Behind Those Beautiful Eyes [11]


BTBE 13 (2)

Behind Those Beautiful Eyes [11]

Arsvio | Tiffany Hwang Miyoung, Kyuhyun Cho, Siwon Choi | PG – 15 | Stranger (Secondhand Serenade: A Twist In My Story)

Flamed Up

Aku kurang mengerti bagaimana mendiskripsikan perasaanku dengan apik. Di satu sisi aku merasa kepayahan menangani trimester pertama, namun di lain sisi aku mengharu karena ada seseorang yang bergantung padaku. Adanya makhluk mungil yang tumbuh di rahimku meningkatkan proteksiku pada diriku sendiri; mengurangi pemakaian high heels, membatasi jam lemburku, atau pun berusaha tidak memforsir energi dalam pekerjaan. Tidak seperti adat saban dimana aku kurang mengindahkan pola makanku, kini aku ekstra hati-hati untuk mengatur asupan nutrisiku. Semua ini merupakan hal baru bagiku.

Mungkin lebih mudah menuruti perkataan Kyuhyun untuk mengaborsi janin ini ketimbang mempertahankannya. Aku cukup menahan kesakitan sebentar, setelahnya terbebas dari kerepotan menanggung kehamilan ini. Lagipula dari satu perspektif, aku membenarkan pendapat Kyuhyun bahwa tidak ada alasan bagiku untuk mempertahankan bakal bayi ini. Akan tetapi aku tidak bisa mengabaikan keberadaan sebuah nyawa di dalam rahimku dan membuangnya begitu saja. Lagipula, bakal bayi ini tak ubahnya seperti diriku; kehadirannya sama-sama tidak diinginkan.

Kyuhyun sedikit banyak membantuku menghadapi gejala trimester-ku dengan hal-hal kecil seperti menawarkan tumpangan ke kantor, menyediakan vitamin, atau pun mengecek kondisi fisikku. Dia juga merelakan dirinya untuk kubaui wangi khasnya setiap menjumpaiku dalam kondisi mual atau muntah. Akan tetapi seluruh tindakannya lebih bermakna pertolongan seorang dokter daripada uluran peduli seorang calon ayah.  Lebih daripada itu, aku tidak mengharapkan dia meluluh untuk menerima janin ini.

Aku melebarkan jemari-jemariku untuk membuka dan menapak di lembutnya kain katun kemeja yang Kyuhyun kenakan. Kugeser arah telapak tanganku menjelajahi punggung tegapnya dan kusorong hidungku lebih dalam melawan kontur dada bidangnya. Aku mulai menghafal hangat tubuh Kyuhyun yang terhantar setiap kali kulekatkan pipiku di permukaan tubuhya. Indera perabaku juga mulai mengingat relief permukaan tubuhnya yang padat. Aku mencumbu baunya dengan tarikan napas panjang, sebelum perlahan kutarik tubuhku dari pelukannya. “Gomawo,” lirihku.

Menarik kedua tanganku keluar dari jas Kyuhyun, aku merasakan sedikit kekecewaan. Masih kugantung tanganku di pinggangnya, enggan untuk memisah dan berupaya menyerap momen terbatas ini sebanyak-banyaknya. Meskipun belum merasa cukup, aku menyudahi keintiman kami dengan memundurkan badanku hingga tautanku padanya benar-benar terlepas. “Aku akan membawa mobil sendiri,” putusku untuk mengantisipasi tawaran tumpangan dari Kyuhyun.

“Kemana?” pertanyaan singkat Kyuhyun merefleksikan reaksi tanggapnya yang cepat. Sudah barang tentu dia berpraduga aku pergi ke tempat lain, selain ke kantor. Melongokkan kepalanya melaluiku, dia mengerutkan keningnya setelah melihat tiga tas yang kuletakkan di sofa; tas kerja, tas berisi makanan dan camilan, serta tas kamera. “Kau ingin memeriksa lahan proyek?” tanyanya dengan ragu dan kaku seraya melipat kedua tangan di depan dada.

“Tidak,” jawabku sembari mengalungkan tali tas kamera ke pundakku, “aku hanya ingin mencari,” aku memanjangkan napas dan merendahkan bahuku, “udara segar.” Tidak ada salahnya kuturutkan diriku untuk menekuni hobi fotografiku yang akhir-akhir ini terabaikan.

“Spesifikasi tempatnya?” tanya Kyuhyun pada detail tujuanku.

Aku memutar tubuhku menghadap Kyuhyun dan memandangnya dengan determinasi. “Dengar,” aku memilah diantara kosakata sarkatis yang kupunya untuk memperhalusnya, “aku hanya ingin keluar dari rutinitasku barang sejenak untuk memotret beberapa obyek, kemudian kembali ke rumah dengan utuh.”

“Itu artinya tidak menjadi masalah jika kau didampingi sopir.” Kyuhyun mengambil ponselnya di atas meja makan.

“Aku butuh privasi,” tekanku untuk menolak ide Kyuhyun.

“Dan privasi yang kau minta tidak menjamin kau kembali ke rumah dengan utuh,” olok Kyuhyun. Setelah jemarinya berkutat di permukaan layar ponsel, Kyuhyun mengangkat ponsel tersebut ke telinga. Dia benar-benar tidak mengacuhkan penolakkanku. “Yeoboseyo, aku membutuhkan seorang so—“

Berjalan mencapai tempat Kyuhyun berdiri, aku merebut ponselnya kemudian mematikan sambungannya. “Aku telah mengatakannya dengan jelas dan aku yakin kau tidak tuli untuk mendengarkannya.” Aku menyorong ponsel Kyuhyun ke dadanya dengan kesal untuk memberikan penekanan.

“Setiap aku menjumpaimu berada dalam waktu privasimu, kau tidak lebih dari seseorang yang tengah menyiksa diri,” sinis Kyuhyun. “Ataukah kau tidak menyadari kebiasaan burukmu?” Kyuhyun mengangkat alisnya dan menandaskan tatapannya terhadapku.

“Jangan membuatku semakin muak dengan segala kepalsuan perhatianmu, Kyu-ah.” Setelah menahan diri, akhirnya aku menyuarakan pendapatku mengenai bentuk perhatian Kyuhyun terhadapku. Lelah hati aku menerima semua pertolongan Kyuhyun yang dilakukan dengan wajah kejur, tanpa secercah emosi.

“Aku tidak pernah melakukan suatu hal untuk kesia-siaan.”

“Dengan seperti itu seolah kau ingin mengutarakan bahwa perhatianmu memiliki intensi. Untuk apa? Mensugestiku melakukan aborsi, hah?” kalapku.

“Pernahkah kau berpikir dari berbagai sudut mengenai impak kehamilanmu, Young?” tanya Kyuhyun dengan nada menantang.

“Selain bahwa janin ini berpotensi merusak hubunganmu dengan Siwon, aku tidak menemukan hal lain untuk dikhawatirkan.”

“Aku mulai jengah dengan perucapan tersebut, Young! Kau seakan mencari kambing hitam untuk ditempatkan sebagai bagian terburuk.”

“Lalu hal apa lagi yang membuatmu ingin mengaborsinya selain kepentingan kakakku?” tanyaku dengan mengeraskan volume suaraku.

“Kau,” ucap singkat Kyuhyun. Pandangan menghujatnya seakan-akan mampu mengulitiku. “Kau adalah alasan mengapa aku tidak bisa menerima janin tersebut.”

“Jangan membuat ironi, Kyu-ah,” sengirku.

“Tidakkah kau berpikir andai sewaktu-waktu kewarasanmu terkikis hingga kembali menggiringmu pada percobaan bunuh diri, huh?” Kyuhyun berucap dengan tenang sembari berjalan mendekat.

Tubuhku bereaksi cepat terhadap sindiran Kyuhyun. Kedua tanganku mengepal erat, sementara kakiku telah gemetar.

“Tidakkah kau berpikir andai ingatan yang kau buang kembali sewaktu-waktu, lalu fisikmu tidak mampu menanggungnya, huh?”

“Diam di tempatmu,” perasaanku mulai was-was, “Hyunnie.”

“Kenapa, Young? Kau mengubah sapaanmu untuk meluluhkanku?”

“Kubilang diam di tempatmu!” teriakku sebagai manifestasi keadaan terancam.

“Kau sendirilah yang membuat kehamilanmu beresiko! Pola hidupmu, konsumsi sedatifmu, juga kondisi fisik dan psikismu!” ucap Kyuhyun dengan meledak-ledak. “Bukan hanya membahayakan nyawa bayi itu, lebih buruknya kau membahayakan nyawamu sendiri!”

Aku menggantung rahang bawahku terbuka, sambil pandanganku melekat pada Kyuhyun. Lidahku terasa diikat kuat agar tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

“Keputusanku masih belum berubah, Young. Gugurkan kandunganmu,” Kyuhyun menurunkan intonasi bicaranya.

Aku mengeratkan kepalan tanganku hingga merasakan kuku-kukuku menusuk daging telapak tangan. Mendengar perucapan sadisnya sekali lagi mengenai aborsi, memanaskan kupingku. Seberapa keras alasan Kyuhyun untuk menolak janin ini, aku juga tetap pada pendirianku. Mungkin Kyuhyun benar, tapi jikalau pun aku mati, setidaknya aku memiliki alasan baik untuk mati.

Kepala kami berdua tertoleh berbarengan ketika mendengar dering bel pintu. Kyuhyun menurunkan ketegangan bahunya, “Akan kubukakan.”

Seiring Kyuhyun yang menjauh untuk menanggapi dering bel pintu, ponselku juga berdering. Aku melihat nama yang ditampilkan di layar, kemudian segera mengangkatnya. “Yeoboseyo, ada apa Jess?”

“Mertuamu mengetahuinya.”

Ucapan singkat Jessie menggaung di telingaku, bersamaan dengan sosok yang muncul dari ruang tamu dengan ekspresi murka. Bagaikan gerakan lambat, aku menurunkan ponselku dari telinga begitu menerima maksud Jessie.

“Won!” Kyuhyun berjalan cepat meraih lengan kakakku, namun cekalan Kyuhyun terlepas dengan sekali kibasan. “Choi Siwon!” pekik Kyuhyun yang akhirnya mampu menahan kaki kakakku.

“Aku tidak ingin berdebat denganmu, Kyunie. Urusanku kali ini adalah dengan adikku.” Siwon menolehkan kepalanya ke arahku. Mata elangnya menyorotkan tatapan intimidasi seperti lazimnya.

Jika dalam situasi wajar aku mengangkat dagu dan mengangkuhkan tatapanku untuk membalas kakakku, maka kali ini aku memilih mundur perlahan. Bukan karena aku menyerah terhadapnya, melainkan karena ancaman yang Siwon bawa untukku maupun kandunganku.

“Jangan harap kau bisa menggeser langkahmu lebih jauh, Youngie.” Meskipun Siwon tidak mengeraskan suaranya, namun ketegasannya sudah mampu mentransmisikan gertakan.

“Apa maumu?” kutegarkan suaraku melawan rasa takut.

“Siapa ayah dari bayi yang kau kandung?” tanya frontal Siwon.

Aku tertawa getir untuk melecehkan pertanyaan Siwon. “Apa pedulimu? Jika kau sudah mendengar kehamilan ini, bukankah kau sendiri sudah berspekulasi mengenai ayah bakal bayi ini, hum?”

“Wonnie…” panggil Kyuhyun dengan lemah, namun tidak mengurangi intensitas ketegasannya.

“Aku tidak ingin membuat spekulasi yang mengaburkan logikaku. Tidakkah cukup bahwa aku di sini karena aku peduli?” jawab kakakku yang membuatku mengerutkan hidung.

“Tidak,” tolakku pada pernyataan Siwon, “kau di sini karena kau takut. Kau takut andai aku mengandung benih kekasihmu dan kau takut andai kehamilan ini meruntuhkan mimpimu.” Aku tidak perlu bertanya alasan Siwon melabrakku di pagi seperti ini karena aku percaya asumsiku benar adanya.

Mendengar ucapanku, Siwon mengeraskan ekspresinya. “Hentikan omong kosongmu dan jawab pertanyaanku!”

“Menilik ucapan dan sikapmu, sungguh memalukan memperdengarkan kesangsianmu atas pendapatku.” Aku meremehkan gertakan kakakku.

“Choi Miyoung! Jaga mulutmu atau—“

“Atau apa?” kukukuhkan keangkuhanku.

“Jangan kira aku tidak bisa membuatmu menyesali arogansimu.” Telunjuk Siwon mengacung ke arahku untuk menekan ucapannya.

Cish,” aku mendesis, “sudah banyak yang kusesali dalam hidupku termasuk lahir dari darah yang sama denganmu.” Aku dapat melihat Siwon membelalakkan kedua matanya; tidak menyangka bahwa aku mengetahui rahasia kotor identitasku. “Jangan tanyakan bagaimana aku mengetahuinya,” kuangkat tanganku ke udara saat Siwon membuka mulutnya. “Dan aku juga menyesal mengapa kalian tidak membiarkanku membusuk saja di Gonjiam.”

“Choi Miyoung…” desis kuat Siwon memanggil namaku sekali lagi.

“Hentikan memanggil namaku demikian rupa!” teriakku sebab aku tidak menyukai bagaimana kakakku mendesiskan marga ‘Choi’ di depan namaku.

“Lalu harus bagaimana aku memanggilmu, huh? Hwang Miyoung-kah?” Siwon merentang kedua tangannya di udara, sekadar cukup untuk menguatkan wibawanya. “Lelaki bermarga Hwang itu bahkan tidak pantas kau panggil ayah setelah apa yang dia lakukan padamu!”

Kepalaku terasa tersambar kilasan cahaya begitu otakku mencerna perucapan Siwon. Puzzle kenanganku seolah muncul, meskipun aku baru menemukan sudutnya saja. Melangkah mundur, aku memijit pelipisku.

“Hentikan Wonnie.”

Aku mengangkat kepalaku sedikit, melihat usaha Kyuhyun untuk melerai perdebatanku dengan Siwon. Memanjangkan napasku, aku mengatur iramanya karena dadaku yang tiba-tiba menjadi sesak. Siwon bukan tipikal pembual sehingga aku meyakini ucapannya mengenai ayah tiriku bermakna sesuatu. Akan tetapi aku sangsi Siwon akan menjelaskan maksud ucapannya andai aku bertanya.

“Aku tidak ingin menyakitimu, Kyuhyun-ah. Jadi kumohon menyingkir dari kami,” tolak Siwon.

Hyung, tidak seperti ini,” bujuk Kyuhyun dengan menggunakan sapaan penghormatan.

Memegang dadaku, aku mendapatkan kembali ketenangan sistem pernapasanku. Aku menatap wajah Siwon, kemudian beralih ke wajah Kyuhyun. Keduanya memiliki mimik yang mengimplisitkan kecemasan yang berbeda; yang satu kecemasan karena takut mendengar kenyataan mengenai kehamilanku, yang lain kecemasan andai aku mengeluarkan sarkasme yang memperburuk suasana. Menarik sudut bibirku, aku membuka mulutku. “Jika kedatanganmu hanya untuk mengkonfirmasi kehamilan ini, maka kau tidak perlu mengkhawatirkannya karena,” aku mengangkat pandanganku, “Kyuhyun tidak memiliki kewajiban dan hak apa pun akan bakal bayi ini.” Melalui ucapanku, aku dan Kyuhyun bertukar pandang sengit.

Wajah Kyuhyun memerah dan mengaku, terlihat jelas menahan amarah. Rahangnya yang kejur aku harap tidak membuka dan mengucapkan kalimat yang dapat meruntuhkan ucapanku sebelumnya.

“Aku tidak bertanya hal itu, Youngie,” Siwon melangkah mendekatiku, “Aku bertanya, siapa ayah dari bayi yang kau kandung?”

Aku memaku kakiku agar tidak beranjak dari posisiku kini. “Terangkan dahulu ucapanmu mengenai ayah,” aku mengulum ludahku, “tiriku.”

Siwon meninggikan sebelah alisnya hingga hampir menyentuh batas rambut. “Apakah kau sedang menawarkan sebuah barter, Youngie?” Dia menyeringai untuk memberikan kesan keangkuhan. “Kau akan menyesali hal yang kau minta.”

“Untuk sebuah kebenaran, aku lebih menyesal jika tidak mengetahuinya.”

“Tidakkah lebih menarik andai kau mengingatnya sendiri? Dan saat ingatan tersebut kembali,” Siwon membuka tangan terkepalnya di depan wajahku, “blum, kenangan itu menghancurkanmu.”

“Choi Siwon…” desus Kyuhyun yang berdiri beberapa langkah di belakang Siwon, namun terabaikan.

“Kau pikir, aku belum hancur hingga perlu hancur sekali lagi?” Aku tidak memasang wajah memelas, melainkan wajah penuh determinasi. “Bahkan mungkin semenjak aku menapakkan kakiku di keagungan keluargamu, aku sudah hancur.”

Cish, aku lebih memilih keagungan semu keluargaku daripada,” Siwon mencondongkan badannya ke araku, “berbaur dengan seorang laknat seperti Hwang yang hampir merebut—“

“Aku ayah dari bakal bayi yang dikandung Miyoung,” Kyuhyun secara tiba-tiba memotong nada meninggi Siwon dan menyisip diantaraku dengan Siwon.

Aku menahan tarikan napasku dan membelalakkan mata atas pernyataan terus terang Kyuhyun. Secara spontan, kutarik lengan Kyuhyun dari belakang supaya dia menghentikan kegilaannya.

Mwo?” celetuk ketidakpercayaan Siwon. “Aku tidak salah dengar kan? Kau bergurau, Kyuhyun-ah?” Siwon mencengkeram kerah Kyuhyun hingga Kyuhyun tersentak ke arahnya.

“Dia membual!” ucapku spontan ketika panik. Aku menggeser diriku sehingga berada di samping mereka berdua. Menggapai lengan Siwon, aku mencoba melepaskan cengkeramannya pada Kyuhyun.

“Diam!” bentak Kyuhyun sambil memandangku murka. Dia mengembalikan tatapannya pada Siwon. “Bukankah kau di sini untuk mengetahui hal ini, Hyung? Setelah kau mengetahuinya, apa yang akan kau perbuat, hah? Menghukumku?” tantang Kyuhyun, “maka hukum aku.”

“Cho Kyuhyun!” sentak Siwon sambil mengeratkan cengkeramannya hingga tubuh mereka hampir berimpit dan wajah mereka bersemuka. “Beraninya kau—“

“Mengkhianatimu?” terus Kyuhyun pada ucapan Siwon. “Lalu siapa yang patut dipersalahkan di sini?” tanya retoris Kyuhyun dengan nada sinis, “kau! Kau Choi Siwon yang kupersalahkan.”

Aku menurunkan tanganku dari lengan Siwon seraya mengerutkan dahi pada pernyataan Kyuhyun.

“Kaulah yang menganjurkanku untuk menikahi adikmu sendiri. Kaulah yang memberikan ide gila ini!”

Ledakkan amarah Kyuhyun membuatku mundur dari mereka. Logikaku menggantung di awang-awang memperdengarkan pengakuan Kyuhyun.

“Aku melakukannya untuk hubungan kita!” sentak balik Siwon. “Kau jelas mengetahui hal itu.”

“Itu hanya dalihmu, Won! Egomu untuk mengamankan dirimu sendiri!”

Aku seperti seekor rusa ditengah-tengah dua harimau yang sedang beradu; bodoh menunggui keduanya bersiteru.

“Kau berpikir dapat mengendalikan kami?” Kyuhyun masih mempertahankan nada meningginya, “Kau salah besar, Won.”

“Aku tidak mencoba mengamankan diri dan mengendalikan siapa pun. Kau sendiri memahami situasi sulit kita untuk bersama di negara ini dan aku berusaha memberikan solusi agar kita—“

“Berhenti!” potong Kyuhyun. “Berhenti mengatasnamakan hubungan kita untuk membenarkan gagasanmu. Sejak awal, kau hanya melarikan rasa frustrasi dan keputusasaanmu ke dalam hubungan kita.”

“Dan kau pikir dirimu sendiri tidak demikian?”

“Ya!” jawab lantang Kyuhyun. “Aku tidak memungkiri bahwa aku memilih opsi teraman untuk memuaskan hasratku, namun seiring waktu aku menginginkan hubungan ini lebih dari sekadar ikatan seksualitas.”

“Apakah rencana masa depan kita tidak membuktikan bahwa aku juga menginginkan hubungan ini berlanjut?” geram Siwon.

Kyuhyun menggeleng lemah untuk menyangkal Siwon. “Aku tahu kau hanya berupaya mengawetkan persembunyian atas kekecewaanmu.”

“Kyuhyun-ah, kita pernah membahas masalah ini dan bersepakat—“

“Cukup, Wonnie. Aku lelah memperdengarkan alibimu.” Kyuhyun menyentak lengan bawah Siwon untuk membebaskan diri. “Aku bersalah dalam hubungan ini, demikian juga dirimu,” Kyuhyun memberi jeda, “Mungkin saat ini, berpisah adalah jalan terbaik,” lirihnya syarat ketetapan.

Aku memekik halus begitu penglihatanku menangkap tangan Siwon yang melayang di udara berbarengan bunyi tamparan keras. “Kyu-ah,” kakiku melangkah cepat secara spontan mendekati Kyuhyun yang telah tersungkur. Menangkap lengan atas Kyuhyun, aku bermaksud membantunya berdiri. Kudongakkan pandanganku sekadar menyaksikan raut terkejut Siwon pada kelakuannya sendiri.

Siwon mengamati telapak tangannya, kemudian mengepalkannya dengan gemetar. Dia menjatuhkan pandangan terluka sebelum meninggalkan kami dengan langkah cepat.

“Siwonnie!” panggil Kyuhyun sigap. Dia segera bangun, kemudian menekan kedua lengan atasku. “Jangan pergi kemana pun hingga aku kembali,” pesan Kyuhyun padaku sebelum dia berlalu.

Aku menurutkan tubuhku melemah di lantai, lalu tersenyum sakartis. Berada di tengah Kyuhyun dan Siwon yang bertengkar, yang salah satu penyebabnya adalah aku, bukanlah hal yang patut kusorak-soraikan. Disangkal atau tidak, aku tahu mereka saling mengisi dan membutuhkan satu sama lain lebih dari kebutuhan seksualitas yang Kyuhyun sebutkan.

#

Aku melirik angka pada jam digital dashboard mobil. Sudah hampir empat jam berlalu dari kejadian pagi ini, sementara Kyuhyun sama sekali belum menghubungiku; kemungkinan besar dia belum pulang ke rumah dan menemukan absensiku di sana. Jangan harap aku menuruti perintahnya untuk tetap tinggal hingga dia kembali. Ketika menyalakan ponsel tadi, aku bukannya menjumpai missed call dari Kyuhyun, namun malah menemukan beberapa kali panggilan  masuk dari kakakku sekitar beberapa menit lalu.

Mendorong kepalaku tersandar ke jok, aku memejamkan mata dan menggeram kecil. Aku sama sekali tidak memiliki intensi untuk menjadi pemecah antara Kyuhyun dan kakakku. Walaupun aku cenderung menentang hubungan terlarang mereka, namun melihat mereka bertengkar bukan sesuatu yang kuasakan.

Menjadi homoseksual adalah pilihan mereka, tapi hal-hal yang menjadikan mereka mengubah preferensi seksualitas mereka bukanlah suatu pilihan. Bukan salah Siwon jika timbul rasa benci di hatinya terhadap kaum hawa karena wanita utama yang dia sebut ibu memperlakukannya dengan buruk; memilih lari dengan selingkuhan dan mati dengan mengenaskan. Juga bukan salah Siwon jika dia menginginkan perhatian lebih dari kaum adam karena pria utama yang dia aku sebagai ayah menyingkirkannya dari prioritas; memilih politik dan kehormatan negaranya.

Tidak ubahnya Siwon, Kyuhyun pun memiliki alasannya sendiri. Tertekan dalam tuntutan perfek sebagai pewaris Assan, kemudian memilih jalannya untuk melonggarkan depresi. Dia hanya memilih opsi termudah dan teraman dengan mengencani kakakku; mengharapkan lindungan dan curahan perhatian. Lalu haruskan Kyuhyun juga menyalahkan penciptanya atas anugerah fisiknya? Sehingga para wanita dengan suka rela melemparkan diri di bawah kakinya; membuatnya muak dan jijik.

Mengingat pengakuan Kyuhyun, agaknya kakakku menyetujui ide pernikahanku dengan Kyuhyun karena dia awalnya menduga pernikahan ini adalah kamuflase sempurna untuk hubungan terlarangnya. Dia mengetahui watak dan pribadiku, bahkan lebih dari aku sendiri, yang condong introver[1]. Hal diluar prediksinya adalah bagaimana aku bisa sedikit demi sedikit beradaptasi dengan kehadiran Kyuhyun.

Aku mengigit bibirku saat kegamangan menyambangi hatiku. Di sisi lain, aku tidak dapat menyangkal bahwa Kyuhyun membutuhkan Siwon dan vise versa[2]. Akan tetapi di sisi bersebrangan, tidak kupungkiri aku juga menginginkan Kyuhyun untuk diriku sendiri.

Aku mulai terbiasa dengan perlakuan sinis dan tidak menyenangkan Kyuhyun, namun aku juga mulai mencandui perlakuan protektifnya. Tatapan tajamnya adalah intimidasi, tetapi tatapan sayunya adalah impresi. Wangi parfumya adalah provokasi, tetapi wangi tubuhnya adalah sedatif. Suara meningginya adalah iritasi, tetapi suara lembutnya adalah lullaby. Dalam resumeku, Kyuhyun adalah kontradiksi yang kuterima.

Aku membuka mata, kemudian mengambil tas tangan dan tas kameraku di jok samping. Mengalungkan kedua tas tersebut ke bahuku, aku keluar dari mobil. Keputusanku berpartisipasi dalam lomba fotografi bertema demokrasi membawaku ke tempat ini; lokasi proyek Disney di Seongpa-gu[3]. Distrik ini dipisahkan dari pusat kota, Seoul, oleh sungai Hangang. Sekarang lokasi ini sepi, tidak seperti sedia kala ketika pro kontra lahan bergulir. Tinggal beberapa spanduk dan poster kardus yang terpasang tidak beraturan di papan-papan pagar pembangunan yang menjadi saksi bisu. Corat-coret cat menyuarakan umpatan dan cacian juga mewarnai pagar. Hal demikian yang ingin kuabadikan dalam jepretanku bertajuk ‘silent democracy’.

Aku berjalan memutari area untuk mengambil beberapa gambar dari berbagai sudut. Jemari kiriku menyesuaikan zoom, sedangkan telunjuk kananku berada di atas tombol shutter, menekannya separuh untuk memperoleh fokus sebelum menekannya secara penuh untuk menangkap obyek. Aku baru akan memulai menjepret obyek lain ketika ponselku berdering. Menurunkan kamera, aku membuka resleting tas dan mengaduk isinya untuk menemukan pembuat bunyi. “Yeoboseyo,” kuangkat telepon yang masuk dari Ahreum.

Darn, Youngie,” dan yang kudengar pertama adalah sapaku dijawab umpatan Ahreum. “Dimana kau sekarang?”

Aku mengembus napas karena tidak menyangka mendapat telepon dari Ahreum. “Aku sudah meninggalkan pesan kepada Luhan kalau keluar kantor. Jangan khawatir, rancangan untuk Shinan sudah kurampungkan,” cerocosku.

“Aku tidak peduli dengan pekerjaanmu di Dae-A!” ujar ketus Ahreum yang tidak kumengerti mengapa dia menggunakan intonasi marah. “Aku hanya bertanya di mana sekarang kau berada?”

Mengerut kening, aku masih merasa janggal mengapa Ahreum begitu meledak-ledak. “Daripada memedulikanku, lebih baik kau menggunakan energimu untuk mengurusi kasus Dae-A. Kudengar pengacaramu masih belum kembali, Park Jaehwan bukan?”

“Youngie, aku sedang tidak bercanda. Katakan di mana sekarang kau berada?”

“Tunggu sebentar, ada telepon masuk,” tundaku saat mendengar bunyi ‘tut’ disela telepon Ahreum. Melihat layarku, aku menyentuh tanda ‘reject’ untuk menolak telepon masuk dari kakak lelakiku. Untuk sementara ini, aku enggan berbicara dengannya menyangkut pertengkaran kami pagi ini. Menempelkan kembali ponselku ke telinga, aku mendengar bunyi ramai sebagai latar belakang sambungan Ahreum. Agaknya dia sedang tidak berada di ruang kerjanya. “Yeoboseyo?” sapaku ulang.

“Jawab pertanyaanku, Youngie!”

“Aku di lokasi proyek Disney,” aku menyerah dan menjawab Ahreum untuk tidak memperpanjang uring-uringannya.

Damn it!” umpat kedua Ahreum yang aku herankan karena setahuku wanita ini jarang menggunakan profanity[4]. “Masuk kembali ke mobilmu dan segera tinggalkan tempat itu. Carilah kantor polisi terdekat, atau paling tidak berlindunglah dalam keramaian. Kirimkan aku lokasimu segera—“

“Tunggu dulu,” potongku cepat, “ada apa dengan histeriamu?”

“Akan aku jelaskan saat kita bertemu. Untuk sekarang, kuminta kau mematuhi ucapanku saja.”

“Ahreum-ssi, jangan bersikap tidak beralasan, kemudian memintaku untuk menurutinya.”

“Tidak bisakah kau tidak mengulur waktu? Demi keselamatanmu Youngie, turuti kata-kataku sekarang juga.”

“Tindakkanmu benar-benar tidak ku—“ kata-kataku terpotong dan napasku terhenti seketika saat ujung benda tumpul kurasakan menusuk pinggangku.

“Diam dan berjalanlah,” suara rendah di sisi kepalaku membuat jantungku berdegub kencang seketika.

“Youngie…Youngie?” panggil panik Ahreum yang kudengarkan terakhir kali sebelum teleponku direbut dan dimatikan.

“Jalan,” ucapan yang keluar dari pita suara khas lelaki.

Tidak memiliki pilihan, meskipun aku dibingungkan dengan suasana yang kuhadapi saat ini, aku berjalan mengikuti perintah. Otakku mulai menyusun skenario bermacam-macam. Adakah dia perampok? Jika ya, maka mengapa dia tidak melucuti barang-barang yang kubawa? Atau adakah dia penculik yang menginginkan tebusan? Jika ya, maka mengapa dia tidak mengambil mobilku? Sebuah Hyundai Genesis adalah harga yang cukup memuaskan untuk tebusan.

Aku didorong semakin maju saat kami mendekati sebuah van hitam. Kusentak pundakku untuk membebaskan diri dari pria dibelakangku. “Apa mau kalian?” Tubuhku diimpit ke badan van dari arah belakang.

“Jika kau masih ingin hidup, maka menurutlah,” ucap lelaki itu dengan nada rendah.

“Kalau kau hanya menginginkan harta, silakan ambil apa yang kubawa,” tawarku.

Kekehan kecil meluncur dari mulut pria tersebut, “Kau pikir kami berandalan kelas teri, huh?” Pria ini memiting kedua tanganku ke belakang, lalu memborgolku. Dia menekan pundakku untuk menyuruh aku masuk ke dalam. “Masuk!”

Aku memberontak dan mendesak pria itu ke arah berlawanan dengan badan van, namun dia semakin menusukkan benda yang kuasumsikan sebagai pistol ke pinggangku. Jikalau pun aku berteriak akan percuma karena kawasan ini steril dari domisili masyarakat. Tanpa banyak bernegosiasi, pria itu mendorong tubuhku melesap ke dalam van. Aku memekik halus saat seseorang dari dalam menggeretku kencang. Dia membekap mulutku dengan membebatkan selembar kain.

Napasku semakin memburu dan degub jantungku semakin meningkat seiring van yang melaju kencang di jalanan. Dua orang pria berbaju serba hitam dengan penutup kepala balaclava[5] dan sepatu boot mengapitku di kedua sisiku. Perawakan mereka yang tegap dengan otot-otot biseps yang terlihat kokoh menonjol membuatku berpraduga mereka bukan perampok kacangan, melainkan kelompok terlatih. Seorang sopir yang mengemudikan van ini juga tidak berbeda dengan dua rekannya. Senjata api yang dibawa oleh kedua orang di sisiku semakin menguatkan dugaanku.

Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menggerak-gerakkan pundakku untuk melawan sekali lagi. Hell, aku tidak bisa diam saja menerima perlakuan mereka padaku. “A..wa…wauwu?” Aku ingin menanyakan apa mau mereka, namun pengucapanku terkendala dengan penutup mulut.

“Diam,” gertak lelaki di samping kananku sambil mendorongkan pucuk pistolnya ke leher atasku.

Tubuhku bergetar akibat ketakutan sampai-sampai aku bisa merasakan keringat membasahi pelipisku. Aku diam saat pria ini tak kunjung menarik senjatanya dariku. Di saat ketegangan yang kubuat mulai mereda, tiba-tiba mobil terhempas ke samping kanan dengan kuat menyebabkan tubuh kami bertiga mengikuti gerak hempasan. Menolehkan wajahku ke samping kanan, mataku melotot saat menjumpai sebuah sedan familier melaju di sisi van. Kepalaku memutar mengikuti gerak sedan saat sedan tersebut memposisikan diri di belakang van dan sekali lagi menabrak van. Napasku tercekat ketika mataku menangkap empat lingakaran terjalin sejajar yang menjadi logo tipe sedan dan nomor polisinya; Audi Spyder milik kakakku.

“Sial,” umpat sang sopir saat kakakku lagi-lagi menubruk van dari belakang. “Singkirkan mobil itu!” teriaknya. Lelaki di sisi kiriku menurunkan jendela, kemudian mengarahkan senjata apinya ke belakang. Dia melepaskan dua kali tembakan ke arah Siwon; membuatku memekik histeris.

Andwe! Andwe!” Aku menubrukkan badanku beberapa kali kepada sang penembak untuk mengagalkan sasaran tembaknya.

“Sialan! Atasi perempuan ini!” umpat lelaki tersebut yang tembakannya meleset.

Argh…” aku menggeram ketika rambutku dijambak oleh pria di sisi kananku. Meskipun kulit kepalaku merasa pedas, aku tetap menendangkan kakiku yang bebas pada pria di sisi kiriku saat dia kembali membidikkan tembakan. Aku semakin melawan dengan kakiku saat tubuhku didekap dari kanan untuk meredamkan pemberontakanku; menjadikan keributan diantara kami bertiga.

Plak! Plak!

Wajahku tertoleh saat dua kali tamparan mendarat di pipiku, menyebarkan rasa panas. “Andwe!” Aku tidak memiliki waktu untuk menekuri kesakitan di pipiku ketika pria di kananku juga menurunkan kaca jendela dan mulai menembaki Siwon. Kutabrakkan tubuhku kembali ke pria itu hingga dia membentur sisi pintu mobil dengan keras.

“Hei, tidak bisakah kalian mengatasi perempuan gila ini!” teriak sang sopir yang kewalahan mengendalikan laju van karena guncangan pertikaian dari dalam dan tabrakkan oleh Siwon dari luar.

Argh…” Aku memekik lagi saat mendapat pukulan di pundakku dengan keras. Telingaku mendengar tembakan beberapa kali, sebelum suara decit ban membuatkuk menoleh ke belakang. “Andwe…!” teriakku kalap ketika mendapati mobil kakakku kehilangan kendali. Agaknya salah satu dari tembakkan mengenai roda mobil. “Siwon!” pekikku sembari mengentakkan tubuhku ke jok, berharap ada keajaiban aku bisa membobol van ini. “Oppa…andwe!” jeritanku semakin menjadi dan air mataku mengalir begitu saja ketika sedan Siwon melampaui pembatas jalan dan menabrak pohon.

Oppa…!” Aku seolah memiliki urgensi memanggil Siwon dengan sapaan seharusnya. Sebuah pukulan keras di tengkukku menghilangkan kesadaranku, namun sebelum mataku tertutup rapat, aku menangkap bunyi ledakkan disertai kobaran merah dari arah sedan kakakku. “Oppa…” lirihku tak berdaya sebelum semuanya menggelap.

#

Aku mengumpulkan kesadaranku ketika sesuatu yang dingin menyentuh kulit wajahku. Mengerutkan kelopak mataku, aku melawan beban yang rasa-rasanya menggantung di pinggir kelopak mataku. Mataku membuka seiring dengan suara panggilan yang masuk ke pendengaranku.

Agashi[6]…agashi…

Ermm…” kuerangkan suaraku saat semua inderaku kembali berfungsi sedikit demi sedikit. Saat mataku benar-benar membuka dan beradaptasi dengan cahaya yang minim, aku merasakan pegal di sekujur tubuh terutama leher belakang. Menolakkan tanganku, aku bangun dibantu oleh seorang wanita baya yang tidak kukenali.

Agashi, bagaimana keadaanmu?” wanita tersebut menggunakan nada rendah. Wajah kuyunya terlihat kusam, sementara rambutnya digelung secara sembarang; meninggalkan anak-anak rambut yang semrawut di garis rambut. Mantel bewarna ungu gelap yang dikenakannya sangatlah kumal, juga dengan celana panjang hitam berlapis yang sudah robek di sana sini. Kulit jemarinya terasa sedikit kasar saat dia mengusap pipiku. “Wajah kirimu lebam,” ucapnya. “Minumlah,” ucapnya sembari menganjurkan sebuah panci kecil.

Merasakan tenggorokanku yang kering, aku meminum air yang dia berikan. “Gomawoyo,” suara serakku hampir tidak terdengar.

Menggerakkan jemariku, aku mengusap kain yang menjadi alasku dari tumpukan jerami di bawahnya. Aku mengamati sekelilingku dan menjumpai sekitar lima wanita meringkuk di sisi berlawanan dariku. Keadaan mereka tidak lebih baik dari wanita baya yang menolongku. Menjelajahkan pandanganku, ruangan yang kutempati mirip dengan sel penjara, kira-kira berukuran tiga kali lima. Sisi depanku berupa jeruji besi, sementara tiga sisi yang lain berupa tembok.

Penciumanku yang membau apak membuat perutku bergejolak. Dengan segera kututup mulutku menggunakan sebelah tangan. Mataku mulai bergerak random ketika ingatanku ditarik ke beberapa waktu lalu. “O…oppa…” rintihku. Aku tidak tahu mana yang lebih penting; mengetahui keberadaanku sekarang atau meratapi kecelakaan kakakku. Entah mana yang kupilih, yang pasti kedua tanganku sudah bergetar.

Oppa-mu mengalami hal buruk?”

Aku mengangkat kedua tanganku ke sisi masing-masing pelipis ketika kepalaku berdenyut. Mataku kembali dipenuhi oleh genangan air yang siap untuk meluruh. Rahang bawahku yang juga bergetar kukatupkan dengan paksa. Aku membawa kedua kakiku merapat ke dada, kemudian melesapkan kepalaku diantara kedua lutut.

Oppa…” rintihku tanpa suara. Meskipun aku tidak pernah mengalamatkan sapaan ini pada Siwon, namun kata ini begitu melekat di lidahku saat ini. “Oppa…” repetitifku ketika dadaku menyesak karena memori terakhir tentang Siwon. Aku sangat berharap diantara peluang terkecil, Siwon sempat lolos dari api membara yang kulihat dibatas kesadaranku kala itu. Akan tetapi di detik yang begitu cepat, setelah mobil menabrak pohon dan terbakar, aku sangsi Siwon memiliki waktu untuk keluar dan menjauh dari mobil. Tangisku semakin deras ketika otakku berpikiran negatif mengenai nasib Siwon.

Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu yang terlampaui dari semenjak penculikkanku hingga sekarang. Ingatanku hanya merekam pertengkaran terakhirku dengan Siwon dan raut wajah terlukanya. Aku lebih rela andai saat ini Siwon memakiku, mencercaku, atau pun memarahiku. Setidaknya aku tidak merasa kehilangan seperti ini. Salahkan memoriku yang payah sehingga tidak mengingat masa kecil kami di mana Siwon-lah, yang kuyakin, selalu di sampingku. Salahkan arogansiku sehingga untuk menghormatinya dengan sapa ‘oppa’ saja aku enggan melakukannya. Salahkan egoku sehingga dia terluka karena aku mengandung bakal bayi kekasihnya.

Agashi,” ucap wanita baya tadi yang agaknya masih berada di dekatku.

Aku mengabaikan panggilannya, namun beberapa saat kemudian kurasakan punggungku ditepuk-tepuk dengan lembut. Setidaknya saat ini aku tidak sendiri.

#

Setelah sadar, aku membungkam mulutku, tidak berbicara sama sekali kecuali dengan mengangguk. Aku masih tidak bisa menebak situasi apa yang kualami saat ini dan malas menanyakannya karena dukaku atas kejadian yang menimpa Siwon belum mengering.

Awalnya aku menduga diculik oleh rival atau saingan bisnis keluargaku atau keluarga Kyuhyun, tetapi menjumpai beberapa orang di sel ini, dan beberapa lagi di sel sebelah, agaknya aku salah. Awalnya aku juga menduga terlibat dalam trafficking[7], namun menilik beberapa wanita di sini yang kondisinya tidak baik, agaknya aku salah duga.

Tidak seperti sel ruang tahanan untuk perseorangan, ruangan ini digunakan menampung tujuh orang wanita termasuk aku. Jika dalam ruang tahanan diperhatikan sanitasi, maka di sini tidak. Hanya ada sebuah toilet, terletak di sudut, yang ditamengi sebuah papan kayu setinggi satu meter di sisi yang berhadapan dengan jeruji untuk memberikan privasi. Untuk alas tidur, kami hanya diberikan tumpukkan jerami dan selembar kain.

Aku terjaga dan perutku mulai keroncongan karena sudah lama tidak terisi, namun yang kudapati di sini hanyalah air. Tidak hanya masalah pangan, aku juga kami yang di sini menggigil di malam hari akibat ruangan yang tidak kondusif ditambah minimnya selimut. Aku masih bisa mengira waktu malam dan pagi berdasarkan cahaya yang tersorot dari lubang kecil, kira-kira selebar dua jari, di sisi atas tembok yang berlawanan dengan jeruji besi.

Bunyi besi yang dipukul dengan keras dan berulang membangunkan kami. Beberapa orang yang berseragam hijau tua melintasi lorong di depan jeruji; salah satu mereka membukakan gembok pintu. Aku bangun dari posisi meringkuk, kemudian menyipitkan mata mengenali seragam mereka. Seseorang yang membuka pintu memakai dua badge bewarna coklat tua dengan satu garis kuning melintang[8] di kerahnya, serta bagde merah biru di lengan kiri. Dia juga mengenakan ikat pinggang yang dilekati dua kantong terbuat dari bahan kulit di sisi kiri, serta tempat pistol di sisi kanan. Begitu mataku menyelisik kelompok mereka, aku mengangkat tangan untuk membekap mulut. Tidak salah lagi, mereka tentara Korea Utara.

“Keluar!” teriak salah seorang di antara mereka yang mengenakan bagde warna merah dengan dua garis kuning melintang[9].

Aku mengikuti arus tahanan yang sesel denganku untuk keluar. Di samping selku, ternyata dihuni tahanan pria. Kami digiring menuju tempat yang lebih luas, yang kuasumsikan sebagai aula. Setelah semua tahanan di sini, kira-kira dua puluhan, kami dibariskan membentuk dua saf. Dua orang tentara yang berjalan di depan kami mencermati kami satu persatu dengan saksama.

“Bawa wanita itu,” komando salah satu tentara.

Sebelum aku sempat bereaksi, dua tentara telah mengapit dan menggeretku.

Andwe,” teriak wanita paruh baya yang menolongku. Dia mencoba menahanku, namun malah mendapat pukulan keras dari seorang tentara. Aku melenguh cukup keras ketika menjumpai wanita itu tersungkur. Niatku ingin menolongnya, tapi ragaku diseret paksa.

Mereka memasukkanku ke dalam ruangan berukuran tiga kali tiga yang suasananya jauh lebih terang dari sel tahananku. Aku didudukkan pada sebuah kursi dengan sebuah meja di depanku.

Seorang yang kupikir berpangkat lebih tinggi dari tentara-tentara yang berada di aula, dilihat dari badge yang dikenakannya memiliki garis melintang yang lebih banyak, duduk di depanku. Posisi ini mengingatkanku pada proses interograsiku di kepolisian beberapa waktu lalu. Dia menjajarkan beberapa foto suatu area lapang hijau. “Aku menawarkanmu kebebasan dengan satu syarat,” ucapnya langsung, “kami membutuhkan arsitek untuk membangun resort ski[10].”

Aku melengos dengan senyum melecehkan tawaran tersebut. Berita yang kudengar, Korea Utara memang pernah menculik seorang sutradara dari negara kami untuk dipaksa membuatkan sebuah film. Tidak kusangka sekarang aku yang mengalaminya. Mungkin mereka mengetahui namaku dari huru hara konflik Dae-A; yang tidak akan kuherankan lagi bahwa mereka memasang mata-mata di negaraku. “Cish, aku tidak sudi,” tolakku.

“Kau akan menyesal menolak tawaran kebebasan ini tanpa pertimbangan,” sombong pria ini.

“Jikalau pun aku bersedia, kebebasan tidak akan pernah kuperoleh karena kalian tetap akan menahanku di negara ini.” Aku mengembalikan janji kosong pria ini. “Setelah kalian membunuh kakakku, tidakkah kalian punya malu untuk menunjukkan wajah kalian di depanku apalagi hingga memintaku menjadi bagian dari kalian?” ucapku sembari menggerutkan gigiku.

Ah, jadi pengemudi itu kakakmu?” Pria ini menggeleng-geleng kecil, “Salahkan dirinya yang menghalangi langkah kami.”

“Lagipula aku tidak sudi menggarap proyek milik orang-orang berpikiran kerdil seperti kalian,” olokku sambil meludahi foto-foto di depanku.

Plak!

Dan aku harus membayar mahal ucapanku dengan sebuah tamparan keras di pipiku. Menyengir perih, aku menolehkan kembali kepalaku untuk menegak dan menonjolkan arogansiku. Walaupun ragaku melemah, namun aku masih memiliki harga diri untuk kujunjung di depan mereka. “Aku lebih memilih mati membusuk di tempat ini daripada melayani pemimpin kalian yang picik.”

Plak!”

Sekali lagi tamparan atas mulut besarku, kali ini aku bisa merasakan asin di sudut bibirku. Aku sendiri takut andai ucapanku terealisasi, mengingat bayi yang kukandung, namun aku juga tidak ingin bekerja di bawah seorang pemimpin yang menurutku tak ubahnya seperti diktator. Negara ini boleh bangga terhadap pemimpin muda mereka, tapi aku memiliki prinsipku.

“Suruh dia masuk!” pria di depanku berteriak.

Seorang pria paruh baya yang kuperkirakan berusia seperti appa-ku masuk ke ruangan. Dia tidak mengenakan seragam, melainkan kemeja biru tua polos. Habitusnya yang ringkih membuatku menaksir bahwa dia bukanlah salah seorang tentara. Pria itu hanya mengangguk lemah ketika tentara yang tadi berbicara denganku membisikkan sesuatu.

Oh Tuhanku,” pria itu buru-buru mendekatiku dan menangkup wajahku, “apa yang mereka perbuat padamu?” tanya sesalnya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya yang sudah pasti jawabannya dapat dilihat dari rupaku saat ini. Walaupun aku tidak memiliki cermin untuk berkaca, namun dari rasa nyeri di pipiku, aku sudah bisa mengira bahwa kedua pipiku lebam. Mengamati pria ini, aku mengerutkan keningku ketika menemukan karakter wajahnya yang tidak asing. Jelas aku yakin belum pernah bertemu dengannya, tapi dia mempunyai sesuatu yang familier di mataku. Mencermati lebih lanjut, aku membuka rahangku. “Siapa engkau?”

Pria ini menarik mundur kedua tangannya yang menangkup pipiku, “Aku Yoo Dohwan.” Dia mendesah, “sama sepertimu Miyoung-ah, aku juga warga Korea Selatan. Jika negaraku masih menerimaku,” senyum kecutnya. Mendengar dia memanggil namaku, sepertinya pria ini sudah mengetahui sedikit mengenai identitasku.

“Kau,” putusku saat aku tidak yakin menyeletukkan sesuatu yang mengganjal, “Lee Ahreum…”

Dohwan ahjussi mengangkat kepalanya dan membulatkan matanya begitu aku menyebut nama orang yang memiliki karakter wajah sama dengannya. Perlahan dia menarik bibirnya membentuk senyum, “Jadi gadis nakalku sudah menikahi pemuda bemarga Lee itu.” Dia menepuk-nepuk pahanya, “Lee Donghae,” ucapnya menyebut suami serta bujangnim Dae-A.

Ahjussi…” aku baru akan mengkonfirmasi hubungan mereka, namun Dohwan ahjussi sudah mengangguk. Membuka mulutku, aku sulit mempercayai bahwa di tempat ini bertemu dengan ayah Ahreum. Diantara ketidakmujuranku, aku sedikit melega menemukan seseorang yang memiliki keterkaitan denganku; meskipun tidak secara langsung.

“Apakah putriku bekerja di bawah Dae-A?”

Aku mengangguk mengiyakan. “Dia adalah supervisor kami.”

“Jika begitu, kau bekerja dengannya dalam proyek Disney sebagai arsitektur?”

Ne, sebelum proyek itu dibatalkan aku adalah ketua tim arsitekturnya.”

Dohwan ahjussi menarik dan menahan napasnya tiba-tiba, “Jangan katakan bahwa kau adalah putri dari Choi Sang Hoon?”

Meski berat mengakuinya, aku tetap mengangguk. “Jika kau mengetahui mengenaiku, bagaimana mungkin ahjussi tidak mengetahui mengenai Ahreum?”

“Di negara ini, arus informasi dari luar sangat dibatasi, Miyoung-ah. Aku hanya mendengar desas desus bahwa Dae-A gagal menggarap proyek Disney.” Dohwan ahjussi mencondongkan badannya ke arahku. “Dan kudengar, mereka yang di sini berspekulasi bahwa proyek Dae-A ada kaitannya dengan permainan politik ayahmu.”

“Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Pikirkan dan renungkan lagi. Barangkali kau menemukan benang merahnya.” Dohwan ahjussi menunduk dan, lagi-lagi, mendesahkan napasnya. “Aku di sini diperintahkan untuk membujukmu bergabung denganku membangun resort ski.”

Ahjussi seorang arsitek?” tanya bodohku yang jawabannya sudah pasti,” dan bekerja di bawah mereka?”

“Aku tidak memiliki pilihan, Miyoung-ah,” jawabnya lesu.

“Mereka mengancammu?”

Dohwa ahjussi mengangguk, “Keselamatan Ahreum menjadi taruhannya.”

Aku tidak dapat menuding Dohwan ahjussi berkhianat karena motifnya bekerja di sini hanya ingin melindungi putrinya. “Maaf, setelah apa yang mereka lakukan terhadap kakakku, sampai mati pun aku tidak sudi bekerja untuk mereka,” putusku.

Dohwa ahjussi menggapai kedua kepalan tanganku yang berada di atas meja, lalu meremasnya. “Aku turut berduka atas kejadian yang menimpa kakakmu.” Dia lagi-lagi mencondong ke arahku untuk berbisik. “Mereka membutuhkanmu hidup-hidup, kecuali jika mereka siap mencetuskan perang dengan negara kita. Jaga dirimu, Miyoung-ah.” Melepaskan tangkupannya, Dohwan ahjussi berdiri dan meninggalkanku. Dia berbisik seraya menggeleng kepada tentara pria yang tadi menginterograsiku.

Seketika wajah tentara pria itu mengeras karena marah. “Seret dia ke selnya!” murkanya.

#

Aku melunglai di atas tumpukan jerami setelah mereka menghukumku dengan tidak memberikan makan. Ragaku seolah mati rasa sampai untuk mengedipkan mata, aku tidak memiliki energi. Dengan kondisi lembab dan dingin di ruangan ini, tulang-tulangku rasanya hampir copot. Jika tidak salah hitung, aku sudah melalui hampir dua hari setelah pertemuan dengan ayah Ahreum. Aku tidak mengkhawatirkan diriku, namun kandunganku.

Memikir ulang pembicaraanku dengan Dohwan ahjussi, aku belum menemukan kaitan antara Dae-A dengan politik ayahku. Jika benar appa memiliki keterkaitan dengan Dae-A, maka tuduhanku dia bermain di belakang konflik Disney. Entahlah, otakku saat ini tidak mampu membuat hipotesis.

“Miyoung-ah, makanlah sedikit,” wanita baya yang kemudian kutahu namanya adalah Kim Seoyun menyuapkanku sepotong roti tawar. Jika tidak ada beliau, mungkin aku sudah mati kelaparan dari kemarin. Dialah yang mencurikanku makanan sekadar sepotong roti yang tidak lebih lebar dari telapak tanganku.

Aku membuka mulutku dan mengunyah pelan-pelan. Mengamatiku yang kesulitan memakan roti yang keras, Seoyun ahjumma meminumkanku air putih. “Gomawoyo,” ucapku tanpa suara.

Seoyun ahjumma mencermatiku lebih lanjut, kemudian meraba perutku. “Ya Tuhan, kau hamil?” tanyanya dengan lirih sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.

Aku tersenyum hampa dan mengangguk.

“Istirahatlah, Miyoung-ah,” ucap prihatin Seoyun ahjumma sambil membelai rambutku dan duduk di sebelahku.

Aku mulai menghafal rutinitas di penjara ini. Mereka memberi makan para tahanan sekali dalam sehari; entah itu di pagi atau malam hari. Di pagi hari, para tahanan digiring keluar menuju aula untuk diperiksa. Beberapa dari mereka, sepertiku, diinterogasi lanjut sebelum dikembalikan ke sel disertai hukuman.

Secara tiba-tiba, pintu selku dibuka oleh tiga orang petugas. Dua petugas menghampiriku, kemudian menyentak tubuhku untuk berdiri. Diantara lemahku untuk berdiri, mereka mencengkeram lengan atasku dengan kuat.

Andwe…!” teriak Seoyun ahjumma yang kembali membelaku. “Andwe…”

“Diam!” bentak seorang petugas yang berjaga di ambang pintu.

Aku menggeleng untuk memberikan isyarat agar Seoyun ahjumma menyingkir. Jangan ada lagi orang yang terluka karenaku. Kedua tanganku disatukan di depan, kemudian diborgol. Setelah itu, mataku ditutup menggunakan kain hitam. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku pasrah saat mereka menyeretku.

Mendengar deru mobil yang kasar, tubuhku dipaksa naik ke kendaraan tersebut, yang kuduga adalah sebuah jip. Berdasar guncangan selama perjalanan, sepertinya mereka tidak menggunakan jalanan beraspal. Bahkan aku dapat mendengar kasak-kusuk dedaunan yang terterjang mobil ini. Selain itu, bunyi-bunyi binatang yang menggaung juga tertangkap telingaku. Mungkinkah jika kami melalui medan berupa hutan?

Setelah beberapa saat perjalanan, aku diturunkan dan disuruh berjalan. Udara yang dingin begitu menusuk kulitku hingga membuatku menggigil. Akan tetapi aku tidak memiliki kesempatan untuk mengeluh saat mereka memaksaku berjalan. Perkiraanku, aku telah berjalan 100 – 150 meter. Ketika tutup mataku dibuka, hal yang kujumpai adalah belantara yang masih dalam kondisi gelap. Menajamkan penglihatanku, sekitar 50 meter di depanku terdapat beberapa bangunan seperti markas tentara dengan cahaya-cahaya lampu yang cukup terang.

“Berjalanlah ke sana,” salah satu dari dua orang yang mengapitku memberi perintah. “Tugasmu adalah menyampaikan surat ini, kemudian kembali lagi ke sini.” Dia melepas borgol, lalu memberiku sepucuk amplop. “Jangan bertindak bodoh karena kami tetap mengawasimu.”

Aku hampir-hampir ambruk karena tidak memiliki tenaga ketika mereka melepaskan cengkeramannya. Meragu untuk beberapa saat, aku akhirnya tetap menuruti perintah mereka. Kukuatkan langkahku untuk mencapai markas tentara, yang sedikit membuatku lega saat melihat bendera negaraku berkibar di atas benteng. Meskipun dengan langkah tersaruk, aku berusaha untuk mendekati markas.

“Berhenti!” sebuah peringatan keras terdengar begitu aku mendekati pintu gerbang. Sorotan lampu diarahkan kepadaku. “Angkat tanganmu!”

Aku menuruti perintah mereka dengan mengangkat kedua tanganku ke udara. Mendongakkan kepala, aku berharap mereka tidak menilaiku sebagai ancaman. Ketika aku tidak sanggup menyangga tubuhku, aku ambruk ke tanah dalam keadaan terduduk. Sebisa mungkin kujaga kesadaranku agar tidak menghilang.

Empat orang tentara bersenjata lengkap keluar dari pintu gerbang. Mereka berlari menuju tempatku. “Agashi,” sapa seseorang diantara mereka sambil membantuku berdiri.

Aku menurut ketika dua orang tentara memapahku masuk ke dalam markas.

#

Pandanganku mengabur, namun aku tetap berusaha fokus. Aku menyampaikan surat yang kubawa kepada seorang yang kuduga pimpinan di markas ini. Akan tetapi tatkala dia membaca isi surat, wajahnya seketika mengeras. Aku sungguh tidak mengerti permainan politik diantara kedua negara ini. Seruan dari luar, yang entah apa itu karena pendengaranku mulai berdengung, membuat pria di depanku berdiri. Dia memberikan penghormatan kepada seseorang yang datang. Saat aku mengangkat pandanganku, barulah kutahu siapa yang tiba; Menteri pertahanan Korea Selatan yang tidak lain adalah ayahku, Choi Sang Hoon.

“Young!” sebuah panggilan yang kuhapal disusul oleh sosok Kyuhyun yang muncul dari belakang ayahku. “Oh, Young…” dia berlutut di samping kursiku sambil menangkup wajahku. Ekspresi cemas tergambar jelas di wajahnya yang pucat dan kuyu. Lingkar matanya yang menghitam menjadi tanda bahwa dia juga menderita beberapa hari belakangan.

Mataku mendadak berair menjumpainya setelah beberapa hari terpisah. Aku menjatuhkan tubuhku ke dalam pelukannya, “Hyunnie…” rintihku. Aku mencengkeram kemejanya dan melesapkan wajahku di dadanya. Saat Kyuhyun melingkarkan tangannya di tubuhku, aku baru benar-benar merasakan topangan yang aman.

“Aku di sini, Young,” bisiknya di telingaku. Dia mengokohkan pelukannya seolah aku akan merosot dan hancur andai pelukannya melonggar sedikit.

“Hyunnie…” panggilku untuk menarik perhatian Kyuhyun, “oppa…?” Aku mendongak untuk bertemu muka dengannya. Ingin kutanyakan perihal Siwon, namun ucapanku tersendat karena kerongkonganku yang terasa kering. Meskipun jawaban Kyuhyun adalah yang terpahit sekali pun, aku tetap ingin mendengarnya.

Alih-alih menjawab, Kyuhyun mencium keningku berulang. Matanya yang memerah dan berair meruntuhkan ketegaran yang coba kubangun. “Siwonnie hyung,” ucap Kyuhyun yang tersendat oleh air mata, “koma.”

Aku tidak tahu harus melega atau tidak karena nyatanya nyawa kakakku masih terancam. Tanganku yang mencengkeram kemeja Kyuhyun jatuh melemah dan ragaku mulai menyandar sepenuhnya di dadanya. “Hyun…” napasku memberat dan pandanganku memutih, “…nie.” Pendengaranku menangkap kepanikan Kyuhyun memanggil namaku berulang sebelum semuanya tenggelam dalam kegelapan.

TBC*

Note:

Muehehe… maaf, aku tidak tahan untuk tidak menyebutkan Lee Donghae *Ugh, my forever baby boy, when will you get mature?*

And, don’t you dare to bash my daddy dimples *peluk Wonnie*

So, tell me about this confusing part? Jangan khawatir, romansa Kyuhyun dan Miyoung akan berlanjut di part 12 dengan bumbu politik Korea.


[1] Introver: bersifat suka memendam rasa dan pikirannya sendiri; bersifat tertutup.

[2] Vise versa: sebaliknya.

[3] Seongpa-gu: lokasi ini hanya fiktif; sebenarnya di sinilah lokasi taman bermain milik Grup Lotte yang terkenal di Korea Selatan.

[4] Profanity: kata-kata kotor atau umpatan.

[5] Balaclava: penutup erat pas untuk kepala dan leher, biasanya terbuat dari wol.

[6] Agashi: nona.

[7] Trafficking: jual beli (manusia) secara ilegal.

[8] Badge coklat dengan satu garis kuning melintang: untuk tentara Korea Utara jabatan junior corporal.

[9] Badge warna merah dengan dua garis kuning melintang: untuk tentara Korea Utara jabatan corporal.

[10] Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Jong-Un diberitakan akan membangun resort ski untuk menandingi Korsel. Akan tetapi pembangunannya menemui banyak kendala, salah satunya Swiss yang enggan menjual lift ski ke Korut. (www.liputan6.com)

Pic spam:

Could I kiss you, Won?”

tumblr_mcewlwxZfx1rjw7j2o1_500

Is that a yes?”

Okay then!”

(gif isn’t mine; credit belongs to Siwonniefan tumblr)

211 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [11]

  1. VivitYulia says:

    Part ini bner2 menguras emosi bukan hanya tentang romansa kyuhyun, siwon dan miyoung tpi jga tentng perseteruan antara korut n korsel. Aslii bikin teganggg. trus scene terakhirnya bkin haru wktu pertemuan kyuhyun sma miyoung.

  2. fida says:

    ini kok ada politik juga ya? wahhh genre yg tk terduga….. salut deh buat author yg bsa bwa reader kedalam crta seru bgt deh.. mkin ska sma neh ff

    omg…… tiffany kyuhyun forever lah :*

  3. Holyshit! Sialan sekali part ini bikin saya tegang bukan main. Ah siaaaallllll saya suka bagian kyuhyun akhirnya bertemu miyoung setelah disandera. Ah author.. mengapa kau racuni saya dengan ff ini? Hahaha. Sumpah daebak lah part ini. Konflik Kyu-Won-Young juga memanas sekali. Young yg mulai memanggil Oppa, Kyu yg mengakui dia ayah bakal bayi itu, Siwon yg.. ah sial ini bikin greget tingkat dewaaaa haha

  4. Oke baca romansa yang dikemas bersama persoalan politik menjadi fiksi terberat yg pernah saya baca
    Entah mengapa rasanya lebih berat membaca hal hal berbau politik di fiksi ini dibanding mata kuliah politik yang saya dapat sehari hari
    Dan setelah bingung karena penculikkan miyoung mata saya mendadak berbinar ketika baca bagian ini : So, tell me about this confusing part? Jangan khawatir, romansa Kyuhyun dan Miyoung akan berlanjut di part 12 dengan bumbu politik Korea.”
    Oke persetan dengan politik karena romansa kyuhyun dan miyoung is the most important thing wkwkwk
    Oke lanjut dlu baca

  5. windy3288 says:

    yaaa ampun konfliknya makin meluas.. kenapa bisa ada kyu da appa cho disana yaaa ?? untunglah itu mereka.. yg aku takutkan surat yg dibawa miyoung adalah yg bersifat provokasi gitu *elus dada*

    untunglah siwon masih ada harapan, aku bener benner gak rela kalo dia mati gimanapun dia tuh masih peduli kan sama miyoung😦

  6. abellia cho^ says:

    oh damn..konflik apa lgi ini?
    skrg bukan hnya konflik antar 3 tkoh utama tpi pemerinthan jg antar korsel & korut ukh..gak bisa dipercaya??
    kasian ama minyoung kyanya bakal menderita bgd..apa lgi dia lg hamil, apa dia sanggup menjganya?

  7. knapa nasib miyoung miris sekali :””.. padahal kan dia lg hamil.. :” dan apa miyoung bakal balik lg ke sarang musuh?? gak ada yg menyelamatkannya kah?? huuhuhuhu oke aku baca next part ya thorr

  8. Baru kali ini baca ff berbau politik korsel korut
    Sebelumnya tntg permasalahan keluarga, dendam aku cukup sering
    Makin kecanduan sama ff ini
    Aku sempat kasih tahu ketemanku ff ini oke banget. Tapi yang menganjal di hati mereka genre yaoi antara kyu dan siwon.

    Tapi aku lebih suka dengan bacaan seperti ini. Lebih bervariasi dan menurutku menyegarkan imajinasiku yang terkadang terlalu ngelantur.

    Ini jadi salah satu ff favoritku walaupun sebelumnya di tempati oleh wordpress tetangga sebelah.

    Eonni 짱!

  9. april says:

    baca part ini bener” menguras emosi… mulai dari pertengkaran kyuhyun siwon miyoung sampek penculikannya miyoung… siwon emang sosok oppa idaman, tetep rela mau nyelametin adeknya meskipun saat itu kondisinya sedang marah sama miyoung tapi sayang harus kecelakaan dan koma ㅠ.ㅠ kyuhyun miyoung momentnya…… aku ngerasa kyuhyun mulai suka bahkan cinta sama miyoung tapi dia gak mau ngakuin… ngebaca penggambaran korut disini jadi ngebyangin seperti apa kehidupan orang asli disana

  10. Wehehehe aku akhirnya bisa main ke blog ini lagi. Ayeyeye~ xD
    Omona Siwoonieee andwaee hikss
    Tapi aku yakin kok eon siwon itu gak mati. Haha soalnya kan dia nanti bakalan tetep ada di akhir cerita abis td aku liat poster last chapt-nya masih ada siwon xD
    seperti biasa, tulisan eon gak cuma fiksi menghibur aja. ada beberapa istilah ilmiah yang keselip selip dikit. Big thankss eon. Belum lagi aku makin kagum sama imajinasi eon buat mendeskripsikan penangkapannya youngie. Pokoknya kalo semua jari ku jempol, itu buat eon semua xD

  11. celin says:

    terjawab sudah kenapa kyu nyuruh young u/ aborsi, tp tetap aja alasan itu gak membenarkan dia nyuruh young u/ aborsi kan dia bsa jaga young!! tp disini terselip rasa kyu gak mau kehilangan young, benar2 overprotectifkyu..
    perdebatan kyuhyun siwon miyoung menegangkan, aku kira WonKyu bakalan adu jotos.. akhirnya kyu dengan gentle ngaku juga kalau janin itu anaknya.. tp pertengkaran mereka buat aku kasihan sama siwonnie, dan mereka ber2 putus😦 pdhl aku gak suka sm hub. WonKyu..
    sedih siwonnie koma untung gak meninggal kalau iya bsa gila Kyu-Miyoung karena rasa bersalah.. tp siwon benar2 syang sama miyoung, kan cuma miyoung yg dia pnya… pengen pnya oppa kyk siwon tp enggak gay yah..
    Miyoung sabar ya. jahat banget deh korut. tempatnya sama sekali enggak layak!!! pdhlkan miyoung lg hamil muda, takutnya dia bsa keguguran😦
    adegan kyuhyun meluk miyoung buat aku melting.!! aaa mereka itu sbenarnya saling mencintai kan??
    semua hal yg berbau politik emang selalu buat orang pusing..
    eh sutradara yg diculik korut itu emang ada ya? atau cuma fiksi doang?

  12. momo says:

    Sedih banget sama part ini yaowo siwoon tapi aku juga agak lega dia masih koma, bayanganku udh meninggal gitu, mana miyoung disekap pula duh next part yaa

  13. Arrrrrrrghhh… gilaaaa… eonni ini ffnya keren bangeetttt… ciyuuuus… ^^V

    Dududuuuuh~~~ entah knpa aku bgitu ska perdebatan d antara Kyuhyun-Miyoung-Siwon… gk tau knpa, seakan bnyak rhasia yg nyaris terkuak d perdebatan itu…
    dan bner2 suka dgn sikap gentleman Kyuhyun yg mau mengakui jika dy ayah dari sang calon bayi…
    yaaaay. love it soooo much!!! #poppoEvilCho LOL XDD

    Hm… antra sedih dan terharu wktu tau yg cba nyelamatin Miyoung adlh kakaknya sendiri…
    Seakan hal ini menjelaskan, klo Siwon sbnernya memang PEDULI + SAYANG ma Miyoung… #semangat45
    tapi sedihnya… Knpa Siwon hrus celaka + koma sihhh??
    huwaaa andwae~~~ TT_____TT

    Last… sjujurnya aku pun masih gk ngerti dgn msalah politiknya…
    terlalu rumit dan bkin otak muter2… #sigh!

    Oke deh… dripda pnsaran, mending lnjut ffnya deh… Hahahahay

  14. siwon koma?? ya ampun, dia rela koma cuma buat nyelamatin miyoung :’) ya walaupun gak berhasil, yg penting ada usaha🙂
    miyoung akhirnya manggil siwon oppa :’)
    korut itu licik juga ya.. -_-
    nyulik sutradara dari korsel cuma mau buat drama ==”
    makin gregetan nih..

  15. za says:

    Apa ini puncak hub Kyu – Siwon? Smg siwon baik2 saja..Setuju dg prtnyaan Young hub antr proyek Disney dg kebijakn politik ayahnya..
    Oya, kasus sutradara itu bnran/fiktif (maaf gak update)? Suka dh ide crt ini menghub politik – romantisme – cinta terlarang, berasa beda. Jd trngt drakor TKTH

  16. za says:

    Apa ini puncak hub Kyu – Siwon? Smg siwon baik2 saja..Setuju dg prtnyaan Young hub antr proyek Disney dg kebijakn politik ayahnya..
    Oya, kasus sutradara itu bnran/fiktif (maaf gak update)? Suka dh ide crt ini menghub politik – romantisme – cinta terlarang, berasa beda. Jd trngt drakor TKTH🙂

  17. Hyunwon says:

    Mwoooyaaa? Siwoonieee andwaee hikss
    Siwonnya koma karena terbakar didalm mobil unnie?
    harus disabar biar bisa baca berurutan
    pengin lompat bacanya tapi nanti ada yg miss
    karena kesibukan yg ‘cukup’ padat jd jarang onlen huhu u,u
    dapet banget feelnya saat siwon tau anak yg dikandung youngie itu anak kyuhyun
    kecewa, tdk terima, cemburu, merasa dikhianati….🙂
    makin rame konfliknya ditambah ada bau-bau politiknya
    ga cuma konflik romancenya…
    unnieee u’re amazing
    semoga babynya youngie baik-baik saja…

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s