Behind Those Beautiful Eyes [13]


BTBE 14_1

Behind Those Beautiful Eyes [13]

Arsvio | Tiffany Hwang Miyoung, Kyuhyun Cho, Siwon Choi | PG-16 | Under Attack  dan Castle of Glass (Linkin Park)

Stephanie

Andwe…!” Aku berteriak menghabiskan persediaan udara di paru-paruku, berharap dapat mengubah keputusan. Akan tetapi sebelum aku bahkan mencapai barisan tentara pengeksekusi, tubuhku sudah dihela ke belakang dan dihadang di depan.

“Young, tenangkan dirimu,” bisik Kyuhyun tegas sambil mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang dan dada atasku. Ketika aku menggeleng keras untuk menolak anjurannya, dia membungkam mulutku rapat.

“Atasi dia!” pekik seorang tentara yang tidak kutahu mana orangnya sebab mataku mengabur karena kristal bening.

Sembari menarikku ke belakang tawanan, Kyuhyun mempertahankan keeratan dekapannya; takut andai lengah aku akan kembali berlari ke depan. “Young, stabilkan emosimu atau kita akan celaka,” desis Kyuhyun tepat di samping kepalaku.

Aku menanamkan kukuku kuat-kuat di lengan Kyuhyun untuk menguasai diri. Pikiranku yang kalang kabut terus menerus mengutuki mereka tentara dengan serapah terburuk yang kumiliki. Menekan gejolak emosiku yang akan membeludak, aku mengimpit tubuhku pada sisi tubuh Kyuhyun untuk meredam gigilan.

“Berikan aku waktu lima menit untuk bicara dengan perempuan itu sebagai permintaan terakhir.”

Kepalaku tersentak naik begitu Dohwan Ahjussi melantangkan permintaan terakhirnya. Pandanganku mencari celah di antara punggung-punggung tawanan lain di depanku untuk memastikan gerangan yang diminta oleh ayah Ahreum. Ketika punggung-punggung tersebut menyibak satu per satu hingga membelah sebuah jalan di depanku, barulah aku mengerti maksud Dohwan Ahjussi.

“Bawa dia kemari!” teriakan perintah tersebut segera direspon oleh dua tentara yang menjaga kepungan.

“Young…” lirih Kyuhyun seraya menahan tubuhku. “Jangan—“

Melepaskan kekangan tangan Kyuhyun, aku mengukuhkan keberanianku. “Aku hanya akan berbicara untuk waktu sebentar.” Boleh jadi Kyuhyun belum mengetahui bahwa lelaki di depan itu adalah ayah Ahreum sehingga kekhawatiran tercetak jelas di sorot mata dan mimiknya. “Aku akan baik-baik saja,” tepisku pada keraguan Kyuhyun.

Memantapkan kakiku yang bergetar untuk melangkah maju, aku mengejurkan otot wajahku agar tidak berekspresi. Begitu mencapai ujung barisan tawanan, dua orang tentara mengapit dan mencekal lengan atasku di kedua masing-masing sisi. Aku dibawa mereka hingga tembok pembatas yang tingginya mencapai pusarku. Demikian juga dengan Dohwan Ahjussi yang digiring mendekatiku oleh seorang tentara. Setelah kami berdua bersemuka, ketiga tentara tersebut mundur beberapa langkah untuk memberikan privasi.

Mataku mengamati habitus Dohwan Ahjussi yang meringkih dibanding terakhir kali kami bertemu. Lebam yang telah memudar di kedua pipinya adalah bukti bahwa dia pernah mengalami penganiyayaan beberapa hari belakangan. Dia memakai pakaian serba hitam, dengan sebuah lingkaran putih selebar telapak tangan terpasang di dadanya. “Youngie-ya, kau tahu mengenai kisah Shin Sang-Ok dan Choi Eun Hee[1]?”

Jika tidak salah ingat, mereka berdua adalah pasangan sutradara dan artis Korsel yang diculik oleh pihak Korut untuk membantu memajukan perfilman negara ini. Aku mengangguk, namun menutup mulutku dengan rapat untuk membiarkan ahjussi menyelesaikan maksudnya.

“Mereka berdua melarikan diri untuk memilih kebebasan mereka,” Dohwan Ahjussi menghela napas hingga bahunya begerak turun, sementara aku terus mensugesti diri untuk kuat. “Namun aku tidak bisa melakukannya karena belahanku telah bahagia di tempat lain yang jauh lebih baik dari duniawi. Aku pun tidak dapat kembali ke negaraku dengan kepala menegak setelah apa yang kulakukan untuk negara ini. Jangan berpikir dengan menghukumku mati, mereka mendapatkan kemenangan.”

Aku mengangkat wajahku untuk mencermati raut sayu Dohwa Ahjussi yang penuh determinasi.

“Karena inilah caraku membebaskan diri, Youngie, Aku tidak ingin lagi diperbudak di negara ini.” ucap ahjussi sebagai alasan. “Kau mengambil keputusan tepat dengan menolak bekerja di bawah mereka karena itu adalah martabatmu.”

“Lalu,” aku menelan air mataku yang menyumbat kerongkongan, “bagaimana dengan Ahreum?”

Dohwan Ahjussi tersenyum tanpa beban, kemudian merangsek maju ke arahku. Dia memelukku, mengusap kepalaku, dan menepuk punggungku dengan lembut. “Sampaikan hal ini padanya, Youngie, dan katakan bahwa aku menyayanginya. Pada suatu saat nanti, aku yakin dia akan mengerti dengan keputusanku.” Menarik diri dariku, Dohwan Ahjussi menengok ke arah belakang dan mengangguk kepada tentara penjaganya sebagai isyarat bahwa dia telah selesai.

Andweyo…” rintihku nyaris tidak terdengar. Aku mengigit bibir bawahku, tidak peduli apakah nantinya berdarah, untuk meneguhkan hatiku. Kepalaku menggeleng pelan saat Dohwan Ahjussi memberikan senyum kecil, sekadar menjaminkan padaku bahwa dia sungguh-sungguh terhadap keputusannya. Meneleng kepalaku barang sedikit, aku melongok wajah Seoyun Ahjumma, yang meski tampak ketakutan, namun berupaya tegar dengan tersenyum kepadaku.

Aku tidak melawan, namun memberatkan langkahku ketika dua tentara menyeretku kembali ke kelompok tawanan. Tidak cukupkah pihak Korut memperlakukan kami dengan tidak berperikemanusiaan di tempat ini hingga kami juga harus menyaksikan suatu eksekusi dengan mata kami sendiri? Selain membuat teror, agaknya mereka ingin menanamkan rasa takut dan jera kuat-kuat di pikiran kami.

Kyuhyun segera menarikku ke sisinya begitu aku tiba di mukanya dengan raut penuh kegetiran. Dia menyelinapkan sebelah tangannya di pinggangku, sementara tangan lainnya memegangi lengan kananku.

Pikiranku semakin kalap ketika para tentara mendudukkan Dohwan Ahjussi dan dua orang lainnya ke kursi, kemudian mengencangkan tali-tali yang terdapat di kursi tersebut. Setelahnya, mereka menutup mata ketiganya dengan karung bewarna coklat. Mereka memastikan ikatan di tangan, kaki, pinggang, dan kepala cukup kencang, sebelum meninggalkan ketiganya. Napasku secara mendadak memburu ketika mataku melekat pada tali yang mengikat tubuh ketiganya. Kaki kananku dengan refleks mundur sejengkal, sementara kepalaku menunduk dalam. Iris mataku bergerak-gerak mencari fokus ketika diriku mulai gelisah. Jemariku dengan gemetar mencari pegangan yang akhirnya menyambar lengan bawah Kyuhyun, kemudian meremasnya. Beruntun kilatan memori menerpaku seperti laju kereta yang cepat.

“Andwe…” rintihku sambil mencengkeram erat leher kaosku yang beberapa bagian telah koyak. Kakiku menjejak-jejak sprei yang telah kusut untuk memundurkan diri dari ayah tiriku yang merayap mendekat.

“Ssttt…” Ayahku menaruh telunjuknya di bibir. “Ayolah Miyoung, jangan takut.” Dia menjangkau kedua tanganku, kemudian menyentaknya dengan kuat-kuat dan memitingnya di atas kedua kepalaku.

“Andwe…” kepalaku menoleh ke samping untuk menghindari wajah ayahku yang menyuruk. “Hentikan, kumohon,” rintihku sambil mengentakkan kakiku yang ditintidih olehnya. Tubuhku bergetar ketika permukaan tangan yang kasar menyentuh kulit perutku.

Mataku dan telingaku terbuka lebar saat bunyi tembakan terdengar serentak. Napasku yang memburu terhenti seketika dengan tarikan kuat. “Andwee…!” Teriakan kerasku segera diredam oleh bekapan, sementara badanku ditahan oleh dekapan kuat. Gigi-gigiku menggerat jari-jari, yang kuyakin milik Kyuhyun, yang membungkam mulutku demi menahan letupan emosiku. Aku bahkan tidak peduli akan kesakitan Kyuhyun karena gigitanku.

Ketiga badan di depan sana menyita perhatianku secara utuh. Tembakan sebelumnya bukan diarahkan ke kepala mereka, yang mungkin dapat menghabisi mereka secara langsung, melainkan diarahkan pada dada. Sekarang aku tahu guna lingkaran putih yang terpasang di dada mereka; adalah penanda sasaran tembak.

Darah itu merembes melalui luka tembak, yang sayangnya menjadi sangat kontras warnanya ketika melalui media bewarna putih. Penglihatanku dengan gamblang menangkap cairan pekat itu membasahi tubuh depan ketiganya, kemudian mengalir menuruni kursi hingga merembes pada pasir yang menjadi alas tempat itu. Andai kepala mereka tidak ditutup menggunakan kantong, pastilah ekspresi kesakitan saat maut di ujung ubun-ubun tampak jelas. Tubuh mereka mengejang-ngejang kecil seiring banyaknya darah yang terserap oleh pasir hitam di bawahnya.

Menyaksikan kepekatan darah yang terus mengalir, perutku mual. Tenggorokanku rasanya mengering dan bergarau. Suaraku tercekat di kerongkongan hingga tidak ada lagi kata-kata yang dapat kuartikulasikan.

Tubuhku menggelinjang agar terbebas dari sentuhan-seentuhan memaksa yang tidak kuinginkan. Tangan besar dan kasar ini menjamahi seluruh kulit tubuhku, sementara tangan yang lain membungkam mulutku yang berteriak. “An…we…” ujarku terputus dan teredam. Tubuhku bergetar setiap bibir pria ini mengusap wajah dan leherku, bukan karena kenikmatan melainkan rasa jijik. Ketika kehormatanku di ambang batas dan asaku pupus, telingaku mendengar bunyi pukul keras disertai tubuh ayahku yang terguling ke sisi samping.

“Hwang Joomin! Beraninya kau!” teriakan feminin milik ibuku menggema di kamar sumpek ini. Tanpa rasa gamang, dia menyerang tubuh ayahku yang bahkan belum bangkit setelah tadi dipukul olehnya. Dengan brutal ibuku menghantamkan tinjunya ke wajah ayahku.

Udara yang kusedot rasa-rasanya semakin minim, tidak mungkin udara di sini menipis, pastilah rongga pernapasanku yang menyempit. Tanganku berusaha meremas dadaku yang mengembang dan mengempis dengan gerakan ekstra.

Pasir hitam di depan sana memekat karena darah yang terus-menerus merembesinya. Pada akhirnya ketiganya bukan saja meninggal karena luka tembakan, tetapi lebih pada karena kehilangan banyak darah. Dua alasan yang kukantongi adalah demikian mereka eksekutor ingin menyiksa ketiganya dengan pembunuhan keji, sekaligus menghantarkan kengerian bagi kami.

Sekuat apa pun pukulan ibuku, tenaganya adalah tenaga seorang perempuan yang tidak sebanding dengan milik ayahku. Pukulan ibuku yang menghantam tubuh ayahku tidak mampu melumpuhkannya seketika. Kekerasan yang menemani hidupnya telah menguatkan tulang-tulangnya. Dia dapat membalik keadaan dengan mudah hingga kini ibuku lah yang tersudut. Ayahku bahkan tidak tanggung-tanggung dalam menghantamkan tamparan, meski yang dihadapi adalah wanita.

Aku terduduk meringkuk dengan tubuh bergetar menyaksikan bagaimana ayahku memukuli ibuku. Pikiranku mengalap, menyuruhku berbuat sesuatu untuk menghentikan kegilaan ayahku. Melirik ke samping, tanganku dengan sigap meraih botol minuman keras milik ayahku. Kakiku kupaksakan menuruni ranjang, kemudian berjalan cepat menghampiri keduanya. Mengambil keuntungan melalui punggung ayahku yang menghadapku, aku dengan kilat menghantamkan botol di tanganku ke kepala belakangnya.

Bunyi botol pecah dibarengi erangan ayahku tidak menghentikanku begitu saja. Euforia dan dendam meledak-ledak di dalam dadaku ketika mataku menyaksikan pria yang tadinya menguasai tubuhku. Tanpa membuang waktu, aku menusukkan bagian tajam botol di leher belakangnya untuk menyudahi teriakan kesakitannya. Bukan sekali, dua kali, tiga kali hingga darah bermuncratan mengenai tubuhku. ”Arrggh…”

“Miyoung-ah!”

Aku melunglaikan tubuhku, imaji dan realitasku bertumbukkan. Menurunkan kedua tanganku yang tadinya mencengkeram dada, aku mengamatinya lekat. Kedua tangan ini dua puluh tahun silam pernah berlumuran darah kental. Cairan yang menelusuri telapak tangan, punggung tangan, kemudian menetes dari sela jari-jariku. Meskipun aku menyadari situasiku saat ini, namun hidungku tidak tahan untuk mengenang memori bau anyir kala itu; amat anyir. Memeluk ragaku, rahang bawahku bergetar. Tubuhku secara nyata mengingsut dari dekap Kyuhyun.

#

“Young? Kau mendengarku?” suara Kyuhyun terdengar memanggil untuk entah sekian kali semenjak kami dipulangkan ke sel. Dia dipindahkan ke sel tahanan lelaki karena aku menolaknya, lebih tepatnya tidak mengacuhkannya, selama proses pemulangan.

Aku meringkuk seperti posisi janin, tidak memiliki keinginan untuk menjawab bisikkan tanya Kyuhyun. Pikiranku seakan tidak berada di tempatnya, melainkan melayang di atas ubun-ubun. Mungkin terlalu porak poranda akibat rentet kenangan yang tiba-tiba muncul.

“Young, jawablah aku dengan isyarat apa pun.” Mataku tidak dapat melihat Kyuhyun, namun mendengar nada putus asanya, aku yakin dia tengah menghela napas.

Air mataku tidak dapat mengalir untuk mewakilkan rasaku saat ini. Bahkan aku ragu mengenai rasa yang menghinggapiku saat ini; bersalah, sedih, kecewa, atau marah. Aku lah pembunuh ayah tiriku sendiri, aku lah orang yang membuatnya mati.

“Kejadian yang baru saja kita lihat, apakah memicu ingatanmu?” tanya Kyuhyun yang masih belum menyerah untuk menarikku berbincang. “Kenanganmu yang hilang, kau mengingatnya?”

Kepalaku mendongak ke arah keruji besi. Aku ingin minta tolong agar Kyuhyun membantuku menghapus rasa bersalahku, tapi itu berarti aku harus mengungkapkan kenangan pahit ini. Suatu aksi kriminal didasari rasa amarah yang mampu menghilangkan sebuah nyawa. Kebimbanganku adalah apakah saat aku menghujamkan pecahan botol itu, maksudku ingin melindungi eomma ataukah murni ingin membalas dendam? Aku bahkan takut terhadap diriku sendiri.

“Tidak mengapa jika kau sekarang merasa terkejut,” lanjut Kyuhyun, “tapi kau tidak dapat menyerah terhadap kenangan tersebut.”

Aku sangat ingin menuruti nasihat Kyuhyun, tapi bukan perkara mudah untuk menerima bahwa diriku seorang pembunuh.

“Young, berikan isyarat apa pun mengenai keadaanmu sekadar melegakanku,” ujar Kyuhyun, “kumohon,” lirihnya.

Aku beringsut dengan menggunakan siku kananku untuk bertumpu, mendekati jeruji. Tanganku mengulur keluar, ingin mencari tanda Kyuhyun. Jemariku memanjang bersamaan dengan jemari Kyuhyun yang kulihat menyembul. Aku ingin menggapainya untuk menyalurkan kegelisahanku, namun ketika ujung telunjukku menyentuh kulitnya, secara refleks aku menarik tanganku. Ketakutanku menggerayang kembali; ketakutan terhadap memoriku sendiri. Akan tetapi sebelum jemariku menjauh, Kyuhyun telah menangkapnya terlebih dahulu, kemudian menggenggamnya erat.

“Young, bertahanlah.” Kyuhyun mencengkeram erat jemariku, mengalirkan hangat kulit tangannya, “bertahanlah,” bisiknya mengulang.

“Hyunnie…” aku mencoba mengeluarkan suara, “menurutmu apakah kita akan berakhir sama dengan mereka?” ucapku tersendat-sendat. Mempertahankan prinsip, kemudian mati dengan keji bukanlah hal yang kuinginkan. Meskipun hal demikian terdengar patriotik. Aku merasakan genggaman Kyuhyun mengerat seusai pertanyaanku.

“Aku tidak sebodoh itu untuk mengikutimu kemari sekadar mengantarkanmu untuk dieksekusi. Sudah kubilang, aku lebih memilih menembakmu mati di tanah kita daripada membiarkanmu mati di sini.”

“Tapi kita tidak memiliki jalan keluar dalam situasi ini, kan?” suara serakku meragu.

“Percayalah, kau akan kembali, Young,” ibu jari Kyuhyun mengusap punggung tanganku, “kau akan kembali berenang di kolammu atau berdiam memandangi beratus foto di galerimu. Mungkin di saat itu, aku juga akan membiarkanmu meneguk beberapa gelas wine favoritku.”

Mau tak mau jawaban Kyuhyun membuatku menarik bibirku yang kaku untuk membentuk senyum tipis. “Kedengarannya tidak buruk,” lirihku.

“Tentu saja, yang perlu kau lakukan saat ini hanya memejamkan mata dan membiarkan pikiranmu mengimajinasikannya. Suatu hari yang datangnya kuyakin tidak akan lama, kau akan berada di sana. Aman dan Nyaman.”

Aku tidak ingin menyanggah Kyuhyun karena saat ini sanggahan hanya akan memperburuk suasana hati dan pikiranku. Jadi kututup mataku, kemudian kuturuti perkataan Kyuhyun untuk membayangkan rumah kami. Walaupun sekarang aku menggantungkan harapanku pada benang tipis, namun aku tidak bimbang untuk berharap. Setidaknya, kehangatan yang membungkus tanganku adalah jaminan.

#

Kedua kelopakku tersentak membuka saat kurasakan bekap kuat di mulutku. Mataku mencoba dengan keras menangkap sosok yang menjulang di atasku, selain karena minimnya pencahayaan adalah karena orang tersebut berpakaian serba hitam. Bahkan wajahnya dicoreng-coreng menggunakan warna arang. Dia meletakkan telunjuk di depan mulut, kemudian membantuku bangun. Dua pria berpostur tegap dengan pakaian serupa membangunkan tahanan yang lain.

Pikiranku menebak skenario yang sedang terjadi di sini, sebelum tanpa kusadari, Kyuhyun telah merengkuhku. Tangannya menggamit pinggangku dengan kuat ketika tanpa banyak bicara, dia mengikuti langkah orang-orang yang berpakaian serba hitam ini.

Tidak hanya dua atau tiga, ada sekitar tiga orang lagi yang tengah berjaga di pintu masuk sel. Setiap melalui pintu, kami menemui paling tidak satu diantara mereka. Ransel ringkas yang mungkin berisi beberapa peralatan pertahanan dibawa oleh beberapa diantara mereka, sementara yang lain tidak terlalu banyak membawa beban kecuali senjata laras panjang dan pistol yang dikantongkan di pinggang. Bukan tidak mungkin mereka menyembunyikan senjata lain semacam belati di saku-saku yang terletak di paha.

Aku menyedot napas mendadak, bahkan nyaris berteriak sebelum dengan cepat Kyuhyun membungkamku dengan tangannya, ketika menjumpai lima penjaga berseragam berserakkan tak bernyawa. Untungnya hal yang mematikan mereka bukan suatu pembunuhan brutal sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadapku. Agaknya beberapa dari mereka dibunuh dengan semacam kawat yang dililitkan kuat di leher, menilik dari bekas semacam garis kemerahan di leher. Beberapa lagi mendapat tembakkan tepat di dahi, yang lain mendapat lemparan belati di dada.

Kami para tahanan terus bergerak didampingi pria-pria berpakaian hitam ini untuk keluar dari bangunan. Langkah kami digiring cepat, namun sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi. Akhir dari lorong adalah pintu yang berada di belakang atau samping, yang jelas bukan depan, menilai dari struktur bangunan.

Tidak ada yang berani bersuara, yang terpenting adalah bagaimana kami memacu kaki kami secepat mungkin untuk menjauh dari bangunan. Keluar dari pagar kawat yang telah terpotong hingga membentuk lubang, kami memasuki hutan belantara. Sekitar lima orang, aku tidak terlalu yakin jumlahannya karena keadaan sangat gelap, tiba-tiba muncul dari balik pepohonan dan menyergap kami di tengah perjalanan. Asumsiku mereka adalah tim cadangan atau pemantau yang akan bergerak jika tim utama yang kini membawa kami gagal melaksanakan tugas. Setelah bisik-bisik kecil diantara mereka, mungkin mengkonfirmasi keadaan, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Siapa pun mereka, menilik dari apa yang telah mereka perbuat, adalah sedang berupaya menyelamatkan kami. Antusiasme Kyuhyun untuk mengikuti perintah mereka kian memantapkanku bahwa mereka tidak mengancam keselamatan kami.

“Young,” pekik ringan Kyuhyun saat dengan tidak sengaja kakiku tersangkut akar-akar yang hampir menyebabkanku terjerembab. “Kau tidak apa-apa?”

Rombongan otomatis terhenti dengan insiden kecilku.

Aku mengangguk untuk menjawab Kyuhyun, namun agaknya dia tidak puas dengan responku. Dia merendahkan badannya, “Naiklah,” ucapnya menawarkan punggung.

Menarik lengan Kyuhyun, aku menggeleng untuk menolak. “Aku bisa berjalan sendiri,” ucapku untuk meyakinkan. Tenaga kami menipis, dan aku tidak ingin memberatkan Kyuhyun. Jemariku mencengkeram erat lengan Kyuhyun, sementara kepalaku mengedik untuk memberi isyarat agar melanjutkan perjalanan.

Pasrah dengan jawabanku, Kyuhyun menurut. Dia melingkarkan kembali tengannya di pinggangku dan menyokong tubuhku agar tidak ambruk.

Kelembaban semakin terasa seiring berlanjutnya langkah kami. Suasana benar-benar gulita karena tidak ada satupun yang menyalakan senter untuk penerangan. Kami mengandalkan gerak rombongan yang dipandu oleh orang-orang yang berada di depan dan samping kami. Mustahil mereka dapat bergerak demikian cepat andai tidak membuat suatu petunjuk sebelumnya, yang tidak kuketahui dalam bentuk apa petunjuk tersebut. Bisa jadi petunjuk itu adalah goresan di pepohonan yang hanya dapat dilihat oleh mereka dengan menggunakan kaca mata khusus, karena hampir semua yang memandu kami menggunakan kaca mata.

Hidungku mengendus bau anyir, sedangkan telingaku mendengar debur ombak. Benar saja, selang beberapa meter, kami sampai di ujung hutan yang berbatasan dengan bibir pantai. Begitu kami muncul, tiga orang yang telah disiagakan segera menarik dua sekoci.

Mesin sekoci dinyalakan agak jauh dari bibir pantai, agaknya untuk mengurangi kecurigaan akibat kebisingannya. Walaupun kupikir suara bisingnya sudah terkalahkan dengan suara debur ombak.

Aku menyorong wajahku melesak di sisi pundak Kyuhyun ketika gelisah. Laut dan langit di malam hari yang tidak berbintang terlihat sangat mengerikan; membuat nyali siapa pun menciut tak terkecuali aku. Boleh jadi kegelisahanku tidak hanya dilambari suasana gelap, melainkan juga keberhasilan untuk menjauh dari wilayah Korut.

Beberapa saat berlayar menggunakan perahu kecil, kami kemudian melihat armada besar berupa kapal selam yang sedang dalam kondisi mengapung. Seluruh kepala mendongak, mengagumi kegagahan armada tersebut dan berharap mendapatkan perlindungan. Merapatkan sekoci ke badan kapal, seorang awak memandu kami tawanan untuk menaikki tangga untuk mencapai sisi atas.

Aku berada di urutan kedua terakhir sebelum Kyuhyun untuk menaiki tangga. Kami berdua menaikinya berurutan. Oleh karena posisi tangga yang tegak, separuh tubuhku yang bawah berimpit dengan Kyuhyun. Menoleh ke bawah, aku menjumpai empat tentara yang masih berada di sekoci. Mereka sengaja menunggu hingga kami seluruhnya telah naik ke kapal terlebih dahulu.

“Stephanie.”

“Stephanie.”

Kepalaku secara impulsif menoleh ke bawah saat mendengar namaku dipanggil. Akan tetapi mereka agaknya tidak memanggilku karena ‘namaku’ terus menerus diulang.

“Stephanie.”

“Konfirmasi ulang, Stephanie.” Seseorang di bawah berbicara melalui alat komunikasi di tangannya. “Stephanie.”

Aku dan Kyuhyun mendadak menghentikan gerakan kami karena keriuhan yang pria-pria itu ciptakan. Tidak lagi melirihkan suara, kali ini mereka melantangkan setiap silabel nama baratku. Jika tidak salah tebak, mereka sedang menyuarakan suatu sandi yang tidak kuketahui artinya hingga…

“Stephanie.”

“Stephanie.”

Jantungku rasa-rasanya jatuh ke bawah begitu suatu ledakkan-ledakan disusul nyala api yang menerangkan malam terlihat di kejauhan; tempat aku ditahan. Seiring kobaran api membumbung tinggi, seiring riuh sorak yang kudengar di bawah. Aku mencengkeram kuat-kuat pegangan tangga ketika tubuhku bergetar menyaksikan peristiwa ini. Sangat berbeda dengan para pria yang masih berada di sekoci, yang agaknya menikmati pemandangan ini. Mereka berkacak pinggang atau melempar tinju ke udara dengan bangga, mungkin sekadar mengecap hasil kerja mereka.

“Young,” Kyuhyun menyadarkanku dengan menepuk pinggangku.

Aku memantapkan kaki dan tanganku untuk melekat pada anak tangga agar tidak terjatuh hingga sampai di penghujung dimana seorang tentara mengulurkan tangan untuk menggapaiku. Setiba di dalam kapal, seorang wanita muda berperawakan tegap menyelimuti tubuhku dengan selimut. Rahang bawahku tergetar begitu melihat badge bendera negaraku yang tersemat di seragam wanita ini. “Oh…” rintihku melega sembari menutup mulutku.

Kyuhyun yang tiba di sisiku merengkuhku dalam pelukannya, sementara aku secara spontan melingkarkan tanganku di pinggangnya sambil melesakkan wajahku di dadanya. “Kita telah selamat, Young,” Kyuhyun menghujani pelipis dan puncak kepalaku dengan kecupan-kecupan. “Kau selamat dan akan pulang,” ulangnya lagi yang membuatku tergugu dalam tangis penuh kelegaan.

Telingaku mendengar sorak sorai kru kapal, dibarengi beberapa tangis kelegaan beberapa tawanan. Mata berairku mengintip dari balik bahu Kyuhyun, wajah-wajah penuh haru mereka. Kami selamat. Harapan yang kugantungkan menjadi nyata, dan aku yakin Kyuhyun mengetahui momen ini akan terjadi. Melenguhkan senyumku, aku menekan wajahku ke bahu Kyuhyun.

#

Aku mengumpulkan semua perasaku untuk membangun kesadaran. Tanganku terangkat untuk memijat kening tatkala kepalaku rasa-rasanya seperti ditindih oleh sesuatu yang berat. Setelah semalam tertidur di pelukkan Kyuhyun, aku tidak merasakan apa pun atau mendengar apa pun kecuali dengung kapal. Kelegaan yang menyambangiku terlalu melelapkan tidurku.

Mengangkat sebelah tanganku, aku membawanya ke depan wajahku. Menggerak-gerakkan jemariku, kulitku tidak lagi merasakan dingin yang menggigit selain kesejukkan. Malam yang memberikan kebebasanku kembali, bagaimana aku tidak memaknai ini dengan terpukau? Hingga sekarang pun, aku masih tidak percaya bahwa aku telah kembali. Waktu semalam yang rasanya mengubah hidupku seratus depalan puluh derajat.

“Youngie, chagiya?”

Mengangkat kelopak mataku, aku menoleh ke sumber suara dan menemukan ibuku menggenggam sebelah tanganku. “Eomma…” panggilku. Mengingat kenanganku yang kembali, kini menjumpai wajah khawatir beliau menumbuhkan rasa bersalah luar biasa. Kepercayaanku bahwa ibuku lah yang berkaitan dengan pembunuhan ayah tiriku, gugur sudah.

Ne chagiya, kau membutuhkan sesuatu? Eomma panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu.” Beliau bangun dari duduk, kemudian menjangkau tombol di atas kepala ranjangku. Demikian aku baru menyadari bahwa saat ini aku terbaring di kamar rumah sakit.

Aku menggeleng kecil untuk menolak, kemudian menangkup tangan eomma yang berada di pipiku. Andai energiku telah kembali, mungkin aku akan meraungkan perasaanku saat ini. Sesak karena mengingat perlakuan burukku pada eomma terlalu menghimpit dadaku sehingga yang dapat mewakilinya hanyalah air mata.

Chagiya, kau merasakan sakit? Perlu kupanggilkan Jessica agar memeriksamu?”

Lagi-lagi aku menggeleng dan memilih menyimpan ceritaku. “Mianhata, Eomma, mianhammida…” parauku.

Eomma merendahkan tubuhnya, kemudian mengecup dahiku. “Tidak ada yang perlu dimaafkan Youngie-ya. Justru eomma lah yang harusnya meminta maaf karena tidak bisa berada di sampingmu di kala kau membutuhkan. Lebih dari itu, eomma bersyukur kau kembali dengan selamat, hum.”

Aku sekadar mengangguk dan tidak berniat meluruskan kesalahpahaman atas tanggapan eomma pada maksudku minta maaf. Pikiranku mulai merangkai satu per satu kejadian hingga suatu kenyataan membangunkanku. “Oppa?” tanyaku.

Eomma-ku sempat mengerutkan dahi beberapa saat untuk menelaah pertanyaanku. “Beberapa menit lalu Kyuhyunie baru saja berkunjung untuk memeriksamu—“

“Bukan, bukan,” aku mencengkeram tangan ibuku ketika beliau salah menangkap pertanyaanku. “Siwonnie Oppa, bagaimana keadaannya?”

Mimik wajah ibuku berubah seketika menjadi lebih suram. “Baiknya kau memulihkan dulu kesehatanmu, Youngie-ya.”

“Dimana oppa dirawat? Apakah di rumah sakit ini juga atau kah di lain tempat? Apakah kondisinya membaik?” cerocosku tidak memedulikan perkataan eomma.

“Youngie-ya.”

“Kumohon, Eomma,” melasku. Aku tidak ingin menunggu untuk melihat keadaan Siwon dengan mata kepalaku sendiri.

Menghela napas, eomma mengulum kedua bibirnya sebelum menjawabku. “Siwonnie dirawat di sini. Nantinya setelah kau pulih, kau dapat mengunjunginya.” Senyum eomma tertarik kaku untuk menyembunyikan sesuatu.

Aku menumpukan kedua sikuku pada permukaan ranjang untuk bangun. “Aku baik-baik saja, Eomma.”

“Youngie-ya, bukan saat yang tepat jika kau memaksa menemui Siwon sekarang.” Eomma menahan kedua bahuku untuk membaringkanku kembali, namun aku bersikukuh.

“Kumohon eomma. Oppa tidak akan seperti sekarang jika bukan karenaku,” argumenku untuk meminta.

Eomma memandangku dengan tatapan sayu, sebelum beliau meluruhkan bahunya menyerah. “Apa pun nantinya yang kau temui, berjanjilah untuk lapang menerimanya.” Setelah mendapat anggukanku sebagai jawaban, eomma membantuku menuruni ranjang dan menatihku berjalan.

Dahiku berkerut manakala menjumpai empat orang tentara berseragam bersiaga di koridor dimana di belakangnya adalah ruang VIP yang ditempati kakakku. Aku menghentikan kakiku karena seakan tidak asing dengan jenis kesiagaan seperti ini. Tidak banyak bertanya, ibuku pun diam di sisiku, seakan bergelut dengan pemikirannya sendiri.

Belum seberapa lama, aku mendengar pintu dibuka disusul sosok ayahku yang muncul dari dalam. Beliau mengenakan seragam tentara kebesarannya, lengkap dengan bintang-bintang penghargaan. Sangat jarang kujumpai ayahku mengenakan seragam tersebut kecuali pada beberapa acara kenegaraan. Beliau sedikit terkejut mengetahuiku dan ibu berdiri di sini. Mendekati kami, ayah hanya tersenyum sebelum mengulurkan tangan untuk mengusap kepalaku.

Walaupun aku sudah berada aman di sini, namun tidak mudah melupakan bagaimana ayahku melepasku kembali ke Korut. Alasan ini yang membuatku kini melengos, menghindari bertatapan dengannya.

“Aku ingin berbicara banyak denganmu, Youngie, namun agaknya kau masih enggan bersemuka denganku.” Ayah mendesahkan napasnya hingga cukup terdengar olehku. “Aku tidak memiliki waktu banyak.”

“Kurasa abeoji memang tidak pernah memiliki waktu untukku ataupun oppa,” sindirku sedikit keras. Dari sudut mataku, aku melihat bagaimana ayahku tersenyum getir menanggapi sinismeku.

“Aku tidak berharap kau akan mengerti, bahkan memaafkanku, Youngie.” Abeoji mendekat, lalu memanjangkan tangan untuk menjangkau kepalaku. Beliau mendaratkan kecupan di pelipisku; suatu tindakan yang jauh dari prediksiku. “Namun setiap orang tua tetap menyayangi putra putrinya, tidak terkecuali aku.” Ayahku menjauh dan memberi jarak.

Merasa sesuatu yang ganjil, aku memberanikan diri untuk menatap abeoji. Raut sendu syarat kelelahan tergambar jelas di wajah tuanya.

“Tidak rela rasanya meninggalkanmu dalam situasi ini, namun aku yakin kau mampu berdiri di kedua kakimu sendiri. Kali ini, aku benar-benar mengandalkanmu, Youngie.” Setelah menepuk pundakku, abeoji menarik tangannya. “Jaga dirimu baik-baik.”

Belum sempat aku menanyakan rentet kalimat yang seakan menunjukkan perpisahan, abeoji telah berlalu dikawal beberapa tentara dan ajudannya. Menoleh ke sisiku, aku menjumpai tangan ibuku yang memegangiku telah bergetar. Beliau menundukkan wajahnya, menyembunyikan buliran air mata. “Pergilah, Eomma,” aku meremas jemari beliau dan mengedikkan kepala ke arah koridor yang dilalui abeoji.

Aniyo, chagiya—“

“Aku dapat meminta bantuan perawat,” ucapku menjaminkan kondisiku padanya, “atau,“ aku melirik dan menangkap sosok Jessie di depan, “Jessie.”

Ibuku mengangkat wajahnya, kemudian membesut air matanya. Mengulum bibirnya, beliau mengembus napas ragu. “Hubungi eomma jika kau membutuhkan sesuatu, ne?” Beliau menepuk punggungku ringan, kemudian berbalik dan berjalan cepat mengejar ayahku.

Aku memutar badanku untuk mengikuti gerak eomma sambil memikirakan apa yang terjadi terhadap abeoji.

“Seingatku kalian tidak pernah akur, namun dia adalah orang pertama yang ingin kau temui begitu kau sadar.” Jessie mendekat sambil menyaku kedua tangannya di saku jas putihnya. “Dan aku juga bertanya-tanya mengapa kakakmu mau mengorbankan diri menyelamatkanmu. Sungguh ironi, bukan?”

“Aku malas mendengar atau menanggapi sinismemu.”

Well,” Jessie membuka tangannya kemudian memelukku, “kalau begitu, sekadar pelukkan tidaklah menyulitkan.” Tubuhnya yang berimpit denganku merileks sebagai tanda kelegaan. “Aku senang kau kembali dengan utuh. Setidaknya aku tidak perlu menghadiri pemakaman yang akan menguras persediaan air mataku,” candanya.

Cish,” dengusku untuk menanggapi sambutan ala Jessie. Menepuk ringan punggungnya, aku tahu dia memiliki intensi tulus. “Mungkin nanti aku akan menjelaskannya. Untuk sekarang, bantu aku melihat kakakku.”

Jessie menuntunku mendekati kamar Siwon, “Aku tidak ingin membuat spekulasi mengenai situasimu, namun—“

Aku meremas jemari Jessie yang memegangi lengan bawahku untuk memotong ucapannya. Kakiku terhenti secara intuitif ketika dari kaca pintu, mataku menangkap punggung familier; Kyuhyun. Dia duduk di sisi ranjang hingga praktis membelakangiku. Seharusnya aku sudah dapat menduga keberadaannya di sini.

Menggeser kakiku sedikit, aku berniat mendapat akses untuk melihat kondisi Siwon dengan lebih baik, namun tidak berniat memasuki ruangan. Tubuhnya diselimuti dengan rapat seakan-akan dia akan terluka jika selimut tersebut tersibak sedikit saja. Masker oksigen yang terpasang di hidungnya menghalangiku untuk mengamati wajahnya, sementara perban yang meliliti kepalanya menutup hingga dahi. Berbagai alat terpasang di samping kiri dan kanannya, yang sebagian besar tidak kuketahui fungsinya, namun salah satunya adalah kardiograf[2].

Menyaksikan kondisi kakakku, dadaku terasa ditekan dengan benda tak kentara. Bagaimana mungkin seorang  Choi Siwon tidak dapat memprediksi tindakannya mampu membawanya pada keadaan seperti ini? Atau sebenarnya dia tahu resikonya, namun tetap nekat melakukannya. Aku mengangkat tanganku dan meletakkannya di kaca pintu, berharap saat ini dapat menyentuhnya.

“Kondisinya stagnan, tidak mengalami kemajuan atau pun kemunduran berarti.”

Aku mendengarkan penjelasan Jessie dengan setengah hati karena sebagian perhatianku terfokus pada pemandangan di dalam ruangan Siwon. Kutekan emosiku semaksimal mungkin tatkala memperhatikan bagaimana tangan Kyuhyun mengusap dahi Siwon dengan hati-hati. Kelopak mataku menurun ketika Kyuhyun mencondongkan badannya mendekati wajah Siwon, dan aku tidak perlu tahu apa yang terjadi selanjutnya.

“Termasuk hal yang baru saja kulihat,” Jessie memutar tubuhku, “menilik tidak ada reaksi keterkejutan berarti padamu, kau pastilah mengetahuinya jauh hari.”

Bibirku tersenyum lemah untuk merespon pendapat Jessie. “Jess—“

“Aku akan mengurus administrasi perawatanmu sehingga kau bisa secepatnya pulang. Jika perlu, sore ini juga.” Jessie bukan tipikal perempuan naïf yang berpikiran kolot sehingga tanpa aku membuka mulut pun, dia dapat menyimpulkan hubungan kami bertiga. Boleh jadi Jessie telah awas dengan isu ini semenjak Siwon dirawat di sini; melihat bahwa dirinya juga tidak terlalu dikagetkan dengan kejadian yang kami saksikan. Mungkin inilah yang dimaksud Jessie dengan ‘tidak ingin membuat spekulasi’ dalam perkataan sebelumnya. Menuntunku kembali ke ruang inapku, Jessie terdiam selama perjalanan.

Membuka pintu kamarku, aku dikejutkan dengan kehadiran Ahreum yang agaknya sengaja menungguku kembali. Menemukan sosok Ahreum melayangkan ingatanku pada eksekusi mengerikan yang kutonton dengan mata kepalaku sendiri. “Anyeonghaseyo,” sapaku seraya menganggukkan kepala.

Ahreum membalas sapaku dengan senyum samar, kemudian ikut membantuku kembali ke ranjang.

“Bersiap-siaplah, aku akan segera kembali,” pesan Jessie sebelum meninggalkanku bersama Ahreum.

“Sepertinya aku tidak memiliki banyak waktu,” ucap Ahreum yang menangkap pesan Jessie.

“Apakah kali ini ayahku juga mengirimkanmu untuk menjelaskan keadaan yang kualami?” Aku tidak bisa menahan untuk memberikan singgungan. Kenyataan bahwa dia dan abeoji berada di perahu yang sama membuatku mengakukan sikapku padanya.

“Kedatanganku kali ini murni karena keinginanku sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan politik atau kebebasan yang baru kau peroleh. Namun agaknya kau mengharapkan sesuatu yang lain dari kedatanganku.”

Meskipun ada sedikit ketidaksukaan yang tumbuh di hatiku, namun aku tidak menyangkal menginginkan penjelasan darinya. Daripada menjelajah berita yang kebenaranya masih diragukan, mengingat masalah kali ini adalah isu sensitif, jauh lebih baik mendengarkannya langsung dari mulut Ahreum. Melihatku tidak kunjung membuka mulut, Ahreum mendekat.

“Pagi ini Tuan Choi Sang Hoon resmi mengundurkan diri sebagai menteri pertahanan. Selain itu, beliau menyerahkan dirinya untuk diadili militeristis karena kelalaiannya menyebabkan terbunuhnya tiga orang dalam kerusuhan demonstrasi Dae-A.”

Aku membulatkan mataku begitu menangkap informasi Ahreum. Tidak kusangka bahwa ayahku rela meletakkan jabatannya demikian mudah setelah separuh lebih hidupnya diabdikan kepada negara ini. Aku bukan bermaksud mengatakan bahwa beliau gila jabatan, bukan. Bagiku rasanya mustahil memperdengarkan bahwa beliau meletakkan tanggung jawabnya untuk membela negara ini.

“Operasi returning resmi ditutup dan segala dokumen yang berkaitan dengannya akan dimusnahkan. Pun bahwa pemerintah tidak akan mengeluarkan pernyataan resmi mengenai peristiwa ini. Tentu saja kau akan mendengar desas-desus beredar di masyarakat, terlebih karena peristiwa kali ini melibatkan saksi hidup yaitu mereka yang menjadi korban penculikan Korut.” Ahreum tampak percaya diri dengan penjelasannya. Dia selalu seperti ini; menguasai situasi. “Namun sekali lagi, desus akan dibiarkan menjadi angin lalu layaknya gosip murahan. Pemerintah tidak akan menyangkal maupun mengiyakan.”

“Jika ayahku berada di balik pembunuhan para demonstran Dae-A, akan lebih masuk akal jika beliau menanggung hukuman berat. Meskipun berdalih mengorbankan segelintir nyawa untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, namun sebuah nyawa tetaplah kehidupan.” Rasa kecewaku tetaplah muncul pada abeoji.

“Tuduhan tersebut terlalu prematur untuk kau ucapkan karena besar kemungkinan para penyusup Korut yang melakukannya. Setelah mengendus adanya kerja sama antara Korsel dan US untuk membebaskan warga yang diculik, Korut agaknya sengaja membuat kericuhan untuk mengacaukan operasi returning, termasuk dengan mengincarmu,” terang Ahreum.

“Lalu operasi penyelamatan yang kualami, apakah abeoji-ku telah merencanakan sebelumnya? Karena dalam pandanganku, kala itu beliau hanya berniat mengembalikanku ke Korut tanpa persiapan atau pun rencana kecuali mengikuti permintaan pihak Korut.”

“Kyuhyun-ssi yang mengambil resiko.”

Aku mengadu ujung dalam alisku sebagai isyarat tanya.

“Peneliti mengembangkan pelacak non-logam yang ditanam di bawah kulit sebagai penanda lokasi. Namun benda ini belum pernah diujikan tingkat keselamatannya. Kyuhyun-ssi adalah orang pertama yang melakukannya.”

Menyeringai kecut, aku getir dengan kenyataan tersebut; bahwa Kyuhyun mengorbankan dirinya demikian rupa dan bahwa ayahku benar-benar menyerahkanku ke tangan musuh tanpa syarat. “Dengan kata lain jika bukan karena kerelaan Kyuhyun, abeoji hanya akan mengembalikanku ke pihak musuh tanpa rencana penyelamatan.” Egoku sebagai anak yang meminta perhatian orang tuanya tiba-tiba mencuat. Padahal telah lama perasaan jenis ini hilang, mungkin semenjak aku secara hukum sah menyandang marga Choi.

“Tuan Choi bukan orang sebodoh itu,” bela Ahreum, “dua tahun kami bekerja keras menyusun operasi ini, tidak mungkin dalam situasi genting beliau tidak memiliki rencana cadangan. Apalagi ketika menyangkut dirimu, bagaimana mungkin beliau tidak bertaruh segalanya?”

Aku baru akan membuka mulut untuk menyangkal, namun terdahului oleh Ahreum yang memanjangkan tangannya untuk meremas jemariku. “Jangan terlalu keras terhadap ayahmu. Hargai eksistensinya selagi kau dapat menjumpainya, Youngie,”

Aku mengangkat wajahku untuk bertemu dengan sorot penuh kerinduan milik Ahreum; kerinduan terhadap ayahnya. Mau tidak mau, tatapan dan pesan Ahreum sedikit melunakkan kekerasan hatiku pada abeoji. “Satu lagi, Stephanie—“ aku menghentikan ucapanku sebab tidak mengerti bagaimana caranya menanyakan pada Ahreum seluk beluk kode militer tersebut.

“Nama yang indah,” komentar singkat Ahreum sambil tersenyum penuh makna. “Baiknya kau menanyakan pertanyaan tersebut pada abeoji-mu secara langsung. Persidangan beliau akan dilangsungkan secara tertutup, namun kau dapat mengunjunginya setelah proses tersebut.” Tangan Ahreum berpindah dari jemariku ke bahuku, “Welcome home, Youngie.”

Menarik tangan dari bahuku, Ahreum mundur untuk mengakhiri kunjungannya. “Aku berharap kita segera bertemu di kantor untuk membicarakan topik yang lain,” senyum lebarnya untuk mengurai keketatan atmosfer kami. Dia memutar badan dan melangkah keluar, namun sebelum membuka pintu aku memanggilnya kembali.

“Ada pemberian yang ingin kusampaikan padamu,” ujarku yang membuat Ahreum mendekat. Mengulurkan kedua tanganku melalui pundak Ahreum, aku memberikan pelukan. Kuusap punggung Ahreum dengan lembut, seperti bagaimana Dohwan Ahjussi melakukannya terhadapku. “Beliau menitipkannya padaku karena ketidakmampuan beliau untuk menyampaikannya padamu secara langsung; aku menyayangimu,” dan aku menyampaikan pesan Ahjussi padanya.

Beberapa saat Ahreum terdiam untuk memahami maksudku, namun kemudian dengan lambat dia membalas pelukanku. Bahunya yang bergetar segera disusul oleh suara isakan teredam.

“Beliau telah bebas dengan caranya sendiri,” lirihku yang disambut sedu sedan Ahreum yang mengeras.

#

Setelah berhasil meluruhkan kekhawatiran Jessie yang bersikukuh menemaniku, akhirnya aku dapat menapaki rumahku. Meskipun ada ketakutan untuk kembali ke rumah seorang diri, tetapi aku tidak mau merepotkan Jessie maupun Kyuhyun. Jessie memiliki jadwal operasi malam ini, sementara Kyuhyun…aku lebih tidak ingin mengganggu waktunya bersama Siwon. Saat ini Siwon lebih membutuhkan perhatian Kyuhyun daripadaku. Walaupun dengan demikian berarti aku harus menahan keperihan. Toh sakit hatiku tidak akan membunuhku, atau mungkin suatu hari hal itu bisa terjadi.

Aku melangkah pelan untuk mengamati dan menikmati rumahku; kolam renang yang airnya telah terisi kembali, bar mini milik Kyuhyun yang lampunya meredup, bahkan setiap anak tangga yang kulalui untuk menuju ke lantai dua. Aku mengadu alisku saat menangkap kejanggalan di sini. Rumah ini terlalu bersih untuk kutinggalkan selama hampir tiga minggu. Bahkan seolah-olah aku tidak pernah pergi dari sini.

Membuka kamarku, tatkala hidungku membau harum, daripada apak, aku lebih diyakinkan lagi bahwa seseorang telah merawat rumah ini selama kepergianku. Hatiku berdesir saat mengingat perkataan abeoji bahwa dia tidak rela meninggalkanku dalam situasi ‘ini’. “Eomma…” bisikku menebak seseorang yang memiliki akses ke rumah ini. Entah dengan cara bagaimana kedua orang tuaku memasuki rumah ini. Jika seperti itu, maka tidak diragukan lagi mereka mengetahui hubunganku dengan Kyuhyun tidak berlangsung baik.

Aku menjatuhkan tubuhku di ranjang ketika pikiranku mulai menduga bahwa mereka juga telah mengetahui hubungan tidak wajar antara kakakku dengan Kyuhyun. Mengangkat tanganku untuk meremas dada, aku khawatir permasalahan ini akan memburuk andai keluarga Kyuhyun juga mengetahuinya.

Menarik tasku, aku mencari ponsel dan menekan speed dial milik Kyuhyun. Akan tetapi sebelum panggilanku diangkat Kyuhyun, aku buru-buru mematikannya. Memanjangkan napasku, aku mengatur iramanya agar teratur. Ragaku terlalu letih untuk beraktifitas lagi, sedangkan pikiranku terlalu padat untuk disumpali dengan masalah lain. Mengangkat kakiku ke atas ranjang, aku memilih menyimpan masalah ini hingga, setidaknya, besok. Tanganku mengusap perutku yang mulai terlihat sedikit membesar, mengingatkanku bahwa ada nyawa lain yang harus kujaga.

#

“Jangan sentuh aku!” aku menendang tubuh lelaki yang mendekatiku dengan gestur penuh hasrat.

“Andwe!” jemariku membuka untuk menghentikan tembakan yang terarah pada ketiga tubuh di depan sana. “Andwe…” tangisku menghangatkan pipi seiring darah yang memuncrat keluar dari tubuh ketiganya.

“Miyoung, hentikan! Kau membunuhnya!” pekik milik ibuku. “Kau membunuhnya…kau membunuhnya…” rintihan itu berlanjut. Tubuh yang kusaksikan punggungnya telah penuh dengan kentalnya darah hingga rambutnya pun basah dengan warna kemerahan, ambruk di depanku. Cairan merah itu masih mengalir dengan pekat dari tubuhnya. Bergerak lambat sampai mencapai ujung jari kakiku. “Arrghhh…!”

“Young.”

“Young.”

“Miyoungie!”

Mataku tersentak membuka, sementara napasku memburu. Tanganku mengerat di pegangan yang belum kusadari berupa apa karena sistem tubuhku lebih disibukkan untuk menetralkan jantungku yang detaknya menggila. Saat langit-langit kamarku tertangkap oleh penglihatanku, barulah aku merasa lebih tenang.

“Kau bermimpi buruk?”

Aku memutar kepalaku saat mendengar suara Kyuhyun, yang tadinya kukira hanya berlangsung di mimpiku. Melirikkan pandanganku ke bawah, aku baru mengerti bahwa sesuatu yang kucengkeram tidak lain adalah tangan Kyuhyun.

“Aku akan menjadi telinga jika kau berniat menceritakan mimpimu.”

Berpikir mengenai tawaran Kyuhyun, aku menggeleng kecil untuk menjawab. Dibantu olehnya, aku kemudian bangun terduduk. “Pukul berapa ini?” tanyaku.

“Dua lebih lima,” ucap Kyuhyun setelah memastikan waktu dari jam tangannya. Dia kemudian mengambil tempat, duduk di pinggir ranjang. Menganjurkan tangannya, Kyuhyun membesut keringat di dahiku menggunakan ujung lengan sweternya. “Kenapa tidak memberitahukanku bahwa kau telah pulang?”

“Bagaimana keadaan Siwonnie Oppa?” alih-alih menjawab pertanyaan Kyuhyun yang sudah jelas jawabannya, aku lebih berniat mendengar kondisi kakakku.

Ekspresi Kyuhyun berubah seketika menjadi lebih sendu, entah karena jawaban pertanyaanku ataukah karena hal lain. “Karena alasan ini kau menghindariku?”

Aku enggan memberikan sangkalan karena jawabannya adalah ya. Jadi yang kulakukan adalah berkelit, “Aku hanya butuh istirahat, dan aku lebih memilih beristirahat di sini daripada rumah sakit.”

“Kalau begitu lakukanlah,” Kyuhyun membenahi bantal yang terletak di belakangku, “istirahatlah.” Dia mengusap pipiku ketika aku ingin mengulang pertanyaanku mengenai Siwon. Sungguh aku menanyakannya karena cemas, bukan rasa cemburu atau niatan memberikan sinisme. “Kau bisa mengunjunginya besok,” pupus Kyuhyun terhadap rasa ingin tahuku. Hari ini adalah ‘besok’ dini hari, namun karena masih larut, Kyuhyun salah mengalamatkannya.

“Kau juga, istirahatlah,” anjurku balik ketika menangkap kantung menghitam di bawah mata Kyuhyun. Aku berbaring, meski tidak yakin dapat tertidur lagi setelah mendapat mimpi buruk tadi. Pecahan kenangan-kenanganku yang menghantui bahkan sampai ke alam bawah sadar, mengejarku seperti ekor yang tidak dapat lepas.

Bukannya meninggalkan kamarku, Kyuhyun malah memelorotkan tubuhnya hingga duduk di lantai. Tangannya memanjang di permukaan ranjang hingga jemarinya mencapai sisi pipiku. Dagunya ditumpukan di pangkal tangan, sementara punggung ujung jarinya mengusap pipiku. “Aku akan di sini, berjaga andai kau mendapatkan mimpi itu kembali,” ucapnya menjawab rasa tanyaku akan tindakannya. Demikian aku tahu Kyuhyun duduk di bawah sebab tidak ingin membuatku tidak nyaman dengan kehadirannya.

“Kembalilah, aku hanya bermimpi buruk, bukan sesuatu hal yang besar.” Setelah kejadian kemarin dan hari ini, Kyuhyun pun butuh istirahat yang baik. Bukan tertidur di sini dengan posisi terduduk, terlebih di lantai yang walau tertutup karpet tetap tidak cukup menghangatkan.

“Tidurlah, aku tahu kau membutuhkan seseorang di sini. Jadi jangan menolakku.” Kyuhyun meletakkan kepalanya di lengan atasnya sambil memejamkan mata.

Mengangkat tanganku, aku memainkan jemariku di rambut hitam kecoklatan milik Kyuhyun. Helaian rambutnya yang sedikit lebih bertekstur dan kaku, khas milik pria, menyisip di jemariku. “Kyuhyun-ah?”

Hmm…” gumamnya.

Tidak tega melihat ketidaknyamanan Kyuhyun meringkuk di bawah, aku mengentak lengannya. “Naiklah,” sahutku sambil menggeser tubuhku supaya menyisakan ruang yang cukup bagi Kyuhyun.

Kyuhyun membuka matanya dan menatapku dengan penuh tanya, sebelum bangkit dan menerima tawaranku. Dia menjumput tepi selimut, kemudian menyusup di bawahnya. Memiringkan badan ke arahku, Kyuhyun menekuk sebelah tangan di atas bantal dan meletakkan kepala di atasnya.

Memerhatikan raut kelelahan Kyuhyun, bagaimana mungkin aku menyalahkannya karena seakan berdiri di antaraku dan kakakku? Aku berharap perhatiannya padaku bermakna lebih dari sekadar rasa tanggung jawabnya sebagai ayah dari calon bayi yang kukandung. Akan tetapi, aku tidak berani bertaruh untuk hal tersebut. Aku tahu, dia hanya berusaha menjadi yang terbaik bagi mereka berdua; Siwon dan bakal bayi ini.

Melarikan ujung telunjukku di garis hidung mancung Kyuhyun, aku memancingnya untuk meresponku. “Hyunnie?” panggilku dengan volume kecil.

Hmm?” Kyuhyun bergumam meski tidak membuka mata.

“Andai anak ini lahir, kau bersedia mengakuinya?”

Kyuhyun kontan membuka mata terpejamnya dan menatapku tajam. “Pertanyaan macam apa itu?”

Aku tersenyum getir menanggapi kerut heran yang terbentuk di antara kedua alis Kyuhyun. “Aku hanya meminta izinmu untuk mencatatkan namamu sebagai ayahnya di akta kelahirannya nanti.”

“Dia ada di tengah suatu pernikahan, bagaimana mungkin aku tidak mencatatkan namaku di aktanya, huh?”

Mendengar Kyuhyun menyinggung pernikahan kami, organ di dalam rongga dadaku rasa-rasanya diremas. “Andai perceraian kita terjadi sebelum dia lahir—“

“Young, aku tidak ingin membicarakan topik ini sekarang,” putus Kyuhyun. Mata almond-nya yang memicing mengungkapkan penolakannya.

Aku menarik napas dan menyesali telah membawa topik berat ini di waktu yang tidak tepat. “Maaf, aku hanya tidak dapat menekan rasa penasaranku.”

“Lain waktu, Young, lain waktu,” janji lirih Kyuhyun dengan nada bimbang. “Jadi bisa kita mulai memejamkan mata?”

Aku mengangguk dan tersenyum untuk memberikan salam selamat malam. “Hyunnie,” aku menarik sweter depannya untuk meminta perhatian, “maaf.”

Kyuhyun mengerang rendah sembari mengangkat kelopak matanya kembali. “Untuk apa lagi?”

“Untuk ini.” Merangsek maju, aku menjangkau bibir pucat Kyuhyun untuk melekatkan bibirku di sana. Ciuman yang kumaksudkan sebagai ungkapan segala rasa gundah atas perasaanku terhadapnya, sekaligus mewakili berjuta terima kasih. Rasa terima kasih atas tindakannya yang rela mengikutiku ke Korut, yang tidak tahu harus dengan bagaimana aku membalasnya. Jika Kyuhyun tidak berada di sisiku pada masa itu, maka aku sudah pasti membusuk di sel milik Korut.

Menarik diriku, aku tidak memiliki kemantapan hati untuk melakukan lebih dari sekadar kecupan. Memerhatikan raut mengerut Kyuhyun, aku menjadi takut andai dia tidak berkenan dengan ciumanku. Akan tetapi sebelum mulutku mengucapkan suku pertama kata maaf, bibirku telah dibungkam menggunakan bibirnya.

Sebelah tangan Kyuhyun yang menangkup pipiku dan separuh tubuhnya yang menjulang di atasku memantapkan ciuamannya. Isapan dan gigitannya yang menuntut di bibir atas dan bawahku secara bergantian seakan memberikan pesan bahwa dirinya dalam kondisi frustrasi yang sama denganku. Lumatan intensifnya tidak memberikanku pilihan selain membalasnya dengan serupa. Lidahnya yang menyapu permukaan bibirku dan ujung hidung bangirnya yang menusuk pipiku melepaskan lenguhan kecil dari mulutku.

Memisahkan bibir kami dengan napas yang kejar-kejaran, Kyuhyun mengadu keningnya dengan milikku untuk beberapa saat. Dia menghadiahiku kecup-kecup ringan di seluruh wajahku, sebelum meletakkan kepalanya di bantal dan menarikku masuk ke pelukkannya dengan membisu. Tangannya yang melingkari kepala dan pinggangku dengan protektif merapatkan impitan tubuh kami.

Meletakkan kedua tanganku di dada Kyuhyun, aku merasakan detak jantungnya yang menghebat melawan telapak tanganku. Tidak terganggu dengan hal tersebut, aku menyuruk kepalaku ke dadanya; menjadikan detaknya sebagai lullaby-ku. Sementara ini, biarkan kami menikmati euforia kebebasan kami tanpa terbebani hal-hal lain. Tinggalkan esok hingga kami terbangun dalam realita, kemudian berpisah jalan.

TBC*

Note:

I’m sorry for keeping you waiting. Jangan terlalu keras dengan Kyuhyun, bagaimana pun dia masih dibingungkan di antara dua jalan, k?


[1] Shin Sang-Ok yang merupakan sutradara dan Choi Eun Hee yang merupakan seorang artis adalah dua warga Korea Selatan yang diculik oleh pihak Korea Utara di tahun 1978. Shin diperintahkan untuk membuat film mengenai Korut karena Kim Jong-Il, pemimpin Korut saat itu, tidak puas dengan kinerja sineas film di negaranya sendiri. Tidak betah bekerja di Korut, keduanya melarikan diri ketika mengadakan perjalanan bisnis ke Wina tahun 1996. (vivanews.com)

[2] Kardiograf: alat perekam detak jantung.

Pic spam:

Hi, gorgeous:

wonkyu plus tiff

185 thoughts on “Behind Those Beautiful Eyes [13]

  1. VivitYulia says:

    ya ampun korut kejam bngettt, ngeri saat ngebayangi scene eksekusi matinya. tpi sneng bnget wktu mreka bebas, bner2 lega bngettt. berharap siwon cpet sadar dri komanya.

  2. sparkyukyu says:

    akhirnya mereka bebas dan bisa kembali ke negaranya. Kyuhyun jga nampaknya sudah mencintai miyoung tpi dia tdk bisa lepas dari siwon. Bagaimana akhir dari mereka bertiga?

Would you please to give your riview?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s