dengan berpegangan pada pinggiran wastafel.

“Aku benar-benar tidak yakin kau baik-baik saja.” Jessie mencengkeram kedua lengan atasku dan membimbingku keluar dari toilet. “Kita ke rumah sakit.”

Hell no!” teriakku spontan. Aku mengentakkan lenganku agar terlepas dari cengkeraman Jessie. Akan tetapi tubuhku kembali melunglai saat peganggan Jessie terlepas.

“Simpan dulu ketololanmu!” sarkasme Jessie sambil meraihku kembali. Dia melintangkan tangan kananku di pundaknya. Sebelah tangannya menyisip di pinggangku untuk menjagaku tegak.

Ketika kami mencapai pintu toilet, ragaku seakan semakin memberat. Jantungku seolah disedot ke bawah dengan keras. Kepalaku pening dan mataku berkunang-kungang. “Jess…” rintihku berniat memberitahukan Jessie mengenai keadaanku. Akan tetapi sebelum aku membuka mulut, pandanganku menggelap seketika.

#

Aku mengerutkan kelopak mataku ketika perlahan kesadaranku pulih. Seiring mataku yang membuka, telingaku menangkap suara-suara di sekelilingku. Aku menoleh di samping kiri dan menjumpai permesinan medis yang tidak kutahu gunanya. “Shhh…” aku mendesis kecil menyadari keberadaanku di rumah sakit. Bertumpu pada permukaan kasur, aku mendudukan tubuhku.

“Kau pikir aku menginginkannya?”

“Setidaknya kau bisa menggunakan otak bebalmu sebelum melakukannya! Atau mungkin kau telah kehilangan akalmu, Cho?”

Aku mendegar suara rendah milik Kyuhyun dan Jessie yang sedang beradu. Dengan demikian aku tahu tengah berada di Assan.

“Jangan memperkeruh keadaan dengan mulut besarmu!”

“Memang siapa yang membuat situasi sulit ini, huh? Kau dan hormonmu yang tidak terkendali!”

“Tutup mulutmu!”

Tidak tahan dengan perselisihan Kyuhyun dan Jessie. yang walaupun dilakukan dengan nada serendah mungkin namun tetap mengganggu, aku menyeru. “Jessie?”

Perdebatan mereka berdua terhenti seketika saat mendengar seruanku memanggil Jessie. Tirai putih di sisi kananku tersibak, memunculkan Jessie dan Kyuhyun yang mengekor di belakangnya. Jessie berjalan hingga berhenti di ujung ranjangku, sementara Kyuhyun di samping ranjangku. Kuperhatikan wajah mereka berdua yang sama-sama masam.

Well,” Jessie menarik keluar kedua tangan dari saku jas putihnya, “congratulation,” ucapnya sembari bertepuk tangan dengan datar. “You’ll become a mother for the next eight months,” cerocos sarkastis Jessie.

W…what?” Aku menyentak kepalaku naik untuk memandangi wajah Jessie dan Kyuhyun satu per satu.

Kyuhyun menyilang kedua tangannya di depan dada. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain selain aku dan Jessie.

Tanganku merabai perutku yang datar dengan gemetar. Jantungku bergemuruh, sementara batinku bergolak. “Aku hamil?” tanyaku untuk memperjelas, “Kau tidak sedang bercanda, bukan?” lafal pertanyaanku dengan tersendat di setiap katanya.

You really fucked up this time, Youngie,” komentar tidak bersahabat Jessie.

Shut your mouth up!” desis Kyuhyun sembari mengeratkan gigi-giginya. Berjalan mendekat, Kyuhyun melepas suntikan infus di punggung tanganku.

“Apa yang kau lakukan, hah?” Jessie menyela dan memperingati Kyuhyun. Dia menahan lengan bawah Kyuhyun untuk menghentikan tindakan.

Alih-alih menjawab, Kyuhyun membungkam dan menepis tangan Jessie. Dia dengan cekatan membersihkan darahku yang keluar dengan kapas beralkhohol, kemudian memberikan plester untuk menutup luka. “Kuantar kau pulang,” ujarnya padaku dengan kaku.

“Aku tidak mengizinkannya,” sergah Jessie yang kembali menghalangi tindakan Kyuhyun.

“Aku juga dokter, terlebih suaminya yang berhak memutuskan dia untuk tinggal atau tidak,” tepis Kyuhyun dengan nada tegas.

Jessie membungkam mulutnya dengan marah. Dia berpaling dari kami, kemudian menghentakkan kakinya kasar.

Kesadaranku masih mengambang saat Kyuhyun membantuku menurunkan kaki dari ranjang. Aku berdiri dan menuruti bimbingannya karena tidak memiliki opsi lain. Lagipula aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Aku mendongakkan kepala ketika merasakan sentakkan di lengan atasku oleh Jessie.

“Pikirkan matang-matang keputusan yang akan kau ambil, Youngie,” pesan Jessie. Dia menarik napas pasrah, kemudian melepas lenganku. “Aku ada kapan pun kau membutuhkanku.”

Belum sempat aku menjawab Jessie, Kyuhyun sudah membalutkan mantel ke bahuku dan menggiringku keluar. Dia menyusupkan sebelah tangannya di pinggangku untuk menuntunku. Kali ini aku tidak memberontak dan hanya diam mengiringi langkahnya. Pikiranku terlalu didominasi oleh berita yang disampaikan Jessie sehingga tidak ada akal untuk melakukan perlawanan pada perlakuan Kyuhyun.

#

Setelah mengalami kebisuan sepanjang perjalanan pulang, aku bisa menikmati ketenangan di kamarku sendiri tanpa harus mendengarkan pertikaian Kyuhyun dan Jessie. Masih belum percaya dengan kehamilanku, aku melarikan jemariku untuk mengusap perutku. Kepalaku menunduk dan memerhatikan kontur perutku yang masih datar. Debar-debar jantungku kembali mengoyak rusuk saat memompakan darah dengan cepat hingga kurasakan kedua pipiku memanas. Air mataku meluruh atas rasa haru yang menguasai hatiku.

Aku membawa tanganku menutup mulut agar isakku tidak lolos. Kenyataan bahwa dalam tubuhku terdapat makhluk mungil yang sedang tumbuh mau tak mau menimbulkan kecemasan. Aku tidak membencinya, sama sekali tidak ada rasa tersebut. Perasaan yang menghinggapiku kini lebih kepada kekhawatiran. Bagaimana pun proses yang aku lalui, aku tidak bisa mengingkari bahwa bayi ini ada karenaku dan…Kyuhyun.

Pintu yang terbuka kasar membuatku menoleh pada pembuat keonaran. Aku sontak berdiri ketika menyadari sebuah ancaman dari perilaku Kyuhyun.

“Gugurkan kandunganmu,” ucap Kyuhyun dengan rendah, namun tegas.

Aku mengepalkan kedua tanganku erat saat mendengar anjuran Kyuhyun. Bukan hal yang mengherankan andai Kyuhyun meminta demikian. Aku tidak perlu menanyakan alasannya yang malah akan membuatku terlihat dungu. Mengeraskan ekspresiku, aku menantang Kyuhyun. “Karena janin ini adalah kesalahan?” selaku dengan congkak. “Bagaimana jika aku tidak mau?”

Kyuhyun berkacak pinggang sambil meloloskan kekehan ringan syarat keputusasaan sebagai cemoohan. “Aku sedang tidak bernegosiasi denganmu, Young.”

“Aku pun tidak memandang pengandaianku sebagai bentuk negosiasi.”

“Kita tidak mungkin menerima kehadirannya,” ucap Kyuhyun yang memberikan tohokan di dadaku.

“Kita?” nada tanyaku untuk melecehkan pernyataan Kyuhyun sebelumnya. “Jangan mengambil representasi untukku, Kyu-ah. Kau bahkan tidak mengerti keputusan apa yang akan kuambil untuk menyikapi kehamilan ini.”

“Kau tidak mungkin menginginkannya bukan?” Kyuhyun mendekat dengan angkuh, “Karena kau tidak memiliki alasan untuk tetap menjaga janin tersebut.” Dia menyeringai, boleh jadi merasa hebat atas perucapannya yang tidak sepenuhnya salah.

“Aku tidak membutuhkan alasan kuat untuk mempertahankan janin ini hingga menjadi bernyawa.”

Kyuhyun mendesis dan menyeringai untuk memamerkan arogansinya. “Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menyediakan tenaga ahli untuk melakukan aborsi. Bahkan jika mungkin, aku sendiri yang akan melakukannya.” Saran Kyuhyun disuarakan dengan mulus.

Tersentak dengan pernyataan Kyuhyun, secara intuitif aku bergerak mundur. Pria ini pastilah telah disusupi jiwa iblis hingga bisa mengucapkan hal demikian dengan enteng. Manusia macam apa yang tega membunuh bayinya sendiri yang bahkan belum mengecap dunia. “Kau gila,” bisikku yang lepas melewati gigi-gigiku yang mengadu.

“Lalu siapa yang kau pikir membuatku gila?!” nada Kyuhyun yang meninggi seketika menciutkan nyaliku.

“Kau mengkhawatirkan kehamilanku akan merusak hubunganmu dengan Siwon, huh?” ejekku.

“Jangan bawa-bawa Siwon dalam masalah kita.”

“Bahkan jika aku tidak menyeretnya dalam urusan kita, Siwon sudah terlibat semenjak awal!” teriakku. “Jika kau tidak ingin Siwon mengetahuinya, maka mulai sekarang belajarlah berbohong dan berakting,” sinisku.

“Kau pikir aku seorang pembual?”

Aku melenguh untuk merendahkan retorik Kyuhyun. “Kau bisa menjadi pendosa yang menjalani hubungan terlarang dengan kakakku. Bahkan menawarkan diri menjadi pembunuh bagi janin ini. Mengapa menjadi pembual kau tidak bisa?”

“Choi Miyoung!”

“Aku tidak peduli sekalipun kau mengatakan pada Siwon bahwa aku tidur dengan gigolo!” Aku menarik napas cepat dan memejamkan mata saat melihat kelebat tangan Kyuhyun di udara. Memberanikan membuka mata ketika tidak merasakan tamparan Kyuhyun, aku mengeratkan rahangku. “Tampar aku, Kyuhyun-ah,” tantangku dengan intonasi lambat dan tegas, “dengan begitu aku memiliki satu lagi alasan untuk mengkerdilkanmu.”

Kyuhyun memandangku sengit dengan tangan yang masih tertahan di udara. Dia menekuk jemarinya hingga mengepal, kemudian menurunkan tangannya; mengabaikan tantanganku. “Gunakan waktumu untuk berpikir, Young,” dia menyeret setiap katanya. “Kuharap kau bisa menggunakan otakmu untuk merenungkan konsekuensinya. Ambil tawaranku selagi aku menggunakan cara halus atau kau akan menyesal andai aku menggunakan caraku yang tidak kau inginkan.” Selesai mengucapkan kalimat tersebut, Kyuhyun membalik badannya dan meninggalkan kamarku dengan membanting pintu.

Tubuhku merosot jatuh ke lantai begitu sosok Kyuhyun lenyap dari kamarku. Kutekan jemari-jemariku pada kedua pahaku dan kugigit bibir bawahku untuk meredakan gemetarannya. Aku yakin ancaman Kyuhyun bukan sekadar kecapan belaka dan hal itu membuatku sangat ketakutan. Bagaimana jika dia merealisasikan ucapannya untuk mengaborsi kandunganku?

Menggeser tubuhku, aku meraih ponselku dan menekan kontak Jessie. “Kumohon, bantu aku mempertahankannya,” rintihku begitu sambunganku dijawab oleh Jessie.

Aku memutuskan untuk menjaga bakal bayi ini, bukan karena ingin mengambil opsisi dari Kyuhyun, melainkan karena rasa tanggung jawab sebagai ibu. Andai boleh jujur, aku pun terkejut dengan berita ini dan berharap semuanya hanya terjadi di mimpi. Akan tetapi ketika segalanya nyata, haruskah aku menambah daftar perilaku bejatku dengan mengugurkan janin ini? Meskipun aku harus berhadapan dengan Kyuhyun sendiri, aku tetap pada pendirianku untuk menjaga kehamilan ini.

#

Aku menahan mulutku ketika dorongan muntah kembali menyergap. Meraih gelas air putih, aku meneguk isinya untuk menetralkan rasa mualku. Meskipun Jessie sudah memperingatkanku mengenai morning sick, namun hal ini tetaplah baru bagiku. Menyorong kursi makanku ke belakang, aku berlari ke bak cuci piring sembari membekap mulutku. Kumuntahkan isi perutku yang belum seberapa karena baru terisi beberapa suap skotel pagi ini. Perutku masih bergejolak meskipun sudah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan selain air. Aku membersihkan rongga mulut dan bibirku untuk menuntaskan muntahanku.

Ketika membalik badan, kujumpai Kyuhyun di meja makan dengan raut kesal. Dia menarik kasar serbet makan di pangkuannya dan menghempaskannya ke atas meja. Dia berdiri dan segera enyah dari pandanganku.

Mengatur irama napas agar keteganganku merileks, aku menghampiri meja makan. Nafsu makanmu menghilang karena rasa mual barusan, juga karena situasiku dan Kyuhyun. Meski demikian mengingat pesan Jessie agar aku tetap menerima asupan nutrisi, aku tidak lantas menyudahi sarapanku. Mengambil kotak container makanan, aku memasukkan sisa skotel dan beberapa butir anggur hijau serta beberapa siung jeruk Sunkist. Setelah selesai menatanya, aku menutup container dan memasukkan ke dalam tas.

Berjalan ke depan, dahiku mengerut saat menjumpai dua pria berseragam polisi sedang berbicara dengan Kyuhyun. Pandangan mereka bertiga mengarah kepadaku begitu aku muncul. Secara naluriah aku mengangguk singkat untuk menyapa, kemudian mendekat karena merasa kedua pria itu datang untukku.

Annyeonghaseyo, Ny. Cho,” sapa salah satu diantara keduanya yang membuatku risih.

Annyeonghaseyo,” balasku, “adakah yang bisa aku bantu?”

“Aku sendiri yang akan mengantarkannya. Jika kalian meragu, silakan kawal kami.” Kyuhyun menyela dan memberikan secarik kertas di tangannya kepada salah seorang di antara kedua polisi ini.

Aku menoleh ke arah Kyuhyun saat lamat-lamat mengerti situasinya. Tidak salah lagi, kedua polisi ini menjalankan tugas untuk melakukan penjemputan paksa karena aku tidak memenuhi panggilan penyidik sebanyak dua kali. Tanganku terangkat ringan saat Kyuhyun menganjurkan tangannya untuk menggenggam pergelangan tanganku.

“Kami mengerti,” kedua polisi tersebut undur diri dan keluar dari halaman rumahku menuju kendaraan mereka yang terpakir di depan.

Aku mengentakkan tanganku supaya terbebas dari Kyuhyun, namun tidak berhasil. Mataku memandang tajam untuk memberontak. “Aku bisa melakukannya sendiri,” tolakku.

Mengabaikan penolakanku, Kyuhyun menyeretku ke mobilnya. “Aku tidak meminta persetujuanmu,” dia lantas membukakan pintu bagian penumpang di sisi kemudi. “Masuk,” tandasnya.

Aku merangsek maju untuk mendesak Kyuhyun yang memerangkapku di badan mobilnya. “Ini masalahku. Aku juga tidak perlu mendengarkan pendapatmu.”

“Berhentilah membangkang tawaran dan perintahku, Young.” Kyuhyun menekan pinggangku agar aku bergegas menyusupkan tubuhku ke dalam mobil. “Bersikaplah kooperatif dalam situasi seperti ini,” bisik Kyuhyun di telingaku yang menggidikkan.

Aku memutar kepalaku dan benar saja, kedua polisi tadi mengamatiku dan Kyuhyun dari kejauhan. Jika aku menyalak seperti biasanya, maka bukan tidak mungkin penjemputan paksa ini akan berbuntut panjang. Merasa terdesak, aku mengikuti perintah Kyuhyun. Begitu duduk, kutarik dan kupasang ujung sabuk pengaman ke soketnya. Mataku mengikuti gerak Kyuhyun yang memutari kap depan mobil untuk mencapai sisi kemudi.

Sebelum menyalakan mesin, Kyuhyun menyumpalkan headset ke telinganya. Dia menoleh ke sisi spion untuk memundurkan kendaraan hingga keluar dari halaman rumah kami. Begitu melaju di jalanan, Kyuhyun menyuarakan sebuah kontak agar ponselnya menghubungi nama yang dia sebutkan. “Yeoboseyo, Han Gain-ssi. Tolong jadwalkan ulang semua operasiku hari ini. Alihkan pasien darurat medis ke dokter Kim Jong Woon atau dokter Jang Kibum. Jika tidak memungkinkan, maka anjurkan rujukkan ke rumah sakit lain. Aku tidak akan di tempat hingga siang atau sore ini,” cerocos Kyuhyun dengan cepat. Dari konten pembicaraannya, agaknya dia berbicara dengan perawat asistennya.

Menoleh ke sisi belakang, aku menemukan Hyundai putih mengikuti mobil ini.

“Pengacara Lee, ini aku Cho Kyuhyun,” Kyuhyun menghubungi orang kedua; Lee Hyusin, pengacaraku. “Aku dan Miyoung menuju kepolisian untuk memenuhi panggilan Miyoung sebagai saksi dalam kasus Dae-A. Tolong temui kami di sana sesegera mungkin. Maaf karena memberitahukanmu secara mendadak.”

Aku tersenyum kecut saat Kyuhyun juga menuntaskan pendampingan pengacara pada interogasiku. Padahal aku baru akan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Lee Hyusin-ssi. “Kau tidak perlu mengantarkanku dan melakukan ini itu untuk antisipasi.”

“Sepengetahuanku, aku masih berhak melakukannya,” jawab Kyuhyun ringan. “Akan kucoba meminta dispensasi waktu interogasi agar kau tidak perlu berlarut-larut mengalami cecaran penyidik.”

Aku tersenyum geli sekadar melecehkan usaha Kyuhyun. “Untuk kepentingan apa hingga kau merasa perlu melakukan urgensi itu?” Untuk mengantarkanku, Kyuhyun bahkan rela menelantarkan pasiennya. Jadi sudah semestinya jika aku menaruh kecurigaan terhadap sikapnya.

Kyuhyun menginjak rem dengan cukup keras saat berhenti di lampu merah hingga menyebabkan tubuh kami terlempar ke depan akibat kelembaman. “Jangan buat aku mengulang pernyataan yang sama, Young,” geramnya. “Bersikaplah kooperatif dan jangan membantahku!” Kyuhyun mengeraskan suaranya sambil memukul setir.

#

Aku mendongak dan memandang kaca satu arah yang berada di mukaku; berharap Kyuhyun masih berdiri di mukanya. Pandanganku memang tidak bisa menembus kaca tersebut, tetapi pikiranku terus berimajinasi bahwa figurnya ada di sana. Meskipun terjadi ketegangan pada hubungan kami semenjak kemarin, namun menyadari eksistensinya di sekitarku saat ini cukup melegakan. Setidaknya ada wajah familiar di tempat beratmosfer tidak bersahabat ini.

Pendampingan pengacaraku tidaklah membuatku cukup tenang karena bagaimana pun profesionalismenya dia, tetap tidak mampu meradiasikan rasa aman. Mungkin benar pengacaraku berada di ruangan ini untuk menemaniku saat membuat pernyataan atau alibi, namun aku tidak terlalu mengambil keuntungan dari keberadaannya.

Menilik jam tanganku, aku memiliki waktu kurang dari sepuluh menit lagi hingga sesi kedua interogasiku dimulai. Aku menghabiskan hampir dua setengah jam untuk sesi pertama. Mereka mencecarku dengan pertanyaan perihal peran dan jabatanku di Dae-A, terlebih yang berkaitan dengan proyek Disney. Aku menjawab setiap pertanyaan seperlunya saja; tidak terlalu dangkal, namun juga tidak terlalu detail. Loyalitasku terhadap Dae-A tetap kupegang.

Penyidik yang bernama Park Youngso masuk kembali ke dalam ruangan dengan map di tangannya. Dia meletakkan map tersebut di meja, kemudian menggeret kursi di mukaku. “Kita lanjutkan sesi ini, Ny. Cho Miyoung,” ucapnya sebagai pembuka. “Pada saat konferensi pers Dae-A tertanggal 22 Oktober 2013 dengan agenda pengumuman kerja sama Dae-A dengan Disney secara resmi, Anda tidak berada di lokasi konferensi. Padahal jelas bahwa Anda menduduki jabatan sebagai ketua tim arsitektur yang harusnya hadir. Bisa Anda jelaskan di mana keberadaan Anda?”

“Kondisi kesehatanku tidak memungkinkanku datang sehingga aku diwakilkan oleh rekan satu tim,” jawabku secara diplomatis. Dalam kenyataannya, meskipun kesehatanku terganggu, aku bisa saja memaksakan hadir. Akan tetapi deklarasi abeoji yang memanaskan situasi politik Korea Selatan menangguhkanku muncul di muka publik.

“Namun saat konferensi berakhir ricuh, seseorang menangkap gambar Anda keluar dari gedung Dae-A.”

“Aku dipanggil ke Dae-A sebelumnya untuk melakukan transfer materi kepada rekan satu timku yang mewakiliku di konferensi pers. Itu sebabnya aku berada di Dae-A.”

“Dengan kata lain, sebenarnya Anda cukup mampu hadir di konferensi pers, namun memilih menghindar,” usut Park Youngso.

“Aku memilih opsi teraman agar tidak mengacaukan konferensi dengan keadaanku yang kurang baik,” sanggahku. Hyusin-ssi membantuku untuk meluruskan sesi keduaku yang dipenuhi pertanyaan mengenai konferensi pers Dae-A. Tidak mengherankan mengapa penyidik begitu gencar mengejarku akan absensiku pada konferensi Dae-A. Kerusuhan kecil di depan publik terkait Disney memang berawal dari sana.

Mengusap wajahku, aku benar-benar merasa letih duduk di sini selama hampir lima jam. Setiap diberikan waktu istirahat, Kyuhyun menyempatkan diri masuk ke ruangan ini untuk menanyakan kondisiku. Walaupun hanya duduk dan menjawab pertanyaan, energiku rasanya sudah terkuras habis. Aku mengangkat tanganku untuk meminta jeda ketika kepalaku pening. Kupejamkan mataku dan kulintangkan telunjuk serta ibu jariku di dahi untuk mengurut kedua sisi pelipisku.

“Ny. Cho, Anda baik-baik saja?” suara Hyusin-ssi terdengar di sebelahku.

Aku berupaya mengangguk dan menahan kesadaranku tetap di tempatnya. Menyandarkan punggungku, aku menyilakan penyidik untuk melanjutkan tugasnya. Kepalaku menegak ketika mendengar bunyi ketukan keras berulang di pintu. Akibat ruangan yang kedap suara, aku tidak bisa mencuri dengar keributan yang terjadi di luar. Kuharap Kyuhyun tidak berbuat di luar kendali  di luar sana.

Dua jam berlalu dan Park Youngso akhirnya menyudahi proses penyidikkannya terhadapku. Tubuhku terasa lunglai dengan rentetan sesi interogasi hari ini hingga untuk bangun dari duduk rasanya begitu berat. Terlebih karena kehamilanku, aku kembali mengalami mual. Oleh karena masih trimester pertama, Jessie menginformasikan bahwa mualku dapat berlangsung sepanjang hari. Mengangkat kedua tanganku, aku membekap mulutku ketika dorongan muntah lagi-lagi hadir.

“Kau bisa berdiri?” tanya Kyuhyun yang langsung menghambur ke dalam begitu sesiku berakhir. Dia menganjurkan tangannya untuk membantuku bediri.

Menerima pertolongan Kyuhyun, aku menegakkan tubuhku. Akan tetapi ketika mengambil langkah pertama, aku limbung ke depan. Untungnya Kyuhyun dengan sigap menangkapku ke pelukannya.

“Kita pulang, Young,” ucapnya yang menentramkanku. Dia melepas jasnya dan menyelimutkannya melalui bahuku. Tangannya memproteksiku dengan melingkari tubuhku.

Kedekatan kami membuatku dapat menghirup wangi parfum maskulinnya yang beraroma kuat tercampur dengan bau keringatnya yang manis. Sedikit wangi lemon grass dan vanilla tercium olehku. Terlebih keadaan Kyuhyun saat ini yang hanya mengenakan kemeja bewarna hijau mint-nya meleluasakanku untuk menikmati aromanya. Setelah mencapai mobilnya yang terparkir di basement, aku baru menyadari bahwa rasa mualku telah menghilang. Mengernyit heran, aku seolah dikecewakan ketika tubuh kami memisah.

Damn, what’d happen to me? Umpatku dalam hati.

#

“Kudengar kemarin kau menjalani pemeriksaan hampir tujuh jam?” tanya Luhan yang mendatangi mejaku. Dia membawa berol-rol desain apartemen milik Shinan Grup yang sedang kami garap sebagai selingan dari proyek Disney.

Aku bergumam untuk mengiyakan pertanyaan Luhan. Semalam aku langsung tumbang begitu sampai rumah. Menganjurkan tanganku ke muka, aku menjumput crackers dan memasukkannya ke mulutku. Pagi ini aku lagi-lagi memuntahkan sarapanku; sayangnya kondisi ini bisa berlangsung seharian. Sesuai anjuran Jessie, aku memakan makanan dalam jumlah sedikit-sedikit, namun kerap. Selain itu Jessie menyuruhku untuk mengemil dan tidak melupakan minum air putih yang cukup. Tidak seperti biasanya, kini di mejaku terdapat tiga toples kecil berisi camilan, dua boks container makanan, serta sebotol air minum berukuran satu liter.

“Sejak kapan nafsu makanmu meroket, huh?” tanya Luhan sambil mengangkat sebuah toplesku.

Aku memelorotkan bahu dan mengembus kesal. “Letakkan toples itu,” suruhku. “Lagipula tidak ada yang aneh jika sesekali menyanding camilan, bukan?”

“Menjadi hal yang tidak wajar karena biasanya kau membatasi konsumsimu untuk,” Luhan mengibaskan telunjuknya, “menjaga bentuk tubuh.” Dia menyelisikku dengan menelengkan kepalanya ke kanan dan kiri secara bergantian. “Oh!” kagetnya sembari menutup mulut, “Jangan katakan kau sedang hamil, Youngie?”

Aku meletakkan pensilku dan memandang malas Luhan. “Jika ya, apa mau dikata?”

Gezz, kau mengandung anak suamimu?” ucap tak percaya Luhan dengan membulatkan mata dan mulutnya.

“Kecuali jika aku tidur dengan pria lain,” selorohku tidak bersemangat mengingat bahwa Kyuhyun sendiri belum bisa menerima kehadiran janin ini.

Heish,” desis Luhan mengolokku. “Mungkin suatu hari aku bisa berharap pria yang kau tiduri adalah aku,” tunjuk Luhan pada dirinya sendiri.

“Kau sinting,” komentar pedasku pada pernyataan Luhan yang kutahu hanya sebuah lelucon. “Ada apa?” tanyaku pada maksud Luhan menghampiri meja kerjaku.

Mengusap tengkuk dengan gugup, Luhan menyeringai kaku. Lelaki ini sungguh membingungkanku dengan mood-nya, sebentar tadi komikal sekarang menjadi tegang. “Perlombaan fotografer itu—“ tunjuk Luhan di papanku.

Oh,” aku menoleh dan membaca ulang poster tersebut. Tertera waktu deadline pengumpulan karya yang masih sekitar lima hari lagi. Sebulan ini aku bahkan hampir-hampir melupakan perlombaan tersebut karena dari awal memang tidak berniat mengikutinya.

“Kau tidak berpartisipasi?” tanya Luhan dengan nada heran.

“Aku sedang malas,” jawabku sekenanya.

Oh, ayolah Youngie. Aku sudah menyerahkan karyaku dan berniat menantangmu untuk bertaruh.”

“Kalau begitu kali ini kau harus kecewa karena aku tidak berniat mengikutinya.”

“Kau menjemukan!” kesal Luhan. “Apakah menikah dengan tuan sooh itu menumpulkan kegemaranmu?”

“Xi Luhan,” panggilku penuh pada nama Luhan untuk menggertak.

Ara…ara…” Luhan mengangkat bahunya. Meninggalkan mejaku, dia berbalik lagi sebelum menjauh. “Tapi aku tidak bercanda mengenai dirimu yang menjadi menjemukan setelah menikah.”

Aku memendelikkan mataku dan mengeraskan tangkupan rahangku untuk mengusir Luhan.

Arraso!” pekik Luhan sambil mengentakkan langkahnya.

#

Aku mempercepat kakiku untuk berlari mencapai kamar kecil begitu kurasakan muntahanku sudah tertampung di rongga mulut. Padahal siang hingga sore ini aku melega karena rasa mual tidak muncul, tetapi euforiaku tidak berlangsung lama. Baru saja aku menginjakkan kaki di rumah, gejolak perutku menjadi.

Memuntahkan makan siang dan soreku, bibirku terasa senyar ringan. Sebelah tanganku menumpu di bibir wastafel untuk berpegangan saat tubuhku melemah, sementara tanganku yang lain menyibakkan rambut dan menjaganya agar tidak menjuntai ke dalam bak wastafel. Jemariku yang berada di atas porselen wastafel menekuk ketika mulutku secara terus-menerus mengeluarkan cairan.

Aku menggeser sikuku yang gemetar untuk menampu air yang akan kugunakan untuk berkumur. Memanjangkan jemariku, aku kesulitan untuk menjangkau keran karena tidak mungkin melepaskan tumpuan sikuku. Bisa-bisa tubuhku melorot jatuh andai tumpuanku hilang. Aku mengangkat kepalaku saat sebelah tangan yang mencekung menampungkan air. Melihat refleksi wajah datar Kyuhyun di cermin, aku segera menerima air di tangannya untuk berkumur. Setelahnya, dia mengusapkan air bersih ke bibirku untuk membersihkan sisa muntahan.

Kyuhyun mengelap bibirku dengan handuk saat tubuhku sudah menegak. Dia juga mengeringkan sebelah tanganku yang basah. Sementara Kyuhyun sibuk membantuku, aku mengangkat wajahku untuk mencermati ekspresi kakunya. Matanya terfokus tajam, sedangkan bibirnya tidak tertarik sama sekali.

Mencoba membuat hipotesis, aku tanpa sengaja mengendusi aroma tubuh Kyuhyun. Wanginya yang mengaliri penciumanku merilekskan otot-otot perutku yang tadinya kaku. “Kyu-ah?”

Hmm,” gumamnya.

“Boleh aku meminta preferensi parfummu?” tanyanya dengan nada rendah. Kutekan rasa gengsiku sedalam-dalamnya untuk mampu menanyakan hal tersebut. Aku mendengar desahan napas Kyuhyun yang dihiperboliskan, sebelum merasakan kedua tangannya melingkari pinggangku untuk menarikku mendekat. Wajahku menabrak dadanya pelan; membuatku bebas menciumi wanginya. “Kau,” ucapku ragu, “tahu?”

“Mengidamkan wangi seseorang bukanlah hal baru bagi wanita hamil, bahkan juga sebaliknya; menjauhi wangi tertentu yang menambah mual,” perjelas Kyuhyun.

Memperdengarkan keterangan Kyuhyun, Aku mengadu dahiku ke dadanya. Bodohnya diriku yang melupakan kenyataan bahwa dia juga seorang dokter. Menghirup dalam aroma tubuh Kyuhyun, aku secara rakus meredakan gejolak morning sick-ku; jika patut disebut morning sick karena realitanya aku mengalami mual sepanjang hari. Kubenamkan wajahku ke dada Kyuhyun untuk menguasai seluruh aromanya.  “A couple seconds,” mintaku agar kami mempertahankan posisi ini.

Have your time,” jawab datar Kyuhyun.

Setelah beberapa lama memeluk Kyuhyun, aku merasa cukup untuk menormalkan sistem pencernakanku. Mendorong ringan tubuhnya, aku melepaskan diri. “Terima kasih,” lirihku. Aku menarik napas panjang untuk menyampaikan uneg-uneg yang berada di otakku. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan kehamilanku akan merusak hubunganmu dengan Siwon. Aku tidak memintamu bertanggung jawab atas bakal bayi ini karena kuanggap,” aku menggigit bibir bawahku, “bayi ini milikku.”

“Young, berpikirlah masak-masak,” Kyuhyun menggunakan nada biasa; bukan meninggi. “Situasiku, situasimu, dan situasi kita.”

Aku mendongak untuk bertemu pandang dengan Kyuhyun. “Aku hanya akan mempertimbangkan situasiku karena jikalau pun situasiku tidak memungkinkan untuk menerima bayi ini, maka akan kubuat sebaliknya.” Aku melangkah menjauhi Kyuhyun untuk memupus diskusi kami. “Karena seperti kataku, bayi ini milikku seorang.”

TBC*

Note:

I’d try my best to update this chapter. Sorry, for kept you waiting almost three freakin weeks.

Jangan membenci Kyuhyun, dia punya alasan mengapa menolak kehamilan Youngie; disamping hubungannya dengan Siwon. Well, katakan padaku pemikiran kalian setelah membaca chapter ini?

Pics spam:

 This’s sexy:tumblr_mx99heTW6k1rcuz3oo1_500

And I love to see this pic:
1394402_10152022493704941_1130948785_n

[1] BFF: Best Friend Forever.

203 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [10]

  1. VivitYulia says:

    Di sisi lain seneng bngettt denger berita miyoung hamil. tpi di sisi lain keseelll sama sikapnya kyuhyun. gk ngrty sma alasannya dia, entah itu tntang ksehatannya miyoung atau hbungannya sma siwon te2p aja hal itu gk membenarkan sikap dia buat gu2rin clon bayinya.

  2. sparkyukyu says:

    hamil? Kok bisa?
    Kenapa kyuhyun sangat ingin menggugurkannya. Apa karena menghawatirkan kondisi miyoung atau karena tidak inin siwon tau?
    Tapi walaupun demikian dia tetap perhatian dengan tetap mendapingi istrinya.

  3. fida says:

    romantis bgt si kyutif nya…..
    suka deh…… berhrap bnul sma si baby….
    semoga aj jafi tali pengikat buat kyuhyun sma tiffany….

    buat authornya udh keren bgt deh sma jln crtanya…

  4. Otakku buntu apa alasan lainnya?ayolah g mungkin siwon akan mengutuk kehamilan miyoung bukan?!.itu terlalu mengerikan walau cuma dibayangkan saja.aku suka gambar miyoung dengan menggendong bayi diatas.itu beneran apa editan author.terlihat sangat natural.daeeebbaaaakkkkkk!!!!….

  5. Jdar…. kan.. pasti yg di pass itu pas bikinnya. Ah sial saya sudah menebak. Dan wala… di sini Miyoung beneran hamil. Duh saya yakin sekali miyoung beneran ada rasa. Hmmm sotoy haha. Tapi lagi2 saya suka hubungan kyu-young ini lah pokoknya. walau ada alasan2 tertentu dari kyu buat nemenin miyoung atau perhatian sama miyoung. It’s no problem lah.. i loved to see their ship haha

  6. Wah sudah bawa bawa konflik politik nih serem deh tentara korea utara minyoung semoga aja kandungannya gak kenapa kenapa kyuhyun sepertinya sudah mulai sayang nih sama minyoung

  7. Oke belum baca part 7 n 8 dan kaget baca miyoung hamil
    Jujur masih bingung sama sifat kyuhyun yg sbntr2 peduli sbntar2 acuh mungkin karena kbetulan ada 2 part yg belum kebaca makanya agak bingung
    Skalinya peduli bikin meleleh sendiri bacanya sekalinya acuh nyesek sekali bacanya
    Btw aku suka sekali cara menulis dan pemilihan katanya author
    Pokoknya thumbs up deh!!

  8. windy3288 says:

    gue gak tau kapan bikin nya tbtb hamil miris banget😦 (efek belom dikasih pw,)

    sebenernya apa alasan kyu gak mau nerima bayi ituu ??? feeling aku sih lebih ke menjaga kesehatan miyoung..

    siwon juga belom tau kan perihal kehamilan miyoung .. siapatau dengan memberitahu siwon bisa menyadarkan mereka dan merelakan kyu sepenuhnya untuk istri dan anaknya ..

  9. abellia cho^ says:

    ukh knp rasanya sakit minyoung berkata seprti itu bhwa bayi itu hanya miliku..poor
    kyu ada apa dgn persaan mu?
    knp tak mau menerima ajh byi itu, apa yg sbnrnya kyu kwatirkn?
    hufttt

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s