Behind Those Beautiful Eyes [12]


BTBE 13 (2)

Behind Those Beautiful Eyes [12]

Arsvio | Tiffany Hwang Miyoung, Kyuhyun Cho, Siwon Choi | PG-15 | Only hope (Seconhand serenade)

Vulnerable At Best

“Young.”

“Young.”

Aku ingin membuka mataku ketika mendengar namaku dipanggil berulang oleh Kyuhyun, namun kelopakku memberat untuk diangkat. Aku ingin membangunkan kesadaranku ketika pipiku menerima tepukan atau pun usapan lembut, tetapi karsaku seakan dikurung dalam ragaku sendiri. Mengumpulkan residual energiku, aku mencoba memberi tanda kepada Kyuhyun dengan lenguhan atau pun gerakan kecil. “Erm…” dalam imanenku, aku mengerang, namun aku tidak yakin Kyuhyun dapat menangkapnya.

“Lakukan apa saja! Kita hanya memiliki waktu kurang dari dua jam!” suara keras seorang pria masuk ke pendengaranku. Jika tidak salah ingat, suara ini milik pemimpin markas ini yang kuingat namanya adalah Park Jisung.

“Young, bangunlah,” perintah Kyuhyun dengan halus. “Kau bisa mendengarku?”

Erm…” yang kulakukan hanya sebatas erangan sebagai respon untuk Kyuhyun.

“Kumohon, Young. Kau harus bangun.”

Aku berusaha sekali lagi untuk membuka mataku ketika menangkap nada putus asa Kyuhyun. Mencoba merasakan seluruh ragaku, aku menjentik-jentikkan jemariku yang kiranya digenggam erat oleh Kyuhyun. Perlahan kelopak mataku terangkat, meski belum membuka sepenuhnya. Pandanganku masih mengabur, dan yang bisa kutangkap hanyalah siluet wajah Kyuhyun. “Kyuhyun-ah,” kugerakkan mulutku menyebut namanya.

“Hei,” sapa Kyuhyun dibarengi senyum getir.

Aku berupaya menyerap kondisiku saat ini dengan kesadaran minim. Sebuah benda transparan yang ujungnya menutupi penglihatanku dan diletakkan di hidungku memasok udara segar untukku. Menilik terpasangnya masker oksigen padaku, sepertinya mereka juga menginfusku. Aku hanya bisa menduga karena kekuatanku tidak memungkinkanku mengangkat tangan untuk mengecek atau pun menggerakkan leher untuk melihat sekeliling.

“Buat dia bersiap kurang dari satu jam,” tekan sang pemimpin.

“Cukup!” Kyuhyun membentak dan berdiri secara tiba-tiba. “Aku tidak akan membiarkan dia masuk kembali ke sarang musuh,” tegasnya untuk menjawab Jisung.

“Jangan bertindak bodoh Kyuhyun-ssi. Kita sudah mendiskusikannya.”

“Tapi aku tidak pernah menyepakati konten diskusi kita!” tandas Kyuhyun. “Bahkan jika mereka membantai setiap sandera, aku tidak akan melepaskan istriku.”

Aku mengharu mendengar Kyuhyun untuk pertama kalinya mengakui statusku, walau otoritas hubungan kami sebatas yang tertulis di kertas. Mendengar perdebatan kecil Kyuhyun dengan Jisung, aku menjadi tahu apa arti ‘mengawasi’ yang tentara Korut bisikkan padaku. Mereka, Korut, mengancam membunuh sandera jika aku tidak kembali dalam batas waktu tertentu. Agaknya syarat ini juga menjadi konten dalam surat yang Korut kirimkan kepada Korsel melaluiku. Aku sendiri tidak bisa angkat bicara karena untuk menjentikkan jariku saja butuh usaha keras. Bersyukur indraku berfungsi dengan baik.

“Kyuhyun-ah,” aku samar-samar mendengar suara ayahku dari kejauhan, “kita tidak punya pilihan.” Ucapan parau syarat ketegasan milik ayahku bagaikan tikaman yang menyakitkan. Bukankah itu artinya beliau menyerah atasku?

“Dia putrimu, darah dagingmu, Abeoji,” tekan Kyuhyun, “dan Abeoji menyetujui mengirimnya kembali ke dalam bahaya?”

“Kita tidak bernego untuk sebuah nyawa saja, melainkan puluhan hingga ratusan,” jawab ayahku sebagai alasan yang belum jelas kumengerti. “Untuk sekarang, aku tidak bisa mengambil opsi lain, selain dari apa yang mereka inginkan.” Saat mengatakan hal tersebut, aku sangat ingin memandang ekspresi ayahku. Dalam rautnya, aku ingin melihat ada tidaknya penyesalan. “Kau seorang dokter, lakukan apa pun untuk membuatnya siap, Kyuhyun-ah. Kita tidak memiliki waktu banyak.”

Aku memejamkan mataku menahan tusukan di ulu hatiku setelah memperdengarkan keputusan ayahku sendiri. Tidak, aku salah; seseorang yang berada di ruangan ini bukanlah ayahku, melainkan menteri pertahanan Korea Selatan.

“Kyuhyun-ah!”

“Kyuhyun-ssi!”

Membuka mata, aku mendengar pekik nama Kyuhyun dibarengi oleh pelipisku yang merasakan tusukan benda tumpul. Ketika aku membuka penuh mataku dengan segenap tenaga, barulah kutahu bahwa Kyuhyun menodongkan pistol kepadaku.

“Kalian boleh memutuskan, demikian juga denganku. Bukan hanya kondisinya yang lemah, melainkan juga kandungannya,” suara Kyuhyun terdengar gemetar. “Aku lebih memilih dia mati di sini, ketimbang mati di negara mereka,” ujar Kyuhyun yang membuat jantungku berdegub kencang.

Menurunkan pandanganku, aku menjumpai ayahku sudah menarik senjata apinya dan mengarahkannya kepada Kyuhyun. Di antara pilihan terburuk, walau aku sangat takut menjalaninya, aku memilih apa yang ditawarkan Kyuhyun. Kembali menjadi tahanan Korut tidak menjamin nyawaku akan selamat. Mati di tanahku oleh Kyuhyun jauh lebih baik ketimbang mati di tanah asing oleh tentara seorang diktator. Aku memejamkan mataku, kemudian merasakan aliran hangat menuruni sisi pelipisku.

“Turunkan senjatamu, Kyuhyun-ah,” bujuk ayahku yang kusimak.

“Jika aku menembaknya, maka kalian akan menembakku bukan?” sinisme Kyuhyun. “Maka pastikan kalian membidik kepalaku dengan tepat karena aku tidak akan menyesalinya.”

“Ini bukan sekadar masalah egoku maupun egomu, melainkan ego dua negara. Andai salah melangkah, keputusanku dapat memicu peperangan!” gertak ayahku.

“Lalu apakah Abeoji tidak memedulikan keselamatan kedua putramu, huh? Siwon Hyung bahkan belum sadarkan diri, sekarang Abeoji akan menyerahkan nyawa Miyoung?”

“Aku tidak hanya bertanggung jawab melindungiku dua orang, melainkan setiap warga beserta martabat negara ini.”

“Demi Tuhan, mereka adalah putra putrimu!”

“Dan aku bukan hanya ayah mereka berdua, tapi juga setiap warga Korea!”

Meskipun penuh kegetiran, aku mengakui perucapan ayahku. Beliau bertanggung jawab, bukan hanya terhadapku dan kakakku, melainkan juga atas martabat negaranya. Akan tetapi dalam situasi mendesak seperti ini, aku ingin menjadi prioritasnya. Setidaknya sedikit curahan perhatian yang cukup untuk menegarkanku atau menghapuskan kegusaranku. Setelah itu, mungkin aku lebih tetap untuk berjalan kembali ke ranah bahaya.

Shit!”

Aku membuka mataku kembali ketika menangkap bunyi bedebam disertai suara umpatan dari mulut Kyuhyun.

Oh shit! Lepaskan!”

Melirikkan mataku ke samping, aku melihat Kyuhyun yang dijatuhkan ke lantai dan dibekuk oleh seorang tentara. Dia berusaha memberontak ketika tangannya dipiting ke belakang punggung, namun apalah arti pemberontakkannya melawan tentara yang terlatih. “Hyunnie…” sebisa mungkin kukeluarkan suaraku memanggil namanya. Aku memanjangkan tanganku, kemudian menggeser ke samping; berharap dapat menggapai Kyuhyun.

“Bawa dia keluar!” perintah ayahku.

Damn you! Lepaskan!” jerit perlawanan Kyuhyun saat dia diseret keluar oleh dua orang tentara.

“Kyuhyun-ah…” napasku mulai tersengal dan tidak beraturan. Dadaku mengembang dan mengempis dengan tekanan kuat dan gerakan hiperbolis. Jemari tanganku mengaku dan memanjang untuk mencegah Kyuhyun dijauhkan dariku. “Andwe…” meskipun aku ingin berteriak, namun yang lolos hanya desisan.

“Youngie, berikan kami waktu sejenak untuk bicara,” ayahku menggapai dan menggenggam tanganku. Wajah kejurnya sama sekali tidak menampakkan suatu emosi.

Aku menggeleng semampuku untuk menolak gagasan ayahku, namun cengkeraman kokohnya berkata lain. “Kumohon jangan sakiti Kyuhyun,” lirihku, “akan kuturuti kemauan kalian.” Aku sendiri terpukau dengan kekuatanku untuk melafalkan kalimat cukup panjang. Merampungkan ucapanku, sesaat dalam kelengahan ayahku, aku memergoki bentuk kerisauan dalam pandangannya.

“Seseorang di luar ingin bicara denganmu. Aku harap dia dapat menjelaskan situasi ini lebih baik daripadaku.”

Menggeleng sekali lagi, aku menjawab ayahku. Di sisa waktuku yang terbatas, aku hanya ingin menghabiskannya dengan Kyuhyun. Aku lebih berminat mendengar sarkasmenya daripada tidak sama sekali. Harapku dipupus mengejutkan ketika ayahku mengusap kepalaku dengan lembut, sebelum menarik diri.

Mengedipkan mataku untuk menjernihkan penglihatanku yang sempat mengabur karena air mata, aku menata emosiku yang berfluktuasi beberapa saat lalu. Bahkan aku sendiri lupa terakhir kali aku memiliki jenis perasaan ini; tak ubahnya seorang bocah yang kehilangan selimut kucel kesayangannya. Jemariku mengatup membuat kepalan dan menggeret serta kain sprei yang tertangkap di antaranya.

“Youngie-ya?” suara sapa yang kukenal membuatku menoleh; Ahreum. Dia mendekatiku, dibarengi oleh Lee Bujangnim di belakangnya, kemudian mengambil tempat di sisiku. Wajahnya memerah terutama hidungnya, agaknya merupakan hal yang tertinggal setelah dia menangis. Dia menggigit bibirnya ketika aku mengamatinya dengan intens.

“Kutinggalkan kalian berdua,” Lee Bujangnim meremas pundak Ahreum dan memberikan kecupan singkat di pelipis, sebelum dia keluar.

Aku merangkai tebakkan urgensi Ahreum berada di tempat ini; di salah satu markas tentara Korsel di perbatasan Korut dan Korsel. Tidak mungkin dia mengetahui bahwa aku bertemu dengan ayahnya, bukan?

“Sepuluh tahun lalu ketika aku berumur tujuh belas tahun, ayah dan ibuku mengalami kecelakaan,” Ahreum membuka mulut dan malah membuatku bingung dengan tema yang dia angkat. Di waktu seperti ini, aku tidak butuh mendengar kisah hidupnya. “Ibuku meninggal di tempat, sementara ayahku lenyap; tidak diketahui nasib dan keberadaannya. Aku praktis menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara setelahnya.”

Aku ingin menyela untuk menghentikan Ahreum, namun tiba-tiba otakku mengingat detik kejadian sebelum aku diculik; Ahreum menelponku. Dia seolah mengetahui bahwa aku dalam keadaan bahaya. Demikian aku membiarkan dia menjelaskan perkara yang sedang kuhadapi.

“Aku putus asa untuk mencari kebenaran mengenai kecelakaan yang menimpa kedua orang tuaku hingga tiga tahun lalu, Tuan Choi datang padaku dan menjawab semuanya. Ibuku meninggal bukan murni karena kecelakaan, melainkan juga karena sebuah tembakan di kepalanya. Sementara ayahku diduga kuat diculik oleh pihak Korut.” Ahreum menjaga suaranya tetap terkendali, meskipun beberapa kali tersendat.

“Bukan hanya aku yang mengalami kehilangan, namun ternyata banyak warga kita yang mengalami kejadian serupa. Dua tahun lalu, negara kita dibantu oleh aliansi menyusun operasi untuk mengupayakan kebebasan para warga yang diculik. Kami menyebutnya sebagai returning.”

Aku mencerna informasi dari Ahreum. “Aliansi…aliansi…” ulangku dalam hati untuk mencari benang merah, “Amerika…Walt Disney.” Mataku kontan membuka lebar dan mengamati Ahreum yang menganggukkan kepalanya.

“Kerja sama Dae-A dengan Disney disusul segala macam persoalan, semua adalah rekayasa, Youngie.” Ahreum menarik napasnya, sebelum menyampaikan alasan dari ucapan yang membuatku hampir-hampir berhenti bernapas. “Kami membutuhkan kamuflase untuk menutupi operasi returning dari media,” dia menggigit bibirnya, “dan kisruh Disney merupakan isu perfek yang mengalihkan mata media Korea sekaligus internasional.”

Aku menutup mata ketika rasa-rasanya darahku mengalir ke ubun-ubun. Tidak kusangka bahwa strategi politik yang diambil ayahku demikian rupa; antara keji dan jitu. Isu penculikan warga Korsel oleh Korut pernah menjadi sorotan media internasional, namun mereka hanya mampu bersimpati tanpa melakukan tindakan real untuk penyelamatan. Sementara ayahku mengambil inisiasi suatu operasi, hal tersebut sangatlah sensitif dan beresiko. Itu sebabnya mereka harus menyembunyikannya dari mata dunia.

“Akhir-akhir ini operasi returning tercium oleh Korut. Awalnya kami tidak menyangka mereka akan menjadikanmu sebagai target, sebelum sebuah laporan masuk ke mejaku bahwa ada indikasi kau diikuti oleh mata-mata Korut.”

Membuka mataku, aku menatap raut penyesalan Ahreum. Mungkin awalnya dia hanya berharap untuk menemukan ayahnya, namun semakin lama keterlibatannya semakin dalam. Aku mengadu alisku, cukup menunjukkan raut tanya. Bagaimana Ahreum mengetahui bahwa aku diikuti mata-mata? Bukankah itu berarti…

Ahreum kembali mengangguk, seolah mengerti bahasa wajahku, kali ini dia tidak bisa membendung air mata yang menggaris di pipinya. “Kurasa aku tidak pantas menangis di depanmu.” Dia menunduk untuk membesut air matanya. “Aku menugaskan seseorang untuk memantau kegiatanmu.”

Dengan pengakuan Ahreum, aku menjadi tidak heran dia begitu up to date terhadap kegitanku. Tunggu dulu, selain Ahreum, seseorang yang juga mengikuti kegiatanku adalah…”Luhan?” parauku.

Ahreum mengulum kedua bibirnya, matanya terlihat gamang untuk menjawabku. “Dia ditahan untuk proses interogasi karena menggiringmu mengikuti suatu lomba fotografi palsu. Apakah dia terlibat atau tidak pada masalah ini, masih dalam penyelidikkan.”

Menarik napas panjang semampuku, aku berusaha mengatur irama napasku. Orang-orang di sekitarku yang setiap hari bergaul denganku, tidak kusangka menyembunyikan misi masing-masing terhadapku. Aku ingin bertanya lebih lanjut sebelum sebuah ketukan di pintu membuyarkan pertanyaanku yang sudah kususun dalam pikiran.

“Waktu kalian habis.” Interupsi Jisung membuatku menegang karena itu artinya aku harus dikembalikan sebagai sandera.

Andwe!” Ahreum memekik dan secara spontan membelakangiku dengan pertahanan seakan dia ingin menamengiku dari Jisung. “Kalian pasti bisa melakukan sesuatu untuk mencegah—“

“Ny. Lee, aku tidak berharap mendapat penolakan darimu karena kau sudah mengerti situasi kita,” ucap Jisung tenang.

Bukannya meluluh, Ahreum semakin merangsek ke arahku dengan sikap pertahanan. “Kumohon pikirkan sesuatu selain mengembalikan dia menjadi sandera,” rintihnya.

“Ahreum-ah…”

Meskipun penglihatanku terhalangi punggung Ahreum, namun aku yakin suara itu milik Lee Bujangnim.

“Hae, please,” mohon Ahreum sekali lagi yang kuyakin akan berakhir sia-sia. Belum berselang lama, tubuh Ahreum disentak dan dijauhkan dariku oleh suaminya. “Oppa, kumohon!” jeritnya memberontak. Akan tetapi perlawanannya segera teredam ketika tubuhnya didekap erat dan wajahnya diselamkan ke dada Lee Bujangnim.

Mengalihkan tatapanku dari sejoli itu, mataku segera menangkap Kyuhyun yang mendekat. Membisu dan memurung, dia mencopoti semua peralatan medis yang melekat di tubuhku dengan cepat.

Aku ingin menjeritkan penolakanku terhadap keputusan mereka, namun bahkan untuk berbicara saja aku tergagap.

Kyuhyun menegakkan tubuhku, kemudian dia memutar tubuhnya membelakangiku sambil menyampirkan tanganku di masing-masing pundaknya. Setelah menyakinkan bahwa tubuhku sudah tersandar sepenuhnya di punggungnya dan kedua tanganku mengait di lehernya, dia melingkarkan kedua tangannya di pahaku dan mulai berdiri.

Tidakkah mereka terlalu kejam, memerintahkan satu-satunya orang yang saat ini kupercaya untuk mengantarkanku kembali ke bahaya. Mungkin aku lebih baik didorong oleh siapa pun tentara di sini kecuali Kyuhyun karena aku tidak akan sanggup menahan keperihan melihat punggungnya membalik atau pun sosoknya menjauh saat kami terpisah.

“Miyoung-ah,” panggil ayahku. Beliau menggamit lengan atas Kyuhyun untuk menghalangi kami.

Aku melengos ke arah lain untuk menghindari tatapan ayahku. Merasakan usapan di puncak kepalaku, aku menyusupkan wajahku ke pundak Kyuhyun untuk mengusir empati ayahku. Untuk saat ini, aku sangat membenci beliau dan aku tidak peduli sampai kapan jenis perasaan ini kualamatkan untuk beliau. Hatiku bertambah memberat saat kurasakan Kyuhyun meneruskan langkahnya.

Cuaca yang dingin di bulan Desember segera mengigit kulitku begitu kami berada di luar. Untungnya mantel yang dipakaikan padaku cukup menjaga tubuhku tidak membeku di tempat. Mengeratkan lingkaran kedua tanganku di leher Kyuhyun, aku menyusupkan hidungku yang mendingin di tengkuk bawahnya.

Lima tentara mendampingi kami, dua di belakang kami, dua di samping kiri-kanan, dan satu di depan. Mereka bersikap waspada dengan senapan yang disiagakan. Aku ingin mengutarakan kekalutanku pada Kyuhyun dan mengabaikan para tentara, namun aku juga tidak ingin bertindak lemah di hadapan orang lain.

Kami berjalan kira-kira 100 hingga 150 meter, atau bahkan lebih karena aku sendiri tidak yakin, masuk ke dalam belantara yang menjadi perbatasan antara Korsel dan Korut. Keadaan kami sekarang dilingkupi kegelapan dan kelembaban karena bulan tidak muncul di musim dingin untuk menyinari malam kami. Penerangan hanya berasal dari lampu senter yang dibawa oleh tiga tentara. Boleh jadi mereka bersikap ekstra hati-hati dengan tidak menyorotkan senter yang dibawa masing-masing tentara.

Jantungku rasanya berhenti mendadak seiring langkah Kyuhyun yang berhenti, menandakan bahwa kami telah tiba di jarak maksimal pengantaran. Selain aku, mereka tidak diperkenankan melintasi perbatasan. Seorang tentara di depan kami mengirimkan sandi dengan sorotan lampu senter; barangkali morse atau kode militer yang tidak kuketahui. Selang beberapa saat, terdapat kelip balasan dari seberang yang membuat jantungku berdetak kuat.

“Hyunnie,” lirihku. Kerongkonganku yang tercekik dingin membuat suaraku hampir tidak terdengar.

Kyuhyun sekali lagi hanya diam, tidak memberikan sebuah jawaban meskipun sebuah gestur kecil.

Seorang pimpinan grup tentara yang berada di depan kami menoleh ke belakang, sebelum menyingkir ke samping. “Kami hanya dapat mengantarkan sampai di sini.” Dia memberikan sikap hormat layaknya aku adalah pahlawan. Kenyataannya, aku tak lebih dari seekor kambing yang dikorbankan.

Aku mengangkat wajahku dan bersiap turun dari punggung Kyuhyun, namun sentakan naik Kyuhyun untuk mengukuhkan gendongannya membuatku kaget. “Tunggu dulu…” Aku menjauhkan muka tubuhku dari punggung Kyuhyun untuk mengerti situasi kami. “Oh Tuhanku…” rintihku ketika mendapati kain putih dengan tanda plus merah tertali di lengan kanan Kyuhyun; lambang red cross[1]. Sebelum aku memprotes, Kyuhyun telah melangkah maju.

“Kyu-ah, apa yang kau perbuat?” panikku. Aku memukul ringan punggung Kyuhyun untuk menolak tindakannya menemaniku ke wilayah musuh. “Kumohon kembalilah,” kuguncang pundak Kyuhyun yang bergeming mengabaikan tentanganku. “Kyuhyun-ah…”

“Kau benar-benar ingin aku kembali, Young?” tanya Kyuhyun yang tidak menghentikan langkahnya.

Aku mengatup mulutku rapat, memikirkan pertanyaan Kyuhyun. Ingin kujawab tanyanya menggunakan ‘tidak’ dengan tegas, namun aku tidak boleh bersikap egois dengan menyeretnya ke dalam bahaya. Pada akhirnya yang kulakukan hanya meluruhkan tubuhku melekat kembali pada punggungnya sambil menguatkan peganganku di bahunya. Air mataku yang meluruh di pipiku terasa hangat. “Aku,” kukulum gumpalan saliva, “takut.”

“Kalau begitu berhenti menolak kehadiranku,” jawab Kyuhyun tenang.

“Karena kau berjalan terlalu jauh, seolah sedang menyerahkan dirimu.”

“Menurutmu begitu?”

Aku mengangguk sehingga mengantukkan daguku di pundak Kyuhyun agar dia mengetahui jawabanku, “dan menurutku kau mempunyai pilihan lain selain ini.”

Kyuhyun mendesah hingga kepulan napasnya terlihat sebagai partikel-partikel kecil dalam sorot lampu senter di kepalanya. “Menurutku yang kulakukan bukanlah penyerahan, Young,” dia terus berjalan, “melainkan perjuangan.”

“Untuk apa dan untuk siapa?” tanyaku sambil melongokkan kepalaku dari balik bahunya.

“Untuk sesuatu yang patut kuperjuangkan.”

“Negaramu?”

Cish,” desis Kyuhyun melecehkan tebakkanku terhadap sesuatu yang dia perjuangkan. “Bahkan aku berniat menelantarkan Assan dan keluargaku, lalu dengan alasan apa aku berkorban untuk negaraku, huh?” sarkatis Kyuhyun. “Aku bukan patriot maupun politisi. Bersamamu saat ini, aku hanya seorang suami, bukan relawan maupun dokter.”

Aku mengadu alisku begitu mendengar pertanyaan Kyuhyun.

“Namun ketika kita sampai di seberang, untuk menjadi suamimu, aku harus menjadi orang lain.”

Ingin kubuka mulut menanyakan alasannya memerankan sosok suami bagiku. Benar bahwa dia suamiku, tapi seperti yang kuutarakan sebelumnya, gelar suami hanyalah sebuah tulisan di atas buku pernikahan kami, tidak lebih.

“Jangan tanyakan mengapa aku melakukan ini, Young,” Kyuhyun memotong rentetan pemikiranku, “karena aku sendiri belum menemukan jawaban dan situasi yang tepat.”

Arraso,” lirihku sambil menyeludukkan wajahku di syal Kyuhyun, “arraso.” Aku terkaget begitu Kyuhyun tiba-tiba menghentikan langkahnya dibarengi suara senapan diempas dalam keadaan siaga. Memperhatikan sekitarku, aku segera tahu bahwa kami telah tiba di wilayah Korut.

Kyuhyun merendahkan badannya, kemudian menarik tangannya dari pahaku untuk menurunkanku. Dia menamengiku dengan menyembunyikanku di balik punggungnya, meski hal demikian adalah sia-sia. “Kami membawa balasan dari pesan yang kau kirimkan,” ucap Kyuhyun.

“Ambil wanita itu dan periksa dia!”

Aku memekik saat tubuhku ditarik dari sisi Kyuhyun, kemudian diapit oleh dua tentara. Segera setelahnya, mereka tentara menggeledahku dan memeriksaku dengan detektor logam. “Andwe!” panikku saat mereka mengarahkan senjatanya ke kepala Kyuhyun. “Andweyo…” rintihku mencoba membebaskan diri dari cengkeraman.

“Aku seorang relawan di sini,” Kyuhyun menunjukkan simbol yang dipakainya di lengan. “Aku mewakili IFRC untuk menjembatani komunikasi kalian.”

“Dan mengapa mereka harus melibatkan federasi red cross? Padahal kami telah menunjuk perwakilan kami?” tantang salah seorang di antara para tentara, yang kuasumsikan merupakan pemimpin grup.

“Dengan kesehatannya, perwakilan yang kalian kirim tidak memungkinkan kembali. Oleh karena itu mereka mengirimku,” jawab Kyuhyun.

“Jangan macam-macam,” ancam tentara itu sambil memapas jaraknya dengan Kyuhyun. “Serahkan balasan pesan mereka.”

“Mereka tidak menuliskan pesannya, melainkan menyampaikannya padaku.”

“Periksa dia!” teriak sang pimpinan sambil menodongkan pistol ke kepala Kyuhyun. Tidak perlu lama, beberapa anak buahnya menggeledah Kyuhyun. Mereka melarikan detektor logam, kemudian melepaskan mantel dan sepatu Kyuhyun dengan paksa. Setelah diperiksa dengan teliti, tidak ada bunyi alarm yang menandakan bahwa Kyuhyun membawa sejenis logam. “Jangan mencoba bermain-main di sini,” sang pemimpin melayangkan tinju peringatan kepada Kyuhyun.

Aku meronta untuk menentang, namun tentara di sebelahku memiting tubuhku dan membekap mulutku.

“Mereka menyampaikan pesan melaluiku untuk memastikan kalian tidak membunuhku sebelum pesan ini tersampaikan,” jawab Kyuhyun.

Cish, bagaimana jika kami membunuhmu setelah kau menyampaikan pesan itu?” tantang sang pemimpin.

“Berarti kalian harus bersiap mendapatkan kemarahan dunia karena IFRC tidak hanya mencakup Korea Selatan,” senyum Kyuhyun penuh kemenangan.

“Sialan!” geram sang pemimpin. “Bawa dia serta!” teriaknya yang ditanggapi oleh para tentara lain yang menyeret Kyuhyun.

Mata kami ditutup dan tangan kami diborgol ke belakang. Tubuhku dipaksa naik ke jip, kemudian diempaskan ke bangku dengan kasar. Walaupun tidak dapat melihat, aku dapat merasakan tubuhku berimpit dengan Kyuhyun. Hal yang sedikit membuatku tenang.

#

Ketika sampai ke kamp penyekapan, aku mulai gusar ketika tubuhku didorong maju, sementara perasaku tidak mengenali kehadiran Kyuhyun. Aku menoleh-noleh ke samping kanan-kiri untuk mencari petunjuk, namun dengan mata yang masih tertutup usahaku sia-sia. Mendengar pintu sel yang dibuka, aku kemudian dimasukkan kembali ke sel setelah mereka melepaskan penutup mata dan borgol.

Merapat ke muka sel, aku mencengkeram jeruji besi dengan kedua tanganku sambil mataku melanglang mencari keberadaan Kyuhyun. “Kyuhyun-ah,” panggilku lirih ke sel sebelah. “Kyuhyun-ah,” cobaku sekali lagi yang tidak mendapat balasan. “Andwe…” rintihku saat menyadari bahwa mereka mengambil Kyuhyun. Menjatuhkan tubuhku ke lantai dengan lemah, aku mengadu keningku di jeruji. Daguku bergetar menahan luapan emosi, namun menangis pun di saat seperti ini tidak ada gunanya. Menyapukan pandanganku di antara tawanan, aku kemudian menyadari seseorang lain yang menghilang; Seoyun ahjumma. Membekap mulutku, aku semakin merapat ke sisi tembok karena untuk berteriak dan memprotes, aku masih tidak memiliki daya yang cukup.

Aku menunggu, tidak tahu sudah berapa waktu yang terhabiskan, namun Kyuhyun belum muncul. Mengigit bibir bawahku, aku meraba jantungku yang detaknya mengeras seiring bermacam pikiran buruk muncul. Dalam hati aku mengutukki diriku yang tidak lebih keras lagi mencegah Kyuhyun untuk datang disini. Aku menangkup wajahku dengan dua telapak tanganku yang bergetar, kemudian mengeluarkan sesenggukan dari apa yang menjadi bebanku. “Bodoh…bodoh!” umpatku kecil.

Kepalaku menegak ketika telingaku menangkap derap langkah memasuki koridor. Napasku tertahan cepat begitu melihat Kyuhyun digiring masuk oleh tiga tentara dengan kondisi wajah yang babak belur. Segenap tenaga kukumpulkan untuk bangun, namun alhasil aku hanya dapat menegakkan punggungku saja. Aku merasakan hatiku ngilu ketika pandangan kami berpapasan dan yang Kyuhyun lakukan adalah menarik senyum simpul. Kepalaku secara otomatis mengikuti gerak-gerik mereka, Kyuhyun dan ketiga tentara.

Setelah menggelandang Kyuhyun dan memasukannya ke sel untuk pria di sebelahku, ketiga tentara meninggalkan ruangan sel. Ketika mereka melewatiku dan sekilas memandangku, aku hanya dapat membalas tatapan mereka dengan kebencian.

“Kyu-ah…” aku merapatkan tubuhku pada tembok pembatas yang memisahkan sel wanita dan pria di sampingku. “Kyuhyun-ah…” panggilku lagi dengan lebih keras, berharap Kyuhyun meresponku dengan apa saja. Mendengar erangan kecil, aku semakin menekankan tubuhku ke jeruji di mukaku agar dapat sedikit saja mendapat penglihatan sosok Kyuhyun. Meskipun berakhir sia-sia. “Apa yang mereka lakukan padamu, huh?” suaraku pecah.

“Hei…hei…” Kyuhyun mengeluarkan tangannya dari jeruji, kemudian menganjurkannya ke samping hingga aku dapat melihat jemarinya yang pucat. “Aku baik-baik saja, Young.”

Mengeluarkan tanganku melalui jeruji, aku menggapai jemari Kyuhyun dan meremasnya; merasakan jemarinya yang dingin. “Kau jelas tidak terlihat baik-baik saja,” gerutuku diselingi air mataku yang kembali meluruh.

Kyuhyun membalas remasan tanganku dan menyapukan ibu jarinya di punggung tanganku. “Mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan,” jeda sejenak, agaknya digunakan Kyuhyun untuk menarik napas panjang, “dan mereka akan mendapatkan yang lebih besar lagi.”

Aku tidak mengerti ucapan Kyuhyun dan tidak berniat menggagasnya. Menemukan Kyuhyun sudah berada di sini saja, aku sudah bersyukur. Untuk saat ini, kekhawatiranku sedikit terangkat. Aku meyandarkan bahu dan pelipisku di jeruji sambil tetap mengaitkan tanganku dengan milik Kyuhyun.

“Istirahatlah, Young. Kau butuh memulihkan tubuhmu.” Kyuhyun melonggarkan genggamannya. “Merapatlah ke sisi lain agar tubuhmu tidak mengigil.”

Aku menolak ide Kyuhyun dan menarik tangannya ke arahku. Saat ini aku berharap bisa menilik seberapa parah luka yang tentara-tentara biadab itu akibatkan pada wajah Kyuhyun. Tubuhku memang mulai merasa kedinginan sebab tipisnya alas jerami di sisi muka jeruji, namun dadaku cukup hangat dengan memegangi tangan Kyuhyun. “Aku dapat menarik beberapa lagi jemari untuk mengalasiku, tapi tolong,” aku menelan ludahku, “jangan lepaskanku.”

“Tidak akan, Young,” Kyuhyun mengeratkan lagi genggamannya, “tidak akan.”

Dengan demikian, aku dapat meletakkan sejenak kegelisahanku. Menutup kelopak mataku, aku berusaha menuruti perkataan Kyuhyun.

#

Mataku sontak membuka ketika dorongan dari perutku naik ke tenggorokkan. Aku bangun, tetapi kepalaku langsung terasa pening karena tidak siap. “Hoek,” aku menutup mulutku dan beringsut menuju sudut, namun baru beberapa jengkal perutku kembali bergolak. “Hoek,” tidak ada yang dapat kumutahkan selain air.

“Young…Young….” Suara Kyuhyun terdengar dari balik tembok. “Kau baik-baik saja?”

Aku melambaikan tanganku ke belakang; ingin menjawab kegusaran Kyuhyun. Akan tetapi percuma karena Kyuhyun tidak bisa melihatku. “Hoek,” rasa mualku semakin meningkat. Menghentikan usahaku untuk mencapai toilet di sudut, aku memutahkan cairan di tempat.

“Hei! Hei! Keluarkan aku!” teriak Kyuhyun dibarengi dengan bunyi jeruji yang dipukul. “Hei!” Sepertinya Kyuhyun menggunakan sebuah batu atau kayu untuk membuat kegaduhan agar para tentara mendengar teriakannya. “Keluarkan aku! Biarkan aku memeriksanya!” Beberapa saat setelah itu, derap langkah berlarian terdengar mendekat.

Aku menggunakan sikuku untuk menumpu tubuhku di lantai saat kepalaku kembali pening. Gejolak perutku yang kian menjadi membuatku memutahkan cairan-cairan isi perutku hingga rasa-rasanya perutku keram.

“Tolong, lepaskan aku. Dia membutuhkanku!” teriak Kyuhyun untuk bernegosiasi dengan tentara yang datang.

“Periksa dia!” perintah seorang tentara.

Aku mendengar pintu selku dibuka, disusul dengan seorang tentara yang masuk. Dia berdiri di depanku, cukup untuk melihat kondisiku yang nelangsa. Mengangkat wajahku, aku membiarkan tetes mutahanku mengalir di sudut bibir untuk menjijikkannya. Benar saja, tentara itu mengambil langkah mundur untuk kembali kepada pimpinannya yang memberi perintah.

“Lepaskan dia, suruh dia memeriksa wanita itu!”

Tidak berselang lama hingga kurasakan kehadiran Kyuhyun di sisiku. Dia mengambil sebelah tanganku dan memapahku menuju toilet di sudut. Membimbingku untuk duduk di lantai, Kyuhyun kemudian membuka penutup toilet. Dia memijat tengkukku ketika aku kembali memutahkan isi perutku.

Mendongakkan kepala setelah beberapa mutahan, aku mengusap mulutku dibantu oleh Kyuhyun. Kuluruhkan tubuhku ke lantai saat ragaku melunglai. Agaknya pagi ini kami tidak digiring ke aula untuk pemeriksaan atau pun diberikan makan.

“Kemarilah, Young.” Kyuhyun merangkul pundakku dan meraih tubuhku masuk ke pelukkannya. Dia membersihkan sisa air di mulutku, sementara aku menyusupkan sesisi wajahku ke dadanya untuk membauinya.

Aku mencengkeram kemeja depan Kyuhyun dan mengambil momen ini serakus-rakusnya sebelum kami dipisahkan kembali. Menghirup dalam wangi keringatnya, perlahan gejolak mualku mereda.

“Bawa dia kembali ke selnya!” teriak seorang tentara yang dipatuhi oleh anak buahnya.

Andwe…” tolakku.

“Kumohon, dia membutuhkanku di sini.” Kyuhyun menahanku tetap dalam pelukannya sembari menolak untuk diseret oleh para tentara. “Jika kalian tidak menghendaki sesuatu yang buruk padanya, biarkan aku di sini. Kami tidak akan berbuat macam-macam.”

Otakku berpikir bagaimana caranya untuk meyakinkan para tentara agar membiarkan Kyuhyun berada di sel ini. Memikirkan ide untuk mencurangi mereka tentara, aku memejamkan mataku seraya melunglaikan tubuhku seperti orang yang kehilangan kesadaran.

“Young…Young…” panggil Kyuhyun panik sambil mengeratkan kembali pelukannya yang merenggang.

Aku dengan sengaja menahan napasku saat kurasakan Kyuhyun menepuk pipiku dan memeriksa pernapasanku.

“Oh Tuhanku…” rintih Kyuhyun sambil membaringkan tubuhku, “Young…Young…” panggilnya lagi yang tidak kurespon.

Aku merasakan pergelanganku diangkat; tidak salah lagi Kyuhyun sedang memeriksa nadiku. Dengan seperti itu, aku yakin Kyuhyun tahu bahwa aku sedang berpura-pura. Merasakan daguku diangkat dan lidahku disapu oleh jari, aku mengerti Kyuhyun mengikuti permainanku. Bibirku dapat merasakan lembut bibir Kyuhyun yang tertempel untuk memberikan CPR[2]. Rongga mulutku dialiri udara dari mulut Kyuhyun, kemudian dadaku dihentak beberapa kali olehnya. Dia mengulang proses ini hingga dua kali sampai aku menggeram kecil untuk menyudahi sandiwara.

“Dia mengalami henti napas karena riwayat kesehatannya dan raganya yang lemah. Aku tidak bisa memastikan hal ini tidak terulang lagi.” Tentu saja Kyuhyun mengada-ada untuk mengelabuhi tentara. Walaupun badanku lemah, namun aku masih dapat bernapas dengan lancar. “Aku seorang dokter. Izinkan aku di sini, maka akan kuupayakan kondisinya tidak memburuk.”

Setelah beberapa saat yang sepertinya digunakan oleh para tentara berdiskusi, akhirnya salah seorang dari mereka berteriak, “Tinggalkan dia di sini!”

Mendengarkan teriakan tersebut, aku merilekskan kedua bahuku setelah para tentara pergi. Diriku menurut ketika Kyuhyun mengangkatkanku dan mendudukanku di atas tumpukan jerami yang lebih tebal. Dia mengambil tempat berseberangan dengan tawanan yang lain, mungkin untuk menghormati privasi para tahanan wanita di sini.

Duduk di sampingku, Kyuhyun meraihku dalam pelukannya lagi. Dia mengait dagunya di puncak kepalaku, sebelum berkata, “Pabo[3].”

Aku hanya tersenyum kecil dan menyurung wajahku masuk ke dadanya. “Kuasumsikan perucapanmu ditujukan untuk tentara-tentara itu,” seringaiku.

“Akan ada waktu untukku meneriakkan kata itu di wajah mereka, tapi bukan untuk kali ini, Young.” Kyuhyun menyelipkan tangannya di bawah daguku, lalu mengangkat wajahku bertemu pandang dengannya. “Kali ini aku menujukan kata itu untukmu. Jangan gunakan trik bodoh ini lagi karena tidak akan bisa mengelabuhiku.”

Cish,” aku mendesis kecil, “aku tahu. Tapi setidaknya trik bodohku bekerja pada mereka.”

“Kau bisa mengklaim hal itu.”

Aku mengangkat tanganku, kemudian melarikan jemariku pada lebam di wajah Kyuhyun. Sisi kiri wajahnya terdapat dua bekas membiru yang cukup lebar hingga memenuhi pipinya, sementara sisi kanannya juga membiru meski tidak separah yang kiri. “Apa yang mereka inginkan darimu hingga harus melakukan ini?”

Kyuhyun mencekal jemariku yang menelusuri wajahnya, kemudian menurunkannya. “Sudah kukatakan, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hanya saja, harapan mereka atas keinginan itu terlampau besar.”

“Jangan bertele-tele denganku, Kyu-ah. Apakah appa-ku,” aku menggeleng untuk mengoreksi, “bukan, tapi Tuan Choi menyuruhmu menyampaikan bahwa operasi returning akan dihentikan?”

“Bukankah hal demikian terlalu mahal harganya?” Kyuhyun menaikkan alisnya. “Operasi itu adalah harga diri negara kita, Young. Jika kita menghentikannya, maka sama halnya tunduk kepada perintah komunis.”

“Kalau begitu kau membawa pesan yang lain?”

“Tidak juga.” Kyuhyun mengadu keningnya dengan milikku. “Aku dikirim sebagai upaya untuk merendahkan tindakan keji mereka.”

“Kau tolol?” Aku menarik wajahku menjauh. “Bagaimana jika mereka—“

“Membunuhku?” sambung Kyuhyun yang kuamini dengan anggukan. “Sejauh ini, mereka tidak akan berani kecuali siap melawan dengan negara kita, bahkan China.”

“China?”

“China merupakan salah satu negara Asia terdekat dari Korut yang menjadi anggota IFRC. Meskipun IFRC bersikap netral, namun politisi dan militer China tidak demikian. Lagipula, negara itu agaknya juga sudah jengah dengan gaya diktator yang diterapkan untuk memimpin negara ini.”

“Maksudmu?”

“Media China meliris berita mengenai eksekusi mati oleh Kim Jong-Un terhadap pamannya sendiri yang terbilang sangat sadis[4]. Padahal kebenaran berita ini masih disangsikan. Boleh jadi China geram dengan teror yang dilakukan pemimpin negara ini.”

Aku menggangguk paham, lalu menyorong kepalaku ke ceruk leher Kyuhyun untuk menyudahi pembicaraan berat kami. Baru beberapa saat aku tenang, telingaku menegak dengan bunyi gaduh.

Kami melirik ke arah beberapa tentara yang datang dengan baki-baki di tangan mereka. Setelah mereka menaruh, bahkan beberapa melemparkan baki tersebut, kami baru mengetahui bahwa isi baki tersebut adalah makanan kami hari ini. Akibat dari mereka yang melemparkan baki tersebut  beberapa makanan tertumpah di lantai.

Dengan tanggap Kyuhyun bangkit dan mengambil dua mangkuk berisi makanan sebelum terdahului oleh tahanan yang lain. Dia duduk kembali di sisiku sambil mengamati menu kami hari ini; sepotong roti dan segumpal nasi. Jangan harap mereka memberi kami makanan baik, setelah dilihat lagi potongan rotinya bahkan sudah berjamur, sementara nasinya sangat keras. “Berapa lama kau makan makanan seperti ini? Seminggu, huh?” sinis Kyuhyun sembari masih mengamati makanan kami.

“Mau bagaimana lagi?” aku menegakkan posisi dudukku, “hanya ini yang bisa kudapat untuk bertahan hidup.”

Kyuhyun mengulum bibirnya, kemudian memandangku melas.

“Jangan menatapku seperti itu.” Aku mengedikkan daguku supaya Kyuhyun mengamati yang lain. “Mereka bahkan lebih lama di sini.” Beberapa tahanan bahkan sudah tinggal tulang berbungkus kulit, hampir-hampir wajah mereka semua seperti orang tua karena kulit wajahnya yang menggelambir. Kondisi kebersihan tubuh mereka yang buruk dengan pakaian kumal kian memperjelas penderitaan mereka selama di sini.

Kyuhyun bangun dari duduknya, kemudian menuangkan separuh makanannya ke mangkuk milik seorang wanita tua yang terlambat mengambil jatah makanan sehingga hanya mampu mengais makanan yang tumpah. Dia kembali ke sisiku, tanpa banyak cakap mengambil mangkuk makananku. “Kau tidak bisa memakan ini,” ucap Kyuhyun sambil membuang bagian roti yang ditumbuhi jamur. Sebelum menyuapkan roti yang sudah bersih, Kyuhyun melumat roti tersebut dengan tangannya agar teksturnya lebih lembut. “Buka mulutmu,” mintanya.

Aku sedang tidak ingin berargumen agar Kyuhyun membiarkanku makan sendiri daripada mendapat suapannya. Perutku terlalu kejur, minta diisi makanan. Hanya sepotong roti setelapak tangan yang sudah berkurang dimana-mana akibat jamur tidak membuatku perutku cukup terisi. Tanganku menganjur, mengambil nasi yang mengeras kemudian melumatnya dengan tangan sebelum memakannya. “Ugh,” seruku yang masih merasakan tekstur keras nasi. Tidak seperti roti, butiran nasi yang keras tidak melembut dengan sekadar remasan.

“Tunggu dulu,” ucap Kyuhyun sambil menyuapkan gumpalan nasi ke mulutnya sendiri. Dia mengunyah beberapa kali, kemudian memutahkan kunyahan tersebut dalam telapak tangannya. “Buka mulutmu,” pintanya sambil menyodorkanku nasi yang telah dikunyahnya. “Aku bersih dari penyakit menular, Young,” geramnya ketika aku tidak segera membuka mulut dan hanya memandanginya dengan ragu.

Membuka mulutku, aku menerima suapan Kyuhyun. Memasukan makanan tersebut ke dalam mulut, aku mengulunya dalam sekali telan. Jijik atau tidak, saat ini yang kupentingkan adalah makanan tersebut masuk ke tubuhku.

“Bagus, karena hanya itu yang bisa kita dapat untuk bertahan hidup,” mimik Kyuhyun pada ucapanku sebelumnya. Dia mengulang proses yang sama, mengunyahkan nasi untukku kemudian menyuapkannya padaku.

Aku menahan tangan Kyuhyun dan menutup bibirnya dengan jemariku ketika dia akan memutahkan kunyahan nasi di rongga mulutnya. “Kau juga butuh makan,” ucapku.

Kyuhyun menelan makanan tersebut, lalu dengan sayu menatapku. “Jangan khawatir, aku masih bisa bertahan, sementara kalian berdua lebih membutuhkan ini.”

“Mereka hanya memberi makan sekali dalam sehari, Kyu-ah. Kita sama-sama membutuhkan energi untuk dapat bertahan.”

Memelorotkan bahu, Kyuhyun kembali menyuapkan nasi ke mulutnya untuk ditelan. “Andai tahu seperti ini, aku lebih memilih membunuhmu kemarin,” lengosnya.

Aku hanya meringis kecil menanggapi guyonan Kyuhyun.

#

Jika tidak salah hitung, kami sudah berada di penjara ini selama tiga hari dan ini malam keempat, dihitung dari malam ketika kami tiba. Tidak seperti ketika awal aku disekap, kami tidak lagi dikumpulkan di aula. Makanan diantarkan oleh para tentara sehingga praktis kami tidak pernah meninggalkan sel. Selama beberapa hari ini pula tidak ada orang yang dikeluarkan dari sel untuk proses interogasi atau apa pun keperluan mereka, dan tidak ada pula yang dimasukkan ke sel sebagai tawanan baru.

Shit!” umpat Kyuhyun tiba-tiba sambil memegangi lengan atasnya.

“Ada apa?” tanyaku panik, takut andai dia terluka.

Kyuhyun membuka jaketnya, kemudian membuka kancing kemejanya. Dia menyibak kemeja depannya dan memelorotkannya sedikit, cukup untuk melihat luka di lengan atasnya. Ada bekas membiru dengan luka parut sepanjang lima centi yang membuat kulit sekitarnya memerah. “Oh, damn it!” umpat Kyuhyun lagi.

“Apa ini?” Aku menyusupkan tanganku untuk memeriksa luka Kyuhyun yang hampir-hampir dapat kukatakan membusuk. “Katakan apa yang harus kulakukan, Kyu-ah,” kalutku yang mengkhawatirkan terjadinya infeksi pada luka tersebut.

Bukannya menanggapiku, Kyuhyun hanya merogoh saku celananya dan membuka sebuah band aid. Dia menempelkan band aid tersebut ke lukanya, “Untuk sementara, ini cukup menahan infeksinya.” Menutup kembali kemejanya, Kyuhyun mengancingkan dan merapatkan kembali jaketnya.

“Luka apa itu? Apa yang mereka lakukan padamu?” berondongku.

Sstt…” Kyuhyun menangkup kedua pipiku dan mengisyaratkanku untuk diam. Dia meraihku tubuhku mendekat dan masuk dalam dekapannya. “Tidak sekarang aku menjelaskannya, Young,” ucapnya untuk meredakan kepanikanku, “karena luka kecil ini adalah harapanku untuk keselamatan kita,” bisiknya di telingaku. Kyuhyun meletakkan telunjuknya di bibirku ketika aku akan membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut. “Pada waktunya nanti, kau akan mengerti,” jamin Kyuhyun yang kupercaya. Selanjutnya, dia menuntun kepalaku untuk tergolek di pundaknya.

Aku membenahi letak kepalaku di pundak Kyuhyun, lalu mengangkat wajahku ketika menangkap gumam kecilnya. Mengadu alisku dengan ringan, aku mencermati gumaman Kyuhyun yang semakin jelas menjadi senandung lirih. “A Christmas carol[5]?” tanyaku berbisik pada lagu yang disenanungkan lirih oleh Kyuhyun.

Kyuhyun menundukkan wajahnya hingga bersemuka denganku. Dia hanya tersenyum, menutup mulutnya, sambil tetap melanjutkan senandungnya. Mengeratkan tangannya yang mengalung di pinggangku, dia menaikkan daguku dengan telunjuk tangannya yang lain. Kedua mata almond-nya menatapku secara komikal agar aku mengikutinya bersenandung.

Hingga Kyuhyun menyelesaikan silent night, sebuah Christmas carol yang dia senandungkan, aku masih menatapnya dengan takjub. Aku berpikir alasan Kyuhyun menyenandung, sebelum bibirku melengkungkan senyum. Aku hilang jejak akan waktu, namun karena ini Desember dan jika tidak salah ingat aku diculik pada tanggal 13, maka tebakkanku malam ini adalah malam natal.

“Mungkin tahun ini akan menjadi Natal terburuk bagiku, juga bagi kita,” Kyuhyun angkat bicara, sementara aku hanya memainkan jemarinya yang menyekop tanganku. Dia mendongak, mengadukan kepala belakangnya dengan tembok. “Jika aku boleh berharap, maka aku menginginkan Santa Clause itu pulih seperti sedia kala dan membawakanku bertumpuk hadiah.” Menggigit bibir bawahnya, dalam temaram seperti ini matanya mulai berkilauan ketika lapisan bening itu terbentuk.

Aku diam, mendengarkan Kyuhyun berceloteh mengenai Santa Clause-nya.

“Aku memilihnya sejak pertama mataku menangkapnya dengan intens. Dia terlalu indah, terlalu sempurna.” Kyuhyun menelan ludahnya hingga jakunnya bergerak naik. “Dia memberikanku tempat bernaung dalam hubungan yang,” Kyuhyun menunduk dan menyeringai, “mereka katakan tidak pantas.” Dia menoleh padaku, “Aku tidak peduli apakah pantas atau tidak, namun yang kutahu aku merasa bebas ketika bersamanya.” Tetes kristal matanya meluruh, menggaris, membasahi pipi pucatnya. “Pada akhirnya, yang kuberikan padanya sebagai balasan adalah luka.”

Aku menganjurkan tanganku untuk membesut air mata di pipi Kyuhyun. Mengetahui bahwa yang Kyuhyun bicarakan adalah kakakku, aku tidak bisa menahan tanganku untuk tidak bergetar. “Kau tentu menyesal terjebak di sini bersamaku.” Meskipun ucapanku terasa pahit bagiku sendiri, tetapi aku tidak mengingkarinya.

Alih-alih menjawab, Kyuhyun melarikan jemarinya di perutku. Dia mengusap lembut kandunganku, lalu terkekeh kecil dalam wajah yang masih memerah karena air mata. “Andai dia hadir dalam waktu yang tepat, maka hatiku akan lebih leluasa menerimanya,” ucapnya yang ditujukan untuk bakal bayi kami. “Terjebak di sini bersama kalian adalah satu-satunya hal di dalam Natal ini yang tidak kusesali,” Kyuhyun melipat kedua bibirnya sebelum membukanya kembali, “karena hanya ini yang bisa kuberikan sebagai tanggung jawabku sebagai ayah.”

Mataku memanas dengan makna implisit dalam perkataan Kyuhyun. Dengan pernyataannya, aku mengetahui bahwa dia diposisikan dengan sulit di antara aku dan Siwon. Di satu sisi hatinya terpaut pada kakakku yang terbaring koma, namun di sisi lain tanggung jawabnya dituntut secara tidak langsung olehku dan bayi ini. Pada kesempatan ini, dia memilih memenuhi tanggung jawabnya, tetapi tidak menjamin melakukan hal yang sama di lain kesempatan. “Aku—“

Ucapanku dipotong dengan kecup kilas Kyuhyun di bibirku. “Untuk saat ini, kumohon cukupkan aku di sini secara utuh untuk kalian.”

Aku mengatupkan rahangku kuat-kuat untuk menahan tetesan air mataku yang sudah tergantung di permukaan bola mata.  Mengangguk mengiyakan, aku memenuhi harapannya.

Dengan tangan kirinya, Kyuhyun menangkup pipiku dan membawa wajahku mendekat. “Terima kasih karena telah menerimaku, Young.” Dia berbisik hingga hangat napasnya menerpa permukaan bibirku, sebelum menyatukan bibir kami dalam pagutan lembut. Melumat bibir atas dan bawahku secara bergantian dengan hati-hati, Kyuhyun merengkuh bahuku untuk merapatkan tubuh kami.

Tidak ada hasrat nafsu dalam ciuman kami kali ini. Aku menerima keintiman ini sebagai ketulusannya terhadapku dan bakal bayi kami. Mengangkat tanganku untuk mengusap pipi Kyuhyun, aku menelusuri rahangnya dengan jemariku. Jantungku yang beberapa hari ini berdetak kencang karena ancaman dan intimidasi, saat ini berdetak untuk alasan lain.

Ketika kami didera urgensi atas kebutuhan udara, Kyuhyun melepaskan pagutannya. Dia membimbing kepalaku kembali ke dadanya, kemudian mendaratkan kecupan cukup lama di keningku. Membungkukkan punggungnya hingga tubuhku ikut bersamanya, Kyuhyun mencakup kakiku dan menumpangkannya di atas kakinya yang berselonjor. Dia kemudian membenahi selembar kain yang menjadi selimut kami. Demikian dia lakukan selama kami tidur di dalam penjara ini agar aku tidak kedinginan.

“Hyunnie?”

Hmm,” gumamnya.

“Nyanyikan Christmas Carol untukku,” mintaku sambil menatapnya dengan sendu.

Dia tertawa kecil, kemudian berdeham membersihkan tenggorokkannya. “You better watch out, you better not cry, better not pout,” Kyuhyun menjawil hidungku ketika aku terkekeh kecil dengan pilihan lagunya, “I’m telling you why. Santa Clause is coming to town. He’s making a list and checking it twice, gonna find out who’s naughty and nice[6]…”

Aku menyusupkan kepalaku ke dadanya yang terasa hangat dan nyaman. Pandanganku sedikit terangkat dan bertemu dengan beberapa wanita yang duduk berseberangan denganku. Dia hanya ikut tersenyum kecil memperdengarkan suara Kyuhyun. Merilekskan bahuku, aku melingkarkan tanganku di perut Kyuhyun sambil memejamkan mata. Aku simpulkan, malam Natal kali ini tidaklah terlalu buruk dari yang terburuk.

#

Aku mengangkat kepalaku dari dada Kyuhyun ketika telingaku menangkap bunyi gaduh besi yang dipukul berulang dengan keras. Menumpukan sikuku, aku bangun dan menarik kakiku dari atas kaki Kyuhyun. Ketika melihat beberapa tentara memasuki lorong di muka sel, aku mengguncang tubuh Kyuhyun ringan untuk membangunkan. “Kyuhyun-ah.”

Ermm…” Kyuhyun menggeram kecil dan mengucek matanya sebelum benar-benar terbangun. Demikian juga dengan tawanan yang lain yang mulai menggeliat merespon panggilan tentara.

Seorang tentara yang membukakan pintu sel membuatku berfirasat buruk. “Keluar kalian semua!” teriak seorang tentara dengan badge yang menunjukkan pangkatnya yang lebih tinggi daripada beberapa mereka yang di sini.

Kyuhyun membantuku berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggangku dengan protektif selama kami digiring keluar. Sama halnya denganku, wajah Kyuhyun juga mengeras. Dia memilih bungkam dan mematuhi perintah para tentara.

Aku mengamati lorong-lorong yang kami lewati karena lorong ini bukanlah menuju aula utama penjara. Beberapa tawanan yang berjalan di depanku agaknya juga menangkap kejanggalan ini dengan mimik bingung yang tertoleh ke kanan dan kiri. Mengeratkan cengkeramanku di tangan Kyuhyun, hatiku benar-benar gelisah.

Setelah melewati koridor yang cukup panjang, dimana di samping kanan dan kirinya hanya berupa sel-sel atau tembok batu, kami tiba di suatu ruangan yang cukup luas kira-kira lima belas kali lima meter. Kira-kira tujuh atau delapan meter di depan kami terdapat tembok setinggi kurang dari satu meter yang menjadi batas. Di dalam tembok terdapat tiga kursi dengan tali dari kulit yang terpaku di kedua tangan kursi, sandaran kursi bawah dan atas, serta dua kaki kursi yang di muka. Tidak seperti di tempatku berdiri, dasar di ruangan di sana adalah pasir hitam pekat. Jika aku tidak salah duga, di belakang kursi-kursi itu adalah tumpukan-tumpukan kantong pasir setinggi tembok.

Diriku semakin resah ketika lima tentara bersenjata berbaris memasuki ruangan dan memposisikan diri di belakang garis putih yang tercetak di lantai, kira-kira berjarak tiga meter dari tembok pembatas. Setelah itu, kira-kira enam tentara dengan pangkat tinggi, dilihat dari badge-nya yang memiliki banyak garis kuning, ikut berbaris di samping kami para tawanan. Lima tentara yang mengepung kami tawanan memisahkan kami dari pejabat tentara tersebut.

Jantungku kian berdetak tidak karuan dengan pemandangan ini. Tanganku yang digenggam oleh Kyuhyun semakin berkeringat. Merapatkan tubuhku ke sisi tubuh Kyuhyun, aku mencari secuil rasa aman meskipun dalam situasi ini mustahil.

Ketika pintu di sudut ruangan berpasir terbuka dan menampakkan tiga orang yang diborgol tangannya di depan digiring masuk, jantungku seakan berhenti saat mengenali dua dari mereka; Yoo Dohwan Ahjussi, yang tidak lain adalah ayah dari Ahreum, dan satunya lagi adalah Seoyun Ahjumma. Memahami situasi kami, aku melepaskan diri dari Kyuhyun dan berlari menerobos para tawanan yang berdiri di depanku. Aku mengangkat tanganku dan berteriak dengan kekuatan yang kumiliki untuk menghentikan tindakan mereka. “Andwe…!”

TBC*

Ok, di part ini sudah terbuka misteri mengenai Dae-A dan Disney. Aku mendapatkan ide konflik tersebut dari sebuah talk show yang didalamnya membahas mengenai penyerbuan masyarakat terhadap kelompok Ahmadiyah di Pandeglang, Banten (Februari 2011) hingga menimbulkan korban jiwa. Di talk show itu dikupas beberapa spekulasi mengenai penyerangan janggal ini, salah satunya adalah bahwa penyerangan ini adalah upaya pemerintah untuk mengalihkan mata media sejenak karena saat itu, kalau tidak salah, mulai memanasnya kasus Gayus. Well, terlepas benar atau tidak, memang ada beberapa kejanggalan seperti ditemukannya pita biru yang dikenakan oleh beberapa penyerang. Daripada sebuah amukan spontan dari warga, penyerangan ini terlihat terencana.

So, ini adalah romansa Kyuhyun dan Miyoung yang aku janjikan. Part ini hampir penuh dengan keduanya. Part selanjutnya akan sedikit bloody. Sudah bisa menebak kan apa yang akan tentara itu lakukan?

Jika menemukan typo atau hal lain yang tidak pas, tolong koreksinya karena aku baru membacanya separuh. Silakan bertanya bagian yang tidak kalian mengerti, aku akan berusaha menjawabnya, k?

Sekali lagi, bagi kalian yang memuja romantika klasik (daripada suatu konflik) dan juga benar-benar anti mengenai gay, aku tidak menyarankan membaca BTBE. Itu adalah selera masing-masing dari kita. Silakan tunggu saja karyaku yang lain dan biarkan aku menyelesaikan karya ini.

Berikut ini adalah lirik lagu dari “Only Hope” dari Secondhand Serenade, aku gunakan untuk menggambarkan perasaan Kyuhyun ketika Miyoung tiba-tiba menghilang diculik karena aku tidak akan membuat POV dari sisi Kyuhyun.

“Only Hope”

My beating heart is getting tired.
Tonight it feels like it’s on fire,
and I’m driving all alone.
My hand is on my phone,
waiting for you to call me.
Please pick up the phone and call me,
cause I’m lonely and my mind is aching.
Can’t you see I’m for the taking?

You are my only hope,
but you’re so far.
And you are my only hope,
so come back home from where you are.

I see your face on everyone,
like the constant beating of the sun right on my skin.
I’m suffering without you.
“It’s Out of Reach” on my stereo
is starting to feel real close to home,
and I can’t bear to sleep here without you.

You are my only hope,
but you’re so far.
And you are my only hope,
so come back home from where you are.

Just come back home from where you are.
Just come back home..

Sometimes I feel like I was mistaken.
You must be an angel.
Sit down and teach me what life is all about.
I see myself changing.
No longer a stranger.
You gave me a reason to never go.

You are my only hope,
but you’re so far.
And you are my only hope,
so come back home from where you are.


[1] Red cross: Di dunia terdapat dua macam lambang organisasi kemanusiaan: red cross (silang merah) dan red crescent (bulan sabit merah). Dalam skala internasional dikenal sebagai IFRC (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies). Negara kita menggunakan red cross. Dalam persiteruan, baik red cross maupun red crescent harus menenempatkan diri sebagai pihak netral karena mereka bergerak dalam kemanusiaan. Sayangnya, Korea Selatan sendiri tidak menjadi jaringan penggalang dana bagi IFRC Asia Pacific.

[2] CPR: merupakan kependekan dari cardiopulmonary resuscitation adalah metode untuk memberikan bantuan pernapasan dengan cara mengalirkan udara dari mulut ke mulut kemudian memberikan sentakkan di dada.

[3] Pabo: bodoh.

[4] Harian terbitan China, Wen Wei Po, menerbitkan berita Kim Jong-Un yang mengeksekusi pamannya dengan brutal yaitu dengan menelanjangi dan memasukkan pamannya ke dalam kandang penuh anjing liar yang dibiarkan lapar selama tiga hari. Berita ini diterbitkan juga di koran Singapur. Akan tetapi kebenaran berita ini masih diragukan. Terlepas dari benar atau tidaknya berita ini, Kim Jong-Un sendiri mengatakan dalam pernyataan terbuka bahwa dia telah menyingkirkan ‘sampah’ partai. Paman Kim Jong-Un, Jang Song Taek, dituduh terlibat dalam sejumlah tindak pidana, termasuk merencanakan mengambil alih kekuasaan. Selain itu dikabarkan juga, sekitar 100 orang keluarga Jang juga dieksekusi termasuk yang masih anak-anak. (Kompas.com/liputan6.com/http://www.washingtonpost.com)

[5] Christmas carol: lagu-lagu yang biasanya dinyanyikan saat Natal.

[6] Jingle ini berjudul Santa Clause is Coming to Town, sebuah Christmas carol untuk anak-anak.

Pic Spam:

I love the masculine side of him:

tumblr_mud6gvkUsQ1rss86uo1_500

200 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [12]

  1. VivitYulia says:

    ceritanya daebakkk. part ini bner2 complicated bngettt. mulai dri De-A sma walt disney, trus tentang operasi returing, perseteruan korut korsel, smpai hbungan kyuhyun, miyoung sma siwon. tpi salut sma kyuhyun yg dampingi miyoung ke sarang musuh entah dngan membaw misi apa, tpi dia te2p berusaha jdi suami yg bertanggung jwab.

  2. sparkyukyu says:

    part ini bikin aku nangis. Benar2 ngaduk2 emosi. Mulai dari kesedihan karena harus kembali ke korut sebagai tawanan sampai kepada romantisme kyuyoung di balik pederitaan sebagai tawanan…
    sumpah keren banget

  3. Percaya atau tidak.. saya menangis. Hehe. Sumpah yaaa ah sialan sekali part ini ya ampun. Suka banget sama bagaimana keputusan Mr. Choi. dan.. saya lega, Siwon masih hidup ;; dan saya suka Donghae dimunculkan walau sebentar haha. Oh adegan kyu-young selalu saya suka. Cuma yg di part ini bikin saya banjir haha. Ah so sweet sekaliiiii. Yaaa saya masih penasaran kelanjutan won-kyu nya. Konfliknya menegangkan sekali. Ah.. tidak ada penyesalan saya baca ini tengah malem haha

  4. Meskipun paham sama sikap ayah miyoung masih ga habis pikir kenapa dia setega itu
    Okay thanks for the precious moments between kyu and miyoung
    So we’ll get another wonkyu moment? O…kay..
    Ceritanya bner bner anti mainstream dan ga bisa ketebak
    Bikin penasaran tapi bikin gak karuan perasaan nih wkwkkw
    Btw jika romansa miyoung n kyu di markas korut hanya sekedear untuk rasa kasian kyu ini bner2 terlalu so sweet, terlalu so sweet sampai aku lupa dia adalah kekasih siwon, okay…
    For the first time reading a story about gay wrapped in an amazing plot
    Applause for the author
    Okay gonna read the next part

  5. windy3288 says:

    ayah miyoung bener bener tega yahh sama anak anaknya seenggaknya disaat seperti ini jadilah ayah yang baik tanpa memikirkan embel embel presiden. sementara presedent sudah tau kenapa juga gak ada langkah yang di ambil untuk membenaskan para tahanan apalagi di dalamnya aja anak menantu dan calon cucunya..

    aku curiga bahwa luka yang kyuhyun dapat karena di badan kyu di tempel alat perekam misalnya #dodolbanget (efek kemakan secretly greatly) wkwkwk

    pokonya aku mau ketiga nya mereka selamat aku juga yakin benih benih cinta udah makin tumbuh dintara mereka :3 huhuhu

  6. abellia cho^ says:

    wlaupun situasi ini rumit aku mencoba menelaah secara perlahan smpai aku mengerti alur crita ini..romansa kyu & minyoung sih ku suka tpi klo kondisi sprti siapa yg mau?
    pokoknya mrk harus happy ending krn mrk menghdpi sgla konflik yg miris bgd

  7. yaaahh.. aku sungguh terharu melihat kedekatan miyoung dan kyuhyun.. akankah mereka bisa brsatu dan kembali dengan rasa aman.. dan aku harap ayah ahreum tdak jadi di eksekusi.. itu sangat menyakitkan buat ahreum yg blum ketemu appanya.. :”) oke next part…

  8. Awal2 aku sempet ngeluarin air mata terlebih karena background lagu yang aku dengerin.

    Aku mulai ngerasain perasaan peduli kyuhyun ke young agak berbeda. Terlebih lagi dia mulai menyatakan dirinya sebagai seorang ayah, walaupun tidak menutup kemungkinan kyuhyun hanya menghargai kehadira si calon bayi.

    Aku belum tahu menahu masalah masa lalu young yang eonni protek dan bagaimana kyuhyun bisa ‘tidur’ bersama young.

    Kalau ditanya apa aku menikmati karya eonni satu ini, dan pertama kali aku baca. Aku sangat menikmatinya. Aku juga menikmati gimana emosi antar kyu dan won yang terlihat saling melengkapi. Walaupun akhirnya harus seperti ini. Ini dalam artian perkataan kyuhyun yang intinya untuk mengakhiri hubungan terlarang mereka.

    Aku sedikit prihatin keadaan young yang memiliki masalah dalam pengendalian emosi yang bisa membahayakan calon bayi termasuk dirinya sendiri.

    Eonni 짱!

  9. za says:

    Ternyata spt itu awal crt Dae-A..Kl dlm dunia nyata apa ada spt itu antara Korut-Korsel?
    Jadi, sptnya hati Kyu mulai terbuka untuk Miyoung secara perlahan, benarkah?
    Pas bgn mereka makan nasi yg dikulum itu, kyknya kl ngalamin sendiri gak sanggup😦
    Terima ksh kk sdh mmbrkn info2 lg..Dan yg psti ide cerita itu bs dr mana aja

  10. april says:

    suka suka suka banget sama part ini… bener” maenin emosi pembaca.. hubungan wonkyu yg ternyata cukup rumit dan tanggung jawab kyuhyun sama miyoung dan calon anaknya… sumpah baca part ini bikin emosi naik turun, bikin agak sebel, terharu, dan seneng… daebakkkk

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s