The Heirs: An Expected Ending


the heir

The Heirs: The Expected Ending

Choi Siwon, Lee Donghae, Nam Ryung

Aku berlari-lari menelusuri, sepanjang kira-kira 20 hingga 30 meter, jembatan gantung kayu yang menghubungkan pulau utama Singapur dengan Pulau Palawan. Pengusaha yang menjadi calon penanam modal terbesar dalam proyek yang kutangani kali ini benar-benar seorang asshole. Dia baru saja mendaratkan pantatnya dari Korea dua hari lebih cepat dari hari penandatanganan kontrak kerja, kemudian langsung menghubungi kantor untuk meminta bertemu dengan koordinator proyek, yang sialnya adalah aku. Permasalahannya di sini adalah: pertama, hari ini adalah weekend; kedua, dia adalah putra dari pemilik perusahaan yang menjadi mitra kerjaku, yang dengan kata lain dia adalah another spoiled brat; ketiga, ini adalah weekend; dan keempat ini adalah weekend! My freaking goodness!

Mengembus napas dalam satu embusan sebal, aku mengangkat kedua bahuku ketika dari tempatku berdiri aku menjumpai pria topless yang berbaring di bawah salah satu gazebo pantai. Menyentak langkahku, aku menghampiri pria tersebut dengan kekesalan yang terakumulasi di ubun-ubun, namun…

Deg…deg…

Meraba dadaku yang detaknya mengeras, langkahku secara otomatis melambat. Tubuhku mengejur saat aku berhenti di depan pria yang sudah dua tahun tidak kujumpai.

***

“Kuberikan dua opsi kepadamu, Nona Nam,” Tuan Lee sembari menyodorkan sebuah tiket, “tinggalkan Korea dan pergilah ke cabang Daewoo di Singapur atau kuberikan waktu tiga hari untuk berpisah dengan putraku.” Sorot mata penuh arogansi miliknya mengulitiku seolah-olah aku adalah proletariat[1] yang pantas disingkirkan. “Mempertimbangkan prestasi akademikmu dan kemampuanmu selama bekerja 6 bulan ini di bawah Daewoo, aku sangat menyarankan agar kau memilih opsi pertama.”

Aku meremas jemariku yang bergetar dan berupaya menguatkan hatiku untuk tidak hancur. Paling tidak di depan pria tua sombong ini, aku tidak ingin menunjukkan sisi terintimidasiku. “Aku dan putramu—“

Ucapanku dipotong oleh Tuan Lee yang spontanitas mengangkat tangannya. “Aku tidak ingin mendengar cerita cinta klise kalian. Cukup sudah Donghae terlibat skandal denganmu.” Tuan Lee menjalin kedua tangannya bersatu. Keriput di wajahnya yang kian menua tidak mengurangi kebengisannya menyingkirkan apa yang tidak berkenan baginya. “Seharusnya kau menyadari kedudukanmu yang tidaklah sebanding dengan Donghae. Daewoo sudah cukup mengibarkan karirmu, namun kau malah membidik sesuatu yang tidak mungkin kau capai. Beginikah caramu berterima kasih?” sinisnya.

Aku berusaha menenangkan lonjakkan emosiku karena pria ini menginjak-injak harga diriku.

“Jangan serakah dan batasi pandanganmu pada hal yang sepadan,” Tuan Lee mengentak tangannya di meja, “dan Donghae bukan berada di area pandanganmu.”

Mengukuhkan kakiku untuk berdiri dengan tegak tanpa terlihat bergetar, aku membungkuk memberi hormat pada Presdir Daewoo, yang tidak lain adalah ayah Donghae. Enam bulan bekerja dengan segenap upayaku untuk bertahan di Daewoo, rasa-rasanya terbuang percuma ketika aku melangkah keluar dari ruangan presdir.

***

“Mengharapkan seseorang yang lain, Nona Nam?” dengan pongah pria di depanku menarik keluar kaca mata hitamnya, kemudian meletakkannya di meja bundar di sampingnya. Dia bangun dari posisi berbaring, kemudian melepas pandang ke arah biru lautan. “Seharusnya kau mengundangku untuk menikmati kota kecil ini. Ah tidak…tidak,” dia menggeleng kepalanya, “kota ini terlalu makmur untuk kukatakan sebagai kota kecil yang memiliki ambiguitas sebagai daerah tertinggal.”

“Apa yang kau lakukan di sini?” geramku di sela-sela gigiku yang terkatup.

“Pertama, dimana sopan santunmu untuk menjamu calon mitra kerjamu?” Dia mengatakannya di antara seringai bibir sensualnya yang berbentuk busur panah. “Kedua, dimana apresiasimu untukku karena setelah dua tahun, akhirnya aku dapat melacak posisimu?”

Aku melembungkan paru-paruku dengan udara; sekadar menahan diri untuk tidak menjambak rambut hitam cepak pria ini. “Pertama, silakan kenakan pakaian Anda, kemudian kita dapat kembali ke kantor untuk mendiskusikan kerja sama kita,” aku menarik bibirku dengan terpaksa. “Kedua, aku tidak perlu memberi apresiasi kepada siapa pun karena aku bukanlah buronan yang dihargai dengan uang saat ada yang menemukanku.”

Dia menopang dagunya dengan kepalan tangan yang sikunya tersandar di meja. “Hari ini adalah weekend jika kau lupa,” telunjuknya mengacungi pantai di belakangku, “dan aku lebih berminat untuk menghabiskannya di sini ketimbang di kantor.”

There you are! Dia sudah sadar bahwa hari ini adalah weekend dan tetap mengganggu waktu ini dengan memintaku datang kemari. “Jadi kita bisa bertemu Senin nanti dalam keadaan yang lebih pantas untuk mendiskusikan proyek kita.” Aku membungkuk ringan, bukan untuk menghormatinya, melainkan sekadar menunjukkan formalitasku. “Selamat siang dan selamat menikmati keindahan Palawan.” Membalikkan badan dan bersiap melangkah, aku terhenti dengan jawabannya.

“Bukankah permintaanku sudah jelas tersampaikan? Bahwa aku ingin bertemu dengan koordinator proyek? Lalu apakah koordinator ini sudah bosan bekerja sehingga menelantarkan calon penyokong dana terbesar dalam proyeknya?”

Mengeratkan kepalan tinjuku, aku membalikkan badan kembali ketika dia mengancam posisi kerjaku. “Jika kau di sini hanya ingin mengancamku dengan kekuasaanmu, maka aku lebih rela untuk dikeluarkan dari proyek ini daripada meladeni arogansimu.”

Pria ini bangkit dari duduknya, kemudian mendekati tempatku berdiri; membuatku mengambil ancang-ancang untuk mundur. “Biarkan aku memfrase ulang intensiku, Nona Nam,” Wajahnya merendah dan mata elangnya menyipit. “Aku seorang yang fleksible, katakan di sini aku memiliki dua tujuan, pertama perjalanan bisnis,” dia mencolek pipiku, membau sesuatu yang tertempel di pipiku, lalu menjilatinya, “kedua kau.”

Aku menahan napas dan menjauhkan wajahku, berharap pria ini tidak mendengar degub jantungku yang hiperbolis.

“Coklat dan mentega,” ucapnya memperjelas bekas coklat yang tidak sengaja masih melekat di pipiku. “Aku akan sangat senang jika kau mengundangku untuk menikmati kue yang baru saja kau buat.” Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya yang terbentuk.

“Sayangnya aku tidak menujukan kue tersebut untuk mitra kerjaku, terutama kau.”

Well, since you aren’t welcoming me to taste it, how about a mere warm hug?” dia membuka tangannya, mengundangku masuk dalam pelukannya.

Aku memaku kakiku di tempat agar tidak tergoda untuk melesap ke pelukannya, sekadar melarutkan kerinduanku padanya. “In your dream, Choi Siwon!” tekanku.

***

“Ryung, hentikan,” Donghae mencekal tanganku yang sedang mengemasi barang-barangku di meja kantor. “Apa yang ayahku katakan padamu, huh?”

Aku memandang Donghae sebentar, kemudian mengalihkan tatapanku ke arah lain karena tidak mampu mengucapkan penggalan kata-kata ayahnya. “Biarkan aku menyelesaikan ini,” putusku sambil melanjutkan apa yang kukerjakan. “Hae!” pekikku mendadak saat Donghae mengambil tanganku dan menyeretku.

Tanpa menggubris pemberontakanku, Donghae berjalan sepanjang koridor kantor hingga menimbulkan bisik-bisik orang yang melihat kami.

“Hae, hentikan!” Aku menyentak tanganku untuk menyudahi sikap pemberontakannya.

Menghentikan langkah tiba-tiba, Donghae berbalik hingga berhadapan lagi denganku. “Kita selesaikan masalah ini dengan caraku, bukan caramu,” tandasnya.

Aku memandangnya lelah, berharap dia mengerti situasi kami. “Ini bukan kali pertama aku mendapatkan memo, Hae.”

“Kau menyerah atasku?” Wajah memerah Donghae menunjukkan amarahnya.

“Lalu adakah cara agar aku tidak menyerah, Hae?” tantangku. “Tidak hanya padaku, namun bahkan Daewoo mengancam menghentikan sokongan dananya untuk Sunshine!” Aku hampir-hampir berteriak andai tidak ingat bahwa kami masih di wilayah kantor. Meskipun telah lama meninggalkan Sunshine, aku tetap berhubungan baik dengan pengurus panti asuhan yang telah membesarkanku.

“Aku tidak ingin berdebat di sini,” ucap Donghae sambil kembali menarik tanganku, “karena kita tidak akan menyelesaikan akar masalah.”

“Akar masalahnya ada pada hubungan kita!” ledakku sembari menyentak tanganku keras. Mataku memanas bukan saja karena air mata, melainkan juga letupan emosi. Aku mengatur irama napasku, namun mataku membelalak begitu bunyi ‘ting’ lift berbunyi dan pintunya terbuka menampakkan orang yang paling tidak ingin kutemui saat ini; Tuan Lee. Membungkukkan badanku, aku berlaku hormat saat dia memergokiku berdiri di lobi dengan Donghae.

***

Mengambil tempat di sisi Siwon, aku mengulurkan handuk kecil padanya. Setelah anak-anak itu sukses menggeret Siwon untuk bergabung dalam permainan lempar tangkap bola, kini yang ada adalah kaosnya yang basah karena keringat dan celana jeans-nya yang berbercak coklat karena lumpur.

Siwon mengusap dahi dan wajahnya yang penuh dengan peluh dan keringat. “Kau bertanggung jawab untuk ini,” ujarnya seraya mengangkat kakinya, dimana lumpur mengotori celana bagian bawahnya.

“Aku tidak pernah mengajakmu berkunjung ke panti ini. Kau sendiri yang mengikutiku.”

“Itu karena kau berkeras kepala tidak mau menghabiskan weekend di Palawan, dan lebih memilih tempat ini,” sengitnya. Berbeda dengan beberapa saat lalu dimana aku pertama kali, selama mengenal Siwon, melihat dia tertawa lepas bermain dengan bocah-bocah panti.

Heish,” desisku kesal ketika dia mengungkit-ungkit Palawan. Rasa-rasanya aku ingin menjejalkan pulau kecil itu ke mulutnya. Mengulurkan tanganku, aku sengaja menyodok dadanya dengan kardus kecil yang kubawa sebagai pertanda bahwa aku kesal meladeninya.

Siwon melirik isi kardus yang kubawa, kemudian meletakkan handuk di tangannya. “Kau sengaja menyisihkannya untukku?” tanyanya dengan seringai.

“Lupakan,” sahutku sambil menarik kembali kardus berisi kue yang tadi kubawa ke panti asuhan ini.

“Hei, aku tidak bilang menolaknya, bukan?” Siwon menahan tanganku dan mengambil kuenya. Tanpa susah menggunakan garpu yang sudah kusiapkan di dalamnya, dia mencakup kue tersebut menggunakan tangan dan memasukkan ke mulutnya dalam gigitan besar. “Rasanya tidak berubah,” komentarnya di sela-sela mengunyah, “persis seperti yang terakhir kuingat.”

Menghela napas, aku memerhatikan gerombolan anak-anak yang masih memiliki stok energi untuk bermain. “Bagaimana dengan Sunshine?” Aku pikir, Siwon tidak buta mengenai ancaman Daewoo terhadapku. Walaupun dia bukan anggota keluarga Lee, namun orang-orang sosialita atas sepertinya memiliki cara sendiri untuk mengetahui masalah rivalnya. Tanpa aku membuka mulut, Siwon tahu apa yang terjadi antaraku dengan keluarga Lee.

“Daewoo masih berbaik hati untuk menggelontorkan dananya untuk panti itu.”

“Syukurlah,” ucapku lega.

“Pria bangka Lee itu tidak mencabut dananya dari Sunshine bukan karena kau mengikuti anjurannya,” Siwon memaling ke arahku, “namun karena dia tidak ingin kehilangan muka dalam aksi sosial.”

Aku tersenyum kecut merespon tanggapan Siwon. Walaupun arogansinya sering membuat emosiku mendidih, namun kuakui dia bukan pria berpikiran kerdil. Pantas jika di usianya yang terbilang belia, dia sudah dicalonkan sebagai wakil presdir Hyundai.

“Dan aku heran mengapa kau masih bersusah pindah ke Singapur setelah keluar dari Daewoo?”

“Bukan urusanmu,” jawabku singkat.

“Selain bahwa kau ingin membuktikan diri mampu bertahan tanpa menjadi begundal Daewoo, aku enggan menyebut alasan yang lain,” tebak Siwon.

Bingo! Siwon menebak alasanku pindah ke negara ini dengan benar. alasan kedua adalah agar memberi jarak dengan Donghae. Melihat Siwon yang canggung untuk menyebut nama Donghae, agaknya hubungan mereka masih tidak berjalan baik. “Hubungan kalian masih sama?” Aku menanyakan hubungan persahabatannya dengan Donghae yang merenggang karena emosi sesaat ketika mereka remaja.

Siwon lagi-lagi menatapku, kali ini sambil menaikkan sebelah alisnya. “Nah, selain rival tidak ada yang harus kuumbar.”

Cish, kalian berdua sama saja,” ucapku mengomentari sikap Siwon dan Donghae yang sama-sama keras kepala.

Mencondongkan tubuhnya kepadaku, Siwon mengamati wajahku lekat; membuatku meliukkan punggung ke belakang untuk menghindar. “Kecuali bahwa kami sama-sama menginginkanmu, jangan samakan apa pun mengenai kami.”

Aku mengadu alisku setelah memperdengarkan pernyataan Siwon. Pria playboy ini tidak mungkin serius dengan kata-katanya yang pernah kudengarkan dua tahun lalu, bukan? Siwon tipikal pria yang memiliki semua karakteristik yang diinginkan wanita; tampan, mapan, dan gentleman. Hanya saja dia tidak pernah terikat dengan seorang wanita lebih dari satu minggu. Bahkan jika dia bertahan dengan seorang wanita dalam dua hari saja, aku akan bertepuk tangan. Terpekur dalam pemikiranku, aku tidak menyadari bahwa wajah Siwon hanya dua inchi dari wajahku hingga…

Guys, look! Ryung will get a kiss from his boyfriend!”

Teriakan melengking membuatku terlonjak kecil dan menoleh pada seorang bocah laki-laki yang menunjukku dan Siwon.

Don’t worry boy, not only she will get a kiss, but kisses!” teriak Siwon sambil tersenyum lebar dan mengangkat ibu jarinya.

Yeay!” seru riuh anak-anak yang sudah berkumpul seperti tengah memenangkan jackpot.

Yak! Choi Siwon!” Aku menendang kakinya saat dia berucap sembarang. Berdiri dari dudukku, aku meninggalkannya tanpa memedulikan erangan kesakitannya yang mengada-ada.

Sorry guys, I gotta go. She’s really shy!” teriak Siwon yang masih kudengar.

***

Oh, mianhammida,” panikku ketika warna merah dari wine mengotori gaun wanita baya yang kutabrak dengan tidak sengaja. Bukan aku sedang berlari atau dalam keadaan terburu, hanya saja aku tidak menyadari kehadirannya di belakangku saat aku memutar tubuhku. Aku menggapai serbet putih di meja untuk membantunya mengelap noda di bagian depan gaunnya.

“Jangan menyentuhku!” teriak wanita yang tidak kukenal ini sambil menepis tanganku. “Sial, apa yang lakukan pada gaunku?!” pekiknya meratapi gaun putihnya yang memerah.

Mianhammida,” tundukku sekali lagi untuk meminta maaf. Jangan tanya mengapa aku berada di charity ball ini karena alasannya pasti satu, menemani Donghae. Jika bukan karena Donghae, aku malas membaur dengan sosialita atas yang mengadakan pesta sekadar untuk menggalang dana amal. Daripada tindakan amal, pesta seperti ini lebih berkesan sebagai ajang pamer kekayaan dan tungganan, atau bagi wanitanya merupakan tempat bersaing cocktail dress dan perhiasan yang mereka kenakan.

“Maaf Ny. Shim, aku akan mengirimkan gaun pengganti,” Donghae yang berada di sampingku bertindak cepat untuk melerai. Dia mengangkat tangannya untuk memanggil seorang asistennya. “Untuk sekarang, Kim Jaewoo-ssi akan mengantarkan Anda mengganti pakaian. Semoga koleksi dari Dior tidak mengecewakan Anda.”

“Lee Bujangnim tidakkah Anda terlalu berlebihan menebus kesalahan perempuan ini? Seorang pemanjat kelas sosial yang menempel pada Anda untuk mendapatkan tempat di kalangan kita.”

Aku memilih diam dan tidak menanggapi kemarahan wanita yang dipanggil Ny. Shim oleh Donghae, sekadar tidak ingin menambah keributan. Walaupun harga diriku merasa terinjak ketika dia mengolokku sebagai ‘pemanjat kelas sosial’ yang tidak lebih bagus ketimbang suatu benalu.

“Ny. Shim, wanita ini adalah pendampingku untuk malam ini. Jadi mohon jaga kata-kata Anda.”

Nah, seharusnya Lee Bujangnim membawa wanita lain yang berasal dari kelas yang sama. Bukannya seorang manager rendahan yang tengah mencari celah untuk menanamkan cakarnya di kalangan ini, yang sudah pasti kemungkinannya adalah nol kecuali dengan menggelayuti boss-nya.”

Kupingku rasanya memerah mendengar olokan wanita baya ini padaku. Layaknya aku adalah seorang pelacur bayaran yang sedang disewa Donghae. Mengepalkan tanganku, aku bersiap meninggalkan persiteruan sebelum sesuatu yang dingin ditumpahkan di gaunku yang bewarna salem. Aku menarik napas panjang begitu noda merah wine menyebar di gaun bagian depan.

“Choi Siwon-ssi,” lirih Ny. Shim seraya mengangkat tangannya untuk menutup mulut yang membuka.

Siwon dengan tenang meletakkan kembali gelas kosong yang isinya sudah dia tumpahkan di gaunku. “Well, bukankah lebih mudah melakukannya seperti ini daripada mengucapkan rentetan omong kosong, Ny. Shim?” Dia menarik sebelah sudut bibirnya, kemudian melirikku dengan tatap angkuh.

Donghae dengan segera melepaskan jasnya, kemudian memakaikannya kepadaku. Matanya yang bulat terisi dengan amarah yang siap diledakkan pada Siwon. Akan tetapi sebelum dia menyalak, aku meremas tangannya dan menggeleng lemah untuk mencegah.

“Choi Bujangnim tentunya mengetahui bahwa gaun adalah sentimental wanita. Kurasa tindakan spontanku tidak akan sejauh itu,” kekeh wanita baya ini. Entah bagian mana yang lucu.

“Dan sentimentalmu adalah sengaja membuat keributan kecil ini, bukan?” Siwon mengedik kepalanya untuk mengisyaratkan maksudnya; bahwa sekarang kami menjadi pusat perhatian. “Jangan katakan pengelakkan,” dia menegakkan telunjuknya saat Ny. Shim akan angkat bicara, “karena setiap pengelakkanmu aku selalu memiliki tepisan, dan setiap tepisanku adalah sesuatu yang tidak menyenangkan untuk di dengar.”

“Apakah Anda tengah berada di pihak wanita jalang ini, Choi Bujangnim?”

“Aku tidak berada di pihak manapun,” Siwon menyaku kedua tangannya, berpose angkuh. “Aku hanya terundang dengan keributan kecil yang kau ciptakan.” Dia membalik badannya, namun menahannya sebentar untuk menoleh, “Dan sebelum mulut tajamku mengucapkan hal yang dapat merendahkanmu, kata maaf adalah sesuatu yang kutunggu terucap darimu, Ny. Shim.” Setelah mengancam demikian, Siwon melenggang meninggalkan kami yang terpaku di tempat, terutama Ny. Shim yang mimiknya telah dipenuhi emosi.

***

Aku menutup pintu mesin cuciku setelah menyumpal pakaian Siwon ke dalamnya. Gezz, pria ini benar-benar membuktikan perkataannya dengan menempel padaku seharian ini. Bahwa dia terlalu malas naik taxi, bahwa dia kehilangan kunci kamar hotelnya, bahwa dia tidak sengaja menghapus nomor PA[2]-nya, bahwa dia tidak mengenal Singapur, dan bla…bla…bla… Kupingku pengang mendengar sejuta alasan tidak masuk akalnya. Pada akhirnya, di sinilah, di apartemenku, dia berada.

“Hei, tidak adakah kaos lain selain ini?”

Aku mengangkat kepalaku untuk bertemu pandang dengan Siwon yang merentang kaos oversized milikku, yang sayangnya bewarna pink pucat dengan gambar kepala teddy bear besar di depannya. “Jika kau lebih memilih kedinginan, letakkan saja kaos itu,” ucapku enteng. Tanganku yang masih sibuk mengirisi wortel sebagai bahan sup mempermudahku tidak salah tingkah melihatnya yang hanya mengenakan handuk untuk menutup tubuh bagian bawahnya. Apakah aku lupa mengatakan bahwa Siwon memiliki tubuh atletis; perut six packs, biseps kekar, dada bidang, dan bahu lebar. Oh my gosh, I must gone insane.

It’s like you said that you really enjoy my half naked body,” bisik Siwon yang mendadak di belakangku; membuatku terlonjak kecil ketika dia meniup kupingku.

Badanku melenceng ke samping, sementara kepalaku menoleh ke belakang dan bersemuka dengan Siwon. “What?” gugupku tiba-tiba saat melihat senyum lesung pipitnya.

“Kupingmu memerah,” Siwon menegakkan badan dengan senyum komikal yang masih terentang di bibirnya. “Ah, pipimu juga!” Dia mengentak ringan telunjuknya di pipiku.

Merasakan dinginnya permukaan telunjuk Siwon di pipiku, agaknya dia tidak berbohong ketika mengatkan pipiku memerah. “Heish, Choi Siwon! Get the hell out of here!” Mengacungkan pisauku, aku menggertaknya untuk tidak menggodaku lagi. Please, I just an innocent girl. Mempunyai tamu pria tak diundang yang dengan seenak hati melucuti pakaiannya dan hanya mengenakan handuk hingga mempertontonkan tubuh perfeknya; What the heck should I do, huh? Walaupun bukan gadis belasan tahun, namun aku wanita yang seorang diri mendiami apartemen ini!

Menggigit pipi bagian dalam, aku menahan diri tidak tertawa ketika melihat Siwon mengenakan kaosku. Walaupun sudah berukuran oversized, namun kaos itu menjadi terlihat mengecil di badannya. Ini benar-benar komedi live langka dimana aku menyaksikan seorang Choi Siwon, bold untuk nama itu, memakai kaos pink ketat bergambar teddy bear. Bagaimana jika kaos itu memiliki renda di bagian bawahnya, tentunya aku akan berguling-guling di lantai karena tidak dapat menahan tawa. Oh! Bagaimana seandainya aku memfotonya dan meng-upload-nya di media sosialku?

“Jangan berpikir untuk memfotoku dan meng-upload-nya di jejaring sosial,” Siwon meraih remote tv dan melempar tubuhnya di sofa seolah dapat membaca pikiranku, “karena jika kau melakukannya, maka kupastikan jejaring sosial itu ditutup untuk waktu tak terdefinisi.”

Oopsie…”

***

“Hae!” kalapku ketika tinju Donghae telah mendarat ke wajah Siwon. Aku berlari mendakati mereka berdua yang sudah saling menarik kerah.

“Kau ingin membuat keributan, hah?” teriak Donghae.

“Hae, hentikan,” aku mencoba menarik tangan Donghae dari kerah kemeja Siwon, namun gagal.

Siwon dengan wajah tenang hanya membuat mimik penghinaan atas kemarahan Donghae. “Untuk apa bertindak demikian jauh hanya demi melindunginya?” sinisme Siwon yang menujukan kata pengganti ‘nya’ untukku. “Jika dia berkemampuan, maka proyek ini dapat diraihnya.”

“Jika bukan karena mulutmu, proyek ini sudah di tangannya!” balas Donghae.

“Hae, kumohon,” aku menyusupkan tanganku di antara tubuh mereka berdua yang saling berimpit. Meskipun aku membenci ini, namun Siwon memiliki proposisi yang kuakui. Aku kehilangan proyek pertamaku bukan karena Siwon yang selalu memberikan antitesis pada setiap pernyataan dalam presentasiku, melainkan karena aku lah yang tidak siap.

“Jangan menyalahkan orang lain karena gadismu memiliki otak kerdil!” sentak Siwon.

Oh!” aku memekik saat lagi-lagi Donghae menghantamkan tinjunya ke rahang Siwon. “Hentikan!” aku mengganduli erat pinggang Donghae agar tidak mendekati Siwon yang sudah tersungkur.

Cish, kau akan membayar ini,” Siwon membesut sudut bibirnya yang berdarah. Dengan kesombongannya, dia bangun dan menepuk-nepuk jasnya yang kotor. “Tanyakan sendiri pada gadismu, apakah dia merasa pantas mendapatkan proyek ini? Jika dia mengiyakan, sungguh dia tidak memiliki malu,” ucap Siwon sebelum berlalu.

“Hae!” Aku mendekap penuh tubuh Donghae yang akan mengejar Siwon. “Kumohon berhenti,” mintaku sambil menyeluduk dadanya dengan keningku. Merasakan tangan Donghae yang melingkari punggungku, tanda dia membalas pelukanku, aku meletakkan pipiku di dadanya.

“Yang pertama tidak selalu berhasil bukan?” bisik Donghae untuk menentramkan.

Hmm…” gumamku untuk mengiyakan. Setidaknya walaupun aku kehilangan proyek tersebut, Donghae masih di sini memberikanku ketenangan.

***

“Nemo…Nemo…” panggilku berulang pada kucing angora peliharaanku yang biasanya bermalasan di depan tv. Telingaku menegak ketika mendengar bunyi meaw-nya di luar. Berlari menuju pintu depan, aku mengikuti suara meongnya. “Apa yang kau lakukan di sini, minggir!” sergahku untuk menyusupkan diri melewati pintu yang separuhnya sudah terdominasi oleh Siwon yang tengah berdiri di sana.

Mengadu alisku, aku melihat punggung anak perempuan, yang jika tidak salah ingat dia adalah penghuni lantai bawah, tengah membopong Nemo. Walaupun aku hanya dapat melihat ekor coklat muda Nemo tergantung melewati tangan anak perempuan itu, aku yakin itu kucingku. “Wait up!” teriakku ingin mengejar, namun terhenti karena leher kaosku telah ditarik dari belakang.

“Anak itu menyukai binatang, terutama kucing. Aku yakin dia akan memelihara kucingmu dengan baik,” ucap datar Siwon.

What?” teriakku, “kau mendermakan kucingku kepadanya?” Aku menatap horor punggung anak perempuan itu yang sudah menghilang masuk ke lift. “Choi Siwon, you really got my nerve!” Aku baru akan melebarkan langkahku untuk mengejar anak itu, namun lenganku ditarik paksa masuk kembali ke apartemenku oleh Siwon.

“Itu hanya kucing, kau dapat membelinya lagi,” enteng Siwon sembari tidak melepaskan cengkeramannya. “Atau aku dapat memberikanmu kucing yang lebih baik daripada kucing itu.”

“Membelinya lagi?” pekikku, “Kau tidak akan dapat menggantinya dengan apa pun yang lebih baik, meskipun itu hanya kucing peliharaanku!” marahku yang telah habis kesabaran kali ini.

“Kenapa?” Siwon mengakukan ekspresinya. Dia menyudutkanku ke dinding dengan tatapan penuh intimidasi. “Karena kucing itu diberikan oleh Donghae sehingga aku tidak dapat menggantinya?!” balas Siwon dengan nada keras.

Meskipun tidak menemuiku dan hanya meletakkan kucing di depan pintu apartemenku beberapa bulan lalu, aku tahu Donghae yang melakukannya. Siapa lagi yang akan menamai seekor kucing dengan nama ikat badut bewarna oranye, Nemo, jika bukan Donghae. Akan tetapi keputusan Donghae untuk enggan bertemu denganku memberikanku batasan yang kentara. Atau mungkin, kami belum siap untuk bersua kembali setelah dipisahkan dengan keadaan yang tidak adil. “Ya!” sentakku tidak kalah, “karena kucing itu adalah pemberian Donghae, maka kau tidak akan pernah bisa menggantinya!”

Damn it, Ryung!” umpat Siwon seraya meninjukan kepalan tangannya di tembok belakangku. “Tidak bisakah kau menghargaiku di sini, huh? Tidak di Korea, bahkan di sini pun aku harus merasakan keberadaannya di sekelilingmu?”

Aku membungkam mulutku, memilih tidak menanggapi ironi Siwon. Membalas penetrasi sorot mata Siwon padaku, aku menyesali bentakkanku sebelumnya ketika menangkap sorot terlukanya. Akan tetapi sebelum aku meminta maaf karena melukainya dengan ucapanku, dia sudah pergi dengan membanting pintu keras. Aku sungguh tidak memiliki intensi untuk membuatnya demikian. Memerosotkan badaku ke lantai, aku memukuli kepalaku berulang untuk menjernihkan pikiran.

***

“Kau menyerah?” untuk kesekian kali Donghae melontarkan pertanyaan yang ingin kuhindari.

Aku mengulum kedua bibirku dan mengatupkan rahangku kuat-kuat agar butiran kristal yang sudah menggantung di permukaan bola mataku tidak jatuh. “Shim Haejung adalah pilihan terbaik yang kau miliki. Tidakkah kau merugi andai tidak mengambil kesempatan ini?”

Shit!” seru Donghae mengagetkanku. “Aku sedang tidak membicarakan orang lain, Ryung!”

“Karena akan selalu ada orang lain putri konglomerat yang keluargamu sodorkan untuk berada di tengah kita!” gerakku balik. Aku lelah, jika boleh menjeritkan hatiku. Hubungan ini semenjak awal tidaklah memiliki harapan, tapi merasakannya sendiri di titik ini lebih melukai hatiku bertubi-tubi. Tidak hanya padaku seorang, namun orang-orang disekelilingku juga terancam karena  kekuasaan ayah Donghae melingkupi mereka.

“Ryungie, tidak dapatkah kau hanya menggenggam tanganku saja dengan erat tanpa memedulikan yang lain?” Donghae menurunkan intonasinya untuk bernego.

“Lalu menghadap ayahmu dan mengatakan bahwa kita akan tetap bersama?” sinisku mengungkit metode yang Donghae pernah gunakan untuk melawan kehendak ayahnya. “Atau berdua melarikan diri?” sarkasmeku.

“Kau tahu aku mampu melakukan opsi tersebut,” tekan Donghae.

“Tapi aku tidak ingin melakukan opsi tersebut,” sanggahku. “Kau memiliki tanggung jawab pada keluargamu, Hae-ya. Di Daewoo-lah tempatmu seharusnya, bukan di sisiku.”

“Aku bisa mencampakkan Daewoo, jika itu yang kau minta,” determinasi Donghae.

“Jangan berpikiran sempit demi seorang wanita. Daewoo adalah tanggung jawabmu sebagai putra keluarga Lee.” Meskipun dengan perasaan hancur melafalkan setiap katanya, aku harus menahannya.

“Lalu apakah aku tidak dapat memperjuangkan seseorang yang kuinginkan dalam hidupku?”

“Pada waktunya nanti, mungkin kita akan lebih mengerti apa yang pantas diperjuangkan dan bagaimana memperjuangkannya tanpa melukai yang lain.”

“Dan kapan itu terjadi?”

Aku menunduk dan menggeleng lemah. Setelah mengabaikan ancaman Tuan Lee yang akan memecatku, aku masih mengangkat dagu untuk berjalan bersama Donghae. Setelah mencampakkan pilihan Tuan Lee untuk mengirimku ke Singapur, aku masih tegak berdiri di sisi Donghae. Akan tetapi setelah Tuan Lee memberhentikan beberapa temanku dari Daewoo dan menggertak menghentikan dana bagi Sunshine, aku goyah; cara klise yang selalu efektif membungkam orang sepertiku. Pada saatnya, tiba juga dimana Tuan Lee mengalahkan kisahku dengan Donghae.

Meraih pinggir jas Donghae, aku meremas dan menariknya untuk menyalurkan kegetiranku. “Cukup peluk aku dan katakan bahwa aku akan baik-baik saja tanpamu,” mohonku pada Donghae.

Tanpa mengulang ucapanku, dengan cepat Donghae meraih tubuhku masuk dalam dekapannya; selalu hangat, selalu aman. Mengapa aku dapat jatuh hati padanya? Jawabannya sederhana karena Donghae mengindahkanku. Tanpa mengacuhkan latar belakangku, dia datang menginvansi hidupku. Tanpa memedulikan penolakanku pada awalnya, dia tetap menyanjungku seakan aku adalah sesuatu paling berharga baginya. Akan tetapi ketika nanti aku melepaskan pelukan ini, aku tahu dia sudah tidak lagi menjadi milikku.

***

“Ny. Lim!” panggilku sambil membuka pintu restauran pecinan langgananku dengan riang sehingga loncengnya berbunyi. Penduduk Singapur cukup beragam sehingga aku tidak perlu khawatir menjadi satu-satunya pendatang asing di negara ini. Adalah Ny. Lim seorang keturunan China yang membuka sebuah rumah makan kecil di daerah pecinan yang sering kukunjungi. Beliau sosok keibuan yang hangat sehingga aku merasa kecanduan untuk selalu berkunjung ke tempatnya.

Melebarkan pintu, aku terkejut ketika tidak mendapati seorang pun di restaurannya yang biasanya dijejali berpuluh orang yang kelaparan di jam seperti ini. Menggeser pandanganku, aku menjumpai Ny. Lim berwajah sendu saat berhadap-hadapan dengan seorang pria muda…Choi Siwon?

Good afternoon,” Siwon membungkukkan badan, “eomma.” Dia berjalan ke arahku dengan mimik sangat kaku. Tidak menggubrisku yang masih berdiri di pintu, Siwon berlalu begitu saja seakan kami saling asing.

Selepas pertengkaran kami mengenai kucing itu, Siwon tidak pernah datang lagi ke apartemenku. Dalam tiga hari, kami hanya sekali berjumpa di kantor dalam acara penandatanganan kontrak kerja. Itupun dia mengacuhkanku sebagai rekan kerja, bukan sebagai seorang yang dikenalnya. Aku ingin mulai perbincangan dengannya, namun kecanggungan yang Siwon cipatakan di antara kami meluruhkan niatku.

Melihat Ny. Lim memelorotkan tubuhnya ke lantai dengan lunglai disusul isak tangisnya yang mengisi ruangan ini, aku menjadi mengerti bahwa dia adalah ibu Siwon yang dulu memilih kabur dari sisi ayahnya. Bodohnya aku yang tidak dapat menebak sesuatu familiar di karakteristik matanya yang diwariskan pada Siwon. Bergeming di tempatku, aku meragu untuk menyambangi Ny. Lim atau mengejar Siwon.

***

Aku menggeser kardus yang kuletakkan di kolong tempat tidurku, lalu menjumput sebuah figura dari dalamnya. Fotoku dengan Donghae yang tersenyum lebar ketika berski menjadi salah satu kenangan yang kubawa pindah ke negara ini. Sebulan berlalu dari perpisahan kami, dan aku masih sangat merindukannya hingga jari-jariku rasanya gatal untuk menekan kontaknya. Akan tetapi jika aku melakukannya, menghubungi Donghae, maka jarak Singapur-Korea sebagai upayaku melupakannya akan terbuang percuma.

Meletakkan kembali benda kenangan tersebut ke dalam kotak, aku kemudian menutup kotak dengan rapat. Alih-alih menyodokkan kembali kotak dalam kolong tempat tidur, aku mengangkatnya dan memindahkannya ke tumpukan barang tidak terpakai. Dengan seperti ini mungkin hatiku lebih ringan untuk menjauhi apa pun hal yang bersangkutan dengan Donghae.

Meremas jemariku, aku menahan untuk tidak menangis walaupun tidak berhasil. Air mata ini dengan bebas meluncur begitu saja seiring berbagai kenangan indah bersama Donghae yang meletup-letup di otakku. Aku terlalu pengecut untuk mencintainya dan terlalu berani untuk memimpikannya menjadi milikku seorang.

***

I’m coming,” mengeraskan suaraku, aku menjawab bunyi bel pintu yang dipencet dengan brutal. Sudah menyiapkan caci  maki bagi tamu yang datang di hampir tengah malam, lidahku tertali begitu melihat gerangan yang menyandar di gawang pintuku. “Siwon?” Belum rasa terkejutku reda, “Oops!” tubuhnya telah ambruk kepadaku. “Hei…hei…” Aku mengguncang bahu Siwon untuk menyadarkan pria ini, tapi agaknya tidak akan berhasil karena dia mabuk berat.

Menyampirkan sebelah tangan Siwon di bahuku, aku menggeret pria ini ke dalam apartemen. “My God,” keluhku karena rasanya tulang pundak dan punggungku akan patah jika menyangganya lebih lama. “You,” aku memapah Siwon, “owe me,” selangkah demi selangkah, “this, Choi Siwon.” Merebahkan tubuhnya ke ranjangku, aku memungkasi dengan mengangkat kedua kakinya ke atas ranjang. Berkacak pinggang dan mengibas poniku, aku mengatur napasku yang memburu. Pria jangkung ini benar-benar tidak ada bandingannya dengan tubuh mungilku yang hanya sampai di angka 160 cm.

Setelah mengambil baskom dan memenuhinya dengan air hangat, aku mencelupkan haduk ke dalamnya untuk mengusap wajah Siwon yang penuh dengan peluh. “Darn…” umpatku saat membaui jas dan kemejanya yang tidak lepas dari pekatnya aroma alkhohol dan asap rokok. Berapa botol alkhohol yang dia habiskan hingga seperti ini, huh?

Menyingkap lengan piyamaku, aku mengepalkan tanganku untuk meneguhkan diri melucuti kemeja Siwon. Don’t say me pervert! Aku hanya tidak tahan dengan aromanya dan tengah berbaik hati menolongnya. Dengan kepayahan aku melepaskan kemejanya karena harus sedikit mengangkat tubuhnya. Terakhir aku mengurai kancing-kancing kemejanya, namun sebelum sepenuhnya menarik kemeja tersebut untuk terlepas, Siwon dengan tidak sadar menyentakkannya. “Oops,” mengakibatkanku hampir terjatuh di atas tubuhnya andai kedua tanganku tidak menjagang di kedua sisi.

Mungkin jika saat ini Siwon tersadar, dia akan menggodaku habis-habisan karena wajahku yang menghangat dan pastinya memerah. Bagaimana tidak, jika wajah terlelapnya berada tepat di bawahku? Bahkan dalam keadaan tertidur pun, pria ini berlipat terlihat lebih tampan. Errghh…Ryung what’s on your mind?

Bangun dari posisiku yang tidak mengenakkan, aku berhasil melepaskan kemejanya hingga yang tertinggal adalah kaos dalaman putih. Tidak berani melakukan lebih dari ini, aku sekadar mengelap lengan dan leher hingga dada atasnya dengan handuk basah.  Setelah selesai kubersihkan badannya, kuselimuti dia.

Melipat kemeja Siwon, aku tidak sengaja menangkap bau lain selain campuran parfum dan alkhoholnya. Lebih mendekatkan kemejanya ke hidungku, aku mengendusi wangi feminin yang juga melekat di kemeja depannya. Menjauhkan kemeja tersebut dari hidungku, aku tiba-tiba merasa kecewa. Aku tidak suka dengan kegusaran yang tiba-tiba merayapi hatiku ketika menemukan bahwa dia kemungkinan besar bersama seorang wanita sebelum datang kemari. Meletakkan kemeja dan jas Siwon di sudut ranjang, aku kemudian duduk di bawah dan mengamati wajahnya.

Alis tebal dan hidung mancungnya mengundang jariku untuk menelusurinya. Bibir atasnya yang membentuk busur panah merupakan godaan bagi setiap wanita. Cambang halus yang dibiarkan tumbuh di sepanjang garis rahangnya yang tegas adalah pelengkap sisi maskulinnya. Sepasang lesung pipit ketika dia tersenyum adalah hal manis yang selalu dapat membuatku ingin menusukkan jariku di sana.

Tidak seperti Donghae yang ekspresif, Siwon cenderung menutup diri. Dia selalu berhasil mengelabuhi kami dengan sikap dewasa dan arogannya. Tidak perlu menodong dia agar bercerita, aku yakin pertemuannya dengan sang ibu membuatnya frustrasi demikian rupa. Benar bahwa dia hampir mencapai angka 30 untuk usianya, namun kehilangan sosok ibu semenjak kecil bukanlah hal yang dapat diukur dengan kematangan usia. Ibu tetaplah ibu yang dibutuhkan oleh putra putrinya.

Siwon yang kukenal tidak akan ceroboh dengan membiarkan dirinya mabuk berat seperti ini. Siwon yang kukenal adalah sosok realistis yang mampu menumpahkan wine di gaunku sekadar ingin memperlihatkan kerasnya persaingan di antara kaum sosialita atas. Siwon yang kukenal adalah sosok determinis yang mampu menyapu habis pernyataanku dengan antitesisnya yang masuk akal sekadar membuka pikiranku untuk berupaya lebih keras lagi.

Dan Siwon yang terbaring di sini adalah Siwon yang patah hati, yang aku tidak tahu harus bagaimana membantu menyambung hatinya.

***

 Aku bergumam rendah dalam alam bawah sadarku, malas untuk membuka mata. Hari ini libur, yang berarti aku dapat bermalasan sepanjang pagi di tempat tidurku.

Wake up sleepy head.”

Mengerutkan keningku, aku menghentikan fantasiku sejenak untuk mengenali suara rendah ini.

“Kau sedang menunggu ciuman dari pangeranmu?”

Aku berpikir dengam mata yang masih terpejam sebelum, “Gosh!” mataku sontak membuka lebar menyadari bahwa aku tidak sendiri. Menginspeksi diriku yang telah tebaring di atas ranjang, aku spontan bangun namun tertahan. “Heish, lepaskan!” Aku memberontak untuk melepaskan diri dari kekangan Siwon yang mendekapku erat dari belakang.

“Setelah semalam melucuti pakaianku, kau ingin lari dan tidak bertanggung jawab?”

Yak! Jangan berucap seolah aku melakukan sesuatu yang tidak-tidak padamu!” teriakku dengan suara serak, khas bangun pagi.

“Berarti kau melakukan yang iya-iya padaku.”

“Choi Siwon,” geramku. Aku ingin menyodok perutnya dengan sikuku, namun kedua tanganku terlanjur disatukan dan diperangkap olehnya. Sementara aku masih menggeliat membebaskan diri, Siwon malah mengeratkan tangannya yang melintang di dada atasku.

Please calm, will ya?” Tidak menghiraukan gerakkan kecilku, Siwon menyeludukkan wajahnya di tengkukku.

Aku menjengit saat merasakan cambang halusnya menusuk kulitku, membuatku geli. Menghentikan usahaku untuk membebaskan diri, aku diam ketika Siwon tidak bersuara. “Kau baik-baik saja?” tanyaku gamang.

“Tidak, aku tidak baik-baik saja,” jawabannya mengubah pagi ini menjadi sendu seketika. Jika Donghae yang mengucapkan ini, dia akan membarenginya dengan seringai bocah yang berarti dia memenangkan perhatikanku. Namun ini Siwon yang akan lebih masuk akal andai dia menjawab pertanyaanku dengan ‘aku baik-baik saja’.

Merilekskan tubuhku, aku bergeming dengan posisi kami. Meskipun itu artinya Siwon dapat mencuri dengar detak jantungku yang menggila, aku tidak peduli. “Wonnie, what should I do?” Aku memang lebih muda dari Siwon, namun memanggil namanya tanpa embel-embel di saat seperti ini membuatku merasa lebih intim dengannya.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Siwon hanya membungkam. Napas hangatnya yang menerpa tengkukku, entah mengapa kali ini menjadi ketenangan. Setelah beberapa Siwon terdiam, “Biarkan aku memelukmu. Dalam beberapa jam ke depan, kujanjikan aku akan baik-baik saja.”

Bukannya bersimpati, aku malah terkekeh dengan ucapan Siwon. Melepaskan cengkeramannya yang melonggar, aku membalik tubuhku hingga berhadapan dengannya. “Kau seharusnya mengatakan akan membaik dalam beberapa menit ke depan, bukannya jam. Itu terlalu lama. Kau tahu?”

“Tetapi aku mengucapkan yang sebenarnya,” argumen Siwon. “Beberapa menit terlalu singkat, kau tahu?”

“Ya…” protesku sambil memukul lengan atasnya.

Menangkap tanganku, Siwon menggeretku maju ke arahnya. Dia kembali memelukku dan mengubur wajahnya di ubun-ubunku. “Bagaimana bisa kau memeluk gadis yang bahkan tidak kau kenal, huh?” Aku menyindirnya yang mengabaikanku saat kami bertemu di acara penandatanganan kontrak kerja sama.

“Memang apa yang bisa kuperbuat jika kau sendiri tidak menganggapku?”

“Maaf,” liriku. Mendongakkan kepalaku, aku bertemu muka dengannya. “Kurasa Nemo menemukan pemilik yang lebih baik daripada aku,” candaku pada konten pertengkaran kami terakhir. Aku memekik ringan ketika Siwon menarik dan mengangkat tubuhku hingga diriku berada sepenuhnya di atasnya tubuhnya. Tidak nyaman dengan keintiman ini, aku berniat bangun sebelum tanganku ditahan olehnya.

“Pulanglah ke Korea bersamaku, Ryung.”

Ne?” heranku bukan karena aku tidak mendengar pertanyaan Siwon, melainkan karena kebingunganku atas maknanya.

Siwon bangun dan mengangkat punggungnya sehingga secara otomatis diriku mengikuti geraknya dan praktis, kini aku duduk di pangkuannya. “Kau pernah berkata padaku bahwa apa yang kurasakan kepadamu adalah sebatas rasa suka, namun setelah dua tahun ini bagaimana rasa ini tetap bersemanyam, huh?”

“Won…” lirihku sambil menarik kaos dalam putihnya.

Siwon menaikkan daguku agar wajahku bertatapan dengannya secara penuh. “Dan kemudian aku tahu, aku tidak sekadar menyukaimu, melainkan telah jatuh cinta.”

Aku menelan ludahku dengan susah sambil mataku mencari kebenaran di dalam penetrasi iris hitamnya. “Wonnie, aku…” Aku sungguh gamang untuk menjawab pernyataannya.

I love you, Nam Ryung. I always have and always will.”

Lidahku kelu begitu mendengar penuturan Siwon mengenai hatinya kali ini. Tidak seperti dua tahun lalu ketika dia mengatakan rasa cintanya, aku malah menertawakan pengakuannya yang kukira sebuah guyonan atau godaan saja. Masih ada keinginan bagiku untuk kembali kepada Donghae, tapi aku mengakui sebagian hatiku sudah tidak lagi mengharapkan hal tersebut. Akan tetapi bukan berarti aku mudah menerima Siwon, bukan?

Marry me, Nam Ryung, and be mine forever.” Siwon menangkup sisi wajahku dengan sebelah tangannya.

Tidak kupungkiri jantungku mengehentak tak karuan. Walaupun dia melamar bukan dalam nuansa romantis, namun aku menangkap ketulusannya di sana. “Wonnie, ini terlalu mendadak dan aku—“ aku gelagapan menjawabnya.

“Berikan aku satu ciuman, mungkin akan membantumu menemukan jawabannya.”

“Bagaimana bisa?” pekikku tidak percaya.

“Jika ternyata detak jantungmu menghebat untukku, maka perasaanku terbalaskan.”

“Bagaimana jika ternyata jantungku berdetak bukan karena hal tersebut, melainkan karena gugup?” raguku.

“Maka spontanitasmu akan menjawabnya.”

“Won…”

Please,” bisiknya pelan di depan bibirku.

Tidak menolak tubuh Siwon, aku membiarkan pria ini merapatkan jarak kami. Mataku membelalak seketika begitu bibir kami bersentuhan. Napasku terhenti seketika dalam tarikan kuat. Wajahku memanas saat rasanya seluruh darahku di pompa ke kepala. Ketika beberapa saat bibir kami hanya bersentuhan dan kelopak mataku mulai menurun, kelebat memorikuk dengan Donghae satu per satu muncul. Aku sungguh tidak mengerti memaknai ciuman ini, namun saat kurasa dia memberikan lumatan tubuhku secara intuitif menjauh dan…

PLAK!

Oh my…” Aku mengangkat kedua tangaku untuk menutup mulutku. Menuruni pangkuan Siwon, aku ingin mendekatinya dan melihat bekas tamparanku di pipinya. “Wonnie, aku…aku…” tuturku tiba-tiba mengagap.

Siwon hanya tersenyum getir, kemudian mengangkat kakinya menuruni ranjang. Dia menjumput pakaiannya di sudut ranjang dengan bergegas. Sebelum benar-benar pergi, Siwon menyempatkan mengacak puncak kepalaku sambil menarik bibirnya berlawanan. “Aku tahu, Ryung. Jika kau mengubah jawabanmu, pesawatku take off pukul 3 sore ini.”

Sepeninggalan Siwon, aku masih terpaku di tempatku. Merabai bibirku yang tadinya dicumbu olehnya, aku benar-benar meragukan jawabanku. Akan tetapi satu yang kupasti adalah bahwa spontanitasku bukanlah bentuk penolakkan, melainkan sebuah kekagetan belaka. Memutuskan jatuh hati pada Siwon sama halnya ketika bersama Donghae. Mereka berdua berasal dari kalangan sama, dan aku tidak ingin terluka untuk kedua kalinya karena masalah serupa; penolakkan keluarganya.

***

Aku mengumpati kerumunan yang memadati bandara di penghujung akhir pekan. Melompat-lompat kecil sambil memanjangkan leherku, aku berusaha untuk mencari sosok Siwon. Tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan, pria itu melenggang begitu saja. Menggigit bibir bawahku, aku mengentak kakiku ketika mataku menangkap Siwon yang tengah berdiri di lounge. Berjalan cepat menggapai tempatnya, aku tidak memedulikan matanya yang membulat ketika menangkapku.

Dengan sigap aku menginjak kaki Siwon dan melemparkan kedua tanganku melalui pundaknya untuk mengimpitkan tubuh kami. Menjinjit di ujung jemari kakiku, aku memiringkan kepala dan menjangkau bibirnya yang rasanya masih melekat di bibirku sedari pagi ini. Memberikan sebuah kecupan singkat, aku memundurkan wajahku. “Ini jawabanku.”

Siwon menaikkan sebelah alisnya hampir-hampir menyentuh batas rambutnya. Mimik terkejutnya segera terganti dengan raut komikal. “Dengan mengotori sepatuku?” tanyanya seraya melirikkan matanya ke bawah di mana kakiku masih berpijak di atas kakinya.

“Ini balasanku karena kau datang ke tempaku dalam keadaan mabuk berat hingga menyusahkanku untuk menggeretmu,” tegasku. Aku sengaja mengentak sebelah kakiku hingga dia mengerang, “Dan ini balasanku karena kau datang ke tempatku setelah mencumbu wanita lain.”

“Hei…” Siwon melingkarkan kedua tangannya di pinggangku untuk menjaga kerapatan tubuh kami. “Aku bahkan tidak mengingat wajah dan nama wanita yang semalam menggelayutiku, oke?” tegasnya seakan memberi keterangan bahwa wanita yang bersamanya semalam hanyalah wanita penghibur yang kebetulan melewatinya. “Lagipula sebelum kami berciuman, wajahmu tiba-tiba muncul di benakku. Dan kau tahu betapa itu membuatku frustrasi, huh?”

Cish,” desisku, “lain kali kau mengulanginya, aku akan memastikan mencincangmu dan wanita itu.”

Siwon terkekeh merespon ancamanku. “Jadi ini berarti kau menerimaku?” tanyanya memastikan.

“Aku belum mem-packing pakaianku,” ujarku yang melenceng dari pertanyaannya.

“Aku bisa membelikanmu berlusin-lusin pakaian di Korea nanti.”

“Aku belum mengajukan pengunduran diri ke kantor.” Oleh karena lamaran Siwon yang mendadak, aku belum sempat mengabari kantor mengenai kepulanganku ke Korea.

“Aku dapat menguruskannya untukku setelah kita tiba di Korea.”

“Aku belum memakai cincinku.”

Kali ini Siwon tertawa hingga menunjukkan lesung pipitnya. “I’m sorry for porposing you in the way far from descent,” Dia mengadu keningnya denganku, kemudian tangannya menyusup di antara tubuh kami dan memunculkan sebuah kotak beludru bewarna biru. “Tujuanku datang ke Singapur,” ucap Siwon sembari membuka kotak tersebut hingga memunculkan sebuah cincin cantik dengan berlian biru sebagai sentranya, “bukan karena kontrak kerjaku, melainkan karena ini.”

Tanpa menunggu Siwon mengambil cincin tersebut, aku mengeratkan pelukanku padanya hingga tubuhnya sedikit membungkuk. Tidak peduli dia melamarku dengan cincin atau tidak, aku putuskan untuk menerimanya. Mungkin separuh hatiku masih ditempati oleh Donghae, namun aku lebih yakin tempat itu akan tergeser seiring waktu. Pepatah berkata: “jika kau mencintai dua orang sekaligus, maka pilihlan orang kedua karena jika kau sangat mencintai yang pertama, maka tidak akan ada yang kedua.” Akan tetapi bukan itu alasan utama aku menerima Siwon, melainkan karena dia lebih membutuhkanku ketimbang Donghae.

Aku yakin semakin berjalannya waktu, Donghae dapat mengobati lukanya karena perpisahan kami. Dia adalah pria dengan senyum bocah yang selalu dapat berbahagia dengan caranya. Namun aku tidak yakin Siwon dapat melakukannya. Kekakuannya membatasi dirinya untuk terbuka dengan yang lain, dan sekali dia terluka akan butuh waktu sangat lama untuk menyembuhkan luka tersebut.

“Bagaimana andai keluargamu menentang hal ini?” Aku tidak kuasa untuk tidak menanyakan pertanyaan ini.

“Aku bukan bocah, Ryung. Aku seorang pria yang hampir berkepala tiga. Dengan usiaku kini, aku berhak memilih pendamping yang kuinginkan.” Menarik lenganku, Siwon memisah tubuh kami. “Namun jika hal itu membuatmu risau, segera setelah kita tiba di Korea, kita temui keluargaku.”

“Tapi—“

“Percayalah padaku, Ryung. Aku bukan orang yang gegabah memberikan suatu tawaran jika tidak ada harapan.” Siwon menangkup pipiku dengan tangannya yang besar dan hangat. Membawa wajahku mendekat, dia menjangkau bibirku.

Menaikkan tanganku, aku menesulusupkan jemariku ke tengkuk Siwon ketika bibir kami bertemu. Menjinjit kembali, aku menyambut lumatan lembut Siwon di bibir bawah dan atasku secara bergantian. Ini kedua kali kami berciuman, namun rasanya aku sudah mulai mencandui bibir sensualnya. Sebelum aku benar-benar membalas ciuman Siwon, dia menjauhkan wajahnya. Mengerang rendah, aku menatapnya dengan kecewa dan raut tanya.

“Aku hanya memastikan tidak mendapat tamparan lagi,” jenaka Siwon. Dia mengecup bibirku singkat sekali. “Begitu mendarat di Korea, belajarlah memanggilku oppa.”

Errgghh, Won…” protesku malas. Bukan aku enggan menghormatinya, aku hanya merasa lebih intim jika memanggil nama depannya.

Siwon terkekeh, sekali lagi menertawakan tanggapanku yang menurutnya lucu. Merendahkan kepalanya di sisi telingaku, dia berbisik, “Aku tidak berkeberatan jika kau memanggilku demikian rupa ketika di atas ranjang. Malahan, aku menyukainya.”

Meninjukan kepalan tanganku ke perut Siwon, aku kesal ketika dia selalu berhasil membuat rona di pipiku.

Daripada mengerang kesakitan, Siwon tertawa renyah meskipun tadinya diawali oleh lenguhan singkat. Dia mengeratkan pelukannya di pinggangku dan berbisik lagi, “Kurasa kita menjadi pusat perhatian di sini.”

Melesapkan wajahku ke pundak Siwon, aku tidak mengacuhkan andai orang-orang sekeliling kami memerhatikan. Sudah waktunya bagiku untuk memaknai sorot mata mereka sebagai hal positif. Saat ini tanpa ketakutan untuk mencintai, aku berucap, “I love you, Choi Siwon.”


[1] Proletariat: lapisan social paling rendah.

[2] PA: personal assistant.

Note:

Aku gemas dengan ending dan jalan cerita The Heirs, jadinya membuat oneshot ini. Menurutku, drama ini melejit bukan karena ceritanya yang menarik, melainkan karena para bintangnya. Walaupun aku harus mengakui bahwa Kim Tan menjatuhkan image Paman Minho di mataku. Please, aku lebih suka ketika Lee Minho berakting di City Hunter ketimbang menjadi bocah belasan tahun yang impulsif. Makanya di sini aku mengakhiri tokoh wanitanya dengan si bad boy karena bad boy is more tempting. 😄

Aku sempat kesal dengan para netizen yang berkomentar bahwa Siwon semakin hari semakin jelek. Please, do you have any mirrors in your home? be realistic. We are aging! Jika Siwon selamanya terlihat seperti di usianya yang ke-17 atau 20, it must be very creepy! Aku akui bahwa Siwon yang sekarang tidak setampan Siwon dua-empat tahun lalu, namun aku tetap menyukai perubahannya. Dia terlihat lebih matang dan dewasa di usianya sekarang. Bagiku, ketampanannya yang sekarang adalah ketampanan seorang pria, bukan bocah belasan tahun.

Pic Spam:

Aku suka lihat muka unyu-unyunya ^^

siwon and cat

76 thoughts on “The Heirs: An Expected Ending

  1. woaaa.. kemarin dikasih alamat ini sama teman, dan ini ff pertama yang aku buka. sukaaa😀.. Ini ff siwon pertama yang ngena di hati, hehehe. suka sama pemilihan katanya dan kalimat, “pada waktunya nanti, mungkin kita akan lebih mengerti apa yang pantas diperjuangkan dan bagaimana memperjuangkannya tanpa melukai yang lain”.. itu kalimat kereeen, menurutku tentunya :p

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s